Monday, October 13, 2025

Ikutilah Orang yang Tidak Meminta Imbalan.

 اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ۝٢١

ittabi‘û mal lâ yas'alukum ajraw wa hum muhtadûnIkutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.---------

Berikut naskah lengkap bergaya bacaan koran religius yang bisa dimuat di rubrik Renungan Jum’at atau Tafsir Kehidupan—lengkap dengan struktur, sumber dalil, dan pandangan para sufi besar seperti yang Anda minta 👇


Ikutilah Orang yang Tidak Meminta Imbalan

(Tafsir dan Renungan QS. Yasin: 21)

اتَّبِعُوْا مَنْ لَّا يَسْـَٔلُكُمْ اَجْرًا وَّهُمْ مُّهْتَدُوْنَ ۝٢١
Ittabi‘û man lâ yas’alukum ajran wa hum muhtadûn
Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
QS. Yasin [36]: 21


Ringkasan Redaksi Asli

Ayat ini merupakan seruan seorang lelaki mukmin dari ujung kota dalam kisah surah Yasin. Ia mengajak kaumnya untuk mengikuti para rasul yang datang dengan membawa risalah Allah. Ciri orang yang patut diikuti ialah tidak mencari keuntungan duniawi, tetapi hanya menyampaikan kebenaran karena Allah.


Maksud dan Hakikat Ayat

Ayat ini menegaskan kemurnian niat dalam dakwah dan ibadah. Dakwah sejati bukanlah untuk memperoleh harta, jabatan, atau popularitas, tetapi untuk menegakkan kebenaran. Hakekatnya, hidayah hanya lahir dari hati yang bersih dan tidak memperjualbelikan agama.


Tafsir dan Makna Judul

Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan” berarti:

  • Ikuti orang yang ikhlas, bukan yang berdakwah demi dunia.
  • Petunjuk Allah turun kepada hati yang suci, bukan hati yang penuh kepentingan.
  • Dakwah sejati adalah pelayanan, bukan perdagangan agama.

Menurut Tafsir Ibn Katsir, ayat ini mengajarkan agar manusia tidak tertipu oleh pengakuan semata, tetapi melihat tanda keikhlasan: tidak mengharap upah.
Sedangkan Tafsir Al-Qurthubi menyebut bahwa keikhlasan seorang da’i terlihat dari kesabaran dan keteguhan dalam menyampaikan risalah tanpa pamrih, meski diuji.


Tujuan dan Manfaat

  1. Mengajak umat agar membedakan antara da’i yang tulus dan yang berorientasi dunia.
  2. Menumbuhkan kesadaran bahwa amal tanpa pamrih lebih bernilai di sisi Allah.
  3. Menjaga kemurnian dakwah dari praktik komersialisasi agama.
  4. Mendorong lahirnya umat yang menilai dari hati, bukan dari tampilan.

Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa itu, penduduk kota Antakiyah menolak risalah para rasul yang diutus kepada mereka. Mereka lebih percaya pada kekuasaan duniawi dan menuduh para rasul ingin mencari keuntungan. Maka datanglah seorang lelaki mukmin — yang disebut sebagian mufasir bernama Habib an-Najjar — menyeru:

“Ikutilah orang-orang yang tidak meminta imbalan kepada kalian.”

Seruan ini menjadi tonggak keikhlasan dalam dakwah, simbol perlawanan terhadap komersialisasi agama sejak masa para nabi.


Intisari Masalah

Masalah utama adalah krisis kepercayaan masyarakat terhadap pembawa agama, karena banyak yang berdakwah demi kepentingan pribadi. Ayat ini menegaskan bahwa hanya orang yang tulus dan tidak mencari dunia yang pantas diikuti.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Cinta dunia yang berlebihan.
  2. Hilangnya adab dan keikhlasan dalam beragama.
  3. Penyalahgunaan kedudukan keagamaan.
  4. Lemahnya pendidikan ruhani dan tasawuf.

Dalil-Dalil Pendukung

Al-Qur’an:

  • “Wahai kaumku, aku tidak meminta upah atas seruanku ini. Upahku hanyalah dari Allah.”
    (QS. Hud: 29)
  • “Katakanlah: Aku tidak meminta imbalan kepada kalian atas dakwahku.”
    (QS. Asy-Syu‘ara: 109)

Hadis:

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari)

Dan sabdanya lagi:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (HR. Ahmad)


Analisis dan Argumentasi

Islam memerintahkan dakwah dengan niat ikhlas dan adab mulia, bukan dengan pamrih.
Jika dakwah dijadikan sarana mencari pengaruh, maka ia kehilangan cahayanya.
Ulama sejati bukanlah yang memungut imbalan, tetapi yang menyampaikan ilmu demi ridha Allah.


Relevansi Saat Ini

Zaman kini menyaksikan banyaknya komersialisasi agama, baik melalui media sosial, ceramah berbayar, atau politik identitas.
Ayat ini menjadi cermin untuk kita:
Apakah kita masih menghormati ilmu karena Allah, atau karena kemasan duniawi?
Masyarakat harus menyaring sumber ilmu, dan da’i harus membersihkan niat.


Hikmah

  1. Ikhlas adalah ruh dari segala amal.
  2. Orang yang ikhlas akan tetap tenang meski tidak dipuji.
  3. Dakwah tanpa pamrih lebih menyentuh hati.
  4. Allah menolong hamba yang beramal tanpa pamrih.

