Friday, October 17, 2025

BERIBADAH DENGAN KEBODOHAN

 



🕌 BERIBADAH DENGAN KEBODOHAN

(Refleksi dari Kitab Al-Ghayah karya Al-Hishni)
Oleh: M. Djoko Ekasanu



Dalam kitab Al-Ghayah karangan Al-Hishni terdapat keterangan bahwa Dhirar bin Amar berkata: Sesungguhnya ada suatu kaum yang enggan menuntut ilmu, tidak sudi duduk bersama ahlul ilmi, baik pelajar atau ulama, lalu mereka hanya membikin kamar khusus, melakukan shalat, berpuasa sehingga kurus kering, kulitnya telah melekat pada tulangnya.
Tindakan mereka ini ternyata bertentangan dengan ajaran agama, akhirnya kebinasaanlah yang mereka terima. Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Allah, tidak seorangpun yang beribadah dengan kebodohan, kecuali yang merusak lebih banyak daripada yang memperbaiki. Oleh karena itu, dia menyatakan bahwa mereka akan menemui kebinasaan.


🔹 Ringkasan Redaksi Aslinya

Dalam kitab Al-Ghayah karya Al-Hishni disebutkan bahwa Dhirar bin Amar pernah menegur sekelompok orang yang menjauh dari majelis ilmu. Mereka menolak duduk bersama para ulama dan pelajar, memilih mengurung diri di kamar untuk shalat dan puasa hingga tubuhnya kurus kering. Namun, ternyata amal ibadah mereka tidak membawa kebaikan, bahkan menjerumuskan pada kebinasaan.
Dhirar berkata:

“Demi Allah, tidak ada seorang pun yang beribadah dengan kebodohan kecuali kerusakannya lebih besar daripada perbaikannya.”


🔹 Maksud dan Hakekat

Pesan yang hendak disampaikan Dhirar bin Amar sangat dalam: ibadah tanpa ilmu adalah bencana.
Ibadah sejati menuntut ilmu yang membimbing hati, bukan sekadar gerakan fisik. Ilmu adalah cahaya yang menerangi ibadah, sedangkan kebodohan adalah kegelapan yang bisa menyesatkan.

Hakekatnya, ilmu adalah syarat diterimanya amal. Tanpa ilmu, seseorang bisa terjebak dalam kesalahan yang dianggapnya kebaikan — sebagaimana firman Allah:

“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?
Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”

(QS. Al-Kahfi: 103–104)


🔹 Tafsir dan Makna Judul

“Beribadah dengan Kebodohan” bukan sekadar peringatan, melainkan kritik keras terhadap tafaqquh yang diabaikan.
Allah berfirman:

“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu.”
(QS. Muhammad: 19)

Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu (“fa’lam” – ketahuilah) harus mendahului amal (“fastaghfir” – beristighfar). Artinya, mengenal Allah (ma’rifatullah) menjadi fondasi amal.


🔹 Tujuan dan Manfaat

  1. Mengingatkan umat Islam bahwa ilmu adalah jalan menuju amal yang benar.
  2. Mencegah munculnya paham-paham ekstrem yang menolak ulama dan pendidikan agama.
  3. Menumbuhkan semangat thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu) sebagai ibadah utama.
  4. Membimbing hati agar ibadah dilakukan dengan pengertian, bukan taklid buta.

🔹 Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa awal Islam hingga abad ketiga Hijriyah, muncul kelompok-kelompok zuhud ekstrem yang meninggalkan masyarakat dan menganggap cukup dengan shalat serta puasa. Mereka menolak duduk di majelis ilmu karena merasa sudah “dekat dengan Allah”.
Namun para ulama besar seperti Al-Hishni, Imam Ghazali, dan Dhirar bin Amar meluruskan pandangan itu: zuhud bukan berarti meninggalkan ilmu dan amal sosial.
Zuhud tanpa ilmu menjelma menjadi kesesatan.


🔹 Intisari Masalah

➡️ Masalah utama: Menolak ilmu dan majelis ulama.
➡️ Akibat: Ibadah yang dilakukan tidak sesuai tuntunan syariat, menjadi kerusakan rohani.
➡️ Kesimpulan: Ilmu dan ibadah harus berjalan bersama — seperti dua sayap burung menuju ridha Allah.


