Wednesday, October 22, 2025

Rahmat Allah yang Menjamin Kebahagiaan Hamba.

 




Rahmat Allah yang Menjamin Kebahagiaan Hamba

Oleh: M. Djoko Ekasanu



Ibnu Mas’ud berkata, “Aku diberitahu bahwa diriwayatkan dari Zaid bin Aslam dari Umar, bahwa ada seorang laki-laki hidup pada zaman dahulu. Ia selalu rajin melakukan    ibadah.    Ia membebankan dirinya sendiri untuk melakukan ibadah yang tidak henti-hentinya ia lakukan sehingga menyebabkan orang- orang berputus asa dari rahmat Allah. Kemudian ia meninggal dunia.


“Ya Tuhanku! Apa yang aku dapatkan di sisi-Mu?” tanya si laki-laki.

Allah menjawab, “Neraka”.

“Ya Tuhanku! Lantas bagaimana dengan ibadahku dan kesungguh-sungguhanku dalam beribadah?” tanya si laki-laki.

Allah menjawab, “Kamu telah membuat orang-orang putus asa dari rahmat-Ku di dunia, maka sekarang Aku membuatmu putus asa dari rahmat-Ku”.



Rahmat Allah yang Menjamin Kebahagiaan Hamba

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Asli

Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dari Umar bin Khattab r.a., tentang seorang laki-laki di masa dahulu yang tekun beribadah tanpa henti. Ia begitu keras terhadap dirinya dan selalu menuntut kesempurnaan ibadah, hingga membuat orang lain berputus asa dari rahmat Allah. Setelah wafat, ia bertanya kepada Allah tentang balasan amalnya. Allah menjawab, “Neraka.” Ketika ia protes karena ibadahnya yang sungguh-sungguh, Allah menjawab, “Kamu telah membuat orang lain putus asa dari rahmat-Ku, maka sekarang Aku membuatmu putus asa dari rahmat-Ku.”


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa itu, sebagian orang memahami ibadah hanya sebatas kerja keras lahiriah: puasa panjang, salat malam tanpa henti, menjauh dari dunia, tanpa menumbuhkan kasih sayang kepada sesama. Mereka mengira bahwa dengan memperbanyak ibadah mereka telah dekat dengan Allah, namun lupa bahwa rahmat Allah lebih luas daripada amal manusia. Fenomena seperti ini muncul dalam berbagai zaman — saat kesalehan pribadi justru membuat sebagian orang merasa tinggi dan membuat yang lain putus asa.


Sebab Terjadinya Masalah

Masalah muncul ketika seseorang menyempitkan rahmat Allah dalam persepsi manusia. Ia merasa bahwa rahmat hanya pantas bagi orang sepertinya, yang beribadah keras, yang tampak saleh, dan melupakan bahwa Allah Maha Pengasih bahkan kepada pendosa yang bertaubat. Akibatnya, masyarakat sekitar kehilangan harapan, seolah pintu taubat tertutup.


Intisari Masalah

Kesalahan fatalnya bukan pada ibadahnya, tetapi pada kesombongan rohani yang lahir dari kesungguhan tanpa kasih sayang. Ia menjadi simbol manusia yang lupa bahwa ibadah tanpa cinta kepada rahmat Allah hanyalah kelelahan.


Maksud dan Hakikat

Judul “Rahmat Allah yang Menjamin Kebahagiaan Hamba” menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukan hasil ibadah semata, tetapi dari pengakuan akan kelemahan diri dan keyakinan bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu (QS. Al-A‘raf: 156).

Hakikatnya, Allah ingin menanamkan kesadaran bahwa ibadah adalah sarana mendekat, bukan alat menilai orang lain. Setiap amal harus dihidupi oleh rahmat dan kasih, bukan oleh kesombongan dan penilaian terhadap sesama.


Tafsir dan Makna Judul

Kebahagiaan bukan terletak pada banyaknya amal, tapi pada kedekatan hati dengan Allah yang Maha Rahman. Seseorang yang beribadah karena cinta akan rahmat-Nya akan merasakan damai. Sebaliknya, ibadah karena takut atau ambisi spiritual dapat menjauhkan dari kelembutan ilahi.


Tujuan dan Manfaat

Tulisan ini bertujuan mengingatkan bahwa:

  1. Ibadah harus menumbuhkan kasih, bukan keputusasaan.
  2. Rahmat Allah menjadi pusat kehidupan rohani, bukan amal manusia.
  3. Membangun keseimbangan antara amal dan harap (raja’), takut (khauf), dan cinta (mahabbah).

Manfaatnya: menumbuhkan sikap rendah hati, memberi semangat kepada sesama, dan menjaga agar ibadah menjadi sumber ketenangan, bukan tekanan.


Dalil Qur’an dan Hadis

  1. QS. Az-Zumar: 53

“Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

  1. QS. Al-A‘raf: 156

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”

  1. Hadis Qudsi:

“Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Analisis dan Argumentasi

Manusia sering lupa bahwa ibadah adalah panggilan cinta, bukan kompetisi rohani. Kesungguhan yang tidak dibarengi kasih justru menimbulkan kesombongan spiritual (ujub). Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan: beliau paling tekun beribadah namun paling lembut terhadap orang berdosa. Artinya, semakin dekat seseorang kepada Allah, semakin luas rahmatnya kepada sesama.


Relevansi Saat Ini

Zaman modern penuh dengan fenomena serupa: sebagian orang menilai kesalehan dari tampilan luar, sebagian lagi merasa amalnya cukup untuk menjamin surga. Sementara itu, banyak orang putus asa karena merasa terlalu kotor untuk kembali kepada Allah. Padahal, pintu rahmat Allah terbuka lebar sepanjang hayat.
Tulisan ini menjadi pengingat agar masyarakat beragama tidak menakut-nakuti manusia dengan neraka tanpa memperkenalkan keindahan rahmat Allah.


Hikmah

  • Jangan pernah membuat orang lain putus asa dari rahmat Allah.
  • Ibadah sejati adalah ibadah yang menghadirkan kasih.
  • Rahmat Allah lebih luas dari dosa, dan lebih dalam dari ketakutan kita.

Muhasabah dan Caranya

Setiap malam, tanyakan pada diri:

“Apakah ibadahku hari ini membuatku lebih lembut terhadap sesama atau justru lebih keras?”
Berdoalah agar Allah menanamkan rahmah di dalam hati sebelum menanamkan kesungguhan dalam amal.


Doa

اللهم اجعلنا من الذين لا ييأسون من رحمتك، واجعلنا مفاتيح للرجاء، مغاليق لليأس، واملأ قلوبنا برحمتك يا أرحم الراحمين.

Ya Allah, jadikan kami orang yang tak pernah berputus asa dari rahmat-Mu, jadikan kami pembuka harapan, penutup keputusasaan, dan penuhilah hati kami dengan rahmat-Mu, wahai Zat yang Maha Pengasih.


Nasehat Para Sufi

  • Hasan al-Bashri:
    “Barangsiapa mengenal Tuhannya, ia akan lebih banyak berharap daripada takut.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Aku beribadah bukan karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena cintaku kepada-Nya.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Aku mencari Allah, lalu aku dapati diriku hanyut dalam lautan rahmat-Nya.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Ibadah tanpa cinta adalah jasad tanpa ruh.”

  • Al-Hallaj:
    “Rahmat Allah adalah cermin yang memantulkan wajah-Nya pada hati yang bersih.”

  • Imam al-Ghazali:
    “Yang paling berbahaya bagi seorang ahli ibadah adalah mengira dirinya telah sampai.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Jangan biarkan ibadahmu membuatmu sombong, karena ibadah tanpa rahmat adalah debu yang beterbangan.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Rahmat Allah seperti hujan, ia tidak memilih tempat jatuhnya.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Setiap makhluk tenggelam dalam rahmat, bahkan yang durhaka pun hidup karena kasih-Nya.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Cahaya rahmat Allah tidak akan padam, kecuali bagi hati yang menolak untuk berharap.”


Daftar Pustaka

  1. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  2. Risalah al-Qusyairiyyah – Imam al-Qusyairi
  3. Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
  4. Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Mathnawi Ma’nawi – Jalaluddin Rumi
  6. Tazkirat al-Auliya’ – Fariduddin Attar
  7. Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca yang masih mau meneguhkan harapan dalam rahmat Allah. Semoga setiap ibadah kita menjadi sumber cinta, bukan sumber keangkuhan. Semoga tulisan ini menjadi pengingat lembut bahwa rahmat Allah lebih dekat daripada napas kita sendiri.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai dan sopan untuk kolom tersebut:


Rahmat Allah: Kunci Bahagia ala Anak Zaman Now


Oleh: M. Djoko Ekasanu


Inti Ceritanya (The Tea): Dari Zaid bin Aslam,dari Umar bin Khattab r.a., ada cerita tentang seorang lelaki jaman dulu yang super duper rajin ibadah. Amatir banget, pokoknya. Tapi, gaya ibadahnya yang super ketat dan perfeksionis itu malah bikin orang-orang di sekitarnya down, kayak "Wah, gue mah gak bakal sesempurna itu, jadi buat apa coba?" Pokoknya, dia bikin orang-orang nyaris putus asa ngira rahmat Allah cuma untuk orang kayak dia. Pas dia meninggal dan ketemu Allah, dia tanya, "Ya Tuhan, apa yang gue dapet nih?"


Allah jawab, "Neraka."


Dia syok, lah. "Lho, gimana ini? Ibadah gue yang total banget itu gimana?"


Allah berfirman, "Kamu udah bikin orang-orang putus asa dari rahmat-Ku di dunia, sekarang giliran Aku yang bikin kamu putus asa dari rahmat-Ku."


What's the Issue? (Masalahnya di mana sih?): Di jamannya,ada yang ngira ibadah tuh cuma soal "berapa jam lo sholat malam?" atau "seberapa sering lo puasa?". Ibadah jadi kayak lomba stamina rohani, tapi lupa sisi terpentingnya: spreading kindness and hope. Alih-alih bikin orang pengen deket sama Allah, malah bikin orang lain insecure dan nyerah duluan.


Root Cause (Sumber Masalah): Masalah utamanya tuh ketika kitangerasa diri kita paling berhak dapat rahmat karena "karya" ibadah kita, seolah-olah rahmat Allah itu limited edition yang cuma buat kalangan tertentu. Ini bikin lupa bahwa Allah itu Maha Pengasih ke semua hamba-Nya, terutama yang lagi nyesel dan pengen balik.


Vibes dari Judul: Judul"Rahmat Allah yang Menjamin Kebahagiaan Hamba" itu intinya bilang: bahagia sejati itu sumbernya bukan dari seberapa hebat kita beramal, tapi dari seberapa dalam kita ngeh dan nyandar bahwa rahmat Allah itu luas banget, gak terbatas, dan selalu available buat kita. Kebahagiaan itu datang ketika kita sadar kita dicintai, bukan ketika kita merasa "layak" dicintai.


Goals & Benefits (Tujuannya apa buat kita?):


· Jangan jadi "mood killer" spiritual: Ibadah kita harusnya bikin orang semangat, bukan bikin orang nyerah. Jangan sampe gaya ibadah kita bikin temen kita mikir, "Waduh, gue terlalu berdosa, deh, kayanya gak layak."

· Rahmat adalah main character: Fokus kita harus ke luasnya rahmat Allah, bukan ke hebatnya amal kita.

· Seimbang adalah kunci: Jalani ibadah dengan kombinasi yang pas: takut (khauf) sama azab-Nya, harap (raja') sama rahmat-Nya, dan cinta (mahabbah) karena Dia.


Back to the Sources (Dalil-dalilnya):


· QS. Az-Zumar: 53: "Katakanlah (wahai Muhammad): Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (Intinya: Jangan ever putus asa, guys!)

· QS. Al-A‘raf: 156: "Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu." (Intinya: Coverage-nya lengkap, gak ada yang kelewat.)

· Hadis Qudsi: "Rahmat-Ku mendahului murka-Ku." (HR. Bukhari dan Muslim) (Intinya: Kasih sayang-Nya duluan, baru yang lain.)


Our Take (Analisis Gue): Ibadah tuh harusnya kayak doi sama pacarnya,diisi dengan cinta, bukan kayak lagi balapan. Kalau ibadah cuma jadi ajang pamer spiritual atau ngebangun gengsi "aku lebih soleh", ya ujung-ujungnya ujub (sombong diam-diam). Nabi ﷺ aja, ibadahnya level S-tier, tapi ke orang berdosa paling lembut dan ngasih harapan. Artinya, makin deket kita sama Allah, harusnya makin humble dan makin pengen ngasih semangat ke orang lain.


Relevansi Buat Kita Sekarang: Sekarang kan zamannya medsos,gampang banget nge-judge orang dari penampilan "agamis"-nya. Ada yang merasa amalnya udah top, jaminan surga. Di sisi lain, banyak yang muda-muda udah nyerah dan bilang, "Ah, gue mah dosa gede, gak mungkin diterima." Padahal, rahmat Allah tuh lebih luas dari feed Instagram dan lebih dalam dari TikTok FYP lo! Tulisan ini pengingat buat kita semua buat gak gatekeep kebaikan Allah dan selalu ngajak orang untuk berharap.


The Moral of the Story (Hikmahnya):


1. Jangan pernah, ever, bikin orang lain putus asa dari rahmat Allah.

2. Ibadah yang bener itu yang bikin hati kita soft dan pengen nyebarin cinta.

3. Rahmat Allah itu lebih gede dari dosa-dosa kita, dan lebih kuat daripada rasa takut kita.


Self-Reflection (Muhasabah ala Anak Gaul): Sebelum tidur,coba tanya diri sendiri: "Hari ini, ibadah gue bikin gue lebih baik ke orang lain enggak, sih? Atau malah bikin gue judgemental?" Berdoa aja, "Ya Allah, isi hati gue sama kasih sayang-Mu dulu, sebelum lo isi dengan kesibukan ibadah."


Doa (The Ultimate Wish): اللهم اجعلنا من الذين لا ييأسون من رحمتك،واجعلنا مفاتيح للرجاء، مغاليق لليأس، واملأ قلوبنا برحمتك يا أرحم الراحمين. (Ya Allah,jadikan kami orang yang gak pernah nyerah dari rahmat-Mu, jadikan kami kunci pembuka harapan, penutup pintu keputusasaan, dan penuhin hati kami dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih.)


Kata-kata Bijak Para Sufi (Quote Instagrammable):


· Hasan al-Bashri: "Siapa yang kenal Tuhannya, dia akan lebih banyak harap daripada takut." (Lebih banyak raja' daripada khauf).

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Gue ibadah bukan karena takut neraka atau ngarepin surga, tapi karena cinta gue sama Dia." (Levelnya udah mahabbah).

· Abu Yazid al-Bistami: "Gue cari Allah, eh malah nemuin diri gue kehanyut di lautan rahmat-Nya."

· Junaid al-Baghdadi: "Ibadah tanpa cinta itu kayak jasad tanpa nyawa." (Dead, boring, gak ada life-nya).

· Al-Hallaj: "Rahmat Allah itu cermin yang nge-reflect wajah-Nya di hati yang bersih."

· Imam al-Ghazali: "Yang paling bahaya buat ahli ibadah adalah ngira dirinya udah sampe." (Merasa arrived, padahal masih di jalan).

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Jangan biarin ibadah lo bikin lo sombong, soalnya ibadah tanpa rahmat cuma kayak debu beterbangan."

· Jalaluddin Rumi: "Rahmat Allah kayak hujan, dia gak milih-milih mau jatuh di mana."

· Ibnu ‘Arabi: "Setiap makhluk tenggelam dalam rahmat, bahkan yang bandel aja hidup karena kasih-Nya."

· Ahmad al-Tijani: "Cahaya rahmat Allah gak akan padam, kecuali buat hati yang nolak buat berharap."


Daftar Pustaka (Buku Recomended):


· Ihya' Ulumiddin – Imam al-Ghazali

· Risalah al-Qusyairiyyah – Imam al-Qusyairi

· Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi

· Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani

· Mathnawi Ma'nawi – Jalaluddin Rumi

· Tazkirat al-Auliya' – Fariduddin Attar

· Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari


Ucapan Terima Kasih (Credit Roll): Makasih buat kalian yang masih baca sampe sini dan milih untuk tetap berharap sama yang terbaik dari Allah.Semoga ibadah kita nggak jadi beban, tapi jadi sumber cinta dan ketenangan. Ingat ya, rahmat Allah itu lebih dekat daripada genggaman handphone lo!