Tuesday, October 28, 2025

KEUTAMAAN MAJLIS ILMU: Memandang Wajah Orang Alim Lebih Baik dari Seribu Amal

 



KEUTAMAAN MAJLIS ILMU: Memandang Wajah Orang Alim Lebih Baik dari Seribu Amal

Oleh: M. Djoko Ekasanu



Nabi Muhammad SAW berkata kepada sahabat Ibnu Mas'ud ra:

يَا ابْنَ مَسْعُودٍ جُلُوسُكَ سَاعَةً فِي مَجْلِسِ الْعِلْمِ لَا تَمَسُّ فَلَمَّا وَلَا تَكْتُبُ حَرْفًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ عنقِ الْفِ رَقَبَةٍ وَنَظْرَكَ إِلى وَجْهِ الْعَالِمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ مِنْ أَلْفِ فَرَسٍ تَصَدَّقْتَ بِهَا فِي سبِيلِ اللهِ وَسَلَامُكَ عَلَى الْعَالَمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ عِبَادَةِ أَلْفِ سَنَةٍ

"Wahai Ibnu Mas'ud, dudukmu sesaat di dalam majlis ilmu, kamu tidak memegang pena dan tidak pula menulis satu huruf, itu lebih baik bagimu daripada memerdekakan 1000 budak. Pandangamu ke wajah orang yang alim, itu lebih baik bagimu daripada 1000 kuda yang kamu menyedekahkannya di jalan Allah, ucapan salammu kepada orang yang alim, itu lebih baik bagimu daripada beribadah 1000 tahun".



Ringkasan Redaksi Asli

Rasulullah ﷺ bersabda kepada sahabat Ibnu Mas‘ud ra:

"Wahai Ibnu Mas‘ud, dudukmu sesaat di dalam majlis ilmu, walau tidak menulis dan tidak memegang pena, lebih baik bagimu daripada memerdekakan seribu budak. Pandanganmu kepada wajah orang alim lebih baik bagimu daripada seribu kuda yang kamu sedekahkan di jalan Allah. Ucapan salammu kepada orang alim lebih baik bagimu daripada ibadah seribu tahun."
(Hadis Riwayat Ad-Dailami, dalam Musnad al-Firdaus)


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, masyarakat Arab baru beralih dari zaman jahiliyah menuju masa ilmu dan wahyu. Banyak sahabat belum memahami nilai pengetahuan dibandingkan amal fisik seperti berperang, bersedekah, atau memerdekakan budak. Rasulullah menanamkan kesadaran bahwa ilmu adalah cahaya yang menuntun amal. Tanpa ilmu, amal hanya menjadi rutinitas tanpa arah menuju ridha Allah.


Sebab Terjadinya Masalah

Beberapa sahabat lebih menghargai ibadah lahiriah daripada ibadah ilmiah. Mereka mengira, pahala besar hanya datang dari sedekah, puasa, atau jihad. Padahal, Rasulullah ingin menegaskan bahwa berilmu dan dekat dengan ulama adalah kunci diterimanya amal. Maka beliau menasihati Ibnu Mas‘ud dengan perbandingan konkret — agar umat paham, nilai satu majlis ilmu bisa melampaui ribuan amal tanpa ilmu.


Intisari Masalah

Ilmu adalah pondasi segala amal. Duduk di majlis ilmu bukan sekadar mencari pengetahuan, tapi membuka hati agar diterangi oleh cahaya Allah melalui orang-orang alim. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa kehadiran fisik dan adab kepada ulama lebih penting dari sekadar aktivitas lahir.


Maksud, Hakikat, dan Tafsir Makna

1. Duduk di majlis ilmu berarti menghadirkan hati di hadapan cahaya kebenaran.
2. Tidak menulis pun tetap bernilai, karena kehadiran dengan adab membuka jalan bagi pemahaman batin.
3. Memandang wajah orang alim adalah simbol dari menatap cermin nur Ilahi, sebab ulama pewaris para nabi.
4. Menyalami orang alim berarti menyambung keberkahan ilmu dan sanad spiritual.


Tujuan dan Manfaat

  • Menumbuhkan kesadaran bahwa ilmu lebih utama dari harta dan ibadah fisik.
  • Membangun rasa hormat kepada ulama dan majlis ilmu.
  • Menumbuhkan adab, kesopanan, dan kerendahan hati di hadapan orang berilmu.
  • Menghidupkan kembali tradisi duduk di majlis taklim dan dzikir sebagai pusat pembinaan umat.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  1. Al-Qur’an:

    “Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”
    (QS. Al-Mujadilah: 11)

    “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?”
    (QS. Az-Zumar: 9)

  2. Hadis:

    “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
    (HR. Muslim)


Analisis dan Argumentasi

Hadis ini menunjukkan bahwa nilai ma’rifah (pengetahuan ruhani) lebih tinggi dari sekadar aktivitas jasmani. Duduk bersama orang berilmu bukan sekadar aktivitas sosial, tetapi tawassul batin terhadap cahaya hikmah. Dalam Islam, ulama bukan hanya orang pandai, tapi juga pembawa warisan spiritual kenabian.
Memandang wajah orang alim ibarat memandang cermin ketenangan dan petunjuk Allah, karena dari wajahnya terpancar nur ilmu. Maka, adab kepada ulama menjadi bagian dari ibadah hati.


