Wednesday, April 15, 2026

1016. Suhbah yang Menentukan: Antara Cahaya dan Kegelapan Hati.

Bismillahirahmanirrahim.

Rabu, 15 Apr 2026

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Buat njenengan penikmat ilmu, terkirim dari Muhollah Baitul Mukhsinin oleh oleh maghrib'an nyantri bareng Ust. A. Zubaidi kupas tipis tipis kitab Sullamut Taufiq (Karya Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i) *Edisi 1016* :

---

29. Maksiat / Pasal 9. Maksiat Badan.

15. Duduk bersama orang ahli bid’ah, atau bersama orang fasiq (ahli maksiat) untuk menghibur.

.........

Bismillahirrahmanirrahim
Rabu, 15 April 2026

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Buat njenengan penikmat ilmu, terkirim dari Musholla Baitul Mukhsinin, oleh-oleh maghriban nyantri bareng Ust. A. Zubaidi, kupas tipis-tipis Kitab Sullamut Taufiq karya


Pasal 9: Maksiat Badan

15. Duduk bersama ahli bid’ah atau orang fasiq untuk menghibur


🌿 Suhbah yang Menentukan: Antara Cahaya dan Kegelapan Hati.

1. Makna (Tafsir Ayat)

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka berpalinglah dari mereka…” (QS. Al-An’am: 68)

Makna tasawufnya: Hati manusia itu lembut dan mudah terwarnai. Duduk bersama ahli maksiat bukan sekadar “duduk”, tetapi proses penularan batin.
Dalam ilmu tazkiyah, ini disebut suhbah (pergaulan) yang membentuk warna ruh (lawnul qalb).


2. Hukum (Ahkam)

  • Haram: Duduk bersama ahli maksiat dengan tujuan menikmati, menghibur diri, atau ridha terhadap kemaksiatan.
  • Boleh (bahkan dianjurkan): Jika niatnya dakwah, menasihati, atau mengubah kemungkaran.

➡️ Ukurannya:
Hati kita ikut condong atau justru ingin memperbaiki?


3. Hikmah & Pelajaran (Ibrah)

  • Hati itu seperti cermin → mudah kotor jika sering terpapar maksiat
  • Lingkungan adalah “agama kedua”
  • Duduk bersama orang shalih → menghidupkan hati
  • Duduk bersama ahli maksiat → mematikan nurani perlahan

4. Dalil Al-Qur’an & Hadis

Al-Qur’an:

  • QS. Al-An’am: 68
  • QS. Al-Furqan: 27–29 → penyesalan karena salah teman

Hadis Nabi ﷺ:

“Seseorang itu tergantung agama temannya…” (HR. Abu Dawud)

“Perumpamaan teman yang baik dan buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi…” (HR. Bukhari Muslim)


5. Analisis & Argumentasi Tasawuf

Dalam perspektif tasawuf:

  • Setiap manusia membawa energi ruhani (hal)
  • Majelis maksiat → menghadirkan kegelapan (zulmah)
  • Majelis dzikir → menghadirkan cahaya (nur)

➡️ Maka duduk bersama ahli maksiat untuk hiburan =
menukar cahaya hati dengan kegelapan sedikit demi sedikit

Ini yang berbahaya:
Tidak terasa, tapi pasti merusak.


6. Amalan (Implementasi)

  • Pilih teman yang:
    • Mengingatkan Allah
    • Menenangkan hati
  • Kurangi nongkrong yang tidak jelas arah
  • Isi waktu dengan:
    • Majelis ilmu
    • Dzikir
    • Shalawat
  • Jika terpaksa bertemu:
    • Jaga hati
    • Niat dakwah
    • Jangan larut

7. Relevansi Zaman Sekarang

Hari ini “duduk bersama” tidak hanya fisik, tapi juga:

  • Grup WhatsApp
  • TikTok / Instagram
  • Lingkaran digital

➡️ Follow orang maksiat = duduk bersama secara batin
➡️ Nonton konten maksiat = menikmati majelis mereka

Hati tetap terpengaruh walau lewat layar.


