Thursday, August 27, 2026

1476djo. SYUHADA DI JAMAN YANG TIDAK ADA PERANG

 



SYUHADA DI JAMAN YANG TIDAK ADA PERANG


(Perspektif Tasawuf - Tazkiyatun Nufus)


---


1. INTISARI, MAKSUD, TUJUAN


Intisari


Syuhada—para saksi kebenaran yang gugur di jalan Allah—seringkali hanya dipahami dalam bingkai medan perang fisik. Padahal, hakikat kesyahidan jauh lebih luas dari sekadar tertembusnya badan oleh pedang atau peluru. Di zaman yang tak ada perang terbuka, di era yang justru digempur oleh perang-perang halus: perang hawa nafsu, perang kesombongan, perang materialisme, dan perang gawai yang merenggut kesadaran—umat Islam tetap dapat meraih derajat syuhada melalui jalan jihad akbar (jihad besar), yaitu jihad melawan diri sendiri.


Sebagaimana sabda Nabi ﷺ ketika kembali dari Perang Tabuk: "Kita telah kembali dari jihad kecil menuju jihad yang lebih besar." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah jihad yang lebih besar itu?" Beliau menjawab, "Jihad melawan hawa nafsu."


Maksud


Maksud dari tulisan ini adalah membuka kesadaran bahwa derajat syahid tidak hanya milik mereka yang gugur di medan laga, tetapi juga terbuka lebar bagi siapa pun yang berjuang melawan nafsunya, membersihkan jiwanya (tazkiyatun nafs), dan istiqamah di jalan Allah hingga ajal menjemputnya—walaupun ia meninggal di atas tempat tidurnya.


Tujuan


1. Mengembalikan pemahaman syahid kepada esensinya yang hakiki dalam perspektif tasawuf.

2. Memberikan motivasi bagi umat Islam di era digital untuk tidak patah semangat dalam meraih derajat tinggi di sisi Allah, meski tidak pernah ikut perang fisik.

3. Mengajak kepada tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) sebagai jihad utama di zaman now.


---


2. AYAT QUR'AN, HADIS SHAHIH, HADIS QUDSI


Ayat Qur'an


QS. Asy-Syams ayat 9-10:


قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ


"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya."


Ayat ini menjadi fondasi utama tazkiyatun nufus. Kesuksesan hakiki—termasuk meraih derajat syuhada—bermula dari kesucian jiwa.


QS. Ali Imran ayat 169:


وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ أَمْوَاتًا ۗ بَلْ أَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ


"Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya mereka mendapat rezeki."


Hadis Shahih


Hadis Riwayat Muslim:


عَنْ سَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ سَأَلَ اللهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ، وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ»


"Siapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan tulus, Allah akan menyampaikannya ke tingkatan syuhada, walaupun ia meninggal di atas tempat tidurnya." (HR. Muslim)


Hadis Riwayat Al-Bukhari dan Muslim:


الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُونُ، وَالْمَبْطُونُ، وَالْغَرِقُ، وَصَاحِبُ الْهَدْمِ، وَالشَّهِيدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ


"Syuhada itu ada lima: orang yang mati karena wabah, sakit perut, tenggelam, keruntuhan bangunan, dan yang mati syahid di jalan Allah." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)


Hadis Riwayat Ahmad dan At-Tirmidzi:


مَنْ قَتَلَهُ بَطْنُهُ لَمْ يُعَذَّبْ فِي قَبْرِهِ


"Barangsiapa yang mati karena sakit perutnya, maka ia tidak akan disiksa dalam kuburnya." (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)


Hadis Qudsi


Dalam Hadis Qudsi, Allah ﷻ berfirman:


مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ...


"Barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku menyatakan perang kepadanya. Dan tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya..." (HR. Al-Bukhari)


Hadis ini mengajarkan bahwa jihad terbesar adalah jihad mendekatkan diri kepada Allah melalui ketaatan dan tazkiyatun nafs.


---


3. ANALISA MAKRIFATNYA, ARGUMENTASI HAKEKATNYA, IMPLEMENTASI TAREKAHNYA YANG RELEVAN DI KEHIDUPAN VIRAL SAAT INI


Analisa Makrifat


Secara makrifat, kata syahid berasal dari akar kata syahada yang berarti "menyaksikan". Seorang syahid adalah orang yang menyaksikan kebenaran Allah dengan segenap jiwa raganya. Dalam dimensi tasawuf, kesaksian ini tidak terbatas pada momen kematian di medan perang, melainkan sebuah state of being—sebuah kesadaran spiritual yang terus-menerus bahwa dirinya berada di hadapan Allah.


