Wednesday, February 25, 2026

978. MENINGGALKAN YANG SYUBHAT, MENYELAMATKAN HATI



kitab Hadits Arbain Nawawi (Karya Yahya bin Syaraf An-Nawawi atau Imam Nawawi ).

Hadits ke-11 Tinggalkan Apa yang Meragukan


عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الحَسَنِ بنِ عَلِيّ بنِ أبِي طالبٍ سِبْطِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَيْحَانَتِهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ» رواه الترمذي والنسائي وقال الترمذي: حديث حسن صحيح.


Dari Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kesayangannya, berkata: aku hafal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Tinggalkan apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Nasa`i, dan at-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.”

[Shahih: Sunan at-Tirmidzi (no. 2518), Sunan an-Nasa`i (VIII/327-328)]

.....

📖 Hadits ke-11 Arbain Nawawi

“Tinggalkan Apa yang Meragukan”


Rasulullah ﷺ bersabda:

“دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ”
“Tinggalkan apa yang meragukanmu menuju apa yang tidak meragukanmu.”
(HR. at-Tirmidzi dan an-Nasa’i)


🌿 MENINGGALKAN YANG SYUBHAT, MENYELAMATKAN HATI

Saudaraku…

Hadits ini bukan hanya tentang halal–haram.
Ini tentang kebersihan hati (tazkiyatul nufus).

Dalam tasawuf, keraguan (riybah) adalah getaran halus dalam hati. Ketika hati gelisah, itu tanda cahaya fitrah sedang memberi sinyal.

Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita, maka telitilah…"
(QS. Al-Hujurat: 6)

Di era digital ini — berita datang dalam hitungan detik.
Pesan viral, video potongan, opini liar — semuanya masuk ke hati kita.

Pertanyaannya:
👉 Apakah semua yang kita klik itu menenangkan?
👉 Atau justru membuat hati semakin gelisah?


📱 1. Dalam Teknologi & Media Sosial

Hari ini, jari kita lebih cepat dari akal kita.

Banyak yang meragukan:

  • Informasi belum jelas kebenarannya
  • Investasi digital tanpa dasar syariah
  • Konten yang merangsang syahwat dan iri
  • Hutang online yang mencekik

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara syubhat…”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Tasawuf mengajarkan:
Jika hati tidak tenang, tinggalkan.

Karena dosa sering kali tidak langsung terasa besar.
Ia masuk perlahan melalui pembiasaan.


🚗 2. Dalam Transportasi & Gaya Hidup Cepat

Kita hidup di zaman cepat:

  • Ingin kaya cepat
  • Ingin terkenal cepat
  • Ingin hasil tanpa proses

Padahal Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya.”
(QS. Al-Isra: 36)

Keraguan muncul ketika kita memaksakan diri melampaui batas syariat.

Dalam tazkiyah, ketenangan lebih penting daripada kecepatan.


🏥 3. Dalam Dunia Kedokteran & Kesehatan

Ilmu kedokteran berkembang luar biasa.
Namun tetap ada batas manusia.

Hadis Qudsi:

“Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku.”
(HR. Muslim)

Teknologi boleh maju,
tetapi petunjuk tetap dari Allah.

Jangan sampai karena percaya sains, kita melupakan doa.
Jangan sampai karena modernitas, kita meninggalkan tawakal.


🌿 Perspektif Tazkiyatul Nufus

Keraguan sering muncul karena:

  • Hati kotor oleh maksiat kecil
  • Terlalu banyak konsumsi dunia
  • Minim dzikir dan muraqabah

Imam Nawawi mengumpulkan hadits ini bukan untuk fikih semata,
tetapi untuk menjaga kebersihan batin.

Dalam tasawuf:

  • Syubhat itu debu hati
  • Dosa itu noda hati
  • Istiqamah itu cahaya hati

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tinggalkanlah dosa yang kecil sekalipun, karena ia akan berkumpul hingga membinasakan.”
(HR. Ahmad)


🌙 Muhasabah

Mari kita bertanya pada diri:

  • Apakah pekerjaan saya membuat hati tenang?
  • Apakah harta saya bebas dari syubhat?
  • Apakah postingan saya membawa maslahat?
  • Apakah hutang saya membuat saya jauh dari Allah?

