Saturday, November 29, 2025

845. YA ALLAH! JANGAN PUTUSKAN AKU DARI RAHMAT-MU

 



YA ALLAH! JANGAN PUTUSKAN AKU DARI RAHMAT-MU

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Edisi: 845

Diceritakan bahwa pada zaman Bani Israil, ada seorang laki-laki yang fasik dan yang banyak dosa. Ia tidak mau berhenti dari kefasikannya. Para penduduk di tempat dimana ia tinggal juga tidak mampu menghentikan    kefasikannya. Mereka memohon kepada Allah atas kefasikan laki-laki itu. Kemudian Allah memberikan wahyu kepada Musa ‘alaihi as- salam:

“Sesungguhnya di antara Bani Israil ada seorang laki-laki fasik. Usir ia dari tempat tinggal mereka agar siksaan api tidak menimpa mereka!”

Kemudian Musa ‘alaihi as-salam mendatangi laki-laki itu dan mengusirnya. Setelah diusir, Laki- laki itu pergi ke sebuah desa. Allah memerintahkan Musa ‘alaihi as- salam mengusirnya dari desa itu. Musa ‘alaihi as-salam pun mengusirnya dari desa itu. Laki- laki itu keluar lagi pergi menuju padang luas dan menuju tempat yang tidak ada penghuninya, tidak ada burung berterbangan, dan tidak ada binatang-binatang lain. Beberapa waktu kemudian, laki- laki itu jatuh sakit di tempat tersebut. Tidak ada seseorang pun yang di dekatnya yang bisa menolongnya. Karena saking sakitnya, ia pun jatuh ke tanah. Di tengah-tengah menderita sakit, laki-laki itu berkata:

Ya Allah! Andai ibuku berada di sampingku niscaya ia akan mengasihaniku dan menangisi betapa hinanya diriku. Andai bapakku berada di sampingku niscaya ia akan menolongku, memandikanku    dan    juga mengkafaniku. Andai istriku berada di sampingku niscaya ia akan menangis karena berpisah dariku. Andai anak-anakku berada di sampingku niscaya mereka semua akan menangis di belakang jenazahku dan berkata, ‘Ya Allah! Ampunilah    bapakku    yang terasingkan, yang lemah, yang banyak maksiat, yang fasik, yangterusir dari kota ke kota, dari kota ke desa, dan dari desa ke padang luas. Ia keluar dari dunia menuju akhirat dengan kondisi putus asa dari segala sesuatu kecuali dari rahmat-Mu.”

Laki-laki itu melanjutkan dengan berdoa, “Ya Allah! Apabila Engkau memisahkanku dari ibuku, anak- anakku, dan istriku maka janganlah Engkau memisahkanku dari rahmat-Mu. Dan apabila Engkau membakar hatiku dengan berpisah dari mereka maka janganlah Engkau membakarku dengan api neraka-Mu karena kemaksiatanku!

Kemudian Allah mengutus untuknya bidadari yang menjelma menjadi ibunya, bidadari yang menjelma menjadi istrinya, mengutus anak-anak kecil surga yang menjelma menjadi anak- anaknya, dan satu malaikat yang menjelma menjadi bapaknya. Mereka semua duduk di samping laki-laki itu dan menangisinya seolah-olah mereka itu adalah anak-anaknya, istrinya, ibunya dan bapaknya yang hadir di sampingnya. Kemudian hati laki- laki itu pun menjadi lega dan ia berdoa:

Ya Allah! Janganlah Engkau memutuskanku dari rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Kemudian laki-laki itu mati menuju kepada Allah dengan keadaan suci dari dosa-dosa dan terampuni.

Kemudian Allah memberi wahyu kepada Musa, “Hai Musa! Pergilah ke padang luas ini dan tempat ini. Disana ada seorang kekasih yang mati dari kalangan para kekasih- Ku. Mandikan ia! Kafani ia! Dan Sholati ia!”

Ketika Musa AS telah sampai di tempat yang diwahyukan, ia melihat laki-laki yang ia pernah mengusirnya dari kota dan dari desa sesuai dengan perintah Allah. Musa ‘alaihi as-salam juga melihat para bidadari menangisinya. Kemudian Musa berkata:

“Ya Allah! Bukankah ia adalah laki-laki fasik yang aku usir dari kota sesuai perintah-Mu?”

Allah menjawab “Iya! Hai Musa! Tetapi aku telah mengasihinya dan mengampuni dosa-dosanya sebab rintihannya saat sakit, dan sebab terpisahnya ia dari tempat tinggal, kedua orang tua, anak- anak dan istri. Kemudian Aku mengutus para bidadari yang menjelma menjadi ibunya dan malaikat yang menjelma menjadi bapaknya    karena    mengasihi betapa hinanya dirinya dalam keasingannya. Sesaat ketika laki-laki terasing itu mati, para penduduk langit dan bumi menangisinya karena kasihan dengannya. Lantas pantaskah aku tidak mengasihinya padahal Aku adalah Dzat Yang Paling Mengasihi?”.


Ringkasan Redaksi

Tulisan ini mengangkat sebuah kisah dari masa Bani Israil tentang seorang lelaki fasik yang terusir dari kota ke kota, hingga akhirnya meninggal di padang luas dalam kesendirian. Namun justru pada puncak keputusasaannya ia mendapatkan rahmat Allah yang sangat besar. Kisah ini menegaskan bahwa seluas apa pun dosa manusia, rahmat Allah selalu lebih luas, asalkan seorang hamba kembali dengan sepenuh hati.


Latar Belakang Masalah pada Zamannya

Pada masa Bani Israil, masyarakat hidup dalam komunitas yang sangat diikat hukum syariat. Seorang pelaku maksiat yang membahayakan masyarakat sering diusir untuk menghindari turunnya azab kolektif.
Namun hal ini memunculkan dilema: apakah pengusiran itu benar-benar menyelesaikan maksiat, atau justru memutus manusia dari bimbingan sosial?

Kisah lelaki fasik ini menjadi contoh bagaimana manusia sering dihukum oleh sesama manusia, padahal Allah masih membuka pintu ampunan yang tak bertepi.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Kefasikan yang berulang, hingga masyarakat tidak mampu menasihatinya lagi.
  2. Ketakutan penduduk akan azab yang mungkin turun.
  3. Perintah Allah kepada Musa AS untuk mengusir lelaki itu sebagai bentuk ujian bagi sang hamba.
  4. Kesendirian, sakit, dan putus asa, yang akhirnya membuat lelaki itu kembali kepada Allah dengan kejujuran dan ketundukan penuh.

Intisari Judul

Manusia sering diputus dari manusia lain, tetapi jangan pernah biarkan diri terputus dari rahmat Allah.
Karena satu-satunya tempat kembali yang paling aman hanyalah Allah.


Tujuan Penulisan

  1. Mengingatkan bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa manusia.
  2. Mengajak pembaca melakukan muhasabah mendalam.
  3. Menguatkan harapan spiritual di tengah dunia modern yang cepat dan melelahkan.
  4. Menghadirkan inspirasi bahwa taubat selalu mungkin kapan pun, bahkan pada detik terakhir hidup.

Manfaat

  • Memberi ketenangan bagi orang yang merasa hidupnya gelap.
  • Menjadi pengingat agar tidak mudah menghakimi orang lain.
  • Menumbuhkan semangat untuk terus mendekat kepada Allah.
  • Menjadi bahan renungan untuk umat agar memperbaiki akhlak sosial.

