Thursday, February 19, 2026

967. Rumah yang Tidak Dimasuki Malaikat: Tazkiyatul Qalb di Tengah Gemerlap Dunia

 


Dalam Kitab Bayanul Mushoffa fi Wasiyatul Musthofa (Syekh Abdul Wahab asy-Sya'roni )

Hai, Ali, malaikat itu tidak mau masuk ke sebuah rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar atau patung-patung, orang yang durhaka kepada ayah dan ibunya atau rumah yang tidak pernah dimasuki oleh tamu.

.......

📖 Rumah yang Tidak Dimasuki Malaikat: Tazkiyatul Qalb di Tengah Gemerlap Dunia

Berdasarkan Kitab Bayanul Mushoffa fi Wasiyatul Musthofa karya


🌿 Muqaddimah

Dalam kitab tersebut disebutkan wasiat Nabi ﷺ kepada Sayyidina Ali r.a.:

“Wahai Ali, malaikat tidak mau masuk ke rumah yang di dalamnya terdapat gambar-gambar atau patung-patung, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, dan rumah yang tidak pernah dimasuki tamu.”

Hadits ini bukan sekadar berbicara tentang bangunan fisik, tetapi tentang rumah hati (qalb) kita. Dalam perspektif tasyawuf dan tazkiyatul nufus, rumah yang dimaksud adalah jiwa manusia. Jika hati dipenuhi “berhala-berhala dunia”, maka cahaya malaikat dan rahmat Allah enggan singgah.


1️⃣ Gambar dan Patung: Simbol Berhala Hati di Era Digital

Di zaman dahulu, gambar dan patung adalah simbol kemusyrikan.
Di zaman sekarang, “gambar dan patung” bisa bermakna lebih luas:

  • Obsesi pada citra diri di media sosial
  • Kultus terhadap tokoh, jabatan, atau harta
  • Ketergantungan pada teknologi melebihi ketergantungan kepada Allah

Allah ﷻ berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Ketika hati dipenuhi “gambar dunia”, maka fokus ibadah melemah. Teknologi komunikasi, transportasi, dan kedokteran adalah nikmat — tetapi jika ia menjadi pusat cinta, maka ia berubah menjadi berhala modern.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Muhasabah:
Apakah hati kita dipenuhi dzikir, atau dipenuhi notifikasi?


2️⃣ Durhaka kepada Orang Tua: Penghalang Rahmat

Di tengah kecanggihan zaman, komunikasi semakin mudah — tetapi adab semakin sulit.

Video call bisa lintas negara, tetapi banyak anak tak lagi lembut kepada orang tua.
Chat bisa instan, tetapi doa untuk orang tua sering terlupa.

Allah ﷻ berfirman:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua.”
(QS. Al-Isra: 23)

Dalam hadis disebutkan:

“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.”
(HR. Tirmidzi)

Dalam perspektif tasawuf, durhaka bukan hanya membentak.
Durhaka bisa berupa:

  • Tidak mendoakan
  • Tidak peduli
  • Merasa lebih pintar karena gelar dan teknologi

Muhasabah:
Sudahkah kita mencium tangan mereka hari ini?
Sudahkah kita meminta maaf sebelum terlambat?


3️⃣ Rumah yang Tidak Pernah Didatangi Tamu: Hati yang Tertutup

Rumah yang tak pernah menerima tamu adalah simbol hati yang kikir dan egois.

Di zaman modern, orang sibuk dengan gadget dan dunia virtual.
Tetangga tak dikenal.
Silaturahmi tergantikan pesan singkat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Dalam hadis qudsi Allah berfirman:

“Wahai anak Adam, Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku...”
(HR. Muslim)

Maksudnya: Allah memuliakan hamba-Nya yang peduli kepada sesama.

Teknologi transportasi memudahkan perjalanan.
Tetapi apakah kita gunakan untuk silaturahmi atau hanya untuk rekreasi dunia?

Muhasabah:
Kapan terakhir kali rumah kita dipenuhi doa tamu?
Kapan terakhir kali hati kita terbuka untuk orang lain?


🌸 Pesan Tazkiyatul Nufus

Saudaraku…

  • Bersihkan rumah dari gambar yang melalaikan.
  • Bersihkan hati dari kesombongan digital.
  • Bersihkan lisan dari kedurhakaan kepada orang tua.
  • Bukalah pintu rumah dan pintu hati untuk tamu dan saudara.

Karena malaikat tidak hanya masuk ke rumah fisik,
tetapi juga masuk ke hati yang bersih.

Allah berfirman:

يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ ۝ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
“Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.”
(QS. Asy-Syu’ara: 88–89)


🤲 Doa

Ya Allah…
Bersihkan hati kami dari berhala dunia.
Jauhkan kami dari durhaka kepada orang tua.
Jadikan rumah kami tempat turunnya malaikat dan rahmat-Mu.
Lembutkan hati kami di tengah kerasnya zaman teknologi.
Jadikan kecanggihan dunia sebagai jalan mendekat kepada-Mu, bukan menjauh dari-Mu.
Karuniakan kepada kami qalbun salim saat kami kembali kepada-Mu.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.


🌿 Penutup

Semoga tauziah ini menjadi bahan muhasabah bagi diri kita semua.
Bukan untuk menghakimi zaman, tetapi untuk memperbaiki hati di tengah zaman.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk membaca dan merenung.
Semoga Allah membalas kebaikan Anda dengan cahaya di dunia dan akhirat. 🤲

.........

WARNING: 3 Hal Bikin Malaikat Ogah Mampir ke Rumah (dan Hati) Kita!


Based on Kitab Bayanul Mushoffa fi Wasiyatul Musthofa


Santuy dulu, guys...


Jadi gini, di kitab itu ada cerita nasihat Nabi Muhammad ﷺ ke Sayyidina Ali r.a.:


"Wahai Ali, malaikat itu nggak bakal mau masuk ke rumah yang: (1) ada gambar atau patung, (2) ada anak yang durhaka ke orang tua, (3) rumah yang jarang didatengin tamu."


