Tuesday, October 26, 2010

Jangan Anggap Sepele Gondongan

Jangan Anggap Sepele Gondongan

Pugoeh/nakita

M emang bisa sembuh sendiri. Tapi, tetap waspada karena gondongan bisa menyebabkan radang selaput otak atau mandul pada anak laki-laki.

Sudah tiga hari ini Anto (4) terserang demam disertai pusing. Ia mengeluh sulit menelan makanan. Sehari kemudian, bagian di bawah telinga sebelah kanannya tampak membengkak. Tak lama kemudian, bagian di bawah telinga sebelah kiri ikut juga membengkak. "Wah, Anto terkena gondongan, nih," begitu pikir ibu Anto. Sebetulnya apa, sih, penyakit gondongan?

Menurut dr. H. Rachmat Kurdi, Sp.A dari RSIA Hermina Jatinegara, gondongan adalah penyakit infeksi akut akibat virus mumps. Penyakit ini disebut juga parotitis atau mumps . "Orang awam biasa menyebutnya gondongan," lanjut Rachmat. Penyakit infeksi ini sering menyerang anak-anak, terutama usia dua tahun ke atas.

Virus ini menyerang beberapa lokasi. Ada yang menyerang kelenjar ludah di bawah lidah, ada juga yang menyerang kelenjar ludah di bawah rahang dan di bawah telinga (parotitis) . Masa inkubasinya sekitar 14 sampai 24 hari setelah kuman masuk. Biasanya, lanjut Rachmat, pada awalnya yang membengkak hanya sebelah, baru kemudian menjalar ke sebelah yang satunya. "Misalnya dari sebelah kiri dulu, baru kanan. Atau sebaliknya." Bengkak ini timbul setelah infeksi virus berlangsung 2 atau 3 hari. "Jadi, biasanya mulai membengkak setelah 3 hari," ujar Rachmat.

Adakalanya pembengkakan yang terjadi di bawah lidah tak terlihat sehingga menyulitkan para orang tua untuk memperkirakan sakit si anak. Apalagi gejala awalnya seperti demam biasa. Namun demikian, pembengkakan dapat berkembang dengan sangat cepat, mencapai besar maksimal dalam jangka waktu beberapa jam saja, meski biasanya untuk mencapai puncak pembengkakan dibutuhkan waktu 1 sampai 3 hari.

Penderita gondongan juga merasa nyeri ketika menelan dan mengeluh mulutnya kering karena kelenjar ludah tidak mengeluarkan ludah. Gondongan biasanya menyerang anak yang agak besar dan jarang terjadi pada bayi. "Pasalnya, bayi masih memiliki kekebalan dari ibunya," ujar Rachmat. Penyakit ini tersebar di seluruh dunia dan menyerang kedua jenis kelamin sama banyaknya; 85 persen dari seluruh infeksi terjadi pada anak-anak berusia kurang dari 15 tahun.

KOMPLIKASI

Gejala gondongan biasanya dimulai dari demam, pusing, mual, dan pegal-pegal di otot, terutama otot-otot di daerah leher. Gondongan termasuk self limiting disease atau akan sembuh sendiri meski tidak diobati. "Karena itu, sebenarnya tidak ada obat untuk gondongan," ujar Rachmat. Tetapi, gondongan bisa menjadi berat dan lama. "Tergantung kerusakan sel-sel di kelenjar ludah," ujar Rachmat. Tetapi, pada umumnya sel-sel kelenjar ludah yang terkena virus tidak akan sampai hancur, dan hanya membengkak.

"Kalau selnya membengkak, maka saluran kelenjar ludahnya pun tersumbat. Akibatnya, produksi air ludah tersumbat, kemudian mengumpul. Sehingga, pengeluaran air ludahnya juga tersumbat. Akibatnya, bengkaknya pun akan makin hebat," ujar Rachmat. Gondongan juga bisa berbahaya jika kemudian terjadi komplikasi. "Komplikasinya bisa meningitis atau radang selaput otak. Pada anak laki-laki, infeksi bisa menjalar ke testis. Jika ini terjadi, maka akan terjadi perusakan sel-sel di testis, sehingga bisa menyebabkan steril."

Komplikasi meningitis terjadi jika virus menyebar ke selaput otak. Keluhannya sesuai dengan gejala meningitis , seperti kesadaran menurun dan timbul kejang. "Tetapi komplikasi ini sangat jarang terjadi. Karena itu kita selalu menganjurkan, jika setelah terkena gondongan anak mengeluh sakit kepala hebat atau testisnya sakit, sebaiknya segera berkonsultasi untuk dilakukan penanganan. Biasanya, komplikasi ini terjadi karena daya tahan tubuh yang rendah."

MENGOBATI GEJALA

Sebenarnya, ujar Rachmat, tidak ada obat khusus untuk gondongan, karena gondongan termasuk self limiting disease . Jadi, lanjut Rachmat, "Yang ada adalah pengobatan symptomatis, yaitu mengobati gejalanya. Misalnya, jika anak demam, diberi obat penurun demam, atau beri anak obat untuk menghilangkan pusing jika anak merasa pusing. Untuk mengatasi bengkak yang timbul, bisa dikompres, baik dengan air dingin atau air hangat."

Tetapi, biasanya dokter juga akan memberi obat antibiotik pada penderita gondongan. "Ini untuk mencegah terjadinya infeksi kuman lain, karena daya tahan tubuh yang rendah. Sekarang juga sudah ditemukan obat anti virus. Jadi, meski ada yang mengatakan virus itu enggak bisa diobati, tetapi kadang-kadang diberi obat anti virus tadi," lanjut Rachmat. Sedangkan untuk pencegahannya, bisa dilakukan dengan imunisasi MMR (mumps, morbilli, dan rubella) atau Trimovax .

"Yang umum di Indonesia adalah MMR. Imunisasi ini baru diberikan pada saat anak berusia 15 bulan, karena pada usia ini kekebalan bayi sudah hilang," ujar Rachmat. Tetapi, imunisasi enggak hanya diberikan pada anak usia 15 bulan. "Tidak harus usia 15 bulan. Lebih besar pun bisa diberikan imunisasi ini, asal belum pernah terkena," kata Rachmat.

PERLU DIKARANTINA

Penyakit gondongan juga merupakan penyakit endemi, dan termasuk menular. Penularannya bisa terkena siapa saja, terutama pada yang belum pernah terkena gondongan. Penularannya, terang Rachmat, bisa melalui droplet infection (percikan air ludah) ketika si penderita berbicara, percikan air seni, peralatan makan minum, dan sebagainya. "Jadi, kalau di satu daerah ada yang sakit, maka biasanya akan cepat menular."

Tak heran jika dokter yang merawat akan menyarankan agar si penderita dikarantina; tidak boleh keluar rumah, tidak sekolah, dan tidak kontak dengan anggota keluarga lain. Karena bukan tidak mungkin malah akan menulari anggota keluarga lain, terutama yang kekebalan tubuhnya tidak bagus. Saat anak menderita gondongan harus dirawat secermat mungkin. Upayakan agar peralatan makan minum si penderita tidak dipakai oleh anggota lain yang sehat; begitu juga peralatan mandi seperti handuk. Usahakan pula agar selalu menyiram dengan karbol seusai si penderita buang air kecil dan besar. Pendek kata, upayakan pencegahan agar tidak menulari anggota keluarga yang lain.

