🕌 Ketika Dunia Menjadi Harapan dan Akhirat Ditinggalkan
Penulis: M. Djoko Ekasanu
QS. At-Taubah: 84–86
1. Ringkasan Redaksi Asli
QS. At-Taubah (9): 84–86
84. Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seorang pun dari mereka (orang munafik) yang mati selama-lamanya, dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sungguh, mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.
85. Janganlah harta benda dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya dengan itu Allah hendak menyiksa mereka di dunia, dan agar nyawa mereka melayang dalam keadaan kafir.
86. Dan apabila diturunkan suatu surah (yang berisi perintah): “Berimanlah kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya”, orang-orang yang mempunyai kekayaan di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak ikut berperang) dan berkata, “Biarkanlah kami bersama orang-orang yang tinggal.”
2. Latar Belakang Masalah di Jamannya
Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa perang Tabuk, ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan seluruh kaum Muslimin untuk berjihad menghadapi pasukan Romawi.
Namun sebagian kaum munafik menolak ikut serta. Mereka beralasan sibuk, lelah, atau takut kehilangan harta dan kenyamanan duniawi.
Ketika mereka meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, Allah melarang Rasulullah ﷺ menshalatkan dan mendoakan mereka, sebab kemunafikan mereka sudah nyata — berpura-pura beriman namun menolak pengorbanan di jalan Allah.
3. Sebab Terjadinya Masalah
Masalah ini muncul karena:
- Cinta dunia berlebihan — mereka menganggap jihad mengancam harta dan nyawa.
- Iman yang dangkal — hanya ingin Islam yang nyaman tanpa pengorbanan.
- Kemunafikan sosial — menampilkan kesalehan di luar, tetapi menolak perintah Allah di dalam hati.
4. Intisari Judul
“Ketika Dunia Menjadi Harapan dan Akhirat Ditinggalkan”
— menggambarkan kondisi umat yang lebih mencintai kesenangan dunia dibandingkan ridha Allah, hingga kehilangan makna sejati dari iman dan jihad spiritual.
5. Tujuan dan Manfaat
- Tujuan: Menyadarkan umat agar tidak tertipu oleh kenikmatan dunia dan tidak menjadi “munafik modern” yang menolak jihad dalam bentuk tanggung jawab sosial, moral, dan spiritual.
- Manfaat:
- Menumbuhkan keikhlasan dalam amal.
- Menghidupkan semangat pengorbanan.
- Menguatkan kesadaran akhirat di tengah kemajuan zaman.
6. Dalil Pendukung (Qur’an dan Hadis)
-
QS. Al-Hadid: 20
“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, bermegah-megahan dalam harta dan anak-anak...”
-
Hadis Nabi ﷺ:
“Cintailah dunia maka engkau akan celaka, cintailah akhirat maka engkau akan bahagia.”
(HR. Ibnu Majah)
7. Analisis dan Argumentasi
Kemunafikan di masa kini tidak lagi dalam bentuk penolakan perang, tetapi penolakan tanggung jawab moral dan spiritual.
Ketika teknologi, komunikasi, dan transportasi berkembang, banyak manusia justru makin jauh dari perjuangan nilai:
- Dalam teknologi, manusia sibuk mempercantik tampilan, bukan memperbaiki hati.
- Dalam komunikasi, lebih banyak menyebar fitnah daripada kebenaran.
- Dalam kedokteran, kemajuan menyelamatkan jasad, tapi melupakan jiwa.
- Dalam sosial, kemakmuran meningkat, tapi rasa kasih menurun.
Seperti kaum munafik di masa Nabi, manusia modern pun bisa terjebak dalam “kekaguman terhadap harta dan anak-anak”, sementara rohnya mati perlahan dalam kelalaian.
8. Relevansi di Zaman Modern
Ayat ini mengingatkan bahwa kemajuan bukan tanda keberkahan, bila tidak diiringi ketaatan dan ketundukan pada Allah.
Jihad di zaman ini bukan sekadar mengangkat pedang, tapi melawan nafsu, ego, dan keinginan dunia yang berlebihan.
Mereka yang berjuang dengan ilmu, amal, dan kejujuran di tengah arus materialisme — itulah para mujahid modern.
9. Hikmah
- Harta dan anak adalah ujian cinta dunia.
- Doa tidak bisa menolong orang yang mati dalam kekafiran atau kemunafikan.
- Amal saleh tanpa keikhlasan tak akan mengantarkan keselamatan.
- Dunia adalah ladang untuk menanam amal, bukan tempat beristirahat selamanya.
10. Muhasabah dan Caranya
- Setiap malam: tanyakan pada diri, “Apakah hari ini aku berjuang karena Allah, atau demi dunia?”
- Kurangi keluhan, perbanyak syukur.
- Latih diri untuk memberi, bukan menunggu diberi.
- Jaga hati agar tidak iri terhadap kemewahan orang lain.
