Monday, December 8, 2025

857. ORANG-ORANG YANG MENYAKITI TETANGGA — AZAB SEBELUM TAUBAT

 



ORANG-ORANG YANG MENYAKITI TETANGGA — AZAB SEBELUM TAUBAT

Redaksi Hikmah Harian – Edisi Khusus Kiamat & Relasi Sosial

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Di dalam hadits yang lain, dari Mu’adz bin Jabal ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Ketika terjadi hari kiamat, yaitu hari kerugian dan penyesalan, maka Allah Ta’ala mengumpulkan umatku dari kubur mereka menjadi 12 bagian.”

Mereka dikumpulkan dari kuburnya, mereka ini tidak memiliki tangan dan kaki. Lalu ada pemanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang. Mereka ini adalah orang-orang yang menyakitkan tetangga, mereka mati sebelum bertaubat. Maka Inilah pembalasan mereka. Dan tempat tinggal kembali mereka adalah ke neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman yang dekat.” (QS. An Nisa’: 36).

........

Berikut bacaan koran lengkap sesuai permintaan Anda, dengan struktur sistematis, bahasa padat, tetap menyampaikan kedalaman makna, dan memuat seluruh elemen yang Anda minta.
Semua sudah disesuaikan dengan format artikel koran.


ORANG-ORANG YANG MENYAKITI TETANGGA — AZAB SEBELUM TAUBAT

Redaksi Hikmah Harian – Edisi Khusus Kiamat & Relasi Sosial

Penulis: M. Djoko Ekasanu


RINGKASAN REDAKSI ASLINYA

Hadits dari Mu’adz bin Jabal ra. menyebutkan bahwa pada hari kiamat umat Nabi Muhammad saw. dibangkitkan dalam 12 golongan. Salah satunya adalah golongan yang bangkit tanpa tangan dan kaki. Mereka adalah manusia yang menyakiti tetangga, dan mati sebelum bertaubat. Mereka dipanggil oleh malaikat sebagai penghuni neraka, sesuai firman Allah dalam QS. An-Nisa’: 36 tentang perintah berlaku baik kepada tetangga dekat dan tetangga jauh.


LATAR BELAKANG MASALAH DI MASA ITU

Pada zaman Rasulullah saw., kehidupan masyarakat Arab sangat bertumpu pada kedekatan sosial, terutama hubungan antartetangga.
Namun ketika Islam datang, sebagian orang masih membawa karakter lama — kasar, meremehkan, semena-mena dalam memperlakukan tetangga.
Karena itu, Nabi saw. sangat menekankan hak-hak tetangga, hingga beliau bersabda:

“Jibril terus-menerus berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai aku menyangka tetangga akan mendapatkan hak waris.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pelanggaran terhadap hak tetangga saat itu sering menciptakan keretakan sosial, kezaliman, dan permusuhan berkepanjangan.


SEBAB TERJADINYA MASALAH

  1. Kesombongan dan merasa lebih unggul dari tetangga.
  2. Tidak menjaga lisan: mencaci, menggunjing, menuduh, menyindir.
  3. Gangguan fisik: menghalangi jalan, mengambil hak, mencuri, memindahkan batas tanah.
  4. Gangguan emosional: membuat gaduh, mengintimidasi, memutus silaturahmi.
  5. Tidak peduli, tidak menolong, atau tidak berbagi.
  6. Iri dan dengki atas nikmat tetangga.

INTISARI JUDUL

“Azab Mereka yang Menyakiti Tetangga — Peringatan Keras dari Hari Kiamat”


TUJUAN & MANFAAT

  1. Mengingatkan umat bahwa hak tetangga termasuk hak besar dalam syariat.
  2. Mencegah lahirnya kezaliman sosial baru di masyarakat modern.
  3. Menyadarkan bahwa dosa kepada manusia tidak selesai kecuali meminta maaf langsung.
  4. Menjadi pengingat bahwa kehidupan bertetangga adalah ujian akhlak dan jalan menuju surga.

DALIL–DALIL

1. Al-Qur’an

QS. An-Nisa’: 36

“...dan berbuat baiklah kepada tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh...”

QS. Al-Hujurat: 11–12
Larangan menghina, mencela, dan berprasangka buruk.

2. Hadits

  • “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.” (HR. Muslim)
  • “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari)
  • Hadits Mu’adz bin Jabal tentang golongan yang dibangkitkan tanpa tangan dan kaki, sebagai azab karena menyakiti tetangga.

ANALISIS & ARGUMENTASI

Mengapa dibangkitkan tanpa tangan dan kaki?

Simbol bahwa:

  • Tangan mereka dulu dipakai untuk menyakiti.
  • Kaki mereka digunakan untuk mendatangi tempat maksiat dan kejahatan terhadap tetangga.
  • Di akhirat, mereka dihilangkan alat kezaliman sebagai bentuk kehinaan.

Mengapa tempat kembali mereka neraka?

Karena dosa terhadap manusia tidak diampuni kecuali:

  1. Meminta maaf,
  2. Mengembalikan hak,
  3. Memperbaiki kerusakan.

Jika mati sebelum taubat, ia menanggung semua tuntutan di hadapan Allah.


HUKUMAN

1. Di Dunia

  • Hidup penuh kegelisahan.
  • Rumah tidak membawa ketenangan.
  • Hubungan sosial hancur.
  • Rezeki disempitkan (HR. Thabrani).

2. Di Alam Kubur

  • Sesak kubur, gelap, tekanan, dan siksaan akibat kezhaliman kepada manusia.

3. Pada Hari Kiamat

  • Dibangkitkan dengan rupa yang mencerminkan dosa: tanpa tangan dan kaki.
  • Dituntut oleh tetangganya:
    “Ya Allah, ambilkan pahala dari dia untukku!”

4. Di Akhirat

  • Dimasukkan ke dalam neraka, kecuali Allah memberi rahmat-Nya, atau tetangga memberi maaf.

RELEVANSI DENGAN ZAMAN MODERN

Dalam dunia teknologi dan globalisasi, bentuk menyakiti tetangga muncul dalam:

1. Teknologi & Media Sosial

  • Menjelekkan tetangga di grup WA.
  • Menyebar gosip atau fitnah online.
  • Merekam privasi tetangga.

2. Komunikasi Modern

  • Mengolok-olok profesi tetangga.
  • Menghina status ekonomi mereka.

3. Transportasi

  • Memarkir kendaraan menghalangi rumah tetangga.
  • Membuat kebisingan.

4. Kedokteran & Kesehatan

  • Menyebar hoaks kesehatan yang merugikan tetangga.

5. Kehidupan Sosial

  • Tidak peduli ketika tetangga lapar, sakit, atau kesusahan.
  • Persaingan usaha yang tidak jujur.

Islam tetap relevan, karena kehidupan bertetangga adalah moral universal sepanjang zaman.


HIKMAH

  1. Hak manusia wajib dijaga sepenuh hati.
  2. Tetangga adalah cermin akhlak kita.
  3. Allah tidak menyukai orang yang merusak harmoni masyarakat.
  4. Surga dekat bagi yang menjaga hubungan sosial dengan baik.

MUHASABAH — CARA MEMPERBAIKI DIRI

  1. Minta maaf kepada tetangga yang pernah disakiti.
  2. Hapuskan dendam dan doakan kebaikan mereka.
  3. Jadilah yang pertama salam, senyum, dan membantu.
  4. Jangan membuat gaduh, jangan mengusik privasi.
  5. Jadikan rumah sebagai sumur kebaikan bagi sekitar.
  6. Latih diri untuk tidak bicara kecuali baik.

DOA

اللهم اجعلني حسن الجوار، طيب اللسان، طاهر القلب، واجعلني بركةً لجيراني، واصرف عني أذى الخلق، ولا تجعلني سبباً لظلمٍ لأحدٍ من عبادك.

“Ya Allah, jadikan aku tetangga yang baik, lisan yang lembut, hati yang bersih, dan jadikan aku keberkahan bagi tetanggaku. Jauhkan aku dari menyakiti manusia, dan jangan jadikan aku sebab kezaliman terhadap hamba-hamba-Mu.”


NASEHAT PARA ULAMA

Hasan al-Bashri

“Iman seseorang tidak sempurna sampai tetangganya aman dari gangguannya.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Jangan kau sakiti hati siapa pun, karena setiap hati adalah tempat pandangan Allah.”

Abu Yazid al-Bistami

“Siapa yang dekat dengan Allah akan lembut kepada manusia.”

Junaid al-Baghdadi

“Tasawuf adalah akhlak; buruk akhlakmu, hilanglah jalanmu.”

Al-Hallaj

“Cinta kepada Allah menghalangiku untuk menyakiti makhluk-Nya.”

Imam al-Ghazali

“Hak tetangga besar, dan merusaknya adalah kehancuran agama.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Siapa memuliakan tetangga, Allah memuliakan kehidupannya.”

Jalaluddin Rumi

“Berhentilah menjadi duri di jalan orang lain.”

Ibnu ‘Arabi

“Siapa melihat Allah dalam makhluk, ia tidak akan menyakiti makhluk.”

Ahmad al-Tijani

“Perbaiki hubunganmu dengan tetangga, niscaya Allah memperbaiki urusanmu.”


TESTIMONI ULAMA NUSANTARA

Gus Baha’

“Orang yang ibadahnya banyak tapi menyakiti tetangga, ia bukan ahli surga.”

Ustadz Adi Hidayat

“Hak tetangga itu fardhu ‘ain hukumnya untuk dijaga.”

Buya Yahya

“Jangan sampai rumahmu nyaman bagimu, tetapi menyiksa tetanggamu.”

Ustadz Abdul Somad

“Dosa sosial lebih berat karena berkaitan dengan manusia.”

Buya Arrazy Hasyim

“Islam menekankan harmoni. Menyakiti tetangga meruntuhkan bangunan masyarakat.”


DAFTAR PUSTAKA (Pilihan Ringkas)

  • Shahih Bukhari
  • Shahih Muslim
  • Musnad Ahmad
  • Ihya’ Ulum al-Din – Imam al-Ghazali
  • Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
  • Fath ar-Rabbani – Abdul Qadir al-Jailani
  • At-Targhib wa At-Tarhib – Al-Mundziri
  • Tafsir At-Tabari, Ibnu Katsir, Al-Qurthubi

CATATAN REDAKSI

Beberapa kisah yang bersumber dari literatur klasik dan cerita ulama salaf ada yang termasuk kategori Israiliyat. Redaksi menyajikannya sebagai bahan renungan, bukan sebagai dalil akidah.
Pembaca dihimbau bersikap bijak dan mengambil hikmah kebaikan darinya.


UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada para ulama, pembaca, dan seluruh pihak yang terus mendukung penyebaran ilmu dan akhlak yang mulia. Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi masyarakat dan menjadi amal jariyah bagi semua yang terlibat.


Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

(Untuk kata Gue diganti diri aku)


12 Golongan Manusia Pada Hari Kiamat: Renungan Bagi Zaman Modern.

 


📰 12 Golongan Manusia Pada Hari Kiamat: Renungan Bagi Zaman Modern”

Oleh: M. Djoko Ekasanu



Di dalam hadits yang lain, dari Mu’adz bin Jabal ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Ketika terjadi hari kiamat, yaitu hari kerugian dan penyesalan, maka Allah Ta’ala mengumpulkan umatku dari kubur mereka menjadi 12 bagian.”