Yang perlu diingat, kendati si kecil harus dikarantina tidak berarti ibu dan bapak malah menjauhinya. Justru harus menemaninya agar ia tidak terlalu rewel, terutama acara makan yang akan menjadi sulit baginya karena sakit saat menelan. Biasanya, gondongan juga akan membuat anak jadi malu. "Jadi, jika anak sudah sekolah, kita anjurkan supaya jangan masuk sekolah dulu sampai bengkaknya hilang. Karena selain malu, juga akan bisa menular ke anak lain," lanjut Rachmat. Jika anak terkena gondongan, orang tua juga bisa mengompres untuk menghilangkan bengkaknya. Kemudian, anak sebaiknya segera dibawa ke dokter.

"Umumnya orang tua sudah tahu jika anaknya terkena gondongan. Kalau lehernya bengkak, pasti gondongan." Dulu, leher yang bengkak ini sering diberi belau (semacam tinta, bahan pemutih pakaian) atau buah pace. "Sebetulnya prinsipnya adalah untuk mengompres. Kadang-kadang dokter juga memberi ramuan untuk mengompres," lanjutnya. Mengompres di bagian yang bengkak ini tujuannya untuk mengurangi rasa sakit akibat bengkak yang ditimbulkan. Kecuali itu, mengompres juga bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh. Caranya, kompreslah bagian lipatan paha dan ketiak. Karena di daerah tersebut terdapat pembuluh darah besar, jadi dengan mengompresnya suhu tubuh akan cepat turun.

Biasanya, bengkak pada gondongan akan kempes secara bertahap. "Bisa sampai satu minggu atau bahkan lebih, tergantung kerusakan yang terjadi di sel-sel saluran kelenjar ludah dan kelenjar ludahnya. Biasanya bengkak akan kempes dengan sendirinya." Selain anak-anak, gondongan juga bisa menyerang orang dewasa. "Apalagi dulu belum ada imunisasi. Tetapi, biasanya gondongan nggak berulang," ujar Rachmat. Semua infeksi karena virus memang sangat tergantung pada daya tahan tubuh. "Kalau daya tahan tubuhnya bagus, ya, kemungkinan enggak tertular," lanjutnya. Yang jelas, anjur Rachmat, jika gejala-gejala gondongan muncul, sebaiknya secepatnya dibawa ke dokter untuk meyakinkan. "Walaupun bisa sembuh sendiri, tetapi yang ditakutkan kalau ada infeksi lain yang masuk, seperti meningitis tadi. Atau anak jadi batuk dan pilek." Nah, jika Ayah dan Ibu curiga si kecil terkena gondongan, mengapa tak segera dibawa ke dokter terdekat?

Merawat Anak Gondongan

Menurut Dr. Miriam Stoppard dalam Perawatan Bayi dan Anak , ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menangani anak yang terkena gondongan:

* Ukur suhu anak. Jika demam, kompres supaya suhunya turun.
* Beri makanan cair. Kalau perlu gunakan sedotan jika anak sukar menelan makanan. Anak harus banyak minum dan minta berkumur untuk menghilangkan rasa kering di mulut.
* Berobat ke dokter untuk memastikan diagnosis, atau jika anak merasa sakit pada testis atau di perut bawah. Segera berobat jika setelah 10 hari keadaan anak memburuk dan mengeluh sakit kepala hebat serta kuduknya kaku.

Hasto Prianggoro . Ilustrasi : Pugoeh (nakita)

Mengisap Jempol

Mengisap Jempol

Bu Mayke yang terhormat,

Anak saya perempuan berumur 16 bulan, berat 12 kg. Sejak usia 6 bulan sampai sekarang, selalu mengisap jari jempolnya. Umumnya saat mau tidur, bangun tidur, menginginkan sesuatu tapi tidak diizinkan dan terkadang saat tidak terduga. Kebetulan kami tinggal di lingkungan keluarga besar yang sering berkumpul.

Pertanyaannya:

1. Apakah ada cara menghilangkan kebiasaan mengisap jari jempol tersebut? Jika tidak, apa saja efek dari kebiasaan ini (fisik dan psikologis)?

2. Bagaimana cara membuat dia mengerti bahwa saat berkumpul dengan orang lain (baik anak kecil/orang dewasa), ada hal-hal negatif yang harusnya tidak ditiru/dipelajari?

3. Pertanyaan tambahan, saya berencana mengajak dia berbicara dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Umur berapa sebaiknya dimulai?

Terima kasih.

Silvia N - Jakarta

Mengisap jempol lazim terjadi karena anak masih terfokus pada tubuhnya. Kebiasaan ini makin meningkat bila anak merasa tidak bahagia dan tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan (bosan). Karena itu cara yang paling baik untuk menghilangkan kebiasaan tersebut adalah memberikan kesempatan kepada anak untuk banyak beraktivitas dengan bahan-bahan alam. Mulai dengan bermain air, pasir, beras, adonan (play dough ) sehingga fokus yang tadinya terarah pada tubuh akan beralih ke objek. Saya yakin anak akan meninggalkan kebiasaan tersebut.

Bila menjelang tidur ia mengisap jari, segera alihkan dengan aktivitas mendongeng, memainkan jari jemari atau memakai boneka tangan yang dilekatkan di jari tangan. Menghilangkan kebiasaan mengisap jempol membutuhkan usaha yang keras dari orang tua. Bila kebiasaan ini tidak diatasi, dampak fisik sudah jelas, yaitu pada kesehatan (karena jari terkena kuman), struktur gigi/rahang bisa terganggu. Dampak psikologisnya, anak cenderung berkembang menjadi anak yang tergantung pada orang lain, atau merasa tidak bahagia.

Untuk menghindari munculnya perilaku negatif sebagai hasil dari pergaulan maka Ibu dapat memberi respons sesegera mungkin terhadap perilaku teman dan saat ia berbuat negatif. Pergaulan akan memberikan dampak positif dan sekaligus negatif yang dapat dikurangi kalau anak sudah diajarkan/dilatih mengenai apa yang benar dan salah, boleh dan tidak boleh. Reaksi Ibu tidak usah terlalu drastis melalui tindakan yang keras. Cukup katakan si A suka memukul teman-temannya tetapi itu tidak baik karena orang lain kesakitan dan tidak mau berteman dengan A. Pada intinya, jelaskan dengan keterangan yang masuk akal kenapa suatu perilaku tidak dapat diterima. Sejak kecil, biasakan mengajak anak berkomunikasi dengan penjelasan yang masuk akal dan bukan dengan ancaman atau hukuman fisik/kata-kata kasar sebab anak akan meniru tindakan tersebut, tidak respek pada orang tua, atau bila hukuman bertubi-tubi diberikan, anak akan menjadi penakut, pencemas atau pemberontak. Sebaliknya, anak juga jangan terlalu dibiarkan berbuat semaunya karena pada masa 0-5 tahun merupakan masa awal pembentukan perilaku agar di kemudian hari tidak berkembang menjadi perilaku yang menyimpang dan sulit dibenahi.

