BAB 22. Tentang Mengekang Emosi (Marah)
Landasan zuhud ‘” di dunia 4 perkara, yaitu:
1. Kemantapan diri atas janji Allah (dalam menjamin) dunia dan akhiratnya.
.......
LANDASAN ZUHUD PERTAMA:
MANTAP DENGAN JANJI ALLAH
“Jangan Takut Kehilangan Dunia, Jika Hati Telah Yakin kepada Allah”
Landasan Zuhud di Dunia Ada Empat Perkara
Salah satu landasan zuhud adalah:
“Kemantapan diri atas janji Allah dalam menjamin kebutuhan dunia dan akhiratnya.”
Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tidak bekerja, tidak memiliki harta, atau menjadi miskin. Zuhud adalah tidak menjadikan dunia sebagai tuhan di dalam hati.
Orang zuhud boleh memiliki harta, tetapi harta tidak boleh memiliki hatinya.
Ia bekerja, tetapi rezekinya tidak disembah.
Ia berusaha, tetapi hasilnya tidak menjadi sesembahan.
Ia memiliki dunia di tangannya, tetapi Allah tetap berada di dalam hatinya.
I. MAKSUD
Maksud dari landasan zuhud ini adalah membangun keyakinan yang kokoh kepada janji Allah.
Allah telah menjanjikan:
- rezeki bagi makhluk-Nya,
- pertolongan bagi orang beriman,
- jalan keluar bagi orang bertakwa,
- ampunan bagi orang yang bertaubat,
- ketenangan bagi orang yang berdzikir,
- dan kehidupan akhirat bagi orang yang beramal saleh.
Maka seorang salik, seorang hamba yang sedang membersihkan jiwanya, harus belajar berkata:
“Aku akan tetap berusaha, tetapi aku tidak akan menggantungkan hatiku kepada usaha. Aku akan mencari sebab, tetapi aku yakin bahwa Allah adalah Musabbibul Asbฤb—Dzat yang menciptakan seluruh sebab.”
II. TUJUAN
Tujuan tazkiyatun nufลซs melalui keyakinan kepada janji Allah adalah:
- Membersihkan hati dari penyakit tamak.
- Menghilangkan kecemasan berlebihan terhadap masa depan.
- Membebaskan jiwa dari perbudakan dunia.
- Membangun tawakal yang benar setelah ikhtiar.
- Menjadikan seseorang tetap tenang ketika rezeki sempit.
- Tidak sombong ketika mendapatkan kekayaan.
- Tidak putus asa ketika mengalami kegagalan.
- Menjadikan Allah sebagai tujuan utama kehidupan.
III. AYAT-AYAT AL-QUR’AN YANG BERKAITAN
1. Allah Menjamin Rezeki Makhluk-Nya
QS. Hลซd: 6
َูู
َุง ู
ِْู ุฏَุงุจَّุฉٍ ِูู ุงْูุฃَุฑْุถِ ุฅَِّูุง ุนََูู ุงَِّููู ุฑِุฒَُْููุง
“Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya.”
Ayat ini bukan berarti manusia boleh bermalas-malasan.
Burung tetap keluar dari sarangnya.
Petani tetap menanam.
Pedagang tetap berdagang.
Pekerja tetap bekerja.
Namun hati mereka harus memahami:
Usaha adalah kewajiban kita, sedangkan hasil adalah ketetapan Allah.
2. Janji Jalan Keluar bagi Orang Bertakwa
QS. At-Thalaq: 2–3
َูู
َู َูุชَِّู ุงََّููู َูุฌْุนَู َُّูู ู
َุฎْุฑَุฌًุง ََููุฑْุฒُُْูู ู
ِْู ุญَْูุซُ َูุง َูุญْุชَุณِุจُ
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
Kemudian Allah berfirman:
َูู
َู َูุชَََّْููู ุนََูู ุงَِّููู ََُููู ุญَุณْุจُُู
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”
Inilah salah satu fondasi zuhud:
Orang yang hatinya yakin kepada Allah tidak akan menjadi budak kekhawatiran terhadap dunia.
3. Janji Allah bagi Orang yang Bertawakal
QS. Az-Zumar: 38
ُْูู ุญَุณْุจَِู ุงَُّููู ۖ ุนََِْููู َูุชَََُّููู ุงْูู
ُุชَََُِّููููู
“Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nya orang-orang yang bertawakal berserah diri.”
Kalimat:
ุญَุณْุจَِู ุงَُّููู
“Cukuplah Allah bagiku”
bukan berarti seseorang berhenti bekerja.
Namun maknanya:
“Aku bekerja, tetapi aku tidak menjadikan pekerjaan sebagai tuhanku. Aku berdagang, tetapi aku tidak menyembah keuntungan. Aku berusaha, tetapi hatiku tetap bergantung kepada Allah.”
IV. HADIS SHAHIH YANG BERKAITAN
1. Tawakal seperti Burung
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.”
(HR. At-Tirmidzi)
Perhatikan:
Burung tidak tinggal diam di sarangnya.
Burung keluar.
Burung mencari.
Burung berusaha.
Tetapi burung tidak membawa kalkulator kecemasan tentang rezeki hari esok.
Maka tawakal bukan pasrah tanpa usaha.
Tawakal adalah:
Bergerak dengan anggota badan, tetapi berserah dengan hati.
2. Dunia Hanya Sementara
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Bukhari)
Seorang musafir tidak membangun rumah permanen di setiap tempat persinggahannya.
Ia menggunakan tempat itu secukupnya.
Demikian pula dunia.
Kita tinggal di dunia, tetapi jangan sampai dunia tinggal di dalam hati kita.
3. Kekayaan yang Hakiki
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ada orang yang memiliki banyak harta tetapi selalu merasa kurang.
Ada orang yang sederhana, tetapi hatinya penuh syukur.
Maka:
Kaya bukan karena banyak memiliki. Kaya adalah ketika hati tidak diperbudak oleh apa yang dimiliki.
V. HADIS QUDSI YANG BERKAITAN
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
“Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku akan menutup kefakiranmu.”
(HR. At-Tirmidzi, dengan pembahasan ulama mengenai derajat riwayatnya)
Makna yang sangat dalam:
Kadang manusia mengejar dunia dengan seluruh tenaganya, tetapi tetap merasa kosong.
Ia mengejar uang.
Mengejar popularitas.
Mengejar viral.
Mengejar pujian.
Mengejar pengakuan.
Namun semakin banyak yang dikejar, semakin banyak pula yang terasa kurang.
Sebab yang kosong bukan rekeningnya.
Yang kosong adalah hatinya.
VI. ANALISA TASAWUF DAN TAZKIYATUN NUFลชS
Dalam tasawuf, penyakit terbesar manusia bukanlah memiliki dunia.
Penyakit terbesar adalah:
Dunia memiliki hati manusia.
Ada orang yang hartanya sedikit tetapi hatinya sangat terikat kepada dunia.
Ada pula orang yang hartanya banyak tetapi hatinya tetap tunduk kepada Allah.
Maka ukuran zuhud bukan:
“Berapa banyak harta yang engkau miliki?”
Tetapi:
“Ketika harta itu hilang, apakah Allah tetap ada di dalam hatimu?”
Zuhud adalah ketika:
- mendapat harta → bersyukur,
- kehilangan harta → bersabar,
- memperoleh pujian → tidak mabuk,
- mendapat celaan → tidak hancur,
- mendapat rezeki → tidak sombong,
- mengalami kesulitan → tidak berburuk sangka kepada Allah.
VII. ARGUMENTASI RELEVAN DI DUNIA YANG VIRAL SAAT INI
Hari ini manusia hidup di zaman:
- semua ingin cepat kaya,
- semua ingin viral,
- semua ingin terlihat sukses,
- semua ingin dipuji,
- semua ingin menunjukkan kehidupan terbaiknya,
- semua ingin memiliki apa yang dimiliki orang lain.
Media sosial sering menampilkan:
“Lihat rumahku.”
“Lihat mobilku.”
“Lihat hartaku.”
“Lihat kesuksesanku.”
“Lihat perjalanan hidupku.”
Namun yang sering tidak terlihat adalah:
- hutang di balik kemewahan,
- tangisan di balik senyuman,
- kecemasan di balik popularitas,
- kesepian di balik banyaknya pengikut,
- tekanan mental di balik pencitraan.
Maka seorang muslim harus berhati-hati.
Jangan sampai kita membandingkan:
“Dapur hidup kita dengan panggung hidup orang lain.”
Kita melihat lima menit kehidupan orang lain di media sosial, lalu merasa hidup kita gagal.
Padahal mungkin kita tidak mengetahui seluruh perjuangan mereka.
Di sinilah zuhud menjadi sangat penting.
Zuhud mengajarkan:
“Aku tidak harus memiliki semua yang kulihat.”
“Aku tidak harus viral untuk menjadi berharga.”
“Aku tidak harus dipuji manusia untuk dicintai Allah.”
“Aku tidak harus terlihat sukses di mata manusia jika aku sedang berusaha menjadi hamba yang baik di hadapan Allah.”
VIII. NASIHAT PARA ULAMA DAN TOKOH SUFI
1. Hasan Al-Bashri
Hasan Al-Bashri rahimahullah dikenal dengan nasihatnya tentang hakikat dunia:
“Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Apabila satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu telah berlalu.”
Maknanya:
Jangan habiskan hidup hanya untuk mengumpulkan sesuatu yang akan kita tinggalkan.
Pertanyaan terbesar bukan:
“Berapa banyak yang berhasil kukumpulkan?”
Tetapi:
“Berapa banyak yang berhasil kubawa menuju akhirat?”
2. Rabi‘ah Al-Adawiyah
Rabi‘ah Al-Adawiyah mengajarkan bahwa cinta kepada Allah harus mengalahkan cinta kepada selain-Nya.
Semangat ajarannya:
Jangan beribadah kepada Allah hanya karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena Allah memang layak dicintai.
Inilah zuhud yang tinggi.
Hati tidak lagi menjadikan dunia sebagai tujuan.
Allah menjadi tujuan.
3. Abu Yazid Al-Bistami
Dalam tradisi tasawuf, Abu Yazid Al-Bistami dikenal dengan penekanan kuat pada pelepasan ego dan keakuan.
Pelajaran penting dari jalan spiritualnya:
Selama “aku” masih menjadi pusat kehidupan, seorang hamba belum sepenuhnya menemukan ketundukan kepada Allah.
Zuhud bukan sekadar meninggalkan harta.
Zuhud juga meninggalkan:
- kesombongan,
- keinginan dipuji,
- rasa paling benar,
- ambisi untuk selalu menang,
- dan kecintaan kepada ego.
4. Junaid Al-Baghdadi
Junaid Al-Baghdadi rahimahullah dikenal sebagai tokoh tasawuf yang menekankan bahwa tasawuf harus berjalan di atas Al-Qur’an dan Sunnah.
Inti ajarannya:
Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara lahiriah, tetapi hati tidak bergantung kepada dunia.
Seorang pedagang boleh kaya.
Seorang pemimpin boleh memiliki kekuasaan.
Seorang ulama boleh memiliki ilmu.
Namun semuanya harus tunduk kepada Allah.
5. Al-Hallaj
Dari kisah kehidupan Al-Hallaj, kita dapat mengambil pelajaran tentang pengorbanan dan kesungguhan dalam kecintaan kepada Allah.
Namun ungkapan-ungkapan metafisik yang kontroversial dalam sejarah tasawuf hendaknya tidak dijadikan dasar akidah.
Pelajaran tazkiyah yang dapat diambil:
Jangan menjadikan perjalanan spiritual sebagai alasan untuk meninggalkan syariat.
Cinta kepada Allah harus melahirkan:
- shalat,
- kejujuran,
- kasih sayang,
- amanah,
- dan akhlak mulia.
6. Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa penyakit hati sering muncul karena keterikatan kepada dunia.
Dunia bukanlah musuh ketika berada di tangan.
Dunia menjadi bahaya ketika telah menguasai hati.
Maka seorang manusia harus selalu bertanya:
“Apakah aku memiliki harta, atau sebenarnya hartalah yang telah memiliki diriku?”
7. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Nasihat yang sangat kuat dalam semangat beliau adalah:
Jangan bergantung kepada makhluk, bergantunglah kepada Allah.
Namun bergantung kepada Allah bukan berarti meninggalkan sebab.
Kita tetap bekerja.
Tetap berikhtiar.
Tetap berdagang.
Tetap mencari solusi.
Tetapi hati berkata:
“Ya Allah, aku melakukan sebab. Engkaulah yang menentukan hasil.”
8. Jalaluddin Rumi
Rumi sering menggambarkan manusia seperti perahu yang berlayar di lautan.
Air laut berada di luar perahu.
Jika air masuk ke dalam perahu, perahu akan tenggelam.
Demikian pula dunia.
Dunia boleh berada di sekitar kita.
Tetapi jangan sampai dunia masuk dan menguasai hati kita.
9. Ibnu ‘Arabi
Dalam pembahasan spiritual, Ibnu ‘Arabi banyak menekankan bahwa seluruh keberadaan manusia harus diarahkan kepada pengenalan dan penghambaan kepada Allah.
Pelajaran pentingnya:
Jangan berhenti pada bentuk-bentuk lahiriah dunia. Lihatlah tanda-tanda kekuasaan Allah di balik segala sesuatu.
Harta bukan hanya untuk dibanggakan.
Ia adalah amanah.
Kekuasaan bukan hanya untuk dinikmati.
Ia adalah pertanggungjawaban.
Ilmu bukan hanya untuk dipamerkan.
Ia adalah amanah untuk diamalkan.
10. Ahmad Al-Tijani
Dalam tradisi Tarekat Tijaniyah, penekanan besar diberikan kepada dzikir, shalawat, wirid, dan keterikatan hati kepada Allah.
Pelajaran zuhud yang dapat diambil:
Hati yang selalu berdzikir tidak mudah menjadi budak dunia.
Sebab dzikir mengembalikan hati kepada pusatnya:
Allah.
IX. PELAJARAN DARI NASIHAT PARA GUS DAN USTADZ
Berbagai nasihat para ulama dan pendakwah masa kini—termasuk Gus Baha, Ustadz Adi Hidayat, Buya Yahya, Ustadz Abdul Somad, dan Buya Arrazy Hasyim—dapat kita ambil benang merahnya:
Islam tidak mengajarkan manusia untuk membenci dunia, tetapi mengajarkan agar dunia tidak mengalahkan akhirat.
Dunia boleh digunakan untuk:
- mencari nafkah,
- menolong keluarga,
- membangun masjid,
- membantu fakir miskin,
- membiayai pendidikan,
- berdakwah,
- bersedekah,
- dan melakukan kebaikan.
Tetapi jangan sampai:
Kita sibuk membangun rumah di dunia, tetapi lupa membangun rumah di akhirat.
Jangan sampai:
Kita takut kehilangan uang, tetapi tidak takut kehilangan iman.
Jangan sampai:
Kita sedih ketika kehilangan jabatan, tetapi tidak sedih ketika kehilangan shalat.
Jangan sampai:
Kita marah ketika bisnis rugi, tetapi tidak merasa bersalah ketika hati jauh dari Allah.
X. HUKUM DAN SIKAP ISLAM TERHADAP DUNIA
Islam tidak mengharamkan kekayaan.
Yang haram adalah:
- mencari harta dengan cara haram,
- menipu,
- riba,
- korupsi,
- mencuri,
- merampas hak orang lain,
- dan menjadikan harta sebagai tujuan tertinggi kehidupan.
Harta yang halal dapat menjadi:
jalan menuju surga.
Dengan harta, seseorang dapat:
- bersedekah,
- membayar zakat,
- menolong orang miskin,
- membiayai pendidikan,
- membantu dakwah,
- membangun masjid,
- dan menghidupi keluarga.
Maka yang harus diubah bukan selalu hartanya.
Yang harus dibersihkan adalah:
hati yang terlalu mencintai harta.
XI. SENTUHAN HATI: MUHASABAH
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
1. Ketika rezekiku terlambat, apakah aku berburuk sangka kepada Allah?
2. Ketika melihat orang lain lebih kaya, apakah aku merasa hidupku gagal?
3. Ketika mendapat harta, apakah aku semakin dekat kepada Allah atau semakin jauh?
4. Ketika bisnis mengalami kerugian, apakah aku masih percaya bahwa Allah adalah Ar-Razzaq?
5. Apakah aku bekerja untuk mencari rezeki, atau aku telah menjadi budak uang?
6. Apakah aku lebih takut kehilangan harta daripada kehilangan shalat?
7. Apakah aku lebih sibuk mengejar popularitas manusia daripada mencari ridha Allah?
8. Jika seluruh dunia diberikan kepadaku, tetapi Allah mencabut ketenangan dari hatiku, apakah aku benar-benar bahagia?
Renungkanlah:
Apa yang kita miliki hari ini, dahulu belum menjadi milik kita.
Apa yang kita miliki hari ini, suatu saat akan meninggalkan kita.
Dan pada akhirnya, kita akan meninggalkan semuanya.
Yang akan menemani kita bukan:
- rumah,
- kendaraan,
- jabatan,
- pengikut,
- popularitas,
- rekening,
- atau pujian manusia.
Yang menemani kita adalah:
iman, amal saleh, dan rahmat Allah.
XII. AMALAN DAN IMPLEMENTASI
1. Perbaiki Tawakal Setiap Hari
Setiap pagi ucapkan:
“Ya Allah, aku berusaha dengan kemampuan yang Engkau berikan. Aku serahkan hasilnya kepada-Mu.”
2. Bekerja dengan Niat Ibadah
Niatkan:
“Aku bekerja untuk mencari rezeki halal, menafkahi keluarga, menjaga kehormatan diri, dan agar dapat membantu sesama.”
Dengan niat yang benar, pekerjaan dunia dapat menjadi ibadah.
3. Biasakan Bersedekah
Sedekah adalah latihan agar hati tidak menjadi budak harta.
Tidak harus banyak.
Yang penting:
Ikhlas, halal, dan istiqamah.
4. Latihan Melepaskan
Sesekali belajarlah memberikan sesuatu yang kita cintai.
Karena:
Hati tidak akan belajar zuhud jika tidak pernah belajar melepaskan.
5. Jangan Membandingkan Kehidupan
Kurangi melihat kehidupan orang lain dengan perasaan iri.
Doakan kebaikan untuk mereka.
Lalu katakan:
“Ya Allah, berikan kepadaku rezeki yang paling baik untuk agamaku, kehidupanku, dan akhiratku.”
6. Perbanyak Dzikir
Dzikir:
ุญَุณْุจَِู ุงَُّููู َِููุนْู
َ ุงَُِْููููู
“Cukuplah Allah bagiku dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.”
Dan:
َูุง ุญََْูู ََููุง َُّููุฉَ ุฅَِّูุง ุจِุงَِّููู
“Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
7. Evaluasi Harta
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Dari mana harta ini datang?”
“Ke mana harta ini pergi?”
“Apakah harta ini mendekatkanku kepada Allah atau menjauhkanku dari Allah?”
XIII. DOA
ุงَُّูููู
َّ ุงุฌْุนَِู ุงูุฏَُّْููุง ِูู ุฃَْูุฏَِููุง، ََููุง ุชَุฌْุนََْููุง ِูู ُُูููุจَِูุง.
ุงَُّูููู
َّ ุงุฑْุฒَُْููุง ุฑِุฒًْูุง ุญََูุงًูุง ุทَِّูุจًุง َูุงุณِุนًุง ู
ُุจَุงุฑًَูุง ِِููู.
ุงَُّูููู
َّ ุงุฌْุนََْููุง ู
َِู ุงูุฒَّุงِูุฏَِูู ِูู ุงูุฏَُّْููุง، ุงูุฑَّุงุบِุจَِูู ِูู ุงْูุขุฎِุฑَุฉِ، ุงْูู
ُุญِุจَِّูู ََูู، ุงْูู
ُุชَََِِّููููู ุนَََْููู.
ุงَُّูููู
َّ َูุง ุชَุฌْุนَْู ุฃَู
َْูุงََููุง ุฃَْูุจَุฑَ َูู
َِّูุง، ََููุง ู
َุจَْูุบَ ุนِْูู
َِูุง.
ุงَُّูููู
َّ ุงุฌْุนَْู ุฃَู
َْูุงََููุง ِูู ุฃَْูุฏَِููุง، َูุงุฌْุนَْู ُُูููุจََูุง ََูู َูุญْุฏََู.
ุงَُّูููู
َّ ุฅِْู ุฃَุนْุทَْูุชََูุง َูุงุฌْุนََْููุง ู
َِู ุงูุดَّุงِูุฑَِูู، َูุฅِْู ู
ََูุนْุชََูุง َูุงุฌْุนََْููุง ู
َِู ุงูุตَّุงุจِุฑَِูู، َูุฅِْู ุงุจْุชََْููุชََูุง َูุงุฌْุนََْููุง ู
َِู ุงูุฑَّุงุถَِูู.
ุงَُّูููู
َّ ุงุฌْุนََْููุง َูุนْู
َُู ِููุฏَُّْููุง ุจِุฃَุจْุฏَุงَِููุง، َِْูููุขุฎِุฑَุฉِ ุจُُِูููุจَِูุง.
ุขู
ِูู َูุง ุฑَุจَّ ุงْูุนَุงَูู
َِูู.
PENUTUP
Wahai saudaraku…
Jangan takut terhadap masa depan selama Allah menjadi tempat bergantung.
Jangan takut rezekimu tertukar.
Jangan takut kehilangan sesuatu yang memang bukan milikmu.
Jangan terlalu gelisah terhadap apa yang belum terjadi.
Allah yang menciptakanmu tidak akan menyia-nyiakanmu.
Allah yang memberimu kehidupan tidak akan melupakanmu.
Allah yang selama ini menolongmu tidak akan meninggalkanmu.
Maka:
Berusahalah tanpa sombong.
Bekerjalah tanpa lupa kepada Allah.
Berdoalah tanpa putus asa.
Bersedekahlah tanpa takut miskin.
Dan percayalah kepada janji Allah.
Karena hakikat zuhud bukanlah:
“Aku tidak memiliki dunia.”
Tetapi:
“Dunia tidak memiliki hatiku.”
Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang:
memiliki dunia di tangan, tetapi memiliki Allah di dalam hati;
bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi bertawakal dengan sepenuh hati;
menerima rezeki dengan syukur, menghadapi ujian dengan sabar, dan menjalani hidup dengan keyakinan kepada janji Allah.
Jazakumullฤhu khairan katsฤซran
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para ustadz, kyai, guru, ulama, dan seluruh pembaca yang telah meluangkan waktu untuk membaca, mengkaji, dan mengambil manfaat dari nasihat ini.
Semoga setiap ilmu yang kita baca menjadi cahaya bagi hati, setiap nasihat menjadi amal, dan setiap amal menjadi sebab datangnya ridha Allah Subhฤnahu wa Ta‘ฤlฤ.
Mohon maaf atas segala kekurangan.
Wallฤhu a‘lam bish-shawฤb.
..........
LANDASAN ZUHUD PERTAMA: MANTAPIN JANJI ALLAH
"Jangan Takut Kehilangan Dunia, Kalau Hati Udah Yakin Sama Allah"
---
Landasan Zuhud Ada Empat, Nih Yang Pertama:
"Mantapin diri atas janji Allah dalam menjamin kebutuhan dunia dan akhirat."
Zuhud tuh bukan berarti ninggalin dunia, gak kerja, gak punya harta, atau jadi miskin. Zuhud itu gak menjadikan dunia sebagai tuhan di dalam hati.
Orang zuhud boleh punya harta, tapi harta gak boleh memiliki hatinya.
Dia kerja, tapi rezekinya gak disembah.
Dia berusaha, tapi hasilnya gak jadi sesembahan.
Dia punya dunia di tangannya, tapi Allah tetap berada di dalam hatinya.
---
I. MAKSUDNYA GIMANA SIH?
Maksud dari landasan zuhud ini adalah bikin keyakinan yang kokoh sama janji Allah.
Allah udah janjiin:
· rezeki buat makhluk-Nya,
· pertolongan buat orang beriman,
· jalan keluar buat orang bertakwa,
· ampunan buat orang yang bertaubat,
· ketenangan buat orang yang berdzikir,
· dan kehidupan akhirat buat orang yang beramal saleh.
Maka seorang salik, seorang hamba yang lagi bersihin jiwanya, harus belajar bilang:
"Aku akan tetap berusaha, tapi aku gak akan menggantungkan hatiku kepada usaha. Aku akan mencari sebab, tapi aku yakin bahwa Allah adalah Musabbibul Asbฤb—Dzat yang menciptakan seluruh sebab."
---
II. TUJUANNYA APA?
Tujuan tazkiyatun nufลซs lewat keyakinan kepada janji Allah adalah:
· Bersihin hati dari penyakit tamak.
· Ngilangin kecemasan berlebihan terhadap masa depan.
· Bebasin jiwa dari perbudakan dunia.
· Bangun tawakal yang bener setelah ikhtiar.
· Bikin seseorang tetap tenang pas rezeki sempit.
· Gak sombong pas dapet kekayaan.
· Gak putus asa pas ngalamin kegagalan.
· Jadikan Allah sebagai tujuan utama kehidupan.
---
III. AYAT-AYAT AL-QUR'AN YANG BERKAITAN
1. Allah Menjamin Rezeki Makhluk-Nya
QS. Hลซd: 6
َูู
َุง ู
ِْู ุฏَุงุจَّุฉٍ ِูู ุงْูุฃَุฑْุถِ ุฅَِّูุง ุนََูู ุงَِّููู ุฑِุฒَُْููุง
"Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya."
Ayat ini bukan berarti manusia boleh males-malesan.
Burung tetep keluar dari sarangnya.
Petani tetep nanam.
Pedagang tetep dagang.
Pekerja tetep kerja.
Tapi hati mereka harus paham:
Usaha adalah kewajiban kita, sedangkan hasil adalah ketetapan Allah.
---
2. Janji Jalan Keluar bagi Orang Bertakwa
QS. At-Thalaq: 2–3
َูู
َู َูุชَِّู ุงََّููู َูุฌْุนَู َُّูู ู
َุฎْุฑَุฌًุง ََููุฑْุฒُُْูู ู
ِْู ุญَْูุซُ َูุง َูุญْุชَุณِุจُ
"Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
Kemudian Allah berfirman:
َูู
َู َูุชَََّْููู ุนََูู ุงَِّููู ََُููู ุญَุณْุจُُู
"Barang siapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya."
Inilah salah satu fondasi zuhud:
Orang yang hatinya yakin kepada Allah gak akan jadi budak kekhawatiran terhadap dunia.
---
3. Janji Allah bagi Orang yang Bertawakal
QS. Az-Zumar: 38
ُْูู ุญَุณْุจَِู ุงَُّููู ۖ ุนََِْููู َูุชَََُّููู ุงْูู
ُุชَََُِّููููู
"Katakanlah: Cukuplah Allah bagiku. Kepada-Nya orang-orang yang bertawakal berserah diri."
Kalimat ุญَุณْุจَِู ุงَُّููู ("Cukuplah Allah bagiku") bukan berarti seseorang berhenti bekerja.
Tapi maknanya:
"Aku bekerja, tapi aku gak menjadikan pekerjaan sebagai tuhanku. Aku berdagang, tapi aku gak nyembah keuntungan. Aku berusaha, tapi hatiku tetep bergantung kepada Allah."
---
IV. HADIS SHAHIH YANG BERKAITAN
1. Tawakal Kayak Burung
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
"Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang."
(HR. At-Tirmidzi)
Perhatiin ya:
Burung gak diem aja di sarangnya.
Burung keluar.
Burung mencari.
Burung berusaha.
Tapi burung gak bawa kalkulator kecemasan tentang rezeki hari esok.
Maka tawakal bukan pasrah tanpa usaha.
Tawakal adalah:
Bergerak dengan anggota badan, tapi berserah dengan hati.
---
2. Dunia Cuma Sementara
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
"Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir."
(HR. Bukhari)
Seorang musafir gak bangun rumah permanen di setiap tempat persinggahannya.
Dia pake tempat itu secukupnya.
Gitu juga dunia.
Kita tinggal di dunia, tapi jangan sampe dunia tinggal di dalam hati kita.
---
3. Kekayaan yang Hakiki
Rasulullah ๏ทบ bersabda:
"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kekayaan jiwa."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Ada orang yang punya banyak harta tapi selalu merasa kurang.
Ada orang yang sederhana, tapi hatinya penuh syukur.
Maka:
Kaya bukan karena banyak memiliki. Kaya adalah ketika hati gak diperbudak oleh apa yang dimiliki.
---
V. HADIS QUDSI YANG BERKAITAN
Dalam hadis qudsi, Allah berfirman:
"Wahai anak Adam, luangkanlah waktumu untuk beribadah kepada-Ku, niscaya Aku akan memenuhi dadamu dengan kekayaan dan Aku akan menutup kefakiranmu."
(HR. At-Tirmidzi, dengan pembahasan ulama mengenai derajat riwayatnya)
Maknanya dalem banget:
Kadang manusia ngejar dunia dengan sekuat tenaga, tapi tetep ngerasa kosong.
Dia ngejar uang.
Ngejar popularitas.
Ngejar viral.
Ngejar pujian.
Ngejar pengakuan.
Tapi makin banyak yang dikejar, makin banyak pula yang terasa kurang.
Sebab yang kosong bukan rekeningnya.
Yang kosong adalah hatinya.
---
VI. ANALISA TASAWUF DAN TAZKIYATUN NUFลชS
Dalam tasawuf, penyakit terbesar manusia bukanlah memiliki dunia.
Penyakit terbesar adalah:
Dunia memiliki hati manusia.
Ada orang yang hartanya dikit tapi hatinya sangat terikat sama dunia.
Ada pula orang yang hartanya banyak tapi hatinya tetep tunduk sama Allah.
Maka ukuran zuhud bukan:
"Berapa banyak harta yang njenengan miliki?"
Tapi:
"Ketika harta itu hilang, apakah Allah tetap ada di dalam hati njenengan?"
Zuhud adalah ketika:
· dapet harta → bersyukur,
· kehilangan harta → bersabar,
· dapet pujian → gak mabuk,
· dapet celaan → gak hancur,
· dapet rezeki → gak sombong,
· ngalamin kesulitan → gak berburuk sangka sama Allah.
---
VII. RELEVAN DI ZAMAN VIRAL BEGINI
Hari ini kita hidup di zaman:
· semua pingin cepet kaya,
· semua pingin viral,
· semua pingin keliatan sukses,
· semua pingin dipuji,
· semua pingin nunjukkin kehidupan terbaiknya,
· semua pingin punya apa yang dimiliki orang lain.
Media sosial sering nampilin:
· "Lihat rumahku."
· "Lihat mobilku."
· "Lihat hartaku."
· "Lihat kesuksesanku."
· "Lihat perjalanan hidupku."
Tapi yang sering gak keliatan adalah:
· hutang di balik kemewahan,
· tangisan di balik senyuman,
· kecemasan di balik popularitas,
· kesepian di balik banyaknya pengikut,
· tekanan mental di balik pencitraan.
Maka seorang muslim harus hati-hati.
Jangan sampe kita ngebadingin "dapur hidup kita dengan panggung hidup orang lain."
Kita ngeliat lima menit kehidupan orang lain di medsos, lalu ngerasa hidup kita gagal.
Padahal mungkin kita gak tahu seluruh perjuangan mereka.
Di sinilah zuhud menjadi penting banget.
Zuhud ngajarin:
"Aku gak harus punya semua yang kulihat."
"Aku gak harus viral untuk menjadi berharga."
"Aku gak harus dipuji manusia untuk dicintai Allah."
"Aku gak harus keliatan sukses di mata manusia jika aku sedang berusaha menjadi hamba yang baik di hadapan Allah."
---
VIII. NASIHAT PARA ULAMA DAN TOKOH SUFI
1. Hasan Al-Bashri
Hasan Al-Bashri rahimahullah pernah ngasih nasihat:
"Wahai anak Adam, engkau hanyalah kumpulan hari. Apabila satu hari berlalu, maka sebagian dari dirimu telah berlalu."
Maknanya:
Jangan habisin hidup cuma buat ngumpulin sesuatu yang bakal kita tinggalin.
Pertanyaan terbesar bukan:
"Berapa banyak yang berhasil kukumpulkan?"
Tapi:
"Berapa banyak yang berhasil kubawa menuju akhirat?"
---
2. Rabi'ah Al-Adawiyah
Rabi'ah Al-Adawiyah ngajarin bahwa cinta kepada Allah harus ngalahin cinta kepada selain-Nya.
Inti ajarannya:
Jangan beribadah kepada Allah cuma karena takut neraka atau berharap surga, tapi karena Allah emang layak dicintai.
Inilah zuhud yang tinggi.
Hati gak lagi ngejadikan dunia sebagai tujuan.
Allah menjadi tujuan.
---
3. Abu Yazid Al-Bistami
Abu Yazid Al-Bistami dikenal dengan penekanan kuat pada pelepasan ego dan keakuan.
Pelajaran pentingnya:
Selama "aku" masih menjadi pusat kehidupan, seorang hamba belum sepenuhnya nemuin ketundukan kepada Allah.
Zuhud bukan cuma ninggalin harta.
Zuhud juga ninggalin:
· kesombongan,
· keinginan dipuji,
· rasa paling bener,
· ambisi buat selalu menang,
· dan kecintaan kepada ego.
---
4. Junaid Al-Baghdadi
Junaid Al-Baghdadi rahimahullah ngegaskan bahwa tasawuf harus berjalan di atas Al-Qur'an dan Sunnah.
Inti ajarannya:
Zuhud bukan berarti ninggalin dunia secara lahiriah, tapi hati gak bergantung sama dunia.
Seorang pedagang boleh kaya.
Seorang pemimpin boleh punya kekuasaan.
Seorang ulama boleh punya ilmu.
Tapi semuanya harus tunduk sama Allah.
---
5. Imam Al-Ghazali
Imam Al-Ghazali ngejelasin bahwa penyakit hati sering muncul karena keterikatan sama dunia.
Dunia bukan musuh ketika berada di tangan.
Dunia jadi bahaya ketika udah menguasai hati.
Maka kita harus selalu nanya:
"Apakah aku memiliki harta, atau sebenarnya hartalah yang telah memiliki diriku?"
---
6. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani
Nasihat beliau yang kece banget:
Jangan bergantung sama makhluk, bergantunglah sama Allah.
Tapi bergantung sama Allah bukan berarti ninggalin sebab.
Kita tetep kerja.
Tetep berikhtiar.
Tetep berdagang.
Tetep nyari solusi.
Tapi hati bilang:
"Ya Allah, aku melakukan sebab. Engkaulah yang menentukan hasil."
---
7. Jalaluddin Rumi
Rumi sering ngegambarin manusia kayak perahu yang berlayar di lautan.
Air laut berada di luar perahu.
Kalau air masuk ke dalam perahu, perahu bakal tenggelam.
Gitu juga dunia.
Dunia boleh berada di sekitar kita.
Tapi jangan sampe dunia masuk dan menguasai hati kita.
---
8. Gus Baha, Ustadz Adi Hidayat, Buya Yahya, Ustadz Abdul Somad, dan Buya Arrazy Hasyim
Dari berbagai nasihat para ulama dan pendakwah masa kini, kita bisa ambil benang merahnya:
Islam gak ngajarin manusia buat benci dunia, tapi ngajarin agar dunia gak ngalahin akhirat.
Dunia boleh dipake buat:
· nyari nafkah,
· nolong keluarga,
· bangun masjid,
· bantu fakir miskin,
· biayain pendidikan,
· berdakwah,
· bersedekah,
· dan melakukan kebaikan.
Tapi jangan sampe:
Kita sibuk bangun rumah di dunia, tapi lupa bangun rumah di akhirat.
Kita takut kehilangan uang, tapi gak takut kehilangan iman.
Kita sedih pas kehilangan jabatan, tapi gak sedih pas kehilangan shalat.
Kita marah pas bisnis rugi, tapi gak ngerasa bersalah ketika hati jauh dari Allah.
---
IX. HUKUM DAN SIKAP ISLAM TERHADAP DUNIA
Islam gak ngeharamin kekayaan.
Yang haram adalah:
· nyari harta dengan cara haram,
· nipu,
· riba,
· korupsi,
· nyolong,
· ngerampas hak orang lain,
· dan ngejadikan harta sebagai tujuan tertinggi kehidupan.
Harta yang halal bisa jadi jalan menuju surga.
Dengan harta, seseorang bisa:
· bersedekah,
· bayar zakat,
· nolong orang miskin,
· biayain pendidikan,
· bantu dakwah,
· bangun masjid,
· dan ngehidupin keluarga.
Maka yang harus diubah bukan selalu hartanya.
Yang harus dibersihkan adalah hati yang terlalu mencintai harta.
---
X. SENTUHAN HATI: MUHASABAH
Mari kita nanya ke diri sendiri:
1. Pas rezekiku telat, apa aku berburuk sangka sama Allah?
2. Pas ngeliat orang lain lebih kaya, apa aku ngerasa hidupku gagal?
3. Pas dapet harta, apa aku makin deket sama Allah atau makin jauh?
4. Pas bisnis ngalamin kerugian, apa aku masih percaya bahwa Allah adalah Ar-Razzaq?
5. Apa aku bekerja buat nyari rezeki, atau aku udah jadi budak uang?
6. Apa aku lebih takut kehilangan harta daripada kehilangan shalat?
7. Apa aku lebih sibuk ngejar popularitas manusia daripada nyari ridha Allah?
8. Kalau seluruh dunia dikasih ke aku, tapi Allah cabut ketenangan dari hatiku, apa aku bener-bener bahagia?
Renungin baik-baik:
Apa yang kita miliki hari ini, dulu belum menjadi milik kita.
Apa yang kita miliki hari ini, suatu saat bakal ninggalin kita.
Dan pada akhirnya, kita bakal ninggalin semuanya.
Yang bakal menemani kita bukan:
· rumah,
· kendaraan,
· jabatan,
· pengikut,
· popularitas,
· rekening,
· atau pujian manusia.
Yang menemani kita adalah:
iman, amal saleh, dan rahmat Allah.
---
XI. AMALAN DAN IMPLEMENTASI
1. Perbaiki Tawakal Setiap Hari
Setiap pagi ucapin:
"Ya Allah, aku berusaha dengan kemampuan yang Engkau berikan. Aku serahkan hasilnya kepada-Mu."
2. Bekerja dengan Niat Ibadah
Niatin:
"Aku bekerja buat nyari rezeki halal, nafkahin keluarga, jaga kehormatan diri, dan biar bisa bantu sesama."
Dengan niat yang bener, pekerjaan dunia bisa jadi ibadah.
3. Biasakan Bersedekah
Sedekah adalah latihan biar hati gak jadi budak harta.
Gak harus banyak.
Yang penting:
Ikhlas, halal, dan istiqamah.
4. Latihan Melepaskan
Sesekali belajar ngasih sesuatu yang kita cintai.
Karena:
Hati gak bakal belajar zuhud kalau gak pernah belajar melepaskan.
5. Jangan Membandingkan Kehidupan
Kurangi ngeliat kehidupan orang lain dengan perasaan iri.
Doain kebaikan buat mereka.
Lalu bilang:
"Ya Allah, kasih aku rezeki yang paling baik buat agamaku, kehidupanku, dan akhiratku."
6. Perbanyak Dzikir
Dzikir:
ุญَุณْุจَِู ุงَُّููู َِููุนْู
َ ุงَُِْููููู
"Cukuplah Allah bagiku dan Dia adalah sebaik-baik pelindung."
Dan:
َูุง ุญََْูู ََููุง َُّููุฉَ ุฅَِّูุง ุจِุงَِّููู
"Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."
7. Evaluasi Harta
Nanya ke diri sendiri:
"Dari mana harta ini datang?"
"Ke mana harta ini pergi?"
"Apakah harta ini mendekatkanku kepada Allah atau menjauhkanku dari Allah?"
---
XII. DOA
ุงَُّูููู
َّ ุงุฌْุนَِู ุงูุฏَُّْููุง ِูู ุฃَْูุฏَِููุง، ََููุง ุชَุฌْุนََْููุง ِูู ُُูููุจَِูุง.
ุงَُّูููู
َّ ุงุฑْุฒَُْููุง ุฑِุฒًْูุง ุญََูุงًูุง ุทَِّูุจًุง َูุงุณِุนًุง ู
ُุจَุงุฑًَูุง ِِููู.
ุงَُّูููู
َّ ุงุฌْุนََْููุง ู
َِู ุงูุฒَّุงِูุฏَِูู ِูู ุงูุฏَُّْููุง، ุงูุฑَّุงุบِุจَِูู ِูู ุงْูุขุฎِุฑَุฉِ، ุงْูู
ُุญِุจَِّูู ََูู، ุงْูู
ُุชَََِِّููููู ุนَََْููู.
ุงَُّูููู
َّ َูุง ุชَุฌْุนَْู ุฃَู
َْูุงََููุง ุฃَْูุจَุฑَ َูู
َِّูุง، ََููุง ู
َุจَْูุบَ ุนِْูู
َِูุง.
ุงَُّูููู
َّ ุงุฌْุนَْู ุฃَู
َْูุงََููุง ِูู ุฃَْูุฏَِููุง، َูุงุฌْุนَْู ُُูููุจََูุง ََูู َูุญْุฏََู.
ุงَُّูููู
َّ ุฅِْู ุฃَุนْุทَْูุชََูุง َูุงุฌْุนََْููุง ู
َِู ุงูุดَّุงِูุฑَِูู، َูุฅِْู ู
ََูุนْุชََูุง َูุงุฌْุนََْููุง ู
َِู ุงูุตَّุงุจِุฑَِูู، َูุฅِْู ุงุจْุชََْููุชََูุง َูุงุฌْุนََْููุง ู
َِู ุงูุฑَّุงุถَِูู.
ุงَُّูููู
َّ ุงุฌْุนََْููุง َูุนْู
َُู ِููุฏَُّْููุง ุจِุฃَุจْุฏَุงَِููุง، َِْูููุขุฎِุฑَุฉِ ุจُُِูููุจَِูุง.
ุขู
ِูู َูุง ุฑَุจَّ ุงْูุนَุงَูู
َِูู.
---
PENUTUP
Wahai bro-bro dan sis-sis sekalian...
Jangan takut sama masa depan selama Allah jadi tempat bergantung.
Jangan takut rezekimu ketuker.
Jangan takut kehilangan sesuatu yang emang bukan milikmu.
Jangan terlalu gelisah sama hal yang belum terjadi.
Allah yang ciptain njenengan gak bakal nyia-nyiain njenengan.
Allah yang kasih njenengan kehidupan gak bakal melupain njenengan.
Allah yang selama ini nolongin njenengan gak bakal ninggalin njenengan.
Maka:
· Berusahalah tanpa sombong.
· Bekerjalah tanpa lupa sama Allah.
· Berdoalah tanpa putus asa.
· Bersedekahlah tanpa takut miskin.
· Dan percayalah sama janji Allah.
Karena hakikat zuhud bukanlah:
"Aku tidak memiliki dunia."
Tetapi:
"Dunia tidak memiliki hatiku."
---
Semoga Allah ngejadikan kita hamba-hamba yang:
· punya dunia di tangan, tapi punya Allah di dalam hati;
· bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi bertawakal dengan sepenuh hati;
· nerima rezeki dengan syukur, ngadepin ujian dengan sabar, dan ngejalanin hidup dengan keyakinan sama janji Allah.
---
Jazakumullฤhu khairan katsฤซran
Makasih banget buat para ustadz, kyai, guru, ulama, dan seluruh pembaca yang udah meluangkan waktu buat baca, ngaji, dan ngambil manfaat dari nasihat ini.
Semoga setiap ilmu yang kita baca jadi cahaya buat hati, setiap nasihat jadi amal, dan setiap amal jadi sebab datangnya ridha Allah Subhฤnahu wa Ta'ฤlฤ.
Maaf banget ya kalau ada kekurangan.
Wallฤhu a'lam bish-shawฤb.
.......