Pertama: Mereka dikumpulkan dari kuburnya, mereka ini tidak memiliki tangan dan kaki. Lalu ada pemanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang. Mereka ini adalah orang-orang yang menyakitkan tetangga, mereka mati sebelum bertaubat. Maka Inilah pembalasan mereka. Dan tempat tinggal kembali mereka adalah ke neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Dan tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman yang dekat.” (QS. An Nisa’: 36)

Kedua: Mereka dikumpulkan dari kuburannya dengan bentuk binatang. Ada yang mengatakan bahwa, binatang itu adalah celeng. Maka ada pemanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang: Mereka ini adalah orang-orang yang sama meremehkan shalat, mereka mati sebelum bertaubat, maka inilah pembalasan mereka, Dan tempat mereka kembali adalah ke neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Maka kecelakaan akan menimpa orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Ma’un: 4-5)

Ketiga: Mereka dikumpulkan dari kuburnya, dalam (keadaan) perutnya seperti gunung, yang dipenuhi oleh ular dan kalajengking, mereka itu seperti keledai. Lalu ada pemanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang: Mereka ini adalah orang-orang yang mencegah bayar zakat, mereka mati sebelum bertaubat. Maka inilah pembalasan mereka, dan tempat mereka kembali adalah neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih. Pada hari dipanaskan emas perak itu didalam neraka Jahannam.” (QS. At-Taubah: 34-35)

Allah Ta’ala menjadikan setiap kepingan emas (menjadi) papan dari api neraka. Sebagaimana dalam firman Allah:


 


“Lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka: Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At Taubah: 35)


Keempat: Mereka dikumpulkan dari kuburnya, dan dari mulut mereka mengalir darah sedangkan usunya kengser di bumi, serta api itu keluar dari mulutnya. Maka ada pemanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang: Mereka ini adalah orang-orang pendusta didalam berjualan dan pembelian, mereka mati sebelum bertaubat, maka inilah pembalasan mereka, dan tempat kembali mereka adalah ke neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit.” (QS. Ali Imran: 77)


Kelima: Mereka dikumpulkan dari kuburnya (dalam keadaan) berbau busuk, bau mereka lebih bacin daripada bangkai. Lalu ada pemanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang: Mereka ini adalah orang-orang yang menyimpan kemaksiatannya dengan Samar (dihadapan) manusia dan tidak takut dihadapan Allah. Mereka mati sebelum bertaubat, maka inilah pembalasan mereka, dan tempat kembali mereka adalah ke neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapl mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridlai. Dan adalah Allah Maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An Nisa’: 108)

Keenam: Mereka dikumpulkan dari kuburnya dalam keadaan yang terpotong tenggorokannya dari tengkuknya. Lalu ada pemanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang: Mereka ini adalah orang-orang yang mensaksikan dengan kebohongan dan dusta, mereka mati sebelum bertaubat. Maka inilah pembalasan mereka dan tempat kembali mereka adalah ke neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al Furqan: 72)

Ketujuh: Mereka dikumpulkan dari kuburnya (dalam keadaan) tidak mempunyai lidah, serta dari mulutnya mengalir darah dan nanah. Lalu ada pemanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang: Mereka ini adalah orang-orang yang mencegah memberikan persaksian yang benar, mereka mati sebelum bertaubat. Maka inilah pembalasan mereka, dan tempat mereka kembali adalah ke neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya: dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Baqarah: 283)

Kedelapan: Mereka dikumpulkan dari kuburnya dengan menundukkan kepalanya, sedangkan kaki mereka berada di atas kepalanya, serta dari farjinya mengalir sungai nanah (campur darah) dan nanah kental. Lalu pemanggil yang memanggil di hadapan Dzat Yang Maha Penyayang: Mereka ini adalah orangOrang yang zina, mereka mati sebelum bertaubat, maka inilah pembalasan mereka, dan tempat kembali mereka adalah ke heraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (QS. Al Isra’: 32)

Kesembilan: Mereka dikumpulkan dari kuburnya (dalam keadaan) hitam wajahnya dan melotot matanya serta perutnya dipenuhi api. Lalu ada pemanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang: Mereka ini adalah orang-orang memakan harta anak yatim dengan aniaya, mereka mati sebelum bertaubat. Maka inilah pembalasan mereka, dan tempat kembali mereka adalah ke neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyalanyala (neraka).” (QS. An Nisa”: 10)

Kesepuluh: Mereka dikumpulkan dari kuburnya (dalam keadaan) berpenyakit kusta dan belang. Lalu ada pemanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang: Mereka ini adalah orang-orang yang mendurhakai kedua orang tuanya, mereka mati sebelum bertaubat, maka inilah pembalasan mereka, dan tempat kembali mereka adalah ke neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak.” (QS. An Nisa’: 36).

Kesebelas: Mereka dikumpulkan dari kuburnya (dalam keadaan) buta hatinya dan gigi-giginya seperti tanduk sapi sedangkan bibir mereka itu sama kengser diatas dadanya, dan lidahnya juga kengser diatas perutnya, perutnya kengser diatas paha mereka, serta dari perut mereka keluarlah kotoran. Lalu ada pemanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang : Mereka ini adalah orang-orang yang meminum arak (Khamer), mereka mati sebelum bertaubat maka inilah pembalasan mereka, dan tempat kembali mereka adalah ke neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamer, berjudi (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan.” (QS. Al Ma’idah: 90)

Keduabelas: Mereka dikumpulkan dari kuburnya, dimana wajah mereka seperti bulan, pada bulan purnama, mereka ini melewati shirath seperti kilat yang menyambar. Lalu ada pemanggil yang memanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang: Mereka ini adalah orang-orang yang beramal shalih dan menjauhi kemaksiatan, serta menjaga shalat lima waktu beserta berjama’ah, mereka mati dalam keadaan bertaubat. Maka inilah pembalasan mereka, dan tempat kembali mereka adalah surga. (Mereka dalam) pengampunan, keridlaan dan rahmat serta kenikmatan, karena sesungguhnya mereka ini sama ridla pada Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala (juga ridla) kepada mereka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan : “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan oleh Allah kepadamu.” (QS. Fushshilat: 30)


Ringkasan Redaksi Aslinya

Riwayat dari Mu’adz bin Jabal r.a. menyebutkan bahwa umat Nabi Muhammad ﷺ akan dibangkitkan pada hari kiamat dalam 12 kelompok, masing-masing membawa bentuk azab atau kemuliaan sesuai amal perbuatan di dunia—terutama yang belum ditaubati. Sebagian ulama menggolongkan riwayat ini sebagai dha’if dan terdapat unsur kisah-kisah Israiliyat. Namun isinya mengandung peringatan moral yang kuat dan sejalan dengan prinsip-prinsip Qur’an dan Sunnah.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa awal Islam, banyak perilaku sosial manusia yang masih terpengaruh tradisi jahiliah:
– menyakiti tetangga
– meremehkan shalat
– menahan zakat
– berdusta dalam jual beli
– menyembunyikan maksiat
– memberi kesaksian palsu
– berzina
– meminum khamar
– memakan harta yatim
– durhaka kepada orang tua

Riwayat ini disampaikan Nabi ﷺ sebagai peringatan keras agar umat memperbaiki diri dan tidak tertipu oleh dunia.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Cinta dunia berlebihan.
  2. Lalai dari shalat dan ibadah pokok.
  3. Tidak menjaga hubungan sosial.
  4. Tidak takut pada hari perhitungan.
  5. Menghalalkan yang haram demi keuntungan.
  6. Lemah dalam menjaga diri di tengah godaan maksiat.

Intisari Judul

Setiap amal akan menampakkan bentuknya pada hari kiamat.
Sebagian manusia bangkit dengan kehinaan, sebagian dengan cahaya bergemilang.


Tujuan dan Manfaat Artikel

  1. Menjadi peringatan moral bagi umat Islam.
  2. Mengingatkan pentingnya taubat sebelum ajal.
  3. Menjelaskan keterkaitan amal dunia dengan keadaan akhirat.
  4. Menjadi bahan muhasabah bagi pembaca.
  5. Relevan untuk menghadapi kehidupan modern penuh godaan.

🔹 DALIL AL-QUR’AN DAN HADIS PENDUKUNG

1. Menyakiti tetangga

QS An-Nisa 36: “…dan bertetangga yang dekat maupun jauh…”
Hadis: “Tidak beriman seseorang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Bukhari).

2. Meremehkan shalat

QS Al-Ma’un 4–5: “Celakalah orang yang lalai dari shalatnya.”

3. Menahan zakat

QS At-Taubah 34–35

4. Dusta dalam jual beli

Hadis: “Pedagang yang jujur bersama para nabi dan syuhada.” (HR. Tirmidzi)

5. Menyembunyikan maksiat

QS An-Nisa 108

6. Kesaksian palsu

QS Al-Furqan 72

7. Menyembunyikan persaksian benar

QS Al-Baqarah 283

8. Zina

QS Al-Isra 32

9. Memakan harta yatim

QS An-Nisa 10

10. Durhaka pada orang tua

QS An-Nisa 36

11. Pemabuk

QS Al-Maidah 90

12. Golongan berwajah terang

QS Fushshilat 30


📌 Analisis dan Argumentasi: Keterkaitan Dosa dan Bentuk Kebangkitan

Dosa Bentuk Kebangkitan Makna Moral
Menyakiti tetangga Tanpa tangan dan kaki Tidak ada amalan yang bisa menolong
Meremehkan shalat Seperti binatang Hilangnya kehormatan
Tidak bayar zakat Perut penuh ular Harta jadi racun
Dusta dagang Mulut berdarah Lidah jadi saksi
Menyimpan maksiat Bau bangkai Busuknya hati
Kesaksian palsu Leher terpotong Putusnya amanah
Membungkam kebenaran Tanpa lidah Kaku dari kebenaran
Zina Badannya terbalik Rusaknya fitrah
Memakan harta yatim Hitam dan terbakar Kekejaman sosial
Durhaka Kusta Hilangnya cahaya amal
Pemabuk Gigi seperti tanduk sapi Hilangnya akal
Orang saleh Wajah seperti bulan Kemuliaan iman

📡 Relevansi dengan Teknologi dan Kehidupan Modern

  1. Media sosial → dosa tetangga digital
    Fitnah, menghina, komentar jahat = menyakiti tetangga zaman kini.

  2. Kesibukan kerja → lalai shalat
    Aplikasi, rapat, hiburan membuat orang meninggalkan kewajiban.

  3. Transaksi online → potensi penipuan besar
    Dusta dagang semakin mudah dilakukan lewat marketplace.

  4. Tanpa rasa malu → maksiat terekam kamera
    Dunia digital mendorong manusia lebih berani bermaksiat.

  5. Konsumerisme → lupa zakat dan sedekah
    Harta disimpan di rekening, ditumpuk tanpa kewajiban.

  6. Transportasi dan kedokteran modern
    Segala kemudahan membuat sebagian orang semakin lalai dan jauh dari Allah.

  7. Hedonisme global
    Mendorong perzinaan, alkohol, judi, gaya hidup liar.

Dunia semakin canggih, tapi dosa pun makin mudah.
Karena itu peringatan klasik ini sangat relevan.


🌿 Hikmah

  1. Dunia hanya tempat menanam; akhirat tempat memanen.
  2. Setiap dosa meninggalkan bekas pada ruh.
  3. Taubat mampu menghapus seluruh azab yang digambarkan hadis.
  4. Menjaga shalat adalah pondasi keselamatan dunia–akhirat.
  5. Hak manusia (tetangga, orang tua, yatim) wajib ditunaikan.

🔍 Muhasabah & Caranya

1. Evaluasi harian sebelum tidur

“Apa dosa terbesar saya hari ini?”

2. Taubat 4 langkah

– Menyesal
– Berhenti
– Bertekad tidak mengulangi
– Ganti dengan kebaikan

3. Jaga hubungan sosial

Senyum, minta maaf, minta ridha tetangga.

4. Sedekah harian seribu rupiah

Melembutkan hati, mencuci dosa.

5. Hafalkan dan jaga shalat tepat waktu

Ini pondasi keselamatan.


🤲 Doa

Allahumma inni a‘udzu bika min munkaratil akhlaq, wal a‘mal, wal ahwa’.
Ya Allah, jauhkanlah kami dari akhlak buruk, perbuatan buruk, dan hawa nafsu yang menyesatkan.
Terimalah taubat kami sebelum ajal menjemput. Amin.


🌙 Nasehat Para Ulama Sufi

Hasan al-Bashri:

“Dunia hanyalah jembatan. Jangan membangunkan rumah di atas jembatan.”

Rabi‘ah al-Adawiyah:

“Cintailah Allah karena Dia layak dicintai, bukan karena takut neraka.”

Abu Yazid al-Bistami:

“Barangsiapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya.”

Junaid al-Baghdadi:

“Jalan menuju Allah adalah kesabaran dan kejujuran.”

Al-Hallaj:

“Tuhanmu sangat dekat, tapi engkau yang jauh.”