8. Motivasi

Kalau ingin hati bersih:
➡️ Dekati orang shalih

Kalau ingin hidup tenang:
➡️ Jauhi lingkungan maksiat

Karena:
Perubahan hidup sering dimulai dari perubahan lingkungan.


9. Muhasabah & Caranya

Tanya diri:

  • Siapa teman dekatku?
  • Apa efek setelah kumpul dengan mereka?
  • Hatiku makin hidup atau makin keras?

Cara muhasabah:

  1. Evaluasi pergaulan
  2. Kurangi yang merusak
  3. Ganti dengan majelis baik
  4. Perbanyak istighfar

10. Dampak (Kemuliaan & Kehinaan)

🌍 Di Dunia:

  • Mulia: Hati tenang, wajah bercahaya
  • Hina: Hati gelap, hidup gelisah

⚰️ Di Alam Kubur:

  • Mulia: Kubur lapang & bercahaya
  • Hina: Kubur sempit & gelap

🔥 Di Hari Kiamat:

  • Penyesalan besar karena salah teman
  • “Ya Allah, andai aku tidak menjadikan dia teman…”

🌿 Di Akhirat:

  • Bersama orang shalih → surga
  • Bersama ahli maksiat → terancam siksa

11. Doa

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك
اللهم ارزقنا صحبة الصالحين
وابعدنا عن أهل المعاصي والغافلين
ونقِّ قلوبنا من كل ظلمة
واجعلنا من عبادك المخلصين

Artinya:
Ya Allah, wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkan hati kami di atas agama-Mu.
Karuniakan kami teman-teman yang shalih,
Jauhkan kami dari ahli maksiat dan kelalaian,
Bersihkan hati kami dari kegelapan,
Dan jadikan kami hamba-hamba-Mu yang ikhlas.


12. Penutup

Mari kita jaga hati dengan menjaga pergaulan.
Karena jalan menuju Allah sering dimulai dari siapa yang kita duduki bersamanya.


Terimakasih
Jazakumullah khairan katsiran atas perhatian njenengan semua.
Semoga Allah memberkahi majelis ini dan menjadikannya sebab bersihnya hati kita.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh 🌿

Semoga bermanfa'at selalu.

—M. Djoko ekasanU—

.............

Berikut versi bahasa gaul kekinian yang santai tapi tetap sopan, dengan tetap mempertahankan arti ayat dan hadis sebagaimana aslinya. Kata "gue" sudah diganti "aku", dan "lo" diganti "njenengan".


---


Bismillahirrahmanirrahim

Rabu, 15 April 2026

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Halo, njenengan para pecinta ilmu dan anak gaul yang baek hati~

Ada oleh-oleh maghriban dari Musholla Baitul Mukhsinin, ngaji santuy bareng Ust. A. Zubaidi. Kali ini kita kupas tuntas ala anak kekinian kitab Sullamut Taufiq edisi 1016:


Pasal 9: Maksiat Badan

15. Nongkrong bareng ahli bid'ah atau tukang maksiat cuma buat hiburan


---


🌿 Suhbah yang Menentukan: Hati Bisa Kinclong, Bisa Juga Kusam


---


1. Makna (Tafsir Ayat) – tetap original


Allah Ta’ala berfirman:

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka berpalinglah dari mereka…” (QS. Al-An’am: 68)


Versi gaulnya:

Hati manusia tuh kayak spons gampang nyerep. Nongkrong sama tukang maksiat bukan cuma soal "duduk-duduk doang", tapi ada penularan batin. Dalam dunia tazkiyah, ini namanya suhbah (pergaulan) yang bisa ngubah warna hati (lawnul qalb).


---


2. Hukum (Ahkam) – yang boleh, yang nggak


❌ Haram kalau: nongkrongnya buat fun, hiburan, atau rela sama kemaksiatan.

✅ Boleh (bahkan dianjurkan) kalau: niatnya dakwah, ngasih nasihat, atau ngubah kemungkaran.


Cek aja:

Hati kita ikut-ikutan condong atau malah pingin benerin?


