Thursday, October 9, 2025

Mengingat Mati yang Melenyapkan Kelezatan Dunia

 



🕊️ Mengingat Mati yang Melenyapkan Kelezatan Dunia

Oleh: M. Djoko Ekasanu



Nabi   melihat beberapa orang yang sedang tertawa terbahak. bahak, lalu Beliau menegur mereka: “Jika kalian memperbanyak ingat (mati) yang melenyapkan segala macam kelezatan, pasti tiada waktu bagi kalian untuk itu, kemudian kata beliau:

Artinya:

“Hendaklah kalian memperbanyak mengingat (mati) yang melenyapkan segala macam kelezatan, lalu sabda beliau pula: “Kubur adalah merupakan petamanan sorga bagi orang mukmin, dan merupakan bagian dari jurang-jurang neraka bagi orang kafir”?



Ringkasan Redaksi Hadis Asli

Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melihat beberapa sahabat tertawa terbahak-bahak. Maka beliau bersabda:

“Jika kalian memperbanyak mengingat (mati) yang melenyapkan segala macam kelezatan, niscaya kalian tidak akan sempat tertawa seperti itu. Karena sesungguhnya kubur adalah taman di antara taman-taman surga bagi orang mukmin, dan lubang di antara lubang-lubang neraka bagi orang kafir.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)


Latar Belakang Masalah di Zaman Nabi

Pada masa Rasulullah ﷺ, sebagian sahabat hidup dalam kesederhanaan, namun ada pula yang mulai menikmati dunia seiring kemenangan Islam dan melimpahnya harta rampasan perang. Dalam suasana inilah Rasulullah ﷺ menegur tawa berlebihan—bukan karena melarang kebahagiaan, tetapi agar umat tidak lalai dari hakikat hidup: bahwa dunia hanya persinggahan menuju akhirat.


Maksud dan Hakikat

Hadis ini menegaskan pentingnya dzikrul maut — mengingat kematian sebagai jalan penyucian jiwa. “Mati” adalah cermin kebenaran, penawar kesombongan, dan penghapus kelalaian. Siapa yang sadar bahwa hidup akan berakhir, tidak akan tertawa berlebihan, berbuat zalim, atau menumpuk harta dengan tamak.


Tafsir dan Makna dari Judul

“Mengingat mati yang melenyapkan kelezatan” berarti kesadaran spiritual yang memadamkan nafsu duniawi. Segala kesenangan dunia—makanan, kekuasaan, pujian—akan hilang saat ruh dicabut. Hanya amal saleh yang menetap abadi.


Tujuan dan Manfaat

  1. Menumbuhkan kesadaran akhirat.
  2. Menjaga keseimbangan antara tawa dan tangis, antara dunia dan akhirat.
  3. Melembutkan hati agar tidak keras oleh cinta dunia.
  4. Mendorong amal saleh sebelum ajal menjemput.

Intisari Masalah

Masalah utama dalam hadis ini adalah kelalaian manusia terhadap kematian. Saat hati dipenuhi dunia, tawa menjadi sarana lupa diri. Nabi ﷺ ingin mengembalikan tawa pada porsinya—sebagai bentuk syukur, bukan kelalaian.


Sebab Terjadinya Masalah

Kelalaian muncul karena:

  1. Terlalu banyak waktu untuk hiburan duniawi.
  2. Lemahnya dzikir dan muraqabah kepada Allah.
  3. Tidak pernah menghadiri jenazah atau melihat kematian secara nyata.
  4. Kurangnya tafakur terhadap hakikat hidup.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis Terkait

📖 Al-Qur’an:

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.”
(QS. Ali Imran: 185)

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.”
(QS. Qaf: 19)

📜 Hadis:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian.”
(HR. Tirmidzi, An-Nasa’i)


Analisis dan Argumentasi

Rasulullah ﷺ tidak melarang tawa, namun menyembuhkan kelalaian melalui ingatan akan mati. Dalam psikologi modern, kesadaran akan kefanaan diri disebut “death awareness”, yang terbukti menumbuhkan empati, kesederhanaan, dan kebijaksanaan hidup.
Dalam tasawuf, “dzikrul maut” adalah jalan menuju fana’, yaitu lenyapnya ego di hadapan kebesaran Allah.