Muhasabah dan Caranya

  • Periksa niat setiap kali beramal: “Apakah ini untuk Allah atau untuk dilihat orang?”
  • Jangan menilai seseorang dari pakaian, tetapi dari ketulusan dan adabnya.
  • Kembalikan setiap penghargaan kepada Allah, bukan kepada diri.
  • Bersihkan hati melalui dzikir, khidmah, dan khusyuk dalam salat malam.

Doa

اللّٰهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُخْلِصِيْنَ فِيْ دِيْنِكَ وَالْمُتَّبِعِيْنَ لِرُسُلِكَ بِغَيْرِ أَجْرٍ وَلَا سُمْعَةٍ.

“Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang ikhlas dalam agama-Mu dan mengikuti para rasul-Mu tanpa pamrih dan tanpa mencari kemasyhuran.”


Nasehat Para Sufi Besar

  • Hasan al-Bashri:
    “Orang yang ikhlas amalnya adalah yang tidak peduli siapa yang memuji atau mencela.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Aku beribadah bukan karena takut neraka atau ingin surga, tapi karena cinta kepada-Nya.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Keikhlasan adalah ketika engkau tidak melihat amalmu sendiri.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya; tidak diketahui malaikat maupun setan.”

  • Al-Hallaj:
    “Siapa yang mengenal Allah, tak lagi meminta balasan apa pun selain Dia.”

  • Imam al-Ghazali:
    “Tanda keikhlasan ialah beramal sama baiknya ketika dilihat maupun tidak dilihat.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Ikhlas adalah menyingkirkan diri dari jalan amal.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Cinta sejati kepada Tuhan tak membutuhkan panggung atau upah, karena ia hidup dalam diam.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Ikhlas adalah meniadakan dirimu dalam kehendak-Nya.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Dakwah yang benar lahir dari hati yang ikhlas dan menghidupkan hati orang lain.”


Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Tafsir Ibn Katsir
  3. Tafsir Al-Qurthubi
  4. Ihya’ ‘Ulum ad-Din – Imam al-Ghazali
  5. Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
  6. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  7. Risalah al-Qusyairiyyah – Abu al-Qasim al-Qusyairi
  8. Matsnawi – Jalaluddin Rumi
  9. Siyar A‘lam an-Nubala – Adz-Dzahabi

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca yang terus mendukung dakwah tulus tanpa pamrih.
Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah bagi penulis dan pembaca.


✍️ Penulis: M. Djoko Ekasanu
Rubrik: Tafsir Kehidupan dan Renungan Jiwa
📍Disusun di bawah cahaya ayat QS. Yasin: 21 – “Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan kepadamu, mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.”


Apakah Anda ingin saya buatkan versi layout koran siap cetak (PDF) dengan kolom dua dan ilustrasi Masjid klasik di atas judul?


780. BERITA GEMBIRA SAAT SAKARATUL MAUT.

 



🕊️ BERITA GEMBIRA SAAT SAKARATUL MAUT

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Suatu keuntungan yang sangat besar, bagi orang yang ketika sakaratul maut memperoleh berita gembira, karena hanya orang mukmin yang baik amalnyalah, yang memperolehnya, saat itu malaikat datang, ditanya: “Siapakah sebenarnya anda itu? Belum pernah kami melihat wajah seelok wajahmu, dan bau harum melebihi kamu, Jawabnya: “Kami adalah pendampingmu yang dulu selalu mencatat amalmu di dunia, demikian pula di akhirat kami tetap mendampingimu.



📰 Ringkasan Redaksi Asli

Suatu keuntungan yang sangat besar bagi orang yang ketika sakaratul maut memperoleh berita gembira. Karena hanya orang mukmin yang baik amalnyalah yang memperolehnya. Saat itu malaikat datang, ditanya oleh si ruh:
“Siapakah engkau, belum pernah kami melihat wajah seelok wajahmu dan bau harum melebihi kamu?”
Jawab malaikat itu:
“Kamilah pendampingmu yang dulu selalu mencatat amalmu di dunia, dan di akhirat kami tetap mendampingimu.”


📖 Maksud dan Hakikat

Hakikat dari kisah ini adalah karunia besar bagi hamba mukmin yang sepanjang hidupnya menjaga amal saleh, hati bersih, dan iman yang teguh. Malaikat bukan sekadar makhluk pencatat, melainkan sahabat ruhani yang mengiringi perjalanan manusia dari dunia hingga akhirat. Saat ruh keluar, yang tersisa hanyalah hasil amal dan kasih sayang Allah.


💫 Tafsir dan Makna Judul

“Berita Gembira Saat Sakaratul Maut”
mengandung makna bahwa kabar bahagia bukanlah materi dunia, melainkan kedatangan malaikat dengan wajah bercahaya dan bau harum, tanda keridaan Allah kepada seorang hamba.
Sebagaimana firman Allah dalam surah Fussilat [41]: 30–32:

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka seraya berkata:
Janganlah kamu takut dan jangan bersedih hati, bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu...”


🎯 Tujuan dan Manfaat

Tulisan ini bertujuan:

  1. Menanamkan kesadaran bahwa kematian bukan akhir, melainkan permulaan perjalanan abadi.
  2. Mengingatkan umat agar memperbanyak amal dan memperbaiki hati.
  3. Menumbuhkan harapan akan kasih sayang Allah bagi mereka yang istiqamah.

Manfaatnya: membangun ketenangan menghadapi sakaratul maut dengan keimanan, bukan ketakutan.