11. Doa
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, dan jangan jadikan ilmu kami hanya sebatas urusan dunia.”
(HR. Tirmidzi)
12. Nasehat Ulama Sufi
- Hasan Al-Bashri: “Dunia hanyalah bayangan; kejar ia, maka ia lari; tinggalkan ia, maka ia mengikuti.”
- Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka atau mengharap surga, tapi karena aku mencintai-Mu.”
- Abu Yazid al-Bistami: “Siapa yang mengenal dirinya, ia akan malu meminta dunia dari Tuhannya.”
- Junaid al-Baghdadi: “Sufi adalah yang tidak dimiliki dunia meski ia berada di dalamnya.”
- Al-Hallaj: “Cinta sejati adalah ketika tidak tersisa lagi dirimu di hadapan-Nya.”
- Imam al-Ghazali: “Hati yang terpaut dunia, tak akan mampu menatap cahaya Ilahi.”
- Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jadilah orang yang menguasai dunia, bukan yang dikuasai olehnya.”
- Jalaluddin Rumi: “Apa yang kau cari di luar dirimu, sudah lama menantimu di dalam dirimu.”
- Ibnu ‘Arabi: “Cinta kepada Allah adalah cahaya yang memadamkan seluruh cahaya selain-Nya.”
- Ahmad al-Tijani: “Hidupkan hati dengan dzikir, maka dunia akan tunduk tanpa kau minta.”
13. Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim dan Tafsir Ibnu Katsir.
- Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali.
- Tafsir al-Qurtubi.
- Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi.
- Sirah Nabawiyah – Ibnu Hisyam.
- Risalah al-Qusyairiyyah – Imam al-Qusyairi.
- Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
- Matsnawi Ma’nawi – Jalaluddin Rumi.
14. Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para pembaca yang terus menyalakan semangat dzikir, tafakkur, dan perjuangan batin di tengah dunia yang semakin bising.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat, bahwa kemajuan tanpa iman hanyalah fatamorgana, dan bahwa kemenangan sejati adalah tunduk total kepada Allah.
Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai dan sopan dari teks tersebut:
🕌 Ketika Dunia Jadi Prioritas, Akhirat Ditinggalin
Penulis: M. Djoko Ekasanu QS. At-Taubah: 84–86
---
1. Ringkasan Versi Original
QS. At-Taubah (9): 84–86
1. Dan janganlah engkau (Muhammad) melaksanakan salat untuk seorang pun dari mereka (orang munafik) yang mati selama-lamanya, dan janganlah engkau berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sungguh, mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka mati dalam keadaan fasik.
2. Janganlah harta benda dan anak-anak mereka membuatmu kagum. Sesungguhnya dengan itu Allah hendak menyiksa mereka di dunia, dan agar nyawa mereka melayang dalam keadaan kafir.
3. Dan apabila diturunkan suatu surah (yang berisi perintah): “Berimanlah kepada Allah dan berjihadlah bersama Rasul-Nya”, orang-orang yang mempunyai kekayaan di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak ikut berperang) dan berkata, “Biarkanlah kami bersama orang-orang yang tinggal.”
---
2. Backstory di Zamannya
Ayat ini turun pas lagi viral soal Perang Tabuk. Saat itu, Rasulullah ﷺ ngajak semua Muslim buat gabung jihad lawan Romawi. Tapi, kaum munafik pada nolak dengan alesan yang banyak banget; ada yang bilang sibuk, capek, atau takut harta dan nyawanya ilang.
Nah, pas mereka meninggal dalam keadaan kayak gitu, Allah samperin Rasulullah ﷺ buat nggak menshalatinkan dan mendoain mereka. Soalnya, sifat munafik mereka udah clear banget—pura-pura alim, tapi ogah berkorban di jalan Allah.
---
3. Pemicu Masalah
Masalah ini muncul karena:
· Cinta dunia yang over — Mikirin harta dan nyawa sendiri terus, sampe lupa kewajiban.
· Iman yang masih tipis kayak selembar a4 — Mau ikut Islam yang enak-enaknya aja, giliran disuruh berkorban, kabur.
· Sok alim, tapi dalemannya beda — Di depan rajin salat, tapi hatinya nggak mau denger perintah Allah.
---
4. Inti dari Judul
“Ketika Dunia Jadi Harapan dan Akhirat Ditinggalin” —Ini gambarin kondisi kita yang kadang lebih kepo sama urusan dunia, sampe lupa kalo hidup sebenernya cuma numpang lewat doang. Iman dan semangat jihad jadi ilang.
---
5. Goals & Benefitnya
Tujuannya: Ngingetin kita biar nggak kejerumus cinta dunia dan jadi "kaum munafik zaman now" yang males berjuang buat kebaikan.
Manfaatnya:
· Bikin kita lebih ikhlas dalam berbuat baik.
· Numbuhin semangat buat give and take, bukan cuma take doang.
· Ngingetin bahwa akhirat itu tujuan utama, biar dunia makin canggih.
