Saturday, November 1, 2025

810. Ketika Dunia Menjadi Harapan dan Akhirat Ditinggalkan.

 




🕌 Ketika Dunia Menjadi Harapan dan Akhirat Ditinggalkan

Penulis: M. Djoko Ekasanu

QS. At-Taubah: 84–86


1. Ringkasan Redaksi Asli

QS. At-Taubah (9): 84–86

84. Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seorang pun dari mereka (orang munafik) yang mati selama-lamanya, dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sungguh, mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.
85. Janganlah harta benda dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya dengan itu Allah hendak menyiksa mereka di dunia, dan agar nyawa mereka melayang dalam keadaan kafir.
86. Dan apabila diturunkan suatu surah (yang berisi perintah): “Berimanlah kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya”, orang-orang yang mempunyai kekayaan di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak ikut berperang) dan berkata, “Biarkanlah kami bersama orang-orang yang tinggal.”


2. Latar Belakang Masalah di Jamannya

Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa perang Tabuk, ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan seluruh kaum Muslimin untuk berjihad menghadapi pasukan Romawi.
Namun sebagian kaum munafik menolak ikut serta. Mereka beralasan sibuk, lelah, atau takut kehilangan harta dan kenyamanan duniawi.

Ketika mereka meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, Allah melarang Rasulullah ﷺ menshalatkan dan mendoakan mereka, sebab kemunafikan mereka sudah nyata — berpura-pura beriman namun menolak pengorbanan di jalan Allah.


3. Sebab Terjadinya Masalah

Masalah ini muncul karena:

  1. Cinta dunia berlebihan — mereka menganggap jihad mengancam harta dan nyawa.
  2. Iman yang dangkal — hanya ingin Islam yang nyaman tanpa pengorbanan.
  3. Kemunafikan sosial — menampilkan kesalehan di luar, tetapi menolak perintah Allah di dalam hati.

4. Intisari Judul

“Ketika Dunia Menjadi Harapan dan Akhirat Ditinggalkan”
— menggambarkan kondisi umat yang lebih mencintai kesenangan dunia dibandingkan ridha Allah, hingga kehilangan makna sejati dari iman dan jihad spiritual.


5. Tujuan dan Manfaat

  • Tujuan: Menyadarkan umat agar tidak tertipu oleh kenikmatan dunia dan tidak menjadi “munafik modern” yang menolak jihad dalam bentuk tanggung jawab sosial, moral, dan spiritual.
  • Manfaat:
    • Menumbuhkan keikhlasan dalam amal.
    • Menghidupkan semangat pengorbanan.
    • Menguatkan kesadaran akhirat di tengah kemajuan zaman.

6. Dalil Pendukung (Qur’an dan Hadis)

  • QS. Al-Hadid: 20

    “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, bermegah-megahan dalam harta dan anak-anak...”

  • Hadis Nabi ﷺ:

    “Cintailah dunia maka engkau akan celaka, cintailah akhirat maka engkau akan bahagia.”
    (HR. Ibnu Majah)


7. Analisis dan Argumentasi

Kemunafikan di masa kini tidak lagi dalam bentuk penolakan perang, tetapi penolakan tanggung jawab moral dan spiritual.
Ketika teknologi, komunikasi, dan transportasi berkembang, banyak manusia justru makin jauh dari perjuangan nilai:

  • Dalam teknologi, manusia sibuk mempercantik tampilan, bukan memperbaiki hati.
  • Dalam komunikasi, lebih banyak menyebar fitnah daripada kebenaran.
  • Dalam kedokteran, kemajuan menyelamatkan jasad, tapi melupakan jiwa.
  • Dalam sosial, kemakmuran meningkat, tapi rasa kasih menurun.

Seperti kaum munafik di masa Nabi, manusia modern pun bisa terjebak dalam “kekaguman terhadap harta dan anak-anak”, sementara rohnya mati perlahan dalam kelalaian.


8. Relevansi di Zaman Modern

Ayat ini mengingatkan bahwa kemajuan bukan tanda keberkahan, bila tidak diiringi ketaatan dan ketundukan pada Allah.
Jihad di zaman ini bukan sekadar mengangkat pedang, tapi melawan nafsu, ego, dan keinginan dunia yang berlebihan.
Mereka yang berjuang dengan ilmu, amal, dan kejujuran di tengah arus materialisme — itulah para mujahid modern.


9. Hikmah

  • Harta dan anak adalah ujian cinta dunia.
  • Doa tidak bisa menolong orang yang mati dalam kekafiran atau kemunafikan.
  • Amal saleh tanpa keikhlasan tak akan mengantarkan keselamatan.
  • Dunia adalah ladang untuk menanam amal, bukan tempat beristirahat selamanya.

10. Muhasabah dan Caranya

  • Setiap malam: tanyakan pada diri, “Apakah hari ini aku berjuang karena Allah, atau demi dunia?”
  • Kurangi keluhan, perbanyak syukur.
  • Latih diri untuk memberi, bukan menunggu diberi.
  • Jaga hati agar tidak iri terhadap kemewahan orang lain.

11. Doa

اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا

“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, dan jangan jadikan ilmu kami hanya sebatas urusan dunia.”
(HR. Tirmidzi)


12. Nasehat Ulama Sufi

  • Hasan Al-Bashri: “Dunia hanyalah bayangan; kejar ia, maka ia lari; tinggalkan ia, maka ia mengikuti.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka atau mengharap surga, tapi karena aku mencintai-Mu.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Siapa yang mengenal dirinya, ia akan malu meminta dunia dari Tuhannya.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Sufi adalah yang tidak dimiliki dunia meski ia berada di dalamnya.”
  • Al-Hallaj: “Cinta sejati adalah ketika tidak tersisa lagi dirimu di hadapan-Nya.”
  • Imam al-Ghazali: “Hati yang terpaut dunia, tak akan mampu menatap cahaya Ilahi.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jadilah orang yang menguasai dunia, bukan yang dikuasai olehnya.”
  • Jalaluddin Rumi: “Apa yang kau cari di luar dirimu, sudah lama menantimu di dalam dirimu.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Cinta kepada Allah adalah cahaya yang memadamkan seluruh cahaya selain-Nya.”
  • Ahmad al-Tijani: “Hidupkan hati dengan dzikir, maka dunia akan tunduk tanpa kau minta.”

13. Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim dan Tafsir Ibnu Katsir.
  2. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali.
  3. Tafsir al-Qurtubi.
  4. Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi.
  5. Sirah Nabawiyah – Ibnu Hisyam.
  6. Risalah al-Qusyairiyyah – Imam al-Qusyairi.
  7. Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  8. Matsnawi Ma’nawi – Jalaluddin Rumi.

14. Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca yang terus menyalakan semangat dzikir, tafakkur, dan perjuangan batin di tengah dunia yang semakin bising.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat, bahwa kemajuan tanpa iman hanyalah fatamorgana, dan bahwa kemenangan sejati adalah tunduk total kepada Allah.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai dan sopan dari teks tersebut:


🕌 Ketika Dunia Jadi Prioritas, Akhirat Ditinggalin


Penulis: M. Djoko Ekasanu QS. At-Taubah: 84–86


---


1. Ringkasan Versi Original


QS. At-Taubah (9): 84–86


1. Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seorang pun dari mereka (orang munafik) yang mati selama-lamanya, dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sungguh, mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.

2. Janganlah harta benda dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya dengan itu Allah hendak menyiksa mereka di dunia, dan agar nyawa mereka melayang dalam keadaan kafir.

3. Dan apabila diturunkan suatu surah (yang berisi perintah): “Berimanlah kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya”, orang-orang yang mempunyai kekayaan di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak ikut berperang) dan berkata, “Biarkanlah kami bersama orang-orang yang tinggal.”


---


2. Backstory di Zamannya


Ayat ini turun pas lagi viral soal Perang Tabuk. Saat itu, Rasulullah ﷺ ngajak semua Muslim buat gabung jihad lawan Romawi. Tapi, kaum munafik pada nolak dengan alesan yang banyak banget; ada yang bilang sibuk, capek, atau takut harta dan nyawanya ilang.


Nah, pas mereka meninggal dalam keadaan kayak gitu, Allah samperin Rasulullah ﷺ buat nggak menshalatinkan dan mendoain mereka. Soalnya, sifat munafik mereka udah clear banget—pura-pura alim, tapi ogah berkorban di jalan Allah.


---


3. Pemicu Masalah


Masalah ini muncul karena:


· Cinta dunia yang over — Mikirin harta dan nyawa sendiri terus, sampe lupa kewajiban.

· Iman yang masih tipis kayak selembar a4 — Mau ikut Islam yang enak-enaknya aja, giliran disuruh berkorban, kabur.

· Sok alim, tapi dalemannya beda — Di depan rajin salat, tapi hatinya nggak mau denger perintah Allah.


---


4. Inti dari Judul


“Ketika Dunia Jadi Harapan dan Akhirat Ditinggalin” —Ini gambarin kondisi kita yang kadang lebih kepo sama urusan dunia, sampe lupa kalo hidup sebenernya cuma numpang lewat doang. Iman dan semangat jihad jadi ilang.


---


5. Goals & Benefitnya


Tujuannya: Ngingetin kita biar nggak kejerumus cinta dunia dan jadi "kaum munafik zaman now" yang males berjuang buat kebaikan.


