Wednesday, November 19, 2025

834. MAKSIAT MATA & TANGAN: PINTU FITNAH YANG HARUS DIJAGA

 



📰 MAKSIAT MATA & TANGAN: PINTU FITNAH YANG HARUS DIJAGA

Mengapa Syariat Menjaga Pandangan dan Perbuatan?

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Seorang muslim harus menjauhkan dirinya dari perkara maksiat termasuk maksiat mata dan maksiat tangan. Maksiat mata meliputi memandang lawan jenis bukan mahram (muhrim), memandang aurat orang lain kecuali karena ada kebutuhan syar'i seperti untuk pengobatan. Maksiat tangan seperti memukul, menyakiti orang lain, menyogok, dll.

Di antara maksiat mata ialah :

1. Laki-laki melihat wanita ajnaby (bukan mahram atau bukan istrinya tanpa penghalang).

2. Wanita melihat laki-laki lain (tanpa penghalang)

3. Melihat aurat (baik sesama jenis laki-laki atau wanita) dan haram bagi laki-laki melihat sesuatu dari badan wanita ajnaby (bukan mahram) selain istrinya.

Keterangan :
Haram melihat aurat, karena pada umumnya melihat aurat dapat menimbulkan fitnah, (yaitu menggerakkan syahwat) oleh karena itu hukum syara’ menutup pintu fitnah tersebut.

Bagi suami diperbolehkan melihat seluruh badan istrinya kecuali melihat farjinya. Melihat farji istrinya hukumnya makruh dan di dalam hadis Nabi Saw disabdakan bahwa melihat lubang farji istri itu dapat menimbulkan kebuataan baik bagi yang melihatnya ataupun bagi anaknya yang akan lahir.

Kecuali dalam pengobatan, bagi yang mengobati diperbolehkan melihat aurat pasiennya sekedar anggota yang diperlukan saja.

4. Haram bagi wanita membuka sesuatu dari anggota badannya di depan laki-laki yang haram melihatnya.

5. Haram bagi laki-laki dan wanita membuka sesuatu dari badannya diantara pusar dan lutut di depan orang yang bisa melihat auratnya, walaupun sama jenisnya (laki-laki dengan laki-laki, wanita dengan wanita) atau mahramnya selain suami atau istrinya.

6. Haram bagi laki-laki atau wanita membuka lubang depan (qubul) atau belakang (dubur) di kamarnya selain karena kebutuhan (misalnya pengobatan, kegerahan, mandi, menjaga pakaian dari kotoran) kecuali bagi suaminya.

7. Diperbolehkan melihat anggota tubuh orang lain selain anggota tubuh yang ada diantara pusar dan lututnya, apabila tanpa terdorong oleh nafsu-syahwatnya, uga yang dilihatnya itu masih mahramnya atau sesame jenisnya dan atau anak kecil yang tidak wajar dicintai. Boleh melihat anggota tubuh orang lain apabila orang yang dilihatnya itu anak kecil yang masih ingusan atau di bawah usia tamyiz (± 5 tahun kebawah = balita). Dalam hal ini pun masih ada yang tidak diperbolehkan, yakni kemaluan atau farjinya jika anak itu perempuan, kecuali bagi ibunya.

8. Haram memandang kepada orang muslim dengan sinis melihat-lihat keadaan rumah orang lain tanpa izin atau barang apa saja yang dirahasiakan oleh yang punyanya tanpa izin pula.

9. Haram menyaksikan perbuatan mungkar (maksiat) apabila tidak mengingkarinya atau tidak karena udzur syara’ (misalnya tidak mampu melenyapkannya) atau tidak bisa meninggalkan tempatnya. Sangat penting mengingkarinya dalam hati apabila melihat perbuatan mungkar tersebut).


RINGKASAN REDAKSI ASLINYA

Syariat Islam memerintahkan seorang muslim menjaga diri dari maksiat, termasuk maksiat mata dan tangan. Maksiat mata meliputi melihat lawan jenis bukan mahram, melihat aurat, dan melihat sesuatu yang dapat membangkitkan syahwat. Maksiat tangan meliputi menyakiti orang lain, memukul, menyogok, dan perbuatan yang merugikan. Syariat menutup pintu-pintu fitnah demi menjaga kehormatan dan kesucian hati.


LATAR BELAKANG MASALAH DI ZAMAN NABI

Pada masa Rasulullah ﷺ, masyarakat Arab hidup dekat dengan tradisi bebas bergaul tanpa sekat. Aurat sering terbuka, pasar ramai, dan interaksi laki-laki dan perempuan sangat dekat. Banyak fitnah terjadi karena pandangan yang tidak dijaga. Maka syariat turun secara bertahap untuk:

  1. Menjaga kehormatan pribadi dan keluarga.
  2. Mengontrol syahwat agar tidak liar.
  3. Menutup pintu zina dari akar paling kecilnya—sebuah maslahah sosial.
  4. Membangun masyarakat berakhlak yang bersih lahir batin.

SEBAB TERJADINYA MASALAH

  1. Tidak mampu menahan pandangan dari hal-hal yang membangkitkan nafsu.
  2. Lingkungan permissive yang membiarkan fitnah mata terjadi.
  3. Syahwat yang dibiarkan tanpa kontrol.
  4. Media, gambar, dan visual yang merusak hati.
  5. Kemudahan akses terhadap maksiat.

