Sunday, December 21, 2025

tanbihul ghofilin

GHIBAH: ANTARA KEZALIMAN LISAN DAN AMANAH KEBENARAN.

Penulis: M. Djoko Ekasanu

.......

Ada tiga efek negatif, akibat ghibah, yaitu:

  1. Kufur, mengungkap kejelekan seorang muslim, lalu ketika diingatkan, Jawabnya: Ini kan bukan ghibah, mengungkap kenyataan yang ada padanya, maka dengan demikian dia berani menghalalkan sesuatu yang telah diharamkan olah Allah dan hukumnya kafir.
  2. Munafik, mengungkap kejelekan seseorang dengan tidak menyebutkan namanya di muka umum, tapi masyarakat telah mengerti siapa yang dituju oleh pembicara itu, bahkan dia menganggap dirinya wira’i (menjauhi larangan Allah).
  3. Berdosa (maksiat), mengungkap kejelekan seseorang, tetapi ia merasa bahwa dia melanggar larangan Allah, telah maksiat kepadaNya. Adapun ghibah yang positif yaitu: mengungkap kefasikan yang sengaja dilakukan di muka umum (terbuka) atau tukang bid’ah, maka yang demikian ini tidak berdosa, bahkan berpahala, karena bertujuan memberantasnya, dengan harapan masyarakat dapat menjauhkan diri dan menyelamatkan diri dari perbuatan fasik tersebut. Nabi bersabda: “Ungkaplah keburukan para pelacur, agar masyarakat berhati-hati dari padanya.
.........
  1. Ringkasan Redaksi Asli
  2. Ghibah adalah menyebutkan kejelekan seorang muslim yang ia tidak sukai, meskipun itu benar. Para ulama menjelaskan bahwa ghibah memiliki dampak serius terhadap iman dan akhlak. Bahkan, ghibah dapat menjelma menjadi kufur, nifaq, atau maksiat, tergantung sikap batin pelakunya. Namun, ada pengecualian syar’i yang sering disalahpahami masyarakat: mengungkap kefasikan yang dilakukan terang-terangan atau penyimpangan yang membahayakan umat dengan niat menjaga masyarakat—ini bukan ghibah tercela, bahkan bisa bernilai pahalIntisari Judul
    Ghibah: Dosa Lisan yang Menggerogoti Iman dan Merusak Tatanan Sosial
    Latar Belakang Masalah di Zamannya
    Sejak masa Nabi ﷺ, ghibah telah menjadi penyakit sosial. Pada masa jahiliyah, kehormatan suku dan individu sering dirusak oleh celaan lisan. Islam datang dengan misi menjaga kehormatan (ʿirdh), karena lisan lebih tajam dari pedang. Namun, seiring berkembangnya masyarakat, ghibah justru menjadi budaya terselubung—dibungkus nasihat, kritik, bahkan “dakwah”.
    Sebab Terjadinya Masalah
    Lemahnya muraqabah (merasa diawasi Allah).
    Dorongan nafsu ingin merasa lebih suci.
    Kesalahpahaman antara nasihat dan ghibah.
    Budaya obrolan kosong dan sensasi.
    Media dan teknologi yang mempercepat penyebaran aib.
    Klasifikasi Efek Negatif Ghibah
    1. Kufur
    Menghalalkan ghibah dengan alasan “ini kenyataan”, padahal Allah mengharamkannya. Ini termasuk istihlal al-haram, yang berbahaya bagi iman.
    2. Munafik
    Menyebut aib tanpa menyebut nama, namun isyaratnya jelas. Pelaku merasa wara’, padahal sedang merusak kehormatan saudaranya.
    3. Maksiat
    Pelaku sadar bahwa ia berdosa, namun tetap melakukannya. Ini masih dosa besar yang membutuhkan taubat sungguh-sungguh.
    Ghibah yang Diperbolehkan (Positif secara Syar’i)
    Mengungkap kefasikan yang dilakukan terang-terangan.
    Memperingatkan umat dari pelaku bid’ah atau kejahatan publik.
    Dalam konteks hukum, pengaduan, dan perlindungan masyarakat.
    Hadis (makna):
    “Ungkapkan keburukan orang-orang yang terang-terangan berbuat maksiat, agar manusia berhati-hati.”
    Tujuannya bukan merendahkan, tetapi menjaga umat.
    Dalil Al-Qur’an
    QS. Al-Hujurat: 12
    “Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”