---


3. Hikmah & Pelajaran (Ibrah) – paham-paham aja


· Hati kayak cermin → gampang belepotan kalau sering kena debu maksiat

· Lingkungan itu "agama versi kedua"

· Nongkrong sama orang soleh → bikin hati idup

· Nongkrong sama tukang maksiat → nurani mati perlahan


---


4. Dalil Qur'an & Hadis – teks asli, ga usah digaulin


Al-Qur'an:


· QS. Al-An’am: 68

· QS. Al-Furqan: 27–29 → penyesalan karena salah pilih teman


Hadis Nabi ﷺ:

“Seseorang itu tergantung agama temannya…” (HR. Abu Dawud)

“Perumpamaan teman yang baik dan buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi…” (HR. Bukhari Muslim)


---


5. Analisis ala Tasawuf – bahasa hatinya


Setiap orang bawa energi ruhani sendiri.


· Majelis maksiat → nuansa gelap (zulmah)

· Majelis dzikir → nuansa cahaya (nur)


Jadi:

Nongkrong sama ahli maksiat cuma buat hiburan = nuker cahaya hati dengan kegelapan sedikit demi sedikit. Bahayanya: nggak kerasa, tapi pelan-pelan ngerusak.


---


6. Amalan Praktis – yuk terapin


· Pilih teman yang:

    → Ingatin Allah

    → Bikin hati adem

· Kurangi nongkrong nggak jelas arahnya

· Isi waktu dengan: majelis ilmu, dzikir, shalawat

· Kalau terpaksa ketemu:

    → Jaga hati

    → Niat dakwah

    → Jangan larut


---


7. Relevansi Kekinian – zaman now banget


Sekarang "duduk bareng" nggak cuma fisik, tapi juga:


· Grup WA

· FYP TikTok / IG

· Lingkaran digital


➡️ Follow akun maksiat = duduk bareng secara batin

➡️ Nonton konten maksiat = ikut menikmati majelis mereka


Hati tetap kena imbas, walau cuma lewat layar.


---


8. Motivasi – biar semangat


· Kalau pingin hati kinclong → deket sama orang soleh

· Kalau pingin hidup adem → jauhin lingkungan maksiat


Karena:

Perubahan hidup sering dimulai dari ganti lingkungan.


---


9. Muhasabah Diri – introspeksi yuk


Tanya ke diri sendiri:


· Siapa aja teman dekatku?

· Apa efeknya habis kumpul sama mereka?

· Hati makin idup atau makin keras?


Caranya:


· Evaluasi pergaulan

· Kurangi yang merusak

· Ganti dengan majelis baek

· Perbanyak istigfar


---


10. Dampak (Kemuliaan vs Kehinaan) – serius nih


🌍 Di dunia:

Mulia → hati tenang, muka cerah

Hina → hati suram, hidup galau


⚰️ Di alam kubur:

Mulia → kubur lapang & bercahaya

Hina → kubur sempit & gelap


🔥 Di hari kiamat:

Penyesalan besar: "Ya Allah, andai aku tidak menjadikan dia teman…"


🌿 Di akhirat:

Bersama orang soleh → surga

Bersama ahli maksiat → terancam siksa


---


11. Doa – baca, yuk


```

اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك

اللهم ارزقنا صحبة الصالحين

وابعدنا عن أهل المعاصي والغافلين

ونقِّ قلوبنا من كل ظلمة

واجعلنا من عبادك المخلصين

```


Artinya:

Ya Allah, wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkan hati kami di atas agama-Mu. Karuniakan kami teman-teman yang shalih, jauhkan kami dari ahli maksiat dan kelalaian, bersihkan hati kami dari kegelapan, dan jadikan kami hamba-Mu yang ikhlas.


---


12. Penutup – pesan terakhir


Yuk, jaga hati dengan jaga pergaulan.

Karena jalan menuju Allah itu sering dimulai dari siapa yang kita temani duduk bareng.


Terima kasih banyak, njenengan semua.

Jazakumullah khairan katsiran.

Semoga Allah berkahi majelis ini dan bikin hati kita makin bersih.


Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh 🌿


Tetap kece, tetap soleh.