Dalil Al-Qur’an & Hadis

1. Luasnya Rahmat Allah

“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
(QS. Al-A‘raf: 156)

2. Jangan Putus Asa

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)

3. Allah Menjawab Rintihan Hamba

Rasulullah SAW bersabda:
“Allah lebih gembira terhadap taubat hamba-Nya daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.”
(HR. Muslim)

4. Allah Tidak Mengabaikan Doa

“Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”
(HR. Bukhari)

Kisah lelaki fasik tersebut menunjukkan bagaimana “sangka baik” yang muncul pada saat genting mampu membuka pintu rahmat sebesar-besarnya.


Analisis dan Argumentasi

1. Taubat yang Jujur Melampaui Dosa

Para ulama menjelaskan bahwa taubat yang langka adalah taubat dari hati yang hancur, bukan sekadar ucapan.
Lelaki itu bertaubat ketika semua sandaran dunia terlepas: keluarga, masyarakat, kekuatan tubuh, dan harapan duniawi.

2. Penderitaan Kadang Menjadi Jalan Rahmat

Kesepian, sakit, dan keputusasaan justru menjadi pintu pembersihan dosa.
Allah menghendaki ia terpaksa kembali kepada-Nya, sehingga ia datang dalam kondisi paling jujur.

3. Semua Makhluk Langit Menangisinya

Ini menunjukkan tingginya derajat orang yang kembali kepada Allah dalam kehinaan dan kerendahan hati.


Keutamaan-keutamaannya

  1. Taubat menghapus semua dosa.
  2. Berprasangka baik kepada Allah menjadi sebab ampunan.
  3. Keikhlasan dalam doa lebih berharga dari seluruh amal yang berbangga diri.
  4. Hati yang remuk karena Allah lebih dicintai daripada ibadah tanpa hati.
  5. Rahmat Allah mendahului murka-Nya.

Relevansi dengan Era Teknologi & Kehidupan Modern

1. Era Komunikasi Cepat → Banyak yang Terasing

Meski dunia terhubung oleh teknologi, banyak manusia justru hidup sendiri, merasa terbuang seperti lelaki dalam kisah.

2. Kecanggihan Kedokteran → Tetapi Banyak Hati yang Sakit

Sakit hati, depresi, kecemasan—sering tidak disembuhkan oleh alat medis modern.

3. Transportasi Cepat → Tapi Banyak Jiwa yang Tidak Tahu ke Mana Pergi

Mobilitas tinggi membuat manusia sering lupa tujuan hidup.

4. Kehidupan Sosial Modern → Cepat Menghakimi

Media sosial membuat manusia cepat menghukum orang lain, seperti Bani Israil mengusir lelaki itu—padahal mereka tidak tahu akhir hidupnya.


Hikmah Kisah

  1. Jangan pernah meremehkan doa orang yang teraniaya dan terbuang.
  2. Allah tidak menolak rintihan yang tulus.
  3. Kadang manusia membenci orang yang Allah cintai pada akhirnya.
  4. Yang penting bukan bagaimana seseorang hidup, tetapi bagaimana ia meninggal.

Muhasabah & Caranya

1. Duduk Sendiri 5 Menit

Tanyakan pada diri sendiri:
“Saat mati nanti, apa yang akan aku bawa menghadap Allah?”

2. Tuliskan 3 dosa utama

Lalu niatkan berhenti hari itu juga.

3. Berdoa dengan hati remuk

Seperti lelaki dalam kisah itu—kejujuran lebih penting daripada fasihnya bahasa doa.

4. Tinggalkan kebiasaan buruk bertahap

Tidak harus langsung sempurna—yang penting terus bergerak menuju Allah.


Doa

“Ya Allah… jangan Engkau putuskan aku dari rahmat-Mu, meskipun manusia memutusku.
Jika Engkau mengambil dariku dunia, jangan Engkau ambil iman dari hatiku.
Ampuni aku, kasihi aku, dan wafatkan aku dalam husnul khatimah.”


Nasehat Ulama Sufi

Hasan Al-Bashri

“Taubat yang benar ialah ketika dosa itu membuatmu lebih dekat kepada Allah daripada sebelum engkau jatuh ke dalamnya.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Aku beribadah bukan karena takut neraka, tetapi karena aku malu jika terputus dari rahmat-Nya.”

Abu Yazid al-Bistami

“Kerendahan hati lebih dekat kepada Allah daripada semua ketinggian amal.”

Junaid al-Baghdadi

“Taubat adalah kembali kepada Allah dengan hati yang terbakar oleh penyesalan.”

Al-Hallaj

“Jika engkau mengenal rahmat-Nya, engkau tidak akan melihat selain cinta.”

Imam al-Ghazali

“Allah membuka pintu taubat, bukan karena engkau layak, tetapi karena Dia Maha Pengasih.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Jika engkau jatuh seribu kali, bangunlah seribu kali. Tuhanmu tidak bosan memberi ampun.”

Jalaluddin Rumi

“Luka adalah tempat cahaya memasuki dirimu.”

Ibnu ‘Arabi

“Jangan batasi rahmat Allah dengan pikiranmu. Ia meliputi segala sesuatu.”

Ahmad al-Tijani

“Tidak ada rahasia yang lebih agung daripada kembali kepada Allah dalam kefakiran total.”


Testimoni Tokoh Indonesia

Gus Baha’

“Kisah seperti ini menegaskan bahwa Allah itu Maha Pengampun. Yang penting jangan su’udzon kepada Allah. Semua bisa kembali.”

Ustadz Adi Hidayat

“Allah tidak menolak taubat siapa pun. Bahkan yang paling buruk sekalipun.”

Buya Yahya

“Jangan pernah menghina orang berdosa. Bisa jadi mereka mati dalam keadaan mulia.”

Ustadz Abdul Somad

“Kita ini hamba penuh salah. Tetapi Allah selalu membuka pintu pulang.”


Daftar Pustaka


Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada para ulama, guru bangsa, dan para pembaca yang terus menumbuhkan semangat untuk kembali kepada Allah dengan hati yang jujur. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua.


Oke, ini versi bahasa gaul kekinian yang sopan dan santai dari teks tersebut. Arti ayat Al-Qur'an dan Hadits tetap pakai bahasa aslinya ya!


---


YA ALLAH! JANGAN SAMPE AKU JAUH DARI RAHMAT-MU


Oleh: M. Djoko Ekasanu Dibahas dengan gaya yang lebih santai


Jadi, gini ceritanya. Zaman dulu banget, pas jaman Bani Israil, ada seorang cowok yang—yah, bisa dibilang—suka bikin onar dan dosanya banyak banget. Dia nggak mau berubah, dan warga sekitar juga udah nyerah buat nasehatin dia. Akhirnya, mereka pasrah aja sama Allah, minta biar cowok ini ditanganin.


Trus, Allah kasih wahyu ke Nabi Musa AS: “Wahai Musa, di tempat lo tinggal ada cowok fasik. Suruh dia pergi dari sana, biar azab api nggak nyampe ke warga yang lain.”


Nabi Musa pun dateng dan ngusir cowok itu. Si cowok akhirnya pindah ke sebuah desa. Eh, Allah suruh Musa ngusir dia lagi dari desa itu. Akhirnya dia pergi lagi, sampe akhirnya nyampe di sebuah tempat sepi banget—padang luas, isinya cuma dia doang, bahkan burung dan binatang lain aja jarang lewat.


