Tuesday, January 20, 2026

920. Dari Satu Jiwa Menuju Dua Negeri

 


Al-An'am · Ayat 98


وَهُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَكُمْ مِّنْ نَّفْسٍ وَّاحِدَةٍ فَمُسْتَقَرٌّ وَّمُسْتَوْدَعٌۗ قَدْ فَصَّلْنَا الْاٰيٰتِ لِقَوْمٍ يَّفْقَهُوْنَ ۝٩٨

wa huwalladzî ansya'akum min nafsiw wâḫidatin fa mustaqarruw wa mustauda‘, qad fashshalnal-âyâti liqaumiy yafqahûn

Dialah yang menciptakanmu dari diri yang satu (Adam), maka (bagimu) ada tempat menetap dan tempat menyimpan. Sungguh, Kami telah memerinci tanda-tanda (kekuasaan Kami) kepada kaum yang memahami.

..........

Tafsir al ibriiz.

Singkatnya, Al-An'am ayat 98 adalah pengingat akan asal-usul penciptaan manusia dan bukti kekuasaan Allah yang tersebar di alam semesta, yang dapat dipahami oleh mereka yang berpikir untuk mengesakan-Nya. 

.......

QS. Al-An‘ām: 98
“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu, lalu bagimu ada tempat menetap dan tempat menyimpan. Sungguh Kami telah menjelaskan ayat-ayat Kami bagi kaum yang memahami.”


🌿 Dari Satu Jiwa Menuju Dua Negeri

(Refleksi Tazkiyatun Nufūs atas QS. Al-An‘ām: 98)


1️⃣ Intisari Isinya

Ayat ini menegaskan tiga hakikat besar kehidupan:

  1. Asal-usul manusia satu: seluruh manusia kembali kepada satu jiwa (Adam).
  2. Manusia pasti menempuh dua fase:
    • مُسْتَقَرّ (tempat menetap)
    • مُسْتَوْدَع (tempat titipan/penyimpanan)
  3. Ayat-ayat Allah hanya dipahami oleh orang yang mau menggunakan akal dan hatinya.

Dalam perspektif tazkiyatun nufūs, ayat ini memanggil jiwa agar sadar: kita bukan makhluk yang berdiri sendiri, bukan pula makhluk yang tinggal selamanya di dunia.


2️⃣ Intisari Tafsir Para Ulama

Para mufassir menjelaskan:

  • Min nafsin wāḥidah → seluruh manusia berasal dari satu jiwa, yaitu Nabi Adam ‘alaihis salām. Ini menghancurkan kesombongan ras, harta, dan nasab.
  • Fa mustaqarr wa mustauda‘ memiliki beberapa makna:
    • Mustaqar: tempat tinggal tetap (rahim, dunia, kubur, atau akhirat).
    • Mustauda‘: tempat titipan (sperma di sulbi, janin di rahim, manusia di dunia, ruh di alam barzakh).

Sebagian ulama berkata:

  • Mustaqar di dunia, mustauda‘ di kubur.
  • Sebagian lain: mustaqar di akhirat, mustauda‘ di dunia.

Semua makna itu bertemu dalam satu kesimpulan:
👉 Manusia selalu berpindah, dan tidak ada satu pun fase yang kekal kecuali akhirat.


3️⃣ Latar Belakang dan Sebab Turunnya Masalah

Kaum musyrikin Mekah memandang kehidupan hanya sebatas dunia. Mereka sombong dengan nasab, kuat dengan harta, bangga dengan jumlah.

Ayat ini datang sebagai tamparan ruhani:

  • Kalian berasal dari satu jiwa.
  • Kalian hanya sedang dititipkan.
  • Kalian akan dipindahkan.

Masalah besar manusia sepanjang zaman adalah lupa asal-usul dan lupa tujuan.


4️⃣ Hadis Terkait

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
(HR. Bukhari)

Dan beliau bersabda:

“Kubur itu salah satu taman dari taman-taman surga atau salah satu lubang dari lubang-lubang neraka.”
(HR. Tirmidzi)

Hadis-hadis ini menguatkan makna mustauda‘: dunia dan kubur hanyalah fase titipan.