Relevansi Saat Ini

Di era modern, banyak orang sibuk mengejar materi dan karier, tetapi lupa mencari ilmu agama. Media sosial penuh dakwah instan, namun minim kehadiran majlis ilmu yang penuh adab. Hadis ini mengingatkan kita: datang ke majlis ilmu, menatap wajah guru, mendengar dengan khidmat — itu semua lebih bernilai daripada ribuan jam menonton ceramah daring tanpa adab dan niat.


Hikmah

  • Ilmu adalah cahaya, amal adalah tubuhnya. Tanpa ilmu, amal menjadi gelap.
  • Ulama adalah pelita zaman; menghormatinya berarti menghormati cahaya Allah.
  • Duduk diam di majlis ilmu pun berpahala, karena niat mencari ridha Allah.
  • Adab kepada guru mendahului pengetahuan dari guru.

Muhasabah dan Caranya

  1. Tanya diri: seberapa sering kita duduk di majlis ilmu dengan hati hadir?
  2. Adakah rasa rindu kepada ulama dan orang-orang saleh?
  3. Sudahkah kita menundukkan pandangan dan hati di hadapan ilmu Allah?

Caranya:

  • Datangi majlis ilmu dengan wudhu, niat, dan pakaian bersih.
  • Dengarkan tanpa menyela.
  • Catat dengan hati, bukan hanya pena.
  • Amalkan sedikit demi sedikit dari ilmu yang didapat.

Doa

“Ya Allah, jadikan kami ahli ilmu yang beradab, yang Engkau terangkan dengan cahaya hidayah. Lapangkan hati kami untuk mencintai ulama, dan kumpulkan kami kelak bersama mereka di surga-Mu. Amin.”


Nasehat Para Arif Billah

  • Hasan al-Bashri: “Ilmu bukanlah dengan banyak riwayat, tapi cahaya yang Allah letakkan di hati.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Ilmu sejati ialah mengenal Allah, bukan sekadar mengenal hukum-Nya.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Duduklah di hadapan guru dengan diam, sebab diam itu ucapan ruhani.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Ulama sejati ialah yang menjadi rahmat bagi muridnya.”
  • Al-Hallaj: “Tatapan seorang alim bisa menghidupkan hati yang mati.”
  • Imam al-Ghazali: “Belajarlah adab sebelum ilmu, sebab ilmu tanpa adab membawa kehancuran.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Barang siapa mencintai ulama, maka ia dicintai Allah.”
  • Jalaluddin Rumi: “Satu tatapan dari guru yang ikhlas lebih kuat dari seribu kitab.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Guru adalah cermin tajalli Tuhan dalam wujud manusia.”
  • Ahmad al-Tijani: “Hadiri majlis ilmu meski hanya sekejap, karena di sana Allah menurunkan rahmat-Nya.”

Daftar Pustaka

  1. Musnad al-Firdaus — Ad-Dailami
  2. Ihya’ Ulumiddin — Imam Al-Ghazali
  3. Futuh al-Ghaib — Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  4. Ar-Risalah al-Qusyairiyyah — Imam al-Qusyairi
  5. Al-Hikam — Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari
  6. Mathnawi — Jalaluddin Rumi
  7. Futuhat al-Makkiyyah — Ibnu ‘Arabi

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru dan ulama yang telah menyalakan obor ilmu di tengah gelapnya zaman. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan cahaya kepada mereka, dan menjadikan kita termasuk golongan yang cinta kepada ilmu dan orang alim.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai tapi tetap sopan dan menjaga kehormatan makna teks aslinya.


KEUTAMAAN NONGKRONG DI MAJLIS ILMU: Lihat Wajah Orang Alim, Lebih Oke dari Seribu Amal


Penulis: M. Djoko Ekasanu


Cuplikan Hadis (Versi Original):


Nabi Muhammad SAW bilang ke sahabatnya, Ibnu Mas'ud ra:


يَا ابْنَ مَسْعُودٍ جُلُوسُكَ سَاعَةً فِي مَجْلِسِ الْعِلْمِ لَا تَمَسُّ فَلَمَّا وَلَا تَكْتُبُ حَرْفًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ عنقِ الْفِ رَقَبَةٍ وَنَظْرَكَ إِلى وَجْهِ الْعَالِمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ مِنْ أَلْفِ فَرَسٍ تَصَدَّقْتَ بِهَا فِي سبِيلِ اللهِ وَسَلَامُكَ عَلَى الْعَالَمِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ عِبَادَةِ أَلْفِ سَنَةٍ


Terjemahan (Tetap Pakai Bahasa Standar): "Wahai Ibnu Mas'ud,dudukmu sesaat di dalam majlis ilmu, kamu tidak memegang pena dan tidak pula menulis satu huruf, itu lebih baik bagimu daripada memerdekakan 1000 budak. Pandangamu ke wajah orang yang alim, itu lebih baik bagimu daripada 1000 kuda yang kamu menyedekahkannya di jalan Allah, ucapan salammu kepada orang yang alim, itu lebih baik bagimu daripada beribadah 1000 tahun".


