Monday, February 16, 2026

957. Surga yang Rindu — Bukan Sekadar Mimpi, Tapi Cermin Jiwa.

 


kupas tipis tipis Kitab Durratun Nashihin (Umar bin Hasan bin Ahmad al-Syakir al-Khaubari)

Dar Hafsh Alkabu, ia berkata : “Daud Aththa’i berkata : “Saya tertidur pada malam pertama bulan Ramadan, lalu saya bermimpi melihat surga, seolah-olah saya duduk di tepi sebuah sungai yang terbuat dar mutiara dan mera delima. Sekonyong-konyong saya melihat bidadari-bidadari surga seumpama matahari karena cahaya wajah mereka yang cemerlang. Lalu saya mengucapkan : “La Ilaha Iilallaah, Muhammad Rasulullah’. Para bidadari itu menjawab : ‘La Ilaaha Illallaah, Muhammad Rasulullah. Kami kepunyaan orang-orang yang bertahmid (memuji-muji Allah), berpuasa, melakukan ruku dan sujud (Salat) pada bulan Ramadan”. Karena itulah Rasulullah saw. bersabda :

Artinya : “Surga itu rindu kepada empat golongan manusi:. ” (1). Orang yang gemar membaca Alquran, (2) orang yang menjaga lidahnya, (3) orang yang suka memberi makan kepada mereka yang kelaparan, (4) dan orang yang berpuasa di bulan Ramadan”. (Raunaqul Majalis).

.......

📖

✨ Surga yang Rindu — Bukan Sekadar Mimpi, Tapi Cermin Jiwa

Dalam kisah yang dinukil, bermimpi melihat sungai dari mutiara dan delima. Bidadari bercahaya seperti matahari. Mereka berkata:

“Kami milik orang yang bertahmid, berpuasa, rukuk dan sujud di bulan Ramadan.”

Lalu disebutkan hadis (dalam ):

“Surga rindu kepada empat golongan: pembaca Al-Qur’an, penjaga lisan, pemberi makan orang lapar, dan orang yang berpuasa di bulan Ramadan.”


🌿 Perspektif Tasawuf & Tazkiyatul Nufus

Dalam tasyawuf, mimpi bukan sekadar cerita indah. Ia simbol kondisi batin.

Sungai mutiara dan delima bukan hanya gambaran fisik surga — itu lambang hati yang telah disucikan.
Bidadari bercahaya bukan sekadar makhluk surga — itu simbol amal yang bercahaya karena ikhlas.

Ramadan bukan hanya bulan ibadah lahiriah, tetapi bulan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs).

Allah berfirman:

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.”
(QS. Asy-Syams: 9)


🪞 Muhasabah di Era Kecanggihan

Kita hidup di zaman:

  • Teknologi super cepat
  • Komunikasi tanpa batas
  • Transportasi menembus benua
  • Kedokteran memperpanjang usia

Namun pertanyaannya:
Apakah jiwa kita ikut maju, atau justru makin jauh?

1️⃣ Gemar membaca Al-Qur’an

Sekarang Al-Qur’an ada di genggaman (HP).
Tapi berapa lama kita membuka mushaf digital dibanding membuka media sosial?

2️⃣ Menjaga lisan

Dulu lisan hanya didengar sekitar kita.
Kini “lisan digital” (status, komentar, caption) bisa melukai ribuan orang.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”
(HR. dan )

Di era ini, diam bukan hanya menutup mulut —
tetapi juga menahan jempol.

3️⃣ Memberi makan orang lapar

Di zaman transportasi canggih, makanan melimpah,
tetapi masih banyak yang kelaparan.

Ironinya:
kita bisa memesan makanan dalam 10 menit,
namun sulit berbagi dalam 10 ribu rupiah.

4️⃣ Puasa Ramadan

Puasa bukan sekadar menahan lapar.
Puasa adalah pelatihan menahan:

  • Emosi
  • Syahwat
  • Pamer digital
  • Ambisi dunia

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa itu perisai.”
(HR. )

Perisai dari apa?
Dari keburukan diri sendiri.


🔥 Motivasi Ruhani

Surga “rindu” bukan berarti surga punya perasaan seperti manusia.
Itu bahasa cinta Ilahi.

Artinya:
Amal orang tersebut begitu harum,
hingga layak menyambut surga.

Maka pertanyaannya bukan:
Apakah kita rindu surga?