Jika hati ragu, berhenti.
Karena ketenangan adalah tanda keberkahan.

Allah berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)


🌤 Harapan

Saudaraku…

Zaman boleh rumit.
Teknologi boleh canggih.
Masalah boleh banyak.

Tetapi hati yang bersih akan selalu menemukan jalan.

Barangsiapa menjaga hatinya dari yang meragukan,
Allah akan menjaganya dari yang membinasakan.


🤲 DOA

Ya Allah…
Bersihkan hati kami dari keraguan yang menyesatkan.
Tunjukkan kami yang halal sebagai halal dan mudahkan kami mengikutinya.
Tunjukkan kami yang haram sebagai haram dan jauhkan kami darinya.

Ya Allah…
Jika dalam hidup kami ada yang syubhat, berikan keberanian untuk meninggalkannya.
Jika ada harta yang meragukan, gantilah dengan yang lebih baik.
Jika ada jalan yang gelap, terangilah dengan cahaya hidayah-Mu.

Jadikan teknologi sebagai sarana ibadah kami,
bukan sebagai sebab lalai kami.

Ya Muqallibal qulub…
Tetapkan hati kami di atas agama-Mu.
Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.


🌿 Terima kasih telah membaca dan merenungkan bersama.
Semoga Allah menjaga hati kita di zaman yang penuh ujian ini.

.....

Hadits ke-11: "Tinggalkan yang Meragukan" – Versi Gaul Santuy Tapi Tetap Berkelas


---


عَنْ أَبِي مُحَمَّدٍ الحَسَنِ بنِ عَلِيّ بنِ أبِي طالبٍ ... قَالَ: حَفِظْتُ مِنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيْبُكَ»


Dari Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib, cucu kesayangan Rasulullah ﷺ, ia bilang: "Aku hafal banget dari Rasulullah ﷺ, 'Tinggalkan apa yang bikin ragu, ambil yang udah jelas aja.'" (HR. Tirmidzi & Nasa'i, kata Tirmidzi haditsnya hasan shahih).


---


🌿 Pesan Kekinian: Jangan Overthink, Jaga Hati Tetap Adem


Sobat, hadits ini tuh nggak cuma ngomongin halal-haram doang. Lebih dalem dari itu: ini tentang kebersihan hati. Di dunia yang serba cepet kayak sekarang, hati kita sering keguncang sama berita hoax, status orang, atau tawaran investasi yang katanya "cuan" tapi ujung-ujungnya bikin gelisah.


Allah ﷻ udah ngasih alarm lewat firman-Nya:


"Wahai orang-orang yang beriman, kalau ada orang fasik datang bawa berita, lu teliti dulu..." (QS. Al-Hujurat: 6)


Nah, pas lagi scroll media sosial, kadang kita lupa buat pause dan mikir: "Ini konten bikin aku tenang apa malah tambah paranoid?"


---


📱 1. Di Dunia Digital: Jangan Asal Klik & Share


Zaman now, jari kita lebih kenceng dari otak. Banyak hal yang bikin kita ragu:


· Info belum jelas udah dibagikan.

· Investasi online ngiming-ngiming untung besar tapi logika nggak nyambung.

· Konten yang isinya pamer harta, bikin iri dan hati nggak adem.

· Pinjol yang bikin was-was karena bunganya nggak wajar.


Rasulullah ﷺ juga bilang:


"Yang halal itu jelas, yang haram juga jelas. Di antara keduanya ada perkara syubhat (abu-abu)..." (HR. Bukhari & Muslim)


Dalam tasawuf, ajaran sederhananya: kalau hati udah nggak nyaman, mending tinggalin. Karena dosa itu sering masuk pelan-pelan, nggak langsung kerasa.


---


🚗 2. Gaya Hidup Cepet: Mau Instant Tapi Lupa Proses


Kita hidup di era serba mager tapi pengennya instan:


· Mau kaya mendadak tanpa kerja keras.

· Mau terkenal cuma modal konten viral.

· Mau hasil tanpa usaha.


Padahal Allah ﷻ bilang:


"Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu nggak punya ilmu tentangnya." (QS. Al-Isra: 36)


Keraguan muncul pas kita maksain diri melakukan sesuatu yang ngelewatin batas. Dalam tazkiyatun nufus (penyucian hati), ketenangan itu lebih penting daripada kecepatan. Jadi, jangan sampai karena pengen cepet sukses, kita malah ngelakuin hal yang meragukan.