INTISARI JUDUL

“Menjaga pandangan dan perbuatan adalah penjagaan hati. Ketika mata dan tangan dikendalikan, maka seluruh diri menjadi suci.”


TUJUAN & MANFAAT

  1. Membersihkan hati dari fitnah.
  2. Menutup pintu dosa kecil yang membawa dosa besar.
  3. Menjaga kehormatan diri dan keluarga.
  4. Menjaga kesehatan mental dari bayangan maksiat.
  5. Menguatkan ibadah karena pandangan yang bersih menumbuhkan kekhusyukan.

📖 DALIL QUR’AN & HADIS

1. Dalil Qur’an

a. Menjaga Pandangan Laki-laki

“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka.”
(QS. An-Nur: 30)

b. Menjaga Pandangan Perempuan

“Katakanlah kepada perempuan beriman agar mereka menundukkan pandangannya dan menjaga kemaluannya.”
(QS. An-Nur: 31)

c. Menutup Aurat

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap memasuki masjid…”
(QS. Al-A’raf: 31)

d. Tidak mendekati zina

“Dan janganlah kalian mendekati zina, sebab zina itu keji dan jalan yang sangat buruk.”
(QS. Al-Isra: 32)


2. Dalil Hadis

a. Pandangan adalah panah syaitan

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Pandangan adalah salah satu panah beracun dari panah-panah iblis.”
(HR. Al-Hakim)

b. Melihat aurat itu haram

“Janganlah seorang laki-laki melihat aurat laki-laki lain, dan jangan pula perempuan melihat aurat perempuan lainnya.”
(HR. Muslim)

c. Tangan yang menyakiti adalah maksiat

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya; ia tidak menzaliminya dan tidak menyakitinya.”
(HR. Bukhari)


🔍 ANALISIS & ARGUMENTASI

Mengapa syariat begitu ketat?

Karena fitnah dimulai dari pandangan. Hampir semua dosa besar berakar dari mata dan tangan:

  • Zina → diawali dari pandangan
  • Riya → dari melihat dunia yang membuat iri
  • Ghibah → dari melihat kekurangan orang
  • Hasad → dari melihat nikmat orang lain

Mata adalah jendela hati. Bila kotor, seluruh hati menjadi gelap.


🌍 RELEVANSI DI ERA TEKNOLOGI

Di zaman modern:

1. Teknologi & Media Sosial

Fitnah mata melimpah di:

  • TikTok
  • Instagram
  • YouTube
  • Iklan
  • Game online
  • Aplikasi meeting & virtual

Mata menjadi lebih mudah bermaksiat daripada kaki melangkah.

2. Komunikasi

Chatting bebas membuka peluang zina digital, pornografi, dan hubungan terlarang.

3. Transportasi

Transportasi umum yang padat memaksa kedekatan fisik tanpa batas.

4. Kedokteran

Pengecualian syar‘i untuk melihat aurat tetap berlaku bagi tenaga medis.

5. Kehidupan sosial

Pergaulan bebas, fashion liberal, dan budaya entertainment menjadikan kontrol mata semakin penting.


🌿 HIKMAH

  1. Pandangan yang dijaga adalah cahaya iman.
  2. Hati menjadi tenang, tidak gelisah oleh syahwat.
  3. Menjaga diri dari fitnah rumah tangga dan kehormatan.
  4. Meningkatkan wibawa diri dan kewibawaan ruhani.
  5. Menjaga hubungan dengan Allah agar tetap dekat dan bersih.

🧭 MUHASABAH & CARA PRAKTIS

1. Tutup akses maksiat

Hapus aplikasi yang merusak. Batasi layar.

2. Biasakan menundukkan pandangan

Saat melihat lawan jenis, alihkan mata.

3. Perkuat dzikir

Mata yang banyak berdzikir tidak suka maksiat.

4. Jauhi tempat-tempat fitnah

Mall, konser, tempat keramaian tertentu.

5. Ingat bahwa Allah melihat

Ini adalah benteng terbesar.

6. Isi waktu dengan kebaikan

Mata yang sibuk membaca Qur’an tak sempat melihat maksiat.


🤲 DOA PENJAGA PANDANGAN

اللهم غض بصري وحفظ فرجي وطيب قلبي ونور بصيرتي
“Ya Allah, jaga pandanganku, peliharalah kehormatanku, sucikan hatiku, dan terangilah batinku.”


🕋 NASEHAT ULAMA SUFI

Hasan Al-Bashri

“Pandangan adalah pintu hati. Bila pintunya dijaga, maka hati akan selamat.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Barangsiapa matanya suci, Allah sucikan hatinya.”

Abu Yazid al-Bistami

“Setiap maksiat dimulai dari satu pandangan yang tidak dijaga.”

Junaid al-Baghdadi

“Kesucian jiwa terletak pada menahan mata dari apa yang tidak halal.”

Al-Hallaj

“Mata yang melihat maksiat tidak akan melihat hakikat.”

Imam al-Ghazali

“Pandangan seperti api yang membakar iman sedikit demi sedikit.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Kunci wira’i adalah menjaga pandangan dan tangan.”

Jalaluddin Rumi

“Matamu adalah jendela jiwamu. Jagalah jendela agar cahaya masuk, bukan kegelapan.”

Ibnu ‘Arabi

“Siapa yang menundukkan pandangan, dia akan dibukakan pandangan batin.”

