Monday, November 3, 2025

815. KETIKA MALAIKAT MAUT MEMATIKAN SEGALA SESUATU.

 



🕋 KETIKA MALAIKAT MAUT MEMATIKAN SEGALA SESUATU

“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

Penulis: M. Djoko Ekasanu
Rubrik: Renungan dan Hikmah Kehidupan


Hancurnya Sesuatu dengan Perintah Allah Ta'ala.

Malaikat maut diperintah supaya merusak lautan, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

 

“Setiap sesuatu binasa, kecuali Allah.” (QS. Al Qashash: 88)

Maka datanglah malaikat maut ke lautan, seraya berkata: “Benar-benar telah selesai masamu.” Berkatalah lautan: “Izinkanlah kepadaku sehingga aku menangisi atas diriku.” la berkata: “Dimanakah ombakku? Dimanakah keindahanku?” Dan benar-benar telah datang perintah Allah Ta’ala, maka kepada lautan malaikat maut berteriak dengan satu teriakan, (dengan teriakan itu) langsung air lautan tidak ada. Kemudian datanglah malaikat maut ke gunung. Seraya berkata (kepada gunung itu): “Benar-benar telah habis masamu.” Maka gunung itu berkata: “Izinkanlah kepadaku, Sehingga aku menangisi atas diriku.” la berkata: “Dimanakah tangga naikku? Dan dimanakah kekuatanku?” Benar-benar telah datang perintah Allah Ta’ala, maka kepada gunung itu malaikat maut berteriak dengan sekali teriakan, hancurlah gunuhg tersebut. Kemudian malaikat maut datang ke bumi, seraya berkata: “Telah habis masamu.” Maka bumi berkata: “Izinkanlah kepadaku sehingga aku menangis atas diriku.” la berkata: “Dimanakah kerajaanku? Dan dimanakah pepohonanku, sungai-sungaiku, dan beraneka macam tumbuh-tumbuhanku?” Lalu kepada bumi malaikat maut berteriak dengan sekali teriakan, maka menjadi rontok pagar-pagarnya bumi serta menjadi dalam mata air bumi. Kemudian malaikat maut naik ke langit dan berteriak, maka menjadi gerhana (pecah) matahari dan bulan serta bintang-bintang berjatuhan. Kemudian Allah Ta’ala berfirman: “Hai malaikat maut, siapa yang masih tersisa dari makhlukku?” Malaikat maut berkata: “Ya Tuhanku, Engkaulah Dzat yang hidup dan tidak akan mati, yang masih tersisa adalah Jibril, Mikail, Israfil dan malaikat yang membawa Arasy, dan aku adalah hambaMu yang dha’if.” Maka Allah Ta’ala berfirman: “Hai malaikat maut, Apakah kamu tidak mendengar firman-Ku:

“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Ali Imran: 185)

Lalu malaikat maut menjadi mati.”



Ringkasan Redaksi Asli

Kisah ini menggambarkan peristiwa besar menjelang kehancuran alam semesta — ketika Allah memerintahkan malaikat maut untuk mencabut nyawa seluruh makhluk, termasuk lautan, gunung, bumi, langit, dan akhirnya para malaikat sendiri. Semuanya tunduk pada firman Allah:

“Kullu syai’in halikun illa wajhah” — “Segala sesuatu akan binasa kecuali Allah.” (QS. Al-Qashash: 88)

Setelah lautan, gunung, dan bumi menangisi kefanaannya, datanglah saat ketika hanya Allah-lah yang tetap hidup. Malaikat maut pun akhirnya merasakan kematian, menegaskan hakikat bahwa tiada sesuatu pun kekal selain Dia.


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Kisah ini bersumber dari tafsir klasik dan riwayat Israiliyyat yang digunakan para ulama salaf sebagai peringatan tentang hari kehancuran alam (Yaumul Qiyamah).
Pada masa itu, manusia terbuai oleh keindahan dunia dan kekuatan alam. Maka Allah mengingatkan bahwa bahkan gunung yang kokoh, laut yang luas, dan langit yang tinggi pun akan hancur.
Kisah ini menjadi peringatan abadi: bahwa keabadian hanyalah milik Allah.


Sebab Terjadinya Masalah

Sebab utama adalah datangnya perintah Allah kepada malaikat maut untuk memusnahkan segala ciptaan. Ini bukan bentuk kemarahan, melainkan penyempurnaan takdir Allah yang telah menetapkan bahwa segala sesuatu memiliki awal dan akhir.


Intisari Judul

Semua makhluk, sekokoh apa pun, pasti mati. Alam raya pun akan sirna, hanya Allah yang kekal.

