Untuk tema “CINTA”, saya susun dalam perspektif Tazkiyatun Nufūs dengan penekanan bahwa puncak cinta seorang hamba bukan sekadar perasaan, tetapi mahabbah kepada Allah yang melahirkan ketaatan, akhlak, kasih sayang kepada makhluk, dan pembebasan hati dari cinta yang memperbudak.
...........
❤️ CINTA
“MAHABBAH: KETIKA HATI MENCINTAI ALLAH, DUNIA TIDAK LAGI MENJADI TUHAN”
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Cinta adalah bahasa hati.
Tetapi tidak semua yang disebut cinta membawa seseorang kepada Allah.
Ada cinta yang mengangkat derajat.
Ada cinta yang memperbudak.
Ada cinta yang mendekatkan kepada Allah.
Ada pula cinta yang membuat manusia melupakan Allah.
Maka tugas Tazkiyatun Nufūs bukan mematikan cinta, tetapi membersihkan cinta.
1. INTISARI, MAKSUD DAN TUJUAN
A. INTISARI
Dalam bahasa tasawuf, cinta kepada Allah disebut:
الْمَحَبَّة — AL-MAḤABBAH
Mahabbah bukan sekadar mengatakan:
“Aku mencintai Allah.”
Tetapi cinta harus terlihat dalam kehidupan:
mencintai Allah → mencintai ketaatan
mencintai Rasulullah ﷺ → mengikuti sunnahnya
mencintai Al-Qur'an → membacanya dan mengamalkannya
mencintai manusia → menyayangi dan tidak menzaliminya
mencintai akhirat → tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama
B. MAKSUD
Maksud pembahasan ini adalah membersihkan hati dari cinta yang berlebihan kepada:
- harta,
- jabatan,
- popularitas,
- pujian,
- kekuasaan,
- penampilan,
- pengikut,
- pasangan,
- dan dunia.
Bukan berarti semua itu harus ditinggalkan.
Tetapi:
Jangan sampai sesuatu yang kita cintai menjadi sesuatu yang kita sembah secara tidak sadar.
C. TUJUAN
Tujuan Tazkiyatun Nufūs adalah mengubah:
cinta dunia → cinta akhirat
cinta pujian → cinta keikhlasan
cinta popularitas → cinta keberkahan
cinta karena kepentingan → cinta karena Allah
cinta kepada makhluk → menjadi jalan mencintai Sang Pencipta
2. AYAT AL-QUR'AN TENTANG CINTA
A. QS. Al-Baqarah: 165
Allah berfirman:
وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ
“Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya kepada Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 165)
Ini adalah ukuran pertama cinta seorang mukmin:
Seberapa besar Allah menempati hati kita?
B. QS. Ali 'Imran: 31
Allah berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu.”
(QS. Ali 'Imran: 31)
Ayat ini memberikan ukuran cinta yang sangat jelas:
Cinta kepada Allah harus melahirkan ittiba' kepada Rasulullah ﷺ.
Jadi cinta bukan hanya:
perasaan.
Cinta harus menjadi:
ketaatan.
C. QS. Al-Ma'idah: 54
Allah berfirman tentang orang-orang yang dicintai-Nya:
يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ
“Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.”
(QS. Al-Ma'idah: 54)
Perhatikan urutannya:
Allah mencintai mereka.
Mereka mencintai Allah.
Inilah hubungan paling agung:
HUBBULLAH
dan
MAḤABBATULLAH.
D. QS. Al-Fajr: 27–30
Allah berfirman:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلِي فِي عِبَادِي وَادْخُلِي جَنَّتِي
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
Inilah perjalanan cinta:
jiwa → kembali kepada Allah → ridha → diridhai → surga.
3. HADIS SHAHIH TENTANG CINTA
A. Cinta kepada Allah dan Rasul
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ada tiga perkara, siapa yang memilikinya akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya...”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Perhatikan kata:
مَحَبَّة — CINTA
Iman memiliki rasa.
Ada halāwatul īmān:
manisnya iman.
Dan salah satu sumbernya adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.
B. Cinta kepada Rasulullah ﷺ
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian sampai aku lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Cinta kepada Rasul bukan sekadar memperbanyak ucapan pujian.
Tetapi:
mengikuti akhlaknya,
mengikuti sunnahnya,
mencintai umatnya,
menjaga lisannya,
menyayangi sesama.