---


Gist-nya (Versi Santai):


Intinya, Rasulullah ﷺ lagi ngasih tau ke Ibnu Mas‘ud: "Bro, lo cuma duduk sesaat aja di majlis ilmu, gak pegang pulpen atau nulis satu huruf pun, itu udah lebih mantap nilainya daripada bikin 1000 budak merdeka. Liat aja wajah orang alim, itu lebih berfaedah daripada lo sedekahin 1000 kuda buat jihad. Cuma ngucapin 'Assalamu'alaikum' ke dia, pahalanya lebih gede daripada ibadah nonstop 1000 tahun!" (Hadis Riwayat Ad-Dailami, dalam Musnad al-Firdaus)


Konteks Zaman Dulu (Latar Belakang):


Bayangin, jaman dulu kan baru aja beralih dari masa jahiliyah ke era yang penuh cahaya ilmu wahyu. Banyak sahabat yang masih ngerasa ibadah fisik kayak sedekah harta atau perang itu yang paling top. Nabi pengen ngebalikin persepsi itu: ilmu itu fondasinya, bro! Tanpa ilmu, amal kita bisa jadi sekadar rutinitas tanpa arah yang bener.


Akar Masalahnya:


Singkatnya, ada yang mikir "yang penting action!" tanpa paham dasar ilmunya. Makanya Nabi kasih perbandingan yang super ekstrem ini biar pada melek, bahwa duduk diam aja di majlis ilmu itu bisa nyampein level pahala yang jauh lebih tinggi.


Inti dan Makna Deep-nya:


1. Duduk di Majlis Ilmu: Ini bukan sekadar nongkrong biasa. Ini tentang bawa hati dan pikiran buat nyerap "good vibes" dan cahaya kebenaran.

2. Gak Nulis Tetap Berfaedah: Nggak usah khawatir kalau lupa bawa notes. Yang penting hati dan adab lo udah ada di sana. Itu udah membuka pintu pemahaman yang lebih dalam.

3. Liat Wajah Orang Alim: Ini semacam metafora. Lihat wajah mereka itu kayak liat cermin yang memantulkan cahaya Allah, soalnya mereka kan penerus estafet para nabi.

4. Salam ke Orang Alim: Cuma satu salam aja, itu bukan cuma sapaan, tapi simbol nyambung keberkahan ilmunya dan "sanad spiritual"-nya.


Goals & Benefit Buat Kita:


· Ngingetin bahwa ilmu itu levelnya di atas harta dan amal fisik.

· Numbuhin rasa respect yang bener ke para ustadz, kyai, dan orang-orang alim.

· Ngingetin betapa pentingnya adab dan kerendahan hati di depan guru.

· Bikin kita semangat lagi buat datengin pengajian atau majlis taklim, yang itu adalah pusat "charging" iman dan ilmu.


Backup dari Sumber Utama (Al-Qur'an & Hadis):


Al-Qur'an: “Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”(QS. Al-Mujadilah: 11) “Katakanlah,apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)


Hadis: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu,maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)


Kaitannya Sama Kehidupan Kita Sekarang:


Di era yang serba cepat dan digital ini, kita sering banget kejar target duniawi sampai lupa "nge-charge" ilmu agama. Banyak konten religi di medsos, tapi seringkali cuma sekadar scroll tanpa adab dan kehadiran hati. Hadis ini ngingetin kita: dateng langsung ke majlis ilmu, tatap wajah guru dengan khidmat, dengerin dengan serius — itu jauh lebih bernilai dan berberkah daripada nonton ribuan jam ceramah online sambil nge-scroll sosmed.


Hikmah Buat Renungan:


· Ilmu itu cahaya, amal itu tubuhnya. Tanpa ilmu, amal kita gelap gulita.

· Ulama itu kayak pelita di kegelapan; respect ke mereka = respect ke cahaya Allah.

· Bahkan duduk diam aja di majlis ilmu udah dapet pahala, asal niatnya bener.

· Adab ke guru itu nomor satu, baru ilmunya nyusul.


Self-Reflection (Muhasabah Diri):


· Seberapa sering gue bener-bener "hadir" di majlis ilmu, bukan cuma fisik doang?

