Thursday, January 29, 2026

 Irsyadul Ibad ila Sabilir Rasyad karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari.

BAB : Kewajiban istri terhadap suami.

kewajiban istri terhadap suami sangat ditekankan sebagai bagian dari ketaatan kepada Allah.

4 perkara penyebab istri masuk neraka :

1. Menggunakan Lisan untuk Menyakiti: Berbicara kasar, memfitnah, atau menggunakan kata-kata yang menyakitkan hati orang lain, termasuk pasangan.

2. Berlebihan dalam Tuntutan Duniawi: Menuntut sesuatu di luar kemampuan diri sendiri atau orang lain, yang dapat mendorong pada perbuatan tidak jujur.

3. Mengabaikan Kewajiban Ibadah: Meremehkan atau meninggalkan ibadah wajib seperti shalat.

4. Tidak Menjaga Etika Berpakaian: Mengenakan pakaian yang tidak sesuai dengan ajaran agama di depan orang yang bukan mahram. 



935. PEREMPUAN, JIWA, DAN CERMIN AKHIRAT

 


Irsyadul Ibad ila Sabilir Rasyad karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari.

Kisah mengenai Nabi Muhammad SAW diperlihatkan sepuluh jenis perempuan yang disiksa di neraka terdapat dalam kitab Irsyadul Ibad ila Sabilir Rasyad karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz Al-Malibari. Kisah ini bersumber dari hadits yang menceritakan pengalaman Rasulullah SAW saat peristiwa Isra' Mi'raj, di mana beliau melihat berbagai siksaan mengerikan yang ditimpakan kepada kaum wanita akibat perbuatan mereka di dunia. 

Berikut adalah 10 golongan perempuan yang disiksa di neraka berdasarkan penuturan dalam kisah tersebut:

Perempuan yang menggantung dengan rambutnya: Otaknya mendidih karena sering tidak menutup aurat (rambutnya) dari pandangan lelaki bukan mahram.

Perempuan yang menggantung dengan lidahnya: Lidahnya ditarik keluar dan dituangkan cairan neraka. Ia adalah wanita yang sering menyakiti hati suaminya dengan perkataan.

Perempuan yang menggantung dengan payudaranya: Payudaranya dikait dengan besi neraka. Ia adalah wanita yang menyusui anak orang lain tanpa izin suaminya.

Perempuan yang menggantung dengan kakinya: Terikat dalam keadaan terbalik. Ia adalah wanita yang keluar rumah tanpa izin suami dan tidak mandi wajib/junub/haid.

Perempuan yang memakan badannya sendiri: Di bawahnya terdapat api yang menyala. Ia adalah wanita yang gemar bersolek (berhias) untuk dilihat lelaki lain dan membicarakan kejelekan orang lain.

Perempuan yang memotong badannya sendiri dengan gunting api: Ia adalah wanita yang sering memamerkan kecantikannya kepada kaum lelaki (tabarruj).

Perempuan dengan wajah hitam dan memakan ususnya sendiri: Ia adalah wanita yang menjadi mucikari (perantara zina).

Perempuan yang tuli, buta, dan bisu: Dimasukkan dalam peti api. Ia adalah wanita yang melahirkan anak dari hasil perzinaan dan menisbatkannya kepada suaminya.

Perempuan yang kepalanya seperti babi dan badannya seperti keledai: Ia adalah wanita yang sering mengadu domba (namimah) dan berdusta.

Perempuan yang berbentuk anjing: Api neraka masuk melalui dubur dan keluar dari mulutnya. Ia adalah wanita yang suka marah-marah (terutama kepada suami) dan gemar mengumpat/adu domba. 

Kisah ini bertujuan sebagai peringatan (tadzkirah) agar kaum perempuan menjaga perbuatan, kehormatan, dan kewajiban mereka terhadap suami dan Allah SWT. 


PEREMPUAN, JIWA, DAN CERMIN AKHIRAT

Renungan Tasawuf atas Kisah Peringatan dalam Irsyādul ‘Ibād

Pendahuluan

Dalam khazanah tasawuf, neraka bukan hanya tempat siksaan kelak, tetapi cermin dari kondisi jiwa. Apa yang disaksikan Rasulullah ﷺ dalam peristiwa Isra’ Mi‘raj—sebagaimana dinukil dalam Irsyādul ‘Ibād—bukan sekadar gambaran fisik, melainkan penjelmaan batin yang rusak ketika hidup di dunia.

Para sufi berkata:

“Al-‘adzāb ṣūratun li fasādin-nafs”
Siksa adalah rupa dari rusaknya jiwa.

Maka kisah sepuluh golongan perempuan yang disiksa bukan untuk menakut-nakuti semata, melainkan tadzkirah agar hati kembali hidup.


Analisis Tasawuf: Maksiat Lahir Bersumber dari Penyakit Batin

Dalam perspektif tasawuf, setiap dosa lahir berakar dari penyakit hati, seperti:

  • Ghafilah (lalai dari Allah)
  • Kibr (merasa lebih)
  • Hubbud dunya (cinta dunia berlebihan)
  • Syahwat tanpa kendali
  • Lisan tanpa dzikir

Allah berfirman:

﴿وَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ﴾
“Janganlah kamu menganggap dirimu suci.”
(QS. An-Najm: 32)

Banyak bentuk siksaan yang digambarkan—rambut digantung, lidah disiksa, tubuh dimutilasi—itu semua simbol anggota tubuh yang dipakai untuk bermaksiat, bukan untuk taat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Argumentasi Qur’an dan Hadis

Al-Qur’an tidak merinci bentuk siksaan sebagaimana kisah, namun menegaskan prinsip keadilan dan sebab-akibat:

﴿فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ﴾
“Barang siapa berbuat kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az-Zalzalah: 8)

Dan Rasulullah ﷺ bersabda:

“Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban.”
(HR. Bukhari)

Tasawuf memahami hadis-hadis ancaman bukan untuk menutup pintu rahmat, tetapi membuka pintu kesadaran sebelum ajal datang.


Motivasi & Muhasabah Diri

Tasawuf mengajarkan menangis sebelum ditangisi, sadar sebelum disadarkan dengan musibah.

Pertanyaan Muhasabah Harian

  • Apakah auratku lebih kujaga dari pandangan manusia atau dari pandangan Allah?
  • Apakah lisanku lebih banyak menyakiti atau menyembuhkan?
  • Apakah kecantikanku aku gunakan sebagai amanah atau alat kesombongan?
  • Apakah amarahku aku rawat atau aku obati?

Cara Muhasabah Praktis

  1. Diam sebelum tidur (tafakkur 5–10 menit)
  2. Istighfar perlahan minimal 100 kali
  3. Mengingat mati seolah malam itu terakhir
  4. Menangis atau berpura-pura menangis (karena hati sering luluh setelah air mata)

Imam Al-Ghazali berkata:

“Siapa yang tidak menghisab dirinya hari ini, akan dihisab dengan keras esok hari.”


