Wednesday, December 17, 2025

871. (26-30) Maksiat Lisan.

 




MAKSIAT LISAN

Ketika Satu Ucapan Lebih Tajam dari Sebilah Pedang


Sebagian dari maksiat lisan adalah

Belajar atau mengajarkan ilmu yang membahayakan.

Menghukumi dengan selain hukum Allah.

Meratapi/menangisi (dengan suara keras) pada mayit.

Setiap ucapan yang mendorong kepada orang lain untuk berbuat haram atau untuk meninggalkan kewajiban.

Setiap ucapan yang mencela agama, salah seorang nabi, para ulama, ilmu Al-quran, peraturan agama, dan atau sesuatu dari tanda-tanda agama Alloh.


Ringkasan Redaksi Asli

Maksiat lisan adalah segala bentuk ucapan yang menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya, baik berupa perkataan yang mengandung kekufuran, kemaksiatan, kerusakan akhlak, atau yang mendorong manusia kepada keburukan dan menjauhkan dari kewajiban. Di antaranya: mengajarkan ilmu yang membahayakan, menghukumi dengan selain hukum Allah, meratapi mayit dengan suara keras, mendorong perbuatan haram, mencela agama, nabi, ulama, Al-Qur’an, dan simbol-simbol agama Allah.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Sejak masa jahiliyah hingga masa Rasulullah ﷺ, lisan telah menjadi alat paling cepat untuk menyesatkan manusia. Kaum musyrikin Quraisy menggunakan ucapan untuk:

  • Mengejek wahyu
  • Menuduh Rasulullah ﷺ sebagai penyair dan penyihir
  • Menyebarkan fitnah dan provokasi

Di masa sahabat dan tabi’in, bahaya lisan semakin kompleks seiring berkembangnya ilmu, politik, dan kekuasaan. Ucapan bukan hanya menyakiti perasaan, tetapi membentuk opini, memecah umat, dan mengubah hukum Allah menjadi hawa nafsu manusia.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Lemahnya muraqabah (rasa diawasi Allah)
  2. Meremehkan dosa lisan
  3. Ilmu tanpa adab
  4. Cinta dunia dan popularitas
  5. Lisan mendahului hati dan akal

Intisari Judul

Maksiat Lisan adalah Pintu Kerusakan Akidah, Akhlak, dan Peradaban


Tujuan dan Manfaat

Tujuan:

  • Menyadarkan umat tentang bahaya dosa lisan
  • Menghidupkan kembali adab berbicara dalam Islam

Manfaat:

  • Menjaga iman
  • Menyelamatkan diri dari kehinaan dunia dan akhirat
  • Menyatukan umat dalam kebenaran

Dalil Al-Qur’an

  1. QS. Qaf: 18

“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”

  1. QS. Al-Ahzab: 70–71

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

  1. QS. Al-Baqarah: 85

“…Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab dan ingkar kepada sebagian yang lain?”


Dalil Hadis

  1. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang ia anggap remeh, namun karena itu ia terjerumus ke neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari)


Analisis dan Argumentasi

  • Mengajarkan ilmu yang membahayakan → merusak agama dan masyarakat
  • Menghukumi dengan selain hukum Allah → mengganti wahyu dengan hawa nafsu
  • Meratap keras atas mayit → menolak takdir Allah
  • Mencela agama dan ulama → merobohkan benteng keimanan umat

Lisan adalah alat dakwah, namun juga senjata setan.


Keutamaan Menjaga Lisan

  • Mendapat ridha Allah
  • Menjadi sebab selamat dari neraka
  • Dicintai malaikat dan manusia

Hukuman Akibat Maksiat Lisan

Di Dunia

  • Hilangnya keberkahan hidup
  • Permusuhan dan kehinaan sosial

Di Alam Kubur

  • Azab karena fitnah dan adu domba

Di Hari Kiamat

  • Timbangan kebaikan ringan
  • Lisan menjadi saksi yang memberatkan dosa

Di Akhirat

  • Ancaman neraka bagi pencela agama dan pendusta

Relevansi dengan Zaman Modern

  • Teknologi & Media Sosial: satu kalimat viral bisa menyesatkan jutaan orang
  • Komunikasi: hoaks, ujaran kebencian, dan pelecehan agama
  • Transportasi & Kedokteran: ilmu tanpa iman menjadi alat kerusakan
  • Kehidupan Sosial: komentar lebih tajam dari perbuatan

Hikmah

  • Diam adalah ibadah
  • Lisan adalah cermin hati
  • Akhlak mendahului ilmu

Muhasabah dan Caranya

  1. Hitung dosa lisan setiap hari
  2. Biasakan diam sebelum berbicara
  3. Timbang ucapan: halal atau haram?
  4. Perbanyak dzikir untuk menundukkan lisan

Doa

“Ya Allah, jagalah lisan kami dari kebohongan, fitnah, dan ucapan yang Engkau murkai. Jadikan ucapan kami dzikir, dakwah, dan cahaya.”


Nasehat Para Ulama dan Sufi

  • Hasan Al-Bashri: “Lisan orang beriman di belakang hatinya.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Diamku adalah ibadahku.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Siapa menjaga lisannya, Allah jaga hatinya.”
  • Imam Al-Ghazali: “Kebinasaan manusia paling banyak berasal dari lisan.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Ucapanmu adalah bukti kejujuran imanmu.”
  • Jalaluddin Rumi: “Luka lisan lebih lama sembuh dari luka pedang.”

Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha: “Ucapan yang sembrono bisa membatalkan pahala besar.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Lisan adalah pintu iman dan kufur.”
  • Buya Yahya: “Menjaga lisan adalah ciri orang bertakwa.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Banyak orang masuk neraka karena komentar.”
  • Buya Arrazy Hasyim: “Ilmu tanpa adab melahirkan kesombongan lisan.”

Daftar Pustaka

  • Al-Qur’anul Karim
  • Shahih Bukhari & Muslim
  • Ihya’ Ulumiddin – Imam Al-Ghazali
  • Al-Kabair – Adz-Dzahabi
  • Tafsir Ibnu Katsir

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para ulama, guru, dan pembaca yang terus menjaga adab ilmu dan lisan di tengah zaman fitnah.


Catatan Redaksi

Jika terdapat kisah yang termasuk Israiliyat, maka ia disajikan sebatas bahan renungan, bukan sebagai dalil akidah dan hukum.


TONGKRONGAN TENTANG BAHAYA MULUT (Maksiat Lisan)


Ketika Kata-kata Lebih Nyakitin dari Ghosting.


Hati-hati, guys. Ternyata dosa mulut tu nggak cuma ngomongin orang atau ghibah doang. Ada yang lebih berat, tapi sering kita anggap sepele. Misalnya:


· Ngajarin atau belajar ilmu yang bahaya. Kayak nyebarin hoax ekstrem, atau ilmu buat ngerusak.

· Nge-judge pakai hukum selain Allah. Ngikutin opini net doang, nggak pakai aturan Quran & Hadits.

· Nangis-nangis keras pas ada yang meninggal. Yang teriak-teriak sampai histeris, itu termasuk.

· Ngomong hal yang nyuruh orang lain buat maksiat atau ninggalin kewajiban. Misal, "Ah, sholat ntar aja, masih lama kok."

· Nyinyirin agama, nabi, ulama, Al-Quran, atau simbol-simbol agama. Ini bahaya banget, bisa ke arah kufur.


Intinya: Maksiat lisan itu semua ucapan yang nggak sesuai sama perintah Allah dan Rasul-Nya, bisa yang nyerempet kekufuran, maksiat, rusakin akhlak, atau yang ngajak orang pada keburukan.


Kenapa Bisa Kebelet Ngomong yang Nggak-nggak?


Jaman dulu, orang musyrik Quraisy aja pake mulut buat ngejek wahyu dan nge-fitnah Nabi. Sekarang, di jaman medsos, bahaya mulut makin menjadi. Satu cuitan bisa bikin rusuh, satu komen bisa nyakitin hati. Penyebabnya:


1. Lupa kalo kita selalu diawasi sama Allah.

2. Ngeremehin dosa mulut, "Kan cuma kata-kata."

3. Punya ilmu tapi nggak punya adab.

4. Cari popularitas atau followers.

5. Asal nyeletuk, nggak dipikir dulu.


Judul Kerennya: Maksiat Lisan: Gerbang Rusaknya Iman, Akhlak, dan Peradaban.


Tujuannya Apa? Agar kita makin sadar bahaya dosa mulut dan belajar ngomong yang bener sesuai ajaran Islam.


Untungnya Buat Kita:


· Iman jadi lebih aman.

· Selamat dari dosa dan kehinaan.

· Bikin ukhuwah antar sesama muslim makin kuat.


Dasar-Dasarnya (Tetap Pakai Bahasa Aslinya ya Biar Berkah):


· Q.S. Qaf: 18 - “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”

· Q.S. Al-Ahzab: 70–71 - “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.”

· Hadits Nabi ﷺ: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang ia anggap remeh, namun karena itu ia terjerumus ke neraka sejauh antara timur dan barat.” (HR. Bukhari-Muslim)

· Hadits Nabi ﷺ: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari)


Analisis Singkat:


· Ngajarin ilmu bahaya? Rusak agama dan masyarakat.

· Nge-judge pakai selain hukum Allah? Ganti wahyu pake hawa nafsu.

· Nyinyirin agama/ulama? Robohin benteng iman.


Dampak Kalo Nggak Jaga Mulut:


· Di Dunia: Hidup nggak berkah, banyak musuh, malu-maluin.

· Di Alam Kubur: Bisa disiksa karena adu domba dan fitnah.

· Di Akhirat: Timbangan amal bisa ringan banget. Malah, mulut kita sendiri yang bakal jadi saksi yang ngejerat kita di hadapan Allah.


Relevansi di Jaman Now:


· Medsos: Satu kalimat viral bisa nyesatin jutaan orang.

· Hoax & Hate Speech: Banyak banget, bikin gaduh.

· Ilmu Tanpa Iman: Misal, ilmu kedokteran disalahgunain. Ngeri.

· Komentar Netizen: Kadang lebih tajam dan nyakitin daripada perbuatan.


Hikmah Buat Hidup Kita:


· Diam itu emang kadang lebih baik.

· Mulut tu cerminan hati. Kalo hatinya bersih, ucapannya pasti baik.

· Akhlak itu lebih penting daripada sekadar punya banyak ilmu.


Cara Evaluasi Diri (Muhasabah):


1. Sebelum ngomong, tanya: "Perlu nggak sih aku ngomong ini?"

2. Kalo perlu, tanya lagi: "Ini bener nggak? Bermanfaat nggak?"

3. Hitung dosa mulut kita setiap hari, lalu istighfar.

4. Perbanyak dzikir (kayak baca "Subhanallah", "Alhamdulillah") biar mulut terbiasa sama hal yang baik.


Doa Andalan: "Ya Allah, jaga mulut aku dari kebohongan, fitnah, dan ucapan yang bikin-Mu murka. Jadikan ucapan aku jadi dzikir, dakwah, dan cahaya."


