Wednesday, October 8, 2025

Pengkhianat Terkutuk




🕋 Pengkhianat Terkutuk!

Kisah Sahabat Nabi yang Menolak Menjual Iman kepada Dunia

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Pengkhianat Terkutuk!

Diceritakan bahwa Umar bin Abdul Aziz, pada masa kekholifahannya, mengutus para sahabat ke tanah Roma untuk berperang. Kemudian mereka kalah dan 20 kelompok dari mereka ditawan. Kaisar Roma memerintahkan seorang sahabat dari mereka masuk ke agamanya dan menyembah berhala. Kaisar berkata;

“Apabila kamu masuk ke dalam agamaku dan bersujud pada berhala maka aku akan menjadikanmu pemimpin di kota besar dan aku akan memberimu bendera pemerintahan, harta, gelas emas, dan terompet (wewenang). Tetapi apabila kamu tidak masuk ke dalam agamaku maka aku akan membunuhmu dan memenggal kepalamu.”

Sahabat itu menjawab, “Aku tidak akan menjual agamaku dengan harga dunia.”

Kemudian Kaisar memberi perintah untuk membunuh sahabat itu. Ia dibunuh di lapangan. Ia dipenggal kepalanya. Sesaat setelah kepalanya terputus, kepalanya itu menggelinding memutari lapangan sebanyak tiga kali. Kepala yang terpenggal itu membaca ayat ini:

Hai jiwa yang tenang (27) Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhoi-Nya (28) Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba- Ku (29) dan masuklah ke dalam surga (30)27

Melihat kejadian itu, Kaisar menjadi marah besar dan memerintahkan prajurit untuk mendatangkan sahabat yang kedua.

“Masuklah ke dalam agamaku! Aku akan menjadikanmu seorang kepala di kota ini. Jika kamu tidak mau maka aku akan memenggal kepalamu sebagaimana aku telah memenggal kepala temanmu” kata Kaisar.

Sahabat kedua menjawab, “Aku tidak menjual agamaku dengan harga dunia. Jika anda memiliki kuasa memenggal kepalaku maka sesungguhnya anda tidak punya kuasa memotong keimananku.”

Kemudian Kaisar memberi perintah untuk memenggal kepala sahabat kedua itu. Setelah kepalanya terpenggal, kepala itu menggelinding tiga kali memutari lapangan,    seperti    kepala temannya, dan membaca ayat:

Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhoi (21) dalam surga yang tinggi (22) Buah-buahnya dekat (23)

Kemudian kepalanya berhenti di dekat kepala temannya yang pertama.

Kaisar tambah sangat marah dan memerintahkan prajurit untuk mendatangkan sahabat yang ketiga.

Kaisar berkata, “Apa yang akan kamu katakan? Apakah kamu akan masuk ke dalam agamaku? Kalau mau, aku akan menjadikanmu pemimpin.”

Naasnya, sahabat ketiga ini terbujuk dan berkata, “Aku masuk ke dalam agamamu dan memilih dunia daripada akhirat.”

Kemudian Kaisar berkata kepada patihnya, “Tulislah ia dalam daftar! Beri ia harta, gelas emas, dan bendera pemerintahan.”

Patih itu berkata, “Wahai Kaisar! Bagaimana kita bisa memberinya kalau belum kita tes apakah dia itu serius atau tidak. Wahai Kaisar! Katakan kepadanya, ‘Kalau kamu benar-benar serius dengan pernyataanmu maka bunuhlah salah satu temanmu! Jika kamu melakukannya maka kami akan percaya dengan pernyataanmu.’”

Kemudian sahabat ketiga yang terlaknati itu membawa salah satu temannya. Ia membunuh temannya. Melihat kejadian itu, Kaisar memerintahkan patihnya untuk menulisnya dalam daftar. Kemudian patih itu berkata kepada Kaisar:

“Ini tidak masuk akal dan bukan keputusan yang bijaksana untuk mempercayai    pernyataannya (sahabat ketiga itu). Ia saja tidak bisa menjaga hak temannya sendiri yang lahir dan tumbuh besar bersamanya. Lantas apakah ia nanti bisa menjaga hak kita?”

Akhirnya, Kaisar memerintahkan prajurit untuk membunuhnya dan memenggal kepalanya. Setelah dipenggal, kepala sahabat ketiga itu menggelinding memutari lapangan tiga kali dan membaca ayat:

Apakah (kamu hendak merubah nasib) orang-orang yang telah pasti ketentuan azab atasnya? Apakah    kamu    akan menyelamatkan orang yang berada dalam api neraka? (Az- Zumar: 19)

Kemudian kepala sahabat ketiga ini berhenti di tepi lapangan dan tidak berdekatan dengan kedua kepala sahabat pertama dan kedua. Ia akan kembali pada siksa Allah. Na’udzubillah.


Ringkasan Redaksi Asli

Dikisahkan bahwa pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, sekelompok sahabat dikirim ke tanah Romawi untuk berperang. Mereka kalah dan dua puluh di antaranya tertawan. Kaisar Romawi mencoba menggoda keimanan mereka dengan janji jabatan, harta, dan kemuliaan dunia. Dua sahabat teguh mempertahankan iman dan dibunuh dengan kepala mereka membaca ayat-ayat Al-Qur’an setelah terpenggal. Namun satu sahabat tergoda, mengkhianati agamanya, bahkan membunuh temannya sendiri untuk membuktikan kesetiaannya kepada Kaisar. Akhirnya ia pun dibunuh, dan kepalanya membaca ayat tentang penghuni neraka.


Maksud dan Hakekat Kisah

Kisah ini bukan sekadar cerita heroik, melainkan cermin keteguhan iman dan kehinaan pengkhianatan. Dunia selalu menawarkan kemegahan dan kekuasaan, namun bagi orang beriman sejati, tidak ada harga yang pantas untuk menukar iman.
Hakekatnya: iman adalah kehidupan itu sendiri. Menjual iman berarti menjual jiwa kepada kebinasaan.


Tafsir dan Makna Judul

"Pengkhianat Terkutuk!" bukan sekadar umpatan emosional, tetapi penegasan spiritual.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah melaknat orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala.” (QS. Al-Ahzab: 64)

Pengkhianat agama — orang yang berpaling dari iman demi dunia — terkutuk bukan karena dosa tunggal, tetapi karena menjual kebenaran untuk kebatilan, menukar nur (cahaya) dengan zulumat (kegelapan).


Tujuan dan Manfaat

Tulisan ini bertujuan:

  1. Mengingatkan agar umat Islam tidak tergoda oleh dunia.
  2. Meneguhkan keimanan di tengah ujian materi, jabatan, dan kekuasaan.
  3. Menanamkan bahwa pengkhianatan terhadap iman adalah kehancuran ruhani terbesar.

Manfaatnya bagi pembaca: mengasah kesadaran spiritual, melatih muhasabah diri, dan menumbuhkan cinta kepada Allah di atas segala kepentingan dunia.


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Umar bin Abdul Aziz, kekuasaan Islam sedang berhadapan dengan peradaban Romawi yang kuat secara politik dan militer. Tawanan perang sering dijadikan alat untuk menggoda dan menguji keteguhan iman. Bagi Kaisar, tunduk pada agamanya berarti kemenangan ideologi. Namun bagi para sahabat, kekalahan fisik tak sebanding dengan kekalahan hati terhadap kufur.


Intisari Masalah

Masalah utama dalam kisah ini adalah pertarungan antara iman dan dunia.
Dua sahabat memenangkan keabadian dengan mati syahid, sementara satu sahabat kalah karena cinta dunia.


Sebab Terjadinya Masalah

Sebab utamanya ialah:

  1. Ujian keimanan – Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan dunia (QS. Al-Ankabut: 2).
  2. Cinta dunia dan takut mati – dua penyakit hati yang menghancurkan umat (HR. Abu Dawud).
  3. Lemahnya ma’rifat kepada Allah, sehingga dunia tampak lebih besar daripada akhirat.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  • Al-Qur’an:

    “Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya.” (QS. Al-Ankabut: 64)

  • Hadis Rasulullah ﷺ:

    “Akan datang suatu zaman di mana umat-umat lain akan mengerumuni kalian sebagaimana orang-orang lapar mengerumuni makanan.” Para sahabat bertanya, “Apakah karena kami sedikit?” Beliau menjawab, “Tidak, bahkan kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah mencabut rasa takut dari musuh kalian terhadap kalian, dan Allah menanamkan wahn dalam hati kalian.” Mereka bertanya, “Apakah wahn itu?” Rasul menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud)


Analisis dan Argumentasi

Iman sejati diuji ketika dunia menawarkan kekuasaan. Dua sahabat menunjukkan tauhid yang murni: mereka mengenal Allah lebih besar daripada rasa takut pada manusia.
Sedangkan sahabat ketiga gagal karena menilai dunia sebagai sumber keselamatan.
Padahal, keselamatan hakiki hanyalah ketika Allah ridha.


