Sunday, January 4, 2026

899. Makna Hadis dalam Cahaya Tazkiyatun Nufūs

 


riadus sholihin

Makna Hadis dalam Cahaya Tazkiyatun Nufūs

Rasulullah ﷺ bersabda:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mencintai kalian.”

(HR. Muslim).

......


🌿 Makna Hadis dalam Cahaya Tazkiyatun Nufūs

Rasulullah ﷺ bersabda:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mencintai kalian.”

(HR. Muslim)

Hadis ini tidak sekadar berbicara tentang hubungan emosional, tetapi menunjuk pada jiwa pemimpin yang telah disucikan. Cinta yang dimaksud bukan karena kepentingan dunia, melainkan lahir dari kesucian hati, keikhlasan, dan amanah.

🕊️ 1. Cinta Timbal Balik Adalah Buah Hati yang Bersih

Dalam tazkiyatun nufūs, hati yang bersih akan memancarkan rahmat, bukan kezaliman.

Allah ﷻ berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

(QS. Asy-Syams: 9–10)

Pemimpin yang dicintai rakyatnya adalah pemimpin yang jiwanya bersih dari:

kesombongan

cinta jabatan

kerakusan dunia

kezaliman

Karena hati yang bersih akan mudah dicintai, dan tidak mungkin membenci rakyatnya.

🕯️ 2. Pemimpin yang Mencintai Rakyatnya Adalah Pemimpin yang Berakhlak Rabbani

Al-Qur’an menggambarkan kepemimpinan Rasulullah ﷺ:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ

“Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut kepada mereka.”

(QS. Ali ‘Imran: 159)

Dalam tazkiyah:

lemah lembut lahir dari jiwa yang bersih

kasar dan keras lahir dari hati yang kotor

Pemimpin yang mencintai rakyatnya:

mendoakan mereka

tidak menzalimi

merasa berat menyakiti

takut jika satu rakyatnya terdzalimi

Inilah cinta yang lahir dari takut kepada Allah, bukan pencitraan.

🔥 3. Dibencinya Pemimpin adalah Tanda Rusaknya Jiwa

Sebaliknya, pemimpin yang dibenci rakyatnya seringkali:

mencintai kekuasaan

jauh dari keikhlasan

hatinya kering dari zikir

jiwanya tidak ditazkiyah

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا

“Dan janganlah engkau mengikuti orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami.”

(QS. Al-Kahfi: 28)

Hati yang lalai tidak akan mampu mencintai rakyatnya dengan tulus, dan rakyat pun tidak akan mencintainya dengan ikhlas.

🌱 4. Kepemimpinan dalam Tazkiyatun Nufūs: Amanah, Bukan Keistimewaan

Pemimpin yang baik menurut tazkiyah:

melihat jabatan sebagai beban akhirat

memandang rakyat sebagai titipan Allah

takut dipimpin oleh hawa nafsu

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak.”

(QS. An-Nisa’: 58)

Ketika amanah dijaga dengan jiwa yang bersih, cinta akan turun dari langit ke bumi, sebagaimana cinta Allah yang ditanamkan di hati manusia.

✨ Penutup (Tazkiyah Jiwa)

Pemimpin yang dicintai dan mencintai rakyatnya adalah:

hasil dari tazkiyatun nufūs, bukan strategi politik

buah dari keikhlasan, zikir, takut kepada Allah

pemimpin yang lebih sibuk memperbaiki hatinya daripada memperindah citranya

Jika jiwa pemimpin bersih, rakyat akan tenang.

Jika hati pemimpin rusak, negeri akan goncang.

Semoga Allah ﷻ menganugerahkan kepada kita pemimpin yang bersih jiwanya, dan menjauhkan kita dari pemimpin yang dikendalikan hawa nafsu.

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن 🤲

........

Hadis & Maknanya Buat Kita Semua


Rasulullah ﷺ ngingetin:

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mencintai kalian.”

(HR. Muslim)

Nah, ini nggak cuma soal "saling suka" biasa, lho. Ini lebih dalem—soal jiwa pemimpin yang udah bersihin diri. Cintanya bukan karena ada maunya, tapi karena hatinya bersih, ikhlas, dan amanah.


