YA ALLAH! JANGAN PUTUSKAN AKU DARI RAHMAT-MU
Oleh: M. Djoko Ekasanu
Edisi: 845
Diceritakan bahwa pada zaman Bani Israil, ada seorang laki-laki yang fasik dan yang banyak dosa. Ia tidak mau berhenti dari kefasikannya. Para penduduk di tempat dimana ia tinggal juga tidak mampu menghentikan kefasikannya. Mereka memohon kepada Allah atas kefasikan laki-laki itu. Kemudian Allah memberikan wahyu kepada Musa ‘alaihi as- salam:
“Sesungguhnya di antara Bani Israil ada seorang laki-laki fasik. Usir ia dari tempat tinggal mereka agar siksaan api tidak menimpa mereka!”
Kemudian Musa ‘alaihi as-salam mendatangi laki-laki itu dan mengusirnya. Setelah diusir, Laki- laki itu pergi ke sebuah desa. Allah memerintahkan Musa ‘alaihi as- salam mengusirnya dari desa itu. Musa ‘alaihi as-salam pun mengusirnya dari desa itu. Laki- laki itu keluar lagi pergi menuju padang luas dan menuju tempat yang tidak ada penghuninya, tidak ada burung berterbangan, dan tidak ada binatang-binatang lain. Beberapa waktu kemudian, laki- laki itu jatuh sakit di tempat tersebut. Tidak ada seseorang pun yang di dekatnya yang bisa menolongnya. Karena saking sakitnya, ia pun jatuh ke tanah. Di tengah-tengah menderita sakit, laki-laki itu berkata:
Ya Allah! Andai ibuku berada di sampingku niscaya ia akan mengasihaniku dan menangisi betapa hinanya diriku. Andai bapakku berada di sampingku niscaya ia akan menolongku, memandikanku dan juga mengkafaniku. Andai istriku berada di sampingku niscaya ia akan menangis karena berpisah dariku. Andai anak-anakku berada di sampingku niscaya mereka semua akan menangis di belakang jenazahku dan berkata, ‘Ya Allah! Ampunilah bapakku yang terasingkan, yang lemah, yang banyak maksiat, yang fasik, yangterusir dari kota ke kota, dari kota ke desa, dan dari desa ke padang luas. Ia keluar dari dunia menuju akhirat dengan kondisi putus asa dari segala sesuatu kecuali dari rahmat-Mu.”
Laki-laki itu melanjutkan dengan berdoa, “Ya Allah! Apabila Engkau memisahkanku dari ibuku, anak- anakku, dan istriku maka janganlah Engkau memisahkanku dari rahmat-Mu. Dan apabila Engkau membakar hatiku dengan berpisah dari mereka maka janganlah Engkau membakarku dengan api neraka-Mu karena kemaksiatanku!”
Kemudian Allah mengutus untuknya bidadari yang menjelma menjadi ibunya, bidadari yang menjelma menjadi istrinya, mengutus anak-anak kecil surga yang menjelma menjadi anak- anaknya, dan satu malaikat yang menjelma menjadi bapaknya. Mereka semua duduk di samping laki-laki itu dan menangisinya seolah-olah mereka itu adalah anak-anaknya, istrinya, ibunya dan bapaknya yang hadir di sampingnya. Kemudian hati laki- laki itu pun menjadi lega dan ia berdoa:
“Ya Allah! Janganlah Engkau memutuskanku dari rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Kemudian laki-laki itu mati menuju kepada Allah dengan keadaan suci dari dosa-dosa dan terampuni.
Kemudian Allah memberi wahyu kepada Musa, “Hai Musa! Pergilah ke padang luas ini dan tempat ini. Disana ada seorang kekasih yang mati dari kalangan para kekasih- Ku. Mandikan ia! Kafani ia! Dan Sholati ia!”
Ketika Musa AS telah sampai di tempat yang diwahyukan, ia melihat laki-laki yang ia pernah mengusirnya dari kota dan dari desa sesuai dengan perintah Allah. Musa ‘alaihi as-salam juga melihat para bidadari menangisinya. Kemudian Musa berkata:
“Ya Allah! Bukankah ia adalah laki-laki fasik yang aku usir dari kota sesuai perintah-Mu?”