Relevansi Saat Ini

Kini, pengkhianatan terhadap iman tak selalu berupa sujud pada berhala, tetapi pada berhala modern: uang, jabatan, popularitas, dan hawa nafsu.
Siapa pun yang menjual nilai-nilai Islam demi kepentingan duniawi — baik pejabat, pedagang, ulama, atau rakyat — sedang mengulang kesalahan sahabat ketiga dalam kisah ini.


Hikmah

  1. Orang beriman sejati akan menjaga aqidahnya meski nyawa taruhannya.
  2. Dunia adalah ujian; bukan tempat menetap.
  3. Keimanan tanpa ujian tak akan terbukti nilainya.
  4. Pengkhianatan kepada kebenaran akan berakhir dengan kehinaan, meskipun dunia memberi tepuk tangan.

Muhasabah dan Caranya

  • Langkah muhasabah:

    1. Hitung setiap hari: adakah hari ini kita menukar iman dengan dunia?
    2. Kurangi cinta dunia dengan sedekah dan amal ikhlas.
    3. Jadikan dzikir sebagai benteng dari godaan dunia.
  • Renungan:
    “Apakah aku menjual akhiratku untuk dunia yang fana?”


Doa

Allahumma tsabbit qulubana ‘ala dinik.
“Ya Allah, tetapkan hati kami di atas agama-Mu.”

Allahumma la taj‘al fid dunya akbara hammina wa la mablagha ‘ilmina.
“Ya Allah, jangan jadikan dunia sebagai tujuan terbesar dan puncak ilmu kami.”


Nasihat Para Auliya dan Ulama Tasawuf

  • Hasan Al-Bashri:
    “Barangsiapa mencintai dunia, maka hilanglah rasa takutnya kepada akhirat.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Aku tidak menyembah Allah karena takut neraka atau mengharap surga, tetapi karena aku mencintai-Nya.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Seorang mukmin sejati adalah yang terbakar cintanya pada Allah hingga dunia menjadi abu di hatinya.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Tasawuf adalah bahwa tanganmu di dunia, tapi hatimu di sisi Allah.”

  • Al-Hallaj:
    “Barangsiapa mengenal hakikat cinta, tak mungkin menukar Allah dengan selain-Nya.”

  • Imam Al-Ghazali:
    “Dunia hanyalah tempat menanam, bukan tempat menuai. Jangan tertipu oleh rumputnya yang hijau.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Dunia adalah bayangan, jangan kejar bayangannya, kejar yang membuat bayangan itu.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Ketika engkau jatuh cinta pada dunia, engkau terpisah dari langit yang sejati.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Hati manusia adalah rumah Allah. Jangan kotori rumah itu dengan cinta pada dunia.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Keimanan sejati tampak ketika seseorang mampu tersenyum dalam kehilangan dunia.”


Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’anul Karim
  2. Shahih Abu Dawud
  3. Ihya’ Ulumiddin – Imam Al-Ghazali
  4. Fathur Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Al-Risalah al-Qusyairiyah – Imam Al-Qusyairi
  6. Masnawi – Jalaluddin Rumi
  7. Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
  8. Hilyatul Auliya’ – Abu Nu‘aim
  9. Nashaihul ‘Ibad – Syekh Nawawi al-Bantani
  10. Tanbihul Ghafilin – Abu Laits As-Samarqandi

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru ruhani, ulama, dan pembaca yang terus menjaga cahaya iman di tengah gelapnya dunia. Semoga kisah ini menjadi pengingat agar kita tidak menjadi pengkhianat terkutuk yang menukar akhirat dengan dunia yang fana.


Apakah Anda ingin saya buatkan versi layout koran-nya (kolom berita, subjudul, kutipan, gaya surat kabar islami) agar bisa langsung dicetak atau disebarkan digital di media sosial seperti Facebook atau blog Anda?


Siksa Awal bagi Ruh Orang Kafir.

 



Siksa Awal bagi Ruh Orang Kafir

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Nabi , bersabda:

Adapun orang kafir, ketika akan mati, didatangi malaikat yang hitam mukanya, hitam pula pakaiannya, mereka duduk di depannya, tidak lama kemudian datang pula malaikat maut duduk di sebelahnya, katanya: ”Hai ruh jahat, keluarlah menuju kemarahan Allah, tersebarlah ke semua anggota tubuhnya, lalu ruh dicabut, seperti mencabut besi dari bulu basah, urat dan ototnya putus-putus, ia diterima dan dimasukkan kain hitam, dibawa keluar, baunya basin bangkai, lalu dibawa naik. Setiap melewati kumpulan malaikat mereka bertanya: Ruh jahat siapakah yang bau busuk itu? Jawabnya, dengan sebutan yang sangat jelek: Ruh fulan bin fulan “hingga terdengar ke langit, akan masuk tapi pintu tidak dibukakan, (lalu Nabi membaca ayat):

 

Artinya:

sekali-kali tidak akan dibukakan pintu pintu lansir buat mereka, dan tidak dapat masuk sorsa (kecuali jika ada) onta bisa masuk kepada lobang jarum (hal ini tidak mungkin). Demikianlah balasan orang-orang yang salim”. (Al-A’raf 40)

 

Lalu perintah Allah: “Tulislah ketentuannya di Sijjin, terlemparlah ruh itu, Firman Allah:

 

Artinya:

“Barangsiapa menyekutukan Alah, tidak bedanya seperti terjun dari langit lain disambar burung besar, atau dibanting angin ke jurang curam sejauhnya”. (Al-Hajj 31)

 

Kemudian ruh melekat lagi ke tubuhnya di dalam kubur, tidak lama lagi datang malaikat (Munkar-Nakir) memegangnya dan menggertak: “Siapa Tuhanmu? Jawabnya: Aku tidak kenal, Apa agamamu? Aku belum mengenalnya, Bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang diutus di tengah hidupmu? Itupun aku tidak kenal, Maka datanglah seruan keras: “Dusta dia, hamparkan dan bukakan pintu neraka baginya, lalu terasalah hawa panas-nya, kubur menghempit dan hancurlah tulang rusuknya, tidak lama kemudian datang seorang bermuka buruk, basin baunya, seraya menggertak: “Sambutlah hari buruk bagimu, saat yang dulu kamu membantahnya ketika diperingatkan, ditanyalah kepadanya: “Siapakah kamu ini? Jawabnya: “Aku adalah laku jahatmu”, katanya, Ya Tuhan, tunda dulu hari Kiamat, jangan keburu hari kiamat”.

 


Ringkasan Redaksi Aslinya

Rasulullah ﷺ bersabda:
Ketika orang kafir akan meninggal dunia, malaikat berwajah hitam datang dengan pakaian hitam, duduk di dekatnya. Kemudian Malaikat Maut memerintah, “Hai ruh jahat, keluarlah menuju kemurkaan Allah.” Ruh itu keluar seperti besi dicabut dari bulu basah — menyakitkan, memutus urat dan otot. Ruh itu dibungkus kain hitam dan berbau busuk, dibawa naik, namun pintu-pintu langit tertutup baginya. Allah berfirman:

“Sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan mereka tidak (akan) masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.”
(QS. Al-A‘raf: 40)

Kemudian ruh itu dilempar ke Sijjin, sebagaimana firman Allah:

“Barang siapa mempersekutukan Allah, maka seakan-akan ia jatuh dari langit lalu disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.”
(QS. Al-Hajj: 31)

Ruh itu kemudian dikembalikan ke jasad di alam kubur. Malaikat Munkar dan Nakir datang menanyainya: “Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu?” Namun ia tidak mampu menjawab. Maka dikatakan kepadanya, “Dusta dia, bukakan pintu neraka baginya.” Lalu datang seseorang berwajah buruk dan berbau busuk, berkata: “Aku adalah amal burukmu.” Ia pun berdoa, “Ya Tuhanku, jangan Engkau datangkan Hari Kiamat.”