Di tempat sepi itu, dia akhirnya sakit. Parah banget. Nggak ada siapa-siapa yang bisa nolong. Karena sakitan, dia jatuh lemes. Dalam kondisi kayak gitu, dia curhat sama Allah:


“Ya Allah, andai nyokap ada di sini, pasti dia ngasihani gue dan nangis ngeliat keadaan gue yang menyedihkan ini. Andai bokap ada di sini, pasti dia bantu gue, memandikan gue, dan ngafani gue. Andai istri gue ada, pasti dia nangis karena ditinggal. Andai anak-anak gue ada, pasti mereka nangis di belakang jenazah gue sambil bilang, ‘Ya Allah, ampuni bokap kami yang terasing, lemah, banyak maksiat, fasik, terusir dari kota ke kota, dari desa ke padang luas. Dia pergi dari dunia ke akhirat dalam keadaan putus asa dari segalanya, kecuali dari rahmat-Mu.’”


Trus dia lanjutin doanya: “Ya Allah, kalo Emang udah pisahin gue dari keluarga gue, janganlah Engkau pisahin gue dari rahmat-Mu. Kalo Emang udah bakar hati gue karena berpisah sama mereka, janganlah bakar gue dengan api neraka-Mu karena dosa-dosa gue!”


Lalu, Allah kirim bidadari yang nyamar jadi nyokapnya, bidadari lain yang jadi istrinya, anak-anak kecil surga yang jadi anak-anaknya, dan satu malaikat yang jadi bokapnya. Mereka semua duduk di samping cowok itu dan nangisin dia, seolah-olah mereka emang keluarganya beneran. Hati cowok itu pun jadi tenang, dan dia berdoa lagi:


“Ya Allah, janganlah Engkau putusin gue dari rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”


Akhirnya, cowok itu meninggal dalam keadaan dosanya diampuni dan hatinya bersih.


Allah kasih wahyu lagi ke Nabi Musa: “Hai Musa, pergi ke padang luas itu. Di sana ada seorang kekasih-Ku yang udah meninggal. Mandikan, kafani, dan sholatilah dia!”


Waktu Nabi Musa dateng, dia liat cowok yang dulu dia usir itu lagi ditangisin sama para bidadari. Nabi Musa bingung, “Ya Allah, bukannya ini tuh cowok fasik yang dulu gue usir?”


Allah jawab, “Iya, tapi Aku udah kasih sayang dan ampuni dia karena rintihannya pas sakit, dan karena dia terpisah dari keluarga dan rumahnya. Aku kirim bidadari dan malaikat buat nemenin dia karena kasihan liat keadaannya. Pas dia meninggal, semua penduduk langit dan bumi ikut nangis karena kasihan. Masa iya Aku nggak kasih sayang, padahal Aku kan Yang Paling Mengasihi?”


---


Ringkasan Buat Kamu


Cerita ini ngangkat kisah cowok fasik jaman Bani Israil yang terusir sampe akhirnya meninggal sendirian. Tapi di saat paling low, dia malah dapet rahmat Allah yang gede banget. Intinya, segede apapun dosa kita, rahmat Allah tuh lebih gede lagi, asal kita balik ke Dia beneran dari hati.


---


Kenapa Bisa Kejadian Kayak Gitu?


· Cowoknya bandel terus, warga udah nyerah.

· Warga takut kena azab barengan.

· Allah suruh Nabi Musa ngusir dia sebagai ujian.

· Kesendirian dan sakit bikin dia sadar dan pasrah total ke Allah.


---


Poin Pentingnya


Manusia bisa aja nolak kita, tapi jangan sampe kita ngerasa jauh dari rahmat Allah. Satu-satunya tempat balik yang aman ya cuma Allah.


---


Maksud & Tujuan Nulis Ini


· Ngingetin kalo rahmat Allah tuh lebih luas dari dosa kita.

· Ajakin buat introspeksi diri.

· Kasih semangat buat yang lagi down, apalagi di jaman sekarang yang serba cepat dan bikin capek.

· Nunjukin kalo taubat itu selalu bisa, bahkan di detik terakhir hidup.


---


Manfaat Buat Kita


· Bikin tenang yang lagi ngerasa hidupnya kacau.

· Ngingetin buat jangan gampang judge orang.

· Bikin semangat buat deket-deket sama Allah.

· Jadi bahan renungan buat jadi pribadi yang lebih baik.


---


Dalil Pendukung


1. Soal Luasnya Rahmat Allah

   “Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A‘raf: 156)

2. Jangan Putus Asa

   “Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)

3. Allah Seneng Banget Sama Taubat Kita

   Rasulullah SAW bersabda: “Allah lebih gembira terhadap taubat hamba-Nya daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.” (HR. Muslim)

4. Allah Nggak Abaikan Doa Kita

   “Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari)


---


Analisis & Makna Dibalik Cerita


1. Taubat yang Jujur itu Keren Banget Taubat pas lagi hancur dan nggak punya siapa-siapa itu punya nilai yang tinggi banget di mata Allah.

2. Penderitaan Bisa Jadi Jalan Berkah Kadang, lewat kesepian dan kepahitan, Allah bersihin kita biar balik ke Dia beneran.

3. Semua Makhluk Langit Ikhlasin Dia Ini nunjukin betapa tingginya derajat orang yang balik ke Allah dengan hati yang remuk.


---


Relevansi di Zaman Now


1. Era Medsos → Banyak yang Ngerasa Sendiri Meski terkoneksi, banyak yang ngerasa terasing kayak cowok dalam cerita.

2. Kedokteran Maju → Tapi Hati Bisa Sakit Banyak yang depresi dan cemas, yang nggak bisa sembuh cuma pake obat.

3. Mobilitas Tinggi → Tapi Tujuan Hidup Nggak Jelas Bisa kemana-mana, tapi nggak tau mau ngapain.

4. Cepat Menghakimi di Medsos Gampang banget nyalahin orang, kayak warga yang ngusir cowok itu—padahal akhir hidupnya bisa aja indah.


---


Hikmah yang Bisa Diambil


· Jangan remehin doa orang yang lagi susah dan terasing.

· Allah nggak pernah tolak orang yang nangis tulus.

· Jangan judge orang, siapa tau di akhir hidupnya dia dapet cinta dari Allah.

· Yang penting itu nggak bagaimana kita hidup, tapi bagaimana kita mati.


---


Tips Buat Muhasabah Diri


1. Sediain Me-Time 5 Menit Tanya diri sendiri: “Pas mati nanti, apa yang bakal gue bawa ke hadapan Allah?”

2. Tulis 3 Dosa Paling Sering Trus niat buat berhenti, mulai dari sekarang.

3. Curhat ke Allah dengan Hati Terbuka Kejujuran lebih dihargain daripada kata-kata yang puitis.

4. Berubah Pelan-Pelan Nggak perlu langsung sempurna, yang penting konsisten mendekat.


---


Doa Singkat Buat Kamu


“Ya Allah, jangan sampe gue jauh dari rahmat-Mu, meskipun orang lain ninggalin gue. Kalo Emang dunia diambil dari gue, jangan ambil iman dari hati gue. Ampuni gue, sayangin gue, dan wafatin gue dalam keadaan husnul khatimah.”


---


Kata-Kata Bijak Para Ulama


· Hasan Al-Bashri: “Taubat yang bener itu ketika dosa malah bikin lo lebih deket sama Allah daripada sebelumnya.”

· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Gue nyembah Allah bukan karena takut neraka, tapi karena malu kalo terputus dari rahmat-Nya.”

· Jalaluddin Rumi: “Luka itu tempat cahaya masuk ke dalam diri lo.”

· Imam al-Ghazali: “Allah buka pintu taubat, bukan karena lo layak, tapi karena Dia emang Maha Pengasih.”

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Kalo lo jatuh seribu kali, bangun seribu kali. Tuhan lo nggak bakal bosen ngasih ampun.”