Relevansi di Zaman Sekarang

Di era digital, tawa dan hiburan menjadi industri besar. Media sosial penuh candaan, tetapi miskin perenungan. Mengingat mati bukan berarti suram—justru membuat hidup lebih bermakna, menumbuhkan kasih, dan menahan diri dari dosa.
Seorang mukmin yang mengingat mati akan lebih jujur dalam bekerja, lebih lembut kepada sesama, dan lebih siap menghadapi kehilangan.


Hikmah

  • Dunia hanyalah bayangan yang akan lenyap.
  • Kubur adalah gerbang keabadian.
  • Orang yang sering mengingat mati akan mudah memaafkan dan ringan bersedekah.
  • Tawa yang berlebihan menumbuhkan kelalaian, sedangkan tangisan karena takut Allah melahirkan kemuliaan hati.

Muhasabah dan Caranya

  1. Ziarah kubur dengan niat mengambil pelajaran, bukan ritual kosong.
  2. Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur tentang kematian dan akhirat.
  3. Menulis wasiat setiap malam agar sadar akan kefanaan.
  4. Mengurangi hiburan yang berlebihan.
  5. Berdzikir dengan hati, mengingat Allah dan kepulangan kepada-Nya.

Doa

اللهم اجعل الموت راحة لنا من كل شر، واجعل قبورنا روضة من رياض الجنة، واغفر لنا قبل الموت، وارحمنا عند الموت، واغفر لنا بعد الموت.

Allahumma aj‘alil mawta raahatan lana min kulli syarr, waj‘al qubūrana raudhatan min riyādhil jannah, waghfir lana qabla al-maut, warhamna ‘inda al-maut, waghfir lana ba‘da al-maut.

“Ya Allah, jadikan kematian sebagai istirahat kami dari segala keburukan. Jadikan kubur kami taman dari taman-taman surga. Ampunilah kami sebelum mati, rahmatilah kami saat mati, dan ampunilah kami setelah mati.”


Nasihat Para Arif Billah

  • Hasan Al-Bashri:
    “Kematian telah membongkar dunia dan tidak menyisakan kebahagiaan bagi orang yang berakal.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Aku tidak takut mati, karena mati adalah jembatan pertemuanku dengan Kekasihku.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Mati sebelum mati, yaitu mematikan hawa nafsu sebelum jasad berpisah dari ruh.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Orang yang mengingat mati setiap saat, takkan sempat menanam kesombongan di hatinya.”

  • Al-Hallaj:
    “Mati bukanlah akhir, tapi awal dari kehidupan yang hakiki.”

  • Imam al-Ghazali:
    “Zikrul maut menumbuhkan semangat beramal dan menghapus cinta dunia.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Siapa yang bersahabat dengan kematian, maka hidupnya menjadi mulia.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Kematian bukan kehancuran, melainkan kelahiran ruh menuju keabadian.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Mati adalah pertemuan rahasia antara hamba dan Tuhannya.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Ingatlah mati agar engkau hidup dengan sebenar-benarnya.”


Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Sunan Tirmidzi, Kitab Zuhd
  3. Sunan Ibnu Majah, Kitab Zuhd
  4. Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  5. Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari
  6. Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  7. Masnawi – Jalaluddin Rumi
  8. Risalah Qusyairiyah – Imam al-Qusyairi

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang masih menjaga dzikir dan tafakur di tengah dunia yang penuh tawa palsu. Semoga tulisan ini menjadi sebab lembutnya hati, tumbuhnya rasa takut dan rindu kepada Allah, dan menjadikan kita semua siap menjemput kematian dengan senyum keimanan.


🕊️
Penulis: M. Djoko Ekasanu
"Hidupkan hati dengan mengingat mati, karena di situlah awal kehidupan yang sejati."





