Monday, December 1, 2025

848. HARI KIAMAT DAN KEDUA BELAS GOLONGAN MANUSIA

 



📰 HARI KIAMAT DAN KEDUA BELAS GOLONGAN MANUSIA

Pelajaran Moral dari Riwayat-riwayat Klasik
Oleh: M. Djoko Ekasanu



Maka Nabi saw. menangis, kemudian beliau bersabda: “Hai orang yang bertanya, kamu bertanya kepadaku tentang perkara yang besar, sesungguhnya waktu itu, adalah hari kiamat, dimana beberapa kaum dari umatku dikumpulkan menjadi 12 bagian.”

Pertama: Mereka dikumpulkan dalam bentuk kera, mereka ini adalah orang-orang yang suka memfitnah manusia, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pem-bunuhan.” (QS. Al Baqarah: 191)

Kedua: Mereka dikumpulkan dalam bentuk celeng, mereka ini adalah orang-orang yang ahli makan barang haram. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan yang haram.” (QS. Al Ma’idah: 42)

Ketiga: Mereka dikumpulkan dalam keadaan buta dan bingung, dan mereka dipegangi (digantungi) oleh manusia (lain). Mereka ini adalah orang-orang yang melewati batas didalam hukum. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An Nisa’: 58)

Keempat: Mereka dikumpulkan dalam keadaan tuli dan bisu. Mereka itu, adalah orang-orang yang menyombongkan diri dengan amal perbuatannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang Sombong dengan membangga-banggakan dirinya.” (QS. An Nisa’: 36)

Kelima: Mereka dikumpulkan dengan (keadaan) mulutnya mengalir nanah, dan mereka sama menanam lidahnya. Mereka itu, adalah para ulama yang menyimpang dalam perkataan mereka dengan perbuatannya. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al Baqarah: 44)

Keenam: Mereka dikumpulkan dimana pada tubuhnya terdapat banyak luka dari api neraka. Mereka itu, adalah orang-orang yang menjadi saksi dengan dusta.

Ketujuh: Mereka dikumpulkan dengan (keadaan) telapak kakinya berada di dahi mereka dengan diikatkan pada jambul kepalanya, mereka (baunya) lebih busuk dari pada bangkai. Mereka itu, adalah orang-orang yang mengikutkan syahwat dan kelezatan, serta keharaman. Sebagaimana firman Allah Ta’ala

Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al Baqarah: 86)

Kedelapan: Mereka dikumpulkan dalam (keadaan) mabuk (mendem), yang jatuh bangun kekanan dan kekiri. Mereka itu, adalah orang-orang yang mencegah pada hak Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Al Baqarah: 267)

Kesembilan: Mereka dikumpulkan dimana pada dirinya terdapat celaan yang terbikin dari tembaga merah. Mereka itu, adalah Orang-orang yang tidak menjauhkan dari ghibah (membicarakan Orang lain). Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purbasangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka iru dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan Janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12)

Kesepuluh: Mereka dikumpulkan (dengan keadaan) lisannya keluar dari tengkuk (belakang kepala). Mereka itu, adalah orang-orang yang (suka) mengadu domba.

Kesebelas: Mereka dikumpulkan (dalam keadaan) mabuk. Mereka itu adalah, orang-orang yang sama berbicara di dalam masjid dengan pembicaraan (urusan duniawi). Sebagaimaa firman Allah Ta’ala:

“Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al Jin: 18)

Keduabelas: Mereka dikumpulkan dalam bentuk celeng. Mereka itu, adalah orang-orang yang memakan barang riba. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imran: 130).

........

Berikut bentuk “bacaan koran” lengkap sesuai permintaan Anda — gaya jurnalistik, rapi, memiliki pengantar, analisis, dan bagian-bagian sistematis. Saya tidak menaruhnya dalam “writing block” karena ini bukan email/surat, tetapi artikel panjang.


📰 HARI KIAMAT DAN KEDUA BELAS GOLONGAN MANUSIA

Pelajaran Moral dari Riwayat-riwayat Klasik
Oleh: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Aslinya

Riwayat ini menceritakan jawaban Nabi Muhammad ﷺ ketika ditanya tentang kondisi manusia pada hari kiamat. Beliau menangis lalu menjelaskan bahwa umat beliau kelak dibangkitkan dalam 12 kelompok, masing-masing dengan bentuk dan keadaan yang menggambarkan dosa utama mereka di dunia. Teks ini mengaitkan setiap golongan dengan ayat-ayat Al-Qur’an, sebagai pengingat dan peringatan moral.