Nah, ini nggak cuma soal rumah beneran lho. Dalam pandangan tazkiyatul qalb (bersihin hati), yang dimaksud "rumah" itu adalah hati kita sendiri. Kalau hati kita penuh sama "patung-patung" duniawi, otomatis cahaya malaikat dan rahmat Allah susah masuk. Auto gelap gulita dah tuh hati.


---


1️⃣ Gambar & Patung: Jangan Sampe Hati Jadi Galeri Medsos


Dulu mah gambar dan patung identik sama penyembahan berhala. Tapi sekarang? "Gambar dan patung" itu bisa berarti:


· Kegeeran berlebihan di medsos (bucin sama like dan komen)

· Ngidolain artis, pejabat, atau harta sampe lupa diri

· Hidup nggak bisa lepas dari HP sampe lupa sama Allah


Allah ﷻ bilang:


"Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku."

(QS. Adz-Dzariyat: 56)


Kalau hati kita isinya cuma "dunia dalam genggaman", fokus ibadah jadi buyar. Teknologi itu nikmat, tapi kalau udah jadi rebutan hati, bisa jadi berhala modern yang nggak kentara.


Rasulullah ﷺ bilang:


"Sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, itu adalah hati."

(HR. Bukhari & Muslim)


✨ Cek diri sendiri:

Isi hati kita hari ini lebih banyak dzikir atau lebih banyak scroll notifikasi?


---


2️⃣ Durhaka ke Ortu: Nomor Satu Penghalang Berkah


Znow, komunikasi canggih banget. Mau video call ke mana aja gampang. Tapi ironisnya, banyak anak yang makin kasar sama orang tua.


Chat bisa instan, tapi adab ilang.

Doa buat ortu sering ke-skip.


Allah ﷻ tegas banget:


"Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua."

(QS. Al-Isra: 23)


Dalam hadis juga disebut:


"Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka orang tua."

(HR. Tirmidzi)


Dalam dunia spiritual, durhaka itu nggak selalu berarti mukul atau membentak.

Durhaka bisa juga berupa:


· Lupa mendoain mereka

· Nggak peduli sama kabar mereka

· Merasa paling bener sendiri karena gelar atau gaji gede


✨ Cek diri sendiri:

Udah cium tangan mereka hari ini? Udah minta maaf sebelum semuanya telat?


---


3️⃣ Rumah yang Sepi Tamu: Hati yang Tertutup


Rumah yang nggak pernah didatengin tamu? Itu tanda pelit dan egois.


Di zaman sekarang, orang lebih asyik sama dunia maya. Tetangga sebelah rumah aja nggak pernah tegur sapa. Silaturahmi digantiin sama kirim stiker WA.


Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:


"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tamunya."

(HR. Bukhari & Muslim)


Bahkan dalam hadis qudsi Allah bilang:


"Wahai anak Adam, Aku sakit tetapi engkau tidak menjenguk-Ku..."

(HR. Muslim)


Artinya? Allah banget sama hamba yang peduli sama sesama.


Kita punya kendaraan canggih, jalan mulus, tol di mana-mana. Tapi bukannya buat silaturahmi, malah buat liburan doang.


✨ Cek diri sendiri:

Kapan terakhir rumah kita rame bukan karena FYP, tapi karena doa tamu? Kapan terakhir hati kita terbuka buat orang lain?


---


🌸 Catatan buat Diri Sendiri


Sobat...


· Bersihin rumah dari pajangan yang bikin lupa waktu.

· Bersihin hati dari gengsi digital.

· Jaga lisan sama orang tua.

· Buka pintu rumah, buka juga pintu hati buat saudara dan tetangga.


Karena malaikat itu nggak cuma masuk ke rumah fisik, tapi juga ke hati yang bersih dan tulus.


Allah berfirman:


"Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih."

(QS. Asy-Syu'ara: 88–89)


🤲 Doa


Ya Rabb...

Bersihin hati kami dari berhala-berhala dunia. Jauhkan kami dari sikap durhaka ke orang tua. Jadikan rumah dan hati kami tempat singgahnya malaikat dan rahmat-Mu. Lembutkan hati kami di tengah hiruk-pikuk dunia digital. Jadikan teknologi ini justru bikin kami makin dekat sama Engkau, bukan malah menjauh.

Anugerahi kami qalbun salim—hati yang selamat—saat nanti kami kembali pada-Mu.


Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.


---


🌿 Sebagai Penutup


Curhatan ini bukan buat ngatain zaman, tapi buat ngingetin diri sendiri (dan siapa pun yang baca) buat terus bersihin hati di tengah segala gemerlap.


Makasih udah baca sampai habis. Semoga Allah membalas kebaikan njenengan dengan cahaya di dunia dan akhirat. 🤲

.........

965. Ramadan dan Pembersihan Jiwa di Era Modern.



dalam kitab tanbihul ghafilin.

BAB 37 Tentang Keutamaan Bulan Ramadan.

Al-Faqih meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah katanya, Rasulullah  bersabda: “Pada setiap bulan Ramadan Allah . memberi 5 perkara yang tiada dirasakan oleh umat lainnya, yaitu:

Harumnya minyak kasturi pada mulut ketika berpuasa, kelak di sisi Allah.

Permohonan ampun dari malaikat bagi yang berpuasa hingga berbuka.

Dibelenggunya setan hingga mereka tiada kebebasan menggoda yang tengah berpuasa.

Setiap hari sorga dipercantik bagi orang yang berpuasa, FirmanNya: “Hampir para hambaKu yang salih terlepas dari keberatan dan godaan dan kembali kepadamu”.

........

📖 Ramadan dan Pembersihan Jiwa di Era Modern

📚 Sumber Kitab


Bab 37: Keutamaan Bulan Ramadan

Al-Faqih meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang 5 keistimewaan Ramadan yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya.


🌙 Mukadimah: Ramadan Bukan Sekadar Lapar

Di zaman teknologi canggih — HP di tangan, dunia dalam genggaman, transportasi cepat, kedokteran maju, komunikasi tanpa batas — justru jiwa manusia semakin gelisah.