---


🏥 3. Di Dunia Kesehatan: Percaya Sains, Tapi Jangan Lupa Doa


Ilmu kedokteran makin canggih, tapi kita tetap manusia yang lemah. Allah ﷻ ngasih peringatan lewat hadis Qudsi:


"Wahai hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku." (HR. Muslim)


Teknologi maju itu keren, tapi jangan sampai kita lupa sama yang punya kuasa. Jangan karena percaya banget sama dokter, kita ninggalin doa. Jangan karena modern, kita lepas tawakal.


---


🌿 Intinya: Jaga Hati Tetap Bersih


Kenapa sih hati sering ragu? Bisa jadi karena:


· Debu maksiat yang numpuk.

· Terlalu sibuk sama dunia.

· Jarang inget Allah dan muhasabah diri.


Imam Nawawi ngumpulin hadits ini bukan cuma buat fikih, tapi lebih ke ngajak kita bersihin batin. Dalam bahasa tasawuf:


· Syubhat itu debu hati.

· Dosa itu noda hati.

· Istiqamah itu cahaya hati.


Rasulullah ﷺ juga ngingetin:


"Tinggalkan dosa kecil sekalipun, karena dosa kecil bakal numpuk sampe bisa ngancurin." (HR. Ahmad)


---


🌙 Yuk, Muhasabah Diri


Coba deh, tanya ke diri sendiri:


· Kerjaanku sehari-hari bikin hati adem nggak?

· Harta yang aku punya, ada yang syubhat nggak?

· Postinganku di medsos ngebawa manfaat atau malah bikin orang lain insecure?

· Punya utang nggak? Itu bikin jauh dari Allah apa malah jadi wasilah kebaikan?


Kalau hati udah mulai ragu, berhenti. Karena ketenangan itu tanda keberkahan. Allah ﷻ janji:


"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati jadi tenang." (QS. Ar-Ra'd: 28)


---


🌤 Harapan dan Doa


Sobat, zaman boleh makin ribet, teknologi boleh makin canggih, masalah boleh makin kompleks. Tapi hati yang bersih bakal selalu nemu jalan keluar. Siapa yang jaga hatinya dari hal-hal meragukan, Allah bakal jaga dia dari hal-hal yang ngecelakain.


🤲 Doa ala Anak Muda


Ya Allah...

Bersihin hati kita dari rasa ragu yang bikin galau.

Kasih kita petunjuk mana yang halal, mudahkan kita buat jalanin.

Kasih kita kekuatan buat ninggalin yang haram, walau kadang rasanya berat.


Ya Allah...

Kalau dalam hidup kita ada hal-hal yang syubhat, kasih kita keberanian buat ninggalin.

Kalau ada harta yang meragukan, ganti dengan rezeki yang lebih barokah.

Kalau ada jalan yang gelap, terangin pake cahaya hidayah-Mu.


Jadikan teknologi ini sebagai alat buat ibadah, bukan malah bikin kita lalai.


Ya Muqallibal qulub, tetepin hati kita di atas agama-Mu.


Aamiin ya Rabbal 'Alamin.


---


🌿 Makasih udah baca dan renungin bareng. Semoga Allah jaga hati kita di zaman yang penuh cobaan ini. Tetap adem, tetap istiqamah!


.....

977. Meninggalkan Apa yang Tidak Berguna.

 


kitab Hadits Arbain Nawawi (Karya Yahya bin Syaraf An-Nawawi atau Imam Nawawi ).

Hadits ke-12 Tinggalkan Apa yang Tidak Berguna


عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مِنْ حُسْنِ إِسْلامِ المَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ» حديثٌ حسنٌ، رواه الترمذي وغيره هكذا.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata :Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan selainnya seperti itu.

[Shahih: Sunan at-Tirmidzi (no. 2317), Sunan Ibnu Majah (no. 3976)]

........

📖 Meninggalkan Apa yang Tidak Berguna


Rasulullah ﷺ bersabda:
“Di antara bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.”
(HR. no. 2317, Ibnu Majah no. 3976)


🌿 Membersihkan Hati di Tengah Dunia yang Bising

Saudaraku yang dirahmati Allah…

Kita hidup di zaman yang luar biasa.
Teknologi semakin canggih. Komunikasi semakin cepat. Transportasi semakin mudah. Kedokteran semakin maju.

