Thursday, February 12, 2026

951. WAJAH MANUSIA, HATI SETAN?



kitab Usfuriyah karya Muhammad bin Abu Bakar bin Usfuri.

Hadis Keempat Puluh (40: Orang-Orang Akhir Zaman.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata kalau Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda:

Di akhir zaman, akan muncul para kaum yang wajah mereka adalah seperti wajah manusia, hati mereka adalah seperti hati setan, sifat mereka adalah seperti sifat macan yang buas berbahaya. Di dalam hati mereka tidak ada sedikitpun rasa belas kasih. Mereka adalah kaum-kaum yang menumpahkan darah dan tidak menghindari keburukan. 

Apabila kamu mengikuti mereka maka mereka akan mendekatimu. Apabila kamu menunda sesuatu dari mereka maka mereka akan mengghibahmu. Apabila kamu percaya kepada mereka maka mereka mengkhianatimu. Para anak kecil dari mereka adalah yang suka berhutang. Para pemuda dari mereka adalah yang berkelakukan buruk. Para orang tua dari mereka adalah yang berkelakukan dosa. Mereka tidak memerintahkan kebaikan dan tidak mencegah kemungkaran. Mencari kemuliaan dengan perantara dukungan dari mereka adalah suatu kehinaan. Hukum di antara mereka adalah bid’ah. Bid’ah di kalangan mereka adalah kesunahan. Ketika kaum-kaum seperti ini muncul maka Allah akan menjadikan orang-orang buruk mereka sebagai para pemimpin. Orang-orang baik dari mereka berdoa tetapi tidak terkabulkan.

.........

🕊️ WAJAH MANUSIA, HATI SETAN?
Muhasabah Akhir Zaman dalam Perspektif Tazkiyatun Nufūs

Hadis ke-40 dalam Kitab ‘Uṣfūriyyah menggambarkan potret manusia akhir zaman: wajahnya manusia, tetapi hatinya seperti setan; lisannya manis, tetapi batinnya buas; tidak ada belas kasih, mudah menumpahkan darah, gemar berkhianat, dan hukum Allah diganti dengan hawa nafsu.

Apakah ini sekadar kisah masa depan?
Ataukah cermin zaman yang sedang kita jalani?


🌍 Relevansi di Zaman Canggih

Kita hidup di era teknologi tinggi:

  • Komunikasi secepat kilat.
  • Transportasi menembus jarak.
  • Kedokteran memperpanjang usia.
  • Informasi menyebar dalam hitungan detik.

Namun pertanyaannya:
Apakah jiwa kita ikut berkembang, atau justru semakin rusak?

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Teknologi tanpa tazkiyah melahirkan:

  • Ghibah digital (fitnah viral).
  • Khianat berbentuk penipuan online.
  • Hati keras karena terlalu sering melihat kekerasan di layar.
  • Ilmu tinggi tetapi adab rendah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh tipu daya; pendusta dipercaya, orang jujur didustakan…” (HR. Ahmad)

Bukankah ini nyata hari ini?


🧠 Masalahnya Bukan Teknologi, Tapi Jiwa

Teknologi hanyalah alat.
Hati yang rusaklah yang menjadikannya senjata.

Dalam perspektif Tazkiyatun Nufūs, akar kerusakan akhir zaman adalah:

  1. Hati yang mati – tidak lagi takut kepada Allah.
  2. Nafsu yang dipertuhankan – merasa benar meski salah.
  3. Hilangnya rahmah (belas kasih).

Allah berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ
“Maka celakalah bagi hati yang keras.”
(QS. Az-Zumar: 22)

Hati yang keras tidak akan tersentuh oleh kecanggihan apa pun.


🔎 Muhasabah Diri

Sebelum kita menyalahkan zaman, mari bertanya:

  • Apakah kita pernah menyebarkan berita tanpa tabayyun?
  • Apakah kita pernah mengkhianati amanah kecil?
  • Apakah kita lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan iman?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging; jika ia baik maka baik seluruh tubuh, jika ia rusak maka rusak seluruh tubuh. Itulah hati.” (HR. Bukhari Muslim)

Akhir zaman bukan sekadar fenomena global.
Ia bermula dari hati yang lalai.