Hikmah, Tujuan, dan Manfaat Kisah Ini

Hikmahnya

  • Menghidupkan rasa takut yang menyelamatkan
  • Menyadarkan bahwa dosa kecil bisa jadi besar jika terus-menerus
  • Menjaga kehormatan perempuan sebagai amanah, bukan objek

Tujuannya

  • Tazkiyatun nufūs (penyucian jiwa)
  • Menumbuhkan rasa malu kepada Allah
  • Memperbaiki hubungan dengan suami dan sesama

Manfaatnya

  • Hati menjadi lembut
  • Lisan terjaga
  • Rumah tangga lebih tenang
  • Akhir hidup lebih bercahaya

Kemuliaan dan Kehinaan

Di Dunia

  • Mulianya: hati tenang, wajah bercahaya, rumah penuh rahmat
  • Hina: gelisah, mudah marah, hidup tak pernah puas

Di Alam Kubur

  • Jiwa yang bersih disambut luas dan terang
  • Jiwa yang kotor merasakan sempit dan gelap

Di Hari Kiamat

  • Mukminah bertakwa berlindung di bawah ‘Arsy
  • Ahli maksiat dibangkitkan sesuai amalnya

Di Akhirat

  • Kemuliaan: memandang wajah Allah
  • Kehinaan: terhalang dari rahmat-Nya

Doa

Allahumma yā Muqallibal qulūb,
sucikanlah hati kami dari kesombongan,
jagalah lisan kami dari menyakiti,
lindungi kehormatan kami dengan rasa malu kepada-Mu,
dan wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridha.

Allāhumma lā taj‘alnā ‘ibratan li ghairinā,
jangan jadikan kami pelajaran karena dosa kami,
tapi jadikan kami hamba yang Engkau ampuni sebelum Engkau hukum.


Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para ulama dan orang-orang yang menghidupkan peringatan, bukan untuk menakut-nakuti, tetapi mengajak pulang kepada Allah sebelum terlambat.

Semoga tulisan ini menjadi cermin, bukan cambuk,
menjadi obat, bukan luka,
dan menjadi jalan taubat, bukan keputusasaan.

......

PEREMPUAN, JIWA, DAN CERMIN AKHIRAT


Ngaji Tasawuf Santai tentang Kisah Peringatan di Irsyādul ‘Ibād


Awalan, ya guys...


Dalam dunia tasawuf, neraka tuh nggak cuma tempat siksa nanti. Tapi lebih dalam lagi, itu tuh cerminan kondisi jiwa kita sendiri. Apa yang dilihat Rasulullah ﷺ pas Isra’ Mi‘raj—kayak yang diceritain di kitab Irsyādul ‘Ibād—itu bukan gambaran fisik semata. Itu tuh visualisasi dari kondisi batin yang udah rusak pas masih hidup di dunia.


Para sufi punya prinsip:


“Al-‘adzāb ṣūratun li fasādin-nafs”

(Siksa itu adalah bentuk/wajah dari jiwa yang rusak).


Jadi, kisah sepuluh golongan perempuan yang disiksa itu bukan buat nakut-nakutin doang, tapi sebagai pengingat biar hati kita yang mungkin udah mati rasa, bisa hidup lagi.


Analisis Tasawuf Gaya Kekinian: Maksiat Lahir Tuh Asalnya dari Sakit Hati


Dari kacamata tasawuf, setiap dosa yang keliatan (perbuatan) itu akarnya dari penyakit hati, kayak:


· Ghafilah (lalai dan nggak aware sama Allah)

· Kibr (sok superior, merasa lebih)

· Hubbud dunya (cinta dunia kebangetan)

· Nafsu yang udah ga terkontrol.

· Lidah yang jarang banget buat dzikir.


Allah udah ingetin:


﴿وَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ﴾

“Janganlah kamu menganggap dirimu suci.”

(QS. An-Najm: 32)


Banyak gambaran siksa yang ekstrem—rambut digantung, lidah disiksa, tubuh dipotong-potong—itu semua simbol dari anggota tubuh yang dipake buat maksiat, bukan buat taat.


Rasulullah ﷺ juga bersabda:


“Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh; jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Itulah hati.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Dasar-dasarnya di Quran & Hadis


Al-Qur’an mungkin nggak detail gambarin bentuk siksa kayak di kisah itu, tapi prinsip keadilan dan sebab-akibatnya jelas banget:


﴿فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ﴾

“Barang siapa berbuat kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”

(QS. Az-Zalzalah: 8)


Dan Rasulullah ﷺ bilang:


“Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban.”

(HR. Bukhari)


Nah, tasawuf ngeliat hadis-hadis kayak gini bukan buat nutup pintu rahmat Allah, tapi justru buat buka pintu kesadaran kita sebelum ajal dateng.


Motivasi & Self-Reflection Yuk!


Tasawuf ngajarin kita buat nangis duluan (karena taubat) sebelum ditangisin (karena dosa), sadar duluan sebelum disadarin pake musibah.


Self-Checklist Harian:


1. Aurat & penampilan: Gue lebih jaga aurat dari pandangan orang, atau justru lebih takut sama pandangan Allah yang Maha Meliat?

2. Lidah gue: Lebih banyak buat nyakiti atau nyembuhin? Buat gosip atau dzikir?

3. Kecantikan/ketampanan: Gue pake sebagai amanah dari Allah, atau justru sebagai senjata buat sombong dan pamer?

4. Amarah gue: Gue rawat dan pelihara, atau gue obati dan dinginin?


Cara Self-Reflection yang Bisa Dicoba:


· Me time sebelum tidur: Diam, merenung 5–10 menit. Evaluasi hari ini.

· Istighfar slow but sure: Minimal 100 kali, ngerasain artinya.

· Inget mati: Anggep aja malam ini adalah malam terakhir. Serem? Iya. Tapi efektif bikin sadar.

· Nangis, atau minimal coba nangis: Karena kadang hati baru lembut setelah ada air mata tobat.


Imam Al-Ghazali pernah ngomong:


“Siapa yang nggak introspeksi diri hari ini, besok bakal dihisab dengan keras.”


Intisari & Manfaatnya Buat Hidup Kita


Hikmah Deep-nya:


· Nghidupin rasa takut yang nyelametin (khauf), biar nggak grasa-grusu.

· Nyadarin bahwa dosa kecil kalo dikerjain terus bisa numpuk jadi gunung.

· Ngingetin buat jaga kehormatan diri sebagai anugerah, bukan cuma objek.


Tujuannya:


· Tazkiyatun nufūs (bersihin jiwa biar bening).

· Numbuhin rasa malu sama Allah (al-hayā), biar ada rem dari maksiat.

· Memperbaiki hubungan sama pasangan dan orang sekitar.


Manfaatnya Buat Daily Life:


· Hati lebih adem dan lembut, nggak gampang panas.

· Lidah otomatis lebih terjaga.

· Hubungan rumah tangga lebih tenang vibes-nya.

· Hidup di akhir (husnul khotimah) insyaAllah lebih berkah dan cerah.


Kemuliaan vs Kehinaan: Versi Tasawuf


· Di Dunia:

  · Mulia: Hati tenang, wajah cerah, rumah penuh ketentraman.

  · Hina: Gelisah, gampang marah, hidup kayak nggak pernah cukup.

· Di Alam Kubur:

  · Jiwa bersih: Disambut dengan lapang dan cahaya.

  · Jiwa kotor: Ngerasain sempit dan gelap gulita.