💫 1. Saling Cinta = Hasil Hati yang Bersih


Dalam tazkiyatun nufūs (bersihin jiwa), hati yang bersih bakal ngasih efek baik ke sekitar, bukan ngerusak.


Allah ﷻ berfirman: قَدْأَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya,dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS.Asy-Syams: 9–10)


Pemimpin yang dicintai rakyat tuh biasanya jiwanya bersih dari:


· Sombong

· Demen jabatan

· Serakah

· Zalim


Karena hati yang bersih itu mudah disayang, dan nggak mungkin benciin rakyatnya.


🤲 2. Pemimpin yang Sayang Rakyat = Akhlaknya Nyontoh Rasul


Al-Qur’an nunjukkin gaya kepemimpinan Rasulullah ﷺ: فَبِمَا رَحْمَةٍمِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ “Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau(Muhammad) berlaku lemah lembut kepada mereka.” (QS.Ali ‘Imran: 159)


Dalam konteks bersihin jiwa:


· Lembut itu produk hati bersih

· Kasar dan keras biasanya dari hati yang lagi kotor


Pemimpin yang beneran cinta rakyat:


· Doain mereka

· Nggak zalimin

· Ngerasa berat kalo nyakiti

· Takut kalo ada rakyatnya yang didzalimi


Ini cinta yang lahir dari takut sama Allah, bukan sekadar pencitraan.


⚠️ 3. Kalo Pemimpin Dibenci, Bisa Jadi Jiwanya Lagi Berkarat


Sebaliknya, pemimpin yang dibenci rakyat seringkali:


· Demen banget sama kekuasaan

· Jauh dari ikhlas

· Hatinya jarang ingat Allah

· Jiwanya jarang dibersihin


Allah ﷻ berfirman: وَلَا تُطِعْمَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا “Dan janganlah engkau mengikuti orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingat Kami.” (QS.Al-Kahfi: 28)


Hati yang lalai gak akan bisa cinta rakyat dengan tulus, dan rakyat pun pasti ngerasa.


🌿 4. Memimpin itu Amanah, Bukan Keistimewaan


Menurut tazkiyatun nufūs, pemimpin yang bener tuh:


· Anggap jabatan sebagai tanggung jawab akhirat

· Lihat rakyat sebagai titipan Allah

· Takut kalo dipimpin sama hawa nafsu sendiri


Allah ﷻ berfirman: إِنَّاللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak.” (QS.An-Nisa’: 58)


Kalo amanah dijaga dengan hati bersih, cinta bakal turun dari langit ke bumi—kayak magnet alami dari Allah.


✨ Penutup: Intinya di Hati


Pemimpin yang dicintai dan mencintai rakyat itu:


· Hasil dari bersihin jiwa, bukan sekadar strategi politik

· Buah dari ikhlas, sering ingat Allah, dan takut pada-Nya

· Lebih sibuk benahin hati daripada benahin citra


Intinya: kalo jiwa pemimpin bersih, rakyat tenang. Kalo hati pemimpin rusak,negara bisa goncang.


Semoga Allah ﷻ kasih kita pemimpin yang hatinya bersih, dan lindungi kita dari pemimpin yang cuma ngikutin hawa nafsu.


آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن 🤲

 riyadus sholihin. 

 Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:


 

خِيارُ أئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ ويُحِبُّونَكُمْ، ويُصَلُّونَ علَيْكُم وتُصَلُّونَ عليهم، وشِرارُ أئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ ويُبْغِضُونَكُمْ، وتَلْعَنُونَهُمْ ويَلْعَنُونَكُمْ 


 

Artinya: “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian cintai dan mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah orang-orang yang kalian benci dan membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (Hadis riwayat Imam Muslim).

......

Tazkiyatun Nufūs: Membersihkan Jiwa Sebelum Memimpin Manusia

Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm

Segala puji bagi Allah ﷻ, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, teladan kepemimpinan yang paling agung, yang memimpin dengan hati yang bersih, jiwa yang suci, dan akhlak yang mulia.