Syekh Ahmad al-Tijani

“Cahaya wirid hilang dari hati orang yang tidak menjaga pandangannya.”


📚 DAFTAR PUSTAKA

  1. Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  2. Al-Adab asy-Syar’iyyah – Ibn Muflih
  3. Tafsir al-Qurthubi – al-Qurthubi
  4. Tafsir Ibnu Katsir
  5. Riyadhus Shalihin – Imam Nawawi
  6. Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu Arabi
  7. Al-Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  8. Hadis Shahih Bukhari & Muslim

🗣 TESTIMONI ULAMA KONTEMPORER

Gus Baha’

“Pandangan itu pintu dosa. Tutup pintunya, semua akan lebih mudah.”

Ustadz Adi Hidayat

“Jaga pandanganmu, maka otakmu akan bersih dari maksiat.”

Buya Yahya

“Maksiat mata adalah maksiat paling cepat merusak hati.”

Ustadz Abdul Somad

“Kalau mata dijaga, seluruh tubuh ikut terjaga.”


🙏 UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada semua guru, ulama, dan pembaca yang terus menjaga adab dan kesucian diri. Semoga artikel ini menjadi amal jariyah bagi kita semua.


Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).

833. EMPAT MATA AIR MALAM RAJAB

 



EMPAT MATA AIR MALAM RAJAB

Tangis Ali bin Abi Thalib, Turunnya Penjelasan Jibril, dan Pelajaran Bagi Manusia Modern

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Pada suatu malam di bulan Rajab, beliau shollallaahu ‘alaihi wa sallama bangun di pertengahan malam untuk melihat ke dalam masjid apakah ada sahabat- sahabatnya      yang bangun beribadah.

 Di satu sisi masjid, Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallama mendengar suara Ali karromallaahu wajhahu yang tengah menangis keras. Ia ingin mengkhatamkan al-Quran dalam dua rakaat sholat. Ketika ia sampai pada ayat ini:


Katakanlah! Adakah sama orang- orang yang mengetahui dengan orang-orang    yang    tidak mengetahui? Sesungguhnya orang- orang yang memiliki akal sempurnalah dapat menerima pelajaran.maka air matanya hingga menetesi tikar.

Kemudian    Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallama ikut menangis bersama mereka. Setelah mereka selesai dari sholat, Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallama pun pulang ke rumah dengan perasaan senang. Mereka semua tidak tahu kehadirannya shollallaahu ‘alaihi wa sallama.

Menjelang pagi, mereka datang ke masjid dan menunaikan sholat Subuh sebagai makmum di belakang Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallama. Setelah selesai sholat, Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallama menghadap ke arah mereka dan bertanya dengan perasaan senang:

Kemudian    Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallama bertanya kepada Ali karromallahu wajhahu:

“Hai Ali! Mengapa kamu menangis ketika    membaca    ayat, ‘Katakanlah! Adakah sama orang- orang yang mengetahui dengan orang-orang        yang    tidak mengetahui? Sesungguhnya orang- orang yang memiliki akal sempurnalah dapat menerima pelajaran?’”

Ali menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis sedangkan Allah telah berfirman, ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang- orang yang memiliki akal sempurnalah    yang    dapat menerima pelajaran. Sedangkan bapak kita, Adam sholawatullahi ‘alaihi adalah orang yang paling tahu. Allah telah berfirman tentangnya, ‘Dan Kami telah mengajarkan Adam seluruh nama- nama... dan kita tidaklah sepertinya. Bagaimana kita bisa menyamainya?”

Kemudian Malaikat Jibril, ‘Alaihis Salam, datang dan berkata:

“Hai Muhammad! Katakanlah kepada Ali! Bahwa maksud ayat yang ia baca bukanlah seperti yang ia kira. Tetapi maksudnya adalah bahwa besok di Hari Kiamat, orang kafir tidaklah sama dengan orang-orang mukmin karena orang kafir hanyalah menyembah berhala dan tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Sedangkan orang mukmin menyembah Allah dan setiap waktu selalu mengatakan Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. 

Begitu juga orang-orang mukmin ketika berbuat baik maka mereka akan senang dan ketika berbuat buruk maka mereka meminta ampunan dan ketika mereka melakukan perjalanan jauh maka mereka mengqosor sholat dan berbuka dari puasa. Tidak ada dosa bagi mereka melakukan hal itu. Selain itu, orang kafir tidaklah sama dengan orang mukmin karena tempat kembalinya adalah neraka dan tempat kembali orang mukmin adalah surga.”


Ringkasan Redaksi Asli

Pada suatu malam di bulan Rajab, Rasulullah ﷺ bangun dan menuju masjid. Di sana beliau mendapati beberapa sahabat tengah menangis dalam shalat malam. Di sisi lain masjid, Ali karamallahu wajhah menangis keras saat membaca ayat:

“Katakanlah! Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan yang tidak mengetahui? Hanya orang-orang berakal yang dapat mengambil pelajaran.”
(QS. Az-Zumar: 9)

Ali menangis karena merasa tidak mampu mencapai kesempurnaan ilmu sebagaimana Nabi Adam. Namun malaikat Jibril ‘alaihis salam turun menjelaskan bahwa makna ayat bukan demikian: yang dimaksud adalah perbedaan antara orang beriman dan kafir kelak di Hari Kiamat. Orang beriman—karena zikir, amal baik, taubat, dan ketaatannya—tidak sama derajatnya dengan orang kafir.