· Di Hari Kiamat:

  · Perempuan mukminah bertakwa: Berlindung di bawah ‘Arsy.

  · Ahli maksiat: Dibangkitkan sesuai “branding” amalnya di dunia.

· Di Akhirat:

  · Puncak kemuliaan: Bisa memandang wajah Allah ﷻ.

  · Puncak kehinaan: Terhalang dari rahmat-Nya.


Doa Penutup


Allahumma yā Muqallibal qulūb,

bersihin hati kami dari virus kesombongan,

jaga lidah kami dari nyakiti,

lindungi kehormatan kami dengan rasa malu sama-Mu,

dan akhirin hidup kami dalam keadaan Engkau ridho.


Allāhumma lā taj‘alnā ‘ibratan li ghairinā,

jangan jadikan kami bahan pelajaran (buat orang lain) karena dosa kami,

tapi jadikan kami hamba yang Engkau ampuni sebelum Engkau hukum.


Akhir Kata, Thank You!


Big thanks buat para ulama dan semua orang yang ngelestarikan peringatan, bukan buat nakutin, tapi buat ngajak kita semua pulang ke Allah sebelum benar-benar telat.


Semoga tulisan ringan ini bisa jadi cermin buat introspeksi, bukan cambuk buat menyiksa; jadi obat, bukan jadi luka; dan jadi jalan buat balik ke Allah, bukan jadi alasan buat putus asa.


. . . . . .


Stay blessed and keep muhasabah, bro sis! ✨🙏

Segala Amal Tergantung Niat: Jalan Penyucian Jiwa Menuju Allah

 

Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim).


🌿 Segala Amal Tergantung Niat: Jalan Penyucian Jiwa Menuju Allah

(Perspektif Tasawuf dan Tazkiyatun Nufūs berdasarkan Al-Qur’an dan Kitab-kitab Ulama)

🕌 Hadis Pokok

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang hanya mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini oleh para ulama disebut sebagai sepertiga agama, bahkan Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

“Hadis ini masuk ke dalam tujuh puluh bab dari bab-bab fikih.”

Dalam tasawuf, hadis ini adalah pintu utama tazkiyatun nufūs (penyucian jiwa), karena yang Allah pandang bukan semata gerak lahir, tetapi arah hati.


📖 Landasan Al-Qur’an tentang Niat dan Hati

Allah Ta‘ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.”
(QS. Asy-Syu‘arā’: 88–89)

Dan firman-Nya:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
“Padahal mereka tidak diperintah kecuali agar menyembah Allah dengan ikhlas.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Tasawuf memandang: niat adalah roh amal, sedangkan amal tanpa niat ikhlas hanyalah jasad tanpa ruh.


🕊️ Peristiwa Lahirnya Hadis (Asbābul Wurūd)

Para ulama menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan berkenaan dengan peristiwa seorang sahabat yang hijrah bukan karena Allah dan Rasul-Nya, tetapi karena ingin menikahi seorang wanita yang dikenal dengan Ummu Qais.

Secara lahiriah ia berhijrah, namun Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin ia peroleh atau wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya kepada apa yang ia niatkan.”

Tasawuf menangkap pelajaran besar:
👉 Bentuk amal bisa sama, tetapi nilai di sisi Allah bisa setinggi langit atau serendah tanah, tergantung niat.


🔍 Analisis dan Argumentasi Tasawuf

Dalam pandangan tazkiyah:

  1. Niat adalah kerja hati, dan hati adalah raja bagi anggota badan.
  2. Amal lahir mengikuti batin. Bila batin rusak, amal pun rusak.
  3. Ikhlas berarti: tidak menghendaki selain Allah, baik pujian, kedudukan, pengaruh, maupun rasa mulia di mata manusia.

Allah berfirman:

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ
“Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni.”
(QS. Az-Zumar: 3)

Orang tasawuf berkata:

“Membersihkan niat lebih berat daripada memperbanyak amal.”

Sebab syaitan masuk bukan hanya pada maksiat, tetapi pada amal shalih yang tercampur riya’, ujub, dan cinta dunia.


📚 Relevansi dalam Kitab-Kitab Klasik

1. ‘Ushfūriyyah

Banyak kisah dalam ‘Ushfuriyah menunjukkan orang yang amalnya besar tetapi gugur nilainya karena rusaknya niat, dan sebaliknya, orang dengan amal kecil diangkat derajatnya karena ikhlas. Pesannya: Allah menilai hati sebelum anggota badan.

2. Tanbīhul Ghāfilīn

Kitab ini penuh peringatan bahwa amal tanpa ikhlas adalah tipuan yang halus. Disebutkan bahwa di akhir zaman banyak orang rajin ibadah, namun dunia menjadi tujuannya. Ini selaras dengan hadis niat: lahir tampak ahli ibadah, batin masih budak selain Allah.

3. Nashā’ihul ‘Ibād

Dalam nasihat-nasihatnya ditegaskan:

“Betapa banyak amal yang kecil dibesarkan oleh niat, dan betapa banyak amal besar dikecilkan oleh niat.”
Ini inti tasawuf: meluruskan tujuan sebelum memperbanyak perbuatan.

4. Daqā’iqul Akhbār

Kitab ini menggambarkan keadaan alam kubur dan kiamat. Banyak amal lahir yang hancur seperti debu karena niatnya rusak. Yang menyelamatkan bukan bentuk amal, tapi rahasia di dalam dada.


✨ Keistimewaan Hadis Niat

  • Menjadi timbangan seluruh amal.
  • Menjadi pembeda antara ibadah dan kebiasaan.
  • Menjadi kunci diterima atau ditolaknya amal.
  • Menjadi pintu ikhlas, dan ikhlas adalah ruh seluruh maqām tasawuf.

⚖️ Kemuliaan dan Kehinaan Akibat Niat

🌍 Di Dunia

  • Niat ikhlas → hati tenang, amal ringan, hidup penuh berkah.
  • Niat rusak → mudah lelah, kecewa, haus pujian, cepat putus asa.

⚰️ Di Alam Kubur

  • Niat ikhlas menjelma cahaya, kelapangan, dan penenang kubur.
  • Niat dunia menjelma penyesalan, kegelapan, dan sempitnya kubur.

⏳ Di Hari Kiamat

  • Orang beramal karena Allah akan dipanggil dengan wajah bercahaya.
  • Orang beramal karena selain Allah akan dipermalukan:

    “Pergilah kepada yang dulu engkau niatkan, lihat apakah mereka bisa menolongmu.”

🌺 Di Akhirat

  • Ikhlas → surga dan ridha Allah.
  • Riya’ → amal menjadi debu, meski bentuknya seperti gunung.

🔄 Motivasi, Muhasabah, dan Caranya

🔹 Motivasi

Setiap hari kita beramal: shalat, berdagang, berdakwah, menolong, menulis, bahkan diam. Semua bisa menjadi ibadah atau sia-sia tergantung niat.

🔹 Muhasabah

Tanyakan pada diri:

  • Untuk siapa aku melakukan ini?
  • Jika tidak ada yang melihat, masihkah aku lakukan?
  • Jika tidak dipuji, masihkah aku senang?

