Thursday, May 21, 2026

507qot. Mensucikan Tauhid dari Pertanyaan yang Menyesatkan

 Barang siapa meninggalkan empat kata, maka imannya sempurna, yaitu: dimana, bagaimana, kapan dan berapa. Maka jika ada seseorang berkata kepadamu: “Dimana Allah?” Jawabnya adalah: Allah tidak berada disuatu tempat, dan zaman (waktu) tidak mengiringi-Nya. Apabila ia berkata: “Bagaimana Allah?” Maka katakanlah padanya, tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan-Nya. Apabila ia berkata: “Kapan Allah?” Katakanlah, pertama tanpa ada permulaan, terakhir tanpa ada kesudahan. Dan apabila ia berkata: “Berapa Allah?” Maka katakanlah padanya, Allah esa (tunggal) bukan dari yang sedikit.

Firman Allah:

“Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa”.

.........

BULETIN TAUZIAH

“Mensucikan Tauhid dari Pertanyaan yang Menyesatkan”

(Dalam Perspektif Tasawuf – Tazkiyatun Nufūs)


Pembukaan

Segala puji bagi Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā yang Maha Esa, yang tidak serupa dengan makhluk-Nya, tidak dibatasi tempat, waktu, arah, maupun ukuran. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallāhu ‘alaihi wa sallam, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Perkataan ulama:

“Barang siapa meninggalkan empat kata, maka imannya sempurna, yaitu: dimana, bagaimana, kapan dan berapa.”

Ini adalah pelajaran penting dalam menjaga kesucian aqidah dan membersihkan hati dari prasangka terhadap Allah Ta‘ālā.


Makna (Tafsir) Isi Redaksi

1. “Dimana Allah?”

Jawaban:

“Allah tidak berada di suatu tempat, dan zaman tidak mengiringi-Nya.”

Maknanya: Allah adalah Pencipta tempat dan waktu. Sebelum adanya langit, bumi, arah, ruang, dan masa — Allah telah ada. Maka Allah tidak membutuhkan tempat untuk menetap.

Firman Allah:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”
(QS. Asy-Syura: 11)

Dalam ilmu tasawuf, hati yang bersih tidak membayangkan Allah seperti makhluk. Sebab membayangkan Allah bertempat akan menyerupakan-Nya dengan ciptaan.


2. “Bagaimana Allah?”

Jawaban:

“Tidak ada sesuatu apa pun yang serupa dengan-Nya.”

Maknanya: Allah tidak mempunyai bentuk, warna, ukuran, rupa, gerakan, ataupun sifat makhluk lainnya.

Imam Abu Hanifah rahimahullah berkata:

“Barang siapa mengatakan aku tidak tahu Tuhanku di langit atau di bumi, maka ia telah kafir, karena ia menyangka Allah bertempat.”

Tasawuf mengajarkan: Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, semakin ia menyadari kelemahan akalnya dalam memahami hakikat Dzat Allah.


3. “Kapan Allah?”

Jawaban:

“Pertama tanpa permulaan, terakhir tanpa kesudahan.”

Maknanya: Allah adalah Al-Awwal dan Al-Akhir.

Firman Allah:

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir.”
(QS. Al-Hadid: 3)

Allah tidak didahului ketiadaan dan tidak akan berakhir.


4. “Berapa Allah?”

Jawaban:

“Allah Esa (tunggal), bukan dari yang sedikit.”

Maknanya: Ke-Esaan Allah bukan seperti satu benda di antara banyak benda, tetapi Esa dalam Dzat, sifat, dan perbuatan-Nya.

Firman Allah:

“Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.”
(QS. Al-Ikhlas: 1)


Hukum (Ahkam)

1. Wajib meyakini Allah Maha Esa

Tauhid adalah dasar seluruh amal.

2. Haram menyerupakan Allah dengan makhluk

Seperti meyakini Allah berbentuk manusia, cahaya tertentu, atau berada di suatu tempat seperti makhluk.

3. Wajib mensucikan Allah dari sifat makhluk

Ini disebut tanzih dalam aqidah Ahlussunnah wal Jama‘ah.

4. Wajib belajar aqidah yang benar

Karena kesalahan aqidah dapat merusak seluruh amal ibadah.

Hadis Nabi Shallallāhu ‘alaihi wa sallam:

“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.”


Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)

1. Membersihkan hati dari khayalan terhadap Allah

Hati menjadi lebih khusyuk dalam ibadah.

2. Menumbuhkan rasa takut dan cinta kepada Allah

Karena Allah Maha Agung dan tidak terbatas.

3. Menghindarkan diri dari kesesatan pemikiran

Banyak manusia tersesat karena membayangkan Allah seperti makhluk.

