Thursday, November 20, 2025

KENTUNGAN DUNIA KETIKA BERNIAGA DENGAN ALLAH.

 



KENTUNGAN DUNIA KETIKA BERNIAGA DENGAN ALLAH

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi

Tulisan ini mengulas “perniagaan” antara manusia dengan Allah—sebuah konsep spiritual yang dijelaskan Al-Qur’an sebagai transaksi yang “tidak akan pernah merugi”. Artikel ini membahas keuntungan duniawi apa saja yang lahir dari amal akhirat: ketenangan, keberkahan harta, kesehatan, kemudahan urusan, kejernihan pikiran, dan keselamatan. Disertai latar belakang sejarah, dalil, analisis modern, nasihat para sufi besar, dan doa penutup.


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, masyarakat Arab hidup dalam perdagangan kafilah. Mereka memahami untung-rugi, laba modal, dan risiko. Al-Qur’an kemudian menggunakan bahasa yang akrab itu:

“Apakah kalian mau Aku tunjukkan suatu perniagaan yang menyelamatkan kalian dari azab yang pedih?”
(QS. Ash-Shaff: 10)

Ayat ini hadir ketika kaum Muslimin mengalami tekanan, embargo ekonomi, dan ancaman perang. Mereka butuh semangat, kepastian, dan arah hidup. Maka Allah menawarkan “bisnis” yang pasti untung: iman, jihad, sedekah, zikir, Qur’an, dan istiqamah.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Manusia mengejar keuntungan dunia tetapi melupakan keberkahan.
  2. Banyak orang bekerja keras tetapi tidak bahagia.
  3. Harta bertambah tetapi ketenangan berkurang.
  4. Kecanggihan hidup justru menambah stres dan kegelisahan.

Karena itu, konsep tijarah ma‘allah (berniaga dengan Allah) menjadi solusi spiritual lintas zaman.


Intisari Judul

Bahwa semua amal saleh—sekecil apa pun—memberikan keuntungan dunia berupa ketenangan, kesehatan, rezeki, kemudahan, dan keselamatan. Inilah “kentungan duniawi” yang Allah janjikan bagi mereka yang berdagang dengan-Nya.


Tujuan dan Manfaat

✔ Mengokohkan semangat amal saleh
✔ Memberi pemahaman bahwa dunia dan akhirat tidak bertentangan
✔ Menjelaskan keuntungan nyata di dunia dari ibadah
✔ Menjadi bahan renungan dan motivasi amal harian
✔ Membentuk karakter mukmin yang produktif dan bertawakal


Dalil Al-Qur’an dan Hadis

1. Al-Qur’an

  • QS. Fatir: 29
    “…Mereka itu mengharapkan perdagangan yang tidak akan rugi.”

  • QS. Al-Baqarah: 245
    “Siapa yang meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah lipatgandakan…”

  • QS. At-Talaq: 2–3
    “…Barangsiapa bertakwa, Allah beri jalan keluar dan rezeki tanpa disangka.”

2. Hadis

  • “Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim)
  • “Allah menolong hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim)
  • “Barangsiapa ingin dilapangkan rezekinya, sambunglah silaturahmi.” (HR. Bukhari)

Analisis: Apa Saja Kentungan Dunia Ketika Berniaga Dengan Allah?

1. Ketentuan Hati dan Kecerdasan Emosional

Orang yang rajin ibadah lebih stabil emosinya, lebih tenang, dan lebih jernih berpikir.

2. Keberkahan Harta

Sedekah mendatangkan pemasukan yang tidak terduga: peluang usaha, relasi, simpati, rezeki halal, dan kemudahan transaksi.

3. Tubuh Lebih Sehat

Shalat → gerakan teratur.
Puasa → detox dan manajemen gula darah.
Sedekah → mengurangi stres dan radang.

4. Kemudahan Urusan

Takwa melahirkan coincidence positif yang tiba-tiba menyelesaikan kesulitan.

5. Perlindungan dari Bahaya

Doa, dzikir, dan shalawat menjadi tameng psikologis dan spiritual dari keburukan.

6. Wibawa dan Reputasi Baik

Akhlak mulia meningkatkan kepercayaan orang — efeknya bisa menjadi jaringan yang bernilai tinggi.

7. Pikiran Lebih Kreatif dan Fokus

Hati yang bersih menghasilkan ide jernih, semangat, dan produktivitas tinggi.