— M. Djoko ekasanU —

1014. Halal Lahir, Suci Batin: Jalan Membersihkan Jiwa dari Hawa Nafsu.



Bismillāhirrahmānirrahīm

Selasa, 14 April 2026

Assalāmu‘alaikum waraḥmatullāhi wabarakātuh.

Buat njenengan penikmat ilmu, terkirim oleh oleh maghrib'an dari Masjid Al Abror nyantri bareng Ust. A. Zubaidi kupas tipis tipis kitab Tafsir Al Ibriz (Kyai Bisri Mustofa) Edisi 1014:

🕌 Halal Lahir, Suci Batin: Jalan Membersihkan Jiwa dari Hawa Nafsu


QS. Al-An’am: 119 (Perspektif Tafsir Al-Ibriz)


Al-An'am · Ayat 119

وَمَا لَكُمْ اَلَّا تَأْكُلُوْا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ اِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ اِلَيْهِۗ وَاِنَّ كَثِيرًا لَّيُضِلُّوْنَ بِاَهْوَاۤىِٕهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِيْنَ ۝١١٩

wa mâ lakum allâ ta'kulû mimmâ dzukirasmullâhi ‘alaihi wa qad fashshala lakum mâ ḫarrama ‘alaikum illâ madlthurirtum ilaîh, wa inna katsîral layudlillûna bi'ahwâ'ihim bighairi ‘ilm, inna rabbaka huwa a‘lamu bil-mu‘tadîn

Mengapa kamu tidak mau memakan sesuatu (daging hewan) yang (ketika disembelih) disebut nama Allah. Padahal, Allah telah menjelaskan secara rinci kepadamu sesuatu yang Dia haramkan kepadamu, kecuali jika kamu dalam keadaan terpaksa. Sesungguhnya banyak yang menyesatkan (orang lain) dengan mengikuti hawa nafsunya tanpa dasar pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas.

.......

Ayat ini secara lahir berbicara tentang makanan halal—tentang pentingnya menyebut nama Allah saat menyembelih. Namun dalam pandangan tasawuf, khususnya sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir Al-Ibriz, ayat ini mengandung makna yang jauh lebih dalam: tentang apa yang “masuk” ke dalam diri kita—baik secara fisik maupun ruhani.


🌿 Makna Lahir dan Batin

Allah berfirman: “Mengapa kamu tidak mau memakan sesuatu yang disebut nama Allah atasnya…”

Secara lahir:

  • Kita diperintahkan makan yang halal dan thayyib (baik).
  • Haram itu sudah dijelaskan, kecuali dalam kondisi darurat.

Namun secara batin (tasawuf):

  • “Makan” bukan hanya makanan, tapi juga:
    • Apa yang kita lihat
    • Apa yang kita dengar
    • Apa yang kita pikirkan
    • Apa yang kita rasakan

➡️ Semua itu adalah “asupan” bagi hati.

Jika makanan jasad harus halal, maka makanan hati harus bersih dari hawa nafsu.


🫀 Tafsir Tazkiyatun Nufūs (Penyucian Jiwa)

Dalam pendekatan Tafsir Al-Ibriz:

1. Dzikir sebagai “Penyucian Makanan”

Menyebut nama Allah bukan sekadar ucapan, tapi:

  • Menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas
  • Menjadikan segala yang masuk ke diri kita bernilai ibadah

👉 Orang yang lalai dari Allah, meskipun makan yang halal, bisa menjadi keras hatinya.


2. Hawa Nafsu: Racun Tersembunyi

Allah mengingatkan:

“Banyak yang menyesatkan dengan hawa nafsunya tanpa ilmu”

Dalam tasawuf:

  • Hawa nafsu adalah hijab (penghalang) antara hamba dan Allah
  • Nafsu membuat:
    • yang haram terasa ringan
    • yang syubhat dianggap biasa
    • yang maksiat dianggap wajar

👉 Maka, penyakit utama bukan pada makanan, tapi pada hati yang mengikuti nafsu tanpa ilmu dan tanpa dzikir.


3. Darurat dalam Perspektif Hati

Ayat ini memberi keringanan saat darurat.