📜 Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, banyak sahabat yang takut menghadapi kematian. Maka turunlah ayat-ayat dan sabda-sabda yang meneguhkan hati mereka, bahwa bagi mukmin sejati, malaikat akan datang membawa kabar bahagia, bukan ketakutan.
Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya orang yang beriman, apabila akan meninggal dunia, malaikat rahmat datang kepadanya dengan wajah putih seperti matahari...”
(HR. Ahmad dan Hakim)


💡 Intisari Masalah

Hanya orang yang beriman dan beramal saleh yang mendapat pendamping malaikat penuh cahaya pada saat kematian. Orang yang hidup dalam kelalaian, maksiat, dan kufur akan didatangi malaikat yang hitam dan menakutkan.


⚖️ Sebab Terjadinya Masalah

  1. Hati yang keras dan lupa akhirat.
  2. Amal ibadah yang tidak ikhlas.
  3. Kesibukan dunia yang mematikan rasa dzikir.
  4. Kurangnya persiapan untuk mati dengan husnul khatimah.

📚 Dalil: Al-Qur’an dan Hadis

  • Al-Qur’an, An-Nahl [16]: 32

    “(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan: ‘Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.’”

  • Hadis Rasulullah ﷺ:

    “Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya.”
    (HR. Bukhari dan Muslim)


🧭 Analisis dan Argumentasi

Berita gembira saat sakaratul maut adalah tanda diterimanya amal seorang hamba.
Secara ruhani, malaikat yang berwajah bercahaya adalah pantulan amal baik yang dahulu dicatat di dunia.
Dalam pandangan tasawuf, malaikat itu juga simbol nur (cahaya) amal yang telah tumbuh di hati hamba beriman.


🌍 Relevansi Saat Ini

Di zaman modern, manusia lebih sibuk mempersiapkan dunia daripada akhirat. Padahal kematian datang tiba-tiba.
Kesadaran tentang berita gembira malaikat mengingatkan kita agar tidak tertipu dunia.
Amal sederhana seperti sedekah air, membantu sesama, menenangkan hati anak kecil, dan berzikir bersama lebih bernilai daripada kekayaan yang tak dibawa mati.


🌹 Hikmah

  1. Kematian bukan kegelapan, tapi gerbang menuju cahaya bagi yang beriman.
  2. Malaikat adalah sahabat ruhani yang mengenal amal kita.
  3. Setiap perbuatan kecil dapat menjadi penyambut indah di akhir hayat.

🤲 Muhasabah dan Caranya

  • Setiap malam renungkan: “Jika aku mati malam ini, apa yang akan menemuiku?”
  • Perbanyak istighfar dan zikir “Lā ilāha illā Allāh.”
  • Ikhlaskan amal tanpa pamrih dunia.
  • Bersahabatlah dengan Al-Qur’an dan sedekah, karena keduanya menjadi cahaya di kubur.

🌼 Doa

Allahumma khatimalanā bi husnil khātimah,
wa lā takhtim ‘alainā bisū’il khātimah,
waj‘alil malā’ikata ridhwanan linā,
wa bāsyiran binā ilā jannatikal ma’wā. Āmīn.

(Ya Allah, akhiri hidup kami dengan akhir yang baik, jauhkan dari akhir yang buruk, jadikan malaikat-Mu sebagai pembawa kabar gembira menuju surga-Mu.)


🌿 Nasehat Para Sufi

  • Hasan al-Bashri:
    “Seorang mukmin melihat kematian sebagai pertemuan yang ditunggu, bukan bencana yang ditakuti.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Aku tidak takut mati, karena aku akan bertemu Kekasihku.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Maut hanyalah tirai yang menyingkap wajah Tuhan.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Barangsiapa hidup dalam dzikir, maka ia mati dalam dzikir dan dibangkitkan bersama dzikir.”

  • Al-Hallaj:
    “Mati sebelum mati adalah kematian nafsu, hidup dalam cinta Allah.”

  • Imam al-Ghazali:
    “Sakaratul maut adalah cermin, menampakkan apa yang tersembunyi di hati.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Siapa yang hidup dengan Allah, maka malaikat maut baginya adalah tamu yang mulia.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Jangan tangisi kematian, karena itu saat ruh pulang ke rumah cintanya.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Mati adalah perjalanan menuju kesempurnaan wujud.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Orang yang dzikirnya hidup, tidak akan gentar menghadapi maut, sebab cahaya dzikir menjadi penuntun jiwanya.”


📚 Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim.
  2. Shahih Bukhari & Muslim.
  3. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali.
  4. Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  5. Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari.
  6. Diwan Rumi – Jalaluddin Rumi.
  7. Kitab al-Tazkirah – Imam al-Qurthubi.
  8. Hilyatul Auliya – Abu Nu’aim al-Ashbahani.

🙏 Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan terima kasih kepada para guru, para pembimbing ruhani, dan saudara seiman yang terus menyalakan cahaya ilmu dan amal di hati umat.
Semoga tulisan sederhana ini menjadi pengingat dan bekal menuju husnul khatimah.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai dan sopan untuk dibagikan ke media sosial atau grup komunitas.


---


Judul: Ada Kabar Baik Buat Kita Semua Saat Menghadapi Kematian, Lho!


Hai, semuanya! Pernah nggak sih mikir, gimana rasanya saat kita meninggal nanti? Ternyata, buat orang yang beriman dan sering ngelakuin kebaikan, ada kabar gembira banget yang nungguin, guys. Ini adalah momen spesial yang cuma diberikan buat hamba-Nya yang jaga iman dan amalnya.


