Thursday, May 22, 2025

Keutamaan Abu Bakar.

  



📖 Buku: Keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. & Hikmah dari Kisah “Siapa yang Menggigitmu?”


Pendahuluan

Bismillahirrahmanirrahim.
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat paling mulia setelah Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wa sallama. Keutamaannya telah banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis. Salah satu keutamaannya adalah beliau kelak akan masuk surga tanpa hisab, sebuah anugerah agung yang hanya Allah berikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

Buku ini membahas hadis tentang keutamaan Abu Bakar dan sebuah kisah unik dalam Kitab Al-‘Usfuriyah tentang seekor anjing yang digariskan Allah untuk membela kehormatan Abu Bakar dan Umar r.a.
Tujuan dari buku ini:

  1. Menumbuhkan rasa cinta kepada sahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.
  2. Mengambil hikmah dari sikap pembelaan terhadap orang-orang saleh.
  3. Menjauhkan diri dari ucapan kotor, apalagi terhadap orang yang dimuliakan Allah.

Manfaatnya:

  • Menguatkan akidah bahwa Allah memuliakan wali-wali-Nya.
  • Menumbuhkan adab dalam berbicara dan bergaul.
  • Memupuk kecintaan kepada para sahabat Nabi.

Intisari Bahasan

Hadis Utama

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a.:
Rasulullah bertanya kepada Jibril a.s.,
"Apakah umatku akan dihisab?"
Jibril menjawab, "Iya, kecuali Abu Bakar r.a., ia akan masuk surga tanpa hisab."
Abu Bakar berkata, "Aku tidak akan masuk surga kecuali bersama orang-orang yang mencintaiku di dunia."

Kisah “Siapa yang Menggigitmu?”

Dikisahkan, dua orang sahabat digigit anjing milik orang munafik. Rasulullah hendak memerintahkan untuk membunuh anjing itu. Namun, anjing tersebut berbicara dengan izin Allah, “Aku adalah anjing yang beriman, dan aku diperintahkan Allah untuk menggigit siapa pun yang berkata kotor tentang Abu Bakar dan Umar.”
Kedua orang itu langsung bertaubat.


Dalil Al-Qur’an

  1. Kedudukan Sahabat

"Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya."
(QS. At-Taubah: 100)

  1. Larangan Menyakiti Orang Beriman

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka memikul kebohongan dan dosa yang nyata."
(QS. Al-Ahzab: 58)

Dalil Hadis

  • Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda:
    "Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (takaran kecil) dari mereka, atau setengahnya."
    (HR. Bukhari & Muslim)

Penutup

Kesimpulan

Hadis dan kisah ini menegaskan:

  • Abu Bakar adalah manusia pilihan yang dimuliakan Allah dengan masuk surga tanpa hisab.
  • Allah menjaga kehormatan sahabat melalui cara-cara yang kadang di luar logika manusia.
  • Menghina orang saleh, apalagi sahabat Nabi, adalah dosa besar yang berbahaya.

Relevansi Sekarang

Di era media sosial, lisan dan tulisan kita bisa menjadi sumber pahala atau dosa. Menghina ulama atau tokoh saleh dapat mengundang murka Allah. Sebaliknya, mencintai dan membela mereka adalah tanda iman.

Muhasabah – Cara Mengatasinya

  1. Latih lisan dan jari (tulisan) agar hanya menyampaikan yang baik.
  2. Perbanyak mengingat keutamaan para sahabat dan wali Allah.
  3. Bila pernah berbuat salah, segera bertaubat dan memohon maaf.

Doa

اللهم ارزقنا حبك وحب من يحبك وحب عمل يقربنا إلى حبك
Allahumma urzuqna hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa hubba ‘amalin yuqarribuna ila hubbik.
“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang mendekatkan kami pada cinta-Mu.”


Nasehat Para Ulama Sufi

  1. Hasan Al-Bashri
    "Mencintai sahabat Nabi adalah tanda hati yang sehat, dan membenci mereka adalah penyakit iman."

  2. Rabi‘ah al-Adawiyah
    "Cinta sejati kepada Allah membuat kita mencintai semua yang dicintai-Nya, termasuk para sahabat Nabi."

  3. Abu Yazid al-Bistami
    "Siapa yang menjaga lisannya dari mencaci hamba Allah, Allah akan menjaga hatinya dari kegelapan."

  4. Junaid al-Baghdadi
    "Adab kepada kekasih Allah adalah adab kepada Allah sendiri."

  5. Al-Hallaj
    "Hati yang bersih tak akan mampu mencela mereka yang telah dimuliakan Allah."

  6. Imam al-Ghazali
    "Lisan adalah cermin hati; jaga ucapanmu, maka Allah akan menjaga kehormatanmu."

  7. Syekh Abdul Qadir al-Jailani
    "Cintailah para wali, niscaya engkau akan termasuk golongan mereka."

  8. Jalaluddin Rumi
    "Jangan mencari-cari aib para kekasih Allah, karena mereka adalah pintu cahaya bagimu."

  9. Ibnu ‘Arabi
    "Mereka yang dekat kepada Allah, kehormatannya dijaga oleh langit dan bumi."

  10. Ahmad al-Tijani
    "Barangsiapa menghormati para sahabat dan ulama, ia akan mendapat limpahan rahmat yang tak terputus."


Oke, saya bikin versi santai dan gaul, tapi tetap sopan, isinya nggak kehilangan makna. Ayat Qur’an dan hadis tetap pakai teks asli, tapi penjelasannya dibikin bahasa anak muda biar gampang nyantol.


📚 Buku: Keutamaan Abu Bakar r.a. & Kisah Anjing yang Ngomong


Pendahuluan

Bismillah...
Kita semua tahu, Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. itu sahabat terdekat Nabi Muhammad ﷺ. Orangnya setia, tulus, dan imannya super mantap. Dalam banyak hadis, beliau disebut orang spesial yang punya kedudukan tinggi banget di sisi Allah. Bahkan nih, nanti di akhirat, beliau langsung masuk surga tanpa dihisab. Wah, VIP banget kan?

Tujuan kita bahas ini:

  1. Biar kita makin cinta sama para sahabat Nabi.
  2. Belajar adab ngomong, jangan asal nyebar kata-kata kotor, apalagi nyerang orang soleh.
  3. Ngerasain manfaatnya: hati adem, iman naik, pahala nambah.

Intisari Bahasan

Hadis Utama

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a.:
Rasulullah tanya ke malaikat Jibril,
"Apakah umatku akan dihisab?"
Jibril jawab, "Iya, kecuali Abu Bakar r.a., dia nggak bakal dihisab."
Terus Abu Bakar bilang, "Aku nggak mau masuk surga sendirian, aku maunya bareng orang-orang yang cinta sama aku waktu di dunia."

Kebayang nggak? Udah dikasih tiket masuk surga gratis, tapi beliau masih mikirin temen-temennya. Hatinya gede banget!


Kisah “Siapa yang Menggigitmu?”

Suatu hari, Rasulullah ﷺ lagi duduk bareng para sahabat. Tiba-tiba datang seorang sahabat dengan betis berdarah. Nabi tanya,
"Kenapa betismu berdarah?"
Dia jawab, "Tadi aku lewat rumah orang munafik, ada anjingnya, eh digigit."

Nggak lama, sahabat lain datang, betisnya juga berdarah, ceritanya sama.
Langsung Rasulullah ﷺ berdiri, ngajak para sahabat bawa pedang buat bunuh anjing itu.

Tapi pas sampai, anjingnya malah berdiri dan… ngomong! 😲
"Jangan bunuh aku. Aku anjing yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya."
Nabi tanya, "Lah terus kenapa gigit mereka?"
Si anjing jawab, "Aku diperintah buat gigit siapa aja yang ngomong jelek tentang Abu Bakar dan Umar."

Dua sahabat itu langsung nyesel, tobat, dan minta maaf.


Dalil Qur’an

  1. Kedudukan Sahabat

"Orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya."
(QS. At-Taubah: 100)

  1. Larangan Menyakiti Orang Beriman

"Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka memikul kebohongan dan dosa yang nyata."
(QS. Al-Ahzab: 58)

Dalil Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Janganlah kalian mencaci sahabat-sahabatku. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya salah seorang di antara kalian menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud dari mereka, atau setengahnya."
(HR. Bukhari & Muslim)


Penutup

Kesimpulan

  • Abu Bakar r.a. adalah sahabat super spesial, masuk surga tanpa hisab.
  • Allah bisa aja jaga kehormatan orang saleh lewat cara nggak terduga, bahkan lewat seekor anjing.
  • Nyakitin atau ngomong jelek soal orang yang dimuliakan Allah itu bahaya banget.

Relevansi Sekarang

Di zaman medsos, satu komen pedes bisa jadi dosa gede. Apalagi kalau yang kita omongin itu ulama atau orang soleh. Lebih baik jaga lisan dan jari, fokus sebar kebaikan.

Muhasabah – Cara Ngatasinnya

  1. Latih diri buat nahan ngomong yang nggak perlu.
  2. Kalau udah keceplosan, cepat-cepat minta maaf dan tobat.
  3. Ganti kebiasaan gosip jadi kebiasaan doa baik buat orang.

Doa

اللهم ارزقنا حبك وحب من يحبك وحب عمل يقربنا إلى حبك
Allahumma urzuqna hubbaka wa hubba man yuhibbuka wa hubba ‘amalin yuqarribuna ila hubbik.
“Ya Allah, kasihilah kami dengan cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang bikin kami makin dekat sama-Mu.”


Nasehat Para Ulama Sufi (Versi Santai)

  1. Hasan Al-Bashri
    "Kalau hati sehat, pasti cinta sama sahabat Nabi. Kalau benci mereka, itu tandanya iman lagi sakit."