Judul: Coba Deh Ingat Mati, Biar Gak Keasyikan Dunia


Oleh: M. Djoko Ekasanu


The Real Story: Saat Nabi "Call Out" Sahabat yang Kebablasan Ketawa


Gini ceritanya, suatu hari Nabi ﷺ nemuin beberapa sahabat lagi asyik ketawa sampe ngakak-ngakak. Lalu Beliau kasih teguran yang bikin kita mikir, "Waduh, jangan-jangan gue juga termasuk?"

Inti teguran Beliau kira-kira gini:

“Coba kalian sering-sering ingat mati, yang bikin semua kesenangan duniawi tiba-tiba berasa gak ada artinya. Kalau beneran ingat itu, pasti kalian gak akan sempet ketawa kebablasan gitu. Soalnya, kubur itu buat orang beriman tuh kayak taman dari surga, tapi buat orang kafir, dia kayak lobang neraka.” (HR.Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Kontekstualisasi: Bukan Dilarang Senang, Tapi...

Jangan salah paham dulu. Nabi ﷺ bukan anti-kebahagiaan atau melarang kita ketawa. Beliau lagi nawarin "life hack" biar hidup kita lebih balance. Di tengah kondisi sebagian sahabat yang mulai nyaman secara duniawi, Beliau ingatkan bahwa fokus utama tetaplah akhirat. Dunia ini cuma tempat numpang lewat, bro.

Maksud & Tujuannya Apa Sih?

· Judulnya "Mengingat mati yang melenyapkan kelezatan" tuh maksudnya, dengan sadar bahwa kita bakal mati, semua "sugar rush" kesenangan dunia—seperti makanan enak, pujian, atau harta—jadi berasa sementara banget. Bukan hal utama lagi.

· Tujuannya: Biar kita jadi orang yang:

  · Lebih sadar tujuan hidup yang sebenarnya.

  · Hidupnya seimbang, bisa seneng tapi gak lupa diri.

  · Hatinya lembut, gak keras karena keasyikan dunia.

  · Semangat nyari "amal tabungan" sebelum telat.

Akar Masalahnya: Lupa Kalo Kita Bakal "Pulang"

Masalah utamanya tuh satu: kita gampang banget kelepasan dan lupa kalo kita punya "expiry date". Ketawa dan kesenangan itu boleh, tapi kalo udah bikin lupa siapa diri kita dan kemana tujuan akhir, nah itu yang bahaya.

Kenapa Bisa Kebablasan?

· Terlalu banyak scroll hiburan di feed.

· Jarang "quality time" sama diri sendiri buat merenung (muraqabah).

· Jarang lihat atau hadirin orang yang meninggal, jadi rasa-rasanya mati tuh masih jauh banget.

· Kurang self-reflection tentang arti hidup.


Backup dari Sumber Utama:


📖 Al-Qur'an: “Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.”(QS. Ali Imran: 185) “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya.Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.” (QS. Qaf: 19)


📜 Hadis: “Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan,yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i)


Analisis & Relevansinya Buat Kita Sekarang


Di zaman yang isinya content lucu dan challenge heboh, ingat mati (dzikrul maut) itu kayak "detoks" buat jiwa. Ini bukan bikin kita jadi orang yang suram, malah bikin hidup jadi lebih meaningful dan purposeful.


Orang yang sering ingat mati biasanya:


· Lebih jujur dan amanah dalam kerja atau bisnis.

· Lebih gampang memaafkan dan move on dari drama.

· Lebih ringan tangan buat bantu dan berbagi.

· Lebih siap mental menghadapi musibah atau kehilangan.


Hikmah & Take Home Message


· Dunia itu cuma trailer, surga/neraka itu film utamanya.

· Kubur itu gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya.

· Ingat mati bikin kita jadi pribadi yang lebih chill dan gak gampang grudge.

· Ketawa berlebihan bisa bikin kita numb, sedangkan sedih karena takut sama Allah bisa ngasih kedalaman pada jiwa.


Tips Praktis Buat "Self-Reflection" (Muhasabah)


1. Ziarah Kubur: Coba sesekali main ke pemakaman, bukan buat story IG, tapi beneran buat ambil pelajaran. Bikin hati adem dan sadar.