Namun dalam tasawuf:

  • Jangan jadikan “darurat” sebagai alasan untuk menuruti nafsu
  • Banyak orang mengaku “terpaksa”, padahal sebenarnya terbiasa

👉 Orang yang jujur pada Allah akan membedakan:

  • mana kebutuhan
  • mana keinginan

4. Ilmu Tanpa Tazkiyah = Kesesatan Halus

Allah berfirman:

“...tanpa dasar pengetahuan”

Dalam tasawuf:

  • Ilmu yang tidak membersihkan hati akan melahirkan:
    • kesombongan
    • pembenaran diri
    • bahkan menyesatkan orang lain

👉 Ilmu harus disertai:

  • ikhlas
  • tawadhu
  • muhasabah

🌙 Intisari (Ringkasan Hikmah)

1. Halal bukan hanya soal makanan, tapi juga apa yang masuk ke hati.
2. Dzikir menjadikan segala yang kita lakukan bernilai ibadah.
3. Hawa nafsu adalah sumber kesesatan terbesar jika tidak dikendalikan.
4. Jangan jadikan “darurat” sebagai alasan mengikuti keinginan.
5. Ilmu harus disertai penyucian jiwa agar tidak menyesatkan.


🤲 Penutup & Doa

Ya Allah…
Jadikanlah kami hamba-Mu yang menjaga lahir dan batin kami.
Bersihkan hati kami dari hawa nafsu yang menyesatkan.
Karuniakan kepada kami ilmu yang bermanfaat dan jiwa yang suci.
Dan jadikan setiap yang masuk ke dalam diri kami sebagai jalan menuju ridha-Mu.

Allahumma ja’alna min ahlil halal, wa min ahlidz dzikir, wa min ‘ibadikas shalihin.



Wassalāmu‘alaikum waraḥmatullāhi wabarakātuh.

Semoga bermanfaat, ya.

—M. Djoko ekasanU—

.........................................

Berikut versi bahasa gaul yang santai, sopan, dan ramah untuk para sesepuh. Arti ayat Al-Qur’an dan hadis tetap asli, tidak diganti bahasa gaul. Kata “aku” untuk diri sendiri, “njenengan” untuk lawan bicara.


---


Bismillāhirrahmānirrahīm


Selasa, 14 April 2026


Assalāmu‘alaikum waraḥmatullāhi wabarakātuh.


Para sepuh dan penikmat ilmu yang dirahmati Allah, nih aku kasih oleh-oleh magriban dari Masjid Al Abror. Ngaji santai bareng Ust. A. Zubaidi, beliau bedah tipis-tipis kitab Tafsir Al Ibriz (Kyai Bisri Mustofa) edisi 1014. Judulnya:


🕌 Halal Lahir, Suci Batin: Jalan Bersihin Hati dari Hawa Nafsu


---


QS. Al-An’am: 119 (Versi Tafsir Al-Ibriz)


Al-An'am · Ayat 119


وَمَا لَكُمْ اَلَّا تَأْكُلُوْا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَّا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ اِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ اِلَيْهِۗ وَاِنَّ كَثِيرًا لَّيُضِلُّوْنَ بِاَهْوَاۤىِٕهِمْ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِالْمُعْتَدِيْنَ ۝١١٩


wa mâ lakum allâ ta'kulû mimmâ dzukirasmullâhi ‘alaihi wa qad fashshala lakum mâ ḫarrama ‘alaikum illâ madlthurirtum ilaîh, wa inna katsîral layudillûna bi'ahwâ'ihim bighairi ‘ilm, inna rabbaka huwa a‘lamu bil-mu‘tadîn


Artinya:

"Mengapa kamu tidak mau memakan sesuatu (daging hewan) yang (ketika disembelih) disebut nama Allah. Padahal, Allah telah menjelaskan secara rinci kepadamu sesuatu yang Dia haramkan kepadamu, kecuali jika kamu dalam keadaan terpaksa. Sesungguhnya banyak yang menyesatkan (orang lain) dengan mengikuti hawa nafsunya tanpa dasar pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas."