Banyak yang online, tapi hatinya offline dari Allah.
Banyak yang terkoneksi internet, tapi terputus dari langit.

Ramadan hadir bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tapi menyembuhkan penyakit hati.

Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)

Tujuan puasa adalah TAQWA — kesadaran batin bahwa Allah selalu melihat.


1️⃣ Harumnya Mulut Orang Berpuasa

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Secara lahir, mungkin tidak wangi.
Namun secara batin, itu adalah aroma keikhlasan.

✨ Dalam tasawuf, ini mengajarkan:
Allah tidak menilai penampilan, tapi keadaan hati.

Di era media sosial, orang berlomba menampilkan citra.
Ramadan melatih kita beramal tanpa publikasi.

Muhasabah:

  • Apakah puasaku untuk Allah atau untuk konten?
  • Apakah ibadahku untuk dilihat atau untuk diterima?

2️⃣ Malaikat Memohonkan Ampunan

Bayangkan…
Setiap hari para malaikat mendoakan orang yang berpuasa hingga berbuka.

Allah berfirman:

“Dan malaikat memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Ghafir: 7)

Dalam dunia modern, kita sibuk mencari “like” dan “validasi manusia”.
Padahal Ramadan memberi kita validasi langit.

✨ Tazkiyatul nufus mengajarkan:
Jangan cari pengakuan manusia, cari pengampunan Allah.


3️⃣ Setan Dibelenggu

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila datang Ramadan, dibukalah pintu surga, ditutup pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Namun mengapa masih ada maksiat?

Karena musuh terbesar bukan setan…
tapi nafsu kita sendiri.

Di era teknologi:

  • Maksiat bisa diakses dari kamar
  • Fitnah tersebar dalam detik
  • Ghibah menjadi viral

Ramadan adalah pelatihan mengendalikan nafsu digital.

📵 Puasa bukan hanya dari makan, tapi dari:

  • scroll tanpa manfaat
  • komentar menyakiti
  • tontonan yang merusak hati

4️⃣ Surga Dihiasi Setiap Hari

Allah berfirman dalam hadis qudsi:

“Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”
(HR. Bukhari & Muslim)

Surga dihias setiap hari menanti orang berpuasa.

✨ Dalam tasawuf, surga bukan sekadar tempat, tapi kedekatan dengan Allah.

Di dunia modern, orang menghias rumah, kendaraan, profil media sosial.
Tapi Ramadan mengajarkan:

Hiaslah hati, karena hati adalah tempat pandangan Allah.


5️⃣ Harapan: Hampir HambaKu Kembali

Allah berfirman (dalam makna riwayat):

“Hampir para hamba-Ku yang saleh terlepas dari beban dan kembali kepada-Ku.”

Ramadan adalah momen kembali.

Kembali dari:

  • Lalai menjadi sadar
  • Sibuk dunia menjadi sibuk akhirat
  • Cinta makhluk menjadi cinta Khaliq

🌿 Relevansi Sosial Saat Ini

Di zaman:

  • Transportasi cepat → hati tetap lambat menuju taubat
  • Komunikasi mudah → silaturahim justru renggang
  • Kedokteran maju → penyakit hati makin parah

Ramadan adalah rumah sakit jiwa spiritual.

Allah berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)

Bukan dengan follower.
Bukan dengan saldo.
Bukan dengan popularitas.


🪞 Muhasabah Diri

Tanya pada diri:

  • Apakah Ramadan mengubah akhlakku?
  • Apakah aku lebih lembut kepada keluarga?
  • Apakah aku lebih peduli pada fakir miskin?

Jika tidak ada perubahan, berarti puasa hanya di perut… belum sampai ke hati.


🤲 Doa

Ya Allah…
Bersihkan hati kami dari riya dan ujub.
Jadikan puasa kami puasa orang yang mengenal-Mu.
Belenggu nafsu kami sebagaimana Engkau belenggu setan.
Hiaslah hati kami dengan iman dan takwa.
Ampuni dosa kami, dosa orang tua kami, guru-guru kami, dan seluruh kaum muslimin.
Jadikan Ramadan ini Ramadan terbaik dalam hidup kami.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.


🌺 Penutup

Semoga kita tidak termasuk orang yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga.

Semoga kita termasuk orang yang kembali kepada Allah dengan hati yang bersih.

Terima kasih telah meluangkan waktu membaca tauziah ini.
Semoga menjadi cahaya bagi jiwa dan amal kita. 🤲✨

........

Ramadan dan Pembersihan Jiwa di Era Modern


📚 Sumber Kitab

Bab 37: Keutamaan Bulan Ramadan


Al-Faqih meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ bersabda tentang 5 keistimewaan Ramadan yang tidak diberikan kepada umat-umat sebelumnya.


---


🌙 Mukadimah: Ramadan Bukan Sekadar Lapar


Zaman sekarang tuh serba canggih banget. 

HP di genggaman, dunia dalam layar. Transportasi makin cepat, kedokteran maju, komunikasi nggak ada batas. Tapi anehnya... jiwa manusia malah makin gelisah.


Banyak orang online 24 jam, tapi hatinya offline dari Allah. 

Koneksi internet lancar, tapi sambungan ke langit putus.


Nah, Ramadan datang bukan sekadar nahan lapar dan haus doang. 

Tapi ini waktunya ngebersihin hati yang kotor.


Allah berfirman:


"Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

(QS. Al-Baqarah: 183)


Jadi intinya, target puasa itu TAQWA — kondisi batin di mana kita sadar bahwa Allah tuh nge-watch terus.


---


1️⃣ Harumnya Mulut Orang Puasa


Rasulullah ﷺ bersabda:


"Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada minyak kasturi."

(HR. Bukhari & Muslim)


Secara fisik, ya jelas kurang sedap. Tapi secara batin, itu adalah aroma keikhlasan.


✨ Pelajaran buat hidup sekarang:

Allah nggak liat penampilan luar, tapi keadaan hati.


Di era medsos, orang pada sibuk ngejar pencitraan. 