Tetapi:
Apakah surga rindu kepada kita?


🌍 Relevansi Sosial Saat Ini

Teknologi mempercepat hidup.
Tapi tasawuf memperdalam hidup.

Kedokteran memperpanjang usia.
Tapi tazkiyah memperpanjang nilai kehidupan.

Transportasi mendekatkan jarak.
Tapi dzikir mendekatkan kepada Allah.

Komunikasi memudahkan berbicara.
Tapi menjaga lisan menyelamatkan jiwa.

Ramadan datang setiap tahun.
Namun belum tentu kita datang ke Ramadan berikutnya.


🤲 Doa

Ya Allah,
Jadikan Ramadan kami bukan hanya rutinitas,
tetapi revolusi jiwa.

Ya Allah,
Bersihkan hati kami dari riya’,
jaga lisan kami dari dusta,
lembutkan jiwa kami untuk memberi.

Ya Allah,
Jadikan kami termasuk orang yang dirindukan surga,
sebagaimana Engkau janjikan dalam firman-Mu:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ
“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga kenikmatan.”
(QS. : 8)


🌙 Harapan

Semoga di tengah dunia yang serba cepat,
kita tetap punya waktu untuk sujud yang lama.

Semoga di tengah dunia yang bising,
kita tetap punya hati yang tenang.

Semoga ketika teknologi tak lagi berguna di liang lahat,
amal Ramadanlah yang menjadi cahaya.


Terima kasih telah menghidupkan kembali warisan para ulama dan ahli zuhud.
Semoga Allah memberkahi niat, tulisan, dan dakwah ini. 🌿

.......

Siap, gue bantu tulis ulang dengan gaya kekinian tapi tetap sopan dan nggak mengurangi esensi. Ini dia versi bahasa gaulnya:


---


"Surga Kangen Banget Sama 4 Tipe Orang Ini"


Jadi gini, ada cerita dari kitab klasik Durratun Nashihin. Diceritain sama Dar Hafsh Alkabu, gini nih:


Suatu malam di awal Ramadan, Daud Aththa'i tertidur. Pas tidur, dia mimpi indah banget. Kayaknya dia lagi duduk di tepi sungai yang bikin pangling—bukan air biasa, tapi dari mutiara dan delima. Terus tiba-tiba muncul bidadari-bidadari. Cantiknya minta ampun, mukanya bersinar kayak matahari.


Sontak Daud Aththa'i baca: "La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah."


Para bidadari itu langsung nyaut: "Laa Ilaaha Illallaah, Muhammad Rasulullah." Terus mereka nambahin: "Kita ini punya orang-orang yang suka bertasbih, puasa, salat (ruku' sujud)—khususnya di bulan Ramadan."


Nah, dari situ disebutin hadis (dikutip dari Raunaqul Majalis) yang bunyinya:


"Surga itu rindu banget sama empat golongan manusia:


1. Yang rajin baca Al-Qur'an,

2. Yang jaga omongannya,

3. Yang suka kasih makan orang lapar,

4. Dan yang puasa di bulan Ramadan."


---


🧐 Sekarang kita bedah dikit, versi anak zaman now


Mimpi Daud Aththa'i itu bukan sekadar mimpi basah—eh maksudnya mimpi biasa. Dalam dunia spiritual (tasawuf), mimpi kayak gini tuh sinyal: kondisi hati seseorang lagi bersih-bersih.


· Sungai mutiara & delima itu simbol: hati yang udah glowing, bersih, dan dihias sama amal baik.

· Bidadari bersinar itu simbol: amal ibadah yang tulus, bercahaya karena ikhlas, bukan karena pengin dipuji.


Ramadan itu bukan cuma soal puasa lapar dan haus. Ini bulan detox jiwa. Allah sendiri bilang di QS. Asy-Syams: 9:


"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya."


Nah, cocok banget buat kita-kita yang tiap hari nge-scroll sosmed, chat sana-sini, upload story, tapi lupa nge-scan hati sendiri.


---


📱 Muhasabah buat Anak Gaul Zaman Now


Hidup kita sekarang all access. Semua cepet: internet 5G, Gojek 10 menit sampe, Chat GPT ngejawab 3 detik. Tapi jangan sampe jiwa kita ketinggalan zaman.