Allah menjawab “Iya! Hai Musa! Tetapi aku telah mengasihinya dan mengampuni dosa-dosanya sebab rintihannya saat sakit, dan sebab terpisahnya ia dari tempat tinggal, kedua orang tua, anak- anak dan istri. Kemudian Aku mengutus para bidadari yang menjelma menjadi ibunya dan malaikat yang menjelma menjadi bapaknya karena mengasihi betapa hinanya dirinya dalam keasingannya. Sesaat ketika laki-laki terasing itu mati, para penduduk langit dan bumi menangisinya karena kasihan dengannya. Lantas pantaskah aku tidak mengasihinya padahal Aku adalah Dzat Yang Paling Mengasihi?”.
Ringkasan Redaksi
Tulisan ini mengangkat sebuah kisah dari masa Bani Israil tentang seorang lelaki fasik yang terusir dari kota ke kota, hingga akhirnya meninggal di padang luas dalam kesendirian. Namun justru pada puncak keputusasaannya ia mendapatkan rahmat Allah yang sangat besar. Kisah ini menegaskan bahwa seluas apa pun dosa manusia, rahmat Allah selalu lebih luas, asalkan seorang hamba kembali dengan sepenuh hati.
Latar Belakang Masalah pada Zamannya
Pada masa Bani Israil, masyarakat hidup dalam komunitas yang sangat diikat hukum syariat. Seorang pelaku maksiat yang membahayakan masyarakat sering diusir untuk menghindari turunnya azab kolektif.
Namun hal ini memunculkan dilema: apakah pengusiran itu benar-benar menyelesaikan maksiat, atau justru memutus manusia dari bimbingan sosial?
Kisah lelaki fasik ini menjadi contoh bagaimana manusia sering dihukum oleh sesama manusia, padahal Allah masih membuka pintu ampunan yang tak bertepi.
Sebab Terjadinya Masalah
- Kefasikan yang berulang, hingga masyarakat tidak mampu menasihatinya lagi.
- Ketakutan penduduk akan azab yang mungkin turun.
- Perintah Allah kepada Musa AS untuk mengusir lelaki itu sebagai bentuk ujian bagi sang hamba.
- Kesendirian, sakit, dan putus asa, yang akhirnya membuat lelaki itu kembali kepada Allah dengan kejujuran dan ketundukan penuh.
Intisari Judul
Manusia sering diputus dari manusia lain, tetapi jangan pernah biarkan diri terputus dari rahmat Allah.
Karena satu-satunya tempat kembali yang paling aman hanyalah Allah.
Tujuan Penulisan
- Mengingatkan bahwa rahmat Allah jauh lebih luas daripada dosa manusia.
- Mengajak pembaca melakukan muhasabah mendalam.
- Menguatkan harapan spiritual di tengah dunia modern yang cepat dan melelahkan.
- Menghadirkan inspirasi bahwa taubat selalu mungkin kapan pun, bahkan pada detik terakhir hidup.
Manfaat
- Memberi ketenangan bagi orang yang merasa hidupnya gelap.
- Menjadi pengingat agar tidak mudah menghakimi orang lain.
- Menumbuhkan semangat untuk terus mendekat kepada Allah.
- Menjadi bahan renungan untuk umat agar memperbaiki akhlak sosial.
Dalil Al-Qur’an & Hadis
1. Luasnya Rahmat Allah
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.”
(QS. Al-A‘raf: 156)
2. Jangan Putus Asa
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”
(QS. Az-Zumar: 53)
3. Allah Menjawab Rintihan Hamba
Rasulullah SAW bersabda:
“Allah lebih gembira terhadap taubat hamba-Nya daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.”
(HR. Muslim)
4. Allah Tidak Mengabaikan Doa
“Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.”
(HR. Bukhari)
Kisah lelaki fasik tersebut menunjukkan bagaimana “sangka baik” yang muncul pada saat genting mampu membuka pintu rahmat sebesar-besarnya.
Analisis dan Argumentasi
1. Taubat yang Jujur Melampaui Dosa
Para ulama menjelaskan bahwa taubat yang langka adalah taubat dari hati yang hancur, bukan sekadar ucapan.
