Sunday, November 2, 2025

813. Kehancuran Negeri Ketika Penduduknya Melampaui Batas.

 




🕌 Kehancuran Negeri Ketika Penduduknya Melampaui Batas

(Refleksi QS. Al-Isra’: 16)

Penulis: M. Djoko Ekasanu

📜 Ringkasan Redaksi Asli

وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنَاهَا تَدْمِيرًا

“Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (agar mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan di negeri itu; maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (hukuman Kami), lalu Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”
(QS. Al-Isra’: 16)


📖 Latar Belakang Masalah di Zamannya

Ayat ini turun sebagai peringatan keras bagi kaum Quraisy Makkah dan seluruh umat manusia. Mereka telah diberi nikmat kemakmuran, perdagangan, dan kedudukan tinggi, tetapi justru menentang ajaran tauhid yang dibawa Rasulullah ﷺ. Sebagaimana umat-umat terdahulu — kaum ‘Ad, Tsamud, dan penduduk Sodom — mereka ditimpa kehancuran karena para pembesar dan orang kaya hidup dalam kemewahan tanpa ketaatan, bahkan mengajak rakyat kecil untuk turut dalam kefasikan.


🔥 Sebab Terjadinya Masalah

Kehancuran masyarakat bermula dari:

  1. Penyimpangan moral para pemimpin dan elit.
  2. Kekayaan yang digunakan untuk menindas dan maksiat, bukan untuk sedekah dan kebaikan.
  3. Penolakan terhadap kebenaran dan ulama yang menyeru pada jalan Allah.
  4. Keterpukauan terhadap dunia dan teknologi, hingga lupa pada tanggung jawab sosial dan spiritual.

🩵 Intisari Judul

“Ketika Nikmat Menjadi Azab: Bahaya Hidup dalam Kemewahan Tanpa Ketaatan.”
Ayat ini menegaskan bahwa kehancuran suatu bangsa tidak terjadi karena miskin, tetapi karena moral dan keimanan hancur dari dalam.


🎯 Tujuan dan Manfaat

  • Mengingatkan umat Islam agar tidak lalai dalam kemakmuran.
  • Menanamkan kesadaran sosial dan tanggung jawab spiritual di tengah kemajuan zaman.
  • Menjadi panduan moral dalam mengelola kekayaan, jabatan, dan teknologi agar tidak menjerumuskan pada kehancuran.

📚 Dalil: Qur’an dan Hadis

Al-Qur’an:

“Dan Kami tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Hadis Nabi ﷺ:

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia, tetapi mencabutnya dengan mematikan para ulama. Jika tidak tersisa ulama, maka manusia akan mengangkat orang bodoh sebagai pemimpin; mereka memberi fatwa tanpa ilmu, maka sesat dan menyesatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


🧭 Analisis dan Argumentasi

Ayat ini menggambarkan mekanisme moral kehancuran sosial. Ketika pemegang kuasa dan harta (al-mutrāfūn) hidup dalam dosa dan mengajak rakyat mengikuti gaya hidupnya, Allah menurunkan azab sebagai bentuk keadilan sosial ilahi.

Dalam konteks modern, “orang-orang yang hidup mewah” dapat disimbolkan sebagai:

  • Korporasi besar yang merusak lingkungan demi keuntungan.
  • Pemimpin yang korup dan menipu rakyat.
  • Selebriti dan tokoh publik yang menormalisasi maksiat.
    Maka kehancuran bukan hanya berupa gempa atau banjir, tetapi juga kehancuran moral, keluarga, dan nurani.

🌍 Relevansi di Era Teknologi dan Kehidupan Modern

  • Teknologi dan komunikasi bisa menjadi alat dakwah atau alat maksiat, tergantung niat dan penggunaannya.
  • Transportasi dan globalisasi mempercepat penyebaran budaya — baik yang baik maupun yang rusak.
  • Kedokteran modern dapat menyelamatkan nyawa, tetapi juga bisa disalahgunakan untuk menciptakan “Tuhan baru” dari ilmu dan ego manusia.
  • Media sosial menjadi cermin zaman: siapa yang menampakkan kemewahan tanpa iman, mempercepat kehancuran moral seperti yang diingatkan dalam ayat ini.

💎 Keutamaan Ayat

  • Mengingatkan pentingnya taqwa di tengah nikmat.
  • Mengajarkan bahwa ujian kemakmuran lebih berat daripada ujian kemiskinan.
  • Menjadi dasar etika sosial bahwa kemewahan tanpa syukur hanya mempercepat kebinasaan.

🌿 Hikmah dan Muhasabah

Hikmah:
Nikmat tanpa syukur adalah awal dari azab; dan syukur tanpa amal adalah kemunafikan yang halus.

Muhasabah:
Apakah kemajuan yang kita nikmati hari ini mendekatkan atau menjauhkan kita dari Allah?
Apakah teknologi membuat kita lebih bijak, atau lebih sombong?

Caranya:

  1. Hidup sederhana meski mampu.
  2. Gunakan kekayaan dan jabatan untuk maslahat umat.
  3. Berdoa dan introspeksi sebelum tidur: “Adakah hari ini aku termasuk orang yang berlebihan?”