Ramadan ngajarin kita: amal itu cukup Allah aja yang tahu.


Muhasabah:


· Udah belum ya puasaku murni karena Allah, bukan cuma buat konten?

· Ibadahku tuh karena pengin diterima atau pengin dilihat orang?


---


2️⃣ Malaikat Minta Ampunin Kita


Coba bayangin...

Setiap hari para malaikat mendoakan orang yang puasa sampai waktu berbuka.


Allah berfirman:


"Dan malaikat memohonkan ampun bagi orang-orang yang beriman."

(QS. Ghafir: 7)


Di zaman sekarang, kita sibuk cari "like" dan validasi manusia. 

Padahal Ramadan kasih kita validasi langsung dari langit.


✨ Nasihat buat jiwa:

Jangan mati-matian cari pengakuan orang. 

Mending cari ampunan Allah.


---


3️⃣ Setan Dibelenggu


Rasulullah ﷺ bersabda:


"Apabila datang Ramadan, dibukalah pintu surga, ditutup pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu."

(HR. Bukhari & Muslim)


Tapi njenengan pasti bertanya: "Kalau setan udah dibelenggu, kok masih ada aja yang maksiat?"


Jawabannya: karena musuh terbesar kita bukan setan, tapi nafsu sendiri.


Di era digital:


· Maksiat bisa diakses dari kamar

· Fitnah nyebar cuma hitungan detik

· Ghibah jadi konten viral


Ramadan ini latihan buat ngontrol nafsu digital.


📵 Puasa itu bukan cuma nahan makan-minum, tapi juga:


· scroll yang nggak ada manfaatnya

· komen yang nyakitin orang

· tontonan yang ngotorin hati


---


4️⃣ Surga Dihias Setiap Hari


Allah berfirman dalam hadis qudsi:


"Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya."

(HR. Bukhari & Muslim)


Subhanallah... Setiap hari surga dihias, disiapkan buat orang-orang yang puasa.


✨ Makna dalam:

Surga itu bukan cuma tempat, tapi kedekatan sama Allah.


Zaman sekarang orang sibuk hias rumah, hias kendaraan, hias profil medsos. 

Ramadan ngajarin: Hiaslah hati, karena hati itu tempat Allah ngeliat.


---


5️⃣ Harapan: Hamba-Ku Kembali


Allah berfirman (dalam makna riwayat):


"Hampir para hamba-Ku yang saleh terlepas dari beban dan kembali kepada-Ku."


Ramadan itu momen balik.


Balik dari:


· Lalai → sadar

· Sibuk dunia → sibuk akhirat

· Cinta makhluk → cinta Khalik


---


🌿 Relevansi Buat Kita Hari Ini


Di zaman:


· Transportasi cepat → tapi hati lambat banget buat taubat

· Komunikasi mudah → silaturahim malah renggang

· Kedokteran maju → penyakit hati tambah parah


Ramadan itu kayak klinik kesehatan jiwa. Tempat kita check-up hati.


Allah berfirman:


"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."

(QS. Ar-Ra'd: 28)


Bukan dengan banyak follower. 

Bukan dengan saldo tebal. 

Bukan dengan popularitas.


---


🪞 Muhasabah Diri


Coba tanya ke diri sendiri:


· Apakah Ramadan bikin akhlak aku makin baik?

· Apakah aku jadi lebih lembut sama keluarga?

· Apakah aku makin peduli sama yang susah?


Kalau belum ada perubahan... 

Berarti puasanya baru sampai perut, belum nyampe hati.


---


🤲 Doa


Ya Allah...

Bersihin hati kami dari riya dan sombong.

Jadikan puasa kami sebagai puasanya orang yang bener-bener kenal sama Engkau.

Ikat nafsu kami sebagaimana Engkau ikat setan.

Hiasi hati kami dengan iman dan takwa.

Ampuni dosa kami, dosa orang tua kami, guru-guru kami, dan semua muslimin.

Jadikan Ramadan ini jadi Ramadan terbaik dalam hidup kami.

Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.


---


🌺 Penutup


Semoga kita semua nggak termasuk orang yang cuma dapet lapar dan haus doang.


Semoga kita termasuk yang balik ke Allah dengan hati yang bersih.


Makasih ya, njenengan udah luangin waktu baca tauziah ini.

Semoga jadi cahaya buat jiwa dan amal kita. 🤲✨


---


Tetap waras, tetap istiqamah, dan selamat menjalani Ramadan penuh berkah! 🌙

.......

964. Membersihkan Niat di Zaman Serba Canggih



dalam kitab Hadits Arbain Nawawi (Karya Yahya bin Syaraf An-Nawawi atau Imam Nawawi )

Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata: aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung dengan niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan niatnya. Maka, barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya kepada dunia yang ingin diraih atau wanita yang ingin dinikahi maka hijrahnya kepada apa yang dia berhijrah kepadanya.”

Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits: Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari dan Abul Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim al-Qushairi an-Naisaburi di kedua kitab Shahihnya yang merupakan dua kitab paling shahih yang pernah disusun. Shahih al-Bukhari (no. 1, 54, 2529, 3898, 5070, 6689, 6953), Shahih Muslim (no. 1907),

..........

Membersihkan Niat di Zaman Serba Canggih

Hadis pertama dalam karya adalah fondasi seluruh amal:

“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…”
(HR. dan )

Hadis ini bukan hanya pembuka kitab, tapi pembuka jalan keselamatan. Dalam perspektif tazkiyatul nufus (penyucian jiwa), niat adalah ruh amal. Tanpa niat yang bersih, amal sebesar gunung pun menjadi debu.


1️⃣ Niat di Era Teknologi: Ujian yang Halus

Hari ini kita hidup di zaman:

  • Teknologi super cepat
  • Komunikasi tanpa batas
  • Transportasi lintas benua
  • Kedokteran canggih menyelamatkan nyawa

Namun pertanyaannya:

👉 Untuk siapa semua itu kita gunakan?
👉 Untuk Allah atau untuk popularitas?
👉 Untuk ibadah atau untuk pencitraan?

