Edisi: 844
KISAH LENGKAP MURID NABI ISA YANG HATINYA NYINYIR
Pada suatu hari, Nabi Isa ‘alaihissalam berjalan bersama para ḥawāriyyīn (murid setia). Di perjalanan, banyak orang mengikuti beliau: orang miskin, orang sakit, orang yang ingin bertaubat, dan sebagian orang yang sekadar ingin mendapat pengajaran.
Di antara murid-murid itu, ada satu murid yang merasa dirinya paling dekat kepada Nabi Isa—lebih berilmu, lebih senior, dan lebih suci dibanding orang-orang yang berjalan di belakang mereka. Ia memandang rendah sebagian dari mereka, dan dalam hatinya berkata:
“Orang-orang ini hanya ikut karena ingin makan, ingin kesembuhan, atau ingin manfaat dunia. Mereka bukan seperti aku yang mengikuti Nabi Isa karena ilmu dan kedekatan.”
Meskipun ia tidak mengucapkan itu, rasa nyinyir, hasud, dan meremehkan itu mengalir dalam hatinya.
Ia tersenyum di depan mereka, tetapi hatinya penuh keruh dan busuk.
Tanda Aneh Mulai Terlihat
Ketika rombongan berjalan melewati padang yang luas, angin berhembus membawa bau yang sangat busuk. Para murid menutup hidung, dan murid yang sombong itu ikut menoleh ke kanan dan kiri, mencari sumber bau.
Ia berkata,
“Wahai Ruhullah, sepertinya ada bangkai binatang di sekitar kita.”
Nabi Isa tidak menjawab.
Beberapa langkah kemudian, bau itu semakin menyengat. Seluruh hawariyyin gelisah.
Hanya Nabi Isa yang tetap tenang.
Teguran Nabi Isa
Akhirnya Nabi Isa berhenti, lalu memandang para murid dengan pandangan yang sangat dalam. Beliau menatap murid yang hatinya sakit itu dan berkata:
“Tahukah kalian dari mana bau busuk yang kalian rasakan?”
Para murid menjawab, “Tidak wahai Nabi Allah.”
Nabi Isa ‘alaihissalam pun berkata:
“Itu bukan bau bangkai hewan.
Itu adalah bau dari hati saudara kalian ini.”
Beliau menunjuk murid yang sombong itu.
Murid itu terkejut dan gemetar.
Nabi Isa melanjutkan:
“Sesungguhnya dosa hati lebih busuk daripada bangkai.
Hati yang nyinyir, hasud, penuh dengki, dan merasa paling mulia,
aromanya lebih busuk di sisi Allah daripada bangkai keledai yang membusuk.”
Murid itu jatuh berlutut, menangis ketakutan.
Nabi Isa lalu berkata dengan suara lembut tetapi tegas:
“Engkau mengira dirimu lebih baik daripada mereka yang mengikuti kami.
Padahal sebagian dari mereka datang dengan hati yang remuk ingin bertaubat.
Ada yang mengikuti kami dengan harapan kepada rahmat Allah.
Ada yang berjalan dengan noda dosa tetapi niatnya mencari ampunan.”
Beliau mendekat dan menepuk bahu murid itu:
“Sedangkan engkau datang dengan hati yang merasa suci.
Padahal tidak ada yang lebih kotor daripada hati yang melihat diri lebih mulia dari orang lain.”
Nabi Isa Memberi Pengajaran Tentang Kesombongan Tersembunyi
Nabi Isa kemudian berkata kepada seluruh murid:
“Tidak ada penyakit hati yang lebih cepat merusak amal daripada rasa meremehkan orang lain.”
“Sebagaimana api memakan kayu kering,
begitu pula kesombongan memakan habis amal seorang hamba.”
Beliau melanjutkan:
“Jika engkau ingin dekat kepada Allah,
maka pandanglah manusia dengan rahmat.
Karena Allah memandang hati, bukan kedudukanmu, bukan ilmumu, bukan pakaianmu.”
Pertobatan Murid Itu
Murid itu menangis lama, hingga bajunya basah. Ia berkata:
“Wahai Nabi Allah, aku telah menzhalimi diriku sendiri.
Ajarkan aku bagaimana menyembuhkan hatiku.”
Nabi Isa menjawab:
“Obat hati ada tiga:
Melihat kelebihan orang lain,
melihat kekurangan diri sendiri,
dan mengingat kematian setiap saat.”
“Barangsiapa merasa dirinya lebih baik, maka ia telah jatuh sebelum melangkah.”
Sejak hari itu, murid itu berubah sikap. Ia selalu berkata kepada dirinya:
“Barangsiapa aku lihat, mungkin ia lebih mulia di sisi Allah daripada aku.”
Dan ia tak pernah lagi menaruh nyinyir, hasud, atau meremehkan siapa pun.