Imam Junaid al-Baghdadi mendefinisikan ma'rifat sebagai: "Siapa yang berbicara tentang rahasia batin seorang hamba, maka hamba itu diam, itulah ma'rifat." Diam di sini bukan bisu, melainkan heningnya hati dari segala selain Allah. Inilah syahid sejati—jiwa yang telah fana (lenyap) dari keakuan dan baqa (kekal) dalam kesadaran Ilahi.


Argumentasi Hakekat


Hakekat syuhada di zaman tanpa perang adalah kesyahidan ruhani. Nabi ﷺ sendiri telah membukakan pintu ini lebar-lebar dengan sabdanya tentang orang yang memohon syahid dengan tulus—Allah akan menyampaikannya ke derajat syuhada meski mati di atas tempat tidur. Ini membuktikan bahwa niat dan kesungguhan hati lebih menentukan daripada sekadar peristiwa fisik kematian.


Para ulama mengkategorikan syuhada menjadi tiga macam:


1. Syahid dunia dan akhirat—mereka yang gugur di medan jihad dengan niat ikhlas.

2. Syahid akhirat saja—mereka yang mati karena wabah, sakit perut, tenggelam, keruntuhan, kebakaran, wanita hamil yang wafat saat melahirkan, dan orang yang mati mempertahankan harta/keluarganya.

3. Syahid dunia saja—mereka yang berperang karena riya atau mencari harta rampasan.


Di zaman now, kategori kedua ini terbuka sangat luas. Setiap Muslim yang istiqamah berjuang melawan hawa nafsu, yang sabar menghadapi ujian hidup, yang meninggal dalam keadaan beriman—semua berpotensi meraih derajat syuhada.


Implementasi Tarekah yang Relevan di Kehidupan Viral


Di era digital yang "viral" dengan segala distraksinya, implementasi tazkiyatun nufus sebagai jalan kesyahidan dapat dilakukan melalui:


1. Mujahadah an-Nafs (kesungguhan melawan hawa nafsu)—menahan diri dari scrolling berlebihan, ghibah di media sosial, dan penyakit hati seperti hasad dan riya. Jihad ini lebih berat daripada perang fisik karena tidak ada hari libur dari jihad melawan nafsu.

2. Muraqabah (kesadaran diawasi Allah)—senantiasa menyadari bahwa Allah melihat setiap aktivitas kita, termasuk di dunia maya.

3. Muhasabah (introspeksi diri)—setiap hari mengevaluasi apa yang telah kita tonton, bagikan, dan konsumsi di media sosial.

4. Menebar manfaat—mengajak teman mengaji, mengingatkan ibadah, dan menebar kebaikan di lingkungan sekitar.

5. Istiqamah dalam ibadah—meski di tengah gemerlap dunia digital, tetap menjaga shalat, dzikir, dan tilawah.


Seorang Muslim di zaman now bisa menjadi "syuhada digital"—orang yang menggunakan platform media sosialnya untuk menyebarkan kebaikan, mengingatkan kepada Allah, dan menjadi saksi kebenaran di tengah banjir kebatilan.


---


4. MUHASABAH DAN CARANYA


Pengertian Muhasabah


Muhasabah adalah introspeksi diri—menghisab atau mengevaluasi amal perbuatan sebelum dihisab oleh Allah di hari Kiamat. Dalam perspektif tazkiyatun nufus, muhasabah adalah instrumen utama penyucian jiwa.


Cara Melakukan Muhasabah


Pertama: Muhasabah Harian (Setiap Malam)


Sebelum tidur, luangkan 5-10 menit untuk merenung:


· Apa saja amal kebaikan yang telah aku lakukan hari ini?

· Apa saja dosa dan maksiat yang telah aku perbuat?

· Di mana letak kelalaianku dalam mengingat Allah hari ini?

· Apa yang bisa aku perbaiki besok?


Kedua: Muhasabah Mingguan (Setiap Jumat atau Akhir Pekan)


· Evaluasi perkembangan ibadah selama sepekan.

· Cek konsistensi dalam membaca Al-Qur'an dan dzikir.