🔹 Sebab Terjadinya Masalah

  1. Kesalahpahaman terhadap makna zuhud.
  2. Rasa sombong rohani (ujub) yang menganggap diri suci tanpa perlu belajar.
  3. Ketidakhadiran ulama dalam pembinaan masyarakat awam.
  4. Godaan setan yang menyesatkan manusia lewat jalan ibadah.

🔹 Dalil Al-Qur’an dan Hadis

Al-Qur’an:

“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”
(QS. Az-Zumar: 9)

Hadis Nabi ﷺ:

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
(HR. Muslim)

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus dari manusia, tetapi mencabutnya dengan mewafatkan para ulama, hingga bila tidak ada lagi orang alim, manusia mengangkat orang bodoh sebagai pemimpin; mereka ditanya lalu memberi fatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


🔹 Analisis dan Argumentasi

Ilmu adalah cahaya yang membimbing ibadah kepada arah yang benar.
Ibadah tanpa ilmu seperti kapal berlayar tanpa kompas — bisa tenggelam di lautan kesesatan.
Mereka yang beribadah tanpa ilmu sering terjebak dalam bentuk ritualisme kosong, menilai kesalehan dari kurusnya tubuh, lamanya sujud, atau banyaknya wirid, padahal hakikat ibadah adalah taat yang disertai pengenalan kepada Allah.


🔹 Relevansi Saat Ini

Fenomena serupa terjadi hari ini:
Sebagian orang rajin beribadah tetapi menolak belajar dari ulama, menolak fiqh, tafsir, bahkan merasa cukup dengan “bisikan hati”. Akibatnya, muncul kelompok yang menyeleweng dari sunnah, menyalahkan ulama, dan menebar kebingungan di tengah umat.
Padahal, ulama adalah pewaris para nabi.


🔹 Hikmah

  1. Ilmu adalah cahaya ibadah, tanpa ilmu ibadah menjadi kegelapan.
  2. Zuhud sejati adalah hati yang tenang di tengah dunia, bukan tubuh yang tersiksa karena lapar.
  3. Menghadiri majelis ilmu adalah bentuk ibadah yang lebih tinggi daripada ibadah yang tidak disertai pengertian.
  4. Orang berilmu akan selalu merendah karena tahu betapa sedikit pengetahuannya di hadapan Allah.

🔹 Muhasabah dan Caranya

  • Bertanyalah kepada diri sendiri:
    Apakah aku beribadah karena ilmu atau karena kebiasaan?
  • Hadiri majelis ilmu dengan hati rendah.
  • Pelajari hukum ibadah dari sumber yang sahih.
  • Jangan merasa cukup dengan pengalaman spiritual tanpa rujukan syariat.

🔹 Doa

“Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami ilmu yang bermanfaat, amal yang diterima, hati yang khusyuk, dan lisan yang selalu berdzikir kepada-Mu.
Jauhkan kami dari ibadah yang menyesatkan dan dekatkan kami kepada cahaya ilmu-Mu.
Amin ya Rabbal ‘alamin.”


🔹 Nasehat Para Sufi Besar

  • Hasan Al-Bashri: “Ilmu tanpa amal adalah kesombongan, amal tanpa ilmu adalah kebodohan.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Cintailah Allah karena pengetahuanmu tentang-Nya, bukan karena harapan surga atau takut neraka.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Jalan menuju Allah terang bagi yang berilmu, gelap bagi yang bodoh.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Tasawuf bukan sekadar gerak zahir, tapi pengetahuan tentang hakikat.”
  • Al-Hallaj: “Barang siapa mengenal Allah tanpa ilmu, ia akan terjerumus pada dirinya sendiri.”
  • Imam al-Ghazali: “Ilmu tanpa amal gila, amal tanpa ilmu sia-sia.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Belajarlah sebelum engkau beramal, karena amal tanpa ilmu seperti bangunan tanpa pondasi.”
  • Jalaluddin Rumi: “Ilmu adalah sayap rohani yang mengangkat jiwa ke langit makrifat.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Siapa mengenal Tuhan tanpa mengenal ilmu-Nya, sesungguhnya ia mengenal khayalan.”
  • Ahmad al-Tijani: “Orang berilmu itu hidup dalam dua dunia; dunia ilmu dan dunia amal, keduanya saling menyempurnakan.”