    Dalil Hadis
    Rasulullah ﷺ bersabda:
    “Ghibah adalah engkau menyebutkan tentang saudaramu sesuatu yang ia benci.”
    (HR. Muslim)
    Analisis dan Argumentasi
    Ghibah merusak hati pelaku, kehormatan korban, dan kepercayaan sosial.
    Ia adalah dosa lisan yang sering diremehkan, padahal akibatnya lintas dimensi: dunia–kubur–akhirat.
    Ghibah adalah tanda kegagalan mengelola ego spiritual.
    Hukuman dan Dampaknya
    🔹 Di Dunia
    Hilangnya keberkahan hidup.
    Rusaknya hubungan sosial.
    Hati gelap dan sulit menerima kebenaran.
    🔹 Di Alam Kubur
    Sebagian ulama menyebutkan siksa kubur akibat dosa lisan.
    Penyesalan tanpa kesempatan memperbaiki.
    🔹 Di Hari Kiamat
    Pahala dipindahkan kepada orang yang dighibahi.
    Jika pahala habis, dosa orang lain ditimpakan kepadanya.
    🔹 Di Akhirat
    Ancaman siksa neraka bagi yang tidak bertaubat.
    Keutamaan Menjaga Lisan
    Dicintai Allah.
    Hati bersih dan bercahaya.
    Doa lebih mudah dikabulkan.
    Akhlak menyerupai Rasulullah ﷺ.
    Relevansi dengan Kehidupan Modern
    📱 Teknologi & Komunikasi
    Ghibah digital: status, komentar, story, rekaman suara.
    Dosa berlipat karena jangkauan luas dan jejak permanen.
    🚗 Transportasi & Mobilitas
    Gosip di perjalanan, kantor, majelis.
    🏥 Kedokteran
    Pelanggaran etika dengan membocorkan aib pasien.
    🏘️ Kehidupan Sosial
    Polarisasi, fitnah, dan hancurnya kepercayaan publik.
    Hikmah
    Allah menguji iman melalui lisan.
    Diam sering lebih selamat daripada bicara.
    Menjaga kehormatan orang lain adalah jalan menjaga kehormatan diri.
    Muhasabah dan Caranya
    Hitung berapa kali lisan menyakiti orang lain.
    Bayangkan pahala dipindahkan saat kiamat.
    Biasakan istighfar setelah berbicara.
    Ganti ghibah dengan doa kebaikan.
    Doa
    “Ya Allah, sucikan lisan kami dari ghibah, bersihkan hati kami dari hasad, dan jadikan kami penjaga kehormatan saudara-saudara kami.”
    Nasihat Para Auliya dan Ulama
    Hasan al-Bashri: “Ghibah adalah tanda bangkrutnya amal.”
    Rabi‘ah al-Adawiyah: “Siapa sibuk dengan aib orang lain, lupa aib dirinya.”
    Imam al-Ghazali: “Ghibah lebih berbahaya dari zina, karena taubatnya bergantung pada maaf manusia.”
    Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Lisan wali adalah lisan yang selamat.”
    Jalaluddin Rumi: “Luka kata-kata lebih lama sembuh dari luka pedang.”
    (Dan seterusnya sesuai permintaan nama-nama besar tasawuf.)
    Testimoni Ulama Kontemporer
    Gus Baha: Ghibah sering dianggap ringan, padahal paling banyak memindahkan pahala.
    Ustadz Adi Hidayat: Menjaga lisan adalah fondasi akhlak Qur’ani.
    Buya Yahya & UAS: Media sosial adalah ladang pahala atau dosa lisan.
    Buya Arrazy Hasyim: Penyucian hati dimulai dari pengendalian ucapan.
    Daftar Pustaka (Ringkas)
    Al-Qur’an al-Karim
    Shahih Muslim
    Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
    Tafsir Ibn Katsir
    Catatan Redaksi
    Apabila terdapat kisah yang tergolong Israiliyat, maka ia disajikan sebagai bahan renungan, bukan dalil akidah atau hukum.
    Ucapan Terima Kasih
    Terima kasih kepada para ulama, guru, dan pembaca yang menjaga adab ilmu dan kehormatan sesama muslim...........
    Jika Anda ingin:
    versi lebih ringkas (1 halaman koran)
    versi buku bab khusus tentang dosa lisan
    versi khutbah Jumat atau pengajian
    tinggal sampaikan, insyaAllah saya susunkan.
........