Quotes Para Bijak Bestari:


· Hasan Al-Bashri: "Mulut orang beriman tuh ada di belakang hatinya (dipikir dulu baru diomongin)."

· Imam Al-Ghazali: "Kebanyakan manusia binasa karena mulutnya sendiri."

· Jalaluddin Rumi: "Luka dari ucapan lebih lama sembuhnya daripada luka pedang."


Testimoni Ustadz Jaman Now:


· Gus Baha: "Ucapan sembrono bisa batalin pahala besar lo."

· Ustadz Adi Hidayat: "Mulut itu pintu iman sekaligus pintu kekufuran."

· Ustadz Abdul Somad: "Banyak yang masuk neraka karena komen doang."


Sumber Bacaan: Al-Qur'an,Hadits Bukhari-Muslim, Ihya' Ulumiddin (Al-Ghazali), Al-Kabair (Adz-Dzahabi), Tafsir Ibnu Katsir.


Akhir Kata: Makasih buat para ulama,guru, dan kalian semua yang masih mau belajar jaga adab, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Stay humble and watch your words!


Note dari Penulis: Kalo ada cerita yang sumbernya dari Israiliyat(dongeng Bani Israil), itu cuma buat bahan renungan aja, ya. Bukan buat dijadikan patokan utama dalam akidah dan hukum agama.



872. ISTIGHFAR SEBELUM TIDUR: PINTU AMPUNAN TANPA BATAS

ISTIGHFAR SEBELUM TIDUR: PINTU AMPUNAN TANPA BATAS

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama bahwa beliau bersabda:

“Barang siapa membaca sebanyak tiga kali ketika hendak tidur:

Aku meminta ampunan kepada Allah Yang Maha Agung, yaitu Tuhan yang tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Maha Mengatur dan aku bertaubat kepada-Nya. maka Allah mengampuni dosa- dosanya meskipun dosa-dosanya itu sebanyak busa di lautan, meskipun sebanyak dedaunan pepohonan, meskipun sebanyak butiran pasir lembut, dan meskipun sebanyak hari dunia.

Muhammad bin Sa’iid bin Muhammad berkata, “Saya mendengar Abu Sahal, yaitu seorang muadzin di kota Bukhoro di masjid Bani Makruf dan ia adalah orang yang sholih, berkata, ‘Saya memimpikan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. (Dalam mimpi itu), saya melihat seorang manusia berkata; ‘Ini adalah Abu Bakar yang berada di sebelah kanan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama dan ini adalah Umar yang berada di sebelah kirinya.’ Kemudian aku menuju ke depan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama. Kemudian Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama berjabat tangan denganku. Kemudian Abu Bakar, kemudian Umar, berjabat tangan juga denganku. Saya berkata; ‘Wahai  Rasulullah!    Saya diberitahu Abu Mu’awiyah, dari Abdullah bin al-Walid, dari ‘Athiyyah, dari Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhum bahwa ia berkata, ‘Barang siapa hendak tidur membaca sebanyak tiga kali: maka Allah mengampuni dosa- dosanya meskipun dosa-dosanya itu sebanyak busa di lautan, meskipun sebanyak butiran pasir lembut, meskipun sebanyak dedaunan pepohonan, dan meskipun sebanyak hari dunia.’

Saya juga mengira kalau dikatakan pula: ‘meskipun sebanyak tetasan air hujan.’

Saya bertanya kepada Rasulullah, “Apakah hadis ini berasal dari anda?”

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallama menganggukkan kepala ‘Iya..


Ringkasan Redaksi Asli Hadis

Diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: Barang siapa membaca istighfar tertentu sebanyak tiga kali ketika hendak tidur, maka Allah mengampuni dosa-dosanya meskipun sebanyak busa di lautan, dedaunan pepohonan, butiran pasir, dan hari-hari dunia. Dalam kisah mimpi seorang muadzin saleh dari Bukhara, Rasulullah ﷺ mengiyakan kebenaran hadis tersebut.

Redaksi istighfar yang dimaksud:

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ

Dibaca tiga kali sebelum tidur.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ dan generasi awal Islam, umat menghadapi beratnya perjuangan iman: peperangan, tekanan sosial, kefakiran, dan dosa-dosa personal yang kerap dilakukan manusia. Dibutuhkan amalan ringan namun berdampak besar, yang dapat dilakukan oleh siapa pun, di waktu paling sunyi: sebelum tidur.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Manusia tidak luput dari dosa, baik sadar maupun tidak.
  2. Kesibukan dunia sering melalaikan taubat.
  3. Banyak orang menunda taubat hingga ajal mendekat.

Hadis ini hadir sebagai rahmat, agar penutup hari seorang mukmin adalah istighfar.


Intisari Judul

Istighfar sebelum tidur adalah penyuci jiwa, penutup dosa harian, dan pembuka rahmat Allah tanpa batas.


Tujuan dan Manfaat

Tujuan:

  • Membiasakan taubat harian.
  • Menutup hari dengan dzikir dan kesadaran akhirat.

Manfaat:

  • Ampunan dosa.
  • Ketenangan batin.
  • Husnul khatimah bila wafat dalam tidur.