C. Hadis tentang orang-orang yang saling mencintai karena Allah
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di antara tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah pada hari ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya adalah:
“Dua orang yang saling mencintai karena Allah; mereka berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ini adalah cinta yang sangat tinggi:
tidak dibangun atas keuntungan.
Bukan:
“Aku mencintaimu karena kamu menguntungkan aku.”
Tetapi:
“Aku mencintaimu karena engkau membantuku semakin dekat kepada Allah.”
4. HADIS QUDSI TENTANG CINTA ALLAH
Dalam hadis qudsi, Allah Ta'ala berfirman bahwa apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah memanggil Jibril dan menyatakan cinta-Nya kepada hamba tersebut. Kemudian Jibril mencintainya, lalu kecintaan kepadanya diletakkan di bumi.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Betapa luar biasa.
Seorang manusia mungkin tidak terkenal di bumi.
Tetapi jika dia dicintai Allah:
namanya dikenal di langit.
Maka jangan terlalu sibuk bertanya:
“Berapa orang yang menyukaiku?”
Tanyakan:
“Apakah Allah mencintaiku?”
5. BAGAIMANA MENGETAHUI ALLAH MENCINTAI KITA?
Dalam hadis qudsi yang masyhur:
“Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya...”
Kemudian Allah menyebut bahwa Dia menjadi pendengaran, penglihatan, tangan dan kaki yang digunakan hamba tersebut dalam kebaikan.
(HR. Bukhari)
Maksudnya bukan Allah menjadi anggota tubuh secara harfiah.
Tetapi:
Allah membimbing anggota tubuhnya agar digunakan dalam kebaikan.
Maka tanda cinta Allah adalah:
hamba semakin dekat kepada ketaatan.
6. ANALISA TASAWUF: APAKAH CINTA ITU?
Dalam Tazkiyatun Nufūs, cinta bukan hanya:
“Aku merasa dekat dengan Allah.”
Tetapi:
“Aku rela melakukan apa yang Allah sukai meskipun hawa nafsuku tidak menyukainya.”
Itulah ujian cinta.
Mudah mengatakan:
“Aku cinta Allah.”
Tetapi ketika salat datang:
apakah kita meninggalkannya?
Ketika rezeki sempit:
apakah kita tetap halal?
Ketika dihina:
apakah kita mampu menjaga akhlak?
Ketika memiliki kesempatan berbuat maksiat:
apakah kita mampu berkata tidak?
Di situlah cinta diuji.
7. CINTA DAN NAFSU
Tidak semua cinta adalah mahabbah.
Ada:
HUBB
cinta yang membawa kepada Allah.
Ada pula:
HAWA
keinginan yang mengikuti dorongan nafsu.
Karena itu manusia harus belajar:
“Aku mencintai sesuatu, tetapi tidak berarti aku harus menuruti semua keinginanku terhadapnya.”
8. CINTA DUNIA
Islam tidak mengharamkan dunia.
Yang berbahaya adalah ketika:
dunia masuk ke tangan tetapi juga masuk ke hati.
Harta di tangan:
boleh.
Harta di hati:
berbahaya.
Jabatan di tangan:
boleh.
Jabatan menjadi identitas jiwa:
berbahaya.
Popularitas sebagai sarana dakwah:
boleh.
Popularitas menjadi tujuan hidup:
berbahaya.
9. CINTA DI ZAMAN VIRAL
Zaman sekarang mempunyai penyakit baru:
KECANDUAN VALIDASI.
Orang bertanya:
“Berapa like?”
“Berapa view?”
“Berapa komentar?”
“Berapa followers?”
Lalu hati merasa:
senang ketika dipuji,
hancur ketika dicela.
Ini tanda bahwa hati mulai bergantung kepada manusia.
Tazkiyatun Nufūs mengajarkan:
Jangan menjadikan jumlah like sebagai ukuran harga dirimu.
Karena:
like manusia berubah-ubah.
Sedangkan:
nilai di sisi Allah ditentukan oleh iman, keikhlasan dan amal.
10. CINTA DAN MEDIA SOSIAL
Sebelum membuat konten, tanyakan:
“Apakah ini bermanfaat?”
Sebelum mengomentari seseorang:
“Apakah ini lahir dari cinta atau kebencian?”
