Sunday, November 16, 2025

826. Perintah Kepada Pemegang Pemerintahan Supaya Bersikap Lemah-Lembut Kepada Rakyatnya.

 


Perintah Kepada Pemegang Pemerintahan Supaya Bersikap Lemah-Lembut Kepada Rakyatnya

Penulis: M. Djoko Ekasanu


Perintah Kepada Pemegang Pemerintahan Supaya Bersikap Lemah-lembut Kepada Rakyatnya, Memberikan Nasihat Serta Kasih Sayang Kepada Mereka; Larangan Menipu dan Mempersulit Mereka, Melalaikan Kemaslahatan Mereka, Serta Lalai Terhadap Kebutuhan Mereka.


Ringkasan Redaksi Asli

Tulisan ini menyoroti kewajiban para pemegang amanah pemerintahan untuk memperlakukan rakyat dengan lemah lembut, penuh kasih sayang, memberi nasihat yang benar, serta tidak menipu atau mempersulit mereka. Termasuk di dalamnya adalah larangan melalaikan kepentingan rakyat serta keharusan memelihara kebutuhan dasar mereka.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa-masa awal pemerintahan Islam, terutama di era Khulafaur Rasyidin, pemimpin dituntut untuk bersikap adil, rendah hati, dan dekat dengan rakyat. Namun perkembangan zaman membawa tantangan seperti penyalahgunaan kekuasaan, tekanan politik, dan lemahnya akhlak sebagian pemimpin. Hal inilah yang memunculkan nasihat para ulama dan sufi agar pemimpin kembali kepada prinsip dasar: rahmah, amanah, dan keadilan.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Ketergelinciran pemimpin dalam cinta dunia sehingga mengabaikan pelayanan kepada rakyat.
  2. Korupsi moral dan mental, termasuk penipuan atau kelalaian dalam memimpin.
  3. Sistem pemerintahan yang tidak transparan sehingga rakyat tidak mendapatkan haknya.
  4. Pengaruh hawa nafsu dan ego, yang membuat pemimpin lupa amanah.

Intisari Judul

Pemimpin wajib bersikap lembut, memberikan kasih sayang, dan melayani rakyat dengan penuh amanah. Kelalaian dalam kepemimpinan merupakan dosa besar yang dapat merusak tatanan masyarakat.


Tujuan dan Manfaat

Tujuan:

  • Mengingatkan pemimpin tentang amanah besar yang mereka tanggung.
  • Membangkitkan kepedulian sosial di tengah masyarakat modern.
  • Menjadi panduan moral bagi pejabat publik agar senantiasa mengutamakan rakyat.

Manfaat:

  • Terwujudnya pemerintahan adil dan penuh rahmat.
  • Mendekatkan pemimpin dengan rakyat sehingga tercipta harmoni.
  • Menghindarkan masyarakat dari kezaliman dan kesengsaraan.

Dalil dari Al-Qur'an dan Hadis

Al-Qur’an

  • QS. Ali 'Imran [3]: 159“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut kepada mereka.”
  • QS. An-Nisa’ [4]: 58“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...”
  • QS. Al-Hajj [22]: 41“(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar.”

Hadis

  • Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari-Muslim)
  • Nabi ﷺ bersabda: “Ya Allah, siapa yang mengurusi urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa yang memudahkan mereka, maka mudahkanlah ia.” (HR. Muslim)

Analisis dan Argumentasi

Pemimpin adalah poros keberlangsungan masyarakat. Softpower dalam bentuk kelembutan, transparansi, dan kasih sayang lebih efektif daripada kekerasan. Sejarah menunjukkan bahwa pemimpin yang zalim runtuh bersama kekuasaannya, sedangkan pemimpin yang berakhlak akan dikenang sepanjang masa.

Secara sosial, ketika pemimpin berlaku keras dan lalai, maka terjadi disharmoni, konflik, hingga pemberontakan. Namun ketika pemimpin bersikap penuh rahmah, masyarakat menjadi kuat, produktif, dan stabil.


Keutamaannya

  1. Dicintai Allah dan Rasul-Nya.
  2. Didoakan kebaikan oleh rakyat.
  3. Menjadi amal jariyah kepemimpinan.
  4. Mencegah keruntuhan moral dan sosial bangsa.

Relevansi di Era Modern: Teknologi, Komunikasi, Transportasi, Kesehatan, Sosial

  1. Teknologi — Pemimpin dapat memanfaatkan big data untuk memahami kebutuhan rakyat.
  2. Komunikasi — Media sosial memudahkan dialog pemimpin–rakyat, sehingga keterbukaan semakin dituntut.
  3. Transportasi — Mobilitas pengawasan menjadi lebih cepat, sehingga pelayanan publik dapat diperbaiki.
  4. Kedokteran — Pemimpin wajib memastikan layanan kesehatan terjangkau.
  5. Sosial — Rakyat semakin kritis; pemimpin harus lebih empatik dan adaptif.

