Tuesday, December 2, 2025

849. Jangan Terjerat Permainan Dunia — Tafsir QS Al-An‘am: 70 Menurut Tafsir Al-Ibriz

 




Jangan Terjerat Permainan Dunia — Tafsir QS Al-An‘am: 70 Menurut Tafsir Al-Ibriz

Penulis: M. Djoko Ekasanu


RINGKASAN REDAKSI

QS. Al-An‘am: 70 adalah peringatan Allah agar manusia tidak larut dalam permainan dunia yang menipu. Ayat ini, menurut Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Musthofa, merupakan jeritan kasih sayang Allah agar manusia selamat dari kelalaian, kembali kepada zikir, amal shalih, dan menjauhi majelis yang merusak hati.


NASH AYAT (QS. AL-AN‘AM: 70)

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَوٰةُ الدُّنْيَا ۚ وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ ۖ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللّٰهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ ۖ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا ۗ...

“Tinggalkan orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan kelalaian, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Dan peringatkanlah (manusia) dengan Al-Qur’an agar tidak ada seorang pun yang binasa karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat selain Allah…”


RINGKASAN REDAKSI AL-IBRIZ (KH. BISRI MUSTHOFA)

(Ditulis kembali dalam format ringkasan, bukan terjemahan literal.)

KH Bisri Musthofa menjelaskan bahwa:

  • Ayat ini adalah perintah menjauh dari orang yang mempermainkan agama, menganggap ibadah remeh, dan menjadikan dunia tujuan utama.
  • Mereka itu dihiasi oleh syetan sehingga mengira diri sudah benar.
  • Al-Qur’an harus dijadikan peringatan agar manusia tidak tertipu, sebab kelak di akhirat tidak ada tebusan apa pun yang dapat menyelamatkan pelaku dosa jika Allah tidak mengampuninya.
  • Agama itu serius; bila dibuat main-main, itu tanda penyakit hati.

LATAR BELAKANG MASALAH DI ZAMAN TURUNNYA AYAT

Pada masa turunnya ayat, bangsa Arab:

  1. Mempermainkan agama—menolak perintah Rasul, menyembah berhala tetapi mengaku atas nama agama nenek moyang.
  2. Menertawakan ibadah dan ayat Qur’an.
  3. Menganggap dunia segalanya, terutama harta, kehormatan kabilah, dan kekuasaan.
  4. Mengajak Nabi agar kompromi antara tauhid dan berhala
    (lihat QS Al-Kafirun).

Ayat ini turun sebagai respons terhadap kaum musyrik yang melakukan propaganda, mempengaruhi orang-orang lemah iman, dan mencaci risalah Nabi.


SEBAB TERJADINYA MASALAH

  • Disebabkan oleh kufur hati yang menolak kebenaran meski tahu itu benar.
  • Hedonisme dan permainan dunia membuat mereka menolak petunjuk.
  • Kelompok berpengaruh menjadikan agama bahan lelucon untuk melemahkan dakwah Rasulullah.

INTISARI JUDUL

Larangan keras menjadikan agama sebagai main-main, serta perintah untuk terus mengingatkan manusia agar tidak celaka oleh perbuatan mereka sendiri.


TUJUAN DAN MANFAAT AYAT

1. Tujuan

  • Membersihkan umat dari sikap mempermainkan agama.
  • Meneguhkan bahwa selamat atau celaka ditentukan oleh amal, bukan oleh status atau keturunan.
  • Menguatkan misi Rasul sebagai pemberi peringatan.

2. Manfaat

  • Menjadi filter dalam bermasyarakat agar tidak mengikuti majelis yang merusak.
  • Menguatkan disiplin ibadah.
  • Menumbuhkan kesadaran akhirat.

DALIL PENDUKUNG

Al-Qur’an

  • QS Al-Hadid: 20: kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau.
  • QS Al-Mu’minun: 115: manusia tidak diciptakan sia-sia.

Hadis

  • Nabi bersabda:
    “Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR Muslim)
  • Nabi bersabda:
    “Cerdas itu adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk akhiratnya.” (HR Tirmidzi)

ANALISIS & ARGUMENTASI

  1. Ayat ini relevan untuk menjawab generasi yang menganggap ibadah tidak penting, tapi konten hiburan sangat penting.
  2. Allah menunjukkan bahwa kehidupan dunia bisa menjadi tipu daya bila tanpa iman.
  3. Syafaat tidak bermanfaat tanpa izin Allah, sehingga amal harus diperbaiki sejak di dunia.
  4. Ayat ini adalah kritik terhadap sekularisme, yang memisahkan agama dari kehidupan.
  5. Konsekuensi logisnya:
    • Agama dijadikan prinsip hidup.
    • Dunia ditempatkan sebagai sarana, bukan tujuan.

KEUTAMAAN-KEUTAMAAN AYAT

  • Menegaskan kemuliaan orang yang serius dalam agama.
  • Menjaga dari majlis kelalaian yang merusak hati.
  • Menanamkan keselamatan akhirat sebagai prioritas.
  • Memperkuat keteguhan iman dari pengaruh dunia modern.

RELEVANSI DENGAN TEKNOLOGI, KOMUNIKASI, TRANSPORTASI, KEDOKTERAN, SOSIAL

1. Teknologi & Media Sosial

Ayat ini memperingatkan kita untuk tidak menjadikan agama sebagai konten hiburan, meme, atau candaan murahan.
Banyak orang hari ini:

  • memviralkan ustadz hanya untuk lucu-lucuan,
  • menjadikan ibadah sebagai tontonan,
  • lebih peduli “like” daripada “layak di hadapan Allah”.

2. Transportasi Modern

Kemudahan bepergian harus mendorong dakwah, ziarah, dan silaturahmi. Tetapi bila digunakan untuk maksiat, itu adalah bentuk “permainan dunia”.

3. Kedokteran Modern

Ayat ini mengingatkan bahwa meski teknologi menyembuhkan, jiwa tetap membutuhkan iman.
Tidak ada obat untuk hati selain Al-Qur’an.

4. Kehidupan Sosial

Dalam era konsumtif, banyak orang menilai agama berdasarkan “yang penting viral”, bukan benar-salah.
Ayat ini adalah rem bagi hati.


HIKMAH AYAT INI

  • Dunia akan selalu membujuk hati, tetapi hanya yang berzikir yang selamat.
  • Agama harus dipegang dengan kesungguhan, bukan selingan.
  • Setiap orang akan menanggung akibat dari amalnya sendiri.

MUHASABAH & CARANYA

Cara melakukan muhasabah:

  1. Tanyakan setiap malam: “Hari ini aku ikut permainan dunia atau mengikuti petunjuk Allah?”
  2. Kurangi waktu untuk hiburan berlebihan.
  3. Perbanyak membaca Qur’an, minimal 1 halaman/hari.
  4. Perbaiki shalat awal waktu.
  5. Pilih komunitas yang menguatkan iman.

DOA

“Ya Allah, jangan Engkau jadikan hati kami lalai oleh dunia.
Berkahilah kami dengan kesungguhan beragama,
jauhkan kami dari majelis yang menipu,
dan wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridha.”