Latar Belakang Masalah di Zaman Nabi

Pada masa Rasulullah ﷺ:

  1. Masyarakat Madinah masih belajar mengenal Al-Qur’an secara bertahap.
    Kepekaan makna ayat belum merata.

  2. Ali adalah simbol kecerdasan dan kedalaman spiritual.
    Ia takut salah memahami firman Allah.

  3. Para sahabat berlomba-lomba shalat malam pada bulan Rajab, bulan doa dan kesungguhan.

  4. Ayat tentang ilmu (Az-Zumar:9) menjadi standar keutamaan—siapa yang benar-benar mengetahui, maka ia lebih mulia.

  5. Kesalahpahaman Ali mengandung hikmah besar, sebab turunlah penjelasan dari Jibril yang meluruskan pemahaman umat.


Sebab Terjadinya Masalah

  • Ali memahami ayat dari sisi kesempurnaan ilmu, bukan dari sisi iman dan kufur.
  • Kesungguhan ibadah membuat Ali takut kurang sempurna di mata Allah.
  • Turunnya Jibril adalah bentuk ta’dib (pendidikan ilahi) agar umat mengerti makna sebenarnya ayat tersebut.

Intisari Judul

  • Orang yang beriman tidak sama dengan orang yang kufur.
  • Ilmu yang dimaksud bukan banyaknya hafalan, tetapi ilmu yang mengantarkan pada iman, amal, dan takut kepada Allah.

Tujuan dan Manfaat Artikel

  1. Menjelaskan makna mendalam QS Az-Zumar: 9.
  2. Menanamkan kerendahan hati dalam mencari ilmu.
  3. Menjadi muhasabah bahwa ibadah kita tak sebanding dengan para sahabat.
  4. Menunjukkan relevansi nilai-nilai iman dengan dunia modern.
  5. Memperkuat keyakinan bahwa teknologi tidak boleh mematikan hati.

DALIL: AL-QUR’AN DAN HADIS

1. Al-Qur’an

QS. Az-Zumar: 9
“Adakah sama orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu?”

QS. Al-Mujadilah: 11
“Allah mengangkat orang beriman dan berilmu dengan beberapa derajat.”

QS. Al-Baqarah: 282
“Bertakwalah kepada Allah, dan Allah mengajarkan kepadamu.”
— Ilmu adalah buah dari takwa.

2. Hadis Nabi ﷺ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

“Perbedaan seorang alim dengan ahli ibadah seperti bulan purnama dibanding seluruh bintang.” (HR. Tirmidzi)

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)


ANALISIS DAN ARGUMENTASI

1. Ali bin Abi Thalib: Contoh Kerendahan Ilmu

Ali tidak menangis karena kurang hafal—
Ia menangis karena merasa belum layak disebut “orang berilmu” sebagaimana ayat.

Ini adalah puncak adab pengetahuan.

2. Jibril Meluruskan: Ilmu = Iman dan Amal

Jibril menjelaskan bahwa yang dimaksud ayat adalah:

  • Orang beriman ≠ orang kafir.
  • Orang yang bertaubat ≠ orang yang membangkang.
  • Orang yang menjaga shalat, zikir, syariat ≠ orang yang mengabaikan Allah.

Jadi ilmu hakiki bukanlah banyaknya pengetahuan, tetapi iman yang menuntun perjalanan hidup.

3. Keutamaan Iman dalam Dunia Modern

Di zaman:

  • AI supercanggih
  • Robotisasi kerja
  • Komunikasi se-instan cahaya
  • Transportasi udara yang melampaui batas
  • Kedokteran presisi

Manusia semakin tahu banyak hal, tetapi sangat sering tidak tahu diri.

Maka nilai ayat semakin relevan:

Orang yang berilmu (yang mengenal Allah) tidak sama dengan orang yang hanya mengetahui dunia.


Relevansi di Era Teknologi, Komunikasi, Transportasi, Kedokteran, dan Sosial

  1. Teknologi:
    Ilmu tanpa iman melahirkan fitnah digital, hoaks, degradasi moral.

  2. Komunikasi:
    Orang pintar komunikasi bisa menipu, tetapi orang beriman menyampaikan yang benar.

  3. Transportasi:
    Dunia makin cepat, tetapi hati makin lambat mengingat Allah.

  4. Kedokteran:
    Dokter menyembuhkan, tetapi hanya Allah yang memberi kesembuhan.

  5. Sosial:
    Banyak “cerdas-cerdas gelap” – pikiran maju tetapi hati mati.


HIKMAH

  1. Tangisan Ali adalah tangisan kecerdasan.
  2. Rasulullah hadir diam-diam—pendidikan melalui keteladanan.
  3. Allah meluruskan pemahaman hamba-hamba pilihan-Nya.
  4. Ilmu = iman + amal + adab.
  5. Siapa yang bangun di malam Rajab, Allah bukakan pintu rahmat.

MUHASABAH & CARANYA

1. Tanyakan pada diri sendiri:

  • Sudahkah ilmu membuatku semakin tawadhu?
  • Apakah aku lebih sibuk dengan gadget daripada Al-Qur’an?
  • Apakah tangisku seperti Ali atau sekadar karena dunia?