---


Penjelasan Santai ala Anak Muda (Tapi Tetap Sopan)


Nah, ayat ini kelihatannya bicara soal makanan halal – soal wajib baca bismillah pas nyembelih. Tapi kalau dilihat dari kacamata tasawuf (kaya yang dijelasin di Tafsir Al-Ibriz), ayat ini nyambung banget sama hidup kita sehari-hari. Bukan cuma soal makanan, tapi soal apa pun yang "masuk" ke diri kita – baik fisik maupun ruhani.


🌿 Makna Lahir dan Batin


Allah nanya: "Mengapa kamu gak mau makan dari yang disebut nama Allah atasnya?"


· Secara lahir (yang kelihatan):

    Kita wajib makan yang halal dan baik. Yang haram sudah jelas, kecuali darurat banget.

· Secara batin (versi tasawuf):

    Kata "makan" itu gak cuma makanan, lho. Tapi juga:

    ➡️ Apa yang kita lihat

    ➡️ Apa yang kita dengar

    ➡️ Apa yang kita pikirkan

    ➡️ Apa yang kita rasakan

  Semua itu adalah "asupan" buat hati. Kalau makanan perut harus halal, maka makanan hati juga harus bersih dari hawa nafsu.


🫀 Pesan Utama: Bersihin Jiwa (Tazkiyatun Nufūs)


Menurut Tafsir Al-Ibriz:


1. Dzikir itu kayak "sertifikasi halal" buat hati

      Baca nama Allah bukan cuma di lisan, tapi bawa Allah dalam setiap aktivitas. Biar apa pun yang masuk ke diri kita jadi bernilai ibadah.

      Orang yang lalai dari Allah, meskipun makannya halal, hatinya bisa jadi keras.

2. Hawa nafsu itu racun tersembunyi

      Allah ingetin: "Banyak yang menyesatkan dengan hawa nafsunya tanpa ilmu."

      Dalam tasawuf, nafsu itu penghalang (hijab) antara kita sama Allah. Nafsu bikin:

   · yang haram terasa enteng

   · yang syubhat dianggap biasa

   · yang maksiat terasa wajar

   Jadi penyakit utamanya bukan cuma di makanan, tapi di hati yang nurutin nafsu tanpa ilmu dan tanpa dzikir.

3. Darurat jangan dijadikan alasan buat ikutin nafsu

      Ayat ini ngasih keringanan kalau darurat. Tapi dalam tasawuf, hati-hati: jangan kebiasaan pakai alasan "terpaksa" buat nurutin keinginan.

      Orang yang jujur sama Allah pasti bedain mana kebutuhan, mana cuma keinginan.

4. Ilmu tanpa bersihin hati = kesesatan yang halus

      Allah bilang: "...tanpa dasar pengetahuan"

      Maksudnya, ilmu yang gak membersihkan hati malah bisa bikin sombong, suka benerin diri sendiri, bahkan bisa nyesatkan orang lain.

      Maka ilmu harus disertai: ikhlas, rendah hati (tawadhu), dan suka introspeksi (muhasabah).


---


🌙 Intisari (Biar Gak Pusing)


✨ 1. Halal itu bukan cuma soal makanan, tapi juga soal apa yang masuk ke hati.

✨ 2. Dzikir bikin semua kegiatan kita jadi bernilai ibadah.

✨ 3. Hawa nafsu adalah biang kesesatan kalau gak dikendalikan.

✨ 4. Jangan suka pakai alasan "darurat" buat nurutin keinginan.

✨ 5. Ilmu wajib disertai bersihin hati, biar gak nyesatkan.


---


🤲 Doa Penutup (Tetap Khidmat)


Ya Allah…

Jadikanlah kami hamba-Mu yang jaga lahir dan batin kami.

Bersihkan hati kami dari hawa nafsu yang menyesatkan.

Kasih kami ilmu yang bermanfaat dan jiwa yang suci.

Jadikan setiap yang masuk ke diri kami sebagai jalan menuju ridha-Mu.


Allahumma ja’alna min ahlil halal, wa min ahlidz dzikir, wa min ‘ibadikas shalihin.


---


Wassalāmu‘alaikum waraḥmatullāhi wabarakātuh.


Semoga ada manfaatnya ya, para sepuh.


— M. Djoko ekasanU (yang masih belajar)


---