Allah berfirman:

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama bagi-Nya.”
(QS. Al-Bayyinah: 5)

Teknologi itu netral. Yang menentukan nilainya adalah niat.

📱 Posting dakwah bisa jadi pahala…
📱 Tapi bisa berubah jadi riya' jika hati ingin dipuji.

🚗 Perjalanan bisa jadi ibadah…
🚗 Tapi bisa jadi kesombongan jika ingin dipandang kaya.


2️⃣ Hijrah Modern: Dari Dunia Menuju Allah

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya…”

Di zaman sekarang, hijrah bukan hanya pindah tempat.

Hijrah itu:

  • Dari konten maksiat ke konten dakwah
  • Dari scroll sia-sia ke dzikir
  • Dari ambisi dunia ke akhirat

Allah berfirman:

“Barangsiapa menghendaki akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedangkan ia beriman, maka mereka itulah yang usahanya dibalas dengan baik.”
(QS. Al-Isra: 19)


3️⃣ Hadis Qudsi: Rahasia Keikhlasan

Allah berfirman dalam hadis qudsi:

“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dan menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.”
(HR. Muslim)

Betapa halusnya riya’.
Ia tidak terlihat di wajah.
Ia tersembunyi di dada.

Dalam dunia media sosial:

  • Like bisa jadi racun niat
  • View bisa jadi ujian hati
  • Followers bisa jadi fitnah jiwa

Tazkiyah itu membersihkan “ingin dilihat” menjadi “ingin diridhai”.


4️⃣ Muhasabah di Tengah Kecanggihan

Saudaraku…

Kedokteran makin canggih,
Tapi hati makin sakit.

Transportasi makin cepat,
Tapi menuju Allah makin lambat.

Komunikasi makin luas,
Tapi silaturahmi hati makin sempit.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

Hati adalah pusat niat.

Jika hati bersih:

  • Bisnis jadi ibadah
  • Teknologi jadi jalan pahala
  • Ilmu kedokteran jadi ladang sedekah

Jika hati kotor:

  • Ibadah jadi riya’
  • Amal jadi transaksi dunia
  • Dakwah jadi panggung pencitraan

5️⃣ Motivasi dan Harapan

Jangan takut hidup di zaman modern.
Takutlah jika hidup tanpa niat yang lurus.

Bayangkan jika:

  • Setiap posting diniatkan dakwah
  • Setiap usaha diniatkan menafkahi keluarga karena Allah
  • Setiap sedekah diniatkan mencari ridha-Nya

Maka seluruh hidup berubah menjadi ibadah.

Inilah makna tazkiyatul nufus: Membersihkan orientasi hidup.

Bukan meninggalkan dunia.
Tapi meluruskan tujuan dunia.


🌿 Muhasabah Pribadi

Tanya pada diri:

  • Mengapa aku bekerja?
  • Mengapa aku berdakwah?
  • Mengapa aku ingin dikenal?
  • Mengapa aku ingin sukses?

Jika jawabannya Allah…
Maka engkau selamat.

Jika jawabannya manusia…
Segeralah bersihkan niat.


🤲 DOA

Ya Allah…
Bersihkan hati kami dari riya’, sum’ah, dan cinta pujian.
Jadikan teknologi di tangan kami sebagai jalan dakwah, bukan jalan maksiat.
Luruskan niat kami dalam bekerja, berdagang, beribadah, dan berdakwah.
Jadikan hijrah kami benar-benar menuju-Mu.
Matikan kami dalam keadaan ikhlas.
Kumpulkan kami bersama orang-orang yang Engkau cintai.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamin.


Terima kasih telah membaca tauziah ini.
Semoga Allah menjaga niat kita semua dan menjadikan hidup kita bernilai di sisi-Nya. 🌿

..........

Tentu, berikut adalah versi bahasa gaul kekinian namun tetap sopan dan santun dari teks tersebut. Substansi tetap terjaga, hanya gaya bahasanya yang dibuat lebih ringan dan relevan dengan keseharian anak muda.


Judul: Ngaca Yuk! Jaga Niat di Era Serba Canggih


Halo, teman-teman! Kita mulai obrolan ini dengan satu pondasi penting banget dalam hidup, yaitu hadis yang jadi patokan pertama semua amal kita:


“Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hadis ini tuh nggak cuma jadi pembuka buku doang, tapi bener-bener jadi pembuka jalan selamat buat kita. Dalam urusan tazkiyatul nufus atau bersihin jiwa, niat itu ibarat ruh-nya amal. Kalau niatnya aja udah kotor, sebesar dan sebanyak apa pun amal kita, bisa-bisa nilainya hilang kayak debu.


1️⃣ Niat di Zaman Now: Ujian yang Makin Halus


Sobat, kita tuh lagi hidup di zaman yang serba wah:


· Teknologi secepat kilat

· Komunikasi tembus dunia

· Transportasi antar benua cuma hitungan jam

· Dunia kesehatan makin canggih buat selametin nyawa


Tapi yang jadi pertanyaan besar buat diri kita masing-masing:


👉 Buat siapa semua kecanggihan ini kita pake?

👉 Apakah semata-mata karena Allah, atau malah kejar setan yang namanya popularitas?

👉 Niatnya buat ibadah, atau jangan-jangan cuma buat pencitraan doang?


Allah udah jelas banget ngasih tahu di Al-Qur'an:


“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan memurnikan agama bagi-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)


Teknologi itu kayak pisau, netral. Yang bikin dia jadi berkah atau bumerang adalah niat kita.


📱 Posting konten dakwah di Instagram atau TikTok bisa jadi ladang pahala…

📱 Tapi bisa berubah jadi riya' dalam sekejap, kalau di dalam hati penginnya dipuji “wah keren banget sih” sama netizen.


🚗 Naik kendaraan buat mudik atau liburan bisa jadi ibadah…

🚗 Tapi bisa jadi ajang pamer kemewahan kalau tujuannya cuma biar dilirik dan dianggap anak sultan.