🔹 Cara Meluruskan Niat

  1. Sebelum amal: hadirkan tujuan karena Allah.
  2. Saat amal: jaga hati dari pujian dan bangga diri.
  3. Sesudah amal: jangan menuntut balasan dari makhluk.
  4. Perbanyak doa ikhlas.
  5. Sering mengingat mati dan akhirat.

🌼 Hikmah, Tujuan, dan Manfaat

Hikmah:

  • Mengajarkan bahwa agama ini bukan sekadar gerakan, tetapi perjalanan hati.

Tujuan:

  • Membentuk hamba yang bersih batinnya, bukan hanya indah lahirnya.

Manfaat:

  • Amal kecil menjadi besar.
  • Hidup menjadi ringan.
  • Hati tidak tergantung pada makhluk.
  • Jalan menuju ma‘rifatullah terbuka.

🤲 Doa

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا كُلَّهَا صَالِحَةً، وَاجْعَلْهَا لِوَجْهِكَ خَالِصَةً، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهَا شَيْئًا.

“Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dalam keadaan kami tahu, dan kami mohon ampun atas apa yang tidak kami sadari. Ya Allah, jadikan seluruh amal kami shalih, jadikan ia ikhlas karena wajah-Mu, dan jangan Engkau jadikan sedikit pun untuk selain-Mu.”


🌹 Ucapan Penutup

Terima kasih telah menghadirkan hadis agung ini untuk direnungi. Semoga tulisan ini menjadi cermin muhasabah, bukan sekadar bacaan, dan semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang memperbaiki hati sebelum memperindah amal.

........


934. Menjaga “Empat Puluh” Jalan Hati:

 


Diriwayatkan dari Mujahid, dari Salman radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bahwa beliau bersabda:

“Barang siapa dari umatku menjaga 40 hadis maka ia masuk surga dan Allah akan mengumpulkannya bersama para nabi dan para ulama di Hari Kiamat.”

Kami bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah! 40 hadis yang mana?”

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, “(40 hadis itu tentang) kamu beriman kepada Allah, Hari Akhir, Malaikat, Kitab, para nabi, Kebangkitan Makhluk setelah kematian, Qodar dari Allah, baik atau buruknya, kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya, kamu mendirikan sholat dengan menyempurnakan wudhu tepat pada waktunya dengan menyempurnakan rukuk dan sujud, kamu membayar zakat sesuai dengan haknya, kamu berpuasa di bulan Ramadhan, kamu menunaikan haji di Ka’bah apabila kamu mampu, kamu melaksanakan sholat 12 rakaat di setiap siang dan malam, 12 rakaat itu adalah kesunahanku dan tiga rakaat sholat Witir, jangan meninggalkannya! kamu tidak menyekutukan sesuatu dengan Allah, kamu tidak mendurhakai kedua orang tuamu, kamu tidak makan harta anak yatim, kamu tidak makan harta riba, kamu tidak meminum khamr, kamu tidak bersumpah palsu atas nama Allah, kamu tidak memberikan kesaksian palsu pada saudara dekat atau jauh, kamu tidak melakukan perbuatan dengan hawa nafsumu, kamu tidak mengghibah saudaramu, kamu tidak terjerumus dalam ghibah orang lain, kamu tidak menfitnah zina terhadap wanita yang menjaga harga dirinya, kamu tidak terjerumus ke dalam omongan orang kalau kamu adalah orang yang riak karena dapat melebur amalmu, kamu tidak banyak bercanda dan melakukan hal yang tidak bermanfaat bersama orang-orang yang melakukan hal-hal tidak bermanfaat, kamu tidak berkata kepada orang yang bodoh, “Hai orang bodoh,” dengan tujuan untuk menghinanya, kamu tidak menertawakan orang lain, kamu bersabar atas cobaan yang menimpamu, kamu tidak merasa aman dari siksa Allah, kamu tidak mengumbar fitnah di kalangan masyarakat, kamu bersyukur kepada Allah atas nikmat yang telah Dia  berikan kepadamu, kamu bersabar atas cobaan dan musibah, kamu tidak berputus asa dari rahmat Allah, kamu mengetahui kalau musibah yang menimpamu bukanlah sesuatu yang akan membuatmu khilaf, dan mengetahui kalau apa yang membuatmu khilaf bukanlah musibah yang menimpamu, kamu tidak menyebabkan kemarahan Allah dengan mencari keridhoan makhluk lain, kamu tidak lebih memilih dunia daripada akhirat, ketika saudaramu muslim meminta sesuatu yang kamu miliki maka kamu tidak pelit berbagi dengannya, kamu melihat dalam sudut pandang masalah agama kepada orang yang lebih di atasmu, kamu melihat dalam masalah dunia kepada orang yang lebih di bawahmu, kamu tidak berbohong, kamu tidak ikut serta dengan para setan, kamu meninggalkan hal batil, kamu tidak melakukan hal batil, ketika kamu mendengar kebenaran maka kamu jangan menyembunyikannya,  kamu mendidik tata kerama kepada istrimu, anakmu dengan pendidikan yang bermanfaat bagi mereka di sisi Allah dan mendekatkan mereka kepada- Nya, kamu berbuat baik kepada tetangga, kamu tidak memutus hubungan dari kerabat- kerabatmu, dan orang-orang yang memiliki ikatan darah denganmu, kamu menyambung hubungan silaturrahmi dengan mereka, kamu tidak melaknati salah satu dari makhluk Allah, kamu memperbanyak membaca tasbih, tahlil, tahmid dan takbir, kamu tidak meninggalkan membaca al- Quran di setiap keadaan kecuali ketika kamu dalam kondisi junub atau hadas besar, kamu tidak meninggalkan untuk menghadiri sholat Jumat, jamaah sholat, dan sholat dua hari raya, kamu berfikir dalam apa yang jika diucapkan kepadamu maka kamu tidak akan ridho dan jika diperbuatkan kepadamu maka kamu tidak ridho, dan kamu tidak meridhoi hal tersebut jika menimpa orang lain dan kamu tidak melakukan hal tersebut terhadap orang lain.

Salman radhiyallahu ‘anhu, bertanya kepada Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama:

“Wahai Rasulullah! Apa pahalanya orang yang menjaga 40 hadis ini?”

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menjawab, “Demi Allah yang telah mengutusku dengan membawa kebenaran sebagai seorang nabi! Sesungguhnya Allah akan mengumpulkannya di Hari Kiamat bersama para nabi dan para ulama. Barang siapa mempelajari 40 hadis ini, kemudian ia mengajarkannya kepada orang lain, niscaya hal itu lebih baik baginya daripada ia diberi dunia dan isinya. Demi Allah yang telah mengutusku dengan membawa kebenaran sebagai seorang nabi! Barang siapa menjaga 40 hadis ini dan dengannya ia mencarai keridhoan Allah maka Dia akan mengalunginya di Hari Kiamat dengan kalung cahaya yang seluruh orang awal dan akhir akan mengagumi keindahannya, keutamaannya, keelokannya, dan kemuliaan Allah kepadanya. Demi Allah yang telah mengutusku dengan membawa kebenaran sebagai seorang nabi! 

