Saturday, February 14, 2026

954. Ramadan di Tengah Zaman Canggih: Sudahkah Jiwa Kita Ikut Meningkat?



 kupas tipis tipis Kitab Durratun Nashihin (Umar bin Hasan bin Ahmad al-Syakir al-Khaubari)

Dan diriwayatkan pula dari Nabi saw. bahwa Beliau bersabda :

Artinya : Apabila tiba malam pertama bulan Ramadan, Allah Taala berfirman : “Barangsiapa yang mencintai Kami maka Kami pun mencintainya. Barangsiapa mencari Kami maka Kami pun mencarinya. Dan barangsiapa yang memohon ampun kepada Kami maka Kami pun mengampuninya demi kemuliaan bulan Ramadan”. Lalu, Allah Taala menyuruh para malaikat pencatat amal yang mulia agar pada bulan Ramadan mereka mencatat kebaikan-kebaikannya saja dan tidak mencatat keburukan-keburukannya. Dan Allah Taala menghapuskan darinya dosa-dosa yang telah lewat.

........

📖 Kitab Durratun Nashihin – Umar bin Hasan bin Ahmad al-Syakir al-Khaubari

Kitab Durratun Nashihin karya adalah kitab mau‘izhah (nasihat ruhani) yang banyak dikaji di pesantren. Isinya penuh dengan kisah, hadis, dan atsar yang menggetarkan hati—tujuannya bukan sekadar menambah ilmu, tetapi melembutkan jiwa.

Di antara mutiara nasihatnya adalah riwayat:

“Apabila tiba malam pertama bulan Ramadan, Allah Taala berfirman: Barangsiapa yang mencintai Kami maka Kami pun mencintainya. Barangsiapa mencari Kami maka Kami pun mencarinya. Barangsiapa memohon ampun kepada Kami maka Kami pun mengampuninya demi kemuliaan Ramadan…”

Pesan utamanya jelas:
Ramadan adalah bulan cinta, bulan pencarian, dan bulan pengampunan.


🌙 Ramadan di Tengah Zaman Canggih: Sudahkah Jiwa Kita Ikut Meningkat?

Hari ini kita hidup di zaman luar biasa:

  • Teknologi semakin pintar
  • Komunikasi tanpa batas
  • Transportasi serba cepat
  • Kedokteran makin maju

Namun pertanyaannya:
Apakah hati kita ikut maju?
Ataukah justru makin gelap oleh distraksi?

1️⃣ Teknologi Canggih, Tapi Hati Lalai

Gawai di tangan, dunia dalam genggaman.
Namun berapa sering:

  • Waktu habis untuk scroll tanpa arah?
  • Lisan (jari) ringan berkomentar tajam?
  • Aib orang tersebar dalam hitungan detik?

Padahal Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Teknologi bukan musuh.
Ia hanya alat.
Yang berbahaya adalah nafsu yang tidak disucikan.

Inilah pentingnya tazkiyatul nufus — penyucian jiwa.

Ramadan mengajarkan:

  • Menahan lapar
  • Menahan syahwat
  • Menahan amarah
  • Menahan komentar

Bukan hanya menahan makan, tapi menahan ego digital.


2️⃣ Komunikasi Cepat, Tapi Hati Keras

Hari ini pesan sampai dalam satu detik.
Namun apakah hati kita juga cepat meminta maaf?

Nabi ï·º bersabda:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Ramadan bukan hanya soal perut kosong,
tapi soal hati yang bersih dari:

  • iri
  • dengki
  • riya’
  • hasad sosial

3️⃣ Transportasi Cepat, Tapi Tujuan Hidup Kabur

Kita bisa ke luar kota dalam hitungan jam.
Namun perjalanan menuju akhirat sering kita tunda.

Allah berfirman:

“Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga…”
(QS. Al-Hadid: 21)

Ramadan adalah jalur cepat menuju ampunan.
Sayang jika hanya dipakai untuk lomba menu buka puasa dan diskon belanja.


4️⃣ Kedokteran Maju, Tapi Hati Tetap Sakit

Rumah sakit semakin modern.
Obat semakin canggih.

