Wednesday, February 18, 2026

963. Ramadan: Panggilan Langit di Tengah Hiruk Pikuk Dunia.

 


kitab tanbihul ghafilin.

BAB 37 Tentang Keutamaan Bulan Ramadan.

Al-Faqih meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas  katanya: “Rasulullah  bersabda: “Bahwasanya sorga diukupi daa diperhias setiap tahun (yaitu) setiap masuknya bulan Ramadan, ketika datang malam pertama datang pula angin yang disebut Mutsirah, ia menggoyangkan daun-daun sorga dan menggerakkan daun pintunya sehingga terdengarlah suara para bidadari di sorga berseru: “Siapakah kira-kira yang meminang kepada Allah untuk mengawini setengah kami, dan mereka bertanya: “Hai Ridwan, malam apa ini? Jawabnya: “Hai para bidadari jelita, inilah malam pertama bulan Ramadan. Lah Allah berfirman: “Hai Ridwan, bukakanlah pintu-pintu sorga bagi Umat Muhammad”. Dan hai Malik: Tutuplah pintu-pintu neraka dari orang orang berpuasa (umat Muhammad), Dan FirmanNya pula: ”Hai Jibril, turunlah ke bumi, belenggu setan-setan itu dan lemparkanlah ke lautan agar tidak mengganggu umat Muhammad berpuasa. Lagi pula setiap malam Ramadan Allah berseru 3x: “Orang yang berdoa, pasti dikabulkan, dan yang bertaubat pasti diterima, yang mohon ampun pasti diampum dosanya. Lalu diserukan pula: “Siapakah yang akan menabung pada Zat Yang Kaya tidak pernah miskin, Yang selalu menepati tiada zalim,”. Dan setiap Ramadan Allah membebaskan sejuta penghuni neraka, bahkan pada hari atau malam Jumatnya dibebaskan sejuta perjamnys, kemudian di hari terakhir (Ramadan) dibebaskan lagi penghuni neraks sejuAllah orang yang dibebaskan sejak awal Ramadan, hingga akhirnya Di malam (lailatul) Oadar malaikat Jibril beserta para malaikat banyak turun berduyun-duyun ke bumi dengan panji hijau yang diletakkan d atas Kakbah, seriapnya membeberkan sayapnya 600 sayap, di antaranya dua sayap tidak pernah dihamparkan, kecuali di malam itu. Merek memberi salam kepada umat Muhammad yang tengah melakukan salat zikir (baik berdiri atau duduk) dan menjabat tangannya, mendukung doa (mengamini) mereka hingga terbit fajar”. Dan sesudah fajar mereka diseru kembali oleh Jibril, tetapi mereka bertanya, bagaimana dengan hajat para umat Muhammad? Jawab Jibril: Allah memberi rahmat kepada merka dan memaafkan kesalahannya, kecuali 4 orang, yaitu: 1. Pecandu arak (pemabuk), 2. Pemberani kepada kedua orang tuanya (durhaka kepada mereka berdua), 3. Pemutus silaturrahmi, 4. Pemboikot kawan atau saudaranya (tidak menyapa) lebih dari 3 hari. lalu di malam “Idul Fitri para malaikat berdiri di perempatan jalan dan berseru: “Hai umat Muhammad, keluarlah (menyembah dan memohon) kepada Tuhan Yang Pemurah, Pemberi yang besar, dan mengampunkan dosa-dosa besar, sesudah mereka keluar ke tempat salat ‘Id, lalu Allah berfirman: “Hai para malaikat apa balasan mereka? Jawabnya: “Ya Tuhan, lunasilah bayaran (pahala) mereka, dan FirmanNya: ” Kuperlihatkan padamu hai malaikat, tentang pahala puasa dan bangun malam mereka di bulan Ramadhan, adalah keridaanKu dan ampunanKu kepada mereka. FirmanNya pula: “Hai hambaKu mintalah, demi Kemenangan dan KeagunganKu segala permintaanmu baik urusan duniawi, ataupun agama pasti dipenuhi (dikabulkan)”.

.......

📖 Ramadan: Panggilan Langit di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

(Berdasarkan Kitab , Bab 37 Keutamaan Ramadan)

🌙 1. Ramadan: Musim Turunnya Rahmat

Dalam riwayat yang disebutkan pada Bab ini, digambarkan bahwa ketika malam pertama Ramadan datang:

  • Surga dihias.
  • Pintu surga dibuka.
  • Pintu neraka ditutup.
  • Setan dibelenggu.
  • Setiap malam ada seruan: “Siapa yang berdoa, akan dikabulkan. Siapa yang bertaubat, akan diterima.”

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa bukan lapar.
Tujuannya adalah taqwa — yaitu hati yang hidup dan sadar.

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mengapa puasa istimewa?
Karena ia ibadah tersembunyi. Tidak ada yang tahu seseorang benar-benar berpuasa kecuali Allah. Di situlah latihan keikhlasan.


📱 2. Ramadan di Era Teknologi: Setan Dibelenggu, Tapi Nafsu?

Hari ini kita hidup di zaman:

  • Komunikasi super cepat.
  • Media sosial tanpa batas.
  • Transportasi instan.
  • Kedokteran canggih.
  • Informasi melimpah.

Namun pertanyaannya:
Apakah hati kita ikut canggih?

Setan dibelenggu — tetapi algoritma media sosial tetap berjalan.
Setan dirantai — tetapi jari kita tetap bisa menyebar fitnah.
Setan dibatasi — tetapi ego dan nafsu kita belum tentu.

Ramadan bukan hanya menahan lapar, tapi menahan:

  • Komentar pedas.
  • Pamer amal.
  • Konten yang merusak jiwa.
  • Ambisi dunia yang berlebihan.

Dalam tazkiyatun nufus, puasa adalah “detoks ruhani”.
Seperti tubuh butuh detoks dari racun, hati butuh detoks dari:

  • Riya'
  • Hasad
  • Dendam
  • Ghibah
  • Sombong digital (pamer kesalehan online)

🔥 3. Empat Golongan yang Terhalang Ampunan

Hadis tersebut menyebut empat golongan yang terhalang rahmat:

  1. Pecandu arak (simbol kecanduan syahwat).
  2. Durhaka kepada orang tua.
  3. Pemutus silaturrahmi.
  4. Orang yang memboikot saudaranya lebih dari tiga hari.

Coba kita muhasabah:

  • Apakah kita sibuk online tapi jarang menelpon orang tua?
  • Apakah kita rajin upload kajian tapi memblokir saudara sendiri?
  • Apakah kita mengaku hijrah tapi memutus silaturrahmi karena perbedaan politik?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturrahmi.”
(HR. Bukhari)

Di era komunikasi super cepat, justru silaturrahmi makin renggang.
Kita dekat di layar, tapi jauh di hati.