· Ada nggak sih rasa kangen dan rindu buat ketemu dan belajar sama orang-orang shaleh?

· Udah bisa belum ya nurunin ego dan betulin niat setiap kali mau menuntut ilmu?


Tips Praktis:


1. Datang ke pengajian dengan kondisi udah wudhu, pakaian sopan, dan niat yang ikhlas.

2. Dengerin baik-baik, jangan sibuk sendiri atau ngobrol.

3. Catat yang penting di hati, nggak cuma di HP.

4. Coba praktikin, sedikit-sedikit, ilmu yang udah didapet.


Do'a (Tetap Pakai Bahasa Sopan):


“Ya Allah, jadikan kami ahli ilmu yang beradab, yang Engkau terangkan dengan cahaya hidayah. Lapangkan hati kami untuk mencintai ulama, dan kumpulkan kami kelak bersama mereka di surga-Mu. Amin.”


Kata-Kata Motivasi dari Para Legenda Spiritual (Tetap Pakai Bahasa Sopan):


· Hasan al-Bashri: “Ilmu itu bukan sekadar banyak hafalan, tapi cahaya yang Allah taruh di dalam hati.”

· Imam al-Ghazali: “Belajarlah adab dulu sebelum belajar ilmu, karena ilmu tanpa adab itu bahaya.”

· Jalaluddin Rumi: “Satu tatapan dari guru yang ikhlas, kekuatannya melebihi seribu buku.”

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Siapa yang cinta sama ulama, berarti dia dicintai Allah.”


Daftar Pustaka (Tetap Formal):


Musnad al-Firdaus — Ad-Dailami Ihya' Ulumiddin— Imam Al-Ghazali Futuh al-Ghaib— Syekh Abdul Qadir al-Jailani ...dan lainnya(seperti pada teks asli).


Credit & Terima Kasih:


Big thanks untuk semua guru dan ustadz yang selalu nyebarin cahaya ilmu di tengah zaman yang kadang bikin pusing ini. Semoga Allah kasih kalian kesehatan dan keberkahan yang melimpah! Aamiin.


KEMATIAN IBLIS DAN KEHIDUPAN PARA SYUHADA’.

 




🕋 KEMATIAN IBLIS DAN KEHIDUPAN PARA SYUHADA’

Refleksi atas Tiupan Sangkakala dan Hakikat Kehidupan Setelah Kematian

Oleh: M. Djoko Ekasanu



Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan kepada Israfil agar meniup sekali lagi untuk mematikan. Maka Israfil meniup (sangkala itu) dan ia berkata: “Hai ruh-ruh yang telanjang, keluarlah dengan perintah Allah Ta’ala.” Lalu binasalah ruh itu, akhirnya matilah seluruh penduduk langit dan bumi kecuali makhluk yang dikehendaki oleh Allah. Ada yang mengatakan, mereka itu adalah para syuhada’, maka sesungguhnya mereka (para syuhada’) itu hidup di dekat Tuhan mereka, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati: bahkan (sebenarnya) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al Baqarah: 154)

Didalam hadits diriwayatkan, dari Nabi saw.: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu memuliakan pada para syuhada” lima kemuliaan, dan Allah tidak pernah memuliakan dengan lima kemuliaan itu pada seseorang, dan aku tidak (termasuk) salah satu yang menerima kemuliaan itu.”

Pertama: Sesungguhnya ruhnya para Nabi itu dicabut oleh malaikat maut, dan aku (Muhammad) demikian juga. Sedangkan ruhnya para syuhada’ itu dicabut oleh Allah Ta’ala.

Kedua: Sesungguhnya para Nabi itu dimandikan setelah kematiannya, dan aku, demikian juga. Sedangkan para syuhada’ itu tidak dimandikan (ketika matinya).

Ketiga: Sesungguhnya para Nabi itu (matinya) dikafani, dan aku, demikian juga. Sedangkan para syuhada’ itu matinya tidak dikafani.

Keempat: Sesungguhnya para Nabi itu (matinya) dinamakan dengan nama “mati”, dan aku, demikian juga. Dikatakan: Telah mati (meninggal) Nabi Muhammad saw., sedangkan para syuhada’ itu hidup, tidak dinamakan (kematiannya) itu dengan nama “mati”, tetapi dikatakan hidup.

Kelima: Sesungguhnya para Nabi itu sama memberi syafa’at di hari kiamat, dan aku, demikian juga. Sedangkan para syuhada’ itu memberi syafa’at setiap hari sampai pada hari kiamat.

Dan dikatakan didalam maknanya lafazh: “Illaa man SyaAllaah” yakni: yang tersisa ada jiwa 12 jiwa yaitu : Jibril, Israfil, Mikail Izrail as dan delapan malaikat yang membawa ‘Arasy.

