Saturday, February 21, 2026

970. Jangan Putuskan Cahaya untuk Mereka yang Telah Pergi.

 


kupas tipis tipis kitab Usfuriyah karya Muhammad bin Abu Bakar bin Usfuri,

HADITS KE-15 : KEGEMBIRAAN ORANG MATI SEBAB AMAL BAIK KELUARGA MEREKA YANG HIDUP DAN SEBALIKNYA SEBAB AMAL BURUK.

Hadiah Pahala Amal untuk Mayit.


Tsabit al-Banani selalu berziarah ke kuburan setiap malam Jumat. Disana ia bermunajat kepada Allah sampai Subuh. Ketika ia sedang dalam munajatnya, ia merasa ngantuk dan bermimpi kalau seluruh penghuni kuburan itu keluar dari kuburan mereka dengan mengenakan pakaian yang paling bagus dan dengan wajah- wajah yang cerah senang. Kemudian ada sebuah hidangan beraneka warna makanan untuk masing-masing dari mereka. Tiba- tiba di antara mereka ada seorang mayit pemuda yang pucat sedih wajahnya, yang amburadul rambutnya, yang sedih hatinya, yang usang pakaiannya, yang menundukkan kepalanya, dan yang menetaskan air mata. Tidak ada satu hidangan pun di datangkan untuknya. Para penghuni kuburan kembali ke kuburan mereka dengan perasaan senang dan bahagia.
Sedangkan mayit pemuda itu kembali dengan putus asa, susah dan bersedih hati.

Kemudian Tsabit al-Banani menanyainya perihal apa yang sedang terjadi pada pemuda itu:

“Hai pemuda! Apa statusmu di kalangan para penghuni kuburan lainnya? Mereka mendapatkan hidangan enak dan kembali ke kuburan dengan perasaan senang sedangkan kamu tidak mendapati satu hidangan pun dan kembali dengan perasaan putus asa dan bersedih hati”
Pemuda itu menjawab, “Wahai Imam muslimin! Sesungguhnya aku adalah orang asing di kalangan mereka. Tidak ada seorangpun (dari orang-orang yang masih hidup) mengingatku dengan melakukan kebaikan dan mendoakanku. Sedangkan mereka para penghuni kuburan lain memiliki anak-anak, kerabat- kerabat dan teman-teman bergaul yang    mengingat    dengan mendoakan mereka, berbuat kebaikan dan bersedekah untuk mereka di setiap malam Jumat.
Kebaikan-kebaikan dan pahala shodaqoh-shodaqoh itu sampai kepada mereka. (Ketika masih hidup. Pada saat itu,) aku hendak berhaji. Aku memiliki seorang ibu. Kita berdua menyengaja pergi haji bersama. Ketika aku memasuki kota (dimana kuburannya berada),    Allah    mencabut nyawaku. Lalu ibu menguburkan jasadku di tempat penguburan ini. Setelah kematianku, ia menikah dengan laki-laki lain hingga ia lupa denganku dan tidak mengingatku lagi dengan cara mendoakan dan bersedekah karenaku. Aku merasa putus asa dan bersedih hati setiap waktu.”

Kemudian Tsabit al-Banani bertanya, “Hai pemuda! Beritahu aku dimana ibumu tinggal. Aku akan memberitahunya tentangmu dan keadaanmu.”
Pemuda itu menjawab, “Wahai Imam muslimin! Ia berada di kampung ini dan desa ini. Beritahu ibuku tentangku dan keadaanku. Jika ia tidak mempercayaimu, maka katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya di saku bajumu ada 100 mistqol emas peninggalan suamimu yang merupakan bagian warisan untuk anakmu. Maka ia nantinya akan mempercayaimu!’”

