Edisi: 838
MAKSIAT: ANTARA QADHA–QADAR DAN PERINTAH ALLAH
Sebuah Telaah Aqidah Klasik dalam Kehidupan Modern
Oleh: M. Djoko Ekasanu
Adapun kamaksiatan, yaitu sesuatu yang diberi siksa, adalah merupakan qadla’, qadar, dan iradah Allah, juga penciptaan dan penelantaran Allah, akan tetapi bukan perintah, ridla’, mahabbah, dan petunjuk Allah. Ketahuilah bahwasanya madlul (yang dimaksudkan ) perintah bukan madlul kehendak, terkadang perintah terlepas dari kehendak, sebagaimana jika seoarang anak hakim membunuh seorang laki-laki dengan sengaja, maka hakim tersebut akan memerintahkan terhadap membunuh anaknya, dan hakim tersebut bukanlah yang menginkan terhadap hal itu.
Makna ridla’ ialah menerima terhadap sesuatu dan memberikan pahala padanya, atau tidak menyiksa terhadapnya. Adapun perkara-perkara mubah (yang diperbolehkan) bukan perintah Allah, dan segala sesuatu yang Allah telah mengetahui bahwa sesuatu tersebut akan dijadikan telah Allah kehendaki, baik yang diperintahkan atau tidak. Ketahuilah pula, bahwasanya orang kafir diperintah untuk beramal sebagaimana ia di perintah untuk beriman, ini menurut Imam Syafi’i yang berbeda dengan Imam Hanafi, dimana beliau mengatakan, bahwa orang kafir tidak diperintah untuk beramal akan tetapi ia diperintah untuk beriman.
Ringkasan Redaksi Aslinya
Maksiat adalah perbuatan yang ditakdirkan (qadha dan qadar Allah), dan termasuk dalam iradah serta penciptaan Allah, namun bukanlah perintah, bukan ridha, bukan cinta, dan bukan petunjuk Allah.
Perintah Allah tidak identik dengan kehendak-Nya, sebagaimana seorang hakim bisa memerintahkan eksekusi anaknya tanpa ia menginginkan kejahatan yang dilakukan anak itu.
Ridha berarti Allah menerima suatu amal dan memberi pahala.
Perkara mubah bukan perintah Allah, tetapi termasuk hal yang diketahui dan dikehendaki Allah.
Ulama berbeda pendapat: menurut Imam Syafi’i, orang kafir diperintah beramal, sedangkan menurut Imam Hanafi, mereka hanya diperintah beriman.
Latar Belakang Masalah di Masa Ulama Salaf
Pada masa sahabat dan tabi’in, muncul banyak aliran yang memperdebatkan masalah takdir, seperti:
- Qadariyah – menolak takdir.
- Jabariyah – menganggap manusia tidak berkehendak sama sekali.
- Murji’ah – memisahkan amal dari iman.
Para imam seperti Syafi’i, Ahmad, Malik, dan Abu Hanifah menekankan sikap tawasuth (pertengahan):
Manusia berbuat dengan kehendaknya, tetapi di bawah kehendak Allah.
Perdebatan ini muncul karena:
- Umat mulai menyebar ke berbagai daerah.
- Banyak pemikiran Yunani dan Persia masuk.
- Munculnya aliran politik yang membawa paham aqidah.
Sebab Terjadinya Masalah
- Kesalahpahaman makna takdir — apakah maksiat terjadi karena Allah menghendaki atau karena kehendak manusia?
- Perbedaan makna perintah dan kehendak.
- Perbedaan ushul fiqh antara Imam Syafi’i dan Imam Hanafi terkait perintah kepada orang kafir.
- Keinginan memahami keadilan Allah dalam konteks perbuatan manusia.
Intisari Judul
“Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk maksiat — tetapi Allah tidak menyukai maksiat.
Manusia bertanggung jawab atas pilihannya.”
Tujuan dan Manfaat Artikel
- Membantu pembaca memahami hubungan takdir, kehendak, dan perintah Allah.
- Menenangkan hati dari kebingungan antara qadar dan tanggung jawab pribadi.
- Menjadi panduan muhasabah di tengah kehidupan modern yang serba cepat.
DALIL QUR’AN DAN HADIS
1. Takdir dan Kehendak Allah
“Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat.”
(QS. Ash-Shaffat: 96)
“Tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan izin Allah.”
(QS. At-Taghabun: 11)
2. Allah tidak mencintai maksiat
“Allah tidak menyukai kerusakan.”
(QS. Al-Baqarah: 205)
3. Manusia tetap bertanggung jawab
“Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang dia kerjakan.”
(QS. Al-Muddatsir: 38)
4. Hadis
“Setiap anak Adam bersalah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)
Analisis dan Argumentasi
1. Allah menciptakan kemampuan berbuat – manusia memilih
- Api membakar dengan izin Allah, bukan karena api berkuasa.
- Manusia berbuat karena diberi qudrah (kesanggupan) dan ikhtiar (pilihan).
2. Perintah Allah bukan berarti Allah menghendaki hasilnya
Contoh dalam redaksi asli:
Seorang hakim memerintahkan eksekusi anaknya, tetapi ia tidak menginginkan tindakan kejahatan anaknya.
Analogi ini dipakai ulama untuk menjelaskan:
- Allah memerintah taat, tetapi manusia kadang memilih maksiat,
dan itu masuk dalam qadar, bukan dalam ridha.
3. Perbedaan Imam Syafi’i & Hanafi
- Syafi’i: Orang kafir diperintah beramal juga, sehingga azabnya bertingkat.
- Hanafi: Mereka hanya diperintah beriman.
Keduanya sepakat: keadilan Allah tidak pernah zalim.
Relevansi di Masa Teknologi, Komunikasi, Transportasi, Kedokteran, dan Sosial Modern
1. Di Era Digital
Maksiat digital (hoaks, fitnah, pornografi, penipuan online) menunjukkan:
- pilihan tetap di tangan manusia,
- namun semua terjadi dalam pengetahuan Allah.
2. Di Bidang Kedokteran
Ilmu medis semakin maju, tetapi:
- hidup, mati, dan sehat tetap dalam qadar Allah.
3. Transportasi & Mobilitas Tinggi
Kemudahan perjalanan menambah peluang kebaikan atau maksiat.
Teknologi netral—pilihan manusialah yang menentukan.
4. Media Sosial sebagai Ujian
Perintah Allah tetap, ujiannya semakin rumit.
Takdir memberi peluang, kebebasan memberi penilaian.
Hikmah
- Allah menghendaki adanya maksiat agar muncul taubat, sabar, dan jihad melawan nafsu.
- Kesalahan membuat manusia tidak sombong dan kembali kepada Allah.
- Tanpa maksiat, tidak ada kesempatan untuk taubat yang dicintai Allah.
Muhasabah & Caranya
- Duduk tenang 5 menit setiap malam.
- Catat dosa hari itu.
- Istighfar 33 kali + shalawat 33 kali.
- Ambil satu dosa, fokus tinggalkan seminggu.
- Sedekah minimal seribu rupiah setiap kali tergelincir maksiat.
- Perbanyak majelis ilmu agar hati kuat menolak maksiat.
Doa
“Ya Allah, tunjukilah kami jalan ketaatan, jauhkan kami dari maksiat,
kuatkan kami memilih yang Engkau ridhai,
dan jadikan takdir yang Kau tetapkan sebagai jalan menuju hidayah dan taubat.
Aamiin.”
Nasehat Ulama Besar
Hasan al-Bashri
“Dosa kecil perlahan menjadi gunung bila terus dilakukan tanpa taubat.”
Rabi‘ah al-Adawiyah
“Aku tidak takut neraka dan tidak berharap surga, aku hanya ingin Allah ridha.”
Abu Yazid al-Bistami
“Siapa mengenal dirinya, bersihlah hatinya dari maksiat.”
Junaid al-Baghdadi
“Tasawuf adalah perang melawan nafsu sepanjang hidup.”
Al-Hallaj
“Siapa melihat Allah, ia malu bermaksiat di depan-Nya.”
Imam al-Ghazali
“Nafsu tidak pernah mati, ia harus dikendalikan dengan ilmu dan dzikir.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani
“Jangan salahkan takdir, karena pilihanmu ikut menentukan.”
Jalaluddin Rumi
“Kesalahan adalah pintu masuk cahaya.”
Ibnu Arabi
“Setiap jatuh adalah kesempatan naik lebih tinggi dengan taubat.”
Syekh Ahmad al-Tijani
“Siapa menjaga dosa kecil, Allah menjaganya dari dosa besar.”
Testimoni Tokoh Indonesia
Gus Baha’
“Takdir itu luas, tetapi kewajiban kita sederhana: taat sebisa-bisanya.”
Ustadz Adi Hidayat
“Setiap takdir berkaitan dengan ilmu. Semakin paham, semakin tenang.”
Buya Yahya
“Allah tidak ridha maksiat. Maka jangan berharap berkah dari sesuatu yang dimurkai.”
Ustadz Abdul Somad
“Takdir tidak membenarkan maksiat.
Manusia akan ditanya, bukan takdirnya.”
Daftar Pustaka
- Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin.
- Imam Syafi’i, Ar-Risalah.
- Abu Hanifah, Fiqh al-Akbar.
- Ibn Taymiyyah, Majmu’ Fatawa.
- Muslim & Bukhari, Shahihain.
- Tafsir At-Tabari, Ibn Katsir, Al-Qurtubi.
- Kitab-kitab tasawuf klasik & kontemporer.
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada semua ulama, guru, orang tua, dan pembaca yang selalu mencari ilmu dan kebaikan. Semoga Allah membalas dengan pahala yang berlipat.
Oke, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai tapi tetap sopan dan menghormati topik seriusnya.
MAKSIAT: ANTARA QADHA-QADAR DAN PERINTAH ALLAH
Gimana Sih Allah Ngatur Semua Ini?
Oleh: M. Djoko Ekasanu
---
Intinya Gini...
Maksiat tuh emang udah ada dalam "skenario besar" Allah (qadha-qadar), dan itu terjadi karena Allah ngasih "lampu hijau" (iradah) dan "bahan bakunya" (penciptaan). Tapi, yang perlu lo catet baik-baik: Allah sama sekali nggak nyuruh, nggak suka, dan nggak ngasih petunjuk buat maksiat.
Nah, ini yang sering bikin bingung: "Perintah" itu beda sama "keinginan". Contoh gampangnya: Seorang hakim bisa aja ngeharusin anaknya sendiri buat dihukum mati karena pembunuhan. Si hakim nyuruh, tapi dia pasti nggak pengen anaknya jadi penjahat dan dihukum. Begitu juga Allah, Dia nyuruh kita buat taat, tapi kita kadang milih maksiat. Itu masuk dalam rencana-Nya, tapi bukan hal yang Dia suka.
"Ridho" Allah tuh artinya Dia nerima dan bakal kasih pahala atas suatu amalan. Buat hal-hal yang mubah (boleh-boleh aja), itu bukan perintah, tapi tetap aja Allah udah tau dan itu terjadi karena kehendak-Nya.
Ada perbedaan pendapat seru nih:
· Imam Syafi'i: Orang kafir tuh disuruh buat beramal juga, sama kayak disuruh beriman.
· Imam Hanafi: Mereka cuma disuruh buat beriman dulu, baru urusan amal.
---
Latar Belakang: Debat Seru Zaman Dulu
Jaman dulu banget, pas masa salaf, rame banget debat soal takdir. Banyak aliran muncul:
· Qadariyah: Percaya bahwa nasib kita 100% hasil usaha kita sendiri, takdir nggak ada.
· Jabariyah: Percaya bahwa kita ini cuma wayang, nggak punya kehendak sama sekali, semua sudah ditentukan.
· Murji'ah: Percaya bahwa iman cukup di hati, amal nggak pengaruh.
Nah, para Imam besar kayak Syafi'i, Ahmad, Malik, dan Abu Hanifah nawarin jalan tengah: Kita punya pilihan dan usaha, tapi semua itu terjadi dalam koridor kehendak Allah.
Kenapa sih debat ini bisa rame?
· Umat Islam udah nyebar ke mana-mana.
· Banyak pemikiran luar (Yunani, Persia) yang masuk.
· Ada muatan politik di balik paham-paham tersebut.
Inti dari Semua Ini: "Allah yang nciptain segalanya,termasuk kemungkinan untuk maksiat — tapi Allah benci banget sama maksiat. Kita, sebagai manusia, tetap pegang tanggung jawab atas pilihan kita sendiri."
---
Tujuan Nih Artikel Buat Apa?
· Biar kita paham hubungan antara takdir, kehendak Allah, dan perintah Allah.
· Biar hati adem, nggak galau mikirin "ini takdir atau salah gue?".
· Jadi bahan introspeksi diri di jaman sekarang yang serba cepat.
---
DALIL-DALILnya (Yang Ini Tetap Pakai Bahasa Aslinya)
1. Soal Takdir dan Kehendak Allah
· "Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat." (QS. Ash-Shaffat: 96)
· "Tidak ada sesuatu pun yang terjadi kecuali dengan izin Allah." (QS. At-Taghabun: 11)
2. Allah Nggak Suka Maksiat
· "Allah tidak menyukai kerusakan." (QS. Al-Baqarah: 205)
3. Tapi Kita Tetap Ditagih Tanggung Jawab
· "Setiap jiwa bertanggung jawab atas apa yang dia kerjakan." (QS. Al-Muddatsir: 38)
4. Hadis
· "Setiap anak Adam bersalah, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat." (HR. Tirmidzi)
---
Analisis & Argumen (Versi Santai)
1. Allah yang Kasih Kemampuan, Kita yang Pilih Api bisa membakar karena Allah yang ngasih kekuatan itu, bukan karena api itu jagoan. Kita bisa berbuat karena dikasih qudrah (kemampuan) dan ikhtiar (kebebasan milih).
2. Disuruh Bukan Berarti Dioleh-in Kayak contoh hakim tadi. Allah nyuruh taat, tapi kita kadang milih yang lain. Pilihan kita yang salah itu tetap terjadi dalam pengetahuan Allah (qadar), tapi itu nggak bikin Dia ridho.
3. Perdebatan Imam Syafi'i vs. Hanafi Intinya, mereka beda pendapat soal detail perintah ke orang kafir. Tapi, mereka sepakat banget: Allah Maha Adil, nggak mungkin zalim.
---
Relevansinya di Jaman Now
1. Era Digital Maksiat digital kayak sebarnya hoax, bullying online, atau konten gak senonoh? Itu tetep pilihan lo. Allah udah tau, tapi lo yang milih buat ngelakuin atau nggak.
2. Bidang Kedokteran Teknologi medis secanggih apapun, hidup-mati-sehat-sakit ujung-ujungnya tetap di tangan Allah (qadar).
3. Transportasi & Mobilitas Kemudahan jalan-jalan bikin kita punya lebih banyak pilihan: buat silaturahmi atau buat hal yang nggak bermanfaat. Teknologi netral, yang pake yang nentuin.
4. Media Sosial = Ujian Level Akhir Perintah Allah tetep sama, tapi ujiannya makin kompleks. Takdir kasih kita akses, kebebasan kita yang nentuin kita pake buat apa.
---
Hikmah di Balik Semua Ini
· Allah ngijinin maksiat ada biar kita bisa belajar taubat, sabar, dan lawan nafsu.
· Jatuh ke dalam salah bikin kita nggak sok suci dan inget lagi sama Allah.
· Kalo nggak ada dosa, kita nggak bakal kenal yang namanya taubat, yang justru disayang banget sama Allah.
---
Tips Muhasabah Ala Anak Zaman Now
1. Me Time: Luangin 5 menit sebelum tidur, diem aja, nafas dalem.
2. Dosa Tracker: Catet dosa-dosa seharian di notes hape (jangan lupa di-delete setelahnya!).
3. Quick Cleanse: Baca Istighfar 33x + Shalawat 33x.
4. One Goal: Pilih satu dosa kecil, fokus buat nggak ngulanginya selama seminggu.
5. Social Fines: Kalo kecebur lagi做 hal yang dilarang, sedekah aja seribu rupiah (atau lebih) sebagai "denda".
6. Fill Your Soul: Ikut kajian online atau baca konten agama biar hati kuat.
---
Doa (Bahasa Indonesia Biar Lebih Kena)
"Ya Allah, tunjukin kami jalan buat taat, jauhin kami dari maksiat. Kuatkan kami buat milih hal-hal yang bikin Engkau ridho. Dan jadikan takdir yang Engkau tentuin itu sebagai jalan buat kami dapetin hidayah dan taubat. Aamiin."
---
Kata-Kata Bijak Para Legenda
· Hasan al-Bashri: "Dosa kecil kalo dikumpulin pelan-pelan, akhirnya jadi gunung."
· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Gue nggak takut neraka, gue juga nggak ngarepin surga. Gue cuma pengin Allah ridho aja."
· Abu Yazid al-Bistami: "Siapa yang kenal dirinya sendiri, hatinya bakal bersih dari maksiat."
· Junaid al-Baghdadi: "Tasawuf itu perang melawan nafsu seumur hidup."
· Al-Hallaj: "Siapa yang ngerasain 'kehadiran' Allah, dia bakal malu buat maksiat di 'depan'-Nya."
· Imam al-Ghazali: "Nafsu itu nggak bakal mati, cuma bisa dikendaliin pake ilmu dan dzikir."
· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Jangan nyalahin takdir, soalnya pilihan lo juga ngaruh."
· Jalaluddin Rumi: "Kesalahan itu sering jadi pintu masuknya cahaya."
· Ibnu Arabi: "Setiap jatuh itu kesempatan buat bangun lebih tinggi dengan taubat."
· Syekh Ahmad al-Tijani: "Siapa yang jaga-jaga dari dosa kecil, Allah yang akan jaga dia dari dosa besar."
---
Testimoni Tokoh Indonesia (Versi Singkat)
· Gus Baha': "Takdir itu luas banget, tapi kewajiban kita sederhana: taat semampunya."
· Ustadz Adi Hidayat: "Setiap takdir itu nyambung sama ilmu. Makin paham, makin tenang."
· Buya Yahya: "Allah nggak ridho sama maksiat. Jadi jangan harap berkah dari hal yang dibenci-Nya."
· Ustadz Abdul Somad (UAS): "Takdir itu nggak membenarkan maksiat. Manusianya yang akan ditanya, bukan takdirnya."
---
Daftar Pustaka (Tetap Keren)
· Al-Ghazali, Ihya' Ulumiddin.
· Imam Syafi'i, Ar-Risalah.
· Abu Hanifah, Fiqh al-Akbar.
· Ibn Taymiyyah, Majmu' Fatawa.
· Shahih Bukhari & Muslim.
· Tafsir At-Tabari, Ibn Katsir, Al-Qurtubi.
· Dan banyak kitab tasawuf klasik & kontemporer lainnya.
---
Ucapan Terima Kasih
Big thanks untuk semua ulama, guru, orang tua, dan kalian para pembaca yang selalu haus akan ilmu dan kebaikan. Semoga Allah balas semuanya dengan pahala yang berlipat!