🔹 Daftar Pustaka

  1. Al-Hishni, Al-Ghayah fi Ikhtishar an-Nihayah, Beirut: Dar al-Fikr.
  2. Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin.
  3. Jalaluddin Rumi, Matsnawi al-Ma’nawi.
  4. Ibnu ‘Arabi, Futuhat al-Makkiyyah.
  5. Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Al-Fath ar-Rabbani.
  6. Hasan Al-Bashri, Mawa’izh wa Rasail.
  7. Al-Qur’an dan Hadis Shahih Bukhari-Muslim.

🔹 Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada para guru, ulama, dan pembaca yang senantiasa menumbuhkan cinta kepada ilmu dan cahaya kebenaran.
Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah dan pengingat bahwa ibadah tanpa ilmu hanyalah bayang-bayang kesalehan.


🖋️ Penulis: M. Djoko Ekasanu
(Pemerhati Ilmu, Tasawuf, dan Peradaban Islam)


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang santai dan sopan dari teks tersebut:


🕌 BERIBADAH DENGAN KEBODOHAN? NO, THANKS!


(Refleksi dari Kitab Al-Ghayah karya Al-Hishni) Oleh:M. Djoko Ekasanu


🔹 CERITANYA GIMANA SIH?


Jadi, dalam kitab Al-Ghayah, ada cerita tentang Dhirar bin Amar yang ngeluh tentang sekelompok orang. Katanya, mereka ini anti-banget belajar ilmu agama. Nggak mau gabung di majelis ilmu, nggak mau duduk-duduk sama ustadz atau para pencari ilmu.


Mereka milih ngurung diri di kamar, fokus shalat dan puasa aja, sampe badannya kurus kering. Tapi, menurut Dhirar, action mereka ini justru melenceng dari ajaran agama dan bikin mereka celaka. Dia bilang dengan tegas:


“Demi Allah, nggak ada satu orang pun yang beribadah tapi masih bodoh, kecuali kerusakan yang dia bikin lebih banyak daripada perbaikan.”


Intinya, ibadah tanpa ilmu = bahaya.


🔹 MAKNA DI BALIK JUDUL: “BERIBADAH DENGAN KEBODOHAN”


Judul ini sebenernya sindiran halus buat yang males belajar agama. Ibadah itu butuh ilmu, bukan cuma modal semangat. Kalo nggak paham, bisa-bisa yang kita anggap benar ternyata salah. Mirip kayak kata Allah dalam QS. Al-Kahfi: 103–104:


“Katakanlah: Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”


Ngeri, kan? Bisa aja kita merasa paling bener, tapi ternyata sesat.


Allah juga bilang di QS. Muhammad: 19: “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah,dan mohonlah ampunan atas dosamu.”


Perhatikan urutannya: “fa’lam” (tahu dulu) baru “fastaghfir” (minta ampun). Jadi, ilmu dulu, baru amal.


🔹 KENAPA BISA KEJADIAN GINI?


1. Salah paham zuhud: Ngira zuhud itu harus ninggalin dunia dan menyendiri aja.

2. Ujub spiritual: Merasa diri udah cukup suci, jadi nggak butuh belajar dari orang lain.

3. Lingkungan: Kurangnya peran ulama atau guru yang ngasih pemahaman yang bener.

4. Godaan setan: Setan bisa nipu lewat jalur ibadah, bikin kita merasa paling soleh tanpa ilmu.


🔹 RELEVANSINYA DI ZAMAN NOW?


Masih banget relevan! Sekarang kan banyak yang rajin ibadah tapi skip belajar agama. Ada yang merasa cukup baca dari medsos, nggak mau ikut pengajian, atau bahkan ngeremehin ilmu fiqh dan tafsir. Alhasil, muncul pemahaman yang sempit dan gampang nyalahin orang lain. Padahal, ulama itu pewaris para nabi, lho.