Dalil Al-Qur’an

  1. “Dan barang siapa berbuat kejahatan atau menzalimi dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110)
  2. “Dan mohonlah ampun kepada Allah, sungguh Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199)

Dalil Hadis

  • Rasulullah ﷺ beristighfar lebih dari 70 kali dalam sehari.
  • “Orang yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa.” (HR. Ibnu Majah)

Analisis dan Argumentasi

Istighfar bukan sekadar lafaz, tetapi:

  • Pengakuan kelemahan manusia.
  • Pengagungan terhadap keagungan Allah.
  • Penyerahan total kepada Rabb semesta.

Membacanya sebelum tidur berarti menyerahkan seluruh catatan amal harian kepada Allah dalam keadaan tunduk.


Keutamaan dan Hukuman

Di Dunia:

  • Hati lapang, hidup tenang.
  • Dicukupkan rezeki dan solusi.

Di Alam Kubur:

  • Cahaya di liang lahad.
  • Tidur seperti pengantin.

Di Hari Kiamat:

  • Catatan dosa diringankan.
  • Didekatkan kepada Rasulullah ﷺ.

Di Akhirat:

  • Ampunan dan surga.

Sebaliknya, meninggalkan taubat:

  • Hati mengeras.
  • Dosa menumpuk.
  • Penyesalan berkepanjangan.

Relevansi Zaman Modern

Di era:

  • Teknologi canggih: dosa mudah dilakukan lewat gawai.
  • Komunikasi cepat: ghibah dan fitnah tersebar instan.
  • Transportasi dan mobilitas tinggi: lalai dzikir.
  • Kedokteran maju: namun kematian tetap misteri.

Istighfar sebelum tidur menjadi rem darurat spiritual di tengah laju zaman.


Hikmah

  • Allah membuka pintu ampunan seluas-luasnya.
  • Amal kecil bisa berdampak besar.
  • Waktu tidur adalah waktu paling jujur manusia dengan Rabb-nya.

Muhasabah dan Caranya

  1. Hitung dosa harian sebelum tidur.
  2. Ingat kematian bisa datang saat terlelap.
  3. Baca istighfar dengan penuh rasa bersalah dan harap.

Doa

“Ya Allah, ampunilah dosa kami yang tampak dan tersembunyi, yang kami ketahui dan tidak kami ketahui. Tutup hari kami dengan ampunan dan buka hari esok dengan rahmat-Mu.”


Nasehat Para Ulama dan Sufi

  • Hasan al-Bashri: Istighfar adalah pelita hati yang gelap.
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: Taubat sejati lahir dari cinta, bukan takut semata.
  • Abu Yazid al-Bistami: Ampunan Allah lebih luas dari dosamu.
  • Junaid al-Baghdadi: Taubat adalah kembali kepada Allah tanpa menoleh dosa.
  • Al-Hallaj: Ampunan adalah rahasia cinta Ilahi.
  • Imam al-Ghazali: Istighfar membersihkan karat hati.
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: Jangan tidur membawa dosa.
  • Jalaluddin Rumi: Setiap malam adalah kesempatan pulang.
  • Ibnu ‘Arabi: Ampunan adalah manifestasi rahmat wujud.
  • Ahmad al-Tijani: Istighfar membuka pintu makrifat.

Testimoni Ulama Kontemporer (Ringkasan Pandangan)

  • Gus Baha: Istighfar adalah adab orang alim.
  • Ustadz Adi Hidayat: Dzikir sebelum tidur mengunci amal.
  • Buya Yahya: Jangan tidur tanpa taubat.
  • Ustadz Abdul Somad: Istighfar menghapus dosa harian.
  • Buya Arrazy Hasyim: Taubat adalah kesadaran spiritual tertinggi.

Catatan Redaksi

Jika terdapat kisah mimpi atau cerita yang termasuk kategori Israiliyat, maka ia disajikan sebagai bahan renungan, bukan dalil akidah.


Daftar Pustaka

  • Al-Qur’an al-Karim
  • Kutub Hadis
  • Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
  • Futuh al-Ghaib – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  • Kitab-kitab Tasawuf Klasik

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada Allah ﷻ atas nikmat iman, kepada Rasulullah ﷺ atas risalah, dan kepada para ulama yang menjaga warisan ilmu hingga hari ini.

Semoga bacaan ini menjadi wasilah taubat dan rahmat.

Wallahu a‘lam.

.........

ISTIGHFAR SEBELUM BOBOK: PINTU AMPUNAN GAK ADA BATASNYA


Penulis: M. Djoko Ekasanu


Dari Abu Sa’id al-Khudri RA, Rasulullah ﷺ bilang:


“Siapa aja yang baca ini tiga kali sebelum tidur: ‘Aku minta ampun sama Allah Yang Maha Gede banget, Tuhan yang gak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup dan Maha Jaga semua urusan, dan aku nyerah & balik lagi ke Dia’, maka Allah bakal ngapus dosanya sebanyak apapun itu. Meski sebanyak buih di laut, daun di pohon, butiran pasir, atau hari-hari yang ada di dunia.”


Ada juga cerita (untuk bahan renungan aja ya) tentang seorang muadzin shalih dari Bukhara yang mimpi ketemu Rasulullah ﷺ dan nanyain soal hadis ini. Rasulullah ﷺ ngangguk, iya, itu bener dari aku.


Bacaan Istighfarnya:


أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ


Baca tiga kali pas mau tidur.


Kenapa sih ini Penting Banget?


Bayangin zaman dulu, hidup berat banget. Perang, susah cari makan, tekanan sosial gila-gilaan. Dosa? Wah, pasti numpuk. Nah, hadis ini kayak lifesaver spiritual yang simpel banget. Cuma modal baca doa sebelum rebahan, tapi efeknya dahsyat. Biar kita gak males-malesan buat tobat karena merasa dosa kebanyakan.