Maka tetaplah dunia, dengan tanpa manusia, tanpa ada jin, tanpa ada setan dan tanpa ada bintang liar. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: Hai malaikat maut, sesungguhnya Aku menjadikan kamu menurut hitungannya para makhluk yang pertama sampai para makhluk yang terakhir, sebagai pembantu, dan Aku menjadikanmu memiliki kekuatannya penduduk langit dan bumi, sesungguhnya Aku memakaikan kamu pada hari ini dengan pakaian kemurkaan, maka turunlah dengan (membawa) kemurkaan-Ku dan cemeti-Ku kepada Iblis laknatullahi alaihi, berilah rasa kematian pada Iblis, bawalah pahitnya rasa mati (dari) makhluk yang dulu sampai makhluk yang terakhir kepada Iblis, dari jin dan manusia dengan dilipatgandakan, dan hendaklah yang menyertaimu itu dari malaikat Zabaniyah sebanyak 70.000, setiap seorang malaikat (membawa) rantai dari beberapa rantainya heraka Lazha kemudian Izrail memanggil-manggi malaikat agar membukakan seluruh pintu neraka, maka turunlah malaikat maut dengan membukakan pintu neraka. Turunnya malaikat maut itu dengan bentuk yang sebenarnya. Jikalau penduduk langit dan bumi yang ketujuh Ini melihat kepadanya, pasti mereka semua akan mati (karena bentuknya yang menakutkan). Lalu datanglah Izrail kepada Iblis kemudian memegangi iblis dengan pegangan yang kuat maka tiba-tiba iblis itu binasa, dan iblis itu mempunyai suara (rintihan) yang mengerikan, kalau sekiranya penduduk langit dan bumi mendengar suara (rintihannya) Iblis pasti sama binasa (mati), yang (disebabkan) dari suara itu. Lalu malaikat maut (Izrail) berkata: “Hai (makhluk) yang kotor, pasti akan aku rasakan kepadamu (sakitnya) kematian pada hari ini. Berapa dari umur yang kamu dapat? Dan berapa golongan yang kamu sesatkan?”

Kemudian iblis ini berlari ke arah timur, maka tiba-tiba malaikat sudah ada didekatnya. Terus menerus malaikat datang, dimana Iblis berlari itu, kemudian iblis berdiri di tengah-tengah dunia didekat kuburnya Nabi Adam as. seraya berkata: “Hai anak Adam, dari (sebab) arahmu aku menjadi makhluk yang diranjam dan dilaknati serta ditolak.” Maka ia berkata (lagi): “Hai malaikat maut, dengan gelas mana kamu memberi minuman aku? Dan dengan siksa apa kamu mencabut ruhku?” Maka malaikat Izrail berkata: “Dengan gelas minumannya neraka Lazha dan neraka sa’ir” Dan Iblis itu jatuh bangun di atas tanah, sehingga ketika (sampai) di suatu tempat dimana Iblis waktu itu diturunkan, dilaknati ditempat itu juga kemudian Zabaniyah benar-benar menikam kepada Iblis dengan beberapa tumbak, Zabaniyah mengambil Iblis lalu menikamnya lagi (dengan tumbak), maka pada akhirnya iblis itu tetap dalam keadaan naza’ dan sakaratul maut. Sesuatu yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala.


Ringkasan Redaksi Asli

Kisah ini menguraikan peristiwa akhir zaman ketika malaikat Israfil meniup sangkakala kedua kali untuk mematikan seluruh makhluk hidup. Tiupan itu menyebabkan seluruh penduduk langit dan bumi mati, kecuali makhluk yang Allah kehendaki: Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, dan delapan malaikat pemikul ‘Arasy.
Namun, para syuhada’ tetap hidup di sisi Tuhan mereka, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 154.
Diceritakan pula keistimewaan lima kemuliaan syuhada’ dibanding para nabi, serta akhir kehidupan Iblis yang dicabut nyawanya oleh malaikat Izrail dengan azab yang sangat dahsyat.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, sebagian orang meragukan kehidupan setelah mati. Banyak pula yang beranggapan bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Maka turunlah ayat-ayat dan hadis yang menjelaskan hakikat kematian, kebangkitan, serta kemuliaan para syuhada’.
Kisah ini juga muncul di kalangan ulama salaf untuk menggugah kesadaran manusia agar tidak tertipu oleh kehidupan dunia yang fana dan untuk memperingatkan akan datangnya hari yang pasti — hari tiupan sangkakala.


Sebab Terjadinya Masalah

Manusia sering melupakan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Mereka menyangka kematian adalah ketiadaan mutlak, padahal kematian hanyalah perpindahan ke alam yang lebih hakiki. Kisah ini hadir sebagai peringatan agar manusia kembali pada kesadaran tauhid dan tidak mengikuti langkah Iblis yang angkuh menolak perintah Allah.


