kupas tipis tipis Kitab Durratun Nashihin (Umar bin Hasan bin Ahmad al-Syakir al-Khaubari)
Dar Hafsh Alkabu, ia berkata : “Daud Aththa’i berkata : “Saya tertidur pada malam pertama bulan Ramadan, lalu saya bermimpi melihat surga, seolah-olah saya duduk di tepi sebuah sungai yang terbuat dar mutiara dan mera delima. Sekonyong-konyong saya melihat bidadari-bidadari surga seumpama matahari karena cahaya wajah mereka yang cemerlang. Lalu saya mengucapkan : “La Ilaha Iilallaah, Muhammad Rasulullah’. Para bidadari itu menjawab : ‘La Ilaaha Illallaah, Muhammad Rasulullah. Kami kepunyaan orang-orang yang bertahmid (memuji-muji Allah), berpuasa, melakukan ruku dan sujud (Salat) pada bulan Ramadan”. Karena itulah Rasulullah saw. bersabda :
Artinya : “Surga itu rindu kepada empat golongan manusi:. ” (1). Orang yang gemar membaca Alquran, (2) orang yang menjaga lidahnya, (3) orang yang suka memberi makan kepada mereka yang kelaparan, (4) dan orang yang berpuasa di bulan Ramadan”. (Raunaqul Majalis).
.......
📖
✨ Surga yang Rindu — Bukan Sekadar Mimpi, Tapi Cermin Jiwa
Dalam kisah yang dinukil, bermimpi melihat sungai dari mutiara dan delima. Bidadari bercahaya seperti matahari. Mereka berkata:
“Kami milik orang yang bertahmid, berpuasa, rukuk dan sujud di bulan Ramadan.”
Lalu disebutkan hadis (dalam ):
“Surga rindu kepada empat golongan: pembaca Al-Qur’an, penjaga lisan, pemberi makan orang lapar, dan orang yang berpuasa di bulan Ramadan.”
🌿 Perspektif Tasawuf & Tazkiyatul Nufus
Dalam tasyawuf, mimpi bukan sekadar cerita indah. Ia simbol kondisi batin.
Sungai mutiara dan delima bukan hanya gambaran fisik surga — itu lambang hati yang telah disucikan.
Bidadari bercahaya bukan sekadar makhluk surga — itu simbol amal yang bercahaya karena ikhlas.
Ramadan bukan hanya bulan ibadah lahiriah, tetapi bulan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs).
Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.”
(QS. Asy-Syams: 9)
🪞 Muhasabah di Era Kecanggihan
Kita hidup di zaman:
- Teknologi super cepat
- Komunikasi tanpa batas
- Transportasi menembus benua
- Kedokteran memperpanjang usia
Namun pertanyaannya:
Apakah jiwa kita ikut maju, atau justru makin jauh?
1️⃣ Gemar membaca Al-Qur’an
Sekarang Al-Qur’an ada di genggaman (HP).
Tapi berapa lama kita membuka mushaf digital dibanding membuka media sosial?
2️⃣ Menjaga lisan
Dulu lisan hanya didengar sekitar kita.
Kini “lisan digital” (status, komentar, caption) bisa melukai ribuan orang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.”
(HR. dan )
Di era ini, diam bukan hanya menutup mulut —
tetapi juga menahan jempol.
3️⃣ Memberi makan orang lapar
Di zaman transportasi canggih, makanan melimpah,
tetapi masih banyak yang kelaparan.
Ironinya:
kita bisa memesan makanan dalam 10 menit,
namun sulit berbagi dalam 10 ribu rupiah.
4️⃣ Puasa Ramadan
Puasa bukan sekadar menahan lapar.
Puasa adalah pelatihan menahan:
- Emosi
- Syahwat
- Pamer digital
- Ambisi dunia
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa itu perisai.”
(HR. )
Perisai dari apa?
Dari keburukan diri sendiri.
🔥 Motivasi Ruhani
Surga “rindu” bukan berarti surga punya perasaan seperti manusia.