🌱 Harapan Masih Ada

Walau zaman rusak, Allah tidak menutup pintu perbaikan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Beruntunglah orang-orang yang asing.”
Ketika ditanya siapa mereka, beliau menjawab:
“Orang-orang yang memperbaiki ketika manusia rusak.” (HR. Muslim)

Di tengah kerusakan sosial, masih ada:

  • Orang tua yang mendidik anaknya dengan iman.
  • Guru yang ikhlas.
  • Pedagang yang jujur.
  • Da’i yang lembut.
  • Hamba yang bangun malam mendoakan umat.

Allah berfirman:

إِلَّا مَنْ أَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”
(QS. Asy-Syu’ara: 89)

Itulah tujuan tazkiyah: qalbun salīm.


🧴 Cara Membersihkan Jiwa di Zaman Modern

  1. Puasa dari dosa digital.
    Tahan jari sebelum menulis.

  2. Perbanyak dzikir di tengah kebisingan dunia.
    Gadget sibuk, hati tetap bersama Allah.

  3. Jadikan teknologi sarana dakwah, bukan maksiat.

  4. Perbaiki niat dalam setiap aktivitas dunia.
    Transportasi untuk silaturahmi.
    Ilmu kedokteran untuk menyelamatkan nyawa.
    Media sosial untuk menebar rahmah.


🤲 Doa

Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan kami bagian dari kaum yang wajahnya manusia tetapi hatinya setan.
Bersihkan hati kami dari riya’, hasad, khianat, dan kerasnya jiwa.
Lembutkan hati kami dengan dzikir kepada-Mu.
Jadikan teknologi di tangan kami sebagai alat kebaikan, bukan alat kehancuran.
Jadikan kami termasuk orang-orang yang memperbaiki ketika manusia rusak.
Karuniakan kepada kami qalbun salīm saat menghadap-Mu.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.


Terima kasih atas kesempatan untuk merenung bersama.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi penulis dan pembaca, agar kita tidak sekadar hidup di akhir zaman — tetapi menjadi hamba yang selamat di dalamnya. 🤲

......
Judul Santuy:
Wajahnya Manusia, Hatinya Setan?
—Curhat Akhir Zaman buat Anak Muda yang Masih Peduli

---

Kisahnya:

Jadi gini, di Hadis ke-40 Kitab ‘Uṣfūriyyah tuh ngebahas gimana potret manusia pas zaman udah mepet-mepet: Wajahnya kayak manusia biasa, tapi hatinya… duh, kayak setan banget vibes-nya. Ngomongnya manis, dalemannya serem. No empathy, gampang banget ngeluarin darah, suka khianat, dan hukum Allah diganti sama hawa nafsu sendiri.

Pertanyaannya:
Ini cuma cerita masa depan doang?
Atau jangan-jangan… ini kita banget?

---

📱 Zaman Udah Canggih, Hati Kok Kalah?

Sekarang tuh zaman edan teknologi:

· Chat-an bisa lintas benua.
· Naik pesawat kayak naik angkot.
· Umur panjang gara-gara medis makin canggih.
· Info nyebar cuma dalam hitungan detik.

Tapi nanya: Jiwa kita ikut naik level, atau malah lag?

Allah ﷻ bilang:

إِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
"Allah nggak bakal ngubah nasib suatu kaum, kalau mereka sendiri nggak ngubah apa yang ada di dalam diri mereka."
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Kalau teknologi maju tapi hati nggak ikut di-upgrade, jadinya:

· Ghibah versi kekinian: viral, hate comment, nyinyir di mana-mana.
· Khianat model baru: penipuan online, catfishing, janji manis di kolom komentar.
· Hati keras gegara tiap hari liat konten kekerasan di FYP.
· Pintar secara akademik, tapi adab? Minus.

Rasulullah ﷺ udah warning dari dulu:

"Bakal datang tahun-tahun penuh tipu daya; pembohong dipercaya, orang jujur malah dibilang bohong…"
(HR. Ahmad)

Kedengerannya familiar? Ya ampun, udah happening banget ini.

---

🧠 Bukan Teknologi-nya, Tapi Hati-nya

Teknologi itu netral. Dia alat.
Tapi kalau alatnya dipegang hati yang rusak? Bencana.

Dalam bahasa Tazkiyatun Nufūs (alias self-care versi akhirat), akar masalahnya itu:

· Hati udah mati rasa → nggak takut sama Allah.
· Nafsu jadi tuhan → selalu ngerasa bener sendiri.
· Hilangnya rahmah → susah iba, susah maafin.