2. Lakukanlah:

  • Bangun malam 2 rakaat setiap hari.
  • Baca 10 ayat dengan tadabbur.
  • Istighfar 100 kali.
  • Sedekah harian minimal seribu rupiah.
  • Jadikan doa sebagai rutinitas, bukan cadangan akhir.

DOA

Allahumma infa‘na bimā ‘allamtana, wa ‘allimnā mā yanfa‘unā, wazidnā ‘ilman wa fahman wa nūran.
Ya Allah, manfaatkanlah ilmu yang Engkau ajarkan kepada kami, ajarkanlah yang bermanfaat bagi kami, dan tambahkan kepada kami ilmu, pemahaman, dan cahaya.


NASEHAT TOKOH SUFI

Hasan al-Bashri:
“Ilmu bukan banyaknya riwayat, tetapi cahaya dalam hati.”

Rabi‘ah al-Adawiyah:
“Ilmu yang tidak mendekatkanmu kepada Allah, itu adalah hijab.”

Abu Yazid al-Bistami:
“Semakin aku mengenal Allah, semakin aku melihat kebodohanku.”

Junaid al-Baghdadi:
“Ilmu adalah warisan para nabi; adab adalah mahkota ilmu.”

Al-Hallaj:
“Yang mengetahui adalah yang fana dalam Tuhannya.”

Imam al-Ghazali:
“Tujuan ilmu adalah amal, tujuan amal adalah ikhlas.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani:
“Ilmu tanpa iman adalah bencana; iman tanpa ilmu adalah kelalaian.”

Jalaluddin Rumi:
“Ilmu adalah lentera, iman adalah minyaknya.”

Ibnu ‘Arabi:
“Ilmu sejati adalah mengenal bahwa tiada selain Dia.”

Ahmad al-Tijani:
“Ilmu adalah jalan menuju ma’rifat, dan ma’rifat adalah jalan menuju keselamatan.”


TESTIMONI ULAMA INDONESIA

Gus Baha’:
“Ayat ini menjelaskan: wong sing ngerti Pengeran, ora iso disamakan karo wong sing mung ngerti dunia.”

Ustadz Adi Hidayat:
“Ilmu yang benar selalu mengantar kepada iman dan amal. Itulah maksud QS Az-Zumar:9.”

Buya Yahya:
“Bedakan orang cerdas dengan orang berilmu. Cerdas itu otak, berilmu itu hati.”

Ustadz Abdul Somad:
“Ilmu yang membuatmu takut kepada Allah, itulah ilmu yang bermanfaat.”


DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Qur’an dan Tafsir Ibnu Katsir
  2. Tafsir al-Qurthubi
  3. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  4. Al-Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi
  5. Fath ar-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  6. Ar-Risalah al-Qusyairiyyah
  7. Musnad Ahmad dan Shahih Muslim
  8. Kitab Hikam – Ibn Athaillah
  9. Majmu’ Fatawa – Ibn Taymiyyah

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada para pembaca, para pencari ilmu, para guru, dan semua yang terus menjaga cahaya Al-Qur’an di tengah kecanggihan dunia.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang sopan dan santai dari artikel tersebut, dengan tetap mempertahankan kehormatan dan kesakralan ayat Al-Qur'an dan Hadits.


---


Judul: Malam di Rajab, Tangis Ali, dan Pesan buat Gen Z


Penulis: M. Djoko Ekasanu


Intro: Bayangin,suatu malam di bulan Rajab yang penuh berkah. Rasulullah ﷺ cek ke masjid, penasaran ada sahabat yang lagi "grind" ibadah tengah malam nggak.


Scene 1: The Unexpected Feels Di sudut masjid,beliau denger suara tangis. Ternyata, Ali bin Abi Thalib lagi sholat dan baca Al-Qur'an. Dia pengen khatam dalam dua rakaat, no cap! Pas sampai di ayat ini, dia nggak bisa bendung air mata:


"Katakanlah! Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang-orang yang memiliki akal sempurnalah dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar: 9)


Nangisnya sampai beneran netesin sajadah, guys. Rasulullah ﷺ yang ngelihat ini ikut terharu dan pulang dengan hati yang seneng. Mereka nggak sadar kalau doi lagi diawasin sama yang punya masjid.


Scene 2: Clarification from The Top G Pas Subuh,usai sholat berjamaah, Rasulullah ﷺ tanya ke Ali dengan penuh good vibes.


"Woi, Ali, kenapa lu nangis banget pas baca ayat itu?"


Ali jawab dengan humble banget: "Ya Rasul, gimana gue nggak nangis? Ayat bilang orang berilmu nggak sama kayak yang nggak. Bapak kita, Nabi Adam, kan diajarin semua nama sama Allah. Kita mah levelnya jauh banget, mana bisa nyamain?"


Plot twist! Tiba-tiba, Malaikat Jibril datang dan kasih klarifikasi ke Rasulullah ﷺ.


"Wahai Muhammad, kasih tau ke Ali, maksud ayat itu bukan gitu. Intinya, besok di Hari Kiamat, orang kafir dan orang mukmin nggak akan disamain. Orang mukmin itu nyembah Allah, zikir 'La ilaha illallah', kalau berbuat baik seneng, kalau salah langsung minta ampun. Kalo lagi jalan jauh, mereka boleh ngeshort sholat dan buka puasa, itu nggak dosa. Final destination-nya beda: neraka buat yang kafir, surga buat yang mukmin."


