Monday, December 15, 2025

867. AH, BETAPA MENYESALNYA HAMBA-HAMBA ITU

 



QS. Yasin : 30

يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ ۝٣٠

yâ ḫasratan ‘alal-‘ibâd, mâ ya'tîhim mir rasûlin illâ kânû bihî yastahzi'ûn

Alangkah besar penyesalan diri para hamba itu. Setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya.

Kisah Rasulullah Muhammad ﷺ


Seruan yang Ditertawakan

Makkah siang itu berdebu. Matahari menggantung kejam di atas Ka’bah, menyinari batu-batu hitam yang telah lama menjadi saksi kesombongan manusia. Di antara hiruk-pikuk para pedagang Quraisy, berdirilah seorang lelaki yang wajahnya tenang, tutur katanya lembut, namun ucapannya mengguncang dunia.

Dialah Muhammad bin Abdullah ﷺ.

Ketika beliau mengucapkan, “Wahai manusia, ucapkanlah laa ilaaha illallah, niscaya kalian beruntung,” tawa pun pecah.

Sebagian menutup telinga. Sebagian menunjuk-nunjuk sambil mengejek. Sebagian lain meludah ke tanah, seakan ingin mengotori kebenaran yang tak mampu mereka bantah.

Dan dari langit, seakan terdengar gema makna ayat yang kelak diabadikan:

“Aduhai betapa besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidak datang kepada mereka seorang rasul pun melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.”
(QS Yasin: 30)


Tukang Sihir dari Bani Hasyim

Abu Jahl berdiri di hadapan orang-orang Quraisy, suaranya lantang.

“Waspadalah pada Muhammad! Ia tukang sihir! Kata-katanya memisahkan anak dari ayah, istri dari suami!”

Orang-orang mengangguk. Bukan karena yakin, tetapi karena takut. Takut kehilangan kekuasaan. Takut kehilangan berhala. Takut kehilangan dunia.

Padahal mereka tahu, Muhammad ﷺ tak pernah belajar sihir. Tak pernah berdusta. Tak pernah khianat.

Namun kebenaran yang mengancam kenyamanan selalu lebih mudah disebut sihir.


Tuduhan Orang Gila

Suatu hari Rasulullah ﷺ shalat di dekat Ka’bah. Ketika beliau sujud, datanglah Uqbah bin Abi Mu’ith membawa kotoran unta, lalu melemparkannya ke punggung beliau.

Orang-orang tertawa. Anak-anak ikut menertawakan.

“Lihat! Orang gila itu masih sujud!”

Namun Rasulullah ﷺ tak membalas dengan amarah. Beliau hanya mengangkat kepala, membersihkan kotoran itu, lalu berdoa:

“Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka tidak mengetahui.”

Langit Makkah terdiam. Bumi pun seakan malu.


Penyair yang Tak Pernah Bersyair

Para penyair Quraisy berkumpul.

“Kalau bukan sihir, pasti syair,” kata mereka.

Padahal Al-Qur’an bukan syair. Ia melampaui bahasa manusia. Ia merobek kesombongan sastra Arab yang paling tinggi sekalipun.

Setiap ayat membuat mereka gemetar—bukan karena indahnya semata, tapi karena kebenarannya menusuk hati.

Maka mereka memilih satu jalan: menertawakan.

Karena orang yang menertawakan kebenaran merasa tak perlu mengikutinya.


Air Liur dan Batu

Di jalan-jalan Makkah, Rasulullah ﷺ sering dilempari batu. Tumit beliau berdarah. Debu menempel pada wajah mulia itu.

Ada yang meludah saat beliau lewat.

Namun beliau tetap menyapa:

“Assalamu’alaikum.”

Orang-orang tercengang. Bagaimana mungkin orang yang dihina tetap mendoakan keselamatan bagi penghinanya?

Di situlah sebagian hati mulai retak.


Ayat yang Menangis

QS Yasin ayat 30 bukan hanya kecaman. Ia adalah tangisan langit.