Manfaatnya:


· Bikin kita lebih ikhlas dalam berbuat baik.

· Numbuhin semangat buat give and take, bukan cuma take doang.

· Ngingetin bahwa akhirat itu tujuan utama, biar dunia makin canggih.


---


6. Dalil Pendukung (Tetap Pakai Bahasa Aslinya ya!)


QS. Al-Hadid: 20 “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, bermegah-megahan dalam harta dan anak-anak...”


Hadis Nabi ﷺ: “Cintailah dunia maka engkau akan celaka, cintailah akhirat maka engkau akan bahagia.” (HR.Ibnu Majah)


---


7. Analisis & Argumen


Kemunafikan zaman sekarang nggak kayak dulu yang nolak perang. Sekarang bentuknya lebih ke menolak tanggung jawab moral dan spiritual.


Contohnya:


· Di dunia teknologi: Kita sibuk upgrade gadget, tapi lupa upgrade hati.

· Di media sosial: Banyak yang hobi nyebar hate speech dan fake news, daripada sebarkan kebaikan.

· Di dunia kesehatan: Fokus nyembuhin badan, tapi lupa obatin hati yang sakit.

· Di kehidupan sosial: Hidup makin makmur, tapi rasa peduli sama tetangga malah makin tipis.


Mirip kayak kaum munafik jaman Nabi, kita juga bisa tertipu sama gemerlapnya harta dan pencapaian, sampe lupa kalo itu semua cuma ujian.


---


8. Relevansinya di Zaman Now


Ayat ini ngingetin kita bahwa kemajuan teknologi bukan jaminan kita jadi deket sama Allah. Jihad di zaman now itu nggak harus angkat pedang, tapi lawan nafsu, ego, dan rasa malas kita buat berbuat baik.


Mereka yang tetap jujur, dermawan, dan berjuang lewat ilmu di tengah gempuran materialisme—mereka inilah mujahid zaman now.


---


9. Hikmah yang Bisa Diambil


· Harta dan anak itu ujian, bukan tujuan akhir.

· Doa aja nggak cukup buat orang yang meninggal dalam keadaan nggak percaya Allah.

· Berbuat baik tapi nggak ikhlas, ya percuma.

· Dunia itu kayak taman, buat nanam benih amal, bukan buat settle down selamanya.


---


10. Muhasabah Diri: Gimana Caranya?


· Sebelum tidur, tanya diri sendiri: "Hari ini, gue berbuat baik karena Allah atau karena pengen dipuji orang?"

· Kurangi yang namanya ngomel, perbanyak syukur.

· Latihan buat giving back, bukan nunggu dikasih.

· Jaga hati, jangan iri liat kesuksesan orang lain.


---


11. Doa Penutup


اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا


“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, dan jangan jadikan ilmu kami hanya sebatas urusan dunia.” (HR.Tirmidzi)


---


12. Quote Bijak dari Para Sufi


· Hasan Al-Bashri: "Dunia tu kayak bayangan; dikejar, dia lari; ditinggalin, dia yang ngikut."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Aku nyembah-Mu bukan karena takut neraka atau pengen surga, tapi karena cinta aja sama-Mu."

· Abu Yazid al-Bistami: "Siapa yang kenal dirinya, pasti malu minta dunia dari Tuhan."

· Junaid al-Baghdadi: "Orang sufi tuh yang dunianya nggak nempel, meski dia hidup di dalemnya."

· Al-Hallaj: "Cinta yang bener tuh ketika lo lupa sama diri lo sendiri di hadapan-Nya."

· Imam al-Ghazali: "Hati yang demen dunia, nggak akan bisa liat cahaya Allah."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Jadilah orang yang ngontrol dunia, jangan yang dikontrol dunia."

· Jalaluddin Rumi: "Apa yang lo cari di luar, sebenernya udah ada di dalam diri lo dari dulu."

· Ibnu ‘Arabi: "Cinta sama Allah itu cahaya yang nutupin semua cahaya lain."

· Ahmad al-Tijani: "Hidupin hati dengan dzikir, niscaya dunia akan ngikut dengan sendirinya."


---


13. Daftar Pustaka


(Tetap sama, karena ini sumber resmi) Al-Qur’an al-Karim dan Tafsir Ibnu Katsir. Ihya’Ulumiddin – Imam al-Ghazali. Tafsir al-Qurtubi. Al-Futuhat al-Makkiyyah– Ibnu ‘Arabi. Sirah Nabawiyah– Ibnu Hisyam. Risalah al-Qusyairiyyah– Imam al-Qusyairi. Futuh al-Ghaib– Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Matsnawi Ma’nawi– Jalaluddin Rumi.


---


14. Ucapan Terima Kasih


Big thanks buat kalian yang masih mau nyalain semangat ibadah dan mikirin akhirat di tengah dunia yang makin rame dan hectic. Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat buat kita semua, bahwa kemajuan tanpa iman itu kayak ilusi doang, dan kemenangan sebenernya itu cuma satu: pasrah total sama Allah. Keep spirit! ✨

809. ADZAB HAMBA DITOLAK SEBAB ORANG BAIK MEREKA.



ADZAB HAMBA DITOLAK SEBAB ORANG BAIK MEREKA.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Radhiyallahu ‘Anhu, bahwa ia berkata kalau Rasulullah, Shollallaahu ‘Alaihi Wa Sallama, bersabda, “Dengan beberapa orang saja yang mau sholat, Allah menjauhkan bilahi dari umatku yang tidak sholat. Andaikan mereka semua meninggalkan sholat niscaya Allah tidak akan melihat mereka dengan kasih. Dengan beberapa orang saja yang mau berzakat, Allah menjauhkan bilahi dari umatku yang tidak mau mengeluarkan zakat. Andaikan mereka semua tidak mau berzakat niscaya Allah tidak akan melihat mereka dengan kasih. Dengan beberapa orang saja yang mau berpuasa, Allah menjauhkan bilahi dari umatku yang tidak berpuasa. Andaikan mereka semua tidak mau berpuasa niscaya Allah tidak akan melihat mereka dengan kasih. Dengan beberapa orang saja yang mau berhaji, Allah menjauhkan bilahi dari umatku yang tidak mau berhaji. Andaikan mereka semua tidak berhaji niscaya Allah tidak akan melihat mereka dengan kasih. Dengan beberapa orang saja yang mau sholat Jumat, Allah menjauhkan bilahi dari umatku yang tidak sholat Jumat. Andaikan mereka semua meninggalkan sholat Jumat niscaya Allah tidak akan melihat mereka dengan kasih.” Hadis ini adalah pengertian Firman Allah, “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah memiliki    karunia    (yang dicurahkan) atas semesta alam,”28 sekiranya karunia-Nya adalah memaafkan dan mengampuni orang yang tidak mau sholat dengan perantara adanya orang yang sholat.

--------

Berikut versi lengkap gaya bacaan koran islami dengan struktur yang rapi, mendalam, dan disesuaikan dengan gaya khas tulisan Anda 👇


🕌 ADZAB HAMBA DITOLAK SEBAB ORANG BAIK MEREKA

Oleh: M. Djoko Ekasanu


🔹 Ringkasan Redaksi Aslinya

Rasulullah ﷺ bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra., bahwa karena keberadaan sebagian kecil umat Islam yang masih beribadah dengan sungguh-sungguh—shalat, zakat, puasa, haji, dan shalat Jumat—Allah menahan turunnya bala (adzab) kepada seluruh umat manusia. Andaikan semuanya meninggalkan ibadah-ibadah tersebut, maka Allah tidak lagi akan menatap mereka dengan kasih-Nya. Hadis ini menjelaskan makna firman Allah:

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia atas semesta alam.”
(QS. Al-Baqarah: 251)


🔹 Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, terdapat sebagian umat yang mulai lalai terhadap kewajiban agama. Sebagian masih setia beribadah, namun sebagian lainnya sudah lebih memprioritaskan dunia. Rasulullah ﷺ kemudian mengingatkan bahwa eksistensi segelintir hamba saleh menjadi sebab tertahannya murka Allah terhadap umat yang lalai.

Sebagaimana pada masa Bani Israil dahulu, ketika kebaikan hanya dijaga oleh segelintir nabi dan orang beriman, maka mereka menjadi “penyangga” dari kehancuran total suatu kaum.


🔹 Sebab Terjadinya Masalah

Manusia lebih mencintai dunia daripada ketaatan kepada Allah.
Ibadah dianggap beban, bukan kehormatan.
Banyak yang meninggalkan shalat, zakat, dan ibadah wajib lainnya.
Hingga Allah mengingatkan melalui lisan Rasul-Nya bahwa rahmat Allah masih turun karena adanya segelintir hamba yang istiqamah dalam kebaikan.


🔹 Intisari Judul

“Adzab Hamba Ditolak Sebab Orang Baik Mereka” bermakna bahwa kehadiran para hamba saleh adalah penolak bala bagi seluruh umat. Mereka menjadi sebab tertahannya murka Allah atas manusia yang lalai.


