KEUTAMAAN MAJLIS ILMU: Memandang Wajah Orang Alim Lebih Baik dari Seribu Amal
Oleh: M. Djoko Ekasanu
Nabi Muhammad SAW berkata kepada sahabat Ibnu Mas'ud ra:
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ جُلُوسُكَ سَاعَةً فِي مَجْلِسِ الْعِلْمِ لَا تَمَسُّ فَلَمَّا وَلَا تَكْتُبُ حَرْفًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ عنقِ الْفِ رَقَبَةٍ وَنَظْرَكَ إِلى وَجْهِ الْعَالِمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ مِنْ أَلْفِ فَرَسٍ تَصَدَّقْتَ بِهَا فِي سبِيلِ اللهِ وَسَلَامُكَ عَلَى الْعَالَمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ عِبَادَةِ أَلْفِ سَنَةٍ
"Wahai Ibnu Mas'ud, dudukmu sesaat di dalam majlis ilmu, kamu tidak memegang pena dan tidak pula menulis satu huruf, itu lebih baik bagimu daripada memerdekakan 1000 budak. Pandangamu ke wajah orang yang alim, itu lebih baik bagimu daripada 1000 kuda yang kamu menyedekahkannya di jalan Allah, ucapan salammu kepada orang yang alim, itu lebih baik bagimu daripada beribadah 1000 tahun".
Ringkasan Redaksi Asli
Rasulullah ﷺ bersabda kepada sahabat Ibnu Mas‘ud ra:
"Wahai Ibnu Mas‘ud, dudukmu sesaat di dalam majlis ilmu, walau tidak menulis dan tidak memegang pena, lebih baik bagimu daripada memerdekakan seribu budak. Pandanganmu kepada wajah orang alim lebih baik bagimu daripada seribu kuda yang kamu sedekahkan di jalan Allah. Ucapan salammu kepada orang alim lebih baik bagimu daripada ibadah seribu tahun."
(Hadis Riwayat Ad-Dailami, dalam Musnad al-Firdaus)
Latar Belakang Masalah di Jamannya
Pada masa Rasulullah ﷺ, masyarakat Arab baru beralih dari zaman jahiliyah menuju masa ilmu dan wahyu. Banyak sahabat belum memahami nilai pengetahuan dibandingkan amal fisik seperti berperang, bersedekah, atau memerdekakan budak. Rasulullah menanamkan kesadaran bahwa ilmu adalah cahaya yang menuntun amal. Tanpa ilmu, amal hanya menjadi rutinitas tanpa arah menuju ridha Allah.
Sebab Terjadinya Masalah
Beberapa sahabat lebih menghargai ibadah lahiriah daripada ibadah ilmiah. Mereka mengira, pahala besar hanya datang dari sedekah, puasa, atau jihad. Padahal, Rasulullah ingin menegaskan bahwa berilmu dan dekat dengan ulama adalah kunci diterimanya amal. Maka beliau menasihati Ibnu Mas‘ud dengan perbandingan konkret — agar umat paham, nilai satu majlis ilmu bisa melampaui ribuan amal tanpa ilmu.
Intisari Masalah
Ilmu adalah pondasi segala amal. Duduk di majlis ilmu bukan sekadar mencari pengetahuan, tapi membuka hati agar diterangi oleh cahaya Allah melalui orang-orang alim. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa kehadiran fisik dan adab kepada ulama lebih penting dari sekadar aktivitas lahir.
Maksud, Hakikat, dan Tafsir Makna
1. Duduk di majlis ilmu berarti menghadirkan hati di hadapan cahaya kebenaran.
2. Tidak menulis pun tetap bernilai, karena kehadiran dengan adab membuka jalan bagi pemahaman batin.
3. Memandang wajah orang alim adalah simbol dari menatap cermin nur Ilahi, sebab ulama pewaris para nabi.
4. Menyalami orang alim berarti menyambung keberkahan ilmu dan sanad spiritual.
Tujuan dan Manfaat
- Menumbuhkan kesadaran bahwa ilmu lebih utama dari harta dan ibadah fisik.
- Membangun rasa hormat kepada ulama dan majlis ilmu.
