Wednesday, December 10, 2025

861. Empat Hal yang Menyempurnakan Iman

 



Empat Hal yang Menyempurnakan Iman

Jujur • Syukur • Malu • Akhlak Baik

Penulis: M. Djoko Ekasanu



HAL-HAL YANG MENYEMPURNAKAN IMAN

Diriwayatkan dari Ali bin al-Husain, dari kakeknya, dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bahwa beliau bersabda:

4 (empat) hal yang apabila ada pada diri seseorang maka islamnya telah sempurna meskipun dari kepala sampai telapak kaki terdapat kesalahan- kesalahan dosa. Empat hal tersebut adalah jujur, syukur, malu dan berakhlak baik.

Ja’far Sang Burung Terbang (Diceritakan)    bahwa sesungguhnya    Ja’far    at-Toyyar radhiyallahu ‘anhu dengan keberkahan kejujurannya dan tidak berbohong selama hidupnya, ketika ia meninggal dunia, Allah memberinya dua sayap hijau yang dipenuhi dengan intan dan mutiara yang dapat ia gunakan untuk terbang bersama para malaikat. Suatu hari, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bertanya kepadanya:

“Hai Ja’Far at-Toyyar! Hai anak Abu Thalib! Dengan amalan apa kamu bisa mencapai tingkatan kemuliaan ini (diberi dua sayap oleh Allah)?”

Ja’far menjawab, “Aku tidak tahu. Hanya saja aku menghindari 3 (tiga) hal pada waktu masa kekufuran dan keislaman.”

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bertanya, “Apa 3 (tiga) hal itu?”

Ja’far menjawab, “Aku tidak berbohong, tidak berzina dan juga tidak pernah mabuk pada masa kekufuran dan keislaman.”

“3 (tiga) hal itu memang haram pada masa keislaman. Lantas atas dasar apa kamu menghindari 3 hal tersebut pada masa kekufuran?” tanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama.

Ja’far menjawab, “Aku berfikir dalam hal berbicara bahwa orang yang berbohong dalam bicaranya maka ia adalah orang yang dicurigai di kalangan masyarakat dan ia akan merasa malu jika ketahuan bohong. Oleh karena ini, aku menghindari berbohong. Aku berfikir dalam hal perzinahan bahwa misalnya orang yang berzina dengan istriku, putriku atau saudariku maka orang itu telah melukaiku dan aku tidak akan memaafkannya. Begitu juga jika aku berzina dengan wanita lain maka orang lainpun tidak akan memaafkanku. Oleh karena ini aku menghindari perzinahan. Adapun aku enggan mabuk maka aku tahu kalau orang-orang pasti menginginkan akal yang mereka miliki bisa senantiasa bertambah kualitasnya. Sedangkan orang yang mabuk pasti kehilangan kesadaran akalnya, berbicara sembarangan, dan ditertawakan orang banyak. Oleh karena ini, aku menghindari mabuk”.

Kemudian Malaikat Jibril ‘alaihi as-salam, datang dan berkata kepada Rasulullah, “Ja’far benar. Allah memberinya dua sayap karena ia menghindari 3 (tiga) hal tersebut.”


Ringkasan Redaksi Asli

Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa ada empat perkara yang membuat Islam seseorang menjadi sempurna, meski ia memiliki banyak kesalahan:

  1. Jujur
  2. Syukur
  3. Malu
  4. Akhlak Baik

Redaksi dilanjutkan dengan kisah Ja‘far ath-Thayyâr, sahabat mulia yang mendapatkan dua sayap di surga karena kejujurannya dan meninggalkan tiga perkara baik semasa jahiliyah maupun Islam:
tidak berbohong, tidak berzina, dan tidak mabuk.


Latar Belakang Masalah pada Zamannya

Pada masa awal dakwah di Makkah dan Madinah:

  • Kebohongan dan penipuan tersebar luas di kalangan jahiliyyah.
  • Perzinahan dianggap biasa dan tidak dipandang buruk.
  • Minum khamr (mabuk) merupakan budaya umum.
  • Akhlak mulia hanya dimiliki sebagian kecil orang yang menjunjung kehormatan diri (muru'ah).

Hadits ini muncul untuk:

  • Menegakkan kembali standar moral Islam.
  • Menjelaskan ciri penyempurna iman.
  • Mengingatkan umat bahwa ibadah tanpa akhlak tidak cukup.

Sebab Terjadinya Masalah

  1. Kerusakan moral akibat lingkungan jahiliyah.
  2. Rendahnya kesadaran tentang Allah.
  3. Dominasi hawa nafsu dan budaya mabuk.
  4. Pergaulan bebas yang merusak kehormatan keluarga.

Ja‘far at-Toyyâr menjadi teladan karena ia meninggalkan tiga kerusakan ini bahkan sebelum Islam datang, semata-mata menggunakan akal sehat dan martabat diri.


Intisari Judul

Empat Fondasi Penyempurna Iman dan Teladan Keagungan Akhlak Ja‘far Sang Burung Terbang


Tujuan dan Manfaat

  • Menginspirasi umat untuk kembali memegang empat fondasi iman.
  • Memahami bahaya kebohongan, zina dan mabuk secara spiritual dan sosial.
  • Mengambil teladan ketegasan moral Ja‘far r.a.
  • Menghubungkan ajaran Nabi ﷺ dengan realitas zaman modern.
  • Membentuk masyarakat muslim berakhlak mulia, terhormat, dan berintegritas.

Dalil Qur’an dan Hadits

1. Tentang Kejujuran

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar.”
(QS. Al-Ahzab: 70)

Hadits:

"Kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun ke surga."
(HR. Bukhari)


2. Tentang Syukur

“Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambah nikmat kalian.”
(QS. Ibrahim: 7)


3. Tentang Malu

“Malu itu cabang dari iman.”
(HR. Muslim)


4. Tentang Akhlak Baik

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Malik)


Analisis dan Argumentasi

  1. Kejujuran adalah fondasi kepercayaan sosial. Tanpa kejujuran, negara runtuh, hubungan retak, dan ibadah tidak diterima.
  2. Syukur menenangkan hati dan memperluas rezeki.
  3. Malu menjaga kehormatan dan menjadi pagar dari dosa-dosa besar.
  4. Akhlak baik adalah buah dari iman yang sehat.

Ja‘far at-Toyyar merupakan model moral bahwa akal sehat yang bersih pun dapat mengenali kebenaran sebelum datangnya wahyu.


Keutamaan & Hukuman

1. Kejujuran

  • Dunia: dihormati, dipercaya, doanya mudah dikabulkan.
  • Kubur: dilapangkan, ditemani amal jujurnya.
  • Kiamat: wajahnya bercahaya.
  • Akhirat: ditempatkan bersama para siddiqin.

2. Syukur

  • Dunia: rezeki bertambah.
  • Kubur: dijaga dari siksa.
  • Kiamat: amalnya ditimbang lebih berat.
  • Akhirat: masuk golongan yang dekat dengan Allah.