🔹 Tujuan dan Manfaat

  1. Menyadarkan umat bahwa keberkahan dan keselamatan negeri sangat bergantung pada keberadaan orang-orang saleh.
  2. Mendorong masyarakat untuk tidak meninggalkan ibadah wajib.
  3. Menanamkan keyakinan bahwa kebaikan pribadi berdampak sosial dan kosmik.
  4. Mengingatkan pentingnya menjaga hubungan dengan Allah agar rahmat-Nya tetap turun di bumi.

🔹 Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Al-Qur’an:

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini.”
(QS. Al-Baqarah: 251)

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang engkau (Muhammad) berada di antara mereka; dan Allah tidak akan mengazab mereka, sedang mereka beristighfar.”
(QS. Al-Anfal: 33)

Hadis:

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah menolak bala dari suatu kaum karena sebagian dari mereka yang berzikir, dan menolak kehancuran dari suatu rumah karena penghuninya yang beristighfar.”
(HR. Al-Baihaqi)


🔹 Analisis dan Argumentasi

Keberadaan orang baik dalam masyarakat adalah pelindung spiritual bagi kaum yang lalai. Mereka ibarat tiang penyangga dalam bangunan: tak terlihat menonjol, tetapi menahan keruntuhan.
Dalam pandangan teologis, rahmat Allah bersifat jam’iyyah — diturunkan untuk sekumpulan manusia karena amal sebagian dari mereka.
Jika orang-orang baik ini lenyap atau dicela, maka masyarakat kehilangan pelindung ilahi, dan azab pun turun tanpa peringatan.


🔹 Relevansi Saat Ini

Di masa modern, banyak masyarakat muslim yang meninggalkan shalat, zakat, dan ibadah. Hedonisme, kemalasan spiritual, dan kecintaan dunia meluas. Namun masih ada para hamba Allah yang tekun beribadah—mereka inilah yang menjadi sebab masih tegaknya rahmat di negeri ini.
Maka menghormati, mendukung, dan meneladani orang-orang saleh bukan hanya bentuk cinta, tapi juga bentuk syukur atas penjagaan Allah terhadap umat ini.


🔹 Hikmah

  • Orang saleh adalah sebab turunnya rahmat dan tertolaknya azab.
  • Ibadah pribadi berpengaruh terhadap keselamatan masyarakat.
  • Allah menilai umat secara kolektif melalui amal sebagian mereka.
  • Jangan mencela ahli ibadah, karena mereka perantara rahmat bagi kita.

🔹 Muhasabah dan Caranya

  • Introspeksi: Sudahkah ibadah kita menjadi penolak bala bagi keluarga dan masyarakat?
  • Perbaikan: Kembali istiqamah dalam shalat, zakat, puasa, dan ibadah lainnya.
  • Dampak sosial: Jadilah hamba yang membawa keberkahan bagi sekitar, bukan pembawa murka.
  • Doa dan istighfar: Perbanyak istighfar agar Allah menahan azab dari negeri ini.

🔹 Doa

اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، الَّذِينَ بِهِمْ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ، وَتُنْزِلُ الرَّحْمَةَ، وَتَرْزُقُ الْأُمَّةَ.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh, yang dengan mereka Engkau menolak bala, menurunkan rahmat, dan melimpahkan rezeki bagi umat.”


🔹 Nasehat Ulama Sufi

  • Hasan al-Bashri:
    “Kebaikan seorang hamba dapat menahan turunnya murka Allah kepada seribu pelaku dosa.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Jadilah lilin yang terbakar, agar dunia tidak tenggelam dalam gelap dosa.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Orang saleh itu bukan yang banyak amalnya, tapi yang dengannya Allah menahan murka-Nya.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Wali itu bukan sekadar dikenal manusia, tapi dikenal Allah di saat manusia lalai.”

  • Al-Hallaj:
    “Cahaya satu hati yang ikhlas lebih kuat dari seribu malam yang gelap.”

  • Imam al-Ghazali:
    “Jika engkau tidak mampu menjadi ulama yang mengajar, jadilah hamba yang berzikir. Karena dengan dzikirmu Allah menolak bala dari sekitarmu.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Orang baik adalah benteng negeri. Bila mereka hilang, maka dinding dunia pun runtuh.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Jadilah seperti hujan yang menyejukkan bumi, bukan seperti badai yang menakutkan manusia.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Rahmat Allah turun karena wujud para kekasih-Nya di bumi.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Satu istighfar dari hati wali Allah lebih berat di sisi langit daripada seribu dosa manusia biasa.”


🔹 Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Shahih al-Bukhari dan Muslim
  3. Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman
  4. Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin
  5. Abdul Qadir al-Jailani, Futuh al-Ghaib
  6. Jalaluddin Rumi, Matsnawi
  7. Ibnu ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah
  8. Risalah al-Qusyairiyyah karya Imam Al-Qusyairi
  9. Nashaih al-‘Ibad karya Imam Nawawi al-Bantani

🔹 Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca, guru, dan sahabat yang terus menjaga semangat mencari ilmu dan memperbaiki diri. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari hamba yang dengan mereka rahmat masih turun dan bala tertolak.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai dan sopan dari artikel tersebut:


🕌 ADZAB HAMBA DITOLAK SEBAB ORANG BAIK MEREKA


Oleh: M. Djoko Ekasanu


🔹 Intinya gini...


Rasulullah ﷺ pernah ngasih tau, lewat sahabat Ibnu Abbas ra., bahwa karena masih ada sekelompok kecil umat Islam yang rajin ibadah—shalat, zakat, puasa, haji, Jumat-an—Allah jadi nahan azab buat seluruh manusia. Bayangin, kalau semuanya pada ninggalin ibadah, Allah bisa aja udah gak lagi ngasih kita perhatian spesial. Hadis ini tuh nyambung banget sama ayat Al-Qur'an ini:


“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia atas semesta alam.” (QS.Al-Baqarah: 251)


🔹 Konteks Zaman Dulu


Di zaman Nabi, udah mulai ada yang semangat ibadahnya naik-turun. Ada yang masih setia, ada juga yang udah sibuk banget sama urusan dunia. Nah, Rasulullah ﷺ ingetin, bahwa keberadaan segelintir orang baik inilah yang jadi "alasan utama" Allah tahan murka-Nya ke yang lain. Ibaratnya kayak zaman Bani Israil dulu, segelintir nabi dan orang beriman itu jadi "penyangga" biar kaumnya gak hancur total.


🔹 Akar Masalahnya


· Cinta dunia over: Urusan dunia di atas segalanya, taat kepada Allah jadi nomor sekian.

· Ibadah dianggep berat: Diliatnya sebagai beban, bukan kehormatan.

· Ibadah wajib ditinggalin: Shalat, zakat, dll. udah gak jadi prioritas.

· Alhasil, Allah ingetin lewat Rasul-Nya, bahwa keberadaan minoritas yang istiqamah ini adalah alasan utama kita semua masih bisa napas lega hari ini.


🔹 Makna Judulnya


Judul "Adzab Hamba Ditolak Sebab Orang Baik Mereka" itu artinya, orang-orang saleh itu kayak "pelindung gaib" buat kita semua. Mereka adalah alasan kenapa azab kolektif ditahan sama Allah.


🔹 Tujuannya Apa Sih?


· Ngingetin kita bahwa keberkahan dan keamanan tempat tinggal kita sangat bergantung sama eksistensi orang-orang saleh.

· Ngajak kita buat tetap menjaga ibadah wajib, jangan sampe lepas.

· Nanamin keyakinan bahwa kebaikan kita secara personal punya efek domino yang besar buat sosial bahkan alam.

· Ngingetin pentingnya jaga hubungan sama Allah biar keberkahan-Nya tetep turun.


🔹 Dasar Al-Qur'an & Hadis


Al-Qur'an: “Seandainya Allah tidak menolak(keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, niscaya rusaklah bumi ini.” (QS.Al-Baqarah: 251)


“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang engkau (Muhammad) berada di antara mereka; dan Allah tidak akan mengazab mereka, sedang mereka beristighfar.” (QS.Al-Anfal: 33)


Hadis: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah menolak bala dari suatu kaum karena sebagian dari mereka yang berzikir,dan menolak kehancuran dari suatu rumah karena penghuninya yang beristighfar.” (HR.Al-Baihaqi)


🔹 Analisis & Argumen


Orang baik dalam masyarakat itu ibarat pilar penyangga dalam sebuah gedung: gak keliatan, tapi kalo ilang, runtuh semuanya. Dalam sudut pandang teologi,rahmat Allah itu sering turun secara jam'iyyah (komunal) — dikasih ke sekelompok orang karena amal sebagian dari mereka. Kalo sampe orang-orang baik ini hilang atau malah kita cela,ya siap-siap aja, tamat. Kita kehilangan "perisai ilahi" dan azab bisa turun kapan aja.


🔹 Relevansi Masa Kini


Di zaman now, banyak banget yang udah tinggalin shalat, zakat, dan ibadah lainnya. Gaya hidup hedon, malas spiritual, dan cinta dunia makin menjadi. Tapi, alhamdulillah, masih ada aja hamba Allah yang tekun ibadah—mereka inilah alasan utama kenapa negeri ini masih aman dan diberkahi. Makanya,menghormati, mendukung, dan nyontoh orang-orang saleh itu bukan cuma bentuk cinta, tapi juga bentuk syukur kita atas penjagaan Allah.