Di hari kemudian, Tsabit al- Banani mendatangi kampung yang dimaksudkan dan mencari ibu pemuda itu. Tidak lama kemudian, ia menemukannya dan memberitahunya tentang keadaan anaknya dan tentang 100 mitsqol perak yang berada di saku bajunya. Kemudian si ibu pun jatuh pingsan. Ketika ia tersadar dari pingsannya, maka ia menyerahkan 100 mitsqol perak itu kepada Tsabit dan berkata: 
Aku wakilkan kamu untuk bersedekah dengan uang-uang dirham ini sebagai kiriman untuk anakku yang telah mati.”

Kemudian Tsabit al-Banani menerima 100 mitsqol itu dan mensedekahkannya  karena pemuda itu.

Pada malam Jumat berikutnya tiba, Tsabit al-Banani (seperti biasa) menziarahi saudara- saudaranya di kuburan itu. Saat berziarah, ia merasa ngantuk dan memimpikan sebuah mimpi yang sama seperti mimpi sebelumnya. Di dalam mimpinya itu, ia melihat mayit pemuda itu telah mengenakan pakaian yang bagus, wajah yang cerah senang dan hati yang bahagia. Kemudian pemuda itu berkata:
“Wahai Imam muslimin! Semoga Allah mengasihimu sebagaimana kamu telah mengasihiku.”
Dari cerita di atas, sudah jelas bahwa orang yang sudah mati akan merasa tersakiti karena perlakukan buruk orang yang masih hidup dan akan senang karena perlakukan baik dari orang yang masih hidup.

---

📖 Kitab

Hadits ke-15: Kegembiraan Orang Mati karena Amal Keluarga yang Hidup

🌿 Tauziah Tazkiyatul Nufus

“Jangan Putuskan Cahaya untuk Mereka yang Telah Pergi”

Bismillahirrahmanirrahim.

Kisah Tsabit al-Banani dalam Usfuriyah bukan sekadar cerita mimpi. Ia adalah cermin halus bagi hati kita. Bahwa alam kubur bukan alam yang terputus. Ia terhubung dengan amal kita.

Pemuda yang sedih itu bukan karena siksa fisik, tetapi karena terputusnya doa dan kebaikan dari dunia. Ia asing bukan karena tak punya keluarga, tetapi karena tidak lagi diingat dalam amal.

🕊 Dalil Al-Qur'an

Allah berfirman:

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berkata: Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…”
(QS. Al-Hasyr: 10)

Dan firman-Nya:

“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”
(QS. An-Najm: 39)

Namun dalam rahmat-Nya, Allah membuka pintu tambahan pahala melalui anak shalih dan doa orang hidup.

🌙 Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”
(HR. Muslim)

Dan dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

“Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

🌍 Relevansi di Era Teknologi

Saudaraku…

Hari ini kita hidup di zaman:

  • 📱 Komunikasi super cepat
  • 🚄 Transportasi mudah
  • 🏥 Kedokteran canggih
  • 💻 Informasi tanpa batas

Namun ironi terbesar:
Kita mudah mengirim uang online, tapi lupa mengirim doa.
Kita cepat update status, tapi jarang update amal untuk orang tua yang telah wafat.

Dalam tasawuf, ini disebut ghaflah modern — lalai karena sibuk.

Teknologi seharusnya menjadi wasilah pahala:

  • Transfer sedekah atas nama orang tua.
  • Bangun sumur, wakaf Qur'an, bantu santri.
  • Buat grup keluarga khusus doa bersama tiap malam Jumat.

Jangan sampai kita seperti ibu dalam kisah itu — bukan jahat, tapi lalai.

💎 Perspektif Tazkiyatul Nufus

Hati yang bersih (qalbun salim) adalah hati yang:

  1. Tidak melupakan asal-usulnya.
  2. Tidak melupakan orang tua.
  3. Tidak melupakan kematian.

Orang yang sering mendoakan mayit sejatinya sedang membersihkan jiwanya sendiri. Karena ia sadar:

“Hari ini aku mendoakan mereka, besok aku yang didoakan.”

Imam Hasan Al-Bashri berkata:

“Tidaklah seorang hamba mengingat kematian kecuali hatinya menjadi lembut.”