· Periksa hubungan sosial—apakah ada hak orang lain yang terlanggar?


Ketiga: Muhasabah Bulanan


· Tinjau target-target spiritual yang telah ditetapkan.

· Ukur kemajuan dalam melawan hawa nafsu.

· Perbaiki kekurangan dan buat rencana perbaikan.


Keempat: Muhasabah Tahunan (Menjelang Ramadhan atau Tahun Baru Hijriah)


· Evaluasi secara menyeluruh perjalanan spiritual setahun.

· Tetapkan resolusi ibadah untuk tahun mendatang.

· Perbanyak istighfar dan taubat nasuha.


Praktik Harian Sederhana:


Imam Hasan al-Bashri berkata bahwa pada setiap pergantian hari ada panggilan: "Wahai manusia, ini adalah hari baru, dan aku menjadi saksi atas amalmu. Aku tidak akan kembali hingga hari Kiamat." Jadikan kesadaran ini sebagai pengingat untuk senantiasa berbuat baik.


---


5. DOA


Doa Memohon Mati Syahid


اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الشَّهَادَةَ فِي سَبِيلِكَ


"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesyahidan di jalan-Mu."


Doa Mohon Husnul Khatimah


اَللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ


"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu husnul khatimah (akhir yang baik) dan aku berlindung kepada-Mu dari su'ul khatimah (akhir yang buruk)."


Doa Tazkiyatun Nafs


اَللَّهُمَّ زَكِّ نَفْسِي وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا


"Ya Allah, sucikanlah jiwaku, dan Engkaulah sebaik-baik Yang menyucikannya, Engkaulah Pelindung dan Penguasanya."


Doa Mohon Kekuatan Jihad


اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ


"Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu."


---


6. UCAPAN TERIMAKASIH


Untuk Ustadz


Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kita untuk belajar dan merenungkan agama-Nya. Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada para ustadz dan ulama yang telah mencurahkan ilmu dan tenaga untuk membimbing umat. Semoga Allah membalas setiap tetes keringat dan setiap kata nasihat dengan balasan yang berlipat ganda. Jazaakumullah khairan katsira.


Untuk Pembaca


Kepada para pembaca yang budiman, terima kasih atas kesediaan meluangkan waktu untuk membaca dan merenungkan tulisan ini. Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada kita semua untuk mengamalkan apa yang telah kita pelajari. Mari kita jadikan setiap helaan nafas, setiap detak jantung, dan setiap gerak langkah kita sebagai jalan menuju kesyahidan ruhani—menjadi saksi kebenaran di tengah zaman yang penuh fitnah.


Jika ada kekeliruan dalam tulisan ini, itu datang dari kelemahan diri penulis. Dan jika ada kebenaran, itu semata-mata dari Allah. Wallahu a'lam bish-shawab.


---


7. NASEHAT PARA WALI DAN ULAMA


1. Hasan Al-Bashri (w. 110 H)


Hasan al-Bashri adalah seorang tabi'in yang dikenal sebagai ahli zuhud dan kekuatan spiritualnya. Beliau berkata:


"Dunia itu bagaikan ular yang licin dan halus sentuhannya, tetapi di dalamnya terkandung racun yang mematikan. Maka janganlah kalian tertipu oleh keindahan dunia, karena akhirnya kalian akan kembali ke tanah."


Beliau juga mengingatkan bahwa orang yang beriman sejati harus hidup dalam kecemasan yang langgeng—cemasan karena kepastian kematian dan ketidakpastian nasib di akhirat.


2. Rabi'ah al-Adawiyah (w. 185 H)


Rabi'ah al-Adawiyah adalah sufi wanita legendaris yang dijuluki Syahidatul 'Isyqil Ilahi—"Sang Saksi Kerinduan Ilahi". Beliau mengajarkan mahabbah (cinta) sebagai puncak ibadah:


"Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka, dan tidak pula karena mengharap surga. Aku menyembah-Mu karena aku mencintai-Mu."


Bahkan Rabi'ah pernah berkata: "Aku hendak membakar surga dengan obor dan memadamkan neraka dengan air, agar orang tidak lagi mengharapkan surga atau takut neraka, tetapi beribadah semata-mata karena cinta kepada-Nya."


