QS. AL-AN‘AM : 73
وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۗ وَيَوْمَ يَقُوْلُ كُنْ فَيَكُوْنُۚ قَوْلُهُ الْحَقُّۗ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِۗ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ
Artinya : Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak(benar). (Sungguh benar ketetapan-Nya) pada hari (ketika) Dia berkata, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Mahabijaksana lagi Mahateliti.
.......
Firman yang Pasti Terjadi
Bacaan Koran Tafsir Al-An‘am Ayat 73 (Merujuk Tafsir Al-Ibrīz)
Penulis: M. Djoko Ekasanu
Ringkasan Redaksi Asli Ayat
Allah ﷻ menegaskan bahwa Dialah pencipta langit dan bumi dengan kebenaran. Segala ciptaan-Nya bukan main-main, bukan kebetulan. Ketika Allah berkehendak atas sesuatu, Dia hanya berfirman “Kun” (Jadilah), maka terjadilah. Kekuasaan mutlak berada di tangan-Nya, terutama pada hari sangkakala ditiup, hari runtuhnya dunia dan dimulainya kehidupan akhirat. Allah Maha Mengetahui yang gaib dan yang tampak, Maha Bijaksana dan Maha Teliti atas segala sesuatu.
Dalam Tafsir Al-Ibrīz karya KH. Bisri Mustofa, ayat ini ditekankan sebagai pengingat bahwa dunia berjalan di bawah kehendak Allah, bukan semata sebab-akibat manusia. Segala kekuasaan dunia akan sirna ketika sangkakala ditiup, dan hanya kekuasaan Allah yang tersisa.
Latar Belakang Masalah di Zaman Turunnya Ayat
Pada masa Rasulullah ﷺ, kaum musyrikin Quraisy mengakui Allah sebagai Pencipta, namun menolak kekuasaan-Nya atas kebangkitan, hari akhir, dan pembalasan. Mereka memandang kehidupan hanya sebatas dunia. Ayat ini turun untuk meluruskan keyakinan keliru tersebut dan menegaskan bahwa penciptaan, kehidupan, kematian, dan kebangkitan semuanya berada dalam satu kendali: Allah ﷻ.
Sebab Terjadinya Masalah
Masalah utama umat saat itu adalah:
- Pengingkaran hari kebangkitan.
- Ketergantungan pada kekuatan materi dan tradisi leluhur.
- Meremehkan kekuasaan Allah di luar logika manusia.
Ayat ini datang sebagai bantahan tegas: jika penciptaan alam semesta saja mudah bagi Allah, maka membangkitkan manusia jauh lebih mudah.
Intisari Judul
“Kun Fayakūn: Ketika Kehendak Allah Mengalahkan Segala Logika”
Tujuan dan Manfaat
Tujuan:
- Meneguhkan tauhid rububiyah dan uluhiyah.
- Menanamkan keyakinan akan hari akhir.
Manfaat:
- Melahirkan sikap tawakal.
- Menumbuhkan rasa takut dan harap kepada Allah.
- Mengikis kesombongan intelektual dan material.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
Dalil Al-Qur’an:
- QS. Yasin: 82 — “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata: Jadilah! Maka jadilah ia.”
- QS. Al-Hajj: 7 — Kepastian hari kiamat.
Dalil Hadis:
- Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah berfirman: Wahai anak Adam, engkau mengingkari-Ku padahal Aku menciptakanmu…” (HR. Bukhari dan Muslim).
Analisis dan Argumentasi
Ayat ini meruntuhkan anggapan bahwa hukum alam berdiri sendiri. Teknologi, ilmu, dan sebab-akibat hanyalah sunatullah, bukan penguasa mutlak. Firman Allah tetap berada di atas seluruh sistem alam. Ketika sangkakala ditiup, seluruh tatanan runtuh tanpa bisa ditunda oleh ilmu atau kekuatan apa pun.