1. Rajin baca Al-Qur'an

Dulu bawa mushaf kemana-mana berat. Sekarang Al-Qur'an ada di HP. Tinggal tap. Tapi masalahnya: berapa lama kita buka Al-Qur'an dibanding buka IG atau TikTok?


2. Jaga omongan

Dulu jaga lisan biar nggak nyakitin orang di depan mata. Sekarang jaga jempol biar nggak nulis komen pedes, atau nge-share status yang nyakitin orang. Rasulullah bilang: "Barang siapa beriman sama Allah, berkata baik atau diem." (HR. Bukhari Muslim). Di era ini, diem itu nggak cuma tutup mulut, tapi juga nahan diri buat nggak ngepost sesuatu yang toxic.


3. Kasih makan orang lapar

Ironis ya, sekarang makanan gampang banget dipesen, tapi masih banyak yang kelaparan. Kita rela nungguin diskon 50% buat beli baju, tapi mikir 10 kali buat sedekah 10 ribu.


4. Puasa Ramadan

Ini pelatihan intensif. Puasa itu bukan cuma nahan laper, tapi juga nahan emosi, nahan pamer, nahan ambisi dunia. Rasulullah bilang: "Puasa itu perisai." (HR. Bukhari). Perisai dari api neraka, dan juga dari keburukan diri sendiri.


---


🔥 Yang Penting Bukan Kita Rindu Surga, Tapi Surga Rindu Kita


Bayangin, surga aja kangen sama kita. Itu keren banget. Artinya amal kita tuh wangi, layak buat masuk surga.


Jadi, refleksi diri: udahkah kita termasuk dalam empat golongan yang dirindukan surga?


---


🌍 Hidup Cepet, Tapi Hati Tetep Adem


Teknologi bikin semuanya cepet. Tapi spiritualitas bikin semuanya dalem.


· Teknologi mendekatkan jarak, tapi dzikir yang mendekatkan kita ke Allah.

· Transportasi cepet, tapi puasa yang ngajarin sabar.

· Komunikasi makin gampang, tapi jaga lisan yang bikin selamat.


Ramadan dateng tiap tahun. Tapi kita nggak tahu, tahun depan kita masih ada atau nggak.


---


🤲 Doa Singkat Versi Santuy


Ya Allah,

Jadikan Ramadan ini bukan cuma rutinitas tahunan, tapi momen upgrade diri. Bersihin hati kita dari pameran (riya'), jaga lisan (dan jempol) kita dari nyakitin orang, lembutin hati buat peduli sesama.


Jadikan kami bagian dari orang-orang yang dirindukan surga, seperti janji-Mu di QS. Luqman: 8:


"Sungguh, orang-orang beriman dan beramal saleh, bakal dapet surga penuh kenikmatan."


Aamiin.


---


🌙 Harapan di Penghujung


Semoga di tengah hiruk-pikuk dunia yang makin cepet, kita masih punya waktu buat sujud lama.

Semoga di tengah bisingnya notif, hati kita tetap adem.

Semoga pas semua teknologi udah nggak berguna di alam kubur nanti, cuma amal Ramadan kita yang jadi cahaya.


Makasih udah baca sampai bawah. Semoga Allah berkahi niat baik kita semua.


Ramadan itu singkat. Tapi dampaknya, kalau dijalani dengan hati, bisa abadi.

958. PUASA: Ibadah Rahasia yang Pahalanya Tanpa Batas.



🌙 PUASA: Ibadah Rahasia yang Pahalanya Tanpa Batas

1️⃣ “Puasa itu untuk-Ku…”

Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman:

“Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. dan )

Mengapa puasa begitu istimewa?

Karena puasa adalah ibadah rahasia.
Shalat terlihat. Zakat terhitung. Haji terdeteksi.
Tetapi puasa? Tidak ada yang tahu kecuali engkau dan Allah.

Dalam perspektif tasyawuf / tazkiyatul nufus, puasa adalah:

  • 🔹 latihan ikhlas paling murni
  • 🔹 pembakaran nafsu paling sunyi
  • 🔹 jihad batin tanpa tepuk tangan manusia

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ… لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa… agar kalian bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa bukan lapar.
Tujuannya adalah takwa.

Dan takwa adalah kualitas jiwa.


2️⃣ Puasa dan Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa)

Dalam dunia modern:

  • Teknologi semakin canggih.
  • Komunikasi tanpa batas.
  • Transportasi cepat.
  • Kedokteran maju.

