🕊️ Mengingat Mati yang Melenyapkan Kelezatan Dunia
Oleh: M. Djoko Ekasanu
Nabi melihat beberapa orang yang sedang tertawa terbahak. bahak, lalu Beliau menegur mereka: “Jika kalian memperbanyak ingat (mati) yang melenyapkan segala macam kelezatan, pasti tiada waktu bagi kalian untuk itu, kemudian kata beliau:
Artinya:
“Hendaklah kalian memperbanyak mengingat (mati) yang melenyapkan segala macam kelezatan, lalu sabda beliau pula: “Kubur adalah merupakan petamanan sorga bagi orang mukmin, dan merupakan bagian dari jurang-jurang neraka bagi orang kafir”?
Ringkasan Redaksi Hadis Asli
Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melihat beberapa sahabat tertawa terbahak-bahak. Maka beliau bersabda:
“Jika kalian memperbanyak mengingat (mati) yang melenyapkan segala macam kelezatan, niscaya kalian tidak akan sempat tertawa seperti itu. Karena sesungguhnya kubur adalah taman di antara taman-taman surga bagi orang mukmin, dan lubang di antara lubang-lubang neraka bagi orang kafir.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Latar Belakang Masalah di Zaman Nabi
Pada masa Rasulullah ﷺ, sebagian sahabat hidup dalam kesederhanaan, namun ada pula yang mulai menikmati dunia seiring kemenangan Islam dan melimpahnya harta rampasan perang. Dalam suasana inilah Rasulullah ﷺ menegur tawa berlebihan—bukan karena melarang kebahagiaan, tetapi agar umat tidak lalai dari hakikat hidup: bahwa dunia hanya persinggahan menuju akhirat.
Maksud dan Hakikat
Hadis ini menegaskan pentingnya dzikrul maut — mengingat kematian sebagai jalan penyucian jiwa. “Mati” adalah cermin kebenaran, penawar kesombongan, dan penghapus kelalaian. Siapa yang sadar bahwa hidup akan berakhir, tidak akan tertawa berlebihan, berbuat zalim, atau menumpuk harta dengan tamak.
Tafsir dan Makna dari Judul
“Mengingat mati yang melenyapkan kelezatan” berarti kesadaran spiritual yang memadamkan nafsu duniawi. Segala kesenangan dunia—makanan, kekuasaan, pujian—akan hilang saat ruh dicabut. Hanya amal saleh yang menetap abadi.
Tujuan dan Manfaat
- Menumbuhkan kesadaran akhirat.
- Menjaga keseimbangan antara tawa dan tangis, antara dunia dan akhirat.
- Melembutkan hati agar tidak keras oleh cinta dunia.
- Mendorong amal saleh sebelum ajal menjemput.
Intisari Masalah
Masalah utama dalam hadis ini adalah kelalaian manusia terhadap kematian. Saat hati dipenuhi dunia, tawa menjadi sarana lupa diri. Nabi ﷺ ingin mengembalikan tawa pada porsinya—sebagai bentuk syukur, bukan kelalaian.
Sebab Terjadinya Masalah
Kelalaian muncul karena:
- Terlalu banyak waktu untuk hiburan duniawi.
- Lemahnya dzikir dan muraqabah kepada Allah.
- Tidak pernah menghadiri jenazah atau melihat kematian secara nyata.
- Kurangnya tafakur terhadap hakikat hidup.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis Terkait
📖 Al-Qur’an:
“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali Imran: 185)
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.”
(QS. Qaf: 19)
📜 Hadis:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian.”
(HR. Tirmidzi, An-Nasa’i)
Analisis dan Argumentasi
Rasulullah ﷺ tidak melarang tawa, namun menyembuhkan kelalaian melalui ingatan akan mati. Dalam psikologi modern, kesadaran akan kefanaan diri disebut “death awareness”, yang terbukti menumbuhkan empati, kesederhanaan, dan kebijaksanaan hidup.
Dalam tasawuf, “dzikrul maut” adalah jalan menuju fana’, yaitu lenyapnya ego di hadapan kebesaran Allah.
Relevansi di Zaman Sekarang
Di era digital, tawa dan hiburan menjadi industri besar. Media sosial penuh candaan, tetapi miskin perenungan. Mengingat mati bukan berarti suram—justru membuat hidup lebih bermakna, menumbuhkan kasih, dan menahan diri dari dosa.
Seorang mukmin yang mengingat mati akan lebih jujur dalam bekerja, lebih lembut kepada sesama, dan lebih siap menghadapi kehilangan.
Hikmah
- Dunia hanyalah bayangan yang akan lenyap.
- Kubur adalah gerbang keabadian.
- Orang yang sering mengingat mati akan mudah memaafkan dan ringan bersedekah.
- Tawa yang berlebihan menumbuhkan kelalaian, sedangkan tangisan karena takut Allah melahirkan kemuliaan hati.