Mengenai rencana Ibu untuk mengajarkan bahasa kedua, lebih baik dimulai setelah ia menguasai bahasa ibu. Bahasa kedua dapat diperkenalkan dengan cara Ibu sering menggunakannya dalam komunikasi sehari-hari. Anak terbiasa mendengar dan paham, walaupun ia belum mengucapkan kata-kata dalam bahasa asing. Tetapi sebaiknya waspada bila perkembangan bicara anak mengalami keterlambatan, tidak dianjurkan mengajarkan bahasa kedua sebelum bahasa ibu ia kuasai dengan baik. Sekian dulu dan semoga keingintahuan Ibu sudah terjawab.

Bunda Hidungku Keluar Darah!

Bunda Hidungku Keluar Darah!

A nak mimisan? Hati-hati,lo, karena mimisan pun bisa merupakan gejala lain yang berat

Siang itu Dit0 (4) tampak asyik bermain di halaman rumah bersama teman-temannya. Tapi tak lama kemudian, Dito berlari-lari masuk ke rumah. Hidungnya mengeluarkan darah. Ternyata Dito mimisan, padahal sebelumnya ia tampak sehat. Sebetulnya, apa, sih, mimisan itu dan berbahayakah ?

Menurut dr. Kishore R.J., SpA dari RSIA Hermina Podomoro, mimisan atau epitaksis adalah adanya perdarahan pada hidung. Biasanya, kalau tidak ada penyakit lain, mimisan hanya merupakan kelainan pada pembuluh darah di hidung. Dengan demikian, mimisan lebih karena faktor genetik, "Mungkin sejak lahir anak memang sudah sensitif," ujar Kishore. Untuk diketahui, mimisan biasanya terjadi sejak anak berusia 2 tahun. "Tapi yang paling sering, mulai muncul saat anak berusia 4 sampai 5 tahun."

Mimisan karena kelainan bawaan biasanya akan hilang sendiri saat usia anak bertambah besar. Biasanya di usia 10 atau 12 tahun, kebiasaan mimisan tersebut akan menghilang. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya mimisan adalah jika terjadi perubahan suhu. Misalnya, dari udara panas ke udara dingin, pembuluh darah hidung akan melebar, sedangkan pada keadaan pansa, pembuluh darah mengecil. Nah, karena terjadi perubahan suhu secara tiba-tiba, akhirnya pembuluh darah tersebut pecah.

Mimisan semacam ini sering mengejutkan orang tua, misalnya saja anak tiba-tiba mimisan saat berjalan di bawah udara yang panas, atau pulang sekolah saat tidur di AC, bangun-bangun ia mimisan karena dingin. Mimisan juga bisa terjadi saat anak demam. Selain itu, adanya infeksi atau pilek bisa menimbulkan mimisan. "Tapi yang sering dijumpai adalah anak sehat-sehat saja, tiba-tiba mimisan. Hal ini biasanya karena perubahan suhu tadi.

PENYAKIT LAIN

Tapi Bu-Pak, hati-hat, lo, mimisan juga bisa disebabkan karena penyakit-penyakit lain. "Ini yang harus diwaspadi dan diawasi," tegas Kishore. Beberapa penyakit yang disertai mimisan antara lain demam berdarah. Hati-hati jika anak mimisan pertama disertai dengan demam, karena ini bisa merupakan gejala demam berdarah.

Demam berdarah bisa menimbulkan perdarahan dimana saja, salah satunya di hidung," lanjut Kishore. Jadi, lanjutnya, saat anak mimisan orang tua harus memperhatikan betul kejadian, "minimal dievaluasi, apa betul hanya karena perubahan cuaca atau karena ada penyakit lain. Sebab, bisa jadi, penyakitnya adalah penyakit berbahaya." Tentu saja, untuk mendiagnosanya Anda harus membawa si kecil ke dokter.

Perlu diperhatikan, jika mimisan sering berulang pada anak Anda dan disertai demam. "Bila sering terjadi, mungkin enggak apa-apa, tapi mungkin juga ada sesuatu. Kadang-kadang yang membuat orang tua sering kecolongan mengganggap hal itu sepele karena sudah biasa terjadi pada anaknya. 'Ah, biasa, kalau panas ia pasti mimisan, kok.' Tapi pada keadaan tertentu, bisa saja ternyata itu merupakan gejala penyakit lain. Biasanya, mimisan, karena penyakit tertentu tidak berhenti-henti."Bila mimisan akibat faktor genetik, biasanya akan cepat berhenti. Nah, bila mimisannya tidak berhenti-henti sebaiknya curiga," lanjut Kishore.

BISA KARENA LEUKEMIA

Yang jelas orang tua tak perlu panik saat menghadapi anak mimisan. Terlebih lagi, lamanya anak mimisan sangat bervariasi dan tidak bisa disamakan pada masing-masing anak. "Tapi biasanya, mimisan karena faktor genetik tidak berlangsung lama. Begitu perdarahan, ditampung sebentar, langsung berhenti. Bahkan tanpa ditampung, sebentar pun, kadang berhenti sendiri."

Lain halnya pada mimisan akibat adanya penyakit tertentu. Biasanya mimisan akan berulang terus. Dalam sehari bisa terjadi beberapa kali mimisan. "Tapi kalau setiap kali anak demam selalu mimisan, misalnya, karena perubahan suhu, mungkin saja tidak terlalu berbahaya."Yang jelas, toleransi waktu kaoan anak mimisan karena demam berdarah sangat relatif. "Tergantung jumlah trombositnya dan hal ini tidak bisa diprediksikan. Ada anak yang baru lima hari kemudian mimisan, tapi ada anak yang satu hari demam sudah mimisan,"terang Kishore.

Kemungkinan berikutnya mimisan karena leukemia atau anemia aplastik. "Ini akibat adanya gangguan pembekuan darah," lanjut Kishore. Memang, aku Kishore, agak susah membedakan antara mana yang mimisan karena faktor genetik dan mana mimisan karena penyakit tertentu tadi. "Yang jelas, jika anak mengalami mimisan pertama, sebaiknya langsung dikonsultasikan ke dokter. Jika mimisan terjadi tanpa disertai demam dan sering berulang tanpa ada gangguan lain, maka biasanya ini karena faktor genetik," kata Kishore.

Tapi orang tua perlu waspada bila anak memang sering berdarah, tidak saja dihidung tetapi juga dibagian-bagian tubuh lain. Hal itu berarti ada kelainan darah pada diri si anak. Misalnya, kaki atau tangannya terbentur biru setelah terbentur. Mungkin ini merupakan indikasi adanya kelainan pembekuan darah. "Hal ini bisa terjadi karena kelainan pembekuannya sendiri, yaitu karena anemia aplastik, maupun leukemia. Ini yang memerlukan pengobatan tersendiri."

PEMBULUH DARAH DIBAKAR

Dengan beragam penyebab tadi, penanganan mimisan menjadi sangat tergantung pada penyakit dasarnya. "Kalau mimisannya karena faktor bawaan, ya, tidak bisa diobati." Biasanya mimisan karena kelainan bawaan bukan sesuatu yang berbahaya. Memang, aku, Kishore, setiap perdarahan pasti berbahaya. "Tapi kalau perdarahannya cuma sedikit, tidak terlalu berbahaya, kok," terang Kishore.