Intisari Buat Kita: Jadi,yang dimaksud "orang yang berilmu" di ayat itu bukan sekadar yang pinter ngafalin teori. Tapi orang yang ilmunya bikin dia makin deket sama Allah, makin humble, dan makin rajin ibadah.


Relevansi di Zaman Now: Di zaman yang super canggih ini,di mana:


· Teknologi: AI bisa nulis esai, tapi hati bisa tetep kosong.

· Komunikasi: Bisa video call ke mana aja, tapi komunikasi sama Yang Di Atas malah jarang.

· Kedokteran: Bisa operasi pake robot, tapi lupa bahwa yang nyembuhin tetap Allah.

· Sosial Media: Banyak orang pamer "ilmu" dan "kebaikan", tapi batinnya belum tentu ikhlas.


Ayat ini ngingetin kita: Jangan samain orang yang sekadar tahu banyak hal dengan orang yang tahu diri dan tahu Tuhannya.


Hikmah & Take Home Message:


1. Attitude di Atas Ilmu: Kelas banget nih attitude Ali. Semakin pintar, malah semakin ngerasa kecil di hadapan Allah.

2. Jangan Takut Salah, tapi Mau Dilurusin: Kesalahan pemahaman Ali justru bikin turun penjelasan dari langit. Ini pelajaran buat kita buat selalu mau belajar dan dikoreksi.

3. Iman > Informasi: Di banjir informasi kayak sekarang, yang kita butuhin adalah filter iman.


Self-Reflection Buat Kita:


· Gue belajar agama buat nambahin gelar doang, atau buat makin takut sama Allah?

· Waktu gue habis buat scroll medsos atau buat baca Qur'an & tadabbur?

· Nangis gue selama ini karena apa? Karena drama hidup doang, atau pernah karena takut nggak cukup ibadah ke Allah?


Aksi Nyata Simpel:


· Coba deh grind sholat malam, seminggu sekali dulu.

· Baca Qur'an 10 ayat sehari, tapi pelan-pelan dan direnungin artinya.

· Spam istighfar 100x sebelum tidur.

· Sedekah receh aja, yang penting konsisten.

· Jadikan doa sebagai first resort, bukan last resort.


Doa Penutup: Allahumma infa‘na bimā ‘allamtana, wa ‘allimnā mā yanfa‘unā, wazidnā ‘ilman wa fahman wa nūran. (Ya Allah,bikinlah ilmu yang Elo ajarin ke gue bermanfaat, ajarin gue hal-hal yang bermanfaat, dan tambahin deh buat gue ilmu, pemahaman, dan cahaya.)


---


Quotes Tokoh Sufi buat Caption IG:


· Imam Al-Ghazali: "Tujuan ilmu itu amal, tujuan amal itu ikhlas."

· Jalaluddin Rumi: "Ilmu itu lentera, iman itu minyaknya."

· Gus Baha' (versi Indonesia): "Wong sing ngerti Pengeran, ora iso disamakan karo wong sing mung ngerti dunia." (Orang yang kenal Tuhan, nggak bisa disamain sama orang yang cuma ngerti dunia.)


Daftar Pustaka (tetap profesional, siapa tau ada yang mau deep dive): Al-Qur'an& Tafsir Ibnu Katsir, Ihya' Ulumiddin - Al-Ghazali, Kitab Hikam, dll.


Credit: Big thanks buat kalian semua para pencari ilmu sejati.Keep learning, keep humble!


832. AIR MATA ABU BAKAR: KETIKA AYAT MENJADI CERMIN CACAT DIRI.

 




AIR MATA ABU BAKAR : KETIKA AYAT MENJADI CERMIN CACAT DIRI

Oleh: M. Djoko Ekasanu



Pada suatu malam di bulan Rajab, beliau shollallaahu ‘alaihi wa sallama bangun di pertengahan malam untuk melihat ke dalam masjid apakah ada sahabat- sahabatnya yang  bangun beribadah. Ketika beliau telah dekat dengan pintu masjid, beliau mendengar suara Abu Bakar tengah menangis di dalam sholatnya. Abu Bakar ingin mengkhatamkan al-Quran di dua rakaat sholat. Ketika ia sampai pada ayat ini:

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka maka ia tambah menangis sangat bersedih. Kemudian Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallama berdiri di dekat pintu. Air mata Abu Bakar sampai menetes di atas tikar.

Kemudian    Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallama ikut menangis bersama mereka. Setelah mereka selesai dari sholat, Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallama pun pulang ke rumah dengan perasaan senang. Mereka semua tidak tahu kehadirannya shollallaahu ‘alaihi wa sallama.

Menjelang pagi, mereka datang ke masjid dan menunaikan sholat Subuh sebagai makmum di belakang Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallama. Setelah selesai sholat, Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wa sallama menghadap ke arah mereka dan bertanya dengan perasaan senang:

“Hai Abu Bakar! Mengapa kamu menangis ketika membaca ayat ini; ‘Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka’.”

Abu Bakar menjawab, “Bagaimana saya tidak menangis sedangkan Allah berfirman kalau Dia membeli diri hamba-hamba-Nya. Sedangkan ketika seorang hamba (budak) memiliki cacat maka pembeli tidak jadi membelinya atau setelah pembeli membelinya dan ternyata ada cacat yang diketahui dari hamba tersebut maka pembeli itu akan mengembalikannya. Sama halnya apabila saya memiliki cacat ketika dibeli atau setelah dibeli dan ternyata ada cacat dari diriku maka Allah pun akan mengembalikanku.    Dengan demikian saya akan menjadi salah satu dari penduduk neraka. Karena alasan itulah saya menangis.”