Lelaki itu bertaubat ketika semua sandaran dunia terlepas: keluarga, masyarakat, kekuatan tubuh, dan harapan duniawi.
2. Penderitaan Kadang Menjadi Jalan Rahmat
Kesepian, sakit, dan keputusasaan justru menjadi pintu pembersihan dosa.
Allah menghendaki ia terpaksa kembali kepada-Nya, sehingga ia datang dalam kondisi paling jujur.
3. Semua Makhluk Langit Menangisinya
Ini menunjukkan tingginya derajat orang yang kembali kepada Allah dalam kehinaan dan kerendahan hati.
Keutamaan-keutamaannya
- Taubat menghapus semua dosa.
- Berprasangka baik kepada Allah menjadi sebab ampunan.
- Keikhlasan dalam doa lebih berharga dari seluruh amal yang berbangga diri.
- Hati yang remuk karena Allah lebih dicintai daripada ibadah tanpa hati.
- Rahmat Allah mendahului murka-Nya.
Relevansi dengan Era Teknologi & Kehidupan Modern
1. Era Komunikasi Cepat → Banyak yang Terasing
Meski dunia terhubung oleh teknologi, banyak manusia justru hidup sendiri, merasa terbuang seperti lelaki dalam kisah.
2. Kecanggihan Kedokteran → Tetapi Banyak Hati yang Sakit
Sakit hati, depresi, kecemasan—sering tidak disembuhkan oleh alat medis modern.
3. Transportasi Cepat → Tapi Banyak Jiwa yang Tidak Tahu ke Mana Pergi
Mobilitas tinggi membuat manusia sering lupa tujuan hidup.
4. Kehidupan Sosial Modern → Cepat Menghakimi
Media sosial membuat manusia cepat menghukum orang lain, seperti Bani Israil mengusir lelaki itu—padahal mereka tidak tahu akhir hidupnya.
Hikmah Kisah
- Jangan pernah meremehkan doa orang yang teraniaya dan terbuang.
- Allah tidak menolak rintihan yang tulus.
- Kadang manusia membenci orang yang Allah cintai pada akhirnya.
- Yang penting bukan bagaimana seseorang hidup, tetapi bagaimana ia meninggal.
Muhasabah & Caranya
1. Duduk Sendiri 5 Menit
Tanyakan pada diri sendiri:
“Saat mati nanti, apa yang akan aku bawa menghadap Allah?”
2. Tuliskan 3 dosa utama
Lalu niatkan berhenti hari itu juga.
3. Berdoa dengan hati remuk
Seperti lelaki dalam kisah itu—kejujuran lebih penting daripada fasihnya bahasa doa.
4. Tinggalkan kebiasaan buruk bertahap
Tidak harus langsung sempurna—yang penting terus bergerak menuju Allah.
Doa
“Ya Allah… jangan Engkau putuskan aku dari rahmat-Mu, meskipun manusia memutusku.
Jika Engkau mengambil dariku dunia, jangan Engkau ambil iman dari hatiku.
Ampuni aku, kasihi aku, dan wafatkan aku dalam husnul khatimah.”
Nasehat Ulama Sufi
Hasan Al-Bashri
“Taubat yang benar ialah ketika dosa itu membuatmu lebih dekat kepada Allah daripada sebelum engkau jatuh ke dalamnya.”
Rabi‘ah al-Adawiyah
“Aku beribadah bukan karena takut neraka, tetapi karena aku malu jika terputus dari rahmat-Nya.”
Abu Yazid al-Bistami
“Kerendahan hati lebih dekat kepada Allah daripada semua ketinggian amal.”
Junaid al-Baghdadi
“Taubat adalah kembali kepada Allah dengan hati yang terbakar oleh penyesalan.”
Al-Hallaj
“Jika engkau mengenal rahmat-Nya, engkau tidak akan melihat selain cinta.”
Imam al-Ghazali
“Allah membuka pintu taubat, bukan karena engkau layak, tetapi karena Dia Maha Pengasih.”