4. Melatih tawadhu’

Akal manusia terbatas, sedangkan Allah Maha Tidak Terbatas.


Dalil Al-Qur’an, Hadis, dan Hadis Qudsi

Dalil Al-Qur’an

QS. Al-Ikhlas: 1–4

“Dialah Allah Yang Maha Esa…”

QS. Asy-Syura: 11

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”

QS. Al-Hadid: 3

“Dialah Yang Awal dan Yang Akhir.”


Hadis

Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Pikirkanlah ciptaan Allah dan jangan memikirkan Dzat Allah.”

(HR. Abu Nu‘aim)

Maknanya: Manusia diperintah merenungi tanda kekuasaan Allah, bukan membayangkan hakikat Dzat-Nya.


Hadis Qudsi

Allah Ta‘ālā berfirman:

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Maka seorang mukmin harus memiliki prasangka yang benar terhadap Allah dan tidak menyerupakan-Nya dengan makhluk.


Analisis dan Argumentasi

Di zaman modern, manusia sering merasa segala sesuatu harus dapat dilihat, diukur, dan dibuktikan secara fisik. Akibatnya sebagian orang bertanya:

  • “Dimana Allah?”
  • “Bagaimana bentuk Allah?”
  • “Apakah Allah berupa energi?”
  • “Apakah Allah ada di galaksi tertentu?”

Ini adalah kekeliruan berpikir karena Allah bukan bagian dari alam semesta.

Teknologi hanya mampu meneliti makhluk:

  • teleskop meneliti bintang,
  • mikroskop meneliti sel,
  • AI meneliti data.

Tetapi Allah adalah Pencipta seluruh itu semua.

Tasawuf mengajarkan:

Ketika akal berhenti sombong, maka hati mulai mengenal Allah.


Amalan (Implementasi)

1. Membaca Surat Al-Ikhlas setiap hari

Minimal:

  • setelah shalat,
  • sebelum tidur,
  • ketika dzikir pagi dan petang.

2. Memperbanyak dzikir tauhid

“Lā ilāha illallāh”

Dzikir ini membersihkan hati dari syirik halus.

3. Menjaga hati dari membayangkan Allah

Jika muncul khayalan tentang bentuk Allah:

  • hentikan,
  • istighfar,
  • kembali kepada firman:

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.”

4. Belajar aqidah Ahlussunnah

Agar tidak mudah terseret pemikiran menyimpang.


Relevansi di Zaman Sekarang

1. Teknologi AI dan Digital

Banyak orang mulai menganggap teknologi dapat menjelaskan seluruh realitas kehidupan.

Padahal:

  • AI hanya ciptaan,
  • internet hanya alat,
  • data hanyalah kumpulan informasi.

Allah tetap Maha Gaib dan tidak dapat dijangkau teknologi.


2. Media Sosial

Banyak konten aqidah viral tanpa dasar ilmu.

Ada yang:

  • menggambarkan Allah,
  • menyerupakan Allah dengan energi,
  • menafsirkan agama sesuka hati.

Maka umat Islam wajib berhati-hati.


3. Kedokteran Modern

Walaupun manusia mampu:

  • transplantasi organ,
  • rekayasa genetika,
  • operasi canggih,

tetapi manusia tetap tidak mampu menciptakan ruh.

Allah tetap Maha Kuasa.


4. Kehidupan Sosial

Manusia modern sering:

  • sombong karena ilmu,
  • sombong karena jabatan,
  • sombong karena teknologi.

Padahal seluruhnya fana.

Tauhid yang benar melahirkan kerendahan hati.


Motivasi

Wahai saudaraku…

Jika engkau mengenal Allah dengan benar:

  • hatimu akan tenang,
  • ibadahmu akan ikhlas,
  • hidupmu tidak mudah hancur oleh dunia.

Karena engkau yakin:

Allah tidak berubah walaupun dunia berubah.

Orang yang bertauhid dengan benar tidak mudah:

  • putus asa,
  • iri,
  • sombong,
  • takut kepada makhluk.

Muhasabah & Caranya

Pertanyaan Muhasabah

  • Apakah aku mengenal Allah dengan benar?
  • Apakah aku masih membayangkan Allah seperti makhluk?
  • Apakah aku lebih kagum kepada teknologi daripada kepada Allah?
  • Apakah aku menjaga tauhidku dari syirik halus?

Cara Muhasabah

1. Menyendiri sejenak setelah Isya’

Renungkan kelemahan diri.

2. Membaca Surat Al-Ikhlas berulang

Sampai hati merasakan keagungan Allah.

3. Memperbanyak istighfar

Karena dosa menggelapkan hati.