5️⃣ Analisis dan Argumentasi (Tazkiyatun Nufūs)

Ayat ini bukan sekadar informasi penciptaan, tetapi peta perjalanan jiwa.

Tazkiyatun nufūs menuntut tiga kesadaran:

  1. Kesadaran asal → aku makhluk, bukan pemilik.
  2. Kesadaran posisi → aku sedang dititipkan, bukan menetap.
  3. Kesadaran tujuan → aku sedang dipersiapkan, bukan dibiarkan.

Jiwa yang tidak ditazkiyah akan melekat pada mustauda‘ (titipan) seolah-olah ia mustaqar (tempat kekal). Dari sinilah lahir kerakusan, kezaliman, dan kelalaian.


6️⃣ Keutamaan dan Hukuman

🌸 Keutamaan orang yang sadar mustaqar & mustauda‘:

Di dunia:

  • Hatinya tenang, tidak berlebihan mencintai dunia.
  • Mudah bersyukur, mudah bersabar.

Di alam kubur:

  • Kuburnya menjadi taman, bukan penjara.
  • Ruhnya disambut dengan kabar gembira.

Di hari kiamat:

  • Wajahnya bercahaya.
  • Hisabnya dimudahkan.

Di akhirat:

  • Menetap di mustaqar sejati: surga Allah.

🔥 Hukuman bagi yang tertipu dunia:

Di dunia:

  • Hatinya sempit meski hartanya luas.
  • Hidup dalam kecemasan.

Di kubur:

  • Kuburnya menyempit, gelap, dan menekan.

Di kiamat:

  • Dibangkitkan dalam kehinaan.

Di akhirat:

  • Menetap di mustaqar kebinasaan: neraka.

7️⃣ Relevansi Zaman Modern

Di era:

  • Teknologi canggih → manusia merasa berkuasa.
  • Transportasi cepat → manusia lupa bahwa perjalanan terbesar adalah menuju kubur.
  • Kedokteran maju → manusia berusaha memperpanjang usia, tetapi lupa mempersiapkan akhir usia.
  • Komunikasi instan → manusia terhubung dengan dunia, namun terputus dari langit.
  • Sosial media → manusia membangun citra, tapi melalaikan jiwa.

Ayat ini datang sebagai penyeimbang:
👉 “Semua yang kau banggakan hanyalah mustauda‘.”


8️⃣ Hikmah, Tujuan, dan Manfaat

Hikmah:

  • Menumbuhkan tawadhu‘ (rendah hati).
  • Mematikan kesombongan eksistensi.

Tujuan:

  • Menyadarkan manusia akan perjalanan jiwa.
  • Mengarahkan hati dari dunia ke akhirat.

Manfaat tazkiyah:

  • Membersihkan cinta dunia dari hati.
  • Menguatkan rindu pulang kepada Allah.

9️⃣ Motivasi & Muhasabah

Tanyakan pada diri kita setiap malam:

  • Aku ini penghuni atau titipan?
  • Aku menyiapkan rumah dunia atau rumah kubur?
  • Hatiku sedang menumpuk atau sedang dibersihkan?

Cara Muhasabah Tazkiyatun Nufūs:

  1. Duduk tenang setelah Isya atau sebelum Subuh.
  2. Baca ayat ini perlahan 3 kali.
  3. Bayangkan perjalanan: rahim → dunia → kubur → mahsyar → akhirat.
  4. Catat satu dosa untuk ditinggalkan, satu amal untuk ditambah.

🔟 Doa

“Ya Allah, Engkau menciptakan kami dari satu jiwa, dan Engkau memindahkan kami dari satu negeri ke negeri lain.
Sucikanlah jiwa kami sebelum Engkau memindahkan kami ke alam kubur.
Jangan jadikan dunia sebagai mustaqar kami, dan jangan jadikan kubur sebagai penjara kami.
Jadikanlah akhirat sebagai tempat menetap kami bersama orang-orang yang Engkau cintai.”