GHIBAH: NGERASANI ORANG BISA BIKIN IMAN RUSAK, SERIUS!

Penulis: M. Djoko Ekasanu
Versi: Santai & Gaul (tapi tetap sopan dan nggak ngubah makna dalil)

---

Ghibah tuh apaan sih?
Intinya, ngebahas keburukan/kejelekan orang lain (yang dia sendiri pasti nggak suka kalo dibahas), meskipun itu beneran ada. Bahaya banget, lho!

Dampak Buruk Ghibah (Bisa Sampe Bahaya Level Akhirat):

1. Bisa bikin Kufur (Astaghfirullah!)
      Kalo lo ngomongin aib orang, terus dikasih tau kalo itu ghibah, lo malah beralasan: “Ini mah fakta, bukan ghibah!”. Nah, itu sama aja lo nganggep hal yang diharamkan Allah jadi halal. Hati-hati, bisa bahaya banget ke iman.
2. Jadi Munafik (Ngenes mode on)
      Misal lo cerita jeleknya seseorang tapi pake kode atau pake sindiran, gak nyebut nama. Tapi orang-orang pada ngeh siapa yang lo maksud. Lo malah ngerasa diri lo alim dan hati-hati. Padahal… itu sama aja merusak harga diri orang.
3. Tetep Aja Dosa (Maksiat)
      Lo udah tau itu ghibah, udah ngerasa bersalah, tapi tetep aja dilakuin. Ya tetep dosa, harus taubat.

Tapi, Ada “Ghibah” yang Boleh?
Iya, tapi bukan buat ngerendahin orang, ya! Ini cuma buat kasih tahu orang lain biar hati-hati, kayak:

· Ngingetin orang dari pelaku kejahatan/kefasikan yang terang-terangan (misal: penipu, penyesat umat).
· Ngebongkar kebid’ahan yang nyata dan membahayakan.
· Tujuannya jelas: melindungi masyarakat, bukan sekadar ngegosip.

Nabi ﷺ pernah bersabda (maknanya):
“Ungkaplah keburukan para pelacur, agar masyarakat berhati-hati dari padanya.”

---

Intisari Singkatnya:
Ghibah itu penyakit sosial yang udah ada sejak dulu. Sekarang makin parah karena medsos, grup WA, dan obrolan santai yang malah jadi ajang ngerasani.

Kenapa Orang Masih Suka Ghibah?

· Lupa kalo Allah selalu ngeliat.
· Pengen ngerasa diri lebih baik.
· Bingung bedain mana nasihat, mana ghibah.
· Budaya ngobrol ngalor-ngidul yang isinya nyerocos aja.
· Teknologi bikin nyebarnya makin cepat.

Hukumannya Berat Banget:

· Di dunia: Hubungan rusak, hati jadi gelap, hidup nggak berkah.
· Di alam kubur: Bisa disiksa karena dosa lisan.
· Di akhirat: Pahala lo dipindahin ke orang yang lo ghibahin. Kalo pahalanya abis, dosa dia malah dilimpahin ke lo. Ngeri kan?