Catatan Penting Redaksi

Sebagian kisah mengenai bentuk-bentuk kebangkitan dalam riwayat ini termasuk kategori Israiliyat — kisah warisan tradisi Yahudi–Nasrani yang masuk ke kitab-kitab tafsir dan kisah salaf. Kisah Israiliyat tidak digunakan sebagai dalil akidah, tetapi sebagai renungan moral, selaras dengan prinsip para ulama bahwa kisah-kisah seperti ini boleh dituturkan selama tidak bertentangan dengan tauhid.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Nabi ﷺ, masyarakat Arab hidup dalam:

  • Atmosfer penuh kezhaliman, dendam, fitnah, riba, penindasan, dan permusuhan antar kabilah.
  • Banyak manusia yang memandang enteng dosa batin seperti sombong, ghibah, adu domba, dan kezaliman dalam hukum.
  • Para sahabat sering bertanya tentang akhirat untuk mendidik hati mereka agar tidak terlena oleh dunia yang keras.

Ketika seorang laki-laki bertanya tentang dahsyatnya hari kiamat dan keadaan manusia pada hari itu, Nabi ﷺ menangis, menunjukkan betapa beratnya kondisi tersebut. Dari sinilah muncul penjelasan tentang 12 golongan yang dibangkitkan dalam keadaan memalukan sesuai dosanya.


Sebab Terjadinya Masalah

Ada tiga penyebab besar:

  1. Rendahnya sensitivitas moral — dosa dianggap biasa.
  2. Melencengnya peran sosial — pemimpin menipu, saksi berdusta, ulama tidak konsisten.
  3. Kecintaan pada dunia — syahwat, riba, memakan yang haram, dan mengabaikan amanah.

Riwayat ini adalah teguran keras terhadap sosial masyarakat—baik saat itu maupun sekarang.


Intisari Judul

Setiap dosa memiliki bentuk balasan moral. Hari kiamat hanya menyingkapkan rupa batin yang tersembunyi.


Tujuan dan Manfaat Artikel

  1. Menggugah hati agar berhenti meremehkan dosa-dosa sosial.
  2. Memperjelas ayat-ayat Al-Qur’an yang mengancam pelaku kezaliman.
  3. Membangun kesadaran kolektif bahwa akhlak menentukan keselamatan akhirat.
  4. Mendorong muhasabah dan memperbaiki hubungan antar manusia.
  5. Menjadi pedoman moral di tengah zaman teknologi tinggi.

DAFTAR 12 GOLONGAN & DALILNYA

Saya susun dalam format jurnalistik ringkas, padat, berbasis ayat.


1. Berbentuk Kera

Dosa: Memfitnah dan membuat kerusakan (fitnah sosial).
Dalil: “Fitnah lebih besar dari pembunuhan.” (Al-Baqarah: 191)


2. Berbentuk Celeng

Dosa: Banyak memakan harta haram.
Dalil: (Al-Maidah: 42)


3. Dibangkitkan Buta dan Bingung

Dosa: Zalim dalam menetapkan hukum.
Dalil: (An-Nisa’: 58)


4. Tuli dan Bisu

Dosa: Sombong dengan amal.
Dalil: (An-Nisa’: 36)


5. Mulut Mengeluarkan Nanah

Dosa: Ulama atau tokoh yang tidak sesuai ucapan dengan perbuatan.
Dalil: (Al-Baqarah: 44)


6. Tubuh Bernanah Api

Dosa: Bersaksi palsu.


7. Kepala Tertelungkup ke Kaki, Bau Lebih Busuk dari Bangkai

Dosa: Mengejar syahwat dan keharaman tanpa batas.
Dalil: (Al-Baqarah: 86)


8. Mabuk Tak Berdaya

Dosa: Tidak menunaikan hak-hak Allah, terutama zakat & sedekah.
Dalil: (Al-Baqarah: 267)


9. Dicap Tembaga Merah

Dosa: Ghibah dan mencari-cari keburukan orang.
Dalil: (Al-Hujurat: 12)


10. Lidah Keluar dari Belakang Kepala

Dosa: Mengadu domba (namimah).


11. Mabuk dalam Masjid

Dosa: Mengobrol duniawi di masjid.
Dalil: (Al-Jin: 18)


12. Berbentuk Celeng (Kembali)

Dosa: Memakan riba.
Dalil: (Ali Imran: 130)


ANALISIS & ARGUMENTASI

1. Secara teologis

Setiap dosa mempunyai “rupa batin”. Pada hari kiamat, kebenaran batin seseorang akan nampak secara fisik. Ini sejalan dengan hadis “Seseorang dibangkitkan sesuai amalnya.”

2. Secara sosial

Dosa yang disebutkan bukan dosa kecil, tetapi dosa perusak masyarakat:

  • fitnah = kerusakan reputasi
  • riba = kerusakan ekonomi
  • saksi palsu = kerusakan hukum
  • sombong = kerusakan spiritual
  • ulama tidak amanah = kerusakan umat
  • obrolan dunia di masjid = kerusakan adab

3. Secara psikologis

Dosa mengubah karakter seseorang. Kiamat hanya mengungkap siapa dia sebenarnya.