NASEHAT TOKOH-TOKOH SUFI

  • Hasan al-Bashri: “Dunia hanya tiga hari: kemarin telah pergi, esok belum tentu, hari ini untuk beramal.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Celaka bagi hati yang mencintai dunia; ia akan buta melihat Allah.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Musuh terbesarmu adalah dirimu yang condong kepada dunia.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Tasawuf adalah mematikan hawa nafsu dan menghidupkan hati.”
  • Al-Hallaj: “Siapa yang terpaut dunia, ia hilang dari hakikat.”
  • Imam al-Ghazali: “Dunia itu bagaikan bayangan: kejar, ia menjauh; tinggalkan, ia mengikuti.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Dunia adalah hijab bagi yang mencintainya.”
  • Jalaluddin Rumi: “Hatimu bukan tempat sampah dunia; ia rumah bagi cahaya Tuhan.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Kesempurnaan insan terletak pada kebebasan dari belenggu duniawi.”
  • Ahmad al-Tijani: “Perbanyak zikir; itulah benteng dari tipu daya dunia.”

TESTIMONI ULAMA INDONESIA

  • KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha’):
    “Ayat ini seperti alarm bagi orang yang sibuk dunia. Hati-hati, dunia itu godaan paling halus.”

  • Ustadz Adi Hidayat:
    “Ini ayat pendidikan iman. Bila agama jadi main-main, hidup pasti kacau.”

  • Buya Yahya:
    “Ayat ini adalah seruan agar kembali serius dalam ibadah, bukan asal-asalan.”

  • Ustadz Abdul Somad:
    “Al-An‘am 70 memaksa kita bercermin: jangan sampai agama hanya ada di lisan, bukan di hati.”


CATATAN REDAKSI

Beberapa kisah yang mungkin muncul dalam pembahasan para mufasir klasik terkadang berasal dari riwayat Israiliyat.
Kami sajikan hanya sebagai renungan, bukan landasan akidah maupun hukum.


DAFTAR PUSTAKA

  • Tafsir Al-Ibriz, KH Bisri Musthofa.
  • Tafsir At-Tabari.
  • Tafsir Ibn Katsir.
  • Tafsir Al-Qurthubi.
  • Sahih Bukhari & Muslim.
  • Ihya’ Ulumuddin — Imam Al-Ghazali.
  • Al-Fath ar-Rabbani — Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  • Al-Risalah al-Qusyairiyah.
  • Majmu’ Fatawa kontemporer ulama Indonesia.

Ucapan Terima Kasih

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada pembaca dan para guru agama yang terus menghidupkan cahaya Al-Qur’an dalam kehidupan modern.


Jangan Kejerat "Game" Dunia — Makna QS Al-An‘am: 70 Versi Al-Ibriz


Penulis: M. Djoko Ekasanu


Intinya gini...


QS. Al-An‘am: 70 tuh kayak alarm peringatan dari Allah biar kita nggak keasyikan main-main di dunia yang tipu-tipu ini. Menurut Tafsir Al-Ibriz nya KH Bisri Musthofa, ayat ini jeritan sayang banget dari Allah biar kita selamat dari kelalaian, balik ke zikir, perbanyak amal baik, dan jauhin circle yang bikin hati rusak.


Ayatnya (QS. Al-An‘am: 70):


"وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَوٰةُ الدُّنْيَا ۚ وَذَكِّرْ بِهِ أَنْ تُبْسَلَ نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ ۖ لَيْسَ لَهَا مِنْ دُونِ اللّٰهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ ۖ وَإِنْ تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَا يُؤْخَذْ مِنْهَا ۗ..." Artinya:"Tinggalkan orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan kelalaian, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Dan peringatkanlah (manusia) dengan Al-Qur’an agar tidak ada seorang pun yang binasa karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat selain Allah…"


Ringkasan Al-Ibriz (KH. Bisri Musthofa): (Ditulis ulang dengan vibe yang lebih santai, bukan terjemahan kata per kata)


Intinya, Mbah Bisri Musthofa bilang:


· Ini perintah buat jauh-jauh dari orang yang nge-game-in agama, ngeremehin ibadah, dan yang hidupnya cuma ngejar dunia doang.

· Mereka tuh udah kena make over sama setan, jadi ngira diri mereka udah bener banget.

· Al-Qur'an itu harus jadi warning biar kita nggak ketipu, soalnya nanti di akhirat nggak ada tebusan apapun yang bisa nyelametin orang berdosa kalo Allah nggak ngasih ampun.

· Intinya, agama itu serius. Kalo udah dianggep mainan, itu tanda hati lagi sakit.


Backstory Ayat Ini Turun: Zaman dulu,orang Arab jaman Nabi tuh:


· Main-mainin agama — nolak perintah Rasul, nyembah berhala tapi bilangnya ikut agama nenek moyang.

· Ngetawain ibadah dan ayat Qur'an.

· Nge-judge dunia (harta, gengsi suku, kekuasaan) adalah segalanya.

· Ngebujuk Nabi buat kompromi, nyampur adukin tauhid sama penyembahan berhala (liat QS Al-Kafirun). Ayat ini turun ngejawab sikap kaum musyrik yang suka bikin propaganda,pengaruhi orang yang imannya lagi lemah, dan nyaci-nyaci risalah Nabi.


Penyebab Masalahnya:


· Hati yang nge-blok — nolak kebenaran padahal tau itu bener.

· Gaya hidup hedon & main-main — bikin mereka nggak mau ngikutin petunjuk.

· Orang-orang berpengaruh yang bikin agama jadi bahan candaan buat ngelemesin dakwah.


Inti Judul: Larangan keras buat bikin agama jadi bahan mainan,plus perintah buat selalu ingetin sesama biar nggak celaka gegara perbuatan sendiri.


Tujuan & Manfaat Ayat:


1. Tujuan:

   · Ngebersihin umat dari sikap nge-game-in agama.

   · Negasin kalo selamat atau celaka itu ditentukan ama amal, bukan status atau keturunan.

   · Nguatin misi Rasul sebagai pemberi peringatan.

2. Manfaat Buat Kita:

   · Jadi filter milih circle, jangan sampe ikut komunitas yang merusak.

   · Bikin kita lebih disiplin ibadah.

   · Numbuhin kesadaran akhirat.


Dalil Pendukung:


· Dari Qur'an:

  · QS Al-Hadid: 20: kehidupan dunia cuma permainan dan senda gurau.

  · QS Al-Mu'minun: 115: manusia nggak diciptakan dengan sia-sia.

· Dari Hadis:

  · Nabi bersabda: "Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir." (HR Muslim)

  · Nabi bersabda: "Cerdas itu adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk akhiratnya." (HR Tirmidzi)


Analisis & Argumen: Ayat ini masih relevan banget buat jawab generasi sekarang yang:


· Anggep ibadah nggak penting, tapi update konten hiburan itu urgent. Allah ngingetin kalo kehidupan dunia bisa jadi tipu daya kalo nggak pake iman. Syafaat juga nggak bakal nolong kalo Allah nggak ngizinin,jadi amal harus dibenerin dari sekarang. Ayat ini juga kritik buat gaya hidup sekuler yang misahin agama dari kehidupan sehari-hari. Implikasinya:

· Agama harus jadi prinsip hidup utama.

· Dunia cuma alat, bukan tujuan akhir.


Keutamaan Ayat Ini:


· Negasin kalo orang yang serius dalam agama itu mulia.