Maksud dan Hakikat Hadis

Hadis ini menggambarkan fase awal kehidupan setelah mati bagi orang kafir — dimulai dari sakaratul maut, perjalanan ruh, penolakan langit, hingga siksa kubur. Ia menjadi peringatan keras tentang akibat kufur dan kemaksiatan, sekaligus bukti keadilan Allah bahwa setiap amal akan dibalas setimpal.

Hakikatnya, kematian bukan akhir, tetapi perpindahan alam menuju fase yang lebih hakiki — alam barzakh.


Tafsir dan Makna dari Judul

“Siksa Awal bagi Ruh Orang Kafir” bukan sekadar ancaman, melainkan cermin peringatan bagi yang hidup.
Ketika tubuh tak lagi berdaya, ruh menghadapi kebenaran yang dulu diingkari. Pakaian hitam dan bau busuk menjadi simbol kegelapan dosa, sementara tertutupnya pintu langit melambangkan terputusnya hubungan dengan rahmat Ilahi.


Tujuan dan Manfaat

  • Menumbuhkan rasa takut (khauf) kepada Allah agar manusia menjauhi kekufuran dan maksiat.
  • Menguatkan keimanan (iman bil-ghaib) terhadap hal-hal gaib seperti malaikat, ruh, dan alam kubur.
  • Mendorong muhasabah diri sebelum ajal tiba, agar ruh keluar dalam keadaan diridhai Allah.

Latar Belakang Masalah di Zaman Nabi

Di masa Rasulullah ﷺ, banyak orang kafir Quraisy menolak keras risalah Islam dan mendustakan kebangkitan setelah mati. Hadis ini turun sebagai penegasan bahwa kematian bukan akhir kehidupan, melainkan awal pembalasan. Ini juga menghibur kaum Mukmin yang dizalimi, bahwa Allah tidak akan menyamakan orang yang beriman dan yang kafir di akhirat kelak.


Intisari Masalah

  1. Ruh orang kafir disambut malaikat dengan murka.
  2. Pintu langit tertutup bagi amal dan ruh mereka.
  3. Ruh dilempar ke Sijjin, tempat catatan amal buruk.
  4. Mereka gagal menjawab pertanyaan kubur.
  5. Kubur menjadi tempat siksaan dan penyesalan.

Sebab Terjadinya Masalah

Sebab utama adalah kekufuran, kesombongan terhadap kebenaran, dan penolakan terhadap wahyu Allah. Orang kafir menolak mengenal Tuhannya, tidak mau mengikuti Rasul, serta menganggap dunia sebagai tujuan akhir. Maka ketika ruh berpisah dari tubuh, semua tabir tersingkap, dan mereka menyesal tiada guna.


Dalil al-Qur’an dan Hadis

  • QS. Al-A‘raf: 40
  • QS. Al-Hajj: 31
  • QS. Ibrahim: 27 — “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman... dan menyesatkan orang-orang zalim.”
  • HR. Ahmad dan Abu Dawud: “Sesungguhnya kubur itu adalah taman dari taman-taman surga atau jurang dari jurang-jurang neraka.”

Analisis dan Argumentasi

Secara teologis, hadis ini menunjukkan hubungan langsung antara amal dan nasib ruh. Ruh yang jahat menolak cahaya, sehingga tak diterima oleh langit. Secara spiritual, ini menandakan keterputusan hubungan dengan rahmat Allah.
Dalam tasawuf, peristiwa ini dipahami sebagai cermin kondisi hati ketika hidup — jika hati gelap karena dosa, maka ruh pun tersiksa oleh kegelapannya sendiri.


Relevansi di Zaman Sekarang

Di masa modern, banyak manusia terperangkap dalam materialisme dan penolakan terhadap nilai-nilai spiritual.
Hadis ini mengingatkan bahwa teknologi tidak bisa menunda kematian dan kekuasaan manusia tidak bisa menolak malaikat maut. Ruh akan dipanggil sebagaimana hakikat amalnya: baik atau buruk.
Maka, iman dan amal saleh tetap menjadi bekal paling nyata di dunia modern.


Hikmah

  1. Kematian adalah cermin kehidupan kita.
  2. Ruh yang jahat menolak cahaya karena hatinya telah tertutup dosa.
  3. Siapa yang lalai dari mengenal Allah, akan buta menjawab pertanyaan kubur.
  4. Dunia hanyalah tempat singgah; kebahagiaan sejati hanya bagi yang mengenal Tuhannya.

Muhasabah dan Caranya

  1. Periksa hati setiap malam: Apakah ada sombong, dengki, atau cinta dunia?
  2. Perbanyak istighfar dan dzikir: Menghaluskan ruh dari karat dosa.
  3. Ziarah kubur: Mengingatkan akan akhir perjalanan.
  4. Sedekah dan amal jariyah: Sebagai cahaya yang akan menerangi kubur.

Doa

اللهم اجعل قبورنا روضة من رياض الجنة، ولا تجعلها حفرة من حفر النار.
“Ya Allah, jadikanlah kubur kami taman dari taman-taman surga, dan jangan Engkau jadikan lubang dari lubang-lubang neraka.”


Nasihat Para Sufi

  • Hasan al-Bashri: “Dunia hanyalah tiga hari — kemarin telah pergi, esok belum datang, dan hari ini untuk beramal.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku menyembah Allah bukan karena takut neraka atau mengharap surga, tapi karena aku mencintai-Nya.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Matilah sebelum mati — matikan hawa nafsumu, maka engkau akan hidup kekal.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya.”
  • Al-Hallaj: “Siapa yang mencintai Allah, ia lenyap dari dirinya dan hidup dalam-Nya.”
  • Imam al-Ghazali: “Ketika ruh dicabut, yang tampak hanyalah kebenaran amal.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan takut mati, takutlah hidup tanpa iman.”
  • Jalaluddin Rumi: “Kematian adalah jembatan yang mempertemukan kekasih dengan Kekasih.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Setiap kematian adalah kelahiran ruh menuju hakikat.”
  • Ahmad al-Tijani: “Hidupkanlah hatimu dengan dzikir, niscaya kematianmu akan manis.”

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim.
  2. Sunan Abu Dawud & Musnad Ahmad.
  3. Tanbihul Ghafilin, Abu Laits as-Samarqandi.
  4. Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali.
  5. Al-Fath ar-Rabbani, Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  6. Matsnawi, Jalaluddin Rumi.
  7. Al-Futuhat al-Makkiyyah, Ibnu ‘Arabi.
  8. Risalat al-Qusyairiyyah, Imam al-Qusyairi.

Ucapan Terima Kasih

Penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada para pembimbing ruhani, para ulama, dan semua pembaca yang terus menyalakan cahaya iman di tengah gelapnya dunia. Semoga tulisan ini menjadi peringatan bagi yang lalai, dan pengingat bagi yang beriman.



Judul: Siksa "Level Awal" yang Dihadapi Jiwa Orang Kafir


Oleh: M. Djoko Ekasanu


Nabi ﷺ pernah ngebahas gini, guys:


Kalau orang kafir lagi di ujung hayat, dia bakal didatengin malaikat yang vibe-nya totally dark—muka dan bajunya item semua. Mereka duduk di dekatnya. Tak lama, Malaikat Maut datang dan ngomong, “Wahai jiwa yang jahat, keluar deh! Menuju kemurkaan Allah.” Terus, jiwa itu dicabut kayak nyabut besi panas dari kain wool basah—sakit banget, sampe otot-ototnya putus. Jiwa yang udah dicabut itu langsung dibungkus pake kain hitam dan baunya... busuk banget, kayak bangkai.


Jiwa itu dibawa naik ke langit. Eh, tapi setiap kali lewat grup malaikat, mereka pada nanya, “Jiwa jahat siapa nih yang baunya nyengat gini?” Dijawab dengan sebutan yang paling jelek, “Ini jiwa si Fulan bin Fulan,” sampe suaranya gema ke seluruh langit. Pas mau masuk, pintu langit ditutup. Lalu Nabi ﷺ baca ayat:


Artinya: “sekali-kali tidak akan dibukakan pintu-pintu langit bagi mereka, dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.” (Al-A‘raf: 40)


Terus, Allah kasih perintah, “Tulisin catatan amalnya di Sijjin (buku catatan amal buruk).” Lalu jiwa itu dilempar. Allah berfirman:


Artinya: “Barangsiapa menyekutukan Allah, maka seakan-akan ia jatuh dari langit lalu disambar burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (Al-Hajj: 31)


Abis itu, jiwa tadi balik lagi ke tubuhnya di dalam kubur. Lalu datang dua malaikat (Munkar dan Nakir) yang aura-nya menyeramkan. Mereka nanya, “Siapa Tuhan lo? Agama lo apa? Gimana pendapat lo tentang orang yang diutus (Nabi) di zaman lo?” Dia cuma bisa geleng-geleng, “Gue gatau, gue gakenal.” Langsung ada seruan, “Dia bohong! Bukain pintu neraka buat dia!” Kuburnya langsung berasa panas dan sempit, remuk tulang-tulangnya.