  2. Rabi‘ah al-Adawiyah
    "Kalau beneran cinta Allah, otomatis cinta sama semua yang Allah cintai, termasuk sahabat Nabi."

  3. Abu Yazid al-Bistami
    "Jagain mulut dari ngomongin jelek orang, nanti Allah jagain hatimu dari kegelapan."

  4. Junaid al-Baghdadi
    "Ngomong sopan sama wali Allah itu sama aja sopan sama Allah."

  5. Al-Hallaj
    "Hati yang bening nggak bakal sanggup nyela orang yang Allah muliakan."

  6. Imam al-Ghazali
    "Mulut itu cermin hati. Kalau mau hati bersih, jagain ucapanmu."

  7. Syekh Abdul Qadir al-Jailani
    "Cintailah wali-wali Allah, nanti kamu ikut kebawa masuk golongan mereka."

  8. Jalaluddin Rumi
    "Jangan sibuk nyari aib kekasih Allah, karena mereka itu pintu cahaya buatmu."

  9. Ibnu ‘Arabi
    "Orang yang dekat sama Allah, kehormatannya dijaga langit dan bumi."

  10. Ahmad al-Tijani
    "Hormati para sahabat dan ulama, biar rahmat Allah ngalir terus ke kamu."




AMALAN YANG MENEBUS SEBAGIAN DOSA.

  


🕌 AMAL 200 TAHUN DALAM SATU JUMAT

Penulis: M. Djoko Ekasanu


AMALAN YANG MENEBUS SEBAGIAN DOSA

Diriwayatkan dari Abu Nasr al-Wasiti bahwa ia berkata, “Aku mendengar Abu Rojak al-Athoridi berkata dari riwayat Abu Bakar as-Sidiq bahwa ada seorang Baduwi mendatangi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Kemudian ia berkata, “Telah sampai kepadaku (Wahai Rasulullah!)    bahwa    anda mengatakan kalau dari sholat Jumat satu sampai sholat Jumat berikutnya dan dari sholat satu sampai sholat berikutnya adalah pelebur dosa-dosa di waktu antaranya bagi orang yang menjauhi dosa-dosa besar.” Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, “Iya benar.” Kemudian beliau menambahkan dan berkata, “Mandi pada hari Jumat adalah pelebur dosa dan berjalan menuju sholat Jumat adalah pelebur dosa. Setiap langkah dari berjalan menujunya adalah seukuran amal selama 20 tahun. Ketika seseorang telah selesai dari sholat Jumat maka ia dibalas dengan amal 200 tahun.” Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Bakar as-Shidiq.



🔹 Ringkasan Redaksi Asli Hadis

Diriwayatkan dari Abu Nasr al-Wasiti, dari Abu Rojak al-Athoridi, dari Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang Baduwi datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata:
“Wahai Rasulullah, telah sampai kepadaku bahwa engkau bersabda: dari satu shalat Jumat ke Jumat berikutnya, dan dari satu shalat ke shalat berikutnya adalah pelebur dosa-dosa kecil di antaranya, bagi yang menjauhi dosa besar.”
Rasulullah ﷺ menjawab: “Benar.”
Kemudian beliau menambahkan:
“Mandi pada hari Jumat adalah pelebur dosa, berjalan menuju shalat Jumat adalah pelebur dosa, setiap langkah menuju Jumat nilainya setara amal dua puluh tahun, dan setelah selesai shalat Jumat dibalas dengan amal dua ratus tahun.”


🔹 Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, sebagian kaum Baduwi (pedalaman) belum memahami keutamaan ibadah berjamaah, terutama shalat Jumat. Mereka hidup jauh dari masjid dan padang pasir, sehingga mereka menganggap ibadah Jumat hanyalah rutinitas mingguan tanpa makna besar. Hadis ini turun sebagai pendidikan langsung Rasulullah ﷺ untuk menanamkan kesadaran tentang keutamaan spiritual dan sosial shalat Jumat, agar umat tidak memandang enteng hari agung tersebut.


🔹 Sebab Terjadinya Masalah

Kebanyakan orang di masa itu (dan bahkan kini) mengira bahwa cukup hadir di masjid tanpa persiapan hati dan kebersihan diri. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa mandi Jumat, berjalan kaki ke masjid, dan mendengarkan khutbah bukan sekadar amalan fisik, tetapi bagian dari tahapan penyucian dosa dan peningkatan derajat amal.


🔹 Intisari Judul

"Amal 200 Tahun Dalam Satu Jumat" — menggambarkan betapa besarnya pahala dan rahmat Allah bagi hamba yang menghormati hari Jumat dengan sungguh-sungguh, bersuci, berangkat lebih awal, dan khusyuk mengikuti shalat Jumat.


🔹 Tujuan dan Manfaat

  1. Mengingatkan umat Islam agar tidak menganggap remeh ibadah Jumat.
  2. Menumbuhkan semangat spiritual untuk mencari pahala besar di setiap Jumat.
  3. Menanamkan kesadaran sosial: Jumat sebagai momen persaudaraan dan pembersihan hati.
  4. Menegaskan bahwa Allah membuka pintu ampunan luas bagi hamba yang ikhlas dan disiplin ibadah.

🔹 Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  • Al-Qur’an:
    “Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diseru untuk melaksanakan salat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”
    (QS. Al-Jumu‘ah: 9)

  • Hadis:
    “Barangsiapa mandi pada hari Jumat seperti mandi janabah, lalu pergi ke masjid, mendengarkan khutbah dengan tenang, maka diampuni dosanya antara dua Jumat dan ditambah tiga hari lagi.”
    (HR. Muslim)


🔹 Analisis dan Argumentasi

Hadis tentang pahala “200 tahun” bukan untuk diartikan secara matematis, tetapi secara maknawi: bahwa keikhlasan dalam beribadah Jumat memiliki nilai spiritual luar biasa. Rasulullah ﷺ mengajarkan simbol angka besar agar umat memahami betapa luasnya karunia Allah terhadap amalan kecil yang dilakukan dengan ikhlas dan teratur.
Dalam konteks sosial, Jumat juga momentum tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dan tazkiyatul ummah (penyatuan umat).


🔹 Keutamaan-keutamaannya

  1. Dosa kecil diampuni di antara dua Jumat.
  2. Setiap langkah ke masjid bernilai pahala besar.
  3. Hari Jumat adalah sayyidul ayyām — penghulu segala hari.
  4. Doa dikabulkan pada satu waktu di hari Jumat.
  5. Malaikat mencatat nama orang yang datang lebih awal ke masjid.

🔹 Relevansi dengan Dunia Modern

  • Teknologi & Komunikasi:
    Meski manusia kini bisa “bertemu” lewat layar, shalat Jumat tetap menuntut kehadiran fisik — inilah pelajaran spiritual bahwa tidak semua hal bisa digantikan digitalisasi.
  • Transportasi:
    Di masa Nabi, berjalan kaki ke masjid bernilai pahala; kini, perjalanan jauh tetap bernilai jika diniatkan ibadah.
  • Kedokteran:
    Sunnah mandi Jumat terbukti menjaga kebersihan, menghindarkan bau badan, dan menyehatkan kulit.
  • Sosial:
    Jumat menyatukan berbagai lapisan masyarakat — kaya, miskin, pejabat, rakyat — dalam satu saf sejajar di hadapan Allah.

🔹 Hikmah dan Muhasabah

  • Jumat adalah hari rekonsiliasi ruhani.
  • Waktu untuk menghapus dendam, menata niat, dan memperbarui tekad menuju Allah.
  • Muhasabah: Sudahkah kita datang ke masjid dengan hati bersih, niat tulus, dan waktu terbaik?

Caranya:

  1. Mandi dan bersiwak sebelum Jumat.
  2. Datang lebih awal ke masjid.
  3. Tidak berbicara ketika khutbah.
  4. Memperbanyak salawat dan doa.

🔹 Doa

“Allahumma ij‘alna min ahlil jumu‘ah alladzīna tuqabbalu amālahum wa tazkī nufūsahum. Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang Jumat yang Engkau terima amalnya dan Engkau sucikan jiwanya.”
(Ya Allah, jadikan kami termasuk orang Jumat yang Engkau terima amalnya dan sucikan jiwanya.)


🔹 Nasehat Para Auliya

  • Hasan al-Bashri: “Jumat adalah cermin pekanmu; siapa yang baik Jum’atnya, baik pula seluruh harinya.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Cintai Allah bukan karena surga, tapi karena Dialah yang menciptakan surga.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Satu langkah ke masjid adalah satu langkah menuju Allah.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Ibadah Jumat adalah majelis cinta antara hamba dan Tuhannya.”
  • Al-Hallaj: “Barangsiapa mengenal makna Jumat, ia tak akan memisahkan antara dunia dan akhirat.”
  • Imam al-Ghazali: “Jumat adalah hari kebangkitan kecil, bersiaplah seolah esok engkau dibangkitkan.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Siapa yang menjaga Jumatnya, Allah akan menjaga hatinya dari kemunafikan.”
  • Jalaluddin Rumi: “Berangkatlah ke Jumat seperti burung menuju cahaya.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Jumat adalah rahasia pertemuan langit dan bumi.”
  • Ahmad al-Tijani: “Rahmat Jumat menutupi kekurangan amalan seminggu penuh.”

🔹 Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha: “Jumat itu bukan hanya wajib, tapi juga nikmat; kesempatan mingguan menata iman.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Shalat Jumat adalah sinyal taubat rutin yang Allah hadiahkan setiap pekan.”
  • Buya Yahya: “Mandi Jumat bukan sekadar bersih badan, tapi bersih hati.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Kalau mau dosa dihapus, jangan tunggu Ramadan, tapi manfaatkan Jumatmu!”

