اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ٢١
ittabi‘û mal lâ yas'alukum ajraw wa hum muhtadûnIkutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.---------Berikut naskah lengkap bergaya bacaan koran religius yang bisa dimuat di rubrik Renungan Jum’at atau Tafsir Kehidupan—lengkap dengan struktur, sumber dalil, dan pandangan para sufi besar seperti yang Anda minta 👇
Ikutilah Orang yang Tidak Meminta Imbalan
(Tafsir dan Renungan QS. Yasin: 21)
اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ٢١
Ittabi‘û man lâ yas’alukum ajran wa hum muhtadûn
“Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
— QS. Yasin [36]: 21
Ringkasan Redaksi Asli
Ayat ini merupakan seruan seorang lelaki mukmin dari ujung kota dalam kisah surah Yasin. Ia mengajak kaumnya untuk mengikuti para rasul yang datang dengan membawa risalah Allah. Ciri orang yang patut diikuti ialah tidak mencari keuntungan duniawi, tetapi hanya menyampaikan kebenaran karena Allah.
Maksud dan Hakikat Ayat
Ayat ini menegaskan kemurnian niat dalam dakwah dan ibadah. Dakwah sejati bukanlah untuk memperoleh harta, jabatan, atau popularitas, tetapi untuk menegakkan kebenaran. Hakekatnya, hidayah hanya lahir dari hati yang bersih dan tidak memperjualbelikan agama.
Tafsir dan Makna Judul
“Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan” berarti:
- Ikuti orang yang ikhlas, bukan yang berdakwah demi dunia.
- Petunjuk Allah turun kepada hati yang suci, bukan hati yang penuh kepentingan.
- Dakwah sejati adalah pelayanan, bukan perdagangan agama.
Menurut Tafsir Ibn Katsir, ayat ini mengajarkan agar manusia tidak tertipu oleh pengakuan semata, tetapi melihat tanda keikhlasan: tidak mengharap upah.
Sedangkan Tafsir Al-Qurthubi menyebut bahwa keikhlasan seorang da’i terlihat dari kesabaran dan keteguhan dalam menyampaikan risalah tanpa pamrih, meski diuji.
Tujuan dan Manfaat
- Mengajak umat agar membedakan antara da’i yang tulus dan yang berorientasi dunia.
- Menumbuhkan kesadaran bahwa amal tanpa pamrih lebih bernilai di sisi Allah.
- Menjaga kemurnian dakwah dari praktik komersialisasi agama.
- Mendorong lahirnya umat yang menilai dari hati, bukan dari tampilan.
Latar Belakang Masalah di Zamannya
Pada masa itu, penduduk kota Antakiyah menolak risalah para rasul yang diutus kepada mereka. Mereka lebih percaya pada kekuasaan duniawi dan menuduh para rasul ingin mencari keuntungan. Maka datanglah seorang lelaki mukmin — yang disebut sebagian mufasir bernama Habib an-Najjar — menyeru:
“Ikutilah orang-orang yang tidak meminta imbalan kepada kalian.”
Seruan ini menjadi tonggak keikhlasan dalam dakwah, simbol perlawanan terhadap komersialisasi agama sejak masa para nabi.
Intisari Masalah
Masalah utama adalah krisis kepercayaan masyarakat terhadap pembawa agama, karena banyak yang berdakwah demi kepentingan pribadi. Ayat ini menegaskan bahwa hanya orang yang tulus dan tidak mencari dunia yang pantas diikuti.
Sebab Terjadinya Masalah
- Cinta dunia yang berlebihan.
- Hilangnya adab dan keikhlasan dalam beragama.
- Penyalahgunaan kedudukan keagamaan.
- Lemahnya pendidikan ruhani dan tasawuf.
Dalil-Dalil Pendukung
Al-Qur’an:
- “Wahai kaumku, aku tidak meminta upah atas seruanku ini. Upahku hanyalah dari Allah.”
(QS. Hud: 29) - “Katakanlah: Aku tidak meminta imbalan kepada kalian atas dakwahku.”