Intisari:


Istighfar sebelum tidur itu kayak reset harian buat jiwa. Nutup hari dengan bersih-bersih dosa, biar tidurnya tenang dan kalau misalnya dipanggil (naudzubillah), kita dalam keadaan udah minta ampun.


Tujuan & Manfaatnya:


· Tujuan: Biar tobat jadi habit sehari-hari. Nutup hari dengan ingat akhirat.

· Manfaat:

  · Dosa diampuni (yang kecil-kecil yang kita sadar atau gak).

  · Hati jadi lebih adem.

  · Kalau ajal dateng pas tidur, kita dalam kondisi baik (husnul khatimah).


Dasar-Dasarnya:


Dari Al-Qur’an: “Dan barang siapa berbuat kejahatan atau menzalimi dirinya,kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa: 110)


Dari Hadis: Rasulullah ﷺ aja istighfar lebih dari 70 kali sehari.Beliau juga bilang, “Orang yang tobat dari dosa itu kayak orang yang gak punya dosa sama sekali.”


Analisis Gampangnya:


Istighfar itu bukan cuma ucapan. Itu adalah:


1. Ngaku salah: “Aku tau aku gak sempurna, ya Allah.”

2. Ngagungin Allah: “Cuma Kamu yang berhak dimintain ampun, karena Kamu yang Maha Segalanya.”

3. Nyerah total: “Aku gak bisa ngapa-ngapain sendiri, aku balik dan andelin cuma Kamu.”


Lakukan pas mau tidur, itu artinya kita serahkan semua catatan jelek hari ini ke Allah, dalam keadaan lemah dan gak berdaya. Powerful banget!


Seriusan, Apa Sih Keuntungannya?


· Di Dunia: Hati lebih plong, hidup terasa lebih ringan, rezeki bisa jadi lebih lancar.

· Pas Wafat/Kuburan: Dapet cahaya, tidur di kubur kayak pengantin (nyenyak dan tentram).

· Hari Kiamat Nanti: Dosa-dosa itu bakal diringanin banget, bahkan bisa deket sama Rasulullah ﷺ.

· Akhirat: Ya jelas, ampunan dan jalan menuju surga.


Kalau Malas Tobat? Hati makin keras,dosa numpuk kayak sampah, dan yang ada cuma penyesalan yang nyiksa.


Masih Relevant Gak Sih di Zaman Now?


INI COCOK BANGET! Di era:


· Medsos & Gadget: Dosa ghibah, fitnah, scroll yang gak bermanfaat, gampang banget terjadi.

· Hidup Cepat: Mobilitas tinggi, bikin kita gampang lupa ingat Tuhan.

· Kedokteran Maju: Tapi kematian tetep misterius, bisa dateng kapan aja.


Jadi, istighfar sebelum tidur itu kayak “detoks digital dan spiritual” harian. Reset otak dan hati sebelum istirahat.


Hikmahnya:


· Allah baik banget, kasih kita pintu ampunan yang gak terbatas.

· Amalan yang keliatannya sepele, ternyata nilai nya gede banget di sisi-Nya.

· Waktu tidur itu saat kita paling jujur sama diri sendiri dan sama Allah.


Tips Praktis Sebelum Tidur (Muhasabah Version):


1. Hitung dosa kilat: “Aduh, tadi aku ngomongin orang, marah-marah gak jelas, dll.”

2. Inget mati: “Gimana kalau aku gak bangun lagi besok?”

3. Baca istighfar tadi 3x dengan perasaan: sedih karena salah + harap banget sama ampunan Allah.


Doa Singkat Plus: “Ya Allah,ampuniin deh dosa aku yang keliatan ataupun yang tersembunyi, yang aku inget ataupun yang lupa. Tutup hari aku dengan maaf-Mu, buka besok dengan sayang-Mu.”


Kata-Kata Para Bijak (Dulu dan Sekarang):


· Hasan al-Bashri: Istighfar itu pelita buat hati yang gelap.

· Imam al-Ghazali: Istighfar itu bersihin karat hati.

· Jalaluddin Rumi: Setiap malam itu kesempatan buat pulang (kembali ke Allah).

· Gus Baha’ (Ulama Kontemporer): Istighfar itu adabnya orang alim (orang yang berilmu).

· Ustadz Adi Hidayat: Dzikir sebelum tidur itu mengunci amal harian kita.

· Buya Yahya: Jangan tidur bawa dosa.


Catatan Penting: Cerita mimpi dalam hadis tadi kita ambil hikmah dan renungannya aja ya,bukan jadi patokan utama dalam akidah.


Credits: Semua ilmu ini dari Allah ﷻ,ajaran Rasulullah ﷺ, dan dijaga sama para ulama. Makasih banget buat mereka semua.


Mudah-mudahan tulisan ringan ini bikin kita semua rajin istighfar sebelum tidur, ya!


Wallahu a‘lam.

870. Keutamaan Dermawan dan Kehinaan Orang Kikir



Keutamaan Dermawan dan Kehinaan Orang Kikir

Penulis: M. Djoko Ekasanu



Hai, Ali, orang yang senang mendermakan hartanya itu dekat dengan Allah, dekat dengan rahmat-Nya dan jauh dari siksa-Nya. Sedangkan orang yang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari rahmat-Nya dan dekat pada siksa-Nya.

 Hai, Ali, orang yang senang mendermakan hartanya itu dekat dengan Allah, dekat dengan rahmat-Nya dan jauh dari siksa-Nya. Sedangkan orang yang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari rahmat-Nya dan dekat pada siksa-Nya.