Itu bahasa cinta Ilahi.
Artinya:
Amal orang tersebut begitu harum,
hingga layak menyambut surga.
Maka pertanyaannya bukan:
Apakah kita rindu surga?
Tetapi:
Apakah surga rindu kepada kita?
🌍 Relevansi Sosial Saat Ini
Teknologi mempercepat hidup.
Tapi tasawuf memperdalam hidup.
Kedokteran memperpanjang usia.
Tapi tazkiyah memperpanjang nilai kehidupan.
Transportasi mendekatkan jarak.
Tapi dzikir mendekatkan kepada Allah.
Komunikasi memudahkan berbicara.
Tapi menjaga lisan menyelamatkan jiwa.
Ramadan datang setiap tahun.
Namun belum tentu kita datang ke Ramadan berikutnya.
🤲 Doa
Ya Allah,
Jadikan Ramadan kami bukan hanya rutinitas,
tetapi revolusi jiwa.
Ya Allah,
Bersihkan hati kami dari riya’,
jaga lisan kami dari dusta,
lembutkan jiwa kami untuk memberi.
Ya Allah,
Jadikan kami termasuk orang yang dirindukan surga,
sebagaimana Engkau janjikan dalam firman-Mu:
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيمِ
“Sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal saleh, bagi mereka surga kenikmatan.”
(QS. : 8)
🌙 Harapan
Semoga di tengah dunia yang serba cepat,
kita tetap punya waktu untuk sujud yang lama.
Semoga di tengah dunia yang bising,
kita tetap punya hati yang tenang.
Semoga ketika teknologi tak lagi berguna di liang lahat,
amal Ramadanlah yang menjadi cahaya.
Terima kasih telah menghidupkan kembali warisan para ulama dan ahli zuhud.
Semoga Allah memberkahi niat, tulisan, dan dakwah ini. 🌿
Siap, gue bantu tulis ulang dengan gaya kekinian tapi tetap sopan dan nggak mengurangi esensi. Ini dia versi bahasa gaulnya:
---
"Surga Kangen Banget Sama 4 Tipe Orang Ini"
Jadi gini, ada cerita dari kitab klasik Durratun Nashihin. Diceritain sama Dar Hafsh Alkabu, gini nih:
Suatu malam di awal Ramadan, Daud Aththa'i tertidur. Pas tidur, dia mimpi indah banget. Kayaknya dia lagi duduk di tepi sungai yang bikin pangling—bukan air biasa, tapi dari mutiara dan delima. Terus tiba-tiba muncul bidadari-bidadari. Cantiknya minta ampun, mukanya bersinar kayak matahari.
Sontak Daud Aththa'i baca: "La ilaha illallah, Muhammadur Rasulullah."
Para bidadari itu langsung nyaut: "Laa Ilaaha Illallaah, Muhammad Rasulullah." Terus mereka nambahin: "Kita ini punya orang-orang yang suka bertasbih, puasa, salat (ruku' sujud)—khususnya di bulan Ramadan."
Nah, dari situ disebutin hadis (dikutip dari Raunaqul Majalis) yang bunyinya:
"Surga itu rindu banget sama empat golongan manusia:
1. Yang rajin baca Al-Qur'an,
2. Yang jaga omongannya,
3. Yang suka kasih makan orang lapar,
4. Dan yang puasa di bulan Ramadan."
---
🧐 Sekarang kita bedah dikit, versi anak zaman now
Mimpi Daud Aththa'i itu bukan sekadar mimpi basah—eh maksudnya mimpi biasa. Dalam dunia spiritual (tasawuf), mimpi kayak gini tuh sinyal: kondisi hati seseorang lagi bersih-bersih.
· Sungai mutiara & delima itu simbol: hati yang udah glowing, bersih, dan dihias sama amal baik.
· Bidadari bersinar itu simbol: amal ibadah yang tulus, bercahaya karena ikhlas, bukan karena pengin dipuji.