Barang siapa menjaga 40 hadis ini maka di Hari Kiamat Allah akan memberinya izin mensyafaati 40.000 manusia yang sudah ditetapkan masuk neraka dimana masing-masing dari 40.000 manusia tersebut    dapat mensyafaati 40.000 manusia lain (Rasulullah mengatakan kalimat ini sebanyak tiga kali). Demi Allah yang telah mengutusku dengan membawa kebenaran sebagai seorang nabi! Barang siapa menjaga 40 hadis ini, dan mengajarkannya kepada orang lain, maka di Hari Kiamat, Allah akan memberinya pahala 40 wali Abdal dan Dia akan memberinya seribu malaikat di setiap hadisnya dimana mereka akan membangunkan rumah-rumah dan gedung-gedung, serta menanamkan pepohonon baginya di surga. Demi Allah yang telah mengutusku dengan membawa kebenaran sebagai seorang nabi! Barang siapa menjaga 40 hadis ini, dimana ia bisa memberikan manfaat dengan 40 hadis tersebut kepada orang lain, maka Allah mengharamkan jasadnya dari neraka dan kelak ia di Hari Kiamat akan berada di atas menara cahaya. Ia akan selamat dari kekagetan besar berupa dicabutnya ruh. Allah akan menyelamatkannya dari hitungan amal. 

Dia akan memberi orang yang menjaga 40 hadis ini dan orang yang mempelajarinya derajat para ulama dan Dia akan menempatkannya bersama mereka. Dia akan memberinya balasan yang Dia berikan kepada para ulama.”

Syeh Najmuddin an-Nasafi, Rahmatullahi ‘Alaih, berkata “Sesungguhnya kami telah menetapkan 40 hadis, maka pahamilah dan janganlah kalian semua seperti kaum yang hampir tidak memahami satu hadis pun!”.



🌿 Menjaga “Empat Puluh” Jalan Hati:

Bacaan Tasawuf tentang Hadis 40 Amal Penyelamat

Mukadimah

Dalam tradisi para ahli tasawuf, agama tidak berhenti pada syariat, tetapi menembus ke hakikat: membersihkan hati agar layak dekat dengan Allah. Hadis tentang “menjaga 40 hadis” yang Anda sebutkan bukan sekadar hafalan, tetapi peta perjalanan ruhani dari iman, ibadah, akhlak, hingga muamalah.

Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9–10)

Hadis ini sejatinya adalah penjabaran praktis ayat tazkiyatun nufūs.


📜 Peristiwa dan Makna Kejadian

Diriwayatkan bahwa Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu bertanya tentang 40 hadis yang dijaga. Jawaban Nabi ﷺ tidak berupa teks singkat, tetapi rangkaian iman, amal, dan akhlak.

Dalam perspektif tasawuf, ini menunjukkan bahwa:

  • Rasulullah ﷺ tidak membangun umat hanya dengan hukum, tetapi dengan pembentukan hati.
  • 40 perkara itu mencakup:
    • Aqidah (iman kepada Allah, malaikat, qadha qadar),
    • Ibadah lahir (shalat, zakat, puasa, haji),
    • Penyakit hati (riya, hasad, ghibah, cinta dunia),
    • Akhlak sosial (silaturahim, jujur, amanah, kasih sayang).

Sebagaimana Al-Qur’an menegaskan:

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka.”
(QS. Al-Hujurat: 15)

Iman → ibadah → akhlak → mujahadah.


🧠 Analisis dan Argumentasi Tasawuf

Dalam tasawuf, amal terbagi menjadi:

  1. Amal jawarih (anggota badan)
  2. Amal qulub (hati)

Hadis ini menyatukan keduanya. Larangan ghibah, riya, dusta, sombong, cinta dunia — semuanya adalah penyakit batin. Sementara shalat, zakat, puasa, silaturahim — adalah latihan lahir untuk membersihkan batin.

Allah berfirman:

“Pada hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)

Maka “menjaga 40 hadis” menurut ahli suluk bukan berarti menumpuk catatan, tetapi:

👉 menjadikannya wirid akhlak, disiplin hidup, dan pengawasan hati.


🔥 Motivasi, Muhasabah, dan Caranya

🌙 Muhasabah Tasawuf

Setiap malam tanyakan pada diri:

  • Apakah hari ini shalatku hidup atau hanya gerak?
  • Apakah lisanku lebih banyak zikir atau melukai?
  • Apakah hatiku bergantung pada Allah atau pada manusia?

Umar bin Khattab berkata:

“Hisablah dirimu sebelum kamu dihisab.”

🧩 Cara Mengamalkan

  1. Pilih 1–2 poin setiap pekan dari hadis ini.
  2. Jadikan sebagai fokus tazkiyah (misal: meninggalkan ghibah).
  3. Sertai dengan:
    • dzikir istighfar,
    • shalawat,
    • membaca Al-Qur’an,
    • duduk tafakkur 5 menit setiap malam.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk esok.”
(QS. Al-Hasyr: 18)


🌺 Hikmah, Tujuan, dan Manfaat

🎯 Tujuan

  • Membentuk manusia rabbani
  • Menghidupkan kesadaran akhirat
  • Mengikis keakuan (nafs)

🌱 Manfaat Dunia

  • Hati lebih tenang
  • Rezeki terasa cukup
  • Hubungan sosial bersih
  • Doa lebih hidup

🌿 Manfaat Ruhani

  • Mudah khusyuk
  • Dosa terasa berat
  • Maksiat terasa pahit
  • Ibadah terasa nikmat

👑 Keistimewaan dan Akibatnya

✨ Bagi yang menjaga:

Di dunia:
– dimuliakan dengan ketenangan
– dicintai orang saleh
– dijaga dari kehinaan maksiat

Di alam kubur:
– kuburnya lapang
– amal menjadi teman
– terhindar dari kesepian ruh

Di hari kiamat:
– dibangkitkan bersama ulama dan nabi
– mendapat cahaya
– mendapat izin syafaat

Di akhirat:
– selamat dari neraka
– didekatkan ke surga
– dimasukkan dalam rombongan orang mulia

Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: ‘Rabb kami Allah’ lalu mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka (seraya berkata): Jangan takut dan jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga.”
(QS. Fussilat: 30)

⚠️ Kehinaan bagi yang meremehkan:

  • hati keras
  • ibadah kosong
  • lisan liar
  • amal mudah gugur
  • dunia sempit walau luas

🤲 Doa

اللهم طهّر قلوبنا من النفاق، وأعمالنا من الرياء، وألسنتنا من الكذب، وأعيننا من الخيانة.

“Ya Allah, sucikanlah hati kami dari nifaq, amal kami dari riya, lisan kami dari dusta, dan mata kami dari khianat.
Jadikan kami termasuk orang yang menjaga amanah Nabi-Mu, menghidupkan sunnahnya, dan Engkau kumpulkan bersama para nabi dan orang-orang saleh.”

آمين يا رب العالمين.


🌷 Ucapan Terima Kasih

Terima kasih telah menghadirkan hadis ini. Menghidupkan pembahasan seperti ini termasuk amal jariyah ilmu dan jalan para ahli tazkiyah. Semoga Allah menjadikannya cahaya bagi Anda, keluarga Anda, dan siapa pun yang membacanya.

.......

