Kitab Sullamut Taufiq (Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i)
Diantara maksiat badan, antara lain:
Menirukan orang mukmin karena menghina.
Mengoreksi kekurangan-kekurangan orang.
Membuat tahi lalat (tato).
Memutus pembicaraan (sateru, jawa) dengan sesama muslim lebih dari tiga hari, kecuali ada uzur syara’.
Duduk bersama orang ahli bid’ah, atau bersama orang fasiq (ahli maksiat) untuk menghibur.
.......
Menjaga Jiwa di Tengah Maksiat yang Semakin Mudah
Tazkiyatun Nufūs di Tengah Zaman Digital
Muhasabah atas Maksiat Badan dalam Sullamut Taufiq
Di dalam Sullamut Taufiq, Al-‘Allamah Abdullah bin Husain bin Thahir Ba ‘Alawi رحمه الله menyebut beberapa maksiat badan, di antaranya:
- Menirukan orang mukmin karena menghina.
- Mengoreksi kekurangan orang (untuk merendahkan).
- Membuat tato.
- Memutus pembicaraan lebih dari tiga hari tanpa uzur syar‘i.
- Duduk bersama ahli bid‘ah atau orang fasik untuk menghibur diri.
Jika dahulu maksiat itu terjadi di pasar, di rumah, atau di majelis, maka hari ini ia menjelma di layar-layar kecil dalam genggaman kita. Teknologi mempercepat komunikasi, memudahkan transportasi, memajukan kedokteran — namun tanpa tazkiyatun nufūs (penyucian jiwa), kemajuan justru memperluas ladang dosa.
1️⃣ Menirukan Orang Mukmin Karena Menghina
Hari ini ejekan tidak lagi terbatas pada lisan. Ia hadir dalam bentuk meme, video parodi, status sindiran, komentar pedas.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang dikatakan buruk apabila ia meremehkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)
Di era media sosial, satu ejekan bisa tersebar ke ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan detik. Dosa yang dahulu kecil kini berlipat karena jangkauannya.
Muhasabah:
Apakah jempol kita menjadi alat ibadah atau alat penghinaan?
Tazkiyah:
Latih hati untuk melihat kelebihan orang lain. Jika tidak mampu memuji, maka diam adalah keselamatan.
2️⃣ Mengoreksi Kekurangan Orang untuk Merendahkan
Budaya “mengoreksi” kini sering dibungkus dengan istilah edukasi, padahal hakikatnya mempermalukan.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Nabi ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menutup aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)
Teknologi membuat aib seseorang viral. Padahal membuka aib bukanlah dakwah, melainkan luka sosial.
Tazkiyah:
Sebelum menegur orang lain, tegurlah diri sendiri. Sebelum mengkritik, tanyakan: apakah ini demi Allah atau demi ego?
3️⃣ Membuat Tato
Dalam hadis disebutkan:
“Allah melaknat perempuan yang mentato dan yang meminta ditato.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Tubuh adalah amanah. Di zaman modern, kedokteran dan estetika berkembang pesat. Namun kemajuan medis bukan alasan melanggar batas syariat.
Tazkiyah:
Hiasan terbaik seorang mukmin bukan di kulitnya, tetapi pada akhlaknya.
4️⃣ Memutus Pembicaraan Lebih dari Tiga Hari
Hari ini bukan hanya memutus pembicaraan, tapi juga:
- Blokir tanpa alasan syar‘i
- Unfollow karena dendam
- Diam berkepanjangan karena ego
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak halal bagi seorang muslim memutus hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Di era komunikasi instan, menyambung silaturahmi lebih mudah daripada dulu. Maka memutusnya tanpa alasan syar‘i justru lebih berat hisabnya.
Tazkiyah:
Turunkan ego, angkat derajat. Maafkan sebelum diminta maaf.
5️⃣ Duduk Bersama Ahli Maksiat untuk Menghibur
Di masa kini, “duduk bersama” tidak selalu fisik. Ia bisa berupa:
- Mengikuti konten maksiat
- Bergabung dalam grup ghibah
- Menikmati tontonan yang merusak iman
Allah berfirman:
“Dan apabila kamu melihat orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka…”
(QS. Al-An‘am: 68)
Lingkungan digital membentuk hati. Apa yang sering kita tonton, itulah yang perlahan kita cintai.