🤲 Doa

Allahumma la taj‘alna min al-mutrifeen, wa la min al-ghaafileen, waj‘alna minasy-syaakireen.
Ya Allah, jangan jadikan kami termasuk orang-orang yang hidup mewah dan lalai,
tetapi jadikan kami hamba yang selalu bersyukur dan tunduk kepada-Mu.

Aamiin.


🌺 Nasehat Ulama Sufi

  • Hasan Al-Bashri: “Kelezatan dunia akan pergi, tetapi dosanya akan tinggal.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Jangan cintai Allah karena surga-Nya, tapi karena Dia yang menciptakanmu.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Hancurnya hati adalah tanda awal kehancuran negeri.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Zuhud bukan meninggalkan dunia, tapi tidak diperbudak olehnya.”
  • Al-Hallaj: “Barangsiapa melihat Allah dalam kemewahan dunia, ia buta dari hakikat.”
  • Imam al-Ghazali: “Kebinasaan pemimpin adalah cermin dari dosa rakyatnya.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan bangga dengan dunia yang akan pergi, tapi banggalah jika Allah masih memberimu waktu untuk taubat.”
  • Jalaluddin Rumi: “Kemewahan tanpa cinta kepada Allah adalah rumah tanpa cahaya.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Setiap nikmat yang tidak mengingatkanmu kepada Sang Pemberi adalah musibah.”
  • Ahmad al-Tijani: “Orang yang menghidupkan zikir di tengah kelalaian dunia, dialah benteng negeri dari kehancuran.”

📚 Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim dan Tafsir Ibn Katsir.
  2. Tafsir al-Ghazali: Maqashid at-Tafsir.
  3. Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali.
  4. Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi.
  5. Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  6. Mathnawi – Jalaluddin Rumi.
  7. Nashaih al-‘Ibad – Nawawi al-Bantani.
  8. At-Tijaniyya Teachings – Syaikh Ahmad al-Tijani.
  9. Hadis-hadis sahih riwayat Bukhari dan Muslim.

🙏 Ucapan Terima Kasih

Segala puji bagi Allah SWT yang memberi petunjuk dan cahaya ilmu.
Terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembimbing ruhani yang terus menyalakan lentera hati di tengah gelapnya zaman.
Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah, pengingat bagi diri penulis, dan manfaat bagi umat.


Apakah Anda ingin saya bantu ubah versi ini menjadi tata letak majalah koran (dengan kolom, subjudul, dan ilustrasi ayat)? Itu bisa saya buat dalam format siap cetak (PDF atau layout koran).

812. Beriman kepada Qadar: Meyakini Segala Ketetapan Baik dan Buruk dari Allah.





🕌 Beriman kepada Qadar: Meyakini Segala Ketetapan Baik dan Buruk dari Allah

Penulis: M. Djoko Ekasanu


CARA BERIMAN TERHADAP QADAR BAIK DAN BURUKNYA DARI ALLAH?

Jika ditanyakan kepadamu: “Bagaimana cara kamu beriman terhadap qadar baik dan buruknya dari Allah?”.
Maka hendaklah kamu berkata: Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk-makhluk, telah memerintahkan terhadap ketaatan-ketaatan, melarang dari keburukan-keburukan, dan telah menciptakan Lauh (papan), yaitu lauh dari mutiara putih, panjangnya jarak antara langit dan bumi, lebarnya jarak antara masyriq dan magrib, kedua tepinya/pinggirnya adalah mutiara Yaqut dan ujungnya adalah Yaqut merah, asalnya berada di hijr malaikat, yaitu diawang-awang yang berada diatasnya langit. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, beliau berkata bahwa dibagian tengah lauh terdapat kalimat:
لا إِلهَ اِلا اللهُ وَحْدَهُ دِيْنُهُ الإسْلامُ وَمُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَمَنْ أمَنَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَصَدَّقَ بِوَعِيدِهِ وَتَبِعَ رُسُلَهُ أدْخَلَهُ الجَنَّة
“Tiada tuhan selain Allah, maha esa Allah, islam agamanya, dan Muhammad hamba dan utusannya, barang siapa beriman terhadap Allah azza wa jalla, membenarkan terhadap janjinya dan mengikuti para rosunya maka Allah akan memasukkannya kesurga”.

Ringkasan Redaksi Asli

Beriman kepada qadar adalah bagian dari rukun iman yang ke-6, yakni percaya bahwa segala sesuatu—baik atau buruk—telah ditetapkan oleh Allah sejak zaman azali. Dalam ajaran Islam, Allah menciptakan makhluk, memerintahkan ketaatan, melarang keburukan, dan menetapkan segala urusan di dalam Lauh al-Mahfuzh, papan takdir yang menyimpan seluruh ketentuan hidup setiap makhluk. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a., di tengah Lauh tersebut tertulis kalimat tauhid yang menjadi inti dari seluruh ketentuan Allah:

لا إِلهَ إِلا اللهُ وَحْدَهُ، دِينُهُ الإِسْلامُ، وَمُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، فَمَنْ آمَنَ بِاللهِ وَصَدَّقَ بِوَعْدِهِ وَاتَّبَعَ رُسُلَهُ أَدْخَلَهُ اللهُ الجَنَّةَ.