3. Malu

  • Dunia: terhindar dari kejahatan.
  • Kubur: dijaga dari azab karena dosanya sedikit.
  • Akhirat: Allah tutupi aib-aibnya.

4. Akhlak baik

  • Dunia: dicintai manusia.
  • Kubur: amalnya menjadi cahaya.
  • Akhirat: paling dekat dengan Nabi ﷺ.

Relevansi Pada Zaman Teknologi, Komunikasi, Transportasi, Kedokteran & Sosial Modern

  1. Teknologi komunikasi:
    • Kejujuran diuji melalui hoax, edit foto, AI, dan media sosial.
    • Malu hilang karena mudahnya unggah maksiat.
  2. Transportasi modern:
    • Akses zina dan kemaksiatan semakin mudah.
  3. Kedokteran modern:
    • Penyakit akibat mabuk, narkoba, dan syahwat semakin banyak.
  4. Sosial modern:
    • Syukur melemah karena gaya hidup membandingkan diri.

Hadits ini menjadi rem penting agar manusia tidak kehilangan akhlak dalam dunia yang serba cepat.


Hikmah

  • Kejujuran menciptakan ketenangan.
  • Syukur membuka pintu keberkahan.
  • Malu menjaga kehormatan diri.
  • Akhlak baik adalah jalan menuju cinta Allah.
  • Orang yang menjaga akhlak akan dijaga Allah di dunia dan akhirat.

Muhasabah & Caranya

  1. Tanya diri sendiri:
    • Apakah aku jujur pada Allah, pada manusia, pada diriku?
  2. Hitung nikmat:
    • Minimal 10 nikmat setiap malam, untuk menumbuhkan syukur.
  3. Latihan malu:
    • “Apakah layak Allah melihat aku melakukan hal ini?”
  4. Perbaikan akhlak:
    • Senyum
    • Tahan amarah
    • Maafkan orang
    • Rendahkan hati

Doa

Allahumma inni as’aluka sidqa al-hadits, wa husna al-khuluq, wa syukra ni‘matika, wa husna al-hayaa’ fi kulli hal.
Ya Allah, berikan aku kejujuran dalam ucapan, akhlak yang baik, syukur atas nikmat-Mu, dan rasa malu yang menjaga dalam setiap keadaan.


Nasehat Para Ulama Sufi

Hasan al-Bashri:

“Kejujuran adalah cahaya hati. Jika hilang, gelaplah seluruh amal.”

Rabi‘ah al-Adawiyah:

“Syukur adalah ketika engkau tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat.”

Abu Yazid al-Bistami:

“Malu adalah pintu menuju ma‘rifat.”

Junaid al-Baghdadi:

“Akhlak baik adalah meninggalkan apa yang membuatmu jauh dari Allah.”

Al-Hallaj:

“Kejujuran adalah jalan paling pendek menuju Allah.”

Imam al-Ghazali:

“Akhlak adalah buah dari hati yang bersih.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani:

“Barangsiapa jujur, maka Allah akan jujur kepadanya.”

Jalaluddin Rumi:

“Kebenaran tidak pernah membutuhkan pembelaan selain dirinya sendiri.”

Ibnu ‘Arabi:

“Syukur membuka pintu-pintu hakikat.”

Syekh Ahmad al-Tijani:

“Perbaiki akhlakmu, maka Allah akan memperbaiki hidupmu.”


Testimoni Ulama Kontemporer

Gus Baha’

“Sumber hilangnya keberkahan hidup adalah hilangnya kejujuran.”

Ustadz Adi Hidayat

“Malu itu kontrol dosa. Jika hilang malu, hilang semuanya.”

Buya Yahya

“Akhlak baik adalah ibadah yang tidak membutuhkan biaya.”

Ustadz Abdul Somad

“Syukur itu menjaga nikmat. Kalau tidak disyukuri, nikmat pergi.”

Buya Arrazy Hasyim

“Kejujuran adalah maqam para nabi dan orang shalih.”


Daftar Pustaka

  • Shahih Bukhari & Muslim
  • Riyadhus Shalihin – Imam Nawawi
  • Ihya' Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  • Al-Bidayah wan Nihayah – Ibnu Katsir
  • Hilyatul Auliya’ – Abu Nu’aim
  • Siyar A‘lam an-Nubala’ – Adz-Dzahabi
  • Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
  • Al-Fath ar-Rabbani – Syaikh Abdul Qadir al-Jailani
  • Majmu‘ Rasail – Imam Hasan al-Bashri
  • Maqamaat Rabi‘ah
  • Risalah al-Qusyairiyyah – Imam al-Qusyairi

Ucapan Terima Kasih

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca yang setia mengikuti rubrik ini. Semoga tulisan ini membawa manfaat, menambah iman, memperkuat akhlak, dan menjadi amal jariyah bagi penulis.


Catatan Redaksi

Sebagian kisah yang bernuansa Israiliyat hanya disajikan sebagai renungan, bukan sebagai dalil akidah. Pembaca diharapkan mengambil hikmah tanpa menjadikannya dasar hukum.


Versi Bahasa Gaul (Kekinian, Santai, tapi Tetap Sopan)


Empat Kunci Iman Jadi OKE Banget!


Jujur • Syukur • Malu • Akhlak Baik


Penulis: M. Djoko Ekasanu


RINGKASAN (BUAT YANG MALAS BACA PANJANG)


Nabi Muhammad ﷺ bilang, ada EMPAT HAL yang bikin Islam seseorang itu sempurna, meskipun dia punya banyak salah dan dosa. Apa aja? JUJUR, BISA BERSYUKUR, PUNYA RASA MALA, DAN AKHLAK YANG BAIK.


Terus ada kisah keren dari Ja’far at-Thayyar, sahabat yang dikasih DUA SAYAP buat terbang di surga! Kenapa? Karena dia GAPERNAH BOHONG, GA PERNAH ZINA, DAN GA PERNAH MABUK, bahkan sejak jaman jahiliyah (sebelum Islam)!


---


KENAPA SIH PERLU BICARA INI? (Konteks Zaman Dulu)


Zaman dulu di Arab, itu chaos banget: Bohong itu biasa, zina kayak tren, mabuk-mabukan itu gaya hidup. Standar moral rendah banget. Hadits ini datang buat ngasih pencerahan dan nentuin standar baru: Iman itu bukan cuma ritual, tapi harus keliatan di akhlak.


Ja’far itu keren banget! Dia ngelepasin tiga dosa besar itu sebelum Islam datang, cuma pake logika sehat dan harga diri aja. Basically, dia udah mindset-nya orang sholeh sebelum disuruh!


---


INTI DARI SEMUA INI:


Empat Pondasi Supaya Iman Kita Kuat, plus Kisah Inspiratif Ja’far Si Manusia Burung.


---


TUJUAN & MANFAAT BUAT KITA


· Biar kita melek sama 4 fondasi utama iman ini.

· Ngerti betapa bahayanya bohong, zina, dan mabuk buat hidup sekarang.