Namun…
Mengapa hati semakin gelisah?
Mengapa pikiran semakin penuh?
Mengapa waktu terasa habis tanpa makna?

Di sinilah hadits ini menjadi cahaya.

✨ 1. Makna Tasawufnya: Fokus pada yang Mengantarkan kepada Allah

Dalam perspektif tazkiyatul nufus, “meninggalkan yang tidak berguna” bukan sekadar soal perkara haram atau makruh.

Tetapi juga:

  • Percakapan yang sia-sia
  • Perdebatan tanpa hikmah
  • Scroll media sosial tanpa tujuan
  • Rasa ingin tahu berlebihan pada urusan orang lain
  • Pikiran yang terus membandingkan hidup dengan orang lain

Allah berfirman:

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman… dan mereka menjauhkan diri dari (perkataan dan perbuatan) yang tidak berguna.”
(QS. , Al-Mu’minun: 1–3)

Orang beriman bukan hanya meninggalkan dosa.
Tetapi meninggalkan kesia-siaan.


📱 2. Di Era Digital: Ujian Terbesar Bukan Kurang Ilmu, Tapi Kurang Fokus

Hari ini:

  • Kita bisa tahu berita dunia dalam hitungan detik.
  • Bisa video call lintas negara.
  • Bisa pesan makanan tanpa keluar rumah.
  • Bisa konsultasi medis online.

Semua ini nikmat.

Namun, apakah hati kita ikut naik bersama kemajuan itu?
Ataukah justru tertinggal?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah membenci bagimu: banyak berkata sia-sia, banyak bertanya yang tidak perlu, dan menyia-nyiakan harta.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Betapa banyak waktu habis untuk komentar yang tak perlu.
Betapa banyak energi terkuras untuk urusan yang bukan tanggung jawab kita.

Padahal umur terus berkurang…


🧠 3. Penyakit Hati Modern

Dalam tasawuf, hati yang kotor bukan hanya karena maksiat.
Tetapi juga karena terlalu banyak hal yang tidak penting masuk ke dalamnya.

  • Iri melihat pencapaian orang
  • Cemas karena standar sosial media
  • Sibuk mengurusi hidup orang lain
  • Terlalu reaktif pada opini

Allah mengingatkan:

“Pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”
(QS. Al-Isra’: 36)

Setiap klik…
Setiap tontonan…
Setiap komentar…
Akan ditanya.


🌌 4. Hadis Qudsi: Hati yang Terhubung pada Allah

Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:

“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya engkau tidak akan sampai kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atasmu. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya…”
(HR. Bukhari)

Artinya:
Yang berguna itu adalah yang mendekatkan kepada Allah.

Bukan sekadar ramai.
Bukan sekadar viral.
Bukan sekadar trending.

Yang berguna adalah yang membuat hati makin lembut.
Yang membuat shalat makin khusyuk.
Yang membuat akhlak makin halus.


🕊 5. Muhasabah: Apakah Islam Kita Sudah “Indah”?

Rasulullah ﷺ tidak mengatakan:
“Di antara sahnya Islam…”

Beliau mengatakan:
“Di antara bagusnya Islam…”

Berarti ada level keindahan.

Tanya pada diri kita:

  • Apakah kita masih kepo urusan orang?
  • Apakah kita masih gemar debat kusir?
  • Apakah waktu kita habis untuk hal yang tak menambah iman?

Kalau iya…
Maka inilah ladang perbaikan.


🌱 6. Harapan: Mulai dari yang Kecil

Tazkiyah tidak harus langsung besar.

Mulai dari:

  • Mengurangi komentar tak perlu
  • Mengatur waktu penggunaan gadget
  • Menghindari grup gosip
  • Membaca 1 halaman Qur’an tiap hari
  • Memperbanyak dzikir daripada scroll

Sedikit demi sedikit…
Hati akan ringan.

Dan ketika hati ringan, ibadah terasa manis.


🤲 DOA

Ya Allah…
Bersihkan hati kami dari kesia-siaan.
Jauhkan lisan kami dari perkataan yang tak bermanfaat.
Jauhkan mata kami dari pandangan yang melalaikan.