---


Testimoni Tokoh Indonesia (Versi Santai)


· Gus Baha’: “Kisah kayak gini ngingetin kalo Allah tuh Maha Pengampun. Yang penting jangan berprasangka buruk sama Allah. Semua bisa balik.”

· Ustadz Adi Hidayat: “Allah nggak pernah tolak taubat siapapun. Mau yang dosanya seabrek sekalipun.”

· Buya Yahya: “Jangan pernah menghina orang berdosa. Bisa aja dia meninggal dalam keadaan mulia.”

· Ustadz Abdul Somad: “Kita ini hamba yang banyak salah. Tapi Allah selalu buka pintu buat pulang.”


---


Daftar Pustaka (tetap sama, karena ini sumber resminya)


Ucapan Terima Kasih Buat para ulama,guru, dan kalian semua yang mau baca sampe selesai. Semoga tulisan ini bikin kita semua pengen terus balik ke Allah dengan hati yang jujur.

850. UNTUK APA AKU ADA DI DUNIA INI

 



UNTUK APA AKU ADA DI DUNIA INI?

Oleh: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Redaksi

Tulisan ini mengajak pembaca merenungi pertanyaan paling mendasar dalam hidup manusia: “Untuk apa aku ada di dunia ini?” Melalui dalil Al-Qur’an dan hadis, analisis ulama besar, dan relevansi modern, artikel ini mencoba memetakan fungsi manusia sebagai hamba, khalifah, dan pencari makna. Ditutup dengan hikmah, muhasabah, nasihat para sufi, serta daftar pustaka.


Latar Belakang Masalah di Masanya

Pertanyaan tentang tujuan hidup bukan perkara baru. Sejak zaman para nabi, manusia bergulat dengan:

  • Kegelisahan eksistensial: siapa aku dan ke mana aku akan kembali.
  • Perubahan sosial: dari masyarakat agraris, industri, hingga digital.
  • Kekosongan spiritual: banyak orang hidup dalam kelimpahan materi, tetapi miskin ketenteraman.
  • Kebingungan moral: batas halal–haram semakin kabur dalam arus globalisasi.

Di masa para ulama sufi, pertanyaan ini menjadi inti perjalanan spiritual (suluk). Di masa kini, pertanyaan ini kembali relevan karena manusia hidup cepat, instan, dan serba terhubung namun tidak mengenali dirinya.


Sebab Munculnya Pertanyaan Ini

  1. Hati yang hilang arah, terseret kesibukan tanpa makna.
  2. Tekanan hidup modern yang menimbulkan kecemasan.
  3. Kejenuhan aktivitas duniawi tanpa kedekatan kepada Allah.
  4. Panggilan fitrah, karena jiwa selalu merindukan Tuhannya.
  5. Kesadaran akan kefanaan ketika melihat kematian, musibah, dan perubahan.

Intisari Judul

Judul “Untuk apa aku ada di dunia ini?” merujuk pada identitas utama manusia: makhluk yang diciptakan oleh Allah bukan sia-sia, tetapi untuk beribadah, mengenal-Nya, dan menjadi khalifah di bumi.


Tujuan Artikel

  1. Menjawab pertanyaan eksistensial dengan dalil syar’i.
  2. Mengajak pembaca mengenal tujuan hidup menurut Al-Qur’an dan hadis.
  3. Memetakan peran manusia dalam kehidupan modern.
  4. Memberi panduan praktis muhasabah dan jalan pulang kepada Allah.
  5. Menyampaikan nasihat para ulama sufi sebagai pencetus pencerahan hati.

Manfaat Tulisan

  • Menguatkan aqidah dan keyakinan.
  • Menenangkan hati dan pikiran.
  • Memberi arah hidup yang jelas.
  • Menjadi bahan renungan saat futur, sedih, atau kebingungan.
  • Menjadi materi dakwah, khutbah, kajian, dan pengajaran.

DALIL AL-QUR’AN & HADIS

1. Tujuan Penciptaan: Ibadah

Allah berfirman:

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzāriyāt: 56)

2. Peran Manusia: Khalifah

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan di bumi seorang khalifah.”
(QS. Al-Baqarah: 30)

3. Jalan Hidup: Mengikuti Rasulullah

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik…”
(QS. Al-Ahzab: 21)

4. Kesementaraan Dunia

“Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau…”
(QS. Al-An’ām: 32)

5. Hadis – Nilai Kehidupan

Rasulullah SAW bersabda:

“Orang yang cerdas adalah yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati.”
(HR. Tirmidzi)


ANALISIS & ARGUMENTASI

1. Manusia bukan lahir tanpa maksud

Setiap ciptaan Allah memiliki tujuan: air menghilangkan haus, mata untuk melihat, hati untuk merasa. Maka manusia—ciptaan paling sempurna—tidak mungkin diciptakan sia-sia.

2. Tujuan hidup adalah ibadah, tetapi ibadah tidak sebatas ritual

Ibadah dalam Islam mencakup:

  • Sholat, dzikir, puasa.
  • Menolong orang lain.
  • Mencari nafkah halal.
  • Menjaga bumi.
  • Menjaga lisan dan akhlak.

Semua yang dilakukan karena Allah adalah ibadah.

3. Hidup adalah amanah dan ujian

Dunia menjadi madrasah, bukan tempat tinggal abadi.

4. Mengenal Allah adalah puncak tujuan

Para sufi mengatakan:
"Ibadah tanpa ma'rifat seperti tubuh tanpa ruh."


RELEVANSI DENGAN TEKNOLOGI DAN KEHIDUPAN MODERN

1. Teknologi dan Komunikasi

Manusia bisa terhubung ke seluruh dunia tetapi kehilangan hubungan dengan hatinya. Tujuan hidup menjadi kabur karena fokus pada notifikasi, bukan renungan.

2. Transportasi

Manusia bisa berpindah cepat, tetapi masih bingung arah perjalanan jiwanya. Kecepatan teknologi tidak menjawab makna hidup.

3. Kedokteran

Manusia dapat memperpanjang usia, menyembuhkan penyakit, tetapi tetap tidak mampu melawan kematian. Maka tujuan hidup harus lebih tinggi dari sekadar sehat fisik.

4. Kehidupan Sosial

Kemajuan tidak menghilangkan:

  • perpecahan,
  • kecemasan,
  • tekanan ekonomi,
  • kesenjangan sosial.

Artinya: hati tetap membutuhkan petunjuk Ilahi.


HIKMAH

  1. Hidup ini singkat, tetapi menentukan nasib abadi.
  2. Makna hidup ditemukan ketika dekat dengan Allah.
  3. Dunia bukan tempat tinggal, tetapi tempat menanam amal.
  4. Yang paling berharga bukan harta, tetapi waktu dan ketaatan.
  5. Orang yang paling mulia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama.

MUHASABAH

Caranya:

  1. Ambil waktu sunyi 5–10 menit sebelum tidur.
  2. Tanyakan kepada diri sendiri:
    • Apa yang sudah aku lakukan hari ini untuk akhiratku?
    • Apa yang paling membuat Allah ridha dari perbuatanku?
    • Apa dosa yang harus aku tinggalkan?
  3. Catat tiga kebaikan dan tiga kekurangan harian.
  4. Ambil satu langkah kecil untuk perbaikan esok hari.
  5. Akhiri dengan istighfar dan dua rakaat taubat.

NASIHAT ULAMA BESAR

Hasan Al-Bashri

“Dunia hanyalah tiga hari: kemarin yang telah pergi, besok yang belum datang, dan hari ini yang harus kau manfaatkan.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Aku menyembah-Mu bukan karena takut neraka, tapi karena Engkau layak untuk dicintai.”