2. Baca Qur'an dengan Perenungan: Cari ayat-ayat tentang kematian dan coba resapi dalam hati.

3. Bayangin "Exit Plan": Coba tulis hal-hal yang pengin dibenerin seolah-olah besok udah gak ada. Bikin kita lebih intentional.

4. Kurangi "Noise": Kurangi dikit screen time buat hiburan yang gak jelas, ganti dengan waktu hening.

5. Dzikir & Sadar Diri: Sering-sering ingat Allah dalam hati di sela aktivitas. Ingat bahwa kita pasti balik ke-Nya.


Doa Singkat sebelum Tidur


Allahumma aj‘alil mawta raahatan lana min kulli syarr, waj‘al qubūrana raudhatan min riyādhil jannah... (Ya Allah,jadikan kematian istirahat kami dari segala keburukan. Jadikan kubur kami taman dari taman-taman surga...)


Kata-Kata Motivasi dari Para Legenda Spiritual


· Hasan Al-Bashri: "Orang yang pinter tuh gak bakal betul-betul senang di dunia, karena dia tau semua sementara."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Gue gak takut mati, soalnya mati itu jembatan ketemu Kekasih (Allah)."

· Imam al-Ghazali: "Sering ingat mati = semangat nabung amal & ilangin cinta berlebihan sama dunia."

· Jalaluddin Rumi: "Mati tuh bukan di-delete, tapi upgrade ruh ke mode keabadian."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Siapa yang berteman sama kematian, hidupnya jadi mulia."


Daftar Pustaka (Tetap Kredibel, dong!)


· Al-Qur'an al-Karim

· Sunan Tirmidzi & Ibnu Majah

· Buku-buku klasik kayak Ihya' Ulumuddin (Al-Ghazali), Al-Hikam (Ibnu 'Athaillah), dll.


Penutup & Ucapan Terima Kasih


Big thanks buat lo yang udah baca sampe sini! Di tengas banjirnya konten lucu dan trending challenge, semoga tulisan ini bisa jadi pengingat buat kita semua buat tetap grounded dan ingat tujuan akhir kita.


Stay humble, stay mindful.


🕊️ Penulis: M. Djoko Ekasanu "Hidup yang worth it itu dimulai dari hati yang sering ingat mati."


Kasih Sayang Malaikat Maut kepada Orang Mukmin




Kasih Sayang Malaikat Maut kepada Orang Mukmin

(Renungan tentang Rahmat di Balik Pencabutan Nyawa)

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Malaikat maut, pernah disapa oleh Nabi  ketika ia berada dekat kepala seorang sahabat Anshar, tegur beliau: “Kasihanilah sahabatku, dia orang mukmin! Sahut malaikat: “Gembirakanlah hai Muhammad, bahwasanya aku selalu belas kasihan kepada setiap mukmin, demi Allah aku menyambut nyawa manusia, ketika dari antara keluarganya ada yang menjerit, lalu aku tanyakan: “Kenapa harus menjerit? Demi Allah kami tidak menganiaya dan tidak lancang mendahului ajalnya, dalam hal (mencabut) nyawa ini, kami tidak menyalahinya, maka jika kamu rela akan sunnatullah, pasti berpahala, tetapi jika marah atau mengeluh, pasti berdosa.

 

Tidak ada artinya cemoohan buat kami, kami pasti akan kembali, untuk itu berhati-hatilah. Tiada penghuni rumah batu, atau penghuni kemah, di daratan ataupun lautan, kecuali semuanya dalam pengawasanku, tidak kurang dari 5x setiap harinya, hingga aku kenal mereka, melebihi kenal mereka terhadap dirinya masing-masing. Demj Allah, hai Muhammad, tiada seekor nyamuk aku cabut nyawanya kecuaj: seizin atau perintah Allah. 


Ringkasan Redaksi Asli

Diriwayatkan bahwa ketika Malaikat Maut berada di dekat kepala seorang sahabat Anshar, Nabi Muhammad ﷺ berkata,

“Kasihanilah sahabatku, dia orang mukmin.”