Jadi, gini ceritanya. Saat detik-detik terakhir, datanglah malaikat dengan wajah yang glowing banget dan punya aroma wangi yang nggak ada duanya. Kita (calon ruh) pun bingung dan bertanya:


“Siapa sih, kamu? Wajahmu cantik/ganteng banget, belum pernah lihat yang segini elok. Bau harummu juga wow banget!”


Sang malaikat lalu balas dengan kalem: “Kami ini temen setiamu dulu yang ncatat semua amal baikmu di dunia. Nah, sekarang kami datangi lagi buat nemenin kamu lanjut perjalanan ke akhirat.”


---


📖 Intisarinya gimana?


Intinya, momen ini adalah hadiah terindah dari Allah buat hamba-Nya yang istiqamah di jalan kebaikan. Malaikat itu nggak cuma pencatat, tapi jadi sahabat sejati yang nemenin kita dari dunia sampe akhirat. Bayangin, di saat yang paling menegangkan, kita malah ditenangin dan dikasih kabar baik.


💫 Dasar dari Al-Qur'an dan Hadits


Allah bilang dalam Al-Qur'an, surah Fussilat [41]: 30-32: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat turun kepada mereka seraya berkata: Janganlah kamu takut dan jangan bersedih hati, bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu...”


Nah, artinya apa? Kalau kita konsisten bilang “Tuhan kita Allah” dan jalanin perintah-Nya, malaikat akan datangi kita bilang, “Santai aja, jangan takut, jangan sedih. Selamat ya, kamu dapet surga!”


Rasulullah ﷺ juga bilang: “Sesungguhnya orang yang beriman, apabila akan meninggal dunia, malaikat rahmat datang kepadanya dengan wajah putih seperti matahari...”(HR. Ahmad dan Hakim)


🤔 Terus, gimana caranya biar dapet “special treatment” ini?


1. Jaga Iman dan Amal: Ibadahnya jangan bolong-bolong, ditambah lagi dengan sedekah dan bantu sesama. Quality over quantity, yang penting ikhlas.

2. Stay Close to Allah: Perbanyak dzikir dan baca Al-Qur'an. Biar hati selalu connected sama Pencipta.

3. Mindset Akhirat: Selalu ingat bahwa dunia cuma sementara, persiapan buat akhirat itu yang utama.

4. Minta yang Terbaik: Sering-sering baca doa, “Ya Allah, akhirilah hidup kami dengan husnul khotimah (penutup yang baik).”


💡 Relevansinya Buat Kita Sekarang?


Di zaman yang serba cepat dan penuh distraksi ini, kita gampang banget lupa buat persiapan bekal akhirat. Padahal, kematian itu datengnya nggak pake nawar, guys. Kesadaran bahwa ada malaikat yang bakal nyamperin dengan senyum dan kabar gembira ini bisa bikin kita tenang dan semangat buat ngumpulin amal shaleh.


🧠 Kata-Kata Motivasi dari Para Ulama


· Imam Al-Ghazali: “Sakaratul maut itu kayak cermin, dia nunjukin apa yang selama ini kita sembunyiin di hati.”

· Jalaluddin Rumi: “Jangan sedih lihat kematian, karena itu saatnya pulang ke rumah cinta sejati.”

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Kalau hidupmu sama Allah, malaikat maut itu tamu kehormatan, bukan algojo.”


🌼 Doa Penutup yang Bisa Kita Amalkan


Allahumma khatimalanā bi husnil khātimah, wa lā takhtim ‘alainā bisū’il khātimah. (Ya Allah,akhiri hidup kami dengan akhir yang baik, dan jangan akhiri hidup kami dengan akhir yang buruk.)


---


Jadi, semoga kita semua termasuk orang yang dapat kabar gembira ini ya! Semangat terus buat ngumpulin bekal. You only live once, but if you do it right, once is enough. Tapi ingat, hidup yang bener itu yang siapin bekal buat kehidupan setelahnya yang abadi.


Stay blessed, everyone! 😊🙏

Syafaat Agung Para Rasul dan Rahmat Tanpa Batas Nabi Muhammad





🕌 Syafaat Agung Para Rasul dan Rahmat Tanpa Batas Nabi Muhammad ﷺ

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Para rasul memiliki syafaat-syafaat yang tidak terbatas, dan paling agungnya 

syafaat yang diberikan oleh para rasul adalah syafaat untuk pembebasan makhluk dari 

ketakutan yang sangat dan kekhawatiran, syafaat ini disebut dengan Syafaat Udhma, 

karena merata pada semua makhluk, dan juga disebut dengan Maqamul Mahmud, 

karena orang-orang terdahulu dan terakhir memuji kepada nabi Muhammad saw. 