Lalu muncul sesosok figure dengan muka seram dan bau yang enggak karuan. Dia ngomong, “Selamat datang di hari sial buat lo! Ini konsekuensi dari perbuatan jahat lo dulu.” Si mayit nanya, “Lo siapa?” Figur itu jawab, “Gue adalah perbuatan jahat lo selama ini.” Akhirnya dia cuma bisa pasrah dan berdoa, “Ya Tuhan, jangan buru-buru datengin Hari Kiamat, please.”


---


Inti dan Makna Dibalik Cerita Tersebut


Cerita ini basically ngegambarin babak baru setelah kematian buat orang kafir, mulai dari detik-detik terakhir, perjalanan jiwa, ditolak di langit, sampe siksaan di kubur. Ini adalah warning keras tentang konsekuensi dari kekufuran dan bukti keadilan Allah.


Intinya, mati itu bukan akhir, tapi pindah server ke alam yang lebih real—yaitu alam barzakh.


Buat Apa Kita Belajar Ini?


1. Bikin hati was-was (dalam artian baik) biar kita menjauhi kesyirikan dan maksiat.

2. Ngeboost iman kita terhadap hal-hal ghaib kayak malaikat, jiwa, dan alam kubur.

3. Ngingetin buat introspeksi diri sebelum ajal datang, biar kita bisa “check out” dalam keadaan tenang dan diridhoi.


Kenapa Dulu Nabi Cerita Ini?


Di zaman Nabi, banyak banget orang kafir Quraisy yang nge-reject keras ajaran Islam dan nganggap kebangkitan di akhirat cuma dongeng. Cerita ini turun buat negasin bahwa kematian itu justru awal dari pembalasan. Ini juga jadi penghibur buat kaum muslimin yang waktu itu sering dizalimi, bahwa Allah gak akan nyamain orang beriman dan kafir di akhirat nanti.


Korelasi dengan Zaman Now


Di era modern yang serba materialistik ini, banyak yang sibuk sama urusan dunia doang dan ngeabaikan sisi spiritual. Cerita ini ngingetin kita bahwa secanggih apapun teknologi, kita gak bisa nunda kematian atau nawar sama Malaikat Maut. Jiwa kita bakal dipanggil sesuai “kualitas” amal kita: baik atau buruk. Jadi, iman dan amal shaleh tetaplah bekal utama, bahkan di zaman AI sekalipun.


Refleksi Diri (Muhasabah) ala Kids Zaman Now


· Cek kondisi hati sebelum tidur: “Hari ini gue ada iri, sombong, atau terlalu cinta dunia gak, ya?”

· Rutinin istighfar dan dzikir: Buat ngilangin “debu” dosa yang nempel di jiwa.

· Main ke pemakaman sometimes: Biar ingat bahwa ujung perjalanan kita semua sama.

· Rajin sedekah dan bikin amal jariyah: Ini kayak investasi cahaya yang bakal nerangin kita di alam kubur nanti.


Kata-Kata Motivasi dari Para Sufi (Yang Bisa Jadi Caption IG)


· Hasan al-Bashri: “Dunia cuma tiga hari: kemarin yang udah berlalu, besok yang belum tentu dateng, dan hari ini yang harus dimanfaatin.”

· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Gue nyembah Allah bukan karena takut neraka atau pengen surga, tapi purely karena cinta.”

· Jalaluddin Rumi: “Kematian itu jembatan yang nyambungin kekasih sama Sang Kekasih.”

· Imam al-Ghazali: “Pas jiwa dicabut, yang keliatan cuma rekaman amal kita selama ini.”


Doa Penutup


“Ya Allah, jadikan kubur kami taman dari taman-taman surga, dan jangan Engkau jadikan lubang dari lubang-lubang neraka.”


---


Daftar Pustaka: (Tetap sama kayak yang original, karena ini bagian yang formal 😉)


· Al-Qur’an al-Karim.

· Sunan Abu Dawud & Musnad Ahmad.

· Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali.

· Dan seterusnya...


Credit & Thank You:


Big thanks buat para pembimbing, ustaz, dan kalian semua yang masih mau baca dan ngelakuin yang terbaik buat ningkatin iman di tengah gemerlapnya dunia. Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat buat yang lagi lalai dan penyemangat buat yang lagi di jalan-Nya. Keep istiqamah, guys


Ketika Ruh Orang Mukmin Dijemput Malaikat.

 




“Ketika Ruh Orang Mukmin Dijemput Malaikat”

Oleh: M. Djoko Ekasanu



Al-Faqih meriwayatkan dengan sanadnya dari Barrak ‘Azib, katanya: Kami bersama Rasulullah  mengiring mayit sahabat Anshar, setelah sampai di kubur beliau duduk dan kamipun duduk di sekitarnya diam sepertinya ada burung di atas kepala kami, kemudian beliau mengangkat kepala seraya bersabda: “Berlindunglah kalian kepada Allah dari siksa kubur, diulang sampai dua-tiga kali”, lalu sabdanya pula: “Bahwasanya orang mukmin ketika akan mati, didatangi malaikat yang wajahnya putih seperti matahari, mereka duduk di depannya sambil memegang kafan sorga, tidak lama kemudian datang pula malaikat maut duduk di sebelahnya, menyeru kepadanya: “Hai jiwa yang tenang keluarlah menuju ampunan dan keridaan Allah (kata Nabi  lalu rohnya mengalir keluar seperti tetesan air, ia diterima dan dimasukkan kafan, kemudian dibawa keluar baunya harum seperti minyak kasturi, selanjutnya dibawa naik. Setiap melewati kumpulan para malaikat, mereka bertanya: ”Ruh siapakah yang harum ini? Dijawab, ruhnya fulan bin fulan, demikian itu hingga ke langit, penghuninya menyambut baik kedatangan ruh tersebut. Setiap menaiki jenjangnya malaikatul Murqarabun mengantarkan, hingga langit ke tujuh, Allah berfirman: “Tulislah ketentuannya di sorga ‘Illiyyin!”. Lalu dikembalikan ke bumi, karena dari sanalah Kami ciptakan, dan ke dalamnya Kami pulangkan, pada saat akan Kami bangkitkan. Maka bergabung lagi ruh tersebut dengan jasadnya di dalam kubur, tidak lama kemudian datanglah malaikat (Munkar-Nakir) seraya bertanya: “Siapa Tuhanmu? Jawabnya Allah Tuhanku, Apa agamamu? Jawabnya: “Islam agamaku, Bagaimana tanggapanmu terhadap orang yang diutus di tengah-tengah kamu? Jawabnya: “Beliau utusan Allah, Dari mana pengetahuan itu? Aku belajar kitab Allah, iman kepadanya dan membenarkannya. Maka datanglah panggilan: “Betul hambaku berikan kepadanya hamparan dan pakaian sorga, dan bukakan pintu yang menuju sorga, agar bau dan hawanya ia nikmati, lapangkan kuburnya sejauh mata memandang, lalu datanglah seorang bagus atau tampan dan harum baunya seraya berkata: “Terimalah khabar gembira yang dulu dijanjikan Tuhan”, (Mayit) bertanya: “Siapa sebenarnya kamu itu? Jawabnya: “Aku ini adalah (jelmaan) amalmu yang baik dulu”. Kemudian katanya: “Ya Allah, segerakan hari Kiamat, agar aku dengan cepat dapat berkumpul bersama-sama keluarga dan sahabat-sahabatku”. 