🪞 Muhasabah

  • Sudahkah kita kirim Al-Fatihah untuk ayah-ibu hari ini?
  • Sudahkah kita sedekah atas nama mereka bulan ini?
  • Kalau kita wafat besok, siapa yang akan rutin mendoakan kita?

Jangan hanya sibuk membangun rumah di dunia.
Bangun juga istana untuk diri kita di alam kubur.

🌱 Motivasi & Harapan

Kabar gembira:

Allah Maha Pengasih.
Satu doa tulus dari anak bisa menjadi cahaya luas di kubur orang tua.

Satu sedekah ikhlas bisa mengubah wajah mayit yang muram menjadi berseri.

Dan siapa yang berbuat baik kepada ahli kubur, Allah akan mengasihinya sebagaimana ia mengasihi mereka.


🤲 Doa

Ya Allah…
Ampuni dosa kedua orang tua kami.
Terangi kubur mereka dengan cahaya iman.
Lapangkan tempat peristirahatan mereka.
Jadikan setiap sedekah, doa, dan amal kami sebagai hadiah yang sampai kepada mereka.
Jangan Engkau jadikan kami anak yang lalai.
Dan saat kami wafat kelak, kirimkan kepada kami anak-anak dan generasi yang tak lupa mendoakan kami.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.


🌺 Penutup

Saudaraku…
Kematian bukan akhir hubungan.
Ia hanya perpindahan alam.

Mari hidupkan kembali budaya doa, sedekah, dan kiriman pahala.
Karena suatu hari, kita yang akan menunggu kiriman itu.

Terima kasih telah meluangkan waktu membaca tauziah ini.
Semoga Allah melembutkan hati kita dan menjadikannya wasilah hidayah. 🤲

.......
Bismillahirrahmanirrahmanirrahim.

HADITS KE-15: KEGEMBIRAAN ORANG MATI DAN KESEDIHANNYA KARENA AMAL KELUARGA

Kisah Tsabit al-Banani: Curhatan Mayit yang Terlupakan

Jadi ceritanya, ada seorang ulama sufi, Tsabit al-Banani. Setiap malam Jumat, beliau punya rutinitas ziarah kubur sambil bermunajat sampai subuh. Nah, pas lagi asyik munajat, tiba-tiba ngantuk dan mimpi. Di mimpi itu, ia lihat semua penghuni kubur pada keluar dengan baju terbaik, muka cerah, sumringah. Buat masing-masing dari mereka ada hidangan aneka warna yang menggoda.

Tapi, ada satu pemuda mayit yang tampil beda. Mukanya pucat, sedih, rambut awut-awutan, baju usang, kepala tunduk, netesin air mata. Dan yang bikin miris, nggak ada hidangan satupun buat dia. Sementara yang lain balik ke kubur dengan bahagia, pemuda ini balik dengan putus asa dan sedih.

Tsabit pun nanya, "Eh, bang, ada apa sih sama status lu di sini? Yang lain dapet hidangan enak, seneng, elu malah enggak dapet apa-apa, sedih banget?"

Jawab pemuda itu, "Wahai Imam muslimin, aku tuh orang asing di sini. Nggak ada satu pun dari keluargaku yang masih hidup yang inget aku, baik dengan doa atau amal baik. Kalau mereka yang lain, punya anak, kerabat, temen yang tiap malam Jumat selalu ngirim doa, sedekah, dan kebaikan. Semua pahala itu nyampe ke mereka. Dulu aku mau naik haji sama ibuku. Pas nyampe di kota ini, Allah mencabut nyawaku. Ibuku nguburin aku di sini. Terus dia nikah lagi, dan akhirnya lupa sama aku. Nggak pernah doain atau sedekah buat aku. Makanya tiap waktu aku sedih."

Tsabit lalu nanya, "Kalo gitu, kasih tau aku alamat ibumu. Biar aku kasih tau soal keadaanmu."