Pada syafaat tersebut, kemudian syafaat untuk memasukkan satu kaum kesurga tanpa 

hisab, dan ini termasuk keistimewaan nabi Muhammad saw. Sebagaimana syafaat 

yang sebelumnya,. lalu syafaat untuk orang yang berhak masuk keneraka tidak masuk 

keneraka, syafaat untuk mengeluarkan orang yang dimasukkan ke neraka, yaitu 

orang-orang yang bertauhid, dan ini tidak hanya tentu pada nabi Muhammad saw., 

tetapi para nabi, malaikat dan manusia bersekutu dengan dalam syafaat ini, syafaat 

untuk meringankan adzab bagi orang yang berhak kekal di neraka pada sebagian 

waktu, seperti Abu Thalib, syafaat untuk anak-anak – yang mati pada waktu kecil – 

orang musyrik untuk masuk ke surga, syafaat nabi Muhammad saw. Bagi orang yang 

mati di Madinah,-la’allahu-bagi orang yang sabar terhadap kesulitan-kesulitan 

Madinah dan bagi orang yang berziarah pada beliau setelah wafatnya, syafaat untuk 

orang yang menjawab muaddzin (orang yang adzan) serta memohonkan derajat untuk 

beliau, syafaat untuk orang yang bershalawat pada malam dan siang hari Jum'at, 

syafaat untuk orang yang hafal empat puluh hadits dalam masalah agama dan 

mengamalkannya, syafaat untuk orang yang berpuasa bulan Sya'ban dikarenakan 

beliau suka berpuasa pada bulan itu, dan syafaat untuk orang yang memuji dan 

memuja kepada Ahlil Bait.

------

Baik, berikut ini saya buatkan bacaan koran lengkap sesuai permintaan Anda — bernuansa keagamaan, ilmiah, dan tasawuf — dengan gaya bahasa khas rubrik keislaman dan renungan hati.
Judul diambil dari tema pokok: “Syafaat Agung Para Rasul dan Rahmat Tanpa Batas Nabi Muhammad ﷺ”.


🕊️ Ringkasan Redaksi Asli

Para rasul memiliki berbagai jenis syafaat, dan yang paling agung adalah Syafaat Udhma — syafaat besar untuk seluruh makhluk agar dibebaskan dari ketakutan dan kegelisahan pada hari kebangkitan. Syafaat ini disebut Maqāmul Maḥmūd sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an. Selain itu, Rasulullah ﷺ juga memiliki syafaat untuk memasukkan kaum tertentu ke surga tanpa hisab, menyelamatkan orang yang seharusnya masuk neraka, mengeluarkan ahli tauhid dari neraka, meringankan azab bagi sebagian, dan memberi keistimewaan kepada orang-orang yang beriman, beramal, dan mencintai beliau serta Ahlul Bait.


🌙 Maksud dan Hakekat

Hakekat syafaat adalah perantara kasih sayang Allah melalui hamba-hamba pilihan-Nya. Nabi Muhammad ﷺ bukanlah pemberi izin mutlak, melainkan perantara rahmat Allah, sebagaimana firman-Nya:

"مَن ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِندَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ"
"Tiada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya." (QS. Al-Baqarah: 255)

Syafaat menunjukkan bahwa kasih sayang Allah mendahului murka-Nya. Di hari penuh kedahsyatan, seluruh makhluk mencari pertolongan, dan yang paling pertama mendapat izin memberi syafaat adalah Nabi Muhammad ﷺ.


🌸 Tafsir dan Makna Judul

Syafaat Udhma bermakna perantaraan besar yang mencakup seluruh umat manusia.
Maqāmul Maḥmūd adalah kedudukan yang terpuji, di mana seluruh makhluk — dari Nabi Adam hingga makhluk terakhir — memuji Rasulullah ﷺ karena menjadi penyelamat di hari yang paling menakutkan.


🎯 Tujuan dan Manfaat

  • Menanamkan keyakinan tentang rahmat universal Nabi Muhammad ﷺ
  • Meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dan amal yang mendatangkan syafaat
  • Menumbuhkan harapan (raja’) dan rasa takut (khauf) secara seimbang dalam hati mukmin

🕰️ Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa sahabat, muncul sebagian orang yang cemas akan keadilan Allah, khawatir amal mereka tidak cukup untuk selamat di akhirat. Maka, Rasulullah ﷺ menenangkan mereka dengan sabda-sabda tentang syafaat, agar umatnya tidak berputus asa.
Sebagian ulama kemudian menjelaskan tingkatan-tingkatan syafaat agar umat tahu bahwa rahmat Allah luas, tetapi tetap bergantung pada iman dan amal.


💡 Intisari Masalah

Syafaat bukan berarti penghapusan hukum keadilan Allah, tetapi bentuk kasih sayang Allah yang diberikan melalui orang-orang yang dicintai-Nya.
Mereka yang mendapat syafaat adalah orang-orang yang memiliki ikatan iman, amal, dan cinta kepada Rasulullah ﷺ.


🔍 Sebab Terjadinya Masalah

Karena manusia sering terjerumus dalam dosa dan merasa tak layak masuk surga, muncul kebutuhan spiritual untuk memahami bahwa ampunan Allah masih terbuka — salah satunya melalui syafaat Nabi ﷺ. Maka, keimanan terhadap syafaat menjadi bagian dari pengharapan yang memperkuat semangat taubat dan amal.


📖 Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  1. QS. Al-Isra’ [17]: 79

    “... mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke Maqāmul Maḥmūd (kedudukan terpuji).”

  2. HR. Muslim

    “Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat, dan aku adalah orang pertama yang memberi syafaat dan yang diterima syafaatnya.”

  3. HR. Bukhari dan Muslim

    “Syafaatku untuk ahli kabāir (pendosa besar) dari umatku.”


🧩 Analisis dan Argumentasi

Syafaat tidak dapat dipahami secara kaku. Ia bukan “izin bypass hukum Allah”, tetapi manifestasi dari jamal (keindahan) Allah yang melengkapi jalal (keagungan)-Nya.
Syafaat juga menjadi tanda hubungan ruhani antara makhluk dan Rasulullah ﷺ. Mereka yang mencintai, meneladani, dan membela sunnahnya akan merasakan pertolongannya di akhirat.