Hikmah

  • Kekuasaan adalah ujian, bukan kemuliaan semata.
  • Lembut bukan berarti lemah; keras bukan berarti tegas.
  • Pemimpin yang baik memudahkan urusan rakyat, bukan sebaliknya.

Muhasabah dan Caranya

  1. Mengingat bahwa kekuasaan hanya sementara.
  2. Menilai keputusan yang telah dibuat: apakah memudahkan atau menyulitkan?
  3. Meminta maaf kepada rakyat bila ada kelemahan.
  4. Meningkatkan pelayanan berbasis kebutuhan masyarakat.

Doa

“Ya Allah, jadikanlah kami pemimpin yang lembut, adil, amanah, dan penuh kasih sayang kepada rakyat. Lindungilah kami dari kezaliman dan kelalaian. Aamiin.”


Nasehat Para Ulama dan Sufi

  • Hasan al-Bashri: “Kepemimpinan adalah amanah, bukan kemuliaan. Siapa yang tidak sanggup menegakkannya, maka ia akan binasa.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Kasih sayang adalah pakaian para pecinta Allah. Kenakan ia dalam memimpin.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Hancurkan keakuanmu sebelum kau memimpin manusia.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Pemimpin adalah cermin hatinya; jika hatinya bening, rakyat akan tenang.”
  • Al-Hallaj: “Cinta kepada makhluk adalah bukti kehadiran Allah dalam diri.”
  • Imam al-Ghazali: “Pemimpin zalim lebih membahayakan dari ribuan musuh di luar negeri.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jadilah penopang bagi rakyatmu, jangan menjadi bebannya.”
  • Jalaluddin Rumi: “Kelembutan membuka pintu yang tidak bisa dibuka oleh kekerasan.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Pemimpin sejati memimpin dengan cahaya hikmah, bukan dengan suara ancaman.”
  • Ahmad al-Tijani: “Pemimpin yang berzikir akan mengalirkan keberkahan pada rakyatnya.”

Testimoni Ulama Indonesia

  • Gus Baha: “Pemimpin itu harus sabar dan dekat dengan rakyat. Yang paling penting, jangan mempersulit.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Tugas pemimpin adalah memberi kemudahan. Jika menyulitkan, ia telah menyimpang dari sunnah.”
  • Buya Yahya: “Amanah itu berat. Maka pemimpin harus takut kepada Allah dalam setiap keputusan.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Pemimpin yang baik adalah yang paling sedikit menyusahkan rakyat.”

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Shahih Bukhari & Muslim
  3. Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  4. Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Al-Hikam – Ibnu 'Athaillah
  6. Kutipan majelis Gus Baha, Ustadz Adi Hidayat, Buya Yahya, dan Ustadz Abdul Somad

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada seluruh guru, ulama, pembaca, dan masyarakat yang terus menjaga nilai-nilai kebaikan dan amanah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga Allah selalu membimbing kita menuju rahmat dan keselamatan.


Penulis: M. Djoko Ekasanu

Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang sopan dan santai dari teks tersebut, dengan tetap mempertahankan makna dan kesungguhan pesannya.


Judul Versi Gaul: Cara Jadi Pemimpin yang Bener: Santuy, Sayang Rakyat, Jangan Banyak Bocor!


Ringkasan Versi Gaul: Intinya,tulisan ini ngasih tau para pemegang kekuasaan buat gak sok galak dan jaim. Mereka harusnya santuy, sayang sama rakyat, dan ngasih bimbingan yang bener. Jangan sampe nipu, bikin susah, atau cuek sama kebutuhan dan kepentingan orang banyak.


Latar Belakang Zaman Now (Tapi Dulu): Di awal-awal pemerintahan Islam,pemimpin tuh humble, adil, dan deket banget sama rakyat. Tapi lama-lama, godaan kekuasaan bikin ada aja yang mulai korup, main peras, atau akhlaknya amburadul. Makanya, para ulama dan sufi ingetin supaya pemimpin balik lagi ke konsep dasar: sayang, amanah, dan adil.


Penyebab Masalahnya:


· Cinta dunia banget: Terlalu fokus cari harta dan tahta, sampe lupa kalo tugasnya ngelayani.

· Korupsi moral dan mental: Sering bohong, nipu, atau serius nggak sih jadi pemimpin.

· Sistem pemerintahan yang nggak clear: Bikin rakyat susah dapetin haknya.

· Ego dan nafsu: Lupa daratan, amanah mah angin lalu.


Intisari Versi Gue: Pemimpin tuh wajib bersikap lembut,kasih sayang, dan ngelayani rakyat dengan jujur. Kalo mereka lalai, itu dosa besar yang bisa bikin negara berantakan.


Tujuan & Benefitnya:


· Tujuan: Ngingetin para pemimpin soal amanah gede yang mereka pikul dan bikin mereka melek sosial.

· Manfaat: Pemerintahan jadi adil dan penuh berkah, hubungan pemimpin-rakyat akur, dan masyarakat terhindar dari kesengsaraan.