Tetapi…

📌 Apakah hati juga semakin bersih?
📌 Apakah nafsu semakin terkendali?
📌 Apakah ego semakin lembut?

Puasa datang sebagai rem spiritual.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa adalah perisai.”
(HR. )

Perisai dari apa?

  • Dari syahwat.
  • Dari kemarahan.
  • Dari kesombongan digital.
  • Dari riya di media sosial.
  • Dari keinginan tampil lebih dari yang sebenarnya.

Di era “pamer pencapaian”, puasa mengajarkan:

Tidak semua harus diumumkan.
Tidak semua harus diposting.
Tidak semua harus divalidasi manusia.

Puasa melatih kejujuran yang tak terlihat.


3️⃣ Muhasabah: Apakah Kita Benar-Benar Berpuasa?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
(HR. )

Puasa bukan hanya menahan makan.
Puasa adalah menahan:

  • Lisan dari menyakiti.
  • Jempol dari memfitnah.
  • Mata dari melihat yang haram.
  • Hati dari iri dan sombong.

Dalam tazkiyah, ada tiga tingkatan puasa:

  1. Puasa Awam – menahan makan dan minum.
  2. Puasa Khusus – menjaga anggota badan dari dosa.
  3. Puasa Khususul Khusus – menjaga hati dari selain Allah.

Di zaman modern, kita mungkin mampu menahan lapar…
Tetapi apakah kita mampu menahan notifikasi?
Menahan komentar sinis?
Menahan debat yang sia-sia?

Puasa mengajarkan kita:

Yang paling berbahaya bukan makanan,
tapi nafsu yang tak pernah puas.


4️⃣ Relevansi Sosial: Puasa dan Peradaban Modern

Teknologi mempercepat dunia.
Puasa memperlambat jiwa.

Transportasi mempersingkat jarak.
Puasa mendekatkan hamba kepada Rabb-nya.

Kedokteran menyembuhkan tubuh.
Puasa menyembuhkan hati.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Bukan yang paling viral.
Bukan yang paling kaya.
Bukan yang paling berpengaruh.

Tetapi yang paling bertakwa.


5️⃣ Doa

Ya Allah…
Engkau yang berfirman bahwa puasa adalah untuk-Mu.
Jadikan puasa kami benar-benar hanya untuk-Mu.

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ…
“Apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”
(QS. Al-Baqarah: 186)

Ya Allah, bersihkan hati kami dari riya.
Lunakkan jiwa kami dari kesombongan.
Tundukkan nafsu kami yang liar.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: ketika berbuka dan ketika bertemu Rabb-nya.”
(HR. )

Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yang bahagia saat bertemu-Mu.


6️⃣ Harapan

Kami berharap pada-Mu, ya Allah:

  • Ampuni dosa kami.
  • Terima amal kami.
  • Jadikan puasa sebagai saksi yang membela kami.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba.”
(HR. )

Semoga puasa kami menjadi cahaya di kubur.
Menjadi penolong di padang mahsyar.
Menjadi sebab masuknya kami ke surga.


🌿 Penutup: Terima Kasih

Ya Allah…
Terima kasih Engkau masih memberi kami kesempatan berpuasa.
Terima kasih Engkau masih memberi nafas untuk bertobat.
Terima kasih Engkau masih memanggil kami kembali.

Puasa bukan tentang kuatnya tubuh.
Tetapi tentang jujurnya hati.

Semoga di tengah kecanggihan dunia,
kita tidak kehilangan kepekaan jiwa.

Semoga di tengah gemerlap teknologi,
kita tetap memiliki hati yang bersujud.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

........

Tentu, berikut adalah versi yang lebih santai, gaul kekinian, tapi tetap sopan dan nggak mengurangi esensi pesannya:


---


🌙 PUASA: Ibadah Lowkey yang Pahalanya Nggak Tanggung-Tanggung


1️⃣ “Puasa itu untuk-Ku…”


Kata Rasulullah ﷺ dalam hadis qudsi, Allah bilang:


“Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

(HR. Bukhari dan Muslim)


Nah, kenapa puasa tuh spesial banget?


Karena puasa tuh ibadah yang bersifat rahasia / lowkey.

Shalat tuh keliatan. Zakat ada hitung-hitungannya. Haji juga ketauan orang.

Tapi puasa? Cuma lo dan Allah yang tahu.