🔹 Hikmah yang Bisa Diambil


· Orang saleh = sebab turunnya rahmat & tertahannya azab.

· Ibadah kita ternyata punya pengaruh buat keselamatan orang banyak.

· Allah nilai umat secara kolektif lewat amal sebagiannya.

· Jangan suka nyinyir atau mencela ahli ibadah, karena merekalah perantara rahmat buat kita.


🔹 Muhasabah Diri Yuk!


· Introspeksi: Udah belum ibadah kita jadi "penolak bala" buat keluarga dan sekitar?

· Action: Kembali istiqamah di ibadah wajib: shalat, zakat, puasa, dll.

· Dampak Sosial: Jadilah hamba yang bawa keberkahan, bukan bawa "petaka".

· Doa & Istighfar: Perbanyak istighfar, itu senjata ampuh biar Allah tahan azab dari negeri ini.


🔹 Doa


اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، الَّذِينَ بِهِمْ تَدْفَعُ الْبَلَاءَ، وَتُنْزِلُ الرَّحْمَةَ، وَتَرْزُقُ الْأُمَّةَ. “Ya Allah,jadikanlah kami termasuk hamba-hamba-Mu yang saleh, yang dengan mereka Engkau menolak bala, menurunkan rahmat, dan melimpahkan rezeki bagi umat.”


🔹 Kata-Kata Motivasi Para Sufi


· Hasan al-Bashri: "Kebaikan satu orang bisa nahan murka Allah dari seribu pendosa."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Jadilah lilin yang terbakar, biar dunia gak tenggelam dalam gelapnya dosa."

· Abu Yazid al-Bistami: "Orang saleh itu bukan yang banyak amalnya, tapi yang karena dia, Allah tahan murka-Nya."

· Junaid al-Baghdadi: "Wali itu bukan cuma yang dikenal manusia, tapi yang dikenal Allah di saat manusia lagi lalai."

· Al-Hallaj: "Cahaya satu hati yang ikhlas lebih kuat dari seribu malam gelap."

· Imam al-Ghazali: "Kalo kamu gak bisa jadi ulama yang ngajar, jadilah hamba yang rajin berzikir. Karena dengan zikirmu, Allah tolak bala dari sekitarmu."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Orang baik itu benteng negeri. Kalo mereka hilang, runtuhlah dinding dunia."

· Jalaluddin Rumi: "Jadilah kayak hujan yang nyegarin bumi, jangan kayak badai yang bikin orang pada takut."

· Ibnu ‘Arabi: "Rahmat Allah turun karena ada para kekasih-Nya di bumi."

· Ahmad al-Tijani: "Satu istighfar dari hati wali Allah lebih berat di langit daripada seribu dosa manusia biasa."


🔹 Daftar Pustaka (tetap formal ya, soalnya ini sumbernya)


Al-Qur’an al-Karim Shahih al-Bukhari dan Muslim Al-Baihaqi,Syu’ab al-Iman Al-Ghazali,Ihya’ Ulumuddin Abdul Qadir al-Jailani,Futuh al-Ghaib Jalaluddin Rumi,Matsnawi Ibnu‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah Risalah al-Qusyairiyyah karya Imam Al-Qusyairi Nashaih al-‘Ibad karya Imam Nawawi al-Bantani


🔹 Ucapan Terima Kasih


Big thanks buat para pembaca, guru-guru, dan bestie semua yang terus semangat cari ilmu dan perbaiki diri. Semoga Allah masukin kita ke dalam golongan hamba yang karena merekalah, rahmat masih turun dan bala tertolak. Aamiin! 🙏


808. Kebenaran Isa dan Kemuliaan Ketundukan kepada Allah

 




📰 Kebenaran Isa dan Kemuliaan Ketundukan kepada Allah

(Kajian QS. An-Nisa: 171–173)

Penulis: M. Djoko Ekasanu


📖 Ringkasan Redaksi Aslinya

QS. An-Nisa: 171–173 menegaskan agar Ahli Kitab tidak melampaui batas dalam agamanya dan tetap beriman kepada Allah yang Maha Esa. Isa Al-Masih bukan Tuhan, melainkan Rasul dan kalimat Allah yang disampaikan kepada Maryam. Siapa yang beriman dan beramal saleh akan mendapat pahala besar, sedangkan yang sombong menolak tunduk kepada Allah akan mendapat azab pedih.


🕰️ Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, sebagian kaum Nasrani mengangkat Isa Al-Masih sebagai anak Tuhan, bahkan Tuhan itu sendiri. Mereka menolak konsep tauhid murni yang dibawa semua nabi. Ayat ini turun sebagai koreksi terhadap penyimpangan akidah itu, sekaligus menegaskan posisi Nabi Isa sebagai manusia mulia, bukan ilah.


⚖️ Sebab Terjadinya Masalah

Masalah muncul karena manusia mencampurkan wahyu dengan hawa nafsu dan filsafat manusia. Kaum Nasrani kala itu terpengaruh oleh budaya Romawi yang menyembah banyak dewa. Pemikiran trinitas lahir dari kompromi antara wahyu dan mitos, sehingga tauhid murni kabur.


🧭 Intisari Judul

“Kebenaran Isa dan Kemuliaan Ketundukan kepada Allah” bermakna: hanya dengan menempatkan Isa sebagai hamba dan rasul Allah, maka tauhid tetap lurus. Ketundukan kepada Allah adalah kemuliaan sejati, sementara kesombongan menolak kebenaran adalah kehinaan.


🎯 Tujuan dan Manfaat

  1. Meneguhkan kembali akidah tauhid.
  2. Menghindarkan umat dari kesalahan dalam memahami nabi dan rasul.
  3. Menanamkan sikap tunduk kepada hukum Allah.
  4. Menyadarkan umat agar tidak menyembah teknologi, jabatan, atau manusia.

📚 Dalil Pendukung

Al-Qur’an:

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.”
(QS. Ali Imran: 19)

“Dan tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba.”
(QS. Maryam: 93)

Hadis Rasulullah ﷺ:

“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.”
(HR. Bukhari dan Ahmad)


🔍 Analisis dan Argumentasi

Islam menolak segala bentuk pengkultusan manusia. Ketika akal digunakan tanpa wahyu, maka kesalahan pasti muncul. Ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi seharusnya menguatkan iman, bukan menggantikannya.

Manusia modern sering terjebak dalam "trinitas baru": sains, uang, dan popularitas. Semua dianggap mampu menyelamatkan hidup. Padahal tanpa Allah, semua itu tidak berarti. QS. An-Nisa:171–173 menegur keras mereka yang sombong terhadap Tuhan—baik dengan kedudukan, pengetahuan, maupun teknologi.


🌐 Relevansi di Era Modern

  1. Teknologi: Kecanggihan AI dan bioteknologi jangan membuat manusia merasa mampu mencipta kehidupan.
  2. Komunikasi: Kecepatan informasi menuntut ketelitian dalam menyebarkan kebenaran, bukan fitnah.
  3. Transportasi: Mobilitas tinggi harus diiringi kesadaran akan arah hidup menuju akhirat.
  4. Kedokteran: Kesembuhan hakikatnya dari Allah; dokter hanyalah perantara.
  5. Kehidupan sosial: Ketundukan kepada Allah menumbuhkan empati, kesetaraan, dan keadilan sosial.

🌿 Hikmah

  • Tauhid adalah fondasi seluruh ilmu dan peradaban.
  • Kesombongan intelektual dan spiritual adalah jalan kehancuran.
  • Setiap kemajuan duniawi harus dikembalikan untuk kemuliaan Allah.

🧘‍♂️ Muhasabah dan Caranya

  1. Merenungkan setiap hari: Siapa yang aku sembah hari ini — Allah atau nafsu dunia?
  2. Membaca QS. An-Nisa:171–173 setiap Subuh.
  3. Mengamalkan sikap tawadhu‘ dalam ilmu dan pekerjaan.
  4. Menyucikan hati dari pujian dan pengagungan terhadap sesama makhluk.

🤲 Doa

Allahumma ya Wahid, ya Ahad, tanamkan dalam hati kami keesaan-Mu.
Jauhkan kami dari kesyirikan akal dan hati.
Jadikan kami hamba yang tunduk kepada-Mu dengan penuh cinta dan rendah hati.
Amin ya Rabbal ‘alamin.


💬 Nasehat Para Sufi

  • Hasan al-Bashri: “Janganlah engkau mencari kemuliaan dengan menentang perintah Allah, karena kehinaan akan segera menyusulmu.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak menyembah Allah karena takut neraka atau berharap surga, tapi karena cinta yang suci.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Ketika aku mengenal Allah, aku melihat diriku tiada.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Tauhid adalah memisahkan yang selain Allah dari hatimu.”
  • Al-Hallaj: “Yang kucari bukan Tuhan di luar diriku, tapi yang bersemayam dalam setiap nafas.”
  • Imam al-Ghazali: “Ilmu tanpa tauhid hanyalah tirai kebodohan yang halus.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jadilah debu di bawah kaki syariat agar engkau sampai kepada hakikat.”
  • Jalaluddin Rumi: “Jangan cari Tuhan di langit, tapi dalam sujud dan kerendahan hatimu.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Segala bentuk adalah cermin bagi-Nya, namun janganlah engkau menyembah cermin.”
  • Ahmad al-Tijani: “Hakikat iman adalah tenggelam dalam kasih sayang Allah dan berbuat baik kepada sesama.”