Sebelum menyebarkan berita:
“Apakah ini benar?”
Sebelum membuka aib seseorang:
“Kalau aibku dibuka seperti ini, apakah aku rela?”
Sebelum membuat konten agama:
“Apakah aku sedang berdakwah atau sedang membangun citra diri?”
11. CINTA YANG DEWASA
Cinta yang dewasa tidak berkata:
“Aku ingin memiliki kamu.”
Tetapi:
“Aku ingin kamu menjadi lebih baik.”
Cinta yang dewasa tidak berkata:
“Ikuti semua keinginanku.”
Tetapi:
“Mari kita sama-sama berjalan menuju Allah.”
Cinta yang dewasa tidak selalu memanjakan.
Kadang:
menasihati.
Kadang:
mengingatkan.
Kadang:
memaafkan.
Kadang:
memberi batas.
12. CINTA KEPADA PASANGAN
Pasangan bukan Tuhan.
Pasangan bukan tempat menggantungkan seluruh kebahagiaan.
Pasangan adalah:
amanah Allah.
Maka cintailah pasangan:
karena Allah.
Hormati:
karena Allah.
Maafkan:
karena Allah.
Bersabarlah:
karena Allah.
Jika cinta kepada pasangan membawa kita semakin dekat kepada Allah:
itulah cinta yang diberkahi.
13. CINTA KEPADA ORANG TUA
Cinta kepada orang tua bukan hanya:
memberi uang.
Tetapi juga:
menghormati,
mendengarkan,
mendoakan,
tidak menyakiti hati,
dan merawat ketika mereka membutuhkan.
Karena Allah menyandingkan perintah beribadah kepada-Nya dengan berbuat baik kepada orang tua dalam banyak ayat Al-Qur'an.
14. CINTA KEPADA SESAMA
Cinta dalam Islam tidak berhenti pada orang yang kita sukai.
Rasulullah ﷺ mengajarkan agar seorang mukmin mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.
(HR. Bukhari dan Muslim)
Maka:
jangan senang ketika orang lain jatuh.
jangan bahagia ketika orang lain dipermalukan.
jangan menyebarkan aib orang.
jangan iri ketika orang lain mendapatkan nikmat.
Tetapi:
Doakan kebaikan bagi mereka.
15. CINTA DAN MEMAAFKAN
Salah satu bentuk cinta yang tinggi adalah kemampuan memaafkan.
Bukan karena orang lain selalu benar.
Tetapi karena:
kita ingin hati kita bebas dari racun kebencian.
Memaafkan tidak selalu berarti membiarkan kezaliman berulang.
Memaafkan dapat berjalan bersama:
batas yang sehat,
keadilan,
ketegasan,
dan perlindungan diri.
16. NASEHAT HASAN AL-BASHRI رحمه الله
Hasan al-Bashri dikenal dengan nasihat yang kuat tentang zuhud, muraqabah dan kehidupan hati.
Intisari yang dapat kita ambil:
Cinta kepada Allah harus membuat manusia takut menyia-nyiakan umurnya.
Jika kita benar-benar mencintai Allah:
waktu akan dijaga.
lisan akan dijaga.
hati akan dijaga.
amal akan dijaga.
Karena orang yang mencintai Allah tidak rela menghabiskan hidupnya untuk sesuatu yang menjauhkannya dari Allah.
17. RABI'AH AL-'ADAWIYAH رحمه الله
Rabi'ah al-'Adawiyah merupakan simbol besar mahabbah ilahiyyah.
Salah satu doa yang masyhur dinisbatkan kepada beliau menggambarkan cinta kepada Allah yang tidak semata-mata didorong oleh takut neraka atau berharap surga.
Namun perlu dicatat:
beberapa versi doa dan syair Rabi'ah yang beredar memiliki perbedaan redaksi dan tidak semuanya dapat dipastikan sanadnya.
Inti spiritualnya sangat indah:
“Ya Allah, jangan jadikan cintaku kepada-Mu hanya karena pemberian-Mu. Jadikan aku mencintai-Mu karena Engkau memang layak dicintai.”
18. ABU YAZID AL-BISTAMI رحمه الله
Pelajaran penting dari jalan Abu Yazid:
cinta kepada Allah harus mengikis ego.
Selama manusia masih berkata:
“Aku paling hebat.”
“Aku paling benar.”
