Bisa dibuat dengan gaya Abu Nawas yang jenaka, cerdas, tetapi tidak merendahkan umat Kristen. Supaya tidak terkesan mengklaim sesuatu tanpa dasar, kalimatnya lebih aman memakai sudut pandang perbandingan ajaran:
ABU NAWAS GUNCANG GEREJA π
“YESUS MENGAJARKAN TRINITAS?”
Suatu hari Abu Nawas ditanya:
“Hai Abu Nawas, benarkah Yesus mengajarkan Trinitas?”
Abu Nawas senyum santai.
“Lho… jangan tanya saya dulu. π
Coba tunjukkan satu kalimat dari mulut Yesus yang bunyinya:
‘Sembahlah Aku, karena Aku adalah Tuhan dalam tiga pribadi.’”
Semua terdiam.
Abu Nawas melanjutkan:
“Kalau memang itu ajaran utama beliau, mestinya mudah dong menunjukkan perkataan beliau secara langsung.”
Lalu Abu Nawas berkata:
“Saya tidak sedang menghina Yesus. Justru saya menghormati beliau sebagai Al-Masih dan utusan Allah. Yang sedang kita bahas adalah: apakah konsep Trinitas itu benar-benar diajarkan langsung oleh Yesus, atau merupakan penjelasan teologis yang berkembang kemudian?”
Kemudian Abu Nawas tersenyum:
“Jangan marah kalau pertanyaan saya tajam.
Pisau saja kalau tajam masih bisa dipakai memotong roti. π
Pertanyaan juga begitu—tajam boleh, tapi adab tetap nomor satu.”
Lalu Abu Nawas menutup:
“Kalau kita benar-benar mencari kebenaran, jangan cuma bertanya,
‘Apa yang dipercayai orang setelahnya?’
Tapi tanyakan juga,
‘Apa yang benar-benar diajarkan oleh gurunya?’”
Diskusi boleh panas π₯
Hati jangan panas. ❤️
Beda keyakinan tidak harus membuat kita saling mencaci.
Kita bisa berbeda dalam akidah, tetapi tetap saling menghormati sebagai sesama manusia.
Abu Nawas: logikanya santai,
pertanyaannya tajam,
adabnya tetap dijaga. π
Tidak ada komentar:
Posting Komentar