📰 KEUTAMAAN MANDI HARI JUMAT
Oleh: M. Djoko Ekasanu
HADITS KE-33 : KEUTAMAAN MANDI HARI JUMAT.
Telah diriwayatkan dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam bin Mak-hul bahwa ia berkata kalau Ubaidah bin as-Shomit rodhiyallahu ‘anhu berkata;
Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bersabda, “Barang siapa mandi di hari Jumat dengan niat yang baik maka kulit tubuhnya yang dikenai air akan penuh dengan cahaya. Seluruh kulit tubuhnya itu akan menjadi cahaya pada Hari Kiamat di tempat pemberhentian seluruh makhluk (Mauqif). Tubuhnya akan menjadi cahaya yang bersinar di antara makhluk lainnya. Kemudian Jumat akan datang dengan menjelma seorang laki-laki. Kepalanya mengenakan mahkota surga. Kemudian Jumat yang menjelma laki-laki itu berkata:
“Assalamu’alaika!”
‘’Alaikas Salam!” jawab orang yang mandi tadi. Kemudian ia bertanya:
“Siapa kamu?”
Aku adalah Jumat dimana kamu pernah mandi. Aku adalah Jumat dimana kamu pernah sholat dan membaguskan sholatmu karena Allah. Aku datang untuk memberikan kesaksian untukmu di Sisi Allah,” jelas laki-laki Jumat.
Kemudian Si Jumat memberikan kesaksian untuk orang yang mandi itu di Sisi Allah. Kemudian orang yang mandi itu masuk surga.
Barang siapa mandi di hari Jumat dan memakai pakaiannya, kemudian ia keluar dari rumah untuk menuju sholat Jumatan, maka Allah akan menulis setiap langkah yang ia langkahkan sebagai ibadah satu tahun, yaitu ibadah puasa dan sholat. Kemudian ketika ia masuk masjid dan ia tidak bersenda gurau dan tidak berbicara kecuali berbicara kebaikan maka Allah akan mencatatkan baginya kebaikan sebanyak orang yang sholat Jumat di masjid tersebut dimana masing-masing sholat mereka dihitung 25 kali sholatan, bahkan sholat orang yang terakhir datang sekalipun.
RINGKASAN REDAKSI
Tulisan ini mengangkat sebuah riwayat tentang keutamaan mandi di hari Jumat, di mana amal sederhana itu mampu menjadi cahaya di Hari Kiamat. Disebutkan bahwa Jumat akan menjelma sebagai sosok laki-laki yang memberikan kesaksian di hadapan Allah untuk orang yang memuliakan hari ini. Artikel ini memadukan dalil Qur'an dan hadis shahih, penjelasan ulama klasik dan sufi besar, serta relevansinya dengan kehidupan modern.
Catatan Redaksi:
Sebagian kisah dalam riwayat seperti perjumpaan dengan Jumat yang menjelma manusia memiliki unsur kisah mau‘izhah yang diduga termasuk Israiliyat. Redaksi menyajikannya sebagai bahan renungan, bukan sebagai dalil akidah.
LATAR BELAKANG MASALAH DI MASA NABI
Pada masa Rasulullah ﷺ:
- Hari Jumat telah menjadi hari raya mingguan umat Islam.
- Kaum Muslimin hidup sederhana; kebanyakan bekerja berat sehingga badan berpeluh.
- Masjid Nabawi sempit, jamaah padat, dan kebersihan tubuh sangat penting.
- Maka Rasulullah ﷺ menekankan mandi Jumat sebagai bentuk penghormatan kepada jamaah dan masjid.
Hadis-hadis shahih menegaskan kewajiban atau minimal anjuran kuat mandi Jumat:
“Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.”
(HR. Bukhari–Muslim)
SEBAB TERJADINYA MASALAH
Beberapa sahabat datang ke masjid dengan bau keringat dan pakaian kerja yang belum rapi. Hal ini mengganggu kekhusyukan jamaah. Nabi ﷺ menganjurkan mandi sebelum menuju Jumat sebagai:
- menjaga kebersihan,
- menjaga kenyamanan jamaah,
- memuliakan rumah Allah.
Riwayat tentang “cahaya pada kulit” adalah penegasan spiritual bahwa amal lahir dapat berbuah cahaya batin.
INTISARI JUDUL
“Mandi Jumat: Cahaya Ibadah yang Mengangkat Derajat Manusia”
TUJUAN DAN MANFAAT
- Menghidupkan sunnah Nabi ﷺ.
- Menjaga kebersihan diri dan kehormatan jamaah.
- Menumbuhkan adab menuju masjid.
- Menguatkan identitas umat Islam sebagai umat yang bersih dan tertib.
- Menghadirkan peluang pahala berlipat ganda setiap langkah menuju Jumat.
DALIL – QUR'AN & HADIS
1. Al-Qur’an
QS. Al-A‘raf: 31
“Wahai anak Adam, pakailah pakaian yang indah di setiap memasuki masjid…”
QS. Al-Jumu‘ah: 9–10
Ayat ini memerintahkan umat Islam bergegas menuju salat Jumat, yang menunjukkan kehormatan hari tersebut.
2. Hadis Shahih
1. Tentang mandi Jumat
“Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap Muslim.”
(HR. Bukhari)
2. Tentang wangi-wangian dan pakaian terbaik
“Sebaiknya ia memakai wangi-wangian yang ada padanya.”
(HR. Muslim)
3. Tentang langkah kaki ke masjid
“Setiap langkah menuju masjid ditulis satu pahala, dihapus satu dosa, dan diangkat satu derajat.”
(HR. Muslim)
ANALISIS & ARGUMENTASI
1. Aspek Syariat
- Mandi Jumat merupakan ta‘abbudi sekaligus tanzhifi (ritual sekaligus kebersihan).
- Menghormati masjid dan jamaah adalah bagian dari iman.
- Pahala besar yang disebutkan dalam riwayat mau‘izhah menunjukkan nilai spiritual menjaga adab Jumat.
2. Aspek Akhlak
Mandi Jumat mengajarkan:
- kesadaran diri,
- penghormatan sesama,
- menjaga nama baik umat Islam.
3. Aspek Tasawuf
Para sufi menekankan bahwa cahaya yang keluar dari tubuh adalah simbol kesucian hati.
Jumat adalah kesempatan tajalli rahmatillah—turunnya anugerah Allah kepada yang memuliakannya.
KEUTAMAAN–KEUTAMAANNYA
- Disaksikan oleh Malaikat.
- Diampuni dosanya antara dua Jumat.
- Mendapat pahala langkah seperti ibadah satu tahun (riwayat mau‘izhah).
- Suasana hati menjadi lebih bersih dan jernih.
- Dapat menjadi sebab turunnya ketenangan (sakînah) pada diri.
RELEVANSI DENGAN TEKNOLOGI & KEHIDUPAN MODERN
1. Era Teknologi & Komunikasi
- Kemudahan akses informasi memungkinkan umat memahami sunnah mandi Jumat secara benar.
- Media sosial dapat menyebarkan edukasi tentang adab Jumat.
2. Transportasi Modern
- Mobil, motor, atau ojek online memudahkan menuju masjid tepat waktu.
- Namun kebersihan tetap dijaga: mandi, berpakaian rapi, memakai wangi-wangian.
3. Era Kedokteran
- Mandi Jumat sangat relevan untuk kesehatan:
- mengurangi bakteri,
- mencegah bau badan,
- menyegarkan saraf,
- meningkatkan kualitas interaksi sosial.
4. Kehidupan Sosial
- Orang yang bersih dan wangi lebih dihargai.
- Anak-anak dapat meniru orang dewasa yang memuliakan hari Jumat.
HIKMAH
- Mandi Jumat melatih disiplin dan kesiapan batin.
- Menanamkan kebersihan sebagai bagian dari iman.
- Memperkuat hubungan sosial di masjid.
- Menyucikan diri lahir batin untuk menyambut khutbah nasihat.
MUHASABAH & CARANYA
Pertanyaan muhasabah:
- Sudahkah aku memuliakan hari yang dimuliakan Allah?
- Sudahkah aku menjaga adab menuju jamaah?
- Sudahkah aku datang lebih awal untuk mendengar khutbah?
Cara melaksanakannya:
- Mandi dengan niat memuliakan Jumat.
- Memakai pakaian bersih dan wangi.
- Datang lebih awal.
- Tidak berbicara saat khutbah.
- Memperbanyak doa antara azan dan iqamah.
NASIHAT PARA ULAMA TASAWUF
Hasan al-Bashri
“Bersihkanlah dirimu, karena Allah mencintai hamba yang bersih lahir batinnya.”
Rabi‘ah al-Adawiyah
“Jumat adalah panggilan cinta Allah. Datanglah dengan hati yang paling bersih.”
Abu Yazid al-Bistami
“Siapa yang memuliakan Jumat, Allah memuliakan batinnya dengan cahaya.”
Junaid al-Baghdadi
“Jumat adalah hari berkumpulnya hati-hati dengan Tuhan.”
Al-Hallaj
“Sucikanlah diri untuk menerima kunjungan rahmat.”
Imam al-Ghazali
“Mandi Jumat adalah simbol penyucian hati dari kegelapan pekan sebelumnya.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani
“Barangsiapa memuliakan Jumat dengan adab, Allah limpahkan karunia yang tidak ia duga.”
Jalaluddin Rumi
“Datanglah ke masjid dengan jiwa yang harum, bukan hanya tubuhmu.”
Ibnu ‘Arabi
“Jumat adalah pertemuan jagad ruhani dan duniawi.”
Ahmad al-Tijani
“Amalan lahir yang kecil dapat membuka gerbang rahasia besar bila dilakukan dengan ikhlas.”
DOA PENUTUP
“Ya Allah, sucikanlah lahir dan batin kami.
Jadikan mandi Jumat kami sebagai cahaya di dunia dan akhirat.
Limpahkan ketenangan, ampunan, dan keberkahan pada setiap langkah menuju rumah-Mu.
Amin.”
TESTIMONI ULAMA INDONESIA
Gus Baha’
“Mandi Jumat itu bukan sekadar mandi, tapi adab. Dan adab itu lebih tinggi dari ilmu.”
Ustadz Adi Hidayat
“Hadis-hadis tentang mandi Jumat menunjukkan konsep Islam tentang kebersihan dan kemuliaan.”
Buya Yahya
“Jumat adalah hari besar. Jangan menghadap Allah dalam keadaan tidak pantas.”
Ustadz Abdul Somad
“Mandi Jumat hukumnya sunnah muakkadah, bahkan ada yang mewajibkannya. Ini menunjukkan betapa pentingnya memuliakan hari ini.”
DAFTAR PUSTAKA
- Sahih Bukhari & Muslim
- Sunan Abu Dawud
- Tafsir Al-Qurthubi
- Ihya’ Ulumiddin – Al-Ghazali
- Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
- Jami' al-Wa‘izh – Al-Mundzir
- Nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani
- Majmū‘ Rasāil al-Junaid
Versi Bahasa Gaul Kekinian (Sopan Santun & Santai)
📰 MITOS ATAU FAKTA? MANDI JUMAT BISA BIKIN GLOWING SAMPE AKHIRAT!
Oleh: M. Djoko Ekasanu
HADITS KE-33: MANFAAT MANDI JUMAT YANG WOW BANGET.
Ada riwayat yang nyebutin, dari Ubaidah bin as-Shomit radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ pernah bilang gini:
“Siapa yang mandi di hari Jumat dengan niat yang baik, kulitnya yang kena air bakalan jadi full cahaya. Semua kulitnya itu nanti bakal jadi cahaya sendiri pas lagi pada nunggu di Padang Mahsyar. Badannya bakal glowing banget dibanding yang lain. Trus, hari Jumat-nya sendiri bakal dateng sebagai seorang cowok yang pake mahkota surga. Dia nyapa:
“Assalamu’alaika!”
“Wa’alaikas salam!” balas orang yang mandi tadi. “Kamu siapa, sih?” tanyanya lagi.
Aku adalah hari Jumat di mana kamu dulu mandi. Aku adalah hari Jumat di mana kamu dulu sholat dan memperbagus sholatmu karena Allah. Aku dateng buat jadi saksi buat kamu di hadapan Allah,” jelas si Cowok Jumat.
Terus, si Jumat ini ngasih kesaksian buat orang itu. Dan akhirnya, orang tadi masuk surga. Keren, kan?
Nah, lanjutannya: Siapa yang mandi Jumat, pake baju terbaiknya, terus berangkat ke masjid buat sholat Jumat, Allah bakal catet tiap langkah kakinya sebagai pahala ibadah satu tahun (puasa dan sholat). Pas dia udah masuk masjid, dan dia gak ngegosip atau ngobrol yang gak penting—cuma ngomong yang baik-baik aja—Allah kasih dia kebaikan sebanyak orang yang sholat Jumat di masjid itu, dimana sholat mereka dihitung kayak 25 kali sholat. Bahkan buat yang paling telat dateng sekalipun!
RINGKESANNYA:
Tulisan ini ngangkat soal keutamaan mandi di hari Jumat. Amal yang keliatan simpel ini ternyata bisa jadi investasi cahaya buat akhirat nanti. Diceritain juga tentang Jumat yang bisa jadi saksi kita. Artikel ini gabungin dalil Qur'an sama hadis shahih, penjelasan para ulama jaman dulu, plus relevansinya buat kita yang hidup di jaman now.
Catatan Redaksi: Bagian cerita tentang ketemu Jumat yang jadi manusia itu punya unsurkisah penyemangat yang diduga masuk kategori Israiliyat. Kita sajikan sebagai bahan renungan aja ya, bukan jadi patokan utama akidah.
APA SIH PROBLEMNYA DI JAMAN NABI?
Jaman Rasulullah ﷺ:
· Hari Jumat udah jadi hari spesial mingguan buat umat Islam.
· Kehidupan masih sederhana, banyak yang kerja fisik berat, jadi pasti sering berkeringat.
· Masjid Nabawi masih sempet, jamaahnya padet banget, jadi kebersihan badan tuh super penting.
Makanya, Rasulullah ﷺ tekankan banget mandi Jumat sebagai bentuk respect buat sesama jamaah dan masjid.
Hadis-hadis shahih bilang mandi Jumat itu wajib atau paling nggak sunnah muakkadah (sunnah yang kuat banget):
“Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap orang yang baligh.” (HR. Bukhari–Muslim)
KENAPA BISA ADA MASALAH?
Dulu ada aja sahabat yang dateng ke masjid masih bau keringat dan pakaiannya masih acak-acakan. Ini ganggu konsentrasi jamaah lain. Nabi ﷺ anjurkan mandi sebelum Jumat buat:
· Jaga kebersihan diri.
· Jaga kenyamanan jamaah lain.
· Hormatin rumah Allah.
Cerita soal “cahaya di kulit” tuh lebih ke penekanan spiritual: amal lahir yang bikin batin kita bersinar.
INTINYA:
“Mandi Jumat: Ibadah Simpel yang Bisa Naikin Level Kita.”
TUJUAN & MANFAATNYA:
· Ngehidupin sunnah Nabi ﷺ.
· Jaga kebersihan dan respect ke jamaah lain.
· Ngajarin adab yang bener pas mau ke masjid.
· Bikin identitas kita sebagai muslim yang bersih dan tertib.
· Dapet bonus pahala berlipet tiap langkah!
DALIL-DALIL YANG SUPPORT:
1. Dari Al-Qur'an
· QS. Al-A‘raf: 31: “Wahai anak Adam, pakailah pakaian yang indah di setiap memasuki masjid…” (Intinya: dress code yang rapi dan wangi!)
· QS. Al-Jumu‘ah: 9–10: Ayat ini nyuruh kita cepet-cepat berangkat sholat Jumat, yang nunjukin betapa spesialnya hari ini.
2. Dari Hadis Shahih
· Soal Mandi Jumat: “Mandi pada hari Jumat adalah wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Bukhari)
· Soal Wangi-Wangian & Penampilan: “Sebaiknya ia memakai wangi-wangian yang ada padanya.” (HR. Muslim)
· Soal Langkah Kaki: “Setiap langkah menuju masjid ditulis satu pahala, dihapus satu dosa, dan diangkat satu derakat.” (HR. Muslim)
ANALISIS & ARGUMENTASI:
1. Dari Sisi Syariat
· Mandi Jumat itu ibadah sekaligus bentuk menjaga kebersihan.
· Hormatin masjid dan jamaah itu bagian dari iman.
· Pahala gede yang disebut di riwayat tadi nunjukin nilai spiritual dari jaga adab hari Jumat.
2. Dari Sisi Akhlak
· Mandi Jumat ngajarin kita: peduli sama diri sendiri, respect sama orang lain, dan jaga nama baik umat Islam.
3. Dari Sisi Tasawuf
· Menurut para sufi, cahaya yang keluar dari badan itu simbol hati yang bersih.
· Jumat adalah kesempatan turunnya rahmat Allah buat yang ngormatin hari ini.
MANFAAT-MANFAAT NYATA:
· Disaksiin malaikat.
· Dosanya diampuni antara Jumat ini ke Jumat depan.
· Dapet pahala langkah kaki kayak ibadah setahun (menurut riwayat).
· Suasana hati jadi lebih fresh dan jernih.
· Bisa bikin hati lebih tenang.
RELEVAN BUAT KITA (JAMAN NOW):
1. Era Teknologi & Medsos
· Informasi tentang sunnah mandi Jumat gampang banget diakses. Bisa cari tau lewat Google atau YouTube.
· Medsos bisa jadi alat buat share edukasi soal adab Jumat yang bener.
2. Transportasi Modern
· Ada mobil, motor, atau ojol yang bikin kita gampang dateng tepat waktu.
· Tapi inget, tetep harus mandi, pake baju rapi, dan wangi-wangian ya!
3. Dari Sisi Kesehatan
· Mandi Jumat tuh sehat banget: ngurangi bakteri, cegah bau badan, nyegerin badan, dan bikin makin pede ketemu orang.
4. Kehidupan Sosial
· Orang yang bersih dan wangi pasti lebih disegani.
· Anak-anak bakal ikut-ikutan kalo liat orang dewasa ngormatin hari Jumat.
HIKMAHNYA:
· Mandi Jumat bisa melatih disiplin dan kesiapan mental.
· Ngebiasain kebersihan sebagai bagian dari iman.
· Nguatin silaturahmi di masjid.
· Nyuciin diri, lahir batin, buat nyiapin denger khutbah.
MUHASABAH & CARA PRAKTISNYA:
Pertanyaan buat introspeksi diri:
· Udah belum aku ngormatin hari yang diormatin Allah ini?
· Udah belum aku jaga adab biar gak ganggu jamaah lain?
· Udah belum dateng lebih awal biar bisa denger khutbah dengan baik?
Cara eksekusinya:
1. Mandi dengan niat khusus buat ngormatin Jumat.
2. Pake baju bersih dan wangi-wangian.
3. Dateng lebih awal ke masjid.
4. Gak ngobrol pas khutbah lagi berlangsung.
5. Banyak-banyakin doa antara adzan dan iqamah.
NASIHAT PARA ULAMA TASAWUF (DIBAHASAIN):
· Hasan al-Bashri: “Bersihin diri lo, soalnya Allah suka sama hamba yang bersih luar dalam.”
· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Jumat tuh panggilan cinta dari Allah. Datenglah dengan hati yang paling bersih.”
· Abu Yazid al-Bistami: “Siapa yang memuliain Jumat, Allah bakal kasih ‘glow’ spesial di hatinya.”
· Junaid al-Baghdadi: “Jumat tuh hari dimana hati bisa ketemu sama Tuhan.”
· Al-Hallaj: “Bersihin diri buat nyambut kunjungan rahmat.”
· Imam al-Ghazali: “Mandi Jumat itu simbol bersihin hati dari hal-hal negatif seminggu kemarin.”
· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Siapa yang ngormatin Jumat dengan adab yang bener, Allah kasih rezeki yang gak disangka-sangka.”
· Jalaluddin Rumi: “Dateng ke masjid dengan jiwa yang harum, bukan cuma badan doang.”
· Ibnu ‘Arabi: “Jumat tuh pertemuan antara dunia spiritual dan dunia kita.”
· Ahmad al-Tijani: “Amal kecil kalo dilakukan ikhlas bisa buka pintu-pintu berkah yang gede banget.”
DOA PENUTUP: “Ya Allah,bersihin lah lahir batin aku. Jadikan mandi Jumat aku sebagai cahaya di dunia dan akhirat. Kasih ketenangan,ampunan, dan berkah di setiap langkah aku nuju rumah-Mu. Amin.”
TESTIMONI ULAMA INDONESIA (VERSI GAUL):
· Gus Baha’: “Mandi Jumat itu bukan cuma mandi biasa, itu soal adab. Dan adab itu levelnya lebih tinggi dari ilmu.”
· Ustadz Adi Hidayat: “Hadis-hadis soal mandi Jumat nunjukin gimana Islam ngajarin kita buat bersih dan mulia.”
· Buya Yahya: “Jumat itu hari besar. Jangan dateng hadap Allah dalam keadaan yang gak pantas.”
· Ustadz Abdul Somad: “Mandi Jumat hukumnya sunnah yang kuat banget, bahkan ada yang bilang wajib. Itu nunjukin betapa pentingnya hari ini.”
DAFTAR PUSTAKA (YANG DIBAHASAIN TETAP SAMA):
· Sahih Bukhari & Muslim
· Sunan Abu Dawud
· Tafsir Al-Qurthubi
· Ihya’ Ulumiddin – Al-Ghazali
· Al-Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
· Jami' al-Wa‘izh – Al-Mundzir
· Nasihat Syekh Abdul Qadir al-Jailani
· Majmū‘ Rasāil al-Junaid