Intisari Masalah

  1. Kehidupan setelah kematian adalah nyata.
  2. Syuhada’ tidak mati, tetapi hidup di sisi Allah.
  3. Iblis akhirnya mengalami kematian yang paling pedih.
  4. Tiupan sangkakala menjadi awal kehancuran seluruh alam.

Maksud dan Hakikat

Hakikat dari kisah ini bukan sekadar gambaran akhir zaman, melainkan peringatan ruhani bahwa kekuasaan Allah meliputi hidup dan mati.
Para syuhada’ menjadi lambang kehidupan abadi karena keikhlasan mereka. Sebaliknya, Iblis menjadi simbol kehancuran kesombongan dan penentangan terhadap perintah Ilahi.


Tafsir dan Makna dari Judul

“Kematian Iblis dan Kehidupan Para Syuhada” bermakna bahwa kematian bukanlah kehancuran, tetapi pembuka tabir bagi hakikat abadi.
Kehidupan para syuhada’ adalah kehidupan nurani di sisi Allah. Sedangkan kematian Iblis adalah kematian kehinaan, simbol hancurnya kebatilan di hadapan kebenaran.


Tujuan dan Manfaat

  • Menguatkan keyakinan terhadap hari akhir.
  • Mendidik jiwa agar menjauhi kesombongan Iblis.
  • Mengajak pembaca meneladani keikhlasan para syuhada’.
  • Menyadarkan bahwa hidup bukan untuk menumpuk dunia, tetapi menyiapkan diri menghadapi kematian yang pasti.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  1. QS. Al-Baqarah: 154

    “Janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah bahwa mereka mati; bahkan mereka hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.”

  2. QS. Az-Zumar: 68

    “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan siapa yang di bumi kecuali siapa yang Allah kehendaki.”

  3. Hadis Riwayat Muslim:

    “Sesungguhnya Allah menghidupkan kembali makhluk-Nya setelah tiupan kedua, lalu mereka berdiri menanti keputusan Tuhannya.”


Analisis dan Argumentasi

Kisah ini mengandung kedalaman teologis:

  • Tiupan Israfil adalah simbol kehendak mutlak Allah dalam mengatur hidup dan mati.
  • Syuhada’ hidup secara ruhani, menunjukkan bahwa kehidupan sejati adalah kehidupan spiritual.
  • Kematian Iblis melambangkan kehancuran ego, kesombongan, dan maksiat yang menolak kebenaran.

Secara sufistik, kematian bukanlah akhir, melainkan perjumpaan dengan Kekasih Sejati (Allah Ta’ala). Maka bagi orang yang beriman, kematian adalah awal dari keindahan, bukan ketakutan.


Relevansi Saat Ini

Di masa kini, manusia lebih takut kehilangan dunia daripada takut kehilangan iman.
Kisah ini menjadi cermin bagi masyarakat modern yang terbuai oleh materi dan melupakan ruh.
Kematian Iblis mengajarkan bahwa keangkuhan dan keserakahan akan berakhir dengan kehinaan, sedangkan keikhlasan dan pengorbanan akan membawa kehidupan abadi.


Hikmah

  1. Mati adalah kepastian; hanya amal yang akan tinggal.
  2. Ruh yang suci akan tetap hidup di sisi Allah.
  3. Kesombongan adalah akar kehancuran.
  4. Syahid bukan sekadar mati di medan perang, tapi setiap pengorbanan yang tulus demi kebenaran.

Muhasabah dan Caranya

  • Setiap malam, tanyakan pada diri sendiri: “Jika malam ini adalah malam terakhirku, apa yang aku bawa kepada Allah?”
  • Setiap amal, niatkan karena Allah semata, bukan untuk pujian.
  • Setiap doa, sertakan rasa takut dan harap, karena kehidupan adalah titipan.
  • Setiap dosa, segera bertobat, karena tiupan sangkakala tidak menunggu.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ إِذَا مَاتُوا فَهُمْ أَحْيَاءٌ عِنْدَكَ رُزِقُوا مِنْ فَضْلِكَ
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang apabila mati, mereka tetap hidup di sisi-Mu, diberi rezeki dari karunia-Mu.”


Nasehat Para Sufi

  • Hasan Al-Bashri:
    “Kematian adalah tamu yang pasti datang, maka siapkanlah hidangan amal yang terbaik baginya.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Aku tidak takut mati, karena di sana aku akan berjumpa dengan Kekasihku.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Barang siapa mengenal dirinya fana, maka dia hidup dengan kehidupan yang kekal.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Kematian adalah pakaian yang dijahit sesuai amalmu.”

  • Al-Hallaj:
    “Kematian bukan lenyap, tapi lahirnya kehidupan yang sejati.”