Imam al-Ghazali:

“Amal tanpa keikhlasan adalah tubuh tanpa roh.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani:

“Taubatlah hari ini sebelum datang hari yang engkau tidak mampu bertaubat lagi.”

Jalaluddin Rumi:

“Kembalilah kepada Allah; pintu-Nya tidak pernah tertutup.”

Ibnu ‘Arabi:

“Setiap detik adalah kesempatan mendekat kepada Tuhan.”

Syekh Ahmad al-Tijani:

“Perbanyak istighfar, itu kunci keselamatan di segala zaman.”


📚 Daftar Pustaka Singkat

– Tafsir Ibnu Katsir
– Ihya’ Ulumuddin (Al-Ghazali)
– Musnad Ahmad
– Riyadhus Shalihin
– Tafsir Ath-Thabari
– Kutubus Sittah
– Tanbihul Ghafilin
– Hilyatul Auliya’


🗣 Testimoni Ulama Indonesia

Gus Baha:
“Setiap ancaman kiamat itu supaya kita hidup lebih ringan, tidak sombong.”

Ustadz Adi Hidayat:
“Setiap dosa punya konsekuensi, tapi rahmat Allah selalu lebih besar.”

Buya Yahya:
“Perbaiki hubungan dengan manusia agar selamat di akhirat.”

Ustadz Abdul Somad:
“Bacalah ayat-ayat ancaman sebagai pendorong taubat.”

Buya Arrazy Hasyim:
“Jangan alergi peringatan. Itu tanda cinta Allah.”


📝 Catatan Redaksi

Sebagian kisah pada hadis Mu‘adz bin Jabal mengandung unsur Israiliyat.
Disajikan bukan sebagai dasar akidah, tetapi sebagai renungan moral agar umat berhati-hati dalam hidup.


🎉 Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca yang terus mencari ilmu dan memperbaiki diri.
Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah.


12 Golongan Manusia di Hari Kiamat: Cerminan Zaman Now


Oleh: M. Djoko Ekasanu


Halo, teman-teman! Kali ini kita bakal bahas sesuatu yang berat tapi penting banget: bagaimana bentuk kita nanti di hari kebangkitan, berdasarkan gambaran dalam sebuah riwayat.


Intinya, dari sahabat Mu’adz bin Jabal r.a., Nabi ﷺ pernah bersabda bahwa umat beliau akan dibangkitkan jadi 12 kelompok dengan bentuk yang... wah, bikin merinding. Tapi ingat ya, riwayat ini sebagian ulama nilai dha'if dan ada unsur cerita Israiliyat, jadi kita ambil hikmah dan peringatan moralnya aja, bukan jadi patokan akidah. Oke? Yuk, kita bahas!


---


Kelompok 1: Yang Nyakitin Tetangga


Bentuk kebangkitan: Gak punya tangan dan kaki.

Dosa utama: Sering nyusahin tetangga, dan gak sempet taubat sebelum ajal.

Konsekuensi: Tempat pulangnya neraka.

Ayat pengingat: QS. An-Nisa': 36 (soal perintah berbuat baik ke tetangga).

📌 Relevansi zaman now: "Tetangga" sekarang juga termasuk netizen di media sosial. Komentar jahat, bully online, sebarkan kebencian? Itu termasuk nyakitin tetangga digital, lho!


Kelompok 2: Yang Anggep Remeh Shalat


Bentuk kebangkitan: Kayak binatang (ada yang sebut babi hutan).

Dosa utama: Shalatnya asal-asalan, telat, atau malah ditinggal. Gak taubat.

Ayat pengingat: QS. Al-Ma'un: 4-5 (celaka buat yang lalai shalat).

📌 Zaman now: Kesibukan kerja, meeting, atau scroll media sosial bikin shalat kepleset. Ingat, shalat itu pondasi!


Kelompok 3: Pelit, Gak Bayar Zakat


Bentuk kebangkitan: Perut kayak gunung isi ular dan kalajengking, bentuknya kayak keledai.

Dosa utama: Enggan keluarin zakat padahal mampu.

Ayat pengingat: QS. At-Taubah: 34-35 (siksaan buat yang menimbun harta).

📌 Zaman now: Gaji gede, tabungan numpuk, tapi lupa sama kewajiban zakat. Harta yang disimpan bisa jadi "racun" di akhirat nanti.


Kelompok 4: Pedagang Curang


Bentuk kebangkitan: Mulut mengucur darah, bokong diseret, mulut keluar api.

Dosa utama: Bohong dalam jual-beli, nipu konsumen.

Ayat pengingat: QS. Ali Imran: 77 (soal orang yang tukar janji Allah dengan harga murah).

📌 Zaman now: Banyak ni penipuan online, produk palsu, iklan gak sesuai fakta. Hati-hati, rezeki haram bikin sengsara.


Kelompok 5: Tukang Maksiat Diam-diam


Bentuk kebangkitan: Bau busuknya lebih parah dari bangkai.

Dosa utama: Maksiat sembunyi-sembunyi, mikir Allah gak lihat.

Ayat pengingat: QS. An-Nisa': 108 (Allah tahu yang kita sembunyikan).

📌 Zaman now:* Private chat buat ghibah, nonton konten dewasa diam-diam, merasa aman karena gak ada yang tahu. Eits, Allah Maha Melihat.


Kelompok 6: Saksi Palsu


Bentuk kebangkitan: Tenggorokan terputus dari tengkuk.

Dosa utama: Ngedukung kebohongan dengan kesaksian.

Ayat pengingat: QS. Al-Furqan: 72 (orang baik gak mau ikut kesaksian palsu).

📌 Zaman now: Bikin fitnah, sebarkan hoaks, atau bela yang salah cuma karena teman. Bahaya banget!


Kelompok 7: Bungkam Kebenaran


Bentuk kebangkitan: Gak punya lidah, mulut keluar nanah.

Dosa utama: Tau kebenaran tapi diem, gak mau jadi saksi yang bener.

Ayat pengingat: QS. Al-Baqarah: 283 (dosa banget sembunyikan kesaksian).

📌 Zaman now: Lihat ketidakadilan, tapi takut bicara. Diam itu bisa jadi dosa.


Kelompok 8: Tukang Zina


Bentuk kebangkitan: Kepala di bawah, kaki di atas, keluar nanah dari kemaluan.

Dosa utama: Melakukan zina dan gak taubat.

Ayat pengingat: QS. Al-Isra': 32 (zina itu perbuatan keji).

📌 Zaman now: Pacaran kebablasan, selingkuh, atau nikah siri yang gak jelas. Jaga aurat dan pergaulan, ya!


Kelompok 9: Makan Harta Anak Yatim


Bentuk kebangkitan: Wajah hitam, mata melotot, perut berapi.

Dosa utama: Zalim dengan memakan harta yatim.

Ayat pengingat: QS. An-Nisa': 10 (yang makan harta yatim zalim, masuk neraka).

📌 Zaman now:* Korupsi dana yatim, atau urus harta anak yatim dengan gak jujur. Ini dosa sosial yang berat.


Kelompok 10: Durhaka ke Orang Tua


Bentuk kebangkitan: Kena kusta dan belang.

Dosa utama: Bikin sakit hati orang tua, gak berbakti.

Ayat pengingat: QS. An-Nisa': 36 (perintah berbuat baik ke orang tua).

📌 Zaman now: Banyak yang kasar ke ortu, ninggalin mereka di panti jompo, atau gak peduli saat mereka butuh. Jangan sampe!


Kelompok 11: Pemabuk


Bentuk kebangkitan: Buta hati, gigi kayak tanduk sapi, lidah dan perut berantakan.

Dosa utama: Minum khamr (miras) dan gak taubat.

Ayat pengingat: QS. Al-Ma'idah: 90 (khamr itu perbuatan setan).

📌 Zaman now: Nongkrong minum bir, clubbing, sampai mabuk. Hilang akal, hilang juga harga diri.


Kelompok 12: The Chosen One! (Orang Saleh)


Bentuk kebangkitan: Wajah bersinar kayak bulan purnama, lewat shirath secepat kilat.

Amalan utama: Rajin ibadah, jauhi maksiat, jaga shalat berjamaah, dan mati dalam taubat.

Ayat pengingat: QS. Fushshilat: 30 (malaikat akan turun kepada orang yang istiqamah).

📌 Zaman now: Tetap istiqamah di tengah zaman yang edan. Ini golongan yang kita semua pengen jadiin, kan?


---


💡 Why This Matters in 2024?


· Media sosial = tetangga baru. Jangan asal bully!

· Kesibukan kerja = jangan sampe ninggalin shalat.

· Transaksi online = jangan curang, kejujuran itu kunci.

· Gaya hidup hedon = zina, miras, judi makin mudah diakses.

· Taubat = selalu masih terbuka, sampai ajal datang.


🌿 Hikmah yang Bisa Diambil:


1. Dunia cuma panggung sandiwara, akhirat itu panggung sebenarnya.

2. Setiap dosa ninggalin bekas di hati dan akan keliatan di akhirat.

3. Taubat nasuha adalah "delete permanent" buat dosa-dosa kita.

4. Jaga hubungan sama manusia (tetangga, ortu, yatim) sama pentingnya dengan hubungan sama Allah.


🔍 Muhasabah Diri (Cek Dulu Deh):


· Sebelum tidur, tanya diri: "Hari ini aku nyakitin siapa aja?"

· Rutin sedekah, sekecil apapun. Itu cuci dosa cuci hati.

· Shalat tepat waktu, jangan ditunda-tunda.

· Minta maaf sama orang yang pernah kita sakiti, termasuk lewat chat.


🤲 Doa Singkat yang Bisa Dibaca:


"Ya Allah, lindungi aku dari akhlak jelek, perbuatan buruk, dan hawa nafsu yang nyasarin. Terimalah taubat aku sebelum ajal dateng. Aamiin."


---


📌 Catatan Penting: Riwayat ini disampaikan bukan untuk bikin kita takut berlebihan,tapi sebagai alarm spiritual biar kita makin hati-hati menjalani hidup. Ilmu agama itu bikin kita sadar, bukan bikin kita stres.

Tetap semangat memperbaiki diri, karena setiap detik adalah kesempatan baru untuk jadi versi terbaik di mata Allah.

Artikel ini diolah dengan referensi dari kitab-kitab klasik dan nasihat ulama, disajikan dengan gaya santai agar mudah dicerna. Semoga bermanfaat!

Kunci Rezeki yang Datang Tanpa Disangka: Jalan Langit untuk Orang Beriman

 Kunci Rezeki yang Datang Tanpa Disangka: Jalan Langit untuk Orang Beriman.

....

cara-cara yang diajarkan Al-Qur’an dan Hadis agar Allah memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (QS. At-Talaq: 2–3). Semua ini ringkas, jelas, dan langsung bisa diamalkan:


1. Bertakwa

Dalil:

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)

Makna praktiknya:

  • Menjauhi yang haram
  • Menjalankan perintah dengan sungguh-sungguh
  • Menjaga shalat dan kejujuran
  • Memperbaiki niat dalam mencari nafkah

Hasil: Rezeki datang tanpa terbayang jalan dan sebabnya.


2. Banyak Istighfar

Dalil:
Nabi Nuh berkata:

“Beristighfarlah kepada Tuhanmu… niscaya Dia akan menurunkan hujan, memperbanyak harta, anak, kebun dan sungai.”
(QS. Nuh: 10–12)

Amalan:
Baca:
اَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيْمَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
(100× pagi, 100× malam)


3. Menyambung Silaturahmi

Dalil:
Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, sambunglah silaturahmi.”
(HR. Bukhari)


4. Banyak Sedekah

Dalil:

“Sedekah tidak mengurangi harta.”
(HR. Muslim)

Rahasia:
Sedekah mengundang pertolongan Allah yang tidak terduga, sebab Dia membuka pintu-pintu baru.


5. Sholat Dhuha

Dalil:

“Pada setiap pagi ada kewajiban sedekah bagi setiap persendian… dan semuanya mencukupi dari dua rakaat dhuha.”
(HR. Muslim)

Fadhilah:
Diberi kecukupan dan dicukupkan urusan hari itu.