(QS. Asy-Syu‘ara: 109)
Hadis:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)Dan sabdanya lagi:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)
Analisis dan Argumentasi
Islam memerintahkan dakwah dengan niat ikhlas dan adab mulia, bukan dengan pamrih.
Jika dakwah dijadikan sarana mencari pengaruh, maka ia kehilangan cahayanya.
Ulama sejati bukanlah yang memungut imbalan, tetapi yang menyampaikan ilmu demi ridha Allah.
Relevansi Saat Ini
Zaman kini menyaksikan banyaknya komersialisasi agama, baik melalui media sosial, ceramah berbayar, atau politik identitas.
Ayat ini menjadi cermin untuk kita:
Apakah kita masih menghormati ilmu karena Allah, atau karena kemasan duniawi?
Masyarakat harus menyaring sumber ilmu, dan da’i harus membersihkan niat.
Hikmah
- Ikhlas adalah ruh dari segala amal.
- Orang yang ikhlas akan tetap tenang meski tidak dipuji.
- Dakwah tanpa pamrih lebih menyentuh hati.
- Allah menolong hamba yang beramal tanpa pamrih.
Muhasabah dan Caranya
- Periksa niat setiap kali beramal: “Apakah ini untuk Allah atau untuk dilihat orang?”
- Jangan menilai seseorang dari pakaian, tetapi dari ketulusan dan adabnya.
- Kembalikan setiap penghargaan kepada Allah, bukan kepada diri.
- Bersihkan hati melalui dzikir, khidmah, dan khusyuk dalam salat malam.
Doa
اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ فِيْ دِيْنِكَ وَالْمُتَّبِعِيْنَ لِرُسُلِكَ بِغَيْرِ أَجْرٍ وَلَا سُمْعَةٍ.
“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang ikhlas dalam agama-Mu dan mengikuti para rasul-Mu tanpa pamrih dan tanpa mencari kemasyhuran.”
Nasehat Para Sufi Besar
-
Hasan al-Bashri:
“Orang yang ikhlas amalnya adalah yang tidak peduli siapa yang memuji atau mencela.” -
Rabi‘ah al-Adawiyah:
“Aku beribadah bukan karena takut neraka atau ingin surga, tapi karena cinta kepada-Nya.” -
Abu Yazid al-Bistami:
“Keikhlasan adalah ketika engkau tidak melihat amalmu sendiri.” -
Junaid al-Baghdadi:
“Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya; tidak diketahui malaikat maupun setan.” -
Al-Hallaj:
“Siapa yang mengenal Allah, tak lagi meminta balasan apa pun selain Dia.” -
Imam al-Ghazali:
“Tanda keikhlasan ialah beramal sama baiknya ketika dilihat maupun tidak dilihat.” -
Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
“Ikhlas adalah menyingkirkan diri dari jalan amal.” -
Jalaluddin Rumi:
“Cinta sejati kepada Tuhan tak membutuhkan panggung atau upah, karena ia hidup dalam diam.” -
Ibnu ‘Arabi:
“Ikhlas adalah meniadakan dirimu dalam kehendak-Nya.” -
Ahmad al-Tijani:
“Dakwah yang benar lahir dari hati yang ikhlas dan menghidupkan hati orang lain.”
Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim
- Tafsir Ibn Katsir
- Tafsir Al-Qurthubi
- Ihya’ ‘Ulum ad-Din – Imam al-Ghazali
- Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
- Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
- Risalah al-Qusyairiyyah – Abu al-Qasim al-Qusyairi
- Matsnawi – Jalaluddin Rumi
- Siyar A‘lam an-Nubala – Adz-Dzahabi
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para pembaca yang terus mendukung dakwah tulus tanpa pamrih.
Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah bagi penulis dan pembaca.
✍️ Penulis: M. Djoko Ekasanu
Rubrik: Tafsir Kehidupan dan Renungan Jiwa
📍Disusun di bawah cahaya ayat QS. Yasin: 21 – “Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu, mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Apakah Anda ingin saya buatkan versi layout koran siap cetak (PDF) dengan kolom dua dan ilustrasi Masjid klasik di atas judul?