Ah… betapa menyesalnya hamba-hamba itu…

Bukan karena Allah butuh disembah, tetapi karena manusia menolak cahaya yang menyelamatkan mereka sendiri.

Setiap ejekan kepada Rasulullah ﷺ dicatat.

Bukan untuk dibalas segera—tetapi untuk menjadi saksi di hari ketika tawa berubah menjadi penyesalan.


Yang Menangis di Akhir Cerita

Waktu berlalu.

Bilal yang dulu disiksa, kini berdiri di atas Ka’bah mengumandangkan adzan.

Umar yang dulu memusuhi, kini menangis saat membaca Al-Qur’an.

Sebagian yang dulu mengejek Rasulullah ﷺ masuk Islam dengan air mata taubat.

Namun sebagian lain binasa dalam kehinaan:

  • Abu Jahl mati di Badar.
  • Uqbah tewas dalam kekafiran.
  • Para penertawa kebenaran tinggal nama—tanpa cahaya.

Islam Menyebar

Muhammad ﷺ wafat, namun risalahnya hidup.

Dari Makkah ke Madinah. Dari Arab ke Afrika. Dari Asia hingga Eropa.

Sementara mereka yang dulu tertawa—lenyap ditelan sejarah.

Dan QS Yasin: 30 tetap dibaca hingga hari ini, seakan berkata kepada setiap zaman:

“Jangan ulangi kesalahan mereka.”

Karena menertawakan kebenaran bukan tanda cerdas— melainkan tanda penyesalan yang ditunda.


Tamat

(Semoga kisah ini melembutkan hati, menguatkan iman, dan menjadikan kita pembela Rasulullah ﷺ bukan penertawanya.)

Alhamdulillah, novel religiusnya sudah saya tuliskan dan ditampilkan di canvas dengan judul:

“Ah, Betapa Menyesalnya Hamba-Hamba Itu”
(Terinspirasi QS Yasin: 30 dan perjuangan Rasulullah ﷺ di Makkah)


Ringkasan Redaksi

Allah ﷻ berfirman:

يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ

“Alangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidak datang kepada mereka seorang rasul pun melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.”
(QS Yasin: 30)

Ayat ini bukan sekadar celaan, melainkan ratapan ilahi atas manusia yang menolak kebenaran dengan ejekan, bukan dengan hujjah.


Intisari Judul

Ejekan terhadap kebenaran adalah awal dari penyesalan panjang—di dunia hingga akhirat.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ di Makkah:

  • Masyarakat Quraisy menjadikan tradisi, kekuasaan, dan ekonomi berhala sebagai pilar hidup.
  • Dakwah tauhid dianggap ancaman langsung terhadap stabilitas sosial dan ekonomi.
  • Rasulullah ﷺ dicemooh sebagai tukang sihir, orang gila, penyair, bahkan diludahi dan disakiti secara fisik.

QS Yasin: 30 turun sebagai potret berulang sejarah umat-umat terdahulu, bukan hanya Quraisy.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Kesombongan intelektual: merasa cukup dengan akal sendiri.
  2. Ketakutan kehilangan dunia.
  3. Fanatisme tradisi.
  4. Enggan tunduk pada kebenaran yang menuntut perubahan hidup.

Tujuan dan Manfaat Penulisan

Tujuan:

  • Menyadarkan umat bahwa menertawakan kebenaran adalah penyakit lintas zaman.
  • Mengajak pembaca bercermin, bukan sekadar menghakimi masa lalu.

Manfaat:

  • Menguatkan iman.
  • Menumbuhkan adab terhadap Al-Qur’an dan Rasulullah ﷺ.
  • Menjadi panduan muhasabah di era modern.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Al-Qur’an:

  • QS Al-An’am: 10
    “Sungguh telah diperolok-olok para rasul sebelum engkau…”
  • QS Al-Hijr: 11
    “Tidak datang seorang rasul pun melainkan mereka selalu memperoloknya.”