- Menumbuhkan adab, kesopanan, dan kerendahan hati di hadapan orang berilmu.
- Menghidupkan kembali tradisi duduk di majlis taklim dan dzikir sebagai pusat pembinaan umat.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
-
Al-Qur’an:
“Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)“Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar: 9) -
Hadis:
“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)
Analisis dan Argumentasi
Hadis ini menunjukkan bahwa nilai ma’rifah (pengetahuan ruhani) lebih tinggi dari sekadar aktivitas jasmani. Duduk bersama orang berilmu bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi tawassul batin terhadap cahaya hikmah. Dalam Islam, ulama bukan hanya orang pandai, tapi juga pembawa warisan spiritual kenabian.
Memandang wajah orang alim ibarat memandang cermin ketenangan dan petunjuk Allah, karena dari wajahnya terpancar nur ilmu. Maka, adab kepada ulama menjadi bagian dari ibadah hati.
Relevansi Saat Ini
Di era modern, banyak orang sibuk mengejar materi dan karier, tetapi lupa mencari ilmu agama. Media sosial penuh dakwah instan, namun minim kehadiran majlis ilmu yang penuh adab. Hadis ini mengingatkan kita: datang ke majlis ilmu, menatap wajah guru, mendengar dengan khidmat — itu semua lebih bernilai daripada ribuan jam menonton ceramah daring tanpa adab dan niat.
Hikmah
- Ilmu adalah cahaya, amal adalah tubuhnya. Tanpa ilmu, amal menjadi gelap.
- Ulama adalah pelita zaman; menghormatinya berarti menghormati cahaya Allah.
- Duduk diam di majlis ilmu pun berpahala, karena niat mencari ridha Allah.
- Adab kepada guru mendahului pengetahuan dari guru.
Muhasabah dan Caranya
- Tanya diri: seberapa sering kita duduk di majlis ilmu dengan hati hadir?
- Adakah rasa rindu kepada ulama dan orang-orang saleh?
- Sudahkah kita menundukkan pandangan dan hati di hadapan ilmu Allah?
Caranya:
- Datangi majlis ilmu dengan wudhu, niat, dan pakaian bersih.
- Dengarkan tanpa menyela.
- Catat dengan hati, bukan hanya pena.
- Amalkan sedikit demi sedikit dari ilmu yang didapat.
Doa
“Ya Allah, jadikan kami ahli ilmu yang beradab, yang Engkau terangkan dengan cahaya hidayah. Lapangkan hati kami untuk mencintai ulama, dan kumpulkan kami kelak bersama mereka di surga-Mu. Amin.”
Nasehat Para Arif Billah
- Hasan al-Bashri: “Ilmu bukanlah dengan banyak riwayat, tapi cahaya yang Allah letakkan di hati.”
- Rabi‘ah al-Adawiyah: “Ilmu sejati ialah mengenal Allah, bukan sekadar mengenal hukum-Nya.”
- Abu Yazid al-Bistami: “Duduklah di hadapan guru dengan diam, sebab diam itu ucapan ruhani.”
- Junaid al-Baghdadi: “Ulama sejati ialah yang menjadi rahmat bagi muridnya.”
- Al-Hallaj: “Tatapan seorang alim bisa menghidupkan hati yang mati.”
- Imam al-Ghazali: “Belajarlah adab sebelum ilmu, sebab ilmu tanpa adab membawa kehancuran.”
- Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Barang siapa mencintai ulama, maka ia dicintai Allah.”
- Jalaluddin Rumi: “Satu tatapan dari guru yang ikhlas lebih kuat dari seribu kitab.”
- Ibnu ‘Arabi: “Guru adalah cermin tajalli Tuhan dalam wujud manusia.”
- Ahmad al-Tijani: “Hadiri majlis ilmu meski hanya sekejap, karena di sana Allah menurunkan rahmat-Nya.”