🔹 Daftar Pustaka

  1. Shahih Muslim, Kitab al-Jumu‘ah.
  2. Ihya’ ‘Ulumiddin, Imam al-Ghazali.
  3. Al-Fath ar-Rabbani, Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  4. Al-Futuhat al-Makkiyah, Ibnu ‘Arabi.
  5. Majmu’ Rasāil Hasan al-Bashri.
  6. Mathnawi, Jalaluddin Rumi.

🔹 Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang senantiasa mencintai ilmu. Semoga setiap langkah menuju masjid Jumat menjadi langkah menuju surga.


Apakah Anda ingin saya buatkan versi layout siap cetak (PDF bergaya koran, dengan kolom, judul besar, dan foto masjid) agar bisa langsung digunakan atau dicetak di buletin masjid atau media Anda?


KEIMANAN / TENTANG HAL YANG DINUKIL DARI ZABUR NABI DAUD AS.

  


KEIMANAN / TENTANG HAL YANG DINUKIL DARI ZABUR NABI DAUD AS

Diriwayatkan dari as- Shomad dari Mughoffal bahwa ia berkata, “Saya telah mendengar kalau Wahab bin Munabbah radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku telah membaca 30 sajak di akhir Kitab Zabur Nabi Daud, Semoga Allah merahmatinya:


Allah berfirman; Hai Daud! Apakah kamu tahu orang mukmin manakah yang lebih Aku sukai untuk Aku panjangkan usianya?


Daud menjawab; Tidak. (Hamba- Mu) tidak tahu.


Allah menjelaskan; Yaitu orang mukmin    yang    ketika mengucapkan kalimat [’ﻻ إﻟﻪ إﻻ اﷲ‘] maka kulitnya mengkerut dan tulang-tulangnya bergetar. Ketika demikian itu, Aku tidak suka ia mati sebagaimana orang tua tidak suka anaknya mati. Akan tetapi kematian sudah pasti akan menemuinya.    Aku    ingin membahagiakan ia di sebuah desa selain desa (dunia) ini karena kenikmatan dunia adalah cobaan. Kemudahan di dunia adalah suatu beban. Di dunia terdapat musuh yang mendekatkan kalian pada kerusakan yang tidak mengalir sebagaimana darah mengalir. Karena sifat dunia yang seperti ini, maka Aku mempercepat para kekasih-Ku menuju 44t ut (dengan mati di usia pendek). Andai sifat dunia tidak seperti itu niscaya Adam dan anak cucunya akan panjang umur sampai ditiup sangkakala tanda datangnya Hari Kiamat.


Dengan sanad seperti diatas, terdapat sebuah riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda ‘Barang siapa membaca ﷲ إﻻ ﻻإﻟﮫ dan ia memanjangkan bacaannya maka 4000 dosa besarnya telah sirna.” Hadis ini diriwayatkan oleh Ali radhiyallahu ‘anhu.


a.    Penyakit Rasa Takut


Di Majlis Tafsir al-Quran yang diasuh oleh Syeh al-Imam az- Zahid Ya’qub al-Kisai, Semoga Allah merahmatinya, disebutkan sebuah riwayat bahwa Hazim bin Walid radhiyallahu ‘anhu jatuh sakit. Kemudian ia dibawa ke seorang dokter. Dokter tersebut memeriksa denyut jantungnya. Setelah diperiksa, si dokter berkata kepada orang-orang yang mengantarnya:


“Tidak ada penyakit yang diderita oleh Hazim bin Walid. Tetapi coba kalian bertanya kepadanya.


 Karena seseorang akan lebih tahu tentang keadaan dirinya sendiri”. Kemudian orang-orang bertanya kepada Hazim bin Walid “Sebenarnya penyakit apa yang anda derita”.


“Aku tidak menderita suatu penyakit. Penyakitku adalah rasa takut kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Pemberi. Begitu juga aku takut dengan dilaporkan dan dihitungnya amal-amal dan takut dengan hilangnya keimanan sehingga aku menjadi orang yang berhak menerima balasan siksa. Beruntung sekali orang yang keluar dari dunia dengan membawa keimanan dan tempat kembalinya adalah surga.”


b.    Taubatnya Raja Sombong 

 

Diceritakan dari Abu Bakar bin   Abdillah   al-Muzni,   Semoga Allah merahmatinya bahwa ada seorang raja yang sombong terhadap Allah. Orang-orang Islam tidak    terima    dengan kesombongannya itu. Akhirnya mereka memutuskan untuk memeranginya. Dengan izin Allah, mereka berhasil mengalahkan dan menawannya hidup-hidup.


Mereka berkata, “Bagaimana kita akan membunuhnya. Ia telah berbuat sombong terhadap Allah.”


Kemudian mereka bersepakat membunuhnya       dengan       cara meletakkannya di sebuah bejana besar dengan diikat kepalanya. Kemudian dari bawahnya, dinyalakan api. Ketika raja itu merasakan panasnya api maka ia menyeru berhala-berhalanya yang ia sembah;


“Hai Lata! Selamatkanlah aku! Hai Habil! Selamatkanlah aku! Hai Uzza! Selamatkanlah aku dari siksa yang aku alami saat ini. Hai Habil! Dulu aku pernah mengusap kepalamu dan kedua kakimu pada tahun demikian.”


Ketika raja itu mengeluh kepada berhala-berhala yang ia sembah, maka panas api semakin bertambah. Ia menjadi tahu kalau berhala-berhala itu tidak 46t u menyelamatkannya. Ia merasa putus asa dan bertaubat kepada Allah. Kemudian di dalam bejana besar, ia berseru:


ﻻ إﻟﻪ إﻻ اﷲ ﳏﻤﺪ رﺳﻮل اﷲ

“Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya”.


Sesaat setelah seruan itu, Allah mengutus hujan dari langit untuk jatuh di atas api bejana dan memadamkannya. Allah juga mengutus angin agar angin menerpa bejana besar dan membuatnya terbang. Karena hembusan angin, bejana besar itu bergerak-gerak di udara. Raja yang ada di dalam bejana besar terus-menerus    mengucapkan

ﻻ إﻟﻪ إﻻ اﷲ ﳏﻤﺪ رﺳﻮل اﷲ


tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.


Kemudian angin menerbangkan dan melempar jauh bejana besar itu hingga tak terlihat mata hingga menjatuhkannya di antara suatu kaum yang tidak mengenal Allah sama sekali.


Melihat bejana besar jatuh dari langt, kaum pun penasaran dan mendekatinya. Mereka memeriksa dan membukanya. Tiba-tiba mereka melihat raja itu. Dengan segera, mereka mengeluarkan raja dan bertanya:


“Siapa kamu? Apa yang telah terjadi denganmu?”


“Aku adalah raja di wilayah (demikian),” jawab si raja.


Kemudian raja itu menceritakan kisahnya kepada kaum. Akhirnya mereka semua masuk Islam..



Rizki Allah.

  Diriwayatkan dari Mu’adz Jabal    radhiyallahu    ‘anhu bahwa ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda; Allah berfirman: (1) Hai anak cucu Adam! Malulah terhadapku ketika    menyiksamu. (2) Hai anak cucu Adam! Bertaubatlah kepada-Ku! Maka Aku akan memuliakanmu seperti kemuliaan yang diberikan kepada para nabi. (3) Hai anak cucu Adam! Jangan memalingkan hatimu jauh dari-Ku karena sesungguhnya apabila kamu memalingkan hatimu jauh dari-Ku maka Aku akan menghinakanmu dan tidak akan menolongmu. (4) Hai anak cucu Adam! Apabila kamu bertemu dengan-Ku sedangkan kamu membawa kebaikan-kebaikan    sebanyak penduduk bumi maka Aku tidak akan menerimanya sampai kamu membenarkan janji dan ancaman- Ku. (5) Hai anak cucu Adam! Sesungguhnya Aku adalah Dzat yang memberi rizki. Kamu adalah makhluk yang diberi rizki dan kamu tahu kalau sesungguhnya Aku memenuhimu dengan memberimu rizki. Oleh karena itu, jangan meninggalkan ketaatan kepada-Ku gara-gara rizki karena sesungguhnya apabila kamu meninggalkan ketaatan kepada- Ku gara-gara rizkimu maka akan tetap bagimu siksa-Ku. Hai anak cucu Adam! Jagalah 5 (lima) nasehat ini karena-Ku maka akan tetap bagimu surga … (hingga akhir hadis).”

a. Kalo Sudah Jadi Rizkimu Maka Tidak Akan Kemana.

Hai saudara-saudara muslimku! Janganlah kalian bersedih hati atas rizki dan janganlah rizki kalian mencegahmu dari taat kepada Allah karena ada Firman-Nya: tidaklah dari makhluk hidup di bumi kecuali Allah telah mengatur rizkinya,1 seperti keterangan yang tertera dalam hadis bahwa sesungguhnya Allah menciptakan burung hijau di udara dan menjadikan anak panah berada di punggungnya dan anak panah lain di bawah perutnya. 

 

Dan Allah menciptakan ikan besar di laut yang selalu memakan ikan kecil. Sesaat setelah ikan besar itu memakan ikan kecil, ternyata didapati sedikit daging ikan kecil yang terselit di antara gigi-giginya. 

 

Selitan daging itu membuatnya sakit hingga ia mengeluarkan kepalanya ke permukaan air. Saat kepalanya dikeluarkan ke permukaan air, mulutnya terbuka. Sementara itu, burung hijau datang ke arah mulut ikan besar dan masuk ke dalamnya. Kemudian burung hijau itu memakan daging yang terselit di antara gigi-giginya. 