Ya Allah…
Jadikan teknologi sebagai sarana dakwah, bukan sarana kelalaian.
Jadikan umur kami penuh makna.
Jadikan setiap detik mendekatkan kami kepada-Mu.

Ya Allah…
Perindah Islam kami.
Perhalus akhlak kami.
Tenangkan hati kami.
Husnul khatimah bagi kami dan keluarga kami.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.


Terima kasih atas pertanyaannya.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang yang Islamnya indah, bukan hanya sah. 🌿

........

Hadits Arbain Nawawi ke-12: "Meninggalkan yang Gak Berguna" (Versi Kekinian, Tetap Sopan)


Hai, sobat! Pasti udah pada tahu kan hadits populer ini?


Rasulullah ﷺ bersabda:

“Min husnil Islamil mar'i tarkuhu ma la ya'nih.”

Artinya: “Di antara bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)


---


🌿 Renungan Santuy: Bersihin Hati di Tengah Hiruk-pikuk Dunia


Gengs, kita hidup di era yang serba canggih. Internet makin cepat, medsos makin rame, info bisa diakses dalam hitungan detik. Tapi… kenapa hati malah gampang gelisah? Pikiran mumet? Waktu serasa habis gitu aja?


Nah, di sinilah hadits ini jadi penyelamat. Yuk, kita bedah santai!


---


✨ 1. Makna Mendalam: Fokus ke Hal yang Bawa Kita ke Allah


Dalam dunia tazkiyatul nufus (penyucian hati), “meninggalkan yang gak berguna” itu bukan cuma soal ninggalin dosa besar. Tapi juga:


· Ngobrol yang gak penting (gibah, gosip, debat kusir).

· Scroll medsos tanpa tujuan, sampe lupa waktu.

· Kepo urusan orang lain yang gak ada hubungannya sama kita.

· Pikiran yang gak tenang karena terus membandingkan hidup dengan orang lain.


Allah udah ngasih tahu di Al-Qur’an:


“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman… dan mereka menjauhkan diri dari (perkataan dan perbuatan) yang tidak berguna.”

(QS. Al-Mu’minun: 1–3)


Jadi, ciri orang beriman itu bukan cuma ninggalin dosa, tapi juga ninggalin hal-hal sia-sia.


---


📱 2. Zaman Now: Ujian Terbesar Bukan Kurang Ilmu, Tapi Kurang Fokus


Coba deh kita introspeksi:


· Kita bisa video call sama orang di belahan dunia lain.

· Bisa order makanan tanpa keluar rumah.

· Baca berita internasional dalam hitungan detik.


Semua nikmat banget, kan? Tapi… apa hati kita ikut tenang? Atau malah makin kacau?


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Sesungguhnya Allah membenci bagimu: banyak berkata sia-sia, banyak bertanya yang tidak perlu, dan menyia-nyiakan harta.”

(HR. Bukhari & Muslim)


Berapa banyak waktu habis buat debat di kolom komentar? Berapa banyak energi terkuras buat ngurusin hidup orang? Padahal umur kita makin berkurang…


---


🧠 3. Penyakit Hati Model Kekinian


Dalam ilmu tasawuf, hati yang kotor itu bukan cuma karena maksiat. Bisa juga karena overload informasi yang gak penting. Contohnya:


· Iri karena lihat pencapaian orang di medsos.

· Cemas karena standar hidup yang dibentuk algoritma.

· Sibuk ngomentarin hidup orang lain, lupa sama diri sendiri.

· Gampang reakti sama opini yang beda.


Allah ngelingatin:


“Pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban.”

(QS. Al-Isra’: 36)


Setiap klik, setiap tontonan, setiap komentar… bakal ditanya!


---


🌌 4. Hadis Qudsi: Hati yang Connect Sama Allah


Allah berfirman:


“Wahai hamba-Ku, sesungguhnya engkau tidak akan sampai kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku wajibkan atasmu. Dan hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnah hingga Aku mencintainya…”

(HR. Bukhari)


Artinya sederhana: Yang bermanfaat itu ya yang bikin kita makin dekat sama Allah. Bukan yang viral, bukan yang trending. Tapi yang bikin hati adem, sholat makin khusyuk, akhlak makin lembut.


---


🕊 5. Muhasabah Yuk: Udah "Indah" Belum Islam Kita?


