Saturday, November 8, 2025

Menjadi Penunjuk Kebaikan di Zaman Modern

 



📰 Judul: Menjadi Penunjuk Kebaikan di Zaman Modern

Penulis: M. Djoko Ekasanu



من دل على خير فله مثل أجر فاعله
"Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka dia mendapatkan pahala yang sama dengan pelakunya."
(HR. Muslim)


Ringkasan Redaksi Aslinya

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, berasal dari sabda Rasulullah ﷺ yang menegaskan bahwa seseorang yang mengajak, menuntun, atau memberi petunjuk kepada kebaikan — baik melalui perkataan, tulisan, maupun perbuatan — akan memperoleh pahala yang sama dengan orang yang mengamalkannya, tanpa mengurangi pahala pelaku kebaikan tersebut sedikit pun.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, masyarakat Arab sedang dalam masa transisi dari kehidupan jahiliyah menuju peradaban Islam. Banyak orang baru mengenal ajaran tauhid, ibadah, dan akhlak mulia. Dalam konteks itulah, Rasulullah ﷺ mengajarkan pentingnya dakwah, nasihat, dan teladan — agar setiap orang tidak hanya berbuat baik untuk dirinya sendiri, tetapi juga menjadi sebab kebaikan bagi orang lain.

Hadis ini muncul untuk menanamkan semangat kolektif: bahwa mengarahkan orang lain kepada kebenaran adalah bagian dari amal saleh itu sendiri.


Sebab Terjadinya Masalah

Di masa itu, banyak sahabat baru masuk Islam dan belum sepenuhnya memahami syariat. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa meskipun seseorang hanya menunjukkan jalan menuju kebaikan, misalnya dengan berkata "Marilah kita shalat," atau "Sedekahkanlah ini," maka ia turut mendapatkan pahala seperti pelakunya.
Hadis ini muncul sebagai motivasi dakwah dan pengingat agar umat Islam saling menolong dalam kebajikan, bukan hanya menasihati secara lisan, tapi juga memberi contoh nyata.


Intisari Judul

Menjadi penunjuk kebaikan adalah tanggung jawab dan kehormatan. Di era apa pun, siapa yang menyalakan lilin kebaikan bagi orang lain, maka cahayanya akan kembali menerangi dirinya sendiri.


Tujuan dan Manfaat

  1. Mendorong umat Islam untuk aktif berdakwah dan menebarkan nilai-nilai kebaikan.
  2. Mengingatkan bahwa pahala tidak hanya diraih lewat amal pribadi, tetapi juga dari menginspirasi orang lain.
  3. Menumbuhkan kesadaran sosial — bahwa keberkahan hidup terletak dalam memberi manfaat bagi sesama.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

  • QS. Al-Ma’idah [5]: 2
    “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.”

  • QS. An-Nahl [16]: 125
    “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”

  • Hadis lain (HR. Tirmidzi):
    “Barang siapa mengajak kepada petunjuk, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun pahala mereka.”


Analisis dan Argumentasi

Hadis ini menegaskan konsep transfer pahala melalui pengaruh positif. Dalam Islam, dakwah dan inspirasi adalah bagian dari amal jariyah — pahala yang terus mengalir walau pelakunya telah meninggal dunia.
Di era modern, “menunjukkan kebaikan” dapat dilakukan lewat berbagai sarana:

  • Teknologi: membagikan konten dakwah, edukasi, dan sedekah digital.
  • Komunikasi: mengajak dengan tutur lembut dan akhlak.
  • Transportasi & Medis: menjadi relawan ambulans, pendonor darah, atau pengantar sedekah.
  • Sosial: membuka lapangan kerja halal, membantu fakir miskin, menjaga lingkungan.

Relevansi dengan Zaman Sekarang

Dalam dunia yang serba digital, satu unggahan kebaikan bisa menjangkau jutaan manusia. Satu ajakan di media sosial bisa menuntun ribuan orang untuk shalat, bersedekah, atau membaca Al-Qur’an.
Teknologi menjadi wasilah (sarana dakwah) yang luar biasa, tetapi juga ujian: apakah digunakan untuk kebaikan atau keburukan.
Begitu pula kemajuan komunikasi, transportasi, dan kedokteran — semuanya dapat menjadi jalan pahala jika diarahkan untuk menolong, menyembuhkan, dan memudahkan sesama.