📚 Daftar Pustaka

  1. Tafsir al-Maraghi, Ahmad Musthafa al-Maraghi.
  2. Tafsir Ibnu Katsir, Ibnu Katsir ad-Dimasyqi.
  3. Ihya’ Ulumuddin, Imam al-Ghazali.
  4. Al-Futuhat al-Makkiyyah, Ibnu ‘Arabi.
  5. Al-Fath ar-Rabbani, Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  6. Masnawi, Jalaluddin Rumi.
  7. Risalah al-Qusyairiyyah, Imam al-Qusyairi.

🙏 Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru, masyayikh, dan sahabat yang terus menyalakan cahaya ilmu dan dzikir di tengah hiruk pikuk dunia modern. Semoga setiap bacaan menjadi amal jariyah yang mengalir tanpa henti.


🖋️ Penulis:
M. Djoko Ekasanu
Pemerhati Dakwah, Sosial, dan Spiritualitas Tauhid


Tentu, ini versi bahasa gaul yang kekinian, santai, tapi tetap sopan dan menjaga kehormatan ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits.


---


📰 Kebenaran Isa dan Kemuliaan Nyerah Diri ke Allah (Kajian QS.An-Nisa: 171–173)


Penulis: M. Djoko Ekasanu


📖 Ringkasan Versi Original


Intinya, QS. An-Nisa: 171–173 ngasih tau ke Ahli Kitab: "Jangan lebay dalam beragama, ya! Iman kalian harus cuma ke Allah yang Maha Esa." Nabi Isa itu bukan Tuhan, tapi dia adalah Rasul dan kalimat Allah yang dikasih ke Maryam. Buat yang percaya dan rajin berbuat baik, hadiahnya mantap. Tapi yang sok jago dan nggak mau tunduk pada Allah, siap-siap aja nerima azab yang nggak main-main.


🕰️ Setting dan Drama di Zamannya


Zaman dulu, ada sebagian orang Nasrani yang naikkin level Nabi Isa, dari Rasul jadi "anak Tuhan", bahkan dianggap Tuhan sendiri. Mereka skip banget konsep tauhid murni yang dibawa semua nabi. Ayat ini turun buat koreksi, sekaligus ngegas: "Isa itu manusia mulia, BUKAN Tuhan, guys."


⚖️ Akar Masalahnya


Masalahnya muncul karena manusia suka ncampur adukkan wahyu sama pikiran sendiri dan filosofi zaman. Kaum Nasrani waktu itu kebanyakan terpengaruh budaya Romawi yang suka nyembah banyak dewa. Akhirnya, konsep trinitas jadi bentuk kompromi antara wahyu dan mitos, yang bikin ajaran tauhid yang jernih jadi keruh.


🧭 Intisari Judul


"Kebenaran Isa dan Kemuliaan Nyerah Diri ke Allah" artinya: posisi Isa yang bener tuh sebagai hamba dan rasul Allah, biar tauhid kita tetap lurus. Nyerah diri sama Allah itu keren banget, sementara sok iye dan nolak kebenaran itu tanda kehinaan.


🎯 Goal dan Benefit Buat Kita


· Nguatin keyakinan tauhid.

· Ngasih pemahaman yang bener soal nabi dan rasul.

· Ngebiasain diri buat ikut aturan Allah.

· Ngingetin kita biar jangan sampe nyembah teknologi, jabatan, atau manusia.


📚 Dalil Pendukung


Al-Qur'an:


“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19) “Dan tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan datang kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sebagai seorang hamba.” (QS. Maryam: 93)


Hadis Rasulullah ﷺ:


“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Ahmad)


🔍 Analisis dan Argumen Gue


Islam nggak terima kalo ada manusia yang dikultusin. Kalo akal dipake tanpa panduan wahyu, ujung-ujungnya salah. Ilmu pengetahuan dan teknologi harusnya bikin iman kita makin kuat, bukan malah jadi pengganti.


Manusia zaman now kadang terjebak "trinitas baru": sains, duit, dan popularitas. Semuanya dikira bisa nyelametin hidup. Padahal, tanpa Allah, semuanya nggak ada artinya. QS. An-Nisa:171–173 ini kayak teguran keras buat mereka yang sok jago di depan Tuhan—entah karena jabatan, ilmu, ataupun teknologinya.


🌐 Masih Relevan Nggak Sih di Zaman Sekarang?


· Teknologi: Kecanggihan AI dan bioteknologi jangan bikin kita feeling bisa nciptain kehidupan.

· Komunikasi: Arus info yang cepet banget nuntut kita buat lebih teliti nyebarin yang bener, bukan hoax.

· Transportasi: Mobilitas tinggi harus dibarengi sama kesadaran kalo tujuan akhir kita tuh akhirat.

· Kedokteran: Kesembuhan ujung-ujungnya dari Allah; dokter cuma perantara.

· Kehidupan Sosial: Nyerah diri sama Allah bikin kita lebih empati, nggak sok-sokan, dan peduli keadilan.


🌿 Hikmah yang Bisa Diambil


· Tauhid itu fondasi dari semua ilmu dan peradaban.

· Sok iye secara intelektual dan spiritual itu jalan menuju kehancuran.

· Semua kemajuan dunia harus diarahin buat kemuliaan Allah.


🧘‍♂️ Muhasabah: Gimana Caranya?


· Tanya diri sendiri tiap hari: "Hari ini gue nyembah siapa sih — Allah atau cuma nafsu dunia aja?"

· Baca QS. An-Nisa:171–173 pas habis shubuh.

· Praktikin sikap rendah hati dalam belajar dan kerja.

· Bersihin hati dari pengagungan berlebihan ke sesama makhluk.


🤲 Doa


Allahumma ya Wahid, ya Ahad, tanamkan dalam hati kami keesaan-Mu. Jauhkan kami dari kesyirikan akal dan hati. Jadikan kami hamba yang tunduk kepada-Mu dengan penuh cinta dan rendah hati. Amin ya Rabbal ‘alamin.


💬 Nasehat Para Sufi (yang Bisa Bikin Kita Mikir)


· Hasan al-Bashri: "Jangan cari kemuliaan dengan nentang perintah Allah, soalnya kehinaan bakal nyusul lo."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Gue nyembah Allah bukan karena takut neraka atau ngarep surga, tapi purely karena cinta."

· Abu Yazid al-Bistami: "Pas gue kenal Allah, gue ngerasa gue ini nggak ada apa-apanya."

· Junaid al-Baghdadi: "Tauhid itu ya ngosongin hati dari segala sesuatu selain Allah."

· Al-Hallaj: "Yang gue cari bukan Tuhan yang jauh di luar, tapi yang ada dalam setiap tarikan napas gue."

· Imam al-Ghazali: "Ilmu tanpa tauhid cuma kedok kebodohan yang keliatannya pinter."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Jadilah kayak debu di bawah kaki syariat, biar lo bisa nyampe ke hakikat."

· Jalaluddin Rumi: "Jangan cari Tuhan cuma di langit, tapi cari lah dalam sujud dan kerendahan hatimu."

· Ibnu ‘Arabi: "Semua bentuk di dunia ini cerminan-Nya, tapi jangan sampe lo nyembah cerminnya."

· Ahmad al-Tijani: "Inti iman itu ya tenggelam dalam kasih sayang Allah dan berbuat baik ke sesama."


📚 Daftar Pustaka


(Tetap sama, soalnya keren-keren) Tafsir al-Maraghi,Ahmad Musthafa al-Maraghi. Tafsir Ibnu Katsir,Ibnu Katsir ad-Dimasyqi. Ihya’Ulumuddin, Imam al-Ghazali. Al-Futuhat al-Makkiyyah,Ibnu ‘Arabi. Al-Fath ar-Rabbani,Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Masnawi,Jalaluddin Rumi. Risalah al-Qusyairiyyah,Imam al-Qusyairi.


🙏 Ucapan Terima Kasih


Big thanks untuk para guru dan semua teman yang terus nyebarin cahaya ilmu dan dzikir di tengah gemerlapnya dunia modern. Semoga semua yang kita baca jadi amal jariyah yang nggak putus-putusnya.


🖋️ Penulis: M.Djoko Ekasanu Pemerhati Dakwah,Sosial, dan Spiritualitas Tauhid

JANGAN MENYEMBAH MANUSIA

 




JANGAN MENYEMBAH MANUSIA

(Renungan dari QS Al-Māidah ayat 75–77)
Oleh: M. Djoko Ekasanu


Redaksi Ayat (Ringkasan Asli)

“Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul; sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Ibunya seorang yang sangat benar. Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan Kami), kemudian perhatikan bagaimana mereka berpaling.”
(QS. Al-Māidah: 75)

“Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak berkuasa mendatangkan mudarat ataupun manfaat bagi kamu?’ Padahal Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Māidah: 76)

“Katakanlah, ‘Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dalam agamamu secara tidak benar dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah sesat sebelumnya, dan mereka telah menyesatkan banyak orang, dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.’”
(QS. Al-Māidah: 77)


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Ayat ini turun untuk meluruskan keyakinan kaum Nasrani yang berlebihan dalam memuliakan Nabi Isa ‘alaihis-salām hingga menganggapnya sebagai anak Tuhan. Mereka terpengaruh oleh pandangan filsafat Yunani dan pengaruh pemimpin agama yang mengubah tauhid menjadi konsep trinitas. Padahal Isa hanyalah seorang nabi yang diutus Allah untuk menegakkan tauhid seperti para nabi sebelumnya.


