Tuesday, October 14, 2025

 

Perbandingan antara orang berilmu (‘alim) dan orang ahli ibadah (‘abid) telah dijelaskan dengan sangat indah dalam Al-Qur’an, hadis, dan penjelasan para ulama. Berikut penjelasan lengkapnya:


🌿 1. Dalil Al-Qur’an

📖 QS. Al-Mujadilah: 11

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

"Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat."

🪶 Makna:
Orang berilmu mendapat kedudukan tinggi di sisi Allah, bahkan lebih tinggi dari sekadar orang beriman atau ahli ibadah yang tidak berilmu.


🌙 2. Hadis Nabi ﷺ

🕋 HR. Tirmidzi dan Abu Dawud:

فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ

“Keutamaan orang berilmu dibanding orang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.”

🪶 Makna:
Perbandingan ini menunjukkan jarak kemuliaan yang sangat jauh. Orang berilmu bukan hanya lebih banyak tahu, tetapi menjadi penerang bagi manusia lain, sebagaimana Nabi menjadi penerang bagi umat.


🌞 3. Penjelasan Ulama

💬 Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumuddin berkata:

“Ibadah tanpa ilmu seperti berjalan tanpa petunjuk. Sedang ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah.”

🪶 Artinya:
Ahli ibadah yang tidak paham ilmu bisa salah arah — ia mungkin rajin, tetapi bisa salah niat atau salah tata cara.
Sedangkan orang berilmu tahu bagaimana, kapan, dan mengapa ia beribadah.


📘 4. Analogi Rasulullah ﷺ

Dalam hadis lain disebutkan:

“Orang berilmu itu lebih utama atas ahli ibadah sebagaimana bulan purnama lebih terang dibanding seluruh bintang di langit.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

🌙 Makna:
Ahli ibadah seperti bintang — indah dan bercahaya untuk dirinya.
Sedangkan orang berilmu seperti bulan — menerangi sekelilingnya.


🌾 5. Hakekat Perbandingan

Aspek Orang Berilmu (‘Alim) Orang Ahli Ibadah (‘Abid)
Tujuan Ibadah Beribadah dengan pemahaman dan kesadaran Beribadah karena kebiasaan dan semangat
Manfaat untuk Orang Lain Menyebarkan petunjuk, mengajar, memperbaiki umat Hanya bermanfaat bagi dirinya sendiri
Kedudukan di sisi Allah Ditinggikan derajatnya (QS. Al-Mujadilah: 11) Mulia karena taat, tapi tidak setinggi orang berilmu
Ketahanan dari kesesatan Aman dari bid’ah dan kebodohan Bisa tergelincir karena tidak tahu hukum
Perumpamaan Bulan purnama Bintang kecil

💡 6. Hikmah

  1. Ilmu adalah cahaya, ibadah adalah tenaga. Tanpa cahaya, tenaga bisa salah arah.
  2. Orang berilmu menjadi penyebab orang lain mengenal Allah.
  3. Ilmu tanpa ibadah kering, ibadah tanpa ilmu buta.
  4. Orang berilmu hidup meski jasadnya mati, karena ilmunya terus mengalir.

🕊️ 7. Nasihat Para Wali

💬 Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata:

“Ilmu itu imam, amal itu makmumnya. Siapa yang beramal tanpa ilmu, amalnya tertolak.”

💬 Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari berkata:

“Ilmu yang tidak membimbingmu kepada Allah, hanyalah hujah atas dirimu, bukan cahaya bagimu.”


🌺 8. Relevansi di Zaman Sekarang

Di zaman modern ini, banyak orang rajin ibadah tapi mudah terhasut hoaks agama atau ajaran sesat karena kurang ilmu.
Sebaliknya, orang berilmu yang ikhlas dapat membimbing masyarakat agar beribadah dengan benar dan menjadikan Islam rahmatan lil ‘alamin.


🌸 Kesimpulan:

🔹 Orang ahli ibadah menyalakan pelita untuk dirinya.
🔹 Orang berilmu menyalakan pelita untuk dirinya dan orang lain.
🔹 Maka, menuntut ilmu adalah ibadah yang lebih utama daripada ibadah yang tidak didasari ilmu.


Berikut draf bacaan koran Islami sesuai permintaan Anda — lengkap, bernuansa tasawuf, dan berbentuk seperti naskah artikel rubrik keagamaan untuk pembaca umum.


🕌 Perbandingan Orang Berilmu dengan Orang Ahli Ibadah

(Refleksi Hikmah Ilmu dan Amal dalam Pandangan Para Arif Billah)

Penulis: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Asli

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Keutamaan orang berilmu atas orang ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian."
(HR. Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah)

Hadis ini menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar pengetahuan, tetapi cahaya yang membimbing ibadah menuju makna dan keikhlasan. Ibadah tanpa ilmu dapat tersesat arah, sementara ilmu tanpa ibadah adalah kesombongan yang hampa amal.


Maksud

Perbandingan ini bukan untuk merendahkan ahli ibadah, tetapi untuk menunjukkan kedudukan ilmu sebagai cahaya yang menuntun ibadah kepada hakikat kebenaran. Orang berilmu tahu apa yang ia sembah dan bagaimana caranya, sedangkan orang yang hanya beribadah tanpa ilmu bisa jadi rajin namun keliru dalam tujuannya.


Hakekat

Hakikat dari perbandingan ini adalah kesatuan antara ilmu dan amal. Ilmu adalah panduan, ibadah adalah perjalanan. Ilmu menyingkap hakikat, sedangkan ibadah menyucikan jiwa. Tidak akan sampai seorang hamba kepada Allah tanpa ilmu yang benar, dan tidak akan diterima ilmunya tanpa amal yang tulus.


Tafsir dan Makna Judul

“Perbandingan orang berilmu dan orang ahli ibadah” bermakna bahwa Allah mengangkat derajat orang yang berilmu karena mereka memberi manfaat bukan hanya kepada diri sendiri, tetapi juga kepada umat.
Sebagaimana firman Allah:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.”
(QS. Al-Mujadilah: 11)


Tujuan dan Manfaat

  • Menumbuhkan kesadaran pentingnya menuntut ilmu disertai ibadah.
  • Mengingatkan umat agar tidak terjebak dalam ibadah lahir tanpa makna batin.
  • Mendorong keseimbangan antara dzikir, fikir, dan amal shalih.

Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, banyak sahabat yang tekun beribadah namun belum memahami kedalaman syariat. Rasulullah menegaskan bahwa ilmu harus menjadi dasar ibadah. Tanpa ilmu, banyak amal tidak sampai pada derajat diterima karena salah niat atau cara.


Intisari Masalah

Yang membedakan antara orang berilmu dan ahli ibadah bukan jumlah rakaat atau lamanya sujud, tetapi kedalaman makna dan kesadaran spiritual. Ilmu menanamkan niat, adab, dan makrifah; ibadah menyuburkan jiwa dengan amal dan cinta.


Sebab Terjadinya Masalah

Manusia sering mengira banyaknya ibadah berarti lebih dekat kepada Allah, padahal tanpa ilmu, ibadah bisa menjadi rutinitas tanpa ruh. Ketidakseimbangan antara ilmu dan amal inilah yang membuat sebagian orang berhenti di kulit agama, tidak sampai ke intinya.


Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  • Al-Qur’an:

    “Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
    (QS. Az-Zumar: 9)

  • Hadis:

    “Satu orang alim lebih ditakuti setan daripada seribu orang ahli ibadah.”
    (HR. Tirmidzi)


Analisis dan Argumentasi

Ibadah tanpa ilmu ibarat kapal tanpa kompas — mungkin berlayar jauh, tetapi mudah tersesat. Ilmu tanpa ibadah ibarat peta tanpa perjalanan — tahu arah, namun tidak pernah sampai. Keduanya harus berpadu.
Orang berilmu menghidupkan hati dengan pengetahuan yang menuntun ibadahnya, sedangkan ahli ibadah tanpa ilmu bisa mengeraskan hati dengan rutinitas yang kosong makna.


Relevansi Saat Ini

Di zaman media sosial dan informasi cepat, banyak orang berpendapat tanpa dasar ilmu agama. Banyak yang rajin beribadah namun mudah menyalahkan orang lain. Karena itu, perpaduan antara ilmu dan ibadah menjadi kebutuhan zaman modern agar umat tidak terseret dalam kebodohan spiritual.


Hikmah

  1. Ilmu adalah cahaya, ibadah adalah bahan bakarnya.
  2. Ibadah tanpa ilmu bisa menimbulkan kesombongan.
  3. Ilmu tanpa ibadah menimbulkan keangkuhan intelektual.
  4. Ilmu menghidupkan hati, ibadah menghidupkan ruh.

Muhasabah dan Caranya

  • Bertanyalah kepada diri sendiri: Apakah ibadahku berlandaskan ilmu atau hanya kebiasaan?
  • Luangkan waktu membaca, merenung, dan berguru kepada ulama yang saleh.
  • Jadikan setiap amal disertai niat memahami dan mendekat kepada Allah, bukan hanya mengisi waktu.

Doa

اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَمِلَ بِهِ وَنَفَعَ بِهِ النَّاسَ
Allahumma aj‘alna mimman ta‘allamal ‘ilma wa ‘amila bihi wa nafa‘a bihi an-nas.

Ya Allah, jadikan kami termasuk orang yang belajar ilmu, mengamalkannya, dan memberi manfaat bagi manusia.


Nasehat Para Sufi dan Ulama

  • Hasan al-Bashri: “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku beribadah bukan karena takut neraka atau ingin surga, tapi karena aku mengenal-Nya.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Ilmu membawa kepada Allah, bukan kepada kebanggaan.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Ilmu adalah warisan para nabi, amal adalah warisan para wali.”
  • Al-Hallaj: “Ilmu tanpa cinta adalah kegelapan.”
  • Imam al-Ghazali: “Orang alim tanpa amal seperti lampu yang menerangi orang lain tapi membakar dirinya sendiri.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Ilmu harus menuntunmu kepada amal, dan amal menuntunmu kepada ikhlas.”
  • Jalaluddin Rumi: “Ilmu yang tidak menumbuhkan cinta hanyalah debu di otak.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Hakikat ilmu adalah mengenal Allah dengan cinta.”
  • Ahmad al-Tijani: “Ilmu tanpa ma‘rifah adalah dinding yang menutup pandangan dari cahaya Ilahi.”

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Sahih Tirmidzi, Kitab al-‘Ilm
  3. Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  4. Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Al-Risalah al-Qusyairiyah – Imam al-Qusyairi
  6. Diwan Rumi – Jalaluddin Rumi
  7. Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca yang terus mencintai ilmu dan ibadah. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bahwa kedekatan kepada Allah tidak hanya dengan banyaknya amal, tetapi dengan dalamnya pemahaman dan tulusnya niat.


Apakah Anda ingin saya buatkan versi layout “bacaan koran Islami” siap cetak (format PDF, dua kolom, dengan foto dan heading khas surat kabar)?
Jika ya, saya bisa bantu siapkan desain halaman depan dan format tipografinya.


KASIH SAYANG MALAIKAT KEPADA ORANG MUKMIN SAAT SAKARATUL MAUT. (2).

 


🌿 KASIH SAYANG MALAIKAT KEPADA ORANG MUKMIN SAAT SAKARATUL MAUT


Oleh: M. Djoko Ekasanu



Al-Faqih, Rasulullah  bersabda: “Bahwasanya orang mukmin dikunjungi malaikat yang memegang sutra berisi minyak kasturi (di waktu sakaratul maut), ia mencabut ruhnya sangat pelan, seperti mengambil rambut dari dalam adunan, seraya menyeru: “Hai jiwa yang tenang, pulanglah ke hadirat Tuhanmu dengan hati puas dan diridai Tuhan”. (A-Fajr 27-28) Pulanglah dengan rahmat dan rida Allah, ketika ruh keluar terus diletakkan pada minyak kasturi dan bunga-bunga, dibungkus sutra dan diunjukkan ke sorga ‘Illiyyin”.

(Al-Hadis) Hadis diriwayatkan Abu Ja’far dengan sanadnya Abdullah bin Umar ikatanya: Seorang mukmin ketika masuk kubur, menjadi luaslah kuburnya sampai 70 hasta, bunga-bunga harum bertaburan, sutra dihamparkan baginya, sedikit hafalan dari Alquran menjadi penerang baginya seperti cahaya matahari, layaknya seperti pengantin baru, tiada seorangpun yang berani membangunkan dari tidurnya kecuali sang kekasih (demikianlah nikmatnya).

-------


Baik. Berikut naskah “bacaan koran” yang bisa digunakan untuk artikel islami bergaya renungan dan dakwah berdasarkan hadis tentang kelembutan malaikat mencabut ruh orang mukmin dan nikmat kuburnya — disusun lengkap dengan struktur yang Anda minta.


Ringkasan Redaksi Asli Hadis

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya orang mukmin didatangi malaikat yang membawa sutra berisi minyak kasturi. Ruhnya dicabut dengan lembut, seperti rambut yang diambil dari adonan, sambil diseru: ‘Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas dan diridai-Nya.’ (QS. Al-Fajr: 27–28). Ruh itu lalu dibungkus dengan sutra dan dibawa ke surga ‘Illiyyin.”

Hadis lain meriwayatkan: “Ketika seorang mukmin masuk ke kubur, dilapangkan baginya sejauh 70 hasta, dipenuhi bunga-bunga dan wewangian, diterangi oleh hafalannya dari Al-Qur’an, dan ia beristirahat seperti pengantin baru yang tidak dibangunkan kecuali oleh kekasihnya.”


Maksud dan Hakekat

Hadis ini menggambarkan rahmat dan kelembutan Allah kepada orang mukmin saat menghadapi kematian. Ruh tidak diambil dengan keras, tetapi dijemput dengan kasih sayang. Malaikat bukanlah sosok menakutkan bagi mereka yang hidup dalam iman, tetapi menjadi sahabat yang menenangkan di saat akhir perjalanan dunia.

Hakekatnya, kematian bukanlah akhir, melainkan peralihan menuju pertemuan dengan Kekasih sejati — Allah Ta’ala.


Tafsir dan Makna Judul

“Kasih Sayang Malaikat kepada Orang Mukmin” bermakna bahwa kematian bagi mukmin adalah rahmat yang indah, bukan penyiksaan. Malaikat yang turun bukan membawa ketakutan, melainkan membawa kabar gembira: “Selamat datang wahai jiwa yang tenang.”

Ayat yang menjadi dasar (QS. Al-Fajr: 27–30):

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”

Ayat ini menjadi salam penyambutan surgawi bagi ruh-ruh yang hidup dalam ketaatan.


Tujuan dan Manfaat

  1. Menanamkan rasa cinta kepada kematian bagi mukmin yang rindu bertemu Tuhannya.
  2. Mengingatkan bahwa amal dan zikir di dunia akan menjadi bunga dan cahaya kubur.
  3. Menghibur hati yang berduka atas kematian orang beriman.
  4. Mendorong setiap jiwa untuk menyiapkan kematian dengan amal saleh.

Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, banyak kaum yang takut terhadap kematian dan menganggapnya sebagai azab mutlak. Maka beliau menjelaskan bahwa bagi orang beriman, kematian adalah pintu menuju rahmat dan pertemuan dengan Allah.
Pesan ini menenangkan para sahabat agar tidak berduka ketika menghadapi ajal.


Intisari Masalah

  • Ruh orang mukmin dijemput dengan kelembutan.
  • Malaikat membawa wangi surga dan sutra.
  • Kubur menjadi taman dari taman-taman surga.
  • Hafalan Al-Qur’an menjadi cahaya penerang.
  • Mukmin beristirahat damai menunggu hari kebangkitan.

Sebab Terjadinya Masalah

Manusia sering lalai mempersiapkan kematian, menganggap dunia abadi. Maka Allah mengingatkan melalui Rasul-Nya bahwa kematian adalah kemuliaan bagi yang beriman dan kehinaan bagi yang durhaka.


Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  1. QS. Al-Fajr: 27–30 – tentang jiwa yang tenang.
  2. QS. An-Nahl: 32

    “(Yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan: ‘Salam sejahtera atasmu, masuklah ke dalam surga karena apa yang telah kamu kerjakan.’”

  3. HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Hakim:

    “Sesungguhnya ruh orang mukmin keluar dengan lembut sebagaimana setetes air keluar dari mulut tempat air.”


Analisis dan Argumentasi

Kelembutan malaikat mencabut ruh menunjukkan tingkat kemuliaan spiritual seorang mukmin. Semakin bersih hati seseorang dari cinta dunia, semakin mudah ruhnya keluar.
Sebaliknya, orang yang keras hatinya akan mengalami kesakitan sakaratul maut karena jiwanya masih terikat dengan dunia.
Dalam ilmu tasawuf, ini disebut takhallī (mengosongkan hati dari dunia) sebelum taḥallī (mengisinya dengan cinta Ilahi).


Relevansi Saat Ini

Di zaman modern yang penuh kesibukan dan kegelisahan, hadis ini mengajarkan ketenangan menghadapi kematian. Banyak orang takut mati karena belum siap.
Padahal, bagi yang berzikir, berbuat baik, dan menegakkan salat, kematian adalah perjumpaan penuh rindu dengan Sang Kekasih.
Ketenangan sakaratul maut adalah hasil dari ketenangan hidup di dunia.


Hikmah

  1. Kematian adalah awal dari kehidupan yang sejati.
  2. Ruh mukmin disambut dengan kelembutan dan harum surga.
  3. Amal saleh menjadi wangi di alam barzakh.
  4. Ketakutan akan mati sirna jika hati dipenuhi cinta Allah.

Muhasabah dan Caranya

  • Setiap malam: renungkan seandainya malam ini adalah malam terakhir hidup kita.
  • Setiap pagi: niatkan seluruh pekerjaan sebagai ibadah.
  • Setiap dosa: segera istighfar sebelum ajal menjemput.
  • Setiap zikir: hadirkan bayangan saat ruh dijemput lembut dengan kasturi surga.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَاتِمَتَنَا خَيْرًا، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ، وَلاَ تَجْعَلْ آخِرَ كَلَامِنَا إِلَّا شَهَادَةَ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ.

“Ya Allah, jadikanlah akhir kehidupan kami sebagai akhir yang baik. Anugerahkan kami husnul khatimah, dan jadikan kalimat terakhir di lisan kami kalimat tauhid: Lā ilāha illallāh, Muḥammadur Rasūlullāh.


Nasihat Para Arif Billah

  • Hasan al-Bashri: “Dunia hanyalah mimpi, kematianlah yang membangunkanmu.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak takut mati, karena aku akan pulang kepada Kekasihku.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Kematian bagi kekasih Allah adalah seperti tidur dalam pelukan rahmat.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Bagi yang mengenal Allah, mati adalah pertemuan, bukan perpisahan.”
  • Al-Hallaj: “Mati syahid adalah fana dalam cinta.”
  • Imam al-Ghazali: “Kematian adalah hijrah menuju keabadian.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Matilah sebelum engkau mati, maka engkau akan hidup selamanya.”
  • Jalaluddin Rumi: “Kematian bukanlah akhir nyala lilin, melainkan permulaan cahaya.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Yang mati hanyalah bentuk, bukan hakikat.”
  • Ahmad al-Tijani: “Bersiaplah dengan zikir sebelum engkau dijemput malaikat maut.”

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim.
  2. Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Mustadrak al-Hakim.
  3. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali.
  4. Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi.
  5. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  6. Maqamat al-Sufiyyah – Junaid al-Baghdadi.
  7. Mathnawi – Jalaluddin Rumi.

Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan terima kasih kepada para guru, pembimbing ruhani, dan seluruh pembaca yang terus mencintai ilmu dan zikir. Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah yang menenangkan ruh-ruh kita saat dijemput dengan sutra dan kasturi surga.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai dan mudah dipahami, tapi tetap sopan dan menghormati makna spiritualnya.


---


🌿 Malaikat Bawa Bunga & Minyak Wangi Buat Kamu yang Beriman (Saat Sakaratul Maut)


Oleh: M. Djoko Ekasanu


Gambaran Singkat (Versi Original):


Rasulullah ﷺ bilang: Pas orang beriman lagi sakaratul maut, datanglah malaikat bawa kain sutra isi minyak kasturi. Ruhnya dicabut pelan banget, kayak ambil sehelai rambut dari adonan tepung. Sambil dicabut, malaikat itu ngomong, “Hai jiwa yang tenang, pulanglah ke hadirat Tuhanmu dengan hati puas dan diridai Tuhan” (QS. Al-Fajr: 27-28). Terus ruhnya ditaro di minyak wangi dan bunga-bunga, dibungkus pake sutra, dan diajak jalan-jalan ke surga ‘Illiyyin.


Ada juga hadis lain yang bilang: Pas orang mukmin masuk kubur, kuburnya jadi luas banget—sampe 70 hasta! Isinya bunga-bunga harum dan kain sutra. Hafalan Al-Qur’an-nya jadi lampu penerang kayak cahaya matahari. Dia di sana istirahat nyenyak kayak pengantin baru, gak ada yang berani ganggu kecuali Sang Kekasih (Allah). Serius, senyaman itu!


---


Maksud & Intinya:


Intinya, buat orang yang imannya kuat, kematian itu bukan hal serem. Malah, itu kayak lagi dijemput sama sahabat baik yang bawa hadiah. Malaikat datengnya bukan bawa pentungan, tapi bawa sutra dan minyak wangi. Prosesnya lembut banget, karena mereka ngelayanin orang yang hatinya deket sama Allah.


Kematian bagi mukmin itu bukan akhir cerita, tapi awal ketemuan sama Sang Kekasih Sejati.


Judulnya “Kasih Sayang Malaikat” itu artinya: buat orang beriman, malaikat itu kayak delivery service-nya Allah yang bawa paket bahagia menuju surga.


Ayat Andalan: QS. Al-Fajr ayat 27-30 itu kayak pamflet sambutan dari surga: “Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai. Masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”


Tujuannya Apa Sih?


· Biar kita gak takut mati, malah rindu ketemu Allah.

· Ngingetin kalo amal kita di dunia itu nanti jadi “bunga & lampu” di alam kubur.

· Ngasih semangat buat isi hidup dengan hal yang bermanfaat.

· Nghibur yang lagi sedih karena ditinggal orang shaleh.


Kenapa Dulu Rasulullah Cerita Ini?


Zaman dulu, banyak orang yang ngira mati itu serem dan menyiksa. Nah, Rasulullah mau kasih gambaran yang beda: buat orang beriman, meninggal itu ternyata indah. Ini bikin para sahabat tenang dan gak panik menghadapi ajal.


Inti Masalahnya:


· Orang beriman dijemput dengan cara yang premium.

· Malaikat bawa item surga (sutra & kasturi).

· Kubur jadi kayak private garden yang nyaman.

· Hafalan Qur’an = flashlight terang benderang.

· Mukmin tidur nyenyak nunggu hari kebangkitan.


Penyebabnya Sederhana:


Kita sering lupa kalo hidup cuma sementara. Dunia dianggapnya permanen, padahal cuma guest house. Makanya, Allah kasih reminder lewat Rasul-Nya: Siapin diri, karena kematian itu bisa jadi promo menuju surga.


Dasar Dalilnya:


· QS. Al-Fajr: 27-30 & QS. An-Nahl: 32.

· Hadis riwayat Ahmad, Abu Dawud, Hakim: “Ruh orang mukmin keluar lembut kayak setetes air yang jatuh dari mulut gelas.”


Analisis & Argumen:


Kalo ruhnya bisa keluar dengan mudah, itu tanda hatinya bersih. Semakin kita melekat sama dunia, semakin sakit dan berat proses sakaratul mautnya. Ini dalam tasawuf namanya takhallī—bersihin hati dari dunia—sebelum taḥallī—ngisi sama cinta Ilahi.


Relevansi Buat Kita Sekarang:


Di zaman yang serba cepat dan bikin stres, hadis ini kayak reminder healing. Banyak orang takut mati karena belum siap. Padahal, kalo hidupnya penuh zikir, salat, dan baik ke orang lain, kematian itu kayak reunion sama Yang Dirinduin.


Hikmah yang Bisa Diambil:


· Mati = awal hidup yang sebenernya.

· Amal shaleh = investasi wangi di akhirat.

· Rasa takut bisa ilang kalo hati udah penuh cinta Allah.


Muhasabah Ala Kekinian:


· Sebelum tidur: “Gimana kalo ini malem terakhir? Udah siap belum?”

· Pas bangun pagi: “Ayo, hari ini mau ngisi apa biar berarti?”

· Kalau bikin salah: “Istighfar dulu, jangan nunda-nunda!”

· Saat zikir: “Bayangin deh, nanti dijemputnya pake kasturi, wangiiii.”


Doa Singkat Biar Khusnul Khotimah:


“Ya Allah, akhirin hidup kami dengan baik. Kasih kami akhir yang husnul khatimah, dan jadikan kalimat terakhir kami: Lā ilāha illallāh, Muḥammadur Rasūlullāh.”


Kata-Kata Motivasi Para Sufi (Versi Santai):


· Hasan al-Bashri: “Dunia tuh cuma mimpi, mati baru kebangun.”

· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Gue sih gak takut mati, soalnya gue mau pulang ke Kekasih.”

· Abu Yazid al-Bistami: “Mati buat pecinta Allah tuh kayak tidur di pelukan-Nya.”

· Junaid al-Baghdadi: “Bagi yang kenal Allah, mati tuh ketemu, bukan pisah.”

· Al-Hallaj: “Mati syahid tuh ultimate proof cinta.”

· Imam al-Ghazali: “Mati tuh pindah rumah ke alam keabadian.”

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Matiin egomu sebelum lo beneran mati, nanti lo bakal hidup selamanya.”

· Jalaluddin Rumi: “Mati itu bukan api lilinnya yang padam, tapi sinarnya yang nyala abadi.”

· Ibnu ‘Arabi: “Yang mati cuma wadahnya, bukan esensinya.”

· Ahmad al-Tijani: “Siapin zikir dari sekarang, sebelum malaikat maut dateng.”


Daftar Pustaka (Tetap Kredibel):


· Al-Qur’an.

· Musnad Ahmad, Sunan Abu Dawud, Mustadrak al-Hakim.

· Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali.

· Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi.

· Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

· Maqamat al-Sufiyyah – Junaid al-Baghdadi.

· Mathnawi – Jalaluddin Rumi.


Ucapan Terima Kasih:


Penulis ngucapin makasih buat semua guru, pembimbing, dan kalian yang udah baca sampe sini. Semoga tulisan ini bikin kita semua tenang dan siap pas dijemput malaikat dengan layanan bintang lima! Aamiin.

KETIKA ISRAFIL AS. MENUNGGU PERINTAH TIUPAN SANGKAKALA.




🕊️ KETIKA ISRAFIL AS. MENUNGGU PERINTAH TIUPAN SANGKAKALA

Oleh: M. Djoko Ekasanu



Ketahuilah, sesungguhnya malaikat Israfil as. itu mempunyai tanduk. Dan Allah Ta’ala menjadikan Lauhul Mahfudz dari intan yang putih, yang panjangnya antara langit dan bumi kali tujuh, kemudian Allah menguntungkannya di Arasy, telah ditulis dalam Lauhul Mahfudz yaitu sesuatu yang tetap sampai pada hari kiamat.

Bagi malaikat Israfil itu mempunyai empat sayap, satu sayap ada di timur dan satu sayap berada di barat, satu sayapnya (lagi) menutupi dirinya, dan sayap (keempat) menutupi kepalanya. Wajahnya malaikat Israfil itu kuning, karena dari rasa takut kepada Allah Ta’ala, yang menundukkan kepalanya, yang memandang ke arah Arasy. Dan salah satu (dari) kakinya Arasy dengan kekuasaan Allah. Karena sesungguhnya Israfil itu kuning, (karena) dari rasa takut kepada Allah Ta’ala, kuningnya seperti burung pipit.

Maka ketika Allah menetapkan sesuatu di Lauh, dan membuka tutup wajahnya Israfil. Akhirnya ia bisa melihat kepada sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah dari suatu hukum dan perintah. Dan tidak ada dalam (kalangan) para malaikat yang lebih dekat tempatnya dari Arasy, (kecuali) malaikat Israfil as, (jarak) antara Israfil dan Arasy ada tujuh tabir dari beberapa tabir, sampai kepada beberapa tabir (kira-kira jarak) dalam perjalanan 500 tahun. Dan jarak antara Jibril dan Israfil itu ada 70 tabir.

Dan sangkala telah diletakkan diatas pahanya yang kanan, dan Ujung sangkala itu (sudah berada) diatas mulutnya, maka Israfil tinggal menunggu perintah Allah Ta’ala, kapan datangnya perintah Itu, maka ia tinggal meniup dalam sangkala.

 

Ketika telah habis masa (usianya) dunia, maka sangkala ity didekatkan wajah Israfil, lalu Israfil mengumpulkan sayapnya yang empat. kemudian dia meniup sangkala.

Ada yang mengatakan : Malaikat maut menjadikan salah satu kedua telapak tangannya berada dibawah bumi yang ketujuh, dan yang lain berada diatas langit yang ketujuh, maka ia mencabut seluruh ruhnya penduduk langit dan penduduk bumi, tidak tersisa (makhluk) didalam bumi kecuali Iblis laknatullah alaihi, dan tidak tersisa (makhluk) di langit kecuali Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail as dan mereka itu adalah termasuk makhluk yang dikecualikan oleh Allah Ta’ala. Didalam firman Allah Ta’ala: “Dan tiuplah sangkala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.” (QS. Az Zumar: 68).


🔸 Ringkasan Redaksi Asli

Diriwayatkan bahwa Malaikat Israfil ‘alaihissalam adalah malaikat agung yang diberi tugas oleh Allah untuk meniup sangkakala sebagai tanda berakhirnya dunia dan dimulainya hari kebangkitan. Israfil memiliki empat sayap besar: timur, barat, menutupi dirinya, dan menutupi kepalanya. Wajahnya kuning karena takut kepada Allah. Sangkakala sudah diletakkan di pahanya, ujungnya di mulutnya. Ia hanya menunggu perintah Allah.
Ketika dunia berakhir, Israfil akan meniup sangkakala, seluruh makhluk mati, kecuali yang Allah kehendaki—di antaranya Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail.


🔸 Maksud dan Hakikat

Kisah ini bukan sekadar cerita malaikat, melainkan penyingkapan hakikat kekuasaan Allah dan ketundukan makhluk kepada-Nya. Israfil as. menjadi simbol ketaatan sempurna dan kesiagaan abadi atas perintah Allah. Tiupan sangkakala melambangkan berakhirnya segala keangkuhan dunia, di mana kehidupan fana ini akan sirna dalam satu hembusan perintah Ilahi.


🔸 Tafsir dan Makna Judul

“Ketika Israfil Menunggu Perintah Tiupan Sangkakala” adalah simbol penantian hamba yang taat. Ia tidak bertanya kapan, tidak menawar bagaimana, ia hanya siap setiap saat.
Maka, hakikat kehidupan manusia sejatinya adalah menunggu seperti Israfil—siaga menanti panggilan Allah, tanpa ragu dan tanpa lalai.


🔸 Tujuan dan Manfaat

Tulisan ini bertujuan:

  1. Mengingatkan manusia tentang kepastian kiamat dan fana-nya dunia.
  2. Menanamkan kesadaran bahwa ketaatan total kepada Allah adalah jalan keselamatan.
  3. Menghidupkan kembali rasa takut dan harap (khauf wa raja’) dalam hati agar tidak lalai dari akhirat.
  4. Mengajak pembaca meneladani ketaatan Israfil as., yang hanya menunggu perintah Tuhan tanpa keluh dan tanpa lelah.

🔸 Latar Belakang di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, banyak kaum yang menolak kabar tentang hari kebangkitan. Ayat tentang tiupan sangkakala (QS. Az-Zumar: 68) datang untuk membantah kaum musyrikin yang menganggap kebangkitan mustahil. Allah menegaskan bahwa semua makhluk akan mati dalam satu hembusan sangkakala, sebagai tanda kekuasaan mutlak-Nya.


🔸 Intisari Masalah

Manusia sering terlena oleh dunia dan lupa bahwa hidup ini sementara. Israfil as. menggambarkan makhluk yang sadar waktu — ia tahu bahwa tiupan itu pasti datang, tapi tidak tahu kapan. Seperti itu pula manusia harus hidup: siap setiap saat dipanggil.


🔸 Sebab Terjadinya Masalah

Kelalaian terhadap akhirat membuat manusia menuhankan dunia. Padahal Allah sudah mengutus malaikat seperti Israfil untuk menjadi tanda betapa dekatnya akhir kehidupan dunia. Sebab itulah, Al-Qur’an sering mengulang ayat tentang tiupan sangkakala agar hati manusia tidak keras dan lalai.


🔸 Dalil Al-Qur’an dan Hadis

“Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.”
(QS. Az-Zumar: 68)

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bagaimana aku dapat tenang, sementara pemegang sangkakala telah meletakkannya di mulutnya, menundukkan kepalanya, dan menunggu perintah untuk meniupnya?”
(HR. Ahmad dan Tirmidzi)


🔸 Analisis dan Argumentasi

Tiupan sangkakala adalah peristiwa metafisik yang diyakini dalam akidah Islam. Filsafat modern mungkin menyebutnya sebagai “titik nol kosmik”—kehancuran total alam semesta. Namun Islam memandangnya sebagai transisi dari dunia menuju alam akhirat.
Kisah Israfil juga menegaskan bahwa ketaatan tanpa syarat adalah puncak spiritualitas. Israfil tidak menggunakan akalnya untuk menunda, ia menggunakan hatinya untuk tunduk.


🔸 Relevansi Saat Ini

Di zaman modern, manusia sibuk membangun “dunia yang abadi”—gedung, teknologi, kekayaan—tetapi melupakan hari tiupan sangkakala.
Maka, memahami Israfil as. berarti menyadari kefanaan dan menata niat hidup: bahwa segala amal, ilmu, dan ibadah harus disiapkan seakan tiupan itu akan datang esok hari.


🔸 Hikmah

  1. Tiupan sangkakala adalah puncak tauhid — tak ada daya kecuali milik Allah.
  2. Ketaatan Israfil as. menjadi teladan bagi setiap dai dan hamba.
  3. Takut kepada Allah bukan kelemahan, tapi tanda kesadaran tertinggi.
  4. Dunia hanyalah ruang menunggu perintah Allah — jangan sombong di tempat penantian.

🔸 Muhasabah dan Caranya

  • Renungkan setiap malam: “Andai sangkakala ditiup malam ini, siapkah aku?”
  • Perbanyak istighfar, sedekah, dan zikir “Laa ilaaha illallah” sebagai bekal menghadap Allah.
  • Kurangi cinta dunia, perbanyak rindu akhirat.
  • Jalani hidup dengan adab menunggu, bukan gelisah menunda.

🔸 Doa

اللهم اجعلنا من الذين إذا نفخ في الصور كانوا من الآمنين
Allâhummaj‘alnâ minalladzîna idzâ nufikha fîsh-shûri kânû minal âmînîn.

Ya Allah, jadikan kami termasuk orang-orang yang aman ketika sangkakala ditiup.


🔸 Nasehat Para Sufi Besar

  • Hasan al-Bashri: “Kiamat bagi setiap manusia adalah ketika nyawanya dicabut. Maka bersiaplah, sebelum engkau ditiup untuk terakhir kali.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tak takut tiupan Israfil, aku takut tiupan nafsuku sendiri yang menyesatkanku dari Allah.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Sangkakala Israfil adalah gema ‘Kun’ yang kedua.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Barangsiapa menunggu perintah Allah dengan ridha, maka setiap detak jantungnya adalah ibadah.”
  • Al-Hallaj: “Tiupan Israfil bukan kebinasaan, tapi kelahiran baru menuju Wujud yang sejati.”
  • Imam al-Ghazali: “Bersiaplah sebelum datang kematian, karena setiap napas adalah tiupan kecil Israfil ke dalam dada manusia.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Hidupkan hatimu dengan zikir, karena sangkakala itu akan membangunkan hanya hati yang hidup.”
  • Jalaluddin Rumi: “Ketika sangkakala ditiup, hanya yang mencintai Allah yang akan mendengar musik keabadian.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Israfil meniup bukan untuk mematikan, tapi untuk mengembalikan wujud kepada asalnya.”
  • Ahmad al-Tijani: “Setiap sujudmu adalah latihan menyambut tiupan itu—sujud abadi di hadapan Allah.”

🔸 Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim, QS. Az-Zumar: 68
  2. Tafsir Ibnu Katsir, Juz 7
  3. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  4. Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
  5. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  6. Risalah al-Qusyairiyyah – Abu al-Qasim al-Qusyairi
  7. Diwan Rumi – Jalaluddin Rumi
  8. Hikam Ibnu ‘Athaillah
  9. Kitab Tanbih al-Ghafilin – Abu Laits as-Samarqandi

🔸 Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru dan pembaca yang terus menghidupkan dzikir dan ilmu. Semoga tulisan ini menjadi pengingat lembut di tengah hiruk-pikuk dunia yang fana.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai dan sopan dari teks tersebut:


🕊️ PAS ISRAFIL AS. NUNGGU PERINTAH NYEBULIN TEROMPET AKHIRAT


Oleh: M. Djoko Ekasanu


Halo, gaes! Jadi, ceritanya Malaikat Israfil ‘alaihissalam ini punya tugas yang super berat, yaitu nyebulin sangkakala atau terompet tanda kiamat. Penampilannya juga epic banget. Dia punya empat sayap gede: satu nyampe ke timur, satu ke barat, satu nutupin badannya, dan satu lagi nutupin kepalanya.


Wajahnya Israfil itu kuning, lho. Bukan karena sakit liver, tapi karena saking takutnya sama Allah SWT. Dia tuh selalu tunduk dan lihat ke arah ‘Arsy (singgasana Allah). Terompet kiamatnya udah siap sedia, ditaruh di paha kanannya, dan ujungnya udah deket banget sama mulutnya. Jadi, dia cuma nunggu “GO SIGNAL” dari Allah kapan harus niup. Kapan? Ya, kita gak ada yang tau. Waiting for the signal, 24/7!


Nah, pas dunia bener-bener udah tamat, barulah Israfil narik terompet itu dan… TOOOOT! Semua yang di langit dan bumi mati seketika. Tapi, ada pengecualian buat beberapa malaikat kayak Jibril, Mikail, Israfil, dan Izrail, sesuai firman Allah:


“Dan tiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.” (QS. Az Zumar: 68).


---


🔸 Intinya sih gini…


Cerita ini bukan cuma dongeng malaikat, tapi lebih ke power-nya Allah dan betapa semua makhluk tuh harus patuh. Israfil itu contoh sikap “siap sedia” dan taat tanpa nanya-nanya. Hidup kita di dunia ini sebenernya juga cuma sesi nunggu panggilan aja, bro, sis. Jangan sampe kita lupa daratan.


🔸 Buat apa sih kita tau ini?


· Ngingetin bahwa kiamat itu PASTI dateng dan dunia ini cuma sementara.

· Nanamin mindset bahwa jalan selamat cuma satu: taat sama perintah Allah.

· Biar kita punya rasa takut dan harap ke Allah, jadi gak grasa-grusu sama urusan dunia.

· Niru sikap Israfil yang cuma bisa standby nunggu perintah, tanpa komplain atau nunda-nunda.


🔸 Konteks Zaman Dulu


Dulu pas jaman Nabi, banyak orang yang ngejek dan nggak percaya sama hari kebangkitan. Ayat tentang tiupan sangkakala ini turun buat ngegaskan bahwa Allah itu Maha Kuasa, dan semua makhluk bisa mati cuma dalam satu tiupan. Boom!


🔸 Masalahnya Apa Sih?


Kita sering banget kelepasan, hidup kayak gak ada besok. Padahal, Israfil tuh simbol dari kesadaran waktu — dia tau tiupan itu pasti, cuma gak tau kapan. Kita juga harus gitu: hidup dalam mode “siap-siap” terus.


🔸 Dalil Pendukung


· Al-Qur’an:

  “Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah siapa yang di langit dan di bumi, kecuali siapa yang dikehendaki Allah.” (QS. Az-Zumar: 68)

· Hadis (kurang lebih artinya): Rasulullah ﷺ pernah bilang, gimana bisa aku tenang, sedangkan pemegang sangkakala udah siap di mulutnya, nunduk, dan nunggu perintah buat niup. (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Bikin deg-degan banget kan?


🔸 Relevansi Buat Kita Sekarang


Kita sibuk banget bikin skyscraper, teknologi canggih, dan nyari harta, tapi suka lupa kalo semua ini bakal berhenti dalam satu tiupan. Makanya, kisah Israfil ini bikin kita melek: hidup tuh cuma numpang lewat, persiapan buat akhirat yang penting.


🔸 Hikmah yang Bisa Diambil


· Tiupan sangkakala = bukti ultimate bahwa hanya Allah yang berkuasa.

· Ketaatan Israfil = role model buat kita semua.

· Takut sama Allah itu bukan pengecut, tapi wujud kesadaran level dewa.

· Dunia cuma tempat nunggu, jangan sok jago.


🔸 Muhasabah Diri (Cek Dulu Hati!)


· Tanya diri sendiri: “Kalo malam ini terompet ditiup, gue udah siap belum ya?”

· Perbanyak istighfar, sedekah, dan zikir buat tabungan.

· Kurangi cinta dunia, tingkatkan rindu akhirat.

· Jalani hidup dengan sikap sadar, jangan kayak orang kebingungan.


🔸 Doa Singkat Yuk!


اللهم اجعلنا من الذين إذا نفخ في الصور كانوا من الآمنين Allâhummaj‘alnâ minalladzîna idzâ nufikha fîsh-shûri kânû minal âmînîn. (Ya Allah,jadikan kami termasuk orang-orang yang aman ketika sangkakala ditiup.)


🔸 Kata-Kata Motivasi Para Sufi (Versi Singkat)


· Hasan al-Bashri: Kiamat lo tuh pas nyawa lo dicabut. Siapin diri dari sekarang!

· Rabi‘ah al-Adawiyah: Gak takut tiupan Israfil, yang takut tiupan nafsu sendiri.

· Junaid al-Baghdadi: Siapa yang nunggu perintah Allah dengan ikhlas, setiap detak jantungnya jadi ibadah.

· Imam al-Ghazali: Siapin diri sebelum mati, karena setiap napas itu tiupan kecil Israfil di dada kita.

· Jalaluddin Rumi: Pas terompet ditiup, yang denger musik keabadian cuma para pecinta Allah.


🔸 Daftar Pustaka (Tetap Kredibel)


· Al-Qur’an al-Karim, QS. Az-Zumar: 68

· Tafsir Ibnu Katsir

· Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali

· Karya-karya Ibnu ‘Arabi, Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Rumi, dll.


🔸 Ucapan Terima Kasih


Penulis ngucapin makasih banyak buat semua guru dan kalian yang mau baca. Semoga tulisan ringan ini bisa jadi pengingat buat kita semua buat gak lupa sama yang Esa di tengah kesibukan dunia yang gemerlap tapi fana ini.


Stay faithful, gaes! ✨


ULAR DI DALAM KUBUR: AMAL YANG MENJELMA AZAB




🕌 ULAR DI DALAM KUBUR: AMAL YANG MENJELMA AZAB



Kata Abdul Hamid bin Mahmud Al-Maghuli: “Aku sedang duduk bersama Ibnu Abas, lalu datanglah rombongan, bertanya kepadanya: ”Kami jamaah Haji, salah seorang di antara kami ada yang mati di daerah Zatish-Shifah, lalu kami mengurusnya, dan sewaktu menggali kubur, ada ular melingkar di dalamnya, kemudian pindah kubur lain, ternyata ada ularnya pula (hal itu) kami lakukan sampai 3x tetap ada ularnya, lalu apa yang kami lakukan terhadap mayit itu? Kata Ibnu Abas: “Itulah amal perbuatan mayit ketika di dunia, sebaiknya kuburlah ular itu, demi Allah Jika bumi ini kau gali semua, pasti kau temukan ular di dalamnya”. Lalu pulanglah mereka selesai menanam mayit tersebut dan mengembalikan barang bawaan (haji)-nya kepada keluarganya, mereka bertanya tentang amal perbuatannya. Jawab istrinya: “Dia penjual gandum dalam karung, untuk makan sehari-harinya, dia ambilkan dari karung tersebut, dan menggantinya dengan tangkai-tangkai gandum, seberat gandum yang dimakan sehari.

Al-Faqih dalam ulasannya tentang kisah tersebut mengatakan bahwa, ‘Khianat adalah penyebab salah satu dari siksa-siksa kubur, dan kenyataan yang mereka saksikan adalah berupa peringatan, agar kita tidak mudah khianat. 

-------

Berikut draf bacaan koran Islami bergaya artikel mendalam sebagaimana Anda minta, lengkap dengan bagian-bagian tematik sesuai format khas “koran hikmah” dan disusun dengan bahasa yang menyentuh hati pembaca.


Ringkasan Redaksi Asli

Diriwayatkan oleh Abdul Hamid bin Mahmud Al-Maghuli:
Ia berkata, “Aku duduk bersama Ibnu Abbas r.a., lalu datang sekelompok jamaah haji dan berkata,
‘Salah seorang dari kami wafat di daerah Zatish-Shifah. Saat kami menggali kuburnya, ada ular melingkar di dalamnya. Kami pindahkan ke tempat lain, ternyata masih ada ular, hingga tiga kali kami pindahkan, tetap ada ular. Apa yang harus kami lakukan?’
Ibnu Abbas menjawab, ‘Itulah amal perbuatan mayit ketika di dunia. Kuburkanlah ia bersama ular itu, karena demi Allah, jika bumi ini kau gali seluruhnya, niscaya kau akan menemui ular itu di dalamnya.’”
Ketika keluarga mayit ditanya tentang amal perbuatannya, istrinya menjawab, “Dia penjual gandum, dan setiap hari mengambil sebagian untuk dirinya, lalu menggantinya dengan tangkai gandum kering seberat gandum yang diambil.”

Al-Faqih berkomentar: “Khianat adalah penyebab salah satu dari siksa kubur. Apa yang tampak itu adalah peringatan agar manusia berhati-hati dari khianat dan kecurangan dalam timbangan serta muamalah.”


Maksud dan Hakikat

Kisah ini menggambarkan bahwa amal manusia tidak akan lenyap setelah kematian. Setiap perbuatan, sekecil apa pun, akan menjelma menjadi bentuk balasan di alam kubur. Dalam kisah ini, ular bukan hewan biasa, melainkan simbol dari amal khianat yang berubah menjadi penyiksa bagi pemiliknya.


Tafsir dan Makna Judul

“Ular di Dalam Kubur” bukan sekadar kisah menakutkan, melainkan tafsir perbuatan dunia yang menjadi nyata di alam barzakh. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُۥ، وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُۥ
“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, ia akan melihat (balasannya), dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, ia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)


Tujuan dan Manfaat

  1. Mengingatkan umat Islam agar menjauhi khianat, kecurangan, dan pengkhianatan dalam rezeki.
  2. Menumbuhkan kesadaran bahwa siksa kubur nyata adanya.
  3. Menjadikan kisah ini sebagai cermin muhasabah diri agar setiap muamalah dilakukan dengan kejujuran dan amanah.

Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Ibnu Abbas r.a., praktik perdagangan gandum, kurma, dan hasil bumi sering dilakukan tanpa pengawasan. Banyak pedagang mengurangi takaran dan timbangan, padahal telah jelas larangan dalam Al-Qur’an:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِينَ
“Celakalah bagi orang-orang yang curang dalam takaran dan timbangan.”
(QS. Al-Muthaffifin: 1)

Masyarakat kala itu diberi pelajaran nyata oleh Allah agar memahami bahwa pengkhianatan dalam harta dan niat tidak bisa disembunyikan, bahkan oleh tanah sekalipun.


Intisari Masalah

  • Khianat adalah dosa besar yang menghapus keberkahan rezeki.
  • Amal buruk akan menjelma wujud nyata di alam kubur.
  • Kejujuran dan amanah adalah penyelamat dunia dan akhirat.

Sebab Terjadinya Masalah

  1. Cinta dunia yang berlebihan hingga menutupi nurani.
  2. Menganggap kecil dosa khianat karena tampak ringan di dunia.
  3. Lemahnya iman sehingga lupa bahwa setiap perbuatan dicatat.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  1. Al-Qur’an:

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
    “Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul serta amanah yang dipercayakan kepadamu.”
    (QS. Al-Anfal: 27)

  2. Hadis Nabi ﷺ:

    “Setiap pengkhianat akan diberi bendera pada hari kiamat di belakang punggungnya sesuai kadar khianatnya.”
    (HR. Muslim)


Analisis dan Argumentasi

Kisah ini bukan sekadar simbolis, melainkan manifestasi keadilan Allah di alam kubur. Setiap bentuk kecurangan adalah bentuk ketidakadilan yang menimbulkan ketidakseimbangan dalam kehidupan sosial. Oleh karena itu, kejujuran bukan hanya urusan moral pribadi, tetapi pondasi peradaban yang diridhai Allah.


Relevansi Saat Ini

Di zaman modern, bentuk “ular dalam kubur” bisa bermakna:

  • manipulasi data dan laporan,
  • korupsi,
  • pencurian waktu kerja,
  • penipuan digital,
  • atau penggunaan uang umat untuk kepentingan pribadi.

Semua ini adalah “ular-ular” baru yang kelak menjerat di alam barzakh.


Hikmah

  1. Amanah adalah tiang keimanan.
  2. Dosa kecil yang diulang bisa menjadi api besar di kubur.
  3. Tanah pun tak sudi menampung pelaku khianat.

Muhasabah dan Caranya

  • Periksa kembali setiap pemasukan dan pengeluaran: apakah halal dan jujur?
  • Tanyakan pada hati: “Apakah aku amanah pada titipan Allah hari ini?”
  • Perbanyak istighfar dan sedekah untuk membersihkan dosa-dosa khianat yang tidak disadari.

Doa

اللهم طهر قلوبنا من الخيانة، وأعمالنا من الرياء، وأموالنا من الحرام، وقبورنا من العذاب.
Allāhumma ṭahhir qulūbanā min al-khiyānah, wa a‘mālanā min ar-riyā’, wa amwālanā min al-ḥarām, wa qubūranā min al-‘adzāb.

“Ya Allah, sucikan hati kami dari khianat, amal kami dari riya, harta kami dari yang haram, dan kubur kami dari azab.”


Nasihat Para Arif Billah

  • Hasan Al-Bashri:
    “Amanah adalah bagian dari iman. Siapa yang mengkhianatinya, maka hilanglah sebagian imannya.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Barangsiapa berkhianat kepada makhluk, maka ia telah berkhianat kepada Sang Khaliq.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Hati yang dipenuhi cinta dunia tidak akan jujur kepada Allah.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Ikhlas adalah jujur pada Allah, bukan pada manusia.”

  • Al-Hallaj:
    “Yang paling menyakitkan bukan azab neraka, tapi malu di hadapan Allah karena khianat pada amanah-Nya.”

  • Imam Al-Ghazali:
    “Khianat mengotori jiwa, dan jiwa yang kotor menolak cahaya kubur.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Jangan takut miskin karena jujur, takutlah kaya karena khianat.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Orang jujur tidur di kubur seperti pengantin, dan yang khianat seperti tawanan ular.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Setiap amal adalah wujud, setiap wujud adalah saksi bagi pemiliknya.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Allah tidak menutup aib pelaku khianat, karena khianat itu sendiri adalah penutup bagi rahmat.”


Daftar Pustaka

  1. Hilyatul Auliya’ – Abu Nu’aim al-Ashbahani
  2. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  3. Al-Ruh – Ibnu Qayyim al-Jauziyyah
  4. Bidayatul Hidayah – Imam al-Ghazali
  5. Al-Fathur Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  6. Masnawi Ma’nawi – Jalaluddin Rumi
  7. Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada para pembaca yang terus berupaya menanamkan nilai amanah dalam hidupnya. Semoga kisah ini menjadi cermin bagi kita semua untuk memperbaiki diri sebelum datang saat di mana tanah pun tak ingin menerima tubuh kita.


Oke, ini dia versi bahasa gaul kekinian yang santai tapi tetap sopan dan menghormati sumber agamanya.


Judul: Ular di Kubur? Ternyata Ini Sosoknya!


Ringkasan Cerita (Versi Santai):


Jadi gini, suatu hari, Abdul Hamid lagi nongkrong sama sahabat Nabi, Ibnu Abbas. Tiba-tiba, dateng sekelompok jamaah haji yang lagi panik.


Kata mereka, "Pak, temen kami meninggal. Pas mau dikubur, di liang lahatnya ada ularnya, gais! Kami gali kubur lain, eh, ada ular lagi. Sampe tiga kali pindah, tetep aja ketemu ular. Gimana dong?"


Dengan tenang, Ibnu Abbas jawab, "Itu tuh, jelmaan dari amal jelek si mayit pas masih hidup. Ya udah, kuburin aja dia di situ. Percaya deh, kalau seisi bumi digali, ya ujung-ujungnya ketemu ular itu juga."


Pas ditanya ke keluarganya, sang istri buka suara, "Ya ampun, bener sih. Suami saya kan jualan gandum. Tiap hari, dia ambil sedikit buat makan sehari-hari, trus dia ganti beratnya dengan tangkai gandum kering. Dikiranya remeh, ternyata..."


Kata Al-Faqih yang ngasih komentar: "Nah, lho! Khianat itu salah satu pemicu siksa kubur. Kejadian ini pengingat banget buat kita supaya jangan main-main sama yang namanya khianat."


Maksud & Pesan Intinya:


Cerita ini kasih tau kita dengan sangat viral-able: amal kita itu nggak bakal ilang, guys! Di akhirat nanti, perbuatan kita, sekecil apapun, bakal "hidup" dan balik ke kita. Ular dalam cerita ini bukan ular beneran, tapi simbol dari sifat khianat yang akhirnya nyiksa diri sendiri.


Relevansi Buat Kita Zaman Now:


Jangan dikira "ular di kubur" cuma cerita jaman dulu. Zaman sekarang, wujudnya bisa bermacam-macam:


· Korupsi duit proyek atau uang rakyat.

· Manipulasi data dan laporan kantor.

· Nyolong waktu kerja atau bolos bayaran.

· Penipuan online atau jualan barang KW.

· Nilep hak orang lain atau gaji karyawan yang nggak dibayar lunas.


Itu semua adalah "ular-ular modern" yang bisa aja nungguin kita nanti.


Nasihat Para Orang Bijak (Versi Singkat):


· Hasan Al-Bashri: Khianat itu bikin iman kita berkurang, bro.

· Imam Al-Ghazali: Jiwa yang suka khianat itu kotor, dan jiwa kotor nggak bakal dapet cahaya di kubur.

· Jalaluddin Rumi: Orang jujur di kubur kayak lagi tidur nyenyak. Yang khianat? Kayak ditawan ular.

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: Jangan takut miskin karena jujur. Justru takutlah jadi kaya karena khianat.


Self-Reflection (Muhasabah Diri):


Yuk, kita cek diri sendiri:


1. Cek lagi penghasilan kita: Dari mana sumbernya? Halal dan nggak nipu siapapun?

2. Tanya ke hati kecil: "Aku hari ini jujur nggak, sih? Amanah nggak sama tugas dan kepercayaan orang?"

3. Perbanyak istighfar dan sedekah buat bersihin dosa-dosa khianat yang mungkin kita lupa atau nggak sengaja.


Doa Penutup:


Allāhumma ṭahhir qulūbanā min al-khiyānah, wa a‘mālanā min ar-riyā’, wa amwālanā min al-ḥarām, wa qubūranā min al-‘adzāb.


"Ya Allah, sucikan hati kami dari khianat, amal kami dari riya, harta kami dari yang haram, dan kubur kami dari azab."


Kesimpulan:


Intinya, hidup cuma sekali. Jangan sampe gara-gara khianat yang kita kira "sepele", malah bikin kita didatengin "teman spesial" bernama ular di alam kubur. Yuk, jadi pribadi yang jujur dan amanah! Biar tidur di kubur nanti tenang, bukan ketakutan.


Hope this helps! Semoga bermanfaat dan bikin kita makin hati-hati. 😊