Thursday, April 30, 2026

 11. Kitab Sullamut Taufiq (Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i)

Pasal: 3. Maksiat Badan. 61/5= 12

Diantara maksiat badan, antara lain :


23. Membelanjakan (menggunakan) uang yang sudah tak laku.


24. Menggunakan bejana-bejana emas/perak atau membuatnya.


25. Meninggalkan kefardhuan atau melakukannya tapi ada syarat dan rukun yang ditinggalkan. kalaupun syarat dan rukunnya dipenuhi tapi melakukan hal yang membatalkan kefardhuan itu.

502sul. membantu perbuatan maksiat

 12. Kitab Sullamut Taufiq (Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i)

Pasal: 3. Maksiat Badan. 61/5= 12

Diantara maksiat badan, antara lain:


22. Membantu perbuatan maksiat.


23. Membelanjakan (menggunakan) uang yang sudah tak laku.


24. Menggunakan bejana-bejana emas/perak atau membuatnya.


25. Meninggalkan kefardhuan atau melakukannya tapi ada syarat dan rukun yang ditinggalkan. kalaupun syarat dan rukunnya dipenuhi tapi melakukan hal yang membatalkan kefardhuan itu.

501sul. Memusuhi Wali

 4 Kitab Sullamut Taufiq (Abdullah bin Husain bin Tohir Ba Alawi Al-Hadhromi Al-Syafi'i)

Pasal: 3. Maksiat Badan. 61/5= 12

Diantara maksiat badan, antara lain:

21. Memusuhi wali (kekasih Alloh)


22. Membantu perbuatan maksiat.


23. Membelanjakan (menggunakan) uang yang sudah tak laku.


24. Menggunakan bejana-bejana emas/perak atau membuatnya.


25. Meninggalkan kefardhuan atau melakukannya tapi ada syarat dan rukun yang ditinggalkan. kalaupun syarat dan rukunnya dipenuhi tapi melakukan hal yang membatalkan kefardhuan itu.

......

638ai. Dari Kematian Hati Menuju Cahaya Ilahi

 Bismillahirahmanirrahim.

Selasa, 21 Apr 2026

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Buat njenengan penikmat ilmu, terkirim oleh oleh maghrib'an dari Masjid Al Abror nyantri bareng Ust. A. Zubaidi kupas tipis tipis kitab Tafsir Al Ibriz (Kyai Bisri Mustofa) *Edisi 1022*:

QS. Al-An‘am Ayat 122 — Tafsir al-Ibriz

.........

Al-An'am · Ayat 122

اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكٰفِرِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۝١٢٢

a wa mang kâna maitan fa aḫyainâhu wa ja‘alnâ lahû nûray yamsyî bihî fin-nâsi kamam matsaluhû fidh-dhulumâti laisa bikhârijim min-hâ, kadzâlika zuyyina lil-kâfirîna mâ kânû ya‘malûn

Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, seperti orang yang berada dalam kegelapan sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah, dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir apa yang mereka kerjakan.

.......

🕌 Dari Kematian Hati Menuju Cahaya Ilahi.

Cahaya Hati vs Kegelapan Jiwa

Berdasarkan firman Allah dalam


1. Makna (Tafsir) – Perspektif Al-Ibriz

Dalam tafsir Al-Ibriz, ayat ini menggambarkan dua kondisi batin manusia:

  • “Mati” → hati yang mati karena kufur, lalai, jauh dari dzikir.
  • “Kami hidupkan” → Allah beri hidayah (iman, taubat, ma’rifat).
  • “Cahaya (nūr)” → ilmu, iman, dan petunjuk yang membuat seseorang mampu melihat kebenaran di tengah manusia.

Sedangkan orang dalam kegelapan adalah:

  • Terjebak dalam hawa nafsu
  • Tidak mampu membedakan haq dan batil
  • Walau hidup secara jasad, namun mati secara ruhani

👉 Dalam tasawuf:
Hidupnya hati = dengan dzikir dan ma’rifat kepada Allah.


2. Asbabun Nuzul (Sebab Turunnya Ayat)

Sebagian ulama menyebut ayat ini turun berkaitan dengan perbandingan:

  • (yang mendapat hidayah)
  • dengan orang kafir yang tetap dalam kesesatan (seperti Abu Jahl)

Maknanya:
Allah menunjukkan perbedaan drastis antara orang yang mendapat cahaya iman dan yang tenggelam dalam kegelapan kufur.


3. Hukum (Ahkam)

  • Wajib bagi setiap Muslim mencari hidayah dan ilmu
  • Haram mengikuti jalan yang menjerumuskan ke dalam kegelapan (maksiat, kesombongan)
  • Dianjurkan memperbaiki hati karena nilai manusia di sisi Allah tergantung hatinya

4. Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)

  • Hati bisa hidup dan bisa mati
  • Ilmu tanpa cahaya iman → bisa menyesatkan
  • Hidayah adalah karunia, bukan sekadar usaha
  • Orang yang terbiasa dalam dosa bisa menganggap dosa itu indah

5. Kaitan dengan Ayat Lain


  • “Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.”


  • “Allah adalah cahaya langit dan bumi.”

👉 Semua menunjukkan:
Iman = cahaya, Maksiat = kegelapan


6. Hadis yang Berkaitan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik seluruh jasad. Jika rusak, maka rusak seluruhnya. Itulah hati.”
(HR. Bukhari & Muslim)

👉 Hati adalah pusat cahaya atau kegelapan.


7. Amalan (Implementasi)

Untuk menghidupkan hati:

  1. Dzikir harian (istighfar, tasbih, sholawat)
  2. Membaca Al-Qur’an walau sedikit tapi istiqomah
  3. Menjaga pandangan & lisan
  4. Sedekah (membersihkan hati dari cinta dunia)
  5. Berkumpul dengan orang shalih

8. Relevansi Zaman Sekarang

Di zaman sekarang:

  • Maksiat sering dianggap biasa
  • Keburukan dipoles menjadi “tren”
  • Kebenaran sering terlihat aneh

👉 Ini persis seperti ayat:
“Dijadikan indah bagi orang kafir apa yang mereka kerjakan.”

Media, lingkungan, dan nafsu bisa menjadi “kegelapan modern”.


9. Sentuhan Hati (Muhasabah)

Renungkan…

  • Apakah hatiku hidup atau mati?
  • Apakah aku berjalan dengan cahaya atau tersesat dalam gelap?
  • Apakah dosa sudah terasa biasa bahkan indah?

Jangan sampai:

Kita merasa “baik-baik saja”, padahal sedang jauh dari Allah.


10. Doa

اللهم أحيِ قلوبنا بنور الإيمان
واجعل لنا نورًا نمشي به في الناس
ولا تجعلنا من أهل الظلمات

Artinya:
“Ya Allah, hidupkanlah hati kami dengan cahaya iman,
jadikan kami memiliki cahaya untuk berjalan di tengah manusia,
dan jangan Engkau jadikan kami termasuk orang-orang dalam kegelapan.”


11. Ucapan Terima Kasih

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk merenungi ayat Allah ini.
Semoga menjadi cahaya dalam hati, amal dalam kehidupan, dan jalan menuju ridha-Nya 🤲



Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga bermanfa'at selalu.

—M. Djoko ekasanU—

.........

Berikut versi bahasa gaul kekinian yang sopan santun dan santai, sesuai permintaan:


---


Bismillahirahmanirrahim.


Selasa, 21 Apr 2026


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Halo, njenengan para penikmat ilmu. Ada oleh-oleh maghrib'an dari Masjid Al Abror, ngaji santai bareng Ust. A. Zubaidi, bedah tipis-tipis kitab Tafsir Al Ibriz (Kyai Bisri Mustofa) Edisi 1022:


QS. Al-An‘am Ayat 122 — Tafsir al-Ibriz


......


Al-An'am · Ayat 122


اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِى النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِى الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكٰفِرِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ۝١٢٢


a wa mang kâna maitan fa aḫyainâhu wa ja‘alnâ lahû nûray yamsyî bihî fin-nâsi kamam matsaluhû fidh-dhulumâti laisa bikhârijim min-hâ, kadzâlika zuyyina lil-kâfirîna mâ kânû ya‘malûn


Artinya:

"Apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, seperti orang yang berada dalam kegelapan sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah, dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir apa yang mereka kerjakan."


......


🕌 Dari Hati Mati Menuju Cahaya Kekinian


1. Makna (Tafsir) – Versi Al-Ibriz

Ayat ini ngegambarin dua kondisi batin manusia:


· "Mati" → hati yang mati karena kufur, lalai, jauh dari dzikir.

· "Kami hidupkan" → Allah kasih hidayah (iman, taubat, ma'rifat).

· "Cahaya (nūr)" → ilmu, iman, petunjuk yang bikin seseorang bisa lihat kebenaran di tengah keramaian.


Sedangkan yang masih dalam kegelapan:


· Terjebak sama hawa nafsu.

· Gak bisa bedain mana yang haq dan batil.

· Secara jasad hidup, tapi ruhani mati.


👉 Dalam dunia tasawuf: hidupnya hati itu karena dzikir dan kenal sama Allah.


2. Asbabun Nuzul (Latar Belakang Turun Ayat)

Konon ayat ini turun buat ngebandingin antara orang yang dapet hidayah (iman) sama orang kafir yang masih nyasar (kayak Abu Jahal). Intinya: Allah nunjukin bedanya jauh banget antara orang yang hatinya terang benderang sama yang tenggelam dalam gelap gulita.


3. Hukum (Ahkam)


· Wajib buat setiap muslim nyari hidayah dan ilmu.

· Haram ngikutin jalan yang bikin makin gelap (maksiat, sombong).

· Dianjurkan terus memperbaiki hati, karena nilai seseorang di sisi Allah itu tergantung hatinya.


4. Hikmah & Pelajaran (Ibrah)


· Hati bisa hidup, bisa mati juga.

· Ilmu tanpa cahaya iman → malah bisa nyesatkan.

· Hidayah itu pemberian Allah, bukan cuma hasil usaha.

· Orang yang udah biasa maksiat, lama-lama nganggep maksiat itu indah.


5. Kaitan dengan Ayat Lain


· “Allah mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya.”

· “Allah adalah cahaya langit dan bumi.”


👉 Garis besarnya: iman = cahaya, maksiat = gelap.


6. Hadis yang Berkaitan

Rasulullah ﷺ bersabda:


“Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik seluruh jasad. Jika rusak, maka rusak seluruhnya. Itulah hati.”

(HR. Bukhari & Muslim)


👉 Hati itu pusatnya cahaya atau gelap.


7. Amalan (Biar Hati Hidup)


· Dzikir harian (istighfar, tasbih, sholawat).

· Baca Al-Qur'an walau dikit tapi istiqomah.

· Jaga pandangan dan lisan.

· Sedekah (buat bersihin hati dari cinta dunia).

· Sering kumpul sama orang-orang shalih.


8. Relevansi Zaman Sekarang

Jaman now:


· Maksiat sering dianggap biasa aja.

· Keburukan dikemas jadi tren kekinian.

· Kebenaran malah keliatan aneh.


👉 Nah, ini pas banget sama ayat: "Dijadikan indah bagi orang kafir apa yang mereka kerjakan."

Media, lingkungan, dan hawa nafsu bisa jadi "kegelapan modern" yang gak kerasa.


9. Muhasabah Singkat

Coba direnungin:


· Hatiku sekarang hidup atau mati sih?

· Aku berjalan pake cahaya atau malah tersesat dalam gelap?

· Dosa-dosa kecil udah terasa biasa, bahkan terlihat indah?


Jangan sampe: kita ngerasa "baik-baik aja", padahal lagi jauh dari Allah.


10. Doa Kekinian Tapi Mantap


اللهم أحيِ قلوبنا بنور الإيمان

واجعل لنا نورًا نمشي به في الناس

ولا تجعلنا من أهل الظلمات


Artinya:

"Ya Allah, hidupkanlah hati kami dengan cahaya iman, jadikan kami punya cahaya buat berjalan di tengah manusia, dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang berada dalam kegelapan."


11. Ucapan Terima Kasih

Makasih banyak ya, njenengan, udah meluangkan waktu buat ngaji ayat Allah ini. Semoga jadi cahaya di hati, amal dalam keseharian, dan jalan menuju ridha-Nya. 🤲

.......

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Tetap semangat, semoga bermanfa'at selalu.

—M. Djoko ekasanU—


......

637. Pembagian Waktu Ibadah Menunggu Lailatul Qadar

 

Amalan baik dan lengkap. Tinggal ditata waktunya agar tenang, tidak terburu-buru, dan tetap khusyuk sampai mendekati sahur.
Kita bagi waktu 01.00 – 03.30 (±150 menit) menjadi beberapa bagian.


🌙 Pembagian Waktu Ibadah Menunggu Lailatul Qadar

(01.00 – 03.30 di Masjid)

🕌 01.00 – 01.10 (10 menit)

Sholat Tahiyatul Masjid

  • 2 rakaat
  • Niatkan juga i’tikaf dan menghidupkan malam.

Setelah salam baca doa singkat:

  • Istighfar 33x
  • Sholawat 11x

🤲 01.10 – 01.30 (20 menit)

Sholat Tasbih

4 rakaat (sekali salam atau dua salam).

Di dalamnya sudah ada 300 tasbih:

سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر

Sholat ini sangat cocok di awal malam agar hati langsung lembut.


🕌 01.30 – 01.45 (15 menit)

Sholat Hajat

2 – 4 rakaat.

Setelah salam:

  • membaca Sayyidul Istighfar
  • doa hajat pribadi
  • doa untuk orang tua
  • doa untuk kaum muslimin.

📖 01.45 – 02.40 (±55 menit)

Membaca Al-Qur'an

Urutannya bisa seperti ini:

  1. QS. As-Sajdah
  2. Yasin
  3. Ad-Dukhan
  4. Al-Fath
  5. Ar-Rahman
  6. Al-Waqi’ah
  7. Al-Hadid
  8. Al-Mulk
  9. Nuh
  10. Al-Muzzammil
  11. An-Naba
  12. Al-Ikhlas

Tips:

  • baca perlahan
  • boleh diselingi dzikir pendek
  • tidak perlu terburu-buru.

🕯 02.40 – 03.10 (30 menit)

Dzikir Malam (bagian paling tenang)

Urutan yang bagus:

1️⃣ Tasbih

  • Subhanallah 100x

2️⃣ Tahmid

  • Alhamdulillah 100x

3️⃣ Tahlil

  • Laa ilaaha illallah 100x

4️⃣ Sholawat

  • minimal 100x

5️⃣ Sayyidul Istighfar

  • 33x atau 100x

Kemudian doa:

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني


🌅 03.10 – 03.30 (20 menit)

Waktu Istighfar Sahur

Ini waktu yang sangat istimewa.

Amalan:

  • Istighfar perlahan
  • doa untuk:
    • orang tua
    • guru
    • anak-anak
    • kaum muslimin
    • husnul khatimah

Allah memuji orang yang:

وَبِالْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ
"Di waktu sahur mereka memohon ampun."
(QS Adz-Dzariyat: 18)


🌙 Ringkasan Jadwal

Waktu Amalan
01.00 – 01.10 Tahiyatul Masjid
01.10 – 01.30 Sholat Tasbih
01.30 – 01.45 Sholat Hajat
01.45 – 02.40 Membaca Al-Qur’an
02.40 – 03.10 Dzikir
03.10 – 03.30 Istighfar & Doa Sahur

💡 Tambahan kecil agar lebih terasa Lailatul Qadar:

Sesekali diam beberapa menit di antara amalan.

Rasakan:

  • sunyi masjid
  • hati berbicara dengan Allah
  • malaikat turun membawa rahmat.

Karena kadang Lailatul Qadar tidak terasa dari banyaknya amal,
tetapi dari getaran hati yang tiba-tiba sangat dekat dengan Allah.


Jika panjenengan berkenan, saya juga bisa membuatkan:

“Amalan rahasia para ulama ketika menunggu Lailatul Qadar (jam 02.30 – 03.30)”
yang sering disebut dalam kitab Ihya Ulumuddin, Lathaif al-Ma'arif, dan Al-Hikam. Biasanya sangat menyentuh hati.

636n. salat empat rakaat sebelum salat Asar

 Bismillahirahmanirrahim.

Selasa, 30 Des 2025

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Buat njenengan penikmat ilmu, terkirim oleh oleh maghriban kemarin dari Pesantren Darul Falah,  nyantri bareng Ust. Maskuri, kupas tipis tipis kitab Nashaihul Ibad (kumpulan nasihat pilihan bagi para hamba) karya Nawawi bin Umar al-Bantani Al-Jawi Al-Indunisi *edisi 636* :

---

nashaihul ibad. hak sholat.

Dalam hadis lain, yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani disebutkan sebagai berikut:

“Barangsiapa melakukan salat empat rakaat sebelum salat Asar, maka Allah mengharamkan badan orang itu masuk neraka.”


..........

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga bermanfa'at selalu.

—M. Djoko ekasanU—

635. Tahiyat: Dialog Cinta yang Mensucikan Jiwa.

 


🌿 “Tahiyat: Dialog Cinta yang Mensucikan Jiwa” 🌿

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hadirin yang dimuliakan Allah…

Bacaan tahiyat yang setiap hari kita ulang dalam shalat bukan sekadar rangkaian kalimat. Ia adalah jejak dialog suci antara Rasulullah ﷺ dan Allah ﷻ pada peristiwa agung .

🕊 Asal-usul Bacaan Tahiyat

Ketika Nabi ﷺ sampai ke Sidratul Muntaha dalam Mi’raj, beliau mengucapkan pujian kepada Allah:

التَّحِيَّاتُ لِلَّهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ
“Segala penghormatan, shalat, dan kebaikan adalah milik Allah.”

Lalu Allah menjawab:

السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
“Salam sejahtera atasmu wahai Nabi, serta rahmat Allah dan keberkahan-Nya.”

Kemudian Nabi ﷺ menjawab kembali:

السَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللَّهِ الصَّالِحِينَ
“Salam sejahtera atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh.”

Lalu para malaikat menyambung dengan syahadat:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Inilah yang kemudian menjadi bacaan tahiyat akhir dalam shalat.


📖 Dalil Hadis

Dalam hadis riwayat (HR. dan ), beliau berkata:

"Sebelum diwajibkan kepada kami tasyahud, kami mengucapkan salam kepada Allah… lalu Rasulullah ﷺ bersabda:
Janganlah kalian mengatakan salam kepada Allah, karena Allah adalah As-Salam…"

Kemudian beliau mengajarkan bacaan tasyahud tersebut.


✨ Makna Tasawuf

Para ulama tasawuf mengatakan:
Saat membaca tahiyat, hadirkan rasa bahwa kita sedang berdialog dengan Allah, bukan sekadar membaca teks.

Imam dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa tasyahud adalah puncak kedekatan seorang hamba dalam shalat sebelum ia kembali memberi salam ke dunia.

Ketika Nabi ﷺ mengucapkan:

Attahiyyatu lillahi was shalawatu wat thayyibat…

Itu adalah persembahan total seorang hamba.
Penghormatan, ibadah, dan seluruh kebaikan dikembalikan hanya kepada Allah.

🌱 Intisari Hikmah .


🌿 Hikmah Spiritual

  1. Shalat adalah Mi’rajnya orang mukmin.
    Saat kita membaca tahiyat, seakan-akan kita ikut hadir dalam dialog suci itu.

  2. Adab kepada Allah.
    Dimulai dengan pujian, bukan permintaan.

  3. Salam untuk Nabi dan orang saleh.
    Setiap kita membaca “wa ‘ala ‘ibadillahis shalihin”, maka seluruh orang saleh di langit dan bumi mendapat bagian salam itu.

Hikmah (Tazkiyatun Nufus)

  1. Penyucian Niat
    Tahiyat mengajarkan kita bahwa segala amal harus kembali kepada Allah.
    Jangan sampai shalat kita hanya gerakan, sedekah hanya pencitraan, dakwah hanya kebanggaan diri.
    Jiwa yang bersih adalah jiwa yang tidak mencari selain ridha-Nya.

  2. Adab sebelum Meminta
    Nabi ﷺ memulai dengan pujian, bukan permintaan.
    Ini mendidik jiwa agar tidak hanya datang kepada Allah saat butuh, tetapi datang karena cinta dan pengagungan.

  3. Kesadaran Ukhuwah Ruhiyah
    Saat kita membaca:
    “Assalamu ‘alaina wa ‘ala ‘ibadillahis shalihin”
    Kita mendoakan seluruh orang saleh di langit dan bumi.
    Hati yang bersih tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi membawa keselamatan bagi sesama.

  4. Syahadat sebagai Peneguhan Jiwa
    Di akhir tahiyat kita bersaksi kembali.
    Seolah Allah mengingatkan:
    “Wahai hamba-Ku, perbaharuilah komitmenmu sebelum engkau kembali ke dunia.”

🌿 Nasehat untuk Hati

Saudara-saudaraku…
Shalat adalah mi’rajnya orang beriman.
Jika tahiyat kita dibaca dengan hati yang hadir, maka jiwa akan lembut.
Sombong mencair.
Dengki melemah.
Cinta dunia perlahan luruh.

Jangan terburu-buru dalam tahiyat.
Bayangkan kita sedang berdialog dengan Allah.
Bayangkan kita sedang berdiri di hadapan-Nya.

Karena jiwa yang kotor sulit merasakan manisnya tahiyat.
Tetapi jiwa yang dibersihkan dengan taubat, dzikir, dan keikhlasan akan merasakan getaran kedekatan itu.

🌤 Harapan

Semoga dari tahiyat yang kita baca berulang-ulang,
Allah bersihkan hati kita dari riya, ujub, dan hasad.
Allah jadikan kita hamba yang lembut, tawadhu’, dan cinta akhirat.
Dan semoga kelak kita benar-benar mendapatkan salam langsung dari Allah di surga-Nya.


🤲 Doa

Ya Allah…
Sebagaimana Engkau muliakan Nabi-Mu dalam dialog agung,
Muliakanlah kami dengan hati yang bersih.

Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan shalat kami sekadar gerakan tanpa kehadiran.
Hadirkan hati kami saat menyebut nama-Mu.

Ya Allah…
Bersihkan jiwa kami, lapangkan dada kami,
Satukan kami dengan orang-orang saleh,
Dan wafatkan kami dalam keadaan husnul khatimah.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


🌸 Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada seluruh jamaah yang senantiasa menjaga shalat, menjaga hati, dan menjaga ukhuwah.
Semoga setiap langkah menuju majelis ilmu dan setiap sujud kita menjadi saksi di hadapan Allah kelak.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

985ir. Bertakwalah Kepada Allah

 kupas tipis tipis kitab Hadits Arbain Nawawi (Karya Yahya bin Syaraf An-Nawawi atau Imam Nawawi )

Hadits ke-18 Bertakwalah Kepada Allah


عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ جُنْدُبِ بنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذِ بِنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ» رواه الترمذي وقال: حديث حسن، وفي بعض النسخ: حسنٌ صحيح.


Dari Abu Dzar Jundub bin Junadah dan Abu Abdirrahman Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan maka ia akan menghapusnya, dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.” Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan berkata, “Hadits hasan,” dalam redaksi lain, “Hasan shahih.”

[Hasan: Sunan at-Tirmidzi (no. 1987), Musnad Ahmad (V/153, 158, 177), dan Sunan ad-Darimi (II/323)]

......

Buatkan Tauziah dakwah dengan perspektif tasyawuf / tazkiyatul nufus (motivasi, nasehat, harapan dan muhasabah dan caranya) tentang tersebut diatas, dalam kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya saat ini (kecanggihan teknologi, komunikasi, transportasi, kedokteran). sertakan keutamaannya, dalil qur'an, hadis qudsi, dan hadis lainnya.

Doa.

Ucapan terimakasih.

634. Tidak masuk surga karena sombong

 

Hadis yang Anda maksud kemungkinan adalah beberapa sabda Rasulullah ﷺ berikut:


1️⃣ Tidak masuk surga karena sombong

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ

“Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau sebesar biji sawi.”
(HR. Muslim)

Sahabat bertanya, “Bagaimana dengan orang yang suka pakaian dan sandal yang bagus?”
Beliau menjawab:

“Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.”


2️⃣ Tidak masuk surga karena memutus silaturahmi

Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


3️⃣ Tidak masuk surga karena tidak aman dari gangguan lisannya

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


4️⃣ Tidak masuk surga karena durhaka kepada orang tua

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang durhaka kepada orang tuanya…”
(HR. Ahmad dan lainnya)


⚖ Penjelasan Penting

Para ulama menjelaskan:
Kalimat “tidak masuk surga” bisa bermakna:

  • Tidak masuk surga tanpa azab terlebih dahulu, atau
  • Tidak masuk surga jika tidak bertaubat dan Allah tidak mengampuninya.

Kecuali jika perbuatan tersebut sampai derajat kufur (keluar dari iman), maka memang tidak masuk surga selamanya.



1012ir. Larangan mendiamkan atau tidak bertegur sapa

 Dalam kitab Irsyadul Ibad ila Sabilir Rasyad karya Syekh Zainuddin al-Malibari, terdapat pembahasan mengenai larangan mendiamkan atau tidak bertegur sapa dengan sesama Muslim lebih dari tiga malam (tiga hari).

Berikut adalah poin-poin penting terkait hal tersebut berdasarkan konteks kitab Irsyadul Ibad:

Larangan Utama: Haram hukumnya bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya sesama Muslim lebih dari tiga hari/malam.

Batas Waktu: Pembiaran (tidak bertegur sapa) hanya diperbolehkan maksimal tiga hari, terutama jika ada perselisihan atau kemarahan.

Hadits Dasar: Hadits yang mendasari hal ini adalah: "Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam (tiga hari). Mereka bertemu, lalu seseorang berpaling dan lainnya juga berpaling. Yang paling baik di antara keduanya adalah yang memulai mengucapkan salam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dampak/Ancaman: Mendiamkan saudara lebih dari 3 hari dianggap sebagai perbuatan yang memutus tali silaturahmi, yang membawa dosa.

Kewajiban: Umat Islam diperintahkan untuk segera berbaikan atau menyapa kembali setelah melewati tiga hari tersebut. 

Kitab ini menekankan pentingnya menjaga persaudaraan dan mencegah perpecahan di antara umat Muslim.

......


Dalam kitab-kitab hadis dan fikih, termasuk pemahaman yang sering dibahas dalam kitab Irsyadul Ibad (karya Syekh Zainuddin Al-Malibari), hari Senin dan Kamis merupakan waktu diangkat dan disampaikannya amal ibadah manusia kepada Allah SWT. 

Berikut adalah poin-poin penting terkait Senin-Kamis dan penyampaian amal:

Waktu Laporan Amal: Amalan manusia disetorkan kepada Allah SWT setiap minggunya, yaitu pada hari Senin dan Kamis.

Alasan Puasa Senin-Kamis: Rasulullah SAW rutin berpuasa pada hari Senin dan Kamis karena beliau menyukai amalannya diangkat/dilaporkan saat beliau sedang berpuasa.

Waktu Dibukanya Pintu Surga: Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, dan ampunan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang tidak menyekutukan Allah.

Pengecualian Ampunan: Ampunan pada hari tersebut tertunda bagi dua orang yang saling bermusuhan atau memutuskan silaturahmi sampai keduanya berdamai. 

Puasa sunnah pada kedua hari tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas amal saleh, memperbaiki hubungan dengan sesama (menghilangkan dendam), dan menjaga diri dari maksiat. 

Puasa Senin Kamis adalah ibadah sunnah yang rutin dilakukan ...

3 Feb 2026 — Puasa Senin Kamis adalah ibadah sunnah yang rutin dilakukan Rasulullah SAW. Amalan ini bukan hanya bernilai pahala, tetapi juga menjadi sarana melatih keikhlasa...

Amal Ibadah Kita Diangkat Setiap Hari Senin dan Kamis, Pesan Nabi

28 Apr 2022 — Amal Ibadah Kita Diangkat Setiap Hari Senin dan Kamis, Pesan Nabi.

Hukum Puasa Senin Kamis di Bulan Syakban: Keutamaan dan Tata Cara

12 Feb 2025 — Rasulullah SAW bersabda: “Amal-amal itu diperlihatkan pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka ketika amalanku diperlihatkan, aku sedang berpuasa.” (HR. Tirmidz...

REMINDER: PUASA SUNNAH SENIN DAN KAMIS Sudah tahukah ...


23 Nov 2020 — Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda: “Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun...



Keutamaan Puasa Senin Kamis - Ustadz Adi Hidayat

Riyad as-Salihin 1593 - Kitab Amalan Terlarang - كتاب الأمور ...

Rasulullah ﷺ bersabda, " Amal perbuatan manusia diperlihatkan di hadapan Allah pada hari Senin dan Kamis , dan kemudian setiap hamba (Allah) akan diampuni (dosa...


Muslimat NU

https://muslimatnu.or.id

Bulan Sya'ban, keutamaan amal setiap hari Senin dan Kamis

2 Mar 2023 — Setiap hari Senin dan Kamis amal kita dihaturkan kepada Allah SWT. Dan Allah mengampuni dosa hamba-Nya yang tidak menyekutukan Allah dengan ...


Selain Bulan Sya'ban, Inilah Waktu Pelaporan Amal Ibadah Manusia

26 Feb 2024 — Artinya: Amal-amalan itu ditunjukkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis. Maka akan diampuni dosa orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan ...

Tidak ada: kitab ‎irsyadul ‎ibad

Orang lain juga menelusuri

Hadits tentang diangkatnya catatan amal

Malaikat menyetorkan amal perbuatan manusia kepada Allah pada hari

Hadits pintu surga dibuka hari Senin dan Kamis

Keutamaan hari Senin dan Kamis

Kapan catatan amal diangkat

Amalan diangkat pada hari Senin dan Kamis


Facebook · Ustadz Khalid Z.A Basalamah

SETIAP SENIN DAN KAMIS AMAL MANUSIA DIANGKAT Dalam ...

Namun, ada hari-hari istimewa di mana amalan kita diangkat dan diperiksa secara khusus, yaitu setiap hari Senin dan Kamis. Hari-hari ini menjadi ...

Amalan Manusia Akan Diaudit Tiap Hari Kamis, Ini Haditsnya

22 Des 2022 — Dalam Islam, amal setiap manusia akan diaudit setiap tahun pada bulan Sya'ban dan setiap minggu pada hari Senin dan Kamis.

Amal Manusia Dilaporkan Hari Senin dan Kamis

Hadis: · Artinya: "Sesungguhnya amal (manusia) itu dihadapkan (dilaporkan) kepada Allah pada (setiap hari) Senin dan Kamis." · Asbabul Wurud:

Tidak ada: irsyadul ‎ibad


Islami[dot]co

https://islami.co

Anjuran Memperbanyak Amal Baik di Hari Senin dan Kamis

12 Sep 2019 — Selain akan diampuni dosa-dosa, setiap hari Senin dan Kamis, seluruh amal (perbuatan) manusia selama satu pekan akan disetor dan dilaporkan ke ...

Tidak ada: kitab ‎irsyadul ‎ibad


istiqlal.or.id

https://www.istiqlal.or.id

PDF

Untitled - Masjid Istiqlal


Periodisasi pengangkatan amal kepada Allah subhanahu wata'ala ada empat macam: pertama yang bersifat harian; yaitu ganjaran amal-amal kita waktu siang diangkat ...

28 halaman·4 MB


Ngopibareng.id

https://www.ngopibareng.id

Amal Ibadah Kita Diangkat Setiap Hari Senin dan Kamis, Pesan Nabi

28 Apr 2022 — Amal Ibadah Kita Diangkat Setiap Hari Senin dan Kamis, Pesan Nabi ... Kebaikan yang tersebar di permukaan bumi akan bernilai ibadah tergantung ...

Tidak ada: kitab ‎irsyadul ‎ibad ‎disampaikan

Gambar

SETIAP SENIN DAN KAMIS AMAL MANUSIA DIANGKAT Dalam kehidupan ini ...

SETIAP SENIN DAN KAMIS AMAL MANUSIA DIANGKAT Dalam kehidupan ini ...


Facebook

Amal Ibadah Kita Diangkat Setiap Hari Senin dan Kamis, Pesan Nabi

Amal Ibadah Kita Diangkat Setiap Hari Senin dan Kamis, Pesan Nabi


Ngopibareng.id

Gambar lainnya


Instagram · khalidbasalamahofficial

4,1 rb+ suka · 1 tahun yang lalu

"SETIAP SENIN DAN KAMIS AMAL MANUSIA DIANGKAT ...

"Amalan manusia dihadapkan pada setiap pekannya dua kali, yaitu pada hari Senin dan hari Kamis. Setiap hamba yang beriman akan diampuni, kecuali ...


1018ir. Berbakti kepada kedua orang tua

 Bismillahirahmanirrahim.


Jum'at, 17 Apr 2026

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Buat njenengan penikmat ilmu, terkirim dari Mushollah An Nur oleh oleh isya'an tempo hari nyantri bareng Ust. A. Mujib kupas tipis tipis kitab Irsyadul Ibad (karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari) bidang studi : ilmu tasawuf, akhlak, sufiesme *Edisi 1017* :


Berbakti kepada kedua orang tua

---

Berbakti (birrul walidain) adalah kewajiban mutlak setelah tauhid. Bakti kepada orang tua lebih utama daripada haji, umrah, dan jihad. Ridha Allah terletak pada ridha orang tua, dan durhaka kepada mereka diancam tidak masuk surga. 

Berikut poin-poin penting berbakti kepada orang tua menurut Irsyadul Ibad:

Kedudukan Tinggi: Berbuat baik kepada orang tua adalah jalan utama menuju surga.

Perintah Bersyukur: Allah memerintahkan manusia untuk bersyukur kepada-Nya dan kepada kedua orang tua.

Bakti Saat Hidup: Berbicara lemah lembut, tidak berkata "ah" (membentak), dan memuliakan mereka.

Bakti Setelah Wafat: Mendoakan, memohonkan ampunan, melaksanakan wasiat, dan menyambung silaturahmi dengan sahabat-sahabat orang tua.

Ancaman Durhaka: Orang yang durhaka (uququl walidain) tidak akan mencium bau surga dan Allah tidak akan melihatnya di hari kiamat. 

Dalam kitab ini, juga dikisahkan bahwa berbakti kepada orang tua adalah amalan yang sangat dicintai Allah dan dapat mendatangkan keberkahan serta pertolongan dalam hidup. 

---

Birrul walidain merupakan ungkapan yang mengandung arti berbakti dan berbuat baik kepada orang tua. Birrul walidain memiliki kedudukan yang tinggi dan termasuk amalan yang berkedudukan paling tinggi pula.

Termasuk Amal yang Disukai Allah Swt

عَنِ بْنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: أَيُّ العَمَلِ أَحَبُّ اِلَى الله؟ قَالَ: الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الوَالِدَيْنِ، قُلْتُ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ    .

Dari Ibnu Mas’ud ra berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah saw, amal apa yang paling disukai Allah?”

Maka Rasulullah saw menjawab, “Melakukan shalat pada waktunya.” Kemudian apa lagi? “Berbakti kepada orang tua.” Lalu apa lagi? ”Kemudian jihad fi sabilillah.” (HR. Bukhari).

Pahala Birrul Walidain Serupa dengan Haji dan Umrah

عَنْ اَبِيْ يَعْلَى وَالطَّبْرَانِي اَتَى رَجُلٌ اِلَى رَسُوْلِ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ  إِنَّنِي أَشْتَهِي الْجِهَادَ وَلا أَقْدِرُ عَلَيْهِ، قَالَ: هَلْ بَقِيَ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ؟ قَالَ: أُمِّي، قَالَ: قاتل لِلّهِ فِي بِرِّهَا، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ فَأَنْتَ حَاجٌّ، وَمُعْتَمِرٌ، وَمُجَاهِدٌ.

Diriwayatkan dari Imam Abu Ya’la dan Ath-Thabrani, “Bahwa ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw dan berkata, aku ingin pergi berjihad tetapi aku tidak mampu melakukannya.”

Kemudian Rasulullah saw bertanya padanya, “Apakah salah satu dari kedua orang tuamu masih hidup?” Lelaki tersebut menjawab, “Ibuku.”

Lalu Rasulullah berkata, “Berjihadlah karena Allah dengan berbakti kepada ibumu, jika Engkau melakukannya maka kamu seperti melakukan ibadah haji, umrah dan jihad.”

Memandang Orang Tua dengan Kasih Sayang sama dengan Haji yang Mabrur

وَالرَّافِعِيّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ: مَا مِنْ رَجُلٍ يَنْظُرُ اِلَى وَجْهِ وَالِدِيْهِ نَظْرَةً رَحْمَة اِلَّا كَتَبَ اللُه لَهُ بِهَا حَجَّةً مَقْبُوْلَةً مَبْرُوْرَةً

Imam Rafi’i meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, beliau berkata, “Tidak ada seorang lelaki yang memandang kepada orang tuanya dengang pandangan kasih sayang kecuali ditulis baginya pahala haji yang mabrur (diterima).”

Birrul walidain Lebih Utama dari Berperang

وَابْنُ مَاجَه وَالنَّسَائِيُّ وَالْحَاكِمُ ,جَاءَ رَجُلٌ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ الله اَرَدْتُ اَنْ اَغْزُوَ وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيْرُكَ, فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ اُمٍّ, قَالَ نَعَمْ, قَالَ فَالْزَمْهَا, فَاِنَّ الْجَنَّةَ عِنْدَ رِجْلِهَا. وَفِي رِوَايَةٍ: أَلَكَ وَالِدَانِ, قُلْتُ نَعَمْ, قَالَ فَالْزَمْهُمَا فَاِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ اَرْجُلِهِمَا

Imam Ibnu Majah, Imam Nasa’i dan Imam Hakim meriwayatkan hadits, “Telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah saw kemudian berkata, Wahai Rasulullah aku ingin pergi berperang dan aku datang ke sini meminta petunjukmu.”

Maka Rasulullah menjawab, “Apakah kamu masih mempunyai ibu?” Lelaki tersebut berkata, “Iya”. Lalu Rasulullah berkata, “Maka berbaktilah padanya karena surga berada di bawah telapak kakinya.”

Dalam riwayat yang lain disebutkan, Nabi Muhammad saw bertanya kepada lelaki tersebut, “Apakah kamu masih memiliki kedua orang tua?” Lalu lelaki itu menjawab, “Iya”. Kemudian Rasulullah berkata, “Berbaktilah kepada keduanya karena surga berada di telapak kakinya.”

Orang yang Paling Berhak Diperlakukan dengan Baik Itu Orang Tua

وَالشَّيْخَانِ, جَاءَ رَجُلٌ اِلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ الله مَنْ اَحَقُّ النَّاسَ بِحُسْنِ صَحَابَتِى قَالَ اُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ اُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ اُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ اَبُوْكَ

Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits, “Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw kemudian bertanya, Siapa orang yang paling berhak untuk kuperlakukan dengan baik dalam hubungan?”

Nabi Muhammad saw pun menjawab, “Ibumu.” Kemudian siapa? “Ibumu.” Kemudian siapa? “Ibumu.” Kemudian siapa? “Ayahmu.”

6. Membahagiakan Orang Tua Bisa Menghapus Dosa Besar

وَالتُّرْمُذِىُّ وَابْنُ حِبَّان وَالْحَاكِمُ اَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ رَجُلٌ فَقَالَ اْنِّي اَذْنَبْتُ ذَنْبًا عَظِيْمًا فَهَلْ لِيْ مِنْ تَوْبَةٍ, فَقَالَ هَلْ لَكَ مِنْ اُمٍّ فَقَالَ لَا قَالَ فَهَلْ لَكَ مِنْ خَالَةٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَبَرِّهَا

Imam Tirmidzi, Imam Ibnu Hibban dan Imam Hakim meriwayatkan hadits, “Telah datang lelaki kepada Nabi Muhammad saw kemudian berkata, Saya telah berbuat dosa besar, apakah masih ada ruang untuk bertaubat?”

Maka Nabi saw bertanya padanya, ”Apakah kamu masih punya ibu?” Lelaki tersebut menjawab, “Tidak.”

Lalu Nabi saw bertanya lagi, “Apakah kamu masih punya bibi?” Lelaku tersebut menjawab, “Iya”. Kemudian Nabi saw berkata, “Maka berbaktilah padanya.”

Doa Orang Tua Ibarat Doa Nabi kepada Umatnya

وَالدَّيْلَمِى, دُعَاءُ الْوَالِدُ لِوَلَدِهِ كَدُعَاءِ النَّبِيّ لِأُمَّتِهِ

Imam Ad-Dailami meriwayatkan hadits, “Doa orang tua kepada anaknya itu sebagaimana doa nabi kepada umatnya.”

Membahagiakan Orang Tua yang Sudah Meninggal

وَاَبُوْ دَاوُدَ وَابْنُ مَاجَه عَنِ مَالِكِ بْنِ رَبِيْعَة السَّعِدِيّ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ َعَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ بَنِي سَلَمَة فَقَالَ يَا رَسُوْلَ اللهِ هَلْ بَقِيَ مِنْ بِرِّ اَبَوَيّ شَيْءٌ اَبَرُّهُمَا بِهِ بَعْدَ مَوْتِهِمَا فَقَالَ نَعَمْ الصَّلَاةُ عَلَيْهِمَا اَيْ الدُّعَاءُ وَالْإِسِتِغْفَارُ لَهُمَا وَانْفَاذُ عَهْدِهِمَا مِنْ بَعْدِهِمَا وَصِلَةُ الرَّحْمِ التى لَا تُوْصَلُ اِلَّا بِهِمَا وَاِكْرَامُ صَدِيْقِهِمَا

Imam Abu Dawud dan Imam Ibnu Majah meriwayatkan dari Malik bin Rabia’ah As-Sa’idi. Beliau berkata, “Ketika kami duduk bersama Rasulullah saw tiba-tiba datang seorang lelaki dari bani Salamah, kemudian lelaki itu berkata, Wahai Rasulullah apakah masih ada cara untuk membahagiakan orang tua setelah meninggal?”

Kemudian Rasulullah menjawab, “Ada, yaitu mendoakan keduanya, yakni dengan berdoa dan memintakan istighfar untuknya, memenuhi janji-janjinya setelah meninggal, dan memuliakan sahabat-sahabatnya.”

........

Setiap umat Islam hendaknya memiliki hubungan yang baik dengan sesama manusia, terutama dengan orang tua. Dalam surat An-Nisa ayat 36, Allah Swt berfirman.

وَٱعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا۟ بِهِۦ شَيْـًٔا ۖ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا

Artinya: “Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”.

..........................


Hubungan yang baik dengan manusia ini, diartikan oleh beliau sebagai hubungan yang baik dengan orang tua.


“Dalam ayat ini, Allah memerintahkan seorang hamba memiliki hubungan yang baik dengan Allah حبل من الله, kemudian hubungan yang baik dengan orang tua, yakni sesama manusia حبل من الناس” Terang KH. Ubaidillah Faqih.


Kemudian, beliau juga menjelaskan bahwa diturunkannya ayat ini sebagai perintah agar seorang hamba senantiasa berbuat baik dan membahagiakan kedua orang tuanya. Sebab ridhonya Allah Swt itu juga atas kehendak ridhonya orang tua.

Ibnu Abbas ra., salah seorang sahabat nabi mengatakan, hendaknya seorang anak membahagiakan orang tua dengan disertai rasa kasih sayang dan perilaku yang lemah lembut kepadanya. Tidak berbuat kasar, serta tidak melakukan kontak mata secara langsung.

Selain itu, masih dalam perkataan Ibnu Abbas ra, saat seorang anak menghadap kedua orang tua, hendaknya menyamakan dirinya sebagaimana budak yang menghadap ke tuannya, yaitu dengan merasa hina dan merendahkan diri.


“Menghinakan diri dan merasa tidak ada harganya di hadapan orang tua” Terang KH. Ubaid kemudian.


Hal yang Boleh dan Tidak Boleh Dilakukan Kepada Orang Tua


Dalam surat Al Isra ayat 23-24, Allah swt berfirman:


وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوٓا۟ إِلَّآ إِيَّاهُ وَبِٱلْوَٰلِدَيْنِ إِحْسَٰنًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ ٱلْكِبَرَ أَحَدُهُمَآ أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَآ أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا٠ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ


Artinya: “Dan tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah satu di antara keduanya, atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya dengan perkataan “ah'” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”

Ayat di atas menjelaskan hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan kepada orang tua. Termasuk hal-hal yang boleh, bahkan diharuskan bagi orang tua adalah berbuat baik, berkata yang baik kepada orang tua, dan merasa rendah diri saat berada di hadapan mereka.

Termasuk perilaku yang tidak diperbolehkan bahkan dilarang terhadap orang tua adalah mengatakan “اف”. Perkataan ini memiliki arti semacam bentakan, gambarannya seperti perkataan “Huss”.

Perkataan ini adalah perkataan yang dilarang, bahkan KH. Ubaidillah Faqih menegaskan agar jangan sekali-kali seorang santri mengatakan اف kepada kedua orang tuanya.

“Jangan sekali-kali kamu melampaui batas dan kemudian kamu berani mengatakan اف” Tegas beliau.

Termasuk perilaku yang tidak diperbolehkan terhadap orang tua adalah membentak mereka. Dalam ayat di atas terdapat penggalan yang berbunyi وَلَا تَنْهَرْهُمَا. Penggalan ini memerintahkan agar tidak membentak kedua orang tua saat berbicara. Sebaliknya, seseorang harus menjaga nada bicaranya dengan mereka sehingga terdengar halus dan lembut.

............

🕌 Berbakti kepada Orang Tua (Birrul Walidain): Jalan cepat Menuju Ridha Allah

Berbakti kepada kedua orang tua (birrul walidain) adalah kewajiban agung dalam Islam, yang kedudukannya berada tepat setelah tauhid kepada Allah. Amal ini bukan sekadar akhlak mulia, tetapi menjadi sebab utama seseorang meraih ridha Allah dan terbukanya pintu surga.

Keutamaan Birrul Walidain

Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa setelah shalat tepat waktu, amalan yang paling dicintai Allah adalah berbakti kepada orang tua. Bahkan, dalam kondisi tertentu, birrul walidain lebih utama daripada jihad, haji, dan umrah.

Berbakti kepada orang tua juga memiliki keutamaan besar:

- Menjadi jalan tercepat menuju surga

- Mendatangkan pahala seperti haji mabrur

- Menghapus dosa-dosa besar

- Mendatangkan keberkahan hidup

Rasulullah ﷺ bersabda bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu, dan orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik adalah ibu, kemudian ibu, kemudian ibu, lalu ayah.

Perintah Al-Qur’an

Allah SWT berfirman:

"Sembahlah Allah dan jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua." (QS. An-Nisa: 36)

Dalam ayat lain, Allah melarang berkata “ah” sekalipun kepada orang tua, serta memerintahkan berbicara dengan lemah lembut, penuh kasih sayang, dan merendahkan diri di hadapan mereka (QS. Al-Isra: 23–24).

Bentuk Bakti kepada Orang Tua

1. Saat Orang Tua Masih Hidup:

   - Berkata lembut dan sopan

   - Tidak membentak atau menyakiti hati

   - Taat selama tidak dalam maksiat

   - Membahagiakan dan memuliakan mereka


2. Setelah Orang Tua Wafat:

   

   - Mendoakan dan memohonkan ampunan

   - Melaksanakan wasiat mereka

   - Menyambung silaturahmi dengan kerabat dan sahabat mereka

   - Memuliakan orang-orang yang mereka cintai


Ancaman Durhaka

Durhaka kepada orang tua (uququl walidain) termasuk dosa besar. Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa pelakunya terancam tidak mencium bau surga dan tidak mendapatkan pandangan rahmat Allah di hari kiamat.


Renungan (Muhasabah)

Para ulama mengajarkan agar seorang anak merendahkan diri di hadapan orang tuanya, sebagaimana seorang hamba di hadapan tuannya. Bahkan Ibnu Abbas r.a. mencontohkan agar seorang anak memandang orang tuanya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.


Penutup

Mari kita perbaiki hubungan dengan orang tua, selagi mereka masih hidup. Jika mereka telah tiada, jangan putus doa untuk mereka. Ridha Allah sangat dekat—ia terletak pada ridha kedua orang tua kita.


1. Makna (Tafsir) Ayat

Allah berfirman dalam QS. An-Nisa: 36 dan QS. Al-Isra: 23–24:

  • Perintah tauhid (حبل من الله) selalu disandingkan dengan birrul walidain (حبل من الناس)
  • Ini menunjukkan: hubungan dengan Allah tidak akan sempurna tanpa hubungan baik dengan orang tua

Makna mendalam dalam tasawuf:

  • Orang tua adalah perantara وجود (keberadaan kita di dunia)
  • Maka berbakti kepada mereka adalah bentuk syukur atas وجود (eksistensi diri)

Ayat “فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ” bukan hanya larangan berkata “ah”
➡ tetapi larangan segala bentuk getaran hati yang merendahkan orang tua


2. Hukum (Ahkam)

  • Wajib ‘ain berbakti kepada orang tua
  • Haram durhaka (uququl walidain)
  • Lebih utama dari sunnah besar seperti haji, umrah, bahkan jihad (dalam kondisi tertentu)

Dalam perspektif fiqih dan tasawuf:

  • Ketaatan kepada orang tua = bagian dari ketaatan kepada Allah
  • Kecuali jika diperintah maksiat → “لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق”

3. Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)

  • Ridha Allah tersembunyi dalam ridha orang tua
  • Doa orang tua = senjata langit tanpa hijab
  • Birrul walidain adalah amalan pembuka pintu keberkahan hidup

Dalam tasawuf:

  • Orang yang sulit khusyuk, sering gelisah → bisa jadi ada luka pada orang tua
  • Hati yang bersih dimulai dari memuliakan asal-usul kita

4. Dalil Qur’an & Hadis

Hadis utama:

“Shalat tepat waktu, kemudian birrul walidain, kemudian jihad.” (HR. Bukhari)

“Surga di bawah telapak kaki ibu.”

“Ridha Allah tergantung ridha orang tua.”

Ayat:

  • QS. Al-Isra: 23–24 (larangan “ah” dan perintah lemah lembut)
  • QS. Luqman: 14 (perintah bersyukur kepada Allah dan orang tua)

5. Analisis dan Argumentasi (Tazkiyatun Nufūs)

Dalam ilmu tasawuf:

🔹 Orang tua = sebab lahiriah kehidupan
🔹 Allah = sebab hakiki kehidupan

➡ Maka siapa yang tidak menghormati sebab lahiriah, ia belum sempurna mengenal sebab hakiki

Durhaka = tanda:

  • Ego tinggi (nafsu ammārah)
  • Kurang syukur
  • Hati keras

Birrul walidain = tanda:

  • Tunduknya nafsu
  • Bersihnya hati
  • Dekatnya seorang hamba kepada Allah

6. Amalan (Implementasi)

Saat orang tua hidup:

  • Bicara lembut, tunduk, tidak memotong
  • Mendahulukan kebutuhan mereka
  • Minta ridha sebelum melakukan hal besar
  • Melayani tanpa diminta

Saat orang tua wafat:

  • Doa setiap hari: “رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا”
  • Sedekah atas nama mereka
  • Menyambung silaturahmi sahabatnya
  • Menjaga nama baik keluarga

Amalan khusus tasawuf:

  • Bayangkan wajah orang tua sebelum tidur → kirim doa
  • Setiap selesai shalat → hadiah Al-Fatihah

7. Relevansi Zaman Sekarang

Zaman sekarang:

  • Banyak anak lebih hormat ke HP daripada orang tua
  • Lebih cepat jawab chat teman daripada panggilan ibu
  • Lebih bangga posting daripada berbakti

➡ Ini tanda penyakit hati modern

Solusinya:

  • Kembalikan adab
  • Jadikan rumah sebagai ladang pahala
  • Anggap orang tua sebagai “pintu surga pribadi

8. Motivasi

Kalau ingin:

  • Rezeki lancar
  • Hati tenang
  • Hidup berkah
  • Mati husnul khatimah

➡ Mulailah dari: membahagiakan orang tua

Karena:

  • Amal lain bisa tertolak
  • Tapi doa orang tua sulit tertolak

9. Muhasabah & Caranya

Tanya pada diri:

  • Sudahkah aku membuat orang tuaku tersenyum hari ini?
  • Pernahkah aku meninggikan suara?
  • Lebih sering mana: menyenangkan mereka atau menyakiti?

Cara muhasabah:

  1. Ingat jasa mereka sejak kecil
  2. Bayangkan jika mereka sudah tiada
  3. Menangis dalam doa untuk mereka
  4. Minta maaf walau tidak merasa salah

10. Kemuliaan & Kehinaan

Di Dunia:

  • Berbakti → hidup berkah, rezeki lapang
  • Durhaka → sempit, gelisah, sering sial

Di Alam Kubur:

  • Berbakti → kubur lapang, terang
  • Durhaka → kubur sempit, gelap

Di Hari Kiamat:

  • Berbakti → wajah bercahaya
  • Durhaka → tidak dilihat Allah

Di Akhirat:

  • Berbakti → dekat surga
  • Durhaka → terancam tidak mencium bau surga

11. Doa

اللهم اغفر لي ولوالديّ وارحمهما كما ربياني صغيرا
اللهم ارزقني برّهما أحياءً وأمواتاً
اللهم لا تجعلني من العاقّين واجعلني من الصالحين

Artinya:
Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku di waktu kecil. Jadikan aku anak yang berbakti, bukan yang durhaka.


12. Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada:

  • Guru-guru kita yang mengajarkan adab
  • Orang tua kita yang menjadi jalan hadirnya kita di dunia
  • Para ulama seperti yang mengingatkan kita akan pentingnya birrul walidain

Penutup:

Jangan menunggu orang tua tiada baru menyesal.
Karena satu kalimat “Ibu… Bapak… maafkan saya” hari ini,
lebih berharga daripada ribuan doa setelah mereka tiada.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga bermanfa'at selalu.

—M. Djoko ekasanU—

..............

Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

(kata "Gue" diganti "aku", kata "lo" diganti "njenengan")

1019. 3 Kerugian Mementingkan Dunia Mengalahkan Akhirat

 


3 Kerugian Mementingkan Dunia Mengalahkan Akhirat

Ketika hati lebih condong kepada dunia daripada akhirat, maka jiwa akan tertutup dari cahaya Allah. Dunia bukan untuk ditinggalkan, tetapi untuk ditundukkan. Jika dibalik—dunia jadi tujuan, akhirat jadi sampingan—maka lahirlah tiga penyakit besar:


1. Panjang Angan-angan (Thūlul Amal)

Orang yang terlalu mencintai dunia akan sibuk berkhayal tentang masa depan, namun lupa mempersiapkan kematian.

Hakikatnya:

  • Selalu merasa masih lama hidup
  • Menunda taubat
  • Menunda amal shalih

Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah panjang angan-angan dan mengikuti hawa nafsu."

Hikmah: Angan-angan yang panjang membuat hati keras, karena akhirat terasa jauh.


2. Rakus (Hirsh terhadap Dunia)

Cinta dunia melahirkan kerakusan—tidak pernah merasa cukup.

Tandanya:

  • Selalu ingin menambah harta tanpa batas
  • Sulit bersedekah
  • Hati gelisah walau sudah memiliki banyak

Dalil: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya ia ingin yang ketiga."

Hikmah: Rakus itu tanda miskin hati, bukan miskin harta.


3. Hilangnya Nikmat Ibadah

Inilah kerugian paling halus tapi paling berbahaya.

Tandanya:

  • Sholat terasa berat
  • Dzikir terasa hambar
  • Ngaji terasa malas
  • Hati tidak khusyuk

Analisis Tasawuf: Hati itu seperti bejana. Jika penuh dunia, maka tidak ada ruang untuk manisnya ibadah.
Sebagaimana dikatakan ulama: "Cinta dunia dan cinta akhirat tidak akan berkumpul dalam satu hati."

Dalil: Allah berfirman:
"Sekali-kali jangan begitu! Bahkan kamu mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan akhirat." (QS. Al-Qiyamah: 20-21)


Kesimpulan (Ibrah)

Tiga hal ini saling berkaitan:

  • Angan-angan → membuat lalai
  • Rakus → membuat hati keras
  • Hilang nikmat ibadah → membuat jauh dari Allah

Jika sudah sampai pada hilangnya nikmat ibadah, itu tanda hati mulai sakit.


Amalan (Solusi Tazkiyah)

  1. Perpendek angan-angan → ingat mati setiap hari
  2. Latih qana’ah → cukupkan diri dengan yang ada
  3. Paksa ibadah → walau belum nikmat, terus dilakukan

Penutup

Dunia itu ladang, bukan tujuan.
Siapa menjadikan dunia di tangan, ia selamat.
Siapa menjadikan dunia di hati, ia tersesat.



Tema: Mementingkan Urusan Dunia hingga Mengalahkan Akhirat


1. Makna (Tafsir) Ayat

Allah Ta’ala berfirman:

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al-A’la: 16–17)

Dalam perspektif tasawuf, ayat ini bukan hanya ditujukan kepada orang kafir, tetapi juga sebagai peringatan halus bagi hati orang beriman.
Maknanya:

  • Dunia bukan dilarang, tetapi diprioritaskan secara berlebihan itulah yang tercela.
  • Hati yang condong kepada dunia akan tertutup dari cahaya akhirat.

Para ulama tazkiyah menjelaskan:

“Cinta dunia bukan pada tangan, tetapi pada hati. Jika dunia di tangan, itu nikmat. Jika di hati, itu penyakit.”


2. Hukum (Ahkām)

  • Wajib: Mendahulukan kewajiban akhirat (shalat, zakat, ibadah).
  • Haram: Mengorbankan kewajiban agama demi dunia.
  • Makruh/Tercela: Terlalu sibuk dunia hingga lalai dari dzikir.
  • Mubah: Mencari dunia sebagai sarana menuju akhirat.

3. Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)

  • Dunia itu sementara, akhirat itu abadi.
  • Hati yang dipenuhi dunia akan sulit menerima nasihat.
  • Orang yang mengejar dunia saja akan kehilangan keduanya (dunia tidak tenang, akhirat terancam).
  • Dunia adalah ladang, bukan tujuan.

4. Dalil Al-Qur’an & Hadis

Al-Qur’an:

  • “Ketahuilah, kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau…” (QS. Al-Hadid: 20)
  • “Apa yang di sisi kalian akan lenyap, dan apa yang di sisi Allah adalah kekal.” (QS. An-Nahl: 96)

Hadis: Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, Allah akan cerai-beraikan urusannya…” (HR. Tirmidzi)

“Dunia adalah penjara bagi orang beriman dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim)


5. Analisis dan Argumentasi (Tasawuf)

Dalam ilmu Tazkiyatun Nufūs, cinta dunia disebut sebagai:

  • Ummul khathāyā (induk segala kesalahan)
  • Penyebab munculnya riya’, hasad, sombong, dan tamak

Hati manusia ibarat wadah:

  • Jika diisi dunia → gelap
  • Jika diisi akhirat → terang

Orang yang terlalu fokus dunia akan:

  • Mengukur hidup dengan materi
  • Menilai orang dari harta
  • Lupa tujuan penciptaan

Padahal hakikatnya:

Dunia hanyalah alat ujian, bukan tempat tinggal abadi.


6. Amalan (Implementasi)

  • Niatkan kerja sebagai ibadah
  • Jaga shalat tepat waktu walau sibuk
  • Perbanyak dzikir di sela aktivitas
  • Sedekah dari hasil usaha
  • Kurangi cinta berlebihan pada harta
  • Biasakan ingat mati setiap hari

7. Relevansi Zaman Sekarang

Di zaman sekarang:

  • Orang sibuk cari uang, lupa ibadah
  • Media sosial memicu pamer dunia
  • Ukuran sukses = harta, jabatan

Akibatnya:

  • Hati gelisah walau kaya
  • Rumah mewah tapi kosong dari dzikir
  • Banyak yang “hidup”, tapi sebenarnya mati hatinya

8. Motivasi

Saudaraku…
Dunia tidak salah, tapi jangan sampai:

  • Kita hidup untuk dunia
  • Bukan dunia yang hidup untuk kita

Orang yang mengejar akhirat:

  • Dunia akan datang kepadanya
  • Hatinya tenang
  • Hidupnya berkah

9. Muhasabah & Caranya

Pertanyaan untuk diri sendiri:

  • Lebih semangat mana: kerja atau shalat?
  • Lebih sering mikir dunia atau mati?
  • Sedih karena dunia hilang atau karena dosa?

Caranya:

  • Luangkan waktu tafakur setiap malam
  • Ziarah kubur (ingat kematian)
  • Kurangi hal yang melalaikan
  • Dekat dengan majelis ilmu

10. Kemuliaan & Kehinaan

Jika mendahulukan akhirat:

  • Di dunia: hidup tenang, berkah
  • Di kubur: lapang dan terang
  • Di kiamat: wajah berseri
  • Di akhirat: surga dan ridha Allah

Jika mendahulukan dunia:

  • Di dunia: gelisah, tidak puas
  • Di kubur: sempit dan gelap
  • Di kiamat: penuh penyesalan
  • Di akhirat: terancam azab

11. Doa

Allahumma la taj‘aliddunya أكبر همنا ولا مبلغ علمنا، واجعل الآخرة هي دار قرارنا.

“Ya Allah, jangan Engkau jadikan dunia sebagai tujuan terbesar kami dan batas ilmu kami. Jadikanlah akhirat sebagai tempat kembali kami.”


12. Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para penikmat ilmu yang terus menghadiri majelis dan berusaha membersihkan hati.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mengutamakan akhirat tanpa meninggalkan dunia sebagai jalan ibadah.


Wallahu a’lam bish shawab
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

629. SIAPA YANG RIDA BERTEMU ALLAH, AKAN DISAMBUT ALLAH DENGAN CINTA

 


SIAPA YANG RIDA BERTEMU ALLAH, AKAN DISAMBUT ALLAH DENGAN CINTA

Renungan Menjelang Sakaratul Maut dalam Perspektif Hadis, Tasawuf, dan Kehidupan Modern

Oleh: M. Djoko Ekasanu



Tentang Mati dan Penderitaannya

Al-Faqih meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas, Rasulullah bersabda:

 

Artinya:

”Barangsiapa lega hati berjumpa dengan Allah, maka Allahpun senang bertemu dengannya, sebaliknya barangsiapa enggan berjumpa dengan Alah, maka Allahpun enggan bertemu dengannya”.

Berjumpa dengan Allah, maksudnya dikembalikan ke negeri akhirat, melewati mati. Orang mukmin hatinya lega menghadapi datangnya mati, karena di saat itu (sakaratul maut) ia dihibur dengan keridaan Allah dan sorgaNya, sudah tentu ia lebih senang menerimanya daripada hidup terus di dunia. Sebaliknya orang kafir enggan mati, karena di saat itu ia diperlihatkan balasan amal perbuatannya berupa siksa, oleh karena itu ia kecut hatinya, benci padanya, yang mengundang kebencian pula bagi Allah untuk menerimanya.

Sehubungan dengan sabda Rasulullah tersebut, sahabat berkata: “Ya Rasulullah, kami belum senang mati?” Jawab beliau: “Tidak demikian, tetapi di saat itu (sakaratul maut), malaikat pembawa khabar gembira datang kepada orang mukmin, melaksanakan tugasnya memenuhi janji Allah kepadanya”. Sebaliknya kepada orang kafir kedatangan malaikat membuat gentar dan kecut hatinya, sehingga timbul rasa enggan untuk bertemu dengan Tuhannya.


Ringkasan Redaksi Hadis Asli

Dari Anas r.a., Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa yang hatinya senang berjumpa dengan Allah, Allah pun senang berjumpa dengannya. Dan barangsiapa enggan berjumpa dengan Allah, maka Allah pun enggan berjumpa dengannya.”
Ketika para sahabat bertanya, “Kami belum senang mati, wahai Rasulullah,” beliau menjawab:
“Bukan itu maksudnya. Tetapi pada saat sakaratul maut, malaikat pembawa kabar gembira datang kepada orang mukmin… sedangkan malaikat bagi orang kafir menimbulkan ketakutan.”


Latar Belakang Masalah di Zaman Nabi

Pada masa Rasulullah, para sahabat hidup dalam suasana perjuangan: peperangan, hijrah, dan tekanan sosial. Kematian adalah realitas yang mereka hadapi setiap hari.
Ketakutan manusia terhadap mati adalah hal yang alami. Ketika Rasulullah menyampaikan hadis ini, sebagian sahabat khawatir mereka tidak memiliki sifat "senang mati". Maka Nabi menjelaskan, bahwa rida bertemu Allah bukan berarti mencari kematian, tetapi tenang menyongsong takdir saat ajal benar-benar datang.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Manusia takut meninggalkan dunia: keluarga, harta, cita-cita.
  2. Kurangnya pengetahuan tentang nikmat akhirat.
  3. Belum siap menghadapi hisab karena amal belum cukup.
  4. Gaya hidup duniawi yang menutup pandangan dari hakikat akhirat.

Intisari Judul

Hubungan cinta antara manusia dan Allah terlihat dari sikap hatinya ketika ajal tiba. Orang yang rida dan berharap perjumpaan dengan Allah, akan disambut dengan keridaan Allah di alam akhirat.


Tujuan Artikel

  1. Menjelaskan makna hadis secara komprehensif.
  2. Memberikan pemahaman logis, psikologis, dan spiritual tentang sakaratul maut.
  3. Menghubungkan pesan hadis dengan zaman modern.
  4. Menyediakan pedoman praktis agar hati siap menjelang perjumpaan dengan Allah.

Manfaat

  • Menguatkan iman
  • Menghilangkan ketakutan berlebih terhadap kematian
  • Menginspirasi amal saleh
  • Membentuk sikap hidup yang lebih tenang dan bijak
  • Memperdalam cinta kepada Allah

DALIL AL-QUR’AN DAN HADIS LAIN

1. Al-Qur’an

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata: Rabb kami adalah Allah, kemudian mereka istiqamah, malaikat turun kepada mereka (ketika mati)…”
(QS. Fussilat: 30)

2. Hadis-Hadis Terkait

  • “Sesungguhnya ruh seorang mukmin dicabut dengan kelembutan…” (HR. Ahmad)
  • “Mati adalah hadiah bagi seorang mukmin.” (HR. al-Baihaqi)

ANALISIS & ARGUMENTASI

1. Kematian sebagai perjumpaan cinta

Menurut ulama, yang dicintai bukan kematian, melainkan Allah yang ditemui setelahnya. Itulah makna mendalam hadis ini.

2. Keadaan hati saat sakaratul maut

  • Mukmin: melihat ampunan, rahmat, malaikat yang menenteramkan.
  • Durhaka: melihat azab dan penyesalan.

Hati otomatis menunjukkan rasa senang atau takut sesuai amal.

3. Argumen psikologi modern

Rasa takut pada kematian (thanatophobia) berkurang ketika seseorang memiliki:
✓ keyakinan kuat
✓ tujuan hidup jelas
✓ pengalaman spiritual
✓ hubungan cinta dengan Allah


KEUTAMAAN KEUTAMAAN HADIS INI

  1. Memberi ketenangan menghadapi ajal.
  2. Menjawab ketakutan universal manusia terhadap mati.
  3. Menanamkan hubungan cinta antara hamba dan Allah.
  4. Menguatkan iman dan amal saleh.
  5. Mengajarkan bahwa sakaratul maut adalah awal perjalanan mulia bagi mukmin.

RELEVANSI DENGAN ZAMAN MODERN

1. Teknologi & Kecanggihan Medis

  • ICU, ventilator, dan alat monitoring memperlihatkan betapa lemahnya manusia di ujung hayat.
  • Meski teknologi canggih, ruh tetap hanya dicabut oleh Allah — menunjukkan keagungan-Nya.

2. Transportasi & Mobilitas

Kematian bisa datang kapan saja: kecelakaan, perjalanan, bencana — memperkuat urgensi untuk selalu siap.

3. Komunikasi Digital

  • Banyak orang merekam detik-detik terakhir pasien, menjadi pengingat betapa sakaratul maut itu nyata.
  • Cerita “near-death experience” memperkuat keimanan sebagian manusia akan kehidupan setelah mati.

4. Sosial Modern

  • Pergaulan bebas, konsumerisme, dan hedonisme membuat manusia jauh dari kesadaran akhirat.
    Hadis ini mengembalikan manusia kepada kesadaran spiritual.

HIKMAH

  1. Dunia hanyalah tempat singgah, bukan tujuan.
  2. Ajal adalah kepastian, tapi cara menyambutnya bisa kita pilih.
  3. Siapa yang hidupnya dekat dengan Allah, matinya pun akan indah.
  4. Ketakutan mati hilang jika cinta kepada Allah telah memenuhi hati.

MUHASABAH & CARA MEMPERSIAPKAN DIRI

1. Amalan Harian

  • Perbanyak istighfar
  • Baca Al-Qur’an setiap hari
  • Jaga salat tepat waktu
  • Perbanyak sedekah
  • Doakan orang tua

2. Menata Hati

  • Latih diri untuk rida pada takdir
  • Bangun rasa cinta kepada Allah melalui dzikir
  • Kurangi keterikatan dunia berlebih

3. Persiapan Praktis

  • Lunasi hutang
  • Perbaiki hubungan
  • Buat wasiat
  • Minta maaf sebelum terlambat

DOA

“Ya Allah, jadikanlah kematian kami sebagai sebaik-baik pertemuan dengan-Mu.
Lembutkan sakaratul maut kami, wafatkan kami dalam keadaan khusnul khatimah,
dan pertemukan kami dengan wajah-Mu yang Maha Mulia dalam keridaan penuh.”


NASEHAT PARA TOKOH SUFI

Hasan al-Bashri

“Orang berakal adalah yang lebih banyak mengingat mati daripada dunia.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Aku tidak mencintai-Mu karena takut neraka atau ingin surga, tapi karena Engkau layak dicintai.”

Abu Yazid al-Bistami

“Kematian hanyalah pintu untuk menyatu dalam cinta Allah.”

Junaid al-Baghdadi

“Siapa yang hidupnya bersama Allah, matinya pun bersama Allah.”

Al-Hallaj

“Mati adalah perjalanan pulang menuju Kekasih.”

Imam al-Ghazali

“Takut mati adalah tanda belum siap bertemu Allah.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Perbaiki hatimu, maka kematian menjadi kawan yang lembut.”

Jalaluddin Rumi

“Kematian bagi pecinta Allah adalah malam pertemuan (‘urs).”

Ibnu ‘Arabi

“Di balik kematian terdapat cahaya kehadiran Tuhan.”

Ahmad al-Tijani

“Siapa yang memperbanyak shalawat, Allah mudahkan sakaratul mautnya.”


DAFTAR PUSTAKA

  • Sahih Muslim
  • Musnad Ahmad
  • Ihya Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  • Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
  • Qawa’id al-Tasawwuf – Junaid al-Baghdadi
  • Diwan Rumi
  • Risalah Qadiriyah – Abdul Qadir al-Jailani
  • Kutub Sittah

TESTIMONI ULAMA INDONESIA

Gus Baha

“Siapa yang hatinya bening, mati itu bukan menakutkan — justru kesempatan bertemu Allah.”

Ustadz Adi Hidayat

“Hadis ini menjelaskan bahwa kesiapan mati adalah buah dari amal dan ilmu.”

Buya Yahya

“Orang yang cinta akhirat, kematian menjadi jembatan menuju bahagia.”

Ustadz Abdul Somad (UAS)

“Malaikat datang membawa kabar gembira bagi orang beriman. Karena itu perbaikilah amal sebelum ajal.”


UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada semua guru, ulama, dan pembaca yang terus menjaga cahaya ilmu. Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah yang mengajak kepada kedamaian dan kesiapan menghadapi perjumpaan agung dengan Allah.


Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).


1041ir. La Ilaha Illallah: Kunci Selamat dari Api Neraka

 



Bismillahirahmanirrahim.


Rabu, 22 Apr 2026

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Buat njenengan penikmat ilmu, terkirim dari Masjid Nirul Jannah oleh oleh isya'an nyantri bareng Ust. Farid A. kupas tipis tipis kitab Irsyadul Ibad ( Karya Zainuddin Al-Malibari) bidang studi : ilmu tasawuf, akhlak, sufiesme Edisi 1041 :

........

Rasulullah saw bersabda:


عَنْ عُثْمَانَ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ حَرَّمَ النَّارَ عَلَى مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ . رواه الشيخان


Artinya: “Dari Usman bin Malik berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah swt telah mengharamkan api neraka untuk membakar orang yang mengatakan La Ilaha Illallah dengan hati yang ikhlas untuk mencari keridaan Allah swt.” (HR. Bukhari Muslim).

---

La Ilaha Illallah: Kunci Selamat dari Api Neraka


1. Makna (Tafsir) Isi Redaksi

Hadits ini menegaskan bahwa kalimat La Ilaha Illallah bukan sekadar ucapan lisan, tetapi harus disertai dengan ikhlas (يبتغي بذلك وجه الله) — yaitu mengharap wajah Allah semata.

Dalam perspektif tasawuf:

  • La Ilaha = membersihkan hati dari segala selain Allah (takhalli).
  • Illallah = mengisi hati hanya dengan Allah (tahalli).
  • Ikhlas = puncak tazkiyatun nafs, di mana hati tidak lagi mencari selain ridha-Nya.

Artinya:
Yang menyelamatkan bukan lafaznya saja, tetapi keikhlasan yang memurnikan tauhid di dalam hati.


2. Hukum (Ahkam)

  • Wajib meyakini La Ilaha Illallah sebagai inti tauhid.
  • Haram riya’ (beramal karena selain Allah).
  • Syarat sahnya tauhid:
    1. Ilmu (mengetahui makna)
    2. Yakin
    3. Ikhlas
    4. Jujur
    5. Cinta
    6. Tunduk

3. Hikmah dan Pelajaran (Ibrah)

  • Amal sedikit tapi ikhlas lebih bernilai daripada amal banyak tanpa keikhlasan.
  • Neraka tidak mampu menyentuh hati yang benar-benar bertauhid.
  • Ikhlas adalah “rahasia” antara hamba dan Allah.

4. Dalil Al-Qur’an, Hadis, Hadis Qudsi

Al-Qur’an:

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas...” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Hadis:

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)

Hadis Qudsi:

“Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa beramal dengan menyekutukan-Ku, Aku tinggalkan dia dan sekutunya.”


5. Analisis dan Argumentasi

Secara lahir, banyak orang mengucap La Ilaha Illallah. Namun secara batin:

  • Ada yang masih “menyembah” harta
  • Ada yang tunduk pada manusia
  • Ada yang mengejar pujian

Tasawuf melihat:
Syirik tersembunyi lebih berbahaya daripada syirik terang-terangan.

Karena itu, hadits ini bukan jaminan otomatis, tetapi jaminan bagi yang benar-benar ikhlas.


6. Amalan (Implementasi)

  • Dzikir La Ilaha Illallah dengan hati hadir
  • Latihan niat sebelum beramal: “Ini hanya untuk Allah”
  • Menghindari pujian manusia
  • Banyak istighfar dari riya’
  • Sedekah diam-diam

7. Relevansi yang Viral di Zaman Sekarang

Di era sekarang:

  • Ibadah dipamerkan di media sosial
  • Sedekah direkam
  • Dakwah jadi konten

Masalahnya bukan pada medianya, tetapi pada niat di baliknya.

Tauhid yang murni mulai tergerus oleh:

  • Popularitas
  • Validasi manusia
  • Pencitraan religius

8. Motivasi

Jika hati benar-benar ikhlas:

  • Allah cukup sebagai tujuan
  • Tidak peduli dilihat atau tidak
  • Tidak goyah oleh pujian atau celaan

Ikhlas itu ringan di lisan, tapi berat di hati.


9. Muhasabah & Caranya

Tanya pada diri:

  • Jika tidak ada yang melihat, apakah aku tetap beramal?
  • Jika tidak dipuji, apakah aku tetap semangat?

Cara muhasabah:

  1. Kurangi publikasi amal
  2. Perbanyak amal tersembunyi
  3. Ingat kematian
  4. Berkhalwat (menyendiri dengan Allah)

10. Kemuliaan & Kehinaan

Di Dunia:

  • Ikhlas → hati tenang
  • Riya’ → gelisah, haus pujian

Di Alam Kubur:

  • Ikhlas → kubur luas dan terang
  • Riya’ → gelap dan sempit

Di Hari Kiamat:

  • Ikhlas → selamat dari hisab berat
  • Riya’ → amal hangus

Di Akhirat:

  • Ikhlas → surga tanpa azab
  • Riya’ → terancam neraka

11. Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا كُلَّهَا صَالِحَةً، وَلِوَجْهِكَ خَالِصَةً، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهَا شَيْئًا

“Ya Allah, jadikanlah seluruh amal kami amal yang shalih, dan jadikan semuanya ikhlas karena-Mu, serta jangan Engkau jadikan bagi selain-Mu sedikit pun bagian di dalamnya.”


12. Ucapan Terima Kasih

Semoga Allah membalas kebaikan bagi siapa saja yang membaca, menyebarkan, dan mengamalkan ilmu ini.
Jazakumullahu khairan katsiran. Semoga kita semua termasuk golongan yang mengucapkan La Ilaha Illallah dengan hati yang benar-benar ikhlas.

.......

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga bermanfa'at selalu.

—M. Djoko ekasanU—

.........

Bismillahirahmanirrahim.


Rabu, 22 Apr 2026


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Halo para penikmat ilmu, ada kiriman dari Masjid Nurul Jannah nih, hasil isya'an bareng Ust. Farid A. yang ngupas tipis-tipis kitab Irsyadul Ibad (karya Zainuddin Al-Malibari) – bidang tasawuf, akhlak, sufisme. Edisi 1041, yuk disimak:


---


Rasulullah saw bersabda:


عَنْ عُثْمَانَ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللهَ حَرَّمَ النَّارَ عَلَى مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ . رواه الشيخان


Artinya: “Dari Usman bin Malik berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah swt telah mengharamkan api neraka untuk membakar orang yang mengatakan La Ilaha Illallah dengan hati yang ikhlas untuk mencari keridaan Allah swt.” (HR. Bukhari Muslim)


---


La Ilaha Illallah: Kunci Selamat dari Api Neraka


1. Maknanya (biar nggak salah paham)


Hadis ini ngegas kalau kalimat La Ilaha Illallah bukan cuma diomoncé doang. Harus ada ikhlas (يبتغي بذلك وجه الله) – alias cari wajah Allah aja, gak pura-pura.


Dalam bahasa anak muda santri (tasawuf):


· La Ilaha = bersihin hati dari segala yang bukan Allah (takhalli).

· Illallah = isi hati cuma sama Allah (tahalli).

· Ikhlas = puncaknya tazkiyatun nafs, hati udah gak cari-cari selain ridha-Nya.


Jadi intinya: Yang nyelamatin bukan cuma ucapannya, tapi keikhlasan di hati.


2. Hukumnya (yang wajib dan yang haram)


· Wajib yakin bahwa La Ilaha Illallah itu inti tauhid.

· Haram namanya riya’ (beramal biar dilihat orang lain).

· Syarat sah tauhid ada 7: ilmu, yakin, ikhlas, jujur, cinta, tunduk, dan terima.


3. Hikmah (pelajaran kerennya)


· Amal dikit tapi ikhlas > amal banyak tapi ria.

· Neraka gak bakal nyentuh hati yang bener-bener bertauhid.

· Ikhlas itu “rahasia” antara hamba sama Allah – gak ada yang tahu kecuali Dia.


4. Dalil-dalil (Qur’an, Hadis, Hadis Qudsi)


· Al-Qur’an: “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas...” (QS. Al-Bayyinah:5)

· Hadis: “Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari Muslim)

· Hadis Qudsi: “Aku paling tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa beramal dengan menyekutukan-Ku, Aku tinggalkan dia dan sekutunya.”


5. Analisis (biar makin paham)


Secara lahir, banyak orang ngucapin La Ilaha Illallah. Tapi batinnya? Masih ada yang:


· “nyembah” harta,

· tunduk sama manusia,

· atau ngejar pujian.


Dalam tasawuf: syirik tersembunyi itu lebih bahaya dari syirik kentara. Jadi hadis ini bukan jaminan otomatis masuk surga ya, tapi jaminan buat yang bener-bener ikhlas.


6. Amalan (yang bisa langsung dipraktekin)


· Dzikir La Ilaha Illallah sambil hati hadir.

· Latihan niat sebelum beramal: “Ini cuma karena Allah.”

· Hindari pujian orang.

· Perbanyak istigfar dari riya’.

· Sedekah diam-diam (jangan story dulu, hehe).


7. Relevansi buat jaman now (viral abis)


Zaman medsos gini:


· Ibadah dipamerin di IG/TikTok,

· Sedekah direkam,

· Dakwah jadi konten.


Masalahnya bukan medianya, tapi niat di baliknya. Tauhid murni mulai tergerus sama: popularitas, validasi manusia, dan pencitraan ala-ala religi.


8. Motivasi (biar semangat ikhlas)


Kalau hati beneran ikhlas:


· Allah udah cukup jadi tujuan.

· Gak peduli diliat atau enggak.

· Gak goyah sama pujian atau cacian.


Ikhlas itu gampang diucapin, tapi berat di hati – tapi gaskeun aja!


9. Muhasabah & caranya (introspeksi yuk)


Coba tanya ke diri sendiri:


· “Kalau gak ada yang lihat, apa aku tetap beramal?”

· “Kalau gak dipuji, apa aku tetep semangat?”


Caranya:


· Kurangi publikasi amal.

· Perbanyak amal sembunyi.

· Ingat mati.

· Kadang menyendiri sama Allah (berkhalwat).


10. Kemuliaan vs Kehinaan


· Dunia: Ikhlas → hati tenang; Riya’ → gelisah, haus pujian.

· Alam kubur: Ikhlas → kubur luas & terang; Riya’ → gelap & sempit.

· Hari Kiamat: Ikhlas → selamat dari hisab berat; Riya’ → amal hangus.

· Akhirat: Ikhlas → surga tanpa azab; Riya’ → terancam neraka.


11. Doa (baca ini, yuk)


اللَّهُمَّ اجْعَلْ أَعْمَالَنَا كُلَّهَا صَالِحَةً، وَلِوَجْهِكَ خَالِصَةً، وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيهَا شَيْئًا

“Ya Allah, jadikanlah seluruh amal kami amal yang shalih, dan jadikan semuanya ikhlas karena-Mu, serta jangan Engkau jadikan bagi selain-Mu sedikit pun bagian di dalamnya.”


12. Ucapan terima kasih (jangan lupa baca)


Semoga Allah membalas kebaikan buat siapa aja yang baca, share, dan ngamalin ilmu ini.

Jazakumullahu khairan katsiran.

Semoga kita semua termasuk golongan yang ngucapin La Ilaha Illallah dengan hati yang bener-bener ikhlas.


---


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga bermanfaat, ya.


— M. Djoko ekasanU —