Sunday, November 14, 2010

Wanita Bergolongan Darah O Kurang Subur di Usia Tigapuluhan

Wanita Bergolongan Darah O Kurang Subur di Usia Tigapuluhan


Kemampuan seorang wanita untuk hamil di usia tiga puluhan mungkin dipengaruhi oleh golongan darahnya, demikian menurut penelitian.

Sebuah studi di AS terhadap 560 perempuan yang menjalani perawatan kesuburan menemukan bahwa mereka yang bergolongan darah O memiliki tanda-tanda kimiawi yang dikaitkan dengan jumlah telur sedikit. Temuan tersebut disampaikan pada awal pekan ini di American Society of Reproductive Medicine Conference di Denver.

Para peneliti dari Albert Einstein College of Medicine di New York dan Yale University tersebut mengukur kadar zat kimia yang disebut follicle-stimulating hormone (FSH) pada para wanita tersebut, yang berusia rata-rata 35 tahun. Analisis sampel darah mereka menunjukkan bahwa perempuan bergolongan darah O cenderung memiliki kadar FSH tinggi sedangkan mereka yang bergolongan darah A memiliki kadar FSH terendah, hanya setengahnya mereka yang bergolongan darah O.

Setiap wanita dewasa memiliki sejumlah cadangan telur di indung telurnya, yang dikeluarkan secara bertahap pada setiap masa ovulasi. Tingginya kadar FSH dapat menjadi indikator bahwa cadangan tersebut berkurang lebih cepat, sehingga dapat mengurangi peluang kehamilan pada wanita yang berusia 30-an dan 40-an.

Itu adalah pertama kalinya ada penelitian yang menunjukkan korelasi antara golongan darah dan potensi kesuburan. Apakah korelasi tersebut juga terdapat pada perempuan di masyarakat umum, tidak jelas. Semua wanita yang berpartisipasi dalam penelitian tersebut adalah mereka yang memiliki masalah fertilitas. Dr Edward Nejat yang memimpin studi itu mengatakan bahwa penelitian lebih lanjut berskala besar diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan tersebut dan melihat apakah ada efeknya pada wanita tanpa masalah fertilitas yang berusaha untuk hamil.

Meskipun para peneliti tidak bisa mengidentifikasi penyebab korelasi tersebut, Dr Peter D’Adamo, seorang dokter naturopati dan ahli dalam bidang golongan darah manusia, mengatakan: “Sejumlah besar kasus infertilitas adalah hasil respon imunitas golongan darah seseorang terhadap lingkungannya.”

Dr D’Adamo telah meneliti hubungan antara golongan darah, genetika, dan kerentanan penyakit selama lebih dari 30 tahun dan mendukung temuan-temuannya dengan dokumentasi ilmiah yang ekstensif. Dalam bukunya, Eat Right for Your Baby, yang diterbitkan pada tahun 2003, Dr D’Adamo membahas hubungan yang vital antara golongan darah dan kesuburan dan menunjukkan bahwa “Golongan darah O cenderung menderita gangguan hormon dan metabolisme, yang merupakan hambatan utama untuk kesuburan.”

sumber: BBC, image: source

Artikel Terkait:

  1. Wanita Perlu Bercinta Rata-Rata 104 Kali Agar Hamil
  2. 7 Nutrisi Penambah Kesuburan/Fertilitas
  3. Anda Hipertensi? Perbanyaklah Makan Kedelai
  4. Ada Lebih Banyak Bakteri di Tangan Wanita!
  5. 7 Langkah Agar Cepat Hamil

Manfaat dan Cara Pijat Bayi

Manfaat dan Cara Pijat Bayi


Manfaat Pijat Bayi

Pijat Bayi adalah praktek pengasuhan anak kuno yang masih dipraktekkan di seluruh dunia. Penelitian medis terbaru telah membuktikan banyaknya manfaat pijat bayi. Sebuah studi menunjukkan bahwa bayi prematur yang dipijat tiga kali sehari selama sepuluh hari mendapatkan kenaikan berat badan hampir 50 persen lebih banyak, lebih aktif dan waspada dan dapat meninggalkan rumah sakit enam hari lebih cepat dibandingkan bayi prematur lainnya. Pijat bayi bermanfaat merangsang syaraf motorik, memperbaiki pola tidur, membantu pencernaan dan meningkatkan ketenangan emosional anak, selain menyehatkan tubuh dan otot-otot. Bayi yang dipijat dengan baik dan teratur dapat tumbuh lebih sehat dan berkembang lebih baik. Berikut adalah beberapa tips pijat untuk bayi.