Namun penyakit hati:

  • sombong
  • cinta dunia
  • takut miskin
  • takut kehilangan popularitas

tidak bisa disembuhkan dengan resep dokter.

Ia hanya bisa disembuhkan dengan:

  • dzikir
  • istighfar
  • taubat
  • muhasabah

Sebagaimana janji Allah dalam hadis di atas:

“Barangsiapa memohon ampun kepada Kami, maka Kami mengampuninya demi kemuliaan Ramadan.”

Ini bukan sekadar janji.
Ini undangan cinta dari Allah.


🌿 Muhasabah Jiwa

Ramadan bertanya kepada kita:

  • Apakah kita mencari Allah, atau hanya mencari pujian?
  • Apakah kita mencintai Allah, atau hanya mencintai kenyamanan dunia?
  • Apakah kita benar-benar ingin diampuni, atau hanya ingin terlihat saleh?

Tazkiyatul nufus mengajarkan:
Membersihkan niat lebih penting daripada memperbanyak amal tanpa keikhlasan.


🤲 Doa

Ya Allah…
Jika Engkau berfirman, “Siapa mencintai-Ku maka Aku mencintainya,”
maka jadikan kami termasuk orang yang Engkau cintai.

Ya Allah…
Di zaman penuh distraksi ini,
jangan Engkau jadikan hati kami keras.
Lembutkan ia dengan Al-Qur’an.
Terangi ia dengan istighfar.
Hidupkan ia dengan dzikir.

Ya Allah…
Sebagaimana Engkau janjikan pengampunan di bulan Ramadan,
hapuskan dosa-dosa kami yang lampau.
Jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walau sekejap.


🌅 Harapan (Dengan Dalil)

Allah berfirman:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Dan Rasulullah ï·º bersabda:

“Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang banyak bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)

Maka harapan kita:

  • Ramadan menjadi titik balik jiwa
  • Teknologi menjadi sarana dakwah
  • Komunikasi menjadi jalan silaturahim
  • Harta menjadi jalan sedekah
  • Ilmu menjadi cahaya akhirat

Semoga kita tidak hanya menjadi manusia modern,
tetapi menjadi hamba yang sadar.


✨ Penutup

Ramadan bukan sekadar bulan ibadah,
ia adalah bulan pemulihan hati.

Jika Allah berkata, “Kami mencintainya,”
maka apa lagi yang kita cari?

Semoga kita termasuk orang yang ketika Ramadan datang,
dosa dihapus, hati disucikan, dan nama kita disebut dalam cinta-Nya.

Terima kasih atas kesempatan untuk merenung bersama.
Semoga tulisan ini menjadi wasilah kebaikan dan pengingat bagi diri penulis terlebih dahulu, lalu bagi siapa pun yang membacanya.

Wallahu a‘lam.

.........

Ramadan di Era Kekinian: Udah Cinta Sama Allah Belum, Sob?


Halo, gaes! Kita ngobrol santai yuk tentang kitab Durratun Nashihin. Ini tuh kitab keren banget isinya nasihat-nasihat hati yang bisa bikin meleleh. Di pesantren sering dikaji, soalnya penuh cerita, hadis, dan atsar yang greget. Tujuannya bukan cuma nambah ilmu, tapi lebih ke melunakin hati.


Nah, ada satu riwayat yang juara banget:


“Apabila tiba malam pertama bulan Ramadan, Allah Taala berfirman: Barangsiapa yang mencintai Kami maka Kami pun mencintainya. Barangsiapa mencari Kami maka Kami pun mencarinya. Barangsiapa memohon ampun kepada Kami maka Kami pun mengampuninya demi kemuliaan Ramadan…”


Intinya singkat: Ramadan itu bulan cinta, bulan nyari Allah, dan bulan ampunan. Mantep kan?


---


🌙 Ramadan di Tengah Gadget Canggih: Hati Kita Ikut Upgrade Gak?


Kita hidup di zaman yang gila cepat:


· Teknologi makin pinter (AI, hp canggih)

· Komunikasi gak pake batas (chat, video call)

· Transportasi kilat (kereta cepat, pesawat)

· Kedokteran maju (obat modern, alat canggih)


Tapi pertanyaannya: apakah hati kita ikut maju? Atau malah makin redup karena kebanyakan distraksi?


