Thursday, December 25, 2025

880. Dekat dengan Nabi, Selamat dalam Iman

 


......

🌿 Dekat dengan Nabi, Selamat dalam Iman

QS. Ali ‘Imran ayat 68–70,

Allah ﷻ menegaskan dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman. Dan Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman.”

(QS. Ali ‘Imran: 68)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa kedekatan dengan para nabi tidak ditentukan oleh nasab, suku, atau klaim lisan, melainkan oleh iman dan ketaatan. Siapa pun yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ dengan iman yang benar, maka dialah yang paling dekat dengan Nabi Ibrahim dan seluruh nabi Allah.

Allah lalu mengingatkan:

“Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka tidak menyesatkan kecuali diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.”

(QS. Ali ‘Imran: 69)

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini sebagai peringatan agar kaum mukmin tidak terpedaya oleh ajakan yang menjauhkan dari tauhid dan sunnah, meskipun dibungkus dengan ilmu, toleransi, atau kebaikan semu. Kesesatan tidak akan membahayakan orang beriman selama ia berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Kemudian Allah berfirman:

“Wahai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu menyaksikannya?”

(QS. Ali ‘Imran: 70)

Menurut Ibnu Katsir, ayat ini adalah teguran keras terhadap orang yang mengetahui kebenaran namun menolaknya karena hawa nafsu dan kepentingan dunia. Ilmu tanpa keimanan hanya akan menjadi hujjah yang memberatkan di hadapan Allah.

✨ Inti Motivasi

Kemuliaan di sisi Allah ditentukan oleh iman dan ketaatan, bukan identitas atau pengakuan.

Keselamatan akidah ada pada istiqamah mengikuti Rasulullah ﷺ.

Ilmu harus melahirkan ketundukan, bukan kesombongan.

Allah sendiri menjadi pelindung orang-orang yang beriman.

🤲 Penutup Renungan

Mari kita jujur pada diri sendiri:

Apakah iman kita sudah benar-benar diwujudkan dalam amal, akhlak, dan kesetiaan pada ajaran Nabi ﷺ?

Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang dekat dengan para nabi melalui iman dan amal shalih, serta dijaga dari kesesatan yang tampak indah namun menipu.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

🌙 Muhasabah Diri

Marilah kita berhenti sejenak dan bertanya pada hati kita:

Apakah aku sudah benar-benar mengikuti Rasulullah ﷺ dalam akidah, ibadah, dan akhlak?

Apakah imanku hanya di lisan, atau sudah tampak dalam amal keseharian?

Apakah aku mencari kebenaran karena Allah, atau karena kebiasaan, lingkungan, dan kepentingan dunia?

Ketika kebenaran datang, apakah aku tunduk atau justru menolaknya karena gengsi dan hawa nafsu?

QS. Ali ‘Imran ayat 68–70 mengingatkan bahwa kedekatan dengan para nabi bukan karena pengakuan, tetapi karena ketaatan. Ilmu tanpa iman hanya akan menjadi saksi yang memberatkan di hadapan Allah.

🪞 Cara Bermuhasabah

Luruskan niat Hadirkan niat bahwa muhasabah ini untuk memperbaiki diri, bukan menyalahkan orang lain.

Ukur diri dengan Al-Qur’an dan Sunnah Bandingkan ucapan, sikap, dan pilihan hidup kita dengan ajaran Rasulullah ﷺ.

Evaluasi iman dan amal Tanya diri: adakah perintah Allah yang masih aku lalaikan? Adakah larangan-Nya yang masih aku kerjakan?

Sadari kelemahan diri Akui dosa tanpa mencari pembenaran, karena pengakuan adalah pintu taubat.

Perbarui tekad Niatkan perubahan walau kecil, namun istiqamah dan ikhlas.

🤲 Doa

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا نَبِيَّكَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِدْقًا وَعَمَلًا،

وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْ يَعْرِفُ الْحَقَّ ثُمَّ يُخَالِفُهُ،

وَاجْعَلْنَا مِنْ أَوْلِيَائِكَ الَّذِينَ تَوَلَّيْتَهُمْ بِرَحْمَتِكَ.

Artinya:

“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang-orang yang benar-benar mengikuti Nabi-Mu Muhammad ﷺ dengan iman dan amal. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang yang mengetahui kebenaran lalu menyelisihinya. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang Engkau lindungi dengan rahmat-Mu.”