Keterangan:

Ada riwayat menyebutkan: Bahwa Abdullah bin Al Mubarok pernah mampir ke kota Kufah dalam perjalanannya menuju Makkah untuk melakukan ibadah haji. Dalam perjalanan ini ia melihat seorang perempuan mencabuti bulu-bulu itik di tempat pembuangan sampah. Ia berhenti dan memperhatikannya. Ternyata, itik itu adalah bangkai. Ia lalu berkata: Hai, wanita, ini bangkai atau habis disembelih? Wanita itu menjawab: Bangkai, dan aku akan memakannya bersama keluargaku. Abdullah bin Al-Mubarok berkata kepada wanita itu: Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bangkai, tapi di desa ini engkau memakannya. Si wanita itu berkata: Hai, Tuan, pergilah. Tetapi Abdullah bin Al-Mubarok terus mengingatkannya, hingga akhirnya wanita itu berkata: Sesungguhnya saya, dan anak-anak yang masih kecil sudah tiga hari kelaparan, karena saya tidak menemukan sesuatu yang dapat kami masak untuk mereka. Lalu ia pergi, dan tidak lama lagi kembali dengan menuntun keledai yang di atas punggungnya terdapat bahan makanan, pakaian dan perbekalan lainnya menuju tempat tinggal wanita tersebut. Ia mengetuk pintu rumah wanita fakir itu dan masuk ke dalamnya seraya berkata kepadanya: Ini adalah bahan makanan, pakaian dan masakan makanan, ambillah, keledai dan muatannya ini semuanya aku berikan kepadamu. Kemudian ia menetap di kota Kufah ini, tidak melanjutkan perjalanannya ke kota Makkah, karena musim haji sudah lewat. Lalu ia kembali pulang ke negerinya, ketika para Hujjaj sudah pada pulang. Orang-orang menyambut kedatangannya. Tetapi ia berkata kepada mereka, aku tidak melakukan haji tahun ini. Kemudian ada seorang laki-laki berkata: Subhanallah, bukankah aku telah menitipkan uangku dan kita berangkat bersama-sama, kemudian saya mengambilnya kembali di Arafah. Laki-laki lainnya berkata: Bukankah engkau yang memberi minuman di tempat ini? Lainnya lagi berkata: Hai, Abdullah bin Al-Mubarok, tidakkah engkau membeli ini dan itu kepadaku? Abdullah bin Al-Mubarok berkata kepadanya: Saya tidak mengerti apa yang mereka katakan. Saya tahun ini tidak melakukan ibadah haji.

Ketika malam hari tiba dan Abdullah bin Al-Mubarok tidur, maka ia bermimpi melihat ada seseorang berkata: Hai, Abdullah, sesungguhnya Allah swt. telah menerima sedekahmu dan Dia mengutus seorang malaikat yang menjelma seperti kamu ke Makkah untuk melakukan haji untukmu. (An-Nawadir: 98-99).


Ringkasan Redaksi Asli

Rasulullah ﷺ menasihati Sayyidina Ali r.a. bahwa orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan rahmat-Nya, dan jauh dari siksa-Nya. Sebaliknya, orang yang kikir jauh dari Allah, jauh dari rahmat-Nya, dan dekat dengan siksa-Nya. Pesan ini menegaskan bahwa nilai seseorang di sisi Allah tidak diukur dari banyaknya harta, melainkan dari sejauh mana harta itu dimanfaatkan untuk kebaikan.

Kisah Abdullah bin Al-Mubarak di Kufah menggambarkan hakikat kedermawanan sejati: mendahulukan kebutuhan orang lapar daripada ibadah personal yang agung. Sedekah yang tulus mengantarkan pahala besar hingga Allah menerima amal tersebut dan menggantinya dengan kemuliaan yang tak terduga.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa klasik Islam, kesenjangan sosial sudah nyata: ada yang berlebih harta, ada pula yang kelaparan hingga terpaksa memakan yang haram. Kikirnya orang kaya dan lemahnya solidaritas sosial menjadi sebab lahirnya penderitaan. Rasulullah ﷺ menanamkan akhlak dermawan sebagai solusi sosial dan spiritual.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Cinta dunia dan takut miskin.
  2. Lemahnya iman kepada janji Allah.
  3. Hilangnya empati sosial.
  4. Salah memahami konsep kepemilikan harta.

Intisari Judul

Derma adalah Jalan Dekat kepada Rahmat Allah, Kikir adalah Jalan Dekat kepada Azab-Nya.


Tujuan dan Manfaat

Tujuan:

  • Menumbuhkan kesadaran pentingnya kedermawanan.
  • Membersihkan jiwa dari sifat bakhil.

Manfaat:

  • Terwujudnya masyarakat yang saling menolong.
  • Datangnya keberkahan hidup dan ketenangan batin.

Dalil Al-Qur’an

  1. “Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai…” (QS. Al-Baqarah: 261)
  2. “Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Hasyr: 9)

Dalil Hadis

  • “Harta tidak akan berkurang karena sedekah.” (HR. Muslim)
  • Hadis nasihat Rasulullah ﷺ kepada Ali r.a. tentang dermawan dan kikir.

Analisis dan Argumentasi

Dermawan adalah bukti tauhid praktis: yakin bahwa pemberi rezeki adalah Allah, bukan harta itu sendiri. Kikir adalah penyakit hati yang berakar pada syirik khafi—takut miskin lebih besar daripada percaya pada Allah.