2️⃣ Upgrade Diri (Hijrah) Model Kekinian


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Barangsiapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya…”


Di era digital kayak gini, hijrah nggak harus pindah domisili, cuy. Upgrade diri itu bisa dimulai dari hal-hal simpel, kayak:


· Mindset shifting dari scroll TikTok yang isinya cuma joget-joget doang, jadi konten yang nambahin wawasan keislaman.

· Switch aktivitas dari buka-buka status WA yang nggak jelas, jadi iseng baca dzikir atau istighfar di handphone.

· Ubah orientasi hidup, dari yang tadinya cuma ngejar pujian dunia doang, jadi mulai mikirin bekal buat di akhirat sana.


Allah berfirman:


“Barangsiapa menghendaki akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedangkan ia beriman, maka mereka itulah yang usahanya dibalas dengan baik.” (QS. Al-Isra: 19)


3️⃣ Bahaya Tersembunyi: Pengen Diliat Orang (Riya’)


Allah berfirman dalam hadis qudsi:


“Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa beramal dan menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.” (HR. Muslim)


Kita harus hati-hati banget sama penyakit hati yang satu ini. Riya’ tuh kayak virus yang nggak keliatan. Nggak kelihatan di muka, tapi diam-diam ngerusak hati.


Di dunia media sosial yang penuh dengan angka:


· Like bisa jadi racun yang bikin niat kita melenceng.

· Viewers jadi ujian: apakah kita bikin konten karena Allah atau karena kejar views?

· Jumlah followers bisa jadi fitnah yang bikin kita sombong.


Inti dari tazkiyatul nufus di era now adalah membersihkan keinginan "pengin diliat orang lain" jadi cuma "pengin diridhai sama Allah".


4️⃣ Waktunya Ngaca Diri (Muhasabah) di Tengah Gemerlap Dunia


Saudaraku, renungkan sejenak…


Dunia kesehatan makin maju, tapi hati kita kok makin sering mumet dan gelisah ya?


Kendaraan makin cepet, tapi langkah kaki kita ke masjid atau buat kebaikan kok rasanya makin berat ya?


Gampang banget chat-an sama temen di luar negeri, tapi silaturahmi hati dengan keluarga sendiri kok makin renggang ya?


Rasulullah ﷺ bersabda:


“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)


Hati adalah raja, pusatnya niat. Kalau hati kita bersih, semua aktivitas duniawi bisa bernilai ukhrawi:


· Bisnis jadi ladang ibadah

· Teknologi jadi jalan ninja kita buat dapet pahala

· Skill yang kita punya, kayak desain grafis atau jadi dokter, bisa jadi ladang sedekah jariyah.


Sebaliknya, kalau hati keruh, bisa-bisa ibadah ritual sekalipun nilainya anjlok gara-gara riya’.


5️⃣ Keep Spirit dan Perbaiki Niat


Nggak usah takut hidup di zaman yang modern dan complicated ini. Yang perlu kita takutin adalah kalau kita menjalaninya tanpa niat yang lurus.


Coba bayangin betapa indahnya kalau:


· Setiap kali kita nge-post sesuatu, kita ingetin diri: "Ini lillah, semoga jadi dakwah."

· Setiap kali kita dagang atau kerja, kita mantepin niat: "Ini buat cari nafkah halal, diniatkan ibadah karena Allah."

· Setiap kali ada rezeki lebih dan kita sedekah, kita lurusin: "Ya Allah, terima kasih udah nitipin rezeki ini, terima kasih udah dikasih kesempatan berbagi."


Otomatis, seluruh detik hidup kita bakal berubah jadi rangkaian ibadah yang nggak ada putusnya. Inilah esensi tazkiyatul nufus: bukan ninggalin dunia, tapi ngelurusin tujuan kita hidup di dunia.


🌿 Catatan buat Diri Sendiri


Yuk, tanya ke dalam hati kita masing-masing:


· Kenapa sih aku kerja segiat ini?

· Kenapa aku suka posting konten dakwah?

· Kenapa sih aku pengin dikenal orang?

· Kenapa aku pengin sukses?


Kalau jawabannya tulus karena Allah… Alhamdulillah, semoga kita istiqomah.


Kalau jawabannya masih nyambung ke "biar dilihatin orang" atau "biar dipuji", ayo, buruan kita lurusin lagi niatnya. Jangan sampe telat.


🤲 DOA


Ya Allah…

Bersihkan hati kami dari penyakit riya', sum'ah, dan cinta akan pujian manusia.

Jadikan segala kecanggihan teknologi di tangan kami ini sebagai ladang dakwah, jangan sampai jadi sarana maksiat.

Luruskan niat kami dalam bekerja, berdagang, beribadah, dan berdakwah.

Jadikan setiap langkah upgrade diri kami benar-benar menuju ridha-Mu.

Jika ajal menjemput, matikanlah kami dalam keadaan ikhlas.

Dan kumpulkan kami kelak bersama orang-orang yang selalu Engkau cintai.


Aamiin ya Rabbal 'Alamin.


Makasih banyak udah baca dan merenung sama-sama. Semoga Allah selalu jaga niat baik kita dan bikin hidup kita penuh berkah di mata-Nya. 🌿

.....

967. Islam, Iman, dan Ihsan: Cahaya Jiwa di Tengah Gelapnya Zaman.

 

Dari ‘Umar radhiyallahu ‘anhu juga, berkata: pada suatu hari kami duduk di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang kepada kami seseorang yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak nampak kalau sedang bepergian, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya. Kemudian dia duduk menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyandarkan lututnya kepada lutut beliau, dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas paha beliau. Dia bertanya, “Ya Muhammad! Kabarkan kepadaku tentang Islam.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Islam adalah Anda bersyahadat lâ ilâha illâllâh dan muhammadur rasûlûllâh, menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah jika Anda mampu menempuh jalannya.” Lelaki itu berkata, “Engkau benar.” Kami heran terhadapnya, dia yang bertanya sekaligus yang mengoreksinya. Lelaki itu bekata lagi, “Kabarkanlah kepadaku tentang iman!” Beliau menjawab, “Anda beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari Akhir, dan Anda beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” Lelaki itu menjawab, “Engkau benar.” Dia bekata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang ihsan!” Beliau menjawab, “Anda menyembah Allah seolah-olah melihatnya. Jika Anda tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihat Anda.” Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang hari Kiamat!” Beliau menjawab, “Tidaklah yang ditanya lebih tahu daripada yang bertanya.” Dia berkata lagi, “Kabarkan kepadaku tentang tanda-tandanya.” Beliau menjawab, “Jika seorang budak wanita melahirkan majikannya, dan jika Anda melihat orang yang tidak beralas kaki, tidak berpakaian, miskin, dan penggembala kambing saling bermegah-megahan meninggikan bangunan.”