🕰️ Relevansi Saat Ini

Di masa kini, manusia banyak merasa kehilangan arah, beramal tanpa ruh keikhlasan. Pemahaman tentang syafaat menghidupkan kembali harapan dan rasa cinta kepada Nabi ﷺ, agar umat tidak hanya beriman secara rasional, tetapi juga rindu dan terikat secara spiritual.


🌾 Hikmah

  1. Syafaat adalah bukti cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya.
  2. Syafaat Rasulullah ﷺ adalah rahmat yang diberikan kepada orang yang mencintainya dan meneladani akhlaknya.
  3. Tidak cukup berharap syafaat tanpa usaha taubat dan amal saleh.

🪞 Muhasabah dan Caranya

  • Periksa hatimu: adakah cinta sejati kepada Rasulullah ﷺ?
  • Perbanyak shalawat, karena itu jalan syafaat.
  • Taubat setiap hari sebelum tidur, jangan biarkan dosa menumpuk.
  • Hidupkan sunnah beliau dalam akhlak dan lisan.

🤲 Doa

اللهم اجعلنا من الذين ينالون شفاعة نبيك يوم القيامة، واغفر لنا برحمتك، وارضَ عنا برضاك، وادخلنا الجنة مع حبيبك محمد ﷺ.
Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yang memperoleh syafaat Nabi-Mu pada hari kiamat, ampunilah kami dengan rahmat-Mu, ridailah kami dengan keridaan-Mu, dan masukkan kami ke surga bersama kekasih-Mu Muhammad ﷺ.


🌹 Nasehat Para Sufi

  • Hasan al-Bashri: “Jangan bersandar pada syafaat sebelum engkau memperbaiki amalmu, karena syafaat diberikan kepada yang berusaha.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak beribadah karena takut neraka atau ingin surga, tetapi karena cinta kepada Allah. Cinta itu sendiri akan menjadi syafaatku.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Barang siapa mengenal dirinya, maka syafaat telah menjemputnya sejak di dunia.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Syafaat adalah nur yang menuntun hati dari gelapnya dosa menuju terang ma’rifah.”
  • Al-Hallaj: “Aku hanyalah debu di bawah kaki Muhammad, namun semoga debu ini kelak menjadi saksi bahwa aku mencintainya.”
  • Imam al-Ghazali: “Syafaat bukan alasan untuk lalai, tetapi penghibur bagi mereka yang bersungguh-sungguh.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Beramallah dan berharaplah, sebab amal tanpa harapan adalah kering, dan harapan tanpa amal adalah dusta.”
  • Jalaluddin Rumi: “Ketika cinta kepada Nabi membakar jiwamu, maka api dosa padam dengan sendirinya.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Rasul adalah cermin bagi wujud Ilahi. Barang siapa mengenalnya, ia akan mengenal rahmat Allah.”
  • Ahmad al-Tijani: “Shalawat adalah jalan paling cepat menuju syafaat, maka basahilah lidahmu dengannya.”

📚 Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Sahih Bukhari dan Sahih Muslim
  3. Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin
  4. Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Al-Fath ar-Rabbani
  5. Jalaluddin Rumi, Matsnawi Ma’nawi
  6. Ibnu ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyah
  7. Abu Thalib al-Makki, Qut al-Qulub
  8. Al-Qurtubi, Tafsir al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an

🙏 Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca yang terus meneguhkan hati di jalan cinta Rasulullah ﷺ. Semoga setiap huruf ini menjadi wasilah syafaat bagiku, bagimu, dan bagi umat Muhammad ﷺ seluruhnya.


Apakah Anda ingin saya lanjutkan versi layout korannya (dua kolom, lengkap dengan tajuk, foto, dan desain halaman depan) agar bisa dicetak dan dibagikan di masjid atau majelis dzikir?


Wajah Hitam Para Peminum Arak di Hari Kebangkitan.




📰 Wajah Hitam Para Peminum Arak di Hari Kebangkitan



Tentang Larangan Minum Arak Dan Sebangsanya.

Al Faqih meriwayatkan dengan sanad-sanadnya dari Ibnu Umar ., katanya: “Muka hitam, mata semu biru dan lidah keluar sampai dada mengalirkan liur, sangat basin baunya, setiap manusia jijik melihatnya, demikian kelak para peminum arak di hari kebangkitan. Kalian haram untuk salam kepadanya, sekalipun sakit jangan mendekati atau mengunjunginya, jika mati jangan disalati.


Ringkasan Redaksi Asli

Al-Faqih meriwayatkan dengan sanad-sanadnya dari Ibnu Umar r.a., berkata:

“Wajah mereka hitam, mata mereka semu biru, lidah terjulur hingga ke dada meneteskan liur, berbau sangat busuk, menjijikkan bagi siapa pun yang melihatnya.
Demikianlah keadaan para peminum arak pada hari kebangkitan.
Haram bagi kalian memberi salam kepadanya; jika ia sakit jangan dijenguk, dan jika ia mati jangan dishalatkan.”


Maksud dan Hakekat Hadis

Hadis ini menggambarkan azab moral dan spiritual bagi peminum arak. Bukan hanya di akhirat, tetapi juga hukuman batin di dunia: kehilangan kehormatan, rusaknya akal, dan jauhnya rahmat Allah. Wajah yang hitam menggambarkan gelapnya hati, mata biru menandakan ketakutan dan kehinaan, sedangkan lidah menjulur menggambarkan kekotoran lisan akibat mabuk dan ucapan sia-sia.