---
6. Dalil Pendukung (Tetap Pakai Bahasa Aslinya ya!)
QS. Al-Hadid: 20 “Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, perhiasan, bermegah-megahan dalam harta dan anak-anak...”
Hadis Nabi ﷺ: “Cintailah dunia maka engkau akan celaka, cintailah akhirat maka engkau akan bahagia.” (HR.Ibnu Majah)
---
7. Analisis & Argumen
Kemunafikan zaman sekarang nggak kayak dulu yang nolak perang. Sekarang bentuknya lebih ke menolak tanggung jawab moral dan spiritual.
Contohnya:
· Di dunia teknologi: Kita sibuk upgrade gadget, tapi lupa upgrade hati.
· Di media sosial: Banyak yang hobi nyebar hate speech dan fake news, daripada sebarkan kebaikan.
· Di dunia kesehatan: Fokus nyembuhin badan, tapi lupa obatin hati yang sakit.
· Di kehidupan sosial: Hidup makin makmur, tapi rasa peduli sama tetangga malah makin tipis.
Mirip kayak kaum munafik jaman Nabi, kita juga bisa tertipu sama gemerlapnya harta dan pencapaian, sampe lupa kalo itu semua cuma ujian.
---
8. Relevansinya di Zaman Now
Ayat ini ngingetin kita bahwa kemajuan teknologi bukan jaminan kita jadi deket sama Allah. Jihad di zaman now itu nggak harus angkat pedang, tapi lawan nafsu, ego, dan rasa malas kita buat berbuat baik.
Mereka yang tetap jujur, dermawan, dan berjuang lewat ilmu di tengah gempuran materialisme—mereka inilah mujahid zaman now.
---
9. Hikmah yang Bisa Diambil
· Harta dan anak itu ujian, bukan tujuan akhir.
· Doa aja nggak cukup buat orang yang meninggal dalam keadaan nggak percaya Allah.
· Berbuat baik tapi nggak ikhlas, ya percuma.
· Dunia itu kayak taman, buat nanam benih amal, bukan buat settle down selamanya.
---
10. Muhasabah Diri: Gimana Caranya?
· Sebelum tidur, tanya diri sendiri: "Hari ini, gue berbuat baik karena Allah atau karena pengen dipuji orang?"
· Kurangi yang namanya ngomel, perbanyak syukur.
· Latihan buat giving back, bukan nunggu dikasih.
· Jaga hati, jangan iri liat kesuksesan orang lain.
---
11. Doa Penutup
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا
“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami, dan jangan jadikan ilmu kami hanya sebatas urusan dunia.” (HR.Tirmidzi)
---
12. Quote Bijak dari Para Sufi
· Hasan Al-Bashri: "Dunia tu kayak bayangan; dikejar, dia lari; ditinggalin, dia yang ngikut."
· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Aku nyembah-Mu bukan karena takut neraka atau pengen surga, tapi karena cinta aja sama-Mu."
· Abu Yazid al-Bistami: "Siapa yang kenal dirinya, pasti malu minta dunia dari Tuhan."
· Junaid al-Baghdadi: "Orang sufi tuh yang dunianya nggak nempel, meski dia hidup di dalemnya."
· Al-Hallaj: "Cinta yang bener tuh ketika lo lupa sama diri lo sendiri di hadapan-Nya."
· Imam al-Ghazali: "Hati yang demen dunia, nggak akan bisa liat cahaya Allah."
· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Jadilah orang yang ngontrol dunia, jangan yang dikontrol dunia."
· Jalaluddin Rumi: "Apa yang lo cari di luar, sebenernya udah ada di dalam diri lo dari dulu."
· Ibnu ‘Arabi: "Cinta sama Allah itu cahaya yang nutupin semua cahaya lain."
· Ahmad al-Tijani: "Hidupin hati dengan dzikir, niscaya dunia akan ngikut dengan sendirinya."
---
13. Daftar Pustaka
(Tetap sama, karena ini sumber resmi) Al-Qur’an al-Karim dan Tafsir Ibnu Katsir. Ihya’Ulumiddin – Imam al-Ghazali. Tafsir al-Qurtubi. Al-Futuhat al-Makkiyyah– Ibnu ‘Arabi. Sirah Nabawiyah– Ibnu Hisyam. Risalah al-Qusyairiyyah– Imam al-Qusyairi. Futuh al-Ghaib– Syekh Abdul Qadir al-Jailani. Matsnawi Ma’nawi– Jalaluddin Rumi.
---
14. Ucapan Terima Kasih
Big thanks buat kalian yang masih mau nyalain semangat ibadah dan mikirin akhirat di tengah dunia yang makin rame dan hectic. Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat buat kita semua, bahwa kemajuan tanpa iman itu kayak ilusi doang, dan kemenangan sebenernya itu cuma satu: pasrah total sama Allah. Keep spirit! ✨