“Yang kekal hanyalah wajah Allah — Dzat yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri.”


Tujuan dan Manfaat

  1. Menanamkan kesadaran tauhid murni, bahwa hanya Allah yang kekal.
  2. Menumbuhkan rasa takut dan cinta kepada Allah secara seimbang.
  3. Mengingatkan manusia agar tidak sombong atas kekuatan atau kekayaan dunia.
  4. Menuntun kita untuk bersiap menghadapi kematian dan hari akhir dengan amal saleh.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  • Al-Qur’an:
    • “Kullu nafsin dza’iqatul maut.” (QS. Ali Imran: 185)
      “Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.”
    • “Kullu syai’in halikun illa wajhah.” (QS. Al-Qashash: 88)
  • Hadis Nabi ﷺ:

    “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian.”
    (HR. Tirmidzi)


Analisis dan Argumentasi

Kisah ini menegaskan konsep fana’ (kefanaan makhluk) dan baqa’ (kekekalan Allah).
Dalam teologi Islam, kematian bukan kehancuran mutlak, melainkan perpindahan dari dunia sementara menuju alam kekal.
Malaikat maut sebagai makhluk paling patuh pun akhirnya tunduk pada hukum ini.
Artinya, tiada makhluk yang memiliki daya kecuali dengan izin Allah.


Keutamaan dan Nilai Spiritual

  1. Menjadikan hati lembut dan tunduk di hadapan Allah.
  2. Menumbuhkan kerendahan hati dan menjauhkan dari kesombongan.
  3. Membuka kesadaran tentang pentingnya taubat dan amal jariyah.
  4. Menguatkan iman terhadap hari kebangkitan.

Relevansi dengan Zaman Modern

Dalam dunia modern yang dikelilingi kecanggihan teknologi, komunikasi, transportasi, dan kedokteran, manusia sering merasa mampu menguasai hidup.
Namun kisah ini mengingatkan bahwa semua ciptaan—termasuk hasil teknologi manusia—akan musnah.
Gedung pencakar langit, kapal raksasa, pesawat luar angkasa, dan laboratorium canggih pun tidak bisa menahan takdir Allah.
Kematian dan kehancuran alam adalah pelajaran agar ilmu dan teknologi tidak menjauhkan manusia dari Sang Pencipta.


Hikmah

  1. Kematian bukan akhir, melainkan pintu menuju keabadian.
  2. Dunia hanyalah bayangan fana dari keindahan yang hakiki di akhirat.
  3. Setiap makhluk, sekokoh alam semesta sekalipun, bergantung pada Allah.

Muhasabah dan Caranya

  • Renungkan bahwa setiap detak jantung adalah pinjaman dari Allah.
  • Bersihkan hati dari kesombongan dan cinta dunia berlebihan.
  • Perbanyak amal sedekah, dzikir, dan taubat.
  • Siapkan bekal akhirat, karena dunia hanya persinggahan.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يَسْتَعِدُّونَ لِلْمَوْتِ قَبْلَ نُزُولِهِ، وَارْزُقْنَا حُسْنَ الْخَاتِمَةِ
Allahumma ij‘alnā minal-ladzīna yasta‘iddūna lil-mauti qabla nuzūlih, warzuqnā husnal khātimah.

“Ya Allah, jadikan kami orang yang bersiap menghadapi kematian sebelum datangnya, dan anugerahkan kami akhir kehidupan yang baik.”


Nasihat Para Sufi Besar

  • Hasan Al-Bashri: “Kematian tidak pernah lupa kepada siapa pun, maka janganlah engkau lalai darinya.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak takut mati, yang kutakutkan adalah mati dalam keadaan jauh dari cinta Allah.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Mati adalah perjalanan kembali kepada Kekasih.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Barangsiapa mengenal dirinya fana, maka ia telah mengenal Tuhannya yang Baqa.”
  • Al-Hallaj: “Yang kekal hanyalah Cinta Ilahi.”
  • Imam Al-Ghazali: “Kematian bukan lenyap, tapi hijrah dari sempitnya dunia menuju lapangnya akhirat.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Wafatlah sebelum engkau diwafatkan — matikan hawa nafsumu sebelum ruhmu dicabut.”
  • Jalaluddin Rumi: “Jangan tangisi kematianmu; itu hanya kepindahan dari dunia bayangan menuju rumah sejati.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Kematian adalah penyatuan kesadaran makhluk dengan Kehendak Ilahi.”
  • Ahmad al-Tijani: “Setiap nafas adalah kesempatan terakhir — maka gunakanlah untuk mengenal Allah.”

Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha: “Ayat ‘kullu syai’in halikun’ mengajarkan agar manusia tidak sombong pada ciptaan Allah, karena semua akan kembali kepada-Nya.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Setiap makhluk punya ajal, bahkan malaikat maut. Maka bersegeralah dalam taubat.”
  • Buya Yahya: “Kematian bukan musibah, tapi rahmat bagi orang beriman.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Setiap hari lihatlah kuburan, agar kau sadar: di sana rumahmu kelak.”

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Qashash: 88; QS. Ali Imran: 185.
  2. Ihya’ Ulumuddin – Imam Al-Ghazali.
  3. Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi.
  4. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  5. Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari.
  6. Matsnawi Ma’nawi – Jalaluddin Rumi.
  7. Nashaih al-‘Ibad – Imam Nawawi al-Bantani.

Ucapan Terima Kasih

Redaksi mengucapkan terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca setia yang senantiasa menumbuhkan semangat cinta kepada Allah dan kesadaran akan kefanaan dunia. Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah bagi penulis dan pembaca.


Apakah Anda ingin saya buatkan versi siap cetak dalam format PDF (layout koran) dengan kolom, judul besar, dan foto latar ilustratif (misalnya: malaikat di langit dan laut yang surut)?


814. SATU ULAMA WARA’ LEBIH BERAT BAGI SYAITAN DARIPADA SERIBU AHLI IBADAH BODOH.

 



SATU ULAMA WARA’ LEBIH BERAT BAGI SYAITAN DARIPADA SERIBU AHLI IBADAH BODOH

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Nabi Muhammad SAW bersabda:


فَقِيهُ وَاحِدٌ مُتَوَرِّعُ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدِ مُجْتَهِد جَاهَل وَرع


"Satu orang pandai yang wara' (berhati-hati pada perkara haram) itu lebih berat godaannya bagi syetan daripada 1000 orang ahli ibadah yang bersungguh-sungguh, bodoh, dan wara' (berhati-hati pada perkara haram)".



Ringkasan Redaksi Aslinya

Rasulullah ﷺ bersabda:

فَقِيهٌ وَاحِدٌ مُتَوَرِّعٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ مُجْتَهِدٍ جَاهِلٍ وَرِعٍ
“Satu orang alim (faqih) yang wara’ lebih berat bagi setan daripada seribu ahli ibadah yang rajin tetapi bodoh dan wara’.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Baihaqi)

Hadis ini menegaskan keutamaan ilmu yang disertai kewaspadaan hati (wara’) dibanding sekadar banyak beribadah tanpa pengetahuan yang benar.


Latar Belakang Masalah di Jaman Nabi

Pada masa Rasulullah ﷺ, sebagian umat semangat beribadah — puasa, salat malam, dan dzikir panjang — namun tidak memiliki dasar ilmu yang kokoh. Mereka sering salah memahami syariat, bahkan sebagian merasa lebih suci dari yang lain. Rasulullah ﷺ melihat bahwa ibadah tanpa ilmu dapat menjerumuskan, sebab tanpa panduan ilmu seseorang mudah tertipu oleh hawa nafsu dan tipu daya setan. Maka Nabi menekankan pentingnya faqih — yaitu orang yang paham agama secara mendalam, dan berhati-hati (wara’) dalam setiap langkahnya.


Sebab Terjadinya Masalah

Masalah muncul karena kecenderungan sebagian manusia lebih suka amalan yang tampak (ritual) daripada mencari ilmu yang butuh waktu dan kesabaran. Banyak yang beranggapan bahwa banyaknya ibadah sudah cukup menjamin keselamatan, padahal tanpa ilmu, ibadah bisa salah arah. Inilah yang dimanfaatkan oleh setan: menyesatkan orang yang beramal tanpa pengetahuan.


Intisari Judul

Hadis ini menegaskan bahwa seorang ulama yang benar-benar takut kepada Allah dan menjaga diri dari hal haram (wara’) memiliki kekuatan spiritual dan intelektual yang jauh lebih menakutkan bagi setan daripada seribu orang bodoh yang beribadah tanpa pemahaman.


Tujuan dan Manfaat

  1. Meneguhkan pentingnya ilmu agama yang mendalam.
  2. Menanamkan sifat wara’ dan kehati-hatian.
  3. Mendorong umat agar tidak hanya beramal, tetapi juga memahami makna amal.
  4. Menjadikan ilmu sebagai cahaya penuntun ibadah dan kehidupan.

Dalil dari Al-Qur’an dan Hadis

  1. QS. Az-Zumar [39]: 9

    “Katakanlah, apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.”

  2. QS. Fathir [35]: 28

    “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.”