Maka Malaikat Maut menjawab:

“Gembirakanlah, wahai Muhammad. Demi Allah, aku senantiasa belas kasihan kepada setiap orang mukmin. Ketika aku mencabut nyawa seseorang, lalu keluarganya menangis dan menjerit, aku berkata: Mengapa menangis? Demi Allah, kami tidak menzalimi dan tidak mendahului ajalnya. Jika mereka ridha dengan ketentuan Allah, mereka mendapat pahala, namun bila marah dan mengeluh, mereka berdosa.

Tiada penghuni rumah, batu, kemah, daratan atau lautan, kecuali semuanya dalam pengawasanku, lima kali dalam sehari. Aku mengenal mereka lebih dari mereka mengenal dirinya sendiri. Demi Allah, tiada seekor nyamuk pun aku cabut nyawanya kecuali dengan izin dan perintah Allah.”


Maksud dan Hakekat

Kisah ini menggambarkan bahwa kematian bukanlah kezaliman, melainkan ketaatan makhluk kepada perintah Allah. Malaikat Maut tidak bertindak sendiri; setiap ruh yang ia cabut merupakan bagian dari takdir yang sudah ditulis di Lauhul Mahfuz.

Hakekatnya, kematian adalah rahmat bagi mukmin, sebab merupakan jalan pertemuan dengan Allah, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:

“Barangsiapa senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Tafsir dan Makna dari Judul

Judul Kasih Sayang Malaikat Maut kepada Orang Mukmin menunjukkan bahwa kematian bukanlah musuh, tetapi pintu kasih sayang Allah yang diantarkan oleh utusan-Nya — Izrail ‘alaihis-salām.
Bagi orang beriman, malaikat maut tidak datang dengan wajah menyeramkan, melainkan dengan kelembutan dan salam dari Tuhan.


Tujuan dan Manfaat

  1. Menanamkan keyakinan bahwa setiap kematian adalah ketentuan Allah.
  2. Menumbuhkan rasa tenang dan ikhlas dalam menghadapi takdir.
  3. Menghapus ketakutan terhadap kematian dengan kesadaran spiritual.
  4. Mengajarkan agar setiap mukmin selalu siap menyambut pertemuan dengan Tuhannya.

Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, sebagian sahabat masih diliputi ketakutan terhadap kematian karena belum memahami maknanya. Melalui peristiwa ini, Allah ingin menegaskan bahwa ruh mukmin akan dicabut dengan kasih sayang, bukan dengan kebencian.


Intisari Masalah

  • Malaikat Maut bekerja atas izin dan perintah Allah, bukan atas kehendaknya sendiri.
  • Setiap makhluk, sekecil nyamuk pun, tidak mati tanpa izin Allah.
  • Tugas mukmin adalah ridha kepada takdir, bukan menolak atau menyesali.

Sebab Terjadinya Masalah

Manusia sering memandang kematian dengan duka dan ketakutan, bukan dengan iman dan ridha. Padahal, kematian adalah kelanjutan kehidupan menuju keabadian.


Dalil Qur’an dan Hadis

Al-Qur’an

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”
(QS. Al-Imran: 185)

“Katakanlah: Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”
(QS. As-Sajdah: 11)

Hadis

“Sesungguhnya malaikat maut datang kepada orang mukmin dalam rupa yang paling indah, dan berkata: ‘Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan ridha Allah.’”
(HR. Ahmad)


Analisis dan Argumentasi

Kisah ini menunjukkan keseimbangan antara qadar (ketetapan) dan kasih sayang Ilahi.
Malaikat maut hanyalah alat eksekusi kehendak Allah, bukan simbol penderitaan.
Ketika keluarga menangis, itu bentuk kelemahan iman terhadap ketentuan yang pasti terjadi.


Relevansi Saat Ini

Di zaman modern, manusia semakin takut mati karena terlalu mencintai dunia.
Padahal, kematian adalah kembali ke rumah sejati, bukan akhir segalanya.
Pemahaman spiritual tentang kematian dapat menghapus kecemasan hidup dan menjadikan manusia lebih bijak, sabar, dan lembut hatinya.