Allāhumma zakkī nufūsanā taqwāhā, wa anta khairu man zakkāhā.


🌺 Ucapan Terima Kasih

Terima kasih telah menghadirkan ayat ini sebagai bahan renungan. Semoga ia tidak berhenti sebagai bacaan, tetapi menjadi cermin jiwa, peta perjalanan, dan obat hati dalam langkah-langkah hidup kita.

.......

QS. Al-An‘ām: 98 - Versi Santai & Kekinian

“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu, lalu bagimu ada tempat menetap dan tempat menyimpan. Sungguh Kami telah menjelaskan ayat-ayat Kami bagi kaum yang memahami.”

Tafsir Al ibriiz :

Nah, intinya, Al-An'am ayat 98 itu kayak gentle reminder tentang asal-usul kita sebagai manusia. Ayat ini nge-point out betapa semua yang ada di alam semesta ini adalah spoiler kekuasaan Allah. Buat yang mau mikir dan open mind, ini jadi alasan yang kuat buat ngeyakinin bahwa Allah itu Maha Esa.

🌿 Dari Satu Jiwa, Nanti Kita Pindah-Pindah Shelter


(Refleksi Buat Ngenyokin Hati, Terinspirasi QS. Al-An‘ām: 98)


1️⃣ Intinya Gini, Guys...

Ayat ini kasih tau kita 3 realita besar:


· Asal kita satu: Semua manusia, dari Adam. Jadi gak ada alasan buat sombong ras, harta, atau garis keturunan.

· Kita cuma numpang lewat: Hidup itu ada dua fase: mustaqarr (tempat tinggal tetap/sementara) dan mustauda‘ (tempat titipan/transit). Intinya, kita gak bakal stay forever di satu tempat.

· Pesan Tuhan cuma nyampe ke orang yang mau buka hati dan mikir.


Dalam sudut pandang tazkiyatun nufūs (self-cleaning hati), ayat ini kayak reminder: Kita bukan pemilik, cuma penghuni sementara.


2️⃣ Penjelasan Para Expert (Ulama)

Para mufassir nerangin:


· Min nafsin wāḥidah = Kita semua berasal dari satu soul, Nabi Adam AS. Ini ngeghostin semua alasan buat riya dan sombong.

· Mustaqarr & Mustauda‘ punya beberapa arti:

  · Mustaqarr: Bisa berarti rahim, dunia, kubur, atau akhirat (tempat tinggal tetap).

  · Mustauda‘: Bisa berarti sperma di tulang sulbi, janin di rahim, hidup di dunia, atau ruh di alam barzakh (tempat titipan).

  · Intinya semua sepakat: Kita terus pindah stage. Gak ada yang permanent kecuali akhirat nanti.


3️⃣ Backstory & Konteks Turunnya

Dulu orang-orang Mekah lagi hype banget sama kehidupan dunia. Mereka flexing keturunan, harta, dan pengaruh. Ayat ini turun sebagai wake-up call:

“Hey, kalian berasal dari satu jiwa. Kalian cuma dititipin di sini. Dan kalian pasti akan pindah lagi.”

Masalah terbesar manusia dari dulu sampe sekarang ya itu: lupa asal dan lupa tujuan.


4️⃣ Hadis-Hadis yang Ngena Banget

Rasulullah ﷺ pernah bilang:

“Jadilah kamu di dunia seperti orang asing atau musafir.” (HR. Bukhari)

Artinya: jangan terlalu attach sama dunia, kita cuma traveler.


Dan sabda beliau yang lain:

“Kubur itu adalah salah satu taman dari taman-taman surga atau salah satu lubang dari lubang-lakh neraka.” (HR. Tirmidzi)

Ini nge-strengthen konsep mustauda‘: dunia dan kubur cuma fase persinggahan.


5️⃣ Analisis Buat Self-Reflection (Tazkiyatun Nufūs)

Ayat ini bukan cuma info sejarah penciptaan, tapi peta perjalanan hidup kita.