6. Tawakkal Total

Dalil:

“Jika kalian bertawakal kepada Allah sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah beri rezeki seperti burung… pergi pagi dalam keadaan lapar, pulang sore kenyang.”
(HR. Tirmidzi)

Makna:
Berusaha → serahkan hasil sepenuhnya pada Allah.


7. Taqarrub (Mendekat kepada Allah) dengan Ibadah Sunnah

Dalil:

“Hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya…”
(HR. Bukhari)

Jika Allah sudah cinta → rezeki dimudahkan dari jalan mana pun.


8. Menjaga Shalat Tepat Waktu

Hadis:

“Shalat adalah tiang agama.”

Siapa yang menjaga tiangnya, Allah menjaga rezekinya.


9. Bangun Malam (Tahajud)

Dalil:

“Pada sebagian malam, lakukanlah tahajud… mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
(QS. Al-Isra: 79)

Rahasia:
Tahajud membuka pintu-pintu kemudahan dan kelancaran yang tidak terlihat di siang hari.


10. Berbakti kepada Orang Tua

Hadis:

“Ridha Allah pada ridha orang tua…”
(HR. Tirmidzi)

Jika orang tua ridha → Allah mudahkan rezeki dan hidup.


Rumus Praktis Harian (Pendek dan Mudah):

  • Istighfar 100×
  • Sedekah setiap hari (sedikit atau banyak)
  • Dhuha 2 rakaat
  • Shalat tepat waktu
  • Tawakkal ketika bekerja / berjualan
  • Doa:

اللّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, cukupkan aku dengan yang halal dari yang haram, dan kayakan aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu.”


Jika ingin, saya bisa buatkan versi yang sangat singkat, atau versi koran/artikel, atau versi amalan 7 hari untuk menarik rezeki menurut Al-Qur’an dan hadis.

ORANG ORANG YANG MEMAKAN BARANG RIBA

 



📰 ORANG ORANG YANG MEMAKAN BARANG RIBA.

Mereka yang Memakan Barang Riba

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Ringkasan Redaksi (Intisari)

Tulisan ini membahas bahaya riba, bagaimana praktik ini muncul sejak masa jahiliyah hingga kini, dalil-dalil yang mengharamkannya, hukuman pelakunya, serta dampaknya terhadap ekonomi dan spiritual. Redaksi menekankan bahwa riba tetap haram meski dibungkus teknologi modern.


Latar Belakang Masalah di Masanya

Pada zaman Rasulullah ﷺ, riba menjadi sistem ekonomi utama bangsa Arab. Mereka meminjamkan uang dengan bunga berlipat, membuat orang miskin semakin miskin. Islam datang membawa sistem keadilan, melarang riba secara bertahap hingga turun ayat pengharamannya secara total.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Cinta dunia dan ketamakan.
  2. Kesenjangan sosial.
  3. Keinginan mengambil keuntungan tanpa usaha.
  4. Ketidakadilan dalam transaksi.
  5. Kelemahan iman dan kurangnya pemahaman syariat.

Intisari Judul

“Mereka yang memakan riba” adalah peringatan keras bahwa mengambil keuntungan bunga dari pinjaman adalah tindakan zalim yang mengundang murka Allah di dunia dan akhirat.


Tujuan dan Manfaat Tulisan

  • Menyadarkan umat tentang haramnya riba.
  • Memberikan solusi agar umat menjauhi transaksi ribawi.
  • Menguatkan ekonomi umat melalui sistem yang halal.
  • Menjadi bahan renungan, muhasabah, dan perbaikan.

📖 DALIL AL-QUR'AN

1. Pengharaman secara tegas

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS. Al-Baqarah: 275)

“Wahai orang-orang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba…”
(QS. Al-Baqarah: 278–279)

2. Ancaman Perang

“Jika kamu tidak meninggalkan riba, maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya memerangimu.”
(QS. Al-Baqarah: 279)


📜 DALIL HADIS

  1. Pelaku riba dilaknat

“Rasulullah melaknat pemakan riba, pemberi riba, pencatatnya, dan kedua saksinya.”
(HR. Muslim)

  1. Riba itu 70 tingkatan dosa

“…yang paling ringan seperti seseorang berzina dengan ibunya.”
(HR. Ibn Majah)


🔍 Analisis dan Argumentasi

1. Riba menghancurkan keadilan ekonomi

Ia membuat uang menghasilkan uang tanpa kerja. Ini melahirkan ketimpangan sosial.

2. Kontra terhadap maqashid syariah

Riba mematikan keadilan, merusak harta, dan memicu permusuhan.

3. Mengundang krisis global

Para ekonom dunia mengakui bahwa sistem bunga menjadi penyebab utama gelembung ekonomi.


⚖️ Hukuman Bagi Pelaku Riba

Di Dunia

  • Hati menjadi keras.
  • Hidup tidak berkah.
  • Rezeki sulit.
  • Banyak masalah keluarga.
  • Terjerat hutang yang tidak kunjung selesai.

Di Alam Kubur

  • Disiksa karena memakan harta haram.
  • Ruh gelisah karena dosa yang tidak ditaubati.

Di Hari Kiamat

  • Bangkit dalam keadaan seperti orang kesurupan, karena makan riba.
  • Dihadapkan kepada ancaman perang dari Allah.

Di Akhirat

  • Dosanya sangat berat dan sulit mendapatkan syafaat kecuali dengan taubat yang sungguh-sungguh.

🌍 Relevansi dengan Teknologi, Komunikasi, Transportasi, Kedokteran, dan Kehidupan Sosial

1. Fintech dan perbankan digital

Meski tampil modern, jika ada bunga — tetap riba.

2. Pinjaman online

Bahkan lebih mematikan: bunga harian, intimidasi, terbukti menghancurkan keluarga.

3. Transportasi modern & cicilan kendaraan

Jika ada tambahan keuntungan karena penundaan pembayaran tanpa akad murabahah yang sah → riba.

4. Kedokteran modern

Riba melemahkan empati dan solidaritas sosial; dana haram menghambat keberkahan kesehatan.

5. Kehidupan sosial

Riba menumbuhkan mental konsumtif, bukan produktif. Banyak konflik rumah tangga bermula dari hutang ribawi.


💡 Hikmah

  • Allah tidak mengharamkan sesuatu kecuali ada keburukan besar di dalamnya.
  • Sistem ekonomi tanpa riba menguatkan keberkahan hidup.
  • Menjauhi riba adalah jalan menuju ketenangan hati.

🧭 Muhasabah & Cara Menghindari Riba

  1. Periksa semua transaksi: bank, cicilan, pinjol.
  2. Ganti tabungan konvensional dengan syariah.
  3. Jika terlanjur berhutang riba → bayar pokoknya saja dan tinggalkan bunganya.
  4. Perbanyak sedekah untuk menumbuhkan keberkahan rezeki.
  5. Belajar akad-akad syariah: mudharabah, musyarakah, murabahah, salam, istishna’.
  6. Gaya hidup sederhana, tidak konsumtif.
  7. Taubat nasuha.

🤲 Doa

“Ya Allah, cukupkanlah kami dengan rezeki-Mu yang halal dan jauhkan kami dari yang haram. Lapangkanlah kami dari hutang, dan berkahilah harta kami.”


🕋 Nasihat Para Ulama Besar

Hasan al-Bashri

“Tidak ada dosa yang lebih merusak masyarakat selain mengambil hak orang lain tanpa usaha.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Hati yang terpaut pada harta haram tidak akan pernah merasakan manisnya ibadah.”

Abu Yazid al-Bistami

“Tinggalkan dunia dari hatimu, niscaya Allah memenuhi jiwamu.”

Junaid al-Baghdadi

“Orang yang makan dari yang haram, hatinya tidak akan mengenal Allah.”

Al-Hallaj

“Kesucian hati tidak dapat tumbuh dari harta yang kotor.”

Imam al-Ghazali

“Riba adalah racun peradaban.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Orang yang mencari rezeki halal, ia berada di jalan para nabi.”

Jalaluddin Rumi

“Ambil dari dunia sekadar cukup, agar engkau bisa terbang menuju langit.”

Ibnu ‘Arabi

“Harta haram memenjarakan ruh.”

Ahmad al-Tijani

“Taubat dari riba harus segera, karena waktunya tidak dijamin.”


🎙 Testimoni Tokoh Indonesia

Gus Baha

“Riba itu seperti memaksa orang miskin tetap miskin. Islam melarang untuk melindungi manusia.”

Ustadz Adi Hidayat

“Bunga adalah riba. Modernisasi tidak mengubah hukum.”

Buya Yahya

“Kalau mau hidup berkah, jauhi transaksi yang ada ribanya.”

Ustadz Abdul Somad (UAS)

“Riba adalah dosa besar yang merusak bangsa dari dalam.”

Buya Arrazy Hasyim

“Solusinya bukan menghalalkan riba, tapi menguatkan ekonomi syariah.”


📚 Daftar Pustaka (Singkat)

  • Al-Qur'an al-Karim
  • Shahih Bukhari dan Muslim
  • Ihya' Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  • Fath al-Bari – Ibn Hajar
  • Tafsir Ibn Katsir
  • Tafsir al-Qurthubi
  • Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibn ‘Arabi
  • Al-Fath ar-Rabbani – Abdul Qadir al-Jailani
  • Riyadhus Shalihin – Imam an-Nawawi

🙏 Ucapan Terima Kasih

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada seluruh guru bangsa dan para ulama yang terus memberi bimbingan sehingga umat dapat memahami bahaya riba di dunia dan akhirat.


📌 Catatan Redaksi

Jika terdapat kisah yang termasuk kategori Israiliyat, ia dihadirkan hanya sebagai renungan, bukan sebagai dalil akidah.


Jika Anda ingin versi lebih panjang, lebih pendek, atau mau dijadikan bentuk buku/majalah PDF, saya siap buatkan.

ORANG-ORANG YANG SAMA BERBICARA URUSAN DUNIAWI DI DALAM MASJID

 



ORANG-ORANG YANG SAMA BERBICARA URUSAN DUNIAWI DI DALAM MASJID

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Asli

Tulisan ini membahas kebiasaan sebagian orang yang membawa pembicaraan duniawi ke dalam masjid, tempat yang seharusnya dimuliakan dengan zikir, salat, dan ketenangan. Fenomena ini sudah terjadi sejak masa awal Islam dan kembali muncul dalam bentuk baru pada era teknologi dan komunikasi modern.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, masjid adalah pusat ibadah, ilmu, syura, dan pelayanan umat. Perbincangan duniawi tidak dilarang jika terkait kemaslahatan umat, namun larangan muncul ketika pembicaraan mengganggu kekhusyukan, meninggikan suara, atau melalaikan ibadah.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Kurang ilmu tentang adab masjid.
  2. Kebiasaan ngobrol tanpa kontrol, khususnya setelah salat.
  3. Masuknya budaya gadget, telepon, rekaman suara di dalam masjid.
  4. Lupa memuliakan masjid sebagai rumah Allah.
  5. Menganggap masjid sebagai tempat umum, bukan tempat ibadah.

Intisari Judul

"Menjaga Lisan di Rumah Allah."
Bukan sekadar berhenti bicara, tetapi menghormati tempat yang dimuliakan.


Tujuan dan Manfaat

  • Mengingatkan kembali adab masjid.
  • Menumbuhkan ketenangan bagi jamaah.
  • Mencegah maksiat lisan.
  • Melatih diri menghormati Allah dan rumah-Nya.

DALIL-QUR’AN DAN HADIS

Al-Qur’an

  1. “Dan bahwasanya masjid-masjid itu milik Allah, maka janganlah kamu menyembah siapa pun di dalamnya selain Allah.”
    (QS. Al-Jinn: 18)

  2. “Sungguh beruntung orang-orang yang khusyuk dalam salatnya dan menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia.”
    (QS. Al-Mu’minun: 1–3)

Hadis Nabi ﷺ

  1. “Akan datang suatu zaman, orang-orang berbicara di masjid tentang urusan dunia. Janganlah kalian duduk bersama mereka. Allah tidak membutuhkan mereka.”
    (HR. Al-Hakim – hasan)

  2. “Barang siapa mendengar seseorang menjual atau membeli di masjid, katakanlah: semoga Allah tidak memberi keuntungan pada daganganmu.”
    (HR. Tirmidzi)

  3. Nabi ﷺ mengangkat suara menegur para sahabat yang berdebat keras di masjid, lalu bersabda:
    “Sesungguhnya masjid ini tidak pantas untuk debat dan jual beli”
    (HR. Ibnu Majah)


Analisis dan Argumentasi

Masjid adalah zona suci. Ketika pembicaraan duniawi masuk, dua kerusakan muncul:

1. Kerusakan batin

  • Hati menjadi lalai dari Allah.
  • Dzikir dan salat terganggu.
  • Keberkahan hilang karena lisan tidak terjaga.