Yang jelas, mimisan akan menjadi berat jika perdarahannya terjadi terlalu sering. "Karena kadar hemoglobin akan menjadi rendah, sehingga anak menjadi anemia. Jadi, kalau kita bisa mencegah terjadinya perdarahan tentu tidak akan terjadi anemia," lanjutnya. Pada mimisan karena kelainan bawaan, kadang-kadang dokter juga menganjurkan agar pembuluh darah dibakar, meski tidak menjamin 100 persen kesembuhan. "Biasanya, sih, serangannya akan berkurang. Juga tidak menimbulkan efek yang berbahaya.

Hal tersebut bisa dilakukan jika memang perdarahannya menggangu sekali. Jadi pembuluh darahnya ditutup." Alternatif penanganan lain adalah dengan ditampon. Caranya dengan memasukkan kapas ke lubang hidung. Dulu orang tua sering menggunakan daun sirih untuk mengatasi perdarahan. "Prinsipnya sama, hanya untuk menekan perdarahan. Bila ini tidak menolong, dolter biasanya memberikan tampon yang diberikan obat supaya pembuluh darahnya mengecil dan menutup." Tapi, cara ini tidak banyak membantu jika mimisan terjadi akibat adanya penyakit tertentu. "Ya, penyakit dasarnya yang harus segera diobati," tegas Kishore.

MASUK KE SALURAN PERNAFASAN

Nah, langkah apa yang bisa dilakukan orang tua mencegah terjadinya mimisan pada anak ? Pencegahan mimisan yang sering berulang karena faktor bawaan adalah mengusahakan supaya tidak terjadi perubahan suhu mendadak. Misalnya, anak pulang sekolah panas-panasan, kemudian dijemput mobil ber-AC. Sesampainya di rumah main panas-panasan lagi, setelah itu masuk lagi ke ruang ber-AC.

Selain itu, yang juga harus diperhatikan adalah jangan sampai darah mimisan tersedot ke saluran pernafasan. "Kalau tersedot dan tertelan ke saluran pencernaan, sih, tidak berbahaya. Paling keluar dalam bentuk faces (buang air besar) berwarna hitam," ujar Kishore. "Karena asam lambung, maka darah yang tertelan akan berwarna hitam kala keluar." Yang berbahaya justru kalau darah tersedak ke saluran nafas. Sebab bisa menutup saluran nafas. "Tapi kejadian seperti ini memang jarang terjadi, kecuali anak dalam posisi tidur."

Dalam posisi duduk atau berdiri, darah yang keluar akan turun ke bawah. "Dalam posisi tidur pun kadang-kadang akan turun ke bawah, bukan ke tenggorokan," lanjut Kishore. Dalam keadaan sadar, kalau ada benda asing masuk ke tenggorokan, akan otomatis dikeluarkan atau ditelan ke saluran pencernaan, tidak akan masuk ke saluran nafas. "Yang berbahaya adalah jika anak dalam keadaan tidur terlentang terjadi perdarahan besar. Kemungkinan bisa menutup saluran nafas." Nah, Bu-Pak, mengingat akibatnya yang tidak kecil, sebaiknya memang tidak pernah menganggap sepele hal tersebut. Kasihan, kan, buah hati Anda pun, pasti tak nyaman mengalaminya.

YANG PERLU DIPERHATIKAN

*Hentikan perdarahan
Caranya dengan memasukkan tampon atau daun dirih ke lubang hidung. Prinsipnya, demi menghentikan perdarahan. Segera konsultasikan ke dokter bila perdarahan tetap berlangsung setelah mendapat pertolongan tersebut. *Perhatikan keadaan anak
Jika anak demam diikuti mimisan pertama, sebaiknya cepat berkonsultasi ke dokter. Sebab, keadaan ini dikhawatirkan sebagai indikasi penyakit lain yang lebih berat. *Jaga, jangan sampai terjadi perubahan cuaca yang mendadak. Karena cuaca berpengaruh sekali terhadap kemungkinan berulangnya mimisan.

Hasto Prianggoro/nakita

Radang Otak Bisa Berakibat Fatal

Radang Otak Bisa Berakibat Fatal

Poeguh/nakita

T ergolong penyakit berat karena menyerang jaringan otak. Bagaimana mengatasinya?

I bu Syam panik ketika putri semata wayangnya mengalami panas tubuh tinggi. Tak mau ambil risiko, ia segera membawa permata hatinya ke rumah sakit. Di perjalanan, si kecil mengalami kejang-kejang. Bahkan juga mengalami penurunan kesadaran. Hal tersebut tentu saja membuat nyali Ibu Syam makin menciut. Apalagi ketika putrinya langsung dirawat di ICU dan dokter yang menangani mengatakan si kecil terkena ensefalitis. Penyakit apa ini?

"Ensefalitis atau radang otak adalah infeksi pada jaringan otak," terang Dr. Dwi Putro Widodo, Sp.A(K), MMed, dari Sub Bagian Neurologi Anak Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM. Sebetulnya diagnosis ensefalitis, terang Dwi Putro, ditegakkan hanya melalui pemeriksaan mikroskopis jaringan otak. Tapi, pada prakteknya diagnosis dibuat berdasarkan gejala neurologis, seperti kejang demam dan penurunan kesadaran seperti yang dialami putri Ibu Syam.

MENYERANG JARINGAN OTAK

Bagaimana proses terjadinya peradangan otak tersebut? Yang penting terlebih dulu diketahui, penyebab ensefalitis bisa berbagai macam mikroorganisme, seperti virus, bakteri, jamur, cacing, protozoa, dan sebagainya. "Yang terpenting dan tersering adalah virus. Berbagai jenis virus dapat menyebabkan ensefalitis dengan gejala klinis sama," ujar Dwi Putro.

Anak yang terkena infeksi lain, seperti cacar, gondongan, campak, atau TB, kemungkinan akan pula terkena ensefalitis. "Setelah masuk ke dalam tubuh, virus atau kuman akan berkembang biak dan menyebar ke seluruh tubuh. Jika akhirnya virus menyerang jaringan otak, maka akan terjadi kerusakan otak." Sementara sel-sel syaraf termasuk sel otak sangat sulit beregenerasi. Akibatnya daya kemampuan otak pun berkurang. Nah, karena merusak jaringan otak, tingkat keparahan penyakit tergantung bagian otak mana yang terkena. "Ensefalitis termasuk penyakit gawat dan mengenai susunan syaraf pusat, sehingga angka kematiannya cukup tinggi. Kalaupun sembuh, angka kecacatannya juga cukup tinggi," ujar Dwi. Angka kematian penderita ensefalitis 30-50 persen. "Sisanya bisa selamat. Tapi dari yang selamat, 20 sampai 40 persen diantaranya akan mengalami kecacatan."

Cacatnya bisa macam-macam, dari gangguan pendengaran, gangguan penglihatan, kelumpuhan, anak jadi kurang cerdas, gangguan emosi, gangguan tingkah laku, dan sebagainya. Ini sangat tergantung pada bagian yang mengalami kerusakan. Artinya jika bagian pusat pendengaran yang terkena, kemungkinan akan mengalami gangguan pendengaran. Seberapa besar parahnya pun tergantung pada kerusakannya.