Keutamaan dan Hukuman

Di Dunia

  • Dermawan: dicintai manusia, hidup lapang.
  • Kikir: dibenci, hidup sempit meski kaya.

Di Alam Kubur

  • Dermawan: kubur dilapangkan.
  • Kikir: kubur disempitkan oleh penyesalan.

Di Hari Kiamat

  • Dermawan: dinaungi sedekahnya.
  • Kikir: hartanya menjadi azab.

Di Akhirat

  • Dermawan: dekat dengan surga.
  • Kikir: dekat dengan neraka.

Relevansi Zaman Modern

Di era teknologi, komunikasi, transportasi, dan kedokteran yang maju, kedermawanan semakin mudah: transfer digital, donasi daring, wakaf produktif, dan bantuan medis. Namun kecanggihan ini juga melahirkan egoisme digital jika tidak dibarengi iman.


Hikmah

  • Harta adalah amanah.
  • Sedekah adalah investasi abadi.
  • Menolong orang lapar lebih utama daripada ibadah sunnah tertentu.

Muhasabah dan Caranya

  • Hitung nikmat yang diterima setiap hari.
  • Sisihkan harta sebelum digunakan.
  • Biasakan memberi meski sedikit.

Doa

Allahumma thahhir qulubana minal bukhl, wazayyin-ha bil jud wal karam, waj‘al ma a‘thaitana wasilatan li ridhaka.


Nasehat Para Ulama dan Sufi

  • Hasan Al-Bashri: Dunia hanyalah titipan, bukan milik.
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: Cinta Allah mengalahkan cinta harta.
  • Abu Yazid al-Bistami: Lepaskan milikmu, engkau akan sampai.
  • Junaid al-Baghdadi: Sedekah adalah bukti kejujuran iman.
  • Al-Hallaj: Memberi adalah fana’ dari ego.
  • Imam Al-Ghazali: Bakhil adalah penyakit hati paling berbahaya.
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: Orang bakhil terhalang dari ma’rifat.
  • Jalaluddin Rumi: Harta seperti air, jika mengalir ia jernih.
  • Ibnu ‘Arabi: Kepemilikan sejati adalah melepaskan.
  • Ahmad al-Tijani: Sedekah membuka pintu rahasia Ilahi.

Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha: Sedekah itu logika iman, bukan logika rugi-laba.
  • Ustadz Adi Hidayat: Derma mempercepat pertolongan Allah.
  • Buya Yahya: Kikir adalah tanda hati belum kenal akhirat.
  • Ustadz Abdul Somad: Sedekah menutup pintu musibah.
  • Buya Arrazy Hasyim: Memberi melatih keikhlasan dan tawakal.

Catatan Redaksi

Sebagian kisah disajikan sebagai renungan. Jika terdapat unsur Israiliyat, ia tidak dijadikan dalil akidah atau hukum, melainkan pelajaran moral.


Daftar Pustaka

  • Al-Qur’anul Karim
  • Shahih Muslim
  • Ihya’ Ulumuddin – Imam Al-Ghazali
  • An-Nawadir
  • Kitab-kitab tasawuf klasik

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada Allah ﷻ, Rasulullah ﷺ, para ulama, dan seluruh pembaca yang berkenan mengambil hikmah. Semoga tulisan ini menjadi wasilah kebaikan dan amal jariyah. Aamiin.

......

Versi Santai & Gaul: Keutamaan Jadi Orang Dermawan vs Risiko Jadi Pelit


Penulis: M. Djoko Ekasanu


Hai Ali, orang yang hobi berbagi itu deket banget sama Allah, dekat sama kasih sayang-Nya, dan aman dari siksa. Sebaliknya, orang yang pelit itu jauh dari Allah, jauh dari kebaikan-Nya, dan malah nyerempet-nyerempet bahaya.


---


Kisah Nyentrik: Abdullah bin Al-Mubarak vs Neneng Penjaga Itik


Suatu kali, Abdullah bin Al-Mubarak lagi dalam perjalanan haji ke Makkah, mampir dulu ke Kufah. Pas lagi jalan, dia liat ada perempuan lagi cabutin bulu itik di tempat sampah. Penasaran, dia datengin.


"Maaf, Bu. Itiknya habis disembelih atau… bangkai?" tanya Abdullah.


"Bangkai, Mas. Mau aku masak buat keluarga," jawabnya singkat.


Abdullah langsung kasih tahu: "Bu, bangkai itu haram, lho. Gak boleh dimakan."


Tapi si ibu cuma bilang, "Sudah, Mas, lanjutkan perjalanan saja."


Abdullah gak menyerah, sampe akhirnya ibu itu cerita: "Aku dan anak-anak udah tiga hari kelaparan. Gak ada yang bisa dimasak."


Abdullah langsung gerak cepat. Dia beli bahan makanan, baju, dan kebutuhan lain, naikin ke keledai, anterin ke rumah ibu itu.


"Ini buat Ibu dan anak-anak. Keledai sama barang-barangnya juga Ibu terima ya," kata Abdullah.


Karena udah telat musim haji, dia memutuskan gak lanjut ke Makkah. Pulang deh ke kampung halaman.


Pas sampai, teman-temannya pada nyamperin. "Wah, pulang haji nih!" kata mereka. Ada yang bilang, "Aku titip uang sama kamu kan?" Yang lain nambahin, "Kamu yang bagiin air minum di Arafah kan?"


Abdullah cuma geleng-geleng. "Aku tahun ini gak berangkat haji, guys. Beneran."