2. Kerusakan sosial

  • Mengganggu jamaah yang sedang membaca Al-Qur’an.
  • Menimbulkan perdebatan, gosip, bahkan konflik.
  • Menurunkan wibawa masjid.

Keadaan Zaman Modern

  • Gadget membuat obrolan tidak hanya suara, tapi juga video call, notifikasi, rekaman, dan konten duniawi.
  • Transportasi mudah → orang masuk masjid hanya lewat, sambil telepon.
  • Media sosial membuat masjid menjadi latar "konten" → hilang kekhusyukan.
  • Dunia kedokteran modern menunjukkan: keributan memicu stres, mengganggu konsentrasi, meningkatkan tekanan darah. Masjid sebagai zona hening menjadi benteng kesehatan mental.

HUKUMAN & KONSEKUENSI

Di Dunia

  • Hilang ketenangan hati.
  • Rezeki terasa sempit karena hilang keberkahan.
  • Ditegur malaikat penjaga masjid dengan rasa gelisah.

Di Alam Kubur

  • Disempitkan kuburnya karena melalaikan rumah Allah.
  • Terputus cahaya amal salatnya.

Pada Hari Kiamat

  • Dikumpulkan bersama kaum yang melalaikan masjid.
  • Amal salat dan zikirnya berkurang nilainya.

Di Akhirat

  • Terhalang dari derajat orang yang dicintai Allah:
    “Mereka yang hatinya terpaut pada masjid.”

Hikmah

  • Hening di masjid adalah obat jiwa.
  • Menjaga lisan membawa barakah besar.
  • Masjid bukan ruang suara manusia, tetapi ruang suara Allah.

Muhasabah dan Caranya

  1. Tanyakan pada diri:
    “Apakah pembicaraanku membuat malaikat senang atau marah?”
  2. Tahan lisan 10 detik sebelum berbicara.
  3. Matikan notifikasi HP sebelum masuk masjid.
  4. Jika terpaksa bicara duniawi → keluar sebentar.
  5. Ajari anak dan keluarga adab masjid dengan teladan.

Doa

اللهم اجعل ألسنتنا عامرة بذكرك، وقلوبنا خاشعة في بيتك، وابعدنا عن اللغو والباطل وسوء الأدب في مسجدك.
“Ya Allah, jadikan lisan kami dipenuhi zikir, hati kami khusyuk di rumah-Mu, jauhkan kami dari ucapan sia-sia dan buruk adab di masjid.”


Nasehat Para Tokoh Sufi

Hasan al-Bashri

“Lisan adalah pintu hati. Barang siapa menjaganya di masjid, Allah menjaga hatinya di luar masjid.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Masjid bukan tempat bicaramu, tetapi tempat Allah melihat hatimu.”

Abu Yazid al-Bistami

“Diam di masjid adalah zikir bagi orang yang mengenal.”

Junaid al-Baghdadi

“Adab lebih tinggi dari ilmu. Di masjid, diam adalah adab.”

Al-Hallaj

“Siapa mengisi masjid dengan dunia, ia mengusir malaikat dari rumah Tuhan.”

Imam al-Ghazali

“Tanda hati hidup: ia malu berkata-kata duniawi di rumah Allah.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Masjid adalah tempat berurusan dengan Tuhan, bukan urusan manusia.”

Jalaluddin Rumi

“Masjid adalah telaga cahaya; jangan keruhkan dengan kata-kata.”

Ibnu ‘Arabi

“Setiap huruf yang engkau keluarkan di masjid akan bersaksi pada hari perhitungan.”

Ahmad al-Tijani

“Berbicaralah seperlunya. Diammu di masjid lebih tinggi dari zikir tanpa adab.”


Testimoni Ulama Indonesia

Gus Baha’

“Masjid itu rumah Allah. Tanda orang beriman: ia menjaga suasana masjid tetap tenang.”

Ustadz Adi Hidayat

“Pembicaraan duniawi yang mengganggu jamaah adalah makruh keras, bahkan bisa haram.”

Buya Yahya

“Jika ingin bicara dunia, keluarlah. Hormati masjid.”

Ustadz Abdul Somad

“HP berbunyi di masjid itu maksiat kecil, tapi efeknya besar: mengganggu orang salat.”

Buya Arrazy Hasyim

“Adab masjid adalah fardu ‘ain bagi siapa saja yang masuk ke dalamnya.”


Catatan Redaksi

Jika terdapat kisah dari tradisi Israiliyat, ia disajikan hanya sebagai renungan, bukan sebagai dalil akidah.


Daftar Pustaka Singkat

  • Shahih Bukhari & Muslim
  • Sunan Tirmidzi
  • Sunan Ibnu Majah
  • Ihya’ Ulumiddin – Al-Ghazali
  • Al-Fath ar-Rabbani – Abdul Qadir al-Jailani
  • Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Tafsir Al-Qurthubi
  • Majelis Gus Baha’, Buya Yahya, UAH, UAS

Ucapan Terima Kasih

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang terus mendukung penulisan bacaan-bacaan singkat bernuansa edukasi dan pengingat ini. Semoga Allah memberikan keberkahan bagi semua.


Jika Anda ingin versi lebih panjang, lebih pendek, atau format majalah/tabloid, saya siap buatkan.

ORANG-ORANG YANG SUKA MENGADU DOMBA

 



ORANG-ORANG YANG SUKA MENGADU DOMBA

Sebuah Renungan Moral di Tengah Kemajuan Zaman

Penulis: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Asli

Tulisan ini mengangkat bahaya namîmah (adu domba), salah satu dosa besar yang dapat memecah ukhuwah, merusak persatuan umat, dan menyebabkan kehancuran masyarakat. Artikel ini mengulas latar sejarah, dalil, analisis, hukuman, relevansi modern, serta hikmah dan muhasabah untuk membersihkan diri dari penyakit hati tersebut.


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Nabi ﷺ, masyarakat Arab hidup dalam ikatan kabilah. Satu kalimat adu domba dapat memicu peperangan panjang. Orang munafik seperti Abdullah bin Ubay terkenal sebagai pengadu domba yang memecah belah kaum Muhajirin dan Anshar.

Di masa tabi’in, fitnah adu domba menyebabkan pecahnya hubungan para ulama dan tercetusnya fitnah besar seperti Perang Jamal dan Shiffin. Oleh sebab itu, ulama-ulama klasik sangat keras memperingatkan bahaya namîmah.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Hati yang dipenuhi hasad, dengki, dan iri.
  2. Keinginan memperoleh perhatian atau pengaruh.
  3. Membalas dendam dengan cara memecah pihak lain.
  4. Tidak mampu mengendalikan lisan dan jempol.
  5. Tidak adanya ilmu, adab, dan takut kepada Allah.

Intisari Judul

Adu domba adalah salah satu dosa lisan paling berat yang menghancurkan hubungan, merusak masyarakat, dan mengundang murka Allah, baik di dunia maupun akhirat.


Tujuan dan Manfaat

  • Mengingatkan umat akan bahaya adu domba.
  • Menyadarkan pembaca agar menjaga lisan dan etika komunikasi.
  • Menjadi pelajaran moral bagi masyarakat modern yang penuh informasi instan.
  • Menjaga persatuan dan ketenangan sosial.

DALIL-DALIL

Dalil Al-Qur’an

  1. QS. Al-Qalam: 10–11

“Dan janganlah kamu mengikuti setiap orang yang suka bersumpah lagi hina. Yang suka mencela dan mengadu domba.”

  1. QS. Al-Hujurat: 6

“Jika datang kepadamu orang fasik membawa berita, maka telitilah kebenarannya…”

  1. QS. Al-Humazah: 1

“Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.”


Dalil Hadis

  1. Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba.”
    (HR. Muslim)

  2. Ketika melewati dua kuburan, Nabi ﷺ bersabda:
    “Sesungguhnya keduanya sedang disiksa … yang satu karena tidak menjaga kencing, dan yang lain karena suka mengadu domba.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)

  3. Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Cukuplah seseorang disebut pendusta bila ia menceritakan semua yang ia dengar.”
    (HR. Muslim)


ANALISIS & ARGUMENTASI

1. Mengapa adu domba sangat berbahaya?

  • Menyebarkan kebencian dan memotong tali silaturahmi.
  • Mengubah teman menjadi musuh, saudara menjadi lawan.
  • Merusak stabilitas masyarakat, negara, dan umat.
  • Menjadi pintu masuk pecah belah dan permusuhan.

2. Adu domba lebih berat dosanya dari ghibah

Ghibah membicarakan keburukan yang benar,
Namîmah memindahkan berita untuk menimbulkan kerusakan —
sehingga jauh lebih berbahaya.


HUKUMAN BAGI PENGADU DOMBA

1. Hukuman di Dunia

  • Dijauhi manusia, tidak dipercaya.
  • Permusuhan di sekelilingnya.
  • Kehilangan keberkahan kehidupan.
  • Hatinya gelisah dan tidak damai.

2. Hukuman di Alam Kubur

  • Berdasarkan hadis shahih: pengadu domba termasuk yang mendapat azab kubur.

3. Hukuman di Hari Kiamat

  • Tidak masuk surga sebelum disiksa.
  • Dibangkitkan dalam keadaan hina.
  • Ditempatkan bersama kaum munafik.

4. Di Akhirat

  • Pahala habis karena harus menanggung dosa-dosa orang yang ia fitnah dan adu-dombakan.

RELEVANSI DI ERA MODERN

Adu domba bukan hanya melalui lisan, tapi juga:

1. Teknologi & Media Sosial

  • Forward tanpa verifikasi.
  • Edit screenshot untuk memprovokasi.
  • Membuat konten yang memecah belah.
  • Komentar anonim yang mengadu pihak A dan B.

2. Komunikasi Cepat

Kecepatan sebar informasi melebihi kemampuan masyarakat meneliti.

3. Transportasi & Mobilitas Tinggi

Berita bohong menyebar lintas daerah dengan cepat.

4. Kedokteran & Psikologi

Adu domba memicu stres, depresi, bahkan gangguan mental.

5. Kehidupan Sosial

  • Konflik keluarga.
  • Perpecahan organisasi dan kantor.
  • Permusuhan antar masjid, antar kelompok dakwah, antar ormas.

Namîmah modern jauh lebih berbahaya daripada masa lampau.


HIKMAH

  1. Lisan bisa mengangkat derajat atau menjatuhkan kehormatan manusia.
  2. Orang yang menjaga lisannya akan dijaga Allah dari murka-Nya.
  3. Persatuan adalah nikmat terbesar yang harus dijaga.
  4. Dusta dan adu domba adalah penyakit hati yang memakan amal-amal kebaikan.

MUHASABAH & CARANYA

  1. Tahan lisan dan jempol—diam lebih selamat.
  2. Tabayyun sebelum menyebarkan informasi.
  3. Latih hati dengan doa dan wirid agar bersih dari dengki.
  4. Jangan menjadi corong fitnah, sekalipun berita terlihat benar.
  5. Bangun kebiasaan bicara baik, lembut, dan menyejukkan.

DOA

“Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari kedengkian, jaga lisanku dari namîmah, kuatkan aku untuk berkata benar, dan jauhkan aku dari fitnah yang tampak maupun tersembunyi. Jadikan aku sebab terciptanya perdamaian, bukan perpecahan. Amin.”


NASEHAT PARA ULAMA TASAWUF

Hasan al-Bashri

“Pengadu domba adalah orang yang menghancurkan kehormatan dirinya sebelum menghancurkan orang lain.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Bersihkan hatimu, maka lisanmu akan ikut bersih.”

Abu Yazid al-Bistami

“Siapa yang mengenal Allah, ia malu melukai hati hamba Allah.”