🔹 JADI, HARUS GIMANA?


1. Ilmu dulu, baru action. Sebelum ibadah, cari tahu dulu caranya yang bener.

2. Rajin ke majelis ilmu. Ikutan pengajian, dengerin ceramah, atau diskusi sama yang lebih paham.

3. Jangan sombong rohani. Semakin banyak ilmu, harusnya kita makin rendah hati.

4. Cek sumbernya. Pastikan ilmu agama kita dari sumber yang jelas dan terpercaya.


🔹 NASEHAT GOLD PARA SUFI


· Hasan Al-Bashri: “Ilmu tanpa amal itu sombong, amal tanpa ilmu itu goblok.”

· Imam al-Ghazali: “Ilmu tanpa amal itu gila, amal tanpa ilmu itu percuma.”

· Jalaluddin Rumi: “Ilmu itu sayap yang bikin jiwa kita terbang ke langit makrifat.”

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Belajar dulu sebelum beramal, soalnya amal tanpa ilmu kayak bangunan tanpa pondasi.”


🔹 MUHASABAH DIRI SENDIRI


· “Gue ibadah karena ikut-ikutan atau karena paham?”

· “Udah berapa sering gue cari ilmu agama minggu ini?”

· “Apakah gue merasa paling bener sendiri dalam beragama?”


🔹 DOA PENUTUP


“Ya Allah, kasih kami ilmu yang bermanfaat, amal yang diterima, hati yang khusyuk, dan mulut yang selalu ingat Kamu. Jauhin kami dari ibadah yang nyasar dan deketin kami sama cahaya ilmu-Mu. Aamiin.”


🔹 SUMBER-SUMBER RUJUKAN


· Kitab Al-Ghayah karya Al-Hishni

· Ihya’ Ulumuddin-nya Imam Al-Ghazali

· Karya-karya Rumi, Ibn ‘Arabi, dll.

· Al-Qur’an dan Hadis Shahih Bukhari-Muslim.


🖋️ Penulis: M. Djoko Ekasanu (Pemerhati Ilmu,Tasawuf, dan Peradaban Islam)


Tetap semangat belajar, guys! Soalnya, ibadah yang bener itu yang pake ilmu, bukan cuma modal feeling. 😉


Anak yang Menjadi Penuntun ke Surga.

 



🌿 “Anak yang Menjadi Penuntun ke Surga”

Oleh: M. Djoko Ekasanu



Seorang shalihin dulunya ia jika ditawari kawin selalu menolak, pada suatu hari ia bangun dari tidur, tiba-tiba berkata : Kawinkanlah aku, kawinkanlah aku. Kemudian setelah ia dikawinkan, ditanya : Mengapakah ia minta kawin padahal dahulunya selalu menolak jika ditawari kawin ? Jawabnya : Semoga saya mendapatkan anak, lalu mati ketika masih kecil, sehingga menjadi perintis pendahuluan bagiku ke akherat, lalu ia bercerita : Saya telah mimpi, seakan-akan hari qiamat telah tiba dan saya berdiri bersama orang –orang di mahsyar, dengan perasaan yang sangat haus sehingga hampir mematahkan leherku, tiba-tiba saya melihat anak-anak yang membawa gelas-gelas perak dan tertutup dengan saputangan dari cahaya dan anak-anak itu masuk disela-sela orang banyak untuk memberi minum satu-satu, maka saya mengulur tanganku pada anak-anak itu dan berkata : Berikan padaku karena aku juga sangat haus, tiba-tiba anak itu melihat padaku dan berkata : Anda tidak mempunyai anak diantara kami , dan kami ini hanya memberi minum kepada ayah dan ibu kami. Lalu ditanya : Kamu itu siapa ? Jawab mereka : Kami anak-anak kecil 


Ringkasan Redaksi Asli

Dikisahkan seorang hamba shalih pada awalnya selalu menolak setiap kali ditawari untuk menikah. Namun pada suatu hari, ia bangun dari tidurnya dan berkata, “Kawinkanlah aku, kawinkanlah aku.” Setelah menikah, ia ditanya mengapa berubah pikiran. Ia menjawab, “Aku berharap memiliki anak, lalu anak itu wafat ketika masih kecil, agar kelak menjadi pendahulu bagiku menuju akhirat.”