Kemudian lelaki itu pergi. Aku diam sejenak lalu beliau bersabda, “Hai ‘Umar! Tahukah kamu siapa yang bertanya itu?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya dia Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian.” Diriwayatkan oleh Muslim.

[Shahih: Shahih Muslim (no. 8).

.......

🌙 Islam, Iman, dan Ihsan: Cahaya Jiwa di Tengah Gelapnya Zaman

Hadis agung ini diriwayatkan oleh radhiyallahu ‘anhu dan tercantum dalam no. 8. Ia dikenal sebagai Ummus Sunnah, induknya ajaran Islam, karena merangkum tiga pilar agama: Islam, Iman, dan Ihsan.

Pada hari itu, datang dalam rupa manusia untuk mengajarkan agama secara langsung—bukan hanya kepada Nabi ﷺ, tetapi kepada seluruh umat hingga akhir zaman.


1️⃣ Islam: Fondasi Amal di Tengah Dunia Modern

Islam adalah syahadat, shalat, zakat, puasa, dan haji.

Di zaman kecanggihan teknologi, komunikasi instan, transportasi cepat, dan kedokteran modern — kita sering sibuk membangun dunia, tetapi lupa membangun jiwa.

Allah berfirman:

"Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam."
(QS. Ali ‘Imran: 19)

Islam bukan sekadar identitas, tetapi disiplin ruhani.
Shalat adalah charging spiritual.
Zakat adalah pembersih harta.
Puasa adalah rem hawa nafsu.
Haji adalah simbol totalitas penghambaan.

💡 Muhasabah:
Sudahkah teknologi membuat kita semakin taat, atau justru semakin lalai?


2️⃣ Iman: Keyakinan di Tengah Krisis Materialisme

Iman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, dan takdir.

Di era medis canggih, manusia merasa mampu memperpanjang usia.
Di era AI dan digital, manusia merasa tahu segalanya.

Padahal Allah berfirman:

"Tidaklah kamu diberi ilmu melainkan sedikit."
(QS. Al-Isra: 85)

Iman mengajarkan tawadhu’.
Iman mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi, kematian tetap misteri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Orang cerdas adalah yang mampu menundukkan dirinya dan beramal untuk setelah kematian.”
(HR. Tirmidzi)

💡 Muhasabah:
Apakah kita lebih percaya algoritma daripada takdir Allah?


3️⃣ Ihsan: Puncak Spiritual di Era Kamera dan Pengawasan

Ihsan adalah menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya.

Hari ini kita hidup dalam dunia CCTV, GPS, dan pengawasan digital.
Namun sering lupa bahwa:

"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada."
(QS. Al-Hadid: 4)

Jika manusia takut kamera, mengapa tidak takut kepada Allah Yang Maha Melihat?

Dalam hadis qudsi Allah berfirman:

“Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku…”
(HR. Bukhari & Muslim)

Ihsan melahirkan kejujuran tanpa pengawasan.
Ihsan melahirkan akhlak tanpa pencitraan.
Ihsan membersihkan hati dari riya dan ujub.

💡 Muhasabah:
Apakah ibadah kita untuk Allah, atau untuk konten dan pujian?


4️⃣ Tanda Kiamat dan Realitas Sosial

Rasulullah ﷺ menyebut tanda kiamat:

  • Budak melahirkan majikannya
  • Orang miskin berlomba meninggikan bangunan

Lihatlah hari ini…

Gedung menjulang tinggi.
Kemewahan dipamerkan.
Konten flexing menjadi budaya.

Namun hati semakin kosong.
Kecemasan meningkat.
Depresi merajalela.

Allah mengingatkan:

"Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."
(QS. Ar-Ra’d: 28)


🌿 Perspektif Tazkiyatul Nufus

Hadis Jibril adalah peta perjalanan jiwa:

  • Islam → membersihkan amal lahir
  • Iman → membersihkan keyakinan batin
  • Ihsan → membersihkan rahasia hati

Inilah tiga lapisan penyucian jiwa.

Di era modern:

  • Teknologi tanpa iman → kesombongan
  • Ilmu tanpa ihsan → kehampaan
  • Kekayaan tanpa zakat → kegelisahan

Harapan kita: Gunakan teknologi untuk dakwah.
Gunakan komunikasi untuk silaturahmi.
Gunakan ilmu medis untuk syukur, bukan sombong.
Gunakan transportasi cepat untuk mempercepat amal.


🤲 Doa

Ya Allah…
Jadikan kami hamba yang memahami Islam dengan benar,
Menguatkan iman dengan keyakinan yang kokoh,
Dan mencapai ihsan dalam setiap ibadah kami.

Ya Allah…
Jangan Engkau jadikan teknologi melalaikan kami,
Jangan Engkau jadikan dunia mengeraskan hati kami,
Dan jangan Engkau cabut rasa takut dan cinta kami kepada-Mu.

Karuniakan kami hati yang bersih,
Lisan yang berdzikir,
Dan amal yang Engkau ridhoi.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.


🌸 Penutup

Semoga hadis agung ini menjadi cermin muhasabah bagi kita semua.
Di tengah kemajuan zaman, jangan sampai jiwa kita tertinggal.