· Bisa niru prinsip hidup Ja’far yang teguh banget.

· Ngehubungin ajaran Nabi ﷺ sama realita kehidupan kita yang serba cepet ini.

· Bantu bentuk diri dan komunitas yang punya integritas, sopan, dan terhormat.


---


DUKUNGAN DARI SUMBER UTAMA (Qur'an & Hadits)


1. Soal JUJUR:

   · Qur'an: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

   · Hadits: "Kejujuran menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan menuntun ke surga." (HR. Bukhari)

2. Soal SYUKUR:

   · Qur'an: “Jika kalian bersyukur, pasti Aku tambah nikmat kalian.” (QS. Ibrahim: 7)

3. Soal MALA:

   · Hadits: “Malu itu cabang dari iman.” (HR. Muslim)

4. Soal AKHLAK BAIK:

   · Hadits: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Malik)


---


BREAKDOWN & ANALISIS (Biar Gak Cuma Tau, Tapi Juga Paham)


· Jujur: Ini fondasi segala-galanya. Kalo di dunia aja bohong, gimana mau dipercaya sama Allah? Semua hubungan rusak kalo nggak jujur.

· Syukur: Ini obat hati biar nggak iri dan merasa kurang terus. Plus, janji Allah rezeki nambah lho!

· Malu: Ini alarm spiritual kita. Kalo rasa malu ilang, bisa bahaya, dosa dianggap biasa aja.

· Akhlak Baik: Ini buahnya iman. Iman yang bener pasti menghasilkan perilaku yang manis.

· Kisah Ja’far: Nunjukkin kalo nalar yang bersih aja udah bisa ngebimbing ke jalan yang benar, apalagi kalo udah ditambah wahyu!


---


RELEVANSINYA DI ZAMAN SEKARANG (Yang Serba Digital & Cepat)


· Medsos & Teknologi: Ujian kejujuran makin berat karena hoax, edit foto, deepfake. Rasa malu juga makin tipis, bebas banget ekspos aurat atau maksiat di feed.

· Transportasi & Pergaulan: Akses buat zina atau dugem makin gampang. Stay halal jadi tantangan sendiri.

· Gaya Hidup: Budaya scrolling bikin kita susah bersyukur, karena sibuk bandingin hidup sama highlight orang lain.

· Intinya, hadits ini jadi rem darurat biar kita gak kehilangan karakter baik di tengah arus dunia yang serba instan.


---


HIKMAH (Take Home Message)


· Jujur = Hidup tenang, nggak was-was.

· Syukur = Rezeki lancar, hati adem.

· Malu = Diri terjaga, gampang ketularan dosa.

· Akhlak baik = Jalan termulus buat dicintai Allah dan manusia.


---


MUHASABAH (Cek Diri Sendiri, Yuk!)


· Soal Jujur: Aku jujur nggak sih sama orang tua, temen, di kantor/kampus, bahkan sama diri sendiri?

· Soal Syukur: Udah hitung nikmat hari ini belum? Coba tulis 5 aja sebelum tidur.

· Soal Malu: Kalo lagi mau ngelakuin yang nggak bener, coba tanya: "Kalo Allah lagi liat, aku masih berani nggak?"

· Soal Akhlak: Mulai dari hal kecil: senyum, nahan emosi, ngasih maaf, rendah hati.


---


DOA (Yang Bisa Langsung Dipraktekin)


Allahumma inni as’aluka sidqa al-hadits, wa husna al-khuluq, wa syukra ni‘matika, wa husna al-hayaa’ fi kulli hal. (Ya Allah,berikan aku kejujuran dalam ucapan, akhlak yang baik, syukur atas nikmat-Mu, dan rasa malu yang menjaga dalam setiap keadaan.)


---


KATA-KATA BIKIN SEMANGAT DARI PARA LEGEND


· Hasan al-Bashri: "Jujur itu cahaya hati. Kalo padam, gelap gulita deh amal kita."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Syukur itu ya jangan pake nikmat Allah buat maksiat."

· Junaid al-Baghdadi: "Akhlak baik = tinggalin hal-hal yang menjauhin kita dari Allah."

· Imam al-Ghazali: "Akhlak itu buah dari hati yang bersih."

· Jalaluddin Rumi: "Kebenaran nggak butuh pembelaan selain dirinya sendiri."


TESTIMONI USTADZ-ZAMAN-NOW


· Gus Baha': "Sumber hilangnya berkah itu ya hilangnya kejujuran."

· Ustadz Adi Hidayat: "Malu itu kontrol dosa. Kalo malu ilang, semuanya bisa kacau."

· Buya Yahya: "Akhlak baik tuh ibadah yang gratis, nggak perlu modal."

· Ustadz Abdul Somad: "Syukur itu jaga nikmat. Kalo nggak disyukuri, ya bisa ilang."


---


UCAPAN TERIMA KASIH DARI REDAKSI


Makasih banyak buat kalian semua yang udah baca sampe sini! Semoga tulisan ini bermanfaat, nambahin iman, mantapkan akhlak, dan jadi amal baik buat penulisnya. Aamiin!


CATATAN REDAKSI: Beberapa kisah(kayak cerita Ja'far dapat sayap) itu lebih ke bahan renungan dan penggugah semangat, ya. Jadi, diambil hikmahnya aja, jangan dijadikan patokan utama buat hukum agama.


---


Udah gitu aja! Semoga versi "gaul" ini lebih gampang dicerna dan diaplikasin dalam keseharian. Keep faith, keep good morals!


860. Maksiat Lisan: Dosa yang Keluar dari Mulut




📰 Maksiat Lisan: Dosa yang Keluar dari Mulut

Penulis: M. Djoko Ekasanu



 Maksiat Lisan artinya perbuatan dosa yang dilakukan oleh mulut.

Sebagian dari maksiat lisan adalah :

Berdusta kepada Alloh dan Rasul-Nya.

Pengakuan yang batil (tidak benar)

Cerai bid’ah (mencerai istri dalam keadaan haid)

dihar (menyerupakan istri dengan mahram).

Dalam dihar ada kafaratnya (denda), jika tidak langsung diceraikan. Dendanya yaitu memerdekakan budak perempuan mukmin dan bebas dari cacat. bila tak kuasa harus berpuasa selama dua bulan berturut-turut. jika tak mampu harus memberi makan enam puluh orang miskin, masing-masing satu mud (6 gram).

Lahn (sengaja membaca salah ketika membaca Al-quran), sekalipun tidak merubah makna.

Mengemis pada orang kaya, baik ngemis harta atau minta pekerjaan.


RINGKASAN REDAKSI ASLINYA

Maksiat lisan adalah dosa yang keluar dari mulut manusia, seperti berdusta kepada Allah dan Rasul-Nya, pengakuan batil, cerai bid’ah, dihār, membaca Al-Qur’an dengan kesengajaan salah (lahn), serta mengemis kepada orang kaya. Sebagian dari dosa ini memiliki kafarat, seperti dihār yang wajib ditebus dengan memerdekakan budak, puasa dua bulan, atau memberi makan 60 fakir miskin.