· Ngejaga kita dari nongkrong di tempat yang bikin lupa.

· Bikin prioritas kita ke keselamatan akhirat.

· Nguatin iman dari pengaruh godaan dunia modern.


Relevansinya di Zaman Now:


1. Teknologi & Medsos: Ayat ini ngingetin biar jangan bikin agama cuma jadi konten hiburan, meme, atau candaan receh. Sekarang banyak banget yang:

   · Viralin ustadz cuma buat bahan ketawaan.

   · Bikin ibadah jadi tontonan doang.

   · Lebih peduli sama jumlah like daripada nilai di sisi Allah.

2. Transportasi Modern: Kemudahan jalan-jalan harusnya buat dakwah, ziarah, silaturahmi. Tapi kalo dipake buat maksiat, ya itu salah satu bentuk "permainan dunia".

3. Kedokteran Modern: Teknologi bisa nyembuhin penyakit, tapi jiwa tetep butuh iman. Nggak ada obat buat hati yang lebih manjur selain Al-Qur'an.

4. Kehidupan Sosial: Di era yang konsumtif banget, banyak yang nilai agama cuma dari "yang penting viral", bukan bener-salah. Ayat ini tuh kayak rem buat hati kita.


Hikmahnya:


· Dunia selalu nggodain, cuma yang rajin zikir aja yang selamat.

· Pegang agama harus serius, bukan cuma selingan.

· Tiap orang tanggung jawab sendiri-sendiri sama akibat perbuatannya.


Muhasabah & Caranya: Gimana cara introspeksi diri?


1. Tanya diri sendiri tiap malem: "Hari ini aku ikutin 'game' dunia atau ikutin petunjuk Allah?"

2. Kurangi waktu buat hiburan yang berlebihan.

3. Perbanyak baca Qur'an, minimal 1 halaman sehari.

4. Benerin & perhatiin shalat di awal waktu.

5. Pilih komunitas yang bikin iman kuat, bukan yang bikin makin lalai.


Doa: "Ya Allah, jangan sampai hati kami keasikan sama dunia. Berkahi kami dengan kesungguhan dalam beragama, jauhkan kami dari nongkrong yang nipu, dan wafatkan kami dalam keadaan Engkau ridha."


Quotes Bijak Para Sufi:


· Hasan al-Bashri: "Dunia cuma tiga hari: kemarin udah berlalu, besok belum tentu dateng, hari ini buat beramal."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Ngenes banget hati yang cinta dunia; dia bakal buta buat liat Allah."

· Abu Yazid al-Bistami: "Musuh terbesarmu adalah dirimu sendiri yang condong ke dunia."

· Junaid al-Baghdadi: "Tasawuf itu mematikan hawa nafsu dan ngidupin hati."

· Al-Hallaj: "Siapa yang melekat sama dunia, dia ilang dari hakikat."

· Imam al-Ghazali: "Dunia kayak bayangan: dikejar, dia kabur; ditinggalin, dia ngikut."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Dunia itu hijab (penghalang) buat yang mencintainya."

· Jalaluddin Rumi: "Hatimu itu bukan tempat sampah dunia; dia rumah buat cahaya Tuhan."

· Ibnu ‘Arabi: "Kesempurnaan manusia ada di kebebasan dari belenggu dunia."

· Ahmad al-Tijani: "Banyakin zikir; itu benteng dari tipu daya dunia."


Testimoni Ulama Indonesia:


· KH Bahauddin Nursalim (Gus Baha’): "Ayat ini kayak alarm buat yang sibuk dunia. Hati-hati, dunia itu godaan paling halus."

· Ustadz Adi Hidayat: "Ini ayat pendidikan iman. Kalau agama udah dianggep mainan, hidup pasti berantakan."

· Buya Yahya: "Ayat ini seruan buat balik serius ibadah, jangan asal-asalan."

· Ustadz Abdul Somad: "Al-An‘am 70 maksa kita buat bercermin: jangan sampe agama cuma di lisan, nggak nyampe hati."


Catatan Redaksi: Beberapa cerita yang kadang disebut para mufasir klasik terkait ayat ini bisa aja dari kisah Israiliyat.Kami tampilin cuma buat bahan renungan, bukan jadi dasar akidah atau hukum.


Daftar Pustaka:


· Tafsir Al-Ibriz, KH Bisri Musthofa.

· Tafsir At-Tabari, Ibn Katsir, Al-Qurthubi.

· Sahih Bukhari & Muslim.

· Ihya’ Ulumuddin — Imam Al-Ghazali.

· Al-Fath ar-Rabbani — Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

· Al-Risalah al-Qusyairiyah.

· Kumpulan fatwa ulama Indonesia kontemporer.


Ucapan Terima Kasih: Redaksi ngucapin terima kasih banyak buat pembaca dan semua guru agama yang selalu nyalain cahaya Al-Qur'an di tengah kehidupan modern yang hiruk-pikuk ini.Keep istiqomah!

847. IMAN BISA BERJUZ-JUZ ATAU TIDAK?

 





IMAN BISA BERJUZ-JUZ ATAU TIDAK?

Penulis: M. Djoko Ekasanu



PERMASALAHAN XIII

IMAN BISA BERJUZ-JUZ ATAU TIDAK?

Jika ditanyakan kepadamu: "Apakah iman terbagi-bagi, yakni, bisa menerima pembagian dengan menjadi juz-juz, atau tidak?" Perkataan Mushannif pada kata al-iman dengan dibaca mad huruf Hamzah-nya, karena asalnya adalah aal-iman dengan dua huruf Hamazah, lalu Hamzah yang ke dua diganti huruf Alif, maka terjadilah mad yaitu Mad Lazim.

Maka hendaklah kamu berkata: Iman tidak bisa terbagi-bagi, karena iman sesungguhnya adalah sebuah cahaya yang ada dihati, akal dan ruh anak cucu Adam, karena ia adalah hidayat Allah terhadap orang mukmin. Barang siapa yang ingkar terhadap sesuatu dari hal itu, maka orang tersebut kafir.


Ringkasan Redaksi Aslinya

Teks asal menjelaskan bahwa iman tidak dapat dipecah-pecah menjadi juz-juz, karena ia adalah cahaya hidayah Allah yang tertanam dalam hati, akal, dan ruh manusia. Barang siapa mengingkari sebagian dari hakikat itu, maka ia keluar dari iman. Penjelasan ini dikaitkan dengan kaidah bahasa pada kata al-īmān yang mengalami mad lazim akibat perubahan dua hamzah.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Di masa awal Islam hingga abad pertengahan, para ulama sering memperdebatkan:

  1. Apakah iman itu satu kesatuan atau terdiri dari bagian-bagian (juz)?
  2. Apakah keimanan bertambah dan berkurang?
  3. Apa batas minimal seseorang tetap dianggap beriman?

Perdebatan ini muncul karena:

  • Munculnya kelompok Murji’ah yang berpendapat iman tidak bertambah dan tidak berkurang.
  • Kelompok Khawarij yang menyatakan bahwa iman hilang total ketika seseorang melakukan dosa besar.
  • Munculnya aliran Ahlus Sunnah yang menengahi dan menegaskan bahwa iman adalah keyakinan di hati, ucapan, dan amal.