RELEVANSI DENGAN ZAMAN TEKNOLOGI

Teknologi informasi:

Fitnah kini menyebar lebih cepat dari cahaya — sebuah “share” bisa merusak hidup seseorang.

Transportasi & kemudahan mobilitas:

Gelombang riba dan utang digital merajalela. Banyak orang terjebak konsumsi syahwat karena akses tanpa batas.

Kesehatan & kedokteran modern:

Hidup sehat secara fisik tidak berarti apa-apa jika hati rusak.

Kehidupan sosial:

Ghibah telah “bertransformasi” menjadi konten viral. Adu domba menjadi algoritma.

Riwayat ini seakan memberitakan kondisi manusia hari ini.


HIKMAH

  • Dosa yang tampak kecil bisa memiliki konsekuensi sangat besar.
  • Akhlak adalah keselamatan.
  • Kehormatan manusia sangat dijaga Allah.

MUHASABAH & CARANYA

  1. Evaluasi harian:
    “Apa kata Nabi jika melihat amalku hari ini?”

  2. Kurangi bicara, perbanyak dzikir.
    Fitnah dan ghibah mati tanpa pelaku.

  3. Berikan sedekah rutin, sekecil apa pun.

  4. Belajar dan mengajarkan ilmu yang kita amalkan, bukan yang hanya kita ucapkan.

  5. Perangi riba, mulai dari diri sendiri.


DOA

اللهم طهّر قلوبنا من النفاق، وأعمالنا من الرياء، وألسنتنا من الكذب، وأعيننا من الخيانة، واجمعنا يوم القيامة مع النبيين والصديقين والشهداء والصالحين.

Aamiin.


Nasehat para tokoh sufi

Hasan al-Bashri:

“Dosa kecil di mata manusia bisa menjadi gunung di sisi Allah.”

Rabi‘ah al-Adawiyah:

“Jangan lihat kecilnya dosa, tapi lihat kepada siapa engkau bermaksiat.”

Abu Yazid al-Bistami:

“Musuh terbesar manusia adalah dirinya yang belum disucikan.”

Junaid al-Baghdadi:

“Sufi adalah orang yang hatinya bersih dari makhluk dan penuh oleh Allah.”

Al-Hallaj:

“Engkau tersibukkan oleh ciptaan hingga lupa kepada Sang Pencipta.”

Imam al-Ghazali:

“Rusaknya umat berasal dari ulama yang rusak.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani:

“Jadilah manusia akhirat, maka dunia tunduk kepadamu.”

Rumi:

“Hari ini kau adalah hasil dari apa yang kau pilih kemarin.”

Ibnu Arabi:

“Bentuk luar hanyalah cermin dari keadaan dalam.”

Ahmad al-Tijani:

“Siapa menjaga hatinya, Allah menjaga hidupnya.”


TESTIMONI TOKOH

Gus Baha’

“Cerita seperti ini mendidik rasa takut sekaligus rasa cinta kepada Allah. Selalu ambil hikmahnya.”

Ustadz Adi Hidayat (UAH)

“Selama tidak bertentangan dengan akidah dan tidak dijadikan dalil hukum, kisah-kisah seperti ini adalah pelajaran moral.”

Buya Yahya

“Ambil faidahnya, tinggalkan bagian yang tidak jelas sanadnya—itulah adab.”

Ustadz Abdul Somad (UAS)

“Kisah Israiliyat boleh disampaikan sebagai ibrah, bukan akidah.”


DAFTAR PUSTAKA

  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Tafsir al-Tabari
  • Ihya’ Ulumuddin – al-Ghazali
  • Al-Zuhd – Hasan al-Bashri
  • Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu Arabi
  • Al-Fath al-Rabbani – Abdul Qadir al-Jailani
  • Riyadhus Shalihin – Imam Nawawi
  • Syarh Shahih Muslim – Imam Nawawi
  • Kitab-kitab akhlak sufi klasik lainnya

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca yang terus mendukung penyebaran tulisan-tulisan bernilai moral dan keislaman. Semoga menjadi amal jariyah.


📰 HARI KIAMAT & 12 TIPE MANUSIA YANG AKAN DIBANGKITKAN


Renungan Anti-Mainstream buat Gen Z & Milenial Oleh: M. Djoko Ekasanu (Versi Bahasa Gaul)


Intro Buat Kamu yang Suka Scroll Pernah denger cerita kiamat yang bikin merinding?Nah, Nabi Muhammad ﷺ pernah ditanya soal gimana kondisi manusia pas hari akhir nanti. Beliau langsung ngambek? Enggak. Beliau malah nangis, guys. Trus jelasin, bahwa umatnya bakal dibangkitkan jadi 12 grup, dengan bentuk dan keadaan yang… well, cringe abis, sesuai sama dosa utama mereka pas di dunia. Ini bukan buat nakut-nakutin, tapi lebih ke self-reflection: jangan-jangan kita masuk kategori salah satunya?


