๐ฐ IMAN: CAHAYA DAN HIDAYAT ALLAH SWT
Memahami Hakikat Iman Menurut Teologi, Tasawuf, dan Tuntunan Rasulullah SAW
Oleh: M. Djoko Ekasanu
Jika ditanyakan kepadamu: “Apa yang dimaksud dengan iman, yang mana ia adalah cahaya dan hidayat Allah swt.?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Iman adalah sebuah istilah dari tauhid (pengesaan), dan pengertian tauhid menurut ulama’ teologi adalah mengkhususkan pada yang disembah dengan beribadah, serta i’tiqad terhadap keesaan-Nya, dalam dzat, sifat dan af’al. Disebutkan, iman adalah i’tiqad terhadap apa yang wajib bagi Allah dan rasul-Nya, pada yang jaiz, dan yang mustahil. Adapun menurut ahli tashawwuf, iman adalah seseorang tidak melihat kecuali pada Allah, dengan artian, bahwa setiap perbuatan, gerak, dan diam yang terjadi di alam adalah dari Allah. Maha esa Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, mereka tidak melihat sebuah perbuatan dimiliki yang selain Allah secara murni. Terkadang iman juga diartikan dengan tanda-tandanya, seperti sabda Nabi saw. kepada suatu golongan dari Arab yang mana mereka menghadap kepada Rasulullah saw.:
ุงَุชَุฏْุฑَُูู ู َุง ุงูุฅِْูู َุงُู ุจِุงِููู ุชَุนุงูู ََููุงُููุง ุงَُููู َูุฑَุณُُُููู ุงَุนَْูู ُ ََููุงَู ุตََّูู ุงُููู ุนََِْููู َูุณََّูู ุดََูุงุฏَุฉُ ุงَْู ูุง ุงَِูู ุงูุง ุงُููู َูุงََّู ู ُุญَู َّุฏًุง ุฑَุณُُูู ุงِููู َูุฅَِูุงู ُ ุงูุตَّูุงุฉِ َูุฅِْูุชَุงุกُ ุงูุฒََّูุงุฉِ َูุตَْูู ُ ุฑَู َุถَุงَู َูุงَْู ุชُุนْุทُูุง ู َِู ุงูู َุบَْูู ِ ุงูุฎُู ُุณَ
“Apakah kalian tahu apa yang disebut iman terhadap Allah, maha esa Allah, mereka menjawab, Allah dan rasul-Nya lebih mengetahuinya, lalu beliau bersabda: bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa raomadlan, dan memberikan dari harta rampasan perang seperlimanya”.
๐ถ Ringkasan Redaksi Asli
Redaksi klasik menjelaskan bahwa iman adalah istilah yang merujuk pada tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam dzat, sifat, dan perbuatan-Nya. Menurut ulama kalam, iman adalah i‘tiqad terhadap apa yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah dan Rasul-Nya.
Adapun menurut ahli tasawuf, iman adalah tidak melihat apapun sebagai pelaku kecuali Allah, yakni keyakinan bahwa seluruh pergerakan alam berlangsung dalam ketentuan-Nya.
Rasulullah SAW juga mendefinisikan iman melalui tanda-tandanya: syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadan, dan memberikan seperlima harta rampasan perang—sebagaimana dalam hadis sahih.
๐ถ Latar Belakang Masalah di Zamannya
Pada masa awal Islam, bangsa Arab memiliki:
- Tradisi paganisme yang kuat,
- Keyakinan banyak tuhan,
- Kebiasaan menyembah berhala,
- Kurangnya konsep ketuhanan yang runtut.
Maka, definisi iman harus dijelaskan agar umat tidak hanya mengaku beriman secara lisan, tetapi memahami inti tauhid.
Selain itu, sebagian kabilah Arab baru masuk Islam, sehingga mereka sering menanyakan makna iman agar tidak salah memahami ajaran Rasulullah SAW.
๐ถ Sebab Terjadinya Masalah
- Banyak orang mengira iman hanya ucapan.
- Ada pula yang mengira cukup melakukan ritual tanpa memahami tauhid.
- Sebagian menganggap iman hanya pengetahuan, bukan keyakinan dan amal.
- Munculnya kebingungan antara makna iman menurut ahli fiqh, ahli kalam, dan ahli tasawuf.
Sehingga, Rasulullah SAW menegaskan kembali definisi iman untuk menghindari kesalahpahaman teologis.
๐ถ Intisari Judul
Iman adalah cahaya hidayat Allah, yang memadukan:
- keyakinan yang benar,
- pengesaan Allah,
- amal nyata,
- dan pandangan batin yang bersih.
๐ถ Tujuan & Manfaat Tulisan Ini
- Meluruskan pemahaman hakikat iman.
- Menjelaskan bagaimana iman bekerja dalam hati.
- Menyambungkan konsep teologi dan tasawuf.
- Memberi panduan umat agar iman hidup dalam kehidupan modern.
- Menjadi bahan renungan dan muhasabah diri.
๐ Dalil Al-Qur’an & Hadis
1. Iman adalah cahaya dari Allah
“Allah pelindung orang-orang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya.”
(QS. Al-Baqarah: 257)
2. Iman adalah ucapan, keyakinan, dan amal
“Iman itu terdiri dari lebih dari 70 cabang...”
(HR. Bukhari & Muslim)
3. Definisi iman menurut Nabi
“Syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadan, dan menyerahkan khumus.”
(HR. Muslim)
4. Iman bertambah dan berkurang
(QS. Al-Anfal: 2)
๐ง Analisis dan Argumentasi Teologis
1. Iman menurut ilmu kalam
Iman bukan sekadar percaya, tetapi:
- mengetahui,
- membenarkan,
- menetapkan dalam hati,
- menerima dengan akal.
Maknanya mencakup ma‘rifah terhadap apa yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah dan Rasul-Nya.
2. Iman menurut tasawuf
Para sufi menyatakan:
“Tidak ada yang dilihat kecuali perbuatan Allah.”
Artinya bukan meniadakan sebab, tetapi menyadari bahwa semua sebab bekerja karena iradah Allah.
3. Iman menurut syariat
Iman harus menghasilkan:
- shalat,
- zakat,
- shaum,
- dan amal kebaikan lainnya.
Tanpa amal, iman lemah; tanpa tauhid, amal tidak sah.
๐ฐ️ Relevansi dengan Zaman Teknologi dan Kehidupan Modern
1. Kecanggihan teknologi
AI, robotika, dan big data membuat manusia kagum pada kemampuan pikiran.
Tetapi iman mengingatkan:
- kecanggihan adalah ciptaan,
- manusia adalah makhluk,
- dan Allah-lah Maha Mengatur.
2. Komunikasi dan media sosial
Iman membimbing kita:
- menghindari fitnah, hoaks, dan ghibah,
- menjaga etika digital,
- memanfaatkan media sebagai ladang dakwah.
3. Transportasi dan mobilitas global
Iman mengikat bahwa:
- perjalanan adalah ibadah,
- dunia ini fana,
- dan tujuan akhir adalah Allah.
4. Kedokteran dan bioteknologi
Ilmu yang berkembang mengokohkan iman:
- semakin banyak yang ditemukan, semakin tampak kebesaran Allah,
- tubuh manusia menunjukkan kekuasaan-Nya.
5. Kehidupan sosial modern
Iman menjadi rem moral:
- di tengah hedonisme,
- di tengah kompetisi ekonomi,
- di tengah krisis spiritual.
๐ฟ Keutamaan-keutamaan Iman
- Menjadi cahaya hidup.
- Menenangkan hati.
- Melapangkan rezeki.
- Menjadi syarat diterimanya amal.
- Menjadi penyelamat di dunia dan akhirat.
- Menjadi sebab turunnya pertolongan Allah.
๐ธ Hikmah
Iman membuat manusia:
- memandang dunia dengan cahaya Allah,
- menerima takdir dengan tenang,
- bekerja dengan ikhlas,
- hidup dengan tujuan abadi.
๐ Muhasabah & Caranya
- Tanya diri setiap malam:
“Sudahkah aku menjadikan Allah tujuan dalam setiap perbuatan hari ini?” - Periksa hati:
Apakah merasa riya? Dengki? Ingin dipuji? - Periksa ibadah:
Apakah shalat lebih khusyuk daripada kemarin? - Periksa perilaku:
Apakah hari ini lebih sabar daripada kemarin?
๐คฒ Doa
“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami iman yang benar, cahaya yang tidak pernah padam, dan hati yang selalu memandang-Mu dalam setiap kejadian. Ya Allah, tambahkanlah iman kami, kuatkanlah tauhid kami, dan hidupkanlah hati kami dengan hidayah-Mu.”
Amin.
๐ฏ️ Nasehat Para Tokoh Sufi
Hasan al-Bashri
“Iman bukanlah angan-angan, tetapi apa yang menetap di hati dan dibuktikan dengan amal.”
Rabi‘ah al-Adawiyah
“Aku menyembah Allah bukan karena takut atau berharap, tetapi karena Dia layak disembah.”
Abu Yazid al-Bistami
“Iman adalah lenyapnya dirimu dalam kehendak Allah.”
Junaid al-Baghdadi
“Iman adalah keadaan hati yang jernih, yang hanya melihat Allah mengatur segala sesuatu.”
Al-Hallaj
“Barangsiapa mengenal Allah, ia akan tenggelam dalam cinta-Nya.”
Imam al-Ghazali
“Puncak iman adalah merasakan kehadiran Allah dalam setiap napas.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani
“Hendaklah imanmu hidup: bersandar hanya kepada Allah.”
Jalaluddin Rumi
“Iman adalah lampu; jangan biarkan ia redup dengan kelalaian.”
Ibnu ‘Arabi
“Iman adalah kesaksian batin bahwa tiada yang wujud kecuali Allah.”
Ahmad al-Tijani
“Iman adalah warisan terbesar Rasulullah untuk umatnya.”
๐ Testimoni Tokoh Nusantara
Gus Baha’
“Iman itu sederhana tapi berat: percaya penuh dan pasrah total kepada Allah.”
Ustadz Adi Hidayat
“Iman yang benar melahirkan ilmu yang lurus dan amal yang tepat.”
Buya Yahya
“Iman itu cahaya; jika hati gelap, periksa iman kita.”
Ustadz Abdul Somad
“Iman adalah modal utama menghadap Allah, sisanya hanya pelengkap.”
๐ Daftar Pustaka
- Al-Qur’an al-Karim
- Shahih Bukhari
- Shahih Muslim
- Ihya’ Ulumuddin – Imam Al-Ghazali
- Risalah al-Qusyairiyah – Imam Qusyairi
- Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah
- Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
- Jami’ al-Usul – Ibnu Katsir
- Siyar A‘lam an-Nubala – Adz-Dzahabi
- Qut al-Qulub – Abu Thalib al-Makki
๐ Catatan Redaksi
Jika terdapat kisah dalam tulisan ini yang termasuk kategori Israiliyat, maka ia hanya diposisikan sebagai bahan renungan moral, bukan dasar akidah dan bukan dalil hukum.
๐บ Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang terus menjaga cahaya iman di tengah gelombang zaman.
Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah.
— Penulis: M. Djoko Ekasanu
IMAN: CAHAYA & PETUNJUK ILLAHI
Ngerti Hakikat Iman dari Berbagai Perspektif, plus Tuntunan Nabi SAW
Oleh: M. Djoko Ekasanu
---
Kalo ada yang nanya: “Apa sih iman itu? Yang katanya cahaya dan petunjuk dari Allah swt?”
Bisa dijawab: Iman itu istilah keren buat tauhid—ngesain Allah dalam penyembahan. Kata para ahli teologi, tauhid itu fokus nyembah Allah doang, plus percaya sama ke-Esa-an-Nya, baik dalam zat, sifat, maupun perbuatan-Nya. Iman itu ya percaya banget sama apa yang wajib, mustahil, dan boleh bagi Allah dan Rasul-Nya.
Nah, kata para sufi, iman tuh gak lihat yang lain sebagai pelaku, karena semua gerak di alam semesta ini ya dari Allah. Mereka gak ngeliat ada “pemilik perbuatan” selain Allah secara murni.
Kadang iman juga dilihat dari tanda-tandanya, kayak sabda Nabi SAW ke orang-orang Arab yang dateng ke beliau:
“Apakah kalian tahu apa yang disebut iman terhadap Allah, maha esa Allah, mereka menjawab, Allah dan rasul-Nya lebih mengetahuinya, lalu beliau bersabda: bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa ramadlan, dan memberikan dari harta rampasan perang seperlimanya.”
---
๐ Intisarinya gini:
· Versi ulama klasik: Iman = tauhid. Percaya sama keesaan Allah dalam segala hal.
· Versi ahli kalam: Iman = keyakinan dalam hati tentang wajib, mustahil, dan jaiz buat Allah & Rasul-Nya.
· Versi sufi: Iman = gak lihat yang ngelakuin sesuatu selain Allah. Semua terjadi karena kehendak-Nya.
· Versi Nabi SAW: Iman keliatan dari amalan: syahadat, shalat, zakat, puasa Ramadan, kasih seperlima harta rampasan perang.
---
๐ Latar belakang zaman dulu:
Dulu, orang Arab kan:
· Suka nyembah berhala & banyak tuhan
· Kurang paham konsep ketuhanan yang rapi
· Baru masuk Islam, jadi sering bingung
Makanya Nabi SAW jelasin iman biar gak cuma ngomong doang, tapi paham sampai ke akarnya.
---
๐ง Sekarang kita breakdown:
1. Iman menurut ilmu kalam:
· Bukan cuma percaya, tapi ngerti, ngeyakinin, nancepin di hati, sama nerima pake akal.
· Intinya: ngenal Allah lewat sifat-sifat-Nya.
2. Iman menurut tasawuf:
· Semua yang terjadi dilihat sebagai “aksi Allah”.
· Bukan nafiin sebab, tapi sadar semua sebab jalan karena Allah yang ngatur.
3. Iman menurut syariat:
· Harus ada bukti: shalat, zakat, puasa, amal baik.
· Kalo gak ada amal, imannya bisa dibilang “lemah”. Kalo gak ada tauhid, amalnya gak sah.
---
๐ฑ Relevansinya di zaman now:
· AI, teknologi canggih: Kita bisa kagum sama robot atau AI, tapi iman ingetin: semua itu ciptaan Allah. Kita tetap makhluk, Dia yang Maha Ngatur.
· Medsos & komunikasi: Iman bikin kita lebih hati-hati: hindarin hoax, ghibah, fitnah. Medsos bisa jadi ladang dakwah.
· Transportasi global: Iman bikin perjalanan kita bernilai ibadah. Dunia cuma sementara, akhirat tujuan akhir.
· Kedokteran & bioteknologi: Semakin dalam ilmu, semakin keliatan kebesaran Allah. Tubuh manusia aja udah masterpiece-Nya.
· Hidup sosial modern: Iman jadi “rem” moral di tengah hedonisme, kompetisi, dan krisis spiritual.
---
✨ Keuntungan punya iman:
· Jadi cahaya hidup
· Hati lebih tenang
· Rezeki dilapangkan
· Amal diterima
· Selamat dunia-akhirat
· Dapet pertolongan Allah
---
๐ธ Hikmahnya:
Iman bikin kita:
· Lihat dunia pake kacamata Allah
· Nerima takdir dengan ikhlas
· Kerja dengan tulus
· Hidup ada tujuan akhir (akhirat oriented)
---
๐ Muhasabah harian (buat diri sendiri):
· Udah belum hari ini niat segala sesuatu karena Allah?
· Hati gimana? Ada riya, dengki, atau cari pujian?
· Shalat hari ini lebih khusyuk dari kemarin?
· Sikap hari ini lebih sabar atau enggak?
---
๐คฒ Doa singkat:
“Ya Allah, kasih kami iman yang bener, cahaya yang gak pernah padam, sama hati yang selalu ingat sama-Mu di setiap kejadian. Tambahin iman kami, kuatin tauhid kami, hidupin hati kami dengan petunjuk-Mu. Aamiin.”
---
๐ฌ Kata-kata mutiara para sufi:
· Hasan al-Bashri: “Iman bukan angan-angan, tapi yang nempel di hati dan dibuktiin dengan amal.”
· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku nyembah Allah bukan karena takut neraka atau pengen surga, tapi karena Dia emang layak disembah.”
· Jalaluddin Rumi: “Iman itu lampu; jangan dibiarin redup karena kelalaian.”
· Imam al-Ghazali: “Puncak iman itu ngerasain kehadiran Allah di setiap helaan napas.”
---
๐ Testimoni tokoh Nusantara:
· Gus Baha’: “Iman itu sederhana tapi berat: percaya total & pasrah sepenuhnya ke Allah.”
· Ustadz Adi Hidayat: “Iman yang bener melahirkan ilmu yang lurus & amal yang tepat.”
· Buya Yahya: “Iman itu cahaya; kalo hati gelap, cek iman kita dulu.”
· Ustadz Abdul Somad: “Iman itu modal utama buat ketemu Allah, sisanya cuma bonus.”
---
๐ Sumber bacaan (buat yang mau explore):
· Al-Qur’an
· Shahih Bukhari & Muslim
· Ihya’ Ulumuddin – Al-Ghazali
· Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah
· Dan lain-lain (bisa cek di daftar pustaka asli)
---
๐ Catatan:
Kalo ada cerita Israiliyat di tulisan ini, itu cuma buat bahan renungan moral aja ya, bukan buat dasar akidah atau hukum.
---
๐บ Akhir kata:
Terima kasih buat para guru, ulama, dan kalian semua yang tetep jaga cahaya iman di tengah zaman yang makin kompleks.
Semoga tulisan ini bermanfaat & jadi amal jariyah.
Stay faithful, keep the light on! ✨
— M. Djoko Ekasanu