1️⃣ Teknologi Canggih, Tapi Hati Lalai


Hp di tangan, dunia di genggaman. Tapi berapa sering kita:


· ~~Scroll~~ medsos sampe lupa waktu?

· Jari celetik komentar pedas?

· Nyebarin aib orang cuma dalam hitungan detik?


Padahal Allah bilang:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)


Teknologi itu netral, bro. Bukan musuh. Yang bahaya tuh nafsu kita yang gak disucikan. Makanya penting banget tazkiyatul nufus—bersihin jiwa.


Ramadan ngajarin kita:


· Nahan lapar

· Nahan hawa nafsu

· Nahan emosi

· Nahan jari (komentar)


Jadi bukan cuma puasa makan, tapi puasa digital juga.


2️⃣ Komunikasi Cepat, Tapi Hati Keras


Sekarang pesan nyampe cuma 1 detik. Tapi apakah hati kita secepat itu buat minta maaf? Nabi ï·º bilang:

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari)


Ramadan bukan cuma perut kosong, tapi hati yang bersih dari:


· iri

· dengki

· riya’

· hasad sosial


3️⃣ Transportasi Cepat, Tapi Tujuan Hidup Kabur


Kita bisa ke luar kota cuma beberapa jam. Tapi perjalanan ke akhirat sering banget ditunda-tunda. Allah ingetin:

“Berlomba-lombalah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian dan surga…” (QS. Al-Hadid: 21)


Ramadan itu jalur cepat menuju ampunan. Sayang banget kalo cuma dipake buat lomba menu buka puasa atau diskon THR.


4️⃣ Kedokteran Maju, Tapi Hati Tetap Sakit


Rumah sakit makin modern, obat makin canggih. Tapi penyakit hati kayak:


· sombong

· cinta dunia

· takut miskin

· takut kehilangan popularitas


itu gak bisa diobatin sama dokter. Obatnya cuma satu: dzikir, istighfar, taubat, muhasabah. Sesuai janji Allah di atas:

“Barangsiapa memohon ampun kepada Kami, maka Kami mengampuninya demi kemuliaan Ramadan.”


Ini bukan omdo (omong doang), tapi undangan cinta langsung dari Allah.


---


🌿 Muhasabah Yuk!


Ramadan nanya ke kita:


· Kita nyari Allah, atau nyari pujian?

· Kita cinta Allah, atau cuma cinta kenyamanan dunia?

· Kita pengen diampuni, atau cuma pengen keliatan saleh?


Tazkiyatul nufus ngajarin: bersihin niat itu lebih penting daripada banyak amal tapi gak ikhlas.


---


🤲 Doa


Ya Allah…

Kalo Engkau bilang “Siapa cinta Aku, Aku cinta dia”, tolong jadikan kita orang yang Engkau cintai.


Ya Allah…

Di zaman penuh distraksi ini, jangan biarin hati kita keras. Lembutin pakai Al-Qur’an. Terangin pakai istighfar. Hidupin pakai dzikir.


Ya Allah…

Kaya janji-Mu di bulan Ramadan, hapus semua dosa kita. Jangan biarin kita ngerasa bisa sendiri, walau sedetik pun.


---


🌅 Harapan (Tetap Pake Dalil)


Allah bilang:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)


Rasulullah ï·º bilang:

“Setiap anak Adam banyak berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang banyak bertaubat.” (HR. Tirmidzi)


Harapan kita:


· Ramadan jadi titik balik jiwa

· Teknologi jadi alat dakwah

· Komunikasi jadi jembatan silaturahim

· Harta jadi berkah sedekah

· Ilmu jadi cahaya akhirat


Semoga kita gak cuma jadi manusia modern, tapi hamba yang sadar.


---


✨ Penutup Gaul


Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, tapi bulan perbaikan hati. Kalo Allah udah bilang “Kami mencintainya”, apa lagi yang kita cari? Semoga kita termasuk yang pas Ramadan dateng, dosa dihapus, hati suci, dan nama kita disebut dalam cinta-Nya.