Relevansi dengan Teknologi, Transportasi, Kedokteran, Komunikasi, Sosial Saat Ini

Di Era Teknologi Tinggi:

  • Dzikir mengurangi overthinking akibat banjir informasi.
  • Sholat sebagai “reset fokus” di antara sibuknya notifikasi.

Di Era Transportasi Cepat:

  • Mobilitas tinggi memerlukan perlindungan dan ketenangan batin.
  • Sedekah perjalanan, membantu musafir, menolak bala.

Di Era Kedokteran Modern:

  • Banyak penyakit kini bersumber dari stres; ibadah menurunkannya secara signifikan.

Di Era Sosial Media:

  • Berniaga dengan Allah menjaga dari racun hati: iri, pamer, marah, dan kebencian.

Hikmah

  • Dunia bukan tujuan, hanya wadah untuk berdagang dengan Allah.
  • Setiap kebaikan jadi modal, setiap keikhlasan jadi keuntungan.
  • Allah tidak menuntut besar, tetapi tulus.

Muhasabah & Caranya

  1. Apa amal yang paling sering saya lakukan hari ini?
  2. Apa keburukan yang masih saya ulang?
  3. Apakah saya lebih gembira mendapatkan uang atau mendapatkan kesempatan beribadah?
  4. Sudahkah saya membantu orang lain tanpa pamrih?

Cara Berniaga dengan Allah:

  • Perbaiki shalat
  • Sedekah harian (walau 1.000 rupiah)
  • Baca Qur’an rutin
  • Doakan orang lain
  • Jaga akhlak
  • Hilangkan hasad
  • Jujur dalam muamalah
  • Tolong orang yang sedang susah

Doa

“Ya Allah, jadikanlah kami pedagang yang jujur di hadapan-Mu.
Jadikan setiap sedekah kami sebagai pintu rezeki,
Setiap sujud kami sebagai penenang hati,
Dan setiap amal kami sebagai perdagangan yang tidak pernah merugi.
Amin.”


Nasehat Ulama Besar

Hasan al-Bashri

“Dunia hanyalah tiga hari: yang kemarin telah pergi, yang esok belum pasti, maka gunakanlah hari ini.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka atau ingin surga, tetapi karena Engkau layak disembah.”

Abu Yazid al-Bistami

“Orang yang berdagang dengan Allah tidak pernah rugi.”

Junaid al-Baghdadi

“Ibadah tanpa keikhlasan adalah lelah tanpa keuntungan.”

Al-Hallaj

“Tidak ada yang lebih menguntungkan selain mencintai Allah dengan sepenuh hati.”

Imam al-Ghazali

“Rezeki itu bukan banyaknya harta, tetapi luasnya hati.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Sedekahlah, lalu tunggulah bagaimana Allah membuka pintu-pintu langit untukmu.”

Jalaluddin Rumi

“Ketika engkau memberi, engkau sedang membuka pintu bagi kebaikan memasuki hidupmu.”

Ibnu ‘Arabi

“Amal adalah mata uang yang berlaku di hadirat-Nya.”

Ahmad at-Tijani

“Perdagangan terbaik adalah menghidupkan hati dengan dzikir.”


Testimoni Ulama Nusantara

Gus Baha’

“Sedekah itu bukan mengurangi, tapi memesan rezeki dari Allah.”

Ustadz Adi Hidayat

“Jika ingin hidup lapang, jadikan Allah sebagai tempat berniaga.”

Buya Yahya

“Allah tidak menolak sedekah, bahkan sebelum sampai ke tangan fakir, rezekimu sudah datang.”

Ustadz Abdul Somad

“Tidak ada bisnis yang lebih cepat untung daripada sedekah dan shalat malam.”


Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Shahih Bukhari
  3. Shahih Muslim
  4. Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  5. Fath ar-Rabbani – Abdul Qadir al-Jailani
  6. Risalah al-Qusyairiyah – Imam al-Qusyairi
  7. Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
  8. Masnawi – Jalaluddin Rumi
  9. Hikam – Ibnu ‘Atha’illah
  10. Kitab tasawuf klasik dan modern lainnya

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang terus menjaga semangat ilmu, amal, dan keikhlasan dalam kehidupan.


Jika ingin dibuatkan versi PDF koran full layout, cover, atau versi komik, tinggal bilang saja — akan saya buatkan.