Jaga "Empat Puluh" Hati Kita:

Bacaan Tasawuf Santai tentang Hadis 40 Amal Penyelamat


Awalan (Mukadimah)


Halo, teman perjalanan! Dalam dunia tasawuf nih, agama nggak cuma soal aturan doang, tapi tentang deep cleaning hati biar kita makin deket sama Allah. Hadis tentang "jaga 40 hadis" itu bukan cuma buat dihafalin, tapi kayak peta perjalanan spiritual kita, mulai dari iman, ibadah, akhlak, sampe urusan sama orang lain.


Allah bilang gini:


قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ۝ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya." (QS. Asy-Syams: 9–10)


Nah, hadis 40 amal ini tuh kayak panduan praktis buat self-cleaning jiwa kita.


📜 Cerita & Maknanya


Ceritanya, Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu nanya ke Nabi ﷺ soal 40 hadis yang harus dijaga. Jawaban Nabi ﷺ nggak cuma satu-dua kalimat, tapi berupa paket komplit iman, amal, dan akhlak.


Dari kacamata tasawuf, ini nunjukkin kalau:

Rasulullah ﷺ nggak cuma ngasih hukum, tapi juga fokus banget bikin kita punya hati yang bagus.


40 hal itu mencakup:


· Aqidah (percaya sama Allah, malaikat, takdir)

· Ibadah fisik (shalat, zakat, puasa, haji)

· Penyakit hati (suka pamer, iri, ghibah, cinta dunia berlebihan)

· Akhlak sosial (silaturahim, jujur, amanah, sayang-sayangan)


Seperti yang Al-Qur'an tegaskan:


"Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka." (QS. Al-Hujurat: 15)


Jadi alurnya: Iman → ibadah → akhlak → perjuangan batin.


🧠 Analisis & Argumen Tasawuf (Versi Santai)


Dalam tasawuf, amal itu ada dua:


· Amal jawarih (gerakan fisik)

· Amal qulub (gerakan hati)


Hadis ini nyatuin dua-duanya. Larangan ghibah, riya, bohong, sombong, cinta dunia — itu semua penyakit hati. Sementara shalat, zakat, puasa, silaturahim — itu latihan fisik buat bersihin hati.


Allah berfirman:


"Pada hari di mana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih." (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89)


Jadi, "menjaga 40 hadis" bagi pejalan spiritual bukan berarti numpuk catatan doang, tapi:

👉 Nge-jadikannya pola hidup, disiplin diri, dan cara kita self-check hati tiap hari.


🔥 Motivasi, Self-Reflection (Muhasabah), & Cara Ngejalaninnya


🌙 Self-Reflection ala Tasawuf (Tiap Malam)


Tiap mau tidur, tanya diri sendiri:


· "Sholatku hari ini hidup apa cuma gerakan doang?"

· "Lidahku hari ini banyak zikir apa banyak nyakitin orang?"

· "Hatiku hari ini bergantung sama Allah apa bergantung sama opini orang?"


Umar bin Khattab pernah bilang:

"Audit dirimu sendiri sebelum kamu di-audit (di akhirat)."


🧩 Cara Ngejalaninnya (Actionable Banget)


· Pilih 1-2 poin dari 40 itu per minggu. Jadikan fokus perbaikan (misal: fokus buat nggak ghibah seminggu ini).

· Sempurnain dengan: banyak baca istighfar, shalawat, baca Qur'an, dan luangin 5 menit aja buat merenung tiap malam sebelum tidur.


Allah berfirman:


"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk esok." (QS. Al-Hasyr: 18)


🌺 Hikmah, Tujuan, & Benefit-nya Buat Kita


🎯 Tujuannya:


· Membentuk kita jadi manusia yang deket sama Allah.

· Ngingetin kita terus soal akhirat.

· Nge-reduce sifat egois kita.


🌱 Benefit buat Dunia:


· Hati lebih adem dan tenang.

· Rezeki terasa cukup, nggak gampang iri.

· Hubungan sama orang lain lebih bersih dan tulus.

· Doa terasa lebih nyambung.


🌿 Benefit Buat Spiritual:


· Gampang khusyuk.

· Dosa jadi terasa berat banget buat dilakukan.

· Maksiat rasanya pahit.

· Ibadah terasa nikmat dan nggak beban.


👑 Keistimewaan & Konsekuensinya


✨ Buat yang Jaga:


· Di dunia: Dikasih ketenangan hati, dikelilingi orang-orang baik, dijauhin dari hal-hal yang ngerendahin.

· Di alam kubur: Rasanya lapang, amal jadi temen, nggak kesepian.

· Di akhirat: Dibangkitin bareng orang-orang soleh, dapet cahaya, punya syafaat, selamat dari neraka, dan masuk surga bareng rombongan orang-orang mulia.


Allah berfirman:


"Sesungguhnya orang-orang yang berkata: 'Rabb kami Allah' lalu mereka istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka (seraya berkata): Jangan takut dan jangan bersedih, dan bergembiralah dengan surga." (QS. Fussilat: 30)


⚠️ Buat yang Nyepelein:


· Hati jadi keras.

· Ibadah nggak ada rasanya.

· Mulut liar.

· Amal gampang ilang.

· Dunia terasa sempit, padahal punya banyak.


🤲 Doa Penutup


اللهم طهّر قلوبنا من النفاق، وأعمالنا من الرياء، وألسنتنا من الكذب، وأعيننا من الخيانة.


"Ya Allah, bersihkan hati kami dari kemunafikan, amal kami dari pamer, lisan kami dari dusta, dan mata kami dari khianat.

Jadikan kami termasuk orang yang jaga amanah Nabi-Mu, hidupin sunnahnya, dan kumpulkan kami bareng para nabi dan orang-orang saleh."


آمين يا رب العالمين.

(Aamiin ya Rabb)


🌷 Ucapan Terima Kasih


Makasih ya udah ngangkat topik keren ini! Ngobrolin dan nyebarin hal-hal begini termasuk amal jariyah lho, dan ini bener-bener jalan hidup para pebersih hati. Semoga Allah jadikan ini cahaya buat kamu, keluarga, dan siapa aja yang baca. Keep inspiring! ✨

933. Maksiat Kaki: Ketika Langkah Menjadi Jalan Menuju Cahaya atau Kegelapan

 


Di antara maksiat kaki antara lain :

1. Berjalan menuju maksiat, seperti berjalan untuk mengoreksi keburukan sesama muslim, untuk membunuhnya atau untuk apa saja yang dapat membahayakan orang islam tanpa jalan yang benar.

2. Minggatnya sahaya, istri, atau bahkan orang yang mempunyai hak yang wajib dipenuhi, seperti hak di qisas (dibalas karena membunuh), berhutang, wajib memberi nafkah, atau lari dari berbakti kepada kedua orang tua atau lari untuk tidak mendidik anak-anaknya.

3. Banyak tingkah ketika berjalan (engklek, jawa).

4. Melangkahi leher (orang-orang duduk berbaris) kecuali untuk menutup saf yang kosong.

5. Berjalan dihadapan orang sholat bila yang dilewati itu sudah cukup syarat menutup tempatnya (misalnya sudah dengan sajadah).