Cara Pijat Bayi

  • Pilih waktu pemijatan saat Anda santai dan tidak tergesa-gesa dan tidak akan terputus di tengah jalan. Jangan memijat bayi sebelum atau setelah makan, atau ketika bayi sakit. Jangan membangunkan bayi untuk dipijat.
  • Siapkan perlengkapan pijat seperti minyak untuk memijat dari baby oil, minyak telon atau minyak nabati lainnya, alas, popok bersih dan pakaian ganti. Minyak aromaterapi untuk orang dewasa mungkin tidak cocok untuk bayi.
  • Lepas gelang, cincin dan potong kuku-kuku jari Anda yang panjang agar tidak menyakiti kulit bayi Anda yang lembut tanpa sengaja.
  • Gelar alas atau handuk lembut di atas permukaan yang datar dan lepaskan pakaian bayi. Anda juga dapat meletakkan bayi di pangkuan Anda. Letakkan bayi dengan posisi telentang saat Anda memijat bagian depan bayi Anda, lalu tengkurap saat memijat bagian belakang.
  • Gosokkan hanya sekitar setengah sendok teh minyak pada telapak tangan Anda untuk memudahkan pijatan tangan Anda meluncur di tubuh bayi. Anda dapat menambahkan lebih banyak minyak di tubuh bayi kemudian sesuai kebutuhan.
  • Pijat bayi dengan lembut namun tegas dengan telapak tangan atau jari. Pijatlah dengan ringan secara melingkar di dada dan perut, pijat kedua bahu, turun ke bawah di lengan dan kaki lalu kembali ke atas pada bagian punggung. Bayi baru lahir dapat menikmati hanya dua sampai lima menit pijatan, sementara bayi berusia lebih dari dua bulan dapat menikmati lebih lama.
  • Jangan terlalu banyak memberikan tekanan pada tubuh bayi yang rapuh dan hindari daerah tulang belakang.
  • Tenangkan bayi agar tidak bergerak saat dipijat dengan berbicara atau bernyanyi.
  • Kontak mata dengan bayi membuatnya merasa mendapatkan perhatian penuh dari Anda.
  • Berhenti memijat secara mendadak dapat membuat bayi waspada. Oleh karena itu, berhati-hatilah dengan pelan-pelan dan lembut saat akan menghentikan pijatan.
  • Jangan menggunakan minyak di kepala atau wajah. Jaga agar minyak tidak terkena jemari bayi karena mereka cenderung menempatkan jari di mulut atau mata, sehingga dapat menyebabkan iritasi.
  • Selubungi bayi dengan handuk bersih dan hangat setelah dipijat dan peluklah dia.
  • Hindari ruam, luka atau daerah di mana bayi mendapat suntikan vaksinasinya atau mungkin karena sakit.
  • Anda dapat terus memijat bayi Anda sampai dia berusia tiga atau empat tahun, karena manfaat pijat yang baik sangat banyak.

image source: pbekesi

Artikel Terkait:

  1. Anda Sulit Tidur? Pijat Aja!
  2. Aromaterapi untuk Bayi
  3. Pijat Bagi Pasien Pasca-Stroke, Bermanfaatkah?
  4. 12 Tips Pemberian Makanan Bayi
  5. 9 Tips Mencegah Pembusukan Gigi pada Anak-Anak

Kelainan Jantung Bawaan Pada Anak

Kelainan Jantung Bawaan Pada Anak


kelainan jantung bawaanAnda mungkin akan sangat cemas bila mengetahui anak Anda memiliki kelainan jantung bawaan. Sebenarnya tidak perlu terlalu cemas. Kelainan jantung bawaan adalah hal yang cukup umum terjadi dan kini– berkat kemajuan ilmu dan teknologi kedokteran– banyak yang dapat disembuhkan dengan pembedahan, kateterisasi dan obat-obatan.