Ringkasan Redaksi Asli Hadis

Al-Faqih meriwayatkan dari Barra’ bin ‘Azib r.a., bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ketika seorang mukmin menjelang ajalnya, datanglah malaikat dengan wajah putih bersinar seperti matahari, membawa kafan dari surga dan duduk di dekatnya. Lalu malaikat maut berkata: ‘Wahai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan keridaan Allah!’ Maka keluarlah ruhnya dengan lembut seperti tetesan air. Ruh itu dibawa naik dengan harum kasturi hingga ke langit ke tujuh, dan Allah berfirman: ‘Tulislah namanya di ‘Illiyyin.’ Setelah itu ruh dikembalikan ke jasadnya untuk menjawab pertanyaan Munkar dan Nakir. Kuburnya dilapangkan sejauh mata memandang, dan dibukakan pintu surga untuknya.”


Maksud Hadis

Hadis ini menjelaskan kemuliaan akhir kehidupan bagi orang mukmin sejati, yakni mereka yang hidupnya beriman, beramal saleh, dan selalu mengingat Allah. Ruh yang tenang itu disambut oleh para malaikat dengan kelembutan, wangi surga, dan janji kedamaian abadi.

Sebaliknya, hadis ini juga menjadi peringatan keras bagi mereka yang lalai, karena keadaan sebaliknya menimpa ruh orang kafir dan munafik — penuh ketakutan, kesempitan, dan kegelapan.


Hakikat dan Tafsir Maknawi

Hakikat dari hadis ini menunjukkan bahwa:

  1. Kematian bukan akhir, melainkan pintu menuju kehidupan yang hakiki.
  2. Ruh orang mukmin tidak mati, tetapi berpindah ke alam yang lebih mulia — alam barzakh.
  3. Pertemuan dengan malaikat dan pertanyaan di kubur adalah tahapan keadilan Ilahi, tempat pertama kali amal seseorang diuji.

Tafsir para ulama menegaskan bahwa peristiwa ini adalah bagian dari rahmat Allah kepada hamba-Nya yang beriman. Dalam QS. Al-Fajr [89]: 27–30 Allah berfirman:

"Yā ayyatuhan-nafsul-muṭma'innah, irji‘ī ilā rabbiki rāḍiyatan marḍiyyah, fadkhulī fī ‘ibādī, wadkhulī jannatī."
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”


Makna dari Judul

“Ketika Ruh Orang Mukmin Dijemput Malaikat” mengandung makna bahwa setiap manusia akan mengalami detik perpisahan, namun bagi orang yang beriman, perpisahan itu bukan penderitaan, melainkan perayaan kembalinya jiwa kepada Kekasih Sejati — Allah.


Tujuan dan Manfaat

  1. Menumbuhkan rasa cinta kepada Allah dan kerinduan kepada pertemuan dengan-Nya.
  2. Mengingatkan manusia agar memperbaiki amal sebelum ajal datang.
  3. Memberikan penghiburan bagi keluarga mukmin bahwa kematian bukan kehancuran, melainkan kemuliaan.

Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, sebagian sahabat masih merasa takut dan bingung menghadapi kematian. Maka Rasulullah menenangkan mereka dengan penjelasan ini — bahwa kematian orang beriman adalah peristiwa indah yang penuh cahaya dan rahmat, bukan azab.


Intisari Masalah

Hadis ini menegaskan:

  • Ruh orang mukmin diperlakukan dengan lembut oleh malaikat.
  • Pertanyaan kubur merupakan awal dari pembalasan amal.
  • Kubur mukmin menjadi taman dari taman-taman surga.

Sebab Terjadinya Masalah

Ketakutan manusia terhadap kematian timbul karena jauh dari iman dan amal baik. Orang yang lalai dari zikir, salat, dan amal saleh tidak siap untuk “dijemput” oleh malaikat dengan wajah bercahaya.


Dalil Pendukung (Qur’an dan Hadis)

  1. QS. Al-Waqi‘ah [56]: 88–89

    “Adapun jika dia termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka baginya ketenteraman dan rezeki yang baik serta surga penuh kenikmatan.”

  2. Hadis Riwayat Muslim:

    “Kubur itu bisa menjadi taman surga atau jurang neraka.”


Analisis dan Argumentasi

Hadis ini memperlihatkan keteraturan spiritual dalam proses kematian: malaikat datang, ruh dipanggil, dicatat di ‘Illiyyin, lalu dikembalikan untuk ujian kubur. Semua itu menunjukkan bahwa tidak ada yang kebetulan dalam kematian seorang mukmin, melainkan skenario penuh kasih dari Allah.


Relevansi Saat Ini

Di zaman modern, banyak orang takut mati karena terikat pada dunia — harta, jabatan, dan popularitas. Padahal, kematian adalah kepulangan ruh kepada asalnya. Membaca hadis ini seharusnya mengingatkan umat untuk:

  • Lebih banyak berzikir dan bertafakur.
  • Menata amal, bukan menimbun harta.
  • Menyambut kematian dengan kesiapan rohani, bukan dengan ketakutan.

Hikmah

  1. Kematian mukmin adalah titik kemenangan spiritual.
  2. Ruh yang tenang adalah hasil dari hati yang bersih dan ikhlas.
  3. Setiap amal baik akan menjelma teman di alam kubur.

Muhasabah dan Caranya

  • Setiap malam sebelum tidur, tanyakan pada diri: “Jika aku mati malam ini, siapkah aku bertemu Allah?”
  • Perbanyak dzikir dan istighfar, karena itu menenangkan ruh.
  • Perbaiki hubungan dengan sesama, agar hati tidak berat saat berpulang.
  • Sedekahkan amal atas nama diri sendiri sebelum ajal menjemput.

Doa

Allāhumma hawwin ‘alainā fī sakarātil-maut, waj‘al qabrana rawḍatan min riyāḍil-jannah, wa lā taj‘alhu ḥufratan min ḥufarin-nār.
“Ya Allah, mudahkanlah kami dalam sakaratul maut, jadikanlah kubur kami taman dari taman-taman surga, dan jangan jadikan lubang dari lubang neraka.”


Nasehat Para Arif Billah

  • Hasan al-Bashri: “Dunia ini hanyalah jembatan; janganlah engkau membangun rumah di atas jembatan.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku mencintai-Mu bukan karena takut neraka atau mengharap surga, tapi karena Engkau layak dicintai.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Mati sebelum mati, maka engkau akan hidup selamanya.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Kematian adalah hijrah dari kelalaian menuju penyaksian.”
  • Al-Hallaj: “Kematian bagi pecinta adalah saat pertemuan.”
  • Imam al-Ghazali: “Kematian adalah pintu menuju hakikat yang tak lagi ditutupi tirai dunia.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jadilah hamba yang mati sebelum mati; matikan hawa nafsumu sebelum jasadmu dimatikan.”
  • Jalaluddin Rumi: “Jangan menangis saat aku mati, karena aku baru saja dilahirkan untuk kehidupan sejati.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Kematian hanyalah perjalanan cinta menuju Sang Kekasih.”
  • Ahmad al-Tijani: “Orang yang mengenal Allah tidak takut mati, karena ia tahu kemana ia akan pulang.”

Daftar Pustaka

  1. Tanbihul Ghafilin – Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi
  2. Ihya’ Ulumiddin – Imam Al-Ghazali
  3. Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
  4. Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Mathnawi – Jalaluddin Rumi
  6. Hilyatul Auliya – Abu Nu‘aim al-Isfahani
  7. Kitab al-Zuhd – Hasan al-Bashri
  8. Risalat al-Qusyairiyyah – Imam Al-Qusyairi

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada para guru ruhani, para ulama, dan pembaca yang senantiasa haus akan ilmu dan dzikir. Semoga tulisan ini menjadi tazkirah — pengingat bagi hati yang lalai, dan penuntun bagi ruh yang mencari jalan pulang kepada Allah.


🕊️ Akhirul Kalam
Setiap napas adalah langkah menuju kematian, dan setiap kematian adalah langkah menuju Allah.
Maka, persiapkanlah langkah itu dengan cahaya iman dan amal saleh.



Pas Jiwa Orang Beriman Dijemput Malaikat


Oleh: M. Djoko Ekasanu


Jadi gini, Al-Faqih ngeriwayatkan dari Barra' bin 'Azib, ceritanya: Waktu itu kami lagi sama Rasulullah 🕊️ ngiringin jenazah seorang sahabat Anshar. Pas sampe di kuburan, beliau duduk dan kami pun ikut duduk di sekelilingnya, hening banget sampai kayak ada burung yang lagi bertengger di atas kepala kita. Tiba-tiba beliau angkat kepala dan bilang, “Minta perlindunganlah kalian ke Allah dari siksa kubur,” – diulang sampe dua-tiga kali, serius banget. Terus beliau cerita lebih lanjut:


“Soalnya, pas orang beriman udah mau pass away, datanglah malaikat yang mukanya putih bersinar kayak matahari. Mereka bawa kafan dari surga dan duduk di deketnya. Trus, datanglah Malaikat Maut yang duduk di sampingnya dan ngomong: ‘Hai jiwa yang tenang, keluarlah menuju ampunan dan keridhaan Allah.’ (Kata Nabi 🕊️), terus rohnya keluar dengan lembut kayak tetesan air. Langsung deh roh itu diambil, dibungkus pake kafan surga, dan dibawa naik. Wanginya semerbak banget, kayak minyak kasturi terbaik.