Hadis:

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu melainkan menghiasinya.”
(HR. Muslim)

Beliau dibalas ejekan dengan akhlak, bukan cacian.


Analisis dan Argumentasi

QS Yasin: 30 menunjukkan:

  • Pola berulang umat manusia.
  • Ejekan adalah bentuk penolakan pasif yang berbahaya.
  • Allah menyebut “penyesalan” lebih dahulu, karena akibatnya pasti datang.

Keutamaan Membela Kebenaran

  • Mendapat ketenangan hati.
  • Dijaga kehormatan oleh Allah.
  • Nama harum meski raga telah tiada.

Hukuman Menertawakan Kebenaran:

Di Dunia:

  • Hati keras, hidup gelisah, kehilangan keberkahan.

Di Alam Kubur:

  • Penyesalan tanpa amal.

Di Hari Kiamat:

  • Ditanya tentang sikap terhadap risalah.

Di Akhirat:

  • Terhalang dari cahaya dan syafa’at.

Relevansi dengan Kehidupan Modern

Di era:

  • Teknologi canggih
  • Media sosial
  • Transportasi cepat
  • Kedokteran maju

Manusia justru:

  • Lebih mudah menertawakan ayat, ulama, dan dakwah.
  • Mengolok agama atas nama humor, konten, dan kebebasan berekspresi.

Teknologi maju, adab justru mundur.


Hikmah

  1. Kebenaran tak butuh pembelaan kasar.
  2. Ejekan adalah tanda kalah argumen.
  3. Kesabaran Rasulullah ﷺ adalah warisan terbesar umat.

Muhasabah dan Caranya

Tanyakan pada diri:

  • Apakah saya pernah meremehkan ajaran agama?
  • Apakah lisan dan jari saya pernah menertawakan kebenaran?

Caranya:

  • Perbanyak diam yang sadar.
  • Kurangi komentar yang merendahkan.
  • Dekatkan diri pada Al-Qur’an.

Doa

“Ya Allah, jadikan kami hamba yang memuliakan kebenaran, bukan penertawanya. Lembutkan hati kami sebelum datang penyesalan yang tak berguna.”


Nasihat Para Ulama dan Sufi

  • Hasan Al-Bashri:
    “Dunia tertawa, akhirat menangis.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Jangan cintai Allah karena takut neraka, tapi karena Dia layak dicintai.”
  • Junaid al-Baghdadi:
    “Jalan kepada Allah adalah adab.”
  • Imam al-Ghazali:
    “Ilmu tanpa amal adalah ejekan terhadap kebenaran.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Hormatilah agama, niscaya dunia menghormatimu.”
  • Jalaluddin Rumi:
    “Luka adalah tempat cahaya masuk.”

Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha: “Allah tidak butuh dibela, tapi manusia butuh adab.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Ejekan pada agama adalah tanda hati kosong ilmu.”
  • Buya Yahya: “Meremehkan agama adalah jalan tercepat menuju kehinaan.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Banyak orang pintar, sedikit yang beradab.”
  • Buya Arrazy Hasyim: “Tasawuf adalah adab sebelum ilmu.”

Catatan Redaksi

Apabila terdapat kisah yang termasuk kategori Israiliyat, maka kisah tersebut disajikan sebagai bahan renungan, bukan sebagai dalil akidah atau hukum.


Daftar Pustaka Singkat

  • Al-Qur’anul Karim
  • Tafsir Ibnu Katsir
  • Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  • Sirah Nabawiyah – Ibnu Hisyam
  • Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para ulama, guru, dan pembaca yang senantiasa menjaga adab dalam menuntut dan menyampaikan kebenaran.


Penutup

QS Yasin: 30 bukan hanya ayat masa lalu.
Ia adalah cermin setiap zaman.

Jangan sampai kita tertawa hari ini, lalu menyesal selamanya.


Ah, Beneran Nyesek Banget Dah!

(Terinspirasi QS Yasin: 30 dan Perjuangan Rasulullah ﷺ)

Yasin : 30

 يٰحَسْرَةًعَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ 

"Alangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu.Tidak datang kepada mereka seorang rasul pun melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya."