  3. Hadis lain:

    “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling rendah di antara kalian.” (HR. Tirmidzi)


Analisis dan Argumentasi

Ilmu menuntun arah ibadah. Tanpa ilmu, ibadah bisa menjadi sia-sia atau bahkan membawa pada kesesatan. Orang yang berilmu dan wara’ tidak hanya menjaga diri dari dosa, tetapi juga menyelamatkan umat dari kebodohan dan penyimpangan.

Setan takut kepada ulama wara’ karena mereka menyebarkan cahaya yang memadamkan kegelapan. Sementara seribu ahli ibadah yang bodoh, meskipun banyak sujud, bisa saja malah terjerumus dalam kesombongan dan fanatisme buta.


Relevansi di Zaman Sekarang

Di era digital, informasi agama menyebar cepat — tapi tidak semuanya benar. Banyak orang merasa cukup belajar agama dari potongan video pendek tanpa guru. Maka hadis ini menjadi peringatan keras: ilmu yang benar harus disertai bimbingan ulama wara’. Umat Islam harus berhati-hati agar tidak tertipu oleh “kesalehan digital” yang tampak suci tapi kosong dari pemahaman.


Hikmah

  1. Ilmu tanpa wara’ akan sombong, wara’ tanpa ilmu akan tersesat.
  2. Setan takut kepada ulama sejati karena mereka menjadi penjaga kebenaran.
  3. Ibadah yang diterangi ilmu akan menumbuhkan keikhlasan dan kedekatan sejati kepada Allah.

Muhasabah dan Caranya

  1. Tanyakan pada diri: apakah ibadah kita didasari ilmu atau sekadar ikut-ikutan?
  2. Periksa hati: adakah kesombongan dalam amal kita?
  3. Perbanyak belajar dari guru yang lurus akidah dan wara’.
  4. Lakukan ibadah dengan niat mencari ridha Allah, bukan pujian manusia.

Doa

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا عِلْمًا نَافِعًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا، وَعَمَلًا صَالِحًا، وَنَفْسًا وَرِعَةً، وَرِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا، وَنُورًا يَهْدِينَا إِلَيْكَ
“Ya Allah, anugerahkan kepada kami ilmu yang bermanfaat, hati yang khusyuk, amal yang saleh, jiwa yang wara’, rezeki yang halal dan baik, serta cahaya yang membimbing kami menuju-Mu.”


Nasehat Para Tokoh Sufi dan Ulama

  • Hasan al-Bashri:
    “Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, amal tanpa ilmu adalah kesesatan.”

  • Rabi‘ah al-Adawiyah:
    “Ibadah sejati bukan karena takut neraka atau berharap surga, tapi karena cinta kepada Allah.”

  • Abu Yazid al-Bistami:
    “Ilmu yang hakiki adalah mengenal kebodohan dirimu sendiri.”

  • Junaid al-Baghdadi:
    “Ilmu yang tidak membawa pada wara’ hanyalah beban di leher.”

  • Al-Hallaj:
    “Ketika ilmu dan cinta bersatu, di sanalah wajah Allah tampak dalam segala sesuatu.”

  • Imam al-Ghazali:
    “Setan lebih takut pada seorang alim yang ikhlas daripada seribu ahli ibadah yang lalai.”

  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
    “Ilmu tanpa adab tidak akan berbuah, amal tanpa ilmu tidak akan diterima.”

  • Jalaluddin Rumi:
    “Orang berilmu ibarat lilin, terbakar untuk menerangi.”

  • Ibnu ‘Arabi:
    “Cahaya ilmu membuka tabir hati, dan wara’ menjaga cahaya itu agar tidak padam.”

  • Ahmad al-Tijani:
    “Ulama sejati adalah penjaga rahasia Allah di bumi.”


Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Sunan at-Tirmidzi, Kitab al-‘Ilm
  3. Sunan Ibnu Majah, Kitab az-Zuhd
  4. Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  5. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  6. Risalah al-Qusyairiyyah – Imam al-Qusyairi
  7. Matsnawi Ma’nawi – Jalaluddin Rumi
  8. Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru, ulama, dan sahabat pembaca yang terus menumbuhkan semangat menuntut ilmu dan beramal dengan hati yang bersih. Semoga tulisan sederhana ini menjadi bagian kecil dari cahaya ilmu yang mengusir gelapnya kebodohan di hati kita.


Penulis:
🖋 M. Djoko Ekasanu
Pemerhati Pendidikan Ruhani dan Pengamal Sedekah Ilmu


Apakah Anda ingin saya buatkan versi PDF siap cetak (layout gaya koran Islami dengan kolom dua dan elemen kaligrafi di header)? Saya bisa siapkan dalam format desain profesional untuk Anda gunakan di buletin atau majalah masjid.