 

Dua anak panah yang tertancap di punggung dan bawah perut burung hijau menjadi seperti dua tiang di mulut ikan besar sehingga ikan besar tidak bisa melahap dan memakan burung hijau. Setelah selitan daging yang menyelit di antara gigi-gigi ikan besar habis dimakan burung hijau, ia pun keluar dari mulut ikan dan terbang ke udara. 


Allah telah menetapkan rizki burung hijau itu berada di antara gigi-gigi ikan besar. Kemudian ikan besar kembali ke tempatnya dan beristirahat. Masing-masing dari burung hijau dan ikan besar saling menjadi sebab satu sama lain. Allah tidak meninggalkan burung hijau tanpa mendapatkan rizki. Lantas apakah Allah akan meninggalkan manusia tanpa memperoleh rizkinya?”


b.    Disuapi Roti Oleh Burung Gagak


Diceritakan bahwa sebab Ibrahim bin Adham bertaubat adalah bahwa pada suatu hari, ia keluar berburu. Kemudian ia beristirahat di suatu tempat sambil mengeluarkan nampan piring untuk memakan bekal makanannya. 

 

Saat makanan berada di atas nampan piring, tiba-tiba burung gagak datang dan menyambar rotinya dengan paruh dan langsung terbang ke udara. Ibrahim pun kaget. Kemudian ia bergegas menaiki kuda dan mengejar burung gagak itu hingga menuju ke arah gunung. Ibrahim kehilangan jejak. Ia pun terus mengejar burung gagak itu dengan naik ke arah gunung. Tiba- tiba dari kejauhan, ia melihat burung gagak itu. 

 

Ketika ia telah mendekati, burung gagak itu kaget dan akhirnya terbang. Melihat tempat burung gagak itu mulai terbang, tiba-tiba Ibrahim melihat seorang laki-laki terikat tergeletak miring di gunung. Ia pun turun dari kudanya dan melepaskan ikatan laki-laki itu. Setelah laki- laki itu terbebas, Ibrahim pun menanyakan apa yang telah terjadi padanya. Laki-laki itu menjelaskan;


“Sebenarnya aku adalah seorang pedagang. Aku telah dirampok oleh segerombolan perampok. Semua harta yang aku bawa dirampas oleh mereka. Mereka menganiayaku, mengikatku, dan membuangku di tempat ini. Aku bertahan di sini sudah selama 7 hari. Setiap harinya, burung gagak itu membawakanku roti. Ia berada di atas dadaku dan memotong- motong roti dengan paruhnya. Kemudian ia menyuapkannya ke mulutku. Selama 7 hari itu, Allah tidak meninggalkanku dalam kelaparan.”


Setelah mendengar cerita laki-laki itu, Ibrahim pun menaiki kudanya dan memboncengkan laki-laki itu untuk di antarkan ke tempat dimana ia tinggal. Kemudian Ibrahim pun bertaubat dan kembali kepada Allah. Ia melepas dan meninggalkan pakaian bagusnya dan hanya mengenakan pakaian bulu. Ia juga memerdekakan semua budak- budaknya. Ia juga mewakafkan tanah dan harta miliknya. Kemudian ia mengenakan tongkat dan pergi menuju kota Mekah tanpa membawa bekal dan kendaraan. Ia hanya berpasrah diri kepada Allah dan tidak kuatir dengan bekalnya. Dalam perjalanannya, ia tidak merasa kelaparan hingga ia sampai di kota Mekah. Ia bersyukur dan memuja Allah.


Allah berfirman, “Barang siapa berpasrah diri kepada Allah maka Dia    akan    mencukupinya. Sesungguhnya Allah berkuasa atas kehendak-Nya. Allah telah menetapkan takdir bagi segala sesuatu.



2. ANJURAN MEMBACA QUL HUWALLOHU AHAD

 



🕌 ANJURAN MEMBACA QUL HUWALLAHU AHAD

Diriwayatkan dari Ali bin Abu Tholib bahwa ia berkata bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Barang siapa membaca Surat al- Ikhlas setelah sholat Subuh sebanyak 10 kali maka tidak ada suatu dosa yang menimpanya pada hari itu meskipun setan berusaha menggodanya. Surat al- Ikhlas adalah Surat Makiyyah (yang    diturunkan    ketika Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berada di Mekah). Surat itu memiliki 4 (empat ayat), 15 kalimat, dan 47 huruf.”

Diriwayatkan dari Ubay bin Kaab radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bahwa ia bersabda, “Barang siapa membaca Surat al- Ikhlas satu kali maka ia diberi pahala sebanyak pahala 100 orang mati syahid.”

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, ‘Barang siapa membaca Surat al- Ikhlas sebanyak satu kali maka seolah-olah ia telah membaca 1/3 al-Quran. Dan barang siapa membacanya dua kali maka seolah-olah ia telah membaca 2/3 al-Quran. Dan barang siapa membacanya tiga kali maka seolah-olah ia telah membaca seluruh al-Quran. Barang siapa membacanya sebanyak sebelas kali maka Allah membangunkan untuknya rumah di surga yang terbuat dari intan merah.”

Baik, saya coba buatkan naskah bacaan koran dengan struktur rapi, lengkap sesuai permintaan. Saya susun seperti artikel kajian Islami yang bisa dimuat di buletin masjid atau koran.


Ringkasan Redaksi Aslinya

Rasulullah ﷺ bersabda:

  • Membaca Surat Al-Ikhlas 10 kali setelah Subuh: dijaga dari dosa sepanjang hari, meskipun setan berusaha mengganggu.
  • Membaca 1 kali: pahala seperti 100 syuhada.
  • Membaca 1 kali = 1/3 Al-Qur’an, 2 kali = 2/3 Al-Qur’an, 3 kali = seperti membaca seluruh Al-Qur’an.
  • Membaca 11 kali: Allah membangunkan rumah di surga dari intan merah.

Maksud, Hakekat, dan Tafsir Judul

Qul Huwallahu Ahad adalah kalimat pembuka Surat Al-Ikhlas. Surat ini menegaskan tauhid murni: Allah Esa, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tiada tandingan bagi-Nya.

Hakekat dari surat ini:

  • Meneguhkan aqidah tauhid.
  • Mengajarkan keikhlasan dalam beribadah.
  • Menjadi benteng dari godaan syirik, kufur, dan tipu daya setan.

Tujuan dan Manfaat

  1. Mengokohkan iman dengan tauhid.
  2. Memberi amalan ringan tapi pahalanya agung.
  3. Menjadi zikir praktis yang bisa diamalkan siapa saja.
  4. Menjadi obat hati dari rasa takut, ragu, dan was-was.

Latar Belakang Masalah di Jamannya

Ketika orang kafir Quraisy menanyakan sifat Allah, mereka membandingkan dengan berhala-berhala yang terbuat dari emas, perak, atau tembaga. Maka turunlah Surat Al-Ikhlas sebagai jawaban tegas: Allah tidak serupa dengan makhluk.


Intisari Masalah

Manusia sering mencari Tuhan dengan logika terbatas, lalu mengukur Allah dengan standar makhluk. Surat Al-Ikhlas hadir untuk meluruskan: Allah Esa, sempurna, dan berbeda dari segala ciptaan.


Sebab Terjadinya Masalah

  • Kebodohan kaum kafir Quraisy tentang hakikat tauhid.
  • Kebiasaan menyamakan Tuhan dengan berhala atau makhluk.
  • Hawa nafsu yang menolak kebenaran.

Dalil

Al-Qur’an:

  • Qul Huwallahu Ahad. Allahus Shamad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakun lahu kufuwan ahad. (QS. Al-Ikhlas: 1-4)

Hadis:

  • “Al-Ikhlas itu sebanding dengan sepertiga Al-Qur’an.” (HR. Bukhari, Muslim).
  • “Barang siapa membaca Al-Ikhlas 10 kali, Allah bangunkan rumah di surga baginya.” (HR. Ahmad).

Analisis dan Argumentasi

Al-Ikhlas adalah surat pendek namun memiliki bobot aqidah yang besar. Rasulullah ﷺ menekankan bahwa keikhlasan bukan sekadar niat, tapi juga keyakinan penuh kepada Allah Yang Esa. Membacanya berulang kali melatih hati untuk melekat pada tauhid.


Relevansi Saat Ini

Di zaman modern, manusia sering terjebak pada “berhala baru”: harta, jabatan, popularitas. Surat Al-Ikhlas mengingatkan bahwa hanya Allah tempat bergantung, bukan dunia yang fana.


Hikmah

  • Mengamalkan surat ini menenangkan jiwa.
  • Menumbuhkan rasa cukup, karena hanya Allah yang mencukupi.
  • Menjadi amalan ringan, tapi menghapus beratnya dosa.

Muhasabah dan Caranya

  1. Biasakan membaca Al-Ikhlas setelah Subuh 10 kali.
  2. Baca minimal 3 kali sebelum tidur, sebagaimana diajarkan Nabi ﷺ.
  3. Tanamkan dalam hati: Allah satu-satunya tujuan.
  4. Jauhkan hati dari bergantung pada makhluk.

Doa

Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazan, wa a’udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a’udzu bika minal jubni wal bukhl, wa a’udzu bika min ghalabatid-dayni wa qahrir-rijal.
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan malas, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari lilitan hutang dan tekanan manusia.”


Nasehat Ulama Tasawuf

  • Hasan Al-Bashri: “Ikhlas itu rahasia antara Allah dan hamba-Nya.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku menyembah Allah bukan karena takut neraka atau mengharap surga, tapi karena cinta.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Jalan menuju Allah adalah ikhlas tanpa pamrih.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Tauhid adalah melepaskan hati dari segala selain Allah.”
  • Al-Hallaj: “Barangsiapa mengenal Allah, ia lenyap dari dirinya.”
  • Imam al-Ghazali: “Ikhlas adalah memurnikan niat hanya untuk Allah.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Bacalah Al-Ikhlas, maka hatimu akan ikhlas.”
  • Jalaluddin Rumi: “Surat ini adalah tarian ruh yang menuju Esa.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Al-Ikhlas mengajarkan kita tentang kesatuan wujud.”
  • Ahmad al-Tijani: “Amalkan Al-Ikhlas, ia cahaya yang membuka pintu surga.”