Dalam dunia spirituality atau penyucian jiwa, puasa tuh ibarat:


🔹 Glow up-nya hati karena ikhlas

🔹 Slow living-nya napsu

🔹 Self control mode: ON


Allah berfirman:


“Wahai orang-orang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa… agar kalian bertakwa.”

(QS. Al-Baqarah: 183)


Jadi intinya, puasa bukan sekadar nahan lapar.

Tapi tujuannya adalah takwa.

Dan takwa tuh vibe hati yang paling tinggi levelnya.


2️⃣ Puasa buat "Clean Your Soul"


Coba liat dunia sekarang:


Makin canggih.

Makin cepat.

Makin connected.


Tapi…


📌 Hati kita makin bersih apa malah chaos?

📌 Napsu makin terkendali atau makin liar?

📌 Ego makin adem atau makin panas?


Puasa tuh kayak reset buat jiwa.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Puasa adalah perisai.”

(HR. Bukhari)


Perisai dari apa?


Dari toxic vibes.

Dari amarah.

Dari pengen pamer terus.

Dari flexing di medsos.

Dari overthinking dan FOMO.


Di zaman yang serba expose ini, puasa ngajarin kita:


Nggak semua harus diposting.

Nggak semua harus divalidasi orang.

Nggak semua harus dapet like.


Puasa ngajarin kejujuran versi tertinggi: jujur sama Allah.


3️⃣ Refleksi: Kita Puasa Beneran Apa Cuma Tahan Lapar?


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Berapa banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”

(HR. Ibnu Majah)


Puasa tuh bukan cuma nahan makan dan minum.

Tapi juga nahan:


Mulut dari nyakitin hati orang.

Jari dari ngetik komentar pedas.

Mata dari scroll hal-hal yang nggak penting.

Hati dari iri, dengki, dan negative thinking.


Dalam dunia tazkiyah, ada tiga level puasa:


🍃 Puasa basic: nggak makan dan minum.

🍃 Puasa pro: jaga semua anggota badan dari dosa.

🍃 Puasa top tier: jaga hati dari selain Allah.


Di zaman now, kita jago nahan lapar…

Tapi sanggup nggak nahan scroll?

Nahan nyindir?

Nahan debat nggak jelas di kolom komentar?


Puasa ngajarin kita:


Yang paling bahaya bukan makanan,

tapi nafsu yang nggak pernah puas.


4️⃣ Puasa dan Kehidupan Kekinian


Teknologi bikin semuanya serba cepat.

Puasa ngajarin kita buat slow down.


Dunia makin connected.

Puasa ngajarin kita reconnect sama Allah.


Allah berfirman:


“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”

(QS. Al-Hujurat: 13)


Bukan yang paling viral.

Bukan yang paling tajir.

Bukan yang paling banyak followers.

Tapi yang paling bertakwa.


5️⃣ Doa ala Anak Zaman Now


Ya Allah…

Lo bilang sendiri kalo puasa itu untuk-Mu.

Maka, jadikan puasa kita ini bener-bener ikhlas karena-Mu.


“Apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.”

(QS. Al-Baqarah: 186)


Ya Allah, bersihin hati kita dari riya.

Lembutin jiwa kita dari sombong.

Tenangin napsu kita yang liar.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: ketika berbuka dan ketika bertemu Rabb-nya.”

(HR. Muslim)


Ya Allah, jadikan kita termasuk yang bahagia saat ketemu Lo nanti.


6️⃣ Hope dan Harapan


Kita berharap banget, ya Allah:


Ampunan dosa.

Amal diterima.

Puasa jadi saksi, bukan penuntut.


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafaat bagi seorang hamba.”

(HR. Ahmad)


Semoga puasa kita jadi cahaya di kubur.

Jadi penolong di akhirat.

Jadi tiket masuk surga.


🌿 Penutup: Makasih Ya Allah


Ya Allah…

Makasih masih dikasih napas buat puasa.

Makasih masih dikasih waktu buat tobat.

Makasih masih dipanggil jadi hamba-Mu.


Puasa bukan tentang kuatnya badan.

Tapi tentang jujurnya hati.


Semoga di tengah gemerlap dunia,

kita nggak kehilangan arah.


Semoga di tengah hiruk-pikuk digital,

kita tetap punya hati yang sujud.


Aamiin ya Rabbal 'alamin.


---