4. Berkumpul dengan ulama dan orang saleh

Agar aqidah tetap lurus.


Kemuliaan dan Kehinaan

Kemuliaan di Dunia

Orang yang bertauhid dengan benar:

  • hatinya tenang,
  • wajahnya bercahaya,
  • hidupnya penuh keberkahan,
  • dicintai orang saleh.

Kemuliaan di Alam Kubur

Kuburnya diluaskan, diberi cahaya, dan diberi kabar gembira.


Kemuliaan di Hari Kiamat

Mendapat naungan Allah, dipermudah hisab, dan diberi syafaat Rasulullah Shallallāhu ‘alaihi wa sallam.


Kemuliaan di Akhirat

Masuk surga dan melihat kenikmatan yang abadi.


Kehinaan Orang yang Rusak Tauhidnya

  • hati gelisah,
  • mudah tertipu dunia,
  • ibadah tidak nikmat,
  • terancam azab bila membawa keyakinan menyimpang.

Doa

Bismillāhirraḥmānirraḥīm.

Allāhumma yā Allāh, yā Aḥad, yā Ṣamad…
Sucikan hati kami dari syirik, riya’, dan prasangka buruk kepada-Mu.
Karuniakan kepada kami iman yang benar, hati yang bersih, ilmu yang bermanfaat, dan husnul khatimah.

Ya Allah…
Jangan Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.
Jadikan kami hamba yang mengenal-Mu dengan penuh adab dan ketundukan.

Rabbana ātinā fid-dunyā ḥasanah wa fil ākhirati ḥasanah wa qinā ‘adzāban nār.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada seluruh jamaah, pembaca, guru, dan para pencinta ilmu yang terus menjaga aqidah dan akhlak di tengah fitnah akhir zaman.

Semoga Allah menjadikan tulisan ini sebagai amal jariyah, penerang hati, dan penguat tauhid hingga akhir hayat.

“Tauhid yang benar akan melahirkan hati yang bersih, dan hati yang bersih akan dekat kepada Allah.”

والله أعلم بالصواب.

.......

qot3.

 Allah adalah Dzat yang maha kekal pada dzat-Nya yang agung yang kekal adanya, tidak akan menerima fana’ (rusak/binasa), Dzat yang maha memberi rizki yang menciptakan banyak-banyak rizki, atau Dzat yang banyak memberi rizki serta menyampaikannya pada para makhluk. Yang dinamakan rizki tidaklah hanya tertuju pada makanan dan minuman saja, akan tetapi pada setiap apa yang bisa diambil manfaatnya oleh semua hewan, yaitu yang berupa makanan, minuman, pakaian dan lain-lain. Termasuk dari nikmat yang paling agung adalah taufiq untuk bertaat. Rizki ada dua macam: Rizki yang bersifat dhahir, yaitu yang berupa makanan-makanan pokok dan makanan-makan lainya, itu semua milik badan, dan rizki yang bersifat bathin, yaitu yang berupa ilmu pengetahuan dan terbukanya pengetahuan terhadap Allah, itu semua milik hati dan asrar. Ketahuilah bahwasannya Allah memberikan rizki kepada semua makhluk-makhluk-Nya, dan diantara beberapa sebab dilapangkannya rizki adalah banyak bershalat.


Firman Allah:

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa”.

Banyak bershalawat pada nabi Muhammad saw. dan membaca istighfar.

Allah adalah Dzat yang maha disembah. Sebagian dari yang menunjukkan terhadap hal itu adalah perkataanmu: رَبَُّنَا اللهُ (“Tuhan kami hanyalah Allah”) Dzat yang yang maha memiliki.

Firman Allah:

“Tuhan langit dan bumi”

Tidak ada syabih (sekutu) yang serupa bagi-Nya dalam masalah ketuhanan, tidak ada nadhir (sekutu) yang menyerupai dan tidak ada mumatsil (sekutu) yang menyamai bagi-Nya. Adapun perbedaan antara kata syabih, nadhir dan mumatsil ialah:

Nadhir : Sesuatu yang menyamai walau hanya dalam satu sisi.

Syabih : Sesuatu yang menyamai dalam banyak sisi.

Mumatsil : Sesuatu yang menyamai dalam semua sisi.

Al-Barawi mengatakan, mambahas tentang dzat dan sifat-sifat Allah hukumnya tidak boleh لانَّ تَرْكَ الادْرَاكِ ادْرَاكٌ (meninggalkan untuk mengetahui adalah mengetahui) dan membahas masalah dzat Allah hukumnya syirik. Adapun semua sesuatu yang terbersit dihatimu, yaitu yang berupa sifat-sifat hawadits, maka sesungguhnya Allah tidaklah seperti itu.