Tazkiyah:
Pilih majelis yang menghidupkan hati, bukan yang mengeraskan hati.
Relevansi di Era Kecanggihan
Teknologi, transportasi, dan kedokteran adalah nikmat besar. Namun tanpa penyucian jiwa:
- Komunikasi menjadi alat fitnah
- Transportasi mempercepat maksiat
- Kedokteran memperkuat kesombongan
- Media sosial menumbuhkan riya’
Allah tidak melihat kecanggihan kita, tetapi melihat hati dan amal kita:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Maka inti keselamatan bukan pada kemajuan zaman, tetapi pada kebersihan hati.
Harapan
Zaman boleh berubah, tetapi jalan menuju Allah tetap sama:
- Jaga lisan dan jempol
- Bersihkan niat
- Perbaiki hubungan
- Pilih lingkungan
- Isi teknologi dengan dzikir dan ilmu
Tazkiyatun nufūs adalah proyek seumur hidup. Ia bukan teori, melainkan latihan sabar, tawadhu’, dan ikhlas setiap hari.
Doa
Ya Allah, bersihkan hati kami dari kesombongan dan kedengkian.
Jauhkan lisan dan jempol kami dari penghinaan dan fitnah.
Jadikan teknologi sebagai jalan ibadah, bukan jalan maksiat.
Satukan hati kami dalam ukhuwah.
Ampuni dosa-dosa kami yang tersebar di dunia maya maupun nyata.
Matikan kami dalam keadaan husnul khatimah.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih atas kesempatan untuk bermuhasabah bersama.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi penulis terlebih dahulu, kemudian bagi siapa pun yang membacanya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa menyucikan jiwa dan menjaga diri di tengah derasnya arus zaman.
.......
Jaga Hati di Zaman Serba Digital
(Renungan Santai Tapi Tetap Bermakna)
Tazkiyatun Nufūs ala Anak Kekinian
Muhasabah Diri soal Maksiat Badan dari Kitab Sullamut Taufiq
---
Guys, di dalam kitab Sullamut Taufiq, Al-‘Allamah Abdullah bin Husain bin Thahir Ba ‘Alawi رحمه الله nyebutin beberapa maksiat yang berkaitan sama badan kita. Dulu tuh maksiatnya ya di pasar, di rumah, atau di majelis. Tapi sekarang? Semua ada di layar kecil yang selalu kita genggam.
Teknologi makin canggih, komunikasi makin cepat, transportasi makin kilat, kedokteran makin maju—tapi kalau hati nggak ikut dibersihin, kemajuan ini malah bikin kita gampang banget terjerumus dosa.
Yuk, kita muhasabah satu-satu. Santai, tapi serius.
---
1️⃣ Ngejek, Nge-meme, Bikin Parodi Buat Nyindir
Dulu ngejek pake lisan. Sekarang? Cukup pake jempol.
Buat meme, video parodi, status sindiran, komen pedas—semua instan.
Allah Ta‘ala berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Cukuplah seseorang dikatakan buruk apabila ia meremehkan saudaranya sesama muslim.”
(HR. Muslim)
Refleksi:
Kita kadang lupa, satu konten receh yang kita buat bisa dilihat ribuan orang. Satu sindiran halus bisa nyebar ke mana-mana. Dosa kecil jadi numpuk karena jangkauannya luas.
Jaga hati:
Latih diri buat lihat kebaikan orang lain. Kalau nggak bisa muji, mending diem aja. Itu udah pahala, lho.
---
2️⃣ "Eh Aku Cuma Ngasih Saran, Kok..." — Padahal Ngerendahin
Sekarang banyak banget yang suka "ngoreksi" orang lain, tapi dalem hati tuh penginnya pamer atau bikin orang lain malu. Dibungkusnya edukasi, tapi esensinya nyinyir.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”
(QS. Al-Hujurat: 12)
Nabi ﷺ bersabda:
“Barangsiapa menutup aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.”
(HR. Muslim)
Refleksi:
Dulu aib orang cuma diketahui tetangga. Sekarang bisa viral cuma dalam sejam. Ingat, buka aib orang bukan dakwah. Itu toxic.