Keutamaan-keutamaannya

  1. Mendapat pahala yang sama seperti pelaku amal.
  2. Menjadi sebab terbukanya hidayah bagi orang lain.
  3. Termasuk dalam golongan pewaris tugas kenabian (penyeru kebaikan).
  4. Amalnya tetap mengalir walau telah meninggal dunia.
  5. Menjadi sebab terhindar dari azab dan kesempitan hidup.

Hikmah

Orang yang menunjukkan kebaikan sejatinya sedang menyelamatkan dirinya sendiri dari kelalaian. Setiap ajakan menuju Allah adalah cermin kerinduan hati untuk kembali kepada-Nya.
Menjadi penunjuk kebaikan bukan sekadar mengajar — tetapi menjadi pelita bagi hati-hati yang gelap.


Muhasabah dan Caranya

  • Jadilah contoh nyata, bukan hanya pengucap nasihat.
  • Sampaikan kebaikan dengan hikmah dan kelembutan.
  • Gunakan teknologi untuk dakwah, bukan untuk fitnah.
  • Ingat, setiap tindakan dan postingan bisa menjadi amal jariyah atau dosa jariyah.

Doa

اللهم اجعلنا من الذين يدلّون على الخير، ويعملون به، ويموتون عليه.
“Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang menunjukkan kepada kebaikan, mengamalkannya, dan wafat dalam keadaan istiqamah di atasnya.”


Nasehat Para Sufi Besar

  • Hasan Al-Bashri: “Ilmu tanpa amal adalah delusi, amal tanpa ikhlas adalah sia-sia.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Ajarkan cinta kepada Allah, bukan takut kepada neraka.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Jadilah jalan bagi orang lain menemukan Allah.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Dakwah sejati adalah akhlak yang menenangkan jiwa.”
  • Al-Hallaj: “Barangsiapa menyalakan api cinta, maka sinarnya membimbing banyak hati.”
  • Imam al-Ghazali: “Amal yang baik adalah yang menghidupkan hati orang lain.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Ajaklah dengan kasih, bukan dengan marah.”
  • Jalaluddin Rumi: “Lilin tak kehilangan cahayanya ketika menyalakan lilin lain.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Kebaikan sejati adalah menyadarkan manusia akan asalnya dari Allah.”
  • Ahmad al-Tijani: “Setiap ajakan menuju Allah, walau sebaris kalimat, adalah zikir.”

Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha: “Kalau kamu bisa menuntun satu orang saja untuk lebih dekat kepada Allah, hidupmu sudah berharga.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Gunakan jempolmu untuk dakwah, bukan untuk dosa.”
  • Buya Yahya: “Kebaikan kecil yang ditularkan, lebih besar nilainya dari kebaikan besar yang disimpan.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Jadilah sebab orang lain mendapat hidayah. Itu lebih baik daripada dunia dan isinya.”

Daftar Pustaka

  1. Shahih Muslim, Kitab al-‘Ilm.
  2. Tafsir Ibn Katsir, QS. Al-Ma’idah: 2.
  3. Ihya’ Ulumuddin, Imam Al-Ghazali.
  4. Al-Futuhat al-Makkiyah, Ibn ‘Arabi.
  5. Al-Fath ar-Rabbani, Syekh Abdul Qadir al-Jailani.
  6. Maulana Jalaluddin Rumi, Matsnawi.
  7. Ceramah Gus Baha, Buya Yahya, dan Ustadz Abdul Somad.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para guru, ulama, dan sahabat yang terus menyalakan lentera kebaikan di hati umat. Semoga setiap ilmu, nasihat, dan amal kita menjadi jalan menuju ridha Allah.


Apakah Anda ingin saya bantu buatkan versi layout siap cetak (format koran A3 atau A4, dengan kolom, judul besar, dan ilustrasi pendukung)?
Saya bisa siapkan dalam bentuk PDF siap cetak dengan gaya redaksi profesional.

818. Segala yang Memabukkan adalah Haram

 



كل مسكر خمر, وكل مسكر حرام.

Tiap-tiap yang memabukkan itu adalah arak dan tiap-tiap yang memabukkan itu adalah haram.