Terima kasih telah meluangkan waktu untuk mendengarkan tauziah ini.
Semoga Allah menjaga kita dalam Islam, menguatkan kita dalam iman, dan menghiasi kita dengan ihsan.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

.......

Islam, Iman, Ihsan: Upgrade Spiritual di Era Serba Cepat


Sobat, pernah denger kisah paling kece tentang Jibril nyamar jadi manusia? Cerita ini ada di hadis riwayat Muslim nomor 8, yang dijuluki Ummus Sunnah alias induknya semua ajaran Islam. Kenapa istimewa? Karena di situ dirangkum semua inti agama: Islam, Iman, dan Ihsan. Yang ngajarin langsung malaikat, yang nanya Nabi, buat kita semua sampai akhir zaman.


Yuk kita bedah, biar ibadah kita makin jos!


1️⃣ Islam: Bukan Sekadar KTP, Tapi Gaya Hidup


Islam itu pondasi: syahadat, shalat, zakat, puasa, haji.


Zaman sekarang, semua serba instan. Mau komunikasi? Tinggal chat. Mau ke mana? Ada ojek online. Mau cek kesehatan? Alatnya canggih. Tapi lucunya, kita sibuk upgrade gadget, tapi lupa upgrade iman.


Allah bilang:

"Sesungguhnya agama di sisi Allah hanyalah Islam."

(QS. Ali 'Imran: 19)


Jadi Islam tuh bukan kayak baju lebarang yang dipake setahun sekali. Tapi:


· Shalat itu charging station buat jiwa. Jangan sampai abis baterai karena sibuk scroll medsos.

· Zakat itu cleaning service buat harta. Biar duit berkah, bukan cuma numpang lewat.

· Puasa itu rem darurat buat nahan hawa nafsu.

· Haji itu wisata hati paling premium, totalitas pasrah sama Allah.


💡Renungan:

Njenengan udah pakai smartphone canggih. Tapi, apakah bikin tambah rajin ibadah, atau malah jadi adiksi sama dunia maya?


2️⃣ Iman: Kompas Hidup di Era Serba AI


Iman itu percaya sama Allah, malaikat, kitab, rasul, hari kiamat, dan takdir.


Jaman now, manusia sombong. Ada AI yang bisa bikin apa aja. Teknologi kedokteran maju, bisa bikin orang awet muda. Rasanya kita bisa apa-apa.


Tapi inget firman Allah:

"Tidaklah kamu diberi ilmu melainkan sedikit."

(QS. Al-Isra: 85)


Iman itu bikin kita low profile. Secanggih apapun algoritma, tetep ga bisa nebak kapan ajal jemput. Sehebat apapun dokter, tetep ga bisa ngalahin takdir.


Rasulullah ﷺ bilang:

"Orang cerdas adalah yang mampu menundukkan dirinya dan beramal untuk setelah kematian."

(HR. Tirmidzi)


💡Renungan:

Njenengan lebih percaya sama ramalan algoritma medsos, atau yakin kalau hidup ini udah diatur sama Allah?


3️⃣ Ihsan: Standar Juara di Tengah Budaya Pamer


Ihsan itu ibadah seakan-akan liat Allah. Kalo ga bisa, yakin Allah liat kita.


Kita hidup di jaman CCTV dimana-mana. Ada GPS, kamera pengawas, semua ke-record. Tapi lucunya, kita takut kamera, takut viral, tapi ga takut sama Allah yang Maha Ngawasin?


Inget firman Allah:

"Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada."

(QS. Al-Hadid: 4)


Dalam hadis qudsi, Allah bilang:

"Aku sesuai prasangka hamba-Ku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku..."

(HR. Bukhari & Muslim)


Ihsan itu bikin kita:


· Jujur walau ga ada yang liat.

· Baik tanpa perlu validasi.

· Ikhlas tanpa butuh like dan komentar.


💡Renungan:

Pas shalat, pikiran njenengan fokus sama Allah, atau sibuk mikirin angle kamera biar fotonya bagus buat konten?


4️⃣ Fenomena Sosial yang Bikin Merinding


Nabi bilang tanda kiamat: budak melahirkan majikan, dan orang miskin lomba bikin gedung tinggi.


Coba liat sekarang:


· Gedung pencakar langit di mana-mana.

· Konten flexing jadi santapan sehari-hari.

· Yang penting kelihatan sukses, walau boncos buat konten.


Tapi ironisnya, hati makin hampa. Depresi di mana-mana, kecemasan jadi teman sehari-hari.


Allah kasih resep jitu:

"Ketahuilah, dengan mengingat Allah hati menjadi tenang."

(QS. Ar-Ra'd: 28)


Perspektif Penyucian Jiwa


Hadis Jibril ini adalah roadmap buat bersihin diri:


· Islam → bersihin amalan lahir (biar ga asal-asalan)

· Iman → bersihin keyakinan (biar ga ragu-ragu)

· Ihsan → bersihin hati (biar ga riya')


Di era milenial:


· Teknologi tanpa iman → bikin sombong.

· Skill tanpa ihsan → bikin hampa.

· Harta tanpa zakat → bikin resah.


Harapan kita: Pakai teknologi buat dakwah. Manfaatin medsos buat nyebarin kebaikan. Pake ilmu biar makin bersyukur, bukan buat pamer.


🤲 Doa


Ya Allah...

Jadikan aku hamba yang paham betul cara ibadah yang bener,

Kuat imannya ga gampang goyah,

Ikhlas dalam setiap langkah.


Ya Allah...

Jangan biarin gadget bikin aku lupa sama Njenengan,

Jangan biarin gemerlap dunia ngerasin hati,

Tetep tanamkan rasa cinta dan takut hanya sama Allah.


Bersihin hati, mulusin lisan buat dzikir, dan berkahi setiap amal.


Aamiin.


🌸 Penutup


Hadis ini semoga jadi pengingat buat kita semua. Di tengah gempuran dunia yang makin canggih, jangan sampe jiwa kita ketinggalan zaman.


Makasih udah nyempetin baca. Semoga Allah jagain kita di atas jalan yang bener.


Salam hangat,

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

......