📰 Judul: Menjadi Penunjuk Kebaikan di Zaman Modern
Penulis: M. Djoko Ekasanu
من دل على خير فله مثل أجر فاعله
"Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala yang sama dengan pelakunya."
(HR. Muslim)
Ringkasan Redaksi Aslinya
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, berasal dari sabda Rasulullah ﷺ yang menegaskan bahwa seseorang yang mengajak, menuntun, atau memberi petunjuk kepada kebaikan — baik melalui perkataan, tulisan, maupun perbuatan — akan memperoleh pahala yang sama dengan orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala pelaku kebaikan tersebut sedikit pun.
Latar Belakang Masalah di Zamannya
Pada masa Rasulullah ﷺ, masyarakat Arab sedang dalam masa transisi dari kehidupan jahiliyah menuju peradaban Islam. Banyak orang baru mengenal ajaran tauhid, ibadah, dan akhlak mulia. Dalam konteks itulah, Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya dakwah, nasihat, dan teladan — agar setiap orang tidak hanya berbuat baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi sebab kebaikan bagi orang lain.
Hadis ini muncul untuk menanamkan semangat kolektif: bahwa mengarahkan orang lain kepada kebenaran adalah bagian dari amal saleh itu sendiri.
Sebab Terjadinya Masalah
Di masa itu, banyak sahabat baru masuk Islam dan belum sepenuhnya memahami syariat. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa meskipun seseorang hanya menunjukkan jalan menuju kebaikan, misalnya dengan berkata "Marilah kita shalat," atau "Sedekahkanlah ini," maka ia turut mendapatkan pahala seperti pelakunya.
Hadis ini muncul sebagai motivasi dakwah dan pengingat agar umat Islam saling menolong dalam kebajikan, bukan hanya menasihati secara lisan, tapi juga memberi contoh nyata.
Intisari Judul
Menjadi penunjuk kebaikan adalah tanggung jawab dan kehormatan. Di era apa pun, siapa yang menyalakan lilin kebaikan bagi orang lain, maka cahayanya akan kembali menerangi dirinya sendiri.
Tujuan dan Manfaat
- Mendorong umat Islam untuk aktif berdakwah dan menebarkan nilai-nilai kebaikan.
- Mengingatkan bahwa pahala tidak hanya diraih lewat amal pribadi, tetapi juga dari menginspirasi orang lain.
- Menumbuhkan kesadaran sosial — bahwa keberkahan hidup terletak dalam memberi manfaat bagi sesama.
Dalil Al-Qur’an dan Hadis
-
QS. Al-Ma’idah [5]: 2
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” -
QS. An-Nahl [16]: 125
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” -
Hadis lain (HR. Tirmidzi):
“Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.”
Analisis dan Argumentasi
Hadis ini menegaskan konsep transfer pahala melalui pengaruh positif. Dalam Islam, dakwah dan inspirasi adalah bagian dari amal jariyah — pahala yang terus mengalir walau pelakunya telah meninggal dunia.
Di era modern, “menunjukkan kebaikan” dapat dilakukan lewat berbagai sarana:
- Teknologi: membagikan konten dakwah, edukasi, dan sedekah digital.
- Komunikasi: mengajak dengan tutur lembut dan akhlak.
- Transportasi & Medis: menjadi relawan ambulans, pendonor darah, atau pengantar sedekah.
- Sosial: membuka lapangan kerja halal, membantu fakir miskin, menjaga lingkungan.
Relevansi dengan Zaman Sekarang
Dalam dunia yang serba digital, satu unggahan kebaikan bisa menjangkau jutaan manusia. Satu ajakan di media sosial bisa menuntun ribuan orang untuk shalat, bersedekah, atau membaca Al-Qur’an.
Teknologi menjadi wasilah (sarana dakwah) yang luar biasa, tetapi juga ujian: apakah digunakan untuk kebaikan atau keburukan.
Begitu pula kemajuan komunikasi, transportasi, dan kedokteran — semuanya dapat menjadi jalan pahala jika diarahkan untuk menolong, menyembuhkan, dan memudahkan sesama.