Muhasabah dan Caranya
- Ziarah kubur dengan niat mengambil pelajaran, bukan ritual kosong.
- Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur tentang kematian dan akhirat.
- Menulis wasiat setiap malam agar sadar akan kefanaan.
- Mengurangi hiburan yang berlebihan.
- Berdzikir dengan hati, mengingat Allah dan kepulangan kepada-Nya.
Doa
اللهم اجعل الموت راحة لنا من كل شر، واجعل قبورنا روضة من رياض الجنة، واغفر لنا قبل الموت، وارحمنا عند الموت، واغفر لنا بعد الموت.
Allahumma aj‘alil mawta raahatan lana min kulli syarr, waj‘al qubūrana raudhatan min riyādhil jannah, waghfir lana qabla al-maut, warhamna ‘inda al-maut, waghfir lana ba‘da al-maut.
“Ya Allah, jadikan kematian sebagai istirahat kami dari segala keburukan. Jadikan kubur kami taman dari taman-taman surga. Ampunilah kami sebelum mati, rahmatilah kami saat mati, dan ampunilah kami setelah mati.”
Nasihat Para Arif Billah
-
Hasan Al-Bashri:
“Kematian telah membongkar dunia dan tidak menyisakan kebahagiaan bagi orang yang berakal.” -
Rabi‘ah al-Adawiyah:
“Aku tidak takut mati, karena mati adalah jembatan pertemuanku dengan Kekasihku.” -
Abu Yazid al-Bistami:
“Mati sebelum mati, yaitu mematikan hawa nafsu sebelum jasad berpisah dari ruh.” -
Junaid al-Baghdadi:
“Orang yang mengingat mati setiap saat, takkan sempat menanam kesombongan di hatinya.” -
Al-Hallaj:
“Mati bukanlah akhir, tapi awal dari kehidupan yang hakiki.” -
Imam al-Ghazali:
“Zikrul maut menumbuhkan semangat beramal dan menghapus cinta dunia.” -
Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
“Siapa yang bersahabat dengan kematian, maka hidupnya menjadi mulia.” -
Jalaluddin Rumi:
“Kematian bukan kehancuran, melainkan kelahiran ruh menuju keabadian.” -
Ibnu ‘Arabi:
“Mati adalah pertemuan rahasia antara hamba dan Tuhannya.” -
Ahmad al-Tijani:
“Ingatlah mati agar engkau hidup dengan sebenar-benarnya.”
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim
- Sunan Tirmidzi, Kitab Zuhd
- Sunan Ibnu Majah, Kitab Zuhd
- Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam al-Ghazali
- Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari
- Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
- Masnawi – Jalaluddin Rumi
- Risalah Qusyairiyah – Imam al-Qusyairi
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang masih menjaga dzikir dan tafakur di tengah dunia yang penuh tawa palsu. Semoga tulisan ini menjadi sebab lembutnya hati, tumbuhnya rasa takut dan rindu kepada Allah, dan menjadikan kita semua siap menjemput kematian dengan senyum keimanan.
🕊️
Penulis: M. Djoko Ekasanu
"Hidupkan hati dengan mengingat mati, karena di situlah awal kehidupan yang sejati."
Judul: Coba Deh Ingat Mati, Biar Gak Keasyikan Dunia
Oleh: M. Djoko Ekasanu
The Real Story: Saat Nabi "Call Out" Sahabat yang Kebablasan Ketawa
Gini ceritanya, suatu hari Nabi ﷺ nemuin beberapa sahabat lagi asyik ketawa sampe ngakak-ngakak. Lalu Beliau kasih teguran yang bikin kita mikir, "Waduh, jangan-jangan gue juga termasuk?"
Inti teguran Beliau kira-kira gini:
“Coba kalian sering-sering ingat mati, yang bikin semua kesenangan duniawi tiba-tiba berasa gak ada artinya. Kalau beneran ingat itu, pasti kalian gak akan sempet ketawa kebablasan gitu. Soalnya, kubur itu buat orang beriman tuh kayak taman dari surga, tapi buat orang kafir, dia kayak lobang neraka.” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Kontekstualisasi: Bukan Dilarang Senang, Tapi...
Jangan salah paham dulu. Nabi ﷺ bukan anti-kebahagiaan atau melarang kita ketawa. Beliau lagi nawarin "life hack" biar hidup kita lebih balance. Di tengah kondisi sebagian sahabat yang mulai nyaman secara duniawi, Beliau ingatkan bahwa fokus utama tetaplah akhirat. Dunia ini cuma tempat numpang lewat, bro.
Maksud & Tujuannya Apa Sih?
· Judulnya "Mengingat mati yang melenyapkan kelezatan" tuh maksudnya, dengan sadar bahwa kita bakal mati, semua "sugar rush" kesenangan dunia—seperti makanan enak, pujian, atau harta—jadi berasa sementara banget. Bukan hal utama lagi.