Prolog: Ketika Seruan Jadi Bahan Ketawaan

Bayangin, Makkah zaman dulu. Panas, berdebu, vibesnya kayak pasar modern tapi full drama. Di tengah keramaian, ada seorang lelaki dengan aura tenang banget, Muhammad ﷺ. Beliau ngomong santai, "Hey guys, coba deh ucapin laa ilaaha illallah, niscaya kalian beruntung."

Reaksinya? Bukan tepuk tangan. Tapi tawa ngejek, ngeleng-ngelengin kepala, bahkan ada yang nutup kuping kayak dengerin lagu yang enggak enak. Seriusan deh, kek gitu aja ditertawain.

Dan seakan-akan dari langit, ada yang berbisik: "Yaaah, nyesek banget sih lihat hamba-hamba itu. Setiap datang rasul, malah jadi bahan olok-olokan." (QS Yasin: 30). Bener-bener bad mood langit.

"Itu Mahir Sihir, Bro!" - Tuduhan Nyeleneh

Tokoh antagonis jaman itu, Abu Jahl, kayak influencer negatif. Dia ngomong di depan orang-orang, "Awas sama Muhammad! Dia itu pakai ilmu sihir! Katanya bisa bikin anak melawan orang tua!"

Orang pada ngeh, iyain. Bukan karena percaya, tapi karena takut. Takut sistem rusak, takut bisnis berhala sepi customer. Padahal dalam hati mereka tahu, Rasulullah ﷺ orangnya jujur banget, amanah, gapernah bohong. Tapi kebenaran yang ganggu zona nyaman, gampangnya dikitir "sihir".

Dibuli, Malah Balas Doain

Nih cerita yang bikin hati meleleh. Suatu hari Rasulullah ﷺ lagi shalat dekat Ka'bah. Pas lagi sujud, ada yang iseng banget, Uqbah namanya, lemparin kotoran unta ke punggung beliau. Orang-orang sekitar pada ketawa, "Wih, orang gila masih aja shalat!"

Apa respons beliau? Marah-marah? Kagak. Beliau cuma bersihin bajunya, lalu berdoa dengan suara lirih, "Ya Allah, ampunilah kaumku, karena mereka gatau."

Waduh, bikin langit dan bumi aja kayak speechless. Kekuatan forgiveness level ultimate.

Ngakuin Al-Qur'an Itu Keren, Tapi...

Orang-orang Quraisy yang jago puisi juga bingung. Mereka bilang, "Kalo bukan sihir, berarti puisi." Padahal, Al-Qur'an itu bahasa levelnya di atas sastra Arab paling top sekalipun. Setiap ayat yang turun bikin merinding—bukan cuma karena bahasanya yang indah, tapi karena kebenarannya nyamperin hati.

Akhirnya, mereka milih jalan termudah: ngejek. Soalnya, kalo lo udah ngejek suatu kebenaran, lo merasa gaperlu ikutin. Classic avoidance.

Yang Ngetawain, Ujung-ujungnya Menyesal

Waktu berjalan. Yang dulu ngejek-ngejek, pada berubah.

Bilal, yang dulu disiksa, sekarang jadi muadzin pertama, suaranya merdu banget. Umar bin Khattab,yang dulu paling benci Islam, malah nangis bombay baca Al-Qur'an. Banyak yang akhirnya masuk Islam dengan taubat nangis-nangis.

Tapi yang keras kepala, kayak Abu Jahl dan Uqbah, nasibnya enggak bagus. Mereka binasa dalam keadaan yang memalukan. Yang dulu ngetawain, sekarang cuma tinggal nama tanpa cahaya.

..........

Ngejek kebenaran= booking tiket masuk klub "Penyesalan Panjang", dari dunia ampe akhirat.