“Aku paling saleh.”
maka cinta kepada Allah masih bercampur dengan cinta kepada diri sendiri.
Maka:
Semakin dekat kepada Allah, semakin rendah hati kepada manusia.
19. JUNAID AL-BAGHDADI رحمه الله
Junaid menampilkan tasawuf yang kuat hubungannya dengan syariat dan akhlak.
Intisari mahabbah dari jalan beliau:
Cinta kepada Allah tidak boleh hanya menjadi pengalaman batin; ia harus melahirkan ketaatan lahiriah.
Maka seseorang tidak cukup berkata:
“Hati saya sudah dekat kepada Allah.”
Jika:
salat ditinggalkan,
akhlak buruk,
hak manusia dilanggar,
maka klaim cinta tersebut harus diperiksa kembali.
20. AL-HALLAJ رحمه الله
Al-Hallaj terkenal dengan ungkapan-ungkapan mistik yang kontroversial dan harus dipahami dalam konteks sejarah serta terminologi tasawufnya.
Pelajaran yang aman untuk kita ambil:
cinta kepada Allah menuntut pengorbanan ego.
Bukan:
“Aku ingin menunjukkan bahwa aku seorang wali.”
Tetapi:
“Aku ingin Allah ridha kepadaku meskipun manusia tidak mengenal aku.”
21. IMAM AL-GHAZALI رحمه الله
Al-Ghazali membahas mahabbah secara mendalam dalam Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn, terutama Kitāb al-Maḥabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Riḍā.
Beliau menjelaskan bahwa cinta kepada Allah mempunyai hubungan erat dengan:
ma'rifah,
dzikir,
mengenal nikmat Allah,
mengenal keindahan dan kesempurnaan-Nya,
serta membersihkan hati.
Intinya:
Seseorang tidak akan mencintai Allah secara mendalam jika ia tidak berusaha mengenal-Nya.
Maka:
semakin mengenal Allah → semakin mencintai Allah.
22. SYEKH ABDUL QADIR AL-JAILANI رحمه الله
Dalam tradisi pengajaran Abdul Qadir al-Jailani, cinta kepada Allah berkaitan erat dengan:
taubat,
zuhud,
tawakal,
kejujuran,
dan meninggalkan hawa nafsu.
Intisarinya:
Jangan mengatakan mencintai Allah sementara hawa nafsu masih menjadi pemimpin hidup.
Cinta yang benar membuat kita berkata:
“Apa yang Allah sukai lebih aku pilih daripada apa yang nafsuku sukai.”
23. JALALUDDIN RUMI رحمه الله
Rumi banyak menggunakan bahasa cinta untuk menggambarkan perjalanan jiwa.
Intisari yang dapat diambil:
Cinta yang sejati mengubah manusia.
Jika cinta tidak mengubah:
akhlak,
kesabaran,
kerendahan hati,
kepedulian,
dan hubungan kita dengan Allah,
maka mungkin yang kita cintai bukan Allah, melainkan:
perasaan yang kita dapatkan dari agama.
24. IBNU 'ARABI رحمه الله
Dalam pemikiran Ibnu 'Arabi, cinta mempunyai kedalaman metafisik dan spiritual yang sangat luas.
Namun untuk kehidupan praktis, kita dapat mengambil pelajaran:
Allah adalah sumber segala kebaikan, dan cinta kepada makhluk seharusnya tidak memutus hubungan dengan Sang Pencipta.
Maka:
cintai manusia tanpa menyembah manusia.
cintai dunia tanpa menjadi budak dunia.
cintai pasangan tanpa menggantikan Allah dalam hati.
25. AHMAD AL-TIJANI رحمه الله
Dalam tradisi Tijaniyyah, dzikir dan wirid merupakan bagian penting dalam pendidikan ruhani.
Pelajaran yang dapat diterapkan:
Cinta kepada Allah harus dipelihara dengan dzikir dan istiqamah.
Karena hati manusia mudah berubah.
Hari ini semangat.
Besok lemah.
Hari ini menangis dalam doa.
Besok lupa kepada Allah.
Maka cinta membutuhkan:
dzikir + mujahadah + istiqamah.
26. “TESTIMONI” PARA USTADZ KONTEMPORER
Catatan penting
Bagian ini saya susun sebagai intisari pesan yang relevan dengan tema cinta, bukan kutipan langsung dari masing-masing ustadz. Untuk menyebutnya sebagai kutipan literal, diperlukan rekaman atau sumber teks yang spesifik.