Jaga hati:
Sebelum ngedit orang lain, edit dulu diri sendiri. Sebelum kasih masukan, tanya: "Ini tuh buat Allah atau buat gue aja biar keliatan pinter?"
---
3️⃣ Tato: Seni atau Lupa Amanah?
Nabi ﷺ bersabda:
“Allah melaknat perempuan yang mentato dan yang meminta ditato.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Refleksi:
Sekarang tato makin gampang dibuat. Tempatnya banyak, teknologinya canggih, bahkan ada yang bilang "ini kan seni". Tapi badan kita ini titipan. Amanah. Bukan kanvas bebas.
Jaga hati:
Hiasan terbaik mukmin bukan di kulit. Tapi di akhlak. Yang kelihatan bukan gambarnya, tapi sikapnya.
---
4️⃣️ Udah Zaman Chat, Masih Aja Galakan
Dulu putus komunikasi ya saling nggak nyapa. Sekarang?
Blokir, mute, unfollow—tanpa alasan yang jelas.
Bahkan cuma karena ego, nggak saling sapa berhari-hari.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak halal bagi seorang muslim memutus hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Refleksi:
Zaman sekarang mah tinggal ketik, kirim stiker, atau share reel, udah nyambung lagi. Tapi kok ya kadang ego lebih besar daripada keinginan buat baikan.
Jaga hati:
Turunin gengsi, naikin derajat. Memaafkan itu berat, tapi pahalanya juga gede. Coba mulai duluan, nggak rugi kok.
---
5️⃣ Duduk Bareng Konten Maksiat — Walau Niatnya "Sekadar Hiburan"
Dulu duduk sama orang fasik itu fisik. Sekarang?
Cukup scroll FYP.
Nonton konten yang merendahkan orang lain, ghibah dalam bentuk podcast, komedi yang hinain agama.
Niatnya cari hiburan, tapi hati pelan-pelan keras.
Allah berfirman:
“Dan apabila kamu melihat orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka…”
(QS. Al-An‘am: 68)
Refleksi:
Lingkungan digital itu ya lingkungan kita. Kalau kita isi dengan konten nggak jelas, hati juga yang kena dampaknya. Pelan-pelan, maksiat terasa biasa.
Jaga hati:
Pilih konten yang bikin adem, bukan yang bikin panas hati. Pilih temen ngobrol yang ngingetin ke Allah, bukan yang bikin lupa.
---
Teknologi Boleh Maju, Hati Harus Tetap Bersih
Kita tinggal di zaman di mana semuanya serba cepat.
Tapi kalau nggak dibarengi tazkiyatun nufūs, maka:
· Komunikasi jadi ajang fitnah.
· Transportasi buat kabur dari tanggung jawab.
· Kedokteran bikin sombong.
· Medsos tumbuhin riya’.
Allah nggak lihat seberapa canggih gadget kita. Allah lihat hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)
---
Jadi, Gimana Caranya?
Nggak usah sok alim. Tapi coba mulai dari hal kecil:
· Jaga jempol. Mau ngetik apa hari ini?
· Cek niat. Share ini karena Allah atau karena pengin dilihat orang?
· Maafin yang udah lama nggak disapa.
· Unfollow akun-akun yang bikin hati keras.
· Isi teknologi dengan hal yang berguna.
Tazkiyatun nufūs itu bukan proyek sebulan. Tapi seumur hidup.
Nggak harus sempurna, asal konsisten.
---
Doa
Ya Allah, bersihkan hati kami dari sombong dan iri.
Jaga jempol dan lisan kami dari menyakiti orang lain.
Berkahi teknologi yang kami pakai, jadikan itu ladang pahala, bukan ladang dosa.
Satukan hati kami, jangan biarkan ego memisahkan kami.
Ampuni dosa-dosa yang sudah kami sebarluaskan, baik sengaja maupun tidak.
Matikan kami dalam keadaan husnul khatimah.
Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.
---
Catatan kecil:
Tulisan ini pengingat buat diri sendiri dulu.
Kalau ada manfaatnya, itu dari Allah.
Kalau ada kurangnya, itu dari saya.
Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang terus belajar jadi lebih baik.
Di dunia yang makin bising ini, semoga hati kita tetap tenang.
🐻❄️✨