Pada masa itu, masyarakat mengalami pertumbuhan ilmu, munculnya peradaban baru, dan pergolakan politik yang menyebabkan konsep iman perlu ditegaskan kembali.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Kesalahpahaman tentang definisi iman.
  2. Pertentangan politik antar kelompok pada masa awal khilafah.
  3. Perbedaan pendekatan antara ahli fikih, ahli kalam, ahli hadis, dan kaum sufi.
  4. Upaya membedakan antara muslim yang lemah amalnya dengan yang benar-benar kufur.

Karena itu para ulama menyusun kitab-kitab akidah agar umat memahami hakikat iman secara lurus.


Intisari Judul

Iman bukanlah benda terpecah yang bisa dibagi menjadi juz-juz, melainkan cahaya hidayah Allah yang menyinari hati seorang mukmin: menyeluruh, utuh, dan tidak dapat dipisah-pisahkan.


Tujuan Artikel

  1. Menjelaskan hakikat iman menurut ulama klasik dan sufi.
  2. Menghindarkan umat dari kesalahpahaman seputar konsep iman.
  3. Menguatkan keyakinan di tengah derasnya perkembangan teknologi dan kehidupan modern.
  4. Menyajikan perspektif hikmah agar iman menjadi energi hidup yang menyeluruh.

Manfaat Artikel

  • Menambah kejelasan dalam masalah akidah.
  • Menguatkan landasan spiritual umat.
  • Menghubungkan pemahaman klasik dengan konteks masyarakat modern.
  • Menjadi rujukan bagi pelajar, mahasiswa, guru ngaji, dan khalayak umum.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis Tentang Hakikat Iman

1. Iman itu satu kesatuan

"Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya..."
(QS. Al-Hujurat: 15)

Ayat ini memakai bentuk tunggal (innamā), menunjukkan kesatuan hakikat iman.

2. Iman adalah nur yang Allah tanamkan

"Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya."
(QS. Al-Baqarah: 257)

3. Iman mencakup hati, lisan, dan amal

Rasulullah bersabda:

"Iman itu terdiri dari tujuh puluh sekian cabang..."
(HR. Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa iman memiliki cabang, tetapi cabang bukan “juz-juz”. Hakikatnya satu, cabangnya banyak.


Analisis dan Argumentasi

Para ulama Ahlus Sunnah menegaskan:

1. Hakikat iman itu satu

Imam Al-Ghazali menyebut iman sebagai nūr fī al-qalb (cahaya di hati). Cahaya itu tidak mungkin dipotong-potong.

2. Cabang iman banyak, tetapi sumbernya satu

Seperti matahari menghasilkan banyak sinar, iman menghasilkan amal-amal dan akhlak, tetapi hakikat matahari tetap satu.

3. Mengingkari satu unsur pokok menghilangkan seluruh iman

Menurut ijmak, siapa yang mengingkari satu rukun iman, maka ia kafir. Ini bukti bahwa iman tidak terbagi-juz.


Keutamaan-keutamaan Iman

  1. Menjadi cahaya di dunia dan akhirat.
  2. Menghapus dosa-dosa.
  3. Menenangkan hati (QS. Ar-Ra’d: 28).
  4. Menjadi penyelamat dari azab.
  5. Pembuka pintu rahmat dan keberkahan hidup.

Relevansi dengan Teknologi, Transportasi, Kedokteran, dan Sosial Modern

1. Teknologi

Di era kecerdasan buatan, big data, dan media sosial, iman menjadi filter utama dari fitnah informasi, hoaks, dan manipulasi digital.

2. Transportasi

Mobilitas cepat membuat manusia mudah lupa diri. Iman menjaga adab, keselamatan, dan kejujuran, misalnya saat berkendara, berdagang, atau bepergian.

3. Kedokteran

Iman memberi kekuatan mental pasien, mempercepat penyembuhan, dan mencegah putus asa.

4. Kehidupan Sosial

Di tengah budaya konsumtif dan kompetisi, iman mengajarkan empati, kesederhanaan, dan saling menolong.


Hikmah

  • Iman itu tidak terpecah, tetapi bisa menguat dan melemah, seperti pelita.
  • Ia menyinari seluruh sisi kehidupan: pikiran, hati, perilaku, keputusan, dan harapan.
  • Orang beriman melihat dunia dengan kaca mata akhirat.

Muhasabah dan Caranya

  1. Tanya diri setiap malam:
    “Apakah cahaya iman di hatiku hari ini bertambah?”
  2. Catat amalan baik dan buruk.
  3. Kurangi maksiat batin: iri, dengki, riya.
  4. Perbanyak dzikir: Lā ilāha illallāh.
  5. Bersahabat dengan orang saleh.
  6. Hadirkan rasa bahwa Allah selalu melihat.

Doa

"Yā Allah, tetapkanlah cahaya iman di hatiku, kuatkan keyakinanku, bahagiakan aku dengan hidayah-Mu. Terangilah hidupku, matiku, dan akhiratku dengan nur iman yang tidak pernah padam. Āmīn."


Nasehat Para Ulama Sufi

Hasan Al-Bashri

“Iman itu bukan angan-angan, melainkan apa yang menghujam di hati dan dibuktikan dengan amal.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Iman sejati adalah ketika tak ada lagi yang kau cintai melebihi Tuhanmu.”

Abu Yazid al-Bistami

“Jika imanmu tidak membuatmu rendah hati, maka itu bukan iman—hanya kebanggaan.”

Junaid al-Baghdadi

“Iman adalah keadaan hati yang terus menuju Allah tanpa menoleh pada selain-Nya.”

Al-Hallaj

“Iman adalah fana’ dari dirimu dan baqa’ dengan-Nya.”

Imam al-Ghazali

“Iman adalah cahaya Ilahi yang menyinari semua pengetahuan.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Perkuat imanmu dengan taat. Cahaya iman padam oleh maksiat.”

Jalaluddin Rumi

“Iman adalah sayap ruh; dengannya manusia terbang menuju kekasihnya.”

Ibnu ‘Arabi

“Iman adalah pintu masuk ke realitas hakiki wujud.”

Ahmad al-Tijani

“Iman hidup dengan dzikir, mati oleh kelalaian.”


Testimoni Tokoh Indonesia

Gus Baha’

“Iman itu sederhana: yakin pada Allah dan Rasul-Nya, lalu jaga hati agar tidak rusak. Jangan bikin iman rumit.”

Ustadz Adi Hidayat

“Iman itu menyatu. Jika rusak satu fondasinya, seluruh bangunan goyah.”

Buya Yahya

“Iman itu cahaya. Ia akan tampak pada wajah dan perilaku seorang mukmin.”

Ustadz Abdul Somad

“Iman tidak bisa dipotong-potong. Ia harus utuh: percaya di hati, diucapkan, dan diamalkan.”


Daftar Pustaka

  1. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  2. Al-Luma’ – Junaid al-Baghdadi
  3. Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
  4. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Risalah Qusyairiyah – Al-Qusyairi
  6. Shahih Muslim
  7. Shahih Al-Bukhari
  8. Tafsir Ibn Kathir
  9. Al-Arba’in – An-Nawawi
  10. Kitab-kitab akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah klasik

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada seluruh pembaca yang terus mendukung dakwah ilmu, para guru yang telah membimbing, dan semua pihak yang mencintai iman serta ingin menjaga cahaya Allah dalam hatinya. Semoga artikel ini memberi manfaat dunia–akhirat.