Pemuda itu kasih alamat, lalu bilang, "Tapi kalau ibu nggak percaya, bilang aja kalau di saku bajunya ada 100 mitsqol emas titipan suaminya yang jadi warisan buat aku. Nanti dia bakal percaya."

Besoknya, Tsabit dateng ke kampung itu, cari ibunya, dan ngasih tau semuanya. Pas denger cerita itu, ibunya pingsan. Pas sadar, dia ngaku dan ngasih 100 mitsqol itu ke Tsabit. "Aku titip buat sedekah atas nama anakku, ya."

Tsabit pun sedekahin uang itu buat pemuda tadi.

Pas malam Jumat berikutnya, Tsabit mimpi lagi. Kali ini si pemuda udah rapi, baju bagus, wajah cerah, hati bahagia. Ia bilang, "Wahai Imam muslimin, semoga Allah ngasih kebaikan ke njenengan, sebagaimana njenengan udah baik sama aku."

Ngobrolin Dalilnya (Santuy Version)

Jadi intinya, orang yang udah mati tuh ternyata masih bisa ngerasain dampak dari amalnya kita yang masih hidup. Seneng atau sedih mereka, salah satunya tergantung kita.

Allah SWT udah bilang di Al-Qur'an:

"Dan orang-orang yang datang sesudah mereka berkata: Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami…"
(QS. Al-Hasyr: 10)

Terus juga:

"Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya."
(QS. An-Najm: 39)

Tapi, Allah Maha Baik. Lewat hadis, Nabi Muhammad ﷺ kasih kabar gembira:

"Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya."
(HR. Muslim)

Dan Allah juga berfirman dalam hadis qudsi:

"Wahai anak Adam, berinfaklah, niscaya Aku akan berinfak kepadamu."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Nasihat Santuy Buat Zaman Now

Bro, kita hidup di zaman yang serba canggih. Komunikasi cepet, transfer gampang, informasi nggak ada batas. Tapi kadang ironis: kita sibuk transfer uang, tapi lupa transfer doa. Kita rajin update status, tapi lupa update amal jariyah buat orang tua yang udah duluan.

Jangan sampai kita kayak ibu dalam cerita ini. Bukan jahat, tapi lalai. Sibuk sama kehidupan baru, sampai lupa sama yang udah pergi.

Ini penting banget buat dibiasain:

· Transfer sedekah atas nama orang tua.
· Bangun sumur, wakaf Qur'an, bantu orang lain, lalu hadiahkan buat mereka.
· Bikin grup keluarga khusus buat kirim doa bareng-bareng, misal tiap malem Jumat.

Renungan Singkat

Orang yang bersih hatinya itu, dia nggak bakal lupa sama asal-usulnya, sama orang tuanya, dan inget sama kematian. Rajin mendoakan yang udah pergi itu sebenernya lagi bersihin jiwa sendiri. Karena kita sadar, "Hari ini aku doain mereka, besok aku yang didoain."

Imam Hasan Al-Bashri bilang, "Nggak ada seorang hamba yang inget mati, kecuali hatinya jadi lembut."

Cek Diri Sendiri, Yuk!

· Udah baca Al-Fatihat buat bokap nyokap hari ini?
· Udah sedekah atas nama mereka bulan ini?
· Coba bayangin, kalo kita besok dipanggil, siapa yang bakal rakit mendoakan kita?

Jangan cuma sibuk bangun rumah di dunia. Bangun juga, lewat doa dan amal, istana buat diri kita di alam kubur sana.

Doa Penutup

Ya Allah…
Ampuni dosa kedua orang tua kami.
Terangi kubur mereka sama cahaya iman.
Lapangkan tempat peristirahatan mereka.
Jadikan setiap sedekah, doa, dan amal kami sebagai hadiah yang nyampe ke mereka.
Jangan jadikan kami anak yang lalai.
Dan pas kami wafat nanti, kirimkan buat kami anak-anak shalih yang nggak lupa mendoakan.
Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Saudaraku, kematian bukan akhir dari segalanya. Cuma pindah alam. Jadi, yuk kita hidupin lagi budaya kirim doa, sedekah, dan pahala buat mereka yang udah duluan. Karena suatu saat, kita juga bakal nunggu kiriman itu.