3. Abu Yazid al-Bistami (w. 261 H/875 M)


Abu Yazid al-Bistami adalah tokoh sufi yang terkenal dengan konsep fana' (lenyapnya ego) dan baqa' (kekal dalam kesadaran Ilahi). Beliau berkata:


"Aku telah mengenal Allah melalui Allah, dan aku mengenal selain Allah melalui cahaya-Nya."


Dalam konteks kesyahidan, fana' adalah kematian keakuan sebelum kematian fisik—inilah hakikat syahid sejati.


4. Junaid al-Baghdadi (w. 298 H)


Imam Junaid al-Baghdadi, "Sultan Para Arifin," mendefinisikan tasawuf sebagai:


"Membersihkan hati dari segala sesuatu selain Allah, dan mengamalkan sesuatu yang lebih utama."


Beliau mengajarkan bahwa ada tiga tingkatan kematian: kematian moral (dengan konsisten melawan hawa nafsu), kematian dalam ibadah (dengan tidak transaksional dalam beribadah), dan kematian spiritual (fana').


5. Al-Hallaj (w. 309 H/922 M)


Al-Hallaj, yang syahid karena ucapannya "Ana al-Haq" (Aku adalah Kebenaran), mengajarkan bahwa:


"Kematianku adalah hidupku. Kematianku ada dalam hidupku. Hidupku ada dalam kematianku. Ketiadaanku adalah kehormatan terbesar."


Beberapa detik sebelum dieksekusi, beliau berdoa: "Ya Allah, hamba-hamba-Mu telah berkumpul. Mereka menginginkan kematianku demi membela-Mu dan untuk lebih dekat dengan-Mu."


6. Imam al-Ghazali (w. 505 H)


Hujjatul Islam Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya' Ulumiddin menyamakan para penuntut ilmu dengan para syuhada. Beliau berkata:


"Jika engkau bukan anak raja, dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis."


Beliau juga mengingatkan: "Jika engkau ingin selamat dari akhir yang buruk, habiskan seluruh hidupmu dalam ketaatan kepada Allah dan menjauhi setiap dosa."


7. Syekh Abdul Qadir al-Jailani (w. 561 H)


Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri Tarekat Qadiriyah, mengajarkan pentingnya menjaga syariat dalam perjalanan spiritual. Beliau menekankan bahwa jihad melawan hawa nafsu harus dilakukan dengan:


· Mematuhi perintah Allah.

· Menjauhi larangan Allah.

· Mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ.

· Istiqamah dalam ibadah.


8. Jalaluddin Rumi (w. 672 H)


Maulana Jalaluddin Rumi, penyair sufi agung, mengajarkan:


"Bagi para syuhada, ada kehidupan dalam kematian."


Beliau juga berkata dalam Masnawi-nya:


"Kematian fisik adalah satu kematian, sedangkan kematian spiritual (fana') adalah tiga ratus ribu kematian—untuk setiap kematian ada harga darah yang tak terhingga."


Rumi memandang derajat syahid sebagai "tingkatan tertinggi dan paling suci dari pertumbuhan manusia".


9. Ibnu 'Arabi (w. 638 H)


Syekh al-Akbar Ibnu 'Arabi mengajarkan konsep al-mawt al-iradi—"kematian kehendak" atau kematian sukarela. Ini adalah kematian ego dan nafsu sebelum ajal menjemput. Beliau membagi kematian menjadi dua kategori:


· Ikhtiary (kematian pilihan)—mati sebelum mati, meninggalkan hawa nafsu.

· Idtirari (kematian terpaksa)—kematian fisik yang pasti datang.


Orang yang mencapai kematian ikhtiary inilah yang berhak disebut syahid ruhani.


10. Ahmad al-Tijani (w. 1230 H/1815 M)


Syekh Ahmad al-Tijani, pendiri Tarekat Tijaniyah, mengajarkan pentingnya dzikir dan hubungan spiritual yang kuat dengan Allah. Beliau berpesan kepada para pengikutnya:


"Sebutlah nama Allah dalam setiap keadaan, niscaya engkau akan mendapatkan pertolongan-Nya."


Beliau menekankan bahwa jalan menuju Allah tidak memerlukan medan perang fisik, melainkan medan perang batin yang tiada henti.