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ

🌸 Ucapan Terima Kasih

Terima kasih ya Allah atas hidayah iman dan Islam.

Terima kasih atas Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup.

Terima kasih atas Rasulullah ﷺ sebagai teladan sempurna.

Semoga apa yang kita baca, dengar, dan renungkan hari ini menjadi cahaya di hati, penguat iman, dan sebab husnul khatimah.

Barakallahu fiikum.

........

🌿 Deket Sama Nabi, Aman Iman Kita


QS. Ali ‘Imran ayat 68–70


Allah ngingetin gini:


“Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman. Dan Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 68)


Menurut Ibnu Katsir, nih, deket sama nabi itu nggak diliat dari garis keturunan, suku, atau sekadar ngaku-ngaku doang. Tapi dari iman dan ketaatan kita. Siapa pun yang ngikutin ajaran Nabi Muhammad ﷺ dengan iman yang bener, dialah yang paling deket sama Nabi Ibrahim dan semua nabi.


Terus Allah ingetin:


“Segolongan dari Ahli Kitab ingin menyesatkan kamu, padahal mereka tidak menyesatkan kecuali diri mereka sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya.” (QS. Ali ‘Imran: 69)


Ini peringatan buat kita, jangan sampe kejebak ajakan yang bikin kita jauh dari tauhid dan sunnah, meskipun kedengerannya keren, toleran, atau kayaknya baik. Selama kita pegang teguh Al-Qur’an dan Sunnah, kita aman.


Lalu Allah tegur:


“Wahai Ahli Kitab, mengapa kamu mengingkari ayat-ayat Allah, padahal kamu menyaksikannya?” (QS. Ali ‘Imran: 70)


Ini teguran buat yang udah tahu kebenaran, tapi malah nolak karena ego dan kepentingan dunia. Ilmu yang nggak dibarengin iman cuma bakal jadi beban di akhirat nanti.


---


✨ Intinya


· Keren di mata Allah itu ditentukan sama iman dan taat, bukan sekedar label atau pengakuan.

· Amannya akidah kita ya dengan istiqamah ngikut Rasulullah ﷺ.

· Ilmu yang bermanfaat itu yang bikin kita tunduk, bukan malah sombong.

· Allah sendiri yang jadi pelindung orang-orang beriman.


---


🤲 Yuk, Jujur Sama Diri Sendiri


· Iman kita udah kecekungin dalam amal, akhlak, dan kesetiaan kita nggak sih sama ajaran Nabi ﷺ?

· Atau masih sebatas status di medsos dan ucapan doang?

· Semoga kita termasuk orang-orang yang deket sama para nabi karena iman dan amal kita, dan dijaga dari penyesatan yang keliatannya manis.


Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


---


🌙 Me-time Buat Hati


Yuk, pause bentar, tanya hati:


· “Gue beneran ngikut Rasulullah ﷺ nggak sih, dari cara pandang, ibadah, sampe sikap sehari-hari?”

· “Iman gue cuma di kata-kata, atau udah keliatan dari gaya hidup?”

· “Gue cari kebenaran karena Allah, atau cuma ikut-ikutan dan biar dibilang ‘open-minded’?”

· “Pas ketemu kebenaran yang bikin nggak nyaman, gue nerima atau malah nolak karena gengsi?”


Ayat tadi ngasih reminder: kedekatan sama nabi itu lewat ketaatan, bukan klaim. Ilmu tanpa iman cuma bakal jadi saksi yang nyusahin kita sendiri di depan Allah.


---


🪞 Cara Ngecek Diri (Muhasabah Ala Kita)


1. Lurusin Niat: Ini buat perbaikan diri, bukan buat nyalahin orang lain atau ngerasa paling bener.

2. Bandangin Diri sama Al-Qur’an & Sunnah: Cocokin omongan, sikap, dan pilihan hidup kita sama ajaran Rasulullah ﷺ. Ada yang melenceng?