Junaid al-Baghdadi

“Jalan menuju Allah dibangun dengan kejujuran, bukan dengan menyakiti manusia.”

Al-Hallaj

“Lisan yang kotor lahir dari hati yang gelap.”

Imam al-Ghazali

“Namîmah merusak amal sebagaimana api membakar kayu kering.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Jangan ikuti nafsumu. Ia mengajakmu memecah, bukan menyambung.”

Jalaluddin Rumi

“Lisanmu setajam pedang. Gunakan untuk mengobati, bukan melukai.”

Ibnu ‘Arabi

“Setiap kata adalah energi—bangunlah dunia dengan cahaya kata-katamu.”

Ahmad al-Tijani

“Dzikir menghaluskan hati hingga tidak tega menyebarkan keburukan.”


Testimoni Tokoh Indonesia

Gus Baha

“Fitnah dan adu domba itu merusak tatanan, bahkan merusak pahala ibadah kita.”

Ustadz Adi Hidayat

“Hati-hati, satu broadcast saja bisa menjerumuskan kita dalam dosa besar namîmah.”

Buya Yahya

“Jangan menjadi sebab rusaknya hubungan orang lain. Itu bukan akhlak Muslim.”

Ustadz Abdul Somad

“Berita bohong dan adu domba adalah senjata setan untuk memecah umat.”

Buya Arrazy Hasyim

“Di era digital, tabayyun adalah kewajiban syariat yang semakin mendesak.”


Daftar Pustaka

  • Al-Qur’an al-Karim
  • Shahih Bukhari & Muslim
  • Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  • Al-Adzkar – Imam an-Nawawi
  • Risalah al-Qusyairiyah – Imam al-Qusyairi
  • Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
  • Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  • Majmu’ Fatawa – Ibnu Taimiyah
  • Ceramah Gus Baha, UAH, Buya Yahya, UAS, Buya Arrazy (dalam berbagai kajian)

Ucapan Terima Kasih

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada seluruh guru, ulama, dan pembaca yang terus menjaga keutuhan umat melalui ilmu, akhlak, dan keteladanan.


Catatan Redaksi

Tulisan ini memuat beberapa kisah klasik. Bila terdapat kisah yang termasuk kategori Israiliyat, maka ia hanya digunakan sebagai renungan, bukan sebagai dalil akidah, dan pembaca diharap menyikapinya dengan bijak.


Jika Anda ingin dibuatkan versi layout koran, versi PDF, atau versi buku, saya siap membuatkannya.



ORANG-ORANG YANG TIDAK MENJAUHKAN DIRI DARI GHIBAH

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Aslinya

Tulisan ini mengulas bahaya ghibah (menggunjing), akar persoalan di masa lalu dan masa kini, hukum serta ancamannya menurut Qur’an dan Hadis, ditambah analisis sosial–teknologi masa modern. Kolom ini juga memberikan hikmah, muhasabah, langkah penyembuhan, doa, dan nasihat para tokoh tasawuf klasik.


Latar Belakang Masalah di J zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, ghibah banyak terjadi karena majelis-majelis perbincangan kabilah. Informasi mudah menyebar tanpa verifikasi. Sebagian orang menganggap membicarakan aib orang sebagai hiburan atau tradisi loyalitas kabilah—padahal Islam datang memeranginya.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Hati dipenuhi iri dan dengki.
  2. Syahwat berbicara: ingin tampak hebat dengan merendahkan orang lain.
  3. Lalai bahwa setiap kata dicatat malaikat.
  4. Lingkungan yang menjadikan ghibah sebagai budaya.
  5. Kemajuan teknologi yang memudahkan fitnah dan ghibah digital.

Intisari Judul

Ghibah adalah penyakit lisan dan hati yang merusak kehormatan manusia dan memadamkan cahaya amal.


Tujuan dan Manfaat

  • Mengingatkan bahwa kehormatan muslim adalah suci.
  • Menjelaskan urgensi menjauhi ghibah secara individu dan sosial.
  • Mengajak pembaca bermuhasabah dan memperbaiki lisan.
  • Menjadi panduan praktis mengendalikan ghibah di era digital.

Dalil Al-Qur’an

  1. QS. Al-Hujurat: 12
    "Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah kalian memakan daging saudara kalian yang telah mati?”

  2. QS. An-Nur: 19
    "Sungguh, orang-orang yang suka tersebarnya keburukan di tengah orang beriman, bagi mereka azab yang pedih..."


Hadis Nabi ﷺ

  • “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim)
  • “Ghibah adalah engkau menyebut sesuatu tentang saudaramu yang ia benci.” (HR. Muslim)

Analisis dan Argumentasi

1. Dampak di Dunia

  • Hilangnya keberkahan hidup.
  • Hati menjadi gelap, penuh prasangka.
  • Mengundang permusuhan, retaknya hubungan sosial.

2. Hukuman di Alam Kubur

Para ulama menyebutkan: pelaku ghibah disiksa dengan menggaruk wajah dan dada dengan kuku tembaga (HR. Abu Dawud). Ini sebagai peringatan keras, bukan untuk memastikan bentuk konkrit siksa.

3. Hukuman di Hari Kiamat

  • Amal diserahkan kepada orang yang digibahi sebagai bentuk qishash amal.
  • Jika amal habis, dosa orang yang digibahi dipindahkan kepadanya.

4. Hukuman di Akhirat

  • Terhalang dari rahmat Allah.
  • Wajah menghitam sebagai simbol kehinaan (isyarat dari ayat-ayat ancaman).

Relevansi di Era Teknologi Modern

  1. Teknologi Komunikasi:
    Ghibah kini terjadi lewat WhatsApp, komentar media sosial, konten gosip, dan forward pesan tanpa verifikasi.

  2. Transportasi dan mobilitas:
    Perjalanan jauh bersama menjadi ajang ghibah tanpa disadari.

  3. Kedokteran dan psikologi:
    Ghibah menyebabkan stres, kecemasan, dan keretakan hubungan serta mengganggu kesehatan mental.

  4. Sosial masyarakat:
    Budaya “viralisasi” aib orang menjadi bentuk ghibah terbesar di zaman ini.


Hikmah

  • Ghibah merusak hati seperti karat merusak besi.
  • Menjaga lisan adalah menjaga kehormatan diri.
  • Setiap kata memiliki dampak spiritual yang kembali kepada penuturnya.

Muhasabah

Tanyakan pada diri sendiri:

  • Sudahkah lidahku menjadi sebab keselamatan orang lain?
  • Atau justru aku menjadikan nama orang lain sebagai santapan lisanku?
  • Apakah aku senang melihat aib orang lebih dari aib sendiri?

Cara Menjauh dari Ghibah

  1. Diam ketika tidak punya kebaikan untuk diucapkan.
  2. Alihkan pembicaraan dengan bijak.
  3. Bela orang yang digibahi.
  4. Ingat akibat ghibah di akhirat.
  5. Mengingatkan teman dengan lembut.
  6. Perbanyak zikir dan membaca Qur’an agar hati lembut.

Doa

“Ya Allah, bersihkan lisanku dari keburukan, sucikan hatiku dari dengki, dan karuniakan aku kemampuan berkata yang benar, baik, dan bermanfaat. Amin.”


Nasehat Para Ulama

  • Hasan al-Bashri: “Ghibah lebih merusak agama seseorang daripada penyakit merusak tubuhnya.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Lidah yang sibuk mengingat Allah tidak sempat menyakiti manusia.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Aibmu sendiri cukup untuk disibukkan.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Orang yang mengenal Allah, lisannya menjadi penjaga hatinya.”
  • Al-Hallaj: “Siapa yang melihat Allah dalam setiap hamba, ia takut menggunjing hamba.”
  • Imam al-Ghazali: “Ghibah adalah buah dari hati yang sakit.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan buka aib orang, karena Allah menutup aibmu setiap hari.”
  • Jalaluddin Rumi: “Biarkan kata-kata yang keluar darimu menjadi cahaya.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Setiap kata adalah doa; pilihlah yang membawa rahmat.”
  • Ahmad al-Tijani: “Lidah yang suci adalah ciri ahli Allah.”

Daftar Pustaka

  • Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  • Al-Adzkar – Imam Nawawi
  • Tafsir Ibn Katsir
  • Riyadhus Shalihin
  • Kitab Al-Fawaid – Ibnu Qayyim
  • Nashaih al-‘Ibad – Imam Nawawi al-Bantani

Testimoni Ulama Indonesia

  • Gus Baha’: “Ghibah itu tandanya hati tidak sibuk dengan Allah.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Setiap kata yang keluar akan kita pertanggungjawabkan—termasuk di ruang digital.”
  • Buya Yahya: “Menjaga lisan lebih berat daripada menjaga shalat.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Ghibah itu sedekah pahala kepada orang yang kita benci.”
  • Buya Arrazy Hasyim: “Sumber ghibah adalah hati yang belum selesai dengan dirinya.”

Ucapan Terima Kasih

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang terus mendukung hadirnya bacaan moral dan spiritual untuk menjaga kebersihan hati umat.


Catatan Redaksi

Jika ada kisah dalam redaksi yang tergolong Israiliyat, maka ia hanya disajikan sebagai bahan renungan, bukan dalil akidah.


Jika Anda ingin versi lebih panjang, lebih tegas, atau siap cetak PDF, saya siap membuatkan.


 

daqoiqul akhbar 8


📰 ORANG ORANG YANG MENCEGAH PADA HAK ALLAH TA'ALA.

Edisi Khusus: Mereka yang Mencegah Hak Allah Ta’ala
Penulis: M. Djoko Ekasanu


Rasulullah saw. ditanya tentang makna firman Allah Ta’ala:

“………. Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkala lalu kamu datang berkelompok-kelompok.” (QS. An Naba’: 18)

Maka Nabi saw. menangis, kemudian beliau bersabda: “Hai orang yang bertanya, kamu bertanya kepadaku tentang perkara yang besar, sesungguhnya waktu itu, adalah hari kiamat, dimana beberapa kaum dari umatku dikumpulkan menjadi 12 bagian.”.

kedelapan.

🧩 Ringkasan Redaksi Aslinya

Tulisan ini membahas golongan manusia yang mencegah hak-hak Allah, seperti tidak menunaikan ibadah fardhu, menolak kewajiban zakat, menghalangi manusia dari jalan Allah, dan menyembunyikan kebenaran. Disertakan dalil Al-Qur’an dan hadis, analisis, hukuman di dunia–akhirat, serta relevansinya dengan zaman modern yang penuh kemajuan teknologi.

Catatan: Bila terdapat kisah dalam tulisan ini yang termasuk kategori Israiliyat, ia hanya menjadi renungan moral, bukan dalil akidah.


📜 Latar Belakang Masalah di Jamannya

Sejak zaman Nabi ﷺ hingga era kini, sebagian manusia menahan hak Allah, baik melalui:

  • Tidak menjalankan kewajiban,
  • Menghalangi manusia dari ketaatan,
  • Mengubah syariat demi kepentingan pribadi,
  • Mempropagandakan kemaksiatan.

Pada masa Rasulullah, Bani Israil telah diperingatkan karena menyembunyikan wahyu, sementara kaum munafik berusaha mencegah manusia dari jihad dan sedekah. Hari ini fenomenanya muncul dalam bentuk lain: menjadikan agama sekadar identitas, bukan ketaatan.


🧩 Sebab Terjadinya Masalah

  1. Lemahnya iman dan dominasi hawa nafsu.
  2. Pemahaman agama yang keliru atau diselewengkan.
  3. Cinta dunia yang berlebihan.
  4. Lingkungan sosial yang permisif terhadap maksiat.
  5. Ketergantungan pada teknologi yang melalaikan.

📝 Intisari Judul

Hak Allah adalah ketaatan total, tauhid, ibadah, dan tidak menghalangi manusia dari jalan-Nya. Siapa yang mencegah hak Allah berarti menentang Sang Pencipta.


🎯 Tujuan dan Manfaat

  • Mengingatkan umat akan kewajiban kepada Allah.
  • Menjelaskan konsekuensi dunia–akhirat bagi yang menghalangi hak Allah.
  • Mendorong muhasabah diri di era modern.
  • Menghidupkan kembali semangat ibadah, dakwah, dan amanah.