Hikmah

  1. Malaikat maut adalah makhluk yang lembut kepada orang beriman.
  2. Ridha terhadap takdir membawa pahala besar.
  3. Menangis berlebihan dan meratap atas kematian adalah dosa.
  4. Kematian adalah bukti bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah.

Muhasabah dan Caranya

Langkah-langkah muhasabah:

  1. Renungkan setiap malam: “Jika malam ini aku dipanggil, apa yang akan kubawa menghadap Allah?”
  2. Perbanyak taubat dan sedekah.
  3. Bersiap dengan amal yang membuat ruh tenang: dzikir, salat, dan kasih sayang.
  4. Menjauhi keluh kesah terhadap takdir.

Doa

اللّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ
Allāhumma aj‘al khaira a‘mālinā khawātimahā, wa khaira ayyāminā yauma nalqāk.

Ya Allah, jadikanlah amal kami yang terbaik adalah yang terakhir, dan hari terbaik kami adalah hari ketika kami berjumpa dengan-Mu.


Nasehat Para Sufi dan Ulama Besar

  • Hasan al-Bashri:
    “Kematian itu tidak menakutkan bagi yang selalu menyiapkan bekal.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Aku tidak takut mati, sebab mati adalah kesempatan bertemu dengan Kekasih.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Barangsiapa mengenal Allah, ia akan mencintai kematian sebagaimana bayi mencintai pelukan ibunya.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Kematian bagi arif adalah pertemuan dua kekasih setelah lama berpisah.”

  • Al-Hallaj:
    “Mati adalah hidup dalam keabadian.”

  • Imam al-Ghazali:
    “Kematian bukan akhir, melainkan perpindahan dari dunia fana menuju kehidupan hakiki.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Jangan takut kepada malaikat maut, karena ia datang membawa surat izin pertemuan dengan Tuhanmu.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Kematian bukan kehancuran, tetapi kelahiran kedua menuju cahaya.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Tidak ada kematian bagi orang yang mengenal Allah, hanya perpindahan tempat dari bayangan ke cahaya.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Barangsiapa mengenal rahmat Allah, ia akan tersenyum ketika ruhnya dipanggil.”


Daftar Pustaka

  1. Tanbihul Ghafilin, Imam Abu Laits as-Samarqandi
  2. Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali
  3. Al-Futuhat al-Makkiyyah, Ibnu ‘Arabi
  4. Futuh al-Ghaib, Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Masnawi, Jalaluddin Rumi
  6. Hilyat al-Awliya, Abu Nu’aim al-Isfahani
  7. Riyadhus Shalihin, Imam an-Nawawi

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru, ulama, dan saudara seiman yang selalu menuntun dalam cahaya dzikir dan ilmu. Semoga setiap napas kita menjadi langkah menuju ridha Allah dan kematian kita menjadi senyum pertemuan dengan-Nya.


Judul: Malaikat Pencabut Nyawa Ternyata Sayang Banget Sama Orang Beriman? Ini Penjelasannya!


Hai, Genks! Pernah denger kisah Nabi Muhammad ﷺ ngobrol sama Malaikat Izrail? Ini bukan cerita horor, tapi justru bikin hati adem. Suatu hari, Nabi ﷺ liat Malaikat Maut lagi mendekati seorang sahabat. Spontan beliau bilang, “Kasihinlah temenku ini, dia kan orang beriman.”


Eh, ternyata jawaban Malaikat Maut bikin kaget: “Tenang aja, Muhammad. Demi Allah, aku tuh selalu sayang sama setiap mukmin. Pas aku cabut nyawa seseorang, terus keluarganya teriak-teriak nangis, aku malah bingung. Buat apa? Demi Allah, kami gak pernah zalim atau majuin jadwal kematian siapa-siapa. Kalau mereka ikhlas nerima takdir, dapet pahala. Tapi kalau marah-marah atau ngeluh, malah dosa.”


Malaikat Maut juga cerita kalau dia ngawasin semua makhluk—yang di rumah mewah, yang glamping, di darat atau laut—bahkan sampe 5x sehari! Dia kenal kita lebih dari kita kenal diri sendiri. “Demi Allah, Muhammad, gak ada nyamuk sekecil apapun yang mati tanpa izin Allah.”