Daftar Pustaka

  1. Shahih Bukhari & Muslim.
  2. Tafsir Ibnu Katsir.
  3. Ihya Ulumuddin – Imam Al-Ghazali.
  4. Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  5. Risalah al-Qusyairiyah – Imam al-Qusyairi.
  6. Matsnawi – Jalaluddin Rumi.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para jamaah, guru, dan sahabat yang selalu mendukung semangat berbagi ilmu. Semoga Allah memberikan keberkahan kepada kita semua.


✍️ Penulis: M. Djoko Ekasanu




Memperbaiki Niat Dan Berusaha Ikhlas. (1)

 Memperbaiki Niat Dan Berusaha Ikhlas.


Wahai saudaraku, hendaklah Anda selalu memperbaiki dan menuluskan niatmu sebelum beramal. Karena ia merupakan sendi segala amal. Baik buruknya amal, selalu tergantung pada niatnya.


Rasulullah Saw. bersabda:


إِنَّمَاالْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَالِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى.


“Segala perbuatan tergantung pada niat dan setiap orang akan memperoleh pahala menurut niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Oleh karena itu, janganlah Anda berbicara, bekerja dan berkehendak tanpa didasari dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah serta senantiasa mengharap pahala-Nya. Dengan demikian Allah Ta’ala pasti memberikan anugerah dan kemuliaan padamu.


Hubungan antara Niat dan Pendekatan Diri kepada Allah Ta’ala


Ketahuilah, bahwa tak akan sempurna pendekatan dirimu kepada Allah Ta’ala, bila tidak dengan yg digariskan oleh Allah Ta’ala melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad Saw., baik yg fardlu maupun Sunnah.


Adakalanya niat yg benar itu memberi pengaruh pada perkata² mubah, sehingga ia menjadi qurbah (perbuatan yg mendekatkan diri kepada Allah). Hal ini sesuai dengan kaidah ilmu ushul: Alwasail Hukmul Maqashid. Misalnya ketika kita makan, berniat untuk memperoleh kekuatan dan gairah dalam beribadah kepada Allah, ketika berhubungan dengan istri, kita berniat agar dikaruniai anak yg saleh.


Hubungan antara Niat dan Amal


Niat dikatakan benar jika disertai dengan pengamalan. Contohnya, seseorang yg menuntut ilmu, dan berniat untuk mengamalkannya tetapi ketika sudah berilmu ia tidak melaksanakannya, maka niatnya tidak benar.


Bagi mereka yg mencari kekayaan dunia dengan niat untuk tidak meminta² kepada orang lain, mampu bersedekah pada yg membutuhkan dan menjalin tali silahturahmi dengan kerabatnya. Dan bila niat itu pun tidak dilaksanakan, maka hampa pulalah niat itu.


Dan niat tidak memberi pengaruh sama sekali terhadap perbuatan² maksiat, sebagaimana bersuci tidak memberi pengaruh terhadap benda² najis (seperti daging babi, biar dicuci berapa kali pun, ia tetap najis). Karenanya, seseorang yg berjumpa dengan orang lain yg sedang menggunjing, lalu ia ikut ambil bagian dalam pergunjingan itu dengan tujuan untuk menyenangkan hati si penggunjing, maka ia termasuk salah seorang penggunjing pula.


Siapa saja yg diam dan tidak menyampaikan amar makruf nahi munkar ketika melihat sesuatu kemunkaran dengan alasan tak ingin melukai hati pelakunya maka ia telah bekerja sama dalam dosa.


Suatu amal baik menjadi batil bila didasari dengan niat jelek, misalnya beramal saleh untuk mengejar kekayaan dan pangkat.


Maka berusahalah, wahai saudaraku, agar niatmu dalam ibadah itu semata² hanya untuk mencari keridhaan Allah Ta`ala. Dan berniatlah ketika melakukan hal² yg mubah, sebagai penolong untuk melakukan perbuatan taat kepada Allah.


Ketahuilah, apabila seseorang menyatukan beberapa niat baiknya dalam satu amal perbuatan, maka ia akan memperoleh pahala sebanyak niat yg ia lakukan.


Hubungannya dengan hal ibadah, misalnya pada saat kita membaca Al-Qur`an dapat menyatukan beberapa niat, yaitu: bermunajah kepada Allah Ta’ala, menggali ilmu yg ada dalam Al-Qur`an, dan memberi manfaat bagi para pendengar.


Hubungannya dengan mubah, contohnya pada waktu kita makan, seyogyanya kita berniat untuk:


– Melaksanakan perintah Allah Taala yg tersebut dalam firman-Nya:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَ‌زَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُ‌وا لِلَّـهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ ﴿١٧٢﴾


“Hai orang² yg beriman, makanlah di antara rezeki yg baik² yg Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar² kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172)


– Untuk selalu mendapatkan kekuatan dan gairah untuk beribadah kepada-Nya.


– Dan menjadikannya sebab untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya. Ini sesuai dengan Al-Qur`an surah As-Saba` ayat 15 yg berbunyi:


لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِن رِّ‌زْقِ رَ‌بِّكُمْ وَاشْكُرُ‌وا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَ‌بٌّ غَفُورٌ‌ ﴿١٥﴾


“Sesungguhnya bagi kaum Saba` ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yg (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yg baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (QS. As-Saba`: 15)


Pengertian Niat


Niat mempunyai dua pengertian. Pertama, niat adalah ungkapan tentang suatu keinginan yg mendorongmu untuk berkehendak, beramal dan berbicara.


Dengan pengertian ini, niat kebanyakan lebih baik daripada amal jika amal yg diniatkan itu baik dan sebaliknya lebih buruk dari amal jika amal yg diniatkan itu buruk. Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.:


نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ.


“Niat orang yg beriman lebih baik daripada amalnya.” (HR. Baihaqi)


Renungkanlah, mengapa hal ini dikhususkan pada orang mukmin. 


Kedua, niat merupakan ungkapan tentang suatu amal perbuatan. Tetapi niat ini tidak mungkin lepas dari hal² berikut :


1. Berniat dan langsung melaksanakannya.


2. Berniat tapi tidak langsung melaksanakannya padahal sudah mampu untuk melakukannya. Niat inilah yg disebut azzam (cita²).


Keduanya dijelaskan dalam hadits yg diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah Saw., bahwa Beliau bersabda:


إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَاكَتَبَهَااللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هَمَّ بِهَافَعَمِلَهَاكَتَبَهَااللَّهُ عِنْدَهُ عَشَرَحَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضَعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَاكَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هَمَّ بِهَافَعَمِلَهَاكَتَبَهَااللَّهُ عِنْدَ هُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً.


“Barangsiapa bermaksud mengerjakan satu kebaikan lalu tidak melaksanakannya, Allah akan mencatat baginya satu kebaikan. Apabila ia melaksanakannya, Allah akan mencatat sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat, bahkan tak terhingga kelipatannya. Dan barangsiapa bermaksud mengerjakan satu kejahatan, lalu ia tidak mengerjakannya, Allah mencatat baginya satu kebajikan. Apabila ia mengerjakannya, Allah hanya mencatat satu kejahatan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas).


3. Berniat tapi tak mampu melaksanakannya kemudian ia hanya berharap.


Maka, meskipun ia tidak melaksanakannya, ia akan memperoleh pahala seperti yg melaksanakannya.


Ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.:


أَلنَّاسُ أَرْبَعَةٌ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًاوَمَالَا فَهُوَ يَعْمَلُ فِى مَالِهِ بِعِلْمِهِ فَيَقُوْلُ آجَرُلَوْ آتَانِىَ اللَّهُ مِثْلَ مَاآتَاعَمِلْتُ مِثْلَ عَمَلِهِ فَهُمَافِى الْأَجْرِسَوَاءٌ, وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يُؤْتِهِ عِلْمًافَهُوَ يَخْبِطُ فِى مَالِهِ بِجَهْلِهِ فَيَقُوْلُ آخَرُلَوْ آتَانِىَ اللَّهُ مِثْلَ مَاآتَاهُ عَمِلْتُ مِثْلَ عَمَلِهِ فَهُمَافِى الْوَزْرِسَوَاءٌ.


“Manusia terbagi atas empat golongan. Pertama, orang yg dikaruniai ilmu dan kekayaan oleh Allah. Dan ia mampu memanfaatkan kekayaannya dengan ilmunya. Kedua, orang yg hanya berniat, jika Allah mengaruniaiku seperti dia, saya juga akan beramal seperti dia. Maka kedua orang tersebut mendapat pahala yg sama. Ketiga, orang yg dikaruniai oleh Allah Ta’ala kekayaan, tanpa ilmu, kemudian ia menggunakan hartanya dengan kebodohannya. Orang ke empat, ialah orang yg hanya berniat untuk mengikuti jejak orang ketiga, bila ia diberi karunia itu. Maka mereka berdua menanggung beban dosa yg sama.” (Al-Hadits) Risalatul Mu’awanah:


2. Memperbaiki Niat Dan Berusaha Ikhlas.


Wahai saudaraku, hendaklah Anda selalu memperbaiki dan menuluskan niatmu sebelum beramal. Karena ia merupakan sendi segala amal. Baik buruknya amal, selalu tergantung pada niatnya.