TIGA GEJALA UMUM

Ensefalitis memang paling sering menyerang anak usia 2 bulan sampai 2 tahun. Tapi, bukan tidak mungkin menyerang anak yang lebih besar. Terbukti, di beberapa rumah sakit besar, seperti RSCM cukup sering menangani kasus ensefalitis pada anak di atas usia balita. Yang penting diketahui, Bu- Pak, gejala ensefalitis yang umum ada tiga (trias), antara lain infeksi, baik akut maupun sub akut, kejang-kejang, dan kesadaran menurun. Memang tidak ada waktu tertentu kapan anak akan mengalami gejala trias tadi.

Pada beberapa anak mungkin mula-mula hanya mengalami gangguan ringan, tapi kemudian mengalami koma. Pada anak lain mungkin diawali dengan demam tinggi, kejang-kejang hebat diselingi gerakan-gerakan aneh. "Kadang-kadang ada anak yang langsung panas tinggi, tetapi ada yang baru pada hari kedua mengalami panas tinggi," ujar Dwi. Umumnya gejala-gejala awal penyakit ini, seperti diutarakan Dwi menyerupai penyakit sistemis akut yang sukar dibedakan. Selain panas tinggi, biasanya anak cenderung rewel, enggak mau menyusu atau makan, kadang-kadang dibarengi mual dan muntah. Pada anak yang lebih besar kadang-kadang timbul sakit kepala. Yang sulit diketahui adalah saat masuknya virus ke dalam jaringan otak tersebut. Sesungguhnya, terang Dwi, begitu masuk ke dalam tubuh, virus akan berantem dulu dengan tubuh.

"Kalau tubuh kalah, maka virus akan berkembang biak dengan cepat, termasuk ke jaringan otak. Nggak sampai satu hari bisa timbul panas tinggi dan kejang-kejang, dan dalam beberapa jam sudah bisa terjadi penurunan kesadaran." Jadi, memang sebaiknya Bapak dan Ibu selalu waspada jika putra-putrinya mengalami panas tinggi. Apalagi jika gejala trias muncul; panas tinggi, kejang-kejang dan penurunan kesadaran. Jangan ambil risiko, segeralah bawa anak ke rumah sakit untuk dirawat. "Tak bisa ditawar. Bahkan, sebaiknya anak dirawat di ICU," tegas Dwi.

]Tapi, ingat ya Bu-Pak, tindakan tersebut tidak berarti sama sekali bisa mencegah serangan penyakit ensefalitis. Hanya saja, mengingat gejala ensefalitis yang berlangsung demikian cepat, tentu akan memudahkan penanganan sehingga bisa meminimalkan keparahan yang akan terjadi. "Umumnya yang datang ke rumah sakit sudah berstadium berat karena pasien datang terlambat. Mungkin saat ada keluhan demam dan kejang, anak belum dibawa ke dokter. Baru ketika mengalami penurunan kesadaran, anak dibawa ke dokter." Sementara penanganan penderita ensefalitis memang sangat tergantung stadiumnya. "Jika masih ringan dan kondisi fisik anak bagus, mungkin bisa sembuh." Jadi, tegas Dwi, jika ketiga gejala ini muncul, sebaiknya harus dipikirkan kemungkinan ensefalitis. Barangkali bila anak hanya demam dan kejang, orang tua masih boleh menduga anak hanya kejang demam saja; mungkin belum perlu memikirkan ke arah proses di serebral (otak).

"Tapi jika sudah sampai terjadi penurunan kesadaran, kita harus memikirkan kemungkinan radang otak maupun radang selaput otak." Memang gejala trias tadi tidak mutlak berarti ensefalitis. Penyakit lain yang memiliki gejala sama adalah meningitis (radang selaput otak). "Karena itu anak harus segera dirawat, diperiksa, dan diobservasi apakah ia terserang radang, radang selaput otak atau penyakit lain."

RANGKAIAN PEMERIKSAAN

Selama dirawat, baik saat di ICU atau rawat inap biasa, anak akan menjalani berbagai pemeriksaan antara lain dengan lumbalfungsi (mengambil cairan dari sumsum tulang belakang). Kemudian dilakukan pemeriksaan darah. "Darah diambil dan dilakukan biak atau kultur darah untuk melihat penyebabnya. Sayangnya, virus di dalam darah tersebut cepat hilang, sehingga sulit mendapatkan virus atau kumannya."

Padahal dengan mengetahui penyebabnya akan sangat memudahkan penanganan selanjutnya. "Sayangnya kebanyakan virus sulit diidentifikasi, bahkan lebih dari 50 persen kasus ensefalitis tak diketahui penyebabnya. Karena itu secara umum pengobatan ensefalitis dilakukan secara symptomatic, " lanjut Dwi.

Artinya, jika penyebabnya kuman TB, kita obati TB-nya. Kalau penyebabnya virus yang lain, penanganannya lain lagi. Kecuali itu, anak pun akan mengalami pemeriksaan dengan elektroensefalografi (EEG); dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya gangguan fungsi neuron. Biasanya perlu juga dilakukan CT Scan untuk mengetahui kerusakan di otak. Bahkan pemeriksaan-pemeriksaan lebih lanjut akan terus dilakukan tergantung pada gangguan yang kemudian ditimbulkan. Semisal, dari hasil CT Scan menunjukkan adanya gangguan pada pusat pendengaran. Nah, untuk mengetahui seberapa jauh gangguannya dilakukan pemeriksaan Brain Evoked Response Audiometry (BERA).

MEMINIMALKAN GEJALA SISA

Mengingat gejala sisa yang tidak kecil dari ensefalitis, pencegahan perlu dilakukan sedini mungkin. Salah satunya dengan imunisasi, seperti MMR atau HiB. "Selain itu bisa dicegah dengan menjaga kondisi tubuh. Status gizi harus baik, sehingga daya tahan tubuh akan bisa mengantisipasi kemungkinan ensefalitis." Tapi, tentu saja tingkat keberhasilannya tidaklah 100 persen karena serangan virus bisa berulang. "Penyebabnya mungkin saja jenis virus yang menyerang berbeda dari sebelumnya, atau virusnya lebih ganas. Bisa juga saat virus menyerang, daya tahan tubuh sedang lemah."

Tapi, justru jangan diartikan orang tua lantas menyerah begitu saja bila anak terkena ensefalitis. Berbagai terapi "penyembuhan" berikutnya justru harus diupayakan. Caranya, lanjut Dwi, dengan mengidentifikasi kemungkinan cacat yang akan ditimbulkan. Angka kecacatannya kan cukup tinggi. "Penanganannya dengan rehabilitasi. Karena yang diserang otak, maka prinsipnya tergantung bagian otak mana yang rusak." Bila bagian pendengaran yang terkena, mungkin proses pendengarannya yang terganggu; bisa salah satu atau kedua telinga; bisa rendah atau parah. Bila bagian motorik yang kena, mungkin saja anak jadi lumpuh.

"Bisa juga mengenai pendengaran, motorik, dan penglihatan sekaligus, misalnya." Dengan adanya kemungkinan gangguan pertumbuhan fisik maupun mental, orang tua kiranya perlu bersabar menghadapinya. Karena, Bu-Pak, kunci keberhasilan justru di tangan Bapak dan Ibu dalam merawat anak yang memiliki kelainan tersebut. Riesnawiati/Hasto Prianggoro

TERAPI ANAK "ISTIMEWA"

Ada beberapa terapi yang harus dijalani anak-anak yang terkena ensefalitis. Tapi, pelaksanaan terapi tergantung pada gejala sisa yang timbul. Yang jelas, terang dr. Dwi Putro, Sp.A(K), MMed., semua usaha diarahkan untuk mengarahkan dan melatih kemampuan otaknya supaya bisa mendekati kemampuan anak normal yang sebaya.