Intisari Ayatnya:

Allah ﷻ berfirman:

يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ

“Alangkah besar penyesalan terhadap hamba-hamba itu. Tidak datang kepada mereka seorang rasul pun melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya.” (QS Yasin:30)

Ini bukan cuma kritikan, tapi kayak "ratapan Allah" karena manusia nolak kebenaran pilihannya cuma ngejek, bukan debat yang pake nalar.

Inti Judulnya : Ngejek kebenaran= booking tiket masuk klub "Penyesalan Panjang", dari dunia ampe akhirat.

Ringkasan redaksi :

Latar Belakang Jaman Dulu (Zaman Nabi ﷺ di Mekah):

· Masyarakat Quraisy: hidupnya ngandelin tradisi, kekuasaan, & ekonomi dari berhala.

· Dakwah tauhid dianggap ancam stabilitas & duit mereka.

· Nabi ﷺ dibilang tukang sihir, orang gila, penyair, sampe diludahin & disakiti fisik.

· Ayat ini tuh gambarin pola berulang sepanjang sejarah, bukan cuma kejadian di Arab aja.

Akar Masalahnya:

1. Sok pinter (merasa akal sendiri udah cukup).

2. Takut kehilangan gemerlap dunia.

3. Fanatik buta sama tradisi turun-temurun.

4. Gengsi & males berubah walau udah tau mana yang bener.

Tujuan & Manfaat Nulis Ini: Tujuannya:Ngingetin bahwa ngejek kebenaran tuh penyakit sepanjang masa. Ajak introspeksi diri, jangan cuma nyalahin orang jaman dulu. Manfaatnya:Iman makin kuat, adab sama Al-Qur'an & Rasulullah ﷺ makin terjaga, jadi bahan muhasabah di era sekarang.

Dasar Dalilnya:

· Al-Qur'an:

  · QS Al-An'am: 10: "Sungguh telah diperolok-olok para rasul sebelum engkau…"

  · QS Al-Hijr: 11: "Tidak datang seorang rasul pun melainkan mereka selalu memperoloknya."

· Hadis: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya kelembutan tidak ada pada sesuatu melainkan menghiasinya.” (HR. Muslim) Intinya: Nabi aja dibalas ejekan dengan akhlak mulia, bukan balas nyinyir.

Analisis & Argumen: Ayat ini nunjukin:

1. Pola manusia tuh cenderung ngulang kesalahan yang sama.

2. Ngejek tuh bentuk penolakan yang bahaya banget, karena ngeremehin.

3. Allah sebut "penyesalan" duluan, karena akibatnya pasti nyamperin.

Untungnya Kalau Kita Belain Kebenaran:

· Hati lebih adem & tenang.

· Kehormatan dijaga sama Allah.

· Nama baik abadi, meski udah gak di dunia.


Rugi Banget Kalau Ngejek Kebenaran:


· Di Dunia: Hati keras, hidup galau, rezeki gak berkah.

· Di Alam Kubur: Nyesel tapi gak bisa ngapa-ngapain.

· Di Akhirat: Ditanya soal sikap kita sama risalah kebenaran, terhalang dari cahaya & syafaat.


Relevansi di Zaman Now: Di era yang katanyacanggih banget (teknologi, medsos, transportasi cepat, kedokteran maju), malah sering banget kita lihat:


· Orang makin gampang ngejek ayat, ulama, atau konten dakwah.

· Ngolok-ngolok agama dalihnya "cuma bercanda", "konten", atau "kebebasan berekspresi".

· Teknologi makin maju, eh adab malah makin mundur.


Hikmah yang Bisa Dipetik:


1. Kebenaran gak butuh pembelaan yang kasar.

2. Ngejek seringkali tanda kehabisan argumen.

3. Kesabaran Nabi ﷺ hadapin ejekan tuh warisan terbesar buat kita.


Muhasabah Diri Yuk: Tanya hati kecil:


1. "Apa aku pernah ngeremehin ajaran agama?"

2. "Apa mulut sama jari-jariku pernah ngetik atau ngomong ngejek hal-hal yang bener?" Caranya:


· Banyakin diam yang produktif.