Rasulullah Saw. bersabda:


إِنَّمَاالْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَالِكُلِّ امْرِئٍ مَانَوَى.


“Segala perbuatan tergantung pada niat dan setiap orang akan memperoleh pahala menurut niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Oleh karena itu, janganlah Anda berbicara, bekerja dan berkehendak tanpa didasari dengan niat untuk mendekatkan diri kepada Allah serta senantiasa mengharap pahala-Nya. Dengan demikian Allah Ta’ala pasti memberikan anugerah dan kemuliaan padamu.


Hubungan antara Niat dan Pendekatan Diri kepada Allah Ta’ala


Ketahuilah, bahwa tak akan sempurna pendekatan dirimu kepada Allah Ta’ala, bila tidak dengan yg digariskan oleh Allah Ta’ala melalui lisan Rasul-Nya, Muhammad Saw., baik yg fardlu maupun Sunnah.


Adakalanya niat yg benar itu memberi pengaruh pada perkata² mubah, sehingga ia menjadi qurbah (perbuatan yg mendekatkan diri kepada Allah). Hal ini sesuai dengan kaidah ilmu ushul: Alwasail Hukmul Maqashid. Misalnya ketika kita makan, berniat untuk memperoleh kekuatan dan gairah dalam beribadah kepada Allah, ketika berhubungan dengan istri, kita berniat agar dikaruniai anak yg saleh.


Hubungan antara Niat dan Amal


Niat dikatakan benar jika disertai dengan pengamalan. Contohnya, seseorang yg menuntut ilmu, dan berniat untuk mengamalkannya tetapi ketika sudah berilmu ia tidak melaksanakannya, maka niatnya tidak benar.


Bagi mereka yg mencari kekayaan dunia dengan niat untuk tidak meminta² kepada orang lain, mampu bersedekah pada yg membutuhkan dan menjalin tali silahturahmi dengan kerabatnya. Dan bila niat itu pun tidak dilaksanakan, maka hampa pulalah niat itu.


Dan niat tidak memberi pengaruh sama sekali terhadap perbuatan² maksiat, sebagaimana bersuci tidak memberi pengaruh terhadap benda² najis (seperti daging babi, biar dicuci berapa kali pun, ia tetap najis). Karenanya, seseorang yg berjumpa dengan orang lain yg sedang menggunjing, lalu ia ikut ambil bagian dalam pergunjingan itu dengan tujuan untuk menyenangkan hati si penggunjing, maka ia termasuk salah seorang penggunjing pula.


Siapa saja yg diam dan tidak menyampaikan amar makruf nahi munkar ketika melihat sesuatu kemunkaran dengan alasan tak ingin melukai hati pelakunya maka ia telah bekerja sama dalam dosa.


Suatu amal baik menjadi batil bila didasari dengan niat jelek, misalnya beramal saleh untuk mengejar kekayaan dan pangkat.


Maka berusahalah, wahai saudaraku, agar niatmu dalam ibadah itu semata² hanya untuk mencari keridhaan Allah Ta`ala. Dan berniatlah ketika melakukan hal² yg mubah, sebagai penolong untuk melakukan perbuatan taat kepada Allah.


Ketahuilah, apabila seseorang menyatukan beberapa niat baiknya dalam satu amal perbuatan, maka ia akan memperoleh pahala sebanyak niat yg ia lakukan.


Hubungannya dengan hal ibadah, misalnya pada saat kita membaca Al-Qur`an dapat menyatukan beberapa niat, yaitu: bermunajah kepada Allah Ta’ala, menggali ilmu yg ada dalam Al-Qur`an, dan memberi manfaat bagi para pendengar.


Hubungannya dengan mubah, contohnya pada waktu kita makan, seyogyanya kita berniat untuk:


– Melaksanakan perintah Allah Taala yg tersebut dalam firman-Nya:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَ‌زَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُ‌وا لِلَّـهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ ﴿١٧٢﴾


“Hai orang² yg beriman, makanlah di antara rezeki yg baik² yg Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar² kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. Al-Baqarah: 172)


– Untuk selalu mendapatkan kekuatan dan gairah untuk beribadah kepada-Nya.


– Dan menjadikannya sebab untuk selalu mensyukuri nikmat-Nya. Ini sesuai dengan Al-Qur`an surah As-Saba` ayat 15 yg berbunyi:


لَقَدْ كَانَ لِسَبَإٍ فِي مَسْكَنِهِمْ آيَةٌ ۖ جَنَّتَانِ عَن يَمِينٍ وَشِمَالٍ ۖ كُلُوا مِن رِّ‌زْقِ رَ‌بِّكُمْ وَاشْكُرُ‌وا لَهُ ۚ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَ‌بٌّ غَفُورٌ‌ ﴿١٥﴾


“Sesungguhnya bagi kaum Saba` ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yg (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yg baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (QS. As-Saba`: 15)


Pengertian Niat


Niat mempunyai dua pengertian. Pertama, niat adalah ungkapan tentang suatu keinginan yg mendorongmu untuk berkehendak, beramal dan berbicara.


Dengan pengertian ini, niat kebanyakan lebih baik daripada amal jika amal yg diniatkan itu baik dan sebaliknya lebih buruk dari amal jika amal yg diniatkan itu buruk. Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.:


نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ.


“Niat orang yg beriman lebih baik daripada amalnya.” (HR. Baihaqi)


Renungkanlah, mengapa hal ini dikhususkan pada orang mukmin. 


Kedua, niat merupakan ungkapan tentang suatu amal perbuatan. Tetapi niat ini tidak mungkin lepas dari hal² berikut :


1. Berniat dan langsung melaksanakannya.


2. Berniat tapi tidak langsung melaksanakannya padahal sudah mampu untuk melakukannya. Niat inilah yg disebut azzam (cita²).


Keduanya dijelaskan dalam hadits yg diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. dari Rasulullah Saw., bahwa Beliau bersabda:


إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ بِقَوْلِهِ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَاكَتَبَهَااللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هَمَّ بِهَافَعَمِلَهَاكَتَبَهَااللَّهُ عِنْدَهُ عَشَرَحَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضَعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَاكَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً فَإِنْ هَمَّ بِهَافَعَمِلَهَاكَتَبَهَااللَّهُ عِنْدَ هُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً.


“Barangsiapa bermaksud mengerjakan satu kebaikan lalu tidak melaksanakannya, Allah akan mencatat baginya satu kebaikan. Apabila ia melaksanakannya, Allah akan mencatat sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus lipat, bahkan tak terhingga kelipatannya. Dan barangsiapa bermaksud mengerjakan satu kejahatan, lalu ia tidak mengerjakannya, Allah mencatat baginya satu kebajikan. Apabila ia mengerjakannya, Allah hanya mencatat satu kejahatan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas).


3. Berniat tapi tak mampu melaksanakannya kemudian ia hanya berharap.


Maka, meskipun ia tidak melaksanakannya, ia akan memperoleh pahala seperti yg melaksanakannya.


Ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw.:


أَلنَّاسُ أَرْبَعَةٌ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًاوَمَالَا فَهُوَ يَعْمَلُ فِى مَالِهِ بِعِلْمِهِ فَيَقُوْلُ آجَرُلَوْ آتَانِىَ اللَّهُ مِثْلَ مَاآتَاعَمِلْتُ مِثْلَ عَمَلِهِ فَهُمَافِى الْأَجْرِسَوَاءٌ, وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يُؤْتِهِ عِلْمًافَهُوَ يَخْبِطُ فِى مَالِهِ بِجَهْلِهِ فَيَقُوْلُ آخَرُلَوْ آتَانِىَ اللَّهُ مِثْلَ مَاآتَاهُ عَمِلْتُ مِثْلَ عَمَلِهِ فَهُمَافِى الْوَزْرِسَوَاءٌ.


“Manusia terbagi atas empat golongan. Pertama, orang yg dikaruniai ilmu dan kekayaan oleh Allah. Dan ia mampu memanfaatkan kekayaannya dengan ilmunya. Kedua, orang yg hanya berniat, jika Allah mengaruniaiku seperti dia, saya juga akan beramal seperti dia. Maka kedua orang tersebut mendapat pahala yg sama. Ketiga, orang yg dikaruniai oleh Allah Ta’ala kekayaan, tanpa ilmu, kemudian ia menggunakan hartanya dengan kebodohannya. Orang ke empat, ialah orang yg hanya berniat untuk mengikuti jejak orang ketiga, bila ia diberi karunia itu. Maka mereka berdua menanggung beban dosa yg sama.” (Al-Hadits).

Mati: Perjalanan Menuju Kekekalan.



Judul Buku: “Mati: Perjalanan Menuju Kekekalan”

Bab 1: Asal Kata dan Makna Mati

Asal Kata:
Kata "mati" berasal dari bahasa Arab: مَاتَ – يَمُوتُ – مَوْتًا yang berarti "wafat" atau "berhenti hidup".
Makna istilahnya: berpindah dari alam dunia menuju alam barzakh sebagai bagian dari siklus kehidupan makhluk ciptaan Allah.


Bab 2: Keutamaan Mengingat Kematian

Ayat Al-Qur’an:

  • “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati...” (QS. Ali Imran: 185)
  • “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, walaupun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh...” (QS. An-Nisa: 78)

Hadis:

  • “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi)

Hikmah:
Mengingat mati membuat hati lembut, menumbuhkan taubat, menyadarkan akan kefanaan dunia, dan memotivasi amal saleh.


Bab 3: Hukum Mengingat dan Mempersiapkan Kematian

Hukum:
Mengingat kematian adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), dan mempersiapkan diri untuknya adalah wajib secara moral dan syar’i.