Bisa jadi semuanya harus dijalani, bisa jadi hanya sebagian. Sebaiknya orang tua mengkonsultasikan hal ini dengan dokter yang menangani anak. Yang jelas, berbagai terapi yang menstimulasi otak diharapkan dapat mengurangi kecacatan yang mungkin timbul. Semisal, fisioterapi, terapi okupasi, terapi wicara, dan sebagainya.

Riesnawiati/Hasto

Keringet Buntet

Keringet Buntet

Sering, kan, bayi mengalaminya? Tapi, tak usah panik, Bu-Pak, karena bisa disembuhkan. Yang penting, hindari faktor pencetusnya.

Keringet buntet alias biang keringat merupakan kelainan kulit yang disebabkan tersumbatnya kelenjar keringat. Karena ada istilah "tersumbat" inilah makanya orang awam kerap menyebut biang keringat sebagai keringet buntet. Bagian tubuh yang diserang adalah daerah kepala, punggung, dada, dan bahkan muka. Maklumlah, hampir semua anggota tubuh manusia mengandung kelenjar keringat, kecuali mulut.

Sejak manusia lahir, terang dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, sudah memiliki kelenjar keringat dan jumlahnya tak akan berubah karena tak ada penambahan. "Hanya pada bayi fungsi kelenjar keringatnya belum berjalan sempurna sehingga bayilah yang lebih kerap mengalami sumbatan kelenjar keringat." Itulah mengapa, biang keringat lebih umum ditemukan pada bayi.

BAJU DAN VENTILASI

Tapi, bukan berarti setiap bayi akan mengalami biang keringat, lo. Banyak juga, kok, bayi yang tak mengalaminya. Bukan lantaran bayi yang satu lebih rentan dengan biang keringat dibanding bayi lainnya, melainkan perawatan kulitnya. "Jika kulit bayi dirawat dengan baik, biang keringat juga tak akan terjadi, kok," ujar Ari.

Apalagi, tambahnya, biang keringat sebenarnya mudah dihindari. Misalnya, dengan memakaikan baju dari bahan yang menyerap keringat. Bahan katun bisa menjadi salah satu alternatif. Tapi modelnya jangan terlalu ketat, lho. Kalau modelnya ketat, meskipun bahannya katun, tetap saja akan mudah keringatan. Tapi kalau longgar, kan, lebih nyaman. Tentunya, ventilasi ruangan juga harus diperhatikan agar sirkulasi udaranya bagus.

"Nah, inilah prinsip-prinsip dasar mencegah dan mengobati tahap pertama biang keringat," tukas Ari. Jadi, Bu-Pak, bila si kecil mengalami biang keringat segeralah cari faktor pencetusnya, apakah karena pakaiannya yang tak tepat ataukah ventilasinya kurang. Bila keduanya sudah baik namun masih terjadi biang keringat, "bisa jadi karena kelalaian sang ibu atau pengasuhnya," tandas Ari. Misalnya, saat bayi berkeringat banyak dan bajunya basah tak langsung diganti bajunya dan dikeringkan badannya. Hal ini juga memicu terjadinya biang keringat, lho.

BEDAK GATAL

Biasanya para ibu akan memberi bedak tabur bayi di daerah yang terkena biang keringat. "Enggak apa-apa, kok, karena fungsi bedak, kan, untuk menyerap sisa kelembaban sehingga kulit jadi kering kembali," kata Ari. Juga, tak usah khawatir kulit si kecil akan bertambah kering dan bersisik dengan digunakannya bedak tabur. "Tanpa diberi bedak pun, pada dasarnya kulit dengan biang keringat sudah seperti bersisik kasar karena bentuknya yang bintil-bintil kecil berisi air.

Lagi pula, dalam waktu singkat juga akan dibuang bersama pengelupasan kulit karena letaknya sangat dangkal," terangnya. Bisa juga digunakan bedak khusus untuk mengatasi biang keringat yang dijual di pasaran, terutama bila biang keringatnya tetap membandel. "Bedak-bedak tersebut biasanya mengandung zat tambahan untuk mengurangi rasa gatal. Namun tak apa, karena prinsip pengobatan biang keringat hanya symptomatic atau mengurangi gejalanya saja. Selain itu, tentunya para produsen pun sudah memperhitungkan bahan-bahan yang aman bagi bayi."

Adapun bahan tambahan yang biasanya digunakan untuk mengurangi rasa gatal biang keringat ialah calamine dan mentol. "Kedua bahan ini aman untuk bayi," ujar Ari. Tapi tentu yang namanya individual cases atau exceptional cases pasti ada. Misalnya, bayi A ternyata tak cocok pakai bedak biang keringat. "Mungkin ia rentan karena usia yang lebih muda. Bukankah usia muda memang lebih mudah mengalami iritasi?"

Nah, kalau sudah demikian berarti sudah menjadi tugas dokter. Serahkan juga pada dokter bila biang keringat akhirnya menjadi infeksi sekunder yang biasanya kerap terjadi pada biang keringat tipe dua"Karena gatal, maka anak-anak kerap menggaruknya sehingga terjadi infeksi sekunder. Bintil-bintil yang berwarna merah tersebut akan berisi nanah," tutur Ari. Biasanya dokter akan mempertimbangkan untuk memberikan obat antibiotik.

HATI-HATI JAMUR

Yang perlu diperhatikan, ujar Ari, jangan sampai orang tua keliru mengira biang keringat padahal sebenarnya jamur. "Ini sering terjadi, lo. Orang tua mengeluh, biang keringatnya, kok, enggak sembuh-sembuh. Sewaktu diperiksa baru ketahuan itu bukan biang keringat, melainkan jamur," tuturnya. Oleh karena itu, anjurnya, sebaiknya orang tua yang sudah mencoba obat-obatan biang keringat memperhatikan bentuk hasil uji cobanya. Apalagi, sering terjadi kulit bayi tetap tak membaik meskipun sudah dicoba berbagai obat gatal.

"Sebaiknya bawa ke dokter terdekat untuk memastikan apakah benar biang keringat atau jamur. Karena orang awam mungkin sulit membedakan jamur dengan biang keringat. Mereka hanya lihat bintil-bintil merah. Tapi kalau dokter, pada umumnya dengan melihat sepintas bisa membedakan ini jamur atau biang keringat." Begitu pun bila bayi mengalami bruntusan merah di daerah kelamin.

"Itu bukan biang keringat karena tak ada pengaruhnya antara BAK dengan biang keringat. BAK merupakan fungsi sekresi yang berhubungan dengan saluran kemih, sedangkan biang keringat adalah sumbatan kelenjar keringat," terang Ari. Begitu juga bila bokong bayi mengalami bintil-bintil erah, "urusannya bukan pada biang keringat tapi lebih ke ruam popok."

Bagaimanapun, memang lebih aman diperiksakan dulu ke dokter baru kemudian diobati. Bukan begitu, Bu-Pak?