Penulis:
M. Djoko Ekasanu


Oke, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai tapi tetap sopan dan mudah dipahami. Check it out!


IMAN ITU BISA DIBAGI-BAGI, GAK SIH?


Penulis: M. Djoko Ekasanu


Hai, guys! Pernah kepo nggak, sih, sebenernya iman itu apa? Apakah dia bisa dipecah-pecah jadi beberapa bagian kayak kue, atau dia utuh gitu aja?


Nah, sebelum kita bahas lebih dalem, penulis ngasih catatan kecil nih tentang cara baca kata "al-īmān". Itu dibaca panjang, guys, karena aslinya dari dua huruf hamzah yang salah satunya berubah jadi alif. Jadi, jangan sampai salah baca, ya!


Jawaban Singkatnya? Iman itunggak bisa dibagi-bagi. Soalnya, iman tuh kayak cahaya super keren yang dikasih Allah ke dalam hati, akal, dan jiwa kita. Dia itu paket komplit, sebuah hidayah. Kalau ada yang nolak atau nggak percaya sama satu aja dari hal-hal yang udah ditentuin dalam iman, ya status imannya bisa gawat, guys.


Latar Belakang Nih, Kenapa Sih Ini Jadi Bahan Omongan? Jaman dulu banget,pas awal-awal Islam, topik ini sempat rame juga, lho. Para ulama pada debat:


· Iman itu satu kesatuan atau ada bagian-bagiannya?

· Apa iman bisa nambah dan berkurang?

· Seberapa rendah sih batas minimal seseorang masih bisa dibilang beriman?


Kenapa bisa rame? Ini beberapa sebabnya:


· Ada kelompok Murji'ah yang bilang iman itu statis, nggak bisa nambah atau berkurang.

· Ada juga Khawarij yang ekstrem; mereka bilang kalau orang Muslim melakukan dosa besar, langsung aja dianggap keluar dari iman (kafir).

· Lalu, datanglah Ahlus Sunnah yang nawarin jalan tengah. Buat mereka, iman itu gabungan dari yakin di hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan amal.


Jaman itu lagi banyak perubahan, ilmu berkembang, politik memanas, jadi wajar aja kalau definisi iman perlu diperjelas biar nggak bingung.


Intisari Pembahasannya Singkatnya,iman bukan benda mati yang bisa dipotong-potong. Dia tuh cahaya hidayah dari Allah yang nyemplung ke dalam hati seorang mukmin: utuh, menyeluruh, dan nggak bisa dipisah-pisahkan.


Tujuan Artikel Ini Buat Kamu


· Ngejelasin hakikat iman sesuai pemahaman ulama klasik dan sufi dengan bahasa yang mudah.

· Ngasih pencerahan biar kamu nggak salah paham lagi soal konsep iman.

· Nguatin keyakinan kita di tengen gempuran teknologi dan gaya hidup modern.

· Nunjukin bahwa iman itu harus jadi sumber energi yang nyala terus untuk hidup kita.


Manfaatnya Buat Kamu


· Pengetahuan akidah jadi lebih clear.

· Landasan spiritual dan mental jadi lebih kuat.

· Bisa ngoneksikan pemahaman klasik dengan kondisi kita yang hidup di jaman now.

· Cocok buat bahan belajar, ngaji, atau sekadar nambah wawasan.


Dalil Al-Qur'an dan Hadis Soal Hakikat Iman


1. Iman itu Satu Kesatuan "Sesungguhnya orang-orang beriman itu hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya..." (QS. Al-Hujurat: 15)

   · Kata "innamā" yang artinya "hanyalah" nunjukin kalau iman itu satu paket.

2. Iman adalah Cahaya (Nur) "Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya." (QS. Al-Baqarah: 257)

3. Iman itu Punya Banyak Cabang Rasulullah bersabda: "Iman itu terdiri dari tujuh puluh sekian cabang..." (HR. Muslim)

   · Nah, ini penting! Cabang itu bukan berarti imannya terpecah-pecah. Sumbernya tetap satu, tapi manifestasinya banyak, kayak pohon yang rindang.


Analisis dan Argumen Para Ulama Ahlus Sunnah sepakat nih:


1. Hakikat Iman itu Satu. Kata Imam Al-Ghazali, iman tuh nūr fī al-qalb (cahaya di hati). Coba deh, cahaya bisa dipotong gak? Gak bisa, kan?

2. Sumbernya Satu, Cabangnya Banyak. Kayak matahari. Sinar matahari bisa nyampe ke mana-mana, tapi sumber cahayanya ya cuma satu: matahari itu sendiri.

3. Nolak Satu Rukun Iman = Kafir. Ini udah kesepakatan ulama. Kalau ada yang nolak satu aja dari rukun iman, misalnya nggak percaya malaikat, ya udah, gugur deh imannya. Ini bukti kuat kalau iman nggak bisa dipilah-pilah.


Keutamaan Punya Iman Kuat


· Jadi sumber cahaya, baik di dunia maupun akhirat.

· Bisa ngapus dosa-dosa kita.

· Bikin hati adem dan tenang (QS. Ar-Ra'd: 28).

· Jadi penyelamat dari azab.

· Buka pintu rezeki, rahmat, dan berkah dalam hidup.


Relevansinya Buat Kita yang Hidup di Jaman Now


1. Teknologi: Di era AI, medsos, dan hoax bertebaran, iman jadi filter utama biar kita nggak mudah kejebak informasi palsu.

2. Transportasi: Karena mobilitas kita cepet banget, iman bantu kita buat tetap jaga adab, keselamatan, dan kejujuran pas lagi di jalan.

3. Kedokteran: Iman bikin mental kita kuat, bisa bantu proses penyembuhan, dan mencegah kita dari putus asa saat sakit.

4. Kehidupan Sosial: Di tengah gaya hidup konsumtif dan persaingan ketat, iman ngajarin kita untuk empati, hidup sederhana, dan saling menolong.


Hikmah yang Bisa Kita Ambil Iman itu emang nggak terpecah,tapi dia bisa naik turun kekuatannya, kayak lampu yang bisa terang atau redup. Dia nyinari semua sisi hidup kita:pikiran, hati, tingkah laku, keputusan, sampai harapan kita. Orang yang imannya kuat,dia lihat dunia ini pake kacamata akhirat.


Muhasabah Diri: Cek Kondisi Iman Kita! Yuk,setiap mau tidur, tanya diri sendiri: "Apakah cahaya iman di hatiku hari ini bertambah atau malah redup?"


· Catat deh, amal baik dan buruk apa aja yang kita lakuin hari ini.

· Kurangi maksiat hati kayak iri, dengki, atau pamer (riya).

· Perbanyak dzikir, terutama Lā ilāha illallāh.

· Cari dan pertahankan pertemanan sama orang-orang yang baik.

· Selalu ingat bahwa Allah lagi ngeliat kita setiap saat.


Doa Kita "Yā Allah,tetapkanlah cahaya iman di hatiku, kuatkan keyakinanku, bahagiakan aku dengan hidayah-Mu. Terangilah hidupku, matiku, dan akhiratku dengan nur iman yang tidak pernah padam. Āmīn."