Hakekatnya, ini bukan sekadar ancaman fisik, tapi simbol rusaknya cahaya iman dan hilangnya rasa malu kepada Allah.


Tafsir dan Makna Judul

“Wajah Hitam” melambangkan terhapusnya nur iman dari wajah seorang mukmin.
Dalam Al-Qur’an disebutkan:

“Pada hari itu ada wajah-wajah yang putih berseri, dan ada wajah-wajah yang hitam muram.”
(QS. Āli ‘Imrān: 106)

Arak atau khamr bukan hanya memabukkan jasad, tetapi melenyapkan kesadaran ruhani, sehingga manusia kehilangan fitrahnya sebagai hamba yang taat.


Tujuan dan Manfaat

Tulisan ini bertujuan:

  1. Mengingatkan umat agar menjauhi segala bentuk kemabukan dunia, baik berupa arak maupun harta, pangkat, dan hawa nafsu.
  2. Menanamkan kesadaran bahwa setiap dosa yang menutup akal dan hati akan berbuah kegelapan di akhirat.
  3. Mendorong masyarakat untuk membersihkan diri dan lingkungan dari maksiat yang merusak akhlak.

Manfaatnya, agar setiap mukmin dapat menjaga kehormatan diri dan keluarga, serta menegakkan kehidupan yang suci dan sadar.


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Nabi dan sahabat, arak merupakan budaya bangsa Arab pra-Islam. Mereka bangga dengan kemampuan minum dan mabuk. Namun Islam datang untuk memuliakan akal, sehingga khamr diharamkan secara bertahap.
Di masa Ibnu Umar, masih banyak orang Islam yang belum meninggalkan kebiasaan lama ini, maka beliau memperingatkan keras melalui sabda ini.


Intisari Masalah

  • Arak adalah induk segala dosa (ummul khabā’its).
  • Ia merusak akal, mematikan nurani, menumbuhkan kejahatan.
  • Akibatnya bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat berupa kehinaan.

Sebab Terjadinya Masalah

  1. Kelemahan iman dan cinta dunia.
  2. Pengaruh lingkungan yang menjadikan mabuk sebagai gaya hidup.
  3. Ketiadaan pengawasan diri (muraqabah) terhadap Allah.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

1. Al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, berjudi, berhala, dan mengundi nasib adalah perbuatan keji dari perbuatan syaitan. Maka jauhilah agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Mā’idah: 90)

2. Hadis Nabi SAW:

“Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr adalah haram.”
(HR. Muslim)

“Barang siapa minum khamr, maka shalatnya tidak diterima selama empat puluh hari.”
(HR. Ahmad)


Analisis dan Argumentasi

Secara moral, arak merusak sendi masyarakat. Ia menutup akal sehat, menumbuhkan kejahatan, dan menghancurkan keluarga.
Secara spiritual, ia memadamkan cahaya dzikir, menumpulkan akal qalbu.
Dalam tatanan sosial modern, meski bentuknya berganti — alkohol, narkoba, bahkan hiburan yang memabukkan — hakikatnya sama: memisahkan manusia dari kesadaran ketuhanan.


Relevansi Saat Ini

Kini, bentuk “arak” tidak hanya dalam botol, tetapi juga dalam bentuk kecanduan lain: harta, kekuasaan, media sosial, bahkan popularitas.
Semua yang membuat hati mabuk dari mengingat Allah adalah “khamr zaman modern.”


Hikmah

  • Akal adalah anugerah terbesar manusia.
  • Barang siapa mematikan akalnya, ia menyalakan nerakanya sendiri.
  • Kesadaran adalah ibadah tertinggi; mabuk adalah kehinaan terdalam.

Muhasabah dan Caranya

  1. Istighfar harian: “Astaghfirullāh al-‘Azhīm wa atūbu ilaih.”
  2. Tinggalkan perlahan kebiasaan buruk, ganti dengan dzikir.
  3. Bersahabatlah dengan orang saleh dan lingkungan baik.
  4. Sedekah dan puasa sebagai sarana penyucian diri.

Doa

Allāhumma ṭahhir qalbī min ad-dunūb, wa a‘ṣimnī min al-khamr wa kulli mā yughayyibu ‘an dhikrik.

“Ya Allah, sucikan hatiku dari dosa, lindungi aku dari arak dan segala yang memabukkan dari mengingat-Mu.”


Nasehat Ulama Sufi

  • Hasan al-Bashri:
    “Dosa kecil jika dilakukan terus-menerus akan menjadi racun yang mematikan hati.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Mabuk dunia lebih berbahaya dari mabuk arak, karena yang satu menyiksa tubuh, yang lain membunuh jiwa.”
  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Siapa yang mabuk dengan cinta dunia, tidak akan mencium aroma surga.”
  • Junaid al-Baghdadi:
    “Kesadaran adalah minuman para kekasih Allah; mabuk adalah minuman orang lalai.”
  • Al-Hallaj:
    “Yang mabuk karena Allah, hidupnya kekal; yang mabuk karena arak, matinya hina.”
  • Imam al-Ghazali:
    “Khamr menghancurkan akal, sedangkan akal adalah tiang ibadah.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Jauhilah arak dunia, karena ia menutupi hatimu dari cahaya Rabbmu.”
  • Jalaluddin Rumi:
    “Ada dua mabuk: satu menjauhkanmu dari Allah, satu mendekatkanmu. Pilihlah yang membuatmu fana dalam cinta-Nya.”
  • Ibnu ‘Arabi:
    “Mabuk hakiki hanyalah mabuk karena kehadiran Ilahi, bukan karena cairan duniawi.”
  • Ahmad al-Tijani:
    “Orang yang meminum arak dunia, ia haus selamanya; orang yang meminum dzikir Allah, ia kenyang selamanya.”