LATAR BELAKANG MASALAH DI JAMAN NABI

Di masa Rasulullah SAW, banyak persoalan yang muncul dari ucapan, bukan tindakan fisik. Mulut menjadi sumber fitnah, dusta, sumpah palsu, dihār, talak sembarangan, dan klaim-klaim yang merusak rumah tangga dan masyarakat.

Masyarakat Arab kala itu menjunjung lisan sebagai simbol kehormatan, tetapi juga sering melampaui batas, terutama dalam:

  • menyebar berita palsu,
  • ucapan merusak hubungan keluarga,
  • talak pada waktu haram,
  • ucapan yang menyerupakan istri dengan ibu atau saudara perempuan (dihār),
  • serta membaca Al-Qur’an tanpa adab.

SEBAB TERJADINYA MASALAH

  1. Kelalaian menjaga lisan
  2. Kebiasaan masyarakat Arab jahiliyah dalam bersumpah dan mencela
  3. Kurangnya pemahaman syariat tentang talak dan kafarat
  4. Nafsu marah dan emosi saat bicara
  5. Kurangnya kontrol hati dan akhlak

INTISARI JUDUL

“Lisan itu kecil bentuknya, tetapi besar pertanggungjawabannya.”


TUJUAN DAN MANFAAT

  • Menjelaskan jenis-jenis maksiat lisan yang sering diremehkan.
  • Menjadi peringatan bagi masyarakat modern agar berhati-hati dalam berkomunikasi.
  • Menumbuhkan adab dalam bicara, baik di dunia nyata maupun dunia digital.
  • Mengingatkan bahwa lisan akan menjadi penyebab utama seseorang masuk surga atau neraka.

DALIL-DALIL

Al-Qur’an

  1. “Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya, melainkan dicatat oleh malaikat pengawas.”
    (QS. Qaf: 18)

  2. “Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”
    (QS. Al-Ahzab: 70)

  3. Tentang dihār:
    (QS. Al-Mujadilah: 2–4) — menjelaskan kafarat berupa memerdekakan budak, puasa dua bulan, atau memberi makan 60 miskin.


Hadis

  1. “Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua jenggotnya (lisan) dan dua pahanya, maka aku jamin baginya surga.”
    (HR. Bukhari)

  2. “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata saja dari kemurkaan Allah, ia tidak menganggapnya penting, namun menyebabkan ia terjerumus ke dalam neraka.”
    (HR. Bukhari)

  3. Tentang mengemis:
    “Barangsiapa meminta-minta padahal ia mampu, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah tanpa sepotong daging pun.”
    (HR. Tirmidzi)


ANALISIS DAN ARGUMENTASI

1. Berdusta kepada Allah dan Rasul-Nya

Ini adalah puncak maksiat lisan, karena berarti memutarbalikkan wahyu. Termasuk: membuat hadis palsu, mengklaim mimpi palsu, atau mengaku mendapat bisikan wahyu.

Hukuman:

  • Dosanya sangat besar di dunia
  • Gelap kubur
  • Bangkit dalam keadaan wajah hitam
  • Tidak dipandang Allah di akhirat

2. Pengakuan Batil

Ucapan yang menzalimi orang lain: fitnah, tuduhan tanpa bukti, sumpah palsu, mengaku-ngaku hak orang lain.

Hukuman:

  • Tidak diterima amalnya
  • Azab kubur karena lisannya
  • Termasuk tujuh dosa besar bila menuduh zina tanpa bukti

3. Cerai Bid’ah

Menceraikan istri saat haid. Termasuk maksiat yang membahayakan keluarga.

Hukuman:

  • Boleh dikenai hukuman ta’zir oleh hakim
  • Mendapat dosa besar
  • Rumah tangga tidak mendapat keberkahan

4. Dihār

Mengucapkan kepada istri: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.”
Hukumnya haram dan ada kafarat sebagaimana QS Al-Mujadilah.


5. Lahn dalam Al-Qur’an

Sengaja membaca salah walaupun tidak mengubah makna tetap dihitung dosa karena meremehkan Al-Qur’an.


6. Mengemis pada Orang Kaya

Mengemis padahal mampu termasuk mencuri harga diri sendiri.


HUKUMAN DI DUNIA, DI KUBUR, DI HARI KIAMAT, DI AKHIRAT

Di Dunia

  • Hilangnya wibawa
  • Tidak dipercaya orang
  • Rumah tangga rusak
  • Hati menjadi keras

Di Alam Kubur

  • Disempitkan kubur
  • Malaikat mencambuk karena kata-katanya
  • Dipenuhi penyesalan

Di Hari Kiamat

  • Lisan menjadi saksi
  • Rekaman ucapan dipertontonkan
  • Allah tidak berbicara kepada pendusta

Di Akhirat

  • Timbangan berat karena lisan
  • Atau sebaliknya—terjunnya seseorang ke neraka hanya karena satu kata

RELEVANSI DENGAN TEKNOLOGI MODERN

Di era sekarang, maksiat lisan tidak hanya keluar dari mulut, tetapi melalui:

1. Teknologi & Komunikasi

  • Chat, komentar, status, voice note
  • Hoaks, fitnah digital
  • Menghina ulama di media sosial

2. Transportasi

  • Marah-marah di jalan
  • Mengumpat saat macet
  • Emosi pada pengendara lain

3. Kedokteran & Kesehatan

  • Sumpah palsu medis
  • Fitnah kesehatan
  • Klaim terapi palsu

4. Kehidupan Sosial Modern

  • Gosip grup WA
  • Provokasi politik
  • Penghinaan profesi
  • Mengemis pekerjaan dengan merendahkan diri

Maksiat lisan hari ini lebih cepat, lebih luas, dan lebih berbahaya.


HIKMAH

  • Lisan mencerminkan hati.
  • Orang yang menjaga lisannya, Allah jaga hidupnya.
  • Diam itu ibadah.
  • Setiap kata adalah doa atau senjata.

MUHASABAH & CARANYA

  1. Hitung dosa-dosa lisan sebelum tidur.
  2. Kurangi bicara yang tidak perlu.
  3. Perbanyak istighfar dan shalawat.
  4. Jangan bicara ketika marah.
  5. Tahan komentar di media sosial.
  6. Jika salah, segera minta maaf.

DOA

“Allahumma ihfad lisani min kulli ma la yardhika. Wa ja‘al kalami dzikran wa syukran wa husna khuluq.”
(Ya Allah, jagalah lisanku dari hal yang tidak Engkau ridai. Jadikan ucapanku dzikir, syukur, dan akhlak yang baik.)


NASEHAT PARA ULAMA & SUFI

Hasan al-Bashri

“Berhati-hatilah dengan lisan. Ia lebih cepat menusuk daripada pedang.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Lisan yang dipenuhi cinta Allah tidak akan digunakan untuk melukai.”