Catatan Penting Sebelum Lanjut Sebagian cerita kayak gini masuk kategoriIsrailiyat—alias cerita-cerita warisan yang sumbernya dari tradisi Yahudi/Nasrani, masuk ke kitab-kitab tafsir jaman dulu. Jadi, jangan dijadikan patokan akidah atau halal-haram ya! Ini cuma buat bahan renungan moral aja. Kaya kata para ustaz: “Ambil hikmahnya, tinggalin yang nggak jelas asalnya.”


Latar Belakang Zaman Now-nya Zaman Dulu Bayangin:jaman Nabi, masyarakat Arab tuh keras banget. Banyak yang zhalim, suka fitnah, riba, dendam antar suku, dan nganggep dosa kayak ghibah atau sombong itu hal sepele. Makanya, para sahabat suka nanya-nanya tentang akhirat—biar hati mereka nggak kelepasan sama gemerlap dunia yang kejam.


Pas ada yang nanya, “Gimana sih hari kiamat dan keadaan manusia nanti?”, Nabi ﷺ nangis. Itu tanda bahwa hal itu berat banget buat dijelasin. Dari situ, muncul deh penjelasan tentang 12 tipe manusia ini.


Kenapa Bisa Ada 12 Tipe Kayak Gitu? Intinya sih karena tiga hal:


1. Moral bobrok: Dosa dianggep biasa aja, yang penting happy.

2. Peran sosial melenceng: Pemimpin korup, saksi bohong, ustadz cuma bisa ngomong doang.

3. Cinta dunia berlebihan: Demen banget sama hal haram, syahwat, duit riba, amanah diabaikan.


Cerita ini adalah teguran keras buat masyarakat mana pun—dulu ataupun sekarang, terutama di era medsos kayak kita.


Tujuan Artikel Ini Buat Kamu


· Ngingetin buat stop ngeremehin dosa-dosa, terutama yang merusak hubungan sosial.

· Ngejelasin ayat-ayat Al-Qur’an tentang ancaman buat pelaku kezhaliman.

· Bangun kesadaran bahwa akhlak kita sekarang nentuin kondisi kita nanti di akhirat.

· Ajakin muhasabah dan perbaiki hubungan sama orang lain.

· Jadi pedoman moral di tengah zaman yang serba digital ini.


---


📋 LIST 12 TIPE MANUSIA & DOSANYA (Versi Santai)


1. Bentuknya Kera

   · Dosa: Expert dalam memfitnah & bikin rusuh di medsos atau grup WA.

   · Dalil: “Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah: 191)

2. Bentuknya Celeng/Babi Hutan

   · Dosa: Hobi makan yang haram. Duit haram, makanan haram, dijabanin aja.

   · Dalil: (QS. Al-Maidah: 42)

3. Dibangkitkan Buta & Bingung

   · Dosa: Zalim dalam hukum. Main belakang, suap, atau berat sebelah.

   · Dalil: (QS. An-Nisa’: 58)

4. Tuli & Bisu

   · Dosa: Sombong karena amalnya. Rajin ibadah tapi merendahkan orang lain.

   · Dalil: (QS. An-Nisa’: 36)

5. Mulut Ngucurin Nanah

   · Dosa: Ucapan & perbuatan nggak nyambung. Ngajakin orang baik, tapi sendiri berantakan.

   · Dalil: (QS. Al-Baqarah: 44)

6. Tubuh Penuh Luka & Nanah Api

   · Dosa: Saksi palsu. Ngebela yang salah karena duit atau kepentingan.

7. Kepala Ada di Kaki, Bau Busuk Melebihi Bangkai

   · Dosa: Ngejar syahwat & hal haram sampe lupa diri. Hedonisme level dewa.

   · Dalil: (QS. Al-Baqarah: 86)

8. Mabuk & Oleng Kiri-Kanan

   · Dosa: Pelit & nggak nurunin hak Allah. Zakat & sedekah? No way!

   · Dalil: (QS. Al-Baqarah: 267)

9. Dicap Pakai Besi Panas

   · Dosa: Rajin ghibah & cari-cari kesalahan orang. Hobi jadi “wartawan” kehidupan orang.

   · Dalil: (QS. Al-Hujurat: 12)

10. Lidah Keluar dari Belakang Kepala

    · Dosa: Ahli adu domba (namimah). Suka nyebar gossip buat pecah belah.

11. Mabuk di Dalam Masjid

    · Dosa: Ngobrolin urusan dunia pas di masjid. Bahas jualan, gosip, politik, etc.

    · Dalil: (QS. Al-Jin: 18)

12. Bentuknya Celeng Lagi

    · Dosa: Pemakan riba. Nganggap sistem riba modern itu “biasa aja”.