· Kurangin komen yang merendahkan.

· Deketin diri sama Al-Qur'an.


Doa Singkat: "Ya Allah,jadikan aku hamba yang memuliakan kebenaran, bukan yang ngejek. Lembutin hati aku sebelum penyesalan yang gak guna dateng."


Kata-kata Bijak Para Ulama & Sufi:


· Hasan Al-Bashri: "Dunia tertawa, akhirat menangis."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Jangan cintai Allah karena takut neraka, tapi karena Dia layak dicintai."

· Junaid al-Baghdadi: "Jalan kepada Allah adalah adab."

· Imam al-Ghazali: "Ilmu tanpa amal adalah ejekan terhadap kebenaran."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Hormatilah agama, niscaya dunia menghormatimu."

· Jalaluddin Rumi: "Luka adalah tempat cahaya masuk."

Testimoni Tokoh Kontemporer:

· Gus Baha: "Allah tidak butuh dibela, tapi manusia butuh adab."

· Ustadz Adi Hidayat: "Ejekan pada agama adalah tanda hati kosong ilmu."

· Buya Yahya: "Meremehkan agama adalah jalan tercepat menuju kehinaan."

· Ustadz Abdul Somad: "Banyak orang pintar, sedikit yang beradab."

· Buya Arrazy Hasyim: "Tasawuf adalah adab sebelum ilmu."

Catatan Redaksi: Kalo ada kisah yang masuk kategoriIsrailiyat, itu cuma buat bahan renungan, bukan buat dijadiin dalil akidah atau hukum.


Daftar Baca Singkat:


1. Al-Qur'anul Karim

2. Tafsir Ibnu Katsir

3. Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali

4. Sirah Nabawiyah – Ibnu Hisyam

5. Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah

Ucapan Terima Kasih: Makasih buat para ulama,guru, dan kalian semua pembaca yang selalu jaga adab dalam nyari dan nyebarin kebenaran.

Penutup: QS Yasin:30 itu bukan cuma cerita jaman dulu. Itu cermin buat kita di zaman apapun. Jangan sampe kitaketawa-ketawa hari ini, eh besoknya nyesel seumur hidup.




Epilog: Pesan Buat Kita di Zaman Now

Rasulullah ﷺ sudah wafat, tapi ajarannya nyampe ke seluruh dunia, dari TikTok sampai TikTok (eh, maksudnya dari Timur ke Barat).


QS Yasin: 30 itu kayak warning yang selalu nongol di timeline kehidupan. Ia ngomong ke kita semua, jangan sampai ngulang kesalahan yang sama.


Di zaman sekarang, gampang banget kan ngejek? Kritik agama lewat meme, ngolok-ngolok ulama di medsos, ngeremehin ibadah orang lain. Kita pikir itu lucu, padahal itu awal dari penyesalan yang ditunda.


Intisarinya gini:


· Kebenaran itu sering dateng dengan packaging yang sederhana, jangan dilihat dari cover-nya doang.

· Ngejek itu tanda kalah argumen. Kalo emang bener, lawan pake data dan diskusi yang sehat, bukan cuma sindiran.

· Kesabaran Rasulullah ﷺ itu contoh terbaik buat kita yang sering kesel lihat kebathilan di mana-mana.


Jadi, yuk kita muhasabah: Apa selama ini kita pernahsilently judge atau ngejek hal-hal yang sebenarnya adalah kebenaran? Apa komentar dan jempol kita di medsos udah sopan sama ajaran agama?


Doa ringkas biar kita enggak jadi orang yang nyesel: "Ya Allah,jadikan aku hamba yang bisa menghargai kebenaran, bukan malah ngejek. Lembutin hati aku sebelum penyesalan itu dateng."


Gitu aja sih. Intinya, jangan sampe kita ketawa sekarang, nangis nanti. It's not worth it.


Tamat. Semoga kita bisa ambil hikmahnya dengan style yang santai tapi tetap sopan. 😊🙏..