Setiap lewat gerombolan malaikat, mereka pasti nanya: ‘Ruh siapa nih yang wanginya semerbak gini?’ Dijawab, ‘Ini ruhnya si Fulan bin Fulan.’ Begitu seterusnya sampe ke langit ketujuh. Penghuni langit pada nyambut baik kedatangan roh ini. Allah pun berfirman: ‘Tulisin namanya di ‘Illiyyin!’ (tempat catatan para elit surga). Abis itu, rohnya dikembaliin ke bumi – soalnya dari situlah Kita ciptakan, dan ke situ pula Kita balikin, dan nanti dari situ juga Kita bangkitin lagi.


Nah, roh itu akhirnya balik lagi ke jasadnya di kuburan. Ga lama kemudian, datanglah malaikat (Munkar dan Nakir) yang nanya: ‘Siapa Tuhan lo?’ Dia jawab: ‘Allah Tuhanku.’ ‘Agama lo apa?’ Jawabnya: ‘Islam.’ ‘Gimana pendapat lo soal orang yang diutus di tengah-tengah kalian?’ Dia jawab: ‘Dia itu utusan Allah.’ ‘Dari mana lo tau?’ ‘Aku baca Kitab Allah, aku percaya dan aku buktiin kebenarannya.’


Langsung ada suara panggilan: ‘Bener banget kata hamba-Ku. Kasih dia hamparan dan pakaian dari surga, bukain pintu yang nuju ke surga biar dia dapet wewangian dan suasana surga, lapangin kuburnya sejauh mata memandang.’ Trus, datanglah seseorang yang ganteng/cantik dan wanginya enak banget, ngomong: ‘Terima kabar gembira ya, ini yang dijanjiin Tuhan buat lo.’ Si mayit nanya: ‘Lo siapa sebenernya?’ Dia jawab: ‘Gue adalah perwujudan dari amal baik yang dulu sering lo lakuin.’ Akhirnya si mayit bilang: ‘Ya Allah, cepatin hari Kiamat dong, biar aku cepet ketemu lagi sama keluarga dan teman-teman.’


---


Ringkasan Versi Original Haditsnya


Intinya, Rasulullah 🕊️ bilang: Pas orang beriman mau close account, malaikat dateng dengan vibe yang positif banget, bawa kafan premium dari surga. Malaikat Maut ngajak rohnya keluar dengan kalimat yang menenangkan. Rohnya diajak road trip ke langit ketujuh, direstui Allah buat dicatet di ‘Illiyyin, terus balik ke bumi buat ngerjain ‘ujian kubur’. Kuburnya jadi cozy banget, dan dia dikasih preview surga.


Maksud Hadits


Intinya, hadits ini kasih gambaran how a good ending looks like buat orang yang hidupnya penuh iman dan amal shaleh. Prosesnya damai, dihormatin malaikat, dan endingnya bahagia. Tapi ini juga sekaligus warning buat yang masih nyantai-nyantai aja, soalnya buat yang lain, scenario-nya bisa beda total – horor mode.


Hakikat & Makna Deep-nya


Intinya:


· Meninggal itu bukan the end, tapi gerbang menuju life yang sebenernya.

· Roh orang beriman itu naik kelas, pindah ke alam yang lebih high-definition (alam barzakh).

· Sesimpel apapun, pertanyaan di kubur itu adalah ujian pertama yang nentuin nasib lo.


Para ulama bilang, ini semua adalah bukti grace dan kasih sayang Allah ke hamba-Nya yang setia. Seperti dalam QS. Al-Fajr [89]: 27-30, Allah bilang: "Yā ayyatuhan-nafsul-muṭma'innah,irji‘ī ilā rabbiki rāḍiyatan marḍiyyah, fadkhulī fī ‘ibādī, wadkhulī jannatī." (“Wahai jiwa yang tenang,kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.”)


Arti Judulnya


“Pas Jiwa Orang Beriman Dijemput Malaikat” artinya, setiap orang pasti akan ngalamin momen perpisahan. Tapi buat orang beriman, ini kayak homecoming party – perayaan pulangnya jiwa ke Sang Cinta Sejati, Allah.


Tujuan & Manfaatnya


· Biar kita cinta banget sama Allah dan ruaangen banget ketemu Dia.

· Ngingetin kita buat upgrade amal kita before the time runs out.

· Jadi penghiburan buat keluarga yang ditinggal, bahwa kematian itu bukan akhir yang sad, tapi awal dari kemuliaan.


Konteks Zaman Dulu


Dulu, banyak sahabat yang masih takut dan bingung ngadepin kematian. Rasulullah 🕊️ kasih penjelasan ini buat ngenyakinin mereka bahwa buat orang beriman, mati itu adalah momen indah penuh cahaya dan kasih sayang, bukan sesuatu yang misterious dan ngeri.


Inti Masalahnya


Hadits ini ngejelasin:


· Roh orang beriman diperlakukan dengan baik dan hormat sama malaikat.

· Ujian kubur itu real dan itu awal dari judgment day.

· Kubur orang beriman itu kayak taman surga.


Penyebab Masalahnya


Rasa takut mati itu muncul biasanya karena kita jarang ngobrol sama Allah, jarang sholat yang khusyuk, dan amal kita masih dikit. Yang hobinya nunda-nunda ibadah, ya pasti ga siap mental kalo tiba-tiba dijemput.


Dalil Pendukung (Al-Qur'an & Hadits)


· QS. Al-Waqi'ah [56]: 88-89: “Adapun jika dia termasuk orang yang didekatkan (kepada Allah), maka baginya ketenteraman dan rezeki yang baik serta surga penuh kenikmatan.”

· Hadits Riwayat Muslim: “Kubur itu bisa jadi taman dari taman-taman surga, atau lubang dari lubang-lubang neraka.”


Analisis & Argumen


Proses kematian orang beriman ini sangat terstruktur dan penuh makna. Dari mulai dijempt malaikat, rohnya dijemput dengan lembut, diajak touring ke langit, sampe balik buat ujian. Ini nunjukkin bahwa semuanya udah diatur sama Allah dengan sangat detail dan penuh cinta. Ga ada yang random.


Relevansi Buat Kita Sekarang


Di zaman yang serba cepat dan materialistis ini, orang takut mati karena terlalu sibuk ngejar karir, harta, dan followers. Padahal, mati itu cuma pulang ke asal. Baca hadits ini harusnya bikin kita mikir buat:


· Lebih sering me-time sama Allah (dzikir dan tafakur).

· Fokus nata amal, bukan cuma nimbun harta.

· Nyambut kematian dengan hati yang udah siap, bukan takut.


Hikmahnya


· Kematian orang beriman adalah kemenangan spiritual.

· Jiwa yang tenang adalah hasil dari hati yang bersih dan ikhlas.

· Setiap amal baik kita nanti akan ‘hidup’ lagi dan jadi temen kita di alam kubur.


Muhasabah Diri & Caranya


· Sebelum tidur, tanya diri sendiri: “Kalo gue meninggal malam ini, udah siap belum ketemu Allah?”

· Perbanyak dzikir dan minta ampun, biar hati adem.

· Baikin hubungan sama orang lain, jangan sampe bawa beban pas mau pulang.

· Rutin sedekah atas nama sendiri, investasi buat akhirat.


Doa


Allāhumma hawwin ‘alainā fī sakarātil-maut, waj‘al qabrana rawḍatan min riyāḍil-jannah, wa lā taj‘alhu ḥufratan min ḥufarin-nār. “Ya Allah,mudahkanlah kami dalam sakaratul maut, jadikanlah kubur kami taman dari taman-taman surga, dan jangan jadikan lubang dari lubang neraka.”


Kata-Kata Motivasi Para Sufi


· Hasan al-Bashri: “Dunia ini cuma jembatan; janganlah lo bangun rumah di atas jembatan.”

