MAKSIAT LISAN: MUSUH SEBENAR-NYA MANUSIA
“Dosa yang keluar dari mulut lebih tajam daripada pedang.”
Penulis: M. Djoko Ekasanu
Maksiat Lisan artinya perbuatan dosa yang dilakukan oleh mulut.
Sebagian dari maksiat lisan adalah
1. Ghibah membicarakan orang (ngrasani jawa), yaitu menyebut-nyebut saudara muslim dengan perkara yang tidak disukai, sekalipun apa adanya.
2. Mengadu domba, yaitu memindahkan perkataan dari seorang kepada yang lain dengan tujuan merusak
3. Mengadu langsung tanpa memindahkan omongan, sekalipun mengadu pada binatang, haram juga.
4. Berdusta, yaitu berkata salah dengan kenyataannya.
5. sumpah bohong.
Ringkasan Redaksi Aslinya
Teks asli menjelaskan bahwa maksiat lisan adalah seluruh dosa yang keluar dari mulut. Di antaranya:
- Ghibah – membicarakan saudara Muslim dengan hal yang ia benci.
- Namimah (adu domba) – memindahkan perkataan untuk merusak hubungan.
- Mengadu langsung, termasuk mengadu kepada makhluk tak berakal.
- Dusta – mengatakan yang tidak sesuai kenyataan.
- Sumpah bohong – bersumpah palsu demi keuntungan dunia.
Latar Belakang Masalah di Zaman Nabi
Di masa Rasulullah ﷺ, masyarakat Arab hidup dalam kelompok suku. Perselisihan kecil bisa membesar hanya karena perkataan: fitnah, adu domba, dan ghibah. Banyak peperangan antar-kabilah dahulu bermula dari “kata-kata.”
Karena itu, Nabi ﷺ sangat menekankan penjagaan lisan.
Beliau bersabda:
“Tidaklah manusia tersungkur di neraka di atas wajah-wajah mereka kecuali karena hasil lisan mereka.”
(HR. Tirmidzi)
Sebab Terjadinya Masalah
- Tidak mampu menahan emosi.
- Keinginan dipuji dan dianggap benar.
- Kebiasaan mengejek, meremehkan, membandingkan.
- Rasa iri dan dengki.
- Lingkungan yang gemar gosip.
- Kurangnya takut kepada Allah.
Intisari Judul
“Maksiat Lisan: Dosa yang Ringan Diucapkan, Berat Ditanggung di Dunia, Kubur, dan Akhirat.”
Tujuan dan Manfaat Bacaan
- Mengingatkan bahaya dosa dari mulut.
- Menumbuhkan budaya berbicara benar dan jujur.
- Memperbaiki hubungan sosial dan keluarga.
- Menjadikan lisan sebagai sarana pahala, bukan musibah.
- Memberi panduan muhasabah dan perbaikan diri.
DALIL: QUR’AN & HADIS
1. Ghibah
Allah berfirman:
“Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah kamu memakan daging saudaramu yang telah mati?”
(QS. Al-Hujurât: 12)
Hadis:
“Ghibah adalah engkau menyebut saudaramu dengan sesuatu yang ia benci.”
(HR. Muslim)
2. Namimah (Adu Domba)
“Dan janganlah kamu mengikuti setiap tukang adu domba.”
(QS. Al-Qalam: 11)
Hadis:
“Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.”
(HR. Muslim)
3. Mengadu kepada selain Allah
Termasuk sifat lemah dan tercela. Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa berkeluh-kesah kepada makhluk, maka ia telah mengadu kepada yang tidak berdaya.”
4. Dusta
“Jauhilah dusta, karena dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa ke neraka.”
(HR. Bukhari Muslim)
5. Sumpah Bohong
Disebut Rasul sebagai sumpah palsu yang memusnahkan (al-yamin al-ghamus).
ANALISIS DAN ARGUMENTASI
A. Dampak Dunia
- Hubungan keluarga dan tetangga rusak.
- Rezeki menjadi sempit (dusta & sumpah palsu).
- Banyak musuh tanpa disadari.
- Hilangnya wibawa & kepercayaan sosial.
B. Dampak di Alam Kubur
Orang yang suka mengadu domba diiris mulutnya dengan gunting api, sebagaimana dalam hadis riwayat Imam Ahmad.
C. Dampak di Hari Kiamat
- Bangkrut pahala karena harus membayar dalam hisab.
- Dituntut oleh semua orang yang pernah digibah.
- Lisan menjadi saksi yang menjerumuskan pemiliknya.
D. Dampak di Akhirat
- Dijauhkan dari surga.
- Masuk ke dalam golongan ahli neraka karena “buah lisan.”
Relevansi di Era Modern: Teknologi, Komunikasi, Kedokteran, Transportasi
1. Teknologi & Media Sosial
- Ghibah kini terjadi lewat status, komentar, screenshot, voice note.
- Namimah terjadi lewat forward chat tanpa verifikasi.