Makasih udah baca sampe sini. Semoga jadi pengingat buat diri sendiri dulu, baru buat lo semua. Wallahu a‘lam. 🙌

953. Turunnya Kitab-Kitab Allah di Bulan Ramadan.

 


Kitab Durratun Nashihin (Karya Umar bin Hasan bin Ahmad al-Syakir al-Khaubari)

Bab :

1. KEUTAMAAN BULAN RAMADAN.

Diriwayatkan, bahwa suhuf (lembaran-lembaran) Ibrahim as. diturunkan pada malam pertama bulan Ramadan dan Kitab Taurat diturunkan pada malam keenam bulan Ramadan, setelah lewat tujuh ratus tahun dari suhuf Ibrahim as. Kitab Zabur diturunkan pada malam kedua belas bulan Ramadan, lima ratus tahun sesudah Taurat. Kitab Injil, pada malam kedelapan belas bulan Ramadan, seribu dua ratus tahun sesudah Zabur. Dan Kitab Alfurgan (Alquran) pada malam kedua puluh tujuh bulan Ramadan, enam ratus dua puluh tahun sesudah Injil. Sekian. (Dari Kitab Al Hayat).

........

📖 Perspektif Tasawuf tentang Turunnya Kitab-Kitab Allah di Bulan Ramadan

(Merujuk keterangan dalam Kitab Durratun Nashihin karya *)*

🌙 Ramadan: Bulan Turunnya Cahaya

Dalam riwayat yang disebutkan pada Bab Keutamaan Bulan Ramadan, diterangkan bahwa:

  • Suhuf Nabi Ibrahim ‘alaihis salam turun pada malam pertama Ramadan
  • Taurat turun malam ke-6
  • Zabur malam ke-12
  • Injil malam ke-18
  • Al-Furqan (Al-Qur’an) malam ke-27 Ramadan

Secara tasawuf, ini bukan sekadar catatan sejarah, tetapi isyarat bahwa Ramadan adalah bulan turunnya cahaya Ilahi ke bumi dan ke dalam hati manusia.

Allah berfirman:

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Dan dalam QS. Ad-Dukhan: 3:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkahi.”

Para ahli tasawuf memandang:
Jika kitab-kitab Allah turun pada bulan ini, maka Ramadan adalah musim turunnya rahasia, nur, dan pembukaan hati.


🔎 Analisis Tasawuf: Mengapa Semua Kitab Turun di Ramadan?

1️⃣ Ramadan = Bulan Tazkiyatun Nafs

Puasa melemahkan hawa nafsu. Ketika nafsu dilemahkan, hati menjadi jernih.
Hati yang jernih adalah tempat turunnya ilmu laduni.

Rasulullah ï·º bersabda:

“Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Tasawuf memandang:
Ampunan adalah pembersihan cermin hati.
Hati yang bersih memantulkan cahaya wahyu.


2️⃣ Turunnya Kitab = Turunnya Petunjuk

Kitab bukan sekadar teks.
Kitab adalah cahaya penuntun perjalanan ruh menuju Allah.

Dalam tasawuf:

  • Suhuf Ibrahim → Tauhid murni (fondasi hati)
  • Taurat → Syariat (aturan lahir)
  • Zabur → Dzikir dan kelembutan hati
  • Injil → Kasih sayang
  • Al-Qur’an → Kesempurnaan cahaya lahir dan batin

Maka Ramadan adalah bulan integrasi syariat dan hakikat.


3️⃣ Lailatul Qadar: Puncak Tajalli

Al-Qur’an turun pada malam 27 Ramadan menurut sebagian riwayat.

Allah berfirman:

“Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)

Dalam perspektif tasawuf:
Lailatul Qadar bukan hanya malam turunnya kitab,
tetapi malam turunnya ketenangan, penetapan takdir, dan pembukaan hati.

Imam-imam tasawuf mengatakan:
“Barangsiapa hatinya hidup di malam itu, maka ia mendapatkan qadar (ketentuan baik) dalam perjalanan ruhnya.”