Dalil:

  • “Dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah dipersiapkan untuk hari esok (akhirat).” (QS. Al-Hasyr: 18)

Hadis:

  • “Orang cerdas adalah orang yang menghisab dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi)

Bab 4: Adab dalam Menghadapi dan Mengurus Kematian

Adab Sebelum Mati:

  • Berwasiat
  • Bertobat
  • Meminta maaf kepada orang lain
  • Meninggalkan urusan dunia secara baik

Adab Saat Sakaratul Maut:

  • Membimbing mengucapkan kalimat syahadat
  • Membacakan Yasin (HR. Abu Dawud)

Adab Setelah Mati:

  • Menutup mata
  • Mendoakan
  • Menyegerakan pemakaman
  • Tidak meratapi berlebihan

Bab 5: Kematian Husnul Khatimah

Ciri-ciri:

  • Meninggal dengan kalimat syahadat
  • Dalam keadaan beribadah
  • Dalam keadaan tobat
  • Meninggal pada hari Jumat

Ayat:

  • “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): Janganlah kamu takut dan jangan bersedih hati.” (QS. Fussilat: 30)

Hadis:

  • “Barang siapa akhir ucapannya ‘La ilaha illallah’, maka ia masuk surga.” (HR. Abu Dawud)

Bab 6: Kematian Su’ul Khatimah

Ciri-ciri:

  • Mati dalam keadaan maksiat
  • Menolak kalimat syahadat
  • Hati berpaling dari Allah

Ayat:

  • “Dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Hadis:

  • “Sungguh, ada seseorang yang beramal dengan amalan ahli surga... namun akhirnya ia melakukan amalan ahli neraka dan ia masuk neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bab 7: Relevansi dengan Kondisi Indonesia Saat Ini

  • Budaya konsumtif, hedonisme, dan kemaksiatan yang terbuka membuat umat terlena.
  • Banyak kematian mendadak dan tanpa persiapan ruhani.
  • Perlu gerakan dakwah kematian dan kesadaran akhirat agar hidup lebih bermakna.

Bab 8: Nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Bersiaplah untuk mati sebelum maut mendatangimu. Jadilah seperti orang yang merantau: ia tak membawa banyak barang, tapi semua yang dibawa adalah bekal untuk pulang.”


Bab 9: Nasihat Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

“Bagaimana engkau bisa merasa tenang dengan dunia, sedangkan kematian mengintaimu setiap waktu? Setiap tarikan nafas adalah langkah menuju kubur.”


Lampiran Cerita Hikmah: “Dosa Terhapus Saat Menyusul Azan”

Seorang pemuda yang biasa meninggalkan salat, tiba-tiba satu hari ia berkata pada ibunya, “Bu, aku ingin salat di masjid.” Ia wudhu, berangkat ke masjid, namun ajalnya datang di tengah perjalanan. Ia ditemukan wafat dalam posisi berlutut, wajah bersinar.

Kata imam masjid: “Mungkin inilah husnul khatimah. Allah menutup hidupnya dengan niat baik dan amal terakhirnya adalah menuju salat.”




Doa: Jalan Menuju Cahaya.


Judul Buku: “Doa: Jalan Menuju Cahaya”

Bab 1: Asal Kata dan Makna Doa

Asal Kata:

Kata “doa” berasal dari bahasa Arab: الدُّعَاءُ (ad-du‘ā’), yang berasal dari akar kata دَعَا - يَدْعُو yang berarti “memanggil”, “memohon”, atau “meminta”.

Makna Istilah:

Doa secara istilah berarti permohonan hamba kepada Tuhannya, sebagai wujud penghambaan dan pengakuan atas kelemahan diri, serta keyakinan bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.

---

Bab 2: Keutamaan Doa

Ayat Al-Qur'an:

“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghafir: 60)

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Hadis:

“Doa adalah senjata orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.” (HR. Al-Hakim)

“Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa.” (HR. Tirmidzi)

---

Bab 3: Hukum Berdoa

Hukum:

Berdoa adalah wajib dalam arti umum, terutama dalam keadaan sangat membutuhkan, dan sunnah dalam banyak kondisi.

Dalil Al-Qur’an:

“Dan janganlah kamu menyembah selain Allah, yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) mendatangkan mudarat kepadamu, sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu), maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus: 106)

Hadis:

“Barang siapa tidak berdoa kepada Allah, maka Allah akan murka kepadanya.” (HR. Tirmidzi)

---

Bab 4: Adab Berdoa

Adab Doa:

1. Menghadap kiblat

2. Mengangkat tangan

3. Memulai dengan pujian dan shalawat

4. Berdoa dengan khusyuk dan suara lembut

5. Yakin dikabulkan

6. Tidak tergesa-gesa

Dalil:

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-A'raf: 55)

Hadis:

“Sesungguhnya Allah Maha Baik, Dia tidak menerima kecuali yang baik.” (HR. Muslim) — ini menunjukkan pentingnya keikhlasan dan kesucian hati saat berdoa.

---

Bab 5: Doa yang Diterima

Syarat Doa Diterima:

Yakin dikabulkan

Tidak tergesa-gesa

Makanan dan pakaian halal

Hati khusyuk

Hadis:

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak sungguh-sungguh.” (HR. Tirmidzi)

---

Bab 6: Doa yang Ditolak

Penyebab Doa Ditolak:

Makanan haram

Tidak ikhlas

Melanggar etika berdoa

Tidak bersungguh-sungguh

Hadis:

“Seorang laki-laki yang rambutnya kusut masai dan berdebu karena perjalanan panjang, mengangkat tangan ke langit dan berkata: ‘Ya Rabb, ya Rabb,’ padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” (HR. Muslim)

---

Bab 7: Relevansi Doa dengan Kondisi Indonesia

Di tengah krisis moral, ekonomi, dan sosial, doa menjadi bentuk ketundukan kepada Allah dan perwujudan harapan. Masyarakat Indonesia yang religius secara budaya memiliki peluang besar untuk menjadikan doa sebagai kekuatan kolektif dalam menjemput solusi dari Allah.

---

Bab 8: Nasihat dari Syekh Abdul Qadir al-Jailani

> “Jangan putus asa dalam berdoa, meski pintu-pintu langit belum terbuka. Doa yang tertunda itu seperti benih yang ditanam, ia butuh waktu untuk tumbuh.”

---

Bab 9: Nasihat dari Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

> “Jangan karena lambatnya pemberian dari Allah dalam doamu, lalu kamu putus asa. Allah akan memberi pada waktunya, tidak menurut keinginanmu, tapi menurut hikmah-Nya.”

---

Lampiran Cerita Hikmah: “Doa dari Hati yang Terluka”

Seorang ibu miskin yang setiap malam memanjatkan doa untuk anaknya agar tidak ikut geng motor. Ia hanya berdoa, menangis dalam sujud. Beberapa bulan kemudian, sang anak mengalami kecelakaan kecil, membuatnya sadar dan bertobat. Ia berkata, “Waktu aku sadar, aku teringat wajah ibu saat berdoa.”

> Hikmah: Doa yang ikhlas bisa menembus kerasnya hati manusia.

---

Gelisah Duniawi vs Ukhrawi.


Buku Renungan: Gelisah Duniawi vs Ukhrawi


1. Teks Arab


قال عثمان رضي الله عنه:

همّ الدنيا ظلمة في القلب، وهمّ الآخرة نور في القلب.


---


2. Bacaan Latin


Qāla ‘Utsmān raḍiyallāhu ‘anhu:

Hammu ad-dunyā ẓulmatun fī al-qalb, wa hammu al-ākhirah nūrun fī al-qalb.


---


3. Terjemahan


Utsman r.a. berkata: “Bingung memikirkan dunia akan menjadikan hati gelap, sedangkan bingung memikirkan akhirat akan menjadikan hati terang.”


---


4. Hikmah Ungkapan


Kegelisahan karena dunia menggelapkan hati, karena isinya hanya hawa nafsu, persaingan, dan ketamakan.


Kegelisahan karena akhirat justru mencerahkan, sebab mengingatkan kita pada Allah, tanggung jawab, dan keselamatan abadi.


Orang yang fokus pada akhirat akan tetap tenang, sekalipun dunia bergejolak.


---


5. Tafsir Maknawi


"Hammu ad-dunyā ẓulmatun fī al-qalb”: Dunia sering membuat kita lalai. Ketika hati hanya memikirkan uang, status, dan ambisi dunia, maka nurani menjadi sempit dan gelap.


"Hammu al-ākhirah nūrun fī al-qalb”: Memikirkan akhirat membentuk kepekaan, keikhlasan, dan keberanian hidup. Cahaya iman akan muncul dari sana.


---


6. Hadis yang Berkaitan


1. “Barangsiapa yang niat utamanya adalah dunia, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya, menjadikan kemiskinan di pelupuk matanya, dan dunia tidak akan mendatanginya kecuali sekadar yang telah ditentukan.”

(HR. Tirmidzi)


2. “Orang cerdas adalah yang menghisab dirinya dan beramal untuk setelah mati. Sedangkan orang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berharap dari Allah dengan harapan kosong.”

(HR. Tirmidzi)


---


7. Ayat Al-Qur’an yang Berkaitan


QS. Al-Hadid: 20


> “Ketahuilah, bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan dan saling berbangga... dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”


QS. Al-A‘la: 16–17


> “Tetapi kamu lebih memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.”


QS. An-Nur: 35


> “Allah adalah cahaya langit dan bumi...”

(Cahaya ini masuk ke dalam hati orang yang mengingat akhirat dan menjauh dari dunia.)


---


8. Relevansi di Indonesia Saat Ini


Banyak orang tersesat dalam kecemasan finansial, budaya konsumtif, dan media sosial yang memperparah orientasi duniawi.


Ungkapan Sayyidina Utsman ini menjadi reminder spiritual untuk kaum muda dan pengusaha agar tidak terperangkap dalam ambisi dunia.