“Tiada tuhan selain Allah yang Maha Esa, Islam agamanya, dan Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya. Barangsiapa beriman kepada Allah, membenarkan janji-Nya, dan mengikuti para rasul-Nya, maka Allah akan memasukkannya ke surga.”


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa awal Islam, banyak kaum musyrik dan kaum munafik yang mengingkari konsep takdir. Mereka beranggapan bahwa segala perbuatan manusia terjadi karena kebetulan atau usaha semata, bukan ketetapan Allah. Di sisi lain, sebagian kelompok seperti Jabariyah berlebihan hingga menafikan ikhtiar manusia. Maka Rasulullah ﷺ dan para sahabat menjelaskan keseimbangan: bahwa segala sesuatu telah ditetapkan Allah, namun manusia diberi kebebasan untuk berusaha dalam batas kehendak Allah.


Sebab Terjadinya Masalah

Kekeliruan dalam memahami takdir sering muncul karena manusia ingin mengukur ketetapan Allah dengan logika duniawi. Mereka ingin “mengerti alasan Allah” di balik segala peristiwa, padahal qadar adalah rahasia Allah yang tidak seluruhnya dapat diungkap manusia. Maka beriman kepada qadar berarti tunduk dan ridha atas semua ketetapan-Nya, sambil tetap berikhtiar secara maksimal.


Intisari Judul

“Beriman kepada Qadar: Menyadari bahwa di balik setiap takdir, ada kasih sayang dan kebijaksanaan Allah.”
Tidak ada yang terjadi di dunia ini tanpa izin Allah. Qadar bukan sekadar nasib, tapi bagian dari rencana Ilahi yang mendidik manusia agar berserah diri, sabar, dan bersyukur.


Tujuan dan Manfaat

  1. Meneguhkan keyakinan bahwa segala sesuatu berada dalam kekuasaan Allah.
  2. Menumbuhkan sikap sabar dalam menerima ujian dan syukur atas nikmat.
  3. Menghindarkan diri dari keputusasaan atau kesombongan.
  4. Mendorong manusia untuk terus berikhtiar dengan niat yang lurus.

Dalil Qur’an dan Hadis

1. Al-Qur’an:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).”
(QS. Al-Qamar: 49)

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh al-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.”
(QS. Al-Hadid: 22)

2. Hadis:

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar baik dan buruknya.”
(HR. Muslim)


Analisis dan Argumentasi

Iman kepada qadar bukan berarti pasrah tanpa usaha. Islam menyeimbangkan antara tafwidh (penyerahan diri) dan kasab (usaha). Nabi ﷺ bersabda:

“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang telah ditetapkan baginya.”

Artinya, beriman kepada qadar harus disertai usaha, doa, dan tawakal. Manusia berusaha karena perintah Allah, bukan karena menentang takdir-Nya.


Keutamaan Iman kepada Qadar

  1. Menenangkan hati ketika menghadapi ujian.
  2. Menjauhkan dari kesombongan saat mendapatkan keberhasilan.
  3. Menguatkan jiwa dalam menghadapi hidup yang penuh misteri.
  4. Mendekatkan diri kepada Allah dengan sikap ridha dan sabar.

Relevansi dengan Zaman Modern

Dalam era teknologi, komunikasi, transportasi, dan kedokteran yang semakin maju, manusia sering merasa mampu mengendalikan segalanya. Namun, pandemi, bencana, dan kematian menunjukkan bahwa takdir Allah tetap berlaku di luar kemampuan manusia. Iman kepada qadar menjadi benteng spiritual agar manusia tidak lupa diri dan tidak sombong atas capaian sains.


Hikmah dan Muhasabah

  • Ketika mendapat nikmat, ucapkan Alhamdulillah dan gunakan untuk kebaikan.
  • Ketika tertimpa musibah, ucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, karena Allah yang memberi dan mengambil.
  • Sadari bahwa dunia hanyalah tempat ujian; takdir bukan untuk ditakuti, tapi untuk diimani.

Caranya Beriman kepada Qadar

  1. Meyakini bahwa segala sesuatu telah ditulis di Lauh al-Mahfuzh.
  2. Mengetahui bahwa kehendak Allah pasti berlaku.
  3. Melaksanakan ikhtiar dengan penuh tanggung jawab.
  4. Berserah diri dan ridha atas hasil yang Allah tentukan.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي رَاضِيًا بِقَضَائِكَ، صَابِرًا عَلَى بَلَائِكَ، وَشَاكِرًا لِنَعْمَائِكَ.

“Ya Allah, jadikanlah aku ridha atas ketetapan-Mu, sabar atas ujian-Mu, dan bersyukur atas nikmat-Mu.”


Nasehat Ulama Sufi

  • Hasan Al-Bashri: “Ridha terhadap takdir Allah adalah puncak keimanan seorang hamba.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku tidak meminta kepada Allah agar mengubah takdirku, tetapi aku memohon agar Ia menjadikanku ridha terhadap takdir itu.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Takdir adalah rahasia Allah; jangan kau lawan, tetapi temukan kedamaian di dalamnya.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Orang yang mengenal Allah tidak pernah melihat keburukan dalam takdir.”
  • Al-Hallaj: “Apa pun yang Allah kehendaki, itulah yang aku cintai.”
  • Imam al-Ghazali: “Ketahuilah bahwa ridha atas qadar Allah adalah kunci kebahagiaan dunia dan akhirat.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan takut pada takdir; takutlah bila kau jauh dari Allah dalam takdir itu.”
  • Jalaluddin Rumi: “Takdir bukan rantai yang mengikatmu, tapi kompas yang menuntunmu.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Qadar Allah adalah cermin cinta-Nya; setiap kejadian memiliki rahmat tersembunyi.”
  • Ahmad al-Tijani: “Siapa yang ridha atas qadar Allah, maka Allah ridha atas dirinya.”