Daftar Pustaka
- Musnad al-Firdaus — Ad-Dailami
- Ihya’ Ulumiddin — Imam Al-Ghazali
- Futuh al-Ghaib — Syekh Abdul Qadir al-Jailani
- Ar-Risalah al-Qusyairiyyah — Imam al-Qusyairi
- Al-Hikam — Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari
- Mathnawi — Jalaluddin Rumi
- Futuhat al-Makkiyyah — Ibnu ‘Arabi
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para guru dan ulama yang telah menyalakan obor ilmu di tengah gelapnya zaman. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan cahaya kepada mereka, dan menjadikan kita termasuk golongan yang cinta kepada ilmu dan orang alim.
Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai tapi tetap sopan dan menjaga kehormatan makna teks aslinya.
KEUTAMAAN NONGKRONG DI MAJLIS ILMU: Lihat Wajah Orang Alim, Lebih Oke dari Seribu Amal
Penulis: M. Djoko Ekasanu
Cuplikan Hadis (Versi Original):
Nabi Muhammad SAW bilang ke sahabatnya, Ibnu Mas'ud ra:
يَا ابْنَ مَسْعُودٍ جُلُوسُكَ سَاعَةً فِي مَجْلِسِ الْعِلْمِ لَا تَمَسُّ فَلَمَّا وَلَا تَكْتُبُ حَرْفًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ عنقِ الْفِ رَقَبَةٍ وَنَظْرَكَ إِلى وَجْهِ الْعَالِمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ مِنْ أَلْفِ فَرَسٍ تَصَدَّقْتَ بِهَا فِي سبِيلِ اللهِ وَسَلَامُكَ عَلَى الْعَالَمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ عِبَادَةِ أَلْفِ سَنَةٍ
Terjemahan (Tetap Pakai Bahasa Standar): "Wahai Ibnu Mas'ud,dudukmu sesaat di dalam majlis ilmu, kamu tidak memegang pena dan tidak pula menulis satu huruf, itu lebih baik bagimu daripada memerdekakan 1000 budak. Pandangamu ke wajah orang yang alim, itu lebih baik bagimu daripada 1000 kuda yang kamu menyedekahkannya di jalan Allah, ucapan salammu kepada orang yang alim, itu lebih baik bagimu daripada beribadah 1000 tahun".
---
Gist-nya (Versi Santai):
Intinya, Rasulullah ﷺ lagi ngasih tau ke Ibnu Mas‘ud: "Bro, lo cuma duduk sesaat aja di majlis ilmu, gak pegang pulpen atau nulis satu huruf pun, itu udah lebih mantap nilainya daripada bikin 1000 budak merdeka. Liat aja wajah orang alim, itu lebih berfaedah daripada lo sedekahin 1000 kuda buat jihad. Cuma ngucapin 'Assalamu'alaikum' ke dia, pahalanya lebih gede daripada ibadah nonstop 1000 tahun!" (Hadis Riwayat Ad-Dailami, dalam Musnad al-Firdaus)
Konteks Zaman Dulu (Latar Belakang):
Bayangin, jaman dulu kan baru aja beralih dari masa jahiliyah ke era yang penuh cahaya ilmu wahyu. Banyak sahabat yang masih ngerasa ibadah fisik kayak sedekah harta atau perang itu yang paling top. Nabi pengen ngebalikin persepsi itu: ilmu itu fondasinya, bro! Tanpa ilmu, amal kita bisa jadi sekadar rutinitas tanpa arah yang bener.
Akar Masalahnya:
Singkatnya, ada yang mikir "yang penting action!" tanpa paham dasar ilmunya. Makanya Nabi kasih perbandingan yang super ekstrem ini biar pada melek, bahwa duduk diam aja di majlis ilmu itu bisa nyampein level pahala yang jauh lebih tinggi.
Inti dan Makna Deep-nya:
1. Duduk di Majlis Ilmu: Ini bukan sekadar nongkrong biasa. Ini tentang bawa hati dan pikiran buat nyerap "good vibes" dan cahaya kebenaran.
2. Gak Nulis Tetap Berfaedah: Nggak usah khawatir kalau lupa bawa notes. Yang penting hati dan adab lo udah ada di sana. Itu udah membuka pintu pemahaman yang lebih dalam.
3. Liat Wajah Orang Alim: Ini semacam metafora. Lihat wajah mereka itu kayak liat cermin yang memantulkan cahaya Allah, soalnya mereka kan penerus estafet para nabi.