  • Imam al-Ghazali:
    “Orang berakal adalah yang menyiapkan bekal sebelum dipanggil.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Matikan dirimu dari hawa nafsu, sebelum engkau dimatikan oleh Izrail.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Kematian adalah pintu menuju pesta pertemuan dengan Sang Kekasih.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Tiada kematian, hanya perubahan bentuk keberadaan.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Barang siapa mengenal kematian sebagai anugerah, dia akan hidup dalam ketenangan sebelum mati.”


Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Shahih Muslim
  3. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  4. Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Maqamat al-Sufiyyah – Junaid al-Baghdadi
  6. Mathnawi Ma’nawi – Jalaluddin Rumi
  7. Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
  8. Riwayat Hikmah Hasan al-Bashri dan Rabi‘ah al-Adawiyah

Ucapan Terima Kasih

Segala puji bagi Allah yang menurunkan Al-Qur’an sebagai cahaya penunjuk bagi hati.
Terima kasih kepada para guru ruhani, para ulama, dan pembaca yang senantiasa mencari hikmah di balik setiap ayat dan kisah.
Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah bagi penulis dan pembacanya.


Oke, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai tapi tetap sopan dan menghormati konten religiusnya. ✨


---


🕋 KEMATIAN IBLIS & HIDUPNYA PARA SYUHADA’


Refleksi: Tiupan Sangkakala dan Rahasia Hidup Setelah Mati


Oleh: M. Djoko Ekasanu


Versi: Santai & Easy to Digest


Jadi gini, ceritanya Allah SWT kasih perintah ke Malaikat Israfil buat tiup sangkakala yang kedua kalinya—yang bikin semuanya bye-bye. Israfil pun niup sambil bilang: “Eh para ruh yang lagi no cover, keluar kalian atas perintah Allah!” Langsung deh, semua ruh pada cabut. Mati total semua yang di langit dan bumi, kecuali yang Allah kasih free pass. Katanya sih, yang dikecualiin itu para syuhada’. Mereka itu literally hidup di sisi Tuhan, sesuai firman-Nya:


“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah (bahwa mereka itu) mati: bahkan (sebenarnya) hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (QS. Al Baqarah: 154)


Nah, di hadits juga disebutin, Rasulullah ﷺ bilang: “Allah kasih lima privilege khusus buat para syuhada’, yang bahkan nggak dikasih ke siapa pun—termasuk gue.”


Apa aja lima privilege-nya? Cek ini:


1. Urusan Cabut Nyawa: Para Nabi dicabut nyawanya sama Malaikat Maut, termasuk Nabi Muhammad. Tapi para syuhada’? Langsung sama Allah sendiri. Levelnya beda!

2. Urusan Mandi: Para Nabi dimandikan pas udah wafat, Nabi Muhammad juga. Tapi syuhada’? Enggak usah dimandikan. They’re good to go.

3. Urusan Kafan: Para Nabi dikafanin, Nabi Muhammad juga. Tapi syuhada’? Langsung packing tanpa kafan.

4. Status “Hidup” atau “Mati”: Para Nabi disebut “wafat” atau “meninggal”. Tapi syuhada’? Mereka tetap alive di sisi Allah, jadi jangan bilang mereka mati.

5. Bisa Kasih Syafaat: Para Nabi bisa kasih syafaat di hari kiamat, termasuk Nabi Muhammad. Tapi syuhada’? Bisa kasih syafaat every single day sampe kiamat. Beneran full-time syafaat!


Oya, tentang yang dikecualiin tadi (“Illaa man Syaa Allah”), konon yang masih hidup waktu itu cuma 12 jiwa: Jibril, Israfil, Mikail, Izrail, plus 8 malaikat lagi yang lagi duty angkut ‘Arasy.


Jadilah dunia sepiiii banget. Nggak ada manusia, jin, setan, atau bintang liar. Lalu Allah bilang ke Malaikat Maut (Izrail): “Hai Izrail, dulu Aku bikin lo jadi assistant buat urus nyawa semua makhluk dari yang pertama sampe yang terakhir. Aku kasih lo kekuatan buat urus penduduk langit dan bumi. Nah, hari ini Aku kasih lo outfit kemurkaan. Turun lo bawa kemurkaan-Ku plus cemeti-Ku, temuin Iblis yang terkutuk itu. Kasih dia rasa mati—rasa pahit matinya semua makhluk dari dulu sampe sekarang, lo kumpulin semua, lo tunjukin ke dia, lo lipat gandakan. Bawa 70.000 malaikat Zabaniyah, bawa rantai dari neraka Heraka Lazha, buka semua pintu neraka!”


Izrail pun turun dengan wujud aslinya yang super intense. Kalau aja penduduk langit dan bumi liat, bisa collapse semua. Dia dateng ke Iblis, pegang kuat-kuat, dan Iblis langsung ngos-ngosan. Rintihannya ngeri banget—kalau ada yang dengar, bisa mati semua. Izrail bilang: “Eh makhluk kotor! Hari ini gue kasih lo rasa mati. Berapa umur yang lo pake? Berapa banyak orang yang lo sesatin?”