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim
  2. Shahih Muslim, Kitab al-Iman
  3. Imam al-Ghazali – Ihya’ Ulumuddin
  4. Syekh Abdul Qadir al-Jailani – Futuh al-Ghaib
  5. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah – Syifa’ al-‘Alil
  6. Jalaluddin Rumi – Mathnawi
  7. Ibnu ‘Arabi – Futuhat al-Makkiyyah

Ucapan Terima Kasih

Segala puji bagi Allah yang telah memberi taufik untuk menyusun tulisan ini. Terima kasih kepada para pembaca yang terus meneguhkan iman di tengah kemajuan dunia modern. Semoga kita semua diberi hati yang tenang, sabar, dan ridha atas segala ketentuan Allah.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai dan sopan dari teks tersebut:


---


🕌 Beriman ke Qadar: Percaya Semua Ketetapan Allah, yang Baik ataupun yang Keliatannya Buruk


Penulis: M. Djoko Ekasanu


GIMANA SIH CARANYA PERCAYA SAMA QADAR, BAIK BURUKNYA DARI ALLAH?


Eh, kalau ada yang nanya ke kamu: “Bro/Sis, gimana sih cara lo beriman sama qadar, yang baik dan yang keliatannya buruk, yang semuanya dari Allah?”


Yuk, jawab dengan percaya diri: Intinya, kita percaya bahwa Allah yang nciptain semua makhluk, yang suruh kita buat hal-hal baik, dan larang kita dari hal-hal yang nggak bener. Allah juga udah nulis semua ketentuan itu di Lauh al-Mahfuzh, semacam “papan tulis suci” yang terbuat dari mutiara putih. Panjangnya kayak jarak langit ke bumi, lebarnya kayak dari timur ke barat. Pinggirannya dari mutiara Yaqut, dan ujungnya dari Yaqut merah. Lokasinya ada di hijr malaikat, yaitu di ruang angkasa di atas langit.


Kata Ibnu Abbas, di tengah-tengah Lauh itu ada tulisan intinya:


لا إِلهَ اِلا اللهُ وَحْدَهُ دِيْنُهُ الإسْلامُ وَمُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ فَمَنْ أمَنَ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَصَدَّقَ بِوَعِيدِهِ وَتَبِعَ رُسُلَهُ أدْخَلَهُ الجَنَّة


Artinya: “Tiada tuhan selain Allah, maha esa Allah, islam agamanya, dan Muhammad hamba dan utusannya, barang siapa beriman terhadap Allah azza wa jalla, membenarkan terhadap janjinya dan mengikuti para rosunya maka Allah akan memasukkannya kesurga”.


Konteks Zaman Dulu


Dulu pas awal-awal Islam, banyak banget kaum musyrik dan munafik yang nggak percaya sama konsep takdir. Mereka mikir semua hal yang terjadi cuma kebetulan atau hasil usaha manusia doang. Di sisi lain, ada juga kelompok kayak Jabariyah yang ekstrem banget sampe nggak ngasih ruang buat ikhtiar manusia. Makanya, Rasulullah ﷺ dan para sahabat ngajarin keseimbangan: segala sesuatu emang udah ditentukan Allah, tapi kita sebagai manusia tetap dikasih kebebasan buat berusaha dalam koridor kehendak-Nya.


Akar Masalahnya


Sering banget kita salah paham soal takdir karena pengen banget pake logika kita yang terbatas buat ngukur ketetapan Allah yang Maha Luas. Kita kepo pengen tau “alasannya Allah” di balik semua kejadian, padahal qadar itu rahasia-Nya yang nggak semuanya bisa kita tau. Jadi, percaya sama qadar itu artinya kita nyerahin hati dan ridha sama semua keputusan Allah, sambil tetep maksain effort, tentunya.


Inti dari Semua Ini


“Percaya ke Qadar: Ngeh bahwa di balik setiap takdir, ada cinta dan kebijaksanaan Allah.” Nggak ada yang terjadi di dunia ini tanpa se-izin Allah.Qadar itu bukan cuma soal nasib, tapi bagian dari rencana Ilahi yang bikin kita makin dekat sama Dia, makin sabar, dan makin bersyukur.


Tujuannya Buat Kita Apa?


1. Bikin hati tenang karena yakin semuanya udah diatur Allah.

2. Ngasih kita kekuatan buat sabar hadapi ujian dan bersyukur pas dapet nikmat.

3. Ngejaga kita dari rasa putus asa atau sombong.

4. Memotivasi buat tetep usaha dan berbuat baik dengan niat yang lurus.


Dasar-Dasarnya dari Qur’an & Hadis


1. Al-Qur’an:

   · “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” (QS. Al-Qamar: 49)

   · “Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh al-Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.” (QS. Al-Hadid: 22)

2. Hadis: Rasulullah ﷺ bersabda: “Iman itu ialah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada qadar baik dan buruknya.” (HR. Muslim)


Gimana Penerapannya?