Keutamaan dan Hukuman
Keutamaan Orang yang Mengimaninya:
- Di dunia: hati tenang, tidak panik menghadapi perubahan.
- Di alam kubur: dilapangkan kuburnya.
- Di hari kiamat: mendapat keamanan.
- Di akhirat: masuk surga dengan rahmat Allah.
Hukuman bagi yang Mengingkarinya:
- Di dunia: hidup gelisah dan sombong.
- Di alam kubur: kubur menyempit.
- Di hari kiamat: penyesalan abadi.
- Di akhirat: azab yang pedih.
Relevansi dengan Kehidupan Modern
- Teknologi: secanggih apa pun AI dan mesin, tetap tunduk pada kehendak Allah.
- Komunikasi: informasi cepat tidak menjamin kebenaran.
- Transportasi: jarak dekat namun ajal tetap misteri.
- Kedokteran: mampu menyembuhkan, tetapi tidak menunda kematian.
- Sosial: manusia merasa berkuasa, padahal rapuh.
Ayat ini menjadi rem bagi kesombongan peradaban modern.
Hikmah
- Jangan menggantungkan hidup pada sebab, tetapi pada Pencipta sebab.
- Dunia berjalan menuju satu titik: tiupan sangkakala.
Muhasabah dan Caranya
Muhasabah:
- Apakah iman kita masih bergantung pada dunia?
- Apakah kita siap jika sangkakala ditiup hari ini?
Caranya:
- Memperbanyak dzikir La ilaha illallah.
- Mengingat kematian setiap hari.
- Membaca Al-Qur’an dengan tadabbur.
Doa
Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tibā‘ah, wa arinal bāthila bāthilan warzuqna ijtinābah.
Nasehat Para Ulama dan Sufi
- Hasan Al-Bashri: “Dunia adalah mimpi, akhirat adalah kesadaran.”
- Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku menyembah Allah bukan karena surga atau neraka.”
- Junaid al-Baghdadi: “Tauhid adalah memisahkan yang qadim dari yang baru.”
- Imam Al-Ghazali: “Ilmu tanpa iman hanya menambah kesombongan.”
- Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan kau sandarkan hatimu selain kepada Allah.”
- Jalaluddin Rumi: “Ketika kehendak Allah datang, logika pun bersujud.”
- Ibnu ‘Arabi: “Segala yang tampak hanyalah bayangan kehendak-Nya.”
- Ahmad al-Tijani: “Kekuatan sejati adalah tunduk.”
Testimoni Ulama Kontemporer
- Gus Baha: “Akhirat itu bukan soal nanti, tapi kepastian.”
- Ustadz Adi Hidayat: “Kun fayakūn adalah dalil tertinggi kekuasaan Allah.”
- Buya Yahya: “Ilmu harus melahirkan takut kepada Allah.”
- Ustadz Abdul Somad: “Modern tapi lupa mati, itu celaka.”
- Buya Arrazy Hasyim: “Tasawuf adalah menyadari siapa yang berkuasa.”
Daftar Pustaka
- Al-Qur’anul Karim
- Tafsir Al-Ibrīz – KH. Bisri Mustofa
- Ihya’ Ulumiddin – Imam Al-Ghazali
- Futuhul Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
- Tafsir Ibnu Katsir
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya hidup.
Catatan Redaksi
Jika terdapat kisah yang termasuk kategori Israiliyat, maka ia hanya disajikan sebagai bahan renungan, bukan dalil akidah.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat sebelum sangkakala benar-benar ditiup.
.........
QS. AL-AN‘AM : 73 Menurut Tafsir Al-Ibriz.
Firman Allah: Cuma Bilang "Jadilah!" Langsung Jadi!