Sebab Terjadinya Masalah

Penyimpangan akidah terjadi karena:

  1. Kultus individu terhadap manusia saleh hingga disembah.
  2. Taklid buta kepada pemuka agama.
  3. Pengaruh budaya luar yang memisahkan antara logika dan wahyu.
  4. Kelemahan ilmu dan iman, sehingga manusia mudah mempersonifikasikan Tuhan dalam bentuk makhluk.

Intisari Judul

“Jangan Menyembah Manusia” mengingatkan umat Islam agar tidak menuhankan tokoh, harta, kekuasaan, atau teknologi. Semua hanyalah alat, bukan Tuhan. Allah-lah satu-satunya yang layak disembah.


Tujuan dan Manfaat

  • Menguatkan tauhid di tengah masyarakat modern yang cenderung memuja idola.
  • Menegaskan batas antara penghormatan dan penyembahan.
  • Membangun kesadaran spiritual agar manusia tidak menjadikan kecanggihan dunia sebagai “tuhan baru.”
  • Mendorong muhasabah diri dan pembaruan iman.

Dalil Pendukung

Al-Qur’an:

  • “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)
  • “Dan mereka menjadikan ulama dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (QS. At-Taubah: 31)

Hadis Nabi ﷺ:

“Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Analisis dan Argumentasi

Manusia modern telah melahirkan “berhala-berhala baru”:

  • Teknologi yang diagungkan seolah mampu menggantikan takdir.
  • Komunikasi digital yang menuhankan pengakuan sosial.
  • Transportasi dan kedokteran modern yang membuat manusia merasa “berkuasa atas hidup dan mati.”
    Namun, semua kecanggihan itu tetap tunduk kepada kehendak Allah.
    Ayat ini menjadi pengingat bahwa sains dan iman tidak boleh dipisahkan: sains menjelaskan bagaimana, sedangkan iman menjelaskan mengapa.

Relevansi di Zaman Modern

  1. Teknologi: Jangan jadikan AI, data, atau mesin sebagai penentu hidup; tetap jadikan wahyu sebagai penuntun.
  2. Komunikasi: Media sosial melahirkan kultus terhadap influencer; umat perlu kembali kepada adab dan ilmu.
  3. Transportasi: Mobilitas cepat jangan membuat manusia lupa arah hidupnya.
  4. Kedokteran: Dokter berilmu, tapi kesembuhan datang dari Allah.
  5. Sosial: Jangan ukur kehormatan dari status digital, tapi dari ketakwaan.

Hikmah

  • Ketika manusia berlebihan pada sesuatu, ia sedang kehilangan Allah di hatinya.
  • Ketulusan ibadah hanya mungkin lahir bila hati tunduk sepenuhnya pada Yang Esa.
  • Dunia boleh maju, tetapi tauhid tidak boleh tergeser.

Muhasabah dan Caranya

  1. Evaluasi niat: Apakah kita beramal untuk Allah atau untuk penilaian manusia?
  2. Kurangi ketergantungan pada dunia: Gunakan teknologi untuk kebaikan, bukan untuk kesombongan.
  3. Perbanyak dzikir dan istighfar: Kembalikan hati pada Allah setiap hari.
  4. Belajar ilmu tauhid dan tasawuf: Agar iman selalu seimbang dengan akal.

Doa

Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tibā‘ah, wa arinal bāthila bāthilan warzuqnaj tinābah.
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami yang benar itu benar, dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Tunjukkan yang batil itu batil, dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya.”


Nasihat Para Arif Billah

  • Hasan al-Bashri: “Barang siapa mengenal Tuhannya, ia akan malu menyembah selain-Nya.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka atau mengharap surga, tapi karena Engkau layak disembah.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Hancurkan berhala yang ada di dalam dirimu, maka engkau akan melihat Tuhanmu.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Tauhid adalah memisahkan yang sementara dari yang abadi.”
  • Al-Hallaj: “Tidak ada aku di hadapan-Mu, hanya Engkau yang nyata.”
  • Imam al-Ghazali: “Jangan biarkan akalmu menjadi tuhan; ia hanyalah lentera, bukan matahari.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan gantungkan harapanmu pada makhluk, karena makhluk tidak memiliki daya.”
  • Jalaluddin Rumi: “Cinta sejati adalah ketika engkau lupa segalanya kecuali Allah.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Hati manusia adalah tempat singgah Allah; jangan kotori dengan selain-Nya.”
  • Ahmad al-Tijani: “Tauhid yang sejati ialah ketika tidak ada sesuatu pun di hatimu selain Allah.”

Daftar Pustaka

  1. Tafsir Al-Munir, Dr. Wahbah az-Zuhaili
  2. Tafsir Ibn Katsir
  3. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  4. Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
  5. Risalah al-Qusyairiyyah – Al-Qusyairi
  6. Al-Luma‘ – Junaid al-Baghdadi
  7. Hilyatul Auliya – Abu Nu‘aim al-Ashfahani
  8. Majmu‘ al-Fatawa – Ibnu Taimiyyah
  9. Diwan Rumi – Jalaluddin Rumi
  10. Al-Ghunyah – Syekh Abdul Qadir al-Jailani

Ucapan Terima Kasih

Tulisan ini penulis persembahkan untuk semua yang terus menjaga tauhid di tengah gelombang modernitas. Terima kasih kepada para pembaca yang terus mendukung gerakan dakwah melalui tulisan dan amal kebaikan. Semoga Allah meneguhkan iman dan memudahkan kita dalam menjaga kemurnian hati.


JANGAN SAMPE SALAH OBYEK! (Jadikan Allah Satu-Satunya Goal) (Renungan dari QS Al-Māidah ayat 75–77) Oleh:M. Djoko Ekasanu


Cuplikan Ayat (Versi Ringkas)


“Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul; sungguh, telah berlalu sebelumnya beberapa rasul. Ibunya seorang yang sangat benar. Keduanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan Kami), kemudian perhatikan bagaimana mereka berpaling.” (QS. Al-Māidah: 75)


“Katakanlah (Muhammad), ‘Apakah kamu menyembah selain Allah sesuatu yang tidak berkuasa mendatangkan mudarat ataupun manfaat bagi kamu?’ Padahal Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Māidah: 76)


“Katakanlah, ‘Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dalam agamamu secara tidak benar dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah sesat sebelumnya, dan mereka telah menyesatkan banyak orang, dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.’” (QS. Al-Māidah: 77)


Latar Belakang Zaman Dulu


Ayat-ayat ini turun buat nge-gas orang-orang Nasrani yang "over" banget ngangkat Nabi Isa ‘alaihis-salām sampai dianggep anak Tuhan. Mereka kebanyakan baca filsafat Yunani dan ikut-ikutan pemuka agama yang udah ngewarnai ajaran tauhid jadi konsep trinitas. Padahal, jelas banget, Nabi Isa cuma seorang nabi yang ditugasin Allah buat ajakin orang nyembah Allah aja, kayak nabi-nabi sebelumnya.


Akar Masalahnya Kenapa Bisa Sampai Kayak Gitu?


Penyimpangan keyakinan ini terjadi karena:


1. Kultus Individu: Mengidolakan orang shaleh sampai level "diva", akhirnya disembah.

2. Ikut-ikutan Buta: Cuma ikutin pemuka agama tanpa dicek lagi dalilnya, pokoknya percaya aja.

3. Kebanyakan Serap Budaya Luar: Sampe pisahin antara logika dan wahyu.

4. Ilmu dan Iman Lagi Lemah: Akhirnya manusia bikin konsep Tuhan yang bentuknya kayak makhluk, biar gampang dicerna.


Inti dari Judul "Jangan Menyembah Manusia"


Ini reminder buat kita semua: jangan sampe nuhanin tokoh, harta, jabatan, atau teknologi. Itu semua cuma alat, bukan tujuan akhir. Hanya Allah yang wajib kita sembah, no debat.


Tujuannya Buat Kita Apa Sih?


· Ngehype Tauhid: Di tengah masyarakat yang doyan banget "idol worship", tauhid harus tetap jadi prioritas.

· Ngejelasin Batasan: Beda banget antara respect sama manusia sama menyembah Allah.

· Bangun Spiritual Awareness: Biar kita gak gampang tergila-gila sama hal duniawi sampe jadi "tuhan baru".

· Ajak Muhasabah: Yuk, introspeksi dan refresh iman kita lagi.


Dalil Pendukung (Yang Bikin Makin Yakin)


· Dari Al-Qur'an: “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11) “Dan mereka menjadikan ulama dan rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.” (QS. At-Taubah: 31)

· Dari Hadis Nabi ﷺ: “Janganlah kalian berlebih-lebihan memujiku sebagaimana kaum Nasrani memuji Isa putra Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah: Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Analisis dan Argumen (Buat Pikirkan)


Manusia jaman now udah bikin "berhala-berhala baru", nih:


· Teknologi: Diagung-agungkan kayak bisa ngalahin takdir.