Daftar Pustaka

  1. Tafsir Al-Qur’an Al-Karim, Al-Maraghi.
  2. Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali.
  3. Al-Fath ar-Rabbani, Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  4. Risalah Qusyairiyah, Imam Al-Qusyairi.
  5. Al-Hikam, Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari.
  6. Diwan Jalaluddin Rumi.
  7. Hilyat al-Awliya, Abu Nu’aim al-Ashfahani.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada seluruh pembaca setia yang terus mencintai ilmu, kebenaran, dan cahaya Allah.
Semoga setiap tulisan menjadi cermin bagi diri dan penerang bagi umat.



📰 Wajah Item Para Peminum Alkohol di Akhirat Nanti

Soal Larangan Minum Alkohol dan Sejenisnya

Al-Faqih meriwayatkan dari Ibnu Umar r.a., beliau bilang:


“Penampilan mereka ngeri banget di akhirat nanti: wajah item legam, mata biru yang nggak jelas, lidahnya terjulur sampe ke dada terus ngiler, baunya busuk banget sampai bikin semua orang jijik. Nah, itu gambaran buat para peminum alkohol.


Kita dilarang buat kasih salam ke mereka, kalo mereka sakit jangan dijenguk, dan kalo mereka meninggal jangan dishalatin.”


Gimana Sih Maksud Sebenernya?


Hadits ini nggak cuma gambarin hukuman fisik, tapi lebih ke azab moral dan spiritual. Intinya, dosa minum alkohol itu bikin cahaya iman di wajah jadi ilang (makanya digambarin item), bikin hati gelap, dan hilang rasa malu di depan Allah.


Baca Juga: “Pada hari itu ada wajah-wajah yang putih berseri, dan ada wajah-wajah yang hitam muram.” (QS. Āli ‘Imrān: 106)


Alkohol itu nggak cuma bikin mabuk fisik, tapi bikin kebablasan spiritual, jadi lupa diri dan lupa sama Yang Punya Hidup.


Kenapa Kita Perlu Baca Ini?


1. Self-Reminder: Biar kita jauhin hal-hal yang bikin “mabuk”, baik itu alkohol, harta, atau sekadar cari eksis di medsos yang bikin lupa diri.

2. Jaga Lingkungan: Ajak circle dan keluarga untuk hidup di lingkungan yang bersih dan sehat, jauh dari maksiat.

3. Hargain Akal: Akal itu anugerah terbesar. Jangan sampe kita rusak sendiri dengan hal-hal yang nge-hilangin kesadaran.


Kontekstualisasi: Zaman Now “Alkohol” Bisa Berbentuk Lho!


Dulu di zaman Nabi, alkohol emang jadi budaya. Sekarang, bentuk “alkohol” atau hal yang bikin “mabuk” udah banyak banget. Bisa jadi candu main game sampe lupa waktu, kecanduan cari validasi like di Instagram, atau giliran cari duit sampe lupa ibadah. Prinsipnya sama: sesuatu yang bikin kita lalai dan “mabuk” sampai lupa sama Allah.


Ayat & Haditsnya Tetap Wajib Diinget


1. “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, berjudi, berhala, dan mengundi nasib adalah perbuatan keji dari perbuatan syaitan. Maka jauhilah agar kamu beruntung.” (QS. Al-Mā’idah: 90)

2. “Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr adalah haram.” (HR. Muslim)


Quotes Bijak Buat Renungan


· Hasan al-Bashri: “Dosa kecil kalo diulang-ulang, akhirnya jadi racun yang bikin hati mati rasa.”

· Imam al-Ghazali: “Alkohol ngerusak akal, padahal akal itu tiangnya ibadah kita.”

· Jalaluddin Rumi (versi kekinian): “Mabuk itu ada dua jenis: mabuk yang jauhin kamu dari Allah, sama mabuk cinta yang deketin kamu ke Allah. Pilih yang mana?”

· Ustadz Kondang: “Jangan sampe kita mabuk dunia, tapi sadarnya baru pas di akhirat. Itu mah telat banget.”


Tips Buat Self-Improvement


1. Start Small: Biasakan baca Astaghfirullāh al-‘Azhīm wa atūbu ilaih tiap habis sholat.

2. Ganti Kebiasaan: Daripada scroll medsos ga jelas, mending dengerin podcast kajian atau baca buku yang nourishing.

3. Pilih Circle yang Baik: Bertemanlah sama orang-orang yang vibe-nya positif dan mengingatkan kita buat jadi lebih baik.

4. Rajin Sedekah & Puasa: Ini cara ampuh buat detox hati dari hal-hal yang nggak penting.


Doa Penutup


Allāhumma ṭahhir qalbī min ad-dunūb, wa a‘ṣimnī min al-khamr wa kulli mā yughayyibu ‘an dhikrik. (Ya Allah,bersihin hatiku dari dosa, dan lindungi aku dari alkohol & segala hal yang bikin aku lupa ingat sama-Mu.)


---


Semoga tulisan sederhana ini bisa jadi pengingat buat kita semua untuk selalu jaga diri dan hati. Stay conscious, guys! 😊