GUS BAHA'
Intisari yang relevan:
Jangan sampai kita terlalu sibuk menilai manusia sampai lupa bahwa Allah melihat hati kita.
Cinta kepada Allah membuat seseorang:
lebih mudah memaafkan,
tidak mudah menghakimi,
dan tidak senang melihat orang lain jatuh.
27. USTADZ ADI HIDAYAT
Intisari:
Cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan mengikuti petunjuk-Nya.
Karena itu QS. Ali 'Imran: 31 sangat penting:
“Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku...”
Cinta memiliki bukti:
ittiba'.
28. BUYA YAHYA
Intisari:
Cinta harus melahirkan rahmat dan akhlak.
Jika seseorang mengaku mencintai Allah tetapi:
gemar mencaci,
menghina,
menyebarkan kebencian,
membuka aib,
maka cintanya perlu diperiksa.
Karena cinta kepada Allah seharusnya membuat hati semakin lembut.
29. USTADZ ABDUL SOMAD
Intisari praktis:
Cintailah Rasulullah ﷺ dengan mengikuti sunnahnya dan memperbanyak shalawat, tetapi jangan berhenti pada ucapan.
Cinta harus masuk ke:
perilaku,
akhlak,
keluarga,
muamalah,
dan kehidupan sehari-hari.
30. BUYA ARRAZY HASYIM
Intisari yang relevan dengan Tazkiyatun Nufūs:
Cinta kepada Allah adalah urusan hati, dan hati perlu dididik.
Karena itu perjalanan ruhani bukan hanya menambah pengetahuan.
Tetapi:
membersihkan hati agar mampu menerima cahaya petunjuk.
31. MUHASABAH CINTA
Setiap malam tanyakan:
1.
Apa yang paling sering saya pikirkan?
Karena apa yang paling sering memenuhi pikiran sering menunjukkan apa yang sedang menguasai hati.
2.
Apa yang paling saya takut kehilangan?
3.
Apa yang membuat saya paling bahagia?
4.
Ketika kehilangan sesuatu yang saya cintai, apakah saya tetap dekat dengan Allah?
5.
Apakah saya lebih senang dipuji manusia daripada dipuji Allah melalui diterimanya amal?
6.
Apakah saya mencintai manusia karena Allah atau karena kepentingan?
7.
Apakah cinta saya kepada Allah membuat saya lebih baik kepada manusia?
32. CARA MEMBERSIHKAN CINTA
LANGKAH 1 — Kenali siapa yang paling kita cintai
Tulis lima hal yang paling memenuhi hati:
keluarga,
harta,
pekerjaan,
popularitas,
atau Allah?
Tidak perlu berbohong kepada diri sendiri.
Ini muhasabah.
LANGKAH 2 — Periksa prioritas
Ketika:
bisnis bertabrakan dengan salat,
mana yang dipilih?
Ketika:
popularitas bertabrakan dengan kejujuran,
mana yang dipilih?
Ketika:
hawa nafsu bertabrakan dengan perintah Allah,
mana yang dipilih?
Di situlah terlihat:
siapa sebenarnya yang paling kita cintai.
33. LATIHAN MAHABBAH 7 HARI
Hari 1
Perbanyak membaca Al-Qur'an.
Hari 2
Perbanyak shalawat kepada Rasulullah ﷺ.
Hari 3
Lakukan satu amal yang hanya diketahui Allah.
Hari 4
Maafkan seseorang.
Hari 5
Bersedekah tanpa menyebut nama.
Hari 6
Doakan seseorang yang tidak mengetahui bahwa kita mendoakannya.
Hari 7
Duduk tenang setelah salat dan berkata:
“Ya Allah, ajari aku mencintai apa yang Engkau cintai.”
34. CINTA YANG PALING TINGGI
Cinta memiliki tingkatan.
Tingkat pertama:
Aku mencintai Allah karena nikmat-Nya.
Tingkat kedua:
Aku mencintai Allah karena aku takut kehilangan hubungan dengan-Nya.
Tingkat ketiga:
Aku mencintai Allah karena aku mengenal kebesaran-Nya.
Tingkat yang lebih tinggi:
Aku mencintai Allah karena Dia memang layak dicintai.