Abu Yazid al-Bistami

“Barangsiapa mengenal Allah, lisannya semakin sedikit.”

Junaid al-Baghdadi

“Kemuliaan seseorang tampak dari keheningan lisannya.”

Al-Hallaj

“Ucapkan hanya yang lahir dari cahaya hati, bukan dari gelap nafsu.”

Imam al-Ghazali

“Lisan adalah cermin hati. Jika hati rusak, ucapan pun rusak.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Awasi ucapanmu, karena ia bisa menjadi hijab antara engkau dan Allah.”

Jalaluddin Rumi

“Bicaralah hanya ketika kata-katamu lebih indah daripada diam.”

Ibnu ‘Arabi

“Lisan adalah penjaga rahasia ruh. Gunakan hanya untuk kebenaran.”

Ahmad al-Tijani

“Hati yang bersih akan menolak ucapan kotor.”


TESTIMONI TOKOH NUSANTARA

Gus Baha’

“Kesalehan lisan itu sulit. Yang penting, jangan merasa paling benar. Belajarlah diam.”

Ustadz Adi Hidayat

“Setiap kata akan diminta pertanggungjawaban. Maka perbanyaklah kata yang bernilai amal.”

Buya Yahya

“Jaga lisan, karena satu ucapan dapat merusak hubungan bertahun-tahun.”

Ustadz Abdul Somad

“Hati-hati dengan lisan di media sosial. Malaikat tidak pernah offline.”

Buya Arrazy Hasyim

“Ulama besar pun takut lisannya. Karena ia bisa menjatuhkan manusia ke jurang kehinaan.”


DAFTAR PUSTAKA SINGKAT

  • Shahih Bukhari & Muslim
  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Tafsir al-Qurthubi
  • Ihya’ Ulumuddin — Al-Ghazali
  • Al-Futuhat al-Makkiyah — Ibnu ‘Arabi
  • Lathaif al-Minan — Ibn ‘Athailah
  • Qawaid al-Tashawwuf — Junaid al-Baghdadi
  • Al-Ghunyah — Abdul Qadir al-Jailani
  • Kitab Zuhud — Hasan al-Bashri
  • Majmu’ Fatawa untuk masalah talak & dihar

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada para pembaca yang terus mendukung dakwah bil-qalam. Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah bagi siapa pun yang membacanya dan mengamalkannya.


Maksiat Lisan: Dosa yang Bikin Ancemen Gara-Gara Mulut


Penulis: M. Djoko Ekasanu


Versi Santai & Gaul (Tapi Tetap Sopan)


Apa sih maksiat lisan? Gampangnya, tuh, dosa-dosa yang keluar dari mulut kita. Ini bukan cuma soal ngomong kasar, loh. Yang termasuk level atas banget adalah:


1. Ngedusta ke Allah & Rasul-Nya. Ngeri banget, kan? Ini kayak ngaku-ngaku dapat mimpi palsu atau bikin hadits bo'ongan.

2. Ngaku-ngaku nggak jelas / Fitnah. Misal, nuduh orang tanpa bukti, nyebar gosip, atau sumpah palsu. Bikin rusak hubungan.

3. Cerai "Bid'ah". Ini tuh ceraiin istri pas lagi masa haid. Nggak etis banget dan bikin runyam urusan rumah tangga.

4. Dihar. Pernah denger orang bilang ke istrinya, "Kamu buat aku kayak punggung ibuku"? Nah, itu namanya dihar. Dosanya gede banget dan ada kafarat-nya (tebusannya), yaitu: merdekaan budak (kalau jaman dulu), atau puasa 2 bulan nonstop, atau bagi makan ke 60 orang miskin. Berat kan?

5. Baca Al-Qur'an Sengaja Salah (Lahn). Sekalipun artinya nggak berubah, sengaja baca salah itu tanda nggak ngormatin kitab suci.

6. Mengemis ke Orang Tajir. Minta-minta padahal sebenarnya mampu. Ini kayak nyuri harga diri sendiri.


Kenapa Sih Dulu di Zaman Nabi Banyak yang Kena Gara-Gara Mulut?


Jaman dulu di Arab, mulut tuh senjata. Bisa buat pujian, tapi lebih sering buat nyebar fitnah, sumpah serapah, ngutuk, talak sembarangan, dan omongan yang bikin keluarga hancur. Mereka jago banget ngomong, tapi sering kelewatan batas. Media sosialnya ya dari mulut ke mulut. Cepet banget nyebarnya!


Penyebab Utamanya:


· Nggak jaga mulut. Asal ceplas-ceplos.

· Kebiasaan lama jaman jahiliyah suka bersumpah palsu dan nyela.

· Kurang paham hukum agama soal talak dan kafarat.

· Emosi & amarah yang meledak jadi kata-kata.

· Hati dan akhlak lagi nggak terkontrol.


Intisari Judul: "Lisan tuh kecil bentuknya,tapi tanggung jawabnya gede banget. Bisa angkat ke surga, bisa jugain ke neraka."


Tujuannya Buat Apa? Biar kita semua,generasi now, makin aware sama apa yang kita omongin. Baik di dunia nyata maupun di dunia digital (medsos, chat, dll). Jangan sampai kita ngeremehin dosa dari mulut.


Dalil-Dalilnya (Ayat & Hadits, Artinya Tetap Pakai Bahasa Formal Ya):


· QS. Qaf: 18: "Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya, melainkan dicatat oleh malaikat pengawas." (Bayangin, tiap ucapan kita direkam!)

· QS. Al-Ahzab: 70: "Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar."

· HR. Bukhari: "Barang siapa yang menjamin untukku apa yang ada di antara dua jenggotnya (lisan) dan dua pahanya, maka aku jamin baginya surga." (Jaga lisan & kemaluan = tiket surga!)

· HR. Tirmidzi (soal mengemis): "Barangsiapa meminta-minta padahal ia mampu, maka ia akan datang pada hari kiamat dengan wajah tanpa sepotong daging pun." (Ngeri kan visualnya?)


Nah, Sekarang Kita Bahas Satu-Satu:


1. Berdusta ke Allah & Rasul: Ini puncaknya. Dosanya gila-gilaan. Hukumannya dari dunia (gelap kubur) sampai akhirat (wajah item, Allah nggak mau pandang).

2. Fitnah & Pengakuan Palsu: Bisa bikin azab kubur dan termasuk dosa besar kalau sampai nuduh zina.

3. Cerai Saat Haid: Dosa besar. Rumah tangganya kehilangan berkah.

4. Dihar: Udah dijelasin, dosa berat plus ada kafaratnya yang nggak main-main.

5. Baca Qur'an Salah Sengaja: Nggak boleh diremehin. Harus belajar dan baca dengan benar.

6. Mengemis Padahal Mampu: Ngerusak harga diri dan masa depan.


Konsekuensinya di Setiap Fase:


· Di Dunia: Hilang kepercayaan, hidup nggak tenang, hubungan rusak.