Kemudian   Jibril   alaihi   as-salam datang dan berkata:

“Hai Muhammad! Katakanlah kepada Abu Bakar! Ketika Allah, Sang Pembeli, mengetahui cacat hamba, kemudian Dia membelinya dengan kondisi ada cacat, maka bagi-Nya tidak punya hak untuk mengembalikan karena Allah telah mengetahui cacat hamba sebelum Dia menciptakannya. Dengan kondisi hamba memiliki cacat, Allah tetap membelinya. Kemudian Dia tidak akan mengembalikannya padahal cacat tersebut diketahui setelah dibeli. Sama halnya, orang telah membeli sepuluh budak. Dari sepuluh budak tersebut, ternyata ia menemukan hanya satu budak saja yang tidak memiliki cacat. Kemudian ia hendak hanya mempertahankan yang tidak bercacat dan mengembalikan lainnya yang bercacat.

Padahal Syariat memerintahkannya untuk tidak mengembalikan budak lainnya itu, tetapi menerima seluruhnya. Allah telah membeli seluruh orang-orang mukmin. Masuk dalam transaksi penjualan adalah para nabi, hamba-hamba pilihan, dan para rasul. Dengan demikian, diketahui bahwa hamba yang memiliki cacat tidak akan dikembalikan oleh Allah.”

Kemudian Rasulullahshollallaahu ‘alaihi wa sallama dan para sahabatnya pun senang.


Ringkasan Redaksi Asli

Kisah ini terjadi pada malam Rajab. Rasulullah ﷺ bangun di tengah malam untuk melihat sahabat-sahabatnya yang sedang beribadah di masjid. Beliau mendapati Abu Bakar r.a. menangis dalam shalat ketika membaca ayat:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka…” (QS. At-Taubah: 111)

Abu Bakar menangis karena merasa dirinya “cacat” sebagai hamba, sehingga takut Allah tidak menerimanya. Jibril turun membawa kabar: Allah membeli hamba-hamba-Nya dengan mengetahui cacat mereka, dan tidak akan mengembalikan mereka. Maka Rasulullah ﷺ dan para sahabat bergembira.


Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa awal Islam, para sahabat hidup dalam tekanan besar: jihad, perjuangan dakwah, kemiskinan, dan ancaman Quraisy. Ayat At-Taubah: 111 turun pada konteks jihad fisabilillah sebagai ikatan jual beli spiritual: Allah membeli diri dan harta orang beriman sebagai harga surga.

Para sahabat benar-benar memahami beratnya akad ini, sehingga ayat tersebut membuat hati Abu Bakar r.a.—manusia terbaik setelah nabi—teringat kekurangan dirinya.


Sebab Terjadinya Masalah

Masalah muncul bukan karena ayat, tetapi karena rasa takut Abu Bakar terhadap kualitas dirinya. Ia khawatir cacatnya sebagai manusia menjadikannya tidak pantas dibeli Allah.

Ini menunjukkan:

  1. Kepekaan iman yang sangat tinggi
  2. Kecerdasan spiritual
  3. Rendah hati yang mendalam

Dan Allah menurunkan jawaban melalui Jibril: Allah membeli kita lengkap dengan cacat-cacat kita.


Intisari Judul

“Ketika rasa hina di hadapan Allah justru mendatangkan penerimaan.”
Air mata Abu Bakar bukan kelemahan, tetapi kekuatan iman yang paling tinggi.


Tujuan dan Manfaat

  1. Meneguhkan keyakinan bahwa Allah menerima hamba yang penuh kekurangan.
  2. Mengingatkan pentingnya muhasabah (introspeksi diri).
  3. Menghidupkan rasa takut dan harap kepada Allah secara seimbang.
  4. Menguatkan masyarakat modern yang sering merasa tidak cukup baik di mata Tuhan.
  5. Menanamkan akhlak tawadhu dan rasa berserah diri.

DALIL AL-QUR’AN & HADIS

1. Al-Qur’an

  • QS. At-Taubah: 111
    Menggambarkan akad antara Allah dan hamba.

  • QS. Al-Zumar: 53
    “Jangan berputus asa dari rahmat Allah…”

  • QS. Al-Ankabut: 69
    “Barangsiapa bersungguh-sungguh di jalan Kami, Kami akan menunjukkannya jalan-jalan Kami.”

2. Hadis Nabi ﷺ

  • “Hati seorang mukmin berada antara rasa takut dan harap.” (HR. Tirmidzi)
  • “Allah tidak melihat rupa kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
  • “Setiap anak Adam penuh kesalahan, dan sebaik-baik yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi)

Analisis dan Argumentasi

1. Allah membeli dengan mengetahui cacat kita

Menurut logika jual beli, pembeli boleh mengembalikan barang cacat jika cacat itu tidak diketahui.
Tetapi Allah Maha Mengetahui, bahkan sebelum kita diciptakan. Maka “pengembalian” tidak relevan, tidak mungkin.

2. Abu Bakar sebagai tolok ukur kepekaan iman

Jika manusia setinggi Abu Bakar merasa dirinya cacat, apa kabar kita?