Semoga hati kita dilembutkan, ya. Aamiin.
.......

969. Berbuat Baik, Bahkan kepada As-Suflah.



Dalam Kitab Bayanul Mushoffa fi Wasiyatul Musthofa (Syekh Abdul Wahab asy-Sya'roni ).

Bab : Berbuat Baik kepada Setiap Orang

Hai, Ali, berbuat baiklah, meskipun kepada As-Suflah. Ali bertanya: Apa As-Suflah itu, ya, Rasulullah? Beliau menjawab, yaitu: Orang yang jika dinasihati, tidak mau menerimanya, jika dihalau, tidak mau pergi dan tidak peduli dengan apa saja yang dikatakan orang kepadanya.

.....

📖

Karya


🌿 Berbuat Baik, Bahkan kepada As-Suflah

Rasulullah ﷺ bersabda kepada Sayyidina Ali:

“Wahai Ali, berbuat baiklah, meskipun kepada As-Suflah.”
Ketika Ali bertanya, siapa As-Suflah itu?
Beliau menjawab:
“Orang yang jika dinasihati tidak mau menerima, jika dihalau tidak mau pergi, dan tidak peduli dengan apa pun yang dikatakan kepadanya.”


🌊 1. Perspektif Tasawuf: Mengobati Hati, Bukan Menghukum Orang

Dalam kacamata tazkiyatul nufus, perintah ini bukan tentang mereka — tapi tentang kita.

As-Suflah adalah simbol manusia yang:

  • keras kepala,
  • sulit dinasihati,
  • merasa benar sendiri,
  • bahkan menyakiti orang yang ingin menolongnya.

Di zaman sekarang, siapa mereka?

📱 Di media sosial:
Orang yang menyerang, mencaci, menyebar hoaks, merasa paling benar.

🚗 Di jalan raya:
Orang yang arogan, tidak sabar, memotong jalan tanpa peduli keselamatan.

🏥 Dalam dunia kedokteran modern:
Orang yang menolak kebenaran medis karena ego atau teori konspirasi.

📡 Dalam kecanggihan teknologi komunikasi:
Orang yang menggunakan teknologi untuk menyakiti, bukan memperbaiki.

Namun Rasulullah ﷺ tidak berkata: “Jauhi mereka.”
Beliau berkata: “Berbuat baiklah kepada mereka.”

Karena tasawuf mendidik hati agar:

  • Tidak membalas keburukan dengan keburukan.
  • Tidak mengotori jiwa dengan dendam.
  • Tidak membiarkan ego mengalahkan rahmat.

📖 Dalil Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman:

“Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik…”
(QS. Fussilat: 34)

“Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.”
(QS. Al-Ma’idah: 8)

Inilah maqam ihsan: tetap baik meski disakiti.


🌿 Hadis Qudsi

Allah berfirman dalam hadis qudsi:

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan ia haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.”
(HR. Muslim)

Jika orang lain menzalimi kita dengan lisannya,
kita jangan menzalimi hati kita dengan kebencian.


🌙 Hadis Nabi ﷺ

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Di era komentar digital dan debat online,
menahan diri adalah jihad yang besar.


🧠 Relevansi di Era Teknologi Modern

Teknologi berkembang pesat:

  • Komunikasi semakin cepat.
  • Transportasi semakin mudah.
  • Kedokteran semakin canggih.
  • Informasi tersebar dalam hitungan detik.

Namun…

Hati manusia sering tertinggal.

Kita bisa mengirim pesan dalam 1 detik,
tapi butuh bertahun-tahun untuk memaafkan.

Kita bisa operasi jantung,
tapi sulit mengoperasi kesombongan diri.