Ramadan itu bukan cuma soal puasa lapar dan haus. Ini bulan detox jiwa. Allah sendiri bilang di QS. Asy-Syams: 9:
"Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya."
Nah, cocok banget buat kita-kita yang tiap hari nge-scroll sosmed, chat sana-sini, upload story, tapi lupa nge-scan hati sendiri.
---
📱 Muhasabah buat Anak Gaul Zaman Now
Hidup kita sekarang all access. Semua cepet: internet 5G, Gojek 10 menit sampe, Chat GPT ngejawab 3 detik. Tapi jangan sampe jiwa kita ketinggalan zaman.
1. Rajin baca Al-Qur'an
Dulu bawa mushaf kemana-mana berat. Sekarang Al-Qur'an ada di HP. Tinggal tap. Tapi masalahnya: berapa lama kita buka Al-Qur'an dibanding buka IG atau TikTok?
2. Jaga omongan
Dulu jaga lisan biar nggak nyakitin orang di depan mata. Sekarang jaga jempol biar nggak nulis komen pedes, atau nge-share status yang nyakitin orang. Rasulullah bilang: "Barang siapa beriman sama Allah, berkata baik atau diem." (HR. Bukhari Muslim). Di era ini, diem itu nggak cuma tutup mulut, tapi juga nahan diri buat nggak ngepost sesuatu yang toxic.
3. Kasih makan orang lapar
Ironis ya, sekarang makanan gampang banget dipesen, tapi masih banyak yang kelaparan. Kita rela nungguin diskon 50% buat beli baju, tapi mikir 10 kali buat sedekah 10 ribu.
4. Puasa Ramadan
Ini pelatihan intensif. Puasa itu bukan cuma nahan laper, tapi juga nahan emosi, nahan pamer, nahan ambisi dunia. Rasulullah bilang: "Puasa itu perisai." (HR. Bukhari). Perisai dari api neraka, dan juga dari keburukan diri sendiri.
---
🔥 Yang Penting Bukan Kita Rindu Surga, Tapi Surga Rindu Kita
Bayangin, surga aja kangen sama kita. Itu keren banget. Artinya amal kita tuh wangi, layak buat masuk surga.
Jadi, refleksi diri: udahkah kita termasuk dalam empat golongan yang dirindukan surga?
---
🌍 Hidup Cepet, Tapi Hati Tetep Adem
Teknologi bikin semuanya cepet. Tapi spiritualitas bikin semuanya dalem.
· Teknologi mendekatkan jarak, tapi dzikir yang mendekatkan kita ke Allah.
· Transportasi cepet, tapi puasa yang ngajarin sabar.
· Komunikasi makin gampang, tapi jaga lisan yang bikin selamat.
Ramadan dateng tiap tahun. Tapi kita nggak tahu, tahun depan kita masih ada atau nggak.
---
🤲 Doa Singkat Versi Santuy
Ya Allah,
Jadikan Ramadan ini bukan cuma rutinitas tahunan, tapi momen upgrade diri. Bersihin hati kita dari pameran (riya'), jaga lisan (dan jempol) kita dari nyakitin orang, lembutin hati buat peduli sesama.
Jadikan kami bagian dari orang-orang yang dirindukan surga, seperti janji-Mu di QS. Luqman: 8:
"Sungguh, orang-orang beriman dan beramal saleh, bakal dapet surga penuh kenikmatan."
Aamiin.
---
🌙 Harapan di Penghujung
Semoga di tengah hiruk-pikuk dunia yang makin cepet, kita masih punya waktu buat sujud lama.
Semoga di tengah bisingnya notif, hati kita tetap adem.
Semoga pas semua teknologi udah nggak berguna di alam kubur nanti, cuma amal Ramadan kita yang jadi cahaya.
Makasih udah baca sampai bawah. Semoga Allah berkahi niat baik kita semua.
Ramadan itu singkat. Tapi dampaknya, kalau dijalani dengan hati, bisa abadi.