Allah ﷻ bilang:

فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ
"Celaka lah buat hati yang keras."
(QS. Az-Zumar: 22)

Hati kayak gini, secanggih apa pun alat di tangan, bakal tetap jadi sumber masalah.

---

🔎 Self-Renungan, Jangan Cuma Nyalahin Zaman

Sebelum nuduh orang lain, yuk tanya diri sendiri:

· Udah pernah share berita tanpa cek dulu?
· Pernah ngelakuin khianat kecil? Janji nggak ditepati, amanah diremehin?
· Lebih takut kehilangan followers atau kehilangan iman?

Rasulullah ﷺ bilang:

"Dalam tubuh itu ada segumpal daging. Kalau dia baik, baiklah seluruh badan. Kalau dia rusak, rusaklah semuanya. Itulah hati."
(HR. Bukhari Muslim)

Akhir zaman bukan cuma tentang Dajjal atau perang besar.
Akhir zaman juga bisa dimulai dari hati yang nggak dirawat.

---

🌱 Tapi Tenang, Masih Ada Harapan

Meskipun vibe zaman udah kayak gini, Allah ﷻ nggak pernah nutup pintu perbaikan.

Rasulullah ﷺ bilang:

"Beruntung banget orang-orang asing."
Ditanya: "Siapa mereka, ya Rasul?"
Jawabnya: "Orang-orang yang tetap baik di saat orang lain udah rusak."
(HR. Muslim)

Artinya: di tengah tren toxic, masih ada yang:

· Jadi orang tua yang sabar ngajarin iman ke anak-anaknya.
· Jadi guru yang ngajar ikhlas, bukan cuma ngejar sertifikasi.
· Jadi pedagang yang jujur, nggak tipu-tipu timbangan.
· Jadi konten kreator yang nyebarin ilmu, bukan aib orang.
· Jadi anak muda yang masih bangun malam, nangis doain umat.

Allah ﷻ bilang:

إِلَّا مَنْ أَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
"Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat."
(QS. Asy-Syu’ara: 89)

Itu goal-nya tazkiyah: punya hati yang damai, bersih, selamat. Qalbun salīm.

---

🧴Tips Upgrade Diri di Era Serba Digital

1. Puasa dari dosa digital
      Mikir dulu sebelum ngetik, apalagi sebelum post. Jari lo bisa jadi pahala atau dosa.
2. Dzikir di sela-sela scroll
      Isi feeds hati lo dengan "Subhanallah" di sela-sela timeline.
3. Jadikan gadget ladang pahala
      Bukan cuma buat mantengin drama, tapi buat nyebarin konten yang mencerahkan.
4. Niat lagi, ulang lagi
      Mau naik mobil? Niat buat silaturahmi. Mau kuliah kedokteran? Niat buat nyembuhin pasien dengan kasih sayang. Mau main medsos? Niat buat nebarkan manfaat.

---

🤲 Doa Dari Hati

Ya Allah…
Jangan jadikan kami bagian dari generasi yang wajahnya innocent tapi hatinya keras kayak batu.
Bersihin hati kami dari riya’, iri, khianat, dan mati rasa.
Lembutkan hati kami dengan dzikir ke Engkau.
Berkahi gadget kami, jadikan alat itu buat nyebarin kebaikan, bukan keburukan.
Jadikan kami bagian dari orang-orang yang tetap istiqamah di tengah gempuran tren dosa.
Dan matikan kami dalam keadaan qalbun salīm.
Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.

---

Terima kasih udah baca sampai bawah.
Semoga tulisan santuy ini bukan cuma numpang lewat di hati, tapi ninggalin bekas buat ubah diri.
Kita bukan cuma hidup di akhir zaman—tapi kita bisa jadi hamba yang selamat di dalamnya. 🤲💙

949. Menjaga Jiwa di Tengah Maksiat yang Semakin Mudah

 

Kitab Sullamut Taufiq (Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i)

Diantara maksiat badan, antara lain:

Menirukan orang mukmin karena menghina.

Mengoreksi kekurangan-kekurangan orang.

Membuat tahi lalat (tato).

Memutus pembicaraan (sateru, jawa) dengan sesama muslim lebih dari tiga hari, kecuali ada uzur syara’.