6. Memanjangkan kaki kepada mushaf yang ada ditempat bawah.

7. Setiap perjalanan menuju perbuatan yang haram.

8. Menyingkir dari kewajiban.


Maksiat Kaki: Ketika Langkah Menjadi Jalan Menuju Cahaya atau Kegelapan

Pendahuluan

Dalam tasawuf, anggota badan bukan sekadar alat fisik, tetapi cermin keadaan hati. Kaki bukan hanya untuk berjalan, tetapi penentu arah ruhani: apakah ia melangkah menuju Allah atau menuju hawa nafsu. Setiap langkah adalah kesaksian, dan kelak ia akan berbicara.

Allah Ta‘ala berfirman:

“Pada hari itu, mulut mereka dikunci, tangan mereka berbicara kepada Kami dan kaki mereka menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.”
(QS. Yasin: 65)

Maka maksiat kaki bukan perkara kecil. Ia adalah isyarat rusaknya niat, lemahnya muraqabah (merasa diawasi Allah), dan matinya rasa takut kepada-Nya.


Landasan Al-Qur’an dan Hadis

1. Larangan melangkah ke jalan dosa

“Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.”
(QS. Al-Baqarah: 168)

Para sufi menafsirkan: langkah setan bukan hanya zina dan khamr, tetapi setiap perjalanan yang menjauhkan hati dari Allah, termasuk berjalan untuk menggunjing, menzalimi, menipu, atau menyakiti kaum Muslimin.

2. Setiap anggota tubuh akan dimintai pertanggungjawaban

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra’: 36)

Kaki termasuk di dalamnya, karena ia pelaksana kehendak hati.

3. Hadis tentang arah langkah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan…”
(HR. Tirmidzi)

Para ahli tasawuf menjelaskan: “bergerser kedua kaki” adalah isyarat bahwa setiap perjalanan hidup akan dihisab.

4. Hadis tentang adab kaki di masjid

“Seandainya orang yang lewat di depan orang shalat mengetahui dosa yang ia tanggung, niscaya berdiri menunggu empat puluh lebih baik baginya daripada lewat di depannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa maksiat kaki bisa menggelapkan ibadah orang lain dan hati pelakunya sendiri.


Analisis dan Argumentasi Tasawuf

Dalam tasawuf, maksiat kaki yang Anda sebutkan (berjalan menuju keburukan, lari dari kewajiban, tingkah berlebihan, melangkahi leher, lewat di depan orang shalat, memanjangkan kaki ke mushaf, meninggalkan amanah, dan perjalanan menuju yang haram) semuanya kembali pada tiga penyakit hati:

1. Lalai dari muraqabah (merasa diawasi Allah)

Orang yang sadar bahwa Allah melihat langkahnya, tidak akan ringan kakinya menuju dosa.

“Sesungguhnya Allah bersamamu di mana pun kamu berada.” (QS. Al-Hadid: 4)

2. Dikuasai hawa nafsu

Dalam tasawuf, kaki adalah tentara nafsu atau tentara ruh. Jika nafsu memimpin, kaki mencari syahwat. Jika ruh memimpin, kaki mencari masjid, majelis ilmu, dan khidmah.

3. Matinya rasa adab

Memanjangkan kaki ke mushaf, melangkahi leher orang, berjalan di depan orang shalat—ini bukan hanya kesalahan fiqih, tetapi tanda matinya ta‘zhim (pengagungan) kepada Allah dan syiar-Nya.

“Barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu dari ketakwaan hati.”
(QS. Al-Hajj: 32)


Motivasi Ruhani: Muhasabah dan Caranya

Pertanyaan Muhasabah

Tanyakan pada diri setiap hari:

  • Ke mana kakiku paling sering melangkah?
  • Apakah langkahku mendekatkanku kepada Allah atau kepada dosa?
  • Jika hari ini kakiku bersaksi, apakah aku siap?

Cara Tazkiyatun Nufūs pada Kaki

  1. Niatkan setiap langkah sebagai ibadah.

    • Ke pasar → niat mencari halal.
    • Ke rumah orang → niat silaturahim.
    • Ke masjid → niat menghidupkan hati.
  2. Biasakan langkah taubat. Perbanyak berjalan ke masjid, majelis ilmu, kuburan, dan orang saleh.

  3. Latihan muraqabah. Saat melangkah, hadirkan di hati:
    “Allah melihat kakiku.”

  4. Taubat khusus maksiat anggota badan. Menangisi dosa kaki sebagaimana menangisi dosa lisan dan mata.


Hikmah, Tujuan, dan Manfaat Menjaga Kaki

Hikmahnya

  • Menundukkan nafsu.
  • Menghidupkan rasa takut dan malu kepada Allah.
  • Membersihkan hati dari kegelapan maksiat.

Tujuannya

  • Agar seluruh hidup menjadi perjalanan menuju Allah.
  • Agar jasad sejalan dengan ruh, syariat sejalan dengan hakikat.

Manfaatnya

  • Langkah menjadi dzikir.
  • Perjalanan menjadi ibadah.
  • Hidup terasa ringan, hati terasa dekat.

Kemuliaan dan Kehinaan Akibat Langkah

Di Dunia

  • Langkah taat: hati tenang, wajah bercahaya, doa mudah naik.
  • Langkah maksiat: hati sempit, gelisah, amal berat, doa tertahan.

Di Alam Kubur

  • Langkah taat: kubur menjadi taman surga, disambut amal.
  • Langkah maksiat: kubur menyempit, kaki menjadi saksi yang memberatkan.

Di Hari Kiamat

  • Langkah taat: kaki mengantar ke telaga Nabi ﷺ.
  • Langkah maksiat: kaki menyeret pemiliknya ke tempat hisab yang berat.

Di Akhirat

  • Langkah taat:

    “Pada hari itu engkau melihat orang-orang beriman, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. Al-Hadid: 12)

  • Langkah maksiat:
    berjalan dalam kegelapan, terhalang dari rahmat, diseret oleh dosa yang dahulu dicari dengan kaki sendiri.


Doa

اللَّهُمَّ طَهِّرْ أَقْدَامَنَا مِنَ الْمَعَاصِي، وَوَجِّهْ خُطُوَاتِنَا إِلَى مَا يُرْضِيكَ، وَاجْعَلْ مَشْيَنَا فِي الدُّنْيَا شَاهِدًا لَنَا لَا عَلَيْنَا.

“Ya Allah, sucikanlah langkah-langkah kami dari maksiat. Arahkanlah perjalanan kami kepada apa yang Engkau ridai. Jadikanlah langkah kami di dunia sebagai saksi yang membela kami, bukan yang memberatkan kami.”


Ucapan Terima Kasih (Penutup Ruhani)

Terima kasih ya Allah atas kaki yang masih Engkau izinkan melangkah.
Terima kasih atas peringatan-Mu dalam Al-Qur’an.
Terima kasih atas nasihat Rasul-Mu ﷺ.
Jika selama ini langkah kami banyak menuju maksiat, maka hari ini kami kembali.
Bimbinglah kami agar setiap langkah menjadi langkah pulang kepada-Mu.


Maksiat Kaki: Langkahmu Bawa ke Vibe Terang Atau Gelap?