3. Evaluasi Iman & Amal: Ada perintah Allah yang masih gue skip nggak? Ada larangan yang masih gue rempelin?

4. Akui Kelemahan: Nggak usah cari pembenaran, mengaku aja kalau ada yang salah. Itu pintu taubat.

5. Gas Pol Niat Perbaikan: Tekadin buat berubah, mulai dari hal kecil yang bisa dijaga terus.


---


🤲 Doa (Bahasanya Tetap Arab & Terjemahannya)


اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا نَبِيَّكَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِدْقًا وَعَمَلًا، وَلَا تَجْعَلْنَا مِمَّنْيَعْرِفُ الْحَقَّ ثُمَّ يُخَالِفُهُ، وَاجْعَلْنَا مِنْأَوْلِيَائِكَ الَّذِينَ تَوَلَّيْتَهُمْ بِرَحْمَتِكَ.


Artinya: “Ya Allah,jadikanlah kami termasuk orang-orang yang benar-benar mengikuti Nabi-Mu Muhammad ﷺ dengan iman dan amal. Jangan Engkau jadikan kami termasuk orang yang mengetahui kebenaran lalu menyelisihinya. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang Engkau lindungi dengan rahmat-Mu.”


Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


---


🌸 Note Buat Diri Sendiri


· Makasih ya Allah buat hidayah iman dan Islam.

· Makasih buat Al-Qur’an yang jadi GPS hidup.

· Makasih buat Rasulullah ﷺ yang jadi role model sempurna.

· Semoga apa yang kita baca dan renungin hari ini bikin hati lebih cerah, iman makin kuat, dan bawa kita ke akhir yang baik.


Barakallahu fiikum. Semoga Allah kasih kalian keberkahan!🙏

........

 muktarul ahadis no. 2

🌿 Menjaga Lisan, Jalan Menuju Keselamatan Iman 🌿

Islam mengajarkan bahwa kebaikan dan keburukan tidak hanya diukur dari perbuatan, tetapi juga dari ucapan. Rasulullah ﷺ menasihati agar seorang Muslim mengerjakan kebaikan dan menjauhi kejahatan, serta berpikir sebelum berbicara—apa yang ia suka didengar, itulah yang pantas ia ucapkan; dan apa yang ia benci didengar, itulah yang wajib ia jauhi.

Allah ﷻ berfirman:

“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.”

(QS. Al-Isrā’: 53)

Ayat ini menegaskan bahwa perkataan baik adalah perintah langsung dari Allah, karena ucapan yang buruk sering menjadi pintu masuk permusuhan, kebencian, dan perpecahan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.”

(HR. Bukhari dan Muslim)

Ucapan yang baik akan menenangkan hati, menguatkan persaudaraan, dan mengundang rahmat Allah. Sebaliknya, ucapan yang menyakiti, meskipun dianggap sepele, bisa menjadi sebab penyesalan di dunia dan siksa di akhirat.

Maka sebelum berbicara, timbanglah dengan iman:

Apakah ucapan ini mendekatkan kepada Allah?

Apakah ini menenangkan atau justru melukai?

Apakah kita rela jika ucapan itu diarahkan kepada diri kita sendiri?

Menjaga lisan adalah cermin kedewasaan iman. Dari lisan yang terjaga, lahirlah kebaikan; dan dari kebaikan, Allah bukakan pintu keberkahan hidup 🌸.

......

🌙 Muhasabah Diri

Mari kita bertanya dengan jujur kepada diri sendiri:

Sudahkah lisan ini lebih banyak menyebut kebaikan daripada keburukan?

Berapa kali ucapan kita menenangkan hati orang lain, dan berapa kali justru melukainya?

Apakah setiap kata yang keluar dari mulut kita sudah dipikirkan dengan akal dan ditimbang dengan iman?

Ingatlah, setiap ucapan dicatat oleh malaikat, tidak ada satu huruf pun yang terlewat.

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”

(QS. Qāf: 18)

🪶 Cara Bermuhasabah Lisan

Diam sejenak sebelum berbicara

Tanyakan pada diri: apakah ini benar, perlu, dan baik?

Bandingkan dengan telinga sendiri

Jika kita tidak suka mendengarnya, maka jangan mengucapkannya.

Evaluasi di akhir hari

Ingat kembali ucapan hari ini: mana yang mendatangkan pahala, mana yang butuh taubat.

Perbanyak dzikir dan istighfar

Agar lisan terbiasa dengan kalimat yang dicintai Allah.

🤲 Doa

Allahumma ihdī lisānanā li dzikrika,

wa jannibnā min su’il kalām,

waj‘al kalāmana khairan wa shidqan,

wa ighfir lanā mā zalla min aqwālinā.