Abu Yazid al-Bistami

“Tujuan hidup adalah hilangnya dirimu dalam kehendak-Nya.”

Junaid al-Baghdadi

“Tasawuf adalah akhlak. Siapa yang semakin baik akhlaknya, dialah yang lebih dekat dengan Allah.”

Al-Hallaj

“Siapa mengenal Allah, ia menemukan dirinya fana (hilang) dalam cinta.”

Imam al-Ghazali

“Kenalilah dirimu, maka engkau akan mengenal Tuhanmu.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Hatimu harus bersama Allah meski tubuhmu bersama manusia.”

Rumi

“Engkau bukan setetes air, tetapi lautan yang tersembunyi.”

Ibnu ‘Arabi

“Manusia adalah cermin tempat nama-nama Allah memantul.”

Ahmad al-Tijani

“Jalan menuju Allah adalah kesucian hati, adab, dan istiqamah.”


DOA

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
“Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kami kemampuan mengikutinya. Tunjukkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kami kemampuan menjauhinya.”

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ…
(QS. An-Naml: 19)


TESTIMONI TOKOH

Gus Baha’

“Hidup ini untuk taat kepada Allah. Selain itu hanyalah kesibukan.”

Ustadz Adi Hidayat

“Tujuan hidup adalah ibadah. Siapkan ilmu, amal, dan akhlak.”

Ustadz Buya Yahya

“Orang yang tahu tujuan hidupnya akan selamat dari kebingungan.”

Ustadz Abdul Somad

“Hidup ini sebentar. Gunakan untuk mencari bekal pulang.”


DAFTAR PUSTAKA

  1. Al-Qur’an Al-Karim.
  2. Shahih Bukhari & Muslim.
  3. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali.
  4. Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu ‘Arabi.
  5. Risalah al-Qusyairiyah – Al-Qusyairi.
  6. Al-Fath ar-Rabbani – Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.
  7. Matsnawi – Jalaluddin Rumi.
  8. Kitab Zuhud – Imam Ahmad.
  9. Hikam – Ibnu ‘Athaillah.
  10. Nashaihul ‘Ibad – Nawawi al-Bantani.

UCAPAN TERIMA KASIH

Terima kasih kepada seluruh guru, para ulama, keluarga, serta semua pembaca yang telah memberikan dorongan, semangat, dan doa sehingga tulisan ini dapat tersusun. Semoga menjadi amal jariyah dan cahaya bagi siapa pun yang membacanya.


UNTUK APA GUE ADA DI DUNIA INI?


Oleh: M. Djoko Ekasanu


Ringkasan Buat Lo Semua


Artikel ini mau ajak kita semua mikirin pertanyaan paling deep dalam hidup: “Untuk apa gue ada di dunia ini?” Kita bakal bahas bareng, lengkap dengan dalil Al-Qur’an dan hadis, analisis para ahli, plus relevansinya di zaman now. Intinya, kita lagi cari tau peran kita sebagai hamba, khalifah, dan pencari makna. Di akhir, ada hikmah, muhasabah ala-ala, nasihat para sufi yang bikin hati adem, plus daftar bacaan buat yang pengen explore lebih jauh.


Latar Belakang Zaman Now


Pertanyaan tentang tujuan hidup tuh nggak jadul banget, sob. Dari zaman nabi-nabi sampai sekarang, manusia selalu punya kegalauan:


· Existential crisis: Gue siapa? Mau kemana setelah mati?

· Perubahan jaman yang makin cepet: Dari jaman baheula ke jaman industri, sampe sekarang semuanya serba digital.

· Kekosongan batin: Banyak yang hidupnya udah mewah, tapi hati tetap gelisah dan nggak tenang.

· Kebingungan moral: Di jaman globalisasi kayak gini, batas antara yang bener dan salah kadang jadi blur.


Dulu, para sufi juga fokus banget ngebahas ini dalam perjalanan spiritual mereka. Nah, di era serba cepat dan instan kayak sekarang, pertanyaan ini malah makin relevan. Kita sibuk banget sampe lupa nanya, "Sebenernya gue hidup buat apa sih?"


Penyebab Utama Kita Nanya Ini


· Hati yang lagi lost, ikutin arus kesibukan tanpa tau ujungnya.

· Tekanan hidup di jaman modern yang bikin stress dan anxious.

· Bosen sama rutinitas duniawi yang gak bikin deket sama Allah.

· Panggilan alam bawah sadar (fitrah), karena jiwa kita sebenernya selalu rindu sama Penciptanya.

· Sadar bahwa hidup ini cuma sementara, apalagi kalo liat orang meninggal atau ada musibah.


Intisari Judulnya


Judul “Untuk apa gue ada di dunia ini?” intinya nyari tau identitas utama kita: sebagai makhluk yang diciptain Allah bukan tanpa alasan, tapi buat beribadah, mengenal-Nya, dan jadi pemimpin (khalifah) di bumi.


Tujuan Artikel Ini


· Jawab pertanyaan existensial pake dalil yang jelas.

· Ajak kalian semua kenalan sama tujuan hidup versi Al-Qur’an dan hadis.

· Jabarin peran kita di kehidupan modern.

· Kasih panduan praktis buat muhasabah diri dan balik ke Allah.

· Nyampein nasihat-nasihat para sufi yang bisa ngenyin-in hati.


Manfaat Bacanya


· Bikin keyakinan dan aqidah makin kuat.

· Bikin hati dan pikiran lebih adem dan tenang.

· Kasih arah hidup yang lebih jelas.

· Jadi bahan renungan pas lagi down, sedih, atau bingung.

· Bisa jadi bahan buat dakwah, kultum, kajian, atau sekadar bahan obrolan positif.


---


DALIL AL-QUR’AN & HADIS (Yang Bikin Hati Tenang)


1. Tujuan Utama Penciptaan: Ibadah Allah berfirman:

   “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzāriyāt: 56) Arti ayat: Kita diciptain buat ibadah.

2. Peran Keren Kita: Khalifah

   “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."” (QS. Al-Baqarah: 30) Arti ayat: Kita ditugasin jadi pemimpin di bumi.

3. Role Model Terbaik: Ikutin Rasulullah

   “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu...” (QS. Al-Ahzab: 21) Arti ayat: Nabi Muhammad adalah contoh terbaik.

4. Dunia Cuma Sementara

   “Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah permainan dan senda gurau...” (QS. Al-An’ām: 32) Arti ayat: Jangan serius-serius amat sama urusan dunia.

5. Hadis – Ciri Orang Cerdas Rasulullah SAW bersabda:

   “Orang yang pandai adalah yang menghinakan (mengendalikan) dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian.” (HR. Tirmidzi) Arti hadis: Orang pinter tuh yang mikirin bekalan buat akhirat.


---


ANALISIS & JABARAN


1. Kita Gak Diciptain Sia-Sia Setiap ciptaan Allah punya tujuan: air buat haus, mata buat liat, hati buat ngerasa. Manusia sebagai ciptaan paling sempurna, mustahil diciptain tanpa misi.

2. Ibadah Itu Luas Banget, Bukan Cuma Ritual Doang Ibadah dalam Islam tuh cakupannya luas:

   · Sholat, puasa, ngaji.

   · Nolongin orang lain.

   · Cari nafkah yang halal.

   · Jaga lingkungan.

   · Jaga omongan dan sikap. Intinya, semua yang lo lakuin dengan niat karena Allah, itu udah termasuk ibadah.