🌿 Hikmah

  1. Ramadan adalah musim wahyu dan musim perbaikan hati
  2. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tapi membuka pintu cahaya
  3. Wahyu turun kepada Nabi, tapi nur-nya turun kepada orang beriman
  4. Siapa yang membersihkan hati, ia akan merasakan manisnya Al-Qur’an

🔥 Motivasi

Wahai jiwa…
Jika Allah menurunkan kitab-kitab besar di bulan ini,
mengapa engkau tidak menurunkan air mata taubatmu?

Jika Ramadan adalah bulan cahaya,
jangan jadikan ia bulan kelalaian.

Jadikan setiap malam Ramadan seperti malam turunnya kitab di hatimu.


🌅 Harapan

Semoga Ramadan bukan hanya datang dan pergi,
tetapi meninggalkan bekas:

  • Hati lebih lembut
  • Lisan lebih dzikir
  • Amal lebih ikhlas
  • Dunia tidak lagi menguasai jiwa

Semoga kita termasuk orang yang menerima bagian dari cahaya wahyu.


🤲 Doa

Ya Allah…
Sebagaimana Engkau turunkan kitab-kitab-Mu di bulan Ramadan,
turunkanlah pula cahaya hidayah ke dalam hati kami.

Bersihkan hati kami dari riya’,
lunakkan jiwa kami dari kerasnya dunia,
jadikan Al-Qur’an sebagai penyejuk dada kami.

Ya Allah, pertemukan kami dengan Lailatul Qadar,
dan jadikan kami hamba yang Engkau pilih untuk menerima cahaya-Mu.
Aamiin.


🌹 Ucapan Terima Kasih

Terima kasih atas kesempatan merenungi kembali keagungan Ramadan dalam perspektif tasawuf.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi penulis dan pembaca bahwa Ramadan bukan hanya bulan ibadah lahir, tetapi bulan kebangkitan ruhani.

Wallahu a’lam bish-shawab.

.......

Siap! Berikut adalah versi bahasa gaul kekinian yang tetap santun, nggak mengurangi esensi, dan tentu aja ayat serta haditsnya tetap dalam bahasa aslinya (ngga diterjemahin ke bahasa gaul biar nggak aneh). Check this out!


---


✨ RAMADAN VIBES: BULAN TURUNNYA KITAB-KITAB HEBAT ✨

(Cuplikan dari Kitab Durratun Nashihin yang Wajib Kamu Tahu)


Guys, kalian pada tau nggak sih? Ternyata bulan Ramadan tuh bulan yang super istimewa bahkan sebelum Al-Qur'an turun. Dalam kitab Durratun Nashihin, diceritain kalau kitab-kitab suci yang diturunkan ke para nabi itu waktunya di bulan Ramadan semua, lho! Cek timeline-nya:


· Malam 1 Ramadan: Suhuf (lembaran-lembaran) Nabi Ibrahim AS turun.

· Malam 6 Ramadan: Kitab Taurat (Nabi Musa AS) turun, 700 tahun setelahnya Suhuf Ibrahim.

· Malam 12 Ramadan: Kitab Zabur (Nabi Daud AS) turun, 500 tahun setelah Taurat.

· Malam 18 Ramadan: Kitab Injil (Nabi Isa AS) turun, 1200 tahun setelah Zabur.

· Malam 27 Ramadan: Al-Furqan (Al-Qur'an) turun kepada Nabi Muhammad SAW, 620 tahun setelah Injil.


Keren banget, kan? Bulan ini tuh kayak season-nya Allah buat ngirim update software ke bumi.


---


🌙 Ngulik Lebih Dalam: Kenapa Sih Semua Kitab Turun di Bulan Ramadan? (Perspektif Anak Zaman Now yang Lagi Nyari Jati Diri)


Nah, buat yang suka healing atau lagi self-improvement, bulan Ramadan tuh momen yang paling pas. Dalam pandangan tasawuf (ilmu tentang bersihin hati), turunnya kitab-kitab ini bukan cuma peristiwa sejarah basi, tapi ada pesan deep banget buat kita.