Artinya:

Ya Allah, tuntunlah lisan kami agar selalu berdzikir kepada-Mu.

Jauhkan kami dari ucapan yang buruk.

Jadikan perkataan kami baik dan benar.

Ampunilah kesalahan ucapan yang pernah keluar dari lisan kami.

🌸 Ucapan Terima Kasih

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang telah memberi nikmat iman, akal, dan lisan.

Semoga kita termasuk hamba-hamba-Nya yang menjaga ucapan, menyebarkan kebaikan, dan dijauhkan dari kata-kata yang menyakiti.

Semoga Allah membalas setiap niat baik dengan pahala yang berlipat dan menutup aib kita di dunia dan akhirat. Āmīn.

............

🌿 Jaga Omongan, Kunci Iman Tetap Aman 🌿


Di Islam, baik enggaknya kita dinilai bukan cuma dari perbuatan, tapi juga dari omongan. Rasulullah ﷺ ngasih tips: kalau mau jadi Muslim yang oke, perbanyak yang baik, jauhin yang jahat. Pikir dulu sebelum ngomong—kalo lo suka denger omongan itu, berarti itu pantas diucapin. Kalo lo sebel dengerinnya, berarti itu harus dijauhin.


Allah ﷻ juga bilang:


“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku agar mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.” (QS. Al-Isrā’: 53)


Ayat ini ngingetin kalau ngomong yang baik itu perintah langsung dari Allah. Soalnya, omongan yang nyakitin sering bikin rusuh, munculin dendam, dan bikin renggang persaudaraan.


Rasulullah ﷺ pernah bilang juga:


“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Omongan yang baik itu bikin hati adem, hubungan makin akrab, dan bikin Allah sayang. Sebaliknya, omongan yang nyakitin, sekecil apapun, bisa bikin nyesel di dunia dan bahaya di akhirat nanti.


Jadi, sebelum ngomong, cek dulu sama hati dan iman:


• Apa omongan ini bikin deket sama Allah? •Ini bikin nyaman atau malah nyakitin? •Kalo omongan ini diarahin ke kita, kita rela enggak?


Jaga omongan itu cerminan iman kita udah mateng. Dari mulut yang terjaga, muncul kebaikan; dari kebaikan itu, Allah bukain pintu berkah buat hidup kita 🌸.


---


🌙 Cek Dulu Deh, Yuk!


Mari kita introspeksi sejenak:


• Sehari-hari, mulut kita lebih banyak ngomongin yang baik atau yang negatif? •Berapa kali omongan kita bikin orang lain lega, dan berapa kali malah bikin sakit hati? •Apa tiap kata yang keluar udah kita pikir matang-matang pake akal sehat dan timbang pake iman?


Inget, semua omongan kita dicatat malaikat, gak ada satu kata pun yang kelewat.


“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qāf: 18)


🪶 Tips Jaga Omongan Ala Kekinian


1. Jeda dulu sebelum ngomong. Jangan buru-buru. Ambil napas.

2. Tanya diri sendiri: Ini bener gak? Perlu gak? Baik gak?

3. Bayangin kalo kita yang denger. Kalo kita sebel dengerinnya, ya jangan diucapin.

4. Evaluasi di akhir hari. Ingat-ingat lagi omongan hari ini: mana yang bermanfaat, mana yang harus minta maaf.

5. Biasain dzikir & minta ampun. Biar mulut kita terbiasa sama kata-kata yang disayang Allah.


🤲 Doa Singkat Biar Mulut Tetap Berkah


Allahumma ihdī lisānanā li dzikrika, wa jannibnā min su’il kalām, waj‘al kalāmana khairan wa shidqan, wa ighfir lanā mā zalla min aqwālinā.


Artinya: Ya Allah,arahin mulut kami biar selalu ingat sama-Mu. Jauhin kami dari omongan jelek. Jadikan omongan kami baik dan bener. Maafin deh semua salah omong yang pernah keceletuk.


🌸 Penutup


Alhamdulillah ya, semua puji buat Allah yang udah kasih kita iman, akal, dan mulut buat ngomong.

Semoga kita jadi orang-orang yang jaga omongan, sebarkan hal-hal positif, dan dijauhin dari kata-kata yang nyakitin.