Ia lalu bercerita bahwa dalam mimpinya ia melihat hari kiamat. Ia berdiri di padang mahsyar dengan dahaga yang amat sangat. Ia melihat anak-anak kecil membawa gelas-gelas perak berisi minuman surga untuk orang tua mereka. Ketika ia meminta seteguk air, anak-anak itu menjawab, “Engkau tidak mempunyai anak di antara kami. Kami hanya memberi minum kepada ayah dan ibu kami.” Maka ia pun sadar: memiliki keturunan yang saleh bisa menjadi jalan pertolongan di akhirat.


Maksud dan Hakikat

Kisah ini bukan semata tentang pernikahan atau keturunan, melainkan tentang kesadaran spiritual akan amal yang meninggalkan jejak di akhirat. Anak kecil yang meninggal dalam keadaan suci menjadi cahaya bagi orang tuanya di alam akhirat. Ia menjadi “syafi‘”, pemberi syafaat, yang menunggu orang tuanya dengan segenggam minuman surga.


Tafsir dan Makna dari Judul

“Anak yang Menjadi Penuntun ke Surga” berarti bahwa anak, terutama yang wafat sebelum baligh, tetap hidup di sisi Allah dan menjadi bagian dari kasih sayang-Nya bagi orang tua yang sabar. Dalam dimensi hakikat, anak bukan sekadar keturunan biologis, tetapi amanah Ilahi yang mengikat hati manusia dengan rahmat Allah.


Tujuan dan Manfaat

Tulisan ini mengajak kita memahami:

  1. Nilai spiritual dari keturunan sebagai warisan amal.
  2. Kesadaran bahwa setiap amanah hidup memiliki hikmah ukhrawi.
  3. Dorongan untuk bersabar atas kehilangan dan memperkuat ikatan batin dengan Allah.

Latar Belakang Masalah di Jamannya

Pada masa tabi‘in dan para salaf, sebagian ahli ibadah enggan menikah karena khawatir duniawi melalaikan mereka dari ibadah. Namun, sebagian lain menyadari bahwa pernikahan dan keturunan juga ibadah, bahkan menjadi jalan untuk menambah pahala dan kasih sayang di akhirat.


Intisari Masalah

Kesadaran akan amal jariyah dan keterhubungan spiritual antara orang tua dan anak menjadi kunci dalam kisah ini. Ia baru memahami bahwa berkeluarga dan memiliki anak bukan sekadar urusan dunia, tetapi juga bagian dari ibadah yang dapat menyelamatkan di akhirat.


Sebab Terjadinya Masalah

Kesalahpahaman sebagian orang bahwa meninggalkan dunia berarti menolak seluruh urusan jasmani. Padahal, dunia adalah ladang akhirat; segala sesuatu yang diniatkan karena Allah menjadi ibadah.


Dalil al-Qur’an dan Hadis

“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucunya, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.”
(QS. Ath-Thur: 21)

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang muslim ditinggal mati oleh tiga anak kecilnya, melainkan mereka akan menjadi penghalang baginya dari neraka.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


Analisis dan Argumentasi

Cinta kepada anak bukanlah bentuk cinta duniawi semata, melainkan manifestasi kasih sayang Allah dalam diri manusia. Ketika seorang shalih bermimpi tentang anak-anak surga yang memberi minum orang tuanya, itu menandakan betapa dalamnya keterikatan ruhani antara anak dan orang tua dalam takdir Ilahi.

Menolak pernikahan tanpa sebab syar‘i bisa berarti menutup peluang ibadah. Maka, keputusan shalihin itu untuk menikah adalah perjalanan kesadaran dari zuhud yang kering menuju zuhud yang hidup, yaitu zuhud yang melahirkan amal dan kasih sayang.