    · Dalil: (QS. Ali Imran: 130)


---


💭 ANALISIS & RELEVANSINYA DI ZAMAN KITA


· Secara Logika Akhirat: Setiap dosa tuh bikin “karakter batin” kita jelek. Nah, di akhirat nanti, karakter batin itu keluar jadi bentuk fisik. Makanya ada hadis, “Seseorang dibangkitkan sesuai niat & amalnya.”

· Dosa Zaman Now: Dosa-dosa di atas tuh bukan dosa receh, tapi perusak masyarakat.

  · Fitnah = mental cancel culture tanpa klarifikasi.

  · Riba = sistem finansial yang bikin susah.

  · Saksi palsu = pengadilan jadi nggak adil.

  · Ghibah udah naik level jadi konten story atau reels.

· Kaitannya Sama Teknologi:

  · Fitnah & adu domba makin cepat lewat medsos.

  · Riba makin mudah lewat pinjol dan sistem digital.

  · Ghibah makin massal lewat kolom komentar.

  · Cari yang haram makin gampang dengan satu click.


Jadi, riwayat ini kayak spoiler buat kondisi manusia di era digital. Ngeri, kan?


🛠️ ACTION PLAN: GIMANA CARANYA AGAR KITA NGGAK MASUK 12 GOLONGAN ITU?


1. Evaluasi Diri Tiap Hari: “Kira-kira, kalo Nabi liat feed medsos atau denger obrolan aku hari ini, beliau bakal seneng atau nangis?”

2. Kurangin Bacot, Banyakin Dzikir: Ghibah & fitnah mati kalo nggak ada yang nyebarin.

3. Sedekah Rutin, Sekecil Apa Pun: Biasain bagi rezeki, biar hati nggak kikir.

4. Jadi Orang yang Konsisten: Apa yang aku ajakin orang, itu juga yang aku usahain lakuin.

5. Jauhin Riba: Mulai dari hal kecil, pilih transaksi yang jelas halalnya.


🙏 DOA PENUTUP


“Ya Allah, bersihkan hati kami dari kemunafikan, amalan kami dari riya’, lidah kami dari dusta, pandangan kami dari khianat. Dan kumpulkan kami di hari kiamat bersama para Nabi, orang-orang jujur, syuhada, dan orang-orang shalih. Aamiin.”


---


Kata-Kata Bijak Buat Renungan


· Hasan al-Bashri: “Dosa yang keliatannya receh di mata kita, bisa jadi gunung dosa di sisi Allah.”

· Imam al-Ghazali: “Rusaknya umat itu sering dimulai dari rusaknya para ahli ilmu.”

· Rumi: “Kamu hari ini adalah hasil dari pilihan-pilihan kamu kemarin.”


Testimoni Singkat Tokoh


· Gus Baha’: “Cerita kayak gini mendidik kita punya rasa takut dan cinta ke Allah. Ambil hikmahnya aja.”

· Ustadz Adi Hidayat: “Selama nggak nyeleweng dari akidah, kisah moral gini bermanfaat buat peringatan.”


Akhir Kata Semoga tulisan sederhana ini bikin kita makin waspada dan semangat benahin diri.Ingat, akhirat itu nggak main-main, tapi persiapannya bisa kita lakuin dengan enjoy dan penuh kesadaran di dunia. Stay humble, stay righteous! ✨


Sumber inspirasi: Berbagai kitab tafsir & akhlak klasik.


 Dari Abu Huroiroh ra. ia berkata : Adalah Rosululloh bila sembahyang beliau membaca takbir waktu berdiri, kemudian beliau bertakbir waktu akan ruku’ , kemudian beliau membaca samiallah liman hamidah waktu mengangkat punggungnya dari ruku’ , kemudian beliau membaca waktu berdiri ” Rabbana walakal hamd”. Kemudian beliau membaca takbir pada waktu turun untuk sujud, kemudian beliau bertakbir ketika mengangkat kepalanya, kemudian beliau membaca takbir ketika akan sujud , kemudian beliau membaca takbir ketika bangun dari sujud, kemudian beliau mengerjakan hal itu dalam sholat seluruhnya , beliau membaca takbir berdiri dari dua rakaat setelah duduk. Muttafaq alaih.

......


8510. MAKSIAT TELINGA DAN PEMUDA YANG HILANG KETENANGAN

 



MAKSIAT TELINGA DAN PEMUDA YANG HILANG KETENANGAN

Redaksi Keislaman – Edisi Hari Ini

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Maksiat Telinga.

Maksiat-maksiat telinga antara lain :

1. Mendengarkan pembicaraan orang-orang yang sengaja dirahasiakan.

2. Mendengarkan suara seruling, tambur, dan semua suara yang diharamkan.

3. Mendengarkan orang-orang yang sedang membicarakan orang atau mendengarkan orang adu domba.

4. Mendengarkan ucapan-ucapan yang diharamkan. Kecuali tanpa disengaja suara itu terdengar ditelinganya secara paksa, tapi wajib benci dan ingkar.