- Dusta terjadi lewat hoax, edit foto, dan rekayasa informasi.
- Sumpah bohong terjadi dalam jual beli online, testimoni palsu, manipulasi data.
2. Komunikasi Cepat
Satu kata di grup WA dapat menyebar ke ribuan orang dalam hitungan detik—dosa pun ikut menyebar secepat kecepatannya.
3. Kedokteran
Ilmu kesehatan modern membuktikan:
- Stres akibat gosip & dusta meningkatkan penyakit jantung.
- Lidah yang kotor melahirkan hati yang gelisah—ilmu psikosomatik membenarkan ini.
4. Transportasi & Mobilitas
Perjalanan jauh membuat manusia banyak bertemu orang baru—potensi ghibah dan adu domba lebih besar.
5. Kehidupan Sosial Modern
Persaingan ekonomi membuat orang mudah berdusta demi keuntungan.
HIKMAH
- Lisan adalah pintu masuk ke dalam derajat kemuliaan.
- Diam bisa lebih menyelamatkan daripada banyak bicara.
- Menjaga lisan adalah tanda kesempurnaan iman.
- Orang yang menjaga lisan disayangi Allah dan manusia.
MUHASABAH & CARANYA
1. Muhasabah Harian
Tanya diri setiap malam:
- “Berapa banyak kata yang membuat orang sakit hati?”
- “Siapa yang saya gosipkan hari ini?”
- “Sudahkah saya minta maaf pada yang berhak?”
2. Cara Mengobati Lidah
- Banyak dzikir & membaca Qur’an.
- Mengurangi debat dan komentar.
- Menjauhi lingkungan tukang gosip.
- Tidak membagikan berita kecuali sudah tabayyun.
- Belajar diam ketika marah.
- Mengganti kebiasaan ghibah dengan mendoakan orang tersebut.
NASIHAT PARA TOKOH SUFI
Hasan Al-Bashri
“Lisan adalah makhluk paling ringan, tetapi pahala dan dosanya paling berat.”
Rabi‘ah al-Adawiyah
“Siapa yang jernih hatinya, jernih lisannya.”
Abu Yazid al-Bistami
“Diam adalah ibadah bagi orang yang tidak mampu menjaga lisannya.”
Junaid al-Baghdadi
“Lidah yang kotor adalah cermin hati yang gelap.”
Al-Hallaj
“Kata-kata adalah penyingkap rahasia hati.”
Imam al-Ghazali
Dalam Ihya’ Ulumiddin:
“Lisan adalah malapetaka terbesar manusia. Tanpa dijaga, ia menjadi penghancur agama.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani
“Jaga lidahmu sebagaimana engkau menjaga emasmu.”
Jalaluddin Rumi
“Lidahmu singkat, tetapi ia mampu menjauhkanmu dari surga.”
Ibnu ‘Arabi
“Lisan yang baik adalah pintu ma’rifat.”
Ahmad al-Tijani
“Seorang murid tarekat tidak akan naik derajat hingga lisannya bersih dari menyakiti.”
TESTIMONI ULAMA INDONESIA
Gus Baha’
“Orang yang suka ghibah itu sebenarnya sedang memindahkan pahala kepada orang lain. Rugi besar.”
Ustadz Adi Hidayat
“Setiap huruf yang keluar harus ada dalilnya, ada ukurnya, ada timbangannya.”
Buya Yahya
“Ghibah itu dosa besar, dan dosanya bukan hanya di lisan, tapi di jempol juga.”
Ustadz Abdul Somad
“Hoax, fitnah, ghibah, semuanya mukjizat zaman digital yang membuat orang berdosa tanpa sadar.”
Buya Arrazy Hasyim
“Hati yang sakit melahirkan lisan yang menjatuhkan.”
DOA PENJAGA LISAN
اللَّهُمَّ اهْدِنَا لِأَحْسَنِ الْأَقْوَالِ وَالْأَعْمَالِ، وَاصْرِفْ عَنَّا سَيِّئَهَا، وَطَهِّرْ أَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ وَالْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ، وَاجْعَلْ كَلَامَنَا ذِكْرًا وَصِدْقًا وَهُدًى، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
Aamiin.
DAFTAR PUSTAKA
- Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
- Adab al-Mufrad – Imam Bukhari
- Riyadhus Shalihin – Imam Nawawi
- Tafsir al-Qurthubi
- Tafsir Ibnu Katsir
- Musnad Ahmad
- Shahih Bukhari & Muslim
- Nashaihul Ibad – Ibnu Hajar al-Asqalani
- Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
- Majmu’ Fatawa al-Jailani
UCAPAN TERIMA KASIH
Terima kasih kepada pembaca setia yang terus mendukung hadirnya bacaan-bacaan keislaman untuk memperluas wawasan dan meningkatkan ketakwaan. Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah dan jalan perbaikan bagi kita semua.
Penulis:
M. Djoko Ekasanu
Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.
(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).