Duduk bersama orang ahli bid’ah, atau bersama orang fasiq (ahli maksiat) untuk menghibur.

.......

Menjaga Jiwa di Tengah Maksiat yang Semakin Mudah


Tazkiyatun Nufūs di Tengah Zaman Digital
Muhasabah atas Maksiat Badan dalam Sullamut Taufiq

Di dalam Sullamut Taufiq, Al-‘Allamah Abdullah bin Husain bin Thahir Ba ‘Alawi رحمه الله menyebut beberapa maksiat badan, di antaranya:

  • Menirukan orang mukmin karena menghina.
  • Mengoreksi kekurangan orang (untuk merendahkan).
  • Membuat tato.
  • Memutus pembicaraan lebih dari tiga hari tanpa uzur syar‘i.
  • Duduk bersama ahli bid‘ah atau orang fasik untuk menghibur diri.

Jika dahulu maksiat itu terjadi di pasar, di rumah, atau di majelis, maka hari ini ia menjelma di layar-layar kecil dalam genggaman kita. Teknologi mempercepat komunikasi, memudahkan transportasi, memajukan kedokteran — namun tanpa tazkiyatun nufūs (penyucian jiwa), kemajuan justru memperluas ladang dosa.


1️⃣ Menirukan Orang Mukmin Karena Menghina

Hari ini ejekan tidak lagi terbatas pada lisan. Ia hadir dalam bentuk meme, video parodi, status sindiran, komentar pedas.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 11)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Cukuplah seseorang dikatakan buruk apabila ia meremehkan saudaranya sesama muslim.” (HR. Muslim)

Di era media sosial, satu ejekan bisa tersebar ke ribuan bahkan jutaan orang dalam hitungan detik. Dosa yang dahulu kecil kini berlipat karena jangkauannya.

Muhasabah:
Apakah jempol kita menjadi alat ibadah atau alat penghinaan?

Tazkiyah:
Latih hati untuk melihat kelebihan orang lain. Jika tidak mampu memuji, maka diam adalah keselamatan.


2️⃣ Mengoreksi Kekurangan Orang untuk Merendahkan

Budaya “mengoreksi” kini sering dibungkus dengan istilah edukasi, padahal hakikatnya mempermalukan.

Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Nabi ﷺ bersabda:

“Barangsiapa menutup aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Muslim)

Teknologi membuat aib seseorang viral. Padahal membuka aib bukanlah dakwah, melainkan luka sosial.

Tazkiyah:
Sebelum menegur orang lain, tegurlah diri sendiri. Sebelum mengkritik, tanyakan: apakah ini demi Allah atau demi ego?


3️⃣ Membuat Tato

Dalam hadis disebutkan:

“Allah melaknat perempuan yang mentato dan yang meminta ditato.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tubuh adalah amanah. Di zaman modern, kedokteran dan estetika berkembang pesat. Namun kemajuan medis bukan alasan melanggar batas syariat.

Tazkiyah:
Hiasan terbaik seorang mukmin bukan di kulitnya, tetapi pada akhlaknya.


4️⃣ Memutus Pembicaraan Lebih dari Tiga Hari

Hari ini bukan hanya memutus pembicaraan, tapi juga:

  • Blokir tanpa alasan syar‘i
  • Unfollow karena dendam
  • Diam berkepanjangan karena ego

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak halal bagi seorang muslim memutus hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di era komunikasi instan, menyambung silaturahmi lebih mudah daripada dulu. Maka memutusnya tanpa alasan syar‘i justru lebih berat hisabnya.

Tazkiyah:
Turunkan ego, angkat derajat. Maafkan sebelum diminta maaf.


5️⃣ Duduk Bersama Ahli Maksiat untuk Menghibur

Di masa kini, “duduk bersama” tidak selalu fisik. Ia bisa berupa:

  • Mengikuti konten maksiat
  • Bergabung dalam grup ghibah
  • Menikmati tontonan yang merusak iman

Allah berfirman:

“Dan apabila kamu melihat orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka…”
(QS. Al-An‘am: 68)

Lingkungan digital membentuk hati. Apa yang sering kita tonton, itulah yang perlahan kita cintai.

Tazkiyah:
Pilih majelis yang menghidupkan hati, bukan yang mengeraskan hati.


Relevansi di Era Kecanggihan

Teknologi, transportasi, dan kedokteran adalah nikmat besar. Namun tanpa penyucian jiwa:

  • Komunikasi menjadi alat fitnah
  • Transportasi mempercepat maksiat
  • Kedokteran memperkuat kesombongan
  • Media sosial menumbuhkan riya’

Allah tidak melihat kecanggihan kita, tetapi melihat hati dan amal kita:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Maka inti keselamatan bukan pada kemajuan zaman, tetapi pada kebersihan hati.


Harapan

Zaman boleh berubah, tetapi jalan menuju Allah tetap sama:

  • Jaga lisan dan jempol
  • Bersihkan niat
  • Perbaiki hubungan
  • Pilih lingkungan
  • Isi teknologi dengan dzikir dan ilmu

Tazkiyatun nufūs adalah proyek seumur hidup. Ia bukan teori, melainkan latihan sabar, tawadhu’, dan ikhlas setiap hari.


Doa

Ya Allah, bersihkan hati kami dari kesombongan dan kedengkian.
Jauhkan lisan dan jempol kami dari penghinaan dan fitnah.
Jadikan teknologi sebagai jalan ibadah, bukan jalan maksiat.
Satukan hati kami dalam ukhuwah.
Ampuni dosa-dosa kami yang tersebar di dunia maya maupun nyata.
Matikan kami dalam keadaan husnul khatimah.

Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


Ucapan Terima Kasih

Terima kasih atas kesempatan untuk bermuhasabah bersama.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi penulis terlebih dahulu, kemudian bagi siapa pun yang membacanya.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa menyucikan jiwa dan menjaga diri di tengah derasnya arus zaman.

.......

Jaga Hati di Zaman Serba Digital


(Renungan Santai Tapi Tetap Bermakna)


Tazkiyatun Nufūs ala Anak Kekinian

Muhasabah Diri soal Maksiat Badan dari Kitab Sullamut Taufiq


---


Guys, di dalam kitab Sullamut Taufiq, Al-‘Allamah Abdullah bin Husain bin Thahir Ba ‘Alawi رحمه الله nyebutin beberapa maksiat yang berkaitan sama badan kita. Dulu tuh maksiatnya ya di pasar, di rumah, atau di majelis. Tapi sekarang? Semua ada di layar kecil yang selalu kita genggam.


Teknologi makin canggih, komunikasi makin cepat, transportasi makin kilat, kedokteran makin maju—tapi kalau hati nggak ikut dibersihin, kemajuan ini malah bikin kita gampang banget terjerumus dosa.


Yuk, kita muhasabah satu-satu. Santai, tapi serius.


---


1️⃣ Ngejek, Nge-meme, Bikin Parodi Buat Nyindir


Dulu ngejek pake lisan. Sekarang? Cukup pake jempol.

Buat meme, video parodi, status sindiran, komen pedas—semua instan.


Allah Ta‘ala berfirman:


“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, boleh jadi mereka lebih baik dari mereka.”

(QS. Al-Hujurat: 11)


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Cukuplah seseorang dikatakan buruk apabila ia meremehkan saudaranya sesama muslim.”

(HR. Muslim)


Refleksi:

Kita kadang lupa, satu konten receh yang kita buat bisa dilihat ribuan orang. Satu sindiran halus bisa nyebar ke mana-mana. Dosa kecil jadi numpuk karena jangkauannya luas.


Jaga hati:

Latih diri buat lihat kebaikan orang lain. Kalau nggak bisa muji, mending diem aja. Itu udah pahala, lho.


---


2️⃣ "Eh Aku Cuma Ngasih Saran, Kok..." — Padahal Ngerendahin


Sekarang banyak banget yang suka "ngoreksi" orang lain, tapi dalem hati tuh penginnya pamer atau bikin orang lain malu. Dibungkusnya edukasi, tapi esensinya nyinyir.


Allah berfirman:


“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”

(QS. Al-Hujurat: 12)


Nabi ﷺ bersabda:


“Barangsiapa menutup aib seorang muslim, Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat.”

(HR. Muslim)


Refleksi:

Dulu aib orang cuma diketahui tetangga. Sekarang bisa viral cuma dalam sejam. Ingat, buka aib orang bukan dakwah. Itu toxic.


Jaga hati:

Sebelum ngedit orang lain, edit dulu diri sendiri. Sebelum kasih masukan, tanya: "Ini tuh buat Allah atau buat gue aja biar keliatan pinter?"


---


3️⃣ Tato: Seni atau Lupa Amanah?


Nabi ﷺ bersabda:


“Allah melaknat perempuan yang mentato dan yang meminta ditato.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Refleksi:

Sekarang tato makin gampang dibuat. Tempatnya banyak, teknologinya canggih, bahkan ada yang bilang "ini kan seni". Tapi badan kita ini titipan. Amanah. Bukan kanvas bebas.


Jaga hati:

Hiasan terbaik mukmin bukan di kulit. Tapi di akhlak. Yang kelihatan bukan gambarnya, tapi sikapnya.


---


4️⃣️ Udah Zaman Chat, Masih Aja Galakan


Dulu putus komunikasi ya saling nggak nyapa. Sekarang?

Blokir, mute, unfollow—tanpa alasan yang jelas.

Bahkan cuma karena ego, nggak saling sapa berhari-hari.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Tidak halal bagi seorang muslim memutus hubungan dengan saudaranya lebih dari tiga hari.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Refleksi:

Zaman sekarang mah tinggal ketik, kirim stiker, atau share reel, udah nyambung lagi. Tapi kok ya kadang ego lebih besar daripada keinginan buat baikan.


Jaga hati:

Turunin gengsi, naikin derajat. Memaafkan itu berat, tapi pahalanya juga gede. Coba mulai duluan, nggak rugi kok.


---


5️⃣ Duduk Bareng Konten Maksiat — Walau Niatnya "Sekadar Hiburan"


Dulu duduk sama orang fasik itu fisik. Sekarang?

Cukup scroll FYP.

Nonton konten yang merendahkan orang lain, ghibah dalam bentuk podcast, komedi yang hinain agama.

Niatnya cari hiburan, tapi hati pelan-pelan keras.


Allah berfirman:


“Dan apabila kamu melihat orang memperolok-olok ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka…”

(QS. Al-An‘am: 68)


Refleksi:

Lingkungan digital itu ya lingkungan kita. Kalau kita isi dengan konten nggak jelas, hati juga yang kena dampaknya. Pelan-pelan, maksiat terasa biasa.


Jaga hati:

Pilih konten yang bikin adem, bukan yang bikin panas hati. Pilih temen ngobrol yang ngingetin ke Allah, bukan yang bikin lupa.


---


Teknologi Boleh Maju, Hati Harus Tetap Bersih


Kita tinggal di zaman di mana semuanya serba cepat.

Tapi kalau nggak dibarengi tazkiyatun nufūs, maka:


· Komunikasi jadi ajang fitnah.

· Transportasi buat kabur dari tanggung jawab.

· Kedokteran bikin sombong.

· Medsos tumbuhin riya’.


Allah nggak lihat seberapa canggih gadget kita. Allah lihat hati.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”

(HR. Muslim)


---


Jadi, Gimana Caranya?


Nggak usah sok alim. Tapi coba mulai dari hal kecil:


· Jaga jempol. Mau ngetik apa hari ini?

· Cek niat. Share ini karena Allah atau karena pengin dilihat orang?

· Maafin yang udah lama nggak disapa.

· Unfollow akun-akun yang bikin hati keras.

· Isi teknologi dengan hal yang berguna.


Tazkiyatun nufūs itu bukan proyek sebulan. Tapi seumur hidup.

Nggak harus sempurna, asal konsisten.


---


Doa


Ya Allah, bersihkan hati kami dari sombong dan iri.

Jaga jempol dan lisan kami dari menyakiti orang lain.

Berkahi teknologi yang kami pakai, jadikan itu ladang pahala, bukan ladang dosa.

Satukan hati kami, jangan biarkan ego memisahkan kami.

Ampuni dosa-dosa yang sudah kami sebarluaskan, baik sengaja maupun tidak.

Matikan kami dalam keadaan husnul khatimah.


Āmīn yā Rabbal ‘ālamīn.


---


Catatan kecil:

Tulisan ini pengingat buat diri sendiri dulu.

Kalau ada manfaatnya, itu dari Allah.

Kalau ada kurangnya, itu dari saya.


Semoga kita semua termasuk hamba-Nya yang terus belajar jadi lebih baik.

Di dunia yang makin bising ini, semoga hati kita tetap tenang.


🐻‍❄️✨