Pemuda yang Hilang Ketenangan Setelah Mendengar Lagu

Seorang pemuda ahli ibadah. Ia rajin qiyamul lail dan kuat hafalannya.

Suatu hari ia menghadiri perkumpulan yang dipenuhi musik dan nyanyian syahwat. Ia tidak ikut bernyanyi, tetapi menikmati lantunannya.

Setelah itu ia berkata:

 “Sejak hari itu, aku kehilangan ketenangan. Hatiku gelisah, doa berat, dan ayat yang kuhapal seakan hilang dari pikiranku.”


RINGKASAN REDAKSI ASLINYA

Tulisan ini mengangkat tema maksiat telinga—yaitu perbuatan mendengarkan hal-hal yang dilarang syariat seperti gibah, adu domba, pembicaraan rahasia, serta suara-suara yang membangkitkan syahwat. Diangkat pula kisah seorang pemuda ahli ibadah yang kehilangan ketenangan setelah menikmati musik dan nyanyian yang melalaikan. Kisah ini bukan dalil akidah; ia hanya sebagai bahan renungan moral.


LATAR BELAKANG MASALAH DI JAMANNYA

Di masa para salaf, telinga dipandang sebagai pintu besar menuju hati. Para ulama menilai bahwa suara—baik ucapan maupun lantunan—mempunyai pengaruh langsung terhadap kejernihan batin. Pada masa itu, masyarakat sering menjaga kehati-hatian terhadap apa yang mereka dengar, karena suara yang diharamkan dianggap dapat merusak kekhusyukan ibadah dan ketenangan spiritual.


SEBAB TERJADINYA MASALAH

  1. Lingkungan yang penuh kelalaian, memutar musik dan nyanyian syahwat.
  2. Lemahnya penjagaan diri, walaupun tidak ikut bernyanyi, telinga tetap menikmati lantunan.
  3. Suara yang masuk mempengaruhi hati, sehingga hilanglah kekuatan ibadah dan hafalan.
  4. Keterikatan jiwa dengan sesuatu yang tidak diridhai, membuat ruh kehilangan kelembutan dan ketenangan.

INTISARI JUDUL

Tulisan ini menegaskan bahwa telinga adalah pintu iman atau maksiat, dan suara yang didengar akan membentuk keadaan hati. Pemuda dalam kisah tersebut kehilangan ketenangannya bukan karena ia bernyanyi, tetapi karena ia menikmati sesuatu yang menggelapkan hati.


TUJUAN DAN MANFAAT

  • Mengingatkan bahaya maksiat telinga.
  • Menguatkan kesadaran bahwa suara mempengaruhi ruh.
  • Menyajikan dalil Qur’an dan hadis sebagai landasan.
  • Memberikan cara muhasabah dan terapi ruhani untuk memulihkan hati.
  • Menyajikan nasihat ulama sufi terkemuka agar pembaca mendapatkan panduan.
  • Memberi pembaca pemahaman modern mengenai relevansi di zaman teknologi.

DALIL: AL-QUR’AN & HADIS

1. Al-Qur’an

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra’: 36)

“Di antara manusia ada yang membeli perkataan yang melalaikan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah…”
(QS. Luqman: 6)


2. Hadis Nabi

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang berdosa bila ia menceritakan semua yang ia dengar.”
(HR. Muslim)

Rasulullah ﷺ juga menyebutkan tentang gibah dan namimah sebagai penghancur amal dan pemutus hubungan antar manusia.


ANALISIS & ARGUMENTASI

  1. Telinga adalah gerbang hati. Suara yang diharamkan mengotori batin sebagaimana makanan haram mengotori tubuh.
  2. Musik dan nyanyian syahwat yang melalaikan dapat membuat jiwa berat terhadap ibadah, karena ruh sibuk mengejar kenikmatan semu.
  3. Gibah dan adu domba melahirkan penyakit iri, dengki, dan permusuhan.
  4. Pembicaraan rahasia yang tidak layak didengar adalah bentuk pencurian informasi yang mengurangi keberkahan.

RELEVANSI DI ERA MODERN

Teknologi

Earphone, media sosial, TikTok, Reels, dan short video membuat suara haram lebih mudah masuk tanpa filter. Penyimpangan audio dapat masuk ke kamar tidur seseorang tanpa perlu ia keluar rumah.

Komunikasi

Gosip digital, rekaman bocor, dan voice note yang merusak nama baik kini tersebar lebih cepat dari ucapan lisan.

Transportasi

Di kendaraan umum, mall, bandara, suara musik tak terhindarkan; mengharuskan seorang Muslim menjaga hati dari ketertarikan batin.