Semoga Allah balas semua niat baik kita dengan pahala yang banyak dan nutupin semua salah kita. Āmīn!

............


 muktarul ahadis Hadis : 1. 

“Mengetuk Pintu Surga Bersama Rasulullah ﷺ”

Aku (Nabi) datang pada pintu surga di hari kiamat, lalu aku minta di bukakan pintu itu, maka berkata penjaganya : Siapakah engkau ini ? Maka aku berkata : Muhammad. Maka berkata orang yang menjaga pintu : Aku diperintah bahwa jangan membuka pintu surga bagi seorangpun sebelum engkau.”

 (HR. Ahmad, dari Anas ra.).

.......

Hadis yang agung ini menunjukkan kemuliaan Rasulullah ﷺ di sisi Allah. Di hari kiamat, ketika seluruh manusia menanti dengan penuh kecemasan, Nabi Muhammad ﷺ menjadi orang pertama yang mengetuk pintu surga, dan pintu itu tidak dibuka untuk siapa pun sebelum beliau. Ini adalah bukti bahwa jalan keselamatan dan kebahagiaan akhirat hanya melalui mengikuti beliau ﷺ.

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang akan diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.”

(QS. An-Nisā’: 69)

Ayat ini menegaskan bahwa ketaatan kepada Rasulullah ﷺ adalah tiket menuju surga. Tidak cukup hanya mengaku cinta, tetapi harus diwujudkan dengan mengikuti sunnah beliau dalam akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.”

Para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Barangsiapa menaatiku maka ia masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku maka ia telah enggan.”

(HR. Al-Bukhari)

Motivasi untuk kita:

Jika pintu surga saja dibuka pertama kali karena kemuliaan Nabi ﷺ, maka keselamatan kita bergantung pada seberapa dekat kita dengan sunnah beliau. Perbanyak shalawat, perbaiki akhlak, jujur dalam muamalah, lembut kepada sesama, dan teguh dalam tauhid.

Cinta kepada Nabi ﷺ bukan sekadar ucapan, tetapi ketaatan yang nyata.

Semoga Allah mengumpulkan kita di belakang Rasulullah ﷺ, dan memasukkan kita ke dalam surga melalui pintu yang beliau ketuk pertama kali. Āmīn.

.......

Muhasabah (Introspeksi Diri)

Ketika kita membaca bahwa pintu surga tidak dibuka kecuali setelah Rasulullah ﷺ mengetuknya, hendaknya hati bertanya pada diri sendiri:

Sudah sejauh mana aku mengikuti Nabi ﷺ?

Apakah shalatku semakin khusyuk, akhlakku semakin lembut, lisanku terjaga, dan sunnah beliau semakin hidup dalam keseharianku? Jangan sampai kita berharap masuk surga, tetapi enggan menapaki jalan yang beliau tunjukkan.

Cara Melakukan Muhasabah

Luangkan waktu sunyi

Duduklah sejenak setelah shalat atau sebelum tidur, jauh dari hiruk pikuk dunia.

Ingat akhir perjalanan

Bayangkan hari kiamat, saat pintu surga diketuk. Di mana posisi kita saat itu?

Bandingkan diri dengan sunnah Nabi ﷺ

Dalam ibadah, akhlak, kejujuran, kesabaran, dan kasih sayang.

Akui kekurangan tanpa membela diri

Kesalahan yang diakui lebih dekat kepada ampunan.

Berniat memperbaiki diri

Walau sedikit, tetapi konsisten dan ikhlas.

Doa

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad.

Ya Allah, jadikan kami termasuk umat Nabi-Mu yang benar-benar mencintai dan mengikuti Rasul-Mu. Ampuni dosa-dosa kami, hidupkan sunnah Nabi ﷺ dalam diri kami, dan kumpulkan kami bersamanya di hari kiamat. Bukakan untuk kami pintu-pintu surga dengan rahmat-Mu. Āmīn.

Ucapan Terima Kasih

Alhamdulillāh, segala puji bagi Allah yang masih memberi kita kesempatan untuk bermuhasabah dan memperbaiki diri. Terima kasih kepada Allah yang telah mengutus Rasulullah ﷺ sebagai cahaya petunjuk. Semoga setiap nasihat ini menjadi pengingat, bukan hanya bacaan, tetapi amal nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.