🌌 4. Lailatul Qadar: Ketika Langit Turun ke Bumi

Allah berfirman:

“Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.”
(QS. Al-Qadr: 3)

Bayangkan:
Di malam itu, Jibril dan para malaikat turun membawa salam.

Bukan kepada selebriti.
Bukan kepada orang kaya.
Tapi kepada orang yang berdiri dalam salat, yang duduk berdzikir.

Dalam perspektif tasawuf:
Lailatul Qadar adalah simbol turunnya cahaya ke dalam hati.

Bukan semua orang mendapatkannya.
Hanya hati yang bersih yang bisa merasakannya.


💰 5. “Siapa yang Mau Menabung pada Zat Yang Maha Kaya?”

Allah menyeru:
Siapa yang mau menabung kepada-Nya?

Dalam dunia modern kita menabung uang.
Tapi jarang menabung amal.

Padahal Allah berfirman:

“Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”
(QS. Saba’: 39)

Sedekah, doa, sabar, memaafkan — itulah investasi akhirat.

Teknologi membuat kita cepat kaya.
Ramadan mengajarkan kita cara kaya yang kekal.


🤲 DOA

Ya Allah,
Yang membuka pintu surga di bulan Ramadan,
Bukakan pula pintu hati kami.

Ya Allah,
Yang membelenggu setan-setan,
Belenggulah nafsu dan ego kami.

Ya Allah,
Yang menyeru setiap malam: “Siapa yang berdoa akan dikabulkan”,
Maka kami datang membawa doa kami yang penuh dosa.

Ampuni kami,
Orang tua kami,
Guru-guru kami,
Dan seluruh umat Muhammad ﷺ.

Jadikan Ramadan ini bukan sekadar rutinitas,
Tapi kebangkitan ruhani.


🌿 HARAPAN (Berdalil)

Allah berfirman:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. Az-Zumar: 53)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa.”
(HR. Ibnu Majah)

Harapan kita:

  • Semoga Ramadan menjadi titik balik.
  • Semoga dosa digital kita dihapus.
  • Semoga keluarga kita diberkahi.
  • Semoga negeri ini diberi pemimpin yang amanah.
  • Semoga teknologi menjadi sarana dakwah, bukan sarana maksiat.

🕊️ PENUTUP

Ramadan bukan hanya bulan ibadah.
Ia adalah undangan langit.

Jika tahun ini kita masih diberi umur,
itu berarti Allah masih memanggil kita.

Jangan hanya berubah jadwal makan.
Ubahlah hati.

Jangan hanya menahan lapar.
Tahan juga amarah.

Jangan hanya membaca Qur’an.
Biarkan Qur’an membaca diri kita.

Terima kasih atas perhatian dan kesediaan hati untuk bermuhasabah.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang dibebaskan dari api neraka, dan dimasukkan ke dalam surga-Nya tanpa hisab.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin. 🌙

........

Tentu, berikut adalah versi yang lebih santai dan kekinian tetapi tetap sopan, dengan tetap mempertahankan arti ayat Al-Qur'an dan hadis seperti yang diminta.


---


Ramadan: The Real Glow-Up, Bukan Cuma Ganti Jadwal Makan


(Berdasarkan Kitab , Bab 37 Keutamaan Ramadan)


🌙 1. Ramadan: Sahur-Sahur VIP, Langsung Diskon Dosa


Guys, coba bayangin. Begitu maghrib tiba di malam pertama Ramadan, kayak ada notifikasi penting dari langit. Kata riwayat, kondisinya tuh lagi vibes banget:


· Surga lagi di-dekor, pintunya dibuka lebar-lebar.

· Pintu neraka? Tutup total, kayak akun yang kena blokir.

· Para setan di-"restrict", nggak bisa nge-tag kita lagi.

· Setiap malam ada panggilan, "Eh, siapa yang mau doa? Dikabulin lho! Siapa yang mau taubat? Diterima!"


Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)


Jadi, esensi puasa itu nggak cuma nahan laper dan haus doang. Tujuan utamanya adalah taqwa — alias upgrade diri jadi versi terbaik, yang hatinya selalu sadar dan connect sama Allah.


Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

“Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Nah, kenapa puasa tuh spesial banget? Karena ini ibadah yang hidden, nggak ada yang tahu kita puasa apa enggak selain Allah. Di sinilah kita latihan jadi orang yang ikhlas, bukan cuma pamer effort di story.


📱 2. Ramadan di Era Teknologi: Setan Dibelenggu, Tapi Jari Masih Bisa Nyicil Dosa?


Kita hidup di zaman yang serba canggih:


· Chat-an super cepat.

· Sosmed tanpa batas, bisa FYP terus.

· Makanan tinggal order.

· Informasi segambreng.


Tapi pertanyaan krusialnya: Apakah hati kita secanggih teknologi itu?


Setan dibelenggu, oke. Tapi algoritma TikTok dan Instagram tetep jalan.

Setan dirantai, tapi jari kita masih bisa dengan mudahnya ngetik komentar pedas atau nyebar gosip.

Setan dibatasi, tapi ego dan hawa nafsu kita? Belum tentu.


Ramadan itu momentum buat kita "digital detox" juga. Bukan cuma nahan laper, tapi nahan:


· Jari gatal mau komen nyinyir.

· Hati pengen pamer ibadah biar dapet like.

· Scroll konten yang nggak bermanfaat, apalagi merusak mental.

· Kejar target dunia sampe lupa waktu sama keluarga dan ibadah.


Dalam ilmu penyucian jiwa, puasa itu ibarat "detoks ruhani". Kayak badan perlu detoks dari junk food, hati kita juga perlu detoks dari:


· Riya' (pengin dipuji)

· Hasad (iri)

· Dendam

· Ghibah (gosip)

· Sombong digital (pamer kesalehan online biar dibilang alim)


🔥 3. Stop Jadi Toxic! 4 Golongan yang Susah Dapet Ampunan


Hadis nyebutin ada empat tipe orang yang terhalang dari rahmat. Cek list-nya, siapa tahu ada yang relate:


1. Pecandu arak (simbolnya: kecanduan sama hal-hal yang merusak diri, bisa juga narkoba, judi online, atau maksiat lainnya).

2. Durhaka sama orang tua.

3. Putus silaturahmi (blokir saudara sendiri, gamau ngobrol sama sodara).

4. Boikot sesama muslim lebih dari tiga hari (misalnya karena beda pilihan terus saling musuhan).


Yuk kita muhasabah diri:


· Udah hape terus, tapi nelpon orang tua aja males-malesan?

· Rajin posting ceramah, tapi di belakang layar malah musuhan sama sodara sendiri karena beda dukung partai atau calon?

· Ngaku hijrah, tapi masih aja mutusin tali persaudaraan?


Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturrahmi.”

(HR. Bukhari)


Ironisnya, di zaman serba terhubung ini, hati kita malah makin renggang. Kita deket di layar, tapi jauh di hati.