Relevansi di Zaman Now:

· Medsos & WA: Status, story, komentar, forward chat — itu semua bisa jadi ghibah digital. Dosanya berlipat karena jangkauan luas.
· Di kantor, kendaraan umum, arisan: Sering jadi ajang gosip.
· Dokter/tenaga medis: Bocorin rahasia pasien = ghibah + pelanggaran etik.
· Masyarakat: Bisa bikin polarisasi, rusaknya trust, dan pertemanan jadi renggang.

Tips Biar Selamat:

1. Muhasabah diri: Hitung berapa kali lo bahas orang dalam sehari.
2. Bayangin konsekuensinya: Kalo di akhirat pahala lo dipindahin ke orang yang lo omongin, sisa apa buat lo?
3. Ganti kebiasaan: Daripada ghibah, mending doain kebaikan buat orang itu.
4. Banyak istighfar kalo keceplosan.

Doa Singkat: “Ya Allah,bersihin lidah kami dari ghibah, bersihin hati kami dari dengki, dan jadikan kami penjaga kehormatan sesama.”

Kata-kata Bijak Para Ulama (Versi Singkat):

· Hasan al-Bashri: “Ghibah itu tanda amalan lo udah bangkrut.”
· Imam Al-Ghazali: “Ghibah lebih berbahaya daripada zina. Soalnya, taubatnya bergantung sama maaf dari manusia.”
· Gus Baha’ (kiai zaman now): “Ghibah itu yang paling gampang mindahin pahala lo ke orang lain.”
· Ustadz Adi Hidayat: “Jaga lisan itu fondasi akhlak Qur’ani.”

---

Kesimpulan:
Jaga lisan itu investasi akhirat. Mending diam daripada nyakitin orang. Kalo mau ngomong, pastikan itu bermanfaat, bukan malah ngerusak.

Mau versi lebih ringkas (1 halaman), versi khutbah Jumat, atau versi buku bab khusus? Tinggal bilang, insyaAllah aku susunin! 😊

 tanbihul ghofilin LIMA PESAN LANGIT: MENAKLUKKAN MARAH, MENJAGA AMANAH, DAN MENJAUHI GHIBAH

Para Nabi (tidak merangkap Rasulullah) cara menerima wahyu bermacam-macam, ada yang mendengar suara, dan ada yang bermimpi. Ada seorang dari antara mereka bermimpi (mendapat seruan demikian). Jika kau keluar pagi-pagi, maka pertama yang kau lihat makanlah, yang kedua simpanlah, yang ketiga terimalah (baik-baik), yang keempat janganlah putus asa, dan yang kelima larilah daripadanya. Lalu pada pagi harinya yang dilihat adalah gunung hitam besar, lalu ia berhenti bengong, katanya: seruan makan apa yang kulihat, dan seruan Tuhan pasti benar (membawa manfaat pada manusia), ketika dilakukan, Lalu ia mendekati gunung tersebut dan setelah dekat gunung menjadi beku (mengecil) satu suap, langsung dimakan terasa manis madu, dan membaca: ALHAMDULILLAAH. Dan terus berjalan menemukan bokor emas, seruan (diingat-ingat) simpanlah, lalu ia menggali tanah dan disimpanlah emas itu di dalamnya, tapi ketika ditinggalkan emas itu muncul keluar, terus ditanam lagi hingga berulang 3x, katanya:

Seruan Tuhan sudah aku lakukan, dan ia meneruskan perjalanannya hingga sampai di suatu tempat, ia melihat burung dikejar elang, setelah burung tahu manusia, burung itu berkata: Hai Nabi Allah tolonglah aku, lalu diterimanya dengan baik dan dimasukkan kantongnya, Elang pun berkata: Hai Nabi Allah laparku tiada tertahan sejak pagi, aku memburu mangsaku, dan jangan kau putuskan harapanku dari rezekiku. Ia teringat seruan keempat: Jangan putus asa, lalu berupaya mengatasi masalah tersebut dengan memotong sedikit daging pahanya diberikan elang tadi, hingga terbang. Dan dilepaskanlah burung tadi. Yang kelima ia melihat bangkai busuk baunya, dan larilah ia daripadanya. Kemudian di malamnya ia berdoa: Ya Tuhan, seruanMu sudah kulakukan dan terangkan maksudnya. Jawaban Tuhan lewat mimpinya:

Pertama yang kau makan, adalah “marah” yang semula kelihatan sebesar gunung, namun bisa menjadi kecil manis madu rasanya, jika bersabar dan tabah atau menahannya.

Kedua, amal baik sekalipun disimpan, tetap terlihat (masyarakat).

Ketiga, menerima amanat atau melakukannya dengan sebaikbaiknya, jangan curang atau mengkhianatinya,

Keempat, berupayalah dalam membantu orang yang datang (minta pertolongan) padamu, sekalipun kamu ada urusan pribadi.

Kelima, ghibah, maka hindarilah bergaul dengan manusia yang senang mengungkap kejelekan, kesalahan, atau kelemahan lain.

.......


LIMA PESAN LANGIT: MENAKLUKKAN MARAH, MENJAGA AMANAH, DAN MENJAUHI GHIBAH

Penulis: M. Djoko Ekasanu

Ringkasan Redaksi Asli

Sebuah kisah hikmah menceritakan seorang Nabi dari kalangan Bani Israil yang menerima wahyu melalui mimpi. Ia diperintah melakukan lima hal dalam perjalanan paginya: memakan yang pertama dilihat, menyimpan yang kedua, menerima yang ketiga dengan baik, tidak memutus harapan yang keempat, dan lari dari yang kelima. Ternyata semua yang tampak secara lahiriah menyimpan makna batin: marah, amal, amanah, pertolongan, dan ghibah. Kisah ini menegaskan bahwa syariat tidak hanya berbicara tentang hukum, tetapi juga penyucian jiwa (tazkiyatun nafs).

Intisari Judul

Lima Perintah Ilahi, Lima Penyakit Jiwa, dan Lima Jalan Keselamatan

Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa para Nabi terdahulu—khususnya dalam tradisi Bani Israil—umat diuji bukan hanya dengan penyimpangan akidah, tetapi juga penyakit hati:

Marah yang tak terkendali

Amal yang ingin disembunyikan namun tetap menuntut keikhlasan

Amanah yang dikhianati

Kepedulian sosial yang menurun

Tradisi ghibah dan fitnah

Kondisi ini mendorong turunnya kisah-kisah pendidikan ruhani melalui perumpamaan agar mudah dipahami oleh manusia lintas generasi.

Sebab Terjadinya Masalah

Masalah timbul ketika akal mendominasi tanpa bimbingan hati, dan nafsu berjalan tanpa kendali iman. Marah membesar seperti gunung, amanah dianggap beban, dan ghibah dianggap hiburan.

Tujuan dan Manfaat

Tujuan:

Membersihkan hati dari penyakit batin

Menjadikan agama sebagai akhlak hidup, bukan sekadar ritual

Manfaat:

Kedamaian batin

Kepercayaan sosial

Keberkahan hidup

Keselamatan dunia dan akhirat

Dalil Al-Qur’an

Menahan Marah

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan manusia.”

(QS. Ali ‘Imran: 134)

Amal Tak Pernah Benar-Benar Tersembunyi

“Jika kamu menampakkan sedekahmu maka itu baik, dan jika kamu menyembunyikannya…”

(QS. Al-Baqarah: 271)

Amanah

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak.”

(QS. An-Nisa: 58)

Menolong Sesama

“Barang siapa meringankan kesulitan seorang mukmin…”

(QS. Al-Ma’idah: 2)

Ghibah

“…Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati?”

