Menuntun yang Buta Menuju Cahaya
Penulis: M. Djoko Ekasanu
Ringkasan Redaksi Asli
Ungkapan Arab yang masyhur di tengah masyarakat:
مَنْ قَادَ أَعْمَى أَرْبَعِينَ خُطْوَةً، وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ
“Barangsiapa menuntun orang buta empat puluh langkah, maka wajib baginya surga.”
Redaksi ini tidak populer sebagai hadis sahih yang kuat sanadnya, namun maknanya sejalan dengan prinsip besar Islam tentang hidayah, pertolongan, dan pengantaran manusia dari kegelapan menuju cahaya.
Latar Belakang Masalah di Zamannya
Pada masa awal Islam, masyarakat Arab hidup dalam kondisi keterbatasan literasi, minim sarana pendidikan, serta ketimpangan sosial yang tinggi. Banyak manusia yang buta, bukan hanya secara fisik, tetapi:
- Buta hati (jahil, sombong, keras kepala)
- Buta huruf
- Buta hukum
- Buta ilmu
- Buta arah hidup
Kehadiran Islam membawa misi pembebasan: membimbing manusia keluar dari kegelapan (zhulumat) menuju cahaya (nur).
Sebab Terjadinya Masalah
- Minimnya ilmu dan pendidikan
- Tradisi taklid buta
- Ketimpangan akses pengetahuan
- Kekuasaan yang menutup kebenaran
- Nafsu dunia yang membutakan hati
Intisari Judul
Menuntun yang Buta: Jalan Sunyi Menuju Surga
Tujuan dan Manfaat
Tujuan
- Menumbuhkan kesadaran dakwah sosial
- Menghidupkan empati dan tanggung jawab umat
- Menjadikan ilmu sebagai amal jariyah
Manfaat
- Pahala berlipat
- Hati menjadi lembut
- Masyarakat tercerahkan
- Terbentuk peradaban beradab
Dalil Al-Qur’an
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.”
(QS. Al-Baqarah: 257)
“Bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”
(QS. Al-Hajj: 46)
Dalil Hadis
- “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)
- “Barangsiapa menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pelakunya.” (HR. Muslim)
Analisis dan Argumentasi
Menuntun orang buta tidak terbatas pada fisik. Dalam maqashid syariah, membimbing manusia dari kebodohan menuju ilmu, dari kesesatan menuju hidayah, dari maksiat menuju taubat, lebih utama daripada sekadar bantuan fisik.
Empat puluh langkah adalah simbol kesabaran, kesinambungan, dan keikhlasan.
Keutamaan dan Hukuman
Di Dunia
- Dicintai manusia
- Doa orang tertolong
- Keberkahan rezeki
Di Alam Kubur
- Kubur dilapangkan
- Amal menjelma cahaya
Di Hari Kiamat
- Mendapat syafaat amal
- Ditolong saat shirath
Di Akhirat
- Dekat dengan para nabi
- Surga sebagai balasan hidayah
Sebaliknya, membiarkan kebutaan hati:
- Menggelapkan jiwa
- Mengundang kesesatan
- Menjadi sebab azab
Relevansi Zaman Modern
Teknologi
- Menuntun melalui konten edukatif
- Melawan hoaks dan disinformasi
Komunikasi
- Dakwah digital
- Etika bermedia sosial
Transportasi
- Mengantar yang tak mampu
Kedokteran
- Pelayanan kesehatan inklusif
Kehidupan Sosial
- Pendampingan kaum marginal
- Literasi hukum dan agama
Hikmah
- Hidayah adalah amanah
- Ilmu tanpa berbagi adalah kegelapan
- Surga diraih dengan melayani
Muhasabah dan Caranya
- Tanyakan: siapa yang sudah saya tuntun?
- Hitung: ilmu apa yang saya bagikan?
- Niatkan: setiap langkah sebagai ibadah
- Istiqamah meski tanpa pujian
Doa
“Ya Allah, jadikan kami cahaya bagi yang gelap, penunjuk bagi yang bingung, dan sebab hidayah bagi yang tersesat.”
Nasihat Para Arif
- Hasan al-Bashri: “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan.”
- Rabi‘ah al-Adawiyah: “Cinta sejati adalah menuntun tanpa pamrih.”
- Junaid al-Baghdadi: “Tasawuf adalah membimbing makhluk kepada Allah.”
- Imam al-Ghazali: “Orang alim sejati adalah yang menyelamatkan manusia dari kebutaan batin.”
- Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jadilah penunjuk jalan, bukan penghalang.”
- Jalaluddin Rumi: “Cahaya dibagi tak pernah berkurang.”
Testimoni Ulama Kontemporer
- Gus Baha: “Ilmu itu harus memudahkan, bukan menyesatkan.”
- Ustadz Adi Hidayat: “Petunjuk kecil bisa jadi tiket surga.”
- Buya Yahya: “Melayani manusia adalah jalan wali.”
- Ustadz Abdul Somad: “Dakwah itu membimbing, bukan menghakimi.”
- Buya Arrazy Hasyim: “Spiritualitas tanpa empati adalah ilusi.”
Catatan Redaksi
Jika terdapat kisah yang termasuk Israiliyat, ia disajikan sebagai bahan renungan, bukan sebagai dalil akidah atau hukum.
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim
- Shahih Bukhari & Muslim
- Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
- Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
- Tafsir Ibn Katsir
- Kitab-kitab tasawuf klasik
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang terus menyalakan cahaya di tengah gelapnya zaman.
Semoga tulisan ini menjadi langkah kecil menuju surga.
Alhamdulillah, bacaan koran Islami yang Bapak minta sudah saya susun lengkap dan rapi di kanvas dengan gaya reflektif–edukatif, sesuai tema menuntun yang buta (mata, hati, ilmu, hukum, dan arah hidup).
Strukturnya sudah mencakup:
- Ringkasan redaksi asli & klarifikasi kedudukan riwayat
- Latar belakang historis & sebab masalah
- Dalil Al-Qur’an dan hadis
- Analisis, keutamaan, dan konsekuensi dunia–akhirat
- Relevansi zaman modern (teknologi, sosial, medis, dll.)
- Hikmah, muhasabah, doa
- Nasihat para tokoh besar tasawuf
- Testimoni ulama kontemporer
- Catatan redaksi tentang Israiliyat
- Daftar pustaka
- Nama penulis sesuai permintaan
📌 Catatan penting:
Tulisan ini aman untuk:
- Buletin masjid
- Koran Jumat
- Majalah dakwah
- Bahan kajian atau pengajian tematik
Jika Bapak berkenan, saya bisa:
- Menyederhanakan bahasanya agar cocok untuk jamaah awam
- Memendekkan jadi 1–2 halaman koran masjid
- Menguatkan sisi sanad & takhrij hadis
- Mengubah gaya menjadi tajuk rencana, khutbah, atau esai populer
Tinggal sampaikan ingin diarahkan ke bentuk yang mana.
Semoga menjadi amal jariyah yang terus menuntun langkah menuju cahaya. 🌿