---


8. TESTIMONI PARA ULAMA KONTEMPORER


1. Gus Baha (KH. Ahmad Bahauddin Nursalim)


Gus Baha, ulama kharismatik asal Rembang yang dikenal sebagai ahli tafsir, menekankan bahwa dakwah di zaman sekarang berbeda dengan zaman Nabi. Beliau berkata:


"Kalau kamu mencari dakwah yang sudah orangnya steril, sudah saleh semua, itu sama saja seperti orang Jawa yang mengatakan nguyahi Segoro (menggarami lautan)."


Pesan ini mengajarkan bahwa menjadi syahid di zaman now bukan berarti harus sempurna, tetapi terus berjuang dan memperbaiki diri di tengah ketidaksempurnaan.


2. Ustadz Adi Hidayat (UAH)


Ustadz Adi Hidayat menjelaskan bahwa syuhada secara umum ada lima jenis, dan membagi syuhada menjadi dua jenis yang dibenarkan dan satu yang diingkari. Beliau juga menekankan:


"Ulama-ulama kita yang berjuang meskipun konteksnya membela negara, tapi niatnya untuk ibadah."


Ini menunjukkan bahwa perjuangan di berbagai lini kehidupan—termasuk dakwah dan pendidikan—dapat bernilai ibadah dan berpotensi meraih derajat syahid.


3. Buya Yahya (KH. Yahya Zainul Ma'arif)


Buya Yahya, pengasuh Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon, menjelaskan bahwa orang yang dizhalimi dan mati dalam keadaan terzhalimi termasuk golongan orang yang mati syahid. Beliau berkata:


"Anak Anda mati syahid, orang yang dizholimi matinya syahid bahkan bukan hanya dosanya dihapus."


4. Ustadz Abdul Somad (UAS)


Ustadz Abdul Somad, pendakwah asal Sumatera Utara, sering menyampaikan hadis-hadis tentang syuhada. Dalam sebuah unggahannya, beliau menyebut hadis:


"Siapa yang terbunuh karena membela keluarganya, maka ia mati syahid." (HR. At-Tirmidzi)


5. Buya Arrazy Hasyim


Buya Arrazy Hasyim, ulama dan pendiri Ribath Nouraniyah Hasyimiyah, menekankan pentingnya mengingat Allah dengan dzikir. Beliau menjelaskan:


"Bagi setiap orang yang senantiasa mengingat Allah, akan dijanjikan balasan yang sangat baik, yaitu Allah akan mengingat mereka baik di dunia maupun di akhirat."


Zikir yang kontinu adalah bentuk jihad batin dan jalan menuju kesucian jiwa—esensi dari tazkiyatun nufus.


---


DAFTAR PUSTAKA


1. Al-Qur'an al-Karim

2. Imam Muslim, Shahih Muslim, Kitab al-Imarah, Bab Istihbab Thalab al-Syahadah fi Sabilillah

3. Imam al-Bukhari dan Imam Muslim, Shahih al-Bukhari wa Muslim, Bab al-Syuhada' Khamsah

4. Imam Ahmad dan Imam al-Tirmidzi, Musnad Ahmad wa Sunan al-Tirmidzi

5. Imam al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin, jilid 3

6. Imam al-Syaukani, Fathul Qadir, jilid V, hlm. 497

7. Ahmad Farid, Tazkiyatun Nufus, juz I, hlm. 79

8. Imam al-Nawawi, Syarah Shahih Muslim

9. Imam al-Mubarakfuri, Tuhfatul Ahwadzi

10. Syaikh Mahmud al-Mishri, Tamasya ke Negeri Akhirat

11. Ensiklopedia Terjemahan Hadis-hadis Nabi - Hadis Riwayat Muslim No. 1909

12. Hadeeth Encyclopedia - Hadis Riwayat Muslim


---


DOA PENUTUP


رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ


"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh Engkau Maha Pemberi." (QS. Ali Imran: 8)


---


UCAPAN TERIMAKASIH


Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin. Segala puji bagi Allah yang telah memberikan nikmat iman dan Islam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada baginda Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya hingga akhir zaman.


Ucapan terima kasih yang tulus kami sampaikan kepada:


1. Para ulama dan asatidz yang telah mengajarkan ilmu agama dengan ikhlas.

2. Para pembaca yang budiman, semoga Allah membalas kebaikan kalian.

3. Semua pihak yang telah membantu terwujudnya tulisan ini.


Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah dan membawa manfaat bagi kita semua. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.


---


Wallahu a'lam bish-shawab.

Wa ilaihil marji'u wal ma'ab.


.........