Malamnya, dia mimpi. Ada yang bilang, "Hei Abdullah, Allah udah terima sedekahmu. Dia ngirim malaikat yang mirip kamu buat ngegantiin haji kamu di Makkah." (Sumber: An-Nawadir, dikisahkan ulang dengan gaya santai).


---


Intisari Versi Gaul:


Rasulullah ﷺ pernah kasih nasihat ke Ali: orang yang royal berbagi itu dekat sama Allah dan selamat. Yang pelit? Jauh dari Allah dan bahaya. Intinya, nilai kita di mata Allah itu bukan seberapa banyak harta, tapi seberapa sering kita bagi ke yang butuh.


Kisah Abdullah bin Al-Mubarak tuh contoh nyata: bantu orang kelaparan bisa lebih utama daripada ibadah pribadi yang udah direncanakan. Sedekah yang ikhlas bisa digantiin Allah dengan cara yang gak nyangka.


---


Latar Belakang Zaman Dulu vs Sekarang:


Dulu aja udah ada yang super kaya dan yang sampai kelaparan. Pelitnya orang mampu bikin yang miskin makin susah. Makanya Rasulullah ﷺ tekankan pentingnya jiwa sosial.


Sekarang? Masih mirip. Bedanya, teknologi bikin kita lebih gampang buat berbagi — transfer online, donasi digital, wakaf lewat aplikasi. Tapi, kemajuan ini juga bikin orang makin individualistis kalo gak diimbangi sama hati yang peka.


---


Akar Masalah Kenapa Orang Pelit:


1. Takut miskin & cinta dunia berlebihan.

2. Kurang percaya sama jaminan rezeki dari Allah.

3. Empati lagi turun.

4. Salah paham, ngira harta itu sepenuhnya milik kita.


---


Gist-nya:


Jadi dermawan = jalan cepat buat dekat sama rahmat Allah.

Jadi pelit = jalan cepat menuju masalah.


---


Tujuannya:


· Ngingetin kita buat rajin berbagi.

· Ngebersihin hati dari sifat pelit.


Manfaatnya:


· Lingkungan jadi lebih saling bantu.

· Hidup terasa lebih berkah dan tenang.


---


Dasar Kitab Suci (Tetap Pakai Bahasa Asli & Terjemahan Resmi):


Dari Al-Qur'an:


"Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai…" (QS. Al-Baqarah: 261)


"Dan barang siapa dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9)


Dari Hadis:


"Harta tidak akan berkurang karena sedekah." (HR. Muslim)


---


Analisis Singkat:


Jadi dermawan itu bukti kita percaya sama Allah sebagai pemberi rezeki. Jadi pelit itu tanda kita lebih takut kehilangan harta daripada percaya sama jaminan Allah.


---


Konsekuensinya:


· Di Dunia: Yang dermawan disenangi, hidup lapang. Yang pelit dibenci, hidup serba sempit meski tajir.

· Di Alam Kubur: Yang dermawan kuburnya lapang. Yang pelit disempitin penyesalan.

· Di Akhirat: Yang dermawan dekat sama surga. Yang pelit dekat sama neraka.


---


Relevansi Buat Kita (Gen Z/Milenial):


Sekarang berbagi gampang banget: donasi online, galang dana buat korban bencana, bagi makanan lewat aplikasi. Tapi, medsos juga bikin kita kadang lupa sama tetangga yang kelaparan. Intinya, teknologi harus dipake buat perbanyak kebaikan, bukan cuma buat pamer atau sibuk sendiri.


---


Hikmah yang Bisa Diambil:


· Harta cuma titipan.

· Sedekah itu investasi akhirat.

· Nolong orang yang lagi kesusahan kadang lebih utama daripada ibadah tambahan buat diri sendiri.


---


Tips Simpel Buat Mulai:


1. Hitung nikmat harian: Sadar betapa banyak yang udah kita dapet.

2. Sisihin duit di awal: Pas dapet rezeki, langsung pisihin sebagian buat sedekah.

3. Biasakan berbagi, sekecil apapun: Gak perlu nunggu kaya raya.


---


Doa Singkat (Bisa Diamin-in):


"Ya Allah, bersihin hati kami dari sifat pelit, hiasi dengan kedermawanan, dan jadikan apa yang kami beri jadi jalan buat dapet ridho-Mu."


---


Kata-kata Bijak Para Tokoh (Versi Singkat):


· Hasan Al-Bashri: Dunia cuma titipan.

· Rabi‘ah al-Adawiyah: Cinta Allah harus lebih besar dari cinta harta.

· Imam Al-Ghazali: Pelit itu penyakit hati yang berbahaya.

· Jalaluddin Rumi: Harta kaya air, kalo disimpan bikin keruh, kalo dialirkan jernih.

· Gus Baha (masa kini): Sedekah itu logika iman, bukan logika dagang.

· Ustadz Adi Hidayat: Banyak berbagi mempercepat pertolongan Allah.


---


Note dari Penulis:


Beberapa kisah diambil buat bahan renungan aja. Kalo ada cerita yang sumbernya dari riwayat Israiliyat, itu bukan buat dalil agama, tapi cuma ambil pelajaran moralnya aja.


---


Credits & Ucapan Terima Kasih:


Syukur alhamdulillah sama Allah ﷻ, Nabi Muhammad ﷺ, para ulama, dan kalian semua yang baca. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat dan jadi amal jariyah. Aamiin.


Referensi utama: Al-Qur'an, Shahih Muslim, Ihya' Ulumuddin, An-Nawadir, & kitab tasawuf lainnya.