🌌 4. Lailatul Qadar: Malam di Mana Isi Ulang Semangat Setahun


Allah berfirman:

“Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan.”

(QS. Al-Qadr: 3)


Coba lo bayangin, Sob. Di malam itu, Malaikat Jibril dan para malaikat lainnya turun ke bumi bawa salam. Mereka bukan dateng ke rumah artis, bukan juga ke konglomerat. Mereka dateng ke orang-orang yang lagi salat, yang lagi duduk berzikir, yang hatinya lagi deket sama Allah.


Dalam ilmu tasawuf, Lailatul Qadar itu simbol cahaya Allah yang turun ke dalam hati. Nggak semua orang bisa dapet. Cuma hati yang bersih dan fokus yang bakal ngerasain kedahsyatan malam itu.


💰 5. "Siapa yang Mau Nabung Sama Dzat Yang Paling Kaya?"


Allah menyeru, "Siapa yang mau minjemin ke Aku? Siapa yang mau nabung di tempat yang nggak bakal rugi?"


Kita sibuk nabung duit buat beli gadget baru, liburan, atau cicilan rumah. Tapi jarang banget nabung amal.


Padahal Allah udah janji di QS. Saba’: 39:

“Apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya.”


Sedekah, doa, sabar, dan maafin orang lain — itu semua adalah investasi jangka panjang yang bunganya nggak terhingga.


Teknologi bisa bikin kita cepet kaya (secara materi). Tapi Ramadan ngajarin kita cara jadi kaya hati dan kaya pahala buat akhirat.


🤲 DOA


Ya Allah,

Yang buka pintu surga di bulan Ramadan,

Tolong bukakan juga pintu hati kita yang lagi keras ini.


Ya Allah,

Yang udah belenggu setan-setan,

Tolong belenggu juga nafsu dan ego kita yang kadang susah diatur.


Ya Allah,

Yang tiap malem manggil: "Siapa yang mau doa? Aku kabulin!"

Kita dateng, Allah, bawa doa-doa kita yang mungkin belepotan sama dosa.


Ampuni kita,

Orang tua kita,

Guru-guru kita,

Dan seluruh umat Nabi Muhammad ﷺ.


Jadikan Ramadan ini bukan cuma rutinitas tahunan yang gitu-gitu aja,

Tapi sebagai momentum glow-up ruhani kita.


🌿 HARAPAN


Allah berfirman di QS. Az-Zumar: 53:

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”


Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa.”

(HR. Ibnu Majah)


Harapan kita simpel:


· Semoga Ramadan ini jadi titik balik kita jadi pribadi yang lebih baik.

· Semoga dosa-dosa digital kita (yang suka scrolling nggak jelas, komen nyakitin) dihapus.

· Semoga keluarga kita makin adem dan berkah.

· Semoga negara kita dipimpin orang-orang amanah.

· Semoga teknologi yang ada jadi alat buat nyebarin kebaikan, bukan buat maksiat.


🕊️ PENUTUP


Ramadan tuh bukan cuma bulan puasa biasa.

Ini adalah undangan spesial dari langit.


Kalau tahun ini kita masih dikasih umur buat ketemu Ramadan lagi, itu tandanya Allah masih sayang dan masih ngasih kita kesempatan buat berbenah.


Jangan cuma ubah jam makan aja. Ubahlah isi hati.

Jangan cuma nahan laper. Tahan juga lisan dan jari.

Jangan cuma baca Qur'an doang. Coba resapi, biarin Qur'an yang "baca" diri kita, sejauh mana kita udah ngamalin isinya.


Makasih udah baca sampe akhir. Semoga hati kita semua dilunakkan dan dimudahkan buat jadi pribadi yang lebih takwa.


Aamiin ya Rabbal 'Alamin. 🌙.

.....

962. Ramadan dan Kebangkitan Jiwa yang Tertidur.

 


Kitab Durratun Nashihin
(Umar bin Hasan bin Ahmad al-Syakir al-Khaubari)

Bab : 1. KEUTAMAAN BULAN RAMADAN.

Diceritakan, bahwa ada seorang laki-laki bernama Muhammad. Dia tidak pernah melakukan salat sama sekali. Kemudian, ketika masuk bulan Ramadan, dia berdandan dengan mengenakan pakaian yang bagus dan memakai minyak wangi, lalu mengerjakan salat melunasi salat-salatnya dahulu yang telah ditinggalkannya. Maka ia ditanya : “Mengapa Anda melakukan itu?” Dia menjawab : “Ini adalah bulan tobat, rahmat dan berkat. Mudah-mudahan berkat kemurahan-Nya, Allah mengampuni segala dosa-dosaku”. Ketika orang itu meninggal dunia, seseorang bermimpi melihatnya, lalu bertanya kepadanya : “Apa yang telah dilakukan Allah terhadapmu?”. Dia menjawab : “Tuhan telah mengampuni aku berkat pengagunganku terhadap bulan Ramadan”.

........

🌙 Ramadan dan Kebangkitan Jiwa yang Tertidur

Kisah dalam Durratun Nashihin ini sederhana, namun mengguncang batin. Seorang laki-laki bernama Muhammad, yang tidak pernah shalat, tiba-tiba berubah ketika Ramadan datang. Ia mandi, berdandan, memakai wangi-wangian, lalu menunaikan shalat dan mengqadha shalat yang ia tinggalkan. Ketika ditanya, ia menjawab:

“Ini bulan tobat, rahmat dan berkah. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosaku.”

Dalam mimpi setelah wafatnya, ia berkata bahwa Allah mengampuninya karena ia mengagungkan Ramadan.


🕊 Perspektif Tasyawuf: Mengagungkan Waktu = Mengagungkan Allah

Dalam ilmu tazkiyatul nufus, perubahan kecil yang lahir dari pengagungan hati bisa membuka pintu rahmat yang besar. Ramadan bukan sekadar bulan. Ia adalah madrasah jiwa.

Allah berfirman:

"Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām…"
(QS. : 183)

Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi membersihkan jiwa (tazkiyah).

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. dan )

Para sufi memahami:
Jika ibadah lain diberi pahala, puasa diberi perjumpaan.

Laki-laki dalam kisah itu mungkin belum sempurna amalnya, tetapi ia memiliki ta'zhim (pengagungan). Dan pengagungan itu adalah tanda hidupnya hati.


🔥 Muhasabah di Era Modern

Hari ini kita hidup dalam kecanggihan:

  • Teknologi super cepat
  • Komunikasi tanpa batas
  • Transportasi instan
  • Kedokteran canggih memperpanjang usia

Namun pertanyaannya:
Apakah jiwa kita ikut berkembang?

Kita bisa mengisi baterai ponsel setiap hari,
tetapi berapa kali kita mengisi ruh dengan istighfar?

Kita update aplikasi,
tetapi kapan terakhir kita update taubat?

Ramadan adalah “restart system” jiwa manusia.