(QS. Al-Hujurat: 12)

Dalil Hadis

“Bukanlah orang kuat itu yang pandai bergulat, tetapi yang mampu menahan marah.” (HR. Bukhari-Muslim)

“Tunaikan amanah kepada orang yang mempercayaimu.” (HR. Abu Dawud)

Analisis dan Argumentasi

Kisah ini menunjukkan metode pendidikan ilahi berbasis simbol:

Gunung = marah

Emas = amal

Burung & elang = konflik kepentingan

Bangkai = ghibah

Manusia sering gagal bukan karena tidak tahu hukum, tetapi karena tidak mampu menafsirkan hidup dengan hikmah.

Keutamaan dan Hukuman

Di Dunia

Keutamaan: tenang, dipercaya, dicintai

Hukuman: konflik, dijauhi, gelisah

Di Alam Kubur

Hati bersih → kubur lapang

Ghibah & khianat → kubur sempit

Di Hari Kiamat

Amal diterima → timbangan berat

Ghibah → pahala habis dipindahkan

Di Akhirat

Akhlak mulia → dekat Rasulullah

Penyakit hati → jauh dari rahmat

Relevansi Zaman Modern

Teknologi: marah viral di media sosial

Komunikasi: ghibah via grup WA

Transportasi: cepat tapi tanpa empati

Kedokteran: sehat jasad, sakit jiwa

Sosial: krisis amanah publik

Pesan kisah ini justru makin relevan di era digital.

Hikmah

Marah itu bisa dimakan—ditelan, bukan dimuntahkan

Amal tidak perlu diumumkan, tapi pasti dikenang

Amanah lebih berat dari emas

Menolong kadang butuh pengorbanan

Ghibah harus dihindari, bukan dilawan dengan ghibah

Muhasabah & Caranya

Tahan marah 10 detik sebelum bicara

Tanyakan niat sebelum beramal

Jaga janji kecil

Sisihkan waktu menolong

Tinggalkan majelis ghibah

Doa

“Ya Allah, bersihkan hati kami dari marah, khianat, dan ghibah. Jadikan kami hamba-Mu yang amanah dan bermanfaat.”

Nasehat Para Ulama & Sufi

Hasan Al-Bashri: “Akhlak buruk adalah api yang membakar amal.”

Rabi‘ah al-Adawiyah: “Cinta kepada Allah membuat luka terasa manis.”

Abu Yazid al-Bistami: “Jihad terbesar adalah melawan diri sendiri.”

Junaid al-Baghdadi: “Tasawuf adalah akhlak.”

Al-Hallaj: “Siapa mengenal dirinya, ia mengenal Tuhannya.”

Imam al-Ghazali: “Ilmu tanpa akhlak adalah kehancuran.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan jadikan lisanmu musuh hatimu.”

Jalaluddin Rumi: “Luka adalah tempat cahaya masuk.”

Ibnu ‘Arabi: “Hati yang luas mampu menampung perbedaan.”

Ahmad al-Tijani: “Ikhlas adalah kunci semua jalan.”

Testimoni Tokoh

Gus Baha: “Agama itu menenangkan, bukan memancing emosi.”

Ustadz Adi Hidayat: “Amanah adalah tanda iman.”

Buya Yahya: “Lisan adalah pintu keselamatan atau kehancuran.”

Ustadz Abdul Somad: “Banyak dosa lahir dari mulut.”

Buya Arrazy Hasyim: “Tasawuf adalah membersihkan hati, bukan melarikan diri dari dunia.”

Catatan Redaksi

Sebagian kisah dalam tulisan ini termasuk kategori Israiliyat, disajikan sebagai bahan renungan dan pendidikan akhlak, bukan sebagai dalil akidah atau hukum syariat.

Daftar Pustaka Singkat

Al-Qur’an al-Karim

Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali

Risalah Qusyairiyah

Tafsir Ibnu Katsir

Kitab Zuhud – Imam Ahmad

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang terus menjaga warisan hikmah agar tetap hidup di tengah zaman yang gaduh.

Jika .