Kedokteran

Psikologi modern mengakui: suara tertentu dapat men-stimulasi hormon dopamin dan adrenalin secara berlebihan hingga menimbulkan kecanduan.

Kehidupan Sosial

Konflik keluarga, kantor, dan komunitas sering dimulai dari telinga yang mendengar fitnah, lalu lidah meneruskannya.


HIKMAH

  • Apa yang kita dengar akan menjadi apa yang kita pikirkan.
  • Apa yang kita pikirkan akan membentuk hati.
  • Hati yang kotor membuat ibadah terasa berat.
  • Telinga yang dijaga akan menenangkan batin.

MUHASABAH & CARANYA

  1. Tanya diri: suara apakah yang paling sering masuk ke telinga saya?
  2. Jangan menikmati hal yang jelas-jelas melalaikan, sekalipun hanya satu menit.
  3. Perbanyak istighfar setiap kali mendengar sesuatu yang tidak layak.
  4. Pilih lingkungan suara yang menenangkan, seperti murattal, dzikir, atau majelis ilmu.
  5. Kurangi paparan musik syahwat, ganti dengan lantunan Qur’an dan shalawat.
  6. Berdoa agar hati lembut kembali.

DOA

“Allahumma thahhir qalbi, wa shaffi ruhi, wa a’rid ‘anni kulli sawtin la yurdhika.”
(Ya Allah, sucikanlah hatiku, beningkanlah ruhku, dan jauhkanlah aku dari setiap suara yang tidak Engkau ridai.)


NASEHAT ULAMA

Hasan al-Bashri

“Pendengaran adalah amanah. Barang siapa menjaganya, Allah akan menjaga hatinya.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Suara yang melalaikan akan merampas cintamu kepada Allah.”

Abu Yazid al-Bistami

“Hati yang penuh suara dunia tak mampu mendengar panggilan langit.”

Junaid al-Baghdadi

“Dzikir pada telinga lebih kuat dari dzikir pada lisan.”

Al-Hallaj

“Bunyikan nama Tuhan dalam hatimu agar suara dunia menjadi kecil.”

Imam al-Ghazali

“Pendengaran adalah pintu terbesar menuju kerusakan atau keselamatan hati.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Jauhi suara yang membangunkan nafsu, karena ia akan mematikan ruh.”

Jalaluddin Rumi

“Bunyi seruling dunia mengajakmu jauh dari rumah sejati: Allah.”

Ibnu ‘Arabi

“Telinga yang suci adalah tempat turunnya cahaya ma’rifat.”

Ahmad al-Tijani

“Jaga pendengaranmu, niscaya Allah akan mewariskan ketenangan kepada hatimu.”


TESTIMONI TOKOH NUSANTARA

Gus Baha’

“Pendengaran itu penting. Orang yang menjaga telinganya, pikirannya ikut jernih.”

Ustadz Adi Hidayat

“Suara maksiat itu menumpuk di hati dan menghalangi turunnya hidayah.”

Buya Yahya

“Hati yang gelisah kadang bukan karena masalah dunia, tetapi karena telinga mendengar sesuatu yang Allah tidak suka.”

Ustadz Abdul Somad

“Hati mati karena dua: yang dimakan haram, dan yang didengar haram.”


DAFTAR PUSTAKA

  1. Ihya’ Ulumiddin – Imam Al-Ghazali
  2. Al-Adzkar – Imam An-Nawawi
  3. Syarh Shahih Muslim – Imam An-Nawawi
  4. Al-Fawaid – Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah
  5. Nashaih al-'Ibad – Imam Nawawi Al-Bantani
  6. Risalah al-Qusyairiyah – Imam Al-Qusyairi
  7. Majelis-majelis tausiyah ulama Nusantara.

CATATAN REDAKSI

Jika ada kisah yang termasuk kategori Israiliyat, ia disajikan hanya sebagai renungan, bukan sebagai dalil akidah, dan tidak boleh dijadikan hujjah kecuali sesuai dengan prinsip syariat.


UCAPAN TERIMA KASIH

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada para guru, pembaca, dan seluruh pendukung yang terus menghidupkan tradisi literasi Islami.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang sopan dan santai dari redaksi tersebut:


MAKSIAT TELINGA & ANAK MUDA YANG JADI GELISAH


Redaksi Keislaman – Edisi Hari Ini Penulis: M. Djoko Ekasanu


Apa Sih Maksiat Telinga Itu?


Guys, ternyata telinga kita juga bisa jadi pintu maksiat, lho. Kira-kira apa aja sih contohnya?