Rasulullah ﷺ bilang “bagusnya Islam” – bukan sekadar “sahnya Islam”. Jadi ada level keindahan.


Coba tanya diri sendiri:


· Masih suka kepo urusan orang?

· Masih suka debat gak jelas?

· Waktu lebih banyak habis buat scroll daripada baca Qur’an?


Kalau iya… saatnya benahi diri. Pelan-pelan aja, yang penting konsisten.


---


🌱 6. Langkah Kecil, Tapi Bermakna


Gak perlu langsung sempurna. Mulai dari hal simpel:


· Kurangi komentar yang gak perlu.

· Atur waktu main HP.

· Keluar dari grup yang isinya gosip.

· Luangin waktu baca Qur’an meski cuma satu halaman.

· Dzikir lebih sering daripada scroll medsos.


Sedikit demi sedikit, hati bakal terasa lebih ringan. Dan saat hati ringan, ibadah jadi terasa manis.


---


🤲 Doa Penutup


Ya Allah…

Bersihkan hati kami dari hal-hal sia-sia.

Jauhkan lisan kami dari omongan yang gak bermanfaat.

Jauhkan mata kami dari tontonan yang melalaikan.


Ya Allah…

Jadikan teknologi ini jadi sarana kebaikan, bukan kelalaian.

Berkahi umur kami, penuhi dengan makna.

Dekatkan kami kepada-Mu di setiap detik kehidupan.


Ya Allah…

Perindah Islam kami.

Perhalus akhlak kami.

Tenangkan hati kami.

Dan wafatkan kami dalam husnul khatimah.


Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.


---


Sobat, semoga kita semua termasuk orang yang Islamnya indah, bukan cuma sekadar sah. Yuk, mulai sekarang lebih selektif sama apa yang kita konsumsi, tonton, dan omongin. Karena waktu kita terbatas, dan semuanya bakal dimintai pertanggungjawaban. 🌿

......

976. Puasa: Bukan Sekadar Menahan, Tapi Menyucikan.



Al-Baqarah · Ayat 183


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣

yâ ayyuhalladzîna âmanû kutiba ‘alaikumush-shiyâmu kamâ kutiba ‘alalladzîna ming qablikum la‘allakum tattaqûn

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

......

📖 Tafsir Tazkiyatul Nufus: Al-Baqarah Ayat 183

🕊 Firman Allah dalam – Surah : 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”


🌿 1. Puasa: Bukan Sekadar Menahan, Tapi Menyucikan

Dalam perspektif tasyawuf / tazkiyatul nufus, puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Ia adalah proses penyucian jiwa.

Di era kecanggihan teknologi:

  • Informasi masuk tanpa batas.
  • Hiburan tak pernah berhenti.
  • Komunikasi begitu cepat.
  • Nafsu konsumsi makin tak terkendali.

Puasa hadir sebagai rem spiritual.

Allah tidak berkata: “agar kamu sehat”, “agar kamu disiplin”, tetapi:

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ — agar kamu bertakwa.

Takwa adalah keadaan hati yang selalu merasa diawasi Allah, bahkan ketika sinyal internet kuat dan manusia tidak melihat.


🔥 2. Puasa dan Pengendalian Nafsu di Era Digital

Hari ini, godaan bukan hanya makanan.
Tetapi:

  • Scroll tanpa batas.
  • Syahwat visual.
  • Pamer ibadah di media sosial.
  • Ujub dan riya terselubung.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. Ibnu Majah)

Artinya, jika hati tidak dibersihkan, puasa hanya ritual fisik.

Dalam hadis qudsi Allah berfirman:

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Mengapa puasa istimewa?
Karena puasa adalah ibadah paling tersembunyi.
Ia melatih kejujuran batin.

Di ruang sunyi, di kamar pribadi, saat tidak ada yang melihat — hanya takwa yang menahan kita.


🌊 3. Puasa dan Peradaban Modern

Kita hidup di zaman:

  • Transportasi cepat.
  • Kedokteran canggih.
  • Komunikasi instan.

Namun kenapa hati tetap gelisah?

Karena teknologi mempercepat dunia,
tapi puasa memperlambat nafsu.

Allah berfirman:

“Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(, Ar-Ra’d: 28)

Puasa melatih kita:

  • Tidak reaktif.
  • Tidak emosional.
  • Tidak dikuasai keinginan sesaat.