Pembuka


Dalam dunia tasawuf, anggota badan kita itu gak cuma alat fisik biasa. Mereka itu cerminan hati kita, bro/sis. Kaki? Itu bukan cuma buat jalan-jalan atau lari-lari. Itu kayak GPS-nya ruhani kita: nentuin kita lagi menuju Allah atau malah ngikutin hawa nafsu. Setiap langkah itu adalah saksi, dan nanti di akhirat, kaki kita sendiri yang bakal ngomong.


Allah Ta‘ala berfirman:

“Pada hari itu, mulut mereka dikunci, tangan mereka berbicara kepada Kami dan kaki mereka menjadi saksi atas apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin: 65)


Jadi, maksiat kaki tuh bukan hal receh. Itu tanda ada yang error di niat, lemahnya perasaan diawasi Allah (muraqabah), dan hilangnya rasa takut sama-Nya.


Dasarnya dari Qur’an & Hadis


1. Jangan Ikutin Steps Setan

   “Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.” (QS. Al-Baqarah: 168)

   Para sufi bilang, "langkah setan" itu gak cuma zina atau mabok. Tapi setiap jalan yang bikin hati kita makin jauh dari Allah, termasuk jalan buat ngegosip, ngezalimin, nipu, atau nyakitin orang lain.

2. Semua Bagian Tubuh Akan Diminta Pertanggungjawaban

   “Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36)

   Kaki pasti termasuk, karena dia eksekutor dari perintah hati kita.

3. Hadis tentang Arah Langkah

   Rasulullah ﷺ bersabda:

   “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan…” (HR. Tirmidzi)

   Kata para ahli tasawuf, "ga bergesernya kaki" itu artinya seluruh perjalanan hidup kita bakal dihitung, gak ada yang lewat.

4. Hadis tentang Manner Kaki di Masjid

   “Seandainya orang yang lewat di depan orang shalat mengetahui dosa yang ia tanggung, niscaya berdiri menunggu empat puluh lebih baik baginya daripada lewat di depannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

   Ini nunjukkin kalau maksiat kaki bisa ngerusak ibadah orang dan gelapin hati kita sendiri.


Analisis & Argumen Tasawuf (Versi Santai)


Maksiat kaki yang disebutin (jalan ke tempat maksiat, kabur dari kewajiban, gaya berlebihan, ngelangkahi leher orang, lewat depan orang shalat, arahin kaki ke mushaf, ninggalin amanah, perjalanan ke tempat haram) semua itu baliknya ke 3 penyakit hati:


1. Lupa kalo diawasi Allah (Muraqabah).

   Orang yang sadar betul Allah ngeliatin setiap langkahnya, gak akan ringan tangan (eh, ringan kaki) buat jalan ke arah dosa.

   “Sesungguhnya Allah bersamamu di mana pun kamu berada.” (QS. Al-Hadid: 4)

2. Dikuasain hawa nafsu.

   Dalam tasawuf, kaki itu tentaranya nafsu atau tentaranya ruh. Kalau nafsu yang jadi bos, kaki bakal cari kesenangan duniawi. Kalau ruh yang pimpin, kaki bakal cari masjid, majelis ilmu, atau tempat-tempat buat bantu orang.

3. Mati rasa manner-nya.

   Arahin kaki ke mushaf, ngelangkahi kepala orang, lewat depan orang shalat—ini bukan cuma salah secara fiqih, tapi tanda hilangnya rasa hormat (ta‘zhim) ke Allah dan simbol-simbol-Nya.

   “Barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka itu dari ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32)


Self-Reflection & Cara Upgrade Diri


Pertanyaan Buat Self-Check:


· Hari ini kaki gua paling banyak jalan ke mana aja, sih?

· Apa langkah-langkah gua bikin gua makin deket sama Allah atau malah makin kejerumus?

· Kalau hari ini kaki gua disuruh jadi saksi, apa gua siap?


Cara Upgrade Diri (Tazkiyatun Nufūs) buat Kaki:


· Niatin setiap langkah jadi ibadah.

  Mau ke pasar? Niat cari yang halal. Mau ke rumah temen? Niat silaturahim. Mau ke masjid? Niat ngidupin hati.

· Biasain langkah taubat. Perbanyak jalan ke masjid, pengajian, kuburan (biar ingat mati), atau ketemu orang shalih.

· Latihan muraqabah. Saat lagi jalan, inget-inget di hati: “Allah lagi liat ni langkah gua.”

· Taubat khusus buat dosa kaki. Sedihin dosa kaki sama kayak kita sedihin dosa lisan atau mata.


Hikmah, Tujuan, & Manfaat Jaga Kaki


Hikmahnya:


· Bisa ngekang nafsu.

· Numbuhin rasa takut dan malu sama Allah.

· Ngebersihin hati dari efek gelapnya maksiat.


Tujuannya:


· Biar hidup kita jadi perjalanan full-time menuju Allah.

· Biar jasad kita sejalan sama ruh, dan aturan lahir (syariat) sejalan sama esensinya (hakikat).


Manfaatnya:


· Langkah jadi kayak dzikir jalan.

· Perjalanan biasa jadi punya nilai ibadah.

· Hidup terasa lebih light, hati terasa deket sama-Nya.


Akibat Langkah: Naik Kelas Atau Jatuh Banget


Di Dunia:


· Langkah taat: Hati adem, wajah cerah, doa gampang naik.

· Langkah maksiat: Hati sempit, gelisah, ibadah berat, doa kayak mentok.


Di Alam Kubur:


· Langkah taat: Kubur jadi kayak taman surga, disambut amal baik.

· Langkah maksiat: Kubur sempit, kaki jadi saksi yang nambah beban.


Di Hari Kiamat:


· Langkah taat: Kaki yang dulu jalan taat, bakal nganter kita ke telaga Nabi ﷺ.

· Langkah maksiat: Kaki yang dulu cari dosa, bakal nyeret kita ke hisab yang berat.


Di Akhirat:


· Langkah taat:

  “Pada hari itu engkau melihat orang-orang beriman, cahaya mereka berjalan di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. Al-Hadid: 12)

· Langkah maksiat: Jalan dalam kegelapan, terhalang dari rahmat, diseret sama dosa yang dulu dikejar pake kaki sendiri.


Doa (Versi Santai tapi Khusyuk)


اللَّهُمَّ طَهِّرْ أَقْدَامَنَا مِنَ الْمَعَاصِي، وَوَجِّهْ خُطُوَاتِنَا إِلَى مَا يُرْضِيكَ، وَاجْعَلْ مَشْيَنَا فِي الدُّنْيَا شَاهِدًا لَنَا لَا عَلَيْنَا.


“Ya Allah, bersihin deh langkah-langkah kami dari maksiat. Arahin semua perjalanan kami ke hal-hal yang bikin Engkau suka. Jadikan langkah kami di dunia ini jadi saksi yang ngebela kami, bukan yang ngejatuhin kami nanti.”


Penutup (Rasa Syukur)


Makasih ya Allah, buat kaki yang masih Elu kasih izin buat melangkah.

Makasih buat peringatan-Mu lewat Qur’an.

Makasih buat nasihat-nasihat dari Rasul-Mu ﷺ.

Kalau selama ini langkah kami lebih sering nyasar ke maksiat, hari ini kami mau balik arah.

Bimbing kami, ya Allah, biar setiap langkah bener-bener jadi langkah pulang ke rumah-Mu.