Tuesday, December 16, 2025

869. FIRMAN YANG PASTI TERJADI

 


QS. AL-AN‘AM : 73

وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۗ وَيَوْمَ يَقُوْلُ كُنْ فَيَكُوْنُۚ قَوْلُهُ الْحَقُّۗ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِۗ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ

Artinya : Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak(benar). (Sungguh benar ketetapan-Nya) pada hari (ketika) Dia berkata, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Mahabijaksana lagi Mahateliti.

.......

Firman yang Pasti Terjadi

Bacaan Koran Tafsir Al-An‘am Ayat 73 (Merujuk Tafsir Al-Ibrīz)

Penulis: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Asli Ayat

Allah ﷻ menegaskan bahwa Dialah pencipta langit dan bumi dengan kebenaran. Segala ciptaan-Nya bukan main-main, bukan kebetulan. Ketika Allah berkehendak atas sesuatu, Dia hanya berfirman “Kun” (Jadilah), maka terjadilah. Kekuasaan mutlak berada di tangan-Nya, terutama pada hari sangkakala ditiup, hari runtuhnya dunia dan dimulainya kehidupan akhirat. Allah Maha Mengetahui yang gaib dan yang tampak, Maha Bijaksana dan Maha Teliti atas segala sesuatu.

Dalam Tafsir Al-Ibrīz karya KH. Bisri Mustofa, ayat ini ditekankan sebagai pengingat bahwa dunia berjalan di bawah kehendak Allah, bukan semata sebab-akibat manusia. Segala kekuasaan dunia akan sirna ketika sangkakala ditiup, dan hanya kekuasaan Allah yang tersisa.


Latar Belakang Masalah di Zaman Turunnya Ayat

Pada masa Rasulullah ﷺ, kaum musyrikin Quraisy mengakui Allah sebagai Pencipta, namun menolak kekuasaan-Nya atas kebangkitan, hari akhir, dan pembalasan. Mereka memandang kehidupan hanya sebatas dunia. Ayat ini turun untuk meluruskan keyakinan keliru tersebut dan menegaskan bahwa penciptaan, kehidupan, kematian, dan kebangkitan semuanya berada dalam satu kendali: Allah ﷻ.


Sebab Terjadinya Masalah

Masalah utama umat saat itu adalah:

  1. Pengingkaran hari kebangkitan.
  2. Ketergantungan pada kekuatan materi dan tradisi leluhur.
  3. Meremehkan kekuasaan Allah di luar logika manusia.

Ayat ini datang sebagai bantahan tegas: jika penciptaan alam semesta saja mudah bagi Allah, maka membangkitkan manusia jauh lebih mudah.


Intisari Judul

“Kun Fayakūn: Ketika Kehendak Allah Mengalahkan Segala Logika”


Tujuan dan Manfaat

Tujuan:

  • Meneguhkan tauhid rububiyah dan uluhiyah.
  • Menanamkan keyakinan akan hari akhir.

Manfaat:

  • Melahirkan sikap tawakal.
  • Menumbuhkan rasa takut dan harap kepada Allah.
  • Mengikis kesombongan intelektual dan material.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Dalil Al-Qur’an:

  • QS. Yasin: 82 — “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata: Jadilah! Maka jadilah ia.”
  • QS. Al-Hajj: 7 — Kepastian hari kiamat.

Dalil Hadis:

  • Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah berfirman: Wahai anak Adam, engkau mengingkari-Ku padahal Aku menciptakanmu…” (HR. Bukhari dan Muslim).

Analisis dan Argumentasi

Ayat ini meruntuhkan anggapan bahwa hukum alam berdiri sendiri. Teknologi, ilmu, dan sebab-akibat hanyalah sunatullah, bukan penguasa mutlak. Firman Allah tetap berada di atas seluruh sistem alam. Ketika sangkakala ditiup, seluruh tatanan runtuh tanpa bisa ditunda oleh ilmu atau kekuatan apa pun.


Keutamaan dan Hukuman

Keutamaan Orang yang Mengimaninya:

  • Di dunia: hati tenang, tidak panik menghadapi perubahan.
  • Di alam kubur: dilapangkan kuburnya.
  • Di hari kiamat: mendapat keamanan.
  • Di akhirat: masuk surga dengan rahmat Allah.

Hukuman bagi yang Mengingkarinya:

  • Di dunia: hidup gelisah dan sombong.
  • Di alam kubur: kubur menyempit.
  • Di hari kiamat: penyesalan abadi.
  • Di akhirat: azab yang pedih.

Relevansi dengan Kehidupan Modern

  • Teknologi: secanggih apa pun AI dan mesin, tetap tunduk pada kehendak Allah.
  • Komunikasi: informasi cepat tidak menjamin kebenaran.
  • Transportasi: jarak dekat namun ajal tetap misteri.
  • Kedokteran: mampu menyembuhkan, tetapi tidak menunda kematian.
  • Sosial: manusia merasa berkuasa, padahal rapuh.

Ayat ini menjadi rem bagi kesombongan peradaban modern.


Hikmah

  • Jangan menggantungkan hidup pada sebab, tetapi pada Pencipta sebab.
  • Dunia berjalan menuju satu titik: tiupan sangkakala.

Muhasabah dan Caranya

Muhasabah:

  • Apakah iman kita masih bergantung pada dunia?
  • Apakah kita siap jika sangkakala ditiup hari ini?

Caranya:

  • Memperbanyak dzikir La ilaha illallah.
  • Mengingat kematian setiap hari.
  • Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur.

Doa

Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tibā‘ah, wa arinal bāthila bāthilan warzuqna ijtinābah.


Nasehat Para Ulama dan Sufi

  • Hasan Al-Bashri: “Dunia adalah mimpi, akhirat adalah kesadaran.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku menyembah Allah bukan karena surga atau neraka.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Tauhid adalah memisahkan yang qadim dari yang baru.”
  • Imam Al-Ghazali: “Ilmu tanpa iman hanya menambah kesombongan.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan kau sandarkan hatimu selain kepada Allah.”
  • Jalaluddin Rumi: “Ketika kehendak Allah datang, logika pun bersujud.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Segala yang tampak hanyalah bayangan kehendak-Nya.”
  • Ahmad al-Tijani: “Kekuatan sejati adalah tunduk.”

Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha: “Akhirat itu bukan soal nanti, tapi kepastian.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Kun fayakūn adalah dalil tertinggi kekuasaan Allah.”
  • Buya Yahya: “Ilmu harus melahirkan takut kepada Allah.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Modern tapi lupa mati, itu celaka.”
  • Buya Arrazy Hasyim: “Tasawuf adalah menyadari siapa yang berkuasa.”

Daftar Pustaka

  • Al-Qur’anul Karim
  • Tafsir Al-Ibrīz – KH. Bisri Mustofa
  • Ihya’ Ulumiddin – Imam Al-Ghazali
  • Futuhul Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  • Tafsir Ibnu Katsir

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hidup.


Catatan Redaksi

Jika terdapat kisah yang termasuk kategori Israiliyat, maka ia hanya disajikan sebagai bahan renungan, bukan dalil akidah.


Semoga tulisan ini menjadi pengingat sebelum sangkakala benar-benar ditiup.

.........

QS. AL-AN‘AM : 73 Menurut Tafsir Al-Ibriz.

Firman Allah: Cuma Bilang "Jadilah!" Langsung Jadi!

Bacaan dari Tafsir Al-An'am Ayat 73 (Ngikutin Penjelasan Tafsir Al-Ibrīz)

Ayatnya:


وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۗ وَيَوْمَ يَقُوْلُ كُنْ فَيَكُوْنُۚ قَوْلُهُ الْحَقُّۗ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِۗ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ


Artinya tetep kaya gini ya (ga diganti bahasa gaul): Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak(benar). (Sungguh benar ketetapan-Nya) pada hari (ketika) Dia berkata, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Mahabijaksana lagi Mahateliti.


---


*Inti Ayatnya Apa Sih?*

Allah SWT nge-gas bahwa Dia tuh BOSS-nya alam semesta, bikin langit bumi itu serius, bukan cuma kebetulan atau main-main. Kalo Allah mau sesuatu, cuma perlu bilang “Kun!” (Jadilah!), langsung jadi deh. Kekuasaan mutlak tuh di tangan Dia, apalagi pas hari Kiamat nanti, waktu terompet malaikat ditiup. Allah tahu semua hal, yang keliatan dan yang ghaib. Dia Maha Pinter banget dan teliti.


Di Tafsir Al-Ibrīz-nya KH. Bisri Mustofa, ayat ini tuh kayak reminder keras: dunia jalan sesuai kehendak Allah, bukan cuma sebab-akibat yang kita liat. Semua kuasa dan jabatan duniawi bakal collapse pas hari Kiamat, tinggal kekuasaan Allah aja yang tetap.


*Dulu Pas Ayat Ini Turun, Lagi Ada Apa?*

Zaman Nabi Muhammad SAW, kaum musyrikin Quraisy emang ngakuin Allah sebagai Pencipta, tapi mereka nggak percaya soal kebangkitan di akhirat dan hisab (perhitungan amal). Bagi mereka, hidup ya cuma di dunia aja, mati ya udah tamat. Ayat ini turun buat counter pemikiran mereka, ngegas bahwa dari awal bikin alam sampe nanti bangkitin manusia mati, semua di tangan Allah, mudah banget buat Dia.


Judulnya:


*Kun Fayakūn: Saat Kehendak Allah ‘Ngelibas’ Semua Logika Kita*


*Tujuan & Manfaat Buat Kita:*

Tujuannya:


1. Ngeyakinin kita soal ke-Esa-an dan kekuasaan Allah.

2. Nancepin keyakinan bahwa Hari Akhir itu beneran ada, bukan dongeng.


Manfaatnya:


1. Bikin kita lebih tawakal (pasrah setelah usaha maksimal).

2. Numbuhin rasa takut sama harap cuma ke Allah.

3. Ngeredain rasa sombong karena ilmu atau harta dunia.


*Backup-an dari Qur’an & Hadis:*

· QS. Yasin: 82 — “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata: Jadilah! Maka jadilah ia.” (Ini reinforcing banget).

· QS. Al-Hajj: 7 — Soal kepastian hari kiamat.

· Hadis Riwayat Bukhari-Muslim: Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah berfirman: Wahai anak Adam, engkau mengingkari-Ku padahal Aku menciptakanmu…” (Intinya kita sering lupa diri).

*Analisis Singkat:*

Ayat ini ngerobohin pemikiran kalo hukum alam bisa jalan sendiri. Teknologi canggih, ilmu pengetahuan tinggi, semua itu cuma sunatullah (aturan Allah di alam), bukan penguasa sejati. Perintah Allah tuh top rank, di atas semua sistem. Bayangin, pas terompet Kiamat ditiup, semua teori fisika, teknologi AI super, kekuatan militer, langsung nge-freeze. Nggak ada yang bisa nunda.

Konsekuensinya: Buat yang Percaya vs Nggak Percaya

Buat yang Ngefirm-in (percaya):

· Di Dunia: Hati lebih adem, nggak gampang panik atau overthinking.

· Di Alam Kubur: Kuburnya dilapangin (insya Allah).

· Pas Kiamat: Dapet rasa aman.

· Di Akhirat: Tiket ke surga atas rahmat-Nya.

Buat yang Ngeyel (nggak percaya):

· Di Dunia: Hidupnya gelisah dan sok kuat.

· Di Alam Kubur: Kuburnya sesek (naudzubillah).

· Pas Kiamat: Penyesalan tingkat dewa.

· Di Akhirat: Azab yang pedih.


*Relevansi di Zaman Now:*

· Teknologi & AI: Secanggih apapun robot atau AI, mereka tetap ciptaan dan tunduk sama “Kun fayakūn”-nya Allah.

· Komunikasi & Medsos: Informasi bisa nyampe secepat cahaya, tapi kebenaran tetap berasal dari Allah.

· Transportasi: Bisa ke mana aja dalam hitungan jam, tapi ajal tetep misteri dan nggak bisa dikejar-kejar.

· Kedokteran: Bisa nyembuhin banyak penyakit, tapi nggak bisa nolak atau nunda takdir kematian.

· Life in General: Kita sering merasa berkuasa atas hidup sendiri, padahal sebenarnya sangat rapuh. Ayat ini tuh kayak reality check buat kesombongan zaman now.

*Hikmah yang Bisa Diambil:*

Jangan hidup cuma ngandelin “sebab” (usaha, ilmu, koneksi) doang. Tapi, selalu inget sama yang Menciptakan Sebab itu sendiri. Dunia ini cuma sementara, dan tujuannya cuma satu: nunggu launch-nya hari Kiamat.

*Muhasabah Diri (Self-Reflection):*

· Iman aku masih kuat nggak sih, atau masih terlalu sibuk sama urusan dunia?

· Kalo terompet Kiamat ditiup hari ini, udah siap belum?

Caranya:

1. Perbanyak dzikir, terutama La ilaha illallah.

2. Sering-sering inget mati, biar nggak kejerat gaya hidup hedon.

3. Baca Qur’an pelan-pelan, coba direnungin artinya.


*Doa Penutup:*

Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tibā‘ah, wa arinal bāthila bāthilan warzuqna ijtinābah. (Ya Allah,tunjukkanlah kebenaran itu sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kebatilan itu sebagai kebatilan dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya).


*Quotes Bijak dari Para Ulama & Sufi :*

❤️: “Dunia adalah mimpi, akhirat adalah kesadaran.”

❤️: “Aku menyembah Allah bukan karena surga atau neraka.”

❤️: “Tauhid adalah memisahkan yang qadim dari yang baru.”

❤️: “Ilmu tanpa iman hanya menambah kesombongan.”

❤️: “Jangan kau sandarkan hatimu selain kepada Allah.”

❤️: “Ketika kehendak Allah datang, logika pun bersujud.”

❤️: “Segala yang tampak hanyalah bayangan kehendak-Nya.”

❤️: “Kekuatan sejati adalah tunduk.”


*Testimoni Ulama Zaman Now:*

· Gus Baha: “Akhirat itu bukan soal nanti, tapi kepastian.”

· Ustadz Adi Hidayat: “Kun fayakūn adalah dalil tertinggi kekuasaan Allah.”

· Buya Yahya: “Ilmu harus melahirkan takut kepada Allah.”

· Ustadz Abdul Somad: “Modern tapi lupa mati, itu celaka.”

· Buya Arrazy Hasyim: “Tasawuf adalah menyadari siapa yang berkuasa.”

---

*Daftar Pustaka & Ucapan Terima Kasih* (sama kaya yang asli, karena penting buat kredibilitas).

_Catatan Redaksi: Kalo ada kisah Israiliyat, itu cuma buat bahan renungan, bukan buat pegangan akidah ya_.

Semoga tulisan santai ini bisa jadi pengingat yang relateable buat kita semua, sebelum beneran denger terompet Kiamat ditiup. Stay humble and keep the faith!



Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga bermanfa'at selalu.

—M. Djoko ekasanU—

868. Kemaksiatan Tersembunyi dan Hari Penyesalan

 


Kemaksiatan Tersembunyi dan Hari Penyesalan

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Di dalam hadits yang lain, dari Mu’adz bin Jabal ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Ketika terjadi hari kiamat, yaitu hari kerugian dan penyesalan, maka Allah Ta’ala mengumpulkan umatku dari kubur mereka menjadi 12 bagian.”

Mereka dikumpulkan dari kuburnya (dalam keadaan) berbau busuk, bau mereka lebih bacin daripada bangkai. Lalu ada pemanggil dari hadapan Dzat Yang Maha Penyayang: Mereka ini adalah orang-orang yang menyimpan kemaksiatannya dengan Samar (dihadapan) manusia dan tidak takut dihadapan Allah. Mereka mati sebelum bertaubat, maka inilah pembalasan mereka, dan tempat kembali mereka adalah ke neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapl mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridlai. Dan adalah Allah Maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An Nisa’: 108).


Ringkasan Redaksi Asli Hadis

Hadis yang dinisbatkan kepada Mu’adz bin Jabal ra. menerangkan bahwa pada hari kiamat—hari kerugian dan penyesalan—umat Nabi Muhammad ﷺ akan dikumpulkan dalam beberapa golongan. Salah satu golongan dibangkitkan dari kubur dalam keadaan berbau busuk, lebih bacin dari bangkai. Mereka adalah orang-orang yang menyembunyikan kemaksiatan di hadapan manusia, namun berani bermaksiat di hadapan Allah tanpa rasa takut, hingga wafat sebelum sempat bertaubat. Balasan bagi mereka adalah kehinaan dan neraka.

Hadis ini dipertegas oleh firman Allah:

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka…” (QS. An-Nisā’: 108).


Latar Belakang Masalah di Zaman Nabi ﷺ

Pada masa Rasulullah ﷺ, masyarakat Arab hidup dalam struktur sosial yang menjunjung kehormatan lahiriah. Banyak orang berusaha tampak baik di hadapan manusia, namun masih melakukan dosa secara sembunyi-sembunyi, terutama pada malam hari. Fenomena kemunafikan dan maksiat tersembunyi inilah yang diluruskan oleh Al-Qur’an dan Sunnah.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Lemahnya rasa muraqabah (merasa diawasi Allah).
  2. Takut celaan manusia lebih besar daripada takut kepada Allah.
  3. Menunda-nunda taubat.
  4. Meremehkan dosa yang dilakukan secara sembunyi.

Intisari Judul

Bahaya Maksiat Tersembunyi: Ketika Takut Manusia Mengalahkan Takut kepada Allah.


Tujuan dan Manfaat Penulisan

  • Menumbuhkan kesadaran akan pengawasan Allah.
  • Mengajak pembaca untuk segera bertaubat.
  • Menjadi peringatan agar keindahan lahir sejalan dengan kebersihan batin.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Al-Qur’an

  • QS. An-Nisā’: 108
  • QS. Az-Zalzalah: 7–8
  • QS. Qāf: 16–18

Hadis

  • “Sesungguhnya Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
  • Hadis tentang golongan yang pertama kali dihisab karena riya’.

Analisis dan Argumentasi

Islam tidak hanya menilai amal dari tampilan luar, tetapi dari keikhlasan dan ketaatan batin. Maksiat tersembunyi menunjukkan rusaknya hubungan hamba dengan Allah, meskipun hubungan sosialnya tampak baik.


Keutamaan dan Hukuman

Di Dunia

  • Hati gelap, gelisah, dan hilang keberkahan.

Di Alam Kubur

  • Kubur menjadi sempit dan gelap.

Di Hari Kiamat

  • Dibangkitkan dalam kehinaan dan bau busuk.

Di Akhirat

  • Terancam siksa neraka kecuali bagi yang bertaubat.

Relevansi dengan Zaman Modern

Teknologi & Komunikasi

Kemaksiatan kini mudah dilakukan secara privat melalui gawai, internet, dan media sosial.

Transportasi & Kedokteran

Kemudahan hidup sering melalaikan manusia dari kematian dan hisab.

Kehidupan Sosial

Budaya pencitraan memperbesar peluang riya’ dan dosa tersembunyi.


Hikmah

  • Allah tidak pernah lalai.
  • Dosa tersembunyi lebih berbahaya dari dosa terang-terangan jika tanpa taubat.

Muhasabah dan Caranya

  1. Menghisab diri setiap malam.
  2. Memperbanyak istighfar.
  3. Mengurangi dosa sunyi.
  4. Menjaga amal rahasia yang ikhlas.

Doa

“Allahumma tahhir qulubana minan nifaq, wa a‘malana minar riya’, waj‘al sirrana khairan min ‘alaniyatina.”


Nasihat Para Ulama dan Sufi

  • Hasan Al-Bashri: “Jangan tertipu oleh amal terang, sementara Allah mengetahui amal rahasiamu.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Sembahlah Allah bukan karena takut neraka, tapi karena cinta.”
  • Imam Al-Ghazali: “Akar kemunafikan adalah cinta pujian.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Bersihkan batinmu, maka lahirmu akan mengikuti.”
  • Jalaluddin Rumi: “Apa yang kau sembunyikan akan menemukan jalannya untuk tampak.”

Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha: “Dosa kecil yang disembunyikan bisa jadi besar jika tanpa taubat.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Takwa itu konsisten, bukan hanya di depan manusia.”
  • Buya Yahya: “Allah menilai kejujuran batin.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Malu kepada Allah adalah puncak iman.”
  • Buya Arrazy Hasyim: “Muraqabah adalah kunci keselamatan.”

Daftar Pustaka

  • Al-Qur’an al-Karim
  • Shahih Muslim
  • Ihya’ Ulumiddin – Imam Al-Ghazali
  • Tafsir Ibnu Katsir

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang menjadikan tulisan ini sebagai bahan renungan dan perbaikan diri.


Catatan Redaksi

Apabila terdapat kisah yang termasuk kategori Israiliyat, maka ia disajikan sebatas bahan renungan, bukan sebagai dalil akidah atau hukum.

........

Maksiat Tersembunyi & Hari Penyesalan 😥


Penulis: M. Djoko Ekasanu


Diceritain dari Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ pernah ngomong gini: “Pas hari Kiamat datang—hari di mana semua orang rugi dan nyesel banget—Allah Ta’ala bakal ngumpulin umatku dari kuburan jadi 12 golongan.”


Nah, salah satu golongan dibangkitin dari kubur dengan bau super busuk, baunya bahkan lebih parah daripada bangkai. Terus ada yang neriak dari depan Allah Yang Maha Penyayang: “Ini tuh orang-orang yang nyembunyiin maksiatnya biar gak ketahuan manusia, tapi gak takut sama Allah sama sekali. Mereka mati sebelum sempet taubat. Ini ganjarannya, dan tempat pulang mereka ya neraka.”


Allah Ta’ala juga udah ngasih peringatan lewat firman-Nya:


“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nisā’: 108).


---


Latar Belakang Dulu vs Sekarang


Zaman Nabi ﷺ, banyak orang yang tampilannya wah di depan umum, tapi malah ngelakuin dosa sembunyi-sembunyi, apalagi malem-malem. Fenomena “tampang alim, hati maksiat” inilah yang mau dibenerin sama Al-Qur’an dan Sunnah.


Akar Masalahnya:


1. Kurang ngerasain kalo Allah lagi ngeliat (muraqabah).

2. Takut dihakimi orang > takut sama Allah.

3. Suka nunda-nunda taubat (“Ah, ntar aja!”).

4. Anggep remeh dosa yang dikerjain sendiri.


---


Intisari & Goal Tulisan Ini


Judul versi bahasa kita: “Bahaya Maksiat di Kamar Sendiri: Ketika Takut Trending Topic di Medsos Lebih Besar daripada Takut Allah.”


Tujuannya biar:


· Kita makin sadar kalo Allah always watching, gak cuma pas lagi live.

· Langsung taubat, jangan ditunda.

· Penampilan luar yang oke sejalan sama hati yang bersih.


---


Backup dari Qur’an & Hadits


Dari Qur’an:


· QS. An-Nisā’: 108 (udah di atas)

· QS. Az-Zalzalah: 7–8 (“Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.”)

· QS. Qāf: 16–18 (Allah lebih dekat dari urat leher & malaikat catat semua amal).


Dari Hadits:


· “Sesungguhnya Allah melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

· Golongan pertama yang dihisab di akhirat tuh orang yang riya’ (cari pencitraan).


---


Analisis Singkat


Agama kita gak cuma nilai tampilan luar. Yang penting tuh keikhlasan di hati sama ketaatan batin. Maksiat yang kita sembunyiin itu nunjukkin hubungan kita sama Allah lagi rusak, meskipun di sosmed keliatannya baik banget.


Konsekuensinya:


· Di Dunia: Hati gelap, gelisah, hidup gak berkah.

· Di Alam Kubur: Kuburan jadi sempit & gelap gulita.

· Pas Kiamat: Dibangkitin dengan kondisi hina & bau busuk.

· Di Akhirat: Ancaman neraka, kecuali buat yang udah taubat beneran.


---


Relevansi di Zaman Now


· Gadget & Medsos: Maksiat makin gampang dilakukan privat lewat HP, internet, DM, atau apk rahasia.

· Gaya Hidup: Kemudahan hidup bikin kita lupa mati & hisab.

· Budaya Pencitraan: Demen banget “dipandang baik” di sosial media, bikin riya’ & dosa tersembunyi makin gampang.


Hikmahnya:


1. Allah gak pernah lagi scroll, Dia mah tau segalanya.

2. Dosa tersembunyi justru lebih bahaya kalo kita cuek dan gak taubat.


---


Tips Biar Gak Kena Jebakan:


1. Self-Review tiap malam: “Hari ini aku ngapain aja yang gak ada yang liat?”

2. Banyakin baca istighfar.

3. Kurangi dosa “me-time”.

4. Rajin amal rahasia yang ikhlas (sedekah diam-diam, tahajud, dll).


Doa Andalan:


“Allahumma tahhir qulubana minan nifaq, wa a‘malana minar riya’, waj‘al sirrana khairan min ‘alaniyatina.” (Ya Allah, bersihkan hati kami dari kemunafikan, amal kami dari riya’, dan jadikan rahasia kami lebih baik dari yang tampak.)


---


Quotes Bijak Para Ulama (Versi Santai)


· Hasan Al-Bashri: “Jangan bangga sama amal yang keliatan, sementara Allah tau semua rahasia jelekmu.”

· Rabi’ah al-Adawiyah: “Jangan nyembah Allah cuma karena takut neraka, tapi karena cinta aja.”

· Imam Al-Ghazali: “Sumber munafik tuh suka dipuji.”

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Bersihin hati dulu, otomatis luarannya bakal ikutan.”

· Jalaluddin Rumi: “Apa yang kamu sembunyiin, ujung-ujungnya bakal ketahuan juga.”


---


Kata-kata Ulama Kekinian


· Gus Baha’: “Dosa kecil yang disembunyiin bisa jadi besar kalo gak ditaubatin.”

· Ustadz Adi Hidayat: “Takwa itu konsisten, bukan cuma pas lagi di depan orang.”

· Buya Yahya: “Allah nilai kejujuran di hati.”

· Ustadz Abdul Somad: “Malu sama Allah itu level iman tertinggi.”

· Buya Arrazy Hasyim: “Ngerasain diawasi Allah itu kunci selamat.”


---


Daftar Pustaka


· Al-Qur’an al-Karim

· Shahih Muslim

· Ihya’ Ulumiddin – Imam Al-Ghazali

· Tafsir Ibnu Katsir


---


Ucapan Terima Kasih

Big thanks buat para guru, ulama, dan kalian semua yang baca ini buat bahan introspeksi diri. Semoga kita jadi lebih baik, yang dalam & luar sama-sama bersih. Aamiin. 🙏


Note dari Redaksi:

Kalo ada cerita yang kategori Israiliyat (kisah Bani Israil), itu cuma buat bahan renungan ya, bukan jadi dalil akidah atau hukum agama.

 

QS. Yasin : 30

يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ ۝٣٠

yâ ḫasratan ‘alal-‘ibâd, mâ ya'tîhim mir rasûlin illâ kânû bihî yastahzi'ûn

Alangkah besar penyesalan diri para hamba itu. Setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya.

Kisah Rasulullah Muhammad ﷺ


Seruan yang Ditertawakan

Makkah siang itu berdebu. Matahari menggantung kejam di atas Ka’bah, menyinari batu-batu hitam yang telah lama menjadi saksi kesombongan manusia. Di antara hiruk-pikuk para pedagang Quraisy, berdirilah seorang lelaki yang wajahnya tenang, tutur katanya lembut, namun ucapannya mengguncang dunia.

Dialah Muhammad bin Abdullah ﷺ.

Ketika beliau mengucapkan, “Wahai manusia, ucapkanlah laa ilaaha illallah, niscaya kalian beruntung,” tawa pun pecah.

Sebagian menutup telinga. Sebagian menunjuk-nunjuk sambil mengejek. Sebagian lain meludah ke tanah, seakan ingin mengotori kebenaran yang tak mampu mereka bantah.

Dan dari langit, seakan terdengar gema makna ayat yang kelak diabadikan:

“Aduhai betapa besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidak datang kepada mereka seorang rasul pun melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.”
(QS Yasin: 30)


Tukang Sihir dari Bani Hasyim

Abu Jahl berdiri di hadapan orang-orang Quraisy, suaranya lantang.

“Waspadalah pada Muhammad! Ia tukang sihir! Kata-katanya memisahkan anak dari ayah, istri dari suami!”

Orang-orang mengangguk. Bukan karena yakin, tetapi karena takut. Takut kehilangan kekuasaan. Takut kehilangan berhala. Takut kehilangan dunia.

Padahal mereka tahu, Muhammad ﷺ tak pernah belajar sihir. Tak pernah berdusta. Tak pernah khianat.

Namun kebenaran yang mengancam kenyamanan selalu lebih mudah disebut sihir.


Tuduhan Orang Gila

Suatu hari Rasulullah ﷺ shalat di dekat Ka’bah. Ketika beliau sujud, datanglah Uqbah bin Abi Mu’ith membawa kotoran unta, lalu melemparkannya ke punggung beliau.

Orang-orang tertawa. Anak-anak ikut menertawakan.

“Lihat! Orang gila itu masih sujud!”

Namun Rasulullah ﷺ tak membalas dengan amarah. Beliau hanya mengangkat kepala, membersihkan kotoran itu, lalu berdoa:

“Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”

Langit Makkah terdiam. Bumi pun seakan malu.


Penyair yang Tak Pernah Bersyair

Para penyair Quraisy berkumpul.

“Kalau bukan sihir, pasti syair,” kata mereka.

Padahal Al-Qur’an bukan syair. Ia melampaui bahasa manusia. Ia merobek kesombongan sastra Arab yang paling tinggi sekalipun.

Setiap ayat membuat mereka gemetar—bukan karena indahnya semata, tapi karena kebenarannya menusuk hati.

Maka mereka memilih satu jalan: menertawakan.

Karena orang yang menertawakan kebenaran merasa tak perlu mengikutinya.


Air Liur dan Batu

Di jalan-jalan Makkah, Rasulullah ﷺ sering dilempari batu. Tumit beliau berdarah. Debu menempel pada wajah mulia itu.

Ada yang meludah saat beliau lewat.

Namun beliau tetap menyapa:

“Assalamu’alaikum.”

Orang-orang tercengang. Bagaimana mungkin orang yang dihina tetap mendoakan keselamatan bagi penghinanya?

Di situlah sebagian hati mulai retak.


Ayat yang Menangis

QS Yasin ayat 30 bukan hanya kecaman. Ia adalah tangisan langit.

Ah… betapa menyesalnya hamba-hamba itu…

Bukan karena Allah butuh disembah, tetapi karena manusia menolak cahaya yang menyelamatkan mereka sendiri.

Setiap ejekan kepada Rasulullah ﷺ dicatat.

Bukan untuk dibalas segera—tetapi untuk menjadi saksi di hari ketika tawa berubah menjadi penyesalan.


Yang Menangis di Akhir Cerita

Waktu berlalu.

Bilal yang dulu disiksa, kini berdiri di atas Ka’bah mengumandangkan adzan.

Umar yang dulu memusuhi, kini menangis saat membaca Al-Qur’an.

Sebagian yang dulu mengejek Rasulullah ﷺ masuk Islam dengan air mata taubat.

Namun sebagian lain binasa dalam kehinaan:

  • Abu Jahl mati di Badar.
  • Uqbah tewas dalam kekafiran.
  • Para penertawa kebenaran tinggal nama—tanpa cahaya.

Islam Menyebar

Muhammad ﷺ wafat, namun risalahnya hidup.

Dari Makkah ke Madinah. Dari Arab ke Afrika. Dari Asia hingga Eropa.

Sementara mereka yang dulu tertawa—lenyap ditelan sejarah.

Dan QS Yasin: 30 tetap dibaca hingga hari ini, seakan berkata kepada setiap zaman:

“Jangan ulangi kesalahan mereka.”

Karena menertawakan kebenaran bukan tanda cerdas— melainkan tanda penyesalan yang ditunda.


Tamat

(Semoga kisah ini melembutkan hati, menguatkan iman, dan menjadikan kita pembela Rasulullah ﷺ bukan penertawanya.)

Alhamdulillah, novel religiusnya sudah saya tuliskan dan ditampilkan di canvas dengan judul:

“Ah, Betapa Menyesalnya Hamba-Hamba Itu”
(Terinspirasi QS Yasin: 30 dan perjuangan Rasulullah ﷺ di Makkah).

.....