Namun justru karena itu, kisah ini memberikan harapan sepenuhnya kepada umat:

Allah mencintai hamba yang merasa tidak pantas, tapi tetap mendekat.

3. Kekuatan spiritual dari rasa hina diri

Rasa hina diri bukan depresi, tetapi kesadaran spiritual yang menumbuhkan:

  • keikhlasan
  • tangisan
  • tawadhu
  • amal yang bersih dari riya

Keutamaan-keutamaannya

  1. Ayat ini menjadi janji surga bagi orang beriman.
  2. Menghidupkan rasa takut yang menyehatkan hati.
  3. Meneguhkan keyakinan bahwa rahmat Allah melampaui seluruh cacat hamba.
  4. Menjadi sumber konsistensi dalam ibadah.
  5. Mendidik hamba agar tidak sombong dengan amal.

Relevansi Zaman Modern: Teknologi, Komunikasi, Transportasi, Kedokteran, Sosial

1. Di era teknologi dan AI

– Manusia merasa semakin “sempurna”, tetapi secara spiritual semakin kosong.
Ayat ini menegaskan: Allah menerima kita bukan karena kecanggihan kita, tetapi ketundukan hati.

2. Di zaman komunikasi cepat

– Banyak manusia tampil hebat di dunia digital, tetapi rapuh dalam batin.
Air mata Abu Bakar mengajarkan kejujuran pada diri sendiri.

3. Di bidang kedokteran

– Ilmu medis mampu mendeteksi cacat tubuh, tetapi hanya Allah yang mengetahui cacat hati.

4. Dalam kehidupan sosial

– Masyarakat sering menilai dari performa luar.
Allah menilai dari hati.


Hikmah

  1. Keikhlasan adalah mahkota hamba.
  2. Rasa takut membuat iman stabil.
  3. Allah mencintai hamba yang datang dengan cacat, bukan hamba yang pura-pura sempurna.
  4. Air mata lebih tinggi nilainya daripada seribu kata-kata.

Muhasabah & Cara Melakukannya

Langkah-langkah muhasabah Abu Bakar

  1. Duduk tenang sebelum tidur.
  2. Mengulang ayat At-Taubah:111 secara perlahan.
  3. Bertanya:
    • Apa cacatku hari ini?
    • Amalku dijalankan karena Allah atau manusia?
  4. Menangislah jika mampu.
  5. Akhiri dengan istighfar dan harapan pada rahmat-Nya.

Doa

Allahumma innaka isytaraita anfusana wa amwaalana, fajalnaa min syira’ika, wa la taruddanaa bi ‘uyubinaa. Ya Allah, Engkau membeli diri kami dan harta kami. Terimalah kami apa adanya, dengan cacat kami, dan jangan Engkau kembalikan kami karena kekurangan kami. Amin.


Nasehat Para Sufi Besar

Hasan Al-Bashri

“Seorang mukmin adalah yang paling keras muhasabah terhadap dirinya.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka atau berharap surga, tetapi karena Engkau layak disembah.”

Abu Yazid al-Bistami

“Jalan menuju Allah adalah pengakuan terus-menerus akan kekurangan diri.”

Junaid al-Baghdadi

“Tasawuf adalah mematikan diri dari kekuranganmu dan hidup dalam sifat-sifat-Nya.”

Al-Hallaj

“Ketika seorang hamba melihat cacat dirinya, ia melihat keindahan Tuhannya.”

Imam al-Ghazali

“Jangan berputus asa, karena putus asa adalah pintu setan.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Kelemahanmu adalah pintu yang Allah pilih untuk memasukkan rahmat-Nya.”

Jalaluddin Rumi

“Luka adalah tempat cahaya masuk.”

Ibnu ‘Arabi

“Allah mencintai yang bergantung, bukan yang merasa cukup.”

Ahmad al-Tijani

“Tiada jalan lebih cepat menuju Allah selain merendahkan diri di hadapan-Nya.”


Testimoni Tokoh Indonesia

Gus Baha

“Abu Bakar itu menangis bukan karena takut Allah, tetapi takut tidak pantas dicintai Allah.”

Ustadz Adi Hidayat

“Ayat 111 At-Taubah adalah akad tertinggi antara Allah dan hamba.”

Buya Yahya

“Kisah ini bukti bahwa orang mulia justru paling takut cacat di hadapan Allah.”

Ustadz Abdul Somad

“Kisah Abu Bakar menunjukkan bahwa iman itu bukan pada banyaknya amal, tapi pada ketundukan hati.”


Daftar Pustaka

  1. Al-Qur’an dan Terjemahannya (Kemenag RI)
  2. Sirah Nabawiyah – Ibn Hisyam
  3. Al-Bidayah wa al-Nihayah – Ibn Katsir
  4. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  5. Qut al-Qulub – Abu Thalib al-Makki
  6. Hilyatul Auliya – Abu Nu’aim
  7. Tafsir At-Tabari, Al-Qurthubi, Ibn Katsir

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang terus menjaga cahaya ilmu serta mencintai kisah-kisah keteladanan para sahabat. Semoga kisah ini menjadi pelipur hati dan penguat iman dalam kehidupan modern yang serba cepat dan melelahkan.


Coba redaksi tersebut diatas dibuat versi bahasa gaul kekinian sopan santun santai.

(Untuk arti ayat qur'an, arti ayat hadisnya tetap tidak diganti bahasa gaul).