· Medsos: Bikin kita "menuhankan" likes, followers, dan validasi dari netizen.

· Transportasi & Kedokteran: Bikin kita lupa diri, merasa punya kendali penuh atas hidup dan mati.


Padahal, semua kecanggihan itu tunduk sama kehendak Allah. Ayat ini ngingetin kita bahwa sains dan iman harus jalan bareng: sains jawab "gimana", iman jawab "kenapa".


Relevansinya di Zaman Now Gimana?


· Teknologi: Jangan jadikan AI, data, atau mesin sebagai penentu hidup; tuntunan wahyu tetap yang utama.

· Komunikasi: Medsos bikin kultus "influencer"; kita harus balik lagi ke adab dan ilmu.

· Transportasi: Mobilitas cepat jangan bikin kita lupa arah hidup yang sebenernya.

· Kedokteran: Dokter itu pinter, tapi yang nyembuhin tetap aja Allah.

· Sosial: Jangan ukur harga diri dari status di medsos, tapi dari ketakwaan.


Hikmah yang Bisa Diambil


· Kalau kita berlebihan ngidolain sesuatu, hati kita udah kehilangan Allah.

· Ibadah yang tulus cuma bisa lahir kalo hati kita 100% milik Yang Esa.

· Dunia boleh makin canggih, tapi tauhid gak boleh tergeser.


Muhasabah, Yuk! Gimana Caranya?


· Evaluasi Niat: Cek lagi, kita beramal buat Allah atau biar dipuji orang?

· Kurangi Kecanduan Dunia: Pake teknologi buat kebaikan, bukan buat sombong.

· Perbanyak Dzikir dan Istighfar: Setel ulang connection sama Allah tiap hari.

· Belajar Ilmu Tauhid dan Tasawuf: Biar iman dan akal seimbang.


Doa (Bahasa Arab tetap, tapi artinya kita pahami)


Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tibā‘ah, wa arinal bāthila bāthilan warzuqnaj tinābah. (Ya Allah,tunjukkanlah yang benar itu benar dan beri kami kekuatan buat ngikutinnya. Tunjukkan yang salah itu salah dan beri kami kekuatan buat menjauhinya.)


Kata-Kata Motivasi Para Sufi (Yang Bikin Hati Adem)


· Hasan al-Bashri: "Siapa yang kenal Tuhannya, dia akan malu nyembah selain-Nya."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Aku nyembah-Mu bukan karena takut neraka atau pengen surga, tapi karena emang cuma Engkau yang layak disembah."

· Abu Yazid al-Bistami: "Hancurin berhala yang ada di dalam dirimu, baru kamu bisa liat Tuhanmu."

· Junaid al-Baghdadi: "Tauhid itu memisahkan yang sementara sama yang abadi."

· Al-Hallaj: "Gak ada 'aku' di hadapan-Mu, cuma Engkau yang nyata."

· Imam al-Ghazali: "Jangan biarin akalmu jadi tuhan; dia cuma lentera, bukan matahari."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Jangan gantungin harapanmu sama makhluk, soalnya makhluk gak punya daya."

· Jalaluddin Rumi: "Cinta sejati itu ketika kamu lupa segalanya kecuali Allah."

· Ibnu ‘Arabi: "Hati manusia itu tempat singgah Allah; jangan dikotori sama yang lain."

· Ahmad al-Tijani: "Tauhid yang bener tuh ketika gak ada sesuatu pun di hatimu selain Allah."


Daftar Pustaka (Tetap Kredibel)


Tafsir Al-Munir, Tafsir Ibn Katsir, Ihya' Ulumiddin, Al-Futuhat al-Makkiyah, Risalah al-Qusyairiyyah, Al-Luma‘, Hilyatul Auliya, Majmu‘ al-Fatawa, Diwan Rumi, Al-Ghunyah.


Ucapan Terima Kasih


Tulisan ini gue persembahin buat kalian semua yang tetap stay di jalan tauhid meskipun godaan zaman now makin gila. Makasih buat para pembaca yang selalu dukung gerakan dakwah lewat tulisan dan kebaikan. Semoga Allah selalu bikin iman kita kuat dan memudahkan kita buat jaga kemurnian hati. Aamiin!

Kemenangan yang Berawal dari Mimpi.

 




📰 “Kemenangan yang Berawal dari Mimpi”

(Kajian QS. Al-Anfal: 43)

Oleh: M. Djoko Ekasanu


🕊️ Ringkasan Redaksi Asli Ayat

QS. Al-Anfal: 43

إِذْ يُرِيكَهُمُ اللَّهُ فِي مَنَامِكَ قَلِيلًا ۖ وَلَوْ أَرَاكَهُمْ كَثِيرًا لَّفَشِلْتُمْ وَلَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ سَلَّمَ ۗ إِنَّهُ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ

Artinya:
“(Ingatlah), ketika Allah memperlihatkan mereka kepadamu dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepadamu (berjumlah) banyak, tentu kamu menjadi gentar dan tentu kamu akan berselisih dalam urusan itu. Tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”
(QS. Al-Anfal: 43)


🏹 Latar Belakang Masalah di Zamannya

Ayat ini turun menjelang Perang Badar, pertempuran pertama antara kaum Muslimin Madinah dan kaum Quraisy Makkah.
Pada malam sebelum perang, Rasulullah ﷺ bermimpi melihat musuh dalam jumlah sedikit. Padahal kenyataannya jumlah musuh jauh lebih banyak.
Allah memperlihatkan jumlah mereka sedikit agar hati para sahabat tetap teguh dan tidak gentar, sehingga semangat jihad tetap menyala.

Perang Badar bukan sekadar perang fisik, tapi ujian iman dan keyakinan terhadap janji Allah. Jika Nabi dan sahabat kala itu diliputi ketakutan, kekalahan akan datang bahkan sebelum pedang terhunus.


⚔️ Sebab Terjadinya Masalah

Masalah utama saat itu adalah ketakutan dan keraguan manusia terhadap kekuatan musuh.
Musuh Quraisy berjumlah seribu lebih, sedangkan pasukan Muslim hanya sekitar 313 orang. Secara logika, tidak seimbang.
Maka Allah menanamkan visi kemenangan melalui mimpi sebagai strategi spiritual agar umat tidak kalah sebelum berjuang.


Intisari Judul: “Kemenangan yang Berawal dari Mimpi”

Kemenangan tidak selalu dimulai dari kekuatan senjata atau jumlah pasukan. Kadang, ia berawal dari keyakinan yang diilhami Allah di dalam hati.
Mimpi Nabi adalah tanda kasih sayang Allah — menenangkan hati agar tidak takut, dan meneguhkan bahwa pertolongan-Nya lebih besar dari apa yang tampak di mata.


🎯 Tujuan dan Manfaat

  1. Meneguhkan hati agar tidak takut menghadapi kenyataan yang tampak besar.
  2. Mengajarkan bahwa visi ilahi (mimpi, ilham, keyakinan) adalah bagian dari strategi ruhani.
  3. Menumbuhkan rasa tawakal dan percaya penuh kepada Allah dalam setiap ujian hidup.

📖 Dalil Al-Qur’an dan Hadis Pendukung

  1. QS. Al-Imran: 160

“Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu.”

  1. Hadis Nabi ﷺ:

“Ketahuilah, pertolongan datang bersama kesabaran, kelapangan datang setelah kesempitan, dan di balik kesulitan ada kemudahan.”
(HR. Tirmidzi)


🔍 Analisis dan Argumentasi

Dalam konteks modern, ayat ini mengajarkan kekuatan psikologis dan spiritual sebelum berjuang.
Allah tidak ingin umat Islam kalah karena rasa takut yang dibentuk oleh persepsi, bukan kenyataan.
Manajemen persepsi dan mental adalah bagian dari strategi kemenangan — baik di medan perang, dunia bisnis, pendidikan, maupun perjuangan sosial.

Di era kecanggihan teknologi, komunikasi, transportasi, dan kedokteran, manusia sering ditakut-takuti oleh data, berita, dan algoritma.
Namun Allah ingin hamba-Nya menatap dengan iman, bukan hanya dengan layar dan angka.
Teknologi bisa mengaburkan realitas, tetapi iman meneguhkan keberanian menghadapi kenyataan.


🌍 Relevansi di Zaman Modern

  • Teknologi dan Komunikasi: Berita palsu, hoaks, dan propaganda sering membuat umat takut. Ayat ini mengingatkan: jangan gentar, lihatlah dengan mata hati.
  • Transportasi dan Globalisasi: Dunia terasa kecil, tetapi tantangan makin besar. Ketenangan batin tetap menjadi kunci keselamatan.
  • Kedokteran dan Kesehatan: Banyak orang takut penyakit dan kematian, padahal hidup dan mati di tangan Allah.
  • Sosial dan Ekonomi: Krisis ekonomi dan ketidakpastian global menakutkan, namun kemenangan tetap berawal dari keyakinan yang kokoh.

🌿 Hikmah

  • Allah menyesuaikan ujian dengan kekuatan hati manusia.
  • Rasa takut sering kali lebih mematikan dari kenyataan.
  • Ketenangan hati adalah strategi Allah untuk menyelamatkan hamba-Nya.