1. Ramadan = Bulannya Glow Up Batin

Puasa itu ibarat detox buat tubuh. Tapi secara batin, puasa tuh ngelemahin hawa nafsu alias toxic trait kita. Kalau nafsu udah lemes, hati jadi adem dan jernih. Nah, hati yang jernih inilah yang jadi tempat download ilmu laduni alias ilmu langsung dari Allah.


Rasulullah ï·º bersabda:

“Barangsiapa berpuasa Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Dalam bahasa gaulnya, ampunan itu kayak reset total. Hati yang tadinya buram karena banyak dosa, jadi kinclong lagi. Dan hati yang kinclong, siap reflect cahaya petunjuk.


2. Kitab Itu Bukan Sekadar Buku, Tapi Mindset Baru

Kitab-kitab itu ibarat guidance atau pedoman hidup. Kalau kita lihat satu per satu, mereka tuh ngajarin level yang beda-beda, dan semuanya turun di Ramadan:


· Suhuf Ibrahim → Ngajarin tauhid murni, alias pondasi keimanan.

· Taurat → Ngajarin aturan main lahiriah (syariat).

· Zabur → Penuh dengan dzikir dan kelembutan hati.

· Injil → Bawa misi kasih sayang.

· Al-Qur'an → The ultimate package, gabungan semuanya. Cahaya sempurna buat lahir dan batin.


Jadi, Ramadan itu bulan di mana kita direcharge ulang semua aspek kehidupan, dari yang formal sampai yang paling inner.


3. Lailatul Qadar: Malam di Mana WiFi Langit Dibuka Lebar

Salah satu malam yang paling ditunggu adalah Lailatul Qadar. Biasanya jatuh di tanggal-tanggal ganjil 10 hari terakhir, dan menurut banyak riwayat di malam 27 (seperti turunnya Al-Qur'an).


Allah SWT berfirman:

“Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.”

(QS. Al-Qadr: 3)


Malam ini tuh bukan cuma soal turunnya malaikat, tapi dalam pandangan tasawuf, ini adalah momen tajalli, alias Allah buka tabir dan ngasih cahaya langsung ke hati hamba-Nya yang lagi vibing di masjid atau di sajadahnya. Ini momen buat dapetin qadar terbaik buat masa depan kita.


🌿 Intinya, Gengs...


Ramadan itu bulan recharge rohani. Puasa bukan cuma nahan laper dan haus doang, tapi ngebuka pintu hati biar masuk cahaya.


· Wahyu turun ke Nabi, tapi cahayanya bisa nular ke kita yang beriman.

· Kalau dulu Allah nurunin kitab-kitab besar di bulan ini, sekarang giliran kita yang nurunin air mata taubat dan tekad buat berubah.


🔥 Bangkitin Semangat!


Jangan sampai Ramadan cuma lewat begitu aja tanpa bekas. Mari kita level up:


· Biar hati makin lembut.

· Biar lisan makin basah sama dzikir.

· Biar amal jadi ikhlas, bukan cuma caper doang.


Semoga kita semua bisa dapet share dari cahaya wahyu dan ketemu sama Lailatul Qadar. Aamiin.


🤲 Doa dari Dasar Hati


Ya Allah...

Seperti Engkau turunkan kitab-kitab-Mu di bulan Ramadan yang berkah ini, turunkan juga cahaya petunjuk ke dalam hati kami yang lagi galau dan butuh pegangan.


Bersihin hati kami dari riya' dan toxic-nya dunia. Lunakin jiwa kami yang kadang keras kepala. Jadikan Al-Qur'an sebagai playlist favorit dan penyejuk hati kami.


Ya Allah, izinin kami ketemu sama Lailatul Qadar. Anggap kami jadi hamba pilihan yang pantas nerima cahaya-Mu. Aamiin ya Rabbal 'alamin.


🌹 Makasih Ya!


Udah pada baca sampai akhir. Semoga coretan receh ini bisa jadi pengingat buat kita semua, bahwa Ramadan itu lebih dari sekadar tradisi, tapi momentum buat glow up secara spiritual.


Wallahu a'lam bish-shawab.