· Rabi'ah al-Adawiyah: “Aku cinta Tuhan bukan karena takut neraka atau pengen surga, tapi karena Dia emang layak dicinta.”

· Abu Yazid al-Bistami: “Matiin egomu sebelum lo mati beneran, maka lo akan hidup selamanya.”

· Junaid al-Baghdadi: “Mati itu pindah dari dunia kelalaian ke dunia penyaksian (akan Allah).”

· Al-Hallaj: “Buat para pecinta, mati itu saatnya ketemuan.”

· Imam Al-Ghazali: “Mati itu pintu menuju realita yang selama ini ketutupan tirai dunia.”

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jadilah hamba yang mati (egonya) sebelum mati (jasadnya); matikan hawa nafsumu sebelum lo dimatikan.”

· Jalaluddin Rumi: “Jangan nangis kalo aku mati, karena aku baru aja lahir ke kehidupan yang sebenernya.”

· Ibnu 'Arabi: “Mati cuma perjalanan cinta menuju Sang Kekasih.”

· Ahmad al-Tijani: “Orang yang kenal Allah ga takut mati, karena dia tau mau pulang ke mana.”


Daftar Pustaka (Tetap sama, soalnya ini kitab klasik)


· Tanbihul Ghafilin – Al-Faqih Abu Laits As-Samarqandi

· Ihya' Ulumiddin – Imam Al-Ghazali

· Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu 'Arabi

· Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani

· Mathnawi – Jalaluddin Rumi

· Hilyatul Auliya – Abu Nu'aim al-Isfahani

· Kitab al-Zuhd – Hasan al-Bashri

· Risalat al-Qusyairiyyah – Imam Al-Qusyairi


Ucapan Terima Kasih

Penulis ngucapin terima kasih buat semua guru, ulama, dan kalian para pembaca yang haus akan ilmu dan kedamaian. Semoga tulisan ini bisa jadi pengingat buat yang lagi lupa, dan pemandu buat jiwa-jiwa yang lagi cari jalan pulang ke Allah.

🕊️ Akhir Kata Setiap hembusan napas adalah langkah menuju pertemuan,dan setiap pertemuan dengan kematian adalah langkah menuju Allah. So,siapin langkah itu dengan cahaya iman dan amal yang solid.


---

LEGA BERJUMPA DENGAN ALLAH.

 



🕊️ LEGA BERJUMPA DENGAN ALLAH

“Siapa yang senang berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya.”

✍️ Penulis: M. Djoko Ekasanu



Al-Faqih meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas, Rasulullah bersabda:

Artinya:

”Barangsiapa lega hati berjumpa dengan Allah, maka Allahpun senang bertemu dengannya, sebaliknya barangsiapa enggan berjumpa dengan Alah, maka Allahpun enggan bertemu dengannya”.

Berjumpa dengan Allah, maksudnya dikembalikan ke negeri akhirat, melewati mati. Orang mukmin hatinya lega menghadapi datangnya mati, karena di saat itu (sakaratul maut) ia dihibur dengan keridaan Allah dan sorgaNya, sudah tentu ia lebih senang menerimanya daripada hidup terus di dunia. Sebaliknya orang kafir enggan mati, karena di saat itu ia diperlihatkan balasan amal perbuatannya berupa siksa, oleh karena itu ia kecut hatinya, benci padanya, yang mengundang kebencian pula bagi Allah untuk menerimanya.

Sehubungan dengan sabda Rasulullah tersebut, sahabat berkata: “Ya Rasulullah, kami belum senang mati?” Jawab beliau: “Tidak demikian, tetapi di saat itu (sakaratul maut), malaikat pembawa khabar gembira datang kepada orang mukmin, melaksanakan tugasnya memenuhi janji Allah kepadanya”. Sebaliknya kepada orang kafir kedatangan malaikat membuat gentar dan kecut hatinya, sehingga timbul rasa enggan untuk bertemu dengan Tuhannya.


🕊️ LEGA BERJUMPA DENGAN ALLAH

“Siapa yang senang berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya.”

✍️ Penulis: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Asli

Hadis dari Anas bin Malik meriwayatkan sabda Rasulullah ﷺ:

“Barangsiapa lega hati berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya. Dan barangsiapa enggan berjumpa dengan Allah, maka Allah pun enggan bertemu dengannya.”

Ketika para sahabat berkata, “Kami belum senang mati, wahai Rasulullah,” beliau menjelaskan bahwa yang dimaksud bukan keinginan untuk mati, melainkan rasa ridha dan ketenangan menghadapi sakaratul maut bagi orang mukmin. Sebab di saat itu, malaikat membawa kabar gembira dari Allah, sementara bagi orang kafir sebaliknya — malaikat membawa ketakutan dan hukuman.


Maksud dan Hakekat

Hadis ini menjelaskan hakikat pertemuan ruhani antara hamba dan Tuhannya. “Berjumpa dengan Allah” bukanlah melihat Allah secara fisik, melainkan kembali ke hadirat-Nya dengan hati yang tenang dan ridha.
Orang mukmin menyambut kematian dengan lega karena ia tahu bahwa kematian hanyalah pintu menuju kasih sayang dan keridaan Allah.

Sebaliknya, orang kafir atau pelaku dosa berat takut dan benci pada kematian karena jiwanya belum berdamai dengan Tuhan; masih terikat dunia dan belum bertobat.


Tafsir dan Makna Judul

Judul “Lega Berjumpa dengan Allah” mengandung makna batiniah: bahwa kelapangan hati di saat ajal menjelang adalah tanda kedekatan spiritual seorang hamba dengan Tuhannya.
Ini bukan keberanian fisik, tapi kejernihan iman dan cinta Ilahi yang membuat ruh siap menanggalkan jasad dengan tenang.


Tujuan dan Manfaat

  1. Menumbuhkan cinta kepada Allah dan kerinduan untuk kembali kepada-Nya.
  2. Menghapus ketakutan terhadap kematian dengan pengetahuan bahwa mati bukan akhir, melainkan awal perjalanan abadi.
  3. Menyiapkan jiwa mukmin agar husnul khatimah, yaitu wafat dalam keadaan diridai oleh Allah.

Latar Belakang di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, banyak sahabat yang gugur di medan jihad. Rasa takut terhadap mati sangat manusiawi, maka Rasulullah menjelaskan perbedaan antara takut mati karena cinta dunia dan takut mati karena belum siap berjumpa dengan Allah.
Hadis ini meneguhkan bahwa kematian orang beriman adalah pintu kasih sayang, bukan penderitaan.


Intisari Masalah

  • Orang beriman menghadapi kematian dengan gembira karena melihat rahmat Allah.
  • Orang kafir atau fasik menghadapi kematian dengan gentar karena melihat azab yang menanti.
  • Sakaratul maut menjadi cermin dari amal dan keadaan hati manusia sepanjang hidupnya.

Sebab Terjadinya Masalah

Kecintaan kepada dunia dan kelalaian dari mengingat Allah menyebabkan jiwa menjadi berat ketika dicabut.
Sebaliknya, hati yang sering dzikir dan bertobat menjadi ringan dan tenteram saat kembali kepada-Nya.


Dalil Al-Qur’an dan Hadis

📖 Al-Qur’an:

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai.”
(QS. Al-Fajr: 27–28)

📜 Hadis lain:

“Mati adalah jembatan yang menghubungkan kekasih dengan Kekasihnya.”
(HR. Al-Hakim)


Analisis dan Argumentasi

Hadis ini menyingkap dimensi psikologis dan spiritual kematian. Rasa takut mati tidak salah, tetapi rasa takut karena cinta dunia menjadi penyakit hati.
Rasa lega dan ridha muncul dari keimanan yang matang dan keyakinan akan janji Allah.
Kematian bagi orang beriman adalah momen pertemuan dengan yang dirindui, sebagaimana kekasih yang lama berpisah ingin segera pulang ke rumahnya.


Relevansi di Zaman Sekarang

Di era modern, manusia sibuk mengejar dunia — pekerjaan, status, harta — hingga lupa mempersiapkan bekal ruhani.
Banyak yang takut mati karena belum mengenal Allah dengan baik.
Hadis ini menjadi peringatan lembut agar kita menata niat, memperbanyak dzikir, dan memperindah amal agar saat tiba ajal nanti, hati menjadi lega — bukan gelisah.