TIPE BIANG KERINGAT

Berdasarkan kedalaman sumbatannya, biang keringat dibagi dalam 3 tipe, yaitu:

* Tipe Pertama

Sumbatan terjadi di permukaan lapisan jangat atau lapisan tanduk sehingga lokasinya dangkal sekali. Biang keringat tipe inilah yang paling umum dan sering terjadi. Gejalanya, pada kulit tubuh bayi yang sering keringatan akan tampak mengelupas, kering, dan kasat. Gejala ini biasanya dipicu oleh panasnya udara. "Biang keringat tipe ini ditandai bintik-bintik berisi air kecil-kecil dan akan mudah pecah sendiri karena lokasinya yang masih dangkal sekali," terang Ari.

* Tipe Dua

Lokasi sumbatan di bagian lapisan jangat yang lebih dalam. Selain kulit menjadi bruntusan merah, juga disertai rasa gatal. Itulah mengapa, biang keringat tipe ini irritable atau mengganggu. Bayi yang mengalami biang keringat tipe dua akan menjadi rewel akibat rasa gatal. "Orang tua biasanya akan mengeluh pola tidur bayinya terganggu seperti gelisah, tak nyenyak, dan lainnya. Ini bisa dijadikan indikator rasa gatal pada bayinya mengingat bayi belum bisa bicara," tutur Ari. Tak ada tanda lain semisal panas karena biang keringat bukan penyakit infeksi. Kita hanya bisa melihat reaksi tubuh yang membuat bayi jadi gatal. "Bila ibu merawat sendiri bayinya, maka biang keringat bisa cepat ketahuan karena naluri juga berperan besar," lanjut Ari.

* Tipe Tiga

Sumbatan terjadi di subkutis yang letaknya di bawah lapisan jangat. Jadi, sumbatannya lebih dalam dibanding tipe dua. Biasanya tipe tiga terjadi di daerah-daerah yang suhunya sangat panas. Walaupun Indonesia termasuk negara tropis, namun biang keringat tipe tiga jarang terjadi. "Mungkin faktor angin sangat mempengaruhi sehingga suhu di Indonesia tak terlalu panas. Lain halnya dengan negara lain yang suhunya mungkin mencapai 40 derajat Celcius," tutur Ari. Biang keringat tipe tiga ditandai bintil-bintil pada kulit dan bila diraba akan terasa agak keras. Bintil-bintil ini sekilas mirip jerawat batu.

LEBIH AMAN BEDAK TABUR KETIMBANG BEDAK KOCOK

Selain dalam bentuk bedak tabur, di pasaran juga dijual pengurang rasa gatal dalam bentuk bedak kocok, krem, dan salep. Menurut Ari , pada prinsipnya sama saja karena bahan-bahan yang ditempelkan di kulit bisa dalam berbagai bentuk. Hanya saja, semakin kental atau semakin berbentuk salep, maka akan semakin lekat. "Bedak tabur kalau ditempelkan di badan tentu fungsi lekatnya kurang. Lain dengan bedak kocok yang ditambahi cairan tertentu sehingga lebih melekat ke badan," terang Ari. Cuma, seringkali bedak kocok ada tambahan alkoholnya sehingga pada beberapa orang bisa menimbulkan iritasi bila digunakan. Jadi, Bu-Pak, silakan pilih mau bentuk yang mana. Tapi kalau mau lebih aman dan nyaman, sih, pilihlah bentuk bedak tabur seperti dianjurkan Ari. "Kecuali bila biang keringatnya agak berat, barulah gunakan bedak kocok." Tapi, ya, itu tadi, karena ada alkoholnya, pada beberapa orang, kulitnya akan kelihatan lebih kering setelah pengobatan.

Faras Handayani

Telinga Bau

Telinga Bau

Putra pertama saya berusia lima bulan. Ia lahir normal dengan BB 3,3 kg dan PB52 cm. April lalu saat ia empat bulan BB-nya 7,5 kg dengan PB 63 cm. Kelebihan ya Dok? Saat ini ia cuma minum ASI dan susu formula di siang hari karena saya tinggal. Kemudian telinga anak saya bau. Yang sebelah kanan lebih bau daripada yang sebelah kiri. Padahal sudah sering saya bersihkan, hampir setiap hari. Tapi kok baunya tidak mau hilang. Kotorannya juga berbentuk gumpalan basah dan berwarna kuning.

Kenapa ya, Dok? Apa ia terkena radang telinga? Berbahaya atau tidak? Ia suka menggaruk bagian belakang telinganya saat mau tidur.Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.

Lyra ­ via email

Saya sering menjumpai ibu-ibu yang mengeluhkan telinga anaknya bau, meskipun jika diperiksa tidak ada apa-apa. Biasanya baunya tidak menyengat dan agak "apek". Sepanjang tidak ada tanda-tanda infeksi mungkin tidak jadi masalah. Jangan membersihkan liang telinga bayi (bagian dalam). Hal ini dapat menimbulkan luka lecet kecil dan juga malah akan merangsang produksi kotoran telinga. Bersihkan saja bagian luarnya dan nanti kotoran dari dalam akan keluar sendiri. Banyak juga bayi yang suka menggaruk telinganya, hal ini tidak bermasalah. Namun, ada baiknya si kecil diperiksakan ke dokter anak untuk memastikan apakah ada tanda tanda infeksi pada telinganya.

Si Kecil Alergi?


Foto: Getty Images

Banyak mitos dan pertanyaan seputar alergi pada anak. Manakah yang benar?

Pertanyaan seputar alergi pada anak memang kerap menghantui para Ibu dan calon Ibu. Mulai bagaimana mengetahui gejalanya, apakah bisa disembuhkan, hingga bisakah teridentifikasi dari masalah alergi Ibu ketika mengandung.

Agar lebih jelas mengenai alergi pada anak (batita), berikut tanya-jawab yang dihimpun seputar alergi.

1 . Orang awam kerap mengatakan “bayi saya alergi susu”. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan alergi susu?

Alergi susu diartikan bila minum susu timbul reaksi alergi, biasanya mengenai kulit berupa eksim atopi yang disebut dermatitis atopi.

Alergi susu juga dapat mengenai bayi hingga dewasa. Memang, memberikan pengganti berupa susu kedelai adalah salah satu solusi yang bisa dilakukan pada anak dengan alergi susu, namun itu bukan satu-satunya solusi. Bisa juga dengan mengganti susu formula dengan susu yang dihidrolisis misal, Nan HA.

2 . Bahan apa dalam susu yang menyebabkan alergi?

Bahan dalam susu yang menyebabkan alergi adalah proteinnya.

3 . Apakah ASI dapat saja menjadi penyebab alergi susu dan harus dihentikan?

ASI dapat saja menjadi penyebab alergi, oleh karena itu Si Ibu harus diet terhadap makanan yang sering menyebabkan alergi, seperti susu, telur, makanan laut, vetsin, dan makanan lain yang dicurigai.

4. Gejala apa yang bisa dikenali bila anak menderita alergi khususnya makanan?

Gejala umunya, berupa gatal-gatal pada kulit yang disebut dermatitis atopi atau biduran/kaligata yang disebut urtikaria. Namun dapat juga mengenai saluran napas berupa asma.


Si Kecil Alergi? (2)

Foto: Agus Dwianto

5 . Benarkah pada ibu yang memiliki riwayat alergi makanan, terutama pada saat hamil menjadi alergi pada makanan tertentu, anaknya akan menderita alergi pada bahan makanan yang sama?