Tasawuf mengajarkan:

Yang paling berbahaya bukan virus di udara,
tapi penyakit hati dalam dada.


🔍 Muhasabah Diri

  • Apakah kita masih mudah marah di kolom komentar?
  • Apakah kita ingin selalu menang dalam debat?
  • Apakah kita merasa lebih suci dari orang lain?
  • Apakah kita berhenti berbuat baik karena orang lain tidak berubah?

Jika iya… mungkin justru kita sedang diuji.

Karena berbuat baik kepada orang baik itu mudah.
Berbuat baik kepada As-Suflah — itu latihan menuju maqam ihsan.


🌅 Motivasi & Harapan

Jika kita tetap baik meski disakiti:

🌿 Hati menjadi lapang.
🌿 Jiwa menjadi tenang.
🌿 Allah menjadi pembela kita.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 153)

Mungkin orang itu tidak berubah…
tapi kita yang berubah menjadi lebih dekat kepada Allah.


🤲 Doa

Ya Allah…
Bersihkan hati kami dari dendam dan kesombongan.
Jadikan kami hamba yang lembut meski disakiti,
yang sabar meski direndahkan,
yang tetap berbuat baik meski dibalas keburukan.

Ya Allah…
Jika kami menghadapi orang yang keras hatinya,
lembutkan hati kami lebih dahulu.
Jika kami diuji dengan penghinaan,
jadikan itu jalan penghapus dosa kami.

Tanamkan dalam jiwa kami sifat ihsan,
sebagaimana Engkau mencintai orang-orang yang berbuat baik.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.


🌸 Penutup

Berbuat baik kepada orang baik adalah kebiasaan.
Berbuat baik kepada orang yang menyakiti adalah kemuliaan.

Semoga kita termasuk orang yang hatinya dibersihkan oleh Allah,
bukan hanya lisannya yang fasih berdakwah.

Terima kasih telah menyimak tauziah ini.
Semoga Allah memberkahi ilmu dan amal kita. 🌿

.......

Tentu, berikut adalah versi bahasa gaul kekinian yang santun dan santai sesuai permintaan:


Teman, Yuk Tetap Baik Sama "Si Sulit" (As-Suflah)


Konon, Rasulullah ﷺ pernah bilang gini ke Sayyidina Ali:

"Wahai Ali, berbuat baiklah, meskipun sama As-Suflah."


Nah, Ali pun nanya, "As-Suflah itu siapa, ya?"

Dijawablah sama Nabi:

"Yaitu orang yang kalau dinasihatin ogah nerima, kalau diminta pergi susah, dan udah nggak peduli lagi sama apa pun yang diomongin ke dia."


1. Kacamata Spritual: Ini Urusan Hati Kita, Bukan Ngatur Mereka


Kalau dilihat dari sisi pembersihan jiwa, perintah ini tujuannya ke kita, bukan ke mereka.


Si As-Suflah ini kayak simbol manusia yang:


· Keras kepala.

· Susah dibilangin.

· Ngerasa paling bener sendiri.

· Malah nyakitin orang yang mau nolong.


Di zaman now, kira-kira siapa aja, ya?


📱 Di Sosmed:

Si "warganet" yang suka nyerang, ngecak, nyebar hoaks, dan ngerasa paling bener sendiri.


🚗 Di Jalanan:

Pengendara yang arogan, nggak sabaran, suka motong jalur tanpa mikir safety orang lain.


🏥 Di Dunia Kesehatan:

Orang yang nolak kebenaran medis cuma karena ego atau percaya teori konspirasi.


📡 Di Era Teknologi Canggih:

Orang yang make teknologi buat nyakitin, bukan buat memperbaiki keadaan.


Tapi, Rasulullah ﷺ nggak bilang, "Jauhin aja mereka." Beliau malah bilang: "Berbuat baiklah sama mereka."


Kenapa? Soalnya, lewat jalan hati (tasawuf) kita dididik buat:


· Nggak membalas jelek dengan jelek.