3. Hidup Itu Amanah dan Ujian Anggep aja dunia ini kayak sekolahan atau tempat ujian, bukan rumah permanen.

4. Mengenal Allah Itu Puncaknya Kata para sufi: "Ibadah tanpa mengenal Allah itu kayak tubuh tanpa nyawa."


---


RELEVANSI DI ZAMAN SERBA DIGITAL


1. Teknologi & Media Sosial Kita bisa connect ke siapa aja di seluruh dunia, tapi malah kehilangan koneksi sama diri sendiri dan hati nurani. Tujuan hidup jadi kabur karena fokusnya ke likes dan views, bukan ke makna.

2. Transportasi Bisa jalan-jalan ke mana aja dengan cepat, tapi masih aja bingung arah dan tujuan hidup yang sebenernya. Cepatnya teknologi nggak otomatis jawab pertanyaan "gue hidup buat apa?".

3. Kedokteran & Kesehatan Umur bisa diperpanjang, penyakit bisa disembuhin, tapi kita tetep nggak bisa lolos dari kematian. Makanya, tujuan hidup harus lebih tinggi dari sekadar sehat fisik.

4. Kehidupan Sosial Meski teknologi maju, masalah kayak:

   · Permusuhan

   · Rasa cemas

   · Tekanan ekonomi

   · Kesempatan yang nggak merata ...tetep aja ada. Intinya, hati kita tetep butuh petunjuk dari Yang Maha Kuasa.


---


HIKMAH BUAT DIINGET


· Hidup ini sebentar banget, tapi nentuin nasib kita selamanya di akhirat.

· Makna hidup baru ketemu pas kita deket sama Allah.

· Dunia ini tempat numpang singgah dan nanam amal, bukan tempat tinggal permanen.

· Yang paling berharga itu bukan harta, tapi waktu dan ketaatan kita.

· Orang paling keren itu yang paling banyak manfaatnya buat orang lain.


---


MUHASABAH ALA KITA (Cara Evaluasi Diri)


Gini caranya:


1. Cari waktu hening, 5-10 menit sebelum tidur.

2. Tanya diri sendiri:

   · Hari ini gue ngapain aja buat bekalan akhirat?

   · Hal apa yang bikin Allah seneng dari yang gue lakuin hari ini?

   · Dosa atau kebiasaan buruk apa yang harus gue stop?

3. Catet 3 hal baik dan 3 hal yang perlu diperbaikin dalam sehari.

4. Ambil satu langkah kecil buat jadi lebih baik besok.

5. Akhiri dengan baca istighfar dan sholat taubat 2 rakaat kalo bisa.


---


NASEHAT PARA BOSS (ULAMA BESAR)


· Hasan Al-Bashri: "Dunia cuma 3 hari: kemarin yang udah lewat, besok yang belum pasti, dan hari ini yang harus lo manfaatkan."

· Rabi'ah al-Adawiyah: "Gue nyembah-Mu bukan karena takut neraka, tapi karena Elu emang layak buat dicintai."

· Abu Yazid al-Bistami: "Tujuan hidup tuh ketika keinginan diri lo ilang, diganti sama keinginan-Nya."

· Junaid al-Baghdadi: "Inti tasawuf itu akhlak yang baik. Siapa yang akhlaknya makin bagus, dia makin deket sama Allah."

· Al-Hallaj: "Siapa yang kenal Allah, dia akan nemuin dirinya 'hilang' dalam cinta."

· Imam al-Ghazali: "Kenali dirimu, maka kamu akan kenal Tuhanmu."

· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: "Hatimu harus selalu sama Allah, meski badan lo lagi sibuk sama urusan manusia."

· Rumi: "Lo itu bukan cuma setetes air, tapi sebenernya lautan yang luas."

· Ibnu 'Arabi: "Manusia tuh cermin tempat semua sifat indah Allah bisa keliatan."

· Ahmad al-Tijani: "Jalan menuju Allah itu lewat hati yang bersih, sopan santun, dan konsisten (istiqamah)."


---


DOA (Bahasa Aslinya, Biar Berkah)


اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ "Ya Allah, tunjukkanlah kami kebenaran sebagai kebenaran dan karuniakan kami kemampuan mengikutinya. Tunjukkanlah kebatilan sebagai kebatilan dan karuniakan kami kemampuan menjauhinya."


رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ… (QS. An-Naml: 19) Arti ayat: "Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu..."


---


QUOTE TOKOH (Versi Bahasa Kita)


· Gus Baha': "Hidup ini ya buat taat sama Allah. Selain itu, cuma kesibukan aja."

· Ustadz Adi Hidayat: "Tujuan hidup tuh ibadah. Siapin ilmu, amal, dan akhlak."

· Ustadz Buya Yahya: "Orang yang tau tujuan hidupnya, bakal selamat dari kebingungan."

· Ustadz Abdul Somad: "Hidup ini cuma bentar. Pake buat cari bekal pulang (ke akhirat)."


---


DAFTAR BACAAN (REFERENCES)


· Al-Qur'an Al-Karim.

· Shahih Bukhari & Muslim.

· Ihya' Ulumiddin – Imam al-Ghazali.

· Futuhat al-Makkiyyah – Ibnu 'Arabi.

· Risalah al-Qusyairiyah – Al-Qusyairi.

· Al-Fath ar-Rabbani – Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.

· Matsnawi – Jalaluddin Rumi.

· Kitab Zuhud – Imam Ahmad.

· Hikam – Ibnu 'Athaillah.

· Nashaihul 'Ibad – Nawawi al-Bantani.


---


UCAPAN TERIMA KASIH


Big thanks buat semua guru, para ulama, keluarga, dan kalian semua yang udah baca sampe sini. Semoga tulisan sederhana ini bisa jadi amal jariyah dan pencerah buat siapa aja yang membacanya. Aamiin!

844. CINTA, IFFAH DAN PANGKAL KEYAKINAN

 




CINTA, IFFAH DAN PANGKAL KEYAKINAN

Oleh: M. Djoko Ekasanu



 Cinta, Iffah dan Pangkal Keyakinan

Nabi saw. bersabda:

“Cinta kepada Allah itu adalah asas makrifat, iffah (enggan) itu tanda yakin, sedang pangkal yakm adalah takwa dan rela dengan takdir Allah.”

Cinta kepada Allah swt. dengan cara beribadah kepada-Nya, adalah asas makrifat. Sesungguhnya bagi orang Sufi ada tiga derajat:

Syariat (ibadah kepada Allah swt.) menurut para fukaha, ialah hukumhukum yang diterangkan Allah swt. kepada umat-Nya.

Thariqat, yaitu jalan menuju Allah swt. yang disertai ilmu dan amal.

Makrifat (mengetahui), yaitu mengetahui perkara-perkara batin, yang merupakan buah dari syariat.

Enggan (iffah), yakni menahan diri dan meminta-minta kepada manusia, adalah berkeyakinan bahwa sesungguhnya Allah swt. Maha Kuasa atas segala sesuatu dan Dia yang memberi rezeki kepada semua makhluknya disertai keyakinan, bahwa sesungguhnya rezeki itu tidak akan sampai kepadanya tanpa kehendak Allah swt.

Pokok yakin adalah mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya dan hati merasa senang (rida) terhadap takdir Allah swt. kepadanya, baik yang pahit maupun yang manis.


Ringkasan Redaksi Aslinya

Nabi Muhammad saw. bersabda bahwa cinta kepada Allah adalah asas makrifat, iffah (menahan diri dari meminta kepada manusia) adalah tanda keyakinan, dan pangkal yakin adalah takwa serta ridha dengan takdir Allah. Para sufi menjelaskan bahwa perjalanan menuju Allah terdiri dari tiga tingkat: syariat, thariqat, dan makrifat. Ketiganya merupakan bangunan yang saling melengkapi bagi seorang mukmin untuk mencapai kesempurnaan iman.