Belum tentu. Bisa ya, bisa juga tidak. Alergi memang dapat diturunkan secara genetik, tetapi jenis alerginya tidak harus sama, bisa saja ibunya alergi makanan tertentu, anaknya menderita asma atau pilek alergi, atau juga anaknya alergi makanan yang sama jenisnya dengan ibu, tetapi bisa juga berbeda, misalnya anaknya alergi udang, ibunya alergi bukan udang.

6 . Bila anak sudah pernah (terbukti) alergi terhadap produk susu, bisakah Ibu memberikan makanan mengandung susu seperti biskuit, pancake , bubur susu dsb?

Tidak bisa, harus dihindari. Jika anak terbukti memiliki alergi terhadap susu sebaiknya bukan hanya menghindari susu, tetapi harus menghindari produk susunya juga.

7 . Bisakah ibu mencegah anak mewarisi bakat alergi ibu?

Genetik tidak dapat dicegah, tetapi dihindari. Bila orang tua telah diketahui memiliki riwayat alergi dan anak sudah pernah menunjukkan gejala alergi, sebaiknya hindari saja bahan-bahan yang menimbulkan reaksi alergi.

8 . Bahan makanan apa saja yang bisa memicu alergi pada batita?

Alergi pada batita dapat berupa alergi terhadap: susu, telur, kacang, makanan laut/seafood , dan minyak ikan.

9 . Bisakah alergi disembuhkan, atau harus bagaimana bila ibu sudah mengetahui anak punya alergi terhadap bahan makanan tertentu?

Alergi tidak dapat disembuhkan, tetapi dikontrol. Alergi dipengaruhi dua faktor, yaitu faktor genetik yang tidak bisa di-apa-apakan, dan faktor lingkungan yang harus dikontrol.

Jadi alergi dapat diketahui dari pengalaman pasien dan kita dapat melakukan tes alergi melalui uji tusuk kulit atau skin prick test , dan pemeriksaan darah IgE Atopi untuk mengetahui faktor pencetus. Dengan demikian pasien dapat mencegah kambuhnya penyakit alergi dengan cara menghindari penyebabnya.

10 . Usia berapa anak bisa menjalani tes alergi dan bagaimana prosedurnya?

Tes alergi berupa uji tusuk kulit sudah dapat dilakukan pada usia 1 tahun, kurang dari satu tahun juga bisa, hanya saja bayi tersebut belum banyak paparannya, sehingga umumnya dilakukan pada anak usia diatas 1 tahun.

Prosedurnya adalah tidak minum anti alergi atau anti histamin 3 hari sampai dengan 1 minggu (tergantung jenis anti histaminnya). Hal ini untuk menghindari hasil negatif palsu.

Uji tusuk kulit pada anak 1 tahun sering dilakukan di paha, pada usia batita hingga dewasa biasanya dilakukan pada lengan bawah. Alergen ditetes di lengan bawah, kemudian tiap alergen yang ditetes, ditusuk dengan jarum khusus, lalu didiamkan 15 menit untuk menuggu reaksi yang muncul, setelah itu di lap dengan tisu dan tes siap dibaca. Reaksi positif dinyatakan dengan timbulnya bentol yang berukuran diameter minimal 3 mm.

Laili Damayanti

Nara sumber: Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD, K-AI, FINASIM, Divisi Alergi Imunologi Klinik, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, FKUI/RSCM.

Penyebab dan Penanganan Kram Kaki

Penyebab dan Penanganan Kram Kaki


kram kakiKram kaki adalah nyeri akibat spasme otot di kaki yang timbul karena otot berkontraksi terlalu keras. Daerah yang paling sering kram adalah otot betis di bawah dan belakang lutut. Nyeri kram dapat berlangsung beberapa detik hingga menit dengan keparahan bervariasi.

Kram kaki biasanya terjadi saat kita beristirahat, bahkan mungkin sedang tidur. Orang tua lebih sering terkena kram daripada orang muda. Pada beberapa orang tua, kram bahkan bisa terjadi setiap hari.

Penyebab

Pada umumnya penyebab kram tidak diketahui (idiopatik). Sementara ahli berpendapat bahwa kram terjadi ketika otot yang sudah dalam posisi mengkerut dirangsang untuk kontraksi. Hal ini terjadi saat kita tidur dengan posisi dengkul setengah ditekuk, dan telapak kaki sedikit mengarah ke bawah. Pada posisi ini otot betis agak tertekuk dan mudah terkena kram. Itulah mengapa gerakan pelenturan sebelum tidur dapat mencegahnya.

Pada beberapa kasus, kram mungkin terjadi karena masalah atau kondisi lainnya, misalnya:

  • Beberapa jenis obat dapat memberikan efek samping berupa kram. Golongan obat ini antara lain: diuretik, nifedipine, cimetidine, salbutamol, statins, terbutaline, lithium, clofibrate, penicillamine, phenothiazines, dan nicotinic acid.
  • Dehidrasi
  • Ketidakseimbangan zat garam dalam darah (misalnya, kadar kalsium atau potasium terlalu rendah)
  • Kehamilan, terutama pada trimester akhir
  • Kelenjar tiroid yang kurang aktif
  • Penyempitan arteri kaki yang menghambat sirkulasi
  • Gangguan saraf
  • Sirosis hati

Pada kondisi di atas, kram hanyalah satu dari beberapa gejala lainnya. Bila tidak ada gejala lain, kemungkinan besar kram bersifat idiopatik dan bukan karena kondisi di atas.

Penanganan

Gerakan pelemasan (stretching) dan pemijatan biasanya dapat meredakan serangan kram. Obat pengurang sakit biasanya tidak bermanfaat karena tidak cukup cepat bekerja. Namun, pengurang sakit seperti paracetamol mungkin bermanfaat meringankan nyeri dan lemas otot yang kadang masih berlangsung hingga 24 jam setelah hilangnya kram.

Pencegahan

  • Beritahu dokter bila kram kemungkinan disebabkan oleh konsumsi salah satu obat di atas. Dokter dapat memberikan obat alternatif.
  • Minum setidaknya enam gelas penuh setiap hari, termasuk satu gelas sebelum tidur. Juga perbanyak minum sebelum, selama dan setelah berolah raga.
  • Konsumsi makanan yang kaya kalsium, potasium dan magnesium. Makan satu atau dua buah pisang sehari sudah cukup memenuhi kebutuhan potasium Anda.
  • Bila Anda sering mengalami kram saat tidur, lakukan gerakan pelemasan pada otot-otot betis sebelum tidur. Caranya adalah dengan berdiri sekitar 60-90 cm dari dinding, lalu condongkan badan ke arah dinding dengan telapak kaki tetap di tempat. Lakukanlah beberapa kali. Anda mungkin perlu beberapa hari melakukannya sampai efeknya terasa.
  • Tidurlah dengan posisi yang mencegah otot betis Anda tertekan tanpa disadari:
    • Gunakan bantal untuk menyangga telapak kaki saat Anda tidur telentang.
    • Bila Anda tidur tengkurap, posisikan telapak kaki menggantung di ujung kasur.
    • Usahakan selimut tetap longgar di bagian kaki agar jari-jari dan kaki telapak tidak menghadap ke bawah saat tidur.