Iblis kabur ke timur, eh malaikat udah nunggu. Ke barat, udah ada. Akhirnya dia berhenti di tengah dunia, dekat kuburan Nabi Adam. Dia ngomel: “Hai anak Adam, gara-gara lo gue jadi dikutuk dan dirajam!” Lalu dia nanya ke Izrail: “Lo mau kasih minum gue pake gelas apa? Mau cabut nyawa gue pake siksaan apa?” Izrail jawab: “Pake gelas neraka Lazha dan Sa’ir!”


Iblis jatuh bangun, sampe akhirnya dia balik ke tempat dia dulu diturunin dan dikutuk. Zabaniyah langsung serang pake tombak. Ditusuk sekali, dua kali… Iblis tetap naza’ dan sakaratul maut, sampe Allah kasih final call.


---


📌 Ringkasan Versi Santai:


· Tiupan sangkakala kedua bikin semuanya mati, kecuali yang Allah kasih special pass: Jibril, Mikail, Israfil, Izrail, + 8 malaikat pembawa ‘Arasy.

· Tapi para syuhada’ tetep hidup di sisi Allah—mereka nggak mati, cuma kita yang nggak nyadar.

· Iblis akhirnya mati juga, dengan cara yang super painful dan direstui sama Allah.


---


🎙️ Latar Belakang & Konteks Zaman Dulu


Dulu pas zaman Rasulullah ﷺ, banyak yang masih ragu sama kehidupan setelah mati. Ada yang mikir mati ya udah, finish. Makanya turun ayat dan hadits yang jelasin: hidup setelah mati itu beneran ada, dan syuhada’ itu hidup abadi di sisi Allah.


Kisah ini juga sering diceritain ulama jaman dulu buat ngingetin kita: jangan sampe keasyikan dunia sampe lupa akhirat.


---


🧠 Intisari & Makna


· Hidup setelah mati itu real.

· Syuhada’ itu hidup, bukan mati.

· Iblis akhirnya mati juga dengan cara yang nggak enak.

· Tiupan sangkakala = tanda dunia reset.

· Hakikatnya: Allah yang pegang kendali hidup-mati. Jangan sombong, jangan ikutin Iblis.


---


💡 Relevansi Buat Kita Sekarang


Sekarang banyak yang takut miskin, takut nggak populer, takut nggak punya followers… tapi lupa takut sama akhirat. Kisah ini ngingetin: yang abadi itu amal, bukan harta atau jabatan.


Iblis = simbol kesombongan. Syuhada’ = simbol pengorbanan tulus. Pilih yang mana?


---


🕊️ Hikmah Buat Hidup Sehari-hari


· Mati itu pasti, yang beda cuma amalnya.

· Ruh yang bersih tetap hidup dekat sama Allah.

· Jauhin sombong, deketin ikhlas.

· Syahid nggak cuma di medan perang, tapi juga setiap kali kita berkorban demi kebenaran.


---


📖 Dalil Pendukung


· QS. Al-Baqarah: 154 — jangan bilang syuhada’ mati.

· QS. Az-Zumar: 68 — tiupan sangkakala, mati semua kecuali yang Allah kehendaki.

· Hadits Muslim — Allah hidupkan lagi makhluk-Nya setelah tiupan kedua.


---


🫂 Muhasabah Diri (Cara Ngecek Hati)


· Sebelum tidur, tanya diri: “Kalau malam ini terakhir, apa yang udah gue siapin buat ketemu Allah?”

· Niatin semua amal karena Allah, bukan biar dipuji.

· Setiap baca doa, tambahin rasa takut dan harap.

· Kalau salah, buruan tobat. Jangan nunggu tua.


---


🙏 Doa Penutup


Allahumma-j’alna minal ladzina idza matu fa hum ahyā’un ‘indaka, urzuqu min fadhlika.

“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yang kalo udah mati, tetap hidup di sisi-Mu, dikasih rezeki dari karunia-Mu.”


---


💬 Nasehat Sufi Singkat Buat Anak Zaman Now


· Hasan Al-Bashri: “Mati itu tamu pasti dateng. Siapin hidangan terbaik: amal.”

· Rabi’ah al-Adawiyah: “Gue nggak takut mati, soalnya di sana ketemu Kekasih.”

· Jalaluddin Rumi: “Mati itu pintu masuk pesta ketemu Sang Kekasih.”

· Imam Al-Ghazali: “Orang pinter itu yang siapin bebas sebelum dipanggil.”


---


Semoga versi ini bikin kita makin sadar: hidup cuma sebentar, yang abadi cuma sama Dia.

Stay humble, stay faithful! ✌️😊


Terima kasih buat semua guru dan kalian yang mau baca & renungi.

Semoga jadi amal jariyah buat kita semua. Aamiin.

------