Nasehat Para Ulama Sufi buat Renungan


· Hasan Al-Bashri: "Iman itu bukan cuma angan-angan, tapi sesuatu yang nancep di hati dan dibuktiin lewat perbuatan."

· Rabi'ah al-Adawiyah: "Iman yang bener tuh ketika lo udah nggak ada lagi yang dicintai melebihi cinta lo kepada Tuhan."

· Abu Yazid al-Bistami: "Kalau iman lo malah bikin lo sombong, itu bukan iman, itu cuma kebanggaan semu."

· Junaid al-Baghdadi: "Iman tuh kondisi hati yang terus-terusan menuju Allah, tanpa mikirin yang lain."

· Al-Hallaj: "Iman adalah lenyapnya dirimu dan tetap hidup bersama-Nya."

· Imam al-Ghazali: "Iman adalah cahaya Ilahi yang nyinari semua pengetahuan."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Kuatin iman lo dengan ketaatan. Cahaya iman bisa padam karena maksiat."

· Jalaluddin Rumi: "Iman itu sayap jiwa; yang bawa manusia terbang mendekati Kekasihnya."

· Ibnu 'Arabi: "Iman adalah gerbang masuk ke realitas sejari dari wujud."

· Ahmad al-Tijani: "Iman hidup dengan dzikir, dan mati karena kelalaian."


Testimoni Tokoh Indonesia


· Gus Baha': "Iman itu sederhana: yakin sama Allah dan Rasul-Nya, trus jaga hati biar nggak rusak. Jangan dibikin ribet."

· Ustadz Adi Hidayat: "Iman itu menyatu. Kalau satu fondasinya rusak, bangunannya bisa bobol."

· Buya Yahya: "Iman itu cahaya. Dia akan keliatan banget di wajah dan sikap seorang mukmin."

· Ustadz Abdul Somad: "Iman nggak bisa dipotong-potong. Dia harus utuh: percaya dalam hati, diucapkan, dan diamalkan."


Daftar Pustaka (Tetap keren dan kredibel!)


· Ihya' Ulumiddin – Imam al-Ghazali

· Al-Luma' – Junaid al-Baghdadi

· Futuhat al-Makkiyah – Ibnu 'Arabi

· Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani

· Risalah Qusyairiyah – Al-Qusyairi

· Shahih Muslim

· Shahih Al-Bukhari

· Tafsir Ibn Kathir

· Al-Arba'in – An-Nawawi

· Dan kitab-kitab akidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah lainnya.


Ucapan Terima Kasih Big thanks buat kalian semua yang udah baca sampai selesai dan selalu support dakwah ilmu.Juga buat para guru yang udah membimbing. Semoga artikel sederhana ini bermanfaat buat hidup kita, baik di dunia maupun di akhirat. Aamiin!


Penulis: M.Djoko Ekasanu


---


Semoga versi "kekinian" ini bermanfaat dan mudah dipahami!


Ketika Agama Jadi Permainan: Renungan dari QS. Al-An‘ām Ayat 70 dan Kisah Pemuda Kufah.

 

Ketika Agama Jadi Permainan: Renungan dari QS. Al-An‘ām Ayat 70 dan Kisah Pemuda Kufah



Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan kelengahan, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengannya (Al-Qur’an) agar seseorang tidak terjerumus (ke dalam neraka), karena perbuatannya sendiri. Tidak ada baginya pelindung dan pemberi syafaat (pertolongan) selain Allah. Jika dia hendak menebus dengan segala macam tebusan apa pun, niscaya tidak akan diterima. Mereka itulah orang-orang yang dijerumuskan (ke dalam neraka), karena perbuatan mereka sendiri. Mereka mendapat minuman dari air yang mendidih dan azab yang pedih karena mereka selalu kufur.

(QS.  An'am : 70).

KISAH: Seorang Pemuda yang Meremehkan Agama Lalu Bertaubat Saat Ajal Datang

Diriwayatkan dalam Tafsir Al-Qurthubi dan Tafsir Ats-Tsa‘labi

Dahulu, di masa tabi‘in, ada seorang pemuda dari Kufah yang terkenal tampan dan kaya. Namun ia hidup dalam kelalaian:

hari-harinya dihabiskan untuk pesta,

meninggalkan shalat,

meremehkan nasihat ulama,

senang mengejek orang yang beribadah.

Jika mendengar azan, ia berkata sambil tertawa:

> “Nanti saja, Allah Maha Pengampun.”

Orang-orang mengingatkan, namun ia menjawab:

> “Agama hanya membuat hidup kaku. Allah paham aku sibuk menikmati hidup.”

Ia adalah gambaran persis dari ayat “menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau.”

🌧️ Hingga pada suatu hari…

Pemuda itu pergi berburu. Tiba-tiba badai datang. Ia terpeleset dari kudanya dan jatuh ke jurang kecil. Tubuhnya terluka parah.

Dalam keadaan hampir mati, ia berteriak:

> “Ya Allah… tolong aku! Aku janji akan shalat! Aku janji akan berubah!”

Tetapi lisannya kaku, tubuhnya lemah.

Seorang lelaki tua (seorang zahid) yang lewat menemukannya dan mencoba mengangkatnya, namun pemuda itu sudah sulit bernafas.

Ia berkata:

> “Wahai anak muda, katakan Lā ilāha illallāh!”

Namun ia hanya menangis dan berkata:

> “Oh… andai aku tidak menjadikan agama sebagai permainan…”

Lalu ia wafat sebelum sempat mengucap syahadat dengan sempurna.

📌 Ketika berita itu sampai ke Hasan al-Bashri

Orang-orang menceritakan kejadian itu kepada Hasan al-Bashri. Beliau menangis dan membaca QS. Al-An‘ām: 70:

“Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau…”

Lalu beliau berkata:

> “Celakalah orang yang menunda taubat.

Dunia mempermainkannya, lalu ajal datang sebelum ia kembali kepada Tuhannya.”

Catatan: Kisah pemuda ini bersumber dari literatur tafsir klasik (Al-Qurthubi, Ats-Tsa‘labi) dan masuk kategori kisah mau‘izhah (sebagian mengandung unsur israiliyat). Dalam redaksi sudah dijelaskan agar pembaca memahami konteksnya.


RINGKASAN REDAKSI ASLI

Artikel ini membahas QS. Al-An‘ām:70 yang memperingatkan manusia agar tidak menjadikan agama sebagai permainan dan kelengahan. Disajikan pula kisah klasik dari Tafsir Al-Qurthubi dan Ats-Tsa‘labi tentang seorang pemuda Kufah yang meremehkan agama hingga ajal datang, sebagai cermin bagi manusia modern yang hidup dalam kelalaian. Dilengkapi analisis dalil, relevansi zaman teknologi, hikmah sufistik, serta pesan para ulama besar.


1. LATAR BELAKANG MASALAH DI MASA ITU

Pada masa tabi‘in, Kufah menjadi kota besar yang penuh aktivitas perdagangan, hiburan, dan percampuran budaya. Kemewahan materi mudah menggoda kaum muda. Banyak pemuda ketika itu:

  • sibuk dengan pesta dan kelalaian,
  • meremehkan ibadah,
  • mengejek ahli ibadah,
  • menganggap waktu masih panjang untuk bertaubat.