HIKMAH KISAH
1. Penyakit hati lebih berbahaya dari dosa anggota badan.
2. Meremehkan orang lain adalah awal kehancuran amal.
3. Para nabi mengajarkan tazkiyatun nafs (penyucian hati).
4. Allah melihat hati manusia, bukan bentuk amalnya.
5. Orang yang datang kepada ulama/nabi meski bermasalah mungkin lebih mulia karena niatnya.
BAU BUSUK DARI HATI: Kisah Murid Nabi Isa yang Haters dan Suka Nge-judge
Oleh: M. Djoko Ekasanu
Versi Bahasa Gaul (Yang Santai Tapi Tetap Sopan)
Hai, guys! Pernah nggak sih ngerasa lebih alim, lebih pinter, atau lebih baik dari orang lain? Hati-hati, itu bisa jadi awal "bau busuk" yang nggak keliatan. Ini nih ada kisah nyata dari zaman Nabi Isa.
Ceritanya Gimana?
Jadi, ada salah satu murid Nabi Isa yang low-key merasa dirinya lebih "high-class" dan lebih layak dibanding orang-orang lain yang ikut pengajian beliau. Dia tuh suka side-eye, nyinyir, dan judge mental orang yang keliatannya biasa aja atau bahkan "berantakan" hidupnya.
Suatu hari, Nabi Isa ncium bau busuk banget. Ternyata, sumbernya bukan dari bangkai tikus atau sampah, lho. Tapi dari hati murid itu sendiri! Nabi Isa langsung kasih teguran: "Dosa hati tuh lebih busuk baunya daripada bangkai, bro." Sadar banget kan dia, akhirnya tobat dan berusaha memperbaiki diri.
Kenapa Bisa Kejadian Gitu?
Zaman Nabi Isa aja udah ada yang kayak gini, apalagi sekarang. Saat itu, murid-muridnya dituntut punya hati yang bersih banget. Tapi, sebagian kena penyakit hati kayak:
· Feeling senior dan lebih berpengalaman.
· Ngeremehin newbie atau orang yang baru belajar.
· Ngira diri sendiri lebih suci.
· Lupa bahwa yang dilihat Allah itu isi hati, bukan penampilan luar.
· Sombong yang subtle dan nggak keliatan (sombong silent).
Inti dari Judulnya
"Bau Busuk dari Hati" itu metafora. Dosa-dosa batin kayak nyinyir, dengki, dan ngerendahin orang lain itu sebenarnya lebih bahaya dan lebih jijik di mata Allah daripada dosa yang keliatan.
Terus Buat Kita yang di Zaman Now, Apa Tujuannya?
1. Self-reflection: Yuk, introspeksi diri, apa hati kita masih bersih atau udah penepatin haters?
2. Fokus ke akhlak batin: Nabi-nabi tuh concern banget sama kebersihan dalam hati.
3. Sadar bahaya merendahkan orang: Sikap merendahkan orang bisa batalin dan ngerusak amal kita, lho.
4. Obat penyakit hati modern: Di era medsos yang penuh komentar negatif, kita butuh banget "immune" buat hati.
5. Bangun empati dan rendah hati: Belajar untuk tawadhu', respect, dan ngasih empati ke sesama.
Dasar-Dasar Agamanya Tetap Kuat
1. Al-Qur'an ﴿ يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ ﴾ (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89) Arti: "Pada hari itu tidak bermanfaat harta dan anak-anak, kecuali yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih."
2. Hadis Nabi Muhammad ﷺ "Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian." (HR. Muslim)
"Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim)
Analisis Buat Gen Z & Milenial
1. Penyakit Hati Lebih Silent Killer Nyinyir, dengki, prasangka buruk (su'uzh-zhann), dan ngeremehin orang tuh lebih ganas karena:
· Sering nggak disadari, kayak virus yang menggerogoti pelan-pelan.
· Susah tobatnya karena dianggep "dosa kecil" atau bahkan "bukan dosa".
· Bisa ngancurin tabungan amal dan pahala kita.
· Bikin kita dijauhin dari rahmat Allah.
2. Jangan Suka Judge! Bisa Jadi yang Kita Judge Justru Lebih Mulia Banyak orang yang dateng pengajian Nabi Isa itu orang-orang yang lagi "broken", pengen tobat, atau lagi cari kedamaian. Bisa aja mereka justru lebih mulia di mata Allah daripada murid senior yang hatinya udah korup karena kesombongan.
3. Dzikir Era Digital: Detoks Hati di Tengah Banjir Informasi Di zaman yang serba connected, kita makin gampang:
· Nyebarin nyinyiran dan hate speech.
· Meremehkan pencapaian orang lewat komentar.
· Main judge mental lewat postingan atau story.
· Pamer followers, jabatan, dan harta biar keliatan "wah". Teknologi bisa jadi amplifier buat penyakit hati kalau kita nggak kontrol diri.
Keuntungan Kalau Hati Kita Bersih
· Level kita naik di sisi Allah.
· Rendah hati (tawadhu') itu sifatnya para nabi dan orang-orang shaleh.
· Berhenti nyinyir bikin kita dapat ampunan dan rahmat.
· Positive thinking (husnuzhan) bikin pintu rezeki dan berkah terbuka lebar.
· Cinta sesama itu tanda iman yang udah sempurna.
Relevansinya di Zaman Sekarang
1. Teknologi: Medsos bikin kita gampang banget jadi keyboard warrior dan menghina tanpa malu.
2. Transportasi: Hidup yang serba cepat bikin gampang stres dan emosi, ujung-ujungnya gampang meledak dan meremehkan orang.
3. Kedokteran: Penyakit fisik bisa dicek pakai alat, tapi penyakit hati cuma bisa dideteksi sama diri sendiri dan disembuhin lewat dzikir, muhasabah, dan nasihat ustadz/ulama.
4. Sosial: Masyarakat kita sering nilai orang dari tampilan luar: status, harta, followers. Padahal, Allah nilai ketakwaan dan kebersihan hati.
Kesimpulan Hikmahnya
· Dosa hati itu lebih bahaya daripada dosa fisik.
· Sombong yang nggak keliatan bisa bikin amal ibadah kita hangus.
· Orang yang keliatannya "biasa" atau "remeh" bisa aja lebih mulia di mata Allah.
· Siapa pun yang dekat sama agama, wajib banget jaga kebersihan hati.
· Allah lihat isi hati, bukan CV atau penampilan luar.
Tips & Trick Jaga Hati (Muhasabah & Healing)
1. Self-Check Tiap Hari:
· "Gue hari ini ngeremehin orang nggak, ya?"
· "Apa gue merasa lebih suci dari dia?"
2. 3 Jurus dari Nabi Isa buat Healing Hati:
· Lihat kelebihan orang lain.
· Lihat kekurangan diri sendiri.
· Ingat mati (memento mori).
3. 4 Latihan ala Para Sufi:
· Banyak-banyak baca istighfar.
· Sembunyikan amal baik kita (jangan pamer).
· Sering-sering doain orang yang kita sebelin.
· Latihan memaafkan.
Doa Buat Ngenetralisir Hati
اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ النِّفَاقِ، وَصَدْرِي مِنَ الْغِلِّ، وَلِسَانِي مِنَ الْكَذِبِ، وَعَيْنِي مِنَ الْخِيَانَةِ، وَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي كُلَّهُ
"Ya Allah, sucikanlah hatiku dari kemunafikan, dadaku dari kedengkian, lisanku dari dusta, mataku dari khianat, dan ampunilah seluruh dosaku."
Kata-Kata Motivasi Para Legenda Sufi (Dibahasakan Ulang)
· Hasan al-Bashri: "Jangan sibuk ngeliatin dosa orang, liatlah betapa banyak kekurangan lo sendiri."
· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Gak ada yang lebih berbahaya daripada perasaan 'gue udah suci'."
· Abu Yazid al-Bistami: "Orang sombong itu kayak orang haus minum air laut, makin diminum makin haus."
· Junaid al-Baghdadi: "Hati yang bersih itu ketika lo nggak ngerasa lebih baik dari siapa pun."
· Al-Hallaj: "Yang ngehalangin kita sama Allah bukan dosa, tapi perasaan 'gue udah cukup'."
· Imam al-Ghazali: "Sebeberapa gede pun amal, nilainya ilang kalau dicampur sombong."
· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Siapa yang ngerasa besar, dia kecil di mata Allah. Siapa yang ngerasa kecil, dia besar di mata Allah."
· Jalaluddin Rumi: "Kebiasaan ngomelin orang itu tanda hati lo butuh cahaya."
· Ibnu ‘Arabi: "Orang yang bisa liat Allah dalam semua makhluk, gak akan mungkin ngeremehin siapa-siapa."
· Ahmad al-Tijani: "Memperbaiki hati itu step pertama dari semua perbaikan."
Daftar Buku Rujukan (Tetap Klasik, ya!)
Ihyā’ ‘Ulūm ad-Dīn – Imam al-Ghazali Hilyatul-Awliya’– Abu Nu‘aim Tanbīhul-Mughtarrīn– Imam al-Ghazzī Nafā’isul-Majālis– Syekh asy-Syarqawi Ar-Risālah al-Qusyairiyyah– Imam al-Qusyairi Al-Futuhāt al-Makkiyyah– Ibnu ‘Arabi Al-Fath ar-Rabbani– Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Testimoni Tokoh Indonesia (Versi Santai)
· Gus Baha': "Kisah-kisah kayak gini penting banget buat ngingetin kita biar tetap low profile."
· Ustadz Adi Hidayat: "Penyakit hati itu sumbernya segala kerusakan. Kisah Nabi Isa ini cocok banget buat kita yang hidup di zaman now."
· Buya Yahya: "Ngeremehin orang lain itu akhlak yang nggak sesuai sama ajaran para nabi, guys."
· Ustadz Abdul Somad: "Kisah hikmah kayak gini ngajarin kita bahwa ilmu tanpa akhlak itu nol besar."
Credit & Terima Kasih
Big thanks buat semua pembaca, para ulama, guru, dan temen-temen yang selalu ingetin buat jaga hati di mana pun dan kapan pun. Semoga Allah kasih kita hati yang bersih, niat yang tulus, dan akhlak yang oke punya!
Penulis: M.Djoko Ekasanu
---
Tetap belajar dan berusaha menjaga hati, karena itu aset terbaik kita. Stay humble!