Dan pada tingkat yang semakin dalam:
Aku mencintai apa yang Allah cintai.
Maka kita mencintai:
Al-Qur'an,
salat,
kejujuran,
orang miskin,
anak yatim,
orang tua,
keluarga,
guru,
ulama,
dan seluruh makhluk yang Allah cintai.
35. CINTA YANG TIDAK MEMILIKI ALLAH AKAN MUDAH BERUBAH MENJADI KECEWA
Jika kita menggantungkan seluruh kebahagiaan kepada manusia:
manusia berubah → kita kecewa.
Jika kita menggantungkan kebahagiaan kepada harta:
harta berkurang → kita hancur.
Jika kita menggantungkan kebahagiaan kepada popularitas:
popularitas turun → kita merasa tidak berharga.
Tetapi jika pusat cinta adalah Allah:
dunia boleh berubah,
keadaan boleh berubah,
manusia boleh datang dan pergi,
tetapi:
Allah tetap Allah.
36. KALIMAT RENUNGAN
“Jangan mencintai seseorang sampai membuatmu melupakan Allah.”
“Jangan mencintai dunia sampai membuatmu lupa akhirat.”
“Jangan mencintai pujian sampai engkau rela kehilangan keikhlasan.”
“Jangan membenci seseorang sampai kebencian itu membuatmu berbuat zalim.”
Dan:
“Cintailah Allah di atas segala sesuatu, maka cinta kepada makhluk akan menemukan tempatnya.”
37. DOA MAHABBAH
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu cinta-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan cinta kepada amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu.”
Doa ini diriwayatkan dalam Sunan al-Tirmidzi dan termasuk doa yang sangat indah tentang mahabbah.
38. DOA MEMBERSIHKAN HATI
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قُلُوبَنَا مِنَ الْحُبِّ الَّذِي يُبْعِدُنَا عَنْكَ، وَازْرَعْ فِي قُلُوبِنَا حُبَّكَ وَحُبَّ نَبِيِّكَ وَحُبَّ الصَّالِحِينَ.
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا غَايَةَ رَغْبَتِنَا.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ حُبَّكَ أَحَبَّ إِلَيْنَا مِنْ أَنْفُسِنَا وَأَهْلِنَا وَمَالِنَا وَمِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ عَلَى الظَّمَإِ.
**“Ya Allah, bersihkan hati kami dari cinta yang menjauhkan kami dari-Mu. Tanamkan dalam hati kami cinta kepada-Mu, cinta kepada Nabi-Mu dan cinta kepada orang-orang saleh.
Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai kegelisahan terbesar kami, tujuan terbesar pengetahuan kami, dan puncak keinginan kami.
Ya Allah, jadikan cinta kepada-Mu lebih kami cintai daripada diri kami, keluarga kami, harta kami, dan segala kenikmatan dunia.”**
39. DOA PENUTUP
اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا حُبَّكَ، وَحُبَّ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ ﷺ، وَحُبَّ الْقُرْآنِ، وَحُبَّ الصَّلَاةِ، وَحُبَّ الْخَيْرِ، وَحُبَّ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ قُلُوبَنَا مُتَعَلِّقَةً بِكَ، وَأَلْسِنَتَنَا ذَاكِرَةً لَكَ، وَجَوَارِحَنَا طَائِعَةً لَكَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا مِنَ الدُّنْيَا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاحْشُرْنَا فِي زُمْرَةِ مَنْ أَحْبَبْتَهُمْ وَأَحَبُّوكَ.
**“Ya Allah, karuniakan kepada kami cinta kepada-Mu, cinta kepada Nabi-Mu Muhammad ﷺ, cinta kepada Al-Qur'an, cinta kepada salat, cinta kepada kebaikan dan cinta kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.
Ya Allah, jadikan hati kami selalu bergantung kepada-Mu, lisan kami selalu berdzikir kepada-Mu, dan anggota tubuh kami taat kepada-Mu.
Ya Allah, jadikan akhir perkataan kami di dunia: Lā ilāha illallāh, dan kumpulkan kami bersama orang-orang yang Engkau cintai dan mencintai-Mu.”**
ĀMĪN YĀ RABBAL 'ĀLAMĪN.
40. PENUTUP: CINTA YANG SEJATI
Wahai hati...
Jika engkau mencintai Allah,
jangan hanya mencarinya ketika susah.