Keutamaan-keutamaannya
- Mendapat pahala yang sama seperti pelaku amal.
- Menjadi sebab terbukanya hidayah bagi orang lain.
- Termasuk dalam golongan pewaris tugas kenabian (penyeru kebaikan).
- Amalnya tetap mengalir walau telah meninggal dunia.
- Menjadi sebab terhindar dari azab dan kesempitan hidup.
Hikmah
Orang yang menunjukkan kebaikan sejatinya sedang menyelamatkan dirinya sendiri dari kelalaian. Setiap ajakan menuju Allah adalah cermin kerinduan hati untuk kembali kepada-Nya.
Menjadi penunjuk kebaikan bukan sekadar mengajar — tetapi menjadi pelita bagi hati-hati yang gelap.
Muhasabah dan Caranya
- Jadilah contoh nyata, bukan hanya pengucap nasihat.
- Sampaikan kebaikan dengan hikmah dan kelembutan.
- Gunakan teknologi untuk dakwah, bukan untuk fitnah.
- Ingat, setiap tindakan dan postingan bisa menjadi amal jariyah atau dosa jariyah.
Doa
اللهم اجعلنا من الذين يدلّون على الخير، ويعملون به، ويموتون عليه.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang menunjukkan kepada kebaikan, mengamalkannya, dan wafat dalam keadaan istiqamah di atasnya.”
Nasehat Para Sufi Besar
- Hasan Al-Bashri: “Ilmu tanpa amal adalah delusi, amal tanpa ikhlas adalah sia-sia.”
- Rabi‘ah al-Adawiyah: “Ajarkan cinta kepada Allah, bukan takut kepada neraka.”
- Abu Yazid al-Bistami: “Jadilah jalan bagi orang lain menemukan Allah.”
- Junaid al-Baghdadi: “Dakwah sejati adalah akhlak yang menenangkan jiwa.”
- Al-Hallaj: “Barangsiapa menyalakan api cinta, maka sinarnya membimbing banyak hati.”
- Imam al-Ghazali: “Amal yang baik adalah yang menghidupkan hati orang lain.”
- Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Ajaklah dengan kasih, bukan dengan marah.”
- Jalaluddin Rumi: “Lilin tak kehilangan cahayanya ketika menyalakan lilin lain.”
- Ibnu ‘Arabi: “Kebaikan sejati adalah menyadarkan manusia akan asalnya dari Allah.”
- Ahmad al-Tijani: “Setiap ajakan menuju Allah, walau sebaris kalimat, adalah zikir.”
Testimoni Ulama Kontemporer
- Gus Baha: “Kalau kamu bisa menuntun satu orang saja untuk lebih dekat kepada Allah, hidupmu sudah berharga.”
- Ustadz Adi Hidayat: “Gunakan jempolmu untuk dakwah, bukan untuk dosa.”
- Buya Yahya: “Kebaikan kecil yang ditularkan, lebih besar nilainya dari kebaikan besar yang disimpan.”
- Ustadz Abdul Somad: “Jadilah sebab orang lain mendapat hidayah. Itu lebih baik daripada dunia dan isinya.”
Daftar Pustaka
- Shahih Muslim, Kitab al-‘Ilm.
- Tafsir Ibn Katsir, QS. Al-Ma’idah: 2.
- Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali.
- Al-Futuhat al-Makkiyah, Ibn ‘Arabi.
- Al-Fath ar-Rabbani, Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
- Maulana Jalaluddin Rumi, Matsnawi.
- Ceramah Gus Baha, Buya Yahya, dan Ustadz Abdul Somad.
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para guru, ulama, dan sahabat yang terus menyalakan lentera kebaikan di hati umat. Semoga setiap ilmu, nasihat, dan amal kita menjadi jalan menuju ridha Allah.
Apakah Anda ingin saya bantu buatkan versi layout siap cetak (format koran A3 atau A4, dengan kolom, judul besar, dan ilustrasi pendukung)?
Saya bisa siapkan dalam bentuk PDF siap cetak dengan gaya redaksi profesional.