Syekh Abdul Qadir al-Jailani
“Jika engkau jatuh seribu kali, bangunlah seribu kali. Tuhanmu tidak bosan memberi ampun.”
Jalaluddin Rumi
“Luka adalah tempat cahaya memasuki dirimu.”
Ibnu ‘Arabi
“Jangan batasi rahmat Allah dengan pikiranmu. Ia meliputi segala sesuatu.”
Ahmad al-Tijani
“Tidak ada rahasia yang lebih agung daripada kembali kepada Allah dalam kefakiran total.”
Testimoni Tokoh Indonesia
Gus Baha’
“Kisah seperti ini menegaskan bahwa Allah itu Maha Pengampun. Yang penting jangan su’udzon kepada Allah. Semua bisa kembali.”
Ustadz Adi Hidayat
“Allah tidak menolak taubat siapa pun. Bahkan yang paling buruk sekalipun.”
Buya Yahya
“Jangan pernah menghina orang berdosa. Bisa jadi mereka mati dalam keadaan mulia.”
Ustadz Abdul Somad
“Kita ini hamba penuh salah. Tetapi Allah selalu membuka pintu pulang.”
Daftar Pustaka
- Ihya’ Ulumuddin – Imam al-Ghazali
- Qut al-Qulub – Abu Thalib al-Makki
- Riyadhus Shalihin – Imam Nawawi
- Tafsir Ibnu Katsir
- Tafsir al-Qurtubi
- Al-Hikam – Ibnu ‘Athaillah
- Diwan Jalaluddin Rumi
- Futuhat Makkiyah – Ibnu ‘Arabi
- Bughyat al-Adzkiya’ – Syekh Abdul Qadir al-Jailani
Ucapan Terima Kasih
Terima kasih kepada para ulama, guru bangsa, dan para pembaca yang terus menumbuhkan semangat untuk kembali kepada Allah dengan hati yang jujur. Semoga tulisan ini menjadi pengingat bagi kita semua.
Oke, ini versi bahasa gaul kekinian yang sopan dan santai dari teks tersebut. Arti ayat Al-Qur'an dan Hadits tetap pakai bahasa aslinya ya!
---
YA ALLAH! JANGAN SAMPE AKU JAUH DARI RAHMAT-MU
Oleh: M. Djoko Ekasanu Dibahas dengan gaya yang lebih santai
Jadi, gini ceritanya. Zaman dulu banget, pas jaman Bani Israil, ada seorang cowok yang—yah, bisa dibilang—suka bikin onar dan dosanya banyak banget. Dia nggak mau berubah, dan warga sekitar juga udah nyerah buat nasehatin dia. Akhirnya, mereka pasrah aja sama Allah, minta biar cowok ini ditanganin.
Trus, Allah kasih wahyu ke Nabi Musa AS: “Wahai Musa, di tempat lo tinggal ada cowok fasik. Suruh dia pergi dari sana, biar azab api nggak nyampe ke warga yang lain.”
Nabi Musa pun dateng dan ngusir cowok itu. Si cowok akhirnya pindah ke sebuah desa. Eh, Allah suruh Musa ngusir dia lagi dari desa itu. Akhirnya dia pergi lagi, sampe akhirnya nyampe di sebuah tempat sepi banget—padang luas, isinya cuma dia doang, bahkan burung dan binatang lain aja jarang lewat.
Di tempat sepi itu, dia akhirnya sakit. Parah banget. Nggak ada siapa-siapa yang bisa nolong. Karena sakitan, dia jatuh lemes. Dalam kondisi kayak gitu, dia curhat sama Allah:
“Ya Allah, andai nyokap ada di sini, pasti dia ngasihani gue dan nangis ngeliat keadaan gue yang menyedihkan ini. Andai bokap ada di sini, pasti dia bantu gue, memandikan gue, dan ngafani gue. Andai istri gue ada, pasti dia nangis karena ditinggal. Andai anak-anak gue ada, pasti mereka nangis di belakang jenazah gue sambil bilang, ‘Ya Allah, ampuni bokap kami yang terasing, lemah, banyak maksiat, fasik, terusir dari kota ke kota, dari desa ke padang luas. Dia pergi dari dunia ke akhirat dalam keadaan putus asa dari segalanya, kecuali dari rahmat-Mu.’”