Latar Belakang Masalah di Zamannya

Pada masa Rasulullah saw., masyarakat Arab mengalami perubahan besar—dari masyarakat jahiliyah menuju masyarakat beradab dan ber-Tuhan. Di tengah perubahan itu, banyak sahabat yang belajar memurnikan ibadah, memperdalam keyakinan, serta menata hati dari ketergantungan kepada selain Allah.

Fenomena meminta-minta, bergantung pada manusia, serta lemahnya keyakinan menjadi persoalan nyata yang harus diperbaiki. Oleh karena itu, Rasulullah saw. memberikan pedoman bahwa kekuatan iman dibangun dari tiga hal: kecintaan kepada Allah, menjaga kehormatan diri (iffah), dan yakin kepada ketetapan-Nya.


Sebab Terjadinya Masalah

  1. Ketergantungan manusia kepada manusia—bukan kepada Allah.
  2. Lemahnya pemahaman tentang syariat sehingga ibadah hanya menjadi rutinitas.
  3. Kurangnya muhasabah dan latihan jiwa untuk melihat hakekat rezeki dan takdir.
  4. Minimnya pemahaman tentang maqam thariqat dan makrifat yang merupakan penyempurna syariat.

Intisari Judul

Cinta, Iffah, dan Yakin adalah tiga pilar yang mengokohkan bangunan spiritual seorang hamba. Cinta menumbuhkan ibadah, iffah menumbuhkan kehormatan jiwa, dan yakin melahirkan ketenangan dalam menerima segala ketetapan Allah.


Tujuan dan Manfaat Tulisan

  • Menghidupkan kembali semangat tasawuf yang lurus.
  • Mengingatkan umat akan pentingnya ibadah lahir (syariat) dan batin (makrifat).
  • Membimbing pembaca untuk menjaga iffah dan mengokohkan keyakinan.
  • Memberikan pedoman praktis menghadapi kehidupan modern.

Dalil Al-Qur’an dan Hadis

1. Cinta kepada Allah

“Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu.” (Ali Imran: 31)

2. Iffah (menahan diri)

“Dan orang-orang yang menjaga kehormatan dirinya…” (An-Nur: 33)
“Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.” (HR. Bukhari)

3. Yakin dan Ridha

“Tidaklah menimpa suatu musibah kecuali dengan izin Allah.” (At-Taghabun: 11)
“Ridhalah dengan apa yang Allah tetapkan untukmu, maka engkau akan menjadi manusia paling kaya.” (HR. Tirmidzi)


Analisis dan Argumentasi

1. Syariat sebagai pondasi

Tanpa syariat, seluruh perjalanan spiritual tidak memiliki arah. Syariat adalah cahaya yang menunjukkan halal—haram, benar—salah.

2. Thariqat sebagai jalan pengolahan jiwa

Thariqat adalah proses panjang:

  • mujahadah,
  • muraqabah,
  • memperbaiki perangai,
  • memperbanyak dzikir.

3. Makrifat sebagai buah

Makrifat bukan ilmu khayal. Makrifat adalah tersingkapnya keyakinan bahwa:
“La fa‘ila illallah—tidak ada pelaku selain Allah.”


Keutamaan-keutamaannya

  1. Mendapat cinta Allah.
  2. Diberi ketenangan dalam hidup.
  3. Dijaga dari meminta-minta dan kehinaan diri.
  4. Hati selalu terang karena yakin kepada Allah.
  5. Terangkat derajatnya sebagai wali Allah.

Relevansi dengan Zaman Modern

1. Teknologi

Ketergantungan pada gawai dan informasi sering melemahkan hati. Cinta kepada Allah menolong agar tidak hanyut dalam kesenangan dunia digital.

2. Komunikasi

Di tengah media sosial yang penuh pamer dan pencitraan, iffah melatih kita untuk tidak meminta pengakuan manusia.

3. Transportasi & mobilitas cepat

Kemudahan hidup sering membuat manusia lupa bersyukur. Menguatkan yakin membantu kita memahami bahwa keselamatan datang dari Allah, bukan dari teknologi.

4. Kedokteran modern

Berobat wajib, tetapi yakin dan tawakal menjadi fondasi batin agar tidak panik saat takdir menimpa.

5. Kehidupan sosial

Masyarakat sering berlomba dalam dunia, bukan akhirat. Padahal kebahagiaan datang dari hati yang cinta Allah, bukan dari harta.


Hikmah

  • Cinta adalah energi ilahi yang menggerakkan ibadah.
  • Iffah membersihkan jiwa dari kehinaan.
  • Yakin menenangkan seluruh kegelisahan manusia.

Muhasabah & Caranya

  1. Tanyakan setiap malam:
    “Apakah aku hari ini lebih dekat kepada Allah daripada kemarin?”
  2. Catat dosa dan kelalaian harian.
  3. Kurangi ketergantungan pada manusia.
  4. Perbanyak dzikir Laa Ilaha Illallah, Hasbunallah, dan istighfar.
  5. Latih hati untuk ridha saat menerima hal pahit.

Doa

اللَّهُمَّ ارزقنا حُبَّكَ، وحُبَّ من يُحِبُّكَ، وحُبَّ عملٍ يقرِّبُنا إلى حُبِّكَ، واجعلنا من أهلِ العِفَّةِ واليَقِينِ والرِّضَا بقضائِكَ وقدرِكَ.

“Ya Allah, karuniakan kepada kami cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, cinta amal yang mendekatkan kami kepada-Mu. Jadikan kami hamba yang menjaga kehormatan, memiliki keyakinan, dan ridha atas takdir-Mu.”


Nasehat Para Tokoh Sufi

Hasan al-Bashri

“Barangsiapa mengenal Allah, maka ia akan mencintai-Nya; dan barangsiapa mencintai-Nya, ia akan meninggalkan dunia.”

Rabi‘ah al-Adawiyah

“Aku tidak menyembah-Mu karena takut neraka atau karena ingin surga, tetapi karena aku mencintai-Mu.”

Abu Yazid al-Bistami

“Makrifat adalah ketika engkau tidak melihat apa pun selain Dia.”

Junaid al-Baghdadi

“Thariqat kami dibangun atas Qur'an dan sunnah.”

Al-Hallaj

“Yang aku cari adalah Dia; yang aku lihat adalah Dia.”

Imam al-Ghazali

“Yakin adalah cahaya yang Allah nyalakan di hati hamba-Nya.”

Syekh Abdul Qadir al-Jailani

“Iffah adalah kemuliaan sejati seorang wali.”

Jalaluddin Rumi

“Ketika cintamu kepada Allah semakin dalam, dunia menjadi kecil di hatimu.”

Ibnu ‘Arabi

“Siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Rabb-nya.”

Ahmad al-Tijani

“Hamba yang yakin memiliki kekuatan ruhani yang tidak tertandingi.”


Testimoni Ulama Indonesia

Gus Baha’

“Cinta kepada Allah itu diwujudkan dengan taat, bukan sekadar perasaan.”

Ustadz Adi Hidayat

“Iffah adalah benteng kehormatan seorang mukmin.”

Buya Yahya

“Keyakinan adalah sumber ketenangan yang tidak bisa dibeli dunia.”

Ustadz Abdul Somad

“Ridha itu berat, tetapi di situlah letak manisnya iman.”