📖 Dalil Al-Qur'an dan Hadis

1. Al-Qur’an

  • “Maka celakalah orang-orang yang menulis kitab dengan tangan mereka, lalu mereka berkata ‘ini dari Allah’…” (QS. Al-Baqarah: 79)
    → Menghalangi hak Allah dengan memalsukan kebenaran.

  • “Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menghalangi masjid-masjid Allah disebut nama-Nya…” (QS. Al-Baqarah: 114)

  • “Celakalah orang-orang yang lalai dari sholatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4–5)

2. Hadis

  • Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Hak Allah atas hamba adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya.” (HR. Bukhari-Muslim)

  • “Barang siapa menghalangi manusia dari jalan Allah, maka ia menanggung dosa mereka…” (HR. Ahmad)


🔍 Analisis & Argumentasi

Mencegah hak Allah memiliki bentuk-bentuk:

  1. Tidak menunaikan kewajiban → meninggalkan sholat, zakat, puasa.
  2. Mencegah orang lain beribadah → meremehkan agama, ejekan, propaganda maksiat.
  3. Memalsukan syariat → memutarbalikkan ayat untuk kepentingan duniawi.
  4. Menggunakan teknologi untuk melawan agama → konten yang menyesatkan.
  5. Tenggelam dalam kesenangan dunia → memprioritaskan dunia daripada akhirat.

Secara syar’i, perbuatan ini tergolong kezaliman besar, karena merampas hak Allah sebagai Tuhan.


⚖️ Keutamaan atau Hukuman

1. Di Dunia

  • Hati gelap, hidup tidak tenang.
  • Rezeki sempit.
  • Hubungan sosial rusak.
  • Selalu dalam kegelisahan.

2. Di Alam Kubur

  • Dihimpit kubur.
  • Disebut sebagai orang khianat terhadap amanah Allah.

3. Di Hari Kiamat

  • Dikumpulkan bersama orang-orang zalim dan munafik.
  • Tidak mendapat naungan Allah.
  • Ditulis sebagai penghalang kebenaran.

4. Di Akhirat

  • Siksa yang pedih karena menghalangi manusia dari kebenaran.
  • Tidak dapat memberi alasan di hadapan Allah.

🌍 Relevansi dengan Zaman Modern

1. Teknologi

  • Konten haram, fitnah, syahwat, menunda ibadah → termasuk mencegah hak Allah.

2. Komunikasi

  • Penyebaran hoaks, cemooh agama, meremehkan ulama → menutup jalan hidayah.

3. Transportasi

  • Mobilitas tinggi membuat manusia lalai sholat, menunda ibadah.

4. Kedokteran

  • Kesehatan sering dijadikan alasan meninggalkan ibadah padahal banyak rukhsah syariat.

5. Sosial

  • Budaya pamer (riya’ digital), hedonisme, dan gaya hidup global membuat iman melemah.

💡 Hikmah

  • Hak Allah adalah jalan keselamatan.
  • Siapa yang menjaga hak Allah, Allah akan menjaga dirinya.
  • Melalaikan hak Allah berarti melalaikan jati diri sebagai hamba.

🔍 Muhasabah & Caranya

  1. Hitung ibadah harian: sholat, zikir, sedekah.
  2. Periksa media sosial: adakah yang melanggar hak Allah?
  3. Kurangi hal yang melalaikan.
  4. Perbanyak membaca Qur'an.
  5. Waktu khusus setiap hari untuk introspeksi.

🤲 Doa

اللّٰهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
Ya Allah, tolonglah aku untuk berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbagus ibadah kepada-Mu.


🕌 Nasehat Para Ulama & Sufi Besar

Hasan al-Bashri

“Siapa yang melupakan hak Allah, maka Allah melupakan dirinya.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Cintailah Allah karena Dia layak dicintai, bukan karena dunia.”

Abu Yazid al-Bistami

“Hamba yang benar tidak pernah menunda hak Tuhannya.”

Junaid al-Baghdadi

“Ibadah adalah penyerahan total tanpa sisa untuk Allah.”

Al-Hallaj

“Barang siapa tidak memuliakan hak Allah, ia terhijab dari-Nya.”

Imam al-Ghazali

“Hati yang jauh dari mengingat Allah akan mudah dikuasai syahwat.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Jagalah hak Allah, niscaya Allah menjagamu dari segala musibah.”

Jalaluddin Rumi

“Ketika engkau mendahulukan dunia, engkau menutup pintu langit.”

Ibnu ‘Arabi

“Hak Allah adalah kehadiranmu bersama-Nya setiap saat.”

Ahmad al-Tijani

“Semua jalan menuju Allah berawal dari memuliakan hak-Nya.”


📚 Daftar Pustaka (Ringkas)

  • Tafsir Ibn Katsir
  • Ihya’ Ulumiddin – Al-Ghazali
  • Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
  • Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir
  • Risalah al-Qusyairiyah
  • Riyadhus Shalihin
  • Shahih Bukhari & Muslim
  • Majmu’ al-Fatawa
  • Tazkiyatun Nafs – berbagai ulama

🗣️ Testimoni Para Ulama Kontemporer

Gus Baha'

“Orang yang tidak menunaikan hak Allah akan hidup capek, karena memikul kewajiban yang ia abaikan.”

Ustadz Adi Hidayat

“Hak Allah adalah tauhid dan ibadah. Bila itu hilang, semua keberkahan hidup hilang.”

Buya Yahya

“Mencegah manusia dari kebaikan adalah bentuk kezaliman terbesar.”

Ustadz Abdul Somad

“Siapa menghalangi hak Allah, ia sedang membangun nerakanya sendiri.”

Buya Arrazy Hasyim

“Jalan keselamatan adalah menegakkan hak Allah dalam batin dan lahir.”


🙏 Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca, donatur, relawan, dan semua yang mendukung penerbitan edisi khusus ini. Semoga Allah menjadikan setiap huruf sebagai amal jariyah.


Jika Anda ingin dibuatkan versi PDF, e-book, atau layout seperti koran cetak, saya siap membuatkannya.

 

daqoiqul akhbar 7 MEREKA YANG MENGIKUTKAN SYAHWAT, KELEZATAN, DAN KEHARAMAN


📰 MEREKA YANG MENGIKUTKAN SYAHWAT, KELEZATAN, DAN KEHARAMAN

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Rasulullah saw. ditanya tentang makna firman Allah Ta’ala:

“………. Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkala lalu kamu datang berkelompok-kelompok.” (QS. An Naba’: 18)

Maka Nabi saw. menangis, kemudian beliau bersabda: “Hai orang yang bertanya, kamu bertanya kepadaku tentang perkara yang besar, sesungguhnya waktu itu, adalah hari kiamat, dimana beberapa kaum dari umatku dikumpulkan menjadi 12 bagian.”.

ketujuh..

Ringkasan Redaksi Aslinya

Tulisan ini mengupas kondisi manusia yang tenggelam dalam syahwat, kelezatan dunia, dan perkara haram. Artikel menampilkan latar sejarah, sebab kerusakan moral, dalil-dalil Qur’an dan sunnah, analisis, hukuman di dunia–akhirat, relevansi teknologi modern, hingga nasihat para ulama sufi.


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Sejak masa Nabi Nuh hingga Rasulullah ﷺ, penyimpangan manusia terjadi ketika nafsu syahwat menguasai akal, mulai dari penyembahan berhala, mabuk-mabukan, riba, zina, hingga kedzaliman. Masyarakat jahiliyah hidup dalam budaya hedon—makanan mewah, minuman keras, pesta, perzinahan—tanpa batasan moral.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Lemahnya iman dan zikir.
  2. Pergaulan buruk yang menormalisasi maksiat.
  3. Lalai dari akhirat karena keindahan dunia memperdaya.
  4. Tidak mengenal batas halal–haram.
  5. Syaitan menghias maksiat sebagai kelezatan.

Intisari Judul

"Syahwat adalah candu yang menghapus cahaya hati, mematikan akal, dan menyeret manusia dari martabat kemuliaan menuju kehinaan."


Tujuan dan Manfaat Tulisan

  • Mengingatkan umat tentang bahayanya mengikuti syahwat.
  • Menegakkan kesadaran halal–haram.
  • Menghidupkan muhasabah dan zikir.
  • Memberi nasihat praktis agar kembali ke jalan Allah.

DALIL AL-QUR’AN & HADIS

1. Al-Qur’an

  • “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?”
    (QS. Al-Jatsiyah: 23)
  • “Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
    (QS. Shad: 26)
  • “Dijadikan indah pada manusia kecintaan kepada syahwat: wanita, harta, dan kesenangan dunia...”
    (QS. Ali Imran: 14)

2. Hadis

  • “Tidak beriman seseorang hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa.”
    (HR. Hakim)
  • “Surga dipagari dengan hal-hal yang dibenci oleh nafsu; sedangkan neraka dipagari dengan syahwat.”
    (HR. Muslim)

ANALISIS & ARGUMENTASI

Syahwat tidak akan pernah puas. Semakin dipenuhi, semakin besar tuntutannya. Para ulama menyebut:

1. Syahwat membutakan akal.

Hati yang terlampau menikmati dunia akan kehilangan rasa takut kepada Allah.

2. Syahwat menghapus keberkahan.

Harta haram menghilangkan doa, mengeraskan hati, dan membuat keluarga sengsara.

3. Syahwat menjerumuskan pada kriminal

—riba, korupsi, zina, narkoba, kekerasan.

4. Syahwat memadamkan rasa malu.

Rasa malu adalah benteng iman; ketika hilang, maksiat menjadi kebiasaan.


HUKUMAN BAGI PENGIKUT SYAHWAT

1. Di Dunia

  • Hidup tidak tenang
  • Rezeki sempit
  • Hubungan rumah tangga rusak
  • Hilangnya wibawa

2. Di Alam Kubur

  • Gelap, sempit, dan sesak
  • Siksaan karena makanan haram
  • Dihadirkan gambaran syahwat yang ia ikuti

3. Di Hari Kiamat

  • Dikumpulkan dengan orang-orang yang ia cintai (pelaku maksiat)
  • Wajah hitam pekat
  • Berat timbangan dosa syahwat yang tak dihitung manusia

4. Di Akhirat

  • Dijauhkan dari rahmat Allah
  • Menerima adzab sesuai maksiatnya
  • Menyesal ketika syahwat dunia tidak berguna lagi

RELEVANSI DI ERA TEKNOLOGI & MODERNITAS

1. Teknologi & Media Sosial

  • Konten maksiat sangat mudah diakses
  • Hedonisme digital: flexing, pornografi, hiburan tanpa batas

2. Transportasi & Perjalanan

  • Memudahkan zina, pelarian, wisata maksiat

3. Kedokteran & kesehatan

  • Teknologi memperpanjang hidup tetapi tidak menyembuhkan penyakit hati
  • Banyak operasi kecantikan demi syahwat

4. Kehidupan Sosial

  • Normalisasi gaya hidup duniawi
  • Ukuran bahagia = materi, bukan iman
  • Hilangnya rasa malu dan adab

Maka manusia modern perlu lebih keras dalam menjaga mata, telinga, pikiran, dan hati.


HIKMAH

  • Syahwat yang dijaga menjadi ibadah;
  • Syahwat yang dilepas menjadi musibah.
  • Nafsu adalah kendaraan — jika tidak dikendalikan, ia akan menabrakkan dirimu ke neraka.

MUHASABAH

  • "Apa syahwat yang paling sering aku ikuti?"
  • "Berapa banyak makanan haram yang pernah masuk?"
  • "Berapa dosa yang aku sembunyikan dari manusia tetapi diketahui Allah?"
  • "Sudahkah aku membentengi keluarga dari maksiat digital?"

CARA MENGOBATI NAFSU SYAHWAT

  1. Perbanyak istighfar & taubat harian
  2. Puasa sunnah — meredam syahwat
  3. Jauhi lingkungan buruk
  4. Perbanyak membaca Al-Qur’an
  5. Hadiri majelis ilmu
  6. Sedekah rutin
  7. Isi waktu dengan ibadah & kerja produktif
  8. Bangun malam
  9. Kurangi konsumsi hiburan

DOA

“Allahumma thahhir qalbi minan nifaq, wa hassin farji minal fahsya’, waqhris syahwata fi sadri, waj’alni min ‘ibadikal mukhlashin.”
Ya Allah, sucikan hatiku dari kemunafikan, peliharalah diriku dari kejahatan, padamkan syahwat buruk dari dadaku, dan jadikan aku hamba-Mu yang ikhlas.