🕌 Segala yang Memabukkan adalah Haram

(كل مسكر خمر، وكل مسكر حرام)
Oleh: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi Aslinya

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Kullu muskirin khamrun, wa kullu muskirin haram.”
“Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap yang memabukkan itu haram.”
(HR. Muslim, Abu Dawud, Ahmad, dan lainnya)

Hadis ini menegaskan hukum universal: apa pun bentuknya, segala zat atau kegiatan yang menyebabkan hilangnya akal sehat—baik cair, padat, alami, atau sintetis—tergolong dalam kategori khamr dan hukumnya haram.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Rasulullah ﷺ, masyarakat Arab terbiasa mengonsumsi minuman keras (khamr) dari hasil fermentasi kurma dan anggur. Minuman ini menjadi bagian dari tradisi pesta, transaksi dagang, bahkan ritual penyembahan berhala. Namun akibatnya, banyak terjadi pertengkaran, pembunuhan, dan kehancuran rumah tangga.

Ayat-ayat Al-Qur’an turun bertahap melarang khamr:

  1. Tahap pertama: memberi isyarat bahwa khamr memiliki mudarat besar (QS. Al-Baqarah: 219).
  2. Tahap kedua: melarang shalat dalam keadaan mabuk (QS. An-Nisa: 43).
  3. Tahap ketiga: melarang secara total (QS. Al-Ma’idah: 90–91).

Sebab Terjadinya Masalah

Kebiasaan minum khamr membuat masyarakat kehilangan kendali diri, memicu kriminalitas, kemiskinan, dan penyakit. Nabi ﷺ menyaksikan banyak sahabat terlibat dalam masalah sosial akibat mabuk. Maka turunlah peringatan keras agar umat Islam meninggalkan khamr dan segala yang sejenis.


Intisari Judul

Segala bentuk zat atau kegiatan yang menghilangkan akal sehat, menurunkan kesadaran, atau merusak kendali diri—baik berupa minuman, obat, zat kimia, maupun digital addiction—tergolong sebagai “peminum khamr masa kini”. Dan semuanya haram.


Tujuan dan Manfaat

  • Mengingatkan umat agar menjaga akal dan hati dari pengaruh yang menjerumuskan.
  • Menegaskan bahwa hukum Islam bersifat universal dan adaptif terhadap bentuk-bentuk modern dari “khamr”.
  • Membangun masyarakat yang sadar, sehat, dan berakhlak.

Dalil Qur’an dan Hadis

Al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, berjudi, berhala, dan mengundi nasib adalah najis dan perbuatan setan, maka jauhilah agar kamu beruntung.”
(QS. Al-Ma’idah: 90–91)

Hadis lain:

“Apa saja yang banyaknya memabukkan, maka sedikitnya pun haram.”
(HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi)


Analisis dan Argumentasi

Khamr bukan hanya minuman, melainkan segala hal yang merusak fungsi akal dan kesadaran.
Dalam konteks modern:

  • Obat-obatan terlarang, narkotika, dopamin digital, candu game, alkohol, bahkan “like addiction” di media sosial termasuk kategori yang merusak kesadaran.
  • Semua itu menyebabkan “mabuk” dalam bentuk lain: kehilangan fokus ibadah, lalai dari dzikir, menurunnya empati sosial.

Ilmu kedokteran modern pun membuktikan bahwa alkohol dan narkotika merusak otak, hati, dan sistem saraf. Maka hadis Nabi ini menjadi bukti bahwa Islam sudah lebih dahulu memperingatkan bahaya tersebut.


Relevansi dengan Kecanggihan Zaman

  1. Teknologi & Komunikasi:
    “Mabuk digital” — kecanduan gawai, tontonan, atau media sosial yang melalaikan zikir dan amal nyata — menjadi bentuk khamr modern.
  2. Transportasi:
    Banyak kecelakaan terjadi karena pengemudi dalam pengaruh alkohol atau obat.
  3. Kedokteran:
    Islam mendukung penggunaan obat medis asal bukan untuk kesenangan melainkan pengobatan dengan dosis dan niat benar.
  4. Sosial:
    Mabuk harta, jabatan, dan popularitas juga membuat manusia hilang kendali dan lupa Allah.