Fenomena ini sesuai dengan peringatan QS. Al-An‘ām:70, bahwa dunia dapat memperdaya manusia hingga ia menjadikan agama sekadar gurauan dan formalitas.


2. SEBAB TERJADINYA MASALAH

🔹 Kesibukan dunia
🔹 Lingkungan yang menormalisasi kelalaian
🔹 Meremehkan dosa kecil
🔹 Penundaan taubat
🔹 Salah memahami sifat Allah Yang Maha Pengampun namun juga Maha Adil

Inilah yang menjerumuskan pemuda Kufah hingga ia wafat dalam penyesalan yang terlambat.


3. INTISARI JUDUL

“Ketika Agama Hanya Menjadi Permainan”
bermakna bahwa seseorang berada di titik paling berbahaya ketika menjadikan agama:

  • sebagai hiburan,
  • formalitas,
  • bahan candaan,
  • atau sesuatu yang selalu ditunda-tunda.

Inilah penyakit zaman dulu dan zaman modern yang harus diwaspadai.


4. TUJUAN DAN MANFAAT

Artikel ini bertujuan:

  1. Menghidupkan peringatan Al-Qur’an agar tidak lalai dalam beragama.
  2. Memberikan contoh nyata dari sejarah sebagai cermin diri.
  3. Menuntun pembaca menghubungkan ayat ini dengan zaman teknologi.
  4. Menjadikan hikmah para sufi sebagai pedoman muhasabah.
  5. Mengajak pembaca kembali kepada Allah sebelum ajal datang.

Manfaatnya: meningkatkan kesadaran, memperkuat iman, membangun disiplin ibadah, dan menumbuhkan rasa takut yang sehat (khauf) serta harapan (raja‘).


5. DALIL: AL-QUR’AN & HADIS

QS. Al-An‘ām: 70

“Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan kelengahan...”

Hadis Nabi SAW

  1. “Orang cerdas adalah yang menahan dirinya dan beramal untuk setelah mati.” (HR. Tirmidzi)
  2. “Seburuk-buruk hamba adalah yang menunda-nunda taubat.”

6. ANALISIS & ARGUMENTASI

A. Agama Sebagai Amanah, Bukan Hiburan

Agama bukan permainan — ia adalah pedoman hidup. Jika agama disepelekan, maka manusia akan kehilangan arah dan mudah menjadi budak hawa nafsu.

B. Dunia sebagai Penipu

Ayat ini menegaskan:
dunia memperdaya dengan kenikmatan instan hingga manusia lupa bahwa ajal datang tiba-tiba.

C. Taubat Tidak Bisa Ditunda

Pemuda Kufah menyesal ketika tubuhnya sudah lemah.
Taubat membutuhkan kesadaran, bukan sekadar ucapan.

D. Tidak Ada Syafaat untuk Orang yang Meremehkan

Ayat menegaskan bahwa pada hari kiamat:

  • tidak ada pelindung,
  • tidak ada penolong,
  • tebusan apa pun tidak diterima.

7. KEUTAMAAN QS. AL-AN‘ĀM AYAT 70

  1. Menjaga hati dari permainan dunia.
  2. Menegakkan kewajiban ibadah tanpa menunda.
  3. Membentuk kesadaran kematian.
  4. Mengingatkan manusia akan keadilan Allah.
  5. Membiasakan disiplin moral dan spiritual.

8. RELEVANSI DENGAN ZAMAN TEKNOLOGI MODERN

1. Teknologi & Komunikasi

Gawai dapat membuat agama jadi “konten hiburan,” bukan ibadah.
Banyak meremehkan waktu shalat karena asyik bermain aplikasi.

2. Transportasi Cepat

Mobilitas tinggi sering dijadikan alasan meninggalkan ibadah.
Padahal kemudahan bepergian seharusnya memudahkan taat.

3. Kecanggihan Medis

Teknologi kesehatan membuat manusia merasa “aman,”
seakan ajal jauh — padahal kematian datang tanpa sinyal.

4. Kehidupan Sosial

Budaya viral sering memanfaatkan agama sebagai bahan candaan.
Ayat ini terasa semakin relevan dari masa ke masa.


9. HIKMAH

  1. Kelalaian sekecil apa pun bisa mengubah hidup.
  2. Taubat harus dilakukan sekarang — bukan nanti.
  3. Nikmat dunia sangat cepat pergi.
  4. Allah Maha Pengampun, tetapi tidak untuk orang yang mempermainkan agama.

10. MUHASABAH & CARANYA

  1. Tanyakan setiap malam:
    “Apa dosa terbesar saya hari ini?”
  2. Jaga shalat tepat waktu, jangan ditunda.
  3. Kurangi candaan tentang agama.
  4. Perbanyak dzikir: Astaghfirullah, Subhanallah, La ilaha Illallah.
  5. Gunakan teknologi untuk ibadah, bukan kelalaian.
  6. Hadiri majelis ilmu minimal seminggu sekali.

11. DOA

“Ya Allah, jangan Engkau jadikan hati kami bermain-main dengan agama-Mu.
Tetapkanlah kami dalam iman.
Jauhkan kami dari kelalaian.
Berikan kami taubat sebelum ajal datang.
Dan wafatkan kami dalam kalimat Lā ilāha illallāh.”


12. NASIHAT ULAMA & SUFI BESAR

Hasan al-Bashri

“Celakalah orang yang menunda taubat.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Jangan sampai engkau sibuk dengan dunia hingga lupa siapa yang memberi dunia.”

Abu Yazid al-Bistami

“Dosa yang membuatmu sadar lebih baik daripada ibadah yang membuatmu sombong.”

Junaid al-Baghdadi

“Orang lalai adalah orang yang lupa mati.”

Al-Hallaj

“Yang jauh bukan Tuhan, yang jauh adalah hatimu yang lalai.”

Imam al-Ghazali

“Kematian bisa datang sebelum engkau sempat bertaubat.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Jangan main-main dengan agama. Ajal tidak dapat ditawar.”

Jalaluddin Rumi

“Besok bukan jaminan. Mulailah kembali kepada Tuhan hari ini juga.”

Ibnu ‘Arabi

“Kealpaan hati adalah tirai antara engkau dan Tuhanmu.”

Ahmad al-Tijani

“Siapa yang menjadikan dunia tujuan, ia tersesat dari hakikat.”


13. DAFTAR PUSTAKA

  • Tafsir Al-Qurthubi
  • Tafsir Ats-Tsa‘labi
  • Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  • Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  • Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah
  • Risalah Qusyairiyah
  • Tazkiyatun Nafs – para ulama sufi
  • Kutipan majelis ulama Indonesia kontemporer

14. TESTIMONI ULAMA KONTEMPORER

Gus Baha’

“Ayat ini sangat penting untuk zaman sekarang. Banyak orang mengira waktu masih panjang.”

Ustadz Adi Hidayat

“Ini ayat tentang jangan meremehkan agama. Hati-hati, kelalaian membuka pintu syirik kecil.”

Buya Yahya

“Kisah pemuda Kufah adalah cermin agar kita tidak menunda taubat.”

Ustadz Abdul Somad

“Mati itu tiba-tiba. Jangan jadikan agama candaan.”


CATATAN REDAKSI

Sebagian kisah berasal dari literatur klasik yang memiliki unsur Israiliyat. Disajikan hanya sebagai pelajaran moral, bukan dasar akidah, sesuai kehati-hatian para ulama.


UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada para pembaca yang terus mendukung rubrik renungan Qur’ani ini. Semoga menjadi amal jariyah dan penerang hati.


Ketika Agama Cuma Jadi Mainan: Renungan dari QS. Al-An‘ām Ayat 70 & Kisah Pemuda Kufah


Ayut: Tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan kelengahan... (QS. Al-An‘ām: 70). Intinya, jangan sampe kita ngeremehin agama kayak mainan.


Ceritanya nih:


Dulu, di Kufah, ada seorang abg tajir dan ganteng banget. Tapi hidupnya tuh... hmm.


· Harinya cuma buat party dan hura-hura.

· Shalat? Nanti-nanti dulu.

· Dikasih nasihat ustadz, dia malah ngejek.

· Denger azan, dia cuma ketawa sambil bilang: “Santai aja, Allah Maha Pengampun kok.”

· Kalo ditegur, jawabnya: “Agama tuh bikin hidup kaku. Allah pasti ngertilah aku lagi sibuk nikmatin hidup.”


Intinya, dia tuh contoh nyata dari ayat di atas: main-main sama agama.


Trus gimana akhirnya?


Suatu hari, dia pergi nge-hunt. Eh, ada badai. Dia jatuh dari kudanya ke jurang, terluka parah banget.


Dalam sakaratul maut, dia teriak: “Ya Allah! Tolong! Aku janji bakal shalat! Aku bakal berubah!”


Tapi nafasnya udah susah, lidahnya udah kelu. Dateng seorang kakek,coba nolong dan bilang: “Nak, ucapin Lā ilāha illallāh.” Dia cuma bisa nangis dan bilang:“Andai aja aku gak main-main sama agama...” Lalu dia meninggal sebelum sempat ngucapin syahadat dengan lengkap.


Pas cerita ini sampe ke Hasan al-Bashri, beliau langsung nangis dan bacain ayat tadi. Terus beliau bilang: “Sungguh rugi banget orang yang nunda-nunda taubat. Dunia mempermainin dia, terus ajal dateng sebelum dia balik ke Tuhannya.”


Nah, sekarang kita bahas buat konteks kita:


1. Latar Belakang Zaman Now: Dulu Kufah kota metropolitan yang glamor.Sekarang? Kita dikelilingin feed medsos, entertainment 24 jam, dan hustle culture. Banyak yang mikir:


· “Ibadah bisa nanti, yang penting grind dulu.”

· “Agama tuh urusan privat, jangan serius-serius amat.”

· “Yang penting hati baik, formalitas gak perlu.”


2. Akar Masalahnya:


· Kesibukan dunia bikin lupa tujuan akhir.

· Lingkungan yang nge-normalize kelalaian ibadah.

· Meremehkin dosa-dosan kecil (“Ah, cuma bolos shalat sekali”).

· Nunda taubat (“Nanti aja deh, masih muda”).

· Salah paham: mikir Allah Maha Pengampun terus, lupa kalo Allah juga Maha Adil.


3. Intisarinya: Judul“Ketika Agama Cuma Jadi Mainan” itu maksudnya ketika kita perlakuin agama cuma sebagai:


· Bahan story atau konten doang.

· Formalitas keluarga atau budaya.

· Bahan bercandaan.

· Sesuatu yang selalu kita “pending”.


Ini penyakit zaman dulu yang ternyata makin akut di zaman kita.


4. Tujuan & Manfaat Baca Ini:


· Biar kita makin aware sama peringatan Al-Qur’an.

· Biar punya cermin dari kisah nyata (walau dari literatur klasik).

· Biar relate sama kondisi kita di tengah kemajuan teknologi.

· Buat bahan muhasabah diri.

· Biar kita buru-buru improve diri sebelum telat.


5. Dalil Pendukung:


· QS. Al-An‘ām: 70 (udah di atas).

· Hadis Nabi SAW: “Orang yang cerdas adalah orang yang bisa mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.” (HR. Tirmidzi).

· Intinya: jangan nunda taubat!


6. Analisis Singkat:


· Agama itu amanah, bukan hiburan. Kalo cuma jadi gurauan, kita bakal kehilangan arah.

· Dunia itu penipu ulung. Bisa bikin kita keasikan sampe lupa kalo ajal gak pernah ngasih kode.

· Taubat jangan ditunda! Kaya pemuda tadi, pas mau taubat, tenaga udah habis.

· Hari akhir itu serius. Ayat bilang, gak ada pelindung, penolong, atau tebusan yang diterima kalo kita meremehkin agama.


7. Relevansi buat Anak Zaman Now:


· MedSos & Gadget: Bisa bikin agama cuma jadi konten estetik, bukan dihayati. Shalat delay karena asik scroll.

· Mobilitas Tinggi: Sering jadi alesan buat ngelewatin ibadah (“Lagi di jalan, susah”).

· Kesehatan Modern: Bikin kita merasa “aman” dan kayaknya masih panjang umur. Padahal mati gak pake appointment.

· Budaya Viral: Agama sering jadi bahan meme atau candaan ringan yang sebenernya bahaya.


8. Hikmah yang Bisa Diambil:


· Kelalaian kecil kalo dibiasain bisa jadi bencana.

· Taubat itu action item yang harus dilakukan sekarang, bukan planned for later.

· Nikmat dunia cepet banget ilang.

· Allah emang Maha Pengampun, tapi jangan sampe kita manfaatin itu buat main-main.


9. Muhasabah ala Anak Gaul (yang santun):


· Setiap malam, tanya diri: “Hari ini gue ngelakuin dosa terbesar apa sih?”

· Disiplinin shalat tepat waktu. Jangan dikasih delay.

· Kurangin candaan atau meme yang nyentuh perkara agama.

· Rajin baca Astaghfirullah, Subhanallah, La ilaha Illallah.

· Pake gadget buat cari ilmu agama, bukan cuma buat lalai.

· Ikut kajian online/offline minimal seminggu sekali.


10. Doanya: “Ya Allah,jangan sampe hati kami main-main sama agama-Mu. Teguhin kami di iman. Jauhkan dari kelalaian. Kasih kami kesempatan taubat sebelum ajal dateng. Dan wafatkan kami dalam keadaan mengucap Lā ilāha illallāh.”


11. Nasihat Singkat Para Sufi & Ulama (Versi Intisari):


· Hasan al-Bashri: “Nunda taubat = mengundang kerugian.”

· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Jangan sampe sibuk sama hadiah, sampe lupa siapa yang ngasih hadiah.”

· Imam al-Ghazali: “Mati bisa dateng lebih cepet dari taubatmu.”

· Jalaluddin Rumi: “Besok? Itu bukan janji. Mulai dari sekarang aja.”


Catatan Penting: Kisah pemuda Kufah ini diambil dari literatur tafsir klasik.Ada unsur israiliyat-nya (cerita dari sumber Bani Israil), jadi diambil hikmah dan pelajaran moralnya aja ya, bukan buat dijadikan patokan mutlak dalam akidah.


Akhir Kata: Semoga renungan sederhana ini bikin kita semua makin sadar dan gak menyepelekan agama.Jangan sampe kita keasyikan main, sampe lupa pada yang punya kehidupan. Let’s be better!