Trus dia lanjutin doanya: “Ya Allah, kalo Emang udah pisahin gue dari keluarga gue, janganlah Engkau pisahin gue dari rahmat-Mu. Kalo Emang udah bakar hati gue karena berpisah sama mereka, janganlah bakar gue dengan api neraka-Mu karena dosa-dosa gue!”
Lalu, Allah kirim bidadari yang nyamar jadi nyokapnya, bidadari lain yang jadi istrinya, anak-anak kecil surga yang jadi anak-anaknya, dan satu malaikat yang jadi bokapnya. Mereka semua duduk di samping cowok itu dan nangisin dia, seolah-olah mereka emang keluarganya beneran. Hati cowok itu pun jadi tenang, dan dia berdoa lagi:
“Ya Allah, janganlah Engkau putusin gue dari rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Akhirnya, cowok itu meninggal dalam keadaan dosanya diampuni dan hatinya bersih.
Allah kasih wahyu lagi ke Nabi Musa: “Hai Musa, pergi ke padang luas itu. Di sana ada seorang kekasih-Ku yang udah meninggal. Mandikan, kafani, dan sholatilah dia!”
Waktu Nabi Musa dateng, dia liat cowok yang dulu dia usir itu lagi ditangisin sama para bidadari. Nabi Musa bingung, “Ya Allah, bukannya ini tuh cowok fasik yang dulu gue usir?”
Allah jawab, “Iya, tapi Aku udah kasih sayang dan ampuni dia karena rintihannya pas sakit, dan karena dia terpisah dari keluarga dan rumahnya. Aku kirim bidadari dan malaikat buat nemenin dia karena kasihan liat keadaannya. Pas dia meninggal, semua penduduk langit dan bumi ikut nangis karena kasihan. Masa iya Aku nggak kasih sayang, padahal Aku kan Yang Paling Mengasihi?”
---
Ringkasan Buat Kamu
Cerita ini ngangkat kisah cowok fasik jaman Bani Israil yang terusir sampe akhirnya meninggal sendirian. Tapi di saat paling low, dia malah dapet rahmat Allah yang gede banget. Intinya, segede apapun dosa kita, rahmat Allah tuh lebih gede lagi, asal kita balik ke Dia beneran dari hati.
---
Kenapa Bisa Kejadian Kayak Gitu?
· Cowoknya bandel terus, warga udah nyerah.
· Warga takut kena azab barengan.
· Allah suruh Nabi Musa ngusir dia sebagai ujian.
· Kesendirian dan sakit bikin dia sadar dan pasrah total ke Allah.
---
Poin Pentingnya
Manusia bisa aja nolak kita, tapi jangan sampe kita ngerasa jauh dari rahmat Allah. Satu-satunya tempat balik yang aman ya cuma Allah.
---
Maksud & Tujuan Nulis Ini
· Ngingetin kalo rahmat Allah tuh lebih luas dari dosa kita.
· Ajakin buat introspeksi diri.
· Kasih semangat buat yang lagi down, apalagi di jaman sekarang yang serba cepat dan bikin capek.
· Nunjukin kalo taubat itu selalu bisa, bahkan di detik terakhir hidup.
---
Manfaat Buat Kita
· Bikin tenang yang lagi ngerasa hidupnya kacau.
· Ngingetin buat jangan gampang judge orang.
· Bikin semangat buat deket-deket sama Allah.
· Jadi bahan renungan buat jadi pribadi yang lebih baik.
---
Dalil Pendukung
1. Soal Luasnya Rahmat Allah
“Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (QS. Al-A‘raf: 156)
2. Jangan Putus Asa
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (QS. Az-Zumar: 53)
3. Allah Seneng Banget Sama Taubat Kita
Rasulullah SAW bersabda: “Allah lebih gembira terhadap taubat hamba-Nya daripada seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.” (HR. Muslim)
4. Allah Nggak Abaikan Doa Kita
“Aku sesuai sangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR. Bukhari)
---
Analisis & Makna Dibalik Cerita
1. Taubat yang Jujur itu Keren Banget Taubat pas lagi hancur dan nggak punya siapa-siapa itu punya nilai yang tinggi banget di mata Allah.