Percaya sama qadar bukan berarti pasrah total tanpa usaha. Islam ngajarin kita buat seimbang antara serah diri sama usaha. Nabi ﷺ pernah bilang:


“Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan kepada apa yang telah ditetapkan baginya.”


Jadi, percaya sama takdir itu harus dibarengin dengan action, doa, dan tawakal. Kita usaha karena itu perintah Allah, bukan karena nggak percaya takdir-Nya.


Keuntungan Percaya Sama Qadar


· Hati jadi lebih adem, especially pas lagi ada masalah.

· Nggak gampang sombong kalo lagi sukses.

· Mental kuat, siap hadapi apa pun yang terjadi.

· Bikin hubungan kita sama Allah makin akrab.


Masih Relevan Nggak Sama Zaman Now?


Di era yang serba canggih gini, kita kadang merasa bisa ngontrol segalanya. Tapi, lihat aja pandemi, bencana alam, atau hal-hal di luar kendali kita. Itu bukti bahwa takdir Allah tetaplah berlaku. Iman ke qadar jadi tameng spiritual biar kita nggak kelepasan dan lupa diri.


Refleksi Diri Yuk!


· Kalo dapet nikmat, ucapin Alhamdulillah dan bagi-bagi kebaikan.

· Kalo kena musibah, ucapin Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, karena semua milik Allah dan akan kembali ke-Nya.

· Inget, dunia cuma panggung sandiwara, takdir itu buat diimani, bukan buat ditakuti.


Step-by-Step Percaya ke Qadar


1. Yakin bahwa semua udah ditulis di Lauh al-Mahfuzh.

2. Paham bahwa kehendak Allah pasti jalan.

3. Tetep usaha dan bertanggung jawab atas pilihan kita.

4. Pasrahin hasil akhirnya sama Allah dengan lapang dada.


Doa Andalan


اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي رَاضِيًا بِقَضَائِكَ، صَابِرًا عَلَى بَلَائِكَ، وَشَاكِرًا لِنَعْمَائِكَ.


“Ya Allah, jadikanlah aku ridha atas ketetapan-Mu, sabar atas ujian-Mu, dan bersyukur atas nikmat-Mu.”


Kata-Kata Motivasi dari Para Sufi


· Hasan Al-Bashri: “Ridha sama takdir Allah itu level tertinggi imannya seorang hamba.”

· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku nggak minta Allah ngubah takdirku, tapi aku minta Dia bikin aku ridha sama takdir itu.”

· Abu Yazid al-Bistami: “Takdir itu rahasia Allah; jangan dilawan, cari aja kedamaian di dalamnya.”

· Junaid al-Baghdadi: “Orang yang kenal Allah nggak akan pernah liat keburukan dalam takdir.”

· Al-Hallaj: “Apa pun yang Allah kehendaki, itu yang aku cintai.”

· Imam al-Ghazali: “Tau nggak, ridha atas qadar Allah itu kunci bahagia dunia akhirat.”

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Jangan takut sama takdir; takutlah kalo kamu jauh dari Allah dalam takdir itu.”

· Jalaluddin Rumi: “Takdir bukan rantai yang ngekang, tapi kompas yang nuntun.”

· Ibnu ‘Arabi: “Qadar Allah itu cermin cinta-Nya; setiap kejadian punya rahmat tersembunyi.”

· Ahmad al-Tijani: “Siapa yang ridha sama qadar Allah, maka Allah ridha sama dia.”


Daftar Pustaka (Tetap Kredibel, dong!)


· Al-Qur’an al-Karim

· Shahih Muslim, Kitab al-Iman

· Imam al-Ghazali – Ihya’ Ulumuddin

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani – Futuh al-Ghaib

· Ibnu Qayyim al-Jauziyyah – Syifa’ al-‘Alil

· Jalaluddin Rumi – Mathnawi

· Ibnu ‘Arabi – Futuhat al-Makkiyyah


Ucapan Terima Kasih


Alhamdulillah ya, segala puji buat Allah yang kasih kemudahan buat nulis ini. Big thanks juga buat lo semua yang mau baca dan terus menguatkan iman di tengen zaman yang makin modern. Semoga kita dikasih hati yang tenang, sabar, dan ridha sama semua ketentuan Allah. Aamiin!