· Di Alam Kubur: Disempitin, dicambuk malaikat gara-gara omongan.

· Hari Kiamat: Semua ucapan kita bakal diputer ulang. Malu banget pastinya.

· Akhirat: Bisa jadi, satu kata aja yang menjerumusin ke neraka.


Relevansi di Era Digital Sekarang:


Zaman now, maksiat lisan nggak cuma lewat mulut, tapi lewat:


· Klik & Ketik: Komentar jahat, status nyindir, broadcast fitnah, hoaks.

· Di Jalan: Marah-marah pas macet, ngatain pengendara lain.

· Di Grup WA: Gosip nggak jelas, provokasi politik.

· Buat Cari Kerja: Mengemis pekerjaan dengan merendahin diri.


Intinya, maksiat lisan sekarang lebih cepet nyebar, jangkauannya luas, dan dampaknya lebih bahaya!


Tips & Muhasabah:


· Sebelum tidur, coba inget-inget, hari ini ngomong apa aja yang nggak bener?

· Kurangi bacot yang nggak penting. Diam itu emang kadang lebih baik.

· Kalo lagi emosi, pause dulu. Jangan langsung nge-gas di medsos atau chat.

· Perbanyak istighfar dan shalawat. Bisa nge-netralin energi negatif.

· Kalo sadar salah, langsung minta maaf. Jangan gengsi.


Doa Singkat Biar Lancar Jaga Mulut: "Allahumma ihfadz lisani min kulli ma la yardhika.Wa ja‘al kalami dzikran wa syukran wa husna khuluq." (Ya Allah, jagalah mulutku dari segala yang nggak Kau suka. Jadikan ucapanku sebagai dzikir, syukur, dan akhlak yang baik.)


Kata-Kata Bijak Para Legenda:


· Hasan al-Bashri: "Hati-hati sama lisan. Dia lebih cepet nusuk daripada pedang."

· Imam Al-Ghazali: "Lisan tuh cermin hati. Kalo hatinya berantakan, omongannya juga."

· Jalaluddin Rumi: "Ngomonglah cuma kalo kata-katamu lebih indah daripada diam."

· Gus Baha' (Nusantara): "Yang penting, jangan merasa paling bener. Belajarlah diam."

· UAS (Nusantara): "Hati-hati sama lisan di medsos. Malaikat pencatat amal itu nggak pernah offline."


Kesimpulan: Jaga mulut,jaga jari (buat ngetik). Semua yang kita ucapin dan tulis, bakal ditagih pertanggungjawabannya. Yuk, upgrade kualitas komunikasi kita biar jadi pahala, bukan beban.


Daftar Buku Rujukan (Singkat): Shahih Bukhari-Muslim, Ihya' Ulumuddin (Al-Ghazali), dll.


Terima kasih udah baca sampe sini! Semoga kita semua makin bijak ngomong dan ngetik. Aamiin.


---


Catatan: Redaksi di atas dibuat lebih santai, menggunakan kosakata gaul yang umum ("ancemen", "gegas", "pause", "bacot", dll) tetapi tetap menjaga kesopanan dan tidak menghilangkan esensi keagamaan. Istilah-istilah agama (seperti dihar, kafarat, lahn) tetap dipertahankan dengan penjelasan kontekstual. Arti ayat/hadis tidak diubah ke bahasa gaul untuk menjaga keotentikan.

859. Makna Ketuhanan yang Mutlak

 





📜 Makna Ketuhanan yang Mutlak

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 107 dalam Tafsir Al-Iklīl

Penulis: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Asli Tafsir Al-Iklīl

Dalam Tafsir al-Iklīl fī Ma‘ānī al-Tanzīl, karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, QS. Al-Baqarah: 107 ditegaskan sebagai ayat tentang kekuasaan mutlak Allah, bahwa tidak ada satu pun wali, penolong, pengatur urusan, pengubah takdir, ataupun pemberi manfaat dan mudarat selain Allah. Manusia sering terseret kebiasaan menggantungkan hati kepada sebab-sebab duniawi, padahal semua sebab tunduk di bawah Mashī’ah (kehendak) Allah.


Ayat 107

أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّۢ وَلَا نَصِيرٍۢ
“Tidakkah engkau tahu bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi? Dan tidak ada bagimu selain Allah seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong.”


LATAR BELAKANG MASALAH DI ZAMAN TURUNNYA AYAT

Pada masa awal Islam di Madinah, sebagian kaum Muslim masih dipengaruhi tradisi Jahiliyah yang menganggap bahwa:

  • Bila dibantu kaum Yahudi atau Nasrani, mereka akan lebih kuat.
  • Bila mengikuti adat, raja, atau tokoh tertentu, segala bahaya akan hilang.
  • Ada anggapan bahwa Nabi SAW bisa mengubah ketetapan Allah hanya karena dihormati oleh manusia.

Ayat ini turun untuk membasmi sisa keyakinan bahwa ada kekuatan lain selain Allah yang bisa menolong secara mutlak.


SEBAB TERJADINYA MASALAH

  1. Kecenderungan manusia bergantung pada sebab, bukan pada Musabbib (Allah).
  2. Pengaruh budaya Yahudi–Nasrani yang merasa diri “umat pilihan” sehingga merasa punya perlindungan khusus.
  3. Keinginan sebagian Muslim agar Nabi SAW mengubah hukum demi memudahkan mereka.

Ayat ini datang sebagai teguran keras: Segala kerajaan, aturan, ketetapan, kehidupan, kematian, sebab, manfaat, mudarat — semuanya di tangan Allah.


INTISARI JUDUL

“Ketuhanan Mutlak dan Kebergantungan Total Manusia kepada Allah”


TUJUAN & MANFAAT

  1. Mengembalikan tauhid kepada posisi yang murni.
  2. Menumbuhkan keyakinan bahwa semua urusan ada dalam takdir Allah.
  3. Membersihkan hati dari ketergantungan pada makhluk, harta, jabatan, teknologi, dan kekuatan duniawi.
  4. Memperkuat mental saat menghadapi kesulitan, tanpa putus asa.
  5. Menjadi peringatan bahwa menyaingi kehendak Allah adalah kesombongan besar.

DALIL-DALIL PENDUKUNG

Al-Qur’an

  1. QS. Ali Imran 26
    “Engkau beri kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut dari siapa yang Engkau kehendaki.”
  2. QS. Yunus 107
    “Jika Allah menimpakan mudarat, tidak ada yang dapat menghapusnya kecuali Dia.”

Hadis Nabi SAW

  1. “Ketahuilah, seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu kecuali apa yang telah Allah tetapkan.” (HR. Tirmidzi)
  2. “Mintalah kepada Allah dan mohonlah pertolongan kepada-Nya.” (HR. Ahmad)

ANALISIS & ARGUMENTASI

Ayat ini mengajarkan bahwa:

1. Allah adalah Penguasa Mutlak

Ilmu, teknologi, kerajaan, dan kekuatan apa pun hanyalah titipan. Tanpa izin Allah, semuanya tak berfungsi.

2. Manusia sering lupa diri

Semakin maju zaman, semakin besar kesombongan manusia seakan-akan ia bisa menguasai segalanya.

3. Ketergantungan pada makhluk menyebabkan kegelisahan

Karena makhluk selalu berubah—kekuatan Allah tidak berubah.

4. Tauhid adalah pondasi mental modern

Semua kesulitan akan ringan bila hati sudah yakin bahwa pengatur kehidupan hanya Allah.


KEUTAMAAN DAN HUKUMAN

1. Di Dunia

Keutamaan:

  • Hati tenang dan tidak mudah stres.
  • Rezeki datang dari arah yang tidak disangka.
  • Dijaga dari kezaliman manusia.

Hukuman bagi yang ingkar:

  • Hidup penuh kecemasan.
  • Bergantung kepada makhluk dan selalu kecewa.
  • Hatinya gelap dan jauh dari keberkahan.

2. Di Alam Kubur

  • Orang yang bertauhid teguh akan diberi cahaya.
  • Yang mengandalkan makhluk akan gelisah dan merasa sendirian.

3. Di Hari Kiamat

  • Orang yang yakin kepada Allah saja akan dinaungi Arsy.
  • Orang yang sombong terhadap takdir akan dibangkitkan dengan wajah gelap.

4. Di Akhirat

  • Tauhid murni adalah tiket utama menuju surga.
  • Pengingkar ketetapan Allah akan mendapat penyesalan tiada akhir.

RELEVANSI DENGAN ZAMAN MODERN

1. Teknologi

Walaupun teknologi AI, robotik, dan digital sangat canggih,
semua itu hanyalah alat, bukan penolong mutlak.
Kesalahan sistem menunjukkan keterbatasannya.

2. Komunikasi

Komunikasi global mempercepat informasi,
tetapi Allah-lah yang mempertemukan dan memisahkan hati manusia.

3. Transportasi

Kereta cepat, jet, mobil listrik—tetap saja tidak bisa mencegah maut jika Allah telah menentukan.

4. Kesehatan & Kedokteran

Obat, operasi, dokter spesialis hanya sebab.
Kesembuhan tetap dari Allah.

5. Kehidupan Sosial

Manusia kini mudah terpengaruh opini dan popularitas.
Ayat ini mengingatkan:
Karena yang mengatur kemuliaan dan kehinaan hanyalah Allah.


HIKMAH

  • Bergantunglah hanya pada Allah, bukan pada sebab.
  • Ikhtiar itu wajib, tetapi hati harus sepenuhnya kepada Allah.
  • Semakin kuat iman, semakin rendah kecemasan.
  • Allah yang memegang kerajaan tak akan pernah mengecewakan hamba-Nya.

MUHASABAH

“Siapa yang selama ini menjadi tempat hatiku bergantung? Allah atau sebab?”

Cara muhasabah:

  1. Bangun malam minimal dua rakaat.
  2. Catat dalam hati: “Siapa sumber kekuatanku?”
  3. Berlatih melepas ketergantungan pada makhluk dalam hal rezeki, pujian, dan perlindungan.
  4. Perbanyak istighfar, agar hati lembut menerima takdir.

DOA

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, cukupkan aku dengan yang halal dari yang haram, dan kayakan aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu.”


NASEHAT PARA SUFI BESAR

Hasan al-Bashri

“Jangan gantungkan hatimu kepada makhluk, karena mereka tidak memiliki apa pun.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Cinta kepada Allah meniadakan takut kepada selain-Nya.”

Abu Yazid al-Bistami

“Barangsiapa mengenal Allah, maka sirnalah ketakutannya terhadap dunia.”

Junaid al-Baghdadi

“Tawakal adalah melepaskan diri dari kekuatan diri.”

Al-Hallaj

“Tidak ada yang wujud kecuali kehendak Allah.”

Imam al-Ghazali

“Bila engkau bersandar kepada sebab, engkau akan roboh bersama sebab itu.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Jadilah milik Allah sepenuhnya, maka Allah akan mencukupimu sepenuhnya.”

Jalaluddin Rumi

“Sebab hanya bayangan; Pengatur bayangan itu adalah Allah.”

Ibnu ‘Arabi

“Segala sesuatu adalah manifestasi kehendak-Nya.”

Syekh Ahmad al-Tijani

“Tidak ada penolong selain Allah, maka jangan meminta selain kepada-Nya.”


TESTIMONI ULAMA NUSANTARA

Gus Baha’

“Tauhid itu membuat orang tidak rewel. Karena dia tahu yang bekerja itu Allah.”

Ustadz Adi Hidayat

“Al-Baqarah 107 adalah ayat untuk meruntuhkan syirik kecil yang sering tersembunyi.”

Buya Yahya

“Jangan berharap kepada makhluk. Mereka tidak punya apa-apa.”

Ustadz Abdul Somad

“Ketika hati bersandar kepada Allah, hidup menjadi ringan.”

Buya Arrazy Hasyim

“Tauhid adalah obat kegelisahan modern.”


DAFTAR PUSTAKA

  • Tafsir al-Iklīl fī Ma‘ānī al-Tanzīl – Jalaluddin as-Suyuthi
  • Tafsir al-Baghawi
  • Tafsir Ibn Katsir
  • Tafsir Jalalayn
  • Ihya' Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  • Futuh al-Ghaib – Abdul Qadir al-Jailani
  • Syarh Hikam Ibn ‘Athaillah
  • Hadis-hadis: HR. Tirmidzi, Ahmad, Bukhari, Muslim.

UCAPAN TERIMA KASIH

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca yang terus mendukung penerbitan bacaan keislaman yang jernih, seimbang, dan bermanfaat. Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah bagi penulis dan pembaca.


CATATAN REDAKSI

Jika ada kisah dalam redaksi ini termasuk kategori Isrāiliyyāt (cerita dari tradisi Yahudi–Nasrani yang masuk ke literatur Islam), maka kisah tersebut disajikan hanya sebagai bahan renungan, bukan dalil akidah atau syariat.


📜 MAKNA KETUHANAN YANG MUTLAK


Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 107 dalam Tafsir Al-Iklīl


Penulis: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Asli Tafsir Al-Iklīl


Dalam Tafsir al-Iklīl fī Ma‘ānī al-Tanzīl karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi, QS. Al-Baqarah: 107 tuh bener-bener ngegasin soal kekuasaan mutlak Allah. Intinya, nggak ada deh yang bisa jadi wali, penolong, pengatur, pengubah takdir, atau pemberi manfaat dan mudarat selain Allah. Kita sering banget kejebak kebiasaan ngegantungin hati sama hal-hal duniawi, padahal semua 'sebab' itu tunduk banget sama Mashī’ah (kehendak) Allah.


Ayat 107


أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۗ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّۢ وَلَا نَصِيرٍۢ “Tidakkah engkau tahu bahwa Allah memiliki kerajaan langit dan bumi?Dan tidak ada bagimu selain Allah seorang pelindung pun dan tidak (pula) seorang penolong.”


LATAR BELAKANG PAS TURUNNYA AYAT INI


Pas awal Islam di Madinah, masih ada lho kaum Muslim yang kena pengaruh gaya Jahiliyah. Mereka mikir:


· Kalau dibantu Yahudi/Nasrani, mereka bakal lebih kuat.

· Kalau ikutin adat, raja, atau tokoh tertentu, bahaya bakal ilang.

· Ada yang ngira Nabi SAW bisa ngubah ketetapan Allah cuma karena dihormatin orang.


Nah, ayat ini turun buat ngebersihin sisa-sisa keyakinan bahwa ada kekuatan lain selain Allah yang bisa nolong secara mutlak.


KENAPA BISA ADA MASALAH KAYA GITU?


· Manusia emang suka banget bergantung sama 'sebab' yang kelihatan, bukan sama Sang Pencipta Sebab (Allah).

· Pengaruh budaya Yahudi-Nasrani yang nganggap diri mereka "umat pilihan" jadi punya perlindungan spesial.

· Ada sebagian Muslim yang pengen Nabi SAW ngubah-ngubah hukum biar lebih gampang buat mereka.


Ayat ini datang sebagai teguran yang super tegas: Semua kerajaan, aturan, ketetapan, hidup, mati, sebab, manfaat, mudarat — semuanya di tangan Allah.


INTISARI JUDUL: “Ketuhanan Mutlak dan Kebergantungan Total Manusia kepada Allah”


TUJUAN & MANFAATNYA BUAT KITA:


· Balikin tauhid ke posisi yang pure banget.

· Numbuhin keyakinan bahwa semua urusan ada dalam takdir Allah.

· Bersihin hati dari ketergantungan berlebihan sama makhluk, harta, jabatan, teknologi, dll.

· Ngebuat mental kita kuat pas lagi susah, tanpa gampang putus asa.

· Jadi pengingat bahwa ngebandingin atau ngalahin kehendak Allah itu kesombongan level dewa.


DUKUNGAN DALIL-DALIL: Al-Qur'an:


· QS. Ali Imran 26: "Engkau beri kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut dari siapa yang Engkau kehendaki."

· QS. Yunus 107: "Jika Allah menimpakan mudarat, tidak ada yang dapat menghapusnya kecuali Dia."


Hadis Nabi SAW:


· "Ketahuilah, seandainya seluruh manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu kecuali apa yang telah Allah tetapkan." (HR. Tirmidzi)

· "Mintalah kepada Allah dan mohonlah pertolongan kepada-Nya." (HR. Ahmad)


ANALISIS & ARGUMENTASI: Ayat ini ngajarin kita bahwa:


1. Allah itu Penguasa Mutlak. Ilmu, teknologi, kerajaan, semua cuma titipan. Tanpa izin Allah, ya gabisa apa-apa.

2. Manusia suka lupa diri. Makin canggih zaman, makin besar sombongnya, kayak kita bisa ngontrol segalanya.

3. Ngegantungin diri sama makhluk bikin gelisah. Soalnya makhluk itu berubah-ubah, sedangkan kekuatan Allah nggak pernah berubah.

4. Tauhid itu pondasi mental di era modern. Semua masalah terasa lebih ringan kalau hati udah yakin betul yang ngatur hidup cuma Allah.


RELEVANSI DI ZAMAN NOW:


1. Teknologi: AI, robot, digital secanggih apa pun, tetep aja cuma alat. Bukan penolong mutlak. Error system aja nunjukin batasnya.

2. Komunikasi: Medsad bikin info cepat banget, tapi Allah-lah yang nemuinin dan misahin hati manusia.

3. Transportasi: Kereta cepat, jet, mobil listrik — tetep gabisa cegah ajal kalau Allah udah nentuin.

4. Kesehatan: Obat, operasi, dokter spesialis itu cuma perantara. Kesembuhan tetap dari Allah.

5. Kehidupan Sosial: Gampang banget terpengaruh opini dan popularitas. Ayat ini ngingetin: Yang ngatur mulia dan hinanya cuma Allah.


HIKMAH YANG BISA KITA AMBIL:


· Bergantunglah cuma sama Allah, bukan sama 'sebab'-nya.

· Ikhtiar itu wajib, tapi hati harus full nyerah sama Allah.

· Makin kuat iman, makin rendah level kecemasan.

· Allah yang pegang kendali, nggak akan pernah ngecewain hamba-Nya.


MUHASABAH BUAT DIRI SENDIRI: “Selama ini,siapa sih yang jadi tempat gantunganku? Allah atau hal lain?”


Cara praktisnya:


1. Coba bangun malam, sholat minimal 2 rakaat.

2. Tanya dalam hati: "Sumber kekuatanku darimana sih sebenernya?"

3. Latihan melepas ketergantungan berlebihan sama makhluk, baik dalam hal rezeki, pujian, atau perlindungan.

4. Perbanyak istighfar, biar hati lembut dan nerima takdir.


DOA YANG BISA DIPANJATKIN:


اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ “Ya Allah,cukupkan aku dengan yang halal dari yang haram, dan kayakan aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu.”


QUOTES PARA SUFI & ULAMA:


· Hasan al-Bashri: “Jangan gantungkan hatimu kepada makhluk, karena mereka tidak memiliki apa pun.”

· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Cinta kepada Allah meniadakan takut kepada selain-Nya.”

· Imam al-Ghazali: “Bila engkau bersandar kepada sebab, engkau akan roboh bersama sebab itu.”

· Jalaluddin Rumi: “Sebab hanya bayangan; Pengatur bayangan itu adalah Allah.”


TESTIMONI ULAMA NUSANTARA:


· Gus Baha’: “Tauhid itu membuat orang tidak rewel. Karena dia tahu yang bekerja itu Allah.”

· Ustadz Adi Hidayat: “Al-Baqarah 107 adalah ayat untuk meruntuhkan syirik kecil yang sering tersembunyi.”

· Buya Yahya: “Jangan berharap kepada makhluk. Mereka tidak punya apa-apa.”


DAFTAR PUSTAKA (Tetap Keren): Tafsir al-Iklīl, Tafsir Ibn Katsir, Tafsir Jalalayn, Ihya' Ulumiddin – Imam al-Ghazali,dan berbagai hadis shahih.


UCAPAN TERIMA KASIH Redaksi ngucapin terima kasih banyak buat semua pembaca yang selalu dukung bacaan keislaman yang jernih dan bermanfaat.Semoga tulisan ini jadi amal jariyah buat kita semua.


CATATAN REDAKSI Kalo ada cerita dalam redaksi ini yang termasuk kategoriIsrāiliyyāt (cerita dari tradisi Yahudi–Nasrani), itu cuma buat bahan renungan aja ya, bukan buat dijadin dalil akidah atau syariat.


---


Stay faithful, keep your tauhid strong! ✨🙏