Pertumbuhan Jantung

Jantung manusia mulai membentuk struktur kantong tunggal pada minggu keempat kehamilan. Pada minggu kedelapan, kantong ini secara bertahap membesar. Sekat jantung (septum) tumbuh untuk memisahkan serambi (atrial) dan bilik (ventricular) jantung di sisi kanan dan sisi kiri. Empat katup jantung terbentuk untuk mengatur aliran darah dari rongga-rongga jantung menuju paru dan tubuh.

Saat bayi masih di kandungan, aliran oksigen dan karbondioksida berlangsung melalui plasenta sehingga kelainan jantung pada saat itu tidak akan membawa masalah bagi bayi. Setelah bayi lahir dan tali plasenta dipotong, akan terlihat bila ada masalah pada jantung anak. Tanda pertama kelainan jantung adalah suara bising (murmur). Dokter dapat mengetahuinya lewat stetoskop. Namun, untuk memastikan penyebab bising tersebut, diperlukan rontgen jantung, EKG dan pemeriksaan penunjang lainnya. Tanda lainnya antara lain berupa detak jantung tidak normal (tachycardia), nafas pendek, kesulitan menyusui (karena nafas yang pendek) dan gangguan pertumbuhan dan kulit yang membiru (cyanotic).

Jenis-jenis Kelainan Jantung

Kelainan jantung bawaan sangat beragam jenisnya. Berikut adalah beberapa di antaranya:

1. Sekat Bilik Jantung Berlubang (Ventracular Septal Defect/VSD)
VSD adalah kelainan jantung berupa lubang pada sekat antarbilik jantung yang menyebabkan kebocoran aliran darah pada bilik kiri dan kanan jantung. Kebocoran ini membuat sebagian darah kaya oksigen kembali ke paru-paru sehingga menghalangi darah rendah oksigen memasuki paru-paru. Bila lubangnya kecil, VSD tidak memberikan masalah berarti. Bila besar, bayi dapat mengalami gagal jantung.

VSD adalah kelainan jantung bawaan yang paling sering terjadi (30% kasus). Gejala utama dari kelainan ini adalah kesulitan menyusui dan gangguan pertumbuhan, nafas pendek dan mudah lelah. Bayi dengan VSD besar cepat tidur setelah kurang menyusui, bangun sebentar karena lapar, mencoba menyusu lagi tetapi cepat kelelahan, tertidur lagi, dan seterusnya.

2. Penyempitan Katup Paru (Pulmonary Stenosis/PS)
PS adalah penyempitan katup paru yang berfungsi mengatur aliran darah rendah oksigen dari bilik kanan jantung ke paru-paru. Dengan penyempitan ini, bilik kanan harus bekerja keras memompa darah sehingga makin lama makin membesar (hipertrofi).

PS adalah kelainan jantung paling umum kedua, terjadi pada 10% kasus. Banyak penderita ASD yang baru terdiagnosis setelah dewasa. Bila demikian, dampaknya mungkin sudah sangat merusak berupa penyakit paru, risiko stroke tinggi dan usia harapan hidup yang rendah.

3. Sekat Serambi Jantung Berlubang (Atrial Septal Defect/ASD)
ASD adalah lubang di antara dua serambi jantung. Lubang ini menimbulkan masalah yang sama dengan VSD, yaitu mengalirkan darah kaya oksigen kembali ke paru-paru. ASD terjadi pada 5-7%? kasus dan lebih banyak terjadi pada bayi perempuan dibandingkan bayi laki-laki.

4. Tetralogi Fallot (Tetralogy of Falot/TOF)
TOF adalah komplikasi kelainan jantung bawaan yang khas, dan melibatkan empat kondisi:

  • Sekat bilik jantung berlubang (VSD)
  • Penyempitan katup paru (PS)
  • Bilik kanan jantung membesar (hipertrofi)
  • Akar aorta tepat berada di atas lubang VSD

Lubang VSD biasanya besar dan darah mengalir dari bilik kanan melalui lubang ini menuju bilik kiri. Hal ini terjadi karena adanya hambatan pada katup paru. Setelah masuk ke bilik kiri, darah yang rendah oksigen itu dipompa ke aorta dan mengalir ke seluruh tubuh. Itulah sebabnya bayi penderita TOF memiliki kulit yang membiru karena kekurangan oksigen.