---


Semoga versi ini lebih relate dan mudah dipahami, ya


811. Doa Para Nabi dan Rahmat Allah bagi Orang yang Tunduk

 




Doa Para Nabi dan Rahmat Allah bagi Orang yang Tunduk

Ringkasan Redaksi Asli (QS. Al-Anbiya: 89–92)

وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ (٨٩) فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًۭا وَرَهَبًۭا وَكَانُوا۟ لَنَا خَٰشِعِينَ (٩٠) وَٱلَّتِىٓ أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا وَجَعَلْنَٰهَا وَٱبْنَهَآ ءَايَةًۭ لِّلْعَٰلَمِينَ (٩١) إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُونِ (٩٢)

Artinya:
“Dan (ingatlah kisah) Zakariya, ketika ia berdoa kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), Engkau adalah sebaik-baik pewaris.’ Maka Kami kabulkan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, serta Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam berbuat kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan harapan dan rasa takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.
Dan (ingatlah kisah) Maryam yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh Kami, dan Kami jadikan dia serta anaknya sebagai tanda bagi seluruh alam.
Sesungguhnya ini adalah umatmu, umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.”
(QS. Al-Anbiya: 89–92)


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa Nabi Zakariya ‘alaihis-salam, masyarakat Bani Israil telah mulai jauh dari agama. Banyak yang hanya mengejar dunia dan meninggalkan doa serta amal saleh. Zakariya yang telah tua tetap istiqamah dalam ibadah dan doa, meski tak kunjung diberi keturunan. Ia berdoa bukan untuk kesenangan dunia, tapi agar ada penerus risalah dan penjaga agama Allah.

Maryam ‘alaihas-salam juga hidup di zaman yang penuh fitnah. Namun ia menjaga kehormatan dan kesucian diri. Dari rahimnya lahir Nabi Isa dengan mukjizat ruh dari Allah — tanda kebesaran dan kuasa-Nya bagi seluruh alam.


Sebab Terjadinya Masalah

Masalah utama pada masa itu adalah kelemahan iman dan keputusasaan manusia terhadap doa. Banyak orang hanya percaya pada sebab-sebab lahiriah, bukan pada kekuasaan Allah. Nabi Zakariya mengajarkan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah, meski umur telah lanjut dan istri mandul.

Maryam menjadi bukti bahwa kehormatan, kesucian, dan ketaatan dapat melahirkan mukjizat yang menjadi tanda keesaan Allah.


Intisari Judul

“Doa Para Nabi dan Rahmat Allah bagi Orang yang Tunduk”
Menegaskan bahwa siapa pun yang berserah diri, berdoa dengan harap dan takut, serta khusyuk dalam ibadah — akan mendapat kasih sayang Allah yang tak terbatas.


Tujuan dan Manfaat

  1. Mengingatkan manusia untuk tidak putus asa dalam berdoa.
  2. Menumbuhkan keyakinan bahwa rahmat Allah melampaui batas logika manusia.
  3. Mendorong umat Islam agar bersegera dalam kebaikan dan menjadikan doa sebagai kekuatan utama hidup.
  4. Menyatukan umat dalam satu aqidah: bahwa hanya Allah satu-satunya yang disembah.

Dalil Pendukung

  • QS. Ghafir: 60
    “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.”

  • Hadis Nabi ﷺ:
    “Doa adalah senjata bagi orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.”
    (HR. Al-Hakim)


Analisis dan Argumentasi

Ayat-ayat ini menunjukkan hubungan langsung antara ketaatan, doa, dan rahmat Allah.
Zakariya tidak menuntut, tetapi memohon dengan rendah hati; Maryam tidak mempertanyakan, tetapi tunduk dan pasrah. Keduanya menjadi teladan bahwa mukjizat bukan karena kemampuan manusia, melainkan buah dari keikhlasan dan ketundukan.

Dalam konteks kehidupan modern, manusia sering terlena oleh teknologi, transportasi cepat, komunikasi canggih, dan kedokteran mutakhir. Banyak yang lupa bahwa semua itu hanyalah alat, bukan sumber kekuatan.
Teknologi tidak bisa mengubah takdir tanpa izin Allah. Sehebat apa pun dokter, kesembuhan tetap datang dari Allah.
Maka, doa dan iman tetap menjadi sumber ketenangan di tengah gemuruh kemajuan zaman.


Keutamaan-keutamaan

  1. Doa yang tulus pasti dikabulkan Allah.
  2. Khusyuk dan sabar adalah jalan menuju terkabulnya doa.
  3. Kesucian diri dan keimanan menjadi sebab turunnya mukjizat.
  4. Umat yang tunduk kepada Allah menjadi satu kesatuan (ummatan wahidah) di bawah tauhid.

Hikmah

  • Tidak ada doa yang sia-sia, walau tampak tertunda.
  • Setiap ketaatan yang kecil bernilai besar di sisi Allah.
  • Kesucian diri, baik lahir maupun batin, menjadi pelindung dari fitnah zaman.
  • Allah menolong hamba yang khusyuk, meskipun seluruh dunia meragukannya.

Muhasabah dan Caranya

  1. Periksa niat dalam setiap doa — apakah untuk dunia atau untuk agama.
  2. Latih diri berdoa setiap selesai shalat dengan rasa harap dan takut (raja’ dan khauf).
  3. Biasakan membaca doa Nabi Zakariya:
    “Rabbi la tadzarni fardan wa anta khairul waritsin.”
  4. Jaga kehormatan dan kesucian diri sebagaimana Maryam.
  5. Jadikan doa bukan permintaan mendesak, tetapi ibadah yang menenangkan jiwa.

Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ، وَيَدْعُونَكَ رَغَبًا وَرَهَبًا، وَاجْعَلْنَا لَكَ مِنَ الْخَاشِعِينَ

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang bersegera dalam kebaikan, berdoa dengan harap dan takut, dan jadikan kami hamba yang khusyuk kepada-Mu.”