Hikmah

Kehormatan manusia terletak pada akalnya.
Siapa yang merusak akalnya, maka ia telah menodai kehormatannya sendiri.
Meninggalkan segala yang memabukkan berarti menjaga kehormatan diri dan kemurnian iman.


Muhasabah dan Caranya

  • Tanyakan pada diri: adakah yang membuatku lalai dari Allah?
  • Kurangi kebiasaan yang membuat hati tumpul (hiburan berlebihan, tontonan sia-sia, candu gadget).
  • Perbanyak dzikir, shalat malam, dan membaca Al-Qur’an sebagai penenang jiwa.

Doa

“Allahumma inni a‘udzu bika min munkaratil akhlaq, wal a‘mal, wal ahwa’.”
(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak, perbuatan, dan hawa nafsu yang buruk.)


Nasehat Ulama dan Sufi

  • Hasan al-Bashri: “Siapa yang memabukkan hatinya dengan dunia, takkan pernah tenang dalam dzikir.”
  • Rabi‘ah al-Adawiyah: “Cinta dunia adalah khamr yang memabukkan para hamba.”
  • Abu Yazid al-Bistami: “Mabuk yang paling berbahaya adalah mabuk diri, bukan mabuk arak.”
  • Junaid al-Baghdadi: “Orang arif mabuk dengan Allah, bukan dengan dunia.”
  • Al-Hallaj: “Yang sejati adalah fana dalam cinta Allah, bukan fana karena minuman.”
  • Imam al-Ghazali: “Khamr merusak akal, padahal akal adalah lentera syariat.”
  • Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Tinggalkan setiap kebiasaan yang mematikan hati.”
  • Jalaluddin Rumi: “Carilah mabuk yang menghidupkan hati—mabuk cinta Ilahi.”
  • Ibnu ‘Arabi: “Segala yang membuatmu lupa pada Allah adalah khamr bagimu.”
  • Ahmad al-Tijani: “Barangsiapa menjaga akalnya, Allah akan menjaga hatinya.”

Testimoni Ulama Kontemporer

  • Gus Baha: “Khamr itu bukan cuma arak, tapi segala yang bikin orang lupa mikir akhirat.”
  • Ustadz Adi Hidayat: “Islam menjaga lima hal pokok: agama, akal, jiwa, keturunan, dan harta. Maka khamr haram karena merusak akal.”
  • Buya Yahya: “Kalau minum itu dilarang karena memabukkan, maka hiburan yang membuat lupa Allah juga sama bahayanya.”
  • Ustadz Abdul Somad: “Bila ingin tenang tanpa minuman keras, berdzikirlah. Karena hati hanya tenang dengan mengingat Allah.”

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada seluruh jamaah dan pembaca yang senantiasa menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, menjaga akal dan iman, serta terus berjuang membangun generasi Islam yang sadar, cerdas, dan bertakwa.


Daftar Pustaka

  1. Shahih Muslim, Kitab al-Asyribah
  2. Tafsir al-Qurthubi, QS. Al-Ma’idah: 90
  3. Ihya’ ‘Ulumiddin, Imam al-Ghazali
  4. Futuh al-Ghaib, Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Majmu’ Fatawa Ibn Taymiyyah
  6. Ma’ariful Qur’an, Syekh Mufti Muhammad Shafi
  7. Ceramah Gus Baha, Buya Yahya, dan Ustadz Adi Hidayat tentang khamr dan kecanduan modern

Penutup

Menjauhi segala yang memabukkan adalah bentuk syukur kepada Allah atas nikmat akal. Karena hanya dengan akal yang bersih dan hati yang sadar, manusia dapat benar-benar mengenal Tuhannya.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu.”
(QS. Asy-Syams: 9)


🖋️ Penulis:
M. Djoko Ekasanu
(Pemerhati Tasawuf dan Pendidikan Akhlak)


Apakah Anda ingin saya bantu ubah naskah ini ke format layout koran siap cetak (kolom 2 sisi, dengan judul, subjudul, dan frame khas renungan Jumat)?
Jika ya, saya bisa buatkan versi PDF-nya lengkap dengan tipografi Islami dan foto pendukung yang lembut.