Wednesday, February 4, 2026

 Pasal: 1. Maksiat Badan. 61/10= 6

Diantara maksiat badan, antara lain:

1. Berani kepada kedua orang tua

2. Lari dari peperangan

3. Memutus sanak famili

4. Menyakiti tetangga, sekalipun kafir yang sudah ada jaminan aman dengan menyakiti yang terang.

5. Menyemir rambut dengan warna hitam

6. Orang laki-laki menyerupai orang perempuan (dengan pakaian atau gaya) dan sebaliknya.

7. Menurunkan (menyengserkan) pakaian karena sombong.

8. Memacari kedua tangan atau kedua kaki, bagi laki-laki tanpa ada hajat.

9. Memutus perbuatan fardhu tanpa uzur.

10. Menggagalkan kesunatan haji dan umrah.



MAKSIAT BADAN: LUKA LAHIR, LEBIH DALAM MELUKAI BATIN

(Telaah Tasawuf tentang Penyimpangan Anggota Tubuh dari Jalan Allah)

Pendahuluan

Dalam perspektif Tasawuf, maksiat bukan sekadar pelanggaran hukum, tetapi tanda jiwa yang jauh dari muraqabah (merasa diawasi Allah).
Anggota tubuh adalah amanah, bukan milik mutlak kita. Ketika tubuh digunakan untuk maksiat, yang rusak bukan hanya amal, tetapi kejernihan hati.

Allah berfirman:

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
(QS. Al-Isrā’: 36)


URAIAN MAKSIAT BADAN DALAM CAHAYA TASAWUF

1. Durhaka kepada Kedua Orang Tua

Tasawuf memandang ridha Allah mengalir melalui ridha orang tua.

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua.” (HR. Tirmidzi)

🔹 Analisis:
Berani kepada orang tua bukan hanya lisan atau perbuatan, tetapi hati yang merasa lebih tahu, lebih benar, lebih tinggi—itulah akar kesombongan batin.

🔹 Dampak ruhani:
Hati menjadi keras, doa tertolak, hidup sempit meski harta luas.


2. Lari dari Peperangan

Dalam tasawuf, ini bukan hanya perang fisik, tetapi lari dari amanah dan tanggung jawab.

(QS. Al-Anfāl: 15–16)

🔹 Makna batin:
Melarikan diri dari kewajiban jihad melawan hawa nafsu.


3. Memutus Tali Silaturahmi

Silaturahmi adalah aliran rahmat.

“Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi.” (HR. Bukhari)

🔹 Tasawuf:
Memutus silaturahmi = memutus aliran nur (cahaya) dalam hidup.


4. Menyakiti Tetangga (Muslim atau Kafir Dzimmi)

Rasulullah bersabda:

“Demi Allah, tidak beriman orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.”

🔹 Tasawuf:
Hati yang penuh cahaya tidak sanggup menyakiti makhluk Allah, siapa pun dia.


5. Menyemir Rambut Hitam

“Akan ada kaum di akhir zaman menyemir rambutnya hitam seperti tembolok burung, mereka tidak mencium bau surga.” (HR. Abu Dawud)

🔹 Makna batin:
Penipuan usia = penipuan hakikat diri, menolak kenyataan kefanaan.


6. Laki-laki Menyerupai Perempuan & Sebaliknya

“Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)

🔹 Tasawuf:
Ini bukan soal gaya semata, tetapi pemberontakan terhadap fitrah yang ditetapkan Allah.


7. Isbal karena Sombong

“Barang siapa menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”

🔹 Akar batin:
Kesombongan halus—ingin dihormati, dipandang, diagungkan.


8. Memakai Pacar (Henna) bagi Laki-laki tanpa Hajat

🔹 Tasawuf:
Meniru tanpa kebutuhan = hilangnya haybah (wibawa ruhani).


9. Memutus Perbuatan Fardhu tanpa Uzur

Salat adalah mi’raj-nya ruh.

🔹 Tasawuf:
Meninggalkan fardhu = memutus jalur langit dari bumi.


10. Menggagalkan Kesempurnaan Haji dan Umrah

Haji bukan perjalanan badan, tetapi perjalanan pulang jiwa kepada Allah.

🔹 Bahaya:
Ritual ada, tapi hati tetap duniawi.


KEMULIAAN & KEHINAAN AKIBAT MAKSIAT BADAN

📍 Di Dunia

  • Hati gelisah
  • Hidup sempit
  • Doa sulit terkabul
  • Hubungan rusak

📍 Di Alam Kubur

  • Anggota tubuh menjadi saksi
  • Kubur sempit bagi yang meremehkan amanah tubuh

📍 Di Hari Kiamat

“Pada hari itu tangan mereka berbicara kepada Kami…”
(QS. Yāsīn: 65)

📍 Di Akhirat

  • Cahaya amal padam
  • Jarak dengan Allah semakin jauh

Sebaliknya, menjaga anggota tubuh melahirkan:

  • Cahaya wajah
  • Hati lembut
  • Husnul khatimah
  • Kedekatan dengan Allah

MUHASABAH: BERTANYALAH PADA DIRI SENDIRI

  • Apakah tubuhku masih tunduk kepada Allah?
  • Apakah tanganku lebih sering menyakiti atau menolong?
  • Apakah kakiku melangkah ke ridha atau maksiat?

Cara Muhasabah Tasawuf

  1. Diam sebelum tidur
  2. Hadirkan kematian
  3. Ingat anggota tubuh satu per satu
  4. Menangis jika mampu
  5. Bertobat dengan niat perubahan

HIKMAH, TUJUAN & MANFAAT MENJAUHI MAKSIAT BADAN

  • Jiwa menjadi ringan
  • Ibadah terasa manis
  • Hidup penuh berkah
  • Mudah menerima nasihat
  • Dekat dengan Allah

DOA

“Ya Allah, sucikanlah anggota tubuh kami dari maksiat, bersihkan hati kami dari kesombongan, dan kembalikan kami kepada-Mu dengan jiwa yang tenang. Jangan Engkau jadikan anggota tubuh kami saksi atas kebinasaan kami, tetapi saksi atas taubat dan cinta kami kepada-Mu.”
Āmīn.


UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih telah menghadirkan pembahasan ini.
Mengingat maksiat bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyembuhkan.
Semoga tulisan ini menjadi cermin lembut, bukan cambuk keras—agar kita pulang kepada Allah dengan tubuh yang taat dan hati yang selamat.

🌿

.........

MAKSIAT BADAN: LUKA DI LUAR, LEBIH DALAM NYUTNYUTIN BATIN


(Ngomongin Penyimpangan Anggota Tubuh dari Jalan Allah Versi Tasawuf)


Intro


Dalam sudut pandang tasawuf, maksiat itu nggak cuma sekadar nglanggar aturan, tapi itu tanda jiwa lagi jauh banget dari rasa diawasi sama Allah (muraqabah). Anggota tubuh kita itu titipan (amanah), bukan milik mutlak kita. Pas kita pake buat maksiat, yang rusak bukan cuma catatan amal, tapi kejernihan hati kita juga ikut keruh.


Allah berfirman:

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isrā’: 36)


BAHAS MAKSIAT BADAN DALAM SOROTAN TASAWUF


1. Durhaka ke Ortu

   Menurut tasawuf, ridha Allah itu ngalir bareng sama ridha orang tua.

   “Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua.” (HR. Tirmidzi)

   🔸 Analisis: Durhaka itu nggak cuma lewat kata atau sikap kasar, tapi hati yang ngerasa lebih tahu, lebih bener, lebih tinggi—itu akar kesombongan batin yang bahaya.

   🔸 Dampak ke jiwa: Hati jadi keras, doa susah dikabulin, hidup terasa sempit padahal mungkin harta banyak.

2. Lari dari Peperangan

   Dalam tasawuf, ini bisa diartiin juga sebagai lari dari amanah dan tanggung jawab (QS. Al-Anfāl: 15–16).

   🔸 Makna batinnya: Itu sama aja kayak kabur dari kewajiban "jihad" melawan hawa nafsu kita sendiri.

3. Putusin Silaturahmi

   Silaturahmi itu kayak aliran rezeki dan kasih sayang.

   “Tidak akan masuk surga orang yang memutus silaturahmi.” (HR. Bukhari)

   🔸 Versi tasawuf: Putus silaturahmi = memutus aliran cahaya (nur) dalam hidup kita. Otomatis jadi gelap.

4. Nyakitin Tetangga

   Rasulullah bersabda:

   “Demi Allah, tidak beriman orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.”

   🔸 Tasawuf bilang: Hati yang udah penuh cahaya, nggak akan tega nyakitin makhluk Allah, siapapun dia.

5. Nyemir Rambut Item Biar Awet Muda

   “Akan ada kaum di akhir zaman menyemir rambutnya hitam seperti tembolok burung, mereka tidak mencium bau surga.” (HR. Abu Dawud)

   🔸 Makna batinnya: Ini soal menipu usia = menipu hakikat diri sendiri, nggak terima sama kenyataan kalau kita fana.

6. Cewek Ngikut Gaya Cowok atau Cowok Ngikut Gaya Cewek

   “Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari)

   🔸 Tasawuf lihat: Ini bukan cuma soal fashion atau ekspresi, tapi lebih ke pemberontakan terhadap fitrah yang udah Allah tetapin.

7. Isbal (Nurunin Celana/Gamis sampe nyentuh tanah) karena Sombong

   “Barang siapa menyeret pakaiannya karena sombong, Allah tidak akan melihatnya pada hari kiamat.”

   🔸 Akar masalah batin: Kesombongan yang halus—pengen dihormati, diliat, diagungin. Itu aja.

8. Cowok Pake Pacar/Inai Bukan karena Hajat (Kebutuhan)

   🔸 Kaca mata tasawuf: Niru-niru tanpa perlu = hilangnya haybah (wibawa ruhani) yang semestinya dimiliki.

9. Bolongin atau Tinggalin Ibadah Wajib Tanpa Alasan

   Salat itu mi’raj-nya ruh, naiknya jiwa kita.

   🔸 Tasawuf ngingetin: Tinggalin yang wajib = putusin jalur penghubung antara kita sama Allah.

10. Ngerusain Kesempurnaan Haji atau Umrah

    Haji itu bukan liburan atau jalan-jalan badan doang, tapi perjalanan pulangnya jiwa ke Allah.

    🔸 Bahayanya: Ritualnya jalan, tapi hatinya masih sibuk sama dunia, nggak berubah.


APA AKIBATNYA? MULIA ATAU HINA?


📍 Di Dunia:


· Hati gelisah, nggak tenang.

· Hidup terasa sempit.

· Doa kayak mentok di langit-langit.

· Hubungan sama orang lain rusak.


📍 Di Alam Kubur:


· Anggota tubuh kita yang jadi saksi.

· Kubur terasa sempit bagi yang ngeremehin amanah tubuh.


📍 Di Hari Kiamat:


· “Pada hari itu tangan mereka berbicara kepada Kami…” (QS. Yāsīn: 65) — anggota tubuh kita sendiri yang ngomong.


📍 Di Akhirat:


· Cahaya amal padam.

· Jauh dari Allah.


Kalau kita jaga anggota tubuh? Hasilnya:


· Wajah berbinar (ada cahaya).

· Hati lembut.

· Akhir hidup baik (husnul khatimah).

· Deket sama Allah.


MUHASABAH (INTROSPEKSI): TANYAIN DIRI SENDIRI


· Apa tubuhku masih nurut sama perintah Allah?

· Apa tanganku lebih sering nyakitin atau nolongin?

· Apa kakiku lebih sering melangkah ke tempat maksiat atau ke tempat yang diridhai?


Cara Muhasabah ala Tasawuf:


1. Diam sebentar sebelum tidur.

2. Bayangin kematian (ini bikin sadar banget).

3. Inget-inget satu per satu anggota tubuh kita, ngapain aja hari ini.

4. Nangis kalo bisa, sebagai penyesalan.

5. Tobat beneran, dengan niat berubah.


HIKMAH & MANFAAT JAUHIN MAKSIAT BADAN


· Jiwa jadi enteng, nggak berat.

· Ibadah terasa enak dan manis.

· Hidup penuh berkah, lancar jaya.

· Gampang nerima nasihat baik.

· Hubungan sama Allah makin deket.


DOA


“Ya Allah, sucikanlah anggota tubuh kami dari maksiat, bersihkan hati kami dari kesombongan, dan kembalikan kami kepada-Mu dengan jiwa yang tenang. Jangan Engkau jadikan anggota tubuh kami saksi atas kebinasaan kami, tetapi saksi atas taubat dan cinta kami kepada-Mu.”

Āmīn.


PENUTUP


Makasih ya udah nyempetin baca bahasan ini.

Inget, ngomongin maksiat ini tujuannya bukan buat nyalahin atau menghakimi, tapi buat ngobatin jiwa kita yang mungkin lagi sakit.

Semoga tulisan ini jadi cermin yang lembut, bukannya cambuk yang keras—biar kita bisa pulang ke Allah dengan tubuh yang taat dan hati yang selamat.


🌿