Nasehat Para Arif Billah

  • Hasan al-Bashri: “Doa yang lahir dari hati yang bersih lebih cepat sampai ke langit daripada anak panah yang dilepaskan dari busurnya.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Aku berdoa bukan karena aku ingin surga, tapi karena aku ingin bersama Dia yang menciptakan surga.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Doa bukan sekadar meminta, tapi menyingkap jarak antara hamba dan Tuhannya.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Khusyuk adalah ketika seluruh anggota tubuh diam, dan hanya hati yang berbicara kepada Allah.”
  • Al-Hallaj: “Doa adalah rahasia cinta; hanya yang mencintai yang tahu bagaimana berbicara tanpa kata.”
  • Imam al-Ghazali: “Barangsiapa mengenal Allah, ia tidak akan pernah putus asa dari rahmat-Nya.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Doa adalah kunci langit; mintalah dengan yakin, bukan dengan ragu.”
  • Jalaluddin Rumi: “Ketika engkau berdoa, engkau sedang mengetuk pintu hatimu sendiri.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Doa adalah jalan untuk mengenal hakikat diri sebagai hamba.”
  • Ahmad al-Tijani: “Setiap doa yang diiringi zikir adalah jembatan menuju kasih Allah.”

Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Anbiya: 89–92.
  2. Tafsir Al-Maraghi, Juz XVII.
  3. Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam Al-Ghazali.
  4. Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi.
  5. Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  6. Risalah Qusyairiyah – Imam al-Qusyairi.
  7. Al-Muntaqa min Kalam Rabi‘ah al-Adawiyah.
  8. Matsnawi – Jalaluddin Rumi.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca yang senantiasa meneguhkan iman di tengah kemajuan zaman. Semoga setiap doa dan amal kita diterima Allah sebagai bukti cinta dan ketundukan kepada-Nya.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang sopan dan santai dari bacaan Koran Islami tersebut:


Bacaan Koran Islami


Sabtu, 1 November 2025 Penulis: M. Djoko Ekasanu


Judul: Curhat Para Nabi dan Kekuatan Doa Buat yang Pasrah Total


Ringkasan Redaksi Asli (QS. Al-Anbiya: 89–92)


وَزَكَرِيَّا إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ (٨٩) فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًۭا وَرَهَبًۭا وَكَانُوا۟ لَنَا خَٰشِعِينَ (٩٠) وَٱلَّتِىٓ أَحْصَنَتْ فَرْجَهَا فَنَفَخْنَا فِيهَا مِن رُّوحِنَا وَجَعَلْنَٰهَا وَٱبْنَهَآ ءَايَةًۭ لِّلْعَٰلَمِينَ (٩١) إِنَّ هَٰذِهِۦٓ أُمَّتُكُمْ أُمَّةًۭ وَٰحِدَةًۭ وَأَنَا۠ رَبُّكُمْ فَٱعْبُدُونِ (٩٢)


Artinya: “Dan(ingatlah kisah) Zakariya, ketika ia berdoa kepada Tuhannya, ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan), Engkau adalah sebaik-baik pewaris.’ Maka Kami kabulkan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, serta Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam berbuat kebaikan dan berdoa kepada Kami dengan harapan dan rasa takut. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami. Dan(ingatlah kisah) Maryam yang memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari roh Kami, dan Kami jadikan dia serta anaknya sebagai tanda bagi seluruh alam. Sesungguhnya ini adalah umatmu,umat yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS.Al-Anbiya: 89–92)


Setting Zaman Dulu (Latar Belakang Masalah)


Bayangin, zaman Nabi Zakariya AS, vibes masyarakat Bani Israil lagi kurang bagus. Banyak yang fokusnya cuma urusan dunia aja, ibadah dan doa udah mulai ditinggalin. Nah, Zakariya yang udah sepuh ini tetap stay strong dalam ibadah dan doa, walaupun belum dikasih keturunan. Curhatnya ke Allah tuh bukan sekadar pengen punya anak, tapi lebih karena pengen ada yang nerusin dan jaga agama-Nya.


Sementara itu, Maryam AS hidup di zaman yang penuh drama dan fitnah. Tapi doi bisa banget jaga kehormatan dan kesucian dirinya. Dari situlah lahir Nabi Isa AS dengan mukjizat langsung dari Allah—bukti ultimate bahwa Allah itu Maha Kuasa.


Akar Masalahnya


Inti problemnya waktu itu adalah iman yang lagi lemah dan gampang banget putus asa. Banyak yang cuma percaya sama hal-hal yang keliatan aja, lupa sama kekuasaan Allah yang gak terbatas. Nabi Zakariya ngajarin kita bahwa nothing is impossible for Allah, meski secara logika udah tua dan istrinya mandul.


Maryam ngebuktiin bahwa jaga kehormatan, pure heart, dan ketaatan bisa bikin keajaiban yang bikin dunia melongo.


Inti dari Judul


"Curhat Para Nabi dan Kekuatan Doa Buat yang Pasrah Total" Intinya,siapa pun yang pasrah total, curhat ke Allah dengan perasaan harap dan takut, plus khusyuk dalam ibadah, bakal dapet unlimited love dan perhatian dari Allah.


Tujuan & Manfaatnya Buat Kita


· Jangan gampang menyerah dan putus asa dalam berdoa.