Jika engkau mencintai Allah,
ingatlah Dia ketika senang.
Jika engkau mencintai Rasulullah ﷺ,
ikuti akhlaknya.
Jika engkau mencintai orang tua,
berbaktilah kepada mereka.
Jika engkau mencintai pasangan,
jagalah amanahnya.
Jika engkau mencintai sahabat,
jangan khianati kepercayaannya.
Jika engkau mencintai sesama,
jangan sakiti mereka dengan lisan dan tanganmu.
Jika engkau mencintai dunia,
jadikan dunia sebagai kendaraan menuju akhirat.
Dan jika engkau benar-benar mencintai Allah:
jangan biarkan cinta kepada selain Allah mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik Allah.
Karena pada akhirnya:
semua yang kita cintai akan kita tinggalkan,
kecuali:
ALLAH.
Dan ketika semua manusia meninggalkan kita,
ketika harta tidak lagi mengikuti,
ketika jabatan berhenti,
ketika popularitas menghilang,
ketika tubuh kembali menjadi tanah,
yang kita harapkan hanyalah:
Allah tetap mencintai kita.
Maka jangan hanya berdoa:
“Ya Allah, aku mencintai-Mu.”
Tetapi berdoalah:
“Ya Allah, cintailah aku.”
Karena:
dicintai Allah adalah kemenangan yang sebenarnya.
41. UCAPAN TERIMA KASIH
Jazakumullāhu khairan katsīran kepada para ustadz, kyai, ulama, guru, mursyid dan seluruh pembimbing yang telah mengajarkan kepada kita tentang iman, ihsan, mahabbah, ikhlas, sabar, tawakal dan Tazkiyatun Nufūs.
Terima kasih kepada seluruh pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan tulisan ini.
Semoga apa yang kita baca tidak berhenti sebagai pengetahuan.
Semoga ia turun:
dari mata → ke pikiran → ke hati → ke akhlak → menjadi amal.
Semoga Allah membersihkan hati kita dari:
cinta dunia yang berlebihan,
cinta pujian,
cinta popularitas,
cinta kepada ego,
dan menggantinya dengan:
MAḤABBATULLĀH
cinta kepada Allah.
جَزَاكُمُ اللَّهُ خَيْرًا كَثِيرًا
ĀMĪN YĀ RABBAL 'ĀLAMĪN.
DAFTAR PUSTAKA
- Al-Qur'an al-Karim, khususnya QS. Al-Baqarah: 165; QS. Ali 'Imran: 31; QS. Al-Ma'idah: 54; QS. Al-Fajr: 27–30.
- Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Kitāb al-Īmān; Kitāb al-Riqāq; hadis tentang manisnya iman dan cinta Allah.
- Ṣaḥīḥ Muslim, hadis tentang cinta kepada Rasulullah ﷺ dan orang-orang yang saling mencintai karena Allah.
- Sunan al-Tirmidzi, hadis-hadis tentang doa memohon cinta Allah.
- Al-Ghazali, Abū Ḥāmid, Iḥyā' 'Ulūm al-Dīn, Kitāb al-Maḥabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Riḍā.
- Al-Qusyairi, Al-Risālah al-Qusyairiyyah, pembahasan maqām al-Maḥabbah.
- Al-Sarraj al-Tusi, Al-Luma' fī al-Taṣawwuf.
- Literatur biografi dan karya yang membahas Hasan al-Bashri, Rabi'ah al-'Adawiyah, Abu Yazid al-Bistami, Junaid al-Baghdadi, Al-Hallaj, Abdul Qadir al-Jailani, Jalaluddin Rumi, Ibn 'Arabi dan Ahmad al-Tijani.
- Kajian kontemporer tentang mahabbah, Tazkiyatun Nufūs, ikhlas dan pembinaan hati, termasuk kajian para ulama dan pendakwah Indonesia.
❤️ KALIMAT TERAKHIR
“CINTAILAH ALLAH DI ATAS SEGALA CINTA.
Maka ketika mencintai manusia, engkau tidak akan menyembahnya.
Ketika memiliki harta, engkau tidak akan menjadi budaknya.
Ketika dipuji, engkau tidak akan mabuk karenanya.
Ketika dicela, engkau tidak akan hancur karenanya.
Dan ketika semua yang engkau cintai pergi,
hatimu tetap memiliki Allah.”
..............