🧭 Muhasabah dan Caranya

  1. Tinjau kembali rasa takutmu — apakah karena Allah atau karena dunia?
  2. Perkuat iman dengan dzikir dan tafakur.
  3. Lihat setiap ujian sebagai kesempatan bertemu pertolongan Allah.
  4. Bersyukur atas hal kecil — karena kemenangan besar dimulai dari hati yang tenang.

🤲 Doa

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَازْرَعْ فِي نُفُوسِنَا الشَّجَاعَةَ وَالثِّقَةَ بِوَعْدِكَ.

“Ya Allah, teguhkan hati kami di atas agama-Mu, tanamkan keberanian dan keyakinan kepada janji-Mu.”


🌸 Nasehat Para Sufi dan Ulama Besar

  • Hasan Al-Bashri:
    “Ketakutanmu terhadap makhluk sebesar ketakutanmu kepada Allah adalah tanda lemahnya iman.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Cintailah Allah hingga rasa takut pun menjadi ketenangan.”
  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Aku tidak melihat musuhku, melainkan aku melihat Allah yang mengujiku melaluinya.”
  • Junaid al-Baghdadi:
    “Orang yang yakin kepada Allah tidak terguncang oleh jumlah atau kekuatan musuh.”
  • Al-Hallaj:
    “Antara aku dan Allah hanya ada cahaya keyakinan.”
  • Imam al-Ghazali:
    “Musuh terhebat bukan di luar dirimu, melainkan rasa takut di dalam hatimu.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Jadilah tenang di tengah badai, karena badai itu dikirim oleh Kekasihmu.”
  • Jalaluddin Rumi:
    “Jangan lihat seberapa besar gelombang, lihat siapa yang menenangkan lautan.”
  • Ibnu ‘Arabi:
    “Kemenangan sejati adalah ketika engkau menang atas dirimu sendiri.”
  • Ahmad al-Tijani:
    “Hati yang yakin tidak membutuhkan bukti selain Cahaya Allah.”

📚 Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’anul Karim dan Tafsir Ibnu Katsir.
  2. Tafsir Al-Maraghi.
  3. Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam Al-Ghazali.
  4. Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  5. Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari.
  6. Matsnawi – Jalaluddin Rumi.
  7. Risalah Qusyairiyah – Imam Al-Qusyairi.

🙏 Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca, dermawan, dan pejuang dakwah yang terus mendukung Gerakan Jumat Berkah dan Sedekah Air A.1035.
Semoga Allah menuliskan setiap tetes perjuangan menjadi pahala abadi.


Penulis:
🖋️ M. Djoko Ekasanu
Masjid & Rumah Dakwah – 12-B Jalan Lawang Seketeng, Gang V.


Tentu, ini naskah bacaan koran islami versi bahasa gaul kekinian yang sopan dan santai, dengan arti ayat dan hadis tetap dalam bahasa aslinya.


---


📰 Cahaya Hikmah Hari Ini


“Kemenangan yang Dimulai dari Mimpi” (Kajian QS.Al-Anfal: 43)


Oleh: M. Djoko Ekasanu


🕊️ Intisari Ayatnya


QS. Al-Anfal: 43


إِذْ يُرِيكَهُمُ اللَّهُ فِي مَنَامِكَ قَلِيلًا ۖ وَلَوْ أَرَاكَهُمْ كَثِيرًا لَّفَشِلْتُمْ وَلَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَلَـٰكِنَّ اللَّهَ سَلَّمَ ۗ إِنَّهُ عَلِيمٌۢ بِذَاتِ ٱلصُّدُورِ


Artinya: “(Ingatlah),ketika Allah memperlihatkan mereka kepadamu dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka kepadamu (berjumlah) banyak, tentu kamu menjadi gentar dan tentu kamu akan berselisih dalam urusan itu. Tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” (QS.Al-Anfal: 43)


🏹 Konteks Dulu: Perang Badar


Jadi gini, ceritanya lagi mau Perang Badar nih. Pasukan Muslim lagi underbanget, cuma 313 orang, sedangkan musuh jumlahnya lebih dari seribu. Bayangin, overwhelming banget kan?


Nah, malam sebelum perang, Rasulullah ﷺ dikasih mimpi lihat musuh cuma sedikit. Ternyata, itu adalah strategi Allah biar kita nggak mental breakdown duluan. Allah tahu banget kalau kita lihat realita sebenarnya, bisa ngacir ini berantem. So, ini bentuk kasih sayang-Nya biar kita tetap semangat dan solid.


✨ Intisari Judul: “Kemenangan yang Dimulai dari Mimpi”


Intinya, menang nggak selalu soal jumlah atau senjata. Tapi sering banget dimulai dari keyakinan dan vision yang Allah tanamin di hati. Mimpi Nabi itu kayak spoiler kemenangan dari Allah, biar kita nggak takut dan yakin bahwa pertolongan-Nya selalu nyata.


🎯 Goals & Manfaat Buat Kita


· Biar kita nggak gampang overthinking dan takut lihat masalah yang keliatannya gede.

· Ngingetin bahwa trust the process sama Allah itu adalah strategi terbaik.

· Nambahin level tawakal dan percaya diri karena kita punya back-up dari Yang Maha Keren.


📖 Ayat & Hadits Pendukung


· QS. Al-Imran: 160 “Jika Allah menolong kamu, maka tidak ada yang dapat mengalahkanmu.”

· Hadis Nabi ﷺ: “Ketahuilah, pertolongan datang bersama kesabaran, kelapangan datang setelah kesempitan, dan di balik kesulitan ada kemudahan.” (HR. Tirmidzi)


🔍 Analisis Gue


Kalo dipikir-pikir, ayat ini relevan banget sama kondisi kita sekarang. Kita sering dikasih fear sama berita-berita negatif, trending topic yang bikin cemas, atau lihat pencapaian orang lain yang bikin kita merasa kecil.


Padahal, Allah pengen kita lihat dengan kacamata iman. Jangan sampe kita kalah sebelum berperang hanya karena persepsi kita sendiri. Di era yang serba digital ini, mental dan spiritual kita adalah asset terbesar.


🌍 Relevansi Buat Anak Zaman Now


· Di Medsos & Berita: Banyak banget hoax dan negatif. Ayat ini ngasih tau, "Santai, jangan langsung panik. Lihat dengan kepala dingin dan hati yang tenang."

· Di Dunia Kerja & Bisnis: Saingan ketat, ekonomi naik-turun. Kunci utamanya tetep satu: percaya sama rencana Allah dan usaha maksimal.

· Dalam Hidup Sehari-hari: Takut gagal, takut nggak diterima, takut ini-itu. Ingat, rasa takut itu lebih bahaya daripada bahanya sendiri. Yakinlah, Allah lagi menyiapkan jalan terbaik.


🌿 Hikmah yang Bisa Diambil


· Allah nggak pernah ngasih ujian di luar kemampuan kita, termasuk kemampuan mental kita.

· Seringkali, ketakutan kita sendiri yang bikin masalah jadi keliatan lebih gede.

· Ketenangan hati adalah superpower dari Allah.


🧭 Muhasabah Diri Yuk!


· Coba deh self-reflection, selama ini takutnya karena Allah atau karena hal duniawi?

· Perbanyak dzikir dan me-time yang produktif buat tenangin hati.

· Anggap setiap tantangan itu kesempatan buat liat langsung pertolongan Allah.

· Stay grateful untuk hal-hal kecil, karena kemenangan besar dimulai dari sini.


🤲 Doa


اللَّهُمَّ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِينِكَ، وَازْرَعْ فِي نُفُوسِنَا الشَّجَاعَةَ وَالثِّقَةَ بِوَعْدِكَ.


“Ya Allah, teguhkan hati kami di atas agama-Mu, tanamkan keberanian dan keyakinan kepada janji-Mu.”


🌸 Kata-Kata Motivasi Para Ulama


· Hasan Al-Bashri: “Kalo takutmu sama orang sama kayak takutmu ke Allah, berarti imanmu lagi lemah nih.”

· Jalaluddin Rumi: “Jangan lihat seberapa besar gelombang, lihat siapa yang menenangkan lautan.”

· Imam al-Ghazali: “Musuh terhebat bukan di luar dirimu, tapi rasa takut di dalam hatimu.”

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jadilah tenang di tengah badai, karena badai itu dikirim oleh Kekasihmu.”

· Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari (dalam Al-Hikam): “Bisa aja kamu pengin sesuatu, tapi Allah pengin yang lain. Dan yang Allah pengin itu jauh lebih baik.”


📚 Daftar Pustaka (Tetap Keren)


· Al-Qur’anul Karim dan Tafsir Ibnu Katsir.

· Tafsir Al-Maraghi.

· Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam Al-Ghazali.

· Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

· Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari.

· Matsnawi – Jalaluddin Rumi.


🙏 Terima Kasih!


Big thanks untuk kalian semua, para pembaca setia, para dermawan, dan pejuang dakwah yang selalu support Gerakan Jumat Berkah dan Sedekah Air A.1035. Semoga setiap kebaikan kalian dicatat sama Allah sebagai amal jariyah. Aamiin!


Penulis: 🖋️M. Djoko Ekasanu Masjid& Rumah Dakwah – 12-B Jalan Lawang Seketeng, Gang V.


---


Tetap semangat menjalani hari! Allah sama kita. ✨