1. Kepemimpinan Berawal dari Jiwa yang Bersih

Dalam pandangan tasawuf, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, tetapi amanah ruhani. Siapa yang jiwanya kotor oleh ambisi, rakus terhadap kekuasaan, dan cinta dunia, maka kepemimpinannya akan menjadi sumber kerusakan.

Allah ﷻ berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.”

(QS. Asy-Syams: 9–10)

Pemimpin yang baik lahir dari jiwa yang ditazkiyah, bukan dari ambisi yang dipelihara.

2. Tidak Rakus terhadap Jabatan

Rasulullah ﷺ telah memberi peringatan keras:

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta jabatan…”

(HR. Al-Bukhari)

Dalam kacamata tasawuf, meminta jabatan adalah tanda ketergantungan hati pada dunia, bukan pada Allah. Orang yang mengejar kekuasaan biasanya akan ditinggalkan pertolongan Allah, karena ia merasa mampu dengan dirinya sendiri.

Imam al-Ghazali رحمه الله berkata:

“Cinta kekuasaan lebih berbahaya daripada cinta harta, karena kekuasaan membuat seseorang merasa seperti tuhan kecil di hadapan manusia.”

3. Amanah: Takut kepada Allah, Bukan kepada Manusia

Pemimpin sejati adalah orang yang takut kepada Allah saat sendirian, bukan hanya saat disorot manusia.

Nabi ﷺ bersabda:

“Tidaklah seorang pemimpin yang curang terhadap rakyatnya, kecuali Allah haramkan baginya surga.”

(HR. Al-Bukhari)

Tasawuf mengajarkan:

➡️ Amanah lahir dari muraqabah (merasa diawasi Allah).

➡️ Pemimpin yang lalai dari muraqabah, akan mudah mengkhianati amanah.

4. Setiap Kepemimpinan Akan Dimintai Pertanggungjawaban

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban.”

(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Ini adalah tamparan keras bagi jiwa.

Kepemimpinan bukan kehormatan, tapi beban hisab.

Dalam tasawuf dikatakan:

“Semakin tinggi amanah, semakin berat hisabnya di akhirat.”

Maka orang-orang shalih dahulu menangis ketika diangkat menjadi pemimpin, bukan bersorak gembira.

5. Kepemimpinan Harus Diserahkan kepada yang Ahli

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah kehancuran.”

(HR. Al-Bukhari)

Ahli bukan hanya cerdas secara teknis, tetapi juga:

ahli menjaga amanah,

ahli menundukkan hawa nafsu,

ahli dalam agama dan akhlak.

Tasawuf menegaskan:

Ilmu tanpa takwa melahirkan kezaliman.

6. Pemimpin yang Dicintai karena Akhlaknya

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian.”

(HR. Muslim)

Cinta rakyat tidak lahir dari pencitraan, tetapi dari:

kejujuran,

keadilan,

kasih sayang,

kesederhanaan.

Pemimpin yang hatinya bersih akan mendoakan rakyatnya, dan doa itulah yang menjadi benteng negeri.

7. Muhasabah untuk Kita Semua

Wahai jiwa…

Sebelum kita menilai pemimpin di luar, nilai dahulu kepemimpinan dalam diri:

Apakah kita amanah pada keluarga?

Apakah kita jujur dalam pekerjaan?

Apakah kita adil dalam bersikap?

Karena dalam tasawuf:

Siapa yang gagal memimpin dirinya, ia akan gagal memimpin orang lain.

Penutup Doa

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ النِّفَاقِ، وَأَعْمَالَنَا مِنَ الرِّيَاءِ، وَأَلْسِنَتَنَا مِنَ الْكَذِبِ، وَأَعْيُنَنَا مِنَ الْخِيَانَةِ

“Ya Allah, sucikan hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya’, lisan kami dari dusta, dan pandangan kami dari pengkhianatan.”

Semoga Allah ﷻ menghadirkan pemimpin-pemimpin yang bersih jiwanya, lurus niatnya, dan adil kepemimpinannya, serta menjadikan kita bagian dari orang-orang yang senantiasa menyucikan jiwa (Tazkiyatun Nufūs).

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.

........