Dengan kembali ke nilai ukhrawi, hati menjadi lapang, damai, dan tangguh dalam menghadapi krisis.




---


9. Nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani


"Jika engkau melihat dunia menghampirimu, maka jauhilah ia. Karena ia akan menghitamkan hatimu. Tapi bila engkau melihat akhirat hadir di hatimu, maka bersujudlah dengan penuh syukur. Itulah cahaya yang menuntunmu pulang."


(Futuh al-Ghaib)



---


10. Nasihat Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari


"Salah satu tanda matinya hati: engkau resah jika kehilangan dunia, dan engkau tenang-tenang saja jika kehilangan akhirat."

(al-Hikam)



---


11. Lampiran Cerita Hikmah


“Cermin Penjual Es”


Seorang penjual es yang sederhana ditanya:

"Apa yang membuatmu bahagia walau hidup susah?"


Ia menjawab, “Aku menjual sesuatu yang akan mencair dan hilang — seperti dunia. Maka aku tak mau hatiku juga mencair karena dunia. Setiap hari aku ingatkan diriku: jangan simpan hatimu di tempat yang akan mencair.”



---



Mencari Kemuliaan di Sisi Allah.

Berikut adalah draft awal buku kecil yang membahas hadis mulia tentang memberi dan memaafkan, disusun secara lengkap:


Buku Hikmah dan Tafsir: Mencari Kemuliaan di Sisi Allah

1. Teks Arab Hadis

ابْتَغِ الْمَعْرُوفَ عِنْدَ اللَّهِ، بِأَنْ تَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ، وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ

(HR. Ibnu ‘Adiy dari Ibnu ‘Umar)


2. Bacaan Latin

Ibtaghi al-ma‘rūfa ‘inda Allāh, bi’an ta‘fū ‘amman ẓalamaka, wa tu‘ṭiya man ḥaramaka.


3. Terjemahan

"Carilah kemuliaan (kebaikan) di sisi Allah, dengan cara engkau memaafkan orang yang menzalimimu dan engkau memberi kepada orang yang tidak memberimu."
(HR. Ibnu ‘Adiy dari Ibnu ‘Umar)


4. Hikmah Hadis

  • Kemuliaan hakiki datang dari Allah, bukan dari balasan manusia.
  • Memaafkan adalah bentuk kekuatan batin, bukan kelemahan.
  • Memberi tanpa pamrih menunjukkan kebersihan hati dan keikhlasan.
  • Hadis ini membimbing umat untuk menjadi pemberi, bukan penuntut.

5. Tafsir Makna Hadis

  • “Ibtaghi al-ma‘rūf ‘inda Allāh”: carilah pahala, kebaikan, kemuliaan bukan di mata manusia, tapi di sisi Allah.
  • “Ta‘fū ‘amman ẓalamak”: jangan balas dendam; ampunan itu cahaya di hati.
  • “Tu‘ṭiya man ḥaramak”: jangan jadikan perlakuan buruk orang sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik.

6. Hadis Lain yang Berkaitan

  1. “Bukanlah orang yang kuat itu yang menang dalam pergulatan, tetapi orang yang kuat adalah yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)

  2. “Barang siapa memaafkan dan memperbaiki, maka pahalanya dari Allah.”
    (HR. Ahmad)

  3. “Sedekah tidak mengurangi harta, dan Allah akan menambahkan kemuliaan kepada seorang hamba yang memaafkan.”
    (HR. Muslim)


7. Ayat Al-Qur’an yang Berkaitan

  • QS. Asy-Syura: 40

    “Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.”

  • QS. Ali ‘Imran: 134

    “(Orang-orang yang bertakwa) adalah mereka yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain.”

  • QS. Fussilat: 34

    “Tolaklah kejahatan dengan cara yang lebih baik, maka orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan akan menjadi seperti teman yang setia.”


8. Relevansi di Indonesia Saat Ini

  • Polarisasi politik dan perbedaan pandangan sosial kerap menimbulkan dendam dan kebencian.
  • Hadis ini mengajarkan sikap lapang dada dan memberi tanpa syarat, sangat relevan dalam membangun perdamaian sosial.
  • Dalam konteks ekonomi, banyak yang saling menuntut, jarang yang mau memberi lebih dulu — padahal Islam mengajarkan sebaliknya.

9. Nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani

"Jangan engkau hitung siapa yang memberi padamu. Lihatlah siapa yang telah menjadikan engkau bisa memberi. Allah-lah pemilik segalanya, maka jangan engkau sempitkan hatimu hanya karena perlakuan buruk manusia."
(Futuh al-Ghaib)


10. Nasihat Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

"Jika engkau memberi karena Dia, engkau tak akan kecewa bila tak dibalas. Dan bila engkau memaafkan karena Dia, engkau akan merasa lebih mulia dari pada membalas."
(al-Hikam)


11. Lampiran Cerita Hikmah

“Membalas dengan Senyum”

Seorang penjual makanan di pasar selalu diejek oleh seorang pemuda setiap hari. Namun, penjual itu tidak pernah marah. Ia tetap tersenyum dan memberi pemuda itu roti gratis setiap hari Jum'at.

Sampai suatu hari, pemuda itu jatuh sakit. Hanya si penjual yang menjenguk dan mengurusnya. Pemuda itu pun menangis, menyesal atas kelakuannya.

Ia bertanya, “Mengapa engkau tidak pernah membalas ejekanku?”
Penjual itu menjawab, “Aku ingin dicintai Allah, bukan dibalas olehmu.”



Keagungan Allah dalam Al-Isra’ Ayat 111.

Buku Hikmah dan Tafsir: Keagungan Allah dalam Al-Isra’ Ayat 111

1. Teks Arab Al-Qur’an (Al-Isra’: 111)

وَقُلِ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًۭا وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ شَرِيكٌۭ فِى ٱلْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ وَلِىٌّۭ مِّنَ ٱلذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًۭا

2. Bacaan Latin

Wa qulil-ḥamdu lillāhillażī lam yattakhiż waladāw wa lam yakul lahū syarīkun fil-mulki wa lam yakul lahū waliyyum minaż-żulli wa kabbir-hu takbīrā.

3. Terjemahan

"Dan katakanlah: ‘Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya, dan tidak (pula) Dia memerlukan penolong karena kehinaan-Nya,’ dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya." (QS. Al-Isra': 111)

---

4. Tafsir Ayat (Ringkasan Ulama)

Menurut tafsir Ibnu Katsir:

Tidak mempunyai anak: Menolak klaim kaum musyrik dan Ahlul Kitab bahwa Allah punya anak.

Tidak punya sekutu dalam kerajaan-Nya: Allah adalah satu-satunya penguasa mutlak.

Tidak memerlukan penolong karena kehinaan: Kekuasaan-Nya sempurna, tidak seperti makhluk yang lemah.

Agungkanlah Dia: Perintah untuk mentauhidkan dan mengagungkan Allah seagung-agungnya.

---

5. Hadis yang Berkaitan (HR. Ahmad)

مِنْ آيَاتِ عَظَمَةِ اللَّهِ: قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ، وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ، وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

"Di antara tanda-tanda keagungan Allah adalah (ayat): 'Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak... dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.'"

(HR. Ahmad, sanad hasan)

---

6. Ayat Al-Qur’an Lain yang Berkaitan

Al-Ikhlas: 1–4

"Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa... tidak beranak dan tidak diperanakkan..."

Az-Zumar: 67

"Mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya..."

Al-Kahfi: 4–5"...bahwasanya Allah tidak mempunyai anak..."

---

7. Hikmah dari Ayat dan Hadis

Tauhid murni: menolak segala bentuk syirik.

Menanamkan keyakinan bahwa Allah tidak butuh siapa pun.

Menjadikan pujian kepada Allah sebagai lisan dan hati.

Perintah untuk takbir, mengagungkan Allah dalam segala kondisi.

---

8. Relevansi dengan Keadaan di Indonesia Saat Ini

Masih marak praktik klenik, perdukunan, dan pengagungan makhluk.

Sebagian orang masih menjadikan tokoh atau benda sebagai perantara mutlak dalam ibadah.

Ayat ini mengingatkan umat untuk kembali ke tauhid yang lurus.

Dalam suasana banyak cobaan bangsa, hanya kebergantungan total kepada Allah yang memberi jalan keluar.

---

9. Nasihat Syekh Abdul Qadir Al-Jailani

"Barang siapa yang menisbatkan anak kepada Allah, maka ia telah buta dari cahaya tauhid. Peganglah keagungan-Nya, dan jangan kau samakan Dia dengan ciptaan."

(al-Futuhat ar-Rabbaniyah)

---

10. Nasihat Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

"Engkau terlalu sibuk mencari pertolongan makhluk, padahal Tuhanmu tak pernah membutuhkan mereka untuk menolong-Nya. Maka agungkanlah Allah dalam kesendirian-Nya dan jangan tergelincir dalam syirik tersembunyi."

(al-Hikam)

---

11. Lampiran Cerita Hikmah

"Anak Kecil dan Raksasa"

Di sebuah desa, seorang anak kecil selalu berkata "Allahu Akbar" setiap kali takut. Suatu hari, desa itu diganggu oleh seorang pemuda bertopeng yang mengaku bisa menyelamatkan mereka, tetapi meminta mereka menyembahnya.

Anak kecil itu berkata: “Aku hanya percaya pada Allah yang tidak punya anak, tidak butuh sekutu, dan sangat besar kekuasaannya. ALLAHU AKBAR!”

Pemuda itu pun terkejut dan jatuh pingsan. Penduduk desa pun sadar bahwa kekuatan sejati bukan pada manusia, melainkan hanya milik Allah semata.

---