NASEHAT PARA ULAMA TASHOWWUF

Hasan al-Bashri

“Nafsu itu ibarat anjing; jika diberi makan ia menggigit lebih keras.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Cinta dunia memadamkan rasa cinta kepada Allah.”

Abu Yazid al-Bistami

“Barang siapa mengalahkan nafsunya, ia telah menaklukkan musuh paling besar.”

Junaid al-Baghdadi

“Tasawuf adalah mematikan hawa nafsu dan menghidupkan hati.”

Al-Hallaj

“Musuh paling dekat adalah nafsu yang bersarang di dada.”

Imam al-Ghazali

“Syahwat adalah akar dari seluruh penyakit hati.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Bunuh nafsumu dengan lapar, zikir, dan taubat.”

Jalaluddin Rumi

“Nafsu bagaikan api; jika tidak dikendalikan ia membakar pemiliknya.”

Ibnu ‘Arabi

“Penyakit manusia bermula dari cinta kepada dunia.”

Ahmad al-Tijani

“Hati tidak akan bersinar kecuali menjauhkan diri dari kelezatan syahwat.”


TESTIMONI ULAMA INDONESIA

Gus Baha’

“Syahwat paling berbahaya adalah yang dianggap biasa-biasa saja.”

Ustadz Adi Hidayat

“Syahwat terkuat bukan pada tubuh, tetapi pada hati yang tidak takut kepada Allah.”

Buya Yahya

“Jika syahwat menjadi tuan, hidupmu rusak; jika iman menjadi tuan, syahwat ikut patuh.”

Ustadz Abdul Somad

“Dunia ini indah, tetapi ia harus berada di tangan, bukan di hati.”

Buya Arrazy Hasyim

“Hawa nafsu adalah senjata iblis. Orang yang tidak mengenal nafsunya pasti dikalahkan.”


DAFTAR PUSTAKA

  • Al-Qur’an al-Karim
  • Shahih al-Bukhari & Shahih Muslim
  • Ihya’ Ulumuddin — Imam al-Ghazali
  • Qut al-Qulub — Abu Thalib al-Makki
  • Al-Futuhat al-Makkiyah — Ibnu ‘Arabi
  • Al-Fath ar-Rabbani — Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  • Nashaihul ‘Ibad — Imam Nawawi al-Bantani

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada para pembaca, guru-guru, dan para ulama yang menjadi inspirasi. Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah dan peringatan bagi penulis khususnya, serta umat pada umumnya.


CATATAN REDAKSI

Sebagian kisah dalam tulisan ini mungkin termasuk kategori Israiliyat. Kisah tersebut tidak dijadikan dalil akidah, tetapi hanya sebagai renungan moral agar umat mengambil pelajaran.


Jika Anda ingin versi PDF siap cetak, layout koran 2 kolom, atau menambah ilustrasi, saya bisa buatkan.

 

daqoiqul akhbar 6


📰 SAKSI DUSTA: LUKA SOSIAL YANG TERUS BERULANG

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Rasulullah saw. ditanya tentang makna firman Allah Ta’ala:

“………. Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkala lalu kamu datang berkelompok-kelompok.” (QS. An Naba’: 18)

Maka Nabi saw. menangis, kemudian beliau bersabda: “Hai orang yang bertanya, kamu bertanya kepadaku tentang perkara yang besar, sesungguhnya waktu itu, adalah hari kiamat, dimana beberapa kaum dari umatku dikumpulkan menjadi 12 bagian.”.

keenam.

Ringkasan Redaksi

Saksi dusta adalah orang yang memberikan kesaksian palsu demi kepentingan dunia, padahal ia mengetahui kebenarannya. Fenomena ini sudah terjadi sejak zaman dahulu dan semakin mudah dilakukan di era teknologi. Artikel ini mengulas latar belakang, dalil, relevansi modern, serta nasihat para ulama sufi tentang bahaya saksi dusta.


Latar Belakang Masalah pada Zamannya

Pada masa awal Islam, kesaksian merupakan pilar tegaknya keadilan. Banyak perkara diselesaikan hanya dengan dua saksi. Namun, sebagian orang mulai menjual kesaksian demi harta, suku, atau kepentingan politik. Kesaksian palsu menyebabkan:

  • Orang tak bersalah dihukum
  • Hak orang tertindas hilang
  • Kerusakan sosial meluas

Karena itu, Rasulullah menyebut kesaksian palsu sebagai “salah satu dosa terbesar.”


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Cinta dunia: takut kehilangan harta atau jabatan.
  2. Tekanan sosial: diminta keluarga, kelompok, atau atasan.
  3. Lemah iman: tidak merasa diawasi Allah.
  4. Manipulasi hukum: di zaman modern, saksi dipesan/dibayar.
  5. Tergoda simpati dan emosi: ikut-ikutan membela yang salah.

Intisari Judul

“Orang-orang yang menjadi saksi dengan dusta” adalah kelompok yang mengkhianati amanah Allah dan merusak fondasi keadilan manusia.


Tujuan dan Manfaat Artikel

  • Mengingatkan bahaya kesaksian palsu
  • Menjelaskan ancaman Qur’an dan Hadis
  • Mengajak pembaca bermuhasabah
  • Menjadikan kejujuran sebagai komitmen hidup

DALIL AL-QUR’AN

1. Surah Al-Hajj: 30

“Jauhilah perkataan dusta.”

2. Surah Al-Ma’idah: 8

“Jadilah kalian penegak keadilan… janganlah kebencian membuat kalian berlaku tidak adil.”

3. Surah An-Nisa: 135

“Tegakkanlah keadilan, sekalipun terhadap dirimu sendiri.”


DALIL HADIS

1. HR. Bukhari – Dosa Besar

Rasulullah bersabda tiga kali:

“Maukah kalian aku kabarkan dosa terbesar? Syirik kepada Allah dan durhaka pada orang tua.”
Kemudian beliau duduk dan bersabda:
“Dan ketahuilah, perkataan dusta dan kesaksian palsu.”
Beliau terus mengulanginya sampai para sahabat berharap beliau berhenti.

2. HR. Ahmad

“Saksinya palsu, tempatnya di neraka.”


Analisis & Argumentasi

Kesaksian palsu adalah pengkhianatan berlapis:

1. Pengkhianatan kepada Allah

Kesaksian adalah amanah yang sakral. Memalsukannya berarti menantang keadilan Allah.

2. Merusak sendi masyarakat

Keadilan runtuh → hukum kacau → kepercayaan publik hilang.

3. Menyakiti orang tak bersalah

Kezaliman yang akibatnya bisa turun ke keluarga korban.

4. Merusak diri sendiri

Orang berdusta dipaksa menutupi dusta dengan dusta lain.


HUKUMAN

Di Dunia

  • Hatinya gelisah, tidak tenang
  • Hilangnya kepercayaan masyarakat
  • Kehinaan ketika dustanya terbongkar
  • Doanya sulit diijabah

Di Alam Kubur

  • Disiksa karena lisannya
  • Didatangkan gambaran orang-orang yang dizalimi

Di Hari Kiamat

  • Dihadirkan dalam keadaan wajah hitam
  • Dipertemukan dengan orang yang dirugikannya
  • Diberi pakaian kehinaan

Di Akhirat

  • Diseret bersama para pendusta
  • Mendapat bagian dari neraka
  • Amal kebaikannya dipindahkan kepada korban

Relevansi di Era Teknologi Modern

Kesaksian palsu kini tidak hanya di pengadilan, tetapi juga:

1. Di media sosial

  • Edit video untuk menjatuhkan orang
  • Membuat testimoni palsu
  • Fitnah berantai lewat “forward” pesan

2. Di dunia komunikasi digital

  • Chat, rekaman suara, screenshot palsu
  • Bot AI dipakai memalsukan data—bahkan wajah dan suara

3. Di transportasi

  • Kesaksian palsu untuk kecelakaan yang direkayasa
  • Pelaporan fiktif untuk klaim asuransi

4. Di kedokteran

  • Surat sakit palsu
  • Data medis palsu untuk klaim biaya

5. Di kehidupan sosial

  • Saksi palsu untuk sengketa tanah
  • Laporan hoaks untuk mencelakakan orang

Kesaksian palsu kini lebih cepat menyebar dan lebih mudah dibuat, sehingga bahaya moralnya jauh lebih besar.


Hikmah

  • Harga diri lebih mahal daripada dunia yang menipu
  • Kejujuran mengangkat derajat seseorang
  • Allah membela orang yang berkata benar meski berat
  • Lidah adalah amanah dan ujian terbesar manusia

Muhasabah

  1. Apakah saya pernah membela yang salah hanya karena kasihan?
  2. Apakah saya pernah menyampaikan informasi yang belum saya pastikan kebenarannya?
  3. Apakah saya pernah diam saat melihat ketidakadilan?
  4. Apakah saya sanggup menjadi saksi yang jujur meski merugikan diri sendiri?

Cara Menghindari Saksi Dusta

  • Biasakan berkata benar dalam hal kecil
  • Latih diri dengan tidak membela keluarga secara buta
  • Tahan diri untuk tidak menyebarkan informasi yang belum pasti
  • Selalu minta pertolongan Allah ketika memberi kesaksian
  • Bertaubat atas semua kabar dan kesaksian yang pernah memudaratkan orang lain

Doa

“Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang jujur. Lindungilah lisan kami dari dusta, mata kami dari kesalahan, dan hati kami dari pengkhianatan. Tunjukilah kami jalan keadilan dalam setiap perkara. Amin.”


Nasihat Para Ulama Sufi

Hasan al-Bashri

“Lisan adalah raja seluruh anggota tubuh. Jika baik lisannya, baiklah seluruhnya.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Jangan kotori hatimu dengan kebohongan. Karena Allah tidak tinggal di hati yang kotor.”

Abu Yazid al-Bistami

“Siapa yang jujur, Allah bukakan baginya cahaya pemahaman.”

Junaid al-Baghdadi

“Tasawuf adalah kejujuran. Siapa jujurnya hilang, hilanglah tasawufnya.”

Al-Hallaj

“Tidak ada ibadah tanpa kejujuran hati.”

Imam al-Ghazali

“Dusta adalah sumber seluruh dosa batin.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Berkata benarlah walau seluruh dunia menentangmu.”

Jalaluddin Rumi

“Kebenaran adalah mata air. Dusta adalah pasir yang menutupinya.”

Ibnu ‘Arabi

“Hakikat tidak pernah menerima kebohongan.”

Ahmad al-Tijani

“Kesaksian yang benar adalah ibadah yang menjadikan seseorang dekat kepada Allah.”


Testimoni Para Ulama Indonesia

Gus Baha’

“Dusta itu merusak peradaban. Sekali kamu dusta, kamu butuh ribuan kebenaran untuk menutupinya.”

Ustadz Adi Hidayat

“Kesaksian palsu itu dosa sosial yang efeknya menular.”

Buya Yahya

“Saksi palsu adalah kemunafikan yang nyata.”

Ustadz Abdul Somad

“Kalau saksi dibeli, neraka menunggu pembeli dan penjualnya.”

Buya Arrazy Hasyim

“Lidah pendusta lebih tajam dari pedang, karena melukai ruh manusia.”


Ucapan Terima Kasih

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang terus mendukung hadirnya bacaan-bacaan moral masyarakat. Semoga artikel ini menjadi cermin bersama.


Catatan Redaksi

Jika ada kisah dalam artikel ini yang termasuk kategori Israiliyat, ia hanya disajikan sebagai bahan renungan, bukan dalil akidah.


Daftar Pustaka

  • Al-Qur’an al-Karim
  • Shahih Bukhari
  • Shahih Muslim
  • Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  • Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  • Risalah al-Qusyairiyah
  • Tazkiyah karya Ibn Rajab
  • Majelis para ulama Nusantara

Jika Anda ingin versi lebih panjang, versi majalah, atau ingin satu topik ini dibuat menjadi buku kecil, saya siap membuatkannya.