Dalil-Dalilnya (Tetap Pakai Bahasa Asli):


Al-Qur'an


· QS. Ali 'Imran [3]: 159 — “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut kepada mereka.”

· QS. An-Nisa’ [4]: 58 — “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya...”

· QS. Al-Hajj [22]: 41 — “(Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, memerintahkan yang makruf dan mencegah yang mungkar.”


Hadis


· Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR. Bukhari-Muslim)

· Nabi ﷺ bersabda: “Ya Allah, siapa yang mengurusi urusan umatku lalu ia mempersulit mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa yang memudahkan mereka, maka mudahkanlah ia.” (HR. Muslim)


Analisis & Argumen Gue: Pemimpin tuh porosnya masyarakat.Softpower kayak kelembutan dan keterbukaan lebih efektif daripada main kasar. Sejarah udah nunjukin, pemimpin zalim pasti tumbang, sementara yang baik hati dikenang selamanya. Kalo pemimpin keras dan cuek, yang ada konflik sosial. Tapi kalo pemimpin penuh sayang, masyarakat jadi kuat dan stabil.


Keuntungan Jadi Pemimpin Baik:


· Dikasihi Allah dan Rasul-Nya.

· Didoain baik sama rakyat.

· Jadi amal jariyah.

· Negara aman dari kerusakan moral.


Relevansi di Zaman Serba Cepat:


· Teknologi: Bisa pake big data buat tau kebutuhan rakyat.

· Komunikasi: Medsos bikin dialog sama rakyat jadi gampang, jadi harus makin transparan.

· Transportasi: Bisa blusukan dan pantau pelayanan publik dengan cepat.

· Kesehatan: Wajib pastiin layanan kesehatan terjangkau buat semua.

· Sosial: Rakyat sekarang makin kritis, jadi pemimpin harus makin empati dan adaptif.


Hikmah & Pelajaran Hidup:


· Kekuasaan tuh ujian, bukan buat pamer.

· Lembut bukan cengeng, tegas bukan kasar.

· Pemimpin beneran tuh yang memudahkan, bukan nyusahin.


Muhasabah Diri (Introspeksi):


· Ingat, jabatan cuma sementara.

· Evaluasi diri: keputusan gue bikin orang lega atau malah sebel?

· Berani minta maaf kalo salah.

· Tingkatin pelayanan sesuai kebutuhan orang banyak.


Doa (Tetap Khusyuk): “Ya Allah,jadikanlah kami pemimpin yang lembut, adil, amanah, dan penuh kasih sayang kepada rakyat. Lindungilah kami dari kezaliman dan kelalaian. Aamiin.”


Kata-Kata Motivasi Para Ulama (Versi Intinya):


· Hasan al-Bashri: "Jabatan itu amanah, bukan buat gaya-gayaan. Gak kuat, jangan paksain."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Sayang-sayangan itu kunci utama."

· Abu Yazid al-Bistami: "Tinggalin ego lo dulu sebelum memimpin orang."

· Junaid al-Baghdadi: "Hati pemimpin yang bersih = rakyat yang tenang."

· Al-Hallaj: "Cinta ke sesama itu bukti cinta ke Allah."

· Imam al-Ghazali: "Pemimpin zalim lebih bahaya dari seribu musuh."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Jadilah solusi, jangan jadi beban."

· Jalaluddin Rumi: "Dengan lembut, banyak pintu tertembus yang keras malah nggak."

· Ibnu ‘Arabi: "Pemimpin keren memimpin dengan cahaya kebijaksanaan."

· Ahmad al-Tijani: "Pemimpin yang ingat Tuhan, bikin rakyatnya dapat berkah."


Testimoni Ulama Indonesia (Versi Santai):


· Gus Baha: "Pemimpin ya sabar, deketin rakyat. Jangan suka bikin ribet."

· Ustadz Adi Hidayat: "Tugas pemimpin itu memudahkan. Kalo nyusahin, artinya udah melenceng."

· Buya Yahya: "Amanah itu berat banget. Jadi harus takut sama Allah dalam setiap putusan."

· Ustadz Abdul Somad: "Pemimpin yang bagus itu yang paling jarang bikin repot rakyatnya."


Daftar Pustaka (Tetap Kredibel):


· Al-Qur’an al-Karim

· Shahih Bukhari & Muslim

· Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali

· Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani

· Al-Hikam – Ibnu 'Athaillah

· Kutipan majelis Gus Baha, Ustadz Adi Hidayat, Buya Yahya, dan Ustadz Abdul Somad


Ucapan Terima Kasih Versi Gue: Big thanks buat semua guru,ulama, dan kalian para pembaca keren yang tetap jaga nilai-nilai baik dan kejujuran di negeri ini. Semoga kita semua selalu dibimbing ke jalan yang benar. Aamiin.


Penulis: M. Djoko Ekasanu (Dibuat lebih relatable tanpa mengurangi esensi)