......

Mengetuk Pintu Surga Bersama Rasulullah ﷺ

Hai, coba bayangin ini:

Di hari kiamat nanti, Rasulullah ﷺ dateng ke pintu surga terus ngetuk. Penjaganya nanya, “Siapa lo?”

Beliau jawab, “Muhammad.”

Si penjaga bilang, “Wah, gue dapet perintah nih, gak boleh buka pintu surga buat siapa pun sebelum elo.”

(HR. Ahmad, dari Anas ra.)


Nah, ini nunjukin betapa spesialnya Nabi ﷺ di mata Allah. Di saat semua orang lagi panik nunggu nasib, beliau jadi orang pertama yang ngetuk pintu surga — dan pintunya gak dibuka buat siapa pun sebelum beliau. Intinya, jalan menuju surga itu cuma satu: ikutin ajaran beliau ﷺ.


Allah bilang dalam Quran:

“Dan barangsiapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang akan diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.”

(QS. An-Nisā’: 69)


Artinya, kalo pengen masuk surga, ya ikutin sunnah Nabi. Gak cukup cuma bilang “gue cinta Nabi” doang, tapi harus dibuktikan lewat ibadah, akhlak, dan cara hidup sehari-hari.


Nabi ﷺ juga pernah bilang:

“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.”

Para sahabat nanya, “Siapa yang enggan, ya Rasulullah?”

Beliau jawab, “Barangsiapa menaatiku maka ia masuk surga, dan barangsiapa mendurhakaiku maka ia telah enggan.”

(HR. Al-Bukhari)


Refleksi buat kita:

Kalo pintu surga aja dibuka khusus karena Nabi ﷺ, berarti keselamatan kita tergantung seberapa dekat kita sama cara hidup beliau. Yuk, perbanyak shalawat, perbaiki akhlak, jujur dalam urusan, santun ke sesama, dan pegang teguh tauhid.


Cinta ke Nabi ﷺ itu bukan cuma lewat kata-kata, tapi lewat bukti nyata.


Semoga Allah ngumpulin kita di belakang Rasulullah ﷺ dan masukkan kita ke surga lewat pintu yang beliau buka pertama kali. Amiin.


---


Muhasabah (Cek Diri Sendiri)


Baca kisah tadi, bikin kita mikir kan?

Kalo pintu surga cuma dibuka setelah Nabi ﷺ ngetuk, gimana dengan kita? Udah sejauh apa ikutin beliau?


Coba tanya diri sendiri:


· Shalat kita udah khusyuk belum?

· Akhlak udah makin baik gak?

· Ucapan udah dijaga?

· Sunnah Nabi udah jadi bagian hidup sehari-hari?


Jangan sampai pengen masuk surga, tapi jalannya malah enggak ikutin petunjuk beliau.


Cara Muhasabah ala Kekinian:


1. Cari waktu hening

      Ambil waktu sepulang kerja/sebelum tidur, jauh dari HP dan keributan.

2. Bayangin akhir perjalanan

      Visualisasi hari kiamat, saat Nabi ﷺ ngetuk pintu surga. Kita lagi di mana?

3. Compare diri sama sunnah Nabi

      Dari ibadah, sikap, kejujuran, sampai cara ngobrol sama orang.

4. Akui salah, jangan denial

      Mengakui kekurangan itu lebih dekat ke ampunan.

5. Niat perbaiki diri, step by step

      Pelan-pelan aja, yang penting konsisten dan ikhlas.


Doa singkat yang bisa diinget:

“Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad. Ya Allah, jadikan kita bagian dari umat Nabi-Mu yang bener-bener cinta dan ikutin beliau. Ampuni dosa kita, hidupkan sunnah Nabi dalam hidup kita, dan kumpulin kita sama beliau di akhirat nanti. Bukain pintu surga buat kita dengan rahmat-Mu. Amiin.”


---


Ucapan Terima Kasih

Alhamdulillah ya, masih dikasih kesempatan buat introspeksi dan jadi lebih baik. Makasih juga buat Allah yang udah ngirim Rasulullah ﷺ sebagai panduan hidup kita. Semoga tulisan ini gak cuma jadi bacaan doang, tapi jadi pengingat buat action nyata sehari-hari.


Stay istiqamah, gaes! 💫