· Tujuannya: Biar kita jadi orang yang:
· Lebih sadar tujuan hidup yang sebenarnya.
· Hidupnya seimbang, bisa seneng tapi gak lupa diri.
· Hatinya lembut, gak keras karena keasyikan dunia.
· Semangat nyari "amal tabungan" sebelum telat.
Akar Masalahnya: Lupa Kalo Kita Bakal "Pulang"
Masalah utamanya tuh satu: kita gampang banget kelepasan dan lupa kalo kita punya "expiry date". Ketawa dan kesenangan itu boleh, tapi kalo udah bikin lupa siapa diri kita dan kemana tujuan akhir, nah itu yang bahaya.
Kenapa Bisa Kebablasan?
· Terlalu banyak scroll hiburan di feed.
· Jarang "quality time" sama diri sendiri buat merenung (muraqabah).
· Jarang lihat atau hadirin orang yang meninggal, jadi rasa-rasanya mati tuh masih jauh banget.
· Kurang self-reflection tentang arti hidup.
Backup dari Sumber Utama:
📖 Al-Qur'an: “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.”(QS. Ali Imran: 185) “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya.Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qaf: 19)
📜 Hadis: “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan,yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i)
Analisis & Relevansinya Buat Kita Sekarang
Di zaman yang isinya content lucu dan challenge heboh, ingat mati (dzikrul maut) itu kayak "detoks" buat jiwa. Ini bukan bikin kita jadi orang yang suram, malah bikin hidup jadi lebih meaningful dan purposeful.
Orang yang sering ingat mati biasanya:
· Lebih jujur dan amanah dalam kerja atau bisnis.
· Lebih gampang memaafkan dan move on dari drama.
· Lebih ringan tangan buat bantu dan berbagi.
· Lebih siap mental menghadapi musibah atau kehilangan.
Hikmah & Take Home Message
· Dunia itu cuma trailer, surga/neraka itu film utamanya.
· Kubur itu gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya.
· Ingat mati bikin kita jadi pribadi yang lebih chill dan gak gampang grudge.
· Ketawa berlebihan bisa bikin kita numb, sedangkan sedih karena takut sama Allah bisa ngasih kedalaman pada jiwa.
Tips Praktis Buat "Self-Reflection" (Muhasabah)
1. Ziarah Kubur: Coba sesekali main ke pemakaman, bukan buat story IG, tapi beneran buat ambil pelajaran. Bikin hati adem dan sadar.
2. Baca Qur'an dengan Perenungan: Cari ayat-ayat tentang kematian dan coba resapi dalam hati.
3. Bayangin "Exit Plan": Coba tulis hal-hal yang pengin dibenerin seolah-olah besok udah gak ada. Bikin kita lebih intentional.
4. Kurangi "Noise": Kurangi dikit screen time buat hiburan yang gak jelas, ganti dengan waktu hening.
5. Dzikir & Sadar Diri: Sering-sering ingat Allah dalam hati di sela aktivitas. Ingat bahwa kita pasti balik ke-Nya.
Doa Singkat sebelum Tidur
Allahumma aj‘alil mawta raahatan lana min kulli syarr, waj‘al qubūrana raudhatan min riyādhil jannah... (Ya Allah,jadikan kematian istirahat kami dari segala keburukan. Jadikan kubur kami taman dari taman-taman surga...)
Kata-Kata Motivasi dari Para Legenda Spiritual
· Hasan Al-Bashri: "Orang yang pinter tuh gak bakal betul-betul senang di dunia, karena dia tau semua sementara."
· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Gue gak takut mati, soalnya mati itu jembatan ketemu Kekasih (Allah)."
· Imam al-Ghazali: "Sering ingat mati = semangat nabung amal & ilangin cinta berlebihan sama dunia."
· Jalaluddin Rumi: "Mati tuh bukan di-delete, tapi upgrade ruh ke mode keabadian."
· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Siapa yang berteman sama kematian, hidupnya jadi mulia."
Daftar Pustaka (Tetap Kredibel, dong!)
· Al-Qur'an al-Karim
· Sunan Tirmidzi & Ibnu Majah
· Buku-buku klasik kayak Ihya' Ulumuddin (Al-Ghazali), Al-Hikam (Ibnu 'Athaillah), dll.
Penutup & Ucapan Terima Kasih
Big thanks buat lo yang udah baca sampe sini! Di tengas banjirnya konten lucu dan trending challenge, semoga tulisan ini bisa jadi pengingat buat kita semua buat tetap grounded dan ingat tujuan akhir kita.
Stay humble, stay mindful.
🕊️ Penulis: M. Djoko Ekasanu "Hidup yang worth it itu dimulai dari hati yang sering ingat mati."