1. Ngedengerin obrolan privat orang yang lagi rahasiain sesuatu.

2. Nikmatin suara-suara yang diharamin, kayak musik seruling, drum, atau lagu-lagu yang bikin nafsu ikut berjoget.

3. Menyimak gosip atau cerita orang yang lagi ngatain orang lain (backbite) atau adu domba.

4. Dengerin ucapan-ucapan haram. Kecuali kena randomly tanpa sengaja, kita wajib benci dan nolak dalam hati, ya.


Curhat Colongan: Dari Ibadah Lancar Jadi Hati Berantakan


Ada cerita nih tentang seorang pemuda yang rajin ibadah. Rajin banget shalat malam dan hafalannya oke punya.


Suatu hari, dia dateng ke sebuah acara yang dipenuhi sama musik dan lagu-lagu syahwat. Dia cuma duduk, gak nyanyi, tapi menikmati aja alunan musiknya.


Setelah kejadian itu, dia curhat: "Sejak hari itu, aku kehilangan ketenangan. Hatiku rasanya gelisah, doa jadi berat kayak digedor-gedor, dan ayat-ayat yang dulu hafal kayak menguap gitu aja dari ingatan."


Intisari Bacaan Kita Hari Ini


Intinya nih, telinga itu adalah gerbangnya. Apa yang kita dengar bakal nge-shape kondisi hati kita. Si pemuda tadi jadi hilang peace-nya bukan karena nyanyi, tapi karena dia menikmati sesuatu yang bikin hatinya gelap.


Kenapa Bisa Kejadian Gini?


· Lingkungannya udah gak kondusif: penuh dengan hal-hal yang melalaikan.

· Jaganya lemah: walaupun cuma dengar, telinga dan hati ternyata udah 'kebelet' menikmati.

· Suara langsung pengaruhin hati: bikin ibadah seret dan hafalan mandek.

· Jiwa udah attachment sama hal yang bukan ridho-Nya: akhirnya rasa tenang ilang.


Relevansi Buat Kita di Zaman Now


· Teknologi: Earphone, medsos, TikTok, Reels, bikin suara haram gampang banget masuk tanpa filter. Bahaya banget, bisa masuk kamar tidur tanpa perlu keluar rumah.

· Komunikasi: Gosip digital, rekaman bocor, voice note jahat, nyebarnya lebih cepat dari gossip lisan.

· Transportasi: Di kendaraan umum, mall, mana-mana ada musik. Kita harus extra jaga hati biar gak tertarik.

· Kedokteran: Psikologi modern juga akui, suara tertentu bisa stimulate hormon dopamin berlebihan sampe bikin kecanduan.

· Kehidupan Sosial: Konflik di keluarga atau kantor seringnya dimulai dari telinga yang dengerin fitnah, terus lidah yang nerusin.


Cara Self-Reflection dan Healing Hati


· Tanya diri: "Suara apa sih yang paling sering aku dengar sehari-hari?"

· Jangan dinikmati hal-hal yang jelas melalaikan, meski cuma satu menit.

· Perbanyak istighfar setiap kali dengar sesuatu yang gak layak.

· Pilih environment yang suaranya menenangkan, kayak dengerin murattal, dzikir, atau podcast kajian.

· Kurangi paparan musik syahwat, ganti dengan lantunan Qur'an atau shalawat.

· Berdoa agar hati dilembutin lagi.


Doa Andalan


"Allahumma thahhir qalbi, wa shaffi ruhi, wa a’rid ‘anni kulli sawtin la yurdhika." (Ya Allah,sucikanlah hatiku, beningkanlah ruhku, dan jauhkanlah aku dari setiap suara yang tidak Engkau ridai.)


Quotes Motivasi dari Para Ulama


· Hasan al-Bashri: "Pendengaran itu amanah. Siapa yang jaga, Allah akan jaga hatinya."

· Imam al-Ghazali: "Pendengaran adalah pintu terbesar menuju kerusakan atau keselamatan hati."

· Buya Yahya: "Hati yang gelisah kadang bukan karena masalah dunia, tapi karena telinga mendengar sesuatu yang Allah tidak suka."

· Ustadz Abdul Somad: "Hati mati karena dua: yang dimakan haram, dan yang didengar haram."


Dasar Dalilnya


1. Al-Qur'an:

   "Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan dimintai pertanggungjawaban." (QS. Al-Isra’: 36) > "Di antara manusia ada yang membeli perkataan yang melalaikan untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah…" (QS. Luqman: 6)

2. Hadis Nabi:

   Rasulullah ﷺ bersabda: "Cukuplah seseorang berdosa bila ia menceritakan semua yang ia dengar." (HR. Muslim)


Catatan Redaksi


Kisah-kisah yang masuk kategori Israiliyat kita sajikan cuma buat bahan renungan aja, ya. Bukan buat dalil akidah, dan jangan dijadikan hujjah kecuali sesuai sama prinsip syariat.


Thank You!


Redaksi ngucapin terima kasih buat para guru, pembaca setia, dan semua yang udah mendukung tradisi literasi Islami. Stay righteous, guys

(Untuk kata Gue diganti diri aku)

........