Penyebab

Penyebab kelainan jantung bawaan tidak diketahui. Riset menunjukkan bahwa orang tua yang memiliki kelainan jantung lebih berisiko memiliki anak yang berkelainan jantung pula.

Kelainan juga dapat disebabkan gangguan perkembangan jantung pada janin karena infeksi seperti rubella dan toksoplasma, obat-obatan, alkohol dan zat-zat beracun yang dikonsumsi ibunya. Kelainan gen seperti sindrom Down dan Turner juga berkorelasi dengan kelainan jantung bawaan.

Penanganan

VSD dan ASD dengan lubang kecil mungkin akan menutup sendiri seiring pertumbuhan anak. Kelainan jantung yang tidak dapat sembuh sendiri dapat dikoreksi dengan satu kali atau beberapa kali operasi. Prosedur operasi dapat berupa bedah jantung terbuka atau dengan angioplasty/valvuloplasty memakai balon untuk menghilangkan hambatan pembuluh darah atau katup jantung. Pada prosedur ini, ahli jantung memasukkan kateter (pipa plastik tipis dengan balon di ujungnya) ke dalam pembuluh darah. Balon lalu ditiup untuk melebarkan pembuluh yang menyempit atau katup jantung. Dengan prosedur lain yang disebut transcather device occlusion (TDO), lubang tidak normal di sekat jantung dapat ditutup tanpa pembedahan.

image source: xtream_i

Artikel Terkait:

  1. 9 Gangguan Jantung Yang Wajib Anda Ketahui
  2. Gejala dan Pencegahan Penyakit Jantung
  3. 15 Penyebab Infertilitas Pria
  4. Waspadai Bahaya Anemia pada Anak
  5. 9 Tips Mencegah Pembusukan Gigi pada Anak-Anak

Infeksi yang Menular dari Ibu ke Bayi

Infeksi yang Menular dari Ibu ke Bayi


Bayi dapat tertular penyakit infeksi ibunya melalui berbagai cara. Di uterus (rahim), bayi tumbuh dalam lingkungan yang steril. Namun, bila selaput ketuban ibu rusak karena suatu sebab, bayi dapat terinfeksi oleh penyakit. Selama persalinan, bayi bisa menelan atau mengirup cairan pada jalan lahir, dan bakteri atau virus bisa masuk ke dalam tubuhnya. Kebanyakan mikroba yang berkembang di area intim wanita tidak berbahaya, tetapi ada juga yang berbahaya seperti bakteri GBS atau virus herpes kelamin (genital). Bayi juga dapat terinfeksi virus melalui plasenta yang memasok nutrisi dan oksigen baginya selama di dalam kandungan.

1. Streptokokus Grup B (GBS)

Bakteri GBS dapat berkoloni di jalan lahir bayi. Bakteri ini menginfeksi sekitar 25% perempuan di seluruh dunia, tetapi kebanyakan tidak menimbulkan gejala. Bayi dapat terinfeksi oleh bakteri ini di dalam rahim atau pada saat lahir. Bayi prematur dan bayi lahir berat badan rendah lebih berisiko terkena GBS. Jika ibu telah memiliki bayi sebelumnya dengan infeksi GBS, tindakan pencegahan harus diambil.

Kebanyakan bayi yang terinfeksi GBS tidak mengembangkan masalah, namun bila berkembang maka bisa menimbulkan infeksi aliran darah (sepsis), infeksi paru (pnemonia) atau infeksi cairan dan selaput otak (meningitis) yang mematikan.

Gejala infeksi GBS seperti demam, nafas tersengal/sesak, detak jantung tak beraturan, lesu, kejang, dll dapat terlihat dalam beberapa hari pertama setelah lahir. Namun, dalam kasus tertentu, gejala infeksi dapat terlihat 1 minggu s.d. 3 bulan setelah lahir (late onset). Bayi biasanya harus diberi antibiotik melalui infus di rumah sakit jika mereka menunjukkan tanda-tanda tidak sehat.

GBS adalah bakteri yang sulit diberantas. Namun, jika seorang wanita diketahui berisiko tinggi menularkan infeksi bakteri ini, antibiotik suntik yang kuat biasanya dapat mencegah penularan dari ibu ke bayi. Dokter juga mungkin merekomendasikan persalinan melalui bedah caesar yang lebih aman. Bakteri ini dapat dideteksi dengan pemeriksaan vagina, dubur atau urin ibu.

2. Tuberkulosis (TBC)

Tuberkulosis dapat ditularkan baik melalui plasenta di dalam rahim, menghirup atau menelan cairan yang terinfeksi saat kelahiran, atau menghirup udara yang mengandung kuman TBC setelah lahir. Sekitar 50% anak yang lahir dari ibu penderita TBC paru aktif mengembangkan penyakit ini selama tahun pertama kehidupan jika vaksin BCG tidak diberikan. Bayi penderita TBC dapat terlihat mengalami demam, lesu, gangguan pernapasan, pembengkakan hati (hepatosplenomegali), atau gagal tumbuh. Pengobatan TBC bayi biasanya menggunakan INH/isoniazid dan rifampisin.

3. Herpes simplex

Virus herpes simplex dapat ditularkan ketika bayi masih di dalam rahim, saat melewati jalan lahir atau tepat setelah kelahiran (postpartum). Herpes tipe 2 (herpes kelamin) adalah penyebab paling umum infeksi herpes pada bayi baru lahir, tapi herpes tipe 1 (herpes mulut) juga dapat terjadi. Virus ini dapat mengakibatkan banyak komplikasi yang berakibat buruk bagi bayi, seperti kebutaan dan cerebral palsy.

Jika ibu mengidap infeksi herpes kelamin aktif pada saat persalinan, bayi lebih mungkin terinfeksi selama proses kelahiran. Beberapa ibu tidak sadar kalau memiliki herpes kelamin aktif, jadi penting bagi mereka untuk memberitahu dokter jika mereka memiliki riwayat herpes kelamin. Selain itu, beberapa orang pernah terinfeksi herpes di masa lalu, tetapi tidak mengetahuinya. Mereka tanpa menyadari dapat menularkan virus itu ke bayi mereka.

Infeksi virus herpes pada bayi umumnya diobati dengan obat yang diberikan melalui vena (intravena). Acyclovir merupakan obat antivirus yang paling umum digunakan untuk tujuan ini. Bayi mungkin harus minum obat ini selama beberapa minggu.Terapi lainnya adalah mengobati efek dari infeksi, seperti shock atau kejang. Seringkali, bila bayi sakit parah, pengobatan dilakukan di unit perawatan intensif (neonatal intensive care).

4. Hepatitis B dan C

Ibu yang terinfeksi virus hepatitis B berisiko menularkan virus tersebut kepada bayinya melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau darahnya pada saat persalinan. Hepatitis B pada bayi yang baru lahir biasanya tidak menimbulkan gejala. Bila ada gejala, maka gejalanya adalah penyakit kuning, lesu, pertumbuhan terhambat, distensi perut, dan kotoran berwarna coklat. Imunisasi dapat membantu mencegah penularan hepatitis B dari ibu ke bayi.

Virus hepatitis C, meskipun sangat jarang terjadi, dapat ditularkan ibu ke bayinya pada saat persalinan melalui kontak langsung dengan darah ibu yang terinfeksi. Wanita dengan tingkat virus hepatitis C yang rendah dalam darah mereka kecil kemungkinannya menularkan virus itu ke bayi mereka. Wanita dengan tingkat virus yang tinggi, mereka yang mengalami kerusakan hati parah atau pada fase akut dari infeksi, berisiko lebih tinggi untuk menularkan hepatitis C ke bayi mereka. Infeksi hepatitis C biasanya tidak menimbulkan gejala.

5. HIV/AIDS

HIV adalah salah satu virus mematikan yang menimbulkan penyakit AIDS. Bayi dapat terinfeksi oleh virus ini selama masa kehamilan atau persalinan. Jika seorang wanita hamil dengan HIV positif, kemungkinan besar bayinya juga terinfeksi oleh HIV. Menyusui juga dapat menularkan virus ini ke bayi.

Bayi yang terinfeksi HIV mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun saat lahir. Namun, dalam 2 sampai 3 bulan dia dapat mengembangkan infeksi oportunistik, yaitu penyakit yang berkembang karena sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti pneumonia, tuberkulosis, jamur mulut (sariawan), dll.

Artikel Terkait:

  1. 10 Masalah Kehamilan
  2. 10 Tips Mencegah Penyakit Infeksi
  3. Herpes Zoster: Penyakit Kelanjutan Cacar Air
  4. Gejala dan Penanganan Radang Amandel (Tonsilitis)
  5. Hati-hati Dengan Toksoplasmosis

Anak Ingusan, Apa Sebabnya?

Anak Ingusan, Apa Sebabnya?


Hidung ingusan atau “meler” adalah hal yang umum di kalangan anak-anak. Ada beberapa sebab mengapa hidung anak ingusan:

1. Pilek

Infeksi virus yang biasanya berlangsung sampai dua minggu ini dapat menyerang anak-anak dua atau tiga kali setahun. Ketika virus influenza menyerang saluran pernafasan atas anak, jaringan yang melindungi hidung mengeluarkan ingus untuk mendorong virus keluar dari hidung.

2. Infeksi sinus

Infeksi sinus terjadi ketika bakteri atau virus menyerang satu atau lebih dari empat rongga sinus dalam tengkorak. Karena rongga terbuka di dalam lubang hidung, hidung akan memproduksi lendir seperti pada pilek. Jika ingusan berlangsung selama dua minggu tanpa perbaikan, berwarna kehijauan dan diikuti demam tinggi, maka kemungkinan ingusan disebabkan infeksi sinus.

3. Reaksi alergi

Hidung meler pada anak juga dapat merupakan reaksi alergi, di mana jaringan hidung mengeluarkan lendir sebagai respon imunologi terhadap partikel antigen dari tanaman, debu, serbuk sari atau zat lain seperti bulu kucing. Jika Anda memiliki anak dengan hidung meler disertai bersin-bersin dan hidung gatal, ingus tidak berubah warna, tanpa demam atau tanda-tanda infeksi, maka kemungkinan besar disebabkan alergi. Ingusan sebagai reaksi alergi bisa muncul secara musiman, misalnya di musim kemarau ketika banyak debu dan serbuk sari beterbangan, bisa juga tidak mengenal musim, misalnya karena alergi bulu binatang atau tungau.

Apakah berbahaya?

Ingusan biasanya bukan merupakan ancaman kesehatan yang perlu dikhawatirkan. Namun, ingusan juga dapat mengisyaratkan masalah yang lebih serius jika disertai gejala lainnya. Anda harus berkonsultasi dengan dokter jika:

  • ingusan berlangsung lebih dari dua minggu (infeksi sinus atau alergi)
  • ingusan disertai demam tinggi (tanda-tanda infeksi saluran pernafasan atas),
  • anak mengalami sesak nafas dan terengah-engah (gejala asma)
  • anak merasakan tekanan berat atau nyeri di daerah wajah.

Pengobatan

  • Ingusan dengan lendir bening cerah disebabkan oleh infeksi virus dan biasanya hanya berlangsung singkat. Tidak banyak yang bisa dilakukan untuk mengobatinya kecuali membiarkan sistem kekebalan tubuh bekerja melawan virus.
  • Ingusan karena alergi, Anda harus menyingkirkan atau menjauhkan anak dari sumber alergi (alergen).
  • Ingusan berwarna kehijauan karena infeksi sinus harus diterapi dengan antibiotik. Anda harus mendapatkan antibiotik dari resep dokter.
  • Obat pelega hidung (dekongestan) dapat membantu mengurangi ingusan, tetapi dapat memperparah infeksi sinus. Konsultasikan kepada dokter bila Anda akan memberikan dekongestan minum kepada anak.
  • Dekongestan topikal (tetes hidung dan semprotan) membuat anak merasa lebih nyaman namun dapat membuat ketagihan sehingga anak tidak dapat bernapas dengan baik tanpa menggunakannya. Jangan menggunakan dekongestan topikal untuk anak di bawah 12 tahun dan jangan menggunakannya lebih dari tiga hari pada satu waktu.

image:source

Artikel Terkait:

  1. Gejala dan Penanganan Radang Amandel (Tonsilitis)
  2. Jenis-Jenis Jerawat
  3. Alergi pada Bayi
  4. Buang Air Kecil Terlalu Sering, Apa Sebabnya?
  5. Buah Tidak Selalu Sehat

Pola Tidur Bayi Anda

Pola Tidur Bayi Anda


Bayi yang baru lahir menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur. Dia hanya bangun untuk menyusui setiap beberapa jam. Secara umum, bayi yang baru lahir tidur sekitar 8-9 jam di siang hari dan sekitar 8 jam di malam hari.

Bayi di bawah usia 3 bulan tidak dapat tidur terus-menerus sepanjang malam tanpa bangun. Lambung mereka masih kecil sehingga harus bangun setiap 3 – 4 jam untuk minum. Anda tidak perlu membangunkan bayi Anda untuk disusui. Namun, jangan pula membiarkan bayi Anda tidur lebih dari lima jam. Beberapa bayi prematur perlu menyusui lebih sering dan harus dibangunkan untuk disusui.

Dengan bertambahnya usia, bayi akan mengurangi waktu tidurnya secara bertahap. Pada usia 4 bulan, bayi Anda biasanya telah mengembangkan pola tidur yang tetap. Dia lebih banyak tidur di malam hari dan lebih sedikit tidur di siang hari. Jika bayi Anda setelah 6 bulan belum memiliki pola tidur yang tetap dan sering terbangun di malam hari, kemungkinan dia memiliki masalah tidur.

Pada usia 6½ sampai 7 bulan, kebanyakan bayi hanya tidur sekitar 2-3 kali di siang hari. Tidurnya mungkin memakan waktu sekitar 2½ jam setiap kalinya. Ketika bayi Anda berusia sekitar 9 bulan, frekuensi dan lama tidur siangnya akan terus menurun. Sebagian besar bayi pada usia itu hanya tidur dua kali di pagi dan sore hari. Tidur pagi seringkali lebih nyenyak dan lama daripada tidur sorenya.

Di sekitar ulang tahun pertama bayi Anda, dia mungkin hanya tidur sekali di siang hari. Sebagian besar anak usia ini tidur sekitar setengah sampai dua jam. Pada malam hari dia sudah bisa tidur sepanjang malam.

Setiap orang memiliki pola tidur sendiri, sesuai “program” di dalam tubuh mereka. Sebagian orang hanya perlu tidur rata-rata 5 jam setiap malam, tetapi sebagian yang lainnya tidak dapat hidup normal bila tidurnya kurang dari 8 jam. Hal ini juga berlaku pada bayi. Setiap bayi memiliki pola tidur unik yang tidak selalu sama dengan bayi lain.

Yang perlu diperhatikan adalah bila ada perubahan dalam pola tidurnya. Jika bayi Anda telah biasa tidur teratur namun tiba-tiba sering terbangun dan menangis, mungkin ada masalah di tubuhnya, misalnya infeksi telinga atau otot terkilir. Aktivitas berlebihan di siang hari juga dapat menimbulkan gangguan tidur.

Jangan meletakkan botol susu di mulut bayi yang tertidur. Ini adalah praktik berbahaya karena dapat mengakibatkan infeksi telinga dan tersedak.

image: source

Artikel Terkait:

  1. Bila Anda Sulit Tidur
  2. 10 Pertanda Bayi Anda Sakit
  3. Sleep Apnea, Gangguan Tidur yang Jarang Diketahui Orang
  4. Anda Sulit Tidur? Pijat Aja!
  5. Kebiasaan Mengompol pada Anak