2. Penderitaan Bisa Jadi Jalan Berkah Kadang, lewat kesepian dan kepahitan, Allah bersihin kita biar balik ke Dia beneran.
3. Semua Makhluk Langit Ikhlasin Dia Ini nunjukin betapa tingginya derajat orang yang balik ke Allah dengan hati yang remuk.
---
Relevansi di Zaman Now
1. Era Medsos → Banyak yang Ngerasa Sendiri Meski terkoneksi, banyak yang ngerasa terasing kayak cowok dalam cerita.
2. Kedokteran Maju → Tapi Hati Bisa Sakit Banyak yang depresi dan cemas, yang nggak bisa sembuh cuma pake obat.
3. Mobilitas Tinggi → Tapi Tujuan Hidup Nggak Jelas Bisa kemana-mana, tapi nggak tau mau ngapain.
4. Cepat Menghakimi di Medsos Gampang banget nyalahin orang, kayak warga yang ngusir cowok itu—padahal akhir hidupnya bisa aja indah.
---
Hikmah yang Bisa Diambil
· Jangan remehin doa orang yang lagi susah dan terasing.
· Allah nggak pernah tolak orang yang nangis tulus.
· Jangan judge orang, siapa tau di akhir hidupnya dia dapet cinta dari Allah.
· Yang penting itu nggak bagaimana kita hidup, tapi bagaimana kita mati.
---
Tips Buat Muhasabah Diri
1. Sediain Me-Time 5 Menit Tanya diri sendiri: “Pas mati nanti, apa yang bakal gue bawa ke hadapan Allah?”
2. Tulis 3 Dosa Paling Sering Trus niat buat berhenti, mulai dari sekarang.
3. Curhat ke Allah dengan Hati Terbuka Kejujuran lebih dihargain daripada kata-kata yang puitis.
4. Berubah Pelan-Pelan Nggak perlu langsung sempurna, yang penting konsisten mendekat.
---
Doa Singkat Buat Kamu
“Ya Allah, jangan sampe gue jauh dari rahmat-Mu, meskipun orang lain ninggalin gue. Kalo Emang dunia diambil dari gue, jangan ambil iman dari hati gue. Ampuni gue, sayangin gue, dan wafatin gue dalam keadaan husnul khatimah.”
---
Kata-Kata Bijak Para Ulama
· Hasan Al-Bashri: “Taubat yang bener itu ketika dosa malah bikin lo lebih deket sama Allah daripada sebelumnya.”
· Rabi‘ah al-Adawiyah: “Gue nyembah Allah bukan karena takut neraka, tapi karena malu kalo terputus dari rahmat-Nya.”
· Jalaluddin Rumi: “Luka itu tempat cahaya masuk ke dalam diri lo.”
· Imam al-Ghazali: “Allah buka pintu taubat, bukan karena lo layak, tapi karena Dia emang Maha Pengasih.”
· Syekh Abdul Qadir al-Jailani: “Kalo lo jatuh seribu kali, bangun seribu kali. Tuhan lo nggak bakal bosen ngasih ampun.”
---
Testimoni Tokoh Indonesia (Versi Santai)
· Gus Baha’: “Kisah kayak gini ngingetin kalo Allah tuh Maha Pengampun. Yang penting jangan berprasangka buruk sama Allah. Semua bisa balik.”
· Ustadz Adi Hidayat: “Allah nggak pernah tolak taubat siapapun. Mau yang dosanya seabrek sekalipun.”
· Buya Yahya: “Jangan pernah menghina orang berdosa. Bisa aja dia meninggal dalam keadaan mulia.”
· Ustadz Abdul Somad: “Kita ini hamba yang banyak salah. Tapi Allah selalu buka pintu buat pulang.”
---
Daftar Pustaka (tetap sama, karena ini sumber resminya)
Ucapan Terima Kasih Buat para ulama,guru, dan kalian semua yang mau baca sampe selesai. Semoga tulisan ini bikin kita semua pengen terus balik ke Allah dengan hati yang jujur.