Inilah tazkiyatul nufus — membersihkan hati dari:

  • Hasad
  • Riya
  • Cinta dunia berlebihan

🪞 4. Muhasabah: Sudahkah Puasa Kita Mengubah Jiwa?

Mari bertanya pada diri sendiri:

  • Apakah puasa membuat kita lebih sabar kepada keluarga?
  • Apakah puasa mengurangi hutang maksiat mata dan lisan?
  • Apakah puasa mendekatkan kita pada sujud malam?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
(HR. Bukhari)

Puasa adalah sekolah jiwa.
Jika setelah Ramadhan kita masih sama, berarti kita belum lulus.


🌅 5. Harapan: Puasa sebagai Jalan Kembali

Saudaraku…

Tak peduli seberapa banyak dosa.
Tak peduli seberapa berat beban hidup.

Puasa adalah pintu taubat tahunan.
Ia adalah panggilan Allah:

“Kembalilah kepada-Ku.”

Dalam hadis disebutkan:

“Setiap amal anak Adam dilipatgandakan. Kebaikan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat…”
(HR. Muslim)

Bayangkan jika puasa kita diterima.
Ia menjadi cahaya saat dunia semakin gelap.


🤲 DOA

Ya Allah…
Engkau yang mewajibkan puasa agar kami bertakwa.

Bersihkan hati kami dari cinta dunia yang berlebihan.
Jadikan puasa kami bukan sekadar lapar,
tetapi cahaya dalam dada.

Di zaman teknologi yang memabukkan ini,
jangan Engkau biarkan hati kami lalai.

Jadikan kami hamba yang jujur dalam sepi,
khusyuk dalam sujud,
dan lembut dalam akhlak.

Ampuni dosa kami, dosa keluarga kami.
Tuntun anak-anak kami menjadi penyejuk mata.
Lapangkan rezeki kami yang halal dan berkah.

Ya Allah…
Jadikan akhir hidup kami dalam keadaan husnul khatimah.
Aamiin.


🌷 Penutup

Semoga puasa kita bukan hanya rutinitas tahunan,
tetapi revolusi jiwa.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk merenungi ayat mulia ini.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang benar-benar bertakwa.

🤍 Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

.......

Tafsir Santuy: Al-Baqarah Ayat 183

(Version: Gaul Tapi Tetap Adab)


Allah SWT berfirman di Surah Al-Baqarah ayat 183:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."


---


1. Puasa: Bukan Cuma Tahan Lapar, Tapi Juga "Reset" Otak


Jadi gini, dalam dunia tazkiyatun nufus (penyucian jiwa), puasa itu nggak sekadar nahan haus dan laper doang. Ini adalah momen glow up-nya ruhani.


Apalagi di jaman now yang serba canggih:


· Info bertebaran di mana-mana, kadang hoax juga ikut.

· Hiburan nggak ada matinya, dari TikTok sampe Netflix.

· Chatting sama orang nggak pernah berhenti.

· Pengen beli ini-itu terus, karena iklan di mana-mana.


Nah, di tengah hiruk-pikuk itu, puasa hadir sebagai mode "Do Not Disturb" buat jiwa kita.


Allah nggak bilang "biar kalian sehat" atau "biar hidup kalian teratur", tapi langsung ke intinya:


لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ — "agar kalian bertakwa."


Takwa itu intinya adalah feeling selalu diawasi Allah. Meskipun sinyal WiFi lagi full, tapi kita tetap inget: "Eh, Allah lagi liat nih, jangan buka-buka yang aneh."


---


2. Jagain Diri di Era Digital: Jangan Sampai Cuma Dapet Lapar doang!


Zaman sekarang, cobaan bukan cuma nasi goreng atau es teh manis pas buka.

Tapi:


· Scroll medsos sampe lupa waktu.

· Liat foto/video yang "tepian maksiat".

· Pamer ibadah di IG story biar dibilang saleh.

· Riya dan ujub (pamer) yang kadang nggak sadar.


Nabi Muhammad ﷺ udah warning banget:

"Banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga."

(HR. Ibnu Majah)


Artinya, kalau hati kita nggak ikut puasa (masih iri, masih suka gibah, masih suka pamer), puasa kita cuma diet biasa, bukan ibadah.


Dalam hadis Qudsi, Allah bilang:

"Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya."

(HR. Bukhari dan Muslim)


Kenapa spesial? Karena puasa itu hidden gem-nya ibadah. Nggak ada yang tau kita puasa kecuali kita sendiri dan Allah. Ini latihan jujur yang paling intense.


Di kamar kos, sendirian, pas lagi nge-scroll HP dan tiba-tiba muncul konten "berbahaya" — yang nahan kita bukan orang lain, tapi takwa.


---


3. Puasa di Tengah Gempuran Teknologi: Bikin Hati Adem


Kita hidup di masa:


· Mau kemana aja gampang, pake ojek online.

· Sakit dikit bisa cek sendiri di internet.

· Chat sama orang di belahan dunia manapun cepet.


Tapi anehnya, kok hati masih galau? Kok masih insecure?


Jawabannya simpel: karena teknologi cuma mempermudah urusan dunia, tapi puasa yang bikin kita sadar buat nahan diri.


Allah bilang:

"Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."

(QS. Ar-Ra'd: 28)


Puasa itu bootcamp singkat buat ngelatih kita:


· Nggak gampang ngegas kalau lagi emosi.

· Nggak impulsif beli barang cuma karena diskon.

· Bisa nahan diri buat skip konten yang nggak bermanfaat.


Ini nih yang namanya tazkiyatul nufus — bersihin hati dari:


· Iri sama temen yang hidupnya keliatan lebih enak.

· Pamer (biar dibilang alim).

· Cinta banget sama dunia sampe lupa akhirat.


---


4. Muhasabah Yuk: Puasa Kita Tahun Ini Ngefek ke Jiwa Nggak Sih?


Coba refleksi dikit:


· Apa puasa bikin aku lebih sabar ngadepin keluarga/roommate?

· Apa puasa bikin aku bisa nahan mata buat nggak liat yang haram?

· Apa puasa bikin aku makin rajin shalat malam atau ngaji?


Nabi ﷺ bersabda:

"Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya."

(HR. Bukhari)


Intinya, puasa itu sekolah jiwa. Kalau abis Ramadhan kelakuan masih aja sama, ya berarti kita belum naik kelas. Mood swing masih gila-gilaan, masih suka ngomongin orang, masih main HP berjam-jam tanpa faedah.


---


5. Harapan: Ramadhan Adalah Momen Balik Lagi ke Jalan Allah


Sobat...


Nggak peduli seberapa dalem dosa kita.

Nggak peduli seberapa ruwet hidup kita.


Puasa adalah kesempatan reset tahunan. Ini panggilan halus dari Allah:


"Baliklah ke Aku. Aku kangen sama kamu."


Dalam hadis disebutkan:

"Setiap amal anak Adam dilipatgandakan. Kebaikan dibalas sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat…"

(HR. Muslim)


Coba bayangin kalo puasa kita diterima. Bakal jadi cheat code buat jadi pemenang di dunia yang makin chaos ini.


---


🙏 DOA (Biar Makin Adem)


Ya Allah...

Lo yang mewajibkan puasa biar kita jadi orang bertakwa.


Bersihin hati kita dari kecintaan dunia yang lebay.

Jadikan puasa kita bukan cuma sekedar nahan laper, tapi bener-bener jadi lampu di dalam dada.


Di jaman yang serba digital dan kadang bikin pusing ini,

jangan biarin hati kita lupa sama njenengan.


Jadikan kita hamba yang jujur di saat sepi,

khusyuk waktu sujud,

dan lembut akhlaknya sama orang lain.


Ampunin dosa-dosa kita, dosa keluarga kita.

Bimbing anak-anak kita jadi penyejuk hati.

Lapangkan rezeki kita yang halal dan berkah.


Ya Allah...

Jadikan akhir hidup kita dalam kondisi husnul khatimah.

Aamiin.


---


✨ Penutup


Semoga puasa kita tahun ini bukan cuma ritual tahunan, tapi bener-bener jadi "inner beauty" yang bikin hati kita adem dan hidup kita lebih berarti.


Makasih udah nyempetin baca dan ngerenungin bareng.

Semoga Allah catet kita sebagai orang-orang yang beneran bertakwa. Aamiin.


🤍 Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

.....