· Yakin banget bahwa kasih sayang Allah itu nggak ada batasnya, bahkan bisa ngalahin logika kita.

· Semangat buat buru-buru berbuat baik dan jadikan doa sebagai powerbank kehidupan.

· Ngingetin kita buat solid dalam satu tim, yaitu umat yang nyembah Allah aja.


Dalil Pendukung


· QS. Ghafir: 60 “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.”

· Hadis Nabi ﷺ: “Doa adalah senjata bagi orang mukmin, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi.” (HR. Al-Hakim)


Analisis & Argumen


Ayat-ayat ini nunjukin koneksi yang eret banget antara taat, doa, dan kasih sayang Allah. Zakariya nggak maksa, cuma memohon dengan rendah hati. Maryam nggak banyak nanya, cuma pasrah dan tunduk. Mereka berdua adalah role model bahwa mukjizat itu bukan karena skill kita, tapi buah dari keikhlasan dan kepasrahan.


Nah, kalau dihubungkan sama zaman now, kita sering banget keasyikan sama teknologi, transportasi super cepat, gadget canggih, dan kedokteran modern. Banyak yang lupa bahwa semua itu cuma tools, bukan sumber kekuatan utama. Teknologi secanggih apapun nggak bisa ngubah takdir tanpa izin Allah. Sehebat-hebatnya dokter, kesembuhan tetaplah datang dari Allah. Makanya, doa dan iman tetaplah sumber ketenangan di tengah hiruk-pikuk kemajuan zaman.


Keutamaannya


· Doa yang tulus pasti di-accept sama Allah.

· Khusyuk dan sabar adalah kunci utama doa terkabul.

· Menjaga kesucian diri dan iman bisa jadi penyebab turunnya mukjizat.

· Umat yang tunduk pada Allah akan jadi satu kesatuan (ummatan wahidah) di bawah panji tauhid.


Hikmah & Take Home Message


· Gak ada doa yang sia-sia, meski kadang jawabannya delay.

· Setiap kebaikan kecil yang kita lakuin, nilainya gede banget di sisi Allah.

· Jaga kesucian diri, lahir batin, itu tameng dari segala macam drama dan fitnah zaman.

· Allah pasti bantu hamba-Nya yang khusyuk, meski seisi dunia meragukannya.


Muhasabah Diri (Cek Dulu Deh!)


· Cek niat: Kita berdoa tuh buat dunia doang atau buat bekalan agama juga?

· Practice berdoa tiap selesai shalat dengan perasaan hope and fear (harap dan takut).

· Hafalin dan rutin baca doa Nabi Zakariya: "Rabbi la tadzarni fardan wa anta khairul waritsin."

· Jaga kehormatan dan kesucian diri kayak Maryam.

· Jadikan doa bukan sekadar request list, tapi sebagai me-time yang menenangkan jiwa sama Allah.


Doa


اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ، وَيَدْعُونَكَ رَغَبًا وَرَهَبًا، وَاجْعَلْنَا لَكَ مِنَ الْخَاشِعِينَ


“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang bersegera dalam kebaikan, berdoa dengan harap dan takut, dan jadikan kami hamba yang khusyuk kepada-Mu.”


Kata-Kata Motivasi Para Sufi


· Hasan al-Bashri: "Doa yang keluar dari hati yang bersih itu lebih cepat nyampe ke langit daripada anak panah yang dilepas dari busurnya."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Aku berdoa bukan karena pengen surga, tapi karena pengen deket sama Dia yang menciptakan surga."

· Abu Yazid al-Bistami: "Doa itu bukan cuma minta-minta, tapi membuka jarak rahasia antara hamba dan Tuhannya."

· Junaid al-Baghdadi: "Khusyuk itu ketika semua anggota tubuh diam, dan cuma hati yang ngobrol sama Allah."

· Al-Hallaj: "Doa itu rahasia cinta; cuma yang jatuh cinta yang tau gimana caranya ngomong tanpa kata-kata."

· Imam al-Ghazali: "Siapa yang kenal Allah, dia gak akan pernah putus asa dari kasih sayang-Nya."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Doa itu kunci langit; minta aja dengan yakin, jangan setengah-setengah."

· Jalaluddin Rumi: "Pas lo berdoa, sebenernya lo lagi ngetuk-ngetuk pintu hati lo sendiri."

· Ibnu ‘Arabi: "Doa itu jalan buat kenal hakikat diri sebagai hamba."

· Ahmad al-Tijani: "Setiap doa yang disempurnain dengan zikir itu jembatan menuju cinta Allah."


Daftar Pustaka


· Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Anbiya: 89–92.

· Tafsir Al-Maraghi, Juz XVII.

· Ihya’ ‘Ulumuddin – Imam Al-Ghazali.

· Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi.

· Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani.

· Risalah Qusyairiyah – Imam al-Qusyairi.

· Al-Muntaqa min Kalam Rabi‘ah al-Adawiyah.

· Matsnawi – Jalaluddin Rumi.


Ucapan Terima Kasih


Big thanks buat kalian para pembaca yang tetap keep the faith di tengah zaman yang makin canggih ini. Semoga semua doa dan kebaikan kita diterima Allah sebagai bukti cinta dan kepasrahan kita kepada-Nya. Stay humble and keep praying, guys