Relevansi Saat Ini

Di zaman modern, banyak yang menunda pernikahan karena alasan karier, ekonomi, atau kebebasan pribadi. Kisah ini menjadi pengingat bahwa menikah bukan beban, tetapi jalan menuju rahmat dan keselamatan akhirat.
Anak-anak yang dibesarkan dalam iman akan menjadi investasi spiritual, bukan sekadar beban finansial.


Hikmah

  1. Anak adalah amanah yang membawa rahmat.
  2. Kesabaran dalam kehilangan anak mendatangkan kedudukan mulia di sisi Allah.
  3. Nikah adalah bagian dari ibadah, bukan sekadar kebutuhan dunia.
  4. Setiap mimpi orang saleh menyimpan pelajaran ruhani bagi umat.

Muhasabah dan Caranya

  • Renungi: Apakah hidup kita hanya mencari kesenangan dunia atau bekal akhirat?
  • Lakukan: Perbanyak doa untuk anak-anak dan niatkan setiap nafkah sebagai ibadah.
  • Bersyukur: Atas amanah anak, meski sebentar, karena ia bisa menjadi penuntun di akhirat.

Doa

“Ya Allah, karuniakanlah kepada kami anak-anak yang saleh, yang menjadi penyejuk hati di dunia dan penolong kami di akhirat.
Dan jika Engkau mengambil mereka lebih dahulu, jadikanlah mereka cahaya yang menuntun kami menuju surga-Mu.”

آمِيْن يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ


Nasehat Para Sufi

  • Hasan al-Bashri: “Nikah itu bukan sekadar sunnah jasmani, tetapi ladang kasih sayang Allah di bumi.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Cintailah karena Allah, maka anak pun akan menjadi zikir yang hidup.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Setiap anak adalah rahasia Allah yang dihembuskan dalam dada manusia.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Jangan menolak nikmat Allah karena takut lalai, tapi niatkan untuk taat.”
  • Al-Hallaj: “Dalam anak, Allah memperlihatkan cinta-Nya yang paling lembut.”
  • Imam al-Ghazali: “Anak adalah amanah; jika engkau mendidiknya dalam iman, maka ia menjadi bekalmu di akhirat.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Anak yang wafat suci menjadi pemandu ayah ibunya di padang mahsyar.”
  • Jalaluddin Rumi: “Anak adalah cermin kasih Allah, lahir dari cinta yang murni.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Setiap anak adalah manifestasi dari nama Allah Ar-Rahman.”
  • Ahmad al-Tijani: “Barangsiapa mencintai anak karena Allah, ia mencintai rahmat Allah yang turun padanya.”

Daftar Pustaka

  1. Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulumuddin
  2. Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim
  3. Al-Qusyairi, Risalah Qusyairiyah
  4. As-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsur
  5. Jalaluddin Rumi, Matsnawi Ma’nawi
  6. Syekh Abdul Qadir al-Jailani, Al-Fath ar-Rabbani
  7. Hasan al-Bashri, Nashaih li al-Ummah

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para pembaca, guru, dan sahabat yang terus menanamkan cinta kepada ilmu dan amal. Semoga tulisan ini menjadi amal jariyah yang mengalir sebagaimana air kasih sayang yang tak pernah kering.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang sopan dan santai dari teks tersebut, tanpa mengubah arti ayat Al-Qur'an dan Hadits.


🌿 "Anak yang Jadi Pemandu ke Surga"


Oleh: M. Djoko Ekasanu


Ceritanya, nih...


Ada seorang ahli ibadah yang dulu selalu nolak tiap diajak nikah. Tapi suatu hari, dia bangun tidur terus tiba-tiba bilang, "Aku mau dinikahkan, dong! Cepetan nikahin aku!" Setelah akhirnya nikah, orang-orang pada penasaran, "Lho, kok jadi berubah? Dulu selalu nolak, sekarang malah minta dinikahkan?"


Dia pun cerita alasannya: "Aku pengen punya anak, trus anaknya dipanggil Allah pas masih kecil. Semoga dia bisa jadi 'pemandu' yang nyiapin jalan buat aku nanti di akhirat."