Tazkiyatun nufūs butuh 3 kesadaran:


· Sadar asal: Aku diciptakan, bukan pemilik segalanya.

· Sadar posisi: Aku cuma dititipin di fase ini (dunia, kesehatan, harta).

· Sadar tujuan: Aku sedang dalam perjalanan pulang ke akhirat.

  Kalo hati gak dibersihin, kita bakal ngira titipan (mustauda‘) itu hal permanen (mustaqarr). Dari situ lahirlah greed, zalim, dan lalai.


6️⃣ Benefit vs Consequences

🌸 Buah kalo kita sadar:


· Di dunia: Hati lebih tenang, gak gampang insecure, mudah syukur dan sabar.

· Di kubur: Kubur jadi “taman”, tempat yang nyaman.

· Di akhirat: Wajah glowing, hisab dimudahin, dan dapet tempat tinggal permanen di surga.


🔥 Resiko kalo tertipu dunia:


· Di dunia: Hati sempit meski banyak followers/harta, hidup selalu cemas.

· Di kubur: Kubur terasa sempit, gelap, dan serem.

· Di akhirat: Dibangkitkan dalam keadaan hina, dan tempat tinggal permanennya di neraka.


7️⃣ Masih Relevan Gak Sih di 2024?

Di zaman sekarang:


· Tech advance → kita merasa bisa kontrol semuanya.

· Transportasi cepat → kita lupa perjalanan terpenting adalah ke kubur.

· Kedokteran maju → kita fokus perpanjang usia, tapi lupa persiapin bekal akhirat.

· Media sosial → kita sibuk bangun personal branding, tapi lupa bangun hubungan sama Allah.

  Ayat ini tetep relevan sebagai reminder: “Semua yang lo banggain itu cuma titipan sementara.”


8️⃣ Hikmah & Take-Home Message


· Hikmahnya: Ngebangun sifat rendah hati (tawadhu‘) dan ngehindarin kesombongan.

· Tujuannya: Ngingetin kita bahwa hidup ini adalah perjalanan pulang.

· Manfaat buat hati: Bikin kita gak terlalu cinta dunia dan bikin rindu “pulang” ke Allah.


9️⃣ Self-Check & Muhasabah Versi Kita

Coba tanya diri sendiri sebelum tidur:


· Gue ngerasa diri ini pemilik atau cuma penjaga sementara?

· Gue lagi sibuk nge-dekor rumah dunia atau nyiapin bekal buat rumah kubur?

· Hati gue lagi dipenuhi apa? Perlu dibersihin gak?


Cara simple buat muhasabah:


1. Duduk chill sehabis Isya atau sebelum Subuh.

2. Baca ayat ini pelan-pelan 3x.

3. Bayangin perjalanan hidup: rahim → dunia → kubur → mahsyar → akhirat.

4. Catet 1 hal yang perlu dikurangin (dosa/kebiasaan buruk) dan 1 hal yang perlu ditambahin (amal baik).


🔟 Doa yang Bisa Diaplikasin

“Ya Allah, Engkau menciptakan kami dari satu jiwa, dan Engkau memindahkan kami dari satu negeri ke negeri lain.

Sucikanlah jiwa kami sebelum Engkau memindahkan kami ke alam kubur.

Jangan jadikan dunia sebagai mustaqar kami, dan jangan jadikan kubur sebagai penjara kami.

Jadikanlah akhirat sebagai tempat menetap kami bersama orang-orang yang Engkau cintai.”


Allāhumma zakkī nufūsanā taqwāhā, wa anta khairu man zakkāhā.

(Ya Allah, bersihkan jiwa kami dengan takwa, Engkau lah sebaik-baik yang membersihkannya).


---


💫 Closing Statement

Thank you udah bikin konten renungan ini! Semoga gak cuma jadi bacaan doang, tapi beneran jadi cermin buat evaluasi diri, peta hidup, dan vitamin buat hati kita sehari-hari. Stay grounded, remember our origin and destination! 🙏✨