---


Gue Jabarin Poin-Poinnya Buat Kamu:


1. Malaikat Maut Bukan "Tukang Cabut Nyawa" yang Sadis


· Dia cuma karyawan Allah yang super taat. Gak ada wewenang buat main cabut sendiri.

· Buat orang beriman, dia datengnya dengan wajah friendly, bawa kabar gembira.


2. Kematian Itu Bukan "Akhir Cerita", Tapi "Plot Twist" Menuju Happy Ending


· Rasulullah ﷺ bilang: “Barangsiapa senang bertemu dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bayangin, ketemu Sang Maha Kekasih!


3. Jangan Takut Berlebihan Sama Kematian


· Yang bikin serem itu karena kita gak paham. Sekarang udah tau kan, ternyata malaikat maut sayang banget sama kita.


4. Yang Bikin "Horor" Itu Reaksi Kita Sendiri


· Malaikat Maut heran liat kita histeris waktu ada yang meninggal: “Loh, ini kan sudah jadwalnya. Kenapa mesti berlebihan?”

· Ikhlas = pahala. Ngamuk = dosa. Pilih mana?


Ayat-Ayat dan Hadits yang Bikin Lo Semakin Tenang:


Dari Al-Qur'an:


· “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Al-Imran: 185) → Semua orang akan ngalamin, gak ada yang bisa skip.

· “Katakanlah: Malaikat Maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.” (QS. As-Sajdah: 11) → Ujung-ujungnya balik ke Allah juga.


Dari Hadits:


· “Sesungguhnya malaikat maut datang kepada orang mukmin dalam rupa yang paling indah, dan berkata: ‘Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan ridha Allah.’” (HR. Ahmad) → Bayangin, dikasih salam sama dia!


Relevansi Buat Kita Sekarang: Di zaman yang serba takut kehilangan ini,kita jadi lupa bahwa kematian itu justru pulang ke rumah sejati. Bukan sesuatu yang mistis atau horor, tapi pintu menuju ketenangan abadi.


Hikmah yang Bisa Lo Petik:


· Malaikat maut ternyata soft-hearted ke orang beriman.

· Ridha sama takdir = auto pahala.

· Nangis berlebihan + drama = gak disarankan.

· Kematian ngajarin kita bahwa semua ada dalam kendali Allah.


Cara Muhasabah Ala Kids Zaman Now:


1. Self-Reflection sebelum tidur: “Kalo besok gak bangun, gue udah siap belum ya?”

2. Perbanyak tabungan amal: Sedekah, tobat, berbuat baik—biar pas ketemu malaikat maut bisa senyum-senyum.

3. Jauhi yang bikin hati gak tenang: Iri, dengki, ngeluh mulu.

4. Latihan ikhlas: Mulai dari hal kecil, kaya kehujanan atau dapat jatah antrian lama.


Doa Simpel Biar Selalu Siap: Allāhumma aj‘al khaira a‘mālinā khawātimahā, wa khaira ayyāminā yauma nalqāk. (Ya Allah,jadikanlah amal terbaik kami adalah yang terakhir, dan hari terbaik kami adalah hari kami ketemu Kamu.)


Kata-Kata Motivasi Para Legenda Spiritual:


· Hasan al-Bashri: “Yang siapin bekal, gak akan takut mati.”

· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Gue gak takut mati, soalnya itu kesempatan ketemu Sang Cinta.”

· Jalaluddin Rumi: “Mati tuh bukan hancur, tapi kelahiran kedua menuju cahaya.”

· Imam al-Ghazali: “Mati tuh pindahan rumah, dari yang sementara ke yang permanen.”


Jadi, gimana? Masih takut sama malaikat maut? Semoga setelah baca ini, lo jadi lebih siap dan malah rindu ketemu Sang Pencipta. Ingat, hidup cuma sementara, yang abadi nanti di sana. Yuk, hidup lebih bermakna!


Terima kasih buat para ustaz, guru, dan kalian semua yang mau baca sampai selesai. Semoga kita ketemu Allah dalam keadaan terbaik!