Daftar Pustaka

  1. Ihya’ Ulumiddin – Imam al-Ghazali
  2. Al-Risalah al-Qusyairiyah – Imam al-Qusyairi
  3. Futuhat al-Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
  4. Al-Fath al-Rabbani – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
  5. Tafsir Ibnu Katsir
  6. Shahih Bukhari & Muslim
  7. Majmu’ Fatawa al-Tasawwuf

Ucapan Terima Kasih

Penulis mengucapkan terima kasih kepada seluruh pembaca, para guru, dan para ulama yang telah mewariskan ilmu yang mulia ini. Semoga Allah menjadikan tulisan ini sebagai amal jariyah.


Tentu, ini versi bahasa gaul kekinian yang sopan dan santai dari teks tersebut, tanpa mengubah arti ayat Al-Qur'an dan Hadits.


---


CINTA, IFFAH, DAN PANGKAL KEYAKINAN: BIKIN HIDUP TENANG DI ZAMAN NOW


Oleh: M. Djoko Ekasanu


Versi Bahasa Gaul


Halo, semuanya! Pernah nggak sih merasa hidup lagi galau, insecure, atau bingung cari arah? Nabi Muhammad SAW ternyata kasih resep jitu nih. Beliau bersabda:


“Cinta kepada Allah itu adalah asas makrifat, iffah (enggan) itu tanda yakin, sedang pangkal yakin adalah takwa dan rela dengan takdir Allah.”


Bahasanya dalem banget, ya? Yuk, kita uraiin pelan-pelan biar relate sama kehidupan kita sehari-hari!


1. Cinta ke Allah = Modal Utama Buat "Ngeh"


Jadi, cinta kita ke Allah, yang kita tunjukin lewat ibadah, itu dasarnya biar kita bisa makrifat—bukan sekadar tahu, tapi ngeh banget sama Allah.


Buat para sufi, perjalanan spiritual itu kayak naik level gini nih:


· Level 1: Syariat. Ini kayak rulebook-nya hidup. Apa yang halal-haram, wajib-sunah. Dasarnya ya Al-Qur'an dan Hadits.

· Level 2: Thariqat. Ini jalannya. Proses upgrade diri lewat perbaikan akhlak, banyakin dzikir, dan introspeksi.

· Level 3: Makrifat. Ini bonusnya. Hati udah tenang dan ngeh banget kalau semua urusan ada di tangan Allah. Bukan ilmu sihir, tapi keyakinan yang bener-bener nyata.


2. Iffah = Gengsi itu Penting (Dalam Artian yang Baik!)


Iffah itu artinya nggak gampang meminta-minta ke orang lain. Kenapa? Karena ini bukti kita yakin banget sama jaminan rezeki dari Allah. Kita percaya, rezeki itu udah diatur, dan nggak akan nyampe atau luput tanpa izin-Nya. So, jaga gengsi baik-baik, jangan manja minta ke orang terus!


3. Yakin & Rila = Kunci Bahagia yang Sebenarnya


Pangkal dari keyakinan itu adalah:


· Takwa: Niatin semua gerak-gerik kita buat nurut perintah Allah dan jauhin larangan-Nya.

· Rila: Pasrah dan terima dengan apapun yang Allah kasih, seneng atau sedih, karena kita percaya itu yang terbaik.


Kenapa Masalah Ini Sering Banget Terjadi?


· Lagi SOS (Save Our Soul): Sering banget galau dan lari ke hal-hal dunia buat cari kepuasan.

· Ibadah Cuma Rutinitas: Sholat dan ngaji ada, tapi hati nggak ikut. Kayak robot.

· Lupa Diri: Jarang muhasabah (evaluasi diri), akhirnya lupa siapa yang sebenarnya ngasih rezeki.

· Mindset Instan: Pengen yang cepet dan langsung, padahal perjalanan spiritual butuh proses.


Gimana Cara Ngejalaninnya di Zaman Sekarang?


· Hadapi Teknologi: Jangan sampe kecanduan scrolling medsos bikin lupa waktu sama Allah. Quality time sama-Nya tuh penting.

· Jaga Komunikasi: Di dunia yang penuh pencitraan, iffah ngajarin kita buat nggak hidup dari validasi orang lain. Post yang bermanfaat, bukan yang pamer.

· Nikmati Kemudahan Transportasi: Naik motor atau mobil itu mudah, tapi inget, keselamatan itu pemberian-Nya. Selalu baca doa.

· Manfaatin Kedokteran Modern: Berobat itu wajib, tapi jangan lupa buat tawakal dan percaya bahwa kesembuhan datang dari Allah.

· Hidup Sosial: Jangan ikut-ikutan gaya hidup hedon yang bikin finansial dan hati tekor. Fokus ke kebahagiaan hati, bukan gengsi.


Tips Praktis Buat Muhasabah Diri (Cek Kondisi Hati):


1. Tanya diri sendiri sebelum tidur: "Apakah hari ini aku lebih deket sama Allah daripada kemarin?"

2. Catet dosa dan kelalaian harian. Bikin notes di HP juga boleh!

3. Kurangi kebiasaan bergantung banget sama bantuan orang. Coba usaha sendiri dulu.

4. Rajin baca Laa Ilaha Illallah, Hasbunallah, dan istighfar. Bisa sambil di jalan atau antre.

5. Latih hati buat nerima hal-hal yang nggak sesuai ekspektasi dengan lapang dada.


Kutipan Motivasi dari Para Senior (Tokoh Sufi):


· Hasan al-Bashri: "Kalau lo udah kenal Allah, lo bakal cinta. Kalau udah cinta, dunia nggak bakal bikin lo lupa diri."

· Rabi‘ah al-Adawiyah: "Aku nyembah-Mu bukan karena takut neraka atau pengen surga, tapi purely karena cinta."

· Junaid al-Baghdadi: "Jalan kami ini berdasar Qur'an dan Sunnah, bro. Bukan yang aneh-aneh."

· Imam al-Ghazali: "Yakin itu kayak cahaya yang Allah pasang di hati."

· Jalaluddin Rumi: "Makin dalem cintamu ke Allah, dunia jadi makin kecil di mata."


Kata-kata Penyemangat dari Ustadz Zaman Now:


· Gus Baha': "Cinta ke Allah itu dibuktikan dengan taat, bukan cuma lewat status atau kata-kata."

· Ustadz Adi Hidayat: "Iffah itu tameng buat kehormatan diri kita."

· Buya Yahya: "Sumber ketenangan yang beneran itu datang dari keyakinan, bukan dari duit atau jabatan."

· Ustadz Abdul Somad: "Rila itu emang berat, tapi di situlah rasanya iman jadi manis."


Doa Penutup (Yang Bisa Diapalin):


"Ya Allah, kasih kami cinta-Mu, cinta sama orang yang mencintai-Mu, dan cinta sama amal yang bisa deketin kami ke-Mu. Jadikan kami hamba yang bisa jaga kehormatan diri, punya keyakinan kuat, dan rila sama semua takdir-Mu."


Aamiin.


Semoga tulisan sederhana ini bisa bermanfaat buat kita semua buat upgrade iman dan islam di tengen kesibukan zaman now. Stay humble and keep the faith!


Terima kasih buat semua pembaca, para guru, dan ulama yang udah bagi ilmunya. Semoga jadi amal jariyah yang nggak putus-putus.


---


Catatan: Arti dari ayat Al-Qur'an dan Hadits yang disebutkan(seperti QS. Ali Imran: 31, QS. An-Nur: 33, dll) tetap menggunakan terjemahan resmi yang baku dan tidak diubah menjadi bahasa gaul untuk menjaga keotentikan dan kesucian maknanya. Hanya penjelasan dan narasi di sekitarnya yang disesuaikan dengan gaya bahasa kekinian.