Hikmah

  • Kematian bukan akhir, melainkan awal kehidupan sejati.
  • Ketenangan menghadapi mati adalah buah dari cinta dan tawakal kepada Allah.
  • Orang yang sering mengingat mati akan lebih berhati-hati dalam hidup.

Muhasabah dan Caranya

  1. Dzikir setiap hari: “Laa ilaaha illallah.”
  2. Menjaga hati dari kebencian dan sombong.
  3. Berbuat baik kepada sesama, terutama kepada fakir miskin dan anak yatim.
  4. Bertobat setiap malam, karena kita tidak tahu kapan ajal menjemput.
  5. Membaca Al-Qur’an dan mengingat kematian secara lembut, bukan menakutkan.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَعْمَالِنَا خَوَاتِيمَهَا، وَخَيْرَ أَيَّامِنَا يَوْمَ نَلْقَاكَ.
Allahumma aj‘al khaira a‘maalinaa khawaatiimaha, wa khaira ayyaamina yauma nalqaaka.

“Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amal kami adalah penutupnya, dan sebaik-baik hari kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu.”


Nasehat Ulama dan Sufi Besar

🌿 Hasan al-Bashri:

“Orang yang beriman bekerja untuk akhirat seakan ia akan mati esok hari, dan meninggalkan dunia seakan ia hidup selamanya.”

🌸 Rabi‘ah al-Adawiyah:

“Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka atau mengharap surga, tapi karena Engkau layak disembah.”

🔥 Abu Yazid al-Bistami:

“Kematian bagi arifin adalah saat mereka menikah dengan keabadian.”

💧 Junaid al-Baghdadi:

“Sakaratul maut itu berat bagi yang hatinya berat oleh dunia, ringan bagi yang hatinya terbang menuju Allah.”

🌕 Al-Hallaj:

“Kematian bukan berakhirnya hidup, tapi lenyapnya hijab antara hamba dan Kekasih.”

📚 Imam al-Ghazali:

“Jangan takut mati, takutlah hidup tanpa makna menuju Allah.”

🌿 Syekh Abdul Qadir al-Jailani:

“Orang yang mengenal Allah akan tersenyum saat maut menjemputnya.”

🌈 Jalaluddin Rumi:

“Kematian bukan kehilangan, tapi kelahiran menuju cahaya.”

🌌 Ibnu ‘Arabi:

“Mati adalah perjalanan menuju Wujud Sejati, bukan ketiadaan.”

🌺 Ahmad al-Tijani:

“Siapa yang hidup dengan dzikir, mati pun dalam dzikir, dan bangkit dengan dzikir.”


Daftar Pustaka

  1. Shahih Muslim, Kitab Dzikir dan Doa.
  2. Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali.
  3. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  4. Risalah al-Qusyairiyyah – Imam al-Qusyairi.
  5. Matsnawi – Jalaluddin Rumi.
  6. Fushush al-Hikam – Ibnu ‘Arabi.
  7. Hilyatul Awliya – Abu Nu’aim al-Isfahani.
  8. Tanbihul Ghafilin – Abu Laits as-Samarqandi.

Ucapan Terima Kasih

Tulisan ini dipersembahkan untuk para pencinta ilmu dan penempuh jalan ruhani yang selalu mengingat Allah di setiap hembusan napasnya.
Semoga Allah jadikan hati kita tenang saat dipanggil, dan wajah kita bercahaya saat berjumpa dengan-Nya. آمين.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang sopan dan santai untuk redaksi tersebut, dengan tetap mempertahankan arti ayat Al-Qur'an dan hadis dalam bahasa aslinya.


---


Judul Asli: 🕊️ LEGA BERJUMPA DENGAN ALLAH

Judul Versi Kekinian: 🕊️ Goodbye World, Hello Allah? Siap Mental buat "Pulang"


Konten:


Hai, bestie! Pernah dengar hadis ini?


Dari Anas, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa lega hati berjumpa dengan Allah, maka Allah pun senang bertemu dengannya. Sebaliknya barangsiapa enggan berjumpa dengan Allah, maka Allah pun enggan bertemu dengannya.”


Gimana tuh maksudnya?


"Berjumpa dengan Allah" itu maksudnya adalah kita balik ke negeri akhirat, lewat pintu kematian. Bayangin, bagi orang beriman, hati mereka tenang dan lega menghadapi yang namanya farewell party dari dunia. Kenapa? Soalnya pas di detik-detik terakhir (sakaratul maut), mereka dikasih spoiler sama malaikat tentang reward-nya Allah, yaitu ridha-Nya dan surga. Ya udah, pasti lebih milih itu daripada stay di dunia yang penuh drama.


Sebaliknya, bagi yang selama hidupnya ignore perintah Allah, mereka bakal nggak vibe banget sama yang namanya mati. Soalnya pas mau balik, malah dikasih liat trailer azab-Nya. Auto bad mood dan nggak ready, yang bikin Allah juga nggak excited ketemu dia.


Lho, tapi kan kita belum pengen mati?


Nah, ini juga yang ditanyain sahabat. Mereka bilang, "Ya Rasulullah, kami belum senang mati?"


Jawaban Rasulullah ﷺ itu wisdom banget: Intinya, bukan berarti kita harus ngidup-in keinginan untuk mati. Tapi, yang dimaksud adalah perasaan tenang dan ridha pas waktu itu datang. Buat orang mukmin, di saat-saat terakhir itu, malaikat dateng bawa kabar gembira, jadi hatinya adem. Sementara buat orang kafir, kedatangan malaikat itu bikin dag-dig-dug serasa nonton film horor, jadi auto enggan buat ketemu Sang Pencipta.


---


BREAKDOWN BUAT GENERASI SEKARANG:


1. Maksud "Lega Berjumpa Allah" itu apa sih? Ini soalinner peace dan state of mind. Bukan berani mati, tapi lebih ke hati yang udah siap dan excited buat balik ke "Homebase"-nya. Ibaratnya, kita udah selesai urusan di perantauan (dunia) dan sekarang ready pulang kampung (akhirat) dengan perasaan happy.


2. Kok bisa ya ada yang excited? Karena orang beriman udah punyaquality time yang intens sama Allah selama di dunia. Hubungannya baik, jadi reunion nanti di akhirat adalah momen yang dinanti-nanti, kayak ketemu pacar setelah LDR.


3. Terus, yang enggan gimana? Ya itu,yang selama hidupnya sibuk ghosting Allah, main hide and seek, atau malah block perintah-Nya. Pas dikasih tau waktunya meet-up, ya panic attack. Dia ngerasa belum siap, malu, dan takut konsekuensinya.


4. Relevansi di Zaman Now? Kita sibuk banget carifollowers, likes, dan career path sampai lupa nyiapin exit strategy yang paling penting: modal buat ketemu Allah. Hadis ini reminder buat kita buat upgrade hubungan sama Allah, biar pas waktunya tiba, kita bisa bilang, "Okay, I'm ready. Let's go."


---


Ayat Pendukung (Tetap Pakai Bahasa Asli):


📖 Al-Qur'an: "Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha lagi diridhai."(QS. Al-Fajr: 27–28)


---


Kata-Kata Motivasi ala Para Sufi (Versi Singkat):


· Al-Ghazali: Jangan takut mati, takutlah hidup tanpa makna.

· Rumi: Kematian itu bukan akhir, tapi upgrade ke kehidupan yang lebih high-definition.

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: Orang yang kenal Allah, senyumnya tulus pas diajak pulang.


---


Tips Biar Hati Lega (Life Hack):


1. Jaga Komunikasi: Perbanyak dzikir, curhat lewat doa.

2. Clear Your History: Rajin-rajin bertaubat, jangan numpuk dosa.

3. Good Deeds: Berbuat baik ke sesama, karena itu good record buat bekal.

4. Mindset: Ingat bahwa mati itu pasti, jadi better siapin diri dari sekarang.


---


Doa Penutup (Tetap Bahasa Asli):


Allahumma aj‘al khaira a‘maalinaa khawaatiimaha, wa khaira ayyaamina yauma nalqaaka. "Ya Allah,jadikanlah sebaik-baik amal kami adalah penutupnya, dan sebaik-baik hari kami adalah hari ketika kami bertemu dengan-Mu."


---


Jadi, yuk, kita hidup yang bermanfaat dan penuh cinta sama Allah, biar pas waktunya tiba, kita bisa check-out dengan tenang dan senyuman. Because meeting your Creator should be the best meeting ever. ✨


Semoga bermanfaat! 😊