· Nggak mau kotori hati sendiri sama dendam.

· Nggak mau ego kita ngalahin sifat welas asih.


📖 Dalil dari Al-Qur'an


Allah Ta'ala berfirman (artinya):

"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik…"

(QS. Fussilat: 34)


"Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."

(QS. Al-Ma'idah: 8)


Nah, ini namanya mencapai level ihsan: tetap baik walau lagi disakiti.


🌿 Hadis Qudsi


Allah berfirman dalam hadis qudsi (artinya):

"Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku jadikan ia haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi."

(HR. Muslim)


Jadi intinya, kalau orang lain zalim sama kita lewat ucapannya, kita jangan zalim sama hati kita sendiri dengan cara menyimpan kebencian.


🌙 Hadis Nabi ﷺ


Rasulullah ﷺ bersabda (artinya):

"Orang kuat bukanlah yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah."

(HR. Bukhari dan Muslim)


Di zaman yang serba digital dan penuh debat online ini, bisa nahan diri tuh perjuangan banget.


🧠 Plesir di Era Teknologi Canggih


Teknologi makin maju:


· Komunikasi makin cepet.

· Transportasi makin gampang.

· Dunia kedokteran makin canggih.

· Informasi nyebar cuma hitungan detik.


Tapi...

Hati manusia kadang suka keteteran.

Kita bisa kirim pesan dalam 1 detik, tapi butuh tahunan buat memaafkan.

Kita bisa operasi jantung, tapi susah payah buat "ngoperasi" kesombongan diri sendiri.


Ilmu hati (tasawuf) ngajarin kita:

Yang paling bahaya tuh bukan cuma virus di udara, tapi penyakit hati di dalam dada.


🔍 Saatnya Nanya ke Diri Sendiri


· Apa aku masih gampang marah di kolom komentar?

· Apa aku maunya menang terus di setiap debat?

· Apa aku ngerasa lebih suci dari orang lain?

· Apa aku berhenti berbuat baik cuma karena orang lain nggak berubah?


Kalau jawabannya "iya", mungkin… kita lagi diuji.


Karena berbuat baik ke orang baik itu biasa.

Tapi berbuat baik ke "Si Sulit" (As-Suflah) — itu baru latihan buat naik level ke derajat ihsan.


🌅 Motivasi & Harapan


Kalau kita tetap baik meski disakiti:

🌿 Hati jadi lebih lapang.

🌿 Jiwa jadi lebih tenang.

🌿 Allah yang bakal jadi pembela kita.


Allah berfirman (artinya):

"Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar."

(QS. Al-Baqarah: 153)


Mungkin orang itu nggak bakal berubah…

tapi yang penting, kita yang berubah jadi lebih dekat sama Allah.


🤲 Doa dari Hati


Ya Allah…

Bersihin hati aku dari dendam dan kesombongan.

Jadikan aku hamba yang lembut meski disakiti,

yang sabar meski direndahkan,

yang tetap berbuat baik meski dibales keburukan.


Ya Allah…

Kalau aku harus berhadapan sama orang yang keras hatinya,

lembutin hati aku duluan, ya.

Kalau aku diuji sama hinaan,

jadikan itu jalan buat hapus dosa-dosa aku.


Tanamkan dalam jiwa aku sifat ihsan,

sebagaimana Engkau mencintai orang-orang yang berbuat baik.


Aamiin ya Rabbal 'Alamin.


🌸 Penutup


Berbuat baik ke orang baik itu udah jadi kebiasaan.

Tapi berbuat baik ke orang yang nyakitin itu adalah kemuliaan.


Semoga kita termasuk orang yang hatinya dibersihkan sama Allah,

bukan cuma yang jago ngomong doang.


Makasih udah nyempetin baca tauziah santai ini.

Semoga Allah berkahi ilmu dan amal kita semua. 🌿


Gimana, lebih santai tapi tetep berisi, kan? 😉

.......