4. Salam ke Orang Alim: Cuma satu salam aja, itu bukan cuma sapaan, tapi simbol nyambung keberkahan ilmunya dan "sanad spiritual"-nya.
Goals & Benefit Buat Kita:
· Ngingetin bahwa ilmu itu levelnya di atas harta dan amal fisik.
· Numbuhin rasa respect yang bener ke para ustadz, kyai, dan orang-orang alim.
· Ngingetin betapa pentingnya adab dan kerendahan hati di depan guru.
· Bikin kita semangat lagi buat datengin pengajian atau majlis taklim, yang itu adalah pusat "charging" iman dan ilmu.
Backup dari Sumber Utama (Al-Qur'an & Hadis):
Al-Qur'an: “Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”(QS. Al-Mujadilah: 11) “Katakanlah,apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
Hadis: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu,maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)
Kaitannya Sama Kehidupan Kita Sekarang:
Di era yang serba cepat dan digital ini, kita sering banget kejar target duniawi sampai lupa "nge-charge" ilmu agama. Banyak konten religi di medsos, tapi seringkali cuma sekadar scroll tanpa adab dan kehadiran hati. Hadis ini ngingetin kita: dateng langsung ke majlis ilmu, tatap wajah guru dengan khidmat, dengerin dengan serius — itu jauh lebih bernilai dan berberkah daripada nonton ribuan jam ceramah online sambil nge-scroll sosmed.
Hikmah Buat Renungan:
· Ilmu itu cahaya, amal itu tubuhnya. Tanpa ilmu, amal kita gelap gulita.
· Ulama itu kayak pelita di kegelapan; respect ke mereka = respect ke cahaya Allah.
· Bahkan duduk diam aja di majlis ilmu udah dapet pahala, asal niatnya bener.
· Adab ke guru itu nomor satu, baru ilmunya nyusul.
Self-Reflection (Muhasabah Diri):
· Seberapa sering gue bener-bener "hadir" di majlis ilmu, bukan cuma fisik doang?
· Ada nggak sih rasa kangen dan rindu buat ketemu dan belajar sama orang-orang shaleh?
· Udah bisa belum ya nurunin ego dan betulin niat setiap kali mau menuntut ilmu?
Tips Praktis:
1. Datang ke pengajian dengan kondisi udah wudhu, pakaian sopan, dan niat yang ikhlas.
2. Dengerin baik-baik, jangan sibuk sendiri atau ngobrol.
3. Catat yang penting di hati, nggak cuma di HP.
4. Coba praktikin, sedikit-sedikit, ilmu yang udah didapet.
Do'a (Tetap Pakai Bahasa Sopan):
“Ya Allah, jadikan kami ahli ilmu yang beradab, yang Engkau terangkan dengan cahaya hidayah. Lapangkan hati kami untuk mencintai ulama, dan kumpulkan kami kelak bersama mereka di surga-Mu. Amin.”
Kata-Kata Motivasi dari Para Legenda Spiritual (Tetap Pakai Bahasa Sopan):
· Hasan al-Bashri: “Ilmu itu bukan sekadar banyak hafalan, tapi cahaya yang Allah taruh di dalam hati.”
· Imam al-Ghazali: “Belajarlah adab dulu sebelum belajar ilmu, karena ilmu tanpa adab itu bahaya.”
· Jalaluddin Rumi: “Satu tatapan dari guru yang ikhlas, kekuatannya melebihi seribu buku.”
· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Siapa yang cinta sama ulama, berarti dia dicintai Allah.”
Daftar Pustaka (Tetap Formal):
Musnad al-Firdaus — Ad-Dailami Ihya' Ulumiddin— Imam Al-Ghazali Futuh al-Ghaib— Syekh Abdul Qadir al-Jailani ...dan lainnya(seperti pada teks asli).
Credit & Terima Kasih:
Big thanks untuk semua guru dan ustadz yang selalu nyebarin cahaya ilmu di tengah zaman yang kadang bikin pusing ini. Semoga Allah kasih kalian kesehatan dan keberkahan yang melimpah! Aamiin.