Trus, dia curhat tentang mimpinya yang bikin sadar itu:


Di mimpinya, kayaknya lagi hari Kiamat. Dia berdiri di padang Mahsyar, haus banget sampe tenggorokannya kayak mau putus. Tiba-tiba, dia liat banyak anak kecil bawa gelas-gelas cantik dari perak yang ditutup kain cahaya. Mereka mondar-mandir ngasih minum ke orang-orang.


Dia pun ngulurin tangan dan minta, "Aku haus nih, boleh minta minum?"


Tapi salah satu anak kecil itu liatin dia dan jawab, "Maaf, Bapak nggak punya anak di antara kami. Kami cuma ngasih minum ke orang tua kami sendiri." Barulah dia sadar, ternyata punya keturunan yang shalih itu bisa jadi "penolong" di akhirat nanti.


Maksud & Pesan Moralnya:


Kisah ini sebenernya lagi ngajarin kita soal investasi akhirat. Punya anak, apalagi yang cuma sebentar di dunia trus dipanggil Allah dalam keadaan suci, itu bisa jadi "cahaya" dan "pemandu" buat orang tuanya nanti. Mereka kayak duta kecil yang nungguin kita di surga.


Relevansi Buat Kita Sekarang:


Di zaman sekarang, banyak yang mikir nikah dan punya anak itu cuma beban finansial atau hambat karier. Kisah ini ngingetin kita bahwa keluarga dan keturunan itu juga ladang pahala dan kasih sayang Allah. Nggak cuma urusan dunia aja.


Dasar Agamanya:


Allah berfirman:


“Dan orang-orang yang beriman dan yang anak cucunya mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucunya, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.” (QS. Ath-Thur: 21)


Rasulullah ﷺ juga bersabda:


“Tidaklah seorang muslim ditinggal mati oleh tiga anak kecilnya, melainkan mereka akan menjadi penghalang baginya dari neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Hikmah & Pelajaran Hidup:


1. Anak adalah amanah sekaligus rezeki hati.

2. Kehilangan anak itu ujian kesabaran yang balasannya luar biasa di sisi Allah.

3. Menikah itu ibadah, bukan cuma urusan "gemesin anak orang" doang.

4. Mimpi orang shalih itu ada pelajarannya, jadi bahan renungan kita semua.


Self-Reflection (Muhasabah Diri):


· Coba deh renungkan: Hidup kita sehari-hari ngejar yang mana, sih? Kesenangan dunia doang atau juga siapin bekal untuk akhirat yang kekal?

· Action-nya: Mulai niatin semua yang kita beri buat keluarga dan anak sebagai ibadah. Doain mereka jadi anak shalih/shalihah.

· Bersyukur: Meski cuma sebentar, punya anak itu anugerah. Siapa tau dia yang nanti "nyambut" kita di surga.


Doa:


"Ya Allah, kasih kami anak-anak yang shalih, yang jadi penyejuk hati di dunia dan penolong kami di akhirat. Kalo pun Engkau ambil mereka lebih dulu, jadikan mereka cahaya yang nuntun kami ke surga-Mu." Aamiiin ya Rabbal 'aalamiin.


---


Kata-Kata Motivasi (Quote) Para Sufi buat Feed IG:


· Hasan al-Bashri: "Nikah itu nggak cuma sunnah biasa, tapi ladang kasih sayang Allah di bumi."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Cintailah karena Allah, maka anak pun akan jadi zikir yang hidup."

· Jalaluddin Rumi: "Anak itu cermin kasih Allah, lahir dari cinta yang murni."

· Imam al-Ghazali: "Anak adalah amanah; didik dia dengan iman, itu jadi bekalmu di akhirat."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Anak yang wafat dalam kesucian, dialah pemandu orang tuanya di padang Mahsyar."


Credits & Ucapan Terima Kasih:


Big thanks buat para pembaca, guru-guru, dan teman-teman yang selalu semangat berbagi ilmu dan kebaikan. Semoga tulisan sederhana ini bisa jadi amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir. 🙏