Dalam hadis Nabi ﷺ:

“Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
(HR. )

Laki-laki dalam kisah tadi sadar:
Ia mungkin lalai 11 bulan, tetapi jangan sampai ia lalai di bulan yang Allah muliakan.

Itulah kesadaran ruhani.


🌿 Motivasi Tazkiyah

Ramadan mengajarkan:

  1. Tidak ada kata terlambat untuk taubat.

    “Katakanlah wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka, jangan berputus asa dari rahmat Allah…”
    (QS. : 53)

  2. Allah melihat niat dan pengagungan hati.

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”
    (HR. )

  3. Rahmat Allah mendahului murka-Nya.
    Dalam hadis qudsi:

    “Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.”
    (HR. )

Ramadan bukan hanya bulan pahala,
ia adalah bulan pelunasan hutang jiwa.


🧎‍♂️ Doa

Ya Allah…
Jika kami termasuk orang yang lalai seperti laki-laki dalam kisah itu,
bangunkan kami sebelum Engkau bangunkan kami di alam kubur.

Ya Allah…
Hidupkan hati kami dengan pengagungan terhadap Ramadan.
Bersihkan jiwa kami dari riya’, ujub, dan kesombongan.

Ya Allah…
Jadikan teknologi di tangan kami sebagai alat kebaikan,
bukan jalan menuju kelalaian.

Ampuni dosa kami yang telah lalu.
Terimalah taubat kami sebelum ajal menjemput.


🌅 Harapan

Kami berharap sebagaimana firman-Mu:

“Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian…”
(QS. : 133)

Dan sabda Nabi ﷺ:

“Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di siang hari…”
(HR. )

Semoga Ramadan bukan hanya datang dan pergi,
tetapi meninggalkan bekas dalam jiwa.

Semoga kita termasuk orang yang diampuni karena mengagungkan bulan-Nya,
walau amal kita belum sempurna.


🤲 Penutup

Terima kasih atas kesempatan mendengarkan dan merenungi bersama.

Semoga tauziah ini menjadi pengingat bagi saya pribadi terlebih dahulu,
kemudian bagi kita semua.

Mari kita sambut Ramadan bukan dengan sekadar jadwal,
tetapi dengan jiwa yang siap berubah.

Wallahu a’lam.

......

Nah, gue coba bikin versi yang lebih santai tapi tetap sopan dan berisi ya. Semoga pesannya tetap nyampe.


---


Ramadan: Momen "Restart" Jiwa yang Lagi Lemot


Kisah Nyata yang Bikin Merinding


Ada cerita keren dari kitab Durratun Nashihin. Ceritanya simpel, tapi dalem banget artinya. Jadi ada seorang pria namanya Muhammad. Sehari-hari, dia tuh dikenal nggak pernah shalat. Kayaknya udah jauh banget dari agama. Tapi pas Ramadan datang, dia berubah 180 derajat. Dia mandi, berdandan, pakai wewangian, lalu shalat. Nggak cuma shalat wajib, dia juga ngejar shalat-shalat yang dulu ditinggalkan (qadha).


Pas ditanya sama orang-orang, "Bro, kok lo tiba-tiba rajin banget?" Dia jawab singkat, padat, dan menusuk:


"Ini bulan tobat, bulan rahmat dan berkah. Mudah-mudahan Allah ngampunin dosa-dosa aku."


Pas dia meninggal, ada orang yang mimpi ketemu dia. Di alam kubur, Muhammad bilang kalau Allah benar-benar ngampunin dosanya. Alasannya? Karena dia mengagungkan bulan Ramadan. Bukan karena amalnya sempurna, tapi karena hatinya punya rasa ta'zhim (pengagungan) sama waktu yang dimuliakan Allah.


---


Renungan Sufi: Hargai Waktu, Hargai Allah


Dalam ilmu tazkiyatul nufus atau penyucian jiwa, kita belajar satu hal penting. Perubahan kecil yang keluar dari hati yang tulus mengagungkan Allah itu bisa membuka pintu rahmat yang super besar. Ramadan tuh bukan sekadar bulan biasa. Ramadan adalah madrasah atau sekolah buat jiwa kita.


Allah bilang di Al-Qur'an:


"Yā ayyuhalladzīna āmanū kutiba ‘alaikumush-shiyām..." (QS. Al-Baqarah: 183)

(Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa...)


Para ulama sufi ngajarin kita, puasa itu bukan cuma nahan laper dan haus. Tapi ini adalah pelatihan buat bersihin jiwa.


Bahkan Allah sendiri bilang dalam Hadis Qudsi:


"Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya." (HR. Bukhari dan Muslim)


Coba bayangin, ibadah lain dapat pahala, tapi puasa? Dapatnya langsung sama Dzat yang Maha Membalas. Para sufi menyebutnya sebagai jalan menuju perjumpaan dengan Allah.


Si Muhammad dalam cerita tadi mungkin amalnya belum sempurna banget, tapi dia punya ta'zhim (pengagungan). Dan itu tandanya hatinya masih hidup.


---


Ngaca Yuk Buat Anak Zaman Now


Hari ini kita hidup di era yang serba canggih. Kita punya:


· Teknologi secepat kilat (internet, AI, medsos)

· Komunikasi tanpa sekat (video call sama orang di belahan dunia mana pun)

· Transportasi makin cepat (naik pesawat keliling dunia dalam hitungan jam)

· Kedokteran makin maju (umur manusia makin panjang)


Tapi pertanyaan besarnya: Apakah jiwa kita ikut maju?


Kita rajin banget ngecas baterai HP tiap hari, bisa beberapa kali. Tapi berapa kali kita "ngecas" ruh kita dengan istighfar atau minta ampun sama Allah?


Kita rajin update aplikasi ke versi terbaru. Tapi kapan terakhir kali kita update taubat? Kapan terakhir kita sadar kalau kita punya banyak salah dan dosa?


Ramadan tuh ibarat tombol "restart system" buat jiwa manusia. Saat semua program hati yang error, lemot, atau penuh virus dosa, kita kasih reset total.


Nabi Muhammad ﷺ bersabda:


"Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (HR. Bukhari & Muslim)


Pria dalam kisah tadi itu sadar banget. Dia mungkin lalai selama 11 bulan. Tapi dia mikir, "Jangan sampai aku lalai juga di bulan yang Allah sendiri muliakan." Itulah yang namanya kesadaran ruhani. Kesadaran yang muncul dari hati.


---


Motivasi Jiwa: Nggak Ada Kata Terlambat!


Dari kisah ini, kita bisa petik banyak banget pelajaran:


1. Nggak Ada Kata Terlambat Buat Tobat


Jangan pernah merasa diri kita terlalu hancur, terlalu bejat, terlalu jauh dari Allah. Allah sendiri udah bilang:


"Katakanlah wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka, jangan berputus asa dari rahmat Allah..." (QS. Az-Zumar: 53)


Pintu taubat itu selalu terbuka, apalagi di bulan suci ini.


2. Allah Lihat Isi Hati, Bukan Cuma Penampilan Luar


Mungkin kita shalatnya bolong-bolong, ngajinya belum lancar, sedekahnya pas-pasan. Tapi kalau di hati ini ada niat tulus dan rasa agung sama Ramadan, Allah itu Maha Melihat. Nabi ﷺ bersabda:


"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim)


3. Rahmat Allah Itu Lebih Besar dari Segalanya


Allah itu Maha Pengasih. Dalam Hadis Qudsi, Allah bilang:


"Rahmat-Ku mendahului murka-Ku." (HR. Muslim)


Artinya? Allah tuh lebih pengen ngasih ampun daripada ngasih siksa. Ramadan ini adalah momen di mana rahmat itu turun dengan derasnya. Ini bukan cuma bulan pahala, tapi ini bulan pelunasan utang jiwa kita.


---


Doa yang Bisa Kita Panjatkan


Ya Allah...

Kalaupun aku selama ini termasuk orang yang lalai kayak si Muhammad di awal cerita, tolong bangunkan hati aku. Bangunkan aku sebelum njenengan membangunkan aku di alam kubur nanti.


Ya Allah...

Hidupkan hati aku dengan rasa pengagungan yang dalam kepada bulan Ramadan ini. Bersihkan jiwa aku dari riya' (pamer), ujub (bangga diri), dan sombong.


Ya Allah...

Jadikan semua teknologi canggih yang ada di tanganku ini sebagai alat buat nyari kebaikan, jangan sampai malah jadi jalan buat lalai dari mengingat-Mu.


Ampuni semua dosa aku yang udah lewat. Terima taubat aku, sebelum ajal benar-benar menjemput.


---


Harapan di Penghujung


Kita semua berharap, seperti firman Allah:


"Dan bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian..." (QS. Ali Imran: 133)


Dan juga seperti sabda Nabi ﷺ:


"Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk menerima taubat orang yang berdosa di siang hari..." (HR. Muslim)


Mudah-mudahan Ramadan tahun ini nggak cuma lewat begitu aja. Jangan sampai kita cuma dapet lapar dan haus doang. Tapi semoga Ramadan ini ninggalin bekas yang dalam di hati kita.


Semoga kita semua termasuk orang-orang yang diampuni, bukan karena amal kita sempurna, tapi karena kita punya rasa pengagungan di hati terhadap bulan-Nya yang mulia ini.


---


Penutup Santai


Makasih ya, njenengan udah mau dengerin dan merenung bareng. Tulisan ini sejatinya adalah pengingat buat aku pribadi dulu, baru buat kita semua.


Yuk kita sambut Ramadan ini nggak cuma dengan nyiapin menu buka puasa atau daftar drakor yang mau ditonton. Tapi sambut dia dengan jiwa yang siap berubah. Siap di-restart. Siap jadi lebih baik.


Wallahu a'lam bish-shawabi. (Allah lebih tahu kebenaran sesungguhnya).

.....

960. Ketika Air Menyentuh Kepala, Cahaya Menyentuh Jiwa.

 


kitab Hadits Shahih Al-Bukhari No. 277 - Kitab Kitab Mandi.

Bab Siapa yang Memulai dengan Bagian Kanan Kepalanya dalam Mandi

حَدَّثَنَا خَلاَّدُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ نَافِعٍ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ مُسْلِمٍ، عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ كُنَّا إِذَا أَصَابَتْ إِحْدَانَا جَنَابَةٌ، أَخَذَتْ بِيَدَيْهَا ثَلاَثًا فَوْقَ رَأْسِهَا، ثُمَّ تَأْخُذُ بِيَدِهَا عَلَى شِقِّهَا الأَيْمَنِ، وَبِيَدِهَا الأُخْرَى عَلَى شِقِّهَا الأَيْسَرِ‏.‏


Diriwayatkan bahwa Aisyah berkata: 'Apabila salah satu dari kami terkena junub, dia menuangkan air di atas kepalanya tiga kali dengan kedua tangannya, kemudian mengusap sisi kanan kepalanya dengan satu tangan dan mengusap sisi kiri kepalanya dengan tangan yang lain.'

.......

🕊 Ketika Air Menyentuh Kepala, Cahaya Menyentuh Jiwa

Hadits Shahih Al-Bukhari No. 277 – Bab Mandi, Memulai dari Sisi Kanan

Hadits ini diriwayatkan dalam , dari Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha:

“Apabila salah satu dari kami terkena junub, ia menuangkan air di atas kepalanya tiga kali dengan kedua tangannya, kemudian mengusap sisi kanan kepalanya dengan satu tangan dan sisi kiri dengan tangan yang lain.”

Secara fiqh, ini adalah tuntunan mandi janabah.
Namun secara tasawuf dan tazkiyatul nufus, ini adalah pelajaran penyucian jiwa.


🌊 1. Mandi Bukan Sekadar Air, Tapi Kesadaran

Allah berfirman:

“Dan jika kamu junub maka bersucilah.”
(QS. Al-Ma’idah: 6)

Air membersihkan tubuh.
Tapi niat membersihkan hati yang menyucikan ruh.

Dalam dunia hari ini—teknologi canggih, komunikasi instan, transportasi cepat, kedokteran modern—kita mudah “bersih fisik”, tapi sering lupa membersihkan:

  • hati dari riya media sosial
  • pikiran dari hasad digital
  • jiwa dari kesombongan intelektual
  • lisan dari komentar yang melukai

Kita mandi setiap hari.
Tapi kapan terakhir kita mandi dari dosa pandangan?
Dari iri terhadap kesuksesan orang lain?


🌿 2. Mengapa Dimulai dari Sisi Kanan?

Dalam sunnah Nabi ﷺ, kanan adalah simbol kemuliaan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila kalian memakai sandal, mulailah dengan yang kanan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Kanan dalam tasawuf melambangkan:

  • amal baik
  • cahaya
  • keberkahan
  • kecenderungan menuju Allah

Maka ketika mandi dimulai dari kanan, itu seperti isyarat:
“Ya Allah, dahulukan cahaya-Mu dalam hidupku.”

Di zaman modern ini, kita sering mendahulukan:

  • notifikasi sebelum dzikir
  • trending topic sebelum tafakkur
  • pekerjaan sebelum shalat

Padahal ruh kita butuh didahulukan seperti sisi kanan dalam mandi.


💧 3. Tiga Siraman: Isyarat Tiga Pembersihan

Para ahli tazkiyah sering memaknai angka sebagai simbol.
Tiga siraman bisa menjadi muhasabah atas:

  1. Pembersihan jasad
  2. Pembersihan akal
  3. Pembersihan hati

Atau:

  1. Taubat
  2. Istighfar
  3. Azam tidak mengulang

Allah berfirman dalam hadits qudsi:

“Wahai anak Adam, jika engkau datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, lalu engkau tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh itu pula.”
(HR. Tirmidzi)

Air janabah mengalir dari kepala.
Tapi rahmat Allah mengalir dari langit.


🌍 4. Relevansi di Era Kecanggihan

Hari ini manusia bisa:

  • Operasi jantung terbuka
  • Terbang antar negara dalam hitungan jam
  • Mengirim pesan dalam detik

Namun tidak bisa membersihkan hatinya tanpa kesadaran.

Teknologi mempercepat hidup,
tapi tidak otomatis memperhalus ruh.

Orang bisa mandi di shower mahal,
tapi hatinya tetap kotor oleh kesombongan.

Orang bisa tampil bersih di layar,
tapi Allah melihat batin.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)


🪞 5. Muhasabah

Saat mandi junub, tanyakan pada diri:

  • Apakah hanya tubuhku yang basah?
  • Ataukah hatiku juga luluh?
  • Apakah aku malu kepada Allah?

Karena janabah adalah kondisi setelah syahwat,
dan syahwat adalah ujian manusia modern.

Zina hari ini bukan hanya fisik.
Ada zina mata, zina jari, zina pikiran.

Maka mandi bukan hanya air.
Ia adalah deklarasi taubat.


🤲 Doa

Ya Allah,
sebagaimana Engkau bersihkan tubuh kami dengan air,
bersihkan hati kami dengan taubat.

Sebagaimana Engkau perintahkan kami mandi dari janabah,
mandikanlah jiwa kami dari kesombongan dan riya.

Jadikan setiap tetes air sebagai penghapus dosa,
setiap siraman sebagai cahaya di hari kiamat.


🌅 Harapan (Berdalil)

Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.”
(QS. Al-Baqarah: 222)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa.”
(HR. Ibnu Majah)

Harapan kita:
Semoga setiap mandi menjadi saksi taubat.
Semoga setiap air menjadi saksi bahwa kita ingin kembali.
Semoga di hari kiamat, kita termasuk yang bercahaya dari bekas wudhu dan mandinya.


🌿 Penutup

Saudaraku,
di zaman yang serba cepat ini, jangan biarkan ruh tertinggal.

Jika dunia membuatmu lelah,
mandilah dengan niat taubat.

Jika teknologi membuatmu lalai,
kembalilah pada air dan doa.

Karena kelak bukan kecanggihan yang menyelamatkan kita,
tetapi hati yang bersih.


Terima kasih.
Semoga Allah menjadikan ilmu ini bukan sekadar bacaan,
tetapi menjadi cahaya dalam perjalanan menuju-Nya.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

.......

Siap, gue bantu bikin ulang dengan gaya bahasa yang lebih santai, gaul, tapi tetap sopan dan nggak mengurangi esensi dalilnya. Kita bikin seperti lagi ngobrol santai di warung kopi sambil ngaji bareng. Check it out!


---


Judul: Pas Air Guyang di Kepala, Auto Glow Up Jiwa!


(Based on Hadits Shahih Al-Bukhari No. 277 – Bab Mandi, Mulai dari Kanan Dulu Ya!)


Guys, ada satu hadits keren banget dari Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha. Ceritanya gini:


"Dulu kalau kami lagi junub, caranya mandi tuh, beliau menuang air ke kepala tiga kali pakai kedua tangan, terus ngusap kepala bagian kanan pakai tangan kanan, dan bagian kiri pakai tangan kiri."


Kalau dari sisi fiqh, ini tuh tutorial mandi wajab (junub) yang bener.

Tapi kalau kita masuk ranah yang lebih dalam (tasawuf), ini tuh bukan cuma soal bersihin badan, tapi juga workshop pembersihan jiwa.


🌊 1. Mandi Itu Bukan Sekadar Basah-Basah, Tapi Tentang "Sadarnya"


Allah bilang di QS. Al-Ma'idah: 6:

"Dan jika kamu junub maka bersucilah."


Air tuh fungsinya bersihin badan.

Tapi niat yang tulus buat bersihin hati itu yang bikin kita benar-benar suci.


Di zaman now yang serba canggih ini—gadget mutakhir, chat-an real-time, kendaraan cepat, teknologi medis modern—kita jago banget "bersihin badan". Tapi kita sering lupa "deep clean" buat:


· Hati dari penyakit pansos (ingin pamer) di medsos.

· Pikiran dari iri liat highlight orang lain.

· Jiwa dari sombongnya ilmu.

· Mulut dari komen-komen yang menyakitkan.


Kita mandi tiap hari.

Tapi kapan terakhir kali kita "mandi" dari dosa karena stalking yang bukan hak kita? Atau iri sama kesuksesan orang lain?


🌿 2. Kenapa Sih Harus Start dari Kanan Dulu?


Dalam sunnah Nabi ﷺ, kanan itu simbolnya mulia.


Rasulullah ﷺ bersabda:

"Kalau kalian mau pakai sendal, mulai dari yang kanan."

(HR. Bukhari dan Muslim)


Dalam dunia spiritual, "kanan" itu melambangkan:


· Amal baik

· Cahaya (glow)

· Berkah

· Arah menuju Allah


Jadi, pas mandi dimulai dari kanan, itu tuh kayak kita ngirim sinyal:

"Ya Allah, dulukan cahaya-Mu dalam hidupku, ya!"


Di zaman sekarang, kita sering mendahulukan:


· Bunyi notif sebelum dzikir.

· Trending topic sebelum mikirin kebesaran Allah.

· Deadline kerjaan sebelum shalat.


Padahal, hati dan jiwa kita tuh butuh diprioritaskan, kayak kita ngutamain sisi kanan pas mandi.


💧 3. Tiga Kali Guyur: Isyarat Tiga Level Pembersihan


Para ahli hati (tazkiyah) suka banget nge-maknai angka sebagai simbol. Tiga siraman ini bisa kita artikan sebagai momen untuk self-reflection soal:


1. Pembersihan Fisik (Badan)

2. Pembersihan Pikiran (Akal)

3. Pembersihan Hati (Qalbu)


Atau bisa juga diibaratkan:


· Minta maaf (Taubat)

· Minta ampun (Istighfar)

· Janji nggak bakal ngulangin lagi (Azam)


Allah bilang dalam hadits Qudsi:

"Wahai anak Adam, jika kamu datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, lalu kamu tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh itu pula."

(HR. Tirmidzi)


Air junub mengalir dari kepala.

Tapi kasih sayang Allah itu flow-nya langsung dari Atas, tanpa batas!


🌍 4. Zaman Bisa Maju, Tapi Jiwa Jangan Mau Ketinggalan


Coba bayangin, zaman sekarang manusia bisa:


· Operasi jantung.

· Terbang ke luar negeri cuma dalam hitungan jam.

· Video call-an sama orang yang lagi di benua lain.


Tapi secanggih apa pun teknologi, dia nggak bisa bersihin hati kita tanpa kita sendiri yang sadar dan mau berubah.


Teknologi bikin hidup kita makin cepat, tapi belum tentu bikin jiwa kita makin halus.


Orang bisa mandi pake shower termahal, tapi hatinya masih aja karatan sama kesombongan.

Orang bisa kelihatan flawless di kamera, tapi urusan sama Allah beda cerita.


Allah berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian."

(HR. Muslim)


🪞 5. Me Time dan Muhasabah Yuk!


Pas lagi mandi junub, coba tanya ke diri sendiri:


· Apa cuma badanku aja yang basah?

· Atau hatiku juga ikut leleh karena inget dosa?

· Apakah aku malu sama Allah?


Karena junub itu kan kondisi setelah syahwat bergejolak. Dan syahwat, itu adalah challenge terbesar manusia modern.


Zina sekarang bukan cuma fisik.

Ada zina mata (liat yang bukan mahram), zina jari (ngetik hal negatif atau buka konten haram), zina pikiran (khayalan yang nggak bener).


Makanya, mandi itu bukan sekadar air.

Ini adalah deklarasi taubat versi kita.


🤲 Doa Santuy


Ya Allah,

kayak Engkau bersihin badan kita pakai air,

tolong bersihin hati kita pakai taubat.


Seperti Engkau suruh kita mandi dari junub,

"mandiin" juga jiwa kita dari sombong dan pansos.


Jadikan setiap tetes air yang mengguyur ini sebagai penghapus dosa,

setiap guyuran ini sebagai cahaya di hari akhir nanti.


🌅 Harapan (Tetap Berdalil)


Allah berfirman:

"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri."

(QS. Al-Baqarah: 222)


Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

"Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak memiliki dosa."

(HR. Ibnu Majah)


Harapan kita simple:

Semoga setiap mandi jadi saksi kalau kita lagi proses taubat.

Semoga setiap air yang ngalir jadi saksi kalau kita pengen balik (ke jalan yang bener).

Semoga di hari kiamat nanti, kita termasuk yang wajahnya glowing karena bekas wudhu dan mandinya.


🌿 Penutup (Santuy)

Sobat,

di zaman yang serba cepat dan ribet ini, jangan sampai jiwa kita ketinggalan update.

Kalau dunia lagi terasa berat dan bikin stres,

mandi yang lama, niatin taubat.

Kalau gadget dan internet bikin lupa waktu,

kembali ke air dan doa.

Karena nanti yang nyelametin kita bukan teknologi canggih,

tapi hati yang bersih dan sehat.

Makasih udah baca sampai akhir.

Semoga Allah ngasih berkah, dan ilmu ini bukan cuma jadi bacaan doang, tapi beneran jadi vibes positif dalam perjalanan kita menuju Allah.

Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

961. Duduk Bersama Cahaya, Terlindung dari Api.

 


kitab Lubabul Hadits Bab 9 Hadits ke 5

وَقَالَ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى صَلَاةَ الصُّبْحِ فِي الْجَمَاعَةِ ثُمَّ جَلَسَ يَذْكُرُ اللّٰهَ تَعَالَى حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ، كَانَ لَهُ سِتْرٌ مِنَ النَّارِ وَبَرِيءٌ مِنَ النَّارِ.


Telah bersabda Nabi ﷺ: “Barang siapa yang shalat Subuh secara berjamaah, kemudian dia duduk, dia berdzikir kepada Allāh Ta‘ālā hingga terbitnya matahari, maka ada baginya perlindungan dari neraka dan pembebasan dari neraka.”

.......

🌅 Tauziah Subuh: Duduk Bersama Cahaya, Terlindung dari Api

Hadits dalam Lubābul Ḥadīts Bab 9 Hadits ke-5:

“Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah, kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari, maka baginya perlindungan dari neraka dan pembebasan dari neraka.”

Hadits ini bukan sekadar janji pahala. Ia adalah metode tazkiyatul nufus (penyucian jiwa) di waktu paling hening — saat dunia belum berisik.


🌄 Subuh: Titik Awal Tazkiyah

1️⃣ Shalat Subuh Berjamaah: Melawan Nafsu, Mengalahkan Dunia

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah Isya dan Subuh.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Subuh adalah ujian kejujuran iman.
Di era teknologi canggih, alarm berbunyi dari smartphone mahal, tapi jiwa sering kalah oleh notifikasi dunia.

Kita bisa bangun untuk pesawat subuh.
Kita bisa bangun untuk shift kerja.
Namun sering tidak bangun untuk Allah.

Padahal Allah berfirman:

وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“Sesungguhnya bacaan (shalat) Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
(QS. Al-Isra: 78)

Subuh adalah waktu langit membuka catatan amal.


2️⃣ Duduk Berdzikir Hingga Terbit Matahari: Mengisi Hati dengan Nur

Tasawuf mengajarkan:
Bukan banyaknya gerakan yang menyelamatkan, tetapi kejernihan hati setelah gerakan itu.

Banyak orang shalat, tetapi langsung sibuk membuka layar.
Belum sempat hati menyerap cahaya, sudah ditimpa berita, komentar, dan kegelisahan digital.

Dzikir setelah Subuh adalah detoks jiwa sebelum menghadapi dunia.

Allah berfirman dalam hadits qudsi:

“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Bayangkan…
Di saat manusia sibuk memikirkan pasar, saham, bisnis, konten, pasien, perjalanan…
Kita duduk bersama Allah.

Itulah hijab protection terbaik.


3️⃣ “Perlindungan dari Neraka”: Api Apa yang Dimaksud?

Tasawuf memandang neraka bukan hanya api akhirat.
Ada “api dunia”:

  • Api ambisi tanpa batas
  • Api iri dan sombong
  • Api kecanduan teknologi
  • Api stres akibat kompetisi sosial

Subuh berjamaah + dzikir adalah pendingin batin.

Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, dengan dzikir kepada Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Orang yang hatinya tenang tidak mudah terbakar oleh provokasi zaman.


🔬 Relevansi di Era Modern

Hari ini kita hidup dalam:

  • Transportasi cepat
  • Komunikasi instan
  • Kedokteran canggih
  • Artificial intelligence
  • Media sosial tanpa batas

Tapi jiwa semakin gelisah.

Teknologi mempercepat langkah,
Subuh memperlambat hati.

Teknologi menghubungkan manusia,
Dzikir menghubungkan ruh dengan Rabb-nya.

Tanpa Subuh berjamaah dan dzikir,
kita mungkin sukses secara sistem —
tapi kosong secara batin.


🧠 Muhasabah

  • Sudahkah Subuh kita menjadi awal cahaya, atau hanya rutinitas?
  • Apakah setelah salam kita duduk, atau langsung mengejar dunia?
  • Berapa lama kita menatap layar dibanding menatap langit pagi?

Jangan-jangan kita lebih khusyuk membaca pesan WhatsApp daripada membaca tasbih.


🤲 Doa

Ya Allah…
Jadikanlah kami hamba yang Engkau bangunkan sebelum dunia membangunkan kami.
Jadikanlah Subuh kami cahaya, dzikir kami penenang, dan hati kami taman yang Engkau sirami dengan rahmat.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
“Ya Rabb kami, jangan Engkau condongkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.”
(QS. Ali Imran: 8)


🌿 Harapan (Dengan Dalil)

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)

Subuh berjamaah dan dzikir adalah jalan ilmu hati.

Allah berjanji:

وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى
“Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka.”
(QS. Muhammad: 17)

Harapan kita:
Semoga Subuh menjadi saksi,
Dzikir menjadi pembela,
Dan matahari yang terbit menyaksikan bahwa kita memulai hari bersama Allah.


🌅 Penutup Ruhani

Orang yang menjaga Subuh,
akan dijaga Allah sepanjang hari.

Orang yang duduk berdzikir hingga matahari terbit,
seakan ia menjemput cahaya sebelum dunia meminjamkannya cahaya.


Terima kasih telah membuka hati untuk menerima nasihat ini.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba yang diberi perlindungan dan pembebasan dari api neraka.

آمين يا رب العالمين 🤲

........

Oke, siap! Nasihat ruhani yang dalem ini kita sajikan dalam versi yang lebih santai, pas buat ngopi pagi sambil nge-scroll timeline. Tetap sopan dan pesan utamanya ngena, ya!


---


Nongkrong Bareng Allah Pas Subuh: Auto Bebas API!


Hadits di Lubābul Ḥadīts Bab 9, yang ke-5 ngomong gini:


“Barang siapa yang shalat Subuh berjamaah, kemudian ia duduk berdzikir kepada Allah hingga terbit matahari, maka baginya perlindungan dari neraka dan pembebasan dari neraka.”


Nah, hadits ini tuh bukan cuma ngomongin pahala doang. Ini tuh tutorial jitu buat nyuci hati di waktu paling hening, pas dunia belum pada rame.


🌄 Sunrise Mode On, Hustle Culture Mode Off


1️⃣ Shalat Subuh Berjamaah: Melawan Godaan Si Bantal dan Notif HP


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah Isya dan Subuh.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Subuh tuh bener-bener ujian kejujuran iman, gengs.

Di era HP canggih, alarm bunyi kenceng, tapi jiwa sering kalah sama notif meds yang lebih milih buat digulir.


Kita bisa on time buat boarding pesawat jam 4 pagi.

Kita bisa rela begadang buat ngejar deadline kerjaan.

Tapi kok sering berat ya buat bangun karena Allah?


Padahal Allah bilang:


وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Sesungguhnya bacaan (shalat) Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”

(QS. Al-Isra: 78)


Subuh tuh waktu spesial, pas para malaikat lagi take notes amal kita. Jadi sayang banget kalau di-skip.


2️⃣ Healing Dzikir Sampai Terbit Matahari: Charge Hati Pake Nur


Tasawuf ngajarin kita:

Yang nyelamatin kita bukan banyak gerak doang, tapi seberapa bening hati abis kita gerak.


Banyak orang abis shalat langsung sotoy buka HP.

Belom juga hati nyerap good vibes dari langit, udah kena toxic berita, komentar pedes, dan anxiety digital.


Dzikir abis Subuh itu kayak detox hati sebelum nyemplung ke dunia yang chaos.


Allah bilang dalam hadits qudsi:


“Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku…”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Coba bayangin…

Pas orang-orang sibuk mikirin profit, saham, konten viral, dan urusan duniawi...

Kita malah nongkrong santai sama Allah.

Itu namanya private time sama The Boss. No debat, itu real deal!


3️⃣ "Perlindungan dari Neraka": Api Fisik atau Api-Api Lainnya?


Dalam tasawuf, neraka tuh nggak cuma api di akhirat.

Ada juga "api" versi dunia yang bisa membakar hati kita, kayak:


· Api ambisi yang bikin kita lupa diri.

· Api iri pas liat orang lain glow up.

· Api FOMO gara-gara kecanduan scrolling meds.

· Api stres akibat pressure sosial yang nggak ada habisnya.


Nah, Subuh berjamaah + dzikir itu adalah AC hati.


Allah berfirman:


أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, dengan dzikir kepada Allah hati menjadi tenang.”

(QS. Ar-Ra’d: 28)


Orang yang hatinya adem, nggak gampang tersulut sama provokasi zaman.


🔬 Relevance di Zaman Now


Hari ini kita dikelilingi sama:


· Koneksi super cepat (5G).

· Komunikasi real-time (DM, video call).

· Teknologi canggih (AI, Drone).

· Medsos yang nyedot waktu.


Tapi realitanya, jiwa kita makin chaos dan hampa.


Teknologi bikin kita all out,

Subuh ngajarin kita buat slow down.


Teknologi connect kita sama orang lain,

Dzikir connect ruh kita sama Penciptanya.


Tanpa Subuh berjamaah dan dzikir yang rutin,

kita mungkin sukses di mata sistem,

tapi inner child kita hancur. Emotionally unavailable.


🧠 Me Time buat Diri Sendiri


· Udah belum sih Subuh kita itu jadi awal yang penuh positive vibe, atau cuma ritual yang digas pol?

· Abis salam, kita duduk enjoy dzikiran, atau langsung sibuk cek HP?

· Berapa lama sih kita liat layar dibanding liat langit pas subuh?


Jangan-jangan, kita lebih khusyuk baca komen WA daripada baca tasbih.


🤲 Chat Pribadi


Ya Allah…

Jangan biarin kami cuma kebangun karena alarm dunia, tapi banguninlah kami karena panggilan-Mu.

Buatlah Subuh kami jadi cahaya, dzikir kami jadi chill pill, dan hati kami jadi taman yang selalu Engkau sirami.


رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

“Ya Rabb kami, jangan Engkau condongkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk.”

(QS. Ali Imran: 8)


🌿 Goals (Berdasarkan Sumber Valid)


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.”

(HR. Muslim)


Subuh berjamaah dan dzikir itu salah satu jalan buat dapetin ilmu hati.


Allah jamin:


وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى

“Orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka.”

(QS. Muhammad: 17)


Harapan kita sederhana:

Semoga Subuh jadi saksi kita,

Dzikir jadi pembela kita,

Dan matahari yang terbit jadi saksi kalau kita memulai hari bareng Allah.


🌅 Closing Statement


Siapa yang jaga Subuhnya,

Allah bakal jaga sepanjang harinya.


Siapa yang duduk dzikir sampe matahari naik,

kayak dia udah jemput cahaya sebelum dunia kasih pinjem cahaya redupnya.

Makasih udah baca sampe abis. Semoga kita semua termasuk yang dapet shield dan voucher bebas dari api neraka.

Aamiin ya rabbal 'alamin. 🤲

Semangat terus buat fastabiqul khairat, ges!