Bacaan dari Tafsir Al-An'am Ayat 73 (Ngikutin Penjelasan Tafsir Al-Ibrīz)
Ayatnya:
وَهُوَ الَّذِيْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ بِالْحَقِّۗ وَيَوْمَ يَقُوْلُ كُنْ فَيَكُوْنُۚ قَوْلُهُ الْحَقُّۗ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِى الصُّوْرِۗ عٰلِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَهُوَ الْحَكِيْمُ الْخَبِيْرُ
Artinya tetep kaya gini ya (ga diganti bahasa gaul): Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak(benar). (Sungguh benar ketetapan-Nya) pada hari (ketika) Dia berkata, “Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kekuasaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Mahabijaksana lagi Mahateliti.
---
*Inti Ayatnya Apa Sih?*
Allah SWT nge-gas bahwa Dia tuh BOSS-nya alam semesta, bikin langit bumi itu serius, bukan cuma kebetulan atau main-main. Kalo Allah mau sesuatu, cuma perlu bilang “Kun!” (Jadilah!), langsung jadi deh. Kekuasaan mutlak tuh di tangan Dia, apalagi pas hari Kiamat nanti, waktu terompet malaikat ditiup. Allah tahu semua hal, yang keliatan dan yang ghaib. Dia Maha Pinter banget dan teliti.
Di Tafsir Al-Ibrīz-nya KH. Bisri Mustofa, ayat ini tuh kayak reminder keras: dunia jalan sesuai kehendak Allah, bukan cuma sebab-akibat yang kita liat. Semua kuasa dan jabatan duniawi bakal collapse pas hari Kiamat, tinggal kekuasaan Allah aja yang tetap.
*Dulu Pas Ayat Ini Turun, Lagi Ada Apa?*
Zaman Nabi Muhammad SAW, kaum musyrikin Quraisy emang ngakuin Allah sebagai Pencipta, tapi mereka nggak percaya soal kebangkitan di akhirat dan hisab (perhitungan amal). Bagi mereka, hidup ya cuma di dunia aja, mati ya udah tamat. Ayat ini turun buat counter pemikiran mereka, ngegas bahwa dari awal bikin alam sampe nanti bangkitin manusia mati, semua di tangan Allah, mudah banget buat Dia.
Judulnya:
*Kun Fayakūn: Saat Kehendak Allah ‘Ngelibas’ Semua Logika Kita*
*Tujuan & Manfaat Buat Kita:*
Tujuannya:
1. Ngeyakinin kita soal ke-Esa-an dan kekuasaan Allah.
2. Nancepin keyakinan bahwa Hari Akhir itu beneran ada, bukan dongeng.
Manfaatnya:
1. Bikin kita lebih tawakal (pasrah setelah usaha maksimal).
2. Numbuhin rasa takut sama harap cuma ke Allah.
3. Ngeredain rasa sombong karena ilmu atau harta dunia.
*Backup-an dari Qur’an & Hadis:*
· QS. Yasin: 82 — “Sesungguhnya urusan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata: Jadilah! Maka jadilah ia.” (Ini reinforcing banget).
· QS. Al-Hajj: 7 — Soal kepastian hari kiamat.
· Hadis Riwayat Bukhari-Muslim: Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah berfirman: Wahai anak Adam, engkau mengingkari-Ku padahal Aku menciptakanmu…” (Intinya kita sering lupa diri).
*Analisis Singkat:*
Ayat ini ngerobohin pemikiran kalo hukum alam bisa jalan sendiri. Teknologi canggih, ilmu pengetahuan tinggi, semua itu cuma sunatullah (aturan Allah di alam), bukan penguasa sejati. Perintah Allah tuh top rank, di atas semua sistem. Bayangin, pas terompet Kiamat ditiup, semua teori fisika, teknologi AI super, kekuatan militer, langsung nge-freeze. Nggak ada yang bisa nunda.
Konsekuensinya: Buat yang Percaya vs Nggak Percaya
Buat yang Ngefirm-in (percaya):
· Di Dunia: Hati lebih adem, nggak gampang panik atau overthinking.
· Di Alam Kubur: Kuburnya dilapangin (insya Allah).
· Pas Kiamat: Dapet rasa aman.
· Di Akhirat: Tiket ke surga atas rahmat-Nya.
Buat yang Ngeyel (nggak percaya):
· Di Dunia: Hidupnya gelisah dan sok kuat.
· Di Alam Kubur: Kuburnya sesek (naudzubillah).
· Pas Kiamat: Penyesalan tingkat dewa.
· Di Akhirat: Azab yang pedih.
*Relevansi di Zaman Now:*
· Teknologi & AI: Secanggih apapun robot atau AI, mereka tetap ciptaan dan tunduk sama “Kun fayakūn”-nya Allah.
· Komunikasi & Medsos: Informasi bisa nyampe secepat cahaya, tapi kebenaran tetap berasal dari Allah.
· Transportasi: Bisa ke mana aja dalam hitungan jam, tapi ajal tetep misteri dan nggak bisa dikejar-kejar.
· Kedokteran: Bisa nyembuhin banyak penyakit, tapi nggak bisa nolak atau nunda takdir kematian.
· Life in General: Kita sering merasa berkuasa atas hidup sendiri, padahal sebenarnya sangat rapuh. Ayat ini tuh kayak reality check buat kesombongan zaman now.
*Hikmah yang Bisa Diambil:*
Jangan hidup cuma ngandelin “sebab” (usaha, ilmu, koneksi) doang. Tapi, selalu inget sama yang Menciptakan Sebab itu sendiri. Dunia ini cuma sementara, dan tujuannya cuma satu: nunggu launch-nya hari Kiamat.
*Muhasabah Diri (Self-Reflection):*
· Iman aku masih kuat nggak sih, atau masih terlalu sibuk sama urusan dunia?
· Kalo terompet Kiamat ditiup hari ini, udah siap belum?
Caranya:
1. Perbanyak dzikir, terutama La ilaha illallah.
2. Sering-sering inget mati, biar nggak kejerat gaya hidup hedon.
3. Baca Qur’an pelan-pelan, coba direnungin artinya.
*Doa Penutup:*
Allahumma arinal haqqa haqqan warzuqnat tibā‘ah, wa arinal bāthila bāthilan warzuqna ijtinābah. (Ya Allah,tunjukkanlah kebenaran itu sebagai kebenaran dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tunjukkanlah kebatilan itu sebagai kebatilan dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya).
*Quotes Bijak dari Para Ulama & Sufi :*
❤️: “Dunia adalah mimpi, akhirat adalah kesadaran.”
❤️: “Aku menyembah Allah bukan karena surga atau neraka.”
❤️: “Tauhid adalah memisahkan yang qadim dari yang baru.”
❤️: “Ilmu tanpa iman hanya menambah kesombongan.”
❤️: “Jangan kau sandarkan hatimu selain kepada Allah.”
❤️: “Ketika kehendak Allah datang, logika pun bersujud.”
❤️: “Segala yang tampak hanyalah bayangan kehendak-Nya.”
❤️: “Kekuatan sejati adalah tunduk.”
*Testimoni Ulama Zaman Now:*
· Gus Baha: “Akhirat itu bukan soal nanti, tapi kepastian.”
· Ustadz Adi Hidayat: “Kun fayakūn adalah dalil tertinggi kekuasaan Allah.”
· Buya Yahya: “Ilmu harus melahirkan takut kepada Allah.”
· Ustadz Abdul Somad: “Modern tapi lupa mati, itu celaka.”
· Buya Arrazy Hasyim: “Tasawuf adalah menyadari siapa yang berkuasa.”
---
*Daftar Pustaka & Ucapan Terima Kasih* (sama kaya yang asli, karena penting buat kredibilitas).
_Catatan Redaksi: Kalo ada kisah Israiliyat, itu cuma buat bahan renungan, bukan buat pegangan akidah ya_.
Semoga tulisan santai ini bisa jadi pengingat yang relateable buat kita semua, sebelum beneran denger terompet Kiamat ditiup. Stay humble and keep the faith!
—
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Semoga bermanfa'at selalu.
—M. Djoko ekasanU—

