Pakaian Kesalehan, Perbuatan Keburukan
Ketika Penampilan Mengalahkan Hati
Oleh: M. Djoko Ekasanu
Hamba yang paling dibenci Allah ialah orang yang bajunya lebih baik daripada perbuatannya, yaitu bajunya seperti baju para nabi, sedangkan perbuatannya adalah perbuatan para penguasa yang sewenang-wenang. (Hadits riwayat Ad-Dailami dari Aisyah).
Suatu hari Umar r.a. melihat seorang lelaki memakai pakaian sangat kusut, berjalan pelan, dan dibuat-buat seolah-olah ahli ibadah.
Umar berkata: "Angkat kepalamu! Sesungguhnya kerendahan hati itu ada di dalam hati, bukan pada pakaianmu."
Ternyata lelaki itu sengaja memperlihatkan pakaian compang-camping agar dipuji "ahli zuhud".
Ini contoh: pakaian tampak seperti orang saleh, tapi hati dan perbuatan tidak demikian.
Ringkasan Redaksi Asli Hadis
Hadis yang diriwayatkan Ad-Dailami dari Aisyah r.a.:
“Hamba yang paling dibenci Allah ialah orang yang bajunya lebih baik daripada perbuatannya. Ia memakai pakaian seperti pakaian para nabi, tetapi perbuatannya seperti perbuatan penguasa yang zalim.”
Dilengkapi kisah Umar bin Khattab r.a. yang melihat seorang lelaki berpakaian sangat kusut seolah-olah ahli ibadah, lalu Umar berkata:
“Angkat kepalamu! Kerendahan hati itu di hati, bukan pada pakaianmu.”
(Lihat: Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim; Al-Zuhd, Ibn al-Mubarak)
Latar Belakang Masalah pada Zamannya
Pada masa Rasulullah dan para sahabat:
- Ada kelompok yang berusaha menampilkan diri sebagai ahli ibadah melalui pakaian compang-camping.
- Mereka ingin mencari pujian sebagai zuhhad (orang zuhud).
- Padahal Rasulullah mendidik umat agar zuhud ada dalam hati, bukan pada simbol.
Fenomena ini muncul kembali pada masa Umar r.a., karena sebagian orang meniru penampilan orang saleh, tetapi akhlaknya tidak mengikuti.
Sebab Terjadinya Masalah
- Cinta kemasyhuran – ingin dipuji sebagai saleh.
- Tidak memahami hakikat ibadah – mengira pakaian lusuh menandakan ketakwaan.
- Penyakit riya' dan sum’ah – ibadah demi manusia.
- Ketidakseimbangan antara zahir dan batin.
- Menganggap simbol agama lebih utama daripada akhlak.
Intisari Judul
Pakaian saleh tidak menjamin kesucian hati.
Yang Allah nilai adalah amal, bukan tampilan.
Tujuan Penulisan
- Mengingatkan umat agar tidak terjebak kesalehan artifisial.
- Meluruskan akhlak di era teknologi yang memudahkan pencitraan.
- Mengajak kembali pada ketulusan dan keikhlasan.
- Menyajikan pandangan ulama besar lintas generasi.
Manfaat
- Membimbing masyarakat agar tidak tertipu penampilan.
- Memperkuat konsep muhasabah hati.
- Menjadi bekal orang tua, guru, santri dan tokoh masyarakat dalam membina umat.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
1. Al-Qur’an
QS. Al-Hujurat: 11–12
Allah mengecam orang yang berdusta, riya’, dan merendahkan orang lain.
QS. Al-Baqarah: 264
“Janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan riya’.”
QS. Al-Syu‘ara: 88–89
“Hari ketika harta dan anak tidak berguna, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
2. Hadis Nabi
-
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim) -
“Barangsiapa memamerkan amalnya, Allah akan memamerkan keburukannya.”
(HR. Muslim)
Analisis dan Argumentasi
-
Penyakit riya’ adalah syirik kecil:
Riya’ memindahkan tujuan ibadah dari Allah kepada makhluk. -
Pakaian tidak menunjukkan hakikat diri:
Banyak orang berpakaian sederhana namun sombong, dan banyak yang rapi namun berhati mulia. -
Zuhud bukan pakaian, tetapi:
- tidak diperbudak dunia
- tidak sombong
- tidak mengejar pujian manusia
-
Pada masa kini, bahaya pencitraan semakin besar:
- Media sosial memudahkan orang menampilkan kesalehan palsu.
- Banyak yang melakukan kebaikan demi konten.
- Penampilan bisa direkayasa; hati tidak bisa.
-
Teknologi tidak salah; manusianya yang diuji.
Keutamaan
Bila seseorang tulus dan tidak riya’:
- Di dunia: hatinya tenang, hidupnya diberkahi.
- Di kubur: dijaga malaikat, kuburnya dilapangkan.
- Di kiamat: wajah bersinar karena ikhlas.
- Di akhirat: mendapat derajat mukhlishin (orang ikhlas).
Hukuman bagi Riya’ dan Kesalehan Palsu
1. Di dunia
- Hatinya gelisah.
- Tidak pernah merasa cukup.
- Dipermalukan Allah (aib terbuka).
2. Di alam kubur
- Dipukul malaikat karena amalnya palsu.
- Gelap dan sempit (HR. Ibn Hibban tentang pelaku riya’).
3. Di hari kiamat
- Orang riya’ menjadi orang pertama yang diseret ke neraka.
(HR. Muslim: kisah tiga golongan yang pertama kali dibakar api neraka)
4. Di akhirat
- Amal tidak diterima, meski sangat banyak.
- Termasuk orang yang paling rugi amalnya.
Relevansi dengan Teknologi dan Kehidupan Modern
1. Teknologi & Media Sosial
- Membuat “kesalehan palsu” sangat mudah.
- Orang bisa memakai filter “alim”, foto kajian namun tidak mengamalkan.
- Amal dipamerkan untuk like dan komentar.
2. Transportasi dan Mobilitas
- Orang bisa berpindah banyak majelis, tetapi ilmunya tidak diamalkan.
3. Kedokteran
- Allah memberi kesehatan dan usia—tetapi jika digunakan untuk pencitraan, maka itu menjadi bumerang.
4. Kehidupan Sosial
- Banyak simbol-simbol kesalehan digunakan sebagai alat bisnis dan politik.
Hikmah
- Kesalehan yang sejati tidak membutuhkan kamera.
- Allah menilai hati, bukan tampilan.
- Setiap orang bisa terlihat alim, tetapi tidak semua bisa tulus.
- Pakaian hanyalah bungkus; isi adalah hati.
Muhasabah dan Caranya
-
Tanyakan setiap hari:
“Untuk siapa aku melakukan ini?” -
Kunci muhasabah:
- Jujur pada diri sendiri
- Tidak membandingkan diri dengan orang lain
- Memperbaiki niat saat hendak berbuat baik
-
Buat jurnal amalan harian: niat – pelaksanaan – hasil.
-
Bacalah doa sebelum beramal:
“Ya Allah, ikhlaskanlah niatku.”
Doa
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ رِيَاءِ الْمُنَافِقِينَ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا خَالِصًا لَكَ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari riya’nya orang munafik, dan aku memohon hati yang tulus untuk-Mu.”
Nasehat Ulama Besar
1. Hasan al-Bashri
“Riya’ itu penyakit yang tidak dirasakan kecuali oleh orang-orang yang hatinya hidup.”
2. Rabi‘ah al-Adawiyah
“Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka, tetapi karena Engkau layak disembah.”
3. Abu Yazid al-Bistami
“Hancurkan dirimu, niscaya Allah membangunkanmu.”
4. Junaid al-Baghdadi
“Tasawuf adalah akhlak; siapa akhlaknya lebih baik, dialah sufi.”
5. Al-Hallaj
“Yang terlihat adalah pakaianmu; yang Allah lihat adalah hatimu.”
6. Imam al-Ghazali
“Riya’ adalah pencuri amal.”
7. Syekh Abdul Qadir al-Jailani
“Jadilah orang yang tersembunyi; Allah yang menampakkanmu bila engkau pantas.”
8. Jalaluddin Rumi
“Yang penting bukan jubahmu, tetapi cahaya di dalam dadamu.”
9. Ibnu ‘Arabi
“Hakikat manusia adalah hatinya, bukan rupanya.”
10. Ahmad al-Tijani
“Amal sedikit yang ikhlas lebih berat daripada amal besar yang riya’.”
Testimoni Ulama Indonesia
Gus Baha’
“Yang penting itu hati. Gak usah pura-pura zuhud.”
Ustadz Adi Hidayat
“Amal tanpa ikhlas hanyalah aktivitas kosong.”
Buya Yahya
“Pakaian hanyalah syiar, tetapi akhlak adalah inti.”
Ustadz Abdul Somad
“Jangan jual tampilan agama.”
Buya Arrazy Hasyim
“Jangan terjebak kesalehan kosmetik.”
Daftar Pustaka Singkat
- Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim
- Al-Zuhd, Abdullah ibn al-Mubarak
- Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali
- Risalah al-Qushayriyyah
- Al-Futuhat al-Makkiyyah, Ibn ‘Arabi
- Diwan Rumi
- Jami’ al-‘Ulūm wal-Hikam, Ibn Rajab
- Shahih Muslim
Ucapan Terima Kasih
Redaksi mengucapkan terima kasih kepada semua guru dan pembaca yang terus menghidupkan semangat keilmuan, keikhlasan, dan tradisi ilmiah dalam kehidupan umat.
Catatan Redaksi
Jika ada kisah dalam artikel ini yang termasuk kategori Israiliyat, ia disajikan hanya sebagai bahan renungan, bukan landasan akidah.
Oke, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai tapi sopan untuk redaksi di atas:
Gaya Lu Luar Biasa, Tapi Hati Gimana?
Oleh: M. Djoko Ekasanu
Intro: Kita hidup di era pencitraan,nih. Banyak yang penampilan rohaninya di-upgrade sampai kayak bintang film, tapi amalannya masih versi beta. Padahal, menurut hadis, hamba yang paling dibenci Allah tuh yang bajunya lebih keren daripada perbuatannya. Kelihatan kayak para Nabi, eh, kelakuannya kayak penguasa zalim. Big oops!
Kasus Nyata: Dulu,Umar bin Khattab pernah nemuin orang yang pakaiannya sengaja dibuat kusut banget, jalannya pelan-pelan kayak di slow-mo, maksa banget mau kelihatan zuhud. Umar langsung kasih reality check: "Bro, angkat kepala lo! Kerendahan hati tuh letaknya di dalam hati, bukan di pakaian lo yang compang-camping itu." Nah, tuh orang cuma cari pujian doang. Classic example: tampilan kayak orang saleh, tapi hati dan akhlak nggak nyambung.
Akar Masalahnya:
· Cari popularitas: Pingin viral sebagai orang alim.
· Salah fokus: Ngerampun penampilan luar doang, batinnya diabaikan.
· Riya' & Sum'ah: Ibadah buat manusia, bukan buat Allah.
· Gak balance: Zahir oke, batin kosong.
Intinya: Pakaian religious nggak jadi jaminan hati kita bersih.Yang dinilai Allah tuh amal dan niat kita, bukan feed Instagram kita.
Tujuan Nulis Ini:
· Ngingetin biar nggak terjebak kesalehan yang cuma buat show-off.
· Meluruskan niat di zaman yang serba bisa di-edit ini.
· Ngajak balik ke konsep ketulusan dan keikhlasan yang beneran.
Dalil-Dalilnya (Tetap Pakai Bahasa Aslinya Ya):
Dari Al-Qur'an:
· QS. Al-Baqarah: 264 – "Janganlah kamu membatalkan sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)."
· QS. Al-Syu‘ara: 88–89 – "(Yaitu) hari yang harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih."
Dari Hadis Nabi:
· "Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim)
· "Barangsiapa memamerkan amalnya, Allah akan memamerkan keburukannya." (HR. Muslim)
Analisis & Relevansi Zaman Now:
· Riya' itu penyakit hati yang bikin tujuan ibadah kita melenceng dari Allah ke manusia.
· Tampilan nggak selalu nunjukin jati diri. Banyak yang gaya sederhana tapi sombong, banyak juga yang stylish tapi hatinya humble.
· Zuhud yang bener itu soal gak diperbudak dunia dan gak cari pujian, bukan soal pakaiannya.
· Di era media sosial, bahayanya makin gede! Gampang banget bikin konten "aku saleh" tanpa praktik. Amal jadi bahan content, niat jadi bahan likes. Tech is neutral, tapi kita yang diuji.
Akibat & Hikmahnya: Kalau ikhlas,hidup lebih tenang dan berkah. Kalau pura-pura, bisa jadi boomerang. Di akhirat nanti,amal yang riya' bakal ditolak mentah-mentah, rugi banget.
Tips Biar Nggak Pura-Pura:
1. Selalu tanya diri sendiri: "Aku ngelakuin ini buat siapa sih?"
2. Jujur sama diri sendiri, jangan bandingin diri sama orang lain.
3. Perbaiki niat sebelum mulai berbuat baik.
4. Baca doa ini: "Ya Allah, ikhlaskanlah niatku."
Kutipan Keren Para Senior (Ulama):
· Imam Al-Ghazali: "Riya' itu pencuri amal." (Nah, kan!)
· Jalaluddin Rumi: "Yang penting bukan jubahmu, tapi cahaya di dalam dadamu." (So poetic!)
· Gus Baha' (Ulama Indonesia): "Yang penting itu hati. Gak usah pura-pura zuhud." (Langsung ke inti!)
Penutup: Kesalehan sejati itu nggak butuh kamera atau filter.Allah liat hati kita, bukan highlight kita. Pakaian mah cuma cover, isinya tuh hati dan akhlak.
Jadi, yuk, keep it real! Fokus perbaiki yang dalam, biar yang luar nggak jadi topeng.
---
Artikel ini disusun dengan merujuk berbagai sumber terpercaya seperti Shahih Muslim, Ihya' Ulumiddin